DABIQ 14 - SYUHADA
DI ANTARA ORANG-ORANG YANG BERIMAN ADA KESATRIA:
ABU JANDAL AL-BANGALI
Abū Jandal al-Bangālī (semoga Allah menerimanya) adalah salah satu di antara beberapa muwahhidin yang berhijrah dari Bengal ke bumi Syam yang diberkahi, dengan karunia Allah.
Abu Jandal dibesarkan di Dhaka dan berasal dari keluarga kaya yang memiliki hubungan yang cukup dalam dengan militer Bengal. Ayahnya adalah seorang perwira murtad pasukan thogut dan tewas pada saat terjadinya peristiwa pemberontakan yang terjadi di internal penjaga perbatasan “Bangladesh” pada tahun “2009”, Abu Jandal sering berbicara mengenai ayahnya, “ayahku mati di jalan thogut tetapi aku berharap untuk mati di jalan Allah semata”. Ia tetap berpegang teguh dengan kata-kata yang ia janjikan kepada Allah dan berusaha mencari syahid dengan sungguh-sungguh, dan Allah pun menepati apa yang dijanjikan kepadanya dan mengabulkan apa yang selama ini dia idam-idamkan. Demikian kami menilai beliau, dan Allah lebih menilai beliau.
Selama masa-masa akhir remajanya, Abu Jandal mendapatkan panggilan terhadap kebenaran Islam. Dia mulai mendengarkan ceramah-ceramah Syaikh Anwar al-‘Awlaqiy (semoga Allah menerimanya) dan ulama lainnya yang berada dalam kebenaran. Dia mempunyai semangat yang kuat dalam mencari ilmu yang bermanfaat. Ia biasa membaca al-Qur’an setiap hari dan merenungkan kandungan ayat-ayatnya. Ia juga sering mempelajari bahasa Arob dan buku-buku mengenai aqidah yang ditulis oleh Ibnu Taymiyah dan Muhammad ibnu ‘Abdil-Wahhab. Ia juga seorang hamba yang sholih. Ia secara terus-menerus mengerjakan qiyam setiap malam juga mengerjakan shalat sunnah harian, dan juga selalu menyemangati saudaranya yang lain disekitanya untuk mau melaksanakan qiyam. Selain sebagai seorang individu yang sholih, dia juga secara keuangan turut membantu mujahidin lokal di Bengal dan terhadap tahanan muslim yang ada di sana semampu yang ia bisa lakukan. Ia adalah seorang pemuda yang akan selalu bersegera dalam melakukan amal kebaikan di awal kesempatan.
Ketika Khilafah dideklarasikan di Syam, Abu Jandal adalah termasuk diantara Muwahiddin pertama di Bengal yang menyatakan dukungannya terhadap Daulah Islam dan menyatakan baiatnya kepada sang Khalifah hafizhahullah. Ia juga sangat aktif dalam menyebarkan pesan tauhid dan Khilafah kepada saudara-saudara yang berada di sekitarnya, dan sebagaimana seruan untuk hijrah yang intensif oleh media Daulah Islam, Abu Jandal tidak merasa puas hanya dengan berbicara dengan teman-temanya melalui berbagai media sosial, sebaliknya, ia benar-benar memutuskan untuk berjalan di jalan Allah dan melakukan hijrah menuju Daulah Islam.
Abu Jandal menghadapi banyak rintangan dalam perjalanannya melakukan hijrah. Rencana yang ia miliki pada waktu itu adalah berpura-pura melakukan perjalanan menuju konferensi insinyur yang diadakan di timur tengah sebagai pengalihan hijrah-nya. Untuk melakukannya, ia memerlukan surat referensi dari kampusnya yang mengkonfirmasi alasannya melakukan perjalanan dengan tujuan menghadiri konferensi tersebut, tetapi yang menjadi masalah adalah ia sudah berhenti menghadiri kelas-kelas di kampusnya dikarenakan lingkungan di sekitar kampusnya yang penuh dengan kemaksiatan. Pada akhirnya, sebagai seorang pemuda, mahasiswa pengangguran, ia tidak mempunyai dana untuk membiayai penerbangannya juga untuk membayar biaya konferensi. Meskipun berada pada situasi seperti itu, ia berusaha tetap teguh dan yakin atas janji Allah, yang berfirman, [dan barangsiapa yang taqwa pada Allah, akan Dia berikan jalan keluar untuknya dan akan Dia berikan rizqi dari arah yang tidak ia sangka. Dan barangsiapa yang tawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya [at-Tholaaq: 2-3]. Dan demikianlah Allah memfasilitasi untuknya solusi-solusi dari arah yang tidak ia duga. Dengan menaruh kepercayaannya hanya kepada Allah saja, Abu Jandal mampu untuk memalsukan surat referensi dari kampusnya itu, dan Allah membutakan mata murtaddin, di mana mereka tidak memperhatikan ciri-ciri yang jelas atas kepalsuan surat tersebut baik itu stempel dan tanda tangan pada surat referensi tersebut. ia juga mampu dalam mengumpulkan uang yang diperlukan untuk membiayai perjalanannya dengan cara yang cukup cerdik. Demikianlah, dengan karunia dari Allah, Abu Jandal berhasil untuk melakukan hijrah ke Syam. Ia berjalan menuju Allah, namun Allah berlari menujunya, sebagaimana yang Allah telah janjikan kepada orang-orang beriman.
Ketika berita itu bocor, bahwa Abu Jandal telah meninggalkan negaranya ke timur tengah dan bahwa sebenarnya ia tidak menghadiri konferensi tersebut, seorang pamannya yang murtad, yang memiliki hubungan dengan agen intelijen militer Bengal DGFI (Directorate General of Forces Intelligence), melakukan yang terbaik untuk mencegah dia sampai ke Syam. Meskipun dengan usaha yang dilakukan oleh pamannya dan DGFI, bagaimanapun dengan karunia Allah, Abu Jandal berhasil tiba di Syam dengan sangat mudah, menegaskan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan terhadap seorang sahabat muda ‘Abdulloh ibnu Abbas, “Ketahuilah seandainya seluruh dunia berkumpul untuk memberikanmu suatu kebaikan, mereka tidak akan mampu memberikan kepadamu satu kebaikan pun selain apa yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan satu keburukan kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan satu keburukan kepadamu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu.” [diriwayatkan oleh at-Tirmidziy].
Setelah berhasil memasuki bumi Syam yang diberkahi, hatinya penuh dengan rasa gembira dan ia menjadi orang yang termuda di antara para muhajirin asal Bengal. Segera setelah dia mengikuti kamp pelatihan, dia memberitahukan kepada pelatihnya bahwa ia ingin melakukan sebuah operasi istisyhad dan kemudian namanya pun masuk ke dalam daftar. Ia selalu tampak ceria dan murah senyum. Sementara menunggu gilirannya untuk melaksanakan operasi istisyhad, ia bergabung dengan sebuah batalion dan ditempatkan untuk ribath di ‘Ainul Islam. Meskipun ia sibuk dalam ribath dan pertempuran, hatinya selalu khawatir dengan saudara-saudara di tempat asalnya dan perkembangan jihad di sana. Ia bermimpi Bengal menjadi garis terdepan Daulah Islam dan menjadi kuburan bagi para murtaddin. Saat ia kembali dari tugas ribathnya ke kota, ia akan segera menanyakan saudara-saudaranya mengenai perkembangan yang terjadi di Bengal.
Ia juga biasa memberikan nasihat yang tulus kepada saudara-saudaranya di sana, meskipun tumbuh dalam keluarga yang kaya, ia selalu menjaga jaraknya dengan kehidupan di kota, dan lebih memilih bersusah payah dalam jihad. Sebelum ia pergi untuk ambil bagian dalam salah satu pertempuran di ‘Ain ‘Isa, ia mengabarkan kepada seorang temannya bahwa ia tidak mau menetap di kota dan berencana untuk pindah ke daerah pegunungan di wilayah Damaskus. Pada saat itu, mulai mendekati bulan romadhon, dan hatinya selalu terikat dengan Syahadah. Ia berkata kepada saudara-saudaranya disana akan keinginanya meraih syahadah dan berdoa agar Allah mau mengabulkannya pada bulan Romadhon. Ia kemudian pergi menuju pertempuran di ‘Ain ‘Isa sebagai seorang prajurit inghimasiy. Selama berjalannya operasi tersebut, ia terkena tembak meriam 23mm. tim medis segera mengevakuasinya dari lokasi pertempuran dan berusaha memberikannya pertolongan pertama, namun nyawanya tidak dapat tertolong karena pendarahan yang parah. Seorang dokter yang bertugas saat itu mengabarkan kepada saudara-saudara seperjuangannya bahwa sebelum nafas terakhirnya ia sempat mengucapkan kalimat syahadah.
Berkenaan dengan tugasnya dalam melaksanakan operasi inghimasi, Abu Jandal menulis surat berikut yang ditujukan kepada saudara-saudaranya seiman:
“dengan nama Allah Yang maha pengasih lagi maha pemurah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Dialah satu-satunya yang pantas disembah, Dialah satu-satunya yang hukumnya akan menguasai dunia, hanya pada-Nya hendaknya orang-orang beriman bertawakkal dan berharap. Adapun selanjutnya;”
“ini adalah sebuah pesan yang tulus dari saudaramu yang hidup di tanah Daulah Islam yang diberkahi ini. Adalah hukum-hukum Allah dan pengorbanan para saudara-saudara kita yang menjadikan tanah ini diberkahi, ya ikhwani fillah, empat atau lima bulan yang lalu, aku berada pada posisi yang sama sepertimu. Aku tidak mempunyai rencana apapun untuk menghindari fitnah yang ada di sekelilingku. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melakukan jihād fī sabīlillāh. Pada saat itu aku berpikir bahwa seluruh keluargaku dan teman-temanku pasti akan menghalangiku. Aku tenggelam di rintangan yang sama dengan apa yang mungkin kamu alami sekarang. Namun itu semua adalah tentang janji Allah, janji mengenai taman surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, yang membuatku terus mencoba, dan hal itu sudah cukup bagiku, insya Allah.”
“berikut ini adalah beberapa poin nasihat, yang mana aku berusaha dengan keras untuk melakukannya dan berharap bahwa kalian, saudara-saudaraku tercinta, juga berusaha melakukannya. Perlu dicatat bahwa ini hanyalah sudah menjadi tugasku untuk memberikan nasihat yang tulus kepada kalian. Sebaliknya, aku terlalu kecil dan terlalu berdosa untuk memberikanmu nasihat.”
- “Qiyāmul lail. Yā akhī, ini sudah menjadi solusi untuk para sahabat, sudah menjadi solusi untuk para saudara-saudara kita, dan hal ini tentu akan berlaku sama kepada kalian, insya Allah. Cobalah bangun 15 menit sebelum fajar dan shalat dua rakaat qiyamul Lail. Dan ketika kamu mulai terbiasa, tingkatkan 15 menit lagi. Apakah ini terlalu sulit?”
- “Cobalah menjadikan al-Qur’an sebagai teman terbaikmu. Bacalah, dengarlah, hapalkanlah, habiskanlah banyak waktu dengannya, Praktikanlah. Yang demikian itu lebih baik daripada bergunjing dengan teman-temanmu.”
- Cobalah lakukan latihan fisik rutin di rumah. Jangan lewatkan poin yang satu ini.”
Demikianlah, Abu Jandal adalah termasuk di antara para saudara-saudara kita yang tidak merasa puas hanya karena sudah berhasil tiba di tanah Khilafah dan ambil bagian dalam jihad di jalan Allah. Seseorang dapat melihat melalui surat yang ia tulis bahwa meskipun ia telah terlibat dalam jihad, yang merupakan salah satu amalan yang tertinggi, berupa pengorbanan dan ketaatan, ia terus mencoba untuk meningkatkan dirinya menjadi lebih baik dan memperkuat hubungannya dengan Tuhannya. Semoga Allah menerimanya dalam golongan syuhada dan memberikan inspirasi kepada yang lain melalui kata-kata dan perbuatannya.
DI ANTARA ORANG-ORANG YANG BERIMAN ADA KESATRIA:
ABU JANDAL AL-BANGALI
Abū Jandal al-Bangālī (semoga Allah menerimanya) adalah salah satu di antara beberapa muwahhidin yang berhijrah dari Bengal ke bumi Syam yang diberkahi, dengan karunia Allah.
Abu Jandal dibesarkan di Dhaka dan berasal dari keluarga kaya yang memiliki hubungan yang cukup dalam dengan militer Bengal. Ayahnya adalah seorang perwira murtad pasukan thogut dan tewas pada saat terjadinya peristiwa pemberontakan yang terjadi di internal penjaga perbatasan “Bangladesh” pada tahun “2009”, Abu Jandal sering berbicara mengenai ayahnya, “ayahku mati di jalan thogut tetapi aku berharap untuk mati di jalan Allah semata”. Ia tetap berpegang teguh dengan kata-kata yang ia janjikan kepada Allah dan berusaha mencari syahid dengan sungguh-sungguh, dan Allah pun menepati apa yang dijanjikan kepadanya dan mengabulkan apa yang selama ini dia idam-idamkan. Demikian kami menilai beliau, dan Allah lebih menilai beliau.
Selama masa-masa akhir remajanya, Abu Jandal mendapatkan panggilan terhadap kebenaran Islam. Dia mulai mendengarkan ceramah-ceramah Syaikh Anwar al-‘Awlaqiy (semoga Allah menerimanya) dan ulama lainnya yang berada dalam kebenaran. Dia mempunyai semangat yang kuat dalam mencari ilmu yang bermanfaat. Ia biasa membaca al-Qur’an setiap hari dan merenungkan kandungan ayat-ayatnya. Ia juga sering mempelajari bahasa Arob dan buku-buku mengenai aqidah yang ditulis oleh Ibnu Taymiyah dan Muhammad ibnu ‘Abdil-Wahhab. Ia juga seorang hamba yang sholih. Ia secara terus-menerus mengerjakan qiyam setiap malam juga mengerjakan shalat sunnah harian, dan juga selalu menyemangati saudaranya yang lain disekitanya untuk mau melaksanakan qiyam. Selain sebagai seorang individu yang sholih, dia juga secara keuangan turut membantu mujahidin lokal di Bengal dan terhadap tahanan muslim yang ada di sana semampu yang ia bisa lakukan. Ia adalah seorang pemuda yang akan selalu bersegera dalam melakukan amal kebaikan di awal kesempatan.
Ketika Khilafah dideklarasikan di Syam, Abu Jandal adalah termasuk diantara Muwahiddin pertama di Bengal yang menyatakan dukungannya terhadap Daulah Islam dan menyatakan baiatnya kepada sang Khalifah hafizhahullah. Ia juga sangat aktif dalam menyebarkan pesan tauhid dan Khilafah kepada saudara-saudara yang berada di sekitarnya, dan sebagaimana seruan untuk hijrah yang intensif oleh media Daulah Islam, Abu Jandal tidak merasa puas hanya dengan berbicara dengan teman-temanya melalui berbagai media sosial, sebaliknya, ia benar-benar memutuskan untuk berjalan di jalan Allah dan melakukan hijrah menuju Daulah Islam.
Abu Jandal menghadapi banyak rintangan dalam perjalanannya melakukan hijrah. Rencana yang ia miliki pada waktu itu adalah berpura-pura melakukan perjalanan menuju konferensi insinyur yang diadakan di timur tengah sebagai pengalihan hijrah-nya. Untuk melakukannya, ia memerlukan surat referensi dari kampusnya yang mengkonfirmasi alasannya melakukan perjalanan dengan tujuan menghadiri konferensi tersebut, tetapi yang menjadi masalah adalah ia sudah berhenti menghadiri kelas-kelas di kampusnya dikarenakan lingkungan di sekitar kampusnya yang penuh dengan kemaksiatan. Pada akhirnya, sebagai seorang pemuda, mahasiswa pengangguran, ia tidak mempunyai dana untuk membiayai penerbangannya juga untuk membayar biaya konferensi. Meskipun berada pada situasi seperti itu, ia berusaha tetap teguh dan yakin atas janji Allah, yang berfirman, [dan barangsiapa yang taqwa pada Allah, akan Dia berikan jalan keluar untuknya dan akan Dia berikan rizqi dari arah yang tidak ia sangka. Dan barangsiapa yang tawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya [at-Tholaaq: 2-3]. Dan demikianlah Allah memfasilitasi untuknya solusi-solusi dari arah yang tidak ia duga. Dengan menaruh kepercayaannya hanya kepada Allah saja, Abu Jandal mampu untuk memalsukan surat referensi dari kampusnya itu, dan Allah membutakan mata murtaddin, di mana mereka tidak memperhatikan ciri-ciri yang jelas atas kepalsuan surat tersebut baik itu stempel dan tanda tangan pada surat referensi tersebut. ia juga mampu dalam mengumpulkan uang yang diperlukan untuk membiayai perjalanannya dengan cara yang cukup cerdik. Demikianlah, dengan karunia dari Allah, Abu Jandal berhasil untuk melakukan hijrah ke Syam. Ia berjalan menuju Allah, namun Allah berlari menujunya, sebagaimana yang Allah telah janjikan kepada orang-orang beriman.
Ketika berita itu bocor, bahwa Abu Jandal telah meninggalkan negaranya ke timur tengah dan bahwa sebenarnya ia tidak menghadiri konferensi tersebut, seorang pamannya yang murtad, yang memiliki hubungan dengan agen intelijen militer Bengal DGFI (Directorate General of Forces Intelligence), melakukan yang terbaik untuk mencegah dia sampai ke Syam. Meskipun dengan usaha yang dilakukan oleh pamannya dan DGFI, bagaimanapun dengan karunia Allah, Abu Jandal berhasil tiba di Syam dengan sangat mudah, menegaskan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan terhadap seorang sahabat muda ‘Abdulloh ibnu Abbas, “Ketahuilah seandainya seluruh dunia berkumpul untuk memberikanmu suatu kebaikan, mereka tidak akan mampu memberikan kepadamu satu kebaikan pun selain apa yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan satu keburukan kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan satu keburukan kepadamu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu.” [diriwayatkan oleh at-Tirmidziy].
Setelah berhasil memasuki bumi Syam yang diberkahi, hatinya penuh dengan rasa gembira dan ia menjadi orang yang termuda di antara para muhajirin asal Bengal. Segera setelah dia mengikuti kamp pelatihan, dia memberitahukan kepada pelatihnya bahwa ia ingin melakukan sebuah operasi istisyhad dan kemudian namanya pun masuk ke dalam daftar. Ia selalu tampak ceria dan murah senyum. Sementara menunggu gilirannya untuk melaksanakan operasi istisyhad, ia bergabung dengan sebuah batalion dan ditempatkan untuk ribath di ‘Ainul Islam. Meskipun ia sibuk dalam ribath dan pertempuran, hatinya selalu khawatir dengan saudara-saudara di tempat asalnya dan perkembangan jihad di sana. Ia bermimpi Bengal menjadi garis terdepan Daulah Islam dan menjadi kuburan bagi para murtaddin. Saat ia kembali dari tugas ribathnya ke kota, ia akan segera menanyakan saudara-saudaranya mengenai perkembangan yang terjadi di Bengal.
Ia juga biasa memberikan nasihat yang tulus kepada saudara-saudaranya di sana, meskipun tumbuh dalam keluarga yang kaya, ia selalu menjaga jaraknya dengan kehidupan di kota, dan lebih memilih bersusah payah dalam jihad. Sebelum ia pergi untuk ambil bagian dalam salah satu pertempuran di ‘Ain ‘Isa, ia mengabarkan kepada seorang temannya bahwa ia tidak mau menetap di kota dan berencana untuk pindah ke daerah pegunungan di wilayah Damaskus. Pada saat itu, mulai mendekati bulan romadhon, dan hatinya selalu terikat dengan Syahadah. Ia berkata kepada saudara-saudaranya disana akan keinginanya meraih syahadah dan berdoa agar Allah mau mengabulkannya pada bulan Romadhon. Ia kemudian pergi menuju pertempuran di ‘Ain ‘Isa sebagai seorang prajurit inghimasiy. Selama berjalannya operasi tersebut, ia terkena tembak meriam 23mm. tim medis segera mengevakuasinya dari lokasi pertempuran dan berusaha memberikannya pertolongan pertama, namun nyawanya tidak dapat tertolong karena pendarahan yang parah. Seorang dokter yang bertugas saat itu mengabarkan kepada saudara-saudara seperjuangannya bahwa sebelum nafas terakhirnya ia sempat mengucapkan kalimat syahadah.
Berkenaan dengan tugasnya dalam melaksanakan operasi inghimasi, Abu Jandal menulis surat berikut yang ditujukan kepada saudara-saudaranya seiman:
“dengan nama Allah Yang maha pengasih lagi maha pemurah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Dialah satu-satunya yang pantas disembah, Dialah satu-satunya yang hukumnya akan menguasai dunia, hanya pada-Nya hendaknya orang-orang beriman bertawakkal dan berharap. Adapun selanjutnya;”
“ini adalah sebuah pesan yang tulus dari saudaramu yang hidup di tanah Daulah Islam yang diberkahi ini. Adalah hukum-hukum Allah dan pengorbanan para saudara-saudara kita yang menjadikan tanah ini diberkahi, ya ikhwani fillah, empat atau lima bulan yang lalu, aku berada pada posisi yang sama sepertimu. Aku tidak mempunyai rencana apapun untuk menghindari fitnah yang ada di sekelilingku. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melakukan jihād fī sabīlillāh. Pada saat itu aku berpikir bahwa seluruh keluargaku dan teman-temanku pasti akan menghalangiku. Aku tenggelam di rintangan yang sama dengan apa yang mungkin kamu alami sekarang. Namun itu semua adalah tentang janji Allah, janji mengenai taman surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, yang membuatku terus mencoba, dan hal itu sudah cukup bagiku, insya Allah.”
“berikut ini adalah beberapa poin nasihat, yang mana aku berusaha dengan keras untuk melakukannya dan berharap bahwa kalian, saudara-saudaraku tercinta, juga berusaha melakukannya. Perlu dicatat bahwa ini hanyalah sudah menjadi tugasku untuk memberikan nasihat yang tulus kepada kalian. Sebaliknya, aku terlalu kecil dan terlalu berdosa untuk memberikanmu nasihat.”
- “Qiyāmul lail. Yā akhī, ini sudah menjadi solusi untuk para sahabat, sudah menjadi solusi untuk para saudara-saudara kita, dan hal ini tentu akan berlaku sama kepada kalian, insya Allah. Cobalah bangun 15 menit sebelum fajar dan shalat dua rakaat qiyamul Lail. Dan ketika kamu mulai terbiasa, tingkatkan 15 menit lagi. Apakah ini terlalu sulit?”
- “Cobalah menjadikan al-Qur’an sebagai teman terbaikmu. Bacalah, dengarlah, hapalkanlah, habiskanlah banyak waktu dengannya, Praktikanlah. Yang demikian itu lebih baik daripada bergunjing dengan teman-temanmu.”
- Cobalah lakukan latihan fisik rutin di rumah. Jangan lewatkan poin yang satu ini.”
Demikianlah, Abu Jandal adalah termasuk di antara para saudara-saudara kita yang tidak merasa puas hanya karena sudah berhasil tiba di tanah Khilafah dan ambil bagian dalam jihad di jalan Allah. Seseorang dapat melihat melalui surat yang ia tulis bahwa meskipun ia telah terlibat dalam jihad, yang merupakan salah satu amalan yang tertinggi, berupa pengorbanan dan ketaatan, ia terus mencoba untuk meningkatkan dirinya menjadi lebih baik dan memperkuat hubungannya dengan Tuhannya. Semoga Allah menerimanya dalam golongan syuhada dan memberikan inspirasi kepada yang lain melalui kata-kata dan perbuatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar