DABIQ 8 - LAPORAN
MENGHANCURKAN WARISAN KAUM YANG DIBINASAKAN
"DAN BERAPA BANYAK KAUM YANG TELAH KAMI BINASAKAN SEBELUM MEREKA" [SHAD : 3]
Bulan lalu, tentara Khilafah, dengan menggunakan palu di tangan, menghidupkan kembali Sunnah bapak mereka Nabi Ibrahim 'alaihis salam ketika mereka membuang warisan syirik sebuah umat yang telah berlalu lama dari muka bumi. Mereka memasuki reruntuhan Assyria kuno di Wilayah Nainawa dan menghancurkan patung-patung, arca-arca, serta ukiran patung dan raja. Hal tersebut menimbulkan kegemparan musuh-musuh Daulah Islam yang sangat marah dengan hilangnya "warisan terpendam".
Sebaliknya, mujahidin sama sekali tidak peduli perasaan dan sentimen kaum kafir, sebagaimana Nabi Ibrahim tidak peduli perasaan dan sentimen kaumnya ketika beliau menghancurkan berhala-berhala mereka.
Pada saat kaum kafir memprotes pengrusakan besar-besaran oleh tangan Daulah Islam, aksi yang dilakukan mujahidin tidak hanya menyamai pengrusakan yang dilakukan Nabi Ibrahim 'alaihis salam terhadap berhala-berhala kaumnya dan pengrusakan yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap berhala- berhala di sekitar Ka'bah ketika beliau menaklukkan Makkah, namun juga membuat kaum kafir marah. Hal itu sendiri merupakan sebuah amal yang dicintai oleh Allah.
"Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh" [QS. At-Taubah : 120].
Pihak kuffar telah menggali patung-patung dan reruntuhan ini dalam beberapa generasi terakhir dan berusaha untuk memberi gambaran kepadanya sebagai bagian dari warisan dan identitas budaya yang dianut dan dibanggakan oleh kaum Muslimin Iraq. Padahal ini bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan hanya memperlihatkannya sebagai agenda nasionalis yang benar-benar melemahkan al-wala' yang menjadi syarat bagi Muslimin terhadap Rabb mereka.
Tidaklah orang-orang dari bangsa kafir di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diperintahkan untuk memuji-muji dan mengidentifikasi diri beliau sendiri. Sebaliknya, beliau diperintahkan untuk mengidentifikasi dan menyamai tauladan bapak beliau Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan orang-orang yang bersamanya.
"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama- lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja" [QS. Al-Mumtahanah : 4].
Selain itu, Al-Qur'an secara berulang-ulang menyebutkan -di beberapa ayat- bahwa banyak umat syirik telah dihancurkan karena kekafiran mereka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tetap bertahan di atas kesyirikan mereka.
"Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh kami binasakan" [QS. Al-lsraa' : 17].
"Katakanlah, 'Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." [QS. Ar-Ruum : 42].
"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka" [QS. Muhammad : 10].
Dengan demikian, kita diminta untuk mengambil pelajaran dari umat kafir yang datang sebelum kita dan menghindari apa yang menyebabkan kehancuran mereka, sebagai lawan dari penggalian dan pemeliharaan patung-patung mereka dan mempertontonkannya bagi manusia untuk dipuji.
Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Allah telah memelihara jasad Fir'aun, tidak untuk dikagumi namun sebaliknya, agar manusia mengambil pelajaran darinya.
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu!" [QS. Yunus : 92].
Kita diminta untuk menjadikan orang-orang dan umat-umat yang dibinasakan sebagai pelajaran lebih lanjut sebagaimana yang telah ditekankan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bersabda,
"Janganlah kalian memasuki tempat-tempat umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian." [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
Umat-umat tertentu dihancurkan karena beribadah kepada selain Allah dan mengingkari nabi-nabi-Nya. Kekafiran dan kebencian mereka terhadap kebenaran lebih jauh lagi bahkan mencapai keberanian untuk memaki-maki nabi-nabi serta ayat-ayat dan mukjizat-mukjizat yang telah ditunjukkan kepada mereka, dan bahkan mengancam untuk membunuh nabi-nabi tersebut.
Maka Allah mempermalukan mereka dan membiarkan tempat tinggal mereka agar dilihat oleh generasi-generasi yang datang sesudah mereka. Bukan untuk ditatap penuh takjub, namun untuk dilihat dengan perasaan jijik dan benci, bercampur dengan rasa takut untuk jatuh ke dalam syirik dan tertimpa azab serupa yang telah mereka rasakan.
Dalam hal ini, ada kalimat terkenal yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang memandang perlunya untuk meminta perlindungan Allah dari kejahatan syirik, selain dia merupakan salah satu di antara rasul Allah terbesar dan terkenal karena sikap terus-terangnya melawan kesyirikan kaumnya.
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia'" [QS. Ibrahim : 35-36].
Semoga Allah membersihkan seluruh negeri Muslimin dari berhala- berhala, baik masa lampau maupun masa kini.
MENGHANCURKAN WARISAN KAUM YANG DIBINASAKAN
"DAN BERAPA BANYAK KAUM YANG TELAH KAMI BINASAKAN SEBELUM MEREKA" [SHAD : 3]
Bulan lalu, tentara Khilafah, dengan menggunakan palu di tangan, menghidupkan kembali Sunnah bapak mereka Nabi Ibrahim 'alaihis salam ketika mereka membuang warisan syirik sebuah umat yang telah berlalu lama dari muka bumi. Mereka memasuki reruntuhan Assyria kuno di Wilayah Nainawa dan menghancurkan patung-patung, arca-arca, serta ukiran patung dan raja. Hal tersebut menimbulkan kegemparan musuh-musuh Daulah Islam yang sangat marah dengan hilangnya "warisan terpendam".
Sebaliknya, mujahidin sama sekali tidak peduli perasaan dan sentimen kaum kafir, sebagaimana Nabi Ibrahim tidak peduli perasaan dan sentimen kaumnya ketika beliau menghancurkan berhala-berhala mereka.
Pada saat kaum kafir memprotes pengrusakan besar-besaran oleh tangan Daulah Islam, aksi yang dilakukan mujahidin tidak hanya menyamai pengrusakan yang dilakukan Nabi Ibrahim 'alaihis salam terhadap berhala-berhala kaumnya dan pengrusakan yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap berhala- berhala di sekitar Ka'bah ketika beliau menaklukkan Makkah, namun juga membuat kaum kafir marah. Hal itu sendiri merupakan sebuah amal yang dicintai oleh Allah.
"Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh" [QS. At-Taubah : 120].
Pihak kuffar telah menggali patung-patung dan reruntuhan ini dalam beberapa generasi terakhir dan berusaha untuk memberi gambaran kepadanya sebagai bagian dari warisan dan identitas budaya yang dianut dan dibanggakan oleh kaum Muslimin Iraq. Padahal ini bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan hanya memperlihatkannya sebagai agenda nasionalis yang benar-benar melemahkan al-wala' yang menjadi syarat bagi Muslimin terhadap Rabb mereka.
Tidaklah orang-orang dari bangsa kafir di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diperintahkan untuk memuji-muji dan mengidentifikasi diri beliau sendiri. Sebaliknya, beliau diperintahkan untuk mengidentifikasi dan menyamai tauladan bapak beliau Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan orang-orang yang bersamanya.
"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama- lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja" [QS. Al-Mumtahanah : 4].
Selain itu, Al-Qur'an secara berulang-ulang menyebutkan -di beberapa ayat- bahwa banyak umat syirik telah dihancurkan karena kekafiran mereka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tetap bertahan di atas kesyirikan mereka.
"Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh kami binasakan" [QS. Al-lsraa' : 17].
"Katakanlah, 'Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." [QS. Ar-Ruum : 42].
"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka" [QS. Muhammad : 10].
Dengan demikian, kita diminta untuk mengambil pelajaran dari umat kafir yang datang sebelum kita dan menghindari apa yang menyebabkan kehancuran mereka, sebagai lawan dari penggalian dan pemeliharaan patung-patung mereka dan mempertontonkannya bagi manusia untuk dipuji.
Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Allah telah memelihara jasad Fir'aun, tidak untuk dikagumi namun sebaliknya, agar manusia mengambil pelajaran darinya.
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu!" [QS. Yunus : 92].
Kita diminta untuk menjadikan orang-orang dan umat-umat yang dibinasakan sebagai pelajaran lebih lanjut sebagaimana yang telah ditekankan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bersabda,
"Janganlah kalian memasuki tempat-tempat umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian." [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
Umat-umat tertentu dihancurkan karena beribadah kepada selain Allah dan mengingkari nabi-nabi-Nya. Kekafiran dan kebencian mereka terhadap kebenaran lebih jauh lagi bahkan mencapai keberanian untuk memaki-maki nabi-nabi serta ayat-ayat dan mukjizat-mukjizat yang telah ditunjukkan kepada mereka, dan bahkan mengancam untuk membunuh nabi-nabi tersebut.
Maka Allah mempermalukan mereka dan membiarkan tempat tinggal mereka agar dilihat oleh generasi-generasi yang datang sesudah mereka. Bukan untuk ditatap penuh takjub, namun untuk dilihat dengan perasaan jijik dan benci, bercampur dengan rasa takut untuk jatuh ke dalam syirik dan tertimpa azab serupa yang telah mereka rasakan.
Dalam hal ini, ada kalimat terkenal yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang memandang perlunya untuk meminta perlindungan Allah dari kejahatan syirik, selain dia merupakan salah satu di antara rasul Allah terbesar dan terkenal karena sikap terus-terangnya melawan kesyirikan kaumnya.
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia'" [QS. Ibrahim : 35-36].
Semoga Allah membersihkan seluruh negeri Muslimin dari berhala- berhala, baik masa lampau maupun masa kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar