DABIQ 9 - LAPORAN
PEMBEBASAN KAMP YARMUK, DAMASKUS
Wilayah yang dikenal sebagai Kamp Yarmuk awal didirikan pada tahun 1957 sebagai sebuah kamp pengungsi bagi orang-orang Palestina yang lari dari agresi Yahudi terkutuk. Walau dulunya merupakan sebuah kamp pengungsi, tetapi kemudian berubah menjadi distrik padat yang lebih tampak seperti umumnya kota-kota di Suriah daripada sebuah kamp pengungsi. Rezim Nushairiyah akhirnya memasukkannya ke dalam kota-kota yang berbatasan dengan kota Damaskus.
Bulan lalu Tentara Khilafah bergerak memasuki kawasan Yarmuk dari wilayah Al-Hajar Al-Aswad yang berada di bawah kontrol Daulah Islam selama beberapa bulan. Mereka memerangi milisi Hamas lokal, Aknaf Baitul Maqdis, dan mengambil alih distrik tersebut. Kemudian muncul laporan –termasuk deklarasi faksi-faksi lokal yang ada di daerah tersebut– bahwa para pejuang Aknaf telah bergabung dengan Rezim Nushairiyah untuk memerangi Daulah Islam dan mengambil alih kembali Yarmuk.
Sifat pengkhianatan dari faksi Shahawat tersebut terlihat bahkan sebelum Daulah Islam mulai bergerak ke arah kawasan Yarmuk. Sesaat sebelum Daulah Islam memasuki kawasan tersebut, Aknaf menyimpulkan sebuah kesepakatan dengan Thaghut Bashar yang terlihat mereka memberikan penguasaan Yarmuk kepada Rezim Nushairiyah. Sungguh, pengkhianatan kontrak ini hanyalah contoh lain dari rentetan persetujuan yang dibuat antara Nushairiyah dan berbagai faksi Shahawat di kawasan tersebut. Dan ini merupakan faktor utama yang mendorong Daulah Islam memasuki Yarmuk ketika itu.
Tentu saja, pengkhianatan semacam itu yang datang dari faksi Hamas tidak mengejutkan, sebuah kesatuan Ikhwani yang mulai mencoba untuk "menormalisasi" hubungannya dengan Rezim Nushairiyah kurang dari dua bulan yang lalu. Juga tidak mengherankan ketika Pemimpin Hamas Isma’il Haniyah, sebagai respon atas masuknya Khilafah ke Yarmuk dan mengusir milisinya, menyeru para thaghut Arab dan bahkan Majusi Iran untuk mengadakan intervensi. Ikhwan, dalam berbagai bentuknya, mau menjual rakyatnya demi keuntungan duniawi dan menamai transaksi itu dengan "maslahat".
Persiapan Perang Yarmuk dimulai dalam beberapa bulan dengan berkumpulnya agen intelijen Daulah Islam, kemudian mereka berhasil menyusup sampai dengan pemimpin tingkat tinggi Shahawat dan mendapatkan informasi sensitif. Pihak intelijen mengungkapkan bahwa Aknaf tengah menyusun rencana untuk memberikan kawasan kepada Rezim Nushairiyah dengan dalih "kepentingan nasional".
Daulah Islam merespon hasil intelijen ini dengan membuat suatu rencana untuk melawan pergerakan Aknaf, dan dengan karunia Allah, mujahidin berhasil menggagalkan perjanjian tersebut. Perang untuk merebut Yarmuk dimulai ketika Daulah Islam menyerang dari berbagai arah dan mengambil alih sejumlah areal. Ketika pertempuran berlanjut, sel-sel Daulah Islam di Yarmuk dan kawasan sekitarnya terus menjalankan peran kunci, termasuk berbagai unit sel Daulah Islam di kawasan Tadamun, utara kota Yalda, berhasil memblokir sejumlah suplai dan bala bantuan yang datang dari wilayah timur laut Yarmuk.
Tentara Khilafah terus bergerak maju melawan Shahawat di Yarmuk dan berhasil mengusir mereka ke pinggiran kawasan tersebut. Pada titik ini, banyak pejuang mereka yang menyerahkan diri dengan sukarela dan sebagian lainnya terbunuh. Beberapa lagi membuat kontak dengan Rezim Nushairiyah dan faksi-faksi pro-Rezim Palestina di daerah tersebut yang kemudian mulai menyuplai mereka dengan senjata, amunisi, dan makanan. Kerjasama tahap baru dengan Nushairiyah ini cukup untuk memperlihatkan tingkat pengkhianatan Aknaf kepada penduduk Yarmuk.
Setelah mujahidin membebaskan Yarmuk, media tiba-tiba bergerak dan menyebarkan kebohongan terhadap Daulah Islam serta berteriak-teriak atas penyebab kejatuhan Yarmuk, sesuatu hal yang sebagian besar dari mereka tidak peduli sepanjang tahun-tahun atas pengepungan dan kelaparan yang diderita penduduk di kawasan tersebut.
Adapun bagi Rezim Nushairiyah, dengan cepat mereka mencari basis dukungan dengan para thaghut sekuler di kawasan Tepi Barat –yaitu PLO. Tidak lama setelah Daulah Islam mengambil alih Yarmuk, Rezim Nushairiyah mencapai kesepakatan dengan wakil PLO untuk Damaskus yang akan melihat faksi-faksi Palestina bertempur bersama Nushairiyah melawan Daulah Islam. Maka thaghut Hamas meminta tolong kepada Iran untuk ikut campur, sementara thaghut PLO setuju agar milisi mereka bertugas sebagai Shahawat Nushairiyah, persis seperti yang sering dikatakan, "’Isy Rajaban, tara ‘ajaban" (Jika kamu hidup pada bulan Rajab, maka kamu akan melihat hal-hal aneh).
Pembebasan Yarmuk terjadi dilatarbelakangi oleh sejumlah kemajuan Daulah Islam di bagian lain Wilayah Damaskus. Tentara Khilafah merebut Gunung ‘Adah di timur laut, menyapu bersih sejumlah benteng Shahawat di Pegunungan Qalamun dalam suatu serangan dinamai "La Tubqi Wa La Tadzar" (Tidak Menyisakan dan Tidak Membiarkan). Selama berlangsungnya penyerangan, mujahidin Daulah Islam berhasil membunuh komandan Jabhah Jaulani untuk wilayah timur Qalamun, serta komandan Jaisyul “Islam” untuk kawasan tersebut.
Kemenangan-kemenangan atas kamp Shahawat ini bertepatan dengan serangan berani terhadap sejumlah titik militer di daerah pedesaan Suwaida’, selatan kota Damaskus yang meliputi garis pertama pertahanan militer Nushairiyah yang termasuk ke dalam pangkalan udara Khalkhalah. Pertempuran yang panjang pun terjadi di mana mujahidin Khilafah meninggalkan militer Nushairiyah yang menjilati lukanya dengan kematian lebih dari 70 orang tentaranya. Hanya dua minggu kemudian, mujahidin terus menaburkan garam di atas luka Khalkhalah dengan menembak jatuh sebuah pesawat tempur Nushairiyah di sekitar pangkalan udara tersebut.
Dalam keadaan seperti inilah Yarmuk dibebaskan, ketika Tentara Khilafah tiba-tiba telah berada hanya beberapa kilometer jauhnya dari Istana Kepresidenan Thaghut Bashar. Perkembangan baru ini berarti bahwa faksi-faksi Shahawat di kawasan selatan Suriah melihat kota simbolik Damaskus terlepas dari tangan mereka. Mereka ingin mengklaim kemenangan bagi diri mereka sendiri dengan mengusir militer Nushairiyah keluar dari Damaskus, sehingga fikiran bahwa kota tersebut kemungkinan besar akan dibebaskan oleh Tentara Khilafah ibarat belati yang menusuk leher mereka.
Tidak lama kemudian para pemimpin Jaisyul “Islam" dan "Ahrar Asy-Syam", dua faksi utama Shahawat di medan pertarungan Syam, buru-buru terbang ke Pangkalan Militer Shahawat #1 –Turki– dan mengadakan pertemuan dengan beberapa sekutu mereka yang murtad –Turki, Qatar, dan Alu Salul– dalam upaya untuk mengeluarkan persetujuan yang bisa mengamankan kepentingan regional mereka.
Pada saat faksi-faksi Shahawat terus melaksanakan perintah rezim-rezim boneka tersebut dan pasukan Nushairiyah terus mengadakan serangkaian pemboman di Yarmuk dalam upaya yang sia-sia untuk menghentikan gerak laju Daulah Islam, Tentara Khilafah akan terus bergerak maju ke arah Damaskus, dan setelah itu, ke arah Al-Aqsha dengan izin Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Benteng pertahanan kaum Muslimin pada Hari Al-Malhamah berada di Al-Ghuthah, dekat kota bernama Damaskus, salah satu kota terbaik di Syam." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Ad-Darda’)
PEMBEBASAN KAMP YARMUK, DAMASKUS
Wilayah yang dikenal sebagai Kamp Yarmuk awal didirikan pada tahun 1957 sebagai sebuah kamp pengungsi bagi orang-orang Palestina yang lari dari agresi Yahudi terkutuk. Walau dulunya merupakan sebuah kamp pengungsi, tetapi kemudian berubah menjadi distrik padat yang lebih tampak seperti umumnya kota-kota di Suriah daripada sebuah kamp pengungsi. Rezim Nushairiyah akhirnya memasukkannya ke dalam kota-kota yang berbatasan dengan kota Damaskus.
Bulan lalu Tentara Khilafah bergerak memasuki kawasan Yarmuk dari wilayah Al-Hajar Al-Aswad yang berada di bawah kontrol Daulah Islam selama beberapa bulan. Mereka memerangi milisi Hamas lokal, Aknaf Baitul Maqdis, dan mengambil alih distrik tersebut. Kemudian muncul laporan –termasuk deklarasi faksi-faksi lokal yang ada di daerah tersebut– bahwa para pejuang Aknaf telah bergabung dengan Rezim Nushairiyah untuk memerangi Daulah Islam dan mengambil alih kembali Yarmuk.
Sifat pengkhianatan dari faksi Shahawat tersebut terlihat bahkan sebelum Daulah Islam mulai bergerak ke arah kawasan Yarmuk. Sesaat sebelum Daulah Islam memasuki kawasan tersebut, Aknaf menyimpulkan sebuah kesepakatan dengan Thaghut Bashar yang terlihat mereka memberikan penguasaan Yarmuk kepada Rezim Nushairiyah. Sungguh, pengkhianatan kontrak ini hanyalah contoh lain dari rentetan persetujuan yang dibuat antara Nushairiyah dan berbagai faksi Shahawat di kawasan tersebut. Dan ini merupakan faktor utama yang mendorong Daulah Islam memasuki Yarmuk ketika itu.
Tentu saja, pengkhianatan semacam itu yang datang dari faksi Hamas tidak mengejutkan, sebuah kesatuan Ikhwani yang mulai mencoba untuk "menormalisasi" hubungannya dengan Rezim Nushairiyah kurang dari dua bulan yang lalu. Juga tidak mengherankan ketika Pemimpin Hamas Isma’il Haniyah, sebagai respon atas masuknya Khilafah ke Yarmuk dan mengusir milisinya, menyeru para thaghut Arab dan bahkan Majusi Iran untuk mengadakan intervensi. Ikhwan, dalam berbagai bentuknya, mau menjual rakyatnya demi keuntungan duniawi dan menamai transaksi itu dengan "maslahat".
Persiapan Perang Yarmuk dimulai dalam beberapa bulan dengan berkumpulnya agen intelijen Daulah Islam, kemudian mereka berhasil menyusup sampai dengan pemimpin tingkat tinggi Shahawat dan mendapatkan informasi sensitif. Pihak intelijen mengungkapkan bahwa Aknaf tengah menyusun rencana untuk memberikan kawasan kepada Rezim Nushairiyah dengan dalih "kepentingan nasional".
Daulah Islam merespon hasil intelijen ini dengan membuat suatu rencana untuk melawan pergerakan Aknaf, dan dengan karunia Allah, mujahidin berhasil menggagalkan perjanjian tersebut. Perang untuk merebut Yarmuk dimulai ketika Daulah Islam menyerang dari berbagai arah dan mengambil alih sejumlah areal. Ketika pertempuran berlanjut, sel-sel Daulah Islam di Yarmuk dan kawasan sekitarnya terus menjalankan peran kunci, termasuk berbagai unit sel Daulah Islam di kawasan Tadamun, utara kota Yalda, berhasil memblokir sejumlah suplai dan bala bantuan yang datang dari wilayah timur laut Yarmuk.
Tentara Khilafah terus bergerak maju melawan Shahawat di Yarmuk dan berhasil mengusir mereka ke pinggiran kawasan tersebut. Pada titik ini, banyak pejuang mereka yang menyerahkan diri dengan sukarela dan sebagian lainnya terbunuh. Beberapa lagi membuat kontak dengan Rezim Nushairiyah dan faksi-faksi pro-Rezim Palestina di daerah tersebut yang kemudian mulai menyuplai mereka dengan senjata, amunisi, dan makanan. Kerjasama tahap baru dengan Nushairiyah ini cukup untuk memperlihatkan tingkat pengkhianatan Aknaf kepada penduduk Yarmuk.
Setelah mujahidin membebaskan Yarmuk, media tiba-tiba bergerak dan menyebarkan kebohongan terhadap Daulah Islam serta berteriak-teriak atas penyebab kejatuhan Yarmuk, sesuatu hal yang sebagian besar dari mereka tidak peduli sepanjang tahun-tahun atas pengepungan dan kelaparan yang diderita penduduk di kawasan tersebut.
Adapun bagi Rezim Nushairiyah, dengan cepat mereka mencari basis dukungan dengan para thaghut sekuler di kawasan Tepi Barat –yaitu PLO. Tidak lama setelah Daulah Islam mengambil alih Yarmuk, Rezim Nushairiyah mencapai kesepakatan dengan wakil PLO untuk Damaskus yang akan melihat faksi-faksi Palestina bertempur bersama Nushairiyah melawan Daulah Islam. Maka thaghut Hamas meminta tolong kepada Iran untuk ikut campur, sementara thaghut PLO setuju agar milisi mereka bertugas sebagai Shahawat Nushairiyah, persis seperti yang sering dikatakan, "’Isy Rajaban, tara ‘ajaban" (Jika kamu hidup pada bulan Rajab, maka kamu akan melihat hal-hal aneh).
Pembebasan Yarmuk terjadi dilatarbelakangi oleh sejumlah kemajuan Daulah Islam di bagian lain Wilayah Damaskus. Tentara Khilafah merebut Gunung ‘Adah di timur laut, menyapu bersih sejumlah benteng Shahawat di Pegunungan Qalamun dalam suatu serangan dinamai "La Tubqi Wa La Tadzar" (Tidak Menyisakan dan Tidak Membiarkan). Selama berlangsungnya penyerangan, mujahidin Daulah Islam berhasil membunuh komandan Jabhah Jaulani untuk wilayah timur Qalamun, serta komandan Jaisyul “Islam” untuk kawasan tersebut.
Kemenangan-kemenangan atas kamp Shahawat ini bertepatan dengan serangan berani terhadap sejumlah titik militer di daerah pedesaan Suwaida’, selatan kota Damaskus yang meliputi garis pertama pertahanan militer Nushairiyah yang termasuk ke dalam pangkalan udara Khalkhalah. Pertempuran yang panjang pun terjadi di mana mujahidin Khilafah meninggalkan militer Nushairiyah yang menjilati lukanya dengan kematian lebih dari 70 orang tentaranya. Hanya dua minggu kemudian, mujahidin terus menaburkan garam di atas luka Khalkhalah dengan menembak jatuh sebuah pesawat tempur Nushairiyah di sekitar pangkalan udara tersebut.
Dalam keadaan seperti inilah Yarmuk dibebaskan, ketika Tentara Khilafah tiba-tiba telah berada hanya beberapa kilometer jauhnya dari Istana Kepresidenan Thaghut Bashar. Perkembangan baru ini berarti bahwa faksi-faksi Shahawat di kawasan selatan Suriah melihat kota simbolik Damaskus terlepas dari tangan mereka. Mereka ingin mengklaim kemenangan bagi diri mereka sendiri dengan mengusir militer Nushairiyah keluar dari Damaskus, sehingga fikiran bahwa kota tersebut kemungkinan besar akan dibebaskan oleh Tentara Khilafah ibarat belati yang menusuk leher mereka.
Tidak lama kemudian para pemimpin Jaisyul “Islam" dan "Ahrar Asy-Syam", dua faksi utama Shahawat di medan pertarungan Syam, buru-buru terbang ke Pangkalan Militer Shahawat #1 –Turki– dan mengadakan pertemuan dengan beberapa sekutu mereka yang murtad –Turki, Qatar, dan Alu Salul– dalam upaya untuk mengeluarkan persetujuan yang bisa mengamankan kepentingan regional mereka.
Pada saat faksi-faksi Shahawat terus melaksanakan perintah rezim-rezim boneka tersebut dan pasukan Nushairiyah terus mengadakan serangkaian pemboman di Yarmuk dalam upaya yang sia-sia untuk menghentikan gerak laju Daulah Islam, Tentara Khilafah akan terus bergerak maju ke arah Damaskus, dan setelah itu, ke arah Al-Aqsha dengan izin Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Benteng pertahanan kaum Muslimin pada Hari Al-Malhamah berada di Al-Ghuthah, dekat kota bernama Damaskus, salah satu kota terbaik di Syam." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Ad-Darda’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar