RUMIYAH 1 - PENGANTAR
BANGKIT DAN MATILAH DIATAS APA YANG DIPERJUANGKAN SAUDARAMU
Para penganut kebathilan di setiap waktu menjadikan terbunuhnya orang-orang shalih di tangan musuh-musuh islam baik dari kalangan musyrikin maupun murtaddin sebagai kabar gembira bagi mereka dan menganggap itu adalah kehancuran bagi muwahhidin; apakah orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala telah menetapkan ajal bagi setiap jiwa sebelum diciptakannya langit dan bumi?
Allah ta’ala berfirman:
(Tiap-tiap umat mempunyai (ajal); maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya) (QS al-A’raf: 34)
Takdir ini mencakup seluruh manusia baik dia Nabi, wali, orang bertaqwa, maupun orang kafir atau Dzalim. Orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala dengan segala kehendak-Nya akan terus menjagaDien-Nya. Dien ini akan senantiasa tegak, tidak berpengaruh dengan gugurnya siapapun. Jika kematian itu berpengaruh dan membahayakan dien, tentu kematian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan sangat membahayakannya.
Namun kenyataannya dien ini tetap eksis setelah kematian mereka. Bahkan Allah semakin menguatkannya dan meluaskan penyebarannya di seluruh penjuru bumi, dengan penjagaan-Nya dan dengan menggerakkan hamba-hamba-Nya yang shalih untuk menolong dien-Nya, yang ciri mereka terdapat dalam firman-Nya:
(Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela) (QS al-Maidah: 54)
Para rabbani yang benar-benar takut kepada Allah dan beribadah untuk-Nya dengan sebenar-benar ibadah, jika ada orang shalih dari mereka yang meninggal, mereka tidak akan berkata kecuali mengingatkan saudara-saudaranya dengan apa yang pernah dikatakan Abu Bakar as-Shidiq –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabatnya setelah wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam:
“Barang siapa yang menyembah Muhammad sungguh Muhammad telah mati, dan barang siapa yang menyembah Allah maka Allah hidup dan tidak akan mati.”
Adapun para mujahidin di jalan Allah, mereka adalah ciptaan Allah yang spesial, yang Allah pilih dari sekian banyak hamba-Nya untuk menjadikannya sebagai syuhada’, dan memberikan mereka ganjaran yang besar. Kematian para komandan dan umara’ yang dahulu menerjuni kancah peperangan di depan mereka dan berperang demi Dien, tidak menambah kecuali keteguhan dan semangat untuk tetap memerangi musuh-musuh Allah. Mereka tidak akan berkata kecuali seperti kata-kata Anas bin Nadhr –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ia melihat semangat mulai mengendor setelah tersiar kabar dusta kematian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Katanya: “Apa yang mengendorkan semangat kalian? Mereka berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal!” Ia membalas: “Lalu apa yang kalian harapkan dari kehidupan setelah kematiannya? Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam!” Maka mereka pun bangkit dan berperang hingga terbunuh.
Ini adalah sunnah bagi muwahhidin di setiap zaman dan tempat. Setiap kali satu generasi gugur maka munculah generasi lain yang kembali mengemban panji tauhid dan bangkit menyelami peperangan sekali lagi dalam melawan kesyirikan dan para penganutnya. Moto setiap dari mereka adalah: ”Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan saudaramu yang telah mendahuluimu dalam keimanan”.
Sungguh terbunuhnya saudara-saudara kita terdahulu yang kokoh kesabarannya seperti Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah– tidak akan membahayakan islam sedikitpun, karena islam akan selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Juga tidak akan membahayakan saudara-saudara kami sedikitpun, karena kami menganggap mereka semua tidaklah keluar berperang di jalan Allah kecuali untuk mengharapkan mati syahid, maju pantang mundur. Allah ta’ala berfirman tentang mereka:
(Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati* Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman..) (QS Ali Imran: 169-171).
Sungguh terbunuhnya mereka tidak akan membahayakan Daulah Islamiyah dengan izin Allah selama ia tetap teguh di atas tauhid dan Sunnah. Allah akan mengaruniakan kepada Daulah para kesatria yang membuat geram orang-orang kafir dan melegakan dada-dada orang beriman. Sebagaimana Allah mengaruniakannya para kesatria yang membangun pondasinya, menegakkan tiangnya, dan meninggikan bangunannya, sampai hari ini ia memperoleh kemuliaan dan tamkin dengan karunia Allah.
Ketika orang-orang musyrik dan murtad gembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi –taqobbalahullah– mereka tidak tahu bahwa Allah akan menggerakan bala tentara Syaikh yang akan menyungkurkan muka mereka ke dalam tanah. Diantara para kesatria yang membuat mereka geram adalah Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani taqobbalahullah.
Hari ini mereka bergembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah–, namun kelak mereka berteriak meratap ketika Allah –dengan izin-Nya– mengirim orang-orang yang akan memberikan mereka siksaan pedih, yaitu bala tentara Abu Muhammad dan rekan-rekannya,
(Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (QS al-Hajj: 40)
BANGKIT DAN MATILAH DIATAS APA YANG DIPERJUANGKAN SAUDARAMU
Para penganut kebathilan di setiap waktu menjadikan terbunuhnya orang-orang shalih di tangan musuh-musuh islam baik dari kalangan musyrikin maupun murtaddin sebagai kabar gembira bagi mereka dan menganggap itu adalah kehancuran bagi muwahhidin; apakah orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala telah menetapkan ajal bagi setiap jiwa sebelum diciptakannya langit dan bumi?
Allah ta’ala berfirman:
(Tiap-tiap umat mempunyai (ajal); maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya) (QS al-A’raf: 34)
Takdir ini mencakup seluruh manusia baik dia Nabi, wali, orang bertaqwa, maupun orang kafir atau Dzalim. Orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala dengan segala kehendak-Nya akan terus menjagaDien-Nya. Dien ini akan senantiasa tegak, tidak berpengaruh dengan gugurnya siapapun. Jika kematian itu berpengaruh dan membahayakan dien, tentu kematian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan sangat membahayakannya.
Namun kenyataannya dien ini tetap eksis setelah kematian mereka. Bahkan Allah semakin menguatkannya dan meluaskan penyebarannya di seluruh penjuru bumi, dengan penjagaan-Nya dan dengan menggerakkan hamba-hamba-Nya yang shalih untuk menolong dien-Nya, yang ciri mereka terdapat dalam firman-Nya:
(Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela) (QS al-Maidah: 54)
Para rabbani yang benar-benar takut kepada Allah dan beribadah untuk-Nya dengan sebenar-benar ibadah, jika ada orang shalih dari mereka yang meninggal, mereka tidak akan berkata kecuali mengingatkan saudara-saudaranya dengan apa yang pernah dikatakan Abu Bakar as-Shidiq –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabatnya setelah wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam:
“Barang siapa yang menyembah Muhammad sungguh Muhammad telah mati, dan barang siapa yang menyembah Allah maka Allah hidup dan tidak akan mati.”
Adapun para mujahidin di jalan Allah, mereka adalah ciptaan Allah yang spesial, yang Allah pilih dari sekian banyak hamba-Nya untuk menjadikannya sebagai syuhada’, dan memberikan mereka ganjaran yang besar. Kematian para komandan dan umara’ yang dahulu menerjuni kancah peperangan di depan mereka dan berperang demi Dien, tidak menambah kecuali keteguhan dan semangat untuk tetap memerangi musuh-musuh Allah. Mereka tidak akan berkata kecuali seperti kata-kata Anas bin Nadhr –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ia melihat semangat mulai mengendor setelah tersiar kabar dusta kematian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Katanya: “Apa yang mengendorkan semangat kalian? Mereka berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal!” Ia membalas: “Lalu apa yang kalian harapkan dari kehidupan setelah kematiannya? Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam!” Maka mereka pun bangkit dan berperang hingga terbunuh.
Ini adalah sunnah bagi muwahhidin di setiap zaman dan tempat. Setiap kali satu generasi gugur maka munculah generasi lain yang kembali mengemban panji tauhid dan bangkit menyelami peperangan sekali lagi dalam melawan kesyirikan dan para penganutnya. Moto setiap dari mereka adalah: ”Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan saudaramu yang telah mendahuluimu dalam keimanan”.
Sungguh terbunuhnya saudara-saudara kita terdahulu yang kokoh kesabarannya seperti Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah– tidak akan membahayakan islam sedikitpun, karena islam akan selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Juga tidak akan membahayakan saudara-saudara kami sedikitpun, karena kami menganggap mereka semua tidaklah keluar berperang di jalan Allah kecuali untuk mengharapkan mati syahid, maju pantang mundur. Allah ta’ala berfirman tentang mereka:
(Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati* Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman..) (QS Ali Imran: 169-171).
Sungguh terbunuhnya mereka tidak akan membahayakan Daulah Islamiyah dengan izin Allah selama ia tetap teguh di atas tauhid dan Sunnah. Allah akan mengaruniakan kepada Daulah para kesatria yang membuat geram orang-orang kafir dan melegakan dada-dada orang beriman. Sebagaimana Allah mengaruniakannya para kesatria yang membangun pondasinya, menegakkan tiangnya, dan meninggikan bangunannya, sampai hari ini ia memperoleh kemuliaan dan tamkin dengan karunia Allah.
Ketika orang-orang musyrik dan murtad gembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi –taqobbalahullah– mereka tidak tahu bahwa Allah akan menggerakan bala tentara Syaikh yang akan menyungkurkan muka mereka ke dalam tanah. Diantara para kesatria yang membuat mereka geram adalah Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani taqobbalahullah.
Hari ini mereka bergembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah–, namun kelak mereka berteriak meratap ketika Allah –dengan izin-Nya– mengirim orang-orang yang akan memberikan mereka siksaan pedih, yaitu bala tentara Abu Muhammad dan rekan-rekannya,
(Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (QS al-Hajj: 40)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar