DABIQ 10 - PERBINCANGAN MUSUH
DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH
Mujahidin belum pernah melihat pesawat-pesawat tempur salibis dan thaghut menyerang "Khawarij" dalam rangka membela "Ahlus Sunnah wal Jama’ah" kecuali pada era yang dikenal dengan nama "Arab Spring". Ketika pesawat-pesawat tempur kuffar yang jahat datang menyerang dan membela koalisi Shahawat -termasuk diantaranya Jabhah Jaulani- dan menolong koalisi Shahawat memerangi Daulah Islamiyah di bawah payung Koalisi salibis, meskipun diantara mereka terdapat permusuhan yang sangat hebat dan hati mereka berpecah-belah*, mereka saling bersekutu satu sama lain**.
*Lihat Surat al-Hasyr ayat 14.
**Lihat Surat al-Ma’idah ayat 51.
Pasca Junud Khilafah menguasai wilayah Shauran di l'zaz dan memukul mundur koalisi Shahawat dengan kondisi memalukan dari tempat tersebut, Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan kepala faksi-faksi serta dewan mereka di Turki meminta bantuan Amerika atas nama Koalisi Shahawat (pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah tidak lupa untuk ambil bagian dalam seruan ini), dan dua orang Republikan, John McCain dan Lindsey Graham mendesak serta menekan pemegang kebijakan Salibis, yakni Obama. Maka Obama menjawab permintaan mereka dengan menyerang Daulah Islamiyah di Shauran, l'zaz dan wilayah-wilayah yang berdekatan dengannya pada tanggal "7 Juni 2015", dan "14 Juni 2015", pun pada hari-hari lainnya, demi melayani kepentingan koalisi Shahawat.
Lembaga SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia" (yang dipimpin oleh si murtad Rami Abdurrahman) mengomentari peristiwa pada tanggal "7 Juni 2015" tersebut dengan kalimat, "Jet-jet koalisi Internasional dan negara-negara Arab sedikitnya memuntahkan empat serangan udara menargetkan lokasi-lokasi dan tempat berkumpulnya para anggota organisasi 'Daulah Islamiyah' di desa Shauran, l'zaz di pinggiran utara Aleppo, dilaporkan terjadi pertempuran dahsyat selama sekitar 10 hari antara organisasi 'Daulah Islamiyah' pada satu pihak melawan pihak lain yang diantaranya: Jabhah an-Nushrah -Tanzhim al Oa'idah fi Biladusy Syam- bersama dengan faksi militer Islamis lainnya. Kawasan tersebut juga menyaksikan terjadinya saling serang antara dua pihak dan kehancuran kendaraan-kendaraan tempur milik organisasi 'Daulah Islamiyah' oleh serangan an-Nushrah dan faksi lainnya yang menggunakan misil TOW Amerika".
Ketua SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia", Rami Abdulrahman berkata, "Ini pertama kalinya Koalisi Internasional mendukung oposisi non Kurdi dalam pertempuran melawan para pejuang organisasi 'Daulah Islamiyah'".
Dia juga mengatakan, "Serangan ini merupakan bantuan secara tidak langsung bagi Ahrar asy-Syam dan Jabhah an-Nushrah". (Dia lupa akan seruan yang dibuat koalisi salibis oleh pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah via satelit televisi dan tweet internet).
Dia juga mengatakan bahwa serangan udara tersebut mengindikasikan jawaban "keputusan Amerika untuk menghalangi kemajuan organisasi 'Daulah Islamiyah' dari Shauran menuju pinggiran kota l'zaz yang berbatasan dengan Turki." [dikutip dari sebuah artikel berjudul "Koalisi Internasional Menargetkan Para Jihadis Dekat Aleppo demi Kepentingan Faksi-Faksi Islamis, Termasuk Diantaranya an-Nushrah", yang diterbitkan oleh website "Observatorium Suriah" pada tanggal "8 Juni 2015"].
Nampaknya kebijakan para salibis terhadap Jabhah Jaulani meniru kebijakan para thaghut terhadap kelompok tersebut. Serupa dengan thaghut Turki, Qatar, dan alu Salul yang mendukung faksi "Jaisyul Fath" dengan bantuan bersyarat (tidak ada bantuan tak bersyarat, sebagaimana kesaksian Jaulani sendiri dalam wawancaranya bersama Al-Jazeera), kemudian bantuan yang di distribusikan pada seluruh faksi yang berpartisipasi dalam "Jaisyul Fath" termasuk Jabhah Jaulani, pun sama halnya dengan serangan Salibis menargetkan Khilafah demi kepentingan koalisi Shahawat dimana Jaulani juga berada dalam koalisi tersebut.
Inilah simbiosis mutualisme "pragmatis" antara Amerika dan koalisi Shahawat termasuk diantaranya Jabhah Jaulani.
"Jangan berhukum dengan Syari'ah dan kami akan menyerang musuh kalian". "Berhentilah beroperasi melawan para salibis dan lainnya atau kami akan membombardir kalian" Inilah politik 'stick and carrot'.
Ini mungkin menjadi awal dari implementasi dari proposal grup pemikir salibis, yang pernah dikutip dalam beberapa edisi terakhir Dabiq, pada segmen kategori "Perbincangan Musuh". Boleh jadi dimulai setelah aksi pembunuhan Salibis terhadap para pemimpin al-Qa’idah sehingga Tanzhim tersebut menyerah dalam rasa takut bersama saudara-saudara mereka di Taliban di hadapan politik Amerika. Saat ini Taliban tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan negeri-negeri para salibis, begitu juga al Qaidah. Terutama setelah Zhawahiri mengambil kebijakan yang melawan kebijakan Syaikh Mujahid Usamah bin Ladin. Maka Zhawahiri menjadikan tanah air para salibis aman sentosa, thaghut merasa aman, mantan thaghut "Arab Spring" aman, thaghut Ikhwani aman, pasukan murtaddin aman, dan para pengikut Rafidhi yang biadab merasa aman [sebagaimana yang dikutip dalam wawancara Jaulani dengan Al-Jazeera dan tertulis dalam "Panduan Umum bagi Amal Jihad" oleh Zhawahiri].
Yang menjadi masalah terbesar adalah mencapai "maslahah paling besar" dengan meninggalkan implementasi Syari'ah dan hukum-hukumnya! Sebuah kebijakan yang pragmatis, sebagaimana yang dikatakan oleh para Salibis. New York Times juga mengatakan pada tanggal "9 Juni 2015" dalam sebuah artikel bertajuk "Al-Qaeda Mencoba Taktik Baru untuk Mempertahankan Kekuasaan: Berbagi", "Setelah mereka mengirim pasukan ke Yaman Selatan, para prajurit Al-Qaeda menyerang kota al Mukalla, mengambil alih gedung-gedung pemerintahan, melepaskan para jihadis dari penjara dan mencuri jutaan dollar dari bank sentral. Kemudian mengejutkan setiap orang. Bukannya mengibarkan bendera mereka dan menegakkan hukum Islam, mereka malah melepaskan kontrol kota pada Dewan Sipil dan memberikannya anggaran untuk membayar gaji, mengimpor bahan bakar dan menggaji para pekerja untuk membersihkan sampah. Sementara itu, para prajurit mereka mundur ke belakang, hanya mengatur sebuah kantor polisi untuk menengahi pertikaian".
"Cabang [dari Al-Qaeda] di Yaman dan Suriah saat ini semakin sering bertikai dengan kelompok lokal hanya pada masalah-masalah yang umum..."
"Cabang Al Qaeda di Suriah dan Yaman telah mengambil sebuah jalan yang berbeda [dari Daulah Islamiyah], dengan membangun ikatan bersama kelompok lokal dan menahan diri dari pengaplikasian Syari'ah secara ketat, yakni hukum Islam, ketika berhadapan dengan kekuatan lokal, demikian menurut pernyataan penduduk di wilayah yang berada di bawah pengaruh Al Qa'eda. Demikian menurut penduduk yang tinggal di daerah yang dikuasai Al-Qa'eda. Ketika mengambil alih Al Mukalla pada bulan April, Al-Qa'eda merebut gedung pemerintah dan menggunakan truk untuk mengangkut lebih dari $120 juta dari bank sentral. Namun kemudian mereka menyerahkan kekuasaan kepada sebuah Dewan Sipil dengan memberikan anggaran belanja lebih dari $4 juta dolar untuk menyediakan pelayanan, suatu program yang bisa diterima oleh pejabat lokal yang berusaha membantu penduduk selama masa perang. 'Kami bukan kaki tangan Al-Qa'eda’ kata Abdul Hakim ibnu Mahfuud, sekretaris jendral dewan kota dalam sebuah wawancara via telepon. 'Kami membentuk dewan ini untuk mencegah terjadinya perusakan atas kota ini’.
Menurut warga, dewan sementara tersebut memberikan gaji dan mendistribusikan bahan bakar minyak. Akan tetapi Al Qa'idah tetap mengontrol kantor kepolisian untuk menyelesaikan perselisihan. Sejauh ini mereka tidak berusaha mengadakan larangan merokok dan mengatur bagaimana cara wanita berpakaian. Mereka pun tidak menyebut dirinya al-Qa'eda, tetapi menggunakan nama Putra-Putra Hadhramaut untuk menekankan hubungannya dengan provinsi di sekitarnya. .."
Afiliasi al Qa'idah di Suriah, Jabhah an-Nushrah, telah menjadikan dirinya sebagai komponen penting bagi pasukan pemberontak untuk menggulingkan Assad. Baru-baru ini mereka bergabung dengan sebuah koalisi pemberontak bernama Jaisyul Fath, menyatukan diri mereka dalam satu kubu sebagai kelompok yang mendapat dukungan dari Barat. 'Kelompok-kelompok di dalamnya adalah Muslim, tidak ada bedanya dengan kami’ kata Abu Muhammad al Jaulani, pemimpin Jabhah an-Nushrah, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera baru-baru ini. Dia juga mengatakan kelompok ini telah diminta oleh Aiman azh-Zhawahiri untuk tidak melancarkan serangan terhadap negara-negara asing yang bisa mengacaukan peperangan melawan Assad..."
"Para warga sipil yang hidup di wilayah-wilayah Jabhah An-Nushrah juga berkata bahwa kelompok tersebut telah berupaya membangun dukungan warga lokal, menahan diri untuk tidak menerapkan syari'at Islam ketika warga menolak. Sementara itu, para pejuangnya telah mendistribusikan makanan dan memperbaiki pipa saluran air. Di desa Binnisy, akhir-akhir ini mereka membuat tim dalam sebuah pertandingan sepakbola persahabatan melawan kelompok pemberontak lainnya. Tim An-Nushrah menggunakan pakaian sejalan dengan Islam yang moderat dan mereka kalah melawan para pemain yang menggunakan celana pendek. 'An-Nushrah bukan ekstrimis’ kata seorang aktivis yang menyaksikan pertandingan. 'Mereka mendistribusikan selebaran di pos-pos pemeriksaan dan mengajak manusia menuju agama Islam."
Berdasarkan pandangan politik thawaghit terhadap Al Qa'idah di Suriah, penulis dan jurnalis murtad Ahmed Rashid menulis sebuah artikel di "New York Review of Books" pada "15 Juni 2015" yang menjelaskan kondisi pendekatan dan rekonsiliasi antara rezim thaghut dengan Al Qa'idah. Judul artikel tersebut adalah "Mengapa Kami Membutuhkan Al-Qa'eda"! Sebagian dari apa yang ditulisnya ialah, "Apakah kelompok dalam periode yang lama dipandang sebagai organisasi teroris paling berbahaya di dunia itu akan menjadi opsi tersisa di Timur Tengah bagi AS dan sekutu-sekutunya? Para anggota koalisi pimpinan AS melawan ISIS, termasuk Turki dan Arab Saudi, secara aktif mendukung an-Nushrah dengan senjata dan uang [berupa dukungan tidak langsung, melalui operasi gabungan dewan dan militer oposisi, dewan sipil dan lokal, serta dengan pengakuan dan pengawasan negara-negara pemberi bantuan]. Sebagian besar dunia Arab saat ini intinya berpihak kepada AQAP dalam perang yang dipimpin Saudi melawan para pemberontak Houtsi di negara tersebut. Faktanya ialah, Al-Qa'eda mengalami perubahan besar semenjak kematian Usamah bin Ladin dan kemunculan ISIS. Mereka terus menjauhkan diri dari ISIS dalam perkara strategi dan menentukan sasaran di medan pertempuran, baik di Suriah maupun Yaman."
"Dalam perang ini negara-negara Arab secara terbuka menghindari pemboman dan penyerangan terhadap an-Nushrah dan AQAP. Justru sekarang mereka menyediakan untuk keduanya dukungan dana dan senjata [secara tidak langsung, lewat faksi-faksi yang bersekutu dengan mereka]. Oleh karena kedua kelompok tersebut memiliki tujuan yang sejalan dengan negara-negara Arab. Maka an-Nushrah dan AQAP telah menjadi sekutu dan bukan musuh bagi negara-negara Arab, meskipun faktanya al-Qa'eda sendiri pernah berupaya menggulingkan rezim-rezim ini..."
"Negara-negara Arab membenarkan kesimpulan bahwa al-Qa'eda sedang berkembang. Kedua kelompok itu kini telah mengambil alih kota-kota besar dan kecil di negara operasi masing-masing. Dan keduanya telah membuat kebijakan lokal yang secara mencolok berbeda dengan ISIS."
"Mengingat an-Nushrah adalah rival utama bagi ISIS di Suriah. Tidak seperti ISIS, an-Nushrah bekerjasama dengan kelompok anti-Assad lainnya dan akhir-akhir ini ikut andil dalam aliansi bersama milisi-milisi pemberontak "Jaisyul Fath" di utara Suriah. Lebih dari itu, berbeda dengan ISIS yang sebagian besar terdiri dari pasukan internasional dan pejuang non-Suriah, para pejuang an-Nushrah hampir seluruhnya orang asli Suriah, sehingga mereka lebih dapat diandalkan dan lebih sesuai dengan masa depan Suriah. Sementara itu, dalam wawancara dengan al-Jazeera, para pemimpin an-Nushrah telah berjanji untuk tidak membuat target-target serangan di Barat, memperkenalkan sebuah ideologi yang bisa disebut 'jihadis nasionalis' daripada jihad global. Beberapa bulan terakhir ini, para pemimpin an-Nushrah telah menurunkan intensitas seruan penegakan hukum Islam versi mereka yang brutal, sambil memegang rencana mereka untuk membangun sebuah Khilafah".
"Perubahan-perubahan serupa ini sebagian besar terjadi pula dengan AQAP di Yaman. Kelompok tersebut merebut ibukota Mukalla, merampok bank, lalu mundur. Mereka sendiri tidak menjalankan pemerintahan atau memberlakukan hukum syari'at, tetapi menerapkan sebuah dewan yang terdiri dari para tokoh. Mereka meminta dewan tersebut untuk berfokus dalam mengurus dan menyediakan layanan bagi masyarakat..."
Yaroslav Trofimov menulis sebuah tulisan serupa untuk Wall Street Journal pada "11 Juni 2015" berjudul "Bagi Sekutu-Sekutu AS, Afiliasi al-Qa'eda di Suriah Dipandang Berkurang Kejahatannya - Ketika Daulah Islamiyah meraih kemenangan, seruan untuk mendekati Jabhah an-Nushrah meningkat." Di dalamnya dia berkata, "Dalam perang tiga arah yang melanda Suriah, apakah cabang lokal al-Qa'eda dipandang kurang jahat hingga perlu dirayu daripada dibom? Ini merupakan pandangan yang terus meningkat dari beberapa sekutu regional Amerika dan bahkan beberapa pejabat Barat. Tiga kekuatan utama yang tersisa di lapangan [di Suriah] saat ini ialah rezim Assad, Daulah Islamiyah, dan aliansi pemberontak Islamis di mana Jabhah An-Nushrah -afiliasi al Qa'idah yang digolongkan ke dalam kategori kelompok teroris oleh AS dan PBB- memainkan peran besar. Karena kalah, para pemberontak yang didukung Barat dan lebih sekuler kini bahu-membahu bersama dengan an-Nushrah di medan-medan tempur kunci. Di saat rezim Assad terguncang, sementara Daulah Islamiyah atau ISIS menang, baik di Suriah maupun lraq, maka mendekati an-Nushrah yang lebih pragmatis merupakan satu-satunya pilihan rasional bagi komunitas internasional, yaitu mereka yang menyokong model pendekatan ini..."
"Pada awalnya, sebagian besar pihak Turki dan Qatar lah yang membantu kerjasama para pemberontak Islam Suriah dengan an-Nushrah. Negara regional yang besar seperti Saudi Arabia nampak sedikit enggan dan berhati-hati dalam bekerjasama dengan al-Qa'eda [dengan mendukung faksi-faksi yang beraliansi dengan Jabhah Jaulani]. Dalam beberapa bulan terakhir, Raja Arab Saudi yang baru, Salman mulai semakin mendekati Doha dan Ankara di dalam mendukung aliansi pemberontak yang didominasi kaum Islamis termasuk an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan para diplomat dan pejabat regional. Negara-negara ini memandang awalnya penderitaan yang dialami Suriah oleh rezim Assad sebagai penyebab utama kemunculan Daulah Islamiyah, sementara mereka lebih suka melihat an-Nushrah dan sekutu-sekutunya daripada Daulah Islamiyah yang masuk ke wilayah yang dikuasai oleh Damaskus."
"Tidak seperti Daulah Islamiyah, an-Nushrah sebagian besar terdiri dari orang Suriah, sedangkan pandangan keagamaannya, meski pastinya radikal, tapi tidak terlalu ekstrim. Sementara mereka menahan diri untuk tidak menyerang Israel meskipun memegang kendali atas kota-kota sepanjang garis perbatasan di Dataran Tinggi Golan, kelompok tersebut berbeda dengan Daulah Islamiyah dan memiliki kemauan bekerjasama dengan para kelompok pemberontak non-lslamis."
Frederic Hof yang bekerja sebagai wakil Presiden Obama bagi oposisi Suriah berkata, "An-Nushrah benar-benar telah menjadi magnet bagi para pejuang muda Suriah yang tidak mempunyai agenda jihadis tertentu atau bahkan kelompok sektarian yang radikal. Upaya an-Nushrah untuk membedakan diri dari Daulah Islamiyah tampak jelas akhir-akhir ini, terutama setelah wawancara bersama pemimpin kelompok tersebut, Abu Muhammad al-Jaulani, dengan jaringan televisi Qatar al-Jazeera. Sambil mengenaikan kemeja kotak-kotak dengan wajahnya tertutup, Jaulani duduk di atas kursi bersandar tinggi seperti singgasana yang pernah diduduki oleh mantan gubernur Idlib. la menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan yang menjebak selama berlangsungnya siaran terpisah hampir satu jam lamanya yang disiarkan secara luas di kawasan tersebut sebagai upaya Qatar untuk membuat an-Nushrah tampak lebih menarik. Seraya berulang kali menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin al-Qa'eda Aiman azh-Zhawahiri, Jaulani berkata bahwa an-Nushrah tidak menjadikan Barat sebagai target serangan dan menyebutkan kata-kata perdamaian berkaitan dengan minoritas Kristen".
"Sementara itu Daulah Islamiyah bersifat ofensif, tampaknya Washington bertindak 'cukup jauh' untuk mentolerir awal kolaborasi antara sekutu-sekutu regionalnya dan an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan Admiral Angkatan Laut AS James Stavridis yang telah pensiun dua tahun lalu sebagai panglima sekutu tertinggi NATO. Dia berkata, 'Tampaknya kita akan beroperasi bersama-sama dengan kader-kader an-Nushrah. Tetapi jika sekutu-sekutu kita bekerja bersama mereka, maka hal itu bisa diterima. Jika anda melihat kembali Perang Dunia II, maka kita berkoalisi dengan orang-orang yang mempunyai pandangan yang jauh berbeda, termasuk Stalin dari Rusia' ... 'Saya kira itu bukan sebuah hal yang membuat AS harus terhenti terkait masalah keterlibatan dalam koalisi itu."
Dengan mengenyampingkan berita dan analisis mereka, perkara ini masih menjadi opini yang paling banyak ditawarkan para salibis dan orang murtad bagi pemerintah Amerika! Jadi, kapan tentara Jabhah Jaulani mau bertaubat dan menyadari bahwa perang mereka melawan Daulah Islamiyah hanya melayani kepentingan sekutu-sekutu mereka di Koalisi Shahawat yang merupakan bagian dan sekutu dari sekutu mereka (Koalisi Salibis)? Kapan pula orang-orang yang "berpikiran rasional" di dalam al-Qa'idah memperbaiki kondisi organisasi mereka sebelum al Qa'idah -dengan semua cabangnya- menjadi gerakan Shahawat, yang dikendalikan oleh kedengkian, permusuhan, sikap berat sebelah, dan media-media penyihir dalam perang melawan Khilafah yang telah bangkit kembali?
DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH
Mujahidin belum pernah melihat pesawat-pesawat tempur salibis dan thaghut menyerang "Khawarij" dalam rangka membela "Ahlus Sunnah wal Jama’ah" kecuali pada era yang dikenal dengan nama "Arab Spring". Ketika pesawat-pesawat tempur kuffar yang jahat datang menyerang dan membela koalisi Shahawat -termasuk diantaranya Jabhah Jaulani- dan menolong koalisi Shahawat memerangi Daulah Islamiyah di bawah payung Koalisi salibis, meskipun diantara mereka terdapat permusuhan yang sangat hebat dan hati mereka berpecah-belah*, mereka saling bersekutu satu sama lain**.
*Lihat Surat al-Hasyr ayat 14.
**Lihat Surat al-Ma’idah ayat 51.
Pasca Junud Khilafah menguasai wilayah Shauran di l'zaz dan memukul mundur koalisi Shahawat dengan kondisi memalukan dari tempat tersebut, Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan kepala faksi-faksi serta dewan mereka di Turki meminta bantuan Amerika atas nama Koalisi Shahawat (pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah tidak lupa untuk ambil bagian dalam seruan ini), dan dua orang Republikan, John McCain dan Lindsey Graham mendesak serta menekan pemegang kebijakan Salibis, yakni Obama. Maka Obama menjawab permintaan mereka dengan menyerang Daulah Islamiyah di Shauran, l'zaz dan wilayah-wilayah yang berdekatan dengannya pada tanggal "7 Juni 2015", dan "14 Juni 2015", pun pada hari-hari lainnya, demi melayani kepentingan koalisi Shahawat.
Lembaga SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia" (yang dipimpin oleh si murtad Rami Abdurrahman) mengomentari peristiwa pada tanggal "7 Juni 2015" tersebut dengan kalimat, "Jet-jet koalisi Internasional dan negara-negara Arab sedikitnya memuntahkan empat serangan udara menargetkan lokasi-lokasi dan tempat berkumpulnya para anggota organisasi 'Daulah Islamiyah' di desa Shauran, l'zaz di pinggiran utara Aleppo, dilaporkan terjadi pertempuran dahsyat selama sekitar 10 hari antara organisasi 'Daulah Islamiyah' pada satu pihak melawan pihak lain yang diantaranya: Jabhah an-Nushrah -Tanzhim al Oa'idah fi Biladusy Syam- bersama dengan faksi militer Islamis lainnya. Kawasan tersebut juga menyaksikan terjadinya saling serang antara dua pihak dan kehancuran kendaraan-kendaraan tempur milik organisasi 'Daulah Islamiyah' oleh serangan an-Nushrah dan faksi lainnya yang menggunakan misil TOW Amerika".
Ketua SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia", Rami Abdulrahman berkata, "Ini pertama kalinya Koalisi Internasional mendukung oposisi non Kurdi dalam pertempuran melawan para pejuang organisasi 'Daulah Islamiyah'".
Dia juga mengatakan, "Serangan ini merupakan bantuan secara tidak langsung bagi Ahrar asy-Syam dan Jabhah an-Nushrah". (Dia lupa akan seruan yang dibuat koalisi salibis oleh pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah via satelit televisi dan tweet internet).
Dia juga mengatakan bahwa serangan udara tersebut mengindikasikan jawaban "keputusan Amerika untuk menghalangi kemajuan organisasi 'Daulah Islamiyah' dari Shauran menuju pinggiran kota l'zaz yang berbatasan dengan Turki." [dikutip dari sebuah artikel berjudul "Koalisi Internasional Menargetkan Para Jihadis Dekat Aleppo demi Kepentingan Faksi-Faksi Islamis, Termasuk Diantaranya an-Nushrah", yang diterbitkan oleh website "Observatorium Suriah" pada tanggal "8 Juni 2015"].
Nampaknya kebijakan para salibis terhadap Jabhah Jaulani meniru kebijakan para thaghut terhadap kelompok tersebut. Serupa dengan thaghut Turki, Qatar, dan alu Salul yang mendukung faksi "Jaisyul Fath" dengan bantuan bersyarat (tidak ada bantuan tak bersyarat, sebagaimana kesaksian Jaulani sendiri dalam wawancaranya bersama Al-Jazeera), kemudian bantuan yang di distribusikan pada seluruh faksi yang berpartisipasi dalam "Jaisyul Fath" termasuk Jabhah Jaulani, pun sama halnya dengan serangan Salibis menargetkan Khilafah demi kepentingan koalisi Shahawat dimana Jaulani juga berada dalam koalisi tersebut.
Inilah simbiosis mutualisme "pragmatis" antara Amerika dan koalisi Shahawat termasuk diantaranya Jabhah Jaulani.
"Jangan berhukum dengan Syari'ah dan kami akan menyerang musuh kalian". "Berhentilah beroperasi melawan para salibis dan lainnya atau kami akan membombardir kalian" Inilah politik 'stick and carrot'.
Ini mungkin menjadi awal dari implementasi dari proposal grup pemikir salibis, yang pernah dikutip dalam beberapa edisi terakhir Dabiq, pada segmen kategori "Perbincangan Musuh". Boleh jadi dimulai setelah aksi pembunuhan Salibis terhadap para pemimpin al-Qa’idah sehingga Tanzhim tersebut menyerah dalam rasa takut bersama saudara-saudara mereka di Taliban di hadapan politik Amerika. Saat ini Taliban tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan negeri-negeri para salibis, begitu juga al Qaidah. Terutama setelah Zhawahiri mengambil kebijakan yang melawan kebijakan Syaikh Mujahid Usamah bin Ladin. Maka Zhawahiri menjadikan tanah air para salibis aman sentosa, thaghut merasa aman, mantan thaghut "Arab Spring" aman, thaghut Ikhwani aman, pasukan murtaddin aman, dan para pengikut Rafidhi yang biadab merasa aman [sebagaimana yang dikutip dalam wawancara Jaulani dengan Al-Jazeera dan tertulis dalam "Panduan Umum bagi Amal Jihad" oleh Zhawahiri].
Yang menjadi masalah terbesar adalah mencapai "maslahah paling besar" dengan meninggalkan implementasi Syari'ah dan hukum-hukumnya! Sebuah kebijakan yang pragmatis, sebagaimana yang dikatakan oleh para Salibis. New York Times juga mengatakan pada tanggal "9 Juni 2015" dalam sebuah artikel bertajuk "Al-Qaeda Mencoba Taktik Baru untuk Mempertahankan Kekuasaan: Berbagi", "Setelah mereka mengirim pasukan ke Yaman Selatan, para prajurit Al-Qaeda menyerang kota al Mukalla, mengambil alih gedung-gedung pemerintahan, melepaskan para jihadis dari penjara dan mencuri jutaan dollar dari bank sentral. Kemudian mengejutkan setiap orang. Bukannya mengibarkan bendera mereka dan menegakkan hukum Islam, mereka malah melepaskan kontrol kota pada Dewan Sipil dan memberikannya anggaran untuk membayar gaji, mengimpor bahan bakar dan menggaji para pekerja untuk membersihkan sampah. Sementara itu, para prajurit mereka mundur ke belakang, hanya mengatur sebuah kantor polisi untuk menengahi pertikaian".
"Cabang [dari Al-Qaeda] di Yaman dan Suriah saat ini semakin sering bertikai dengan kelompok lokal hanya pada masalah-masalah yang umum..."
"Cabang Al Qaeda di Suriah dan Yaman telah mengambil sebuah jalan yang berbeda [dari Daulah Islamiyah], dengan membangun ikatan bersama kelompok lokal dan menahan diri dari pengaplikasian Syari'ah secara ketat, yakni hukum Islam, ketika berhadapan dengan kekuatan lokal, demikian menurut pernyataan penduduk di wilayah yang berada di bawah pengaruh Al Qa'eda. Demikian menurut penduduk yang tinggal di daerah yang dikuasai Al-Qa'eda. Ketika mengambil alih Al Mukalla pada bulan April, Al-Qa'eda merebut gedung pemerintah dan menggunakan truk untuk mengangkut lebih dari $120 juta dari bank sentral. Namun kemudian mereka menyerahkan kekuasaan kepada sebuah Dewan Sipil dengan memberikan anggaran belanja lebih dari $4 juta dolar untuk menyediakan pelayanan, suatu program yang bisa diterima oleh pejabat lokal yang berusaha membantu penduduk selama masa perang. 'Kami bukan kaki tangan Al-Qa'eda’ kata Abdul Hakim ibnu Mahfuud, sekretaris jendral dewan kota dalam sebuah wawancara via telepon. 'Kami membentuk dewan ini untuk mencegah terjadinya perusakan atas kota ini’.
Menurut warga, dewan sementara tersebut memberikan gaji dan mendistribusikan bahan bakar minyak. Akan tetapi Al Qa'idah tetap mengontrol kantor kepolisian untuk menyelesaikan perselisihan. Sejauh ini mereka tidak berusaha mengadakan larangan merokok dan mengatur bagaimana cara wanita berpakaian. Mereka pun tidak menyebut dirinya al-Qa'eda, tetapi menggunakan nama Putra-Putra Hadhramaut untuk menekankan hubungannya dengan provinsi di sekitarnya. .."
Afiliasi al Qa'idah di Suriah, Jabhah an-Nushrah, telah menjadikan dirinya sebagai komponen penting bagi pasukan pemberontak untuk menggulingkan Assad. Baru-baru ini mereka bergabung dengan sebuah koalisi pemberontak bernama Jaisyul Fath, menyatukan diri mereka dalam satu kubu sebagai kelompok yang mendapat dukungan dari Barat. 'Kelompok-kelompok di dalamnya adalah Muslim, tidak ada bedanya dengan kami’ kata Abu Muhammad al Jaulani, pemimpin Jabhah an-Nushrah, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera baru-baru ini. Dia juga mengatakan kelompok ini telah diminta oleh Aiman azh-Zhawahiri untuk tidak melancarkan serangan terhadap negara-negara asing yang bisa mengacaukan peperangan melawan Assad..."
"Para warga sipil yang hidup di wilayah-wilayah Jabhah An-Nushrah juga berkata bahwa kelompok tersebut telah berupaya membangun dukungan warga lokal, menahan diri untuk tidak menerapkan syari'at Islam ketika warga menolak. Sementara itu, para pejuangnya telah mendistribusikan makanan dan memperbaiki pipa saluran air. Di desa Binnisy, akhir-akhir ini mereka membuat tim dalam sebuah pertandingan sepakbola persahabatan melawan kelompok pemberontak lainnya. Tim An-Nushrah menggunakan pakaian sejalan dengan Islam yang moderat dan mereka kalah melawan para pemain yang menggunakan celana pendek. 'An-Nushrah bukan ekstrimis’ kata seorang aktivis yang menyaksikan pertandingan. 'Mereka mendistribusikan selebaran di pos-pos pemeriksaan dan mengajak manusia menuju agama Islam."
Berdasarkan pandangan politik thawaghit terhadap Al Qa'idah di Suriah, penulis dan jurnalis murtad Ahmed Rashid menulis sebuah artikel di "New York Review of Books" pada "15 Juni 2015" yang menjelaskan kondisi pendekatan dan rekonsiliasi antara rezim thaghut dengan Al Qa'idah. Judul artikel tersebut adalah "Mengapa Kami Membutuhkan Al-Qa'eda"! Sebagian dari apa yang ditulisnya ialah, "Apakah kelompok dalam periode yang lama dipandang sebagai organisasi teroris paling berbahaya di dunia itu akan menjadi opsi tersisa di Timur Tengah bagi AS dan sekutu-sekutunya? Para anggota koalisi pimpinan AS melawan ISIS, termasuk Turki dan Arab Saudi, secara aktif mendukung an-Nushrah dengan senjata dan uang [berupa dukungan tidak langsung, melalui operasi gabungan dewan dan militer oposisi, dewan sipil dan lokal, serta dengan pengakuan dan pengawasan negara-negara pemberi bantuan]. Sebagian besar dunia Arab saat ini intinya berpihak kepada AQAP dalam perang yang dipimpin Saudi melawan para pemberontak Houtsi di negara tersebut. Faktanya ialah, Al-Qa'eda mengalami perubahan besar semenjak kematian Usamah bin Ladin dan kemunculan ISIS. Mereka terus menjauhkan diri dari ISIS dalam perkara strategi dan menentukan sasaran di medan pertempuran, baik di Suriah maupun Yaman."
"Dalam perang ini negara-negara Arab secara terbuka menghindari pemboman dan penyerangan terhadap an-Nushrah dan AQAP. Justru sekarang mereka menyediakan untuk keduanya dukungan dana dan senjata [secara tidak langsung, lewat faksi-faksi yang bersekutu dengan mereka]. Oleh karena kedua kelompok tersebut memiliki tujuan yang sejalan dengan negara-negara Arab. Maka an-Nushrah dan AQAP telah menjadi sekutu dan bukan musuh bagi negara-negara Arab, meskipun faktanya al-Qa'eda sendiri pernah berupaya menggulingkan rezim-rezim ini..."
"Negara-negara Arab membenarkan kesimpulan bahwa al-Qa'eda sedang berkembang. Kedua kelompok itu kini telah mengambil alih kota-kota besar dan kecil di negara operasi masing-masing. Dan keduanya telah membuat kebijakan lokal yang secara mencolok berbeda dengan ISIS."
"Mengingat an-Nushrah adalah rival utama bagi ISIS di Suriah. Tidak seperti ISIS, an-Nushrah bekerjasama dengan kelompok anti-Assad lainnya dan akhir-akhir ini ikut andil dalam aliansi bersama milisi-milisi pemberontak "Jaisyul Fath" di utara Suriah. Lebih dari itu, berbeda dengan ISIS yang sebagian besar terdiri dari pasukan internasional dan pejuang non-Suriah, para pejuang an-Nushrah hampir seluruhnya orang asli Suriah, sehingga mereka lebih dapat diandalkan dan lebih sesuai dengan masa depan Suriah. Sementara itu, dalam wawancara dengan al-Jazeera, para pemimpin an-Nushrah telah berjanji untuk tidak membuat target-target serangan di Barat, memperkenalkan sebuah ideologi yang bisa disebut 'jihadis nasionalis' daripada jihad global. Beberapa bulan terakhir ini, para pemimpin an-Nushrah telah menurunkan intensitas seruan penegakan hukum Islam versi mereka yang brutal, sambil memegang rencana mereka untuk membangun sebuah Khilafah".
"Perubahan-perubahan serupa ini sebagian besar terjadi pula dengan AQAP di Yaman. Kelompok tersebut merebut ibukota Mukalla, merampok bank, lalu mundur. Mereka sendiri tidak menjalankan pemerintahan atau memberlakukan hukum syari'at, tetapi menerapkan sebuah dewan yang terdiri dari para tokoh. Mereka meminta dewan tersebut untuk berfokus dalam mengurus dan menyediakan layanan bagi masyarakat..."
Yaroslav Trofimov menulis sebuah tulisan serupa untuk Wall Street Journal pada "11 Juni 2015" berjudul "Bagi Sekutu-Sekutu AS, Afiliasi al-Qa'eda di Suriah Dipandang Berkurang Kejahatannya - Ketika Daulah Islamiyah meraih kemenangan, seruan untuk mendekati Jabhah an-Nushrah meningkat." Di dalamnya dia berkata, "Dalam perang tiga arah yang melanda Suriah, apakah cabang lokal al-Qa'eda dipandang kurang jahat hingga perlu dirayu daripada dibom? Ini merupakan pandangan yang terus meningkat dari beberapa sekutu regional Amerika dan bahkan beberapa pejabat Barat. Tiga kekuatan utama yang tersisa di lapangan [di Suriah] saat ini ialah rezim Assad, Daulah Islamiyah, dan aliansi pemberontak Islamis di mana Jabhah An-Nushrah -afiliasi al Qa'idah yang digolongkan ke dalam kategori kelompok teroris oleh AS dan PBB- memainkan peran besar. Karena kalah, para pemberontak yang didukung Barat dan lebih sekuler kini bahu-membahu bersama dengan an-Nushrah di medan-medan tempur kunci. Di saat rezim Assad terguncang, sementara Daulah Islamiyah atau ISIS menang, baik di Suriah maupun lraq, maka mendekati an-Nushrah yang lebih pragmatis merupakan satu-satunya pilihan rasional bagi komunitas internasional, yaitu mereka yang menyokong model pendekatan ini..."
"Pada awalnya, sebagian besar pihak Turki dan Qatar lah yang membantu kerjasama para pemberontak Islam Suriah dengan an-Nushrah. Negara regional yang besar seperti Saudi Arabia nampak sedikit enggan dan berhati-hati dalam bekerjasama dengan al-Qa'eda [dengan mendukung faksi-faksi yang beraliansi dengan Jabhah Jaulani]. Dalam beberapa bulan terakhir, Raja Arab Saudi yang baru, Salman mulai semakin mendekati Doha dan Ankara di dalam mendukung aliansi pemberontak yang didominasi kaum Islamis termasuk an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan para diplomat dan pejabat regional. Negara-negara ini memandang awalnya penderitaan yang dialami Suriah oleh rezim Assad sebagai penyebab utama kemunculan Daulah Islamiyah, sementara mereka lebih suka melihat an-Nushrah dan sekutu-sekutunya daripada Daulah Islamiyah yang masuk ke wilayah yang dikuasai oleh Damaskus."
"Tidak seperti Daulah Islamiyah, an-Nushrah sebagian besar terdiri dari orang Suriah, sedangkan pandangan keagamaannya, meski pastinya radikal, tapi tidak terlalu ekstrim. Sementara mereka menahan diri untuk tidak menyerang Israel meskipun memegang kendali atas kota-kota sepanjang garis perbatasan di Dataran Tinggi Golan, kelompok tersebut berbeda dengan Daulah Islamiyah dan memiliki kemauan bekerjasama dengan para kelompok pemberontak non-lslamis."
Frederic Hof yang bekerja sebagai wakil Presiden Obama bagi oposisi Suriah berkata, "An-Nushrah benar-benar telah menjadi magnet bagi para pejuang muda Suriah yang tidak mempunyai agenda jihadis tertentu atau bahkan kelompok sektarian yang radikal. Upaya an-Nushrah untuk membedakan diri dari Daulah Islamiyah tampak jelas akhir-akhir ini, terutama setelah wawancara bersama pemimpin kelompok tersebut, Abu Muhammad al-Jaulani, dengan jaringan televisi Qatar al-Jazeera. Sambil mengenaikan kemeja kotak-kotak dengan wajahnya tertutup, Jaulani duduk di atas kursi bersandar tinggi seperti singgasana yang pernah diduduki oleh mantan gubernur Idlib. la menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan yang menjebak selama berlangsungnya siaran terpisah hampir satu jam lamanya yang disiarkan secara luas di kawasan tersebut sebagai upaya Qatar untuk membuat an-Nushrah tampak lebih menarik. Seraya berulang kali menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin al-Qa'eda Aiman azh-Zhawahiri, Jaulani berkata bahwa an-Nushrah tidak menjadikan Barat sebagai target serangan dan menyebutkan kata-kata perdamaian berkaitan dengan minoritas Kristen".
"Sementara itu Daulah Islamiyah bersifat ofensif, tampaknya Washington bertindak 'cukup jauh' untuk mentolerir awal kolaborasi antara sekutu-sekutu regionalnya dan an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan Admiral Angkatan Laut AS James Stavridis yang telah pensiun dua tahun lalu sebagai panglima sekutu tertinggi NATO. Dia berkata, 'Tampaknya kita akan beroperasi bersama-sama dengan kader-kader an-Nushrah. Tetapi jika sekutu-sekutu kita bekerja bersama mereka, maka hal itu bisa diterima. Jika anda melihat kembali Perang Dunia II, maka kita berkoalisi dengan orang-orang yang mempunyai pandangan yang jauh berbeda, termasuk Stalin dari Rusia' ... 'Saya kira itu bukan sebuah hal yang membuat AS harus terhenti terkait masalah keterlibatan dalam koalisi itu."
Dengan mengenyampingkan berita dan analisis mereka, perkara ini masih menjadi opini yang paling banyak ditawarkan para salibis dan orang murtad bagi pemerintah Amerika! Jadi, kapan tentara Jabhah Jaulani mau bertaubat dan menyadari bahwa perang mereka melawan Daulah Islamiyah hanya melayani kepentingan sekutu-sekutu mereka di Koalisi Shahawat yang merupakan bagian dan sekutu dari sekutu mereka (Koalisi Salibis)? Kapan pula orang-orang yang "berpikiran rasional" di dalam al-Qa'idah memperbaiki kondisi organisasi mereka sebelum al Qa'idah -dengan semua cabangnya- menjadi gerakan Shahawat, yang dikendalikan oleh kedengkian, permusuhan, sikap berat sebelah, dan media-media penyihir dalam perang melawan Khilafah yang telah bangkit kembali?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar