Rabu, 25 April 2018

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 9

DABIQ 9 – PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Salah satu posisi yang paling hina dari para pengklaim jihad adalah di saat mendapati dirinya mulai dipertimbangkan oleh para Tentara Salib dan Tawaghit Arab sebagai kemungkinan alternatif untuk melawan Khilafah atau "solusi" parsial untuk mencegah ekspansinya. Di mana seseorang sekarang mendengar bahwa Tentara Salib menganggap sekelompok pengklaim jihad sebagai sekutu potensial untuk melayani kepentingan Tentara Salib terhadap Daulah Islam, maka cucilah tanganmu dari kelompok itu dan larilah dari mereka dengan membawa agamamu sebagaimana engkau lari dari para penderita kusta!

Masalahnya adalah bukan karena Tentara Salib menganggap pengklaim Jihad memiliki musuh bersama –yang salah salah satu dari mereka telah dianggap oleh kaum Muslimin, seperti Rafidhah, Nusairiyah, kaum sekuler, dan para pendukung demokrasi ... dan yang ditakuti Tentara Salib lebih dari kaum Muslimin karena alasan materi, seperti musuh mereka; orang-orang Shafawi yang ingin memproduksi senjata nuklir. Akan tetapi, yang dianggap musuh bersama oleh mereka adalah Daulah Islam, yang mana para pemimpin kelompok pengklaim jihad ini yang telah syahid menganggap diri mereka telah memujinya berulang kali.

Berikut ini Anda akan menemukan kata-kata para think-tank Tentara Salib, para analis, penasihat, dan wartawan, yang menyarankan kepada pimpinan Tentara Salib Amerika akan perlunya melestarikan para pemimpin pengklaim jihad dan kelompoknya, serta membangun hubungan dengan mereka, karena dengan melakukan hal ini mereka akan melayani perang salib melawan Daulah Islam.

Di antara yang pertama kali mengeluarkan ide ini kepada pemimpin Tentara Salib Amerika adalah si Yahudi Barak Mendelsohn.

Dalam sebuah artikel Urusan Luar Negeri (Foreign Affairs) yang dipublikasitkan pada tanggal 13 Februari 2014, dia mengatakan, "Amerika Serikat juga harus bersikap rileks untuk kerjasama dengan Islamic Front (Jabhah Islamiyah) dan bahkan mempertimbangkan hubungan lebih dekat dengan JN (Jabhah An-Nusrah) di mana keduanya bekerja untuk menurunkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Hal ini akan memberikan tekanan lebih kepada ISIS, sementara tetap mengizinkan negara Inggris dan kelompok-kelompok Islam untuk saling akrab satu sama lain, memahami sudut pandang dan kekhawatiran masing-masing, dan bahkan mungkin untuk mengurangi orang-orang yang menderita di Suriah. Hubungan mereka pasti akan berharga ketika datang waktunya untuk merekonstruksi negara." (Catatan: Jabhah "Islamiyah" sebelumnya telah bekerja sama dengan agen AS - Qatar, Turki, dan Saudi - tetapi tidak secara langsung dan terbuka, kemudian dengan AS sendiri.)

Konsep ini telah dipetakan oleh Tentara Salib dalam Wall Street Journal pada 29 Agustus 2014 yang berjudul "United Against Islamic State", Mereka menjelaskan peta ini dengan mengatakan secara singkat, "Ketakutan atas penyebaran Islamic State berarti telah menjadikan pihak-pihak yang sering bertentangan sekarang berbagi musuh bersama ... Kelompok- kelompok yang memperlihatkan gesekan atau saling menyerang terhadap satu sama lain sekarang mendapati diri mereka satu barisan dalam keinginan untuk melawan Islamic State ... Dan pertemanan yang paling aneh dari semuanya adalah: Islamic State mengancam al-Qaeda sebagaimana mengancam Barat, yang berarti bahwa, secara fakta, al-Qaeda dan AS sekarang memiliki musuh bersama."

Small Wars Journal milik Tentara Salib menjelaskan fenomena ini secara singkat pada tanggal 22 Maret 2015, "Sekutu kita; para pemberontak yang didominasi basis Sunni dan termasuk dosis sehat Al-Qaeda - musuh setia kita di Iraq dan Afghanistan entah bagaimana sekarang berhasil berada di pihak kita di Suriah."

Dan setelah ini menjadi sekedar penggabungan kepentingan untuk melawan Daulah Islam –bukan untuk melawan orang kafir– Tentara Salib yang lain akan mulai menekankan pentingnya untuk membangun sebuah hubungan yang sebenarnya.

Seorang think-tank utama Tentara Salib –Carnegie Endowment– menulis pada tanggal 24 Maret 2015, "Barat sekarang melihat Jabhah Nusra sebagai ancaman. Tapi pragmatisme Nusra dan evolusi berkelanjutan menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi sekutu dalam perjuangan melawan Islamic State ... Sebaliknya apabila menempatkan Nusra dan Islamic State di keranjang yang sama, Barat harus melihat melalui Afiliasi ideologis Nusra dan mendorong pragmatisme sebagai usaha mengakhiri konflik di Suriah."

Kalimat selanjutnya menjabarkan makna "Pragmatisme" Jabhah Jaulani secara rinci: Kerjasama dengan faksi lainnya adalah tanpa syarat dan "Ideologi" yang tidak dipaksakan dengan kekerasan. Penulis artikel mengatakan dalam nada memuji Jabhah Jaulani, "... Nusra tidak memaksakan ideologinya secara borongan. Sementara sumber-sumber lokal mengatakan bahwa 80 persen anggota Islamic State di Suriah bukanlah orang Suriah, sedangkan anggota Nusra sebagian besar adalah warga dan karena itu lebih menyadari akan keragaman budaya dan adat istiadat di daerah itu. Hal ini memungkinkan Nusra untuk memodifikasi pelaksanaan ideologi menurut keragaman tersebut ... "

"... Kemampuan Jabhah Nusra untuk mendapatkan hasil sebagian besar didorong oleh pragmatisme ini. Kelompok ini telah berkolaborasi dengan berbagai kekuatan lokal tanpa mendorong mereka untuk berjuang di bawah payungnya. Sebaliknya, mereka berjuang dengan Nusra sebagai sekutu –perubahan radikal dari model Islamic State, yang tidak mentolerir kolaborasi kecuali benar-benar diperlukan. Pendekatan ini telah memungkinkan Jabhah Nusra untuk memperluas jaringan dukungan dengan cepat, termasuk penambahan beberapa brigade FSA di Aleppo, Hama, dan Dar'a."

Penjabaran tentang Jabhah Jaulani juga dicerminkan di bagian lain yang ditulis oleh Tentara Salib dari Middle East Eye pada tanggal 30 April 2015. Setelah menjelaskan "Pragmatisme" dari Jabhah Jaulani (yaitu bekerjasama dengan semua orang dan tidak menerapkan hudud), penulis mengatakan, "Nusra juga bisa bermanfaat bagi serangan udara AS terhadap IS. Amerika Serikat mendaftar Jabhah Nusra sebagai organisasi teroris pada Desember 2012, jauh sebelum munculnya IS, tapi sejak tahun lalu, intervensi yang dipimpin AS di Suriah dan Iraq sebagian besar telah difokuskan pada tujuan meredam dan 'akhirnya menghancurkan' IS. Walau serangan udara koalisi juga telah menargetkan posisi Nusra, kelompok ini kurang kurang mendapat prioritas dari serangan yang dipimpin AS."

"IS secara signifikan akan melemah oleh serangan dukungan Barat, ... Nusra terlihat lebih baik untuk ditempatkan mengisi kekosongan di bagian utara, tengah dan timur dari Suriah."

"... Nusra bahkan telah menunjukkan dirinya bersedia bekerja sama dengan masyarakat internasional di wilayah itu, tahun lalu dia mau bekerja sama dengan Qatar dalam negosiasi untuk melepaskan 45 pasukan penjaga perdamaian PBB Fiji yang disandera di Golan pada bulan September."

"Dalam jangka panjang, (aktivis media oposisi dari Idlib, Juma al-Qasim) percaya bahwa penolakan rakyat Suriah terhadap IS akan mendorong oposisi untuk merangkul Nusra. ... Dan dengan kemungkinan payung kesepakatan untuk mengikutsertakan perwakilan Islam, Nusra, yang dipersenjatai, didanai dan terorganisir dengan baik, ada di posisi terbaik untuk mengisi peran itu."

Kebijakan untuk mengandalkan para pengklaim jihad untuk melawan Daulah Islam sudah diadopsi oleh beberapa thaghut Arab. Carnegie Endowment menulis pada tanggal 20 April 2015, "Islamic State berusaha untuk menyusup ke Yordania dengan banyak cara. Cara yang paling efektif untuk membangunnya tidak dengan menyerang melalui perbatasan, tetapi dengan memilih Faksi ekstremis Yordania dan mengeksploitasi kemarahan ketidakpuasan sosial di antara pemuda Yordania. Untuk mengatasi tren ini, pemerintah telah berusaha untuk mengeksploitasi perpecahan antara al-Qaida dan Islamic State, melepaskan beberapa ulama (al-Maqdisi dan al-Filistini) yang selaras dengan mantan kelompok mereka dan membiarkan mereka muncul di media."

Kebijakan ini bahkan juga telah disarankan untuk Afghanistan dan Pakistan, bahwa kehadiran Daulah Islam di sana mengancam stabilitas regional. Tentara Salib dalam "War on the Rocks" menulis pada tanggal 13 April 2015, "Namun yang jelas, Mullah Omar masih memiliki nilai penting - terutama di Asia Selatan, di mana dua perkembangan penting bermain keluar. Keduanya secara langsung terkait dengan stabilitas, di mana pemimpin Washington berkepentingan di wilayah tersebut. Dan terlepas dari nasibnya, Mullah Omar akan memiliki dampak pada masing-masing dari mereka. Perkembangan nomor satu adalah pengaruh Daulah Islam yang semakin dalam di Selatan Asia. … Tren kunci kedua adalah bersegeranya Kabul melakukan rekonsiliasi dengan Taliban. ... Akhir tahun lalu, para pejabat AS menyatakan bahwa pasukan Amerika tidak akan lagi aktif mengejar Mullah Omar. Mereka mengisyaratkan bahwa dia tidak lagi menimbulkan ancaman langsung terhadap pasukan AS. Secara zhahir, alasan ini menunjukkan bahwa Washington tidak lagi khawatir terhadapnya ... Namun, keputusan AS untuk tidak memburu Mullah Omar bisa jadi merupakan indikasi bahwa mereka masih menganggap dirinya sebagai orang yang relevan dan berguna. Washington dapat menyimpulkan bahwa jalan apapun untuk pembicaraan damai di Afghanistan tidak akan terlaksana kecuali melalui dia, dan menangkap atau menyerang dia akan menjadi bencana strategi."

Yang terburuk dari semuanya, apa yang ditulis oleh Barak Mendelsohn dalam sebuah artikel berjudul "Menerima Al-Qaeda - Musuh dari Musuh Amerika Serikat" untuk urusan Luar Negeri pada 9 Maret 2015. Di dalamnya ia berkata, "Sejak 9/11, Washington telah menganggap al-Qaeda sebagai ancaman paling besar terhadap Amerika Serikat, yang harus dimusnahkan tanpa peduli berapa banyak biaya dan waktu yang dibutuhkan. Setelah Washington membunuh Osama bin Laden pada tahun 2011, menjadikan Ayman al-Zhawahiri, pemimpin baru Al Qaeda sebagai target nomor satu selanjutnya. Tapi ketidakstabilan di Timur Tengah setelah revolusi Arab dan munculnya Negara Islam Iraq dan al-Sham (ISIS) dengan cepat, mengharuskan Washington memikirkan kembali kebijakannya terhadap al-Qaeda, terutama penargetannya terhadap Zhawahiri. Mendestabilisasi al-Qaeda saat ini mungkin sangat efektif dalam upaya AS untuk mengalahkan ISIS."

"... Hari ini, Al Qaeda, meskipun masih menjadi ancaman serius, hanya saja dia hanyalah salah satu dari beberapa ancaman yang berasal dari Tengah Timur. Washington tidak hanya harus menghadang aspirasi hegemoni Iran, yang mengancam para sekutu AS, tetapi juga harus melawan ekspansi ISIS. Kegagalan Washington untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan yang beragam ini menjadi terlihat jelas ketika membuat kesalahan dalam pemboman target ISIS di Suriah dengan serangan terhadap kelompok al-Qaeda Khurasan..."

"Hingga Presiden AS Barack Obama berhasil memenuhi janjinya untuk 'menurunkan dan akhirnya menghancurkan' ISIS, ia harus melemahkan kontrol ISIS atas Mosul, Raqqa, dan pusat-pusat populasi besar lainnya, serta menghentikan ekspansinya. Sehingga secara tidak sengaja, administrasi pendekataan secara hati-hati menuju intervensi militer menjadikan al Qaeda –yang dipandang ISIS sebagai cabang murtad– pemain penting dalam membatasi pertumbuhan ISIS."

"... Selama Zhawahiri masih hidup, para pemimpin cabang Al-Qaeda yang terikat kepadanya oleh sumpah setia akan sedikit yang bergeser kesetiaan dan bergabung ke ISIS. Tetapi apabila, jika Washington berhasil membunuh Zhawahiri, para pemimpin cabang Al Qaeda akan memiliki kesempatan untuk menilai kembali apakah akan tetap dengan al Qaeda atau bergabung dengan Kekhalifahan Baghdadi…"

"Dan lebih daripada selama era Osama bin Laden, kekompakan al-Qaeda tergantung pada kemampuan kepemimpinan untuk menyatukan berbagai cabang secara bersamaan, dan tidak jelas apakah al-Qaeda dapat bertahan setelah suksesi kepemimpinan baru sejak para senior al-Qaeda telah menyusut dalam beberapa tahun terakhir, membuatnya lebih tergantung pada tokoh senior seperti Zhawahiri untuk mempertahankan kesatuan. Nampaknya, nasib kelompok ini tergantung pada kelangsungan hidup sosok Zhawahiri. Ada sebuah ironi pada titik ini, ketika Amerika telah mencapai titik paling dekat yang belum pernah diraih sebelumnya dalam menghancurkan al-Qaeda, kepentingannya ternyata menunjukkan akan lebih baik untuk tetap menjaga organisasi teroris ini tetap ada dan Zhawahiri tetap hidup." 
(gambar)
Teman yang Aneh
Kelompok-kelompok yang bergesekan atau bersinggungan langsung satu sama lain sekarang mendapati diri mereka sejajar dalam keinginan melawan Islamic State. Kelompok garis yang berwarna sama mewakili kepentingan bersama.
(teks dan gambar berasal dari media Salibis Wall Street Journal!)

Apakah Tentara Salib telah mengikuti atau akan mengikuti "nasihat" ini, itu tidak penting. Fakta ini telah disarankan oleh begitu banyak Tentara Salib dan analis murtad yang akan menjadi sumber malu untuk setiap pengklaim jihad!

Sesungguhnya kepentingan Tentara Salib ini terwujud secara jelas dengan fakta bahwa pasukan sekularis dari FSA yang didukung Tentara Salib tidak akan eksis tanpa Jabhah Jaulani, seperti yang diungkapkan oleh si murtad sekuler Orient News dalam sebuah laporan video pada tanggal 15 April 2015 menyatakan bahwa bentrokan antara FSA dan Jabhah Jaulani tidak akan memberi manfaat untuk kepentingan kedua sisi "terutama mengingat ekspansi Islamic State di sisi selatan, serangan mereka atas pangkalan udara Khalkhalah, dan an-nusrah selalu memukul mundur setiap ekspansi Islam State, membuat kehadiran An-Nusrah ini terus menjamin agar ekspansi tersebut tidak terjadi." Fakta ini telah didemostrasikan baru-baru ini oleh kerjasama antara Jabhah Jaulani dan FSA di Dar'a melawan mujahidin yang sesungguhnya, yang mereka dituduh sebagai Khawarij.

Puncak dari ini adalah sebutan yang dibuat oleh beberapa salibis ("Protected Zone for Syria" oleh John McCain, Lindsey Graham) dan orang-orang murtad (Koalisi Nasional Suriah, SNC) untuk pembentukan "zona yang dilindungi" di Idlib, Dar'a, dan Halab –daerah yang saat ini dihuni oleh "al-Qa'idah " Suriah dan sekutunya yang didukung negara-negara Teluk. Zona ini yang harus dilindungi dari Daulah Islam oleh Tentara Salib dan jet murtad! Semoga Allah mengampuni Syaikh Mujahid Usamah bin Ladin rahimahullah, di mana para pengklaim jihad ini telah merubah seruannya melenceng begitu jauh.

Jabhah Jaulani dan yang semisalnya, cepat atau lambat pasti akan mendapati diri mereka di antara dua pilihan, apakah mereka harus bergabung menjadi satu dengan faksi-faksi yang didukung oleh thaghut sebagaimana yang terjadi pada Fajr Libya, atau mereka akan menunggu pengkhianatan dari para sekutu mereka sebagaimana Jabhah Jaulani sebelumnya mengkhianati para muhajirin dan Anshar Daulah Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar