DABIQ 15 - WAWANCARA
WAWANCARA DENGAN ABU SA’AD AT-TRINIDADI
Bulan ini, Dabiq mendapat kesempatan untuk mewawancarai Abu Saad at-Trinidadi, seorang mantan Kristen yang masuk Islam dan sekarang menjadi salah satu dari sejumlah besar muhajirin dari Trinidad dan Tobago yang berjuang di bawah bendera Daulah Islam.
Dabiq: Kapan Anda menjadi seorang Muslim dan bagaimana hal itu bisa terjadi?
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah. Sholawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah.
Saya berasal dari keluarga Kristen Baptis, sejak usia dini mereka mengirim sepupu saya dan saya ke sekolah Minggu. Di sana saya belajar tentang Alkitab hingga ada bagian yang bahkan saya hafal, dan juga belajar tentang nabi-nabi. Perjalanan saya menuju Islam dimulai ketika saya berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Ibu saya biasanya mengantar saya ke gereja pada hari Minggu. Suatu hari ketika menghadiri kebaktian dan anggota jemaat bernyanyi dan menari, saya berkeliling dan melihat-lihat gambar yang mereka akui sebagai Yesus, malaikat, dan lain-lain, serta salib. Saya berkata kepada diri saya sendiri, "Ada sesuatu yang salah di sini," karena yang saya ingat bahwa dua perintah utama adalah, "Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku" dan "Jangan membuat patung bagimu," seperti yang diajarkan kepada saya di sekolah Minggu.
Hal ini memiliki pengaruh terhadap saya serta fakta yang saya temukan ketika melihat pendeta - yang menikah dan memiliki anak-anak – mendatangi tetangga sebelah dan berzina. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa orang ini menuntun saya ketika dia sendiri tidak mengikuti Alkitab. Saya mengatakan kepada ibu bahwa saya tidak akan kembali ke gereja, dan saya akan berdoa sesuai dengan apa yang saya pelajari dari Alkitab. Bertahun-tahun kemudian, nenek saya membelikan saya kalung perak dengan liontin salib. Ketika saya akan memakai kalung itu saya berpikir, "liontin (salib) ini adalah berhala." Jadi saya membuang liontinya (salib) dan memakai kalungnya. Pengetahuan saya waktu itu yang hanya sebatas dua perintah utama telah memberikan pemahaman bahwa apa yang sedang mereka lakukan tidak sejalan dengan kebenaran. Pada titik ini, saya tidak menganggap bahwa diri saya adalah bagian dari salah satu ummat Kristen, tapi itulah sejauh yang saya tahu.
Di sekolah, berbagai agama diajarkan kepada saya, tapi saya tetap pada keyakinan saya. Ketika saya berumur sekitar dua puluh tahun, saya menerima agama kebenaran, Islam. Saya bekerja di call center dan mengenal seorang rekan kerja Muslim di sana. Kebetulan Kami memiliki banyak kesamaan terkait dunia, dan karena alasan ini, saya menghabiskan banyak waktu dengannya. Saya menanyakan banyak pertanyaan tentang agama kepadanya. Dalam percakapan kami, saya bertanya kepadanya tentang keyakinan Muslim, dan juga menanyakan tentang Yesus dan Muhammad, dan setiap hal yang dia katakan kepada saya sangatlah masuk akal dan ini sejalan dengan apa yang saya ingat dari dua perintah utama, jadi dengan cepat saya tertarik kepada Islam dan menemukan diri saya sendiri mendebat Kristen karena saya tahu keyakinan mereka rusak.
Kadang-kadang, karena ketertarikan saya dengan Islam, ketika saya melihat dia shalat saya ingin shalat seperti dia, dan ketika saya lakukan, saya merasa sangat tenang setelah itu. Saya menemaninya shalat Jum'at beberapa kali dan melihat apa isinya, kemudian saya menjadi yakin bahwa ini adalah agama yang benar - agama Ibrahim, Musa, dan Yesus. Dalam percakapan terakhir kami sebelum saya memeluk Islam, saya mengatakan kepadanya bahwa saya berencana untuk menjual obat terlarang untuk menambah penghasilan keluarga saya. Dia mengatakan bahwa itu adalah salah dan bahwa tujuan baik tidak menghalalkan segala cara. Jadi saya jawab, "Anda mengatakan bahwa dalam Islam saya dapat membunuh orang, tapi kenapa saya tidak bisa menjual obat-obatan untuk memberi makan keluarga saya?" Dia kemudian mulai menjelaskan kepada saya tujuan akhir dari jihad serta beberapa keadaan menyedihkan yang menimpa Muslim, dan setelah percakapan itu, saya mantap untuk menyatakan kesaksian iman dan menjadi seorang Muslim.
Dabiq: Bagaimana Anda menemukan dakwah tentang jihad?
Abu Saad at-Trinidadi: Ada sebuah faksi Muslim di Trinidad yang terkenal akan "Militansi" anggotanya yang berusaha menggulingkan pemerintah kafir namun dengan cepat mereka menyerah, murtadd, dan berpartisipasi dalam agama demokrasi hingga mendemonstrasikan bahwa mereka bukanlah pada metodologi jihad yang benar. Dalam kasus saya, seperti banyak Muslim lainnya di Barat, dakwah tentang jihad sampai kepada saya melalui ceramah dari Syaikh Anwar al-'Awlaqi Rahimahullah. Setelah mendengarkan berbagai ceramahnya berulang kali, saya mendapatkan pemahaman yang lebih tegas tentang apa yang seharusnya kita lakukan sebagai umat Islam.
Saya mendengarkan seri ceramahnya yang berjudul "istiqomah di Jalan Jihad" dan juga seri ceramahnya tentang "fiqih Jihad." Dengan karunia Allah, ada seorang pria yang alim dan menjadi rujukan saya dan ia dapat menjawab pertanyaan saya. Namanya Syaikh Ashmead Choate dan dia telah mempelajari hadits dan lulus dari salah satu perguruan tinggi Islam di Timur Tengah. Dia Taqabbalahumullah berhijrah ke Daulah Islam dan mencapai syahid dalam pertempuran di Romadiy.
Dabiq: Ceritakan kepada kami tentang upaya jihad di Trinidad dan Tobago.
Abu Saad at-Trinidadi: Saya, bersama dengan saudara saya dalam Islam Abu 'Abdillah Taqabbalahullah (Mualaf lainnya dari kristen), Abu 'Isa Taqabbalahullah, dan sejumlah saudara lainnya dari Trinidad yang kemudian berhijrah setelah kami, membentuk sebuah kelompok yang menangani beberapa isu terkait Muslim yang orang-orang lain takut untuk menanganinya. Salah satu tujuan kami adalah untuk berhijrah - ketika kami memiliki kemampuan untuk melakukannya - dan bergabung dengan mujahidin yang berusaha untuk merebut dan membersihkan tanah Muslim dari semua rezim murtadd, pada akhirnya saya selalu mejadikan diri saya “up to date” terkait semua berita terbaru di seluruh dunia islam dan front jihad. Kami akan mempertimbangkan semua pilihan kami ketika kami menunggu kesempatan untuk hijrah. Pada saat yang sama, kami tahu bahwa kami tidak bisa hanya duduk dan bermimpi tanpa melakukan apapun, jadi setiap kali orang kafir di Trinidad membunuh atau menyakiti seorang Muslim, kami akan membalas dendam. Kami bekerja untuk mengumpulkan uang demi membeli senjata dan amunisi. Alhamdulillah, kami berhasil dalam banyak operasi, dan itu hanya karena karunia Allah.
Pada satu titik, Abu 'Abdillah, istri saya, dan saya ditangkap, tapi polisi tidak mampu menjerat kami dalam satu kasuspun. Namun kami tetap dikenakan biaya atas kepemilikan senjata dan amunisi. Mereka menyita komputer dan telepon saya hingga mereka menemukan video, buku, dan ceramah tentang jihad. Pemerintah taghut Trinidad kemudian menjadikannya plot terhadap kami, mengklaim bahwa kami berencana membunuh perdana menteri dan sejumlah menteri dalam rangka menimbulkan kekacauan dan kepanikan di negara ini. Itu akan menjadi suatu kehormatan bagi kami untuk dicoba, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, realitas operasi kami jauh lebih kecil dari itu. Kami dipenjara karena terorisme bersama dengan beberapa Muslim yang bahkan kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Alhamdulillah, mereka membuat makar namun makar Allah adalah yang terbaik. Mereka tidak mampu menjerat kami dalam sebuah kasus dan kami dibebaskan dengan izin Allah, dan meskipun berada di bawah pengawasan, kami tetap kembali melakukan apa yang harus kami lakukan, memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan.
Dabiq: Setelah memutuskan untuk berhijrah ke syam dengan dua teman terdekat Anda, Abu 'Abdillah dan Abu 'Isa, Hijrah anda mengalami penundaan. Apa yang terjadi?
Abu Saad at-Trinidadi: Kami bertiga memutuskan untuk berhijrah ke Syam dan bergabung dengan Daulah Islam setelah menyaksikan penderitaan umat Islam di Syam, tapi kami memiliki beberapa urusan yang belum selesai dengan beberapa orang kafir yang telah merugikan kaum Muslimin. tiket sudah kami pesan, dan kami siap untuk berangkat dalam waktu seminggu tapi kami merasa bersalah bila meninggalkan tanpa menyelesaikan apa yang harus diurus. Itu adalah keputusan yang sulit, dan karena alasan itu, kami kemudian melihat kembali dan mengatakan bahwa mungkin itu adalah ujian terakhir dari Allah untuk melihat apakah kami layak untuk diberi kehormatan akan hijrah dan jihad. Kami memutuskan untuk menunda hijrah kami, Itu sangatlah menyakitkan namun dengan segera datang kesempatan untuk membalas dendam pada dua penjahat kafir yang kami buru.
Operasi itu dilakukan di tengah kota pada siang hari dan terekam kamera. Rencana kami tidaklah seperti itu, tapi itu semua terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Setelah operasi, Abu 'Abdillah dan Abu 'Isa ditangkap, sedangkan aku bersembunyi. Kami memutuskan bahwa kami harus meninggalkan Trinidad karena tidak ada yang dapat menghentikan hijrah kami, dengan izin Allah. Sekali lagi, Allah menganugerahkan nikmat yang luar biasa pada kami ketika Abu 'Isa dilepaskan dan penyelidikan ditunda. Abu 'Abdillah kemudian juga dibebaskan dan kami segera meninggalkan Trinidad satu-per-satu. Saya berangkat pertama kali bersama dengan istri saya, diikuti oleh Abu 'Abdillah, dan kemudian Abu ‘Isa, dan kami bertemu di Venezuela. Namun kami melewatkan penerbangan kami sehingga kami harus tinggal sementara di sana untuk beberapa waktu sampai kami dapat memesan penerbangan baru.
Dabiq: Apa Peran Anda saat di sini, di Khilafah?
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah, Sekarang saya adalah salah satu dari banyak penembak jitu di barisan mujahidin di khilafah. Saya keluar secara teratur bersama tim saya untuk mengambil bagian dalam banyak pertempuran sengit melawan berbagai musuh Daulah Islam.
Dabiq: Anda dan dua sahabat hijrah Anda, Abu 'Abdillah dan Abu ‘Isa, adalah tiga Muslim pertama yang berhijrah ke Syam dari Trinidad dan Tobago. Di mana dua sahabat Anda sekarang?
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah kami diberkahi dengan kesempatan untuk berhijrah dan berjihad, dan juga mengambil bagian dalam kebangkitan khilafah. Abu 'Isa dan Abu ‘Abdillah keduanya telah diberkahi dengan kesyahidan. Saya menganggap mereka demikian, dan Allah adalah hakim mereka.
Abu 'Isa syahid ketika di Marista, sebuah desa didekat Azaz ketika Shahawat mencapai puncaknya di Syam. Waktu itu ia ditempatkan untuk ribat di desa, murtaddin datang dan menyerangnya dengan kekuatan besar, termasuk beberapa BMP dan senjata berat. Saudara-saudara kami berjumlah sekitar 15 orang dan hanya dipersenjatai dengan Kalashnikov. Setelah pertempuran awal, mereka memutuskan untuk mundur. Abu 'Isa dan ikhwah lainnya tinggal ditempat untuk melindungi mereka yang mundur. Ketika mereka sedang mencari jalan keluar, mereka diapit oleh murtaddin dan Abu 'Isa ditembak beberapa kali namun dia tidak mati sampai murtaddin mendekat dan mengeksekusinya di kepala saat ia terbaring terluka di tanah. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian mereka kembali mengambil alih desa, dan mereka menyebutkan kepada kami bahwa ketika mereka menguburkan Abu 'Isa dan para syuhada lainnya, ada bau misk yang sangat kuat.
Adapun Abu' Abdillah, maka dia syahid di Maghribtayn, sebuah desa didekat kota Sirrin di pedesaan Aleppo setelah menghabiskan hampir dua tahun berjuang dijalan Allah. Kesyahidannya datang saat ia dan saudara-saudaranya terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan Salib dengan dukungan udara di wilayah tersebut. Pesawat tempur Tentara Salib dan drone terbang diatas Abu 'Abdillah yang memimpin sebuah tim yang terdiri dari 4 penembak jitu. Dia melakukan pekerjaan yang sangat baik hingga mampu mengecoh murtaddin agar tidak menembak saudara-saudara lainnya dan hanya fokus pada posisinya. Dia sampai pada titik itu adalah karena semua orang memanggilnya dan memberitahu semua posisi murtaddin termasuk senjata berat mereka, dan itu segera menjadi jelas ketika ikhwah menyadap obrolan radio murtaddin bahwa sebagian besar perhatian mereka terfokus hanya pada dirinya.
Pengintainya, Abu Samir yang juga dari Trinidad dan seorang mualaf dari Kristen, tertembak dan harus meninggalkan arena untuk perawatan medis, tetapi Abu 'Abdillah tidak berhenti berjuang. Hal terakhir yang saya dengar dari radio adalah, "Posisiku terganggu, Aku mengubah posisi." Apa yang kami lihat adalah semua peluru murtaddin menuju keposisinya dan dia tertembak di kepalanya sebelum ia berpindah. Ketika ikhwah lain menemukan tubuhnya, ia tersenyum dan tampak seperti sedang tidur.
Dabiq: Bagaimana reaksi keluarga Anda ketika mereka mengetahui Anda menjadi seorang Muslim?
Abu Saad at-Trinidadi: Ketika saya menjadi seorang Muslim, ibu saya mengatakan kepada saya bahwa dia menghormati keputusan saya. Alhamdulillah, dia juga memeluk Islam beberapa tahun setelah saya. Dia sangat mencintai Islam sehingga mengatakan bahwa dia berharap dapat mempelajari Islam sejak dulu sehingga dia bisa memeluk Islam lebih cepat. Alhamdulillah, salah satu saudara saya juga mulai mempraktekkan Islam. Adapun keluarga saya yang lain, saya memohon kepada Allah agar membimbing mereka.
Dabiq: Bagaimana reaksi keluarga Anda ketika mereka mengetahui Anda menjadi seorang prajurit dari Negara Daulah Islam?
Abu Saad at-Trinidadi: Beberapa kerabat Kristen kafir menggunakan fakta bahwa saya adalah seorang prajurit dari Daulah Islam dalam pertengkaran mereka dengan orang lain. Mereka mengatakan, sebagai contoh, "saudaraku adalah teroris ISIS, lebih baik Anda berhati-hati!" SubhanAllah, ini menjadi sebuah kehormatan dari Allah yang telah mengaruniakan khilafah, kami bahkan melihat banyak orang-orang kafir mengakuinya.
Dabiq: Beritahu kami tentang komunitas Muslim di Trinidad dan Tobago.
Abu Saad at-Trinidadi: Di Trinidad, sekitar 7-10% dari populasi memeluk Islam, meskipun banyak dari mereka adalah murtaddin yang tidak ada hubungannya dengan Islam kecuali hanya namanya saja. Ketika saya masih tinggal di sana, ada Murjiah, modernis, dan Tabligh, serta beberapa kantong pro-Arab "Salafi" yang menyimpang. Sangat sedikit orang yang berada pada aqidah yang lurus, terutama karena sebagian besar dari mereka telah berhijrah. Bagi mereka yang tertinggal dibelakang dan melalaikan hijrah - sementara mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya – maka jelas ia memiliki kelemahan dalam imannya yang harus diperbaiki.
Dabiq: Kami melihat banyak mujahidin dari Trinidad dan Tobago di sini di tanah Khilafah bersama dengan keluarga mereka. Apakah kebanyakan mereka mualaf, atau apakah sebagian besar mereka berasal dari keluarga Muslim?
Abu Saad at-Trinidadi: Sekitar 60% mujahidin dari Trinidad disini di tanah Khilafah berasal dari keluarga Muslim, sedang 40% sisanya adalah mualaf. Dan sebagian besar mereka dari Kristen.
Dabiq: Bagaimana perasaan Anda ketika menjadi dari salah satu pelopor yang membuka jalan bagi banyak orang untuk berhijrah ke tanah khilafah?
Abu Saad at-Trinidadi: Saya memuji Allah atas pemberian kesempatan kepada saya untuk berhijrah dan berjihad. Ini benar-benar nikmat yang besar sekali dari-Nya. Ketika kami pertama kali berhijrah, kami tidak pernah membayangkan bahwa kami akan menyaksikan impian kami akan Khilafah menjadi kenyataan. Kami mengira bahwa itu sudah dekat, tapi kami tidak berpikir bahwa darah kami akan menyirami tanah khilafah dan tengkorak kami akan menopang bendera tauhid (monoteisme Islam), membuka jalan bagi orang lain untuk melanjutkan misi ini dan menghidupkan kembali kekhilafahan, dan hanya karena rahmat Allah, Abu 'Abdillah dan aku telah melihat bahwa mimpi kami menjadi kenyataan. Tidak akan pernah cukup syukur kupanjatkan kepada Allah karena telah mengizinkan saya untuk menjadi orang pertama diantara orang-orang kami untuk berbagi dan membuat mimpi ini menjadi kenyataan.
Dabiq: Tidak ada Jihad tanpa kesulitan. Beritahu kami tentang beberapa ujian yang Anda hadapi setelah berhijrah dan bagaimana Anda mengatasinya.
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah, saya tidak bisa benar-benar mengatakan bahwa saya telah menghadapi banyak kesulitan setelah berhijrah. Saya berpikir bahwa hal yang paling sulit bagi saya adalah saat kehilangan banyak teman dekat. Selain itu, sekarang saya berada di rumah keempat saya karena terus dibom atau rusak dalam serangan udara, tetapi segala puji hanya bagi Allah dalam segala situasi.
Dabiq: Pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada Muslim di Trinidad?
Abu Saad at-Trinidadi: Bagian pertama dari pesan saya adalah untuk orang-orang yang mengaku beragama Islam namun membabi buta dalam mengikuti mufti dan imam: ketika mereka menyeru Anda untuk memilih para pemimpin taghut (dalam pemilu), mereka sedang menyeru Anda untuk melakukan kekufuran, namun Anda tetap mematuhi dan mengikuti mereka, dan itu adalah kemurtadan. Kukatakan kepadamu, takutlah kepada Allah dan kembalilah ke agama yang lurus. Kembalilah ke kitabulloh dan Sunnah nabi kita tercinta Shallallahu ‘alaihi wasallam, cukuplah itu bagi kita sebagai panduan. Jangan tertipu dan jangan biarkan dirimu mengikuti para pemimpin yang jahat. Bacalah biografi nabi kita tercinta Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga Anda dapat melihat bagaimana ia menyelesaikan berbagai hal. Karena mengikuti para ulama istana itu tidaklah berasal dari agama yang benar. Takutlah kepada Allah karena Ia harus ditakuti, dan bangkit lalu kembalilah ke agama yang benar sebelum terlambat.
Kepada orang-orang yang saya kenal yang telah belajar tentang aqidah yang lurus, saya katakan: apa yang terjadi dengan Anda? Anda telah ditipu dan diperdaya oleh iblis. Tahun-tahun telah berlalu dan Anda masih belum berhijrah ke tanah Islam, tanah Anda, tempat yang sering kita bicarakan dan impikan. Hal ini telah menjadi kenyataan, namun Anda malah menjadi bagian di antara mereka yang tertinggal. Anda ingin anak Anda hidup di negeri di mana hukum Allah adalah yang tertinggi, namun Anda sekarang tetap di tempat di mana Anda tidak memiliki kehormatan dan dipaksa untuk hidup dalam kehinaan, dibawah ketiak orang-orang kafir. Jangan menjadi bagian dari orang-orang yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala didalam Al Qur’an yang mulia. " Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali “ (An-Nisa: 97). Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang lalai untuk berhijrah ke tanah Islam.
Saya juga mengatakan kepada Anda, saudaraku, bahwa Anda sekarang memiliki kesempatan emas untuk melakukan sesuatu yang banyak diantara kami di sini berharap bisa melakukannya sekarang. Anda memiliki kemampuan untuk meneror orang-orang kafir di rumah mereka sendiri dan membuat jalan mereka dialiri dengan darah mereka. Dimanakah kecemburuan Anda untuk agama? Mereka membom saudara-saudara Anda siang dan malam di tanah di mana hukum Allah adalah yang tertinggi. Ini adalah kewajiban atas Anda untuk bertindak dan memaksa mereka untuk berpikir tiga kali sebelum mengebom Muslim. Oleh karena itu, terorlah orang-orang kafir dan buatlah mereka merasa takut di manapun mereka berada, bahkan di kamar tidur mereka sendiri. Dan hanya Karena keyakinan mereka saja, hukum asal darah mereka adalah halal untuk ditumpahkan. Maka seberapa besar lagi kewajiban untuk melakukannya setelah mereka mengobarkan perang terhadap umat Islam dan membunuh wanita serta anak-anak mereka. Untuk alasan ini, diantara alasan lainnya, pemimpin Daulah Islam menekankan akan pentingnya untuk tidak membedakan antara tentara kafir dan mereka yang disebut sebagai "sipil."
Seranglah kepentingan koalisi salibis di dekat Anda, termasuk kedutaan mereka, bisnis mereka, dan "sipil" mereka. Bakarlah lembaga pemerintah mereka sebagaimana mereka membom bangunan kami di mana hukum Allah ditegakkan. Contohlah singa-singa di Perancis dan Belgia, contohlah pasangan yang diberkahi di California, dan contohlah para ksatria di Orlando dan Nice. Jika Anda melakukannya maka Allah akan memberi balasan kepada anda, dan Anda tidak akan pernah menyesal ketika Anda bertemu dengan-Nya. Namun, jika Anda meninggalkan saudara Anda dan terus hidup di bawah naungan musuh yang memerangi Islam dan berada didekat kepentingan Salibis, maka jangan terkejut jika Allah menghapus setitik iman yang masih tersisa di hati Anda yang sekarat, sebagai hukuman atas dosa dan ketidakjujuran Anda.
Dabiq: Sebagai seorang mualaf dari Kristen, apa pesan Anda yang ingin anda sampaikan ke Kristen?
Abu Saad at-Trinidadi: Kepada orang-orang Kristen saya katakan: Anda tahu bahwa Anda telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar dari Ibrahim, Musa, dan Yesus ’Alaihis salam. Kitab Anda telah dirusak sekian lama oleh para pemimpin Anda. Saya menyeru Anda untuk mengingat dua perintah utama, karena itulah yang membimbing saya kepada Islam dan ajaran yang benar dari semua nabi. Tunduk dan patuhlah kepada yang menciptakan Anda dan jangan membedakan antara nabi yang satu dengan yang lain, karena mereka semua datang dengan risalah yang sama. Ikutilah Nabi terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ketika anda melakukannya, Anda telah mengikuti semua nabi ’Alaihis salam. Jika Anda menolak, maka kami menawarkan pilihan untuk membayar jizyah dan hidup di bawah otoritas Islam dalam kehinaan, atau jika Anda menolak maka satu-satunya hal yang ada diantara Anda dan kami adalah pedang.
WAWANCARA DENGAN ABU SA’AD AT-TRINIDADI
Bulan ini, Dabiq mendapat kesempatan untuk mewawancarai Abu Saad at-Trinidadi, seorang mantan Kristen yang masuk Islam dan sekarang menjadi salah satu dari sejumlah besar muhajirin dari Trinidad dan Tobago yang berjuang di bawah bendera Daulah Islam.
Dabiq: Kapan Anda menjadi seorang Muslim dan bagaimana hal itu bisa terjadi?
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah. Sholawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah.
Saya berasal dari keluarga Kristen Baptis, sejak usia dini mereka mengirim sepupu saya dan saya ke sekolah Minggu. Di sana saya belajar tentang Alkitab hingga ada bagian yang bahkan saya hafal, dan juga belajar tentang nabi-nabi. Perjalanan saya menuju Islam dimulai ketika saya berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Ibu saya biasanya mengantar saya ke gereja pada hari Minggu. Suatu hari ketika menghadiri kebaktian dan anggota jemaat bernyanyi dan menari, saya berkeliling dan melihat-lihat gambar yang mereka akui sebagai Yesus, malaikat, dan lain-lain, serta salib. Saya berkata kepada diri saya sendiri, "Ada sesuatu yang salah di sini," karena yang saya ingat bahwa dua perintah utama adalah, "Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku" dan "Jangan membuat patung bagimu," seperti yang diajarkan kepada saya di sekolah Minggu.
Hal ini memiliki pengaruh terhadap saya serta fakta yang saya temukan ketika melihat pendeta - yang menikah dan memiliki anak-anak – mendatangi tetangga sebelah dan berzina. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa orang ini menuntun saya ketika dia sendiri tidak mengikuti Alkitab. Saya mengatakan kepada ibu bahwa saya tidak akan kembali ke gereja, dan saya akan berdoa sesuai dengan apa yang saya pelajari dari Alkitab. Bertahun-tahun kemudian, nenek saya membelikan saya kalung perak dengan liontin salib. Ketika saya akan memakai kalung itu saya berpikir, "liontin (salib) ini adalah berhala." Jadi saya membuang liontinya (salib) dan memakai kalungnya. Pengetahuan saya waktu itu yang hanya sebatas dua perintah utama telah memberikan pemahaman bahwa apa yang sedang mereka lakukan tidak sejalan dengan kebenaran. Pada titik ini, saya tidak menganggap bahwa diri saya adalah bagian dari salah satu ummat Kristen, tapi itulah sejauh yang saya tahu.
Di sekolah, berbagai agama diajarkan kepada saya, tapi saya tetap pada keyakinan saya. Ketika saya berumur sekitar dua puluh tahun, saya menerima agama kebenaran, Islam. Saya bekerja di call center dan mengenal seorang rekan kerja Muslim di sana. Kebetulan Kami memiliki banyak kesamaan terkait dunia, dan karena alasan ini, saya menghabiskan banyak waktu dengannya. Saya menanyakan banyak pertanyaan tentang agama kepadanya. Dalam percakapan kami, saya bertanya kepadanya tentang keyakinan Muslim, dan juga menanyakan tentang Yesus dan Muhammad, dan setiap hal yang dia katakan kepada saya sangatlah masuk akal dan ini sejalan dengan apa yang saya ingat dari dua perintah utama, jadi dengan cepat saya tertarik kepada Islam dan menemukan diri saya sendiri mendebat Kristen karena saya tahu keyakinan mereka rusak.
Kadang-kadang, karena ketertarikan saya dengan Islam, ketika saya melihat dia shalat saya ingin shalat seperti dia, dan ketika saya lakukan, saya merasa sangat tenang setelah itu. Saya menemaninya shalat Jum'at beberapa kali dan melihat apa isinya, kemudian saya menjadi yakin bahwa ini adalah agama yang benar - agama Ibrahim, Musa, dan Yesus. Dalam percakapan terakhir kami sebelum saya memeluk Islam, saya mengatakan kepadanya bahwa saya berencana untuk menjual obat terlarang untuk menambah penghasilan keluarga saya. Dia mengatakan bahwa itu adalah salah dan bahwa tujuan baik tidak menghalalkan segala cara. Jadi saya jawab, "Anda mengatakan bahwa dalam Islam saya dapat membunuh orang, tapi kenapa saya tidak bisa menjual obat-obatan untuk memberi makan keluarga saya?" Dia kemudian mulai menjelaskan kepada saya tujuan akhir dari jihad serta beberapa keadaan menyedihkan yang menimpa Muslim, dan setelah percakapan itu, saya mantap untuk menyatakan kesaksian iman dan menjadi seorang Muslim.
Dabiq: Bagaimana Anda menemukan dakwah tentang jihad?
Abu Saad at-Trinidadi: Ada sebuah faksi Muslim di Trinidad yang terkenal akan "Militansi" anggotanya yang berusaha menggulingkan pemerintah kafir namun dengan cepat mereka menyerah, murtadd, dan berpartisipasi dalam agama demokrasi hingga mendemonstrasikan bahwa mereka bukanlah pada metodologi jihad yang benar. Dalam kasus saya, seperti banyak Muslim lainnya di Barat, dakwah tentang jihad sampai kepada saya melalui ceramah dari Syaikh Anwar al-'Awlaqi Rahimahullah. Setelah mendengarkan berbagai ceramahnya berulang kali, saya mendapatkan pemahaman yang lebih tegas tentang apa yang seharusnya kita lakukan sebagai umat Islam.
Saya mendengarkan seri ceramahnya yang berjudul "istiqomah di Jalan Jihad" dan juga seri ceramahnya tentang "fiqih Jihad." Dengan karunia Allah, ada seorang pria yang alim dan menjadi rujukan saya dan ia dapat menjawab pertanyaan saya. Namanya Syaikh Ashmead Choate dan dia telah mempelajari hadits dan lulus dari salah satu perguruan tinggi Islam di Timur Tengah. Dia Taqabbalahumullah berhijrah ke Daulah Islam dan mencapai syahid dalam pertempuran di Romadiy.
Dabiq: Ceritakan kepada kami tentang upaya jihad di Trinidad dan Tobago.
Abu Saad at-Trinidadi: Saya, bersama dengan saudara saya dalam Islam Abu 'Abdillah Taqabbalahullah (Mualaf lainnya dari kristen), Abu 'Isa Taqabbalahullah, dan sejumlah saudara lainnya dari Trinidad yang kemudian berhijrah setelah kami, membentuk sebuah kelompok yang menangani beberapa isu terkait Muslim yang orang-orang lain takut untuk menanganinya. Salah satu tujuan kami adalah untuk berhijrah - ketika kami memiliki kemampuan untuk melakukannya - dan bergabung dengan mujahidin yang berusaha untuk merebut dan membersihkan tanah Muslim dari semua rezim murtadd, pada akhirnya saya selalu mejadikan diri saya “up to date” terkait semua berita terbaru di seluruh dunia islam dan front jihad. Kami akan mempertimbangkan semua pilihan kami ketika kami menunggu kesempatan untuk hijrah. Pada saat yang sama, kami tahu bahwa kami tidak bisa hanya duduk dan bermimpi tanpa melakukan apapun, jadi setiap kali orang kafir di Trinidad membunuh atau menyakiti seorang Muslim, kami akan membalas dendam. Kami bekerja untuk mengumpulkan uang demi membeli senjata dan amunisi. Alhamdulillah, kami berhasil dalam banyak operasi, dan itu hanya karena karunia Allah.
Pada satu titik, Abu 'Abdillah, istri saya, dan saya ditangkap, tapi polisi tidak mampu menjerat kami dalam satu kasuspun. Namun kami tetap dikenakan biaya atas kepemilikan senjata dan amunisi. Mereka menyita komputer dan telepon saya hingga mereka menemukan video, buku, dan ceramah tentang jihad. Pemerintah taghut Trinidad kemudian menjadikannya plot terhadap kami, mengklaim bahwa kami berencana membunuh perdana menteri dan sejumlah menteri dalam rangka menimbulkan kekacauan dan kepanikan di negara ini. Itu akan menjadi suatu kehormatan bagi kami untuk dicoba, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, realitas operasi kami jauh lebih kecil dari itu. Kami dipenjara karena terorisme bersama dengan beberapa Muslim yang bahkan kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Alhamdulillah, mereka membuat makar namun makar Allah adalah yang terbaik. Mereka tidak mampu menjerat kami dalam sebuah kasus dan kami dibebaskan dengan izin Allah, dan meskipun berada di bawah pengawasan, kami tetap kembali melakukan apa yang harus kami lakukan, memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan.
Dabiq: Setelah memutuskan untuk berhijrah ke syam dengan dua teman terdekat Anda, Abu 'Abdillah dan Abu 'Isa, Hijrah anda mengalami penundaan. Apa yang terjadi?
Abu Saad at-Trinidadi: Kami bertiga memutuskan untuk berhijrah ke Syam dan bergabung dengan Daulah Islam setelah menyaksikan penderitaan umat Islam di Syam, tapi kami memiliki beberapa urusan yang belum selesai dengan beberapa orang kafir yang telah merugikan kaum Muslimin. tiket sudah kami pesan, dan kami siap untuk berangkat dalam waktu seminggu tapi kami merasa bersalah bila meninggalkan tanpa menyelesaikan apa yang harus diurus. Itu adalah keputusan yang sulit, dan karena alasan itu, kami kemudian melihat kembali dan mengatakan bahwa mungkin itu adalah ujian terakhir dari Allah untuk melihat apakah kami layak untuk diberi kehormatan akan hijrah dan jihad. Kami memutuskan untuk menunda hijrah kami, Itu sangatlah menyakitkan namun dengan segera datang kesempatan untuk membalas dendam pada dua penjahat kafir yang kami buru.
Operasi itu dilakukan di tengah kota pada siang hari dan terekam kamera. Rencana kami tidaklah seperti itu, tapi itu semua terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Setelah operasi, Abu 'Abdillah dan Abu 'Isa ditangkap, sedangkan aku bersembunyi. Kami memutuskan bahwa kami harus meninggalkan Trinidad karena tidak ada yang dapat menghentikan hijrah kami, dengan izin Allah. Sekali lagi, Allah menganugerahkan nikmat yang luar biasa pada kami ketika Abu 'Isa dilepaskan dan penyelidikan ditunda. Abu 'Abdillah kemudian juga dibebaskan dan kami segera meninggalkan Trinidad satu-per-satu. Saya berangkat pertama kali bersama dengan istri saya, diikuti oleh Abu 'Abdillah, dan kemudian Abu ‘Isa, dan kami bertemu di Venezuela. Namun kami melewatkan penerbangan kami sehingga kami harus tinggal sementara di sana untuk beberapa waktu sampai kami dapat memesan penerbangan baru.
Dabiq: Apa Peran Anda saat di sini, di Khilafah?
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah, Sekarang saya adalah salah satu dari banyak penembak jitu di barisan mujahidin di khilafah. Saya keluar secara teratur bersama tim saya untuk mengambil bagian dalam banyak pertempuran sengit melawan berbagai musuh Daulah Islam.
Dabiq: Anda dan dua sahabat hijrah Anda, Abu 'Abdillah dan Abu ‘Isa, adalah tiga Muslim pertama yang berhijrah ke Syam dari Trinidad dan Tobago. Di mana dua sahabat Anda sekarang?
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah kami diberkahi dengan kesempatan untuk berhijrah dan berjihad, dan juga mengambil bagian dalam kebangkitan khilafah. Abu 'Isa dan Abu ‘Abdillah keduanya telah diberkahi dengan kesyahidan. Saya menganggap mereka demikian, dan Allah adalah hakim mereka.
Abu 'Isa syahid ketika di Marista, sebuah desa didekat Azaz ketika Shahawat mencapai puncaknya di Syam. Waktu itu ia ditempatkan untuk ribat di desa, murtaddin datang dan menyerangnya dengan kekuatan besar, termasuk beberapa BMP dan senjata berat. Saudara-saudara kami berjumlah sekitar 15 orang dan hanya dipersenjatai dengan Kalashnikov. Setelah pertempuran awal, mereka memutuskan untuk mundur. Abu 'Isa dan ikhwah lainnya tinggal ditempat untuk melindungi mereka yang mundur. Ketika mereka sedang mencari jalan keluar, mereka diapit oleh murtaddin dan Abu 'Isa ditembak beberapa kali namun dia tidak mati sampai murtaddin mendekat dan mengeksekusinya di kepala saat ia terbaring terluka di tanah. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian mereka kembali mengambil alih desa, dan mereka menyebutkan kepada kami bahwa ketika mereka menguburkan Abu 'Isa dan para syuhada lainnya, ada bau misk yang sangat kuat.
Adapun Abu' Abdillah, maka dia syahid di Maghribtayn, sebuah desa didekat kota Sirrin di pedesaan Aleppo setelah menghabiskan hampir dua tahun berjuang dijalan Allah. Kesyahidannya datang saat ia dan saudara-saudaranya terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan Salib dengan dukungan udara di wilayah tersebut. Pesawat tempur Tentara Salib dan drone terbang diatas Abu 'Abdillah yang memimpin sebuah tim yang terdiri dari 4 penembak jitu. Dia melakukan pekerjaan yang sangat baik hingga mampu mengecoh murtaddin agar tidak menembak saudara-saudara lainnya dan hanya fokus pada posisinya. Dia sampai pada titik itu adalah karena semua orang memanggilnya dan memberitahu semua posisi murtaddin termasuk senjata berat mereka, dan itu segera menjadi jelas ketika ikhwah menyadap obrolan radio murtaddin bahwa sebagian besar perhatian mereka terfokus hanya pada dirinya.
Pengintainya, Abu Samir yang juga dari Trinidad dan seorang mualaf dari Kristen, tertembak dan harus meninggalkan arena untuk perawatan medis, tetapi Abu 'Abdillah tidak berhenti berjuang. Hal terakhir yang saya dengar dari radio adalah, "Posisiku terganggu, Aku mengubah posisi." Apa yang kami lihat adalah semua peluru murtaddin menuju keposisinya dan dia tertembak di kepalanya sebelum ia berpindah. Ketika ikhwah lain menemukan tubuhnya, ia tersenyum dan tampak seperti sedang tidur.
Dabiq: Bagaimana reaksi keluarga Anda ketika mereka mengetahui Anda menjadi seorang Muslim?
Abu Saad at-Trinidadi: Ketika saya menjadi seorang Muslim, ibu saya mengatakan kepada saya bahwa dia menghormati keputusan saya. Alhamdulillah, dia juga memeluk Islam beberapa tahun setelah saya. Dia sangat mencintai Islam sehingga mengatakan bahwa dia berharap dapat mempelajari Islam sejak dulu sehingga dia bisa memeluk Islam lebih cepat. Alhamdulillah, salah satu saudara saya juga mulai mempraktekkan Islam. Adapun keluarga saya yang lain, saya memohon kepada Allah agar membimbing mereka.
Dabiq: Bagaimana reaksi keluarga Anda ketika mereka mengetahui Anda menjadi seorang prajurit dari Negara Daulah Islam?
Abu Saad at-Trinidadi: Beberapa kerabat Kristen kafir menggunakan fakta bahwa saya adalah seorang prajurit dari Daulah Islam dalam pertengkaran mereka dengan orang lain. Mereka mengatakan, sebagai contoh, "saudaraku adalah teroris ISIS, lebih baik Anda berhati-hati!" SubhanAllah, ini menjadi sebuah kehormatan dari Allah yang telah mengaruniakan khilafah, kami bahkan melihat banyak orang-orang kafir mengakuinya.
Dabiq: Beritahu kami tentang komunitas Muslim di Trinidad dan Tobago.
Abu Saad at-Trinidadi: Di Trinidad, sekitar 7-10% dari populasi memeluk Islam, meskipun banyak dari mereka adalah murtaddin yang tidak ada hubungannya dengan Islam kecuali hanya namanya saja. Ketika saya masih tinggal di sana, ada Murjiah, modernis, dan Tabligh, serta beberapa kantong pro-Arab "Salafi" yang menyimpang. Sangat sedikit orang yang berada pada aqidah yang lurus, terutama karena sebagian besar dari mereka telah berhijrah. Bagi mereka yang tertinggal dibelakang dan melalaikan hijrah - sementara mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya – maka jelas ia memiliki kelemahan dalam imannya yang harus diperbaiki.
Dabiq: Kami melihat banyak mujahidin dari Trinidad dan Tobago di sini di tanah Khilafah bersama dengan keluarga mereka. Apakah kebanyakan mereka mualaf, atau apakah sebagian besar mereka berasal dari keluarga Muslim?
Abu Saad at-Trinidadi: Sekitar 60% mujahidin dari Trinidad disini di tanah Khilafah berasal dari keluarga Muslim, sedang 40% sisanya adalah mualaf. Dan sebagian besar mereka dari Kristen.
Dabiq: Bagaimana perasaan Anda ketika menjadi dari salah satu pelopor yang membuka jalan bagi banyak orang untuk berhijrah ke tanah khilafah?
Abu Saad at-Trinidadi: Saya memuji Allah atas pemberian kesempatan kepada saya untuk berhijrah dan berjihad. Ini benar-benar nikmat yang besar sekali dari-Nya. Ketika kami pertama kali berhijrah, kami tidak pernah membayangkan bahwa kami akan menyaksikan impian kami akan Khilafah menjadi kenyataan. Kami mengira bahwa itu sudah dekat, tapi kami tidak berpikir bahwa darah kami akan menyirami tanah khilafah dan tengkorak kami akan menopang bendera tauhid (monoteisme Islam), membuka jalan bagi orang lain untuk melanjutkan misi ini dan menghidupkan kembali kekhilafahan, dan hanya karena rahmat Allah, Abu 'Abdillah dan aku telah melihat bahwa mimpi kami menjadi kenyataan. Tidak akan pernah cukup syukur kupanjatkan kepada Allah karena telah mengizinkan saya untuk menjadi orang pertama diantara orang-orang kami untuk berbagi dan membuat mimpi ini menjadi kenyataan.
Dabiq: Tidak ada Jihad tanpa kesulitan. Beritahu kami tentang beberapa ujian yang Anda hadapi setelah berhijrah dan bagaimana Anda mengatasinya.
Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah, saya tidak bisa benar-benar mengatakan bahwa saya telah menghadapi banyak kesulitan setelah berhijrah. Saya berpikir bahwa hal yang paling sulit bagi saya adalah saat kehilangan banyak teman dekat. Selain itu, sekarang saya berada di rumah keempat saya karena terus dibom atau rusak dalam serangan udara, tetapi segala puji hanya bagi Allah dalam segala situasi.
Dabiq: Pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada Muslim di Trinidad?
Abu Saad at-Trinidadi: Bagian pertama dari pesan saya adalah untuk orang-orang yang mengaku beragama Islam namun membabi buta dalam mengikuti mufti dan imam: ketika mereka menyeru Anda untuk memilih para pemimpin taghut (dalam pemilu), mereka sedang menyeru Anda untuk melakukan kekufuran, namun Anda tetap mematuhi dan mengikuti mereka, dan itu adalah kemurtadan. Kukatakan kepadamu, takutlah kepada Allah dan kembalilah ke agama yang lurus. Kembalilah ke kitabulloh dan Sunnah nabi kita tercinta Shallallahu ‘alaihi wasallam, cukuplah itu bagi kita sebagai panduan. Jangan tertipu dan jangan biarkan dirimu mengikuti para pemimpin yang jahat. Bacalah biografi nabi kita tercinta Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga Anda dapat melihat bagaimana ia menyelesaikan berbagai hal. Karena mengikuti para ulama istana itu tidaklah berasal dari agama yang benar. Takutlah kepada Allah karena Ia harus ditakuti, dan bangkit lalu kembalilah ke agama yang benar sebelum terlambat.
Kepada orang-orang yang saya kenal yang telah belajar tentang aqidah yang lurus, saya katakan: apa yang terjadi dengan Anda? Anda telah ditipu dan diperdaya oleh iblis. Tahun-tahun telah berlalu dan Anda masih belum berhijrah ke tanah Islam, tanah Anda, tempat yang sering kita bicarakan dan impikan. Hal ini telah menjadi kenyataan, namun Anda malah menjadi bagian di antara mereka yang tertinggal. Anda ingin anak Anda hidup di negeri di mana hukum Allah adalah yang tertinggi, namun Anda sekarang tetap di tempat di mana Anda tidak memiliki kehormatan dan dipaksa untuk hidup dalam kehinaan, dibawah ketiak orang-orang kafir. Jangan menjadi bagian dari orang-orang yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala didalam Al Qur’an yang mulia. " Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali “ (An-Nisa: 97). Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang lalai untuk berhijrah ke tanah Islam.
Saya juga mengatakan kepada Anda, saudaraku, bahwa Anda sekarang memiliki kesempatan emas untuk melakukan sesuatu yang banyak diantara kami di sini berharap bisa melakukannya sekarang. Anda memiliki kemampuan untuk meneror orang-orang kafir di rumah mereka sendiri dan membuat jalan mereka dialiri dengan darah mereka. Dimanakah kecemburuan Anda untuk agama? Mereka membom saudara-saudara Anda siang dan malam di tanah di mana hukum Allah adalah yang tertinggi. Ini adalah kewajiban atas Anda untuk bertindak dan memaksa mereka untuk berpikir tiga kali sebelum mengebom Muslim. Oleh karena itu, terorlah orang-orang kafir dan buatlah mereka merasa takut di manapun mereka berada, bahkan di kamar tidur mereka sendiri. Dan hanya Karena keyakinan mereka saja, hukum asal darah mereka adalah halal untuk ditumpahkan. Maka seberapa besar lagi kewajiban untuk melakukannya setelah mereka mengobarkan perang terhadap umat Islam dan membunuh wanita serta anak-anak mereka. Untuk alasan ini, diantara alasan lainnya, pemimpin Daulah Islam menekankan akan pentingnya untuk tidak membedakan antara tentara kafir dan mereka yang disebut sebagai "sipil."
Seranglah kepentingan koalisi salibis di dekat Anda, termasuk kedutaan mereka, bisnis mereka, dan "sipil" mereka. Bakarlah lembaga pemerintah mereka sebagaimana mereka membom bangunan kami di mana hukum Allah ditegakkan. Contohlah singa-singa di Perancis dan Belgia, contohlah pasangan yang diberkahi di California, dan contohlah para ksatria di Orlando dan Nice. Jika Anda melakukannya maka Allah akan memberi balasan kepada anda, dan Anda tidak akan pernah menyesal ketika Anda bertemu dengan-Nya. Namun, jika Anda meninggalkan saudara Anda dan terus hidup di bawah naungan musuh yang memerangi Islam dan berada didekat kepentingan Salibis, maka jangan terkejut jika Allah menghapus setitik iman yang masih tersisa di hati Anda yang sekarat, sebagai hukuman atas dosa dan ketidakjujuran Anda.
Dabiq: Sebagai seorang mualaf dari Kristen, apa pesan Anda yang ingin anda sampaikan ke Kristen?
Abu Saad at-Trinidadi: Kepada orang-orang Kristen saya katakan: Anda tahu bahwa Anda telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar dari Ibrahim, Musa, dan Yesus ’Alaihis salam. Kitab Anda telah dirusak sekian lama oleh para pemimpin Anda. Saya menyeru Anda untuk mengingat dua perintah utama, karena itulah yang membimbing saya kepada Islam dan ajaran yang benar dari semua nabi. Tunduk dan patuhlah kepada yang menciptakan Anda dan jangan membedakan antara nabi yang satu dengan yang lain, karena mereka semua datang dengan risalah yang sama. Ikutilah Nabi terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ketika anda melakukannya, Anda telah mengikuti semua nabi ’Alaihis salam. Jika Anda menolak, maka kami menawarkan pilihan untuk membayar jizyah dan hidup di bawah otoritas Islam dalam kehinaan, atau jika Anda menolak maka satu-satunya hal yang ada diantara Anda dan kami adalah pedang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar