RUMIYAH 5 - PENGANTAR
SHAHAWAT SURIAH, PERSATUAN YANG RAPUH DAN KETERGANTUNGAN PADA THAGHUT
Allah azza wa jalla telah memecah belah persatuan faksi-faksi Shahawat Syam, mencerai beraikan hati-hati mereka, menciptakan perselisihan di antara mereka dan melepaskan kekacauan di tengah-tengah mereka hingga mereka saling bunuh membunuh. Ini tak lain buah akibat dari berpalingnya mereka dari amal kewajiban yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, "Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah." (QS. Ali Imran : 103), yaitu mentauhidkan Allah dalam hukum-Nya, bersatu di bawah satu pemimpin yang menegakkan syariat di tengah-tengah mereka dan memerangi kelompok kelompok kafir yang menentangnya.
Tatkala sebagian kelompok Shahawat Syam tahu bahwa kondisi mereka akan berujung sama halnya yang diderita Shahawat Irak, berupa kehinaan dan kemiskinan, mereka sebarkan kabar bahwa mereka tengah mengupayakan persatuan jahiliyah palsu, namun saling laknat melaknat demi kepentingan pribadi dan kelompok, sebagaimana yang dikatakan dalam firman Allah azza wa jalla, "Kamu kira mereka bersatu padahal hati-hati mereka tercerai berai. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak berakal.“ (QS. al Hasyr : 14)
Perpecahan ini merupakan buah perbuatan yang mereka lakukan. Allah berfirman, "Dan diantara orang-orang yang mengatakan, 'Kami ini orang-orang Nasrani', kami telah mengambil perjanjian mereka. Tetapi mereka sengaja melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka hingga hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.“ (QS. al Maidah : 14)
Dan Allah berfirman, "Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu'. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka lah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka, Dia memberi rezeki sebagaimana yang Dia kehendaki. Dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka hingga hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha menimbulkan kerusakan di bumi. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“. (QS. al Maidah : 64)
Bagaimanapun usaha mereka untuk bersatu dan mengumumkan berbagai proyeknya, persatuan fatamorgana mereka akan segera musnah, "Perumpamaan orang-orang yang mengambil wali selain Allah adalah seperti laba laba yang membuat rumah, dan sungguh rumah yang paling lemah itu adalah rumah laba laba, jika mereka mengetahui.“ (QS. al Ankabut : 41)
Maka, loyalitas mereka satu sama lain karena selain Allah, berpegangnya mereka dengan selain tali-Nya dan peperangan mereka yang tidak di atas jalan-Nya, menjadikan mereka begitu lemah untuk melindungi panji mereka atau menjaga negara mereka setelah sebelumnya mereka mengaku Islam namun sejatinya mereka murtad, oleh sebab pemberian loyalitas mereka kepada Salibis dan murtaddin dalam peperangan mereka melawan kaum yang menegakkan hukum Allah di muka bumi.
Tidakkah para komandan Shahawat murtad itu berpikir dan tahu bahwa persatuan sejati yang diserukan kepada mereka hanyalah berada di bawah naungan Dien Islam dan Jamaatul Muslimin (Khilafah), bukan di bawah manhaj nasionalis dan hizbiyah (fanatisme kelompok). Tapi mereka tidak mengerti apapun selain hawa nafsu dan taklid buta. Maka, siapa saja ulama Thaghut dan analis Jahmiyah pun Qu’ud (yang enggan berjihad) yang bisa mewujudkan hawa nafsu mereka niscaya akan mereka ikuti, sedangkan pendapat golongan yang tidak sesuai dengan nafsunya mereka campakkan ke dinding.
Adapun untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah sebagaimana yang Dia perintahkan dengan firman-Nya, “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian ikuti wali selainNya. Sedikit sekali apa yang kalian ambil pelajaran?” (QS. al A’raf : 3)
Dan Firman Nya, “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orangorang mukmin. Kami biarkan dia dalam kesesatan yang dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahanam. Dan itu seburuk buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa : 115), maka inilah yang tidak mereka inginkan.
Al-Mujaddid (Ulama Pembaharu) Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata guna menjelaskan sebagian kondisi orang-orang macam ini, “Mereka berpecah belah dalam agama mereka sebagaimana firman Allah azza wa jalla, 'Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.’ (QS. al Mukminun : 53), begitu juga dalam urusan dunia mereka . Mereka melihat bahwa yang mereka lakukan sudah benar... Dan menyelisihi Imam serta tidak tunduk kepadanya (menurut asumsi mereka) adalah keutamaan, sedangkan mendengar dan taat kepadanya adalah sebuah kehinaan. Sikap taklid adalah landasan terbesar dari agama yang mereka bangun diatasnya. Taklid, pondasi terbesar untuk semua orang kafir baik generasi awal maupun akhir mereka, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, 'Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah di negeri itu selalu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak jejak mereka.’ (QS. az-Zukhruf : 23)” (Masailul Jahiliyah)
Beliau juga berkata, “Allah memerintahkan kita untuk bersatu di dalam agama dan melarang dari sikap berpecah belah di dalamnya. Allah menjelaskan hal ini dengan sangat jelas yang bisa difahami oleh orang awam sekalipun... Hingga sampai pada masalah bahwa perpecahan dalam Ushuluddin (pokok-pokok agama) dan cabang-cabangnya adalah bukti keilmuan dan kefakihan dalam agama. Sedangkan cukup bersatu dalam agama saja hanyalah ucapan orang zindiq atau orang gila... Karena diantara bentuk kesempurnaan ijtima' (persatuan) adalah mendengar dan taat kepada orang yang memimpin kita meskipun dia adalah seorang budak dari negeri Habasyah (berkulit hitam). Allah menjelaskan hal ini dengan sangat jelas lagi gamblang dari berbagai aspek baik syar'i maupun qodari. Kemudian prinsip ini tidak dikenal oleh mayoritas orang yang mengaku berilmu, lalu bagaimana bisa mengamalkannya?". (Ushulu Sittah)
Bersatunya faksi-faksi Shahawat demi fanatisme kelompok dan nasionalisme serta bersikukuhnya mereka di atas amal kesyirikan dan kemurtadan, tidaklah menjadikan mereka semakin garang lagi kuat, tapi sebaliknya justru semakin terhina akibat perpaduan yang rancu diantara aqidah dan manhaj yang beragam pun banyaknya perselisihan. Akan muncul percekcokan di tengah-tengah barisan mereka dan satu sama lain akan berupaya melakukan aksi khianat, dan Allah tidak memberikan petunjuk pada kaum yang zhalim.
Maka, barangsiapa yang hendak berpegang dengan tali Allah yang kuat, hendaklah dia bertobat kepada Allah dan berpegang teguh dengan agama Islam serta jamaah kaum muslimin hingga meninggal. Jika tidak, maka dia akan menjadi penghuni dan bahan bakar neraka jahannam.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bergantung pada sesuatu niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu.“ (HR. an-Nasa'i dari Abu Hurairah)
Syaikh Sulaiman Alu Syaikh berkata, "Barang siapa yang menggantungkan hatinya kepada sesuatu di mana dia bersandar dan berharap kepadanya, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu tersebut. Maka jika seorang hamba bergantung kepada Rabb, Ilah, Sayid dan Maulanya, yakni Rabb segala sesuatu sekaligus Sang Raja, niscaya semua urusannya akan diserahkan kepada-Nya, sehingga Allah akan mencukupinya, menjaganya, melindunginya, dan mengurusinya. Dan Dialah sebaik baik pelindung dan penolong . Sebagaimana Firman Allah azza wa jalla,“Bukankah Allah yang mencukupi para hambaNya?“ (QS. az-Zumar : 36) Pun halnya barangsiapa yang bergantung dengan sihir serta para setan, maka urusannya akan diserahkan kepada mereka, dimana mereka kemudian akan membinasakannya di dunia dan akhirat. Artinya secara umum, siapapun yang bersandar kepada selain Allah entah siapa itu niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu, dia juga akan mendapatkan keburukan di dunia dan akhirat, dan akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Inilah sunnatullah atas para hamba-Nya yang tidak akan bisa diganti dan ketetapan yang tidak akan bisa dirubah, bahwasanya siapa yang menggantungkan harapan kepada selain-Nya atau percaya dengan selain-Nya, ataupun condong kepada makhluk yang akan mengurus dirinya, niscaya Allah azza wa jalla akan menimpakan kepadanya sesuatu yang bertolak belakang dengan harapan yang digantungkannya, baik karena faktor perbuatannya atau dirinya. Ini adalah perkara yang sudah maklum, baik dengan nash maupun terlihat secara kasat mata. Siapa yang merenungkan kondisi para makhluk dengan mata bashirah yang transparan niscaya dia akan melihatnya dengan jelas." (Taisir al-Aziz al-Hadits)
Beliau rahimahullah juga berkata, "Bergantung itu bisa dengan hati dan perbuatan atau keduanya sekaligus. Artinya, siapa yang bergantung pada sesuatu dengan hatinya atau dengan hati dan perbuatannya, niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu. Artinya Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu yang dia gantungi. Jadi, siapa yang jiwanya bergantung pada Allah, meminta segala kebutuhannya kepada-Nya, berlindung kepada-Nya dan dia titipkan urusannya kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupi semua kebutuhannya, semua yang jauh didekatkan dan semua kesulitan dimudahkan. Sedangkan siapa yang bergantung kepada yang lain atau condong kepada ilmu, logika akal, obat dan jimat-jimatnya serta bersandar pada daya dan kekuatannya, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada hal tersebut dan menghinakannya. Ini adalah perkara yang sudah diketahui baik berdasarkan nash dan eksperimen pengalaman manusia. Allah azza wa jalla berfirman, "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya.“ (QS. ath Thalaq : 3) Wahb bin Munabbih berkata, "Allah azza wa jalla mewahyukan kepada Dawud, Hai Dawud, adapun demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah seorang hamba diantara para hamba-Ku yang berpegangan dengan-Ku, bukan kepada makhluk-Ku, dan hal itu Aku ketahui dari niatnya, lalu langit yang tujuh serta apa ada di dalamnya maupun bumi yang tujuh berikut isinya berbuat makar kepadanya, melainkan Aku akan berikan jalan keluar baginya dari semua makar tersebut. Adapun demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah seorang hamba diantara para hambaku yang berpegangan dengan Makhluk dan bukan kepada-Ku, Aku mengetahui hal itu dari niatnya, melainkan akan Aku putus sebab-sebab turunnya (rizki) langit pada tangannya dan Aku rusak bumi yang berada di bawah kedua kakinya, kemudian Aku tidak pedulikan di lembah mana dia akan binasa.' " (Taisir Aziz al-Hamid)
Belum tibakah saatnya bagi para Shahawat murtad dengan semua firqah dan kelompok mereka untuk merenungkan realitas pun kondisi mereka? Tidakkah mereka melihat bahwa bersandarnya mereka kepada para Thaghut, loyalitas mereka pada para penyembah Salib dan ucapan mereka “kami akan menaati kalian dalam sebagian urusan” tidak berguna sama sekali, selain menyebabkan Dzat yang Maha Adil lagi bijaksana Allah azza wa jalla tak melindungi mereka dari musuh yang dzalim, hingga pasukan Nushairi dan para sekutunya dari kalangan Rafidhah serta Salibis datang ke dalam negeri mereka, menghalalkan darah pun harta mereka di sejumlah komplek timur kota Aleppo dan komplek kota lama? Musuh memasuki daerah yang mereka kontrol dalam sekejap tanpa memuntahkan bombardir ataupun serangan Koalisi Internasional yang tidak ada bandingnya dalam sejarah modern, tidakkah mereka merenung?
Thaghut Ikhwanul Murtaddin Erdogan tidak pernah memberikan sesuatu pun untuk para Shahawat yang menjadi budaknya, selain 'nongkrong' duduk-duduk bersama Salibis Rusia para penghisab darah, pun mengucapkan selamat kepada Salibis Amerika terkait hasil pemilu presiden terbaru dan serangan terhadap para Muhajirin dan Anshar Daulah Islamiyah yang pada beberapa tahun silam sebelum kemunculan aksi pengkhianatan Shahawat murtad menjadi benteng kokoh dalam menghalangi agresi militer Nushairiyah terhadap kota Aleppo dan berbagai distrik di sekitarnya?
Ya, siapa yang bergantung kepada sesuatu niscaya akan dipasrahkan kepadanya. Maka, siapa yang bergantung kepada Thaghut yang tunduk kepada hawa nafsunya, niscaya akan dipasrahkan kepadanya yang akan memeperbudaknya demi mewujudkan kepentingan pribadi dan partainya, kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah sejarah bersama para pengkhianat yang lain.
Lalu bagaimana jika mereka yang bersandar kepada Thaghut tersebut berperang di bawah panji jahiliyah, di atas jalannya dan demi meninggikan kalimatnya di bumi Syam yang berbarokah..?
Kalaupun Thaghut mereka, yaitu Erdogan khawatir atas kehormatan mereka, niscaya dia pasti akan mengirimkan bala tentaranya yang kafir lagi fajir untuk memerangi dan membunuh Nushairiyah Batiniyah Ba'ats Sekuler, dan dia akan mensuplai persenjataan Pasukan Turki berupa senjata canggih anti-pesawat Rusia dan Suriah pada Shahawat, tapi mana mungkin mereka melakukannya? Aleppo bukanlah bagian dari negara murtadnya, dan kroni-kroninya dari kalangan Salibis tidak akan membolehkan hal itu. Tidak ada kepentingan lain bagi Turki di dalam Suriah selain menumpas PKK yang murtad, guna mencegah mereka yang hendak menggoncang singgasana Erdogan yang fana.
Sedangkan para mujahidin yang bertauhid berharap, bagi yang mengaku Islam dan Ahlus Sunnah diantara para shahawat Aleppo dan Idlib serta yang lain, dan orang yang telah murtad baik dia Nasionalis atau Sekuler, atau menolak syariat ataupun lantaran loyalitas kepada para murtaddin, untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla, mengingkari selain-Nya, berwala karena-Nya semata, bermusuhan karena-Nya dan berperang di jalan-Nya saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengumumkan millah dua orang kekasih (Ibrahim dan Muhammad) alaihimus salam di depan umum, dengan bersandar pada Dzat yang Maha Hidup lagi selalu terjaga dan berlepas diri dari semua bantuan bersyarat dan si kafir Thaghut.
Barang siapa yang telah membunuh sejuta orang Muhajirin dan Anshar lalu mau bertaubat, maka dia mendapat jaminan keamanan, sebagaimana yang dikatakan Amirul Mukminin hafizhahullah, “Dan kekuasaan Syariat lebih baik baginya dari pada negeri yang diatur dengan undang-undang para faksi dan para peramalnya (Dan siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya)."
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
SHAHAWAT SURIAH, PERSATUAN YANG RAPUH DAN KETERGANTUNGAN PADA THAGHUT
Allah azza wa jalla telah memecah belah persatuan faksi-faksi Shahawat Syam, mencerai beraikan hati-hati mereka, menciptakan perselisihan di antara mereka dan melepaskan kekacauan di tengah-tengah mereka hingga mereka saling bunuh membunuh. Ini tak lain buah akibat dari berpalingnya mereka dari amal kewajiban yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, "Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah." (QS. Ali Imran : 103), yaitu mentauhidkan Allah dalam hukum-Nya, bersatu di bawah satu pemimpin yang menegakkan syariat di tengah-tengah mereka dan memerangi kelompok kelompok kafir yang menentangnya.
Tatkala sebagian kelompok Shahawat Syam tahu bahwa kondisi mereka akan berujung sama halnya yang diderita Shahawat Irak, berupa kehinaan dan kemiskinan, mereka sebarkan kabar bahwa mereka tengah mengupayakan persatuan jahiliyah palsu, namun saling laknat melaknat demi kepentingan pribadi dan kelompok, sebagaimana yang dikatakan dalam firman Allah azza wa jalla, "Kamu kira mereka bersatu padahal hati-hati mereka tercerai berai. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak berakal.“ (QS. al Hasyr : 14)
Perpecahan ini merupakan buah perbuatan yang mereka lakukan. Allah berfirman, "Dan diantara orang-orang yang mengatakan, 'Kami ini orang-orang Nasrani', kami telah mengambil perjanjian mereka. Tetapi mereka sengaja melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka hingga hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.“ (QS. al Maidah : 14)
Dan Allah berfirman, "Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu'. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka lah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka, Dia memberi rezeki sebagaimana yang Dia kehendaki. Dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka hingga hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha menimbulkan kerusakan di bumi. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“. (QS. al Maidah : 64)
Bagaimanapun usaha mereka untuk bersatu dan mengumumkan berbagai proyeknya, persatuan fatamorgana mereka akan segera musnah, "Perumpamaan orang-orang yang mengambil wali selain Allah adalah seperti laba laba yang membuat rumah, dan sungguh rumah yang paling lemah itu adalah rumah laba laba, jika mereka mengetahui.“ (QS. al Ankabut : 41)
Maka, loyalitas mereka satu sama lain karena selain Allah, berpegangnya mereka dengan selain tali-Nya dan peperangan mereka yang tidak di atas jalan-Nya, menjadikan mereka begitu lemah untuk melindungi panji mereka atau menjaga negara mereka setelah sebelumnya mereka mengaku Islam namun sejatinya mereka murtad, oleh sebab pemberian loyalitas mereka kepada Salibis dan murtaddin dalam peperangan mereka melawan kaum yang menegakkan hukum Allah di muka bumi.
Tidakkah para komandan Shahawat murtad itu berpikir dan tahu bahwa persatuan sejati yang diserukan kepada mereka hanyalah berada di bawah naungan Dien Islam dan Jamaatul Muslimin (Khilafah), bukan di bawah manhaj nasionalis dan hizbiyah (fanatisme kelompok). Tapi mereka tidak mengerti apapun selain hawa nafsu dan taklid buta. Maka, siapa saja ulama Thaghut dan analis Jahmiyah pun Qu’ud (yang enggan berjihad) yang bisa mewujudkan hawa nafsu mereka niscaya akan mereka ikuti, sedangkan pendapat golongan yang tidak sesuai dengan nafsunya mereka campakkan ke dinding.
Adapun untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah sebagaimana yang Dia perintahkan dengan firman-Nya, “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian ikuti wali selainNya. Sedikit sekali apa yang kalian ambil pelajaran?” (QS. al A’raf : 3)
Dan Firman Nya, “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orangorang mukmin. Kami biarkan dia dalam kesesatan yang dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahanam. Dan itu seburuk buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa : 115), maka inilah yang tidak mereka inginkan.
Al-Mujaddid (Ulama Pembaharu) Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata guna menjelaskan sebagian kondisi orang-orang macam ini, “Mereka berpecah belah dalam agama mereka sebagaimana firman Allah azza wa jalla, 'Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.’ (QS. al Mukminun : 53), begitu juga dalam urusan dunia mereka . Mereka melihat bahwa yang mereka lakukan sudah benar... Dan menyelisihi Imam serta tidak tunduk kepadanya (menurut asumsi mereka) adalah keutamaan, sedangkan mendengar dan taat kepadanya adalah sebuah kehinaan. Sikap taklid adalah landasan terbesar dari agama yang mereka bangun diatasnya. Taklid, pondasi terbesar untuk semua orang kafir baik generasi awal maupun akhir mereka, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, 'Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah di negeri itu selalu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak jejak mereka.’ (QS. az-Zukhruf : 23)” (Masailul Jahiliyah)
Beliau juga berkata, “Allah memerintahkan kita untuk bersatu di dalam agama dan melarang dari sikap berpecah belah di dalamnya. Allah menjelaskan hal ini dengan sangat jelas yang bisa difahami oleh orang awam sekalipun... Hingga sampai pada masalah bahwa perpecahan dalam Ushuluddin (pokok-pokok agama) dan cabang-cabangnya adalah bukti keilmuan dan kefakihan dalam agama. Sedangkan cukup bersatu dalam agama saja hanyalah ucapan orang zindiq atau orang gila... Karena diantara bentuk kesempurnaan ijtima' (persatuan) adalah mendengar dan taat kepada orang yang memimpin kita meskipun dia adalah seorang budak dari negeri Habasyah (berkulit hitam). Allah menjelaskan hal ini dengan sangat jelas lagi gamblang dari berbagai aspek baik syar'i maupun qodari. Kemudian prinsip ini tidak dikenal oleh mayoritas orang yang mengaku berilmu, lalu bagaimana bisa mengamalkannya?". (Ushulu Sittah)
Bersatunya faksi-faksi Shahawat demi fanatisme kelompok dan nasionalisme serta bersikukuhnya mereka di atas amal kesyirikan dan kemurtadan, tidaklah menjadikan mereka semakin garang lagi kuat, tapi sebaliknya justru semakin terhina akibat perpaduan yang rancu diantara aqidah dan manhaj yang beragam pun banyaknya perselisihan. Akan muncul percekcokan di tengah-tengah barisan mereka dan satu sama lain akan berupaya melakukan aksi khianat, dan Allah tidak memberikan petunjuk pada kaum yang zhalim.
Maka, barangsiapa yang hendak berpegang dengan tali Allah yang kuat, hendaklah dia bertobat kepada Allah dan berpegang teguh dengan agama Islam serta jamaah kaum muslimin hingga meninggal. Jika tidak, maka dia akan menjadi penghuni dan bahan bakar neraka jahannam.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bergantung pada sesuatu niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu.“ (HR. an-Nasa'i dari Abu Hurairah)
Syaikh Sulaiman Alu Syaikh berkata, "Barang siapa yang menggantungkan hatinya kepada sesuatu di mana dia bersandar dan berharap kepadanya, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu tersebut. Maka jika seorang hamba bergantung kepada Rabb, Ilah, Sayid dan Maulanya, yakni Rabb segala sesuatu sekaligus Sang Raja, niscaya semua urusannya akan diserahkan kepada-Nya, sehingga Allah akan mencukupinya, menjaganya, melindunginya, dan mengurusinya. Dan Dialah sebaik baik pelindung dan penolong . Sebagaimana Firman Allah azza wa jalla,“Bukankah Allah yang mencukupi para hambaNya?“ (QS. az-Zumar : 36) Pun halnya barangsiapa yang bergantung dengan sihir serta para setan, maka urusannya akan diserahkan kepada mereka, dimana mereka kemudian akan membinasakannya di dunia dan akhirat. Artinya secara umum, siapapun yang bersandar kepada selain Allah entah siapa itu niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu, dia juga akan mendapatkan keburukan di dunia dan akhirat, dan akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Inilah sunnatullah atas para hamba-Nya yang tidak akan bisa diganti dan ketetapan yang tidak akan bisa dirubah, bahwasanya siapa yang menggantungkan harapan kepada selain-Nya atau percaya dengan selain-Nya, ataupun condong kepada makhluk yang akan mengurus dirinya, niscaya Allah azza wa jalla akan menimpakan kepadanya sesuatu yang bertolak belakang dengan harapan yang digantungkannya, baik karena faktor perbuatannya atau dirinya. Ini adalah perkara yang sudah maklum, baik dengan nash maupun terlihat secara kasat mata. Siapa yang merenungkan kondisi para makhluk dengan mata bashirah yang transparan niscaya dia akan melihatnya dengan jelas." (Taisir al-Aziz al-Hadits)
Beliau rahimahullah juga berkata, "Bergantung itu bisa dengan hati dan perbuatan atau keduanya sekaligus. Artinya, siapa yang bergantung pada sesuatu dengan hatinya atau dengan hati dan perbuatannya, niscaya dia akan diserahkan kepada sesuatu itu. Artinya Allah akan menyerahkannya kepada sesuatu yang dia gantungi. Jadi, siapa yang jiwanya bergantung pada Allah, meminta segala kebutuhannya kepada-Nya, berlindung kepada-Nya dan dia titipkan urusannya kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupi semua kebutuhannya, semua yang jauh didekatkan dan semua kesulitan dimudahkan. Sedangkan siapa yang bergantung kepada yang lain atau condong kepada ilmu, logika akal, obat dan jimat-jimatnya serta bersandar pada daya dan kekuatannya, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada hal tersebut dan menghinakannya. Ini adalah perkara yang sudah diketahui baik berdasarkan nash dan eksperimen pengalaman manusia. Allah azza wa jalla berfirman, "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya.“ (QS. ath Thalaq : 3) Wahb bin Munabbih berkata, "Allah azza wa jalla mewahyukan kepada Dawud, Hai Dawud, adapun demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah seorang hamba diantara para hamba-Ku yang berpegangan dengan-Ku, bukan kepada makhluk-Ku, dan hal itu Aku ketahui dari niatnya, lalu langit yang tujuh serta apa ada di dalamnya maupun bumi yang tujuh berikut isinya berbuat makar kepadanya, melainkan Aku akan berikan jalan keluar baginya dari semua makar tersebut. Adapun demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah seorang hamba diantara para hambaku yang berpegangan dengan Makhluk dan bukan kepada-Ku, Aku mengetahui hal itu dari niatnya, melainkan akan Aku putus sebab-sebab turunnya (rizki) langit pada tangannya dan Aku rusak bumi yang berada di bawah kedua kakinya, kemudian Aku tidak pedulikan di lembah mana dia akan binasa.' " (Taisir Aziz al-Hamid)
Belum tibakah saatnya bagi para Shahawat murtad dengan semua firqah dan kelompok mereka untuk merenungkan realitas pun kondisi mereka? Tidakkah mereka melihat bahwa bersandarnya mereka kepada para Thaghut, loyalitas mereka pada para penyembah Salib dan ucapan mereka “kami akan menaati kalian dalam sebagian urusan” tidak berguna sama sekali, selain menyebabkan Dzat yang Maha Adil lagi bijaksana Allah azza wa jalla tak melindungi mereka dari musuh yang dzalim, hingga pasukan Nushairi dan para sekutunya dari kalangan Rafidhah serta Salibis datang ke dalam negeri mereka, menghalalkan darah pun harta mereka di sejumlah komplek timur kota Aleppo dan komplek kota lama? Musuh memasuki daerah yang mereka kontrol dalam sekejap tanpa memuntahkan bombardir ataupun serangan Koalisi Internasional yang tidak ada bandingnya dalam sejarah modern, tidakkah mereka merenung?
Thaghut Ikhwanul Murtaddin Erdogan tidak pernah memberikan sesuatu pun untuk para Shahawat yang menjadi budaknya, selain 'nongkrong' duduk-duduk bersama Salibis Rusia para penghisab darah, pun mengucapkan selamat kepada Salibis Amerika terkait hasil pemilu presiden terbaru dan serangan terhadap para Muhajirin dan Anshar Daulah Islamiyah yang pada beberapa tahun silam sebelum kemunculan aksi pengkhianatan Shahawat murtad menjadi benteng kokoh dalam menghalangi agresi militer Nushairiyah terhadap kota Aleppo dan berbagai distrik di sekitarnya?
Ya, siapa yang bergantung kepada sesuatu niscaya akan dipasrahkan kepadanya. Maka, siapa yang bergantung kepada Thaghut yang tunduk kepada hawa nafsunya, niscaya akan dipasrahkan kepadanya yang akan memeperbudaknya demi mewujudkan kepentingan pribadi dan partainya, kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah sejarah bersama para pengkhianat yang lain.
Lalu bagaimana jika mereka yang bersandar kepada Thaghut tersebut berperang di bawah panji jahiliyah, di atas jalannya dan demi meninggikan kalimatnya di bumi Syam yang berbarokah..?
Kalaupun Thaghut mereka, yaitu Erdogan khawatir atas kehormatan mereka, niscaya dia pasti akan mengirimkan bala tentaranya yang kafir lagi fajir untuk memerangi dan membunuh Nushairiyah Batiniyah Ba'ats Sekuler, dan dia akan mensuplai persenjataan Pasukan Turki berupa senjata canggih anti-pesawat Rusia dan Suriah pada Shahawat, tapi mana mungkin mereka melakukannya? Aleppo bukanlah bagian dari negara murtadnya, dan kroni-kroninya dari kalangan Salibis tidak akan membolehkan hal itu. Tidak ada kepentingan lain bagi Turki di dalam Suriah selain menumpas PKK yang murtad, guna mencegah mereka yang hendak menggoncang singgasana Erdogan yang fana.
Sedangkan para mujahidin yang bertauhid berharap, bagi yang mengaku Islam dan Ahlus Sunnah diantara para shahawat Aleppo dan Idlib serta yang lain, dan orang yang telah murtad baik dia Nasionalis atau Sekuler, atau menolak syariat ataupun lantaran loyalitas kepada para murtaddin, untuk bertaubat kepada Allah azza wa jalla, mengingkari selain-Nya, berwala karena-Nya semata, bermusuhan karena-Nya dan berperang di jalan-Nya saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, mengumumkan millah dua orang kekasih (Ibrahim dan Muhammad) alaihimus salam di depan umum, dengan bersandar pada Dzat yang Maha Hidup lagi selalu terjaga dan berlepas diri dari semua bantuan bersyarat dan si kafir Thaghut.
Barang siapa yang telah membunuh sejuta orang Muhajirin dan Anshar lalu mau bertaubat, maka dia mendapat jaminan keamanan, sebagaimana yang dikatakan Amirul Mukminin hafizhahullah, “Dan kekuasaan Syariat lebih baik baginya dari pada negeri yang diatur dengan undang-undang para faksi dan para peramalnya (Dan siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya)."
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar