Rabu, 25 April 2018

Al-QA'IDAH WAZIRISTAN, SEBUAH KESAKSIAN DARI DALAM

DABIQ 6 - FEATURE

Al-QA'IDAH WAZIRISTAN, SEBUAH KESAKSIAN DARI DALAM
Oleh : Abu Jarir Asy-Syimali

Aku mulai dengan nama Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah atas Nabi Allah yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi semesta alam. Semoga salam dan berkah juga tercurah atas semua keluarganya, istri, sahabat, dan pengikutnya yang benar sampai Hari Kiamat. Amma ba'du.

Di Yordania dan di masjid-masjid Amman, az-Zarqa', Irbid, dan kota-kota lain, aku terhubung dengan beberapa anak-anak kota tersebut yang menyebut diri mereka Jama'ah At-Tauhid. Tidak ada yang menghubungkan kita satu sama lain kecuali wala' dan bara' yang kita pelajari dari Al-Qur'an, kitab-kitab tauhid, dan apa yang Abu Muhammad al-Maqdisi tulis tentang kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, serta tulisan lain tentang tauhid seperti tulisan 'Abdul Qadir Ibnu 'Abdil Aziz "Sayid Imam" –semoga Allah membawa mereka berdua kembali ke atas kebenaran yang mereka dulu berada di atasnya– dan buku-buku yang lebih klasik milik Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayim, dan lain-lain. Kami belajar dari buku-buku ini di bawah arahan ikhwah senior yang memiliki ilmu pengetahuan syar'i.

Kami berselisih dengan semua kelompok sesat, seperti Ikhwanul Muslimin, Jama'ah Tabligh, Sufi, dan lain-lain. Perkara kami menjadi nyata, dan dengan demikian kita mulai sering bolak-balik dikirim ke berbagai departemen intelijen dan keamanan atau dikirim kembali ke rumah kita untuk ditempatkan sebagai tahanan rumah dengan pembatasan keamanan, dan sebagainya.

Abu Mush'ab az-Zarqawi adalah contoh muwahhid yang mempraktekkan jihad. Dia memperhatikan semua hati para ikhwah. Dia seperti seorang amir untuk kita. Aku tidak melihat siapa pun di tempat itu yang menentang pendapat atau hal ini. Sebelum 11 September, kita biasa menganggap bahwa Tanzhim al Qa'idah menjadi organisasi jihad dengan pandangan murji'ah karena apa yang telah dinyatakan di masa lalu (akhir 80-an dan awal 90an) oleh beberapa pemimpinnya mengenai berbagai penguasa murtad –terutama Saudi– dan tentara mereka, dan keragu-raguan dari individu-individu dalam menyatakan kemurtadan penguasa mereka dan tentara mereka [1]. Kami juga menganggap Thaliban di Afghanistan memiliki kekurangan berkaitan dengan pengajaran Tauhid kepada anggotanya sendiri. Kekurangan ini menyebabkan banyak individu mereka jatuh dalam perkara syirik seperti mengelilingi kuburan dan memakai jimat. Dan sayangnya, hal ini tetap ada sampai sekarang.

Abu Mush'ab az-Zarqawi pergi ke Afghanistan selama penjajahan Rusia sehingga dapat mengusir musuh komunis yang menyerang tanah kaum Muslim, Afghanistan, meskipun apa yang dia lihat terdapat pelanggaran syar'i oleh orang-orang awam. Untuk alasan ini, kita sebagai majelis terpecah menjadi dua kelompok: satu kelompok mendukung untuk tetap beroperasi di Afghanistan meskipun apa yang ada, dan kelompok lain yang tidak mendukung operasi di Afghanistan. Abu Mush'ab az-Zarqawi kembali ke Yordan sebelum Perang Teluk Pertama. Dia kemudian dimasukkan ke penjara setelah berakhirnya perang selama 5 tahun. Ia ditempatkan di penjara Yordania bersama Abu Muhammad al-Maqdisi atas kasus terhadap Rezim Yordania yang disebut pada saat itu kasus "Bai'at Imam". Dia bebas dari penjara dan cepat berkemas lalu melakukan perjalanan ke Afghanistan, dan menetap di sana hingga peristiwa 11 September terjadi. Dia tetap ada di sana karena wilayah Afghanistan cocok untuk jihad karena kurangnya kontrol rezim Kufur, hamparan luas wilayah untuk saudara-saudara mujahid di dalamnya, kemudahan untuk bergerak, dan kelimpahan senjata untuk persiapan dan pelatihan. Tapi -seperti yang diketahui- Amerika memasuki Afghanistan dan menjajahnya.

Setelah kampanye militer Amerika dimulai, semua kelompok mujahidin mundur dan meninggalkan medan ini menuju medan lain, yang terpenting adalah Waziristan. Di sana kaya dengan kelompok, aqidah, dan manhaj yang berbeda dalam memandang jihad. Mereka semua mengambil bagian dalam memerangi musuh "Amerika". Dari banyaknya kelompok-kelompok ini adalah Tanzhim al-Qa'idah yang menjadi paling terkenal karena sifat operasinya yang khusus, yang paling terkenal di antaranya adalah peledakan menara di New York, dan serangan terhadap USS Cole, dan kedutaan AS di Nairobi dan Darussalam.

Pada akhir tahun 90an, Abu Mush'ab az-Zarqawi dan kelompoknya yang berjumlah sangat kecil memiliki markas di salah satu Kota Afghanistan; Herat (sebuah kota dengan mayoritas penduduk Rafidhah). Jauh dari majelis kelompok mujahid muhajir. Dia melakukannya untuk mengisolasi kelompoknya dari orang lain pada saat itu dan mencegah perjalanan kunjungan rutin sehingga dengan demikian melindungi kelompoknya dari infiltrasi intelijen. Dia juga mengisolasi mereka karena apa yang dia dan kelompoknya terima dari tuduhan oleh anggota kelompok lain. Mereka menuduhnya dengan Takfiri, Khawarij, dan orang yang berpandangan ekstrem.

Adapun kelompok kedua yaitu para ikhwah yang tetap di Yordania, yang kemudian kita tidak mendukung pertempuran di Afghanistan (sebelum 11 September). Sebaliknya, kita menganggap lebih baik bagi kita untuk tetap di Yordania dan mendakwahkan tauhid, terutama setelah ada ikhwah yang datang dari Afghanistan dan menjelaskan kondisi Afghanistan, Thaliban, dan pelanggaran syar'i mereka.

Pada awal abad yang baru, Thaliban Afghanistan menghancurkan patung Buddha atas perintah Amir Mulla Muhammad 'Umar, sehingga jiwa-jiwa mulai merindukan medan Afghanistan, tetapi karena tidak ada cara untuk pergi ke sana, hal itu pun terhentikan sendiri oleh kondisi.

Pada tahun 2001, atas karunia Allah, Menara Manhattan Amerika runtuh dengan sukses, melalui serangan dari saudara-saudara di Tanzhim al-Qa'idah. Jika ini merupakan petunjuk akan sesuatu, ini menunjukkan akan kebenaran jiwa manusia ini –Syaikh Usamah Ibn Ladin– dengan izin Allah, dan Allah Maha Tahu.

Pada tahun 2002, saya bertemu dengan saudara Abu Mush'ab Az-Zarqawi di Yordania dan memberitahukan maksudku untuk meninggalkan Yordan menuju medan jihad dimana saja. Syaikh "rahimahullah" menyiapkan rute bagi saya dan akhirnya saya meninggalkan Jordan. Dalam perjalanan ke Afghanistan, saya tertangkap di Iran tidak lama setelah pengambil-alihan Baghdad.

Beberapa saat setelah serangan 11 September, Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah secara eksplisit menyatakan kemurtadan penguasa al-Haramain dan tentara mereka serta kewajiban untuk melawan mereka dalam beberapa pidatonya. Halangan yang mencegah penyatuan barisan muwahhidin mujahidin –az-Zarqawi dan jama'ahnya, dan Ibnu Ladin dan organisasinya– akhirnya terhapus.

Setelah itu, pada akhir 2004, di saat pasukan Mujahidin yang dipimpin oleh Syaikh Abu Mush'ab sedang menyerang Rafidhah, Amerika, dan orang-orang yang bersama mereka dari orang-orang murtad dan para agen, Syaikh mengumumkan bai’atnya kepada Syaikh Usamah. Ini menempatkan kami –Kelompok Abu Mush'ab yang ada dalam penjara Iran– juga memberikan bai'at. Telah bersama kami sekelompok ikhwah dari Tanzhim al-Qa'idah di penjara Rafidhah. Mereka telah ada di penjara itu ketika saudara Khalid al-'Aruri (semoga Allah membebaskannya) dan saya ditangkap. Kami, para anggota Kelompok Abu Mush'ab az-Zarqawi, Jama'ah at-Tauhid wal Jihad, semua memberikan bai'at kecuali saudara Khalid al-'Aruri dan Suhaib al-Urduni [2]. Kami tidak mendengar komentar dari mereka tentang masalah tersebut. Ada kemungkinan itu karena mereka percaya bahwa Tanzhim masih berlaku lemah lembut terhadap tentara rezim murtad dan karena perbedaan mereka dengan tahanan dari Tanzhim di Iran yang tidak menganggap orang Rafidhah maupun sipir sebagai murtad. 
Melalui pengumuman Syaikh Ibnu Ladin rahimahullah, pandangan kami akan Tanzhim berubah dari sebelumnya. Organisasi sekarang menjadi sebuah gambar cermin yang aku gunakan untuk melihat kondisi saudara-saudara di Yordania, Jama'ah At-Tauhid. Aku sangat berharap bisa bebas sehingga bisa memeluk Syaikh Abu Mush'ab rahimahullah karena telah mengumpulkan barisan di atas tauhid dan membuat kemarahan musuh dengan bai'at ini. Gambaran ini tetap dalam pikiranku seperti itu. Saya sedang menunggu waktu untuk meninggalkan penjara untuk bisa hidup bersama saudara-saudara di medan jihad dengan organisasi baru dan lebih besar yang sekarang saya berada di dalamnya.

Dan akhirnya kita semua dibebaskan menjelang akhir tahun 2010, namun Rafidhah tetap menahan beberapa ikhwah di penjara mereka, di antaranya dua ikhwah tersebut yang tidak memberikan bai'at untuk al-Qa'idah: Khalid al-'Aruri dan Suhaib al-Urduni. Saya percaya bahwa alasan mereka untuk tidak dibebaskan adalah tidak adanya bai'at dari mereka kepada Tanzhim.

Aku pergi ke kota Quetta di Pakistan dan berada di sana selama 6 bulan, sampai aku diizinkan untuk memasuki wilayah Waziristan oleh Tanzhim. Alasan penundaan dari mereka adalah tingkat keparahan serangan Amerika terhadap para ikhwah di Waziristan. Oleh karena itu, kesaksian saya mencakup apa yang saya saksikan dan alami di Waziristan pasca meninggalnya Amir dan pendiri dari Tanzhim –Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah– dalam operasi yang dilakukan oleh pasukan Amerika di dekat Abbottabad.

Kejutan pertama dan kejutan besar bagi saya adalah apa yang biasa saya fikirkan bahwa wilayah Waziristan adalah daerah yang benar-benar telah dibebaskan di mana seseorang akan melakukan perjalanan ke timur, barat, utara, dan selatan, tanpa melihat tentara murtad dan tidak mendengar suara mereka. Saya pikir para mujahidin adalah para pengambil keputusan di sana dan bahwa hukum syar'i telah ditegakkan oleh mereka di sana. Tapi sayangnya dan sayangnya, hukum yang dominan adalah hukum suku. Undang-undang syari'ah tidak berlaku, hukum-hukum suku mengatur rakyat di wilayah itu. Pasukan Pakistan murtad menutup setiap bukit dan gunung serta mengawasi semua tempat tinggal orang-orang, dan semua desa dan kota. Tentara Pakistan mengatur jam malam untuk satu hari setiap pekan, untuk bergerak di antara berbagai zona dan memasok ulang amunisi dan dana. Jika suatu hal yang menjengkelkan terjadi pada mereka, mereka akan memperpanjang jam malam semau mereka.

Jika Anda ingin melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, Anda selalu harus menjauh dan menghindari jalan utama agar tidak mendekati perkemahan mereka dan tidak bertemu dengan mereka. Dan perkemahan mereka ada banyak! Ini akan memperpanjang perjalanan Anda, membuatnya sulit, dan menambah kerepotan anda.

Adapun kondisi mujahidin di negeri itu, maka Anda akan melihat keanehan! Pemimpin organisasi jihad "Al-Qa'idah" seharusnya memiliki reputasi besar di mata dan hati masyarakat Muslim yang baik, dengan suara fitrah merindukan dan harapan. Mereka mengharapkan tanzhim untuk membimbing mereka menuju pembebasan, berdiri melawan para thaghut mereka, menegakkan hukum Allah di negeri mereka, dan untuk mendukung hak-hak mereka dan membantu mereka yang tertindas...

Tapi, kami tidak melihat hal ini sama sekali di lapangan, karena Tanzhim asyik mengkategorikan para mujahidin di lapangan ke dalam kelompok Takfiri ekstrim, Khawarij, dan sedikit Takfiri. Mereka akan membawa semua orang yang tenggelam ke faham Irja' lebih dekat kepada diri mereka di bawah kepura-puraan ingin menghancurkan pemikiran Khawarij dan mengusir itu dari Tanzhim. Untuk alasan ini, tangga piramida organisasi yang mengarah ke Kepemimpinan tertinggi adalah tangga yang dikelilingi oleh para penyaring yang terdiri dari aparat intelijen dari manhaj pengadu. Sehingga, tidak ada ikhwah dengan manhaj yang benar yang mereka dianggap menentang akan mampu mengubah kemungkaran dan menyuarakan kebenaran mengoreksi kekeliruan Tanzhim secara syar'i dan militer. Sebaliknya, ikhwah ini akan mendapatkan peringatan, pengucilan, pemisahan dan bahkan fitnah.

Seperti yang Anda tahu, kejahatan kaum Rafidhah menjadi nyata, terutama makar mereka, rencana mereka, dan kebencian terpendam mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin dari kalangan Shahabat, tabi'in, dan salafush shaleh. Allah membongkar kedok mereka dan kejahatannya. Media ini (Stasiun TV satelit Rafidhah) telah menjadi bukti yang jelas dan terbuka dalam mengungkap siapa mereka, perbuatan mereka, dan tuduhan mereka terhadap Rasul dan agama kita. Media mereka akan menjadi hujjah atas kami di dunia dan di hari kiamat karena kami tidak melakukan apa-apa untuk melawan bid'ah ini.

Setelah beberapa hari sejak saya mencapai Miransyah, saya diancam dan dimarahi oleh Amir Dewan Syar'i Tanzhim al-Qa'idah karena menggunakan kata "Rafidhi" untuk menggambarkan Iran di mana saya di penjara sebagai tahanan selama sekitar 8 tahun. Saya menggunakan kata itu ketika saya ditanya tentang kondisi saya, titik keberangkatan, dll, oleh ikhwah yang akan mengunjungiku setelah kedatanganku dari perjalanan. Saya kemudian dituduh Khawarij dan Takfiri! Saya diberitahu oleh Amir Dewan Syar'i pada saat itu (Salim Ath-Tharablusi al-Libi Rahimahullah), "Pergilah ke Yordania dan buatlah takfir di sana kepada siapapun yang engkau inginkan, dan kami akan mendukungmu!" Itu adalah kejutan kedua bagi saya.

Tapi aku memutuskan untuk tetap bertahan dan memperbaiki apa yang aku bisa. Aku mulai berbicara dengan semua ikhwah di Tanzhim di semua tingkatan mengenai masalah yang saya lihat di lapangan. Diantaranya adalah :

1. Wilayah ini penuh dengan mujahidin bersenjata dan mereka memiliki kemampuan untuk mengambil kendali wilayah, sehingga mengapa hukum Allah tidak ditegakkan di atasnya?

2. Mengapa hukum adat thaghut (Jirga) dan hukum lain dilaksanakan tanpa komentar atau bahkan mencoba untuk memberitahu orang-orang?

3. Mengapa ada Mujahidin masuk dan keluar wilayah Afghanistan melalui tentara Pakistan ketika memerangi Amerika?

4. Bukankah perbaikan jalan antara kota-kota dan daerah Waziristan oleh pemerintah Pakistan menunjukkan bahwa negara Pakistan memiliki misi di wilayah tersebut?

5. Mengapa anak-anak putra-putri di wilayah tersebut dimasukkan ke sekolah-sekolah pemerintah sekuler secara besar-besaran dan diketahui tanpa upaya sedikitpun atau persiapan untuk membangun sekolah oleh mujahidin, khususnya al-Qa'idah pusat, yang telah sangat lalai mengenai masalah sekolah dan pendidikan anak-anak mujahid muhajirin dan Anshar kecuali baru-baru ini ketika hal itu disediakan untuk sejumlah anak-anak dari Tanzhim?

6. Mengapa ada desakan untuk tidak menyelidiki pelanggaran syar'i dan akhlaq dan kesalahan orang-orang, dengan klaim bahwa ada manfaat syar'i, seperti agar mereka tidak menjauh atau kita berbenturan dengan mereka?

7. Saya telah meminta dari pimpinan Tanzhim melalui kepala keamanan dan ideolog mereka Abu 'Ubaidah al-Maqdisi (Abdullah al-'Adam rahimahullah) untuk berhenti memuji secara berlebihan revolusi Arab atau apa yang disebut sebagai Arab Spring.

8. Kita harus mengumpulkan barisan berbagai kelompok pejuang yang berbeda-beda, menyatukan mereka, dan menyelesaikan masalah yang tertunda di antara mereka dan Tanzhim.

9. Kita harus mengasingkan para wanita dari lapangan sehingga kehadiran mereka tidak menjadi hambatan yang membuat gerakan ikhwah mujahidin menjadi sulit apabila ada aksi militer tiba-tiba yang tidak diharapkan. Gerakan menjadi sulit dengan kehadiran mereka karena ketinggian gunung di wilayah tersebut. Juga tidak ada tempat berkumpul bagi mereka untuk menetap.

Poin-poin ini akan disampaikan baik melalui pesan tertulis disampaikan oleh saudara Abu Shalih al-Mishri rahimahullah atau secara lisan langsung kepada saudara Abu 'Ubaidah al-Maqdisi yang bertanggung jawab menjadi penengah antara para ikhwah di lapangan dan pimpinan Tanzhim. Saudara Abu Shalih al-Mihsri adalah teman dekat saya ketika kami bersama-sama berada di penjara di Iran. Hubungan kami berlanjut hingga kami di Waziristan. Allah menjadikan lelaki ini pembelaku dan pelindungku karena hubungan dekatnya dengan pimpinan Tanzhim. Dia juga amir saya dalam beberapa pekerjaan khusus yang kita lakukan bersama.

Tanzhim tetap dalam keadaan seperti ini, tidak mau mendengar dan melihat, dan tidak mau berubah, terutama karena dia seperti kelompok rahasia, dan untuk sampai kepada pimpinan adalah sangat sulit, kecuali dalam hal tertentu, seperti kunjungan dari seorang pimpinan ke kamp-kamp di pegunungan. Hal inilah yang membuat seorang ikhwah yang memiliki keperluan dan pertanyaan akan kesulitan tidak mendapatkan jawaban, dan jika dia mendapatkannya, berarti itu adalah keberuntungan. Jawaban akan datang setelah berpekan-pekan, berbulan-bulan, atau tidak sama sekali. Ini adalah sistem yang tidak bisa ditembus. Filter yang dibuat oleh tanzhim akan menyaring semua orang di lapangan. Siapa yang tidak menentang manhaj Qiyadah maka dia akan naik ke piramida kepemimpinan.

Sayangnya aku mendapati bahwa manhaj al-Qa'idah pasca meninggalnya Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah sama dengan manhaj sebelum beliau secara eksplisit menyatakan takfir terhadap rezim Saudi dan tentaranya. Jadi Al-Qa’idah sebelum saya di penjara adalah sama dengan al-Qa’idah setelah saya dibebaskan. Manhajnya adalah irja' yang banyak menahan diri dari berbagai hal dengan alasan kehati-hatian dan demi kemaslahatan. Hal yang paling aneh adalah keragu-raguan untuk mengkafirkan Rafidhah pada masa di mana kejahatan mereka tidak tersembunyi dari setiap orang, baik dekat maupun jauh. Adapun kondisi Tanzhim selama masa penahananku, maka saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka.

Saya tidak menasihati mereka dengan cara merendahkan, menjelek-jelekkan, atau menentang keras, sebab saya pikir hal seperti itu tidak akan mencapai tujuan. Saya pikir saya akan menemukan seseorang yang mau mendengar atau melihat perubahan tertentu di dalam Tanzhim. Akan tetapi, sayangnya, tidak ada seorang pun yang mau mendengarkanku, tidak juga dari tingkatan kedua atau ketiga Tanzhim. Justru sebaliknya, anda akan mendapatkan pencegahan, pelarangan, penolakan ide, dan penghindaran.

Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi adalah seorang pemikir yang membawa pemahaman irja' yang "Qa'idi", namun dia tidak akan mengelak dari dialog atau diskusi dan mau mendengarkan, berbicara, dan berdiskusi. Waktu itu kupikir ada hal yang baik pada dirinya, meskipun kita saling mengeraskan suara satu sama lain di tempat-tempat umum atau rahasia. Hingga pada akhirnya, aku mendengar hal-hal aneh dari dirinya, termasuk pernyataannya bahwa Tanzhim memandang Ath-Thanthawi (mantan mufti Al-Azhar) dan Al-Qardhawi adalah ulama Islam dan Tanzhim tidak mengkafirkan keduanya.

Pada waktu yang sama, majalah Arab As-Shumud mengeluarkan pernyataan dari Mulla Muhammad 'Umar yang berpesan kepada umat Islam pada hari raya 'Idul Fitri 1433 H. Ia menjelaskan masa depan Afghanistan setelah kepulangan tentara Amerika. Ia menyebutkan beberapa klausul yang merusak Islam dan –dengan menggunakan suara yang patriotik dan kebangsaan– menyerukan untuk menghormati perjanjian internasional dan perbatasan, mengucapkan selamat atas revolusi bangsa Arab yang mengganti rezim mereka, dan meminta kepada orang-orang yang meninggalkan negara-negara tersebut –maksudnya para mujahid muhajir yang dizhalimi– agar pulang ke negeri mereka [3].

Aku bisa mengatakan pada diriku sendiri, di mana Tanzhim Al-Qa'idah –yang memerangi Amerika sang gembong kekafiran dan demokrasi– bereaksi terhadap hal ini? Apakah pernyataan benar-benar disampaikan oleh Qa'idah al-Jihad? Dan pernyataan ini keluar setelah sebelumnya diawali dengan konferensi Paris dan pertemuan dengan delegasi Mulla Muhammad 'Umar di Universitas Tokyo, di mana mereka berbicara dengan dunia Barat mengenai masa depan Afghanistan setelah kepulangan tentara Amerika dan politik baru Thaliban. Pertanyaan ini terus muncul, terutama karena amir Tanzhim Al-Qa'idah (Azh-Zhawahiri) biasanya berulang kali menyatakan bahwa ia mempunyai bai'at kepada Mulla Muhammad 'Umar dan menyerukan agar cabang dan kelompok lain untuk melakukan hal yang sama.

Hal tersebut memunculkan banyak pertanyaan dalam benakku.

Aku menulis sebuah bantahan terhadap pernyataan Mulla Muhammad 'Umar dan mengingatkan Tanzhim mengenai pernyataan tersebut. Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi telah menyuruhku untuk menuliskannya. Aku juga menanyakannya kepada faksi Haqqani yang mewakili Mulla Muhammad 'Umar di Waziristan. Mereka juga menyuruhku untuk menuliskan sebuah bantahan terhadap Mulla Muhammad 'Umar. Lalu saya menulis bantahan dan mengirim salinannya lewat faksi Haqqani kepada Mulla Muhammad 'Umar. Mereka mengatakan bahwa suratnya akan sampai ke dia pada Hari 'Idul Adha.

Akan tetapi, sayangnya tidak ada jawabannya hingga sekarang. Aku bertemu perwakilan Mulla Muhammad 'Umar –Muhibbullah– dan memberikan kepadanya sebuah salinan tentang bantahan tersebut. Sayangnya, lagi-lagi tidak ada jawaban yang datang sampai sekarang.

Aku melihat sekeliling dan tidak menemukan jalan untuk keluar di mana aku dapat melihat Islam yang benar-benar menerapkan hukum-hukumnya. Bumi terasa sempit bagiku. Maka, yang pertama kali aku pikirkan adalah pergi ke Burma (Myanmar) untuk berperang di sana. Aku menanyakannya kepada salah satu ikhwan dan kawan dari mujahidin senior dan terkemuka di daerah tersebut, yaitu ikhwan dari Punjab. Ia mengatakan bahwa untuk pergi ke Burma adalah suatu hal yang mustahil, karena rutenya sulit dan panjang dan adanya rezim thaghut Bangladesh yang rasis. Aku lalu berpikir untuk pergi ke Yaman. Itu adalah rencana yang ingin kulakukan.

Akan tetapi, aku kemudian mengetahui adanya ikhwan di utara Waziristan –Tahrik Thaliban Pakistan / TTP– di wilayah Khaibar. Mereka sungguh-sungguh berada di atas kebaikan. Mereka membawa aqidah Salafi serta berkeinginan dan berjuang untuk menerapkan hukum-hukum Islam di wilayah tersebut. Akhirnya aku mengambil keputusan tersebut dan pergi ke sana pada tanggal 26 Januari 2013. Aku mencapai daerah Kuki Khail pada tanggal 7 Maret 2013. Aku mempelajari karakter alam, penduduk, dan masalah-masalah lain yang sebelumnya tidak kuketahui. Aku mempelajari tentang berbagai kelompok, terutama kelompok-kelompok yang berkaitan dengan Thaliban [4].

1. Thaliban Afghanistan semacam faksi Haqqani. Mereka adalah orang-orang Afghanistan asli. Mereka menganggap Mulla Muhammad 'Umar sebagai pemimpin tertinggi mereka.

2. Thaliban Waziristan yang menganggap diri mereka orang Pakistan. Mereka mempunyai banyak pemimpin, termasuk Qalbhadir, Ghulam Khan, Gud 'Abdurrahman, dan yang lainnya. Mereka memandang diri mereka orang-orang Pashtun dari Pakistan. Mereka bekerja untuk kepentingan mereka di daerah tersebut sekalipun jika itu merugikan faksi-faksi lain. Mereka mempunyai hubungan yang kuat dengan intelijen Pakistan. Mereka menganggap Mulla Muhammad 'Umar sebagai pemimpin mereka.

3. Thaliban independen di wilayah Khaibar, sebelah utara Waziristan. Mereka bersekutu kuat dengan pemerintah Pakistan. Mereka hidup dari opium dan marijuana. Mereka melawan Tahrik Thaliban Pakistan dan menghalangi mereka untuk menggunakan jalan perjuangan dengan senjata. Mereka mempunyai banyak nama, di antaranya: "Lasykar Islam", "Anshar Al-Islam [5]", "Jama'ah At-Tauhid", "Munghul Bagh", dan lain-lain.

4. Tahrik Thaliban Pakistan, para muhajirin dari wilayah-wilayah yang dimasuki tentara Pakistan di Lembah Swat dan daerah-daerah lainnya dekat Peshawar. Barangkali mereka adalah kelompok terbaik yang ada di wilayah Waziristan. Namun sayangnya, intelijen Pakistan mampu menyusupkan beberapa personilnya dan menghasut di antara beberapa pemimpin suku mereka untuk berperang di antara sesamanya dalam perkara kepemimpinan. Mereka terdiri dari gabungan beberapa suku dan setiap gabungan mempunyai pemimpin sendiri. Mereka telah menegakkan hukum-hukum syari'at di Lembah Swat sebelum saya datang ke Waziristan, dan Tanzhim Al-Qa'idah langsung mengirim seorang pria Pashtun bernama Mufti Hasan untuk bertemu kelompok Tahrik dan membujuk mereka agar tidak terburu-buru menegakkan hukum syari'at. Alasannya adalah demi kebaikan umum yang lebih besar… Ketika Mufti Hasan bertemu Syaikh Maqbul (Mufti dari Tahrik), Syaikh Maqbul meyakinkan dia akan kebaikan penerapan hukum-hukum syari'at pada waktu itu. Lalu Mufti Hasan kembali dengan ide baru dan memberitahukannya kepada Tanzhim Al-Qa'idah, tetapi dia dibalas dengan diusirnya dari Tanzhim. Dia sekarang menjadi anggota Tahrik Thaliban Pakistan. Peristiwa ini diceritakan kepadaku oleh beberapa pemimpin Tahrik yang ikut menyaksikan.

Pemerintah Pakistan mampu menghasut semua faksi melawan kelompok Tahrik di daerah mereka di utara Waziristan, karena diperkirakan Tahrik Thaliban akan menguasai wilayah tersebut.

Tahrik mampu memasuki dan membebaskan wilayah terbesar Waziristan utara bernama Midan "wilayah yang dikuasai oleh Thaliban "Anshar Al Islam [6]" yang beraliansi dengan rezim Pakistan dengan pemimpinnya Mahbub Al-Haqq", setelah menyerang wilayah tersebut. Hal itu segera memunculkan rasa takut dalam militer Pakistan dan sekutu-sekutu mereka, maka mereka segera lari tanpa melakukan perlawanan. Kami berada di sana selama tiga bulan sebelum tentara mulai membombardir wilayah tersebut. Midan akhirnya menjadi arena pertarungan militer Pakistan dan wilayah perang yang dikotori oleh tembakan-tembakan pasukan militer. Kami kemudian mundur dari Midan dan kembali ke Kuki Khail dan Tura Dara. Pasukan militer kemudian memasuki Midan, memperoleh kemenangan dengan menghancurkan musuh terkuat mereka "Tahrik" dan mengusirnya dari daerah tersebut.

Program pemerintah selanjutnya adalah bergerak ke arah selatan ke Waziristan tengah, yaitu daerah Miransyah, Mir 'Ali, dan daerah lainnya di mana terdapat mujahidin muhajir… daerah-daerah yang hampir tidak ada mujahidin, karena mereka pergi dari satu medan ke medan lainnya. Tanzhim Al-Qa'idah bertanggung jawab atas perginya mereka.

Aku memandang amir Tanzhim Al-Qa'idah dan semua yang memperindah dan mendukung perbuatannya sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengosongan wilayah.

Tahrik Thaliban Pakistan adalah mujahidin terbaik yang kulihat di lapangan. Mereka berada di atas kebenaran. Kebanyakan pemimpinnya memiliki aqidah shahih dan berada di atas manhaj Salaf, kami memandangnya demikian. Adapun orang-orang awamnya, maka mereka mempunyai beberapa permasalahan disebabkan memiliki taraf pengetahuan keislaman yang rendah dan fanatisme madzhab.

Pemimpin mereka Fadhlullah bertemu dengan Mulla 'Umar lebih dari 15 tahun yang lalu dan berbai'at kepadanya pada waktu itu. Mulla 'Umar memberikan sorbannya sendiri sebagai hadiah. Dia loyal kepada Mulla 'Umar hingga sekarang, meskipun Mulla 'Umar mempunyai kesalahan-kesalahan fatal secara syar'i yang tidak disadari oleh Fadhlullah.

Saya memutuskan untuk kembali ke Miransyah untuk memberitahu ikhwan di Tanzhim Al-Qa'idah dan qiyadah-nya –demi harga diri dan kehormatan serta keinginan untuk menasihati mereka– setelah saya memutuskan untuk meninggalkan Waziristan utara dan memasuki Afghanistan, sehingga dapat keluar sepenuhnya dari wilayah tersebut. Akan tetapi, Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagiku. Maka, aku kembali ke Waziristan tengah.

Tatkala tiba di Miransyah, saya menulis sebuah pesan kepada Lajnah Bukhara (Lajnah Bukhara, sebuah komite administratif milik qiyadah Al-Qa'idah dibentuk setelah terbunuhnya 'Athiyatullah dan Abu Yahya Al-Libi rahimahumullah). Aku menjelaskan apa yang terjadi dan menjelaskan pandanganku mengenai masa depan Waziristan serta masuknya tentara Pakistan yang tidak bisa dihindari ke wilayah-wilayah tengah setelah secara menyeluruh menguasai bagian utara. Aku lampirkan ke dalam surat satu salinan berisi bantahanku yang telah kutulis terhadap pesan yang disampaikan oleh Mulla Muhammad 'Umar sebelumnya. Ini untuk mengingatkan para ikhwan bahwa medan perang sekarang berada di antara palu nasionalisme dan blok kesukuan di Afghanistan dan Waziristan.

Sayangnya, aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Tanzhim atas pernyataan ini.

Sejumlah masalah terjadi di lapangan selama enam bulan ketidakhadiranku di utara Waziristan. Masalah-masalah tersebut membuat Tanzhim berada di jurang kehancuran. Masalah yang paling nyata adalah kasus yang melibatkan anak-anak ikhwan Tanzhim. Mereka adalah putera-putera syuhada' (kama nahsabuhu), putera-putera para pemimpin. Mereka terjatuh dalam perbuatan fahisyah (sodomi) yang mengarah ke spionase (sebagaimana juga terjadi di Sudan dan yang lainnya). Pengkhianatan mereka menyebabkan terjadinya sepuluh kali serangan udara yang membunuh banyak ikhwan.

Kami menentang atas diamnya Tanzhim dan menekan agar mereka diadili oleh Tanzhim secara independen dari Imarah Afghanistan. Akan tetapi, Tanzhim bersikeras untuk mendatangkan seorang hakim dari Imarah, mengklaim bahwa Tanzhim berada di bawah Imarah dan mereka telah berbai'at. Permintaan kami untuk mengadakan sidang peradilan yang dibuat oleh Tanzhim secara independen dari Imarah disebabkan adanya perbedaan antara kami dan Imarah –karena fanatisme madzhabnya– dalam menetapkan hukuman terhadap mata-mata dan sodomi [7].

Imarah menolak untuk menyelidiki masalah ini dan justru menyerahkannya kembali kepada Tanzhim [8]. Cerita tentang para pemuda yang terlibat dalam kasus tersebut menyebar ke mana-mana, membuat Tanzhim jadi bahan olok-olokan. Muncul berbagai pertanyaan dari mujahidin dan penduduk. Mengapa Tanzhim menunda persidangan mereka? Mengapa Tanzhim bersikeras terhadap hal ini? Mengapa Tanzhim melepaskan para pelaku kasus tersebut dari penjara sebelum hukuman diputuskan?

Pada saat yang sama, para ikhwan yang bergerak dari utara Afghanistan ke arah Miransyah bertemu dengan kami. Mereka dalam perjalanan menuju Daulah Islam. Pada saat itu, Daulah menjadi sorotan mata dan pertanyaan, karena saya tidak begitu banyak mendengar perihal itu sebelumnya. Saya tidak tahu banyak mengenai Daulah disebabkan lemahnya jaringan internet di wilayah tersebut. Informasinya sangat lambat dan tidak stabil.

Satu-satunya sumber informasi mengenai Syam adalah Tanzhim itu sendiri. Mereka tidak ingin menunjukkan kepada orang lain apa pun mengenai Daulah, seolah-olah tidak pernah ada. Demikian pula, ketika Daulah Islam Iraq diumumkan oleh Amirul Mu'minin Abu 'Umar Al-Baghdadi rahimahullah, sorotan tidak terfokus padanya. Media kafir benar-benar menyembunyikannya dari pandangan umum.

Selain itu, pada waktu itu kami juga ditahan di Iran, sama sekali terputus dari dunia luar. Kami memandangnya seolah-olah sebuah kelompok kecil atau organisasi dengan beberapa aksi yang terjadi di sana sini, hanya dikarenakan adanya tabir yang menyembunyikan informasi mengenai aksi-aksi mereka. Bahkan ketika Daulah melanjutkannya di bawah kepemimpinan Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah, penjara menjadi penghalang. Demikian pula, informasi media yang datang dari Daulah atau mengenai Daulah sangat sedikit.

Bahkan sayangnya, ketika Daulah memasuki Syam lewat frontnya, Jabhah An-Nushrah, umat Islam tidak mengetahuinya disebabkan keamanan dan program media milik Daulah. Persoalan semakin buruk dan menjadikannya semakin kompleks dan samar-samar. Selain itu, problem mengenai konflik kami dengan Tanzhim di wilayah Waziristan menyebabkan aku tidak menaruh perhatian atas apa yang sebenarnya tengah terjadi di Suriah.

Akan tetapi, Allah merahmatiku dengan kedatangan ikhwan dari Waziristan utara yang berpengalaman dalam menggunakan internet. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan. Gambaran mulai tampak jelas bagiku. Demikian pula dengan visi yang jelas dan kebenaran yang nyata mengenai Daulah Islam. Daulah Islam ini –dengan rahmat Allah– merupakan karunia dari Allah yang menjadi alternatif atas kekacauan yang terjadi di lapangan pada saat itu.

Konflik dengan Tanzhim semakin parah. Kami menulis surat kepada Tanzhim, mendorong mereka untuk menyidangkan kasus para tersangka. Setelah menekan mereka dan mendorong mereka dengan surat bernada keras langsung ke Lajnah Bukhara, pimpinan majelis dan salah seorang anggotanya –Al-Basya (Al-Bahiti)– bertemu denganku. Selama pertemuan, dia menjelaskan penolakannya untuk mendirikan peradilan yang independen dari Imarah dan jauh dari fanatisme madzhab.

Dia mengatakan mengenai persoalan yang berkaitan dengan kasus tersebut, bahwa suatu hal yang bodoh mengadili individu yang tertuduh karena tidak dilandasi kebijaksanaan dan para pelaku tidak mengakui kejahatan mereka, dan konsekwensinya para penuduh akan dicambuk… Para penuntut adalah kepala Majelis Keamanan dan asistennya. Kemudian setelah terjadi tarik-menarik dan meminta para tersangka dikembalikan ke penjara dan diadili, ia mengatakan agar keluar dari persoalan rumit yang dihadapinya, "Kita akan mengumpulkan mereka semua. Itu hal yang mudah. Lalu kita akan mengadili mereka. Lalu kita akan membebaskan mereka."

Pertemuan akhirnya berakhir setelah Al-Basya menyetujui untuk membujuk ikhwan di Lajnah Bukhara agar menahan para tersangka dan mengadili mereka. Pada waktu yang sama, persoalan Daulah Islam mulai mempengaruhi terhadap apa yang terjadi di sini (Daulah Islam telah meraih tamkin dan menegakkan hukum; hal sebaliknya dengan kondisi Tanzhim).

Kasus yang melibatkan tersangka mulai menemui jalan buntu, karena Tanzhim menyatakan kekhawatiran terhadap ibu-ibu para tersangka. Mereka mengatakan bahwa ibu-ibu itu bisa saja mengontak media asing dan mengadakan aksi protes di jalan-jalan di Miransyah dan menghasut penduduk melawan Tanzhim. Al-Basya lalu berkata bahwa Tanzhim sudah tidak bisa menangani persoalan ini.

Masalah Al-Jaulani dan pengkhianatannya terhadap amirnya mulai diperbincangkan. Gambaran semakin jelas seiring dengan apa yang tengah berlangsung dengan Tanzhim.

Dengan melihat ke belakang, jelas tampak bagiku bahwa pengosongan wilayah Waziristan memang sengaja dilakukan oleh Tanzhim. Aku ingat bagaimana Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi, pada awal pergerakan jihad di Suriah, akan meletakkan tangannya di atas tangan para muhajirin yang pergi Suriah. Dia meminta mereka untuk berbai'at yang diperkirakan akan diberikan kepada Jabhah An-Nushrah, yaitu pada saat Jabhah An-Nushrah belum memisahkan diri dari Daulah dan waktu itu belum banyak kelompok di lapangan.

Kelompok yang paling menonjol pada waktu itu adalah rezim Assad, FSA, dan Jabhah An-Nushrah. Hal ini adalah teka-teki bagiku yang tidak aku pahami pada waktu itu. Mengapa ada orang yang menyuruh mujahid pergi ke Syam untuk memberikan bai'at kepada Jabhah An-Nushrah, padahal dia sendiri berkata lantang untuk tidak akan pergi ke mana-mana? Abu 'Ubaidah Al-Maqdisi secara berulang akan membuat pernyataan, "Kita akan membangun tempat bagi kita di wilayah itu." Hal ini seolah-olah dia hendak mengikat para mujahid kepada Jabhah An-Nushrah karena adanya rencana yang disusun oleh Tanzhim untuk masa yang akan datang.

Apa yang dilakukan Al-Jaulani setelah itu, termasuk penolakannya untuk menerima perluasan Daulah Islam ke Syam, hanyalah makar yang jelas dari Aiman Azh-Zhawahiri dan kroni-kroninya yang meninggalkan wilayah Waziristan. Kroni-kroninya ini membawa pesan rahasia dan pribadi yang melibatkan Azh-Zhawahiri dengan Al-Jaulani dalam usaha mereka membangun tempat bagi Tanzhim Al-Qa'idah di Syam dengan mengorbankan Daulah Islam. Buktinya adalah langsung diterimanya bai'at Al-Jaulani oleh Azh-Zhawahiri. Azh-Zhawahiri juga meminta amir Daulah Islam untuk kembali ke Iraq "sebagai pertukaran" atas "pengakuannya" terhadap Al-Baghdadi sebagai Amirul Mu'minin dan negaranya sebagai sebuah Daulah Islam. Semua ini jika Amirul Mu'minin jadi kembali ke Iraq. Jika tidak, maka negaranya dipandang sebagai Daulah Khawarij dan Azh-Zhawahiri tidak akan "mengakuinya" sebagai Amirul Mu'minin.

Azh-Zhawahiri terus muncul di media, memperlihatkan dirinya sebagai domba yang lemah lembut terhadap masalah Daulah dan pembai'atan. Ia bersikeras karena mempunyai "hak" atas kepemimpinan dan "kewajiban" untuk didengar dan ditaati. Ia mulai menggambarkan Daulah dan pemimpinnya memiliki sifat-sifat paling buruk, sehingga Daulah menjadi target bagi semua orang yang membawa senjata di Syam. Daulah telah masuk ke dalam labirin pemikiran Azh-Zhawahiri setelah ia memasukkan banyak orang ke dalam perangkap pemikirannya yang berbelit-belit. Pemikiran-pemikirannya bertentangan dengan jihad dan pengangkatan senjata. Ia malah menganjurkan manhaj cinta damai (protes yang tiada akhir) dan mencari dukungan manusia. Semua ini mengarah pada munculnya Fir'aun-Fir'aun baru yang mengambil alih Mesir dan negara-negara lain.

Di sana akan terjadi banyak wanita, anak-anak, dan pria yang terbunuh tanpa alasan yang benar. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain turun ke jalan-jalan, lapangan-lapangan, dan plaza-plaza, mempraktekkan politik baru yang diserukan Azh-Zhawahiri. Dan semua orang yang sama (pemikirannya) dengan dia, yaitu yang mengklaim bahwa apa yang dilakukan oleh para pendemo adalah jihad yang sesungguhnya yang akan mengubah kezhaliman menjadi keadilan dan kufur menjadi Islam. Karena dia, kebenaran tidak lagi bisa dibedakan dari kebathilan. Si Thaghut (Mursi) dipuji dan tawaran dibuat untuknya, sementara kebenaran dan orang-orangnya dicela. Dengan demikian, ia telah menghancurkan Tanzhim Al-Qa'idah.

Pada saat yang sama, Tanzhim tidak mengumpulkan para tersangka yang telah disebutkan sebelumnya mengenai kejahatannya (spionase dan sodomi). Akan tetapi, mereka mengadakan kamp-kamp khusus bagi para tersangka di antara kamp-kamp Tanzhim yang disebut dengan Katibah Usamah ibnu Zaid radhiyallahu 'anhuma. Dua orang mata-mata –anak-anak dari dua pemimpin Tanzhim– yang termasuk di antara para tersangka, dibunuh oleh Majelis Keamanan setelah Majelis bersaksi untuk mengabaikan kepemimpinan Tanzhim terhadap kasus mereka. Hal ini menimbulkan kegemparan di dalam Tanzhim, yang sejak itu tidak berhenti, terlepas dari fakta Majelis Keamanan membunuh mereka setelah faksi Shiddiqullah dengan bantuan faksi Gud 'Abdurrahman –yang mempunyai hubungan dengan intelijen Pakistan dan mempunyai peran dalam merekrut kedua mata-mata itu– berusaha membebaskan mereka dari penjara. Majelis Keamanan diusir dari Tanzhim, dikeluarkan dari wilayah tersebut, dan dipaksa untuk tetap berada di dalam rumah.

Karena terus-menerus ditekan oleh Majelis Keamanan dan banyak ikhwan, Tanzhim akhirnya dipaksa untuk membawa kasus kepada Al-Akh Abu Malik At-Tamimi yang telah sampai di Miransyah setelah datang dari Nuristan, Afghanistan, dalam rangka perjalanannya menuju Daulah Islam. Al-Akh Abu Malik menilai bahwa darah kedua mata-mata itu sah secara hukum (untuk ditumpahkan).

Sebelum hijrah ke Syam, saya dan sejumlah ikhwan yang kelak akan menandatangani deklarasi bai'at kepada Daulah Islam, memutuskan untuk menyatakan perang melawan Tanzhim Al-Qa'idah dengan cara mengeksposnya, setelah semua jalan menuju resolusi tertutup. Kami –baik itu Arab maupun non-Arab, muhajirin maupun anshar– memulainya dengan mempertanyakan apa yang tengah terjadi di lapangan, maka kami membuat daftar pertanyaan untuk Tanzhim sehingga bisa bereaksi terhadap mereka. Dan reaksi-reaksi ini akan menjadi pertemuan final yang akan mengakhiri hubungan kami dengan Tanzhim.

Tanzhim berusaha untuk meredakan kemarahan kami dengan membeli hati kami dengan jabatan dan harta, namun atas karunia Allah, mereka gagal. Adapun permintaan yang diajukan adalah:

1. Tanzhim menuliskan aqidahnya, khususnya pandangannya terhadap Rafidhah.
2. Memberikan alasan syar'i atas doa Azh-Zhawahiri kepada thaghut Mursi.
3. Alasan Azh-Zhawahiri menuduh Daulah Islam sebagai Khawarij.
4. Alasan untuk mengubah bentuk jihad dari perang menjadi demonstrasi yang damai dan demi meraih dukungan masyarakat.

Tidak ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, bahkan sampai mujahid terakhir meninggalkan wilayah Miransyah, di mana pada bulan Juni 2014 militer Pakistan memasuki wilayah tersebut dan menutupnya. Pada saat itu, detik itu, ketika kami memberikan cukup waktu bagi Tanzhim untuk berpikir kembali dan bermuhasabah atas kesalahan-kesalahan dan kezhaliman-kezhalimannya, Azh-Zhawahiri sayangnya menggiring Tanzhim ke dalam lobang (kehancuran), bahkan sampai artikel ini ditulis.

Kami memisahkan diri kami dari Tanzhim Al-Qa'idah dan dari penyimpangan-penyimpangan syar'i yang dibuat oleh Azh-Zhawahiri, lalu berbai'at kepada Daulah Islam dan amirnya, Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Baghdadi. Ini disebabkan penggabungan antara tauhid dan syari'at yang kami lihat, sesuatu yang selama ini kami cari, dirindukan oleh jiwa seseorang, menyenangkan hati, dan menenangkan pikiran. Hal inilah yang memaklumatkan akhir dari perjalanan untuk mencari kebenaran, yaitu jalan jihad yang benar dan jalan jama'ah yang akan membawa seseorang ke Firdaus, bi'idznillah.

Ya, kami berbai'at kepada Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Baghdadi setelah sebelumnya saya telah memberikan bai'at imarah kepada Mulla Muhammad 'Umar dan berbai'at kepada Syaikh Usamah. Demikian pula, saya berbai'at kepada Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Hanya karena batalnya syarat-syarat bai'at yang dilakukan oleh Mulla Muhammad 'Umar dan Dr. Aiman Azh-Zhawahiri, yaitu berupa risalah rusak yang ditulis oleh Mulla Muhammad 'Umar kepada kaum Muslimin pada Hari Raya Islam. Adapun untuk Azh-Zhawahiri, maka alasannya adalah penolakannya untuk menerapkan hukum syari'at (dengan argumentasi yang lemah, seperti dalil "maslahat") dan bersikeras untuk itu. Selain itu, dia menutup mata terhadap pelanggaran-pelanggaran fatal syari'at yang dilakukan amirnya Mulla Muhammad 'Umar. Dan karena hal itu, saya tidak bisa disalahkan dan mereka tidak mempunyai hak untuk didengar dan ditaati.

Kemudian Tanzhim terlihat bagai banteng yang mengamuk, tersandung ke sana kemari, sementara kroni-kroninya menyebar, pergi ke setiap tempat dan menemui setiap orang, baik itu mujahidin ataupun bukan, baik kelompok ataupun individu. Mereka berusaha dalam keputusasaan untuk menyelamatkan lembaga yang tengah tenggelam dan berjuang untuk bernafas di air yang dalam, sementara ia sudah kehabisan tenaga dan capek karena kelelahan dan perjuangan di dalam air.

Mereka membuat kebohongan-kebohongan atas kami dan menggambarkan kami dalam bentuk paling kasar: takfiri, Khawarij, pembunuh kaum Muslimin, Wahhabi… dan mereka akan memperingatkan manusia bahwa kita adalah pembunuh yang akan membantai mereka.

Kemudian Tanzhim Al-Qa'idah mulai memainkan fanatisme madzhab, terutama karena masyarakat bermadzhab Hanafi. Mereka juga mengklaim bahwa dengan bai'at ini kami mengumumkan peperangan dengan mereka, madzhab mereka, dan amir mereka. Selain itu, kehadiran kami di wilayah itu sebagai tentara Daulah Islam merupakan penyimpangan bagi mereka dan amir mereka.

Berkat karunia Allah, manusia mulai berduyun-duyun ke arah kami untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan. Sebagian berusaha memperoleh informasi dan sebagian lainnya berusaha mendapatkan klarifikasi atas beberapa syubhat yang disebarkan oleh Tanzhim di antara mereka.

Beberapa ikhwan –semoga Allah membalas mereka– mulai berkomunikasi lewat internet, memperoleh gambar yang diambil dari dalam Daulah Islam, memperlihatkannya kepada penduduk, dan menunjukkan video-video yang dirilis di restoran-restoran dan warung-warung kopi. Ini bisa menjadi sebuah dakwah bagi mereka dan sarana untuk memberikan penerangan tentang Daulah Islam, jihad sebenarnya yang diembannya, serta penaklukan-penaklukan yang Allah berikan. Hal ini mampu memberikan pengaruh positif, baik kepada pihak Anshar maupun penduduk umumnya. Dan ini, dengan rahmat Allah, berkontribusi untuk mengguncang Tanzhim dan orang-orang yang tidak peduli dengan rilisan-rilisan videonya, yang sebenarnya mereka sudah rapuh.

Demikian pula, kelompok-kelompok mujahid di wilayah tersebut mulai membahas beberapa proposal Tanzhim yang terkait dengan paham cinta damai dan mencari dukungan, jihad yang diusung oleh Daulah Islam, dan gagasan mengenai demonstrasi damai yang diusung Tanzhim dengan mengorbankan jihad yang tidak akan bisa melenyapkan thaghut atau menghilangkan kezhaliman dari leher rakyat. Justru itu merupakan sumber terbesar kehancuran. Apa yang terjadi malah terbunuhnya wanita dan anak-anak di lapangan umum dan jalan-jalan di tangan para tentara dan polisi thawaghit, sementara para pembunuh tidak dihukum atas perbuatannya. Sesungguhnya pemikiran seperti inilah yang menciptakan Fir'aun-Fir'aun baru.

Kroni-kroni Al-Qa'idah mengangkat suara mereka. Mereka mengumumkan perang tanpa rasa takut dan malu, karena Tanzhim dengan segera memotong tunjangan bagi keluarga ikhwan yang telah menanda tangani bai'at tanpa mempertimbangkan kehadiran wanita, anak-anak, dan orang sakit. Dengan demikian, harta donasi yang diberikan oleh para dermawan kepada Al-Qa'idah dan para anggotanya yang ditujukan untuk mengangkat jihad, sehingga Allah menerimanya dari mereka sebagai shadaqah, kini telah diputus oleh Azh-Zhawahiri.

Apa yang dilakukan terhadap mereka yang berhak menerimanya adalah tanpa alasan yang jelas, selain karena hasrat mereka kepada kebenaran, mendukung kebenaran, dan menegakkan agama. Sebaliknya, Azh-Zhawahiri memanfaatkannya untuk memerangi kebenaran dan orang-orangnya, subhanallah! Dia akan menemui Allah dalam kondisi seperti itu, jika dia tidak bertaubat dan kembali ke keadaan semula. Dan tidak ada tabir antara Allah dan doa orang yang di zhalimi.

Tanzhim Al-Qa'idah tidak berhenti sampai di situ. Akan tetapi, orang-orangnya pergi ke kelompok Uzbekistan (kelompok Thahir Jan) dan amir mereka 'Utsman, terlepas dari adanya keretakan di antara mereka karena peperangan yang terjadi di kota Wana pada akhir tahun 2008. Tanzhim Al-Qa'idah pada waktu itu melepaskan dukungannya kepada kelompok tersebut, yaitu ketika kelompok Uzbek itu memerangi tentara Pakistan dan sekutunya Nadzir. Mereka beralasan bahwa kelompok Uzbek tersebut takfiri, Khawarij, dan ekstrimis. Akibatnya, banyak anggota kelompok Uzbek terbunuh. Kelompok tersebut diusir secara paksa dari Wana, Waziristan selatan. Mereka kemudian pindah ke Mir 'Ali dan Miransyah. Tanzhim Al-Qa'idah berupaya untuk meminta mereka agar menentang ikhwan yang berbai'at kepada Daulah Islam, namun Tanzhim kembali tanpa hasil.

Mereka bertemu dengan kelompok Rushin dan berbicara dengan amir mereka Hamidullah, sebagaimana juga dengan anggota kelompok lainnya. Mereka bertemu kelompok Uzbek di Afghanistan. Mereka bertemu para ikhwan Tajikistan dan amir mereka 'Abdul Wali. Mereka bertemu dengan Haji Basyir dari kelompok Uzbek. Mereka bertemu dengan ikhwan dari kelompok Turkistan. Mereka bertemu dengan Al-Akh 'Abdullah Asy-Syisyani dari kelompok yang berafiliasi kepada Imarah Islam Qauqaz di Miransyah. Mereka bertemu dengan sekutu Al-Qa'idah, jaringan Haqqani, yang merupakan perwakilan dari Imarah Afghanistan – Imarah Mulla Muhammad 'Umar. Mereka bertemu beberapa ikhwan Tahrik (Pakistan).

Tidak ada satu kelompok pun kecuali mereka temui dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari kami dan dari Daulah Islam serta menghasut mereka melawan kami. Akan tetapi, usaha mereka gagal. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang dibujuk telah memberikan bai'at kepada Daulah Islam ataupun tengah bersiap untuk melakukannya.

Tanzhim bertemu dengan perwakilan Imarah yang ikut merekrut mata-mata untuk Amerika dan intelijen Pakistan, Gud 'Abdurrahman, dalam upaya untuk merekonsiliasi antara Gud 'Abdurrahman dan Al-Qa'idah setelah usaha pembunuhan yang gagal terhadap Gul 'Abdurrahman. Buah dari rekonsiliasi ini ialah mereka bersama-sama berangkulan setelah Gud 'Abdurrahman menyatakan bahwa perangnya adalah terhadap orang-orang yang ingin membunuhnya, dan ia tidak menunjuk kepada Tanzhim Al-Qa'idah. Akan tetapi, ia menunjuk kepada mantan Majelis Keamanan Tanzhim yang telah diusir oleh Thaliban dan berbai'at kepada Daulah Islam.

Tanzhim Al-Qa'idah menerima perwakilan Anshar Al-Islam (Iraq) yang bertujuan untuk melakukan operasi gabungan di Iraq bersama dengan Tanzhim melawan Daulah Islam. Tanzhim mulai memfasilitasi perwakilan tersebut untuk bertemu dengan anggota -anggota Tanzhim Al-Qa'idah Kurdi dengan membawa mereka turun dari gunung ke kota Miransyah untuk melakukan konsultasi dan perencanaan. Konsultasi dan perencanaan ini bertujuan untuk menghimpun personil Tanzhim Kurdi, baik militer maupun syar'i, untuk membantu mereka dalam pelatihan di Afghanistan dan operasi di Iraq setelah melewati Iran. Mereka memproduksi video berjudul "Kamp Latihan Mulla Ghazi 'Abdir-Rasyid". Mulla Ghazi dibunuh oleh militer Pakistan di Islamabad. Kami menganggapnya bagian dari syuhada', dan Allahlah yang menilainya. Allah menggagalkan makar mereka, karena Anshar Al-Islam mengumumkan bai'at mereka kepada Daulah Islam. Demikian pula, futuhat besar yang Allah berikan kepada Daulah Islam di Mosul dan tempat-tempat lain tidak lain kecuali sebagai penghalang atas rencana jahat Tanzhim.

Sungguh hatiku menjadi sejuk tatkala mengingat kembali kelompok Punjab yang jujur meninggalkan Tanzhim Al-Qa'idah. Mereka meninggalkan di belakang segala yang tersisa dari Tanzhim, agar dipermainkan oleh Azh-Zhawahiri dan kelompok Sufi Punjab yang dipimpin oleh dua orang dari sekte Deobandi, 'Ashim 'Umar dan Ahmad Faruq. Mereka itulah yang diserahkan Tanzhim untuk mengelola pusat urat syaraf organisasi tersebut, yaitu As-Sahab Media dalam bahasa Urdu, menghancurkan semua yang tersisa. Sang insinyur Tanzhim, Mukhtar Al-Maghribi – penghubung antara Tanzhim dan kedua orang Deobandi Punjab – mengubah Tanzhim Al-Qa'idah menjadi sebuah Tanzhim beraliran Deobandi dengan nama "Tanzhim Al-Qa'idah di Negeri India" [9]. Lalu mereka menjauhkan diri dari personil muhajirin, tidak merasa butuh kepada mereka.

Ya Allah, akhirilah semua rencana yang berusaha memerangi Daulah Islam. Ya Allah, cerai-beraikan setiap rencana dan musnahkanlah. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa, Rabbul 'Arsy yang agung, agar memelihara Daulah dan menolongnya, membimbing langkah-langkah amirnya di atas kebenaran, mengangkat tinggi panjinya, dan mengizinkan kami untuk menginjak-injak dengan kaki kami setiap orang yang menunjukkan permusuhan dengan kami dan memerangi agama kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pendengar do'a.

Dan penutup do'a kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Saudara kalian, pencari kebenaran – dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati,

Abu Jarir Asy-Syimali
19 Syawal 1435 H / 15 Agustus 2014

Catatan kaki :

[1] Catatan Editor: Kehadiran perbedaan sejarah dalam aqidah dan manhaj antara Abu Mush'ab dan Tanzhim ditunjukkan dalam kata-kata pemimpin tinggi al-Qa'idah –Sayful 'Adl– yang menyatakan, "Poin-poin perbedaan dengan Abu Mush'ab bukan sesuatu yang baru bagi kita dan bukan hal aneh, karena ratusan saudara yang biasa datang kepada kita dari berbagai tempat di dunia, dan kami akan berbeda dengan mereka dalam beberapa hal dan isu-isu. Semua ini adalah karena pemahaman yang berbeda dari beberapa aspek aqidah yang berhubungan dengan Al-wala' wal bara' dan apa yang kemudian mengharuskan dalam hal takfir dan Irja'. Masalah kedua adalah bagaimana bertindak dan menangani keadaan umat sekarang bagi setiap mujahid di wilayahnya dan tanah airnya. Poin yang paling penting untuk Abu Mush'ab adalah sikapnya terhadap pemerintah Saudi dan metode untuk menangani dan mengatasinya dalam tinjauan hukum syar'i terkait dengan kekufuran dan iman." (Tajribati Ma'a Abi Mush'ab az-Zarqawi). Perhatikan bahwa Saiful 'Adl mencoba untuk mengecilkan pentingnya perbedaan-perbedaan ini.

(2) Catatan Editor: Kedua ikhwah tersebut merupakan kalangan sahabat tertua Syaikh az-Zarqawi. Semoga Allah membebaskan mereka dari penjara.

[3] Catatan Editor: Pernyataan Mulla 'Umar, sebagaimana juga pendukung dan imarahnya, merujuk pada kutipannya dalam artikel pada edisi ini berjudul "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri, Al-Harari, An-Nazhari dan Hikmah Yaman yang Hilang".

[4] Catatan Editor: Istilah ini memiliki arti "pelajar" dalam bahasa Pashto dan digunakan untuk merujuk pada kelompok mana pun yang terlihat sebagai "siswa/santri" walaupun mereka tidak masuk dalam satu lembaga atau bahkan mereka saling berperang satu sama lain.

[5] Catatan Editor: Kelompok ini tidak ada kaitannya dengan Anshar Al Islam Iraq.

[6] Catatan Editor: Lihat footnote sebelumnya.

[7] Catatan Editor: Para hakim Imarah bermadzhab Deobandi (Maturidi Hanafi). Mereka memiliki pemikiran irja' dalam menghukumi mata-mata "Muslim" yang murtad dengan membantu kuffar memerangi kaum Muslimin. Mereka juga mempunyai had yang kurang keras atas perbuatan keji ini (perbuatan sodomi) sebagaimana dibandingkan dengan madzhab fiqh lainnya. Pada hakikatnya, Tanzhim memaksa untuk mengembalikan persoalan ke Imarah hanya untuk mencegah hukuman mati terhadap pelaku. Atas dasar ini, penulis dan ikhwan-ikhwan lainnya meminta sebuah pengadilan yang diatur oleh Tanzhim yang independen, lepas dari Imarah.

[8] Catatan Editor: Dengan ini, Tanzhim tidak memiliki alasan lagi untuk tetap berada di bawah sayap Imarah karena mengelak untuk menyidangkan kasus tersebut secara langsung.

[9] Catatan Editor: Kesaksian ini dibuat oleh penulis sebelum diumumkannya Tanzhim cabang India. Lihat dalam edisi ini pada artikel "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri, Al-Harari, An-Nazhari dan Hikmah Yaman yang Hilang", karena berisi pernyataan dari Imarah –demikian yang dikatakan Tanzhim– bertentangan dengan apa yang disebut dengan "ekspansi" Tanzhim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar