RUMIYAH 5 – KISAH SYUHADA
ABU MUHAMMAD AS-SAHLI
BERSABAR DAN MENANG
Ini adalah sebuah kisah seorang Kesatria Islam, yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, -demikianlah penilaian kami-. Ia tidak berpaling dari tujuannya, dan tidak pernah mundur dari misinya, yaitu menyembelih kudanya (meledakkan bom mobilnya) dan mengalirkan darahnya hingga dia menjadi syuhada’ yang paling agung derajatnya di sisi Allah. Setiap kali ia tertinggal untuk mewujudkan cita-citanya, tekadnya untuk mewujudkannya kian menguat, hingga Allah memuliakannya dengan kesempatan untuk bergabung bersama Jama’ah Muslimin (Khilafah), dan ia pun gugur di bawah panji Ahlu Tauhid masa ini, yaitu panji Daulah Islamiyah.
Tsamir bin Muhammad Abidan as-Sahli taqabbalahullah namanya, berasal dari wilayah al-Qasim yang penuh cinta dan banyak melahirkan generasi para kesatria. Ia adalah sosok manusia yang pernah disesatkan oleh setan bertahun-tahun lamanya hingga menyeretnya kepada kelezatan dunia, sampai Allah memberinya hidayah untuk kembali mencari jalan keistiqamahan, dan selalu berniat mengerjakan amal kebaikan agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahannya yang dia telah bertaubat darinya.
Maka tatkala dia mengetahui jihad adalah amalan yang paling utama, dia pun bertekad untuk mengamalkannya. Dia bersama kedua temannya lantas menuju ke Irak untuk bergabung bersama Mujahidin disana, ikut serta dalam menggempur pasukan Salibis Amerika. Dia pun menjual mobilnya dan membawa uang seratus ribu Riyal yang ia gunakan untuk menolong Mujahidin, dan ia pun berhijrah kepada Allah, tidak berharap untuk kembali.
Akan tetapi para Thaghut dari rezim Alu Su’ud dan bala tentaranya telah mengintainya, hingga akhirnya ia dan kedua temannya pun ditahan di pos penyeberangan Haditsah, perbatasan negara Yordania. Disitulah dimulainya ujian penjara yang justru berhasil menampakkan kekuatan tekad dan kejernihan permatanya, dan ujian itu tidaklah menambah apapun pada dirinya kecuali iman dan kepasrahan diri.
Penjara Mudiriyah al-Mabahits di Buraidah adalah awal pelabuhan jihadnya melawan Thaghut Jazirah Arab. Ia mendekam disana pada tahun 1427 H, di dalam penjara itu ia bergaul dengan para Muwahhidin yang bersabar. Hingga bertambahlah ilmunya tentang al-Wala’ wal Bara’, yang dia terapkan dalam kehidupan nyata, dalam perilaku dan mu’amalahnya dengan para tentara Thaghut. Dia tidak pernah takut dengan celaan para pencela dalam menjalankan perintah Allah, dia menentang para penjaga penjara dan para pengurusnya, meskipun dia selalu mendapatkan gangguan dari mereka, disiksa dan dicambuk sampai punggungnya menghitam akibat bekas pukulan tongkat dan cambuk mereka.
Setelah itu dia di pindahkan ke penjara al-Malaz di Riyadh pada pertengahan tahun 1428 H. Pada akhir tahun ia meninggalkannya menuju penjara al-Hair, dimana dia mendekam disana selama dua atau tiga bulan lamanya, sampai kemudian para murtaddin itu mengembalikannya ke penjara al-Malaz, mereka menimpakan padanya berbagai macam siksaan. Mereka menyiksanya pun para saudaranya dengan siksaan yang pedih, namun tekadnya tidak pernah melemah, dan kemuliaannya tidak pernah turun ataupun melemah, bahkan selalu menantang bala tentara thaghut dan menimpakan kepada mereka apa yang mereka benci, hingga mereka pun berkumpul untuk mengeroyoknya dan memukulinya sampai dia jatuh tersungkur karena lemah. Kemudian dia pun kembali bangkit seperti semula, agar mereka tidak berbangga diri lantaran kekalahannya dan tidak berbahagia atas terjatuhnya ia, mengakibatkan para murtaddin putus asa.
Hingga kemudian, para pembesar mereka mengadukannya, dan mengadukan terjadinya kegaduhan di penjara, namun dia tidak pernah berhenti melakukan hal itu kecuali setelah kondisi memaksanya untuk berbelas kasihan kepada para ikhwahnya yang selalu mendapatkan siksaan dari tentara Thaghut yang membalas dendam kepadanya setiap kali mereka marah, dan siksaan mereka tidak mampu membuatnya jera.
Abu Muhammad mendekam di jeruji besi beberapa tahun hingga akhirnya Allah membebaskannya pada tahun 1434 H. Bukan malah tersibukkan dengan urusan dunia maupun mengejar apa yang telah terlewatkan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang celaka, namun dia kembali untuk mencari tujuannya yang dahulu, hingga ia pun mengembara menuju medan jihad.
Di saat jalan menuju Irak sangatlah sulit dan berbahaya pada waktu itu, hingga tidak ada pilihan baginya kecuali harus mencari kesyahidan di bumi Yaman, dimana waktu itu tanzhim al-Qaeda berkuasa atasnya, namun aqidah dan manhaj tanzhim itu belumlah diletakkan di atas tepi jurang (rusak), hingga kemudian mulai nampaklah kepalsuan syiar mereka, dan menjadi jelas jalan para pemimpinnya yang sesat dan mengganti aqidahnya. Karenanya, Abu Muhammad pun berhijrah kepada Allah mulai dari awal lagi, berniat untuk mendapatkan syahadah fi sabilillah, dan memilih panji yang kelak ia akan mati di bawahnya.
Maka ia pun sampai di Yaman pada tahun 1435 H yang mana dia memilih mendaftarkan namanya di barisan para Kesatria Pemburu Syahadah. Para pembimbing membawanya ke asrama, dia tinggal di sana beberapa hari. Hingga pada suatu hari mereka mendatanginya dan memberitahukannya waktu eksekusi operasi istisyhadinya. Diapun mempersiapkan diri untuk menyongsong amaliyah itu, berjalan menuju tujuannya dengan meninggalkan dunia ini, menjemput Akhirat, dimana targetnya adalah pos checkpoint murtaddin di daerah Nasyimah, kota Syabwah, namun qadarullah dia tidak berhasil melaksanakan targetnya itu. Ia pun mundur dari tempat itu, dan tidak mendapatkan seorangpun yang menunjukkan kepadanya jalan pulang, hingga ia pun dengan sekuat tenaga mengingat-ingatnya, sampai akhirnya tiba di tempat yang aman.
Tidak berselang lama sampai akhirnya dia mendengar seruan berperang lagi, dia pun bangkit memenuhi seruan itu, mengharapkan kematian yang ia cita-citakan. Ia pun berangkat mengendarai bom mobil menuju target baru, yaitu asrama militer di pusat Itqu. Ia selalu meminta kepada Allah agar memuliakannya dengan kesyahidan pada pertempurannya ini. Tidak pernah terlintas di benaknya jika bisa saja Allah menundanya kembali untuk mendapatkan syahadah pada kesempatan ini agar Allah menambahkan pahala baginya dan meninggikan kedudukannya. Murtaddin pun mengetahui rencananya, memaksanya untuk mundur lagi untuk yang kedua kalinya, dan Allah pun menyelamatkannya dari penangkapan.
Tanzhim al-Qaeda mundur dari Syabwah atas perintah para pemimpin mereka yang hina untuk menghindari peperangan melawan murtaddin. Abu Muhammad as-Sahli pun tetap membersamai mereka untuk beberapa waktu lamanya di Hadramaut, namun dia tetap pada cita-cita lamanya, yaitu Allah menganugrahkan kepadanya kematian di jalan-Nya, dan mengizinkannya untuk melaksanakan amaliyah istisyhadiyah untuk melumat para murtaddin dan menimpakan kekalahan telak pada mereka. Ketika ia diperintahkan untuk percobaan amaliyah baru di Hadramaut, ia pun sangat bergembira dan bahagia dengan harapan bisa meraih kesyahidan dalam amaliyah ini, setelah sebelumnya terhalang meraih syahadah atas taqdir Allah. Ia pun lalu berpamitan kepada para Ikhwan pada hari amaliyah, menunggang kendaraan tempurnya menuju target, yang sesampainya disana ia dikejutkan bahwa data-data intelijen terkait pengintaian lokasi tersebut telah usang.
Ternyata disana ada pos checkpoint baru yang menghalanginya untuk bisa memasuki gerbang markas murtaddin. Ia pun kembali menuju tempat semula. Para pembimbing berusaha kembali melakukan amaliyah untuk memperbaiki kesalahan mereka dengan menanam ranjau guna meledakkan pos checkpoint tersebut, dan membuka jalan masuk untuk sang istisyhadi, tatkala ranjau telah meledak, Abu Muhammad pun kembali berangkat melewati pos checkpoint dan menyerang gerbang, akan tetapi terjadi musibah dimana mobilnya tersangkut di pos karena ledakan ranjaunya tidak berhasil menghancurkan pos secara keseluruhan. Ia pun terjebak di bawah rentetan tembakan peluru murtaddin yang mengincar mobilnya. Mereka berhasil melukai paha dan pundaknya, akan tetapi itu tidaklah menghalanginya untuk kembali mundur dengan membawa mobilnya di bawah hujan peluru. Dia pun beristirahat di markas untuk menjalani pengobatan hingga akhir tahun 1435 H.
Pada waktu itu, kabar-kabar tentang Daulah Islamiyah sedang memenuhi ufuk, dan deklarasi Khilafah menggoncangkan seluruh alam, menggetarkan seluruh hati para muwahhidin yang berdebar-debar baik di belahan bumi bagian timur maupun barat karena kebahagiaan dan kegembiraan akan di deklarasikannya Khilafah, maka mereka pun berbondong-bondong mengirim baiat, mendeklarasikan ikrar ketaatan, as-sam’u wa tha’ah kepada Amirul Mukimin dan Khalifatul Muslimin asy-Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah.
Diantara mereka yang menerima dan mendengar kabar bahagia ini adalah Abu Muhammad as-Sahli taqabbalahullah, maka ia pun bertekad untuk menjalani ketaatan kepada Allah ta’ala dan berpegang teguh kepada Jama’ah. Bagaimana tidak, sedangkan ialah yang telah lama menanti al-Haq itu, dan mencurahkan segala hal yang berharga dalam hidupnya untuk menggapainya, dan bersabar di atas ujian. Maka iapun memutuskan untuk meninggalkan “Yahudi Jihad” (neo Tanzhim al-Qaeda.pent) dengan menampakkan kecintaannya untuk memberikan nasehat kepada saudaranya yang telah berbaiat kepada Daulah Islamiyah supaya terhindar dari makar Yahudi Jihad, serta menyelamatkan dirinya dari penjara mereka, tempat dimana mereka akan menzhalimi orang yang mereka ketahui memiliki tujuan terpuji.
Allah-pun memudahkannya untuk bergabung bersama ikhwannya di wilayah al-Liwa’ al-Ahdhar. Dia meminta disegerakan baiat hingga datanglah seseorang yang menerima baiatnya. Maka jadilah dia salah seorang tentara Junud Khilafah, tanpa melupakan tujuan yang telah dia tanamkan sejak dulu, sehingga semakin kuatlah tekadnya untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah, dan diapun menjadi semakin yakin akan alasan kenapa Allah menundanya untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah, agar dia menuai pahalanya di tengah-tengah kafilah yang diberkahi ini, dimana hasilnya baik cepat maupun lambat adalah untuk memberikan tamkin terhadap agama Islam ini. Bukan sekedar menghilangkan nyawa dalam rencana-rencana sesat yang di kendalikan oleh Yahudi Jihad, dan menyia-nyiakan darah serta kesungguhan dengan caranya, namun akhirnya mereka menyerahkan hasilnya kepada para penyembah Demokrasi dan para Shahawat. Abu Muhammad tetap bersabar atas tertundanya amaliyah, yang justru membuat para Ikhwan bergembira karena dia tinggal bersama mereka, sebagaimana halnya kegembiraan mereka atas bergabungnya dia bersama mereka.
Abu Muhammad adalah seseorang yang ceria tidak pernah lepas dari senyum, pemurah lagi dermawan, tidak pernah bakhil dengan hartanya, dia sosok yang sangat ramah lagi gampangan, tidak pernah pelit dengan tenaganya untuk melayani para Mujahidin. Dia memasak untuk mereka, mengurusi permasalahan mereka, sedangkan dia tidak pernah berpisah dari Kitabullah dengan selalu dibacanya, orang yang selalu berpuasa Dawud. Dia puasa sehari dan berbuka sehari, hal itu ia lakukan sejak hari-hari ketika ia di penjara, sampai menjelang waktu kepergiannya.
Ketika Mujahidin mendapatkan target yang berharga, diapun mendesak mereka agar dia mengambil bagian dalam operasi itu. Maka Allah pun memudahkan hal itu baginya, dia membayar mobilnya dengan uangnya sendiri, agar termasuk dari golongan yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali dengan suatu apapun.
Kemudian diapun mengendarai kendaraannya yang telah dia rakit sebelumnya, berangkat membelah jalan ke tengah-tengah barisan murtaddin, meladakkan bom mobil di “hotel Al-Qashr”, kota Aden, tempat singgah Thaghut Khalid Bahah. Diapun berhasil membakar para murtadin dengan bomnya, memporak-porandakan mereka dengan amukannya, dan meruntuhkan bangunan mereka dengan serangannya.
Diapun mendapatkan apa yang telah diidamkannya, akhir hayat yang bahagia, demikianlah kami menilainya, walhamdulillahi Rabbil Alamin.
ABU MUHAMMAD AS-SAHLI
BERSABAR DAN MENANG
Ini adalah sebuah kisah seorang Kesatria Islam, yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, -demikianlah penilaian kami-. Ia tidak berpaling dari tujuannya, dan tidak pernah mundur dari misinya, yaitu menyembelih kudanya (meledakkan bom mobilnya) dan mengalirkan darahnya hingga dia menjadi syuhada’ yang paling agung derajatnya di sisi Allah. Setiap kali ia tertinggal untuk mewujudkan cita-citanya, tekadnya untuk mewujudkannya kian menguat, hingga Allah memuliakannya dengan kesempatan untuk bergabung bersama Jama’ah Muslimin (Khilafah), dan ia pun gugur di bawah panji Ahlu Tauhid masa ini, yaitu panji Daulah Islamiyah.
Tsamir bin Muhammad Abidan as-Sahli taqabbalahullah namanya, berasal dari wilayah al-Qasim yang penuh cinta dan banyak melahirkan generasi para kesatria. Ia adalah sosok manusia yang pernah disesatkan oleh setan bertahun-tahun lamanya hingga menyeretnya kepada kelezatan dunia, sampai Allah memberinya hidayah untuk kembali mencari jalan keistiqamahan, dan selalu berniat mengerjakan amal kebaikan agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahannya yang dia telah bertaubat darinya.
Maka tatkala dia mengetahui jihad adalah amalan yang paling utama, dia pun bertekad untuk mengamalkannya. Dia bersama kedua temannya lantas menuju ke Irak untuk bergabung bersama Mujahidin disana, ikut serta dalam menggempur pasukan Salibis Amerika. Dia pun menjual mobilnya dan membawa uang seratus ribu Riyal yang ia gunakan untuk menolong Mujahidin, dan ia pun berhijrah kepada Allah, tidak berharap untuk kembali.
Akan tetapi para Thaghut dari rezim Alu Su’ud dan bala tentaranya telah mengintainya, hingga akhirnya ia dan kedua temannya pun ditahan di pos penyeberangan Haditsah, perbatasan negara Yordania. Disitulah dimulainya ujian penjara yang justru berhasil menampakkan kekuatan tekad dan kejernihan permatanya, dan ujian itu tidaklah menambah apapun pada dirinya kecuali iman dan kepasrahan diri.
Penjara Mudiriyah al-Mabahits di Buraidah adalah awal pelabuhan jihadnya melawan Thaghut Jazirah Arab. Ia mendekam disana pada tahun 1427 H, di dalam penjara itu ia bergaul dengan para Muwahhidin yang bersabar. Hingga bertambahlah ilmunya tentang al-Wala’ wal Bara’, yang dia terapkan dalam kehidupan nyata, dalam perilaku dan mu’amalahnya dengan para tentara Thaghut. Dia tidak pernah takut dengan celaan para pencela dalam menjalankan perintah Allah, dia menentang para penjaga penjara dan para pengurusnya, meskipun dia selalu mendapatkan gangguan dari mereka, disiksa dan dicambuk sampai punggungnya menghitam akibat bekas pukulan tongkat dan cambuk mereka.
Setelah itu dia di pindahkan ke penjara al-Malaz di Riyadh pada pertengahan tahun 1428 H. Pada akhir tahun ia meninggalkannya menuju penjara al-Hair, dimana dia mendekam disana selama dua atau tiga bulan lamanya, sampai kemudian para murtaddin itu mengembalikannya ke penjara al-Malaz, mereka menimpakan padanya berbagai macam siksaan. Mereka menyiksanya pun para saudaranya dengan siksaan yang pedih, namun tekadnya tidak pernah melemah, dan kemuliaannya tidak pernah turun ataupun melemah, bahkan selalu menantang bala tentara thaghut dan menimpakan kepada mereka apa yang mereka benci, hingga mereka pun berkumpul untuk mengeroyoknya dan memukulinya sampai dia jatuh tersungkur karena lemah. Kemudian dia pun kembali bangkit seperti semula, agar mereka tidak berbangga diri lantaran kekalahannya dan tidak berbahagia atas terjatuhnya ia, mengakibatkan para murtaddin putus asa.
Hingga kemudian, para pembesar mereka mengadukannya, dan mengadukan terjadinya kegaduhan di penjara, namun dia tidak pernah berhenti melakukan hal itu kecuali setelah kondisi memaksanya untuk berbelas kasihan kepada para ikhwahnya yang selalu mendapatkan siksaan dari tentara Thaghut yang membalas dendam kepadanya setiap kali mereka marah, dan siksaan mereka tidak mampu membuatnya jera.
Abu Muhammad mendekam di jeruji besi beberapa tahun hingga akhirnya Allah membebaskannya pada tahun 1434 H. Bukan malah tersibukkan dengan urusan dunia maupun mengejar apa yang telah terlewatkan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang celaka, namun dia kembali untuk mencari tujuannya yang dahulu, hingga ia pun mengembara menuju medan jihad.
Di saat jalan menuju Irak sangatlah sulit dan berbahaya pada waktu itu, hingga tidak ada pilihan baginya kecuali harus mencari kesyahidan di bumi Yaman, dimana waktu itu tanzhim al-Qaeda berkuasa atasnya, namun aqidah dan manhaj tanzhim itu belumlah diletakkan di atas tepi jurang (rusak), hingga kemudian mulai nampaklah kepalsuan syiar mereka, dan menjadi jelas jalan para pemimpinnya yang sesat dan mengganti aqidahnya. Karenanya, Abu Muhammad pun berhijrah kepada Allah mulai dari awal lagi, berniat untuk mendapatkan syahadah fi sabilillah, dan memilih panji yang kelak ia akan mati di bawahnya.
Maka ia pun sampai di Yaman pada tahun 1435 H yang mana dia memilih mendaftarkan namanya di barisan para Kesatria Pemburu Syahadah. Para pembimbing membawanya ke asrama, dia tinggal di sana beberapa hari. Hingga pada suatu hari mereka mendatanginya dan memberitahukannya waktu eksekusi operasi istisyhadinya. Diapun mempersiapkan diri untuk menyongsong amaliyah itu, berjalan menuju tujuannya dengan meninggalkan dunia ini, menjemput Akhirat, dimana targetnya adalah pos checkpoint murtaddin di daerah Nasyimah, kota Syabwah, namun qadarullah dia tidak berhasil melaksanakan targetnya itu. Ia pun mundur dari tempat itu, dan tidak mendapatkan seorangpun yang menunjukkan kepadanya jalan pulang, hingga ia pun dengan sekuat tenaga mengingat-ingatnya, sampai akhirnya tiba di tempat yang aman.
Tidak berselang lama sampai akhirnya dia mendengar seruan berperang lagi, dia pun bangkit memenuhi seruan itu, mengharapkan kematian yang ia cita-citakan. Ia pun berangkat mengendarai bom mobil menuju target baru, yaitu asrama militer di pusat Itqu. Ia selalu meminta kepada Allah agar memuliakannya dengan kesyahidan pada pertempurannya ini. Tidak pernah terlintas di benaknya jika bisa saja Allah menundanya kembali untuk mendapatkan syahadah pada kesempatan ini agar Allah menambahkan pahala baginya dan meninggikan kedudukannya. Murtaddin pun mengetahui rencananya, memaksanya untuk mundur lagi untuk yang kedua kalinya, dan Allah pun menyelamatkannya dari penangkapan.
Tanzhim al-Qaeda mundur dari Syabwah atas perintah para pemimpin mereka yang hina untuk menghindari peperangan melawan murtaddin. Abu Muhammad as-Sahli pun tetap membersamai mereka untuk beberapa waktu lamanya di Hadramaut, namun dia tetap pada cita-cita lamanya, yaitu Allah menganugrahkan kepadanya kematian di jalan-Nya, dan mengizinkannya untuk melaksanakan amaliyah istisyhadiyah untuk melumat para murtaddin dan menimpakan kekalahan telak pada mereka. Ketika ia diperintahkan untuk percobaan amaliyah baru di Hadramaut, ia pun sangat bergembira dan bahagia dengan harapan bisa meraih kesyahidan dalam amaliyah ini, setelah sebelumnya terhalang meraih syahadah atas taqdir Allah. Ia pun lalu berpamitan kepada para Ikhwan pada hari amaliyah, menunggang kendaraan tempurnya menuju target, yang sesampainya disana ia dikejutkan bahwa data-data intelijen terkait pengintaian lokasi tersebut telah usang.
Ternyata disana ada pos checkpoint baru yang menghalanginya untuk bisa memasuki gerbang markas murtaddin. Ia pun kembali menuju tempat semula. Para pembimbing berusaha kembali melakukan amaliyah untuk memperbaiki kesalahan mereka dengan menanam ranjau guna meledakkan pos checkpoint tersebut, dan membuka jalan masuk untuk sang istisyhadi, tatkala ranjau telah meledak, Abu Muhammad pun kembali berangkat melewati pos checkpoint dan menyerang gerbang, akan tetapi terjadi musibah dimana mobilnya tersangkut di pos karena ledakan ranjaunya tidak berhasil menghancurkan pos secara keseluruhan. Ia pun terjebak di bawah rentetan tembakan peluru murtaddin yang mengincar mobilnya. Mereka berhasil melukai paha dan pundaknya, akan tetapi itu tidaklah menghalanginya untuk kembali mundur dengan membawa mobilnya di bawah hujan peluru. Dia pun beristirahat di markas untuk menjalani pengobatan hingga akhir tahun 1435 H.
Pada waktu itu, kabar-kabar tentang Daulah Islamiyah sedang memenuhi ufuk, dan deklarasi Khilafah menggoncangkan seluruh alam, menggetarkan seluruh hati para muwahhidin yang berdebar-debar baik di belahan bumi bagian timur maupun barat karena kebahagiaan dan kegembiraan akan di deklarasikannya Khilafah, maka mereka pun berbondong-bondong mengirim baiat, mendeklarasikan ikrar ketaatan, as-sam’u wa tha’ah kepada Amirul Mukimin dan Khalifatul Muslimin asy-Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah.
Diantara mereka yang menerima dan mendengar kabar bahagia ini adalah Abu Muhammad as-Sahli taqabbalahullah, maka ia pun bertekad untuk menjalani ketaatan kepada Allah ta’ala dan berpegang teguh kepada Jama’ah. Bagaimana tidak, sedangkan ialah yang telah lama menanti al-Haq itu, dan mencurahkan segala hal yang berharga dalam hidupnya untuk menggapainya, dan bersabar di atas ujian. Maka iapun memutuskan untuk meninggalkan “Yahudi Jihad” (neo Tanzhim al-Qaeda.pent) dengan menampakkan kecintaannya untuk memberikan nasehat kepada saudaranya yang telah berbaiat kepada Daulah Islamiyah supaya terhindar dari makar Yahudi Jihad, serta menyelamatkan dirinya dari penjara mereka, tempat dimana mereka akan menzhalimi orang yang mereka ketahui memiliki tujuan terpuji.
Allah-pun memudahkannya untuk bergabung bersama ikhwannya di wilayah al-Liwa’ al-Ahdhar. Dia meminta disegerakan baiat hingga datanglah seseorang yang menerima baiatnya. Maka jadilah dia salah seorang tentara Junud Khilafah, tanpa melupakan tujuan yang telah dia tanamkan sejak dulu, sehingga semakin kuatlah tekadnya untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah, dan diapun menjadi semakin yakin akan alasan kenapa Allah menundanya untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah, agar dia menuai pahalanya di tengah-tengah kafilah yang diberkahi ini, dimana hasilnya baik cepat maupun lambat adalah untuk memberikan tamkin terhadap agama Islam ini. Bukan sekedar menghilangkan nyawa dalam rencana-rencana sesat yang di kendalikan oleh Yahudi Jihad, dan menyia-nyiakan darah serta kesungguhan dengan caranya, namun akhirnya mereka menyerahkan hasilnya kepada para penyembah Demokrasi dan para Shahawat. Abu Muhammad tetap bersabar atas tertundanya amaliyah, yang justru membuat para Ikhwan bergembira karena dia tinggal bersama mereka, sebagaimana halnya kegembiraan mereka atas bergabungnya dia bersama mereka.
Abu Muhammad adalah seseorang yang ceria tidak pernah lepas dari senyum, pemurah lagi dermawan, tidak pernah bakhil dengan hartanya, dia sosok yang sangat ramah lagi gampangan, tidak pernah pelit dengan tenaganya untuk melayani para Mujahidin. Dia memasak untuk mereka, mengurusi permasalahan mereka, sedangkan dia tidak pernah berpisah dari Kitabullah dengan selalu dibacanya, orang yang selalu berpuasa Dawud. Dia puasa sehari dan berbuka sehari, hal itu ia lakukan sejak hari-hari ketika ia di penjara, sampai menjelang waktu kepergiannya.
Ketika Mujahidin mendapatkan target yang berharga, diapun mendesak mereka agar dia mengambil bagian dalam operasi itu. Maka Allah pun memudahkan hal itu baginya, dia membayar mobilnya dengan uangnya sendiri, agar termasuk dari golongan yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali dengan suatu apapun.
Kemudian diapun mengendarai kendaraannya yang telah dia rakit sebelumnya, berangkat membelah jalan ke tengah-tengah barisan murtaddin, meladakkan bom mobil di “hotel Al-Qashr”, kota Aden, tempat singgah Thaghut Khalid Bahah. Diapun berhasil membakar para murtadin dengan bomnya, memporak-porandakan mereka dengan amukannya, dan meruntuhkan bangunan mereka dengan serangannya.
Diapun mendapatkan apa yang telah diidamkannya, akhir hayat yang bahagia, demikianlah kami menilainya, walhamdulillahi Rabbil Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar