Rabu, 25 April 2018

BUNUHLAH PARA IMAM KEKAFIRAN

DABIQ 13 - ARTIKEL

BUNUHLAH PARA IMAM KEKAFIRAN

Pada tanggal 21 Rabi'ul Awwal, rezim Thaghut alu Salul dengan persetujuan para hakimnya, dan dukungan antek-anteknya dari kalangan para Ulama suu, mengeksekusi mati puluhan orang terbaik hanya karena "kesalahan" mereka mendakwahkan Tauhid dan mengobarkan Jihad di jalan Allah. Yang paling dikenal diantara mereka adalah Syaikh Abu Jandal al-Azdi (Faris asy-Syuwail az-Zahrani), Hamd al-Humaidi, dan 'Abdul 'Aziz at-Tuwaili'i, semoga Allah menggolongkan mereka semua ke dalam barisan para Syuhadaa'.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." [Al Baqarah: 154]

Sejak berdirinya negera mereka, rezim Saudi dikenal luas melakukan lebih dari satu pembatal keislaman. Foto-foto dan video-video yang memperlihatkan bagaimana para anggota "Kerajaan" tersebut berdansa ria, berjingkrak-jingkrak, bahkan mencium rekan-rekan Salibis mereka, disamping pemberian dukungan terhadap perang yang dikumandangkan Salibis terhadap Islam dan kaum Muslimin sudah lebih dari cukup menjadikan tiada satupun manusia sanggup menampik adanya kasih sayang diantara mereka.

Allah berfirman, "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya." [Al-Mujadilah: 22]

Namun karena suatu alasan atau lainnya, banyak orang dungu seringkali mengabaikan realita yang sebenarnya dari para Ulama rezim penguasa, dimana sebenarnya mereka ini tak diragukan lagi tergolong sebagai kaum murtaddin. Kemurtaddan mereka bahkan sangat mencolok dibanding lainnya, terlebih kenyataan bahwa mereka kaum yang mempelajari Dien ini, menjadikan mereka terjatuh ke dalam praktik kekufuran. Mereka selalu mencari-cari dalih untuk membenarkan kemurtaddan tuan-tuan mereka dengan syubhat, menambal argumen mereka dengan kesalahan dalam mengutip ayat, hadits, dan atsar para Salaf. Yang paling parah, mereka menasehatkan para pemuda untuk menolak makna hakiki Jihad dan menggantinya dengan nasionalisme. Bagi mereka, hukum Allah hanyalah apa-apa yang dirasa cocok oleh kementerian pemerintah Saudi. Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa para Ulama' tersebut bukan sekedar diam menonton dari belakang layar.

Sebaliknya, Ulama' Istana rezim Saudi -mulai dari "Mufti Agung" mereka, si 'Abdul 'Aziz Alu Syaikh sampai pelayan yang menyebarkan propaganda pro-thaghut yang penuh penipuan di atas mimbar "kerajaan" - berada di garis terdepan dalam upaya menghalangi kaum Muslimin untuk berjihad dan menegakkan Syari'ah, mencegah mereka dari jalan Allah. Mereka bersembunyi di balik klaim "Sunni," "Hanbali," "Salafy," dan terutama klaim sebagai anak keturunan dan murid-murid dari Syaikh Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab, padahal mereka sebenarnya tidak lebih dari budak thaghut, yang memerangi mujahidin untuk mempertahankan kekuasaannya.

Padahal Kenyataannya, Ibnu 'Abdil Wahhab telah menyebutkan di antara sepuluh pembatal keislaman yang terbesar, "Kedelapan: Mendukung kaum musyrikin dan membantu mereka memerangi kaum Muslimin. Dalilnya adalah firman-Nya, "Barangsiapa dari kamu mengambil mereka menjadi pemimpin [wali], maka sungguh dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." [Ar-Rasa'il asy-Syakhsiyah]

Ketika ditanya tentang perbedaan yang jelas antara aqidah berlandaskan Al-Qur'an dari Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab dengan rezim Saudi yang terus berkoalisi dengan Salibis, si ulama istana Syarif Hatim al-'Auni malah mengkritik Syaikh Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab, menganggap hal tersebut adalah salah satu alasan perlunya merevisi tulisan para ulama bersejarah Najd.

Dalam "pembenaran" mereka untuk membunuh Mujahidin, Saudi menyatakan bahwa rencana sebagian ikhwan tersebut adalah "untuk merusak ekonomi negara dan membahayakan status kerajaan serta hubungan dan kepentingannya dengan negara-negara sahabat," serta secara khusus menyebut "dengan menyerang konsulat Amerika di Jeddah".

Serangan terhadap saudara rezim dalam kekufuran semacam itu dilabeli oleh Sa'ad asy-Syatsri -seorang anggota Dewan Konsultan "Keluarga Kerajaan" Saudi- sebagai "penyebab kerusakan di muka bumi". Kedustaan yang sama disampaikan oleh rekannya, si 'Abdullah al-Mutlaq dan A'idh al-Qarni', sementara si pencari muka Saudi, Muhammad al-'Arify memuji keputusan peradilan. Salman al-'Audah menyebut eksekusi tersebut sebagai peringatan bagi para pemuda Muslim agar tidak berpaling kepada paham "ekstremis", maksudnya Jihad Fii Sabilillah. Sementara si antek 'Adil al-Kalbani menasehati orang-orang untuk waspada terhadap siapa saja yang marah atas eksekusi tersebut, dan menyatakan bahwa orang seperti itu adalah kaki tangan para terhukum di dalam kejahatan. Dukungan serupa diberikan oleh 'Abdullah Alu Syaikh, Salman an-Nasywan, 'Abdurrahman as-Sudais, Shalih al-Maghamisi, Sulaiman al-Majid, Muhammad Sa'ad, 'Iwadh al-Qarni', Sa'id Musfir al-Qahthani, Yusuf al-Muhawwis, dan 'Abdul 'Aziz al-Fauzan.

Dalam kesempatan itu, Azh-Zhawahiri muncul dan mengkritik rezim murtad Saudi namun tidak menyebut para Ulama' Suu' yang menopang mereka. Sebaliknya, dia hanya menyarankan "para Ulama" Jazirah Arab untuk mengeluarkan pernyataan menentang pemerintah. Sambil mengulang-ulang perbedaan yang mencolok antara kebijakan Irja'-nya dan konsep al-Wala' wal Barra', bukannya mengobarkan semangat kaum muslimin untuk bangkit memerangi rezim Saudi. Namun, ia malah menasehati mereka yang berniat membalaskan eksekusi mati para Ulama itu untuk menyerang Yahudi dan Salibis, tuan dari Alu Sa'ud. Orang yang bergerak sebagai "Hakimul Ummah (Orang bijak dari Ummat ini)" justru menganggap hal itu adalah respon terbaik terhadap rezim, sembari dengan dusta mengklaim bahwa itu akan mendorong Salibis untuk berhenti menopang negara Saudi, negara yang telah berbuat sekuat tenaga untuk melayani Salibis. Para pengklaim jihad tampaknya tidak menyadari bahwa satu-satunya respon terhadap tertumpahnya darah seorang Muslim adalah dengan membantai para murtaddin si pembunuh dan semua yang membantu mereka -terutama "para ulama" mereka yang setia.

Kapan umat Islam di Jazirah Arab akan bangkit dan melawan kemurtadan para ulama istana? Sungguh, "para ulama" itu telah merusak sumpah mereka kepada Allah dan kepada kaum Muslimin, lantaran mereka telah membuat kedustaan di dalam Dien dan mem fitnah para pengemban jihad serta orang-orang shalihin. Sebagaimana Allah berfirman, "Jika mereka merusak sumpahnya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah para pemimpin kekafi ran itu, karena sesungguhnya tidak ada perjanjian [keamanan] bagi mereka, agar mereka berhenti. [At-Tawbah 12]

Jadi mereka tidak memiliki perjanjian atau keselamatan dan harus diperangi. Sungguh, mereka bak Abu Jahal bin Hisyam, Umayah bin Khalaf, dan 'Utbah Ibnu Rabi'ah zaman kini, menempatkan jahiliyah "nasionalisme" di atas penegakkan Islam. Para ulama' istana yang murtad itu disebut oleh Nabi sebagai "para penyeru ke pintu Jahannam" dan kaum yang "mereka berkulit seperti kita dan berbicara dengan bahasa kita." Ketika ditanya apa yang harus dilakukan jika menyaksikan kejahatan semacam itu, beliau memerintahkan, "Tetaplah bersama Jama'ah kaum muslimin dan imam mereka." [HR al-Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah].

Rasulullah juga bersabda, "Siapapun yang mendatangi kalian dan ingin mematahkan kekuatan atau memecah belah persatuan kalian sementara urusan kalian semua berada di bawah komando satu orang (pemimpin), maka bunuhlah dia." [HR Muslim dari 'Arfajah]

Inilah hukuman untuk seseorang yang hanya mencoba untuk memecah belah Jama'ah kaum Muslimin -Khilafah- melalui propaganda dan kekuatan. Lantas bagaimana dengan hukuman bagi para penolong thawaghit, menara kekufuran, para penyeru ke pintu Jahannam, yang -dengan ceramah-ceramah dan fatwa-fatwa sesat mereka- menggiring orang-orang bodoh untuk mendukung thawaghit? Mereka telah melakukan praktik kesyirikan dalam hukum Allah, karena mereka telah menjadikan diri mereka sebagai tuhan-tuhan selainNya, sengaja menghalalkan yang haram dan mengharamkan tidak hanya yang halal saja, tapi bahkan yang wajib. Mereka tidak diragukan lagi merupakan kaum musyrikin. Dan Allah berfirman, "Maka bunuhlah musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka." [at-Tawbah 5].

Sungguh, merupakan kewajiban menumpahkan darah para ulama istana itu, karena mereka telah murtad bertahun-tahun yang lalu, membela dan mendukung thaghut dalam memerangi Islam. Namun, alasan untuk membunuh mereka saat ini lebih besar, karena Allah berfirman, "Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu." [Al-Baqarah: 194]

Semoga Allah merahmati semua kesatria "singa sendirian" Khilafah di Jazirah Arab dan menganugerahi mereka kesuksesan dalam amal-amalnya serta keikhlasan di hati mereka. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar