RUMIYAH 4 - PENGANTAR
HIJRAH TIDAK AKAN TERPUTUS SELAMA ORANG KAFIR MASIH DIPERANGI
Dari Abi Hind al-Bajali, berkata, “Suatu ketika kami bersama Muawiyah sedangkan ia telah berbaring di ranjangnya memejamkan mata. Kita berdiskusi tentang hijrah. Salah satu dari kita berkata hijrah telah terputus. Yang lain berkata hijrah belum terputus. Muawiyah pun terbangun dan berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan? Kami pun memberitahunya. Ia terkenal sedikit meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam maka ia berkata, ‘Kami pernah membicarakan hijrah ini dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Hijrah tidak terputus sampai terputusnya taubat, dan taubat tidaklah terputus sampai matahari terbit dari barat’.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan ad-Darimi)
Ya, hijrah tidak terputus selama musuh kafir maupun murtad masih diperangi. Baik peperangan itu terjadi di Irak, Syam, maupun selain keduanya. Sekelompok umat ini akan senantiasa berperang di jalan Allah sampai turunnya al-Masih Isa alaihis salam yang dia akan menjadi imam pada pertempuran terakhir sebelum tibanya hari kiamat, sebagaimana yang dikabarkan oleh sosok yang jujur dan dipercaya shallallahu alaihi wasallam.
Meskipun para penyembah Salib dan juga para murtaddin berusaha memutus jalan hijrah, jalan akan senantiasa terbuka bagi orang-orang yang bertawakal. Moto para muhajirin yang pergi menuju front Islam adalah, “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar.” (QS. al-Qashas: 22). “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. as-Shaffat: 99). “Sesungguhnya aku berhijrah menuju Rabbku, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ankabut: 26). “Aku bersegera kepada-Mu wahai Rabbku, supaya Engkau ridha (kepadaku).” (QS. Thaha: 84). Teladan mereka dalam hijrah adalah para rasul ulul azmi alaihimussalam yang mendapatkan siksaan karena beriman kepada Allah, namun tidak menganggap siksaan manusia itu sebagai azab Allah.
Bahkan seorang Muhajir mengerti bahwa jalannya dipenuhi dengan onak dan duri serta berbagai ujian yang mendekatkan seorang hamba kepada penciptanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi, “Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepadaku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Meski jalan ini menuntut cucuran keringat dan darah untuk melewatinya, seorang muhajir akan tetap bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan (Surga) dan tambahan (melihat wajah Allah). Ia akan memerangi musuh terbesarnya (Setan) di jalannya menuju negeri yang ia bisa hidup sebagai seorang muwahhid mujahid yang mulia lagi perkasa di dalamnya. Jika ia meninggal ataupun terbunuh tempat kembalinya adalah di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setan menghadang manusia di setiap jalan kebaikan. Ia menghadang manusia di jalan Islam. Katanya, “Apakah kamu hendak masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapakmu dan agama moyangmu? Ia tidak menuruti setan dan masuk Islam. Maka setan menghadangnya di jalan hijrah, katanya, “Kamu hendak hijrah, meninggalkan tanah air dan langit yang menanungimu? Ia tidak menuruti setan dan berhijrah. Maka setan menghadangnya di jalan jihad, katanya, “Kamu hendak berjihad sehingga terbunuh dan istrimu diambil orang lain serta hartamu dibagi-bagi? Ia tidak menuruti setan dan tetap berjihad. Siapa saja melakukan hal itu kemudian dia mati, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke Surga. Jika terbunuh, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika tenggelam maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika terlempar dan diinjak tunggangannya (saat hijrah atau jihad) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga.”(HR Ahmad dan an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Sibrah bin Abi Fakihah).
Hasil pasti hijrah adalah ampunan dan surga, jika seorang muhajir mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah dan teguh di jalannya. Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa: 100).
Bahkan dalam hijrah terdapat barokah yang besar. Andai seorang muwahhid mengetahuinya, niscaya ia akan menjual seluruh kenikmatan dunia yang dimilikinya untuk membeli dirinya sendiri demi meraih ridha Allah.
Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu anhu berkata, “Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu aku ingin berbai’at kepadamu.’ Maka beliau pun mengulurkan tangannya, namun aku menggenggamkan tanganku. Nabi bersabda, ‘Mengapa wahai Amr? ‘Aku ingin meminta satu syarat,’ jawabku. ‘Apa syaratnya? Sabdanya lagi. Aku menjawab, ‘Aku ingin agar diampuni dosa-dosaku.’ Jawabnya, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa (masuk) Islam itu menghapuskan dosa yang sebelumnya? Bahwa hijrah juga menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya? Demikian juga haji menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya?.” (HR Muslim).
Dari Thufail bin Amru ad-Dausi radhiyallahu anhu bahwa ia pernah berhijrah ke Madinah bersama seseorang dari kaumnya. Temannya itu tidak suka tinggal di Madinah. Ia jatuh sakit dan tidak sabar. Dia mengambil pisaunya lalu memotong urat nadi tangannya dan membiarkannya mengucurkan darah sampai mati. Maka Thufail bin Amru melihatnya dalam mimpi dengan penampilan yang sangat bersih sembari menyembunyikan tangannya. Thufail bertanya, ‘Rabbmu berbuat apa kepadamu? Dia menjawab, ‘Dia mengampuniku lantaran hijrahku menuju Nabi-Nya?. Thufail bertanya lagi, “Ada apa gerangan kamu menutup tanganmu? Dia menjawab, ‘Dikatakan kepadaku: Kami tidak akan memperbaiki apa yang kamu rusak.’ Thufail menceritakan hal itu kepada Rasulullah? maka beliau bersabda, ‘Ya Allah, adapun tangannya ampunilah’.”
Ya, Sang Maha Pelindung azza wa jalla telah mengampuni seseorang yang membunuh dirinya lantaran hijrah yang ia ikhlaskan hanya untuk Allah.
Wahai kalian yang dihalangi untuk berhijrah ke Irak ataupun ke Syam oleh konspirasi thaghut, sungguh pintu-pintu hijrah masih senantiasa terbuka sampai hari kiamat. Barang siapa tidak sanggup untuk berhijrah ke Irak dan Syam, hendaknya ia berhijrah ke Libya, Khurasan, Sinai, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah Khilafah selainnya, yang bala tentaranya berada di belahan bumi timur dan barat.
HIJRAH TIDAK AKAN TERPUTUS SELAMA ORANG KAFIR MASIH DIPERANGI
Dari Abi Hind al-Bajali, berkata, “Suatu ketika kami bersama Muawiyah sedangkan ia telah berbaring di ranjangnya memejamkan mata. Kita berdiskusi tentang hijrah. Salah satu dari kita berkata hijrah telah terputus. Yang lain berkata hijrah belum terputus. Muawiyah pun terbangun dan berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan? Kami pun memberitahunya. Ia terkenal sedikit meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam maka ia berkata, ‘Kami pernah membicarakan hijrah ini dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Hijrah tidak terputus sampai terputusnya taubat, dan taubat tidaklah terputus sampai matahari terbit dari barat’.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan ad-Darimi)
Ya, hijrah tidak terputus selama musuh kafir maupun murtad masih diperangi. Baik peperangan itu terjadi di Irak, Syam, maupun selain keduanya. Sekelompok umat ini akan senantiasa berperang di jalan Allah sampai turunnya al-Masih Isa alaihis salam yang dia akan menjadi imam pada pertempuran terakhir sebelum tibanya hari kiamat, sebagaimana yang dikabarkan oleh sosok yang jujur dan dipercaya shallallahu alaihi wasallam.
Meskipun para penyembah Salib dan juga para murtaddin berusaha memutus jalan hijrah, jalan akan senantiasa terbuka bagi orang-orang yang bertawakal. Moto para muhajirin yang pergi menuju front Islam adalah, “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar.” (QS. al-Qashas: 22). “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. as-Shaffat: 99). “Sesungguhnya aku berhijrah menuju Rabbku, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ankabut: 26). “Aku bersegera kepada-Mu wahai Rabbku, supaya Engkau ridha (kepadaku).” (QS. Thaha: 84). Teladan mereka dalam hijrah adalah para rasul ulul azmi alaihimussalam yang mendapatkan siksaan karena beriman kepada Allah, namun tidak menganggap siksaan manusia itu sebagai azab Allah.
Bahkan seorang Muhajir mengerti bahwa jalannya dipenuhi dengan onak dan duri serta berbagai ujian yang mendekatkan seorang hamba kepada penciptanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi, “Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepadaku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Meski jalan ini menuntut cucuran keringat dan darah untuk melewatinya, seorang muhajir akan tetap bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan (Surga) dan tambahan (melihat wajah Allah). Ia akan memerangi musuh terbesarnya (Setan) di jalannya menuju negeri yang ia bisa hidup sebagai seorang muwahhid mujahid yang mulia lagi perkasa di dalamnya. Jika ia meninggal ataupun terbunuh tempat kembalinya adalah di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setan menghadang manusia di setiap jalan kebaikan. Ia menghadang manusia di jalan Islam. Katanya, “Apakah kamu hendak masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapakmu dan agama moyangmu? Ia tidak menuruti setan dan masuk Islam. Maka setan menghadangnya di jalan hijrah, katanya, “Kamu hendak hijrah, meninggalkan tanah air dan langit yang menanungimu? Ia tidak menuruti setan dan berhijrah. Maka setan menghadangnya di jalan jihad, katanya, “Kamu hendak berjihad sehingga terbunuh dan istrimu diambil orang lain serta hartamu dibagi-bagi? Ia tidak menuruti setan dan tetap berjihad. Siapa saja melakukan hal itu kemudian dia mati, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke Surga. Jika terbunuh, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika tenggelam maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika terlempar dan diinjak tunggangannya (saat hijrah atau jihad) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga.”(HR Ahmad dan an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Sibrah bin Abi Fakihah).
Hasil pasti hijrah adalah ampunan dan surga, jika seorang muhajir mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah dan teguh di jalannya. Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa: 100).
Bahkan dalam hijrah terdapat barokah yang besar. Andai seorang muwahhid mengetahuinya, niscaya ia akan menjual seluruh kenikmatan dunia yang dimilikinya untuk membeli dirinya sendiri demi meraih ridha Allah.
Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu anhu berkata, “Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu aku ingin berbai’at kepadamu.’ Maka beliau pun mengulurkan tangannya, namun aku menggenggamkan tanganku. Nabi bersabda, ‘Mengapa wahai Amr? ‘Aku ingin meminta satu syarat,’ jawabku. ‘Apa syaratnya? Sabdanya lagi. Aku menjawab, ‘Aku ingin agar diampuni dosa-dosaku.’ Jawabnya, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa (masuk) Islam itu menghapuskan dosa yang sebelumnya? Bahwa hijrah juga menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya? Demikian juga haji menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya?.” (HR Muslim).
Dari Thufail bin Amru ad-Dausi radhiyallahu anhu bahwa ia pernah berhijrah ke Madinah bersama seseorang dari kaumnya. Temannya itu tidak suka tinggal di Madinah. Ia jatuh sakit dan tidak sabar. Dia mengambil pisaunya lalu memotong urat nadi tangannya dan membiarkannya mengucurkan darah sampai mati. Maka Thufail bin Amru melihatnya dalam mimpi dengan penampilan yang sangat bersih sembari menyembunyikan tangannya. Thufail bertanya, ‘Rabbmu berbuat apa kepadamu? Dia menjawab, ‘Dia mengampuniku lantaran hijrahku menuju Nabi-Nya?. Thufail bertanya lagi, “Ada apa gerangan kamu menutup tanganmu? Dia menjawab, ‘Dikatakan kepadaku: Kami tidak akan memperbaiki apa yang kamu rusak.’ Thufail menceritakan hal itu kepada Rasulullah? maka beliau bersabda, ‘Ya Allah, adapun tangannya ampunilah’.”
Ya, Sang Maha Pelindung azza wa jalla telah mengampuni seseorang yang membunuh dirinya lantaran hijrah yang ia ikhlaskan hanya untuk Allah.
Wahai kalian yang dihalangi untuk berhijrah ke Irak ataupun ke Syam oleh konspirasi thaghut, sungguh pintu-pintu hijrah masih senantiasa terbuka sampai hari kiamat. Barang siapa tidak sanggup untuk berhijrah ke Irak dan Syam, hendaknya ia berhijrah ke Libya, Khurasan, Sinai, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah Khilafah selainnya, yang bala tentaranya berada di belahan bumi timur dan barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar