Jumat, 27 April 2018

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 3)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 3)

Pada edisi yang lalu (edisi kedua) kita telah sampai pada pertempuran ke duapuluh dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di bulan Ramadhan yang berbarakah. Sekarang kita akan membicarakan pertempuran-pertempuran berikutnya.

21 Pertempuran az-Zallaqah – Ramadhan 479 H

Sejak awal abad ke 5 Hijriyah, Negeri Andalusia al-Islami terbagi menjadi thawaif (negara-negara kecil) yang saling bermusuhan, yang menyebabkan air liur ketamakan salibis meleleh. Maka kerajaan-kerajaan Kristen Eropa berkoalisi untuk menyerbu Andalusia, dan mencabut Islam di sana sampai ke akar-akarnya. Bergeraklah mereka di bawah kepemimpinan (Alfonso VI) dengan pasukan yang berjumlah lebih dari (100.000) orang. Mereka menyerbu dan menduduki kota Toledo, Coria, dan Zaragoza, membakar, menghancurkan dan membantai penduduknya.

Para pemimpin negara-negara kecil itu berkumpul dan sepakat untuk mengirim utusan meminta bantuan Daulah Murabithin di Negeri Maghrib, yang terletak berseberangan dengan Laut Mediterania. Mereka memohon kepada pemimpinnya, yaitu Yusuf ibn Tasyfin (al-Mauritani), agar sudi mengirimkan
bantuan. Sekalipun umurnya sudah melebihi 70 tahun, akan tetapi ia segera menyambut seruan saudara seaqidahnya, dan bangkit untuk membantu Andalusia. Ia berlayar dari Pantai Sabtah (Ceuta) dan melabuhkan kapal-kapalnya di Pulau Khadra, yang kemudian dijadikannya sebagai benteng utamanya. Kemudian ia memasuki Sevilla, dan menetap di sana selama delapan hari, sambil menunggu kedatangan para pemimpin Andalusia dengan pasukan mereka, untuk secara bersama-sama menggempur pasukan Salibis. Setelah berkumpulnya kaum muslimin yang jumlahnya mencapai (48.000) mujahid, yang mana setengahnya adalah pasukan Andalusia dan sisanya adalah orang-orang Murabithun, mereka segera bergerak untuk menemui musuhnya.

Di saat yang sama, pasukan Salibis juga terus berdatangan dari segala penjuru. Maka kedua pasukan ini pun bertemu di dataran Zallaqah, Provinsi Badajoz (terletak di barat daya Spanyol, berbatasan dengan Portugal). Kedua kubu berhadaphadapan selama tiga hari, selama tiga hari itu Ibnu Tasyfin bernegosiasi dengan Alfonso memberikan tiga opsi, yaitu: masuk Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Ternyata si
tinggi hati itu (Alfonso) memilih opsi ketiga. Pada suatu hari yang bersejarah dalam sejarah panjang Islam, barisan mujahidin yang merindukan kesyahidan berjibaku dengan barisan orang-orang Nashrani para penyembah dunia.

Pertempuran berkecamuk sengit selama seharian penuh, memakan korban (3000) kaum muslimin syahid, diantara mereka terdapat para 'ulama, fuqaha, dan hakim. Hampir-hampir salibis mendapat kemenangan, namun Ibnu Tasyfin yang mengamati jalannya peperangan dari anak bukit, bersama dengan pengawalnya yang berjumlah (4000) ksatria dari para prajurit Sudan pilihan, langsung menceburkan dirinya ke dalam kancah pertempuran. Mereka berhasil memecah barisan Salibis, membantai mereka habis-habisan, sampai bisa mendekati Alfonso, dan Ibnu Tasyfin berhasil menusuknya dengan pisau di pahanya. Ketika itulah jalannya pertempuran berbalik seratus delapan puluh derajat. Allah menganugerahi kaum muslimin pundak-pundak musuhnya. Kaum muslimin membantai, menawan, dan membakar musuhnya. Sedangkan Alfonso sendiri melarikan diri bersama dengan para pengiringnya, hampir-hampir mereka tidak selamat jika saja malam tidak memayungi medan pertempuran. Ketika fajar terbit, para mujahidin menunaikan shalat shubuh di dataran Zallaqah, setelah sebelumnya Ibnu Tasyfin memerintahkan untuk memenggal kepala bangkai-bangkai Salibis lalu menyusunnya membentuk piramida, kemudian memerintahkan untuk mengumandangkan adzan di atas tumpukan kepala tersebut.

Pertempuran Zallaqah telah berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan kehinaan Salibis, sebuah tragedi yang tidak akan bisa mereka lupakan selamanya. Mayoritas tentara Salib tewas pada pertempuran ini, tidak ada yang selamat kecuali hanya (500) orang yang melarikan diri dengan tubuh penuh luka, dan (400) orang dari mereka tewas di tengah perjalanan. Lebih dari (10.000) tentara Salib berhasil ditawan, dan kaum muslimin memperoleh ghanimah yang tak terhitung, diantaranya adalah (100.000 tenda), (70.000) senjata, dan (146.000) hewan tunggangan seperti kuda, bighal, dan keledai. IbnuTasyfin meninggalkan semuanya untuk raja-raja thawaif, dan ia kembali ke negeri Maghrib bersama tentaranya dengan membawa pahala yang besar, setelah berhasil membendung banjir bah Nashrani yang menyerbu Andalusia.

Setelahnya, masyarakat Andalusia kembali menikmati hidup di bawah naungan syariat selama empat abad berikutnya.

22 Pertempuran Mematahkan Pengepungan Syam  – Ramadhan 532 H

Sekalipun terdapat perselisihan internal, para salibis berkoalisi dengan orang-orang Byzantium untuk menyerang negeri Syam. Maka mereka segera berlayar ke selatan dengan pasukan berkekuatan (100.000) penunggang kuda dan (100.000) infantri. Mereka mampu menjajah beberapa daerah di bagian utara Syam dan melakukan perusakan, kemudian mengepung beberapa kota seperti Aleppo, Syaizar dan kota-kota lain.

Meskipun perlengkapan dan jumlah kaum muslimin sedikit, lemahnya Khilafah 'Abbasiyah ketika itu, dan munculnya beberapa negara-negara kecil – seperti Daulah Saljuq (Seljuk) yang loyal terhadap orang-orang 'Abbasiyah dan menguasai banyak wilayah di Irak dan Syam –para mujahidin dibawah kepemimpinan seorang komandan yang cemerlang, yaitu 'Imaddudin Zanki, mampu mematahkan pengepungan atas Syam, dan mengusir musuh yang menyerang.

Zanki, ia berasal dari kabilah Turkmen, ketika itu menjabat sebagai gubernur Mosul, mampu mengatur jalannya perang sampai mendapatkan kemenangan atas koalisi Byzantium–Salibis, dan berhasil merebut kembali kota-kota di Syam, serta memaksa mereka mundur jauh ke utara Syam. Ia terus memburu mereka dan berhasil membunuh banyak dari mereka. Kesuksesannya itu karena ia berhasil mengobarkan permusuhan dan menanamkan rasa takut diantara mereka (atau lebih dikenal dalam istilah modern sebagai perang urat syaraf). Juga keberhasilannya mengeksploitasi metode pertempuran baru, ia tidak menghadapi mereka secara langsung, namun ia mengirim detasemen-detasemen kecil untuk menyergap pasukan musuh dan membunuh siapapun yang bisa dibunuh, dan detasemen untuk memutus jalur logistic. Terakhir, Zanki berhasil menyatukan kaum muslimin yang terpecah-belah dalam beberapa imarah yang saling bertikai.

23 Pertempuran Manshurah – Ramadhan 647 H

Dengan restu dari dewan gereja Katholik, orang-orang Eropa bergerak dalam sebuah pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Perancis (Louis IX) dalam rangka menjajah Mesir dan Baitul Maqdis. Mereka berkumpul di Pulau Cyprus, jumlah mereka mencapai lebih dari (80.000) tentara. Dalam perjalanan, banyak dari tentara kerajaan-kerajaaan Salib pesisir yang bergabung. Mereka berlayar dengan (1800) kapal perang. Ketika sampai di kota Dumyat (Damietta), mereka mendudukinya setelah mendapatinya kosong karena ditinggalkan penduduknya. Mereka menetap di kota tersebut selama lebih dari 5 bulan, mereka merubah masjid-masjidnya menjadi gereja dan membentenginya dengan amat kokoh.

Mesir ketika itu dikuasai oleh keluarga Ayub, dan rajanya adalah Najmuddin Ayub (seorang Kurdi asli). Raja yang shalih initelah berhasil menyatukan Mesir dan Syam dibawah kekuasaannya. Sebelumnya ia berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan para Salibis setelah beberapa pertempuran sengit yang memakan korban lebih dari (30.000) tentara salib. Dan setelah 30 tahun berlalu para Salibis kembali memobilisasi kekuatannya dan mengumpulkan seluruh persenjataannya dalam rangka membalas dendam.

Ketika para Salibis menjajah kota Dumyat, Raja yang shalih ini sedang berada di Damaskus, karena menderita sakit keras, namun beliau tetap berangkat meninggalkan pembaringannya, dan bergegas menuju Mesir dengan ditandu, lalu mengumumkan mobilisasi umum. Maka berkumpulah bersamanya sebanyak (25.000) mujahidin. Namun, bersamaan dengan mulainya pergerakan Salibis untuk menjajah Mesir, raja yang shalih ini wafat. Kabar wafatnya beliau disembunyikan agar tidak merusak moral para tentara.

Setelah  wafatnya, pada waktu itu muncul seorang komandan cerdas yang bernama Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari (seseorang berkebangsaan Turki Kipchak, negara Kazakhstan sekarang). Ia mengajukan strateginya untuk membendung laju Salibis, yang intinya adalah memancing Salibis untuk memasuki kota Manshurah (terletak di Provinsi Daqhaliyah sekarang), lalu diblokade dan diserbu secara tiba-tiba dan sekaligus. Baibars lalu menutup seluruh jalan-jalan keluar dari Manshurah, dan membuka pintu gerbangnya untuk memancing tentara Salibis. Dia memerintahkan para mujahidin untuk berdiam dan bersiap-siap di seluruh lorong-lorong kota. Pasukan Salibis memakan umpan ini.

Pasukan garis depannya (Knight Templar) memasuki kota dan menyangkanya kosong sebagaimana halnya Dumyat, lalu diikuti oleh seluruh pasukan. Setelah itu, kaum muslimin bergegas menutup jalan kembali dengan perisai. Ketika itulah para mujahidin keluar secara serempak dan menyerbu habis-habisan pasukan Salibis. Prajurit yang tidak terbunuh di tangan mujahidin menenggelamkan dirinya di sungai Nil.

Dan diwaktu fajar pada hari berikutnya, para mujahidin segera bergerak ke Dumyat untuk menghabisi sisa-sisa pasukan Salib. Mereka berhasil menghabisi pasukan Salib di kota Fariskur, sebuah kota di dekat Dumyat. Para mujahidin berhasil membunuh (30.000) Salibis dan menawan (10.000) lainnya, diantara yang tertawan adalah Raja Louis IX itu sendiri. Para Salibis terpaksa menebusnya bersama dengan tawanan lain dengan imbalan (500.000) dinar dan seluruh kaum muslimin yang ditawan harus dibebaskan, serta menanggung penuh pembanguan kembali kota Dumyat dan Manshurah, juga bersumpah untuk tidak kembali menyerbu negeri-negeri kaum muslimin.

Setelah mereka menduduki Baghdad dan membunuh Khalifah 'Abbasiy al-Mu'tashim Billah, dibawah kepemimpinan (Hulagu Khan), Mongol bergerak menuju Syam. Mereka menduduki Damaskus, Aleppo, dan Hama. Kemudian Hulagu kembali ke ibukotanya di (Tabriz), memberikan mandat kepada komandannya (Kitbuqa Noyan) untuk melanjutkan ekspansi. Maka bergeraklah pasukan Mongol untuk menjajah Mesir, yang ketika itu dikuasai oleh Daulah Mamluk, dan pemimpinnya adalah Komandan Muzhaffar Saifuddin Quthz al-Khawarizmi (terletak di sebelah barat Uzbekistan sekarang).

Ia mulai mempersiapkan pasukan Islam, memperbaiki jembatan, benteng, dan kastil, kemudian ia bergerak untuk menggempur Tartar dengan pasukan berkekuatan (20.000) mujahid. Ia membagi pasukan menjadi dua detasemen, yang pertama berjumlah sedikit dengan penunggang kuda pilihan, dan yang kedua adalah pasukan induk yang dipimpinnya sendiri. Kemudian ia memasuki Palestina dan sampai di Gaza yang telah diduduki Mongol, maka dia pun menaklukkannya.

Ia terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di daerah yang bernama ('Ain Jalut), sebuah dataran yang terletak di antara kota Bisan dan Nablus di Palestina, dan wilayah ini saat ini dibawah kekuasaan Yahudi semoga Allah melaknat mereka. Di 'Ain Jalut ini pasukan kaum muslimin bertemu dengan pasukan Tartar yang berjumlah (20.000) prajurit.

Pada suatu hari Jum'at di bulan Ramadhan, pertempuran dimulai. Strategi Quthz adalah menempatkan kubu pertama dari pasukannya berada di garda terdepan, sedang pasukan inti yang dipimpinnya bersembunyi di balik bukit. Strategi ini berhasil mengecoh Kitbuqa, dia menyangka bahwa pasukan yang dihadapinya ini adalah seluruh pasukan kaum muslimin, maka ia menyerang dengan kekuatan penuh. Pasukan kaum muslimin pura-pura kalah dan mundur untuk memancing Mongol, terpancinglah tentara Mongol dan terjebak dalam perangkap. Maka ketika mereka berada ditengah-tengah dataran 'Ain Jalut, keluarlah pasukan yang dipimpin Quthz dan mengepung pasukan Mongol dari seluruh penjuru.

Mengetahui hal ini, Mongol terus bertempur membabi buta. Ketika Quthz melihat hal ini, ia melempar topi bajanya, turun dari kudanya, dan bergerak memecah barisan Mongol seraya berteriak “wa Islamaah”. Dengan ini, pasukan Islam mulai menguasai keadaan. Komandan Mongol, Kitbuqa sendiri terbunuh. Tentara Mongol terus berperang membabi buta untuk membuka jalan, sehingga sejumlah besar pasukan berhasil selamat dan bergerak menuju utara. Kaum muslimin segera bergerak mengejar mereka. Pengejaran terus berlanjut sampai di kota Bisan. Di sana pertempuran besar kembali terjadi.

Dalam pertempuran ini, pasukan Mongol ditumpas habis, tidak ada seorangpun tentara Mongol yang selamat. Sekalipun pasukan kaum muslimin ditimpa musibah dengan banyaknya jumlah syuhada, Quthz tetap memutuskan bergerak bersama pasukannya yang penuh luka untuk membebaskan Damaskus. Akan tetapi ketika penduduk Damaskus mendengar kabar kemenangan kaum muslimin atas Tartar di 'Ain Jalut, mereka menyerang Tartar, berhasil membunuh beberapa dari mereka, menawan sebagian lain dan sedangkan sisa-sisa Tartar kabur dari Damaskus. Quthz memasuki Damaskus pada hari terakhir di Bulan Ramadhan dengan sambutan meriah penduduknya. Kemudian ia mengirim pasukan untuk membebaskan kota-kota lainnya. Allah mengaruniakannya keberhasilan membebaskan seluruh negeri Syam dari cengkeraman Tartar, dan membebaskan banyak kaum muslimin yang tertawan di penjara-penjara Mongol.

Bersambung In Sya Allah...

Maktabah Al-Himmah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar