Rabu, 25 April 2018

KAMU KIRA MEREKA ITU BERSATU PADU, PADAHAL HATI MEREKA BERPECAH BELAH

DABIQ 12 - ARTIKEL

KAMU KIRA MEREKA ITU BERSATU PADU, PADAHAL HATI MEREKA BERPECAH BELAH

Sesungguhnya, Dia yang telah mengajarkan kita bahwa “dan orang-orang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain” (Al-Anfal: 73) dan juga juga mengajarkan kita bahwa “Permusuhan diantara sesama mereka sangatlah hebat, kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah, yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti” (Al-Hasyr: 14).

Orang-orang kafir - apakah mereka Katolik, Protestan, Kristen Ortodoks, ataukah, konservatif, Yahudi, Buddha, Hindu, Sikh atau kapitalis, komunis, atau fasis - mereka pada akhirnya akan menjadi sekutu satu sama lain dalam melawan Islam dan Muslim. Hal ini karena Islam – agama adalah kebenaran dan fitrah - adalah ancaman terbesar bagi agama dusta mereka. Hal ini juga karena Thawaghit dan dajajilah (jamak dari Dajjal) dari agama-agama palsu ini takut kehilangan kontrol atas kawanan domba buta mereka dan kekayaan yang terkandung di saku berbulu mereka. Hal ini juga karena kawanan domba buta ini takut kehilangan masyarakat kebinatangan mereka dan kultur duniawi yang melayani hawa nafsu mereka, keinginan mereka, dan adanya keraguan untuk menghidupkan kembali dan memelihara fitrah yang telah mati dalam hati mereka. Dengan demikian, Islam adalah ancaman terbesar bagi semua "kepentingan" mereka dan menjadi masuk akal bagi mereka untuk bersatu dalam berbagai koalisi untuk melawan musuh bersama.

Namun, meskipun demikian, mereka terus melanjutkan dan mengambil bagian dalam permusuhan sektarian yang mencapai pada tingkat pertumpahan darah diantara mereka (1). “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (Faathir: 43). Dan mereka bersaing antara satu sama lain untuk mendapatkan pengikut dari domba buta hingga dapat terus menguras kekayaan dari pengikut mereka kedalam kantong mereka sendiri. sementara Mereka tidak pernah belajar dari sejarah, tapi sebaliknya mereka memutuskan untuk mengikuti jejak negara-negara yang telah dihancurkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala karena kesombongan mereka. Oleh karena itu, mereka akan terus terluka dan menderita dari lubang yang sama.

Amerika telah melakukan intervensi di Syam setelah kegagalannya baik di Afghanistan dan Iraq. Kemudian Rusia juga mengikuti jalan yang diambil saudaranya dari Barat setelah merasakan bencana di Afghanistan dan Chechnya. Dan kedua tentara salib ini, baik Timur dan Barat sekarang telah berselisih mengenai cara dalam mengamankan kepentingan masing-masing di Syam sebagaimana mereka bersaing mencari pengaruh di wilayah tersebut. Beruang coklat yang mabuk -Rusia- kejam tapi canggung dalam menyerang di sana-sini dengan cara yang bahkan membingungkan analis amerika, lembaga think tank, intelijen, dan pembuat kebijakan. Pada saat mereka sedang berperang dengan saingan Barat di Ukraina, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam konflik dengan Barat, dengan menargetkan Shahawat sekutu Amerika di Syam. Kemudian mereka juga masuk ke front baru melawan Daulah Islam baik di Syam dan Iraq setelah kebangkitan medan perang di Wilayah Kaukasus.

Jadi, beruang coklat yang mabuk – yang telah dibutakan oleh keangkuhan dan haus akan darah - telah memutuskan untuk membuang dirinya ke dalam perangkap pemburu.

Tak lama setelah serangan udara Rusia dimulai, pasukan dari Syam yang diberkahi dari Wilayah Sinai berhasil menjatuhkan sebuah pesawat penumpang Rusia, yang mengakibatkan kematian 224 tentara salib Timur. Operasi ini dilaksanakan sebagai balas dendam kepada penyembah salib yang membunuh ratusan Muslim, termasuk perempuan dan anak-anak di Syam baru-baru ini. Dan Daulah Islam akan terus menyerang Rusia hingga Syari'ah ditegakkan di semua tanah kaum muslimin yang dirampas oleh yang pasukan salib Rusia dan sampai Rusia membayar jizyah sebagai penghinaan kepadanya.

Persaingan Diantara Proksi

Seorang pengkhianat adalah mahluk paling hina dalam sudut pandang mata manusia. Tidak ada manusia yang menyukai pengkhianat. Bahkan orang kafir paling sesat dan terkutuk sekalipun tidak menginginkan pengkhianat. Namun mereka yang dipilih untuk menjadi sekutu dan agen dari tentara salib dalam perang melawan Islam dan Khilafah adalah pengkhianat baik faksinya atau secara individu. Salah seorang dari mereka mungkin akan mengkhianati agama-Nya hari ini dan besok ia akan mengingkari kemurtadannya sebagai bentuk kemurtadan lainnya. Agamanya adalah dirinya sendiri, nafsunya, keinginannya, dan keuntungan pribadinya. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuanNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah: 23)

Namun Amerika membuat kesalahan berulang kali dengan mendukung sekutu pengkhianat ini dimana persekutan mereka akan berakhir dan ditinggalkan ketika kepentingan mereka bertabrakan. Yaitu ketika sekutunya ini memutuskan bahwa membantu Amerika tidak lagi dapat memenuhi keinginan mereka sendiri dan kemuliaan pribadi. Amerika telah mendukung Thawaghit Saddam, Gaddafi, Ali Abdullah Saleh, dan Bashar, tapi semuanya kemudian bekerja untuk melayani diri mereka sendiri, kepentingan pribadi, kelompoknya, dan kepentingan sektarian meskipun Amerika memerintahkan sebaliknya. Amerika telah mendukung Rafidhah Iraq –baik rezim dan milisinya- tapi semuanya sekarang malah berbalik dan mengikuti kemauan Khamenei dari Teheran. Amerika juga mendukung berbagai faksi nasionalis di Afghanistan di "tahun delapan puluhan," tapi banyak dari mereka yang kemudian mencari perlindungan di Iran, dan menggunakannya sebagai dasar dalam perang nasionalis mereka. Dan ceritapun terus berlanjut.

Konflik internal di jajaran tentara salib dan sekutu mereka terus berkembang.

PKK

Di Syam, sekutu terbesar Amerika adalah angkatan bersenjata PKK (Partai Pekerja Kurdi) yang dikenal sebagai YPG (Unit Perlindungan Rakyat). Secara historis, PKK lebih dekat ke Rusia dan Timur. Abdullah Ocalan – seorang Kurdi Nushairi (2) dan pendiri PKK – yang dilatih oleh KGB-FSB Rusia (intelijen Rusia/Soviet). Putin, Thaghut Rusia sendiri adalah mantan letnan kolonel di KGB dan kemudian menjadi direktur FSB. Tidak seperti kebanyakan anggapan Negara di Barat, PKK tidak dianggap sebagai organisasi teroris oleh Rusia dan China, dan secara ideologis, PKK memiliki latar belakang Marxis. Dan karena alasan ini, banyak relawan Marxis dari Barat dan Timur yang tertarik bergabung ke "Lions of Rojava" (YPG) dan "batalion kebebasan Internasional" yang didukung oleh" Partai Komunis Marxis-Lenin" dari Turki. Dan seperti Rusia yang mengebom sasaran non-militer di Syam, metodologi PKK juga mengikuti "aturan pertempuran" yang serupa, menantang siapa yang di back-up oleh Barat. Oleh karena itu, PKK memusnahkan seluruh desa, menghancurkan seluruh lingkungan rumah, dan menelantarkan seluruh pengungsi berdasar etnis sebagaimana didokumentasikan oleh "amnesty Internasional" yang berorientasi ke Barat dalam studi PKK berjudul: "Otonomi Administrasi" yang beroperasi di pedesaan utara Halab, al-Barakah, dan ar-Raqqah. PKK bekerja berdampingan dengan rezim Asad murtad di daerah di mana mereka memiliki kehadiran umum baik didalam dan diluar disekitar al-Qamishli dan al-Hasakah. Mereka menyokong milisi rezim di Nubbul dan az-Zahra' dengan logistik. PKK juga memiliki sejarah dalam menerima dukungan dari Suriah, Iran, dan Rusia ketika berhadapan dengan murtadin Turki dan Saddam, sekutu Amerika. Hingga akhirnya, ateis PKK berperang dengan rezim murtad Turki, yang merupakan anggota koalisi NATO yang anti-Rusia.

Dan apa yang telah membuat Amerika marah adalah bahwa Rusia juga sudah mengulurkan tangannya untuk bekerja sama dengan PKK untuk mengintegrasikan kembali daerah PKK kepada rezim Asad (dan mungkin menjadikannya seperti daerah otonomi khusus). Media Rusia yang didukung Pemerintah bahkan memproduksi film dokumenter propaganda untuk PKK di saluran TV satelit Rusia. Beberapa laporan juga datang dan menyatakan partai Baath Suriah telah diizinkan untuk membuka kantor cabang di Tall Abyad dan kota-kota lain yang baru dikuasai oleh PKK. Hal ini tidaklah mengherankan, karena Rezim Asad memanfaatkan hubungan dekat dengan PKK untuk memadamkan oposisi terhadap rezim di daerah Kurdi di awal "Revolusi Suriah."

FSA dan Fraksi Nasionalis

Setelah pelayanan PKK kepada Amerika di Syam, kemudian hadirlah Free Syrian Army (FSA) dan faksi nasionalis lainnya, kebanyakan dari pemimpinnya adalah mantan perwira Baath yang tidak pernah bertobat dari kemurtadan, sebagaimana pertobatan bukanlah syarat untuk bergabung dengan oposisi nasionalis. Dengan demikian, infiltrasi keberbagai batalyon sangatlah mudah bagi aparat keamanan rezim, dan karenanya banyak pengambil alihan dan "rekonsiliasi" (3), terutama di daerah sekitar damaskus . Milisi tanpa prinsip akan dengan mudah untuk berubah haluan hanya karena uang atau rokok. Rusia -atas nama rezim– telah ditawarkan untuk duduk bersama dengan FSA, dan tawaran ini telah dilaporkan dan sedang dipertimbangkan oleh beberapa elemen FSA dan nasionalis di Dar'a dan dekat damaskus. Jordannia -yang menyokong "front Selatan" FSA- telah menyatakan dukungan atas intervensi Rusia. "Perubahan Rezim" bukanlah tujuan sebenarnya dari faksi-faksi ini. karena Amerika mengangkat sekutu-sekutu dan agennya hanya untuk berperang melawan Daulah Islam saja. Dengan demikian, hal ini tidak akan menjadi masalah bagi faksi tersebut untuk mengubah haluan terhadap rezim dan Rusia demi mengejar dukungan yang lebih kuat dalam perang melawan Khilafah. Jika ini terjadi, maka faksi murtadd juga akan berperang melawan oposisi Murtaddin yang sebelumnya bersekutu dengan mereka.

Meskipun ada kemungkinan perubahan dalam kesetiaan, hal itu mungkin tidak akan terjadi dalam skala besar kecuali Amerika meninggalkan faksi ini demi mendukung beberapa misi "politik" lainnya di Syam, agar lebih selaras dengan agama Amerika.

Thawaghit

Thawaghit Yordania, UEA, dan Mesir telah menyatakan dukungan mereka atas intervensi Rusia di Syam meskipun Amerika memiliki Posisi disana. Thawaghit ini adalah blok anti-"revolusi" yang lebih condong kepada Asad dalam melawan oposisinya, yang bahkan lawan-lawannya ini sama-sama sekuler dan murtad, hanya karena mereka takut bahwa "revolusi" seperti itu mungkin akan menyebar ke tanah yang telah dirampas oleh Thawaghit ini. Sekali lagi, "front selatan" FSA di Dar'a telah memiliki hubungan yang kuat dengan Jordan dan intelijen Yordania, dan bahkan melayangkan belasungkawa kepada rezim ketika Daulah Islam mengeksekusi pilot Yordania Mu'adz al-Kasasibah. Hal ini Kemungkinan besar menjadi deklarasi dukungan kepada Thawaghit ini dan mengarahkan ke pergeseran posisi Thawaghit, namun mereka memiliki kecanduan bantuan dari Amerika selama beberapa dekade. Sehingga hal itu menampakkan kebingungan hati mereka.

Adapun Thawaghit Turki yang bersekutu dengan Amerika, mereka telah terbenam dalam perang dengan PKK sekutu Amerika, dimana pejuang PKK saat ini telah mengisi peran Pasukan Amerika diatas tanah. Thawaghit Turki juga telah membuat peringatan dini atas Rencana Rusia untuk membangun hubungan dengan PKK serta mendukung mereka. Dan sebagaimana Turki yang menjadi anggota NATO, dukungan terhadap PKK melawan rezim murtad Turki bukanlah hal aneh bagi tentara salib dari Rusia, seperti yang telah dilakukan oleh Rusia di masa lalu Soviet.

Peshmerga

Adapun di Iraq, maka sekutu terdekat Amerika adalah Peshmerga Barzani. Peshmerga telah terbagi selama bertahun-tahun antara (KPD) “partai demokrasi Kurdistan” yang di sokong oleh amerika dengan (PUK) “serikat patriot Kurdistan” yang berhaluan kiri dari Jalal Talabani. Kedua pihak ini telah berperang satu sama lain pada tahun "sembilan puluhan." Saat itu Barzani mencari bantuan dari Thaghut Saddam ketika melawan PUK, dan Talabani mencari bantuan kepada Rafidhah Iran ketika melawan PKK. Akhirnya Amerika terlibat dan memaksa kedua belah pihak untuk menyelesaikan perbedaan, hingga kemudian setelah invasi Amerika ke Iraq kedua belah pihak ini membentuk pemerintahan untuk Kurdistan di Iraq. Dan Sejak pembebasan Iraq dicapai oleh Daulah Islam, Kurdistan Iraq telah jatuh kedalam gejolak besar. Thaghut Barzani terus memegang kekuasaan meskipun mendapat penentangan dari Murtaddin Kurdi lainnya. Oposisi sebagian besar terdiri dari "Gerakan untuk Perubahan" (Gorran), partai Kurdi murtad yang berhaluan kiri dan dekat ke PUK dan PKK. Gorran mendukung PKK di Suriah dan Iraq serta menuduh Barzani menjadi agen Turki. PKK juga mendukung oposisi Gorran dalam melawan Barzani. Dan ini mirip dengan perang antara KPD dan PUK, atau KPD dengan PKK yang berperang satu dengan lainnya di Iraq pada tahun "sembilan puluhan."

Gejolak di Kurdistan Iraq mencapai pada titik protes dengan kekerasan yang diluncurkan oleh oposisi sayap kiri di kota-kota utama. Krisis ekonomi yang menyebabkan para pekerja negara kehilangan gaji dalam jangka waktu lebih dari tiga bulan telah dimanfaatkan sebagai isu utama. Oposisi menyalahkan korupsi keluarga Barzani dan KPD secara umum dalam masalah ini. Para pengunjuk rasa melempar dengan baru dan membakar kantor KPD. PPK menanggapinya dengan menembaki demonstran dan menewaskan beberapa dari mereka, hingga melibatkan "Human Right Watch" dalam kampanye melawan KPD. Semoga Allah meningkatkan permusuhan dan kekerasan antara Murtaddin dari KPD, PUK, PKK, dan Gorran.

Bagaimanapun juga, kekacauan politik ini adalah sebuah bahaya bagi misi amerika di Iraq dalam melawan Daulah Islam. Amerika menginginkan Thaghut Barzani untuk berkuasa dan ini bertentangan dengan PKK, yang saat ini tidak memiliki misi untuk memperluas wilayah ke Suriah. PKK juga dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika dan sekutunya. Sebuah agenda ekspansi telah mengancam stabilitas wilayah dan meningkatkan kekhawatiran bagi Pemerintahan murtad rezim Thaghut Erdogan, yang memberikan loyalitasnya kepada Amerika.

Sementara itu, ada beberapa laporan dari media Arab dan Iraq yang memberitakan bahwa oposisi Barzani bergerak perlahan mendekati Rusia dalam perang melawan Daulah Islam. Oposisi Barzani telah menunjukkan kesediaan untuk meninggalkan misi Amerika dan mendukung misi Rusia, hal ini dikarenakan hubungan lama antara oposisi sayap kiri dengan Soviet.

Gejolak di Kurdistan Iraq adalah penyebab utama di balik penyerangan Amerika dan Peshmerga di sebuah penjara di wilayah Karkuk. Amerika ingin menyelamatkan muka Barzani dan dengan demikian barzani akan memberinya basis dukungan yang kuat. "penyelamatan” atas tujuh puluh tentara Peshmerga akan menjamin kemenangan Barzani, sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh oposisi. Tetapi penggerebekan itu tidaklah dapat membebaskan satu orangpun anggota Peshmerga. Sebaliknya, hal itu malah menghambat misi Amerika dan membunuh beberapa tahanan di dalam Penjara Daulah Islam serta membunuh seorang tentara Amerika. Kemudian hal ini diikuti oleh eksekusi Daulah Islam terhadap empat Tahanan Peshmerga dalam sebuah video.

Rafidhah Iraq dan Iran

Rafidhah Iraq telah menganggap Iran memiliki otoritas mutlak atas mereka karena keyakinan "Wilayah al- Faqih" mereka, keyakinan yang menjadi dasar atas apa yang disebut "Pemimpin tertinggi Iran" menjadi pemuncak dalam kewenangan beragama dan politik Rafidhah di mana-mana. Jadi sebagaimana orang Amerika menyokong rezim Rafidi Baghdad dan milisi Rafidi yang berjuang bersamanya dalam perang melawan Daulah Islam, maka hal itu telah memperkuat salah satu musuh sejarah regional – Rezim Iran. Rezim Rafidi telah menjalankan banyak persekutuan bersama Barat di Yaman dan Lebanon sebagai plot yang mirip dengan plot di Semenanjung Arab di Bahrain, Kuwait, dan "Arab Saudi”. Jadi Amerika telah terjebak didalam rawa: Haruskah ia terus mendukung Rafidhah murtad melawan Daulah Islam, dimana hal itu malah akan lebih menggalakkan Rafidhah untuk melaksanakan revolusi di tempat lain? Atau haruskah ia mengadopsi kebijakan non-interferensi dan hanya menunggu runtuhnya Rafidhah dan Thawaghit di tangan Daulah Islam? Keangkuhan Amerika telah membutakan mereka sebagaimana butanya beruang coklat yang mabuk, sebagaimana ia lebih suka campur tangan dengan cara apapun yang akan membawa kehancuran pada akhirnya.

Berikut adalah hal penting yang perlu dicatat bahwa salah satu prinsip dari Rafidhah adalah taqiyah, dan hal itu seperti penguluran waktu ketika mereka bernegosiasi dengan tentara salib dalam mengembangkan dan mempersenjatai Program nuklir mereka, sesuatu yang harus dilawan sesuai klaim Amerika. Dan Tentu saja, senjata tersebut mungkin hanya akan digunakan untuk melawan Ahlus-Sunnah dalam membela orang-orang Yahudi yang akan mengikuti "Mahdi" dari Rafidhah . Tetapi Allah akan melindungi muslim dari plot Rafidhah ini.

Negara Yahudi

Meskipun ada persaingan diantara Rafidhah dan negara Yahudi, akan tetapi mereka memiliki lebih banyak kesamaan satu dengan lain daripada agama-agama kufur lainnya. Mereka berdua menunggu "penyelamat" yang mereka katakan akan memusnahkan pengikut Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dan intervensi Rusia di Syam telah membawa kesempatan bagi Rafidhah dan negara Yahudi untuk saling merapatkan satu sama lain melalui Rusia. Sebelum melancarkan serangan udara pertamanya di Syam, Rusia menghubungi negara Yahudi dan memperingatkan kehadiran Rusia di langit Syam. Putin kemudian bertemu dengan Netanyahu di Moskow pada "21 September 2015" untuk membahas rincian serangan dan mengkoordinasikan misi masing-masing. Dalam hal ini, Zvi Magen –mantan Duta Besar Israel di Moskow- mengatakan kepada Economist pada "30 September 2015," "Israel telah memperjelas baginya (Putin) bahwa kita (orang Yahudi) tidak memiliki masalah yang nyata dengan Assad." Dan pada saat yang sama, Rusia berjanji untuk membatasi pengaruh Iran dan Hizbullat (Hizbullah) di Syam.

Apakah mungkin hubungan antara negara Yahudi, Rafidhah dan Nushairiyah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar melalui Rusia sementara Netanyahu dan Obama terlibat perselisihan terkait Hubungan Amerika-Yahudi dan kebijakannya?

Apa Yang Telah Berubah?

Orang mukmin mungkin akan bertanya, apa yang telah berubah setelah intervensi Rusia? Jawabannya adalah bahwa tidak ada yang berubah kecuali kesempatan untuk mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala sekarang menjadi lebih besar. Para Mujahid yang sabar dalam menghadapi serangan udara tentara salib, Thaghut, Nushairiyah, dan Rafidi akan semakin dekat kepada Allah subhanahu wa ta'ala ketika ia menguatkan kesabaran dalam menghadapi Serangan udara yang lebih banyak dari negara-negara tentara salib lainnya. Para prajurit dari Daulah Islam yang sabar dalam menghadapi pertengkaran yang tumpang tindih dalam koalisi tentara salib dan koalisi Rafidi ini tidaklah berubah dengan masuknya Rusia kedalam salah satu koalisi anti-Islam, dan mereka menyadari bahwa Rusia selalu menjadi pendukung Thaghut Nushairiyah Al-Assad.

Jadi apakah peristiwa ini merupakan pendahuluan dari gencatan senjata sebagaimana yang dinubuatkan antara Muslim dan orang-orang Romawi? Akankah Barat mencabut dukungannya dari Rafidhah, Thawaghit murtad, dan negara Yahudi? Dan akankah intervensi Rusia dalam mendukung Iran di Syam dan Iraq menjadi awal bagi Barat untuk mengajukan gencatan senjata kepada Khilafah? Semua orang hanya dapat mengatakan adalah bahwa Allah maha mengetahui yang terbaik.

Dan tidak ada perubahan bagi Daulah Islam, karena ia akan tetap melanjutkan mengucapkan takfir pada orang-orang Yahudi, Kristen, penyembah berhala, murtadin Rafidhah, Nushairiyah, Shahawat, dan Thawaghit. Mereka akan terus berperang melawan murtadin sampai mereka bertobat dari kemurtadan. Mereka akan terus berperang melawan musyrikin sampai mereka menerima Islam. Serta akan terus berperang melawan Negara Yahudi hingga Yahudi bersembunyi di balik pohon Gharqad mereka. Dan juga akan terus berperang melawan orang-orang Kristen sampai gencatan senjata diputuskan beberapa saat sebelum Malhamah. Dan setelah itu, pasar-pasar budak akan dimulai di Roma dengan Kekuasaan dan kekuatan Allah.

Semoga Allah senantiasa mematahkan dan menghancurkan barisan koalisi kafir dan aliansinya di seluruh muka bumi.

Catatan kaki :

(1) Untuk lebih lanjut tentang permusuhan dari berbagai agama, sekte, dan pihak kufur satu dengan lainnya, lihat Dabiq, edisi 9, halaman 17-18.

(2) PKK dan link-nya dengan Nushairiyah serta Rafidhah juga disebutkan oleh murtadin Osman Ocalan -mantan anggota senior PKK dan saudara Abdullah Ocalan- ketika wawancara pada "12 Mei 2015" dengan "Niqash" di mana ia mengatakan, "PKK telah menjadi bagian dari gerakan Muslim Syiah dan pada khususnya ada Aliran Alawit yang kuat di dalam partai ... ini telah menjadikan PKK lebih dekat ke Iran dan saya percaya bahwa partai sekarang memiliki hubungan persahabatan dengan Iran, al-Assad dan al-Abadi. "

(3) Daerah dari "rekonsiliasi" yang disebutkan disini telah disebutkan dalam Dabiq edisi 9, "Wawancara dengan amir dari Daerah Camp Yarmuk," halaman 66-73.

(4) Silahkan merujuk pada Dabiq edisi 11, "al-Mahdi dari Rafidhah," halaman 16-17.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar