DABIQ 9 - SYUHADA
DI ANTARA KAUM MUKMININ TERDAPAT KSATRIA:
HUDZAIFAH AL-BATHTHAWI
Hudzaifah Al-Baththawi adalah seorang lelaki sejati pada masa di mana jumlah lelaki itu sedikit. Perhatian dengan ‘aqidah dan manhaj, dan berasal dari keluarga muwahhid yang baik yang dikenal lewat pengorbanan dan kedermawanan. Hudzaifah Al-Baththawi adalah seorang dokter gigi yang tidak memimpikan kemuliaan dan kekayaan seperti kebanyakan dokter, karena dia tidak melihat sesuatu yang disenangi dan nyaman selain jihad. Dia tidak pernah merasakan kegembiraan dalam hal apa pun selain meraih kesyahidan.
Dia memulai perjalanannya dengan memberikan bai’at kepada Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah dan sering menyediakan alat peledak untuk meledakkan patroli Tentara Salib –yang tampak besar di mata para pengecut namun tampak tidak berarti di mata singa ini– yang membuat tubuh mereka menjadi potongan-potongan daging bercampur dengan remukkan kendaraan.
Setelah itu, dia melakukan aktivitas di bagian media dikarenakan dibutuhkan oleh ikhwan lainnya di bidang ini. Dengan demikian, dia melakukan apa yang sesuai dengan kemampuannya dalam bentuk yang paling baik hingga Tentara Salib menahannya.
Di penjara, dia tetap tegar dan tertahan di sana selama beberapa tahun. Selama itu dia meningkatkan ilmunya dan belajar Kitab Allah hingga akhirnya dia menghafalnya di luar kepala secara penuh. Di bulan Ramadhan, di Kamp Bucca di penjara Umm Qashr, dia menjadi imam shalat tarawih dan menyelesaikan bacaan satu Al-Qur'an penuh, dengan ikhwah yang juga menghafal Al-Qur’an sebagai makmum. Dia berinteraksi dengan ikhwah yang shalih, orang-orang yang baik, dan berpengalaman. Dia biasa shaum dan banyak shalat di malam hari, berupaya untuk dekat dengan Allah ta’ala. Dia merupakan sahabat bagi ikhwah dan sumber ketabahan bagi mereka di mana pun dia berada.
Dia keluar dari penjara dengan keteguhan, ilmu, dan pengalaman yang semakin meningkat. Setelah itu, dia bekerja sebagai amir untuk kawasan Ar-Rasafah di Baghdad. Dia menyalakan api peperangan dan melancarkan serangan di bawah kepemimpinan wali terkenal Manaf Ar-Rawi rahimahullah. Maka mereka melancarkan Perang Al-Asir (Tahanan) yang terkenal, di mana benteng pertahanan Shafawi Rafidhah runtuh dan basis kesyirikan dan pangkalan tentara musyrik dihancurkan.
Mereka menyerang tempat-tempat dengan penjagaan sangat ketat seperti Bank Sentral dan Kementerian Pertahanan. Yang disebut terakhir adalah pangkalan untuk mengadakan operasi bersama dengan Tentara Salib. Dengan demikian kementerian dan pilar pemerintahan Rafidhah runtuh di tangan mereka yang penuh berkah hingga sang pahlawan Wali ditangkap.
Hudzaifah kemudian ditunjuk sebagai wali untuk memimpin seluruh Baghdad. Dia kemudian melakukan serangan dengan meledakkan bom mobil, menghancurkan benteng Rafidhah, dan membunuh pemimpin Shafawi dan pasukan Salibis, sebagai pembalasan untuk agama Allah melawan musyrikin najis dan sebagai pembalasan demi kehormatan Ahlus Sunnah yang dikotori oleh tangan-tangan makhluk paling jahat yang ada di muka bumi (Syi'ah). Dia meneror Rezim Shafawi dan menghinakannya, dengan cara menyebarkan pasukan pemberani yang dipersenjatai senapan berperedam suara.
Mereka mengirim para penjahat dan pemimpin kekufuran ke dalam api neraka. Dia juga berusaha membalaskan dendam kehormatan para akhwat yang ditahan oleh salibis Qibthi (koptik) yang zhalim di Mesir, untuk itu dia melancarkan serangan terhadap Gereja "Sayidatu An-Najah".
Pihak Rafidhah kemudian meminta pertolongan dari tuan-tuan salib mereka yang memobilisasi apa saja yang dapat mereka lakukan untuk menangkap singa heroik ini. Mereka memberikan semua informasi mengenai pria unik ini beserta para pembantunya, di antaranya yang paling menonjol ialah ksatria pemberani, pemimpin militer Baghdad, Abu Khaulah. Hudzaifah Al-Baththawi biasa menyebutnya sahabat paling dekat disebabkan kecintaannya kepadanya yang sangat kuat hingga mereka berdua terbunuh di dalam penjara.
Hudzaifah rahimahullah sangat teguh seperti gunung yang berlabuh ketika berada di dalam penjara "Kontra-Terorisme" Rafidhah. Ketika musuh Allah, Nuri Al-Maliki si Rafidhah, bertemu dengannya dan mengatakan bahwa dia akan segera digantung, dia membalasnya dengan mengatakan tidak peduli serta hidup dan mati hanya ada di tangan Allah dan bukan di tangannya.
Kemudian dia dan para ikhwan yang bersamanya mulai berkoordinasi dari dalam penjara dengan para ikhwan yang berada di luar. Mereka menyediakan untuk ikhwan yang ada di dalam dua buah pistol, TNT, dan alat peledak. Mereka melakukan metode penyelundupan yang cerdik sehingga aparat pengawas dan prosedur keamanan tidak mengetahuinya. Mereka bersepakat untuk mengadakan serangan atas penjara dimulai dari luar pada detik-detik serangan akan dilancarkan Wali Hudzaifah dan para ikhwan yang ada di dalam penjara melawan murtaddin.
Hingga pada saat yang ditentukan, namun serangan tidak terjadi di pagi hari sebagaimana yang telah direncanakan. Kesepakatan berubah karena sipir penjara mendatangi mereka pada malam hari dan membawa mereka keluar untuk melakukan intrograsi. Maka dengan hati-hati Hudzaifah membunuh mereka. Kemudian dia pergi menuju Direktur "Kontra-Terorisme", musuh Allah, Mu’ayad Ash-Shalih. Dia membunuhnya dan membalaskan dendam kaum Muslimin. Demikian pula, Al-Akh Abu Khaulah, pemimpin militer Baghdad, dan seluruh ikhwan bentrok dengan murtaddin dan mereka membunuh semua yang ada di penjara di mana para mujahid disiksa dan mengalami hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah.
Mereka mengambil kendaraan murtaddin dan keluar dari gedung penjara hingga tiba di pintu gerbang Kementerian Dalam Negeri. Mereka kemudian bentrok dengan kaum murtaddin. Tentara Salib datang membantu, menembaki mereka dengan helikopter Apache. Para ikhwan tetap bertahan dan tidak mundur hingga mereka semua terbunuh tatkala berhadapan dengan musuh. Mereka terdiri atas sepuluh orang di antara para ksatria terbaik, dipimpin pahlawan kita, Wali Hudzaifah Al-Baththawi.
Dia rahimahullah sangat mengharapkan syahadah, maka dia mendapatkan apa yang diinginkannya, dia tidak mati hingga membuat kaum murtaddin itu menangis. Dia melemahkan mereka dengan luka dan membuat mereka merasakan kematian dan kesedihan yang tersulut oleh kekalahan dan kegagalan yang menyakitkan.
Dia rahimahullah telah menikah untuk beberapa saat sebelum terbunuh. Pada saat ditahan, dia dikaruniai seorang anak. Dia rahimahullah terbunuh dan tidak pernah bertemu dengan putranya. Kehidupan duniawi, kenikmatan, dan perhiasannya tidak membuatnya tergiur barang sehari pun. Tiap Muslim seharusnya mengangkat kepalanya dengan bangga atas orang-orang ini, disertai kemuliaan dan kehormatan, di hadapan orang-orang yang penuh kepalsuan.
Kami memohon kepada Allah ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari pahala-Nya atau membuat kita menyerah dari ujian serta merahmati dia dan para ikhwah yang bersamanya dengan pahala dan derajat tinggi di surga.
DI ANTARA KAUM MUKMININ TERDAPAT KSATRIA:
HUDZAIFAH AL-BATHTHAWI
Hudzaifah Al-Baththawi adalah seorang lelaki sejati pada masa di mana jumlah lelaki itu sedikit. Perhatian dengan ‘aqidah dan manhaj, dan berasal dari keluarga muwahhid yang baik yang dikenal lewat pengorbanan dan kedermawanan. Hudzaifah Al-Baththawi adalah seorang dokter gigi yang tidak memimpikan kemuliaan dan kekayaan seperti kebanyakan dokter, karena dia tidak melihat sesuatu yang disenangi dan nyaman selain jihad. Dia tidak pernah merasakan kegembiraan dalam hal apa pun selain meraih kesyahidan.
Dia memulai perjalanannya dengan memberikan bai’at kepada Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah dan sering menyediakan alat peledak untuk meledakkan patroli Tentara Salib –yang tampak besar di mata para pengecut namun tampak tidak berarti di mata singa ini– yang membuat tubuh mereka menjadi potongan-potongan daging bercampur dengan remukkan kendaraan.
Setelah itu, dia melakukan aktivitas di bagian media dikarenakan dibutuhkan oleh ikhwan lainnya di bidang ini. Dengan demikian, dia melakukan apa yang sesuai dengan kemampuannya dalam bentuk yang paling baik hingga Tentara Salib menahannya.
Di penjara, dia tetap tegar dan tertahan di sana selama beberapa tahun. Selama itu dia meningkatkan ilmunya dan belajar Kitab Allah hingga akhirnya dia menghafalnya di luar kepala secara penuh. Di bulan Ramadhan, di Kamp Bucca di penjara Umm Qashr, dia menjadi imam shalat tarawih dan menyelesaikan bacaan satu Al-Qur'an penuh, dengan ikhwah yang juga menghafal Al-Qur’an sebagai makmum. Dia berinteraksi dengan ikhwah yang shalih, orang-orang yang baik, dan berpengalaman. Dia biasa shaum dan banyak shalat di malam hari, berupaya untuk dekat dengan Allah ta’ala. Dia merupakan sahabat bagi ikhwah dan sumber ketabahan bagi mereka di mana pun dia berada.
Dia keluar dari penjara dengan keteguhan, ilmu, dan pengalaman yang semakin meningkat. Setelah itu, dia bekerja sebagai amir untuk kawasan Ar-Rasafah di Baghdad. Dia menyalakan api peperangan dan melancarkan serangan di bawah kepemimpinan wali terkenal Manaf Ar-Rawi rahimahullah. Maka mereka melancarkan Perang Al-Asir (Tahanan) yang terkenal, di mana benteng pertahanan Shafawi Rafidhah runtuh dan basis kesyirikan dan pangkalan tentara musyrik dihancurkan.
Mereka menyerang tempat-tempat dengan penjagaan sangat ketat seperti Bank Sentral dan Kementerian Pertahanan. Yang disebut terakhir adalah pangkalan untuk mengadakan operasi bersama dengan Tentara Salib. Dengan demikian kementerian dan pilar pemerintahan Rafidhah runtuh di tangan mereka yang penuh berkah hingga sang pahlawan Wali ditangkap.
Hudzaifah kemudian ditunjuk sebagai wali untuk memimpin seluruh Baghdad. Dia kemudian melakukan serangan dengan meledakkan bom mobil, menghancurkan benteng Rafidhah, dan membunuh pemimpin Shafawi dan pasukan Salibis, sebagai pembalasan untuk agama Allah melawan musyrikin najis dan sebagai pembalasan demi kehormatan Ahlus Sunnah yang dikotori oleh tangan-tangan makhluk paling jahat yang ada di muka bumi (Syi'ah). Dia meneror Rezim Shafawi dan menghinakannya, dengan cara menyebarkan pasukan pemberani yang dipersenjatai senapan berperedam suara.
Mereka mengirim para penjahat dan pemimpin kekufuran ke dalam api neraka. Dia juga berusaha membalaskan dendam kehormatan para akhwat yang ditahan oleh salibis Qibthi (koptik) yang zhalim di Mesir, untuk itu dia melancarkan serangan terhadap Gereja "Sayidatu An-Najah".
Pihak Rafidhah kemudian meminta pertolongan dari tuan-tuan salib mereka yang memobilisasi apa saja yang dapat mereka lakukan untuk menangkap singa heroik ini. Mereka memberikan semua informasi mengenai pria unik ini beserta para pembantunya, di antaranya yang paling menonjol ialah ksatria pemberani, pemimpin militer Baghdad, Abu Khaulah. Hudzaifah Al-Baththawi biasa menyebutnya sahabat paling dekat disebabkan kecintaannya kepadanya yang sangat kuat hingga mereka berdua terbunuh di dalam penjara.
Hudzaifah rahimahullah sangat teguh seperti gunung yang berlabuh ketika berada di dalam penjara "Kontra-Terorisme" Rafidhah. Ketika musuh Allah, Nuri Al-Maliki si Rafidhah, bertemu dengannya dan mengatakan bahwa dia akan segera digantung, dia membalasnya dengan mengatakan tidak peduli serta hidup dan mati hanya ada di tangan Allah dan bukan di tangannya.
Kemudian dia dan para ikhwan yang bersamanya mulai berkoordinasi dari dalam penjara dengan para ikhwan yang berada di luar. Mereka menyediakan untuk ikhwan yang ada di dalam dua buah pistol, TNT, dan alat peledak. Mereka melakukan metode penyelundupan yang cerdik sehingga aparat pengawas dan prosedur keamanan tidak mengetahuinya. Mereka bersepakat untuk mengadakan serangan atas penjara dimulai dari luar pada detik-detik serangan akan dilancarkan Wali Hudzaifah dan para ikhwan yang ada di dalam penjara melawan murtaddin.
Hingga pada saat yang ditentukan, namun serangan tidak terjadi di pagi hari sebagaimana yang telah direncanakan. Kesepakatan berubah karena sipir penjara mendatangi mereka pada malam hari dan membawa mereka keluar untuk melakukan intrograsi. Maka dengan hati-hati Hudzaifah membunuh mereka. Kemudian dia pergi menuju Direktur "Kontra-Terorisme", musuh Allah, Mu’ayad Ash-Shalih. Dia membunuhnya dan membalaskan dendam kaum Muslimin. Demikian pula, Al-Akh Abu Khaulah, pemimpin militer Baghdad, dan seluruh ikhwan bentrok dengan murtaddin dan mereka membunuh semua yang ada di penjara di mana para mujahid disiksa dan mengalami hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah.
Mereka mengambil kendaraan murtaddin dan keluar dari gedung penjara hingga tiba di pintu gerbang Kementerian Dalam Negeri. Mereka kemudian bentrok dengan kaum murtaddin. Tentara Salib datang membantu, menembaki mereka dengan helikopter Apache. Para ikhwan tetap bertahan dan tidak mundur hingga mereka semua terbunuh tatkala berhadapan dengan musuh. Mereka terdiri atas sepuluh orang di antara para ksatria terbaik, dipimpin pahlawan kita, Wali Hudzaifah Al-Baththawi.
Dia rahimahullah sangat mengharapkan syahadah, maka dia mendapatkan apa yang diinginkannya, dia tidak mati hingga membuat kaum murtaddin itu menangis. Dia melemahkan mereka dengan luka dan membuat mereka merasakan kematian dan kesedihan yang tersulut oleh kekalahan dan kegagalan yang menyakitkan.
Dia rahimahullah telah menikah untuk beberapa saat sebelum terbunuh. Pada saat ditahan, dia dikaruniai seorang anak. Dia rahimahullah terbunuh dan tidak pernah bertemu dengan putranya. Kehidupan duniawi, kenikmatan, dan perhiasannya tidak membuatnya tergiur barang sehari pun. Tiap Muslim seharusnya mengangkat kepalanya dengan bangga atas orang-orang ini, disertai kemuliaan dan kehormatan, di hadapan orang-orang yang penuh kepalsuan.
Kami memohon kepada Allah ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari pahala-Nya atau membuat kita menyerah dari ujian serta merahmati dia dan para ikhwah yang bersamanya dengan pahala dan derajat tinggi di surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar