DABIQ 13 - ARTIKEL
APAKAH MEREKA TIDAK MENTADABBURI AL-QUR’AN?
TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 84
"Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri. Kobarkan semangat orang mukmin [untuk berperang]. Semoga Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)" [An-Nisa’ : 84].
Al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsir ayat ini, Az-Zajjaj berkata, “Allah ta’ala memerintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berjihad, walau beliau harus berperang seorang diri, karena Dia telah menjamin datangnya pertolongan.” Ibnu Athiyah mengatakan, “Ini adalah makna harbah dari perkataan tersebut, tetapi tidak ada riwayat bahwa jihad hanya wajib atas beliau saja dalam suatu waktu kecuali itu juga wajib atas umat seluruhnya. Maka artinya -Waliahu a’lam- ayat tersebut tertuju pada beliau, tapi ia juga berlaku umum bagi setiap individu; yakni, kalimat untukmu, “Wahai Muhammad”, dan setiap individu dari umatmu adalah, “Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri”. Dan karena sebab ini, maka wajib setiap mukmin untuk berjihad, walau dia harus melakukannya seorang diri. Dan mengenai hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, Aku pasti akan berperang melawan mereka, walaupun seorang diri.” [HR. al-Bukhari dari al-Miswar dan Marwan], juga perkataan Abu Bakar ketika kemurtaddan marak terjadi, “Dan bila tangan kananku melawanku, aku akan berjihad melawannya dengan tangan kiriku”.”
Pernyataan al-Qurthubi ini, beserta ahli tafsir lainnya, menggarisbawahi tentang apa yang dibebankan pada mukmin. Keimanan kepada Allah dan kemudian berusaha meninggikan kalimat -Laa Ilaha Illallah- begitu penting, sehingga jika seseorang tidak punya pilihan lain selain maju dan berperang sendiri untuk mencapai hal ini, maka ia harus melakukannya. Begitu pula, Allah ta’ala mengingatkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang mukmin bahwa setiap diri bertanggung jawab atas dirinya. Dia seharusnya tidak melihat orang lain dan membuat keputusan untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah berdasarkan pada apa yang dilakukan orang lain. Ia juga seharusnya tidak ragu untuk menyerang musuh-musuh Allah ta’ala jika ia mampu melakukannya, bahkan jika ia harus melakukannya seorang diri.
Tentang firman Allah, “tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri”, Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim bahwa al-Bara' Ibnu 'Azib radhiyallahu ‘anhu ditanya, jika seorang pria berhadapan dengan ratusan musuh dan berjuang melawan mereka, apakah ia termasuk orang yang dimaksud di dalam firman Allah, “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” [Al-Baqarah: 195]. Dia menjawab, "Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri. Kobarkan semangat para mukmin [untuk berperang]”.
Jadi, orang-orang beriman haruslah siap untuk berjuang sendiri jika memang diharuskan, serta mengobarkan semangat orang lain untuk turut berjihad. Dia tidak boleh berkecil hati dengan sedikitnya jumlah dan harus memahami bahwa balasan dari amal shaleh akan dilipatgandakan ketika seseorang menghadapi kesulitan yang lebih besar, seperti ketika seseorang tidak menemukan seorangpun untuk mendukungnya dalam memerangi kuffar, namun tetap berani maju ke depan dan meneror musuh-musuh Allah.
Dalam tafsir ayat tersebut, al-Qurthubi kemudian menjelaskan firman Allah, “Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu”, dia mengatakan, "Allah telah menahan serangan musyrikin di Perang Badar Sughra dan mereka berbalik ke belakang dan mengingkari perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi untuk berperang dan bertempur*...
*Perang Badar Sughra yang dimaksud adalah perjanjian untuk berperang antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan musyrikin Quraisy dua tahun setelah Perang Badar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berkemah di Badar selama delapan hari menunggu pasukan musuh datang. Musyrikin menghentikan rombongan mereka yang menuju Badar ketika mereka sampai di Marr adh-Dhahran, dan memutuskan untuk membatalkan peperangan dan dan kembali ke Makkah karena ketakutan mereka.
Allah juga melegakan hati orang-orang beriman di Hudaibiyah dari usaha pengkhianatan kaum musyrikln dan upaya mereka mengambil keuntungan dari perjanjian itu. Maka orang-orang beriman mencium makar mereka, lalu keluar dan menangkap mereka sebagai tawanan, dan ini terjadi ketika kedua utusan antara mereka akan menegosiasikan perdamaian**. Ini adalah apa yang dimaksudkan oleh firman-Nya ta’ala, “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu” [Al-Fath: 24]
**Ini mengacu pada insiden yang terjadi ketika Nabi berkemah di luar Makkah ketika Perjanjian Hudaibiyah sedang dinegosiasikan dengan kaum Quraisy. Banyak pemuda-pemuda Quraisy yang begitu berapi-api melihat para pemimpin mereka akan mengadakan perjanjian dengan Nabi, maka mereka mencari cara untuk menggagalkan negosiasi tersebut. Mereka memutuskan untuk keluar di malam hari dan secara sembunyi-sembunyi maju ke perkemahan Muslim dimana mereka akan memantik peperangan. Sekitar 70-80 dari mereka turun dari gunung at-Tan'im, mencoba untuk diam-diam masuk ke perkemahan Muslim, akan tetapi semuanya tertangkap oleh Muhammad Ibn Maslamah, panglima pasukan Muslim. Nabi kemudian membebaskan mereka semua untuk mensukseskan negosiasi perjanjian. Mengenai ini, Allah menurunkan ayat, “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka.” [Al-Fath: 24].
Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati golongan yang bersekutu [selama perang Khandaq] dan mereka pergi tanpa pembunuhan atau peperangan, seperti firman-Nya ta’ala: “Dan Allah (menahan) tangan kalian dari (membinasakan) mereka.”
Demikian juga, orang-orang Yahudi meninggalkan rumah dan harta mereka [di dekat Madinah] tanpa kaum Muslimin harus berperang melawan mereka.
Maka semua ini adalah karena Allah menahan serangan mereka terhadap orang-orang beriman, terlebih lagi ketika sejumlah besar orang Yahudi dan Kristen meninggalkan perang dan menyetujui perjanjian jizyah dengan penuh kehinaan dan ketundukkan. Demikianlah, Allah menahan serangan mereka terhadap orang-orang yang beriman."
Ayat-ayat ini memiliki pelajaran yang sangat penting bagi orang-orang beriman: Tak peduli seberapa kuat orang-orang kafir itu terlihat, Allah mampu menahan serangan mereka dan menjaganya dari orang-orang beriman, dan Dia mampu melakukannya dengan berbagai cara; baik dengan menimbulkan perselisihan dalam barisan mereka, atau menciptakan kondisi yang mustahil bagi mereka untuk menyerang orang-orang beriman***, atau dengan mengintervensi serangan mereka lalu menghancurkan mereka dengan cara yang tak terbayangkan, karena “Tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu kecuali Dia sendiri” [Al-Muddatsir: 31].
***
Contoh mengenai hal ini pada hari ini adalah, keengganan pasukan salibis untuk mengirim pasukan darat dalam peperangan mereka melawan Khilafah. Hal ini dikarenakan Allah telah menahan serangan mereka yang membuat Daulah Islam terus meluas sementara salibis sibuk mengawasi, menyuap, dan melatih murtaddin agar berperang untuk mereka, dengan usaha mereka yang terbukti tidak membuahkan hasil.
Begitu pula, tak peduli selemah apapun umat ini kelihatannya, Allah mampu memberikan kemenangan kepada hamba-Nya yang shaleh, karena Dia ta’ala berkuasa atas segala sesuatu. Karenanya, kelemahan kekuatan militer kaum muslimin dibandingkan dengan musuh mereka, bukanlah alasan untuk tidak berjihad, karena “Allah berkuasa terhadap urusan-Nya” [Yusuf: 21] dan karena itu Dia akan menolong hamba-Nya dan menganugerahkan mereka kemenangan bahkan terhadap musuh yang memiliki kekuatan berkali lipat daripada mereka. Banyaknya kekuatan mereka tidak berarti, karena “Sesungguhnya tipu daya Syaitan sangatlah lemah” [An-Nisa : 76], dan “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang yang banyak dengan izin Allah” [Al-Baqarah: 249].
Maka berapa banyak lagi jaminan yang dibutuhkan oleh orang- orang mukmin untuk mengerti bahwa kemenangan telah tertulis untuk mereka dan yang harus mereka lakukan hanyalah maju ke depan dan mencarinya!
Ini adalah perkara yang gagal dipahami oleh Bani Israil, ketika Musa ‘alaihis salam memerintahkan mereka maju ke depan dan mengambil tanah yang Allah tetapkan untuk mereka, mereka menggunakan besarnya kekuatan musuh sebagai alasan untuk tidak berjihad fi sabilillah.
“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." [Al-Ma’idah: 21-22].
Kegagalan mereka dalam menempatkan kepercayaan kepada Rabb mereka dan berjihad fi sabilillah telah menggiring mereka kepada hukuman-Nya, yakni mereka dilarang memasuki Tanah Suci dan dibuat berputar-putar kebingungan selama empat puluh tahun.
Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu." [Al-Ma'idah: 26].
Jadi, seorang muslim haruslah waspada dari mengabaikan perintah Allah untuk berjihad di jala-Nya, dan bahkan harus lebih waspada dari menerima alasan-alasan rapuh yang diajukan oleh ulama suu yang mengklaim bahwa umat terlalu lemah untuk berjihad, dan anggapan ini telah dibuktikan salah oleh Daulah Islam hari demi hari.
Semoga Allah mengembalikan umat Islam pada dien mereka dan membimbing mereka kembali ke jalan jihad.
APAKAH MEREKA TIDAK MENTADABBURI AL-QUR’AN?
TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 84
"Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri. Kobarkan semangat orang mukmin [untuk berperang]. Semoga Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)" [An-Nisa’ : 84].
Al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsir ayat ini, Az-Zajjaj berkata, “Allah ta’ala memerintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berjihad, walau beliau harus berperang seorang diri, karena Dia telah menjamin datangnya pertolongan.” Ibnu Athiyah mengatakan, “Ini adalah makna harbah dari perkataan tersebut, tetapi tidak ada riwayat bahwa jihad hanya wajib atas beliau saja dalam suatu waktu kecuali itu juga wajib atas umat seluruhnya. Maka artinya -Waliahu a’lam- ayat tersebut tertuju pada beliau, tapi ia juga berlaku umum bagi setiap individu; yakni, kalimat untukmu, “Wahai Muhammad”, dan setiap individu dari umatmu adalah, “Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri”. Dan karena sebab ini, maka wajib setiap mukmin untuk berjihad, walau dia harus melakukannya seorang diri. Dan mengenai hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, Aku pasti akan berperang melawan mereka, walaupun seorang diri.” [HR. al-Bukhari dari al-Miswar dan Marwan], juga perkataan Abu Bakar ketika kemurtaddan marak terjadi, “Dan bila tangan kananku melawanku, aku akan berjihad melawannya dengan tangan kiriku”.”
Pernyataan al-Qurthubi ini, beserta ahli tafsir lainnya, menggarisbawahi tentang apa yang dibebankan pada mukmin. Keimanan kepada Allah dan kemudian berusaha meninggikan kalimat -Laa Ilaha Illallah- begitu penting, sehingga jika seseorang tidak punya pilihan lain selain maju dan berperang sendiri untuk mencapai hal ini, maka ia harus melakukannya. Begitu pula, Allah ta’ala mengingatkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang mukmin bahwa setiap diri bertanggung jawab atas dirinya. Dia seharusnya tidak melihat orang lain dan membuat keputusan untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah berdasarkan pada apa yang dilakukan orang lain. Ia juga seharusnya tidak ragu untuk menyerang musuh-musuh Allah ta’ala jika ia mampu melakukannya, bahkan jika ia harus melakukannya seorang diri.
Tentang firman Allah, “tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri”, Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim bahwa al-Bara' Ibnu 'Azib radhiyallahu ‘anhu ditanya, jika seorang pria berhadapan dengan ratusan musuh dan berjuang melawan mereka, apakah ia termasuk orang yang dimaksud di dalam firman Allah, “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” [Al-Baqarah: 195]. Dia menjawab, "Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri. Kobarkan semangat para mukmin [untuk berperang]”.
Jadi, orang-orang beriman haruslah siap untuk berjuang sendiri jika memang diharuskan, serta mengobarkan semangat orang lain untuk turut berjihad. Dia tidak boleh berkecil hati dengan sedikitnya jumlah dan harus memahami bahwa balasan dari amal shaleh akan dilipatgandakan ketika seseorang menghadapi kesulitan yang lebih besar, seperti ketika seseorang tidak menemukan seorangpun untuk mendukungnya dalam memerangi kuffar, namun tetap berani maju ke depan dan meneror musuh-musuh Allah.
Dalam tafsir ayat tersebut, al-Qurthubi kemudian menjelaskan firman Allah, “Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu”, dia mengatakan, "Allah telah menahan serangan musyrikin di Perang Badar Sughra dan mereka berbalik ke belakang dan mengingkari perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi untuk berperang dan bertempur*...
*Perang Badar Sughra yang dimaksud adalah perjanjian untuk berperang antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan musyrikin Quraisy dua tahun setelah Perang Badar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berkemah di Badar selama delapan hari menunggu pasukan musuh datang. Musyrikin menghentikan rombongan mereka yang menuju Badar ketika mereka sampai di Marr adh-Dhahran, dan memutuskan untuk membatalkan peperangan dan dan kembali ke Makkah karena ketakutan mereka.
Allah juga melegakan hati orang-orang beriman di Hudaibiyah dari usaha pengkhianatan kaum musyrikln dan upaya mereka mengambil keuntungan dari perjanjian itu. Maka orang-orang beriman mencium makar mereka, lalu keluar dan menangkap mereka sebagai tawanan, dan ini terjadi ketika kedua utusan antara mereka akan menegosiasikan perdamaian**. Ini adalah apa yang dimaksudkan oleh firman-Nya ta’ala, “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu” [Al-Fath: 24]
**Ini mengacu pada insiden yang terjadi ketika Nabi berkemah di luar Makkah ketika Perjanjian Hudaibiyah sedang dinegosiasikan dengan kaum Quraisy. Banyak pemuda-pemuda Quraisy yang begitu berapi-api melihat para pemimpin mereka akan mengadakan perjanjian dengan Nabi, maka mereka mencari cara untuk menggagalkan negosiasi tersebut. Mereka memutuskan untuk keluar di malam hari dan secara sembunyi-sembunyi maju ke perkemahan Muslim dimana mereka akan memantik peperangan. Sekitar 70-80 dari mereka turun dari gunung at-Tan'im, mencoba untuk diam-diam masuk ke perkemahan Muslim, akan tetapi semuanya tertangkap oleh Muhammad Ibn Maslamah, panglima pasukan Muslim. Nabi kemudian membebaskan mereka semua untuk mensukseskan negosiasi perjanjian. Mengenai ini, Allah menurunkan ayat, “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka.” [Al-Fath: 24].
Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati golongan yang bersekutu [selama perang Khandaq] dan mereka pergi tanpa pembunuhan atau peperangan, seperti firman-Nya ta’ala: “Dan Allah (menahan) tangan kalian dari (membinasakan) mereka.”
Demikian juga, orang-orang Yahudi meninggalkan rumah dan harta mereka [di dekat Madinah] tanpa kaum Muslimin harus berperang melawan mereka.
Maka semua ini adalah karena Allah menahan serangan mereka terhadap orang-orang beriman, terlebih lagi ketika sejumlah besar orang Yahudi dan Kristen meninggalkan perang dan menyetujui perjanjian jizyah dengan penuh kehinaan dan ketundukkan. Demikianlah, Allah menahan serangan mereka terhadap orang-orang yang beriman."
Ayat-ayat ini memiliki pelajaran yang sangat penting bagi orang-orang beriman: Tak peduli seberapa kuat orang-orang kafir itu terlihat, Allah mampu menahan serangan mereka dan menjaganya dari orang-orang beriman, dan Dia mampu melakukannya dengan berbagai cara; baik dengan menimbulkan perselisihan dalam barisan mereka, atau menciptakan kondisi yang mustahil bagi mereka untuk menyerang orang-orang beriman***, atau dengan mengintervensi serangan mereka lalu menghancurkan mereka dengan cara yang tak terbayangkan, karena “Tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu kecuali Dia sendiri” [Al-Muddatsir: 31].
***
Contoh mengenai hal ini pada hari ini adalah, keengganan pasukan salibis untuk mengirim pasukan darat dalam peperangan mereka melawan Khilafah. Hal ini dikarenakan Allah telah menahan serangan mereka yang membuat Daulah Islam terus meluas sementara salibis sibuk mengawasi, menyuap, dan melatih murtaddin agar berperang untuk mereka, dengan usaha mereka yang terbukti tidak membuahkan hasil.
Begitu pula, tak peduli selemah apapun umat ini kelihatannya, Allah mampu memberikan kemenangan kepada hamba-Nya yang shaleh, karena Dia ta’ala berkuasa atas segala sesuatu. Karenanya, kelemahan kekuatan militer kaum muslimin dibandingkan dengan musuh mereka, bukanlah alasan untuk tidak berjihad, karena “Allah berkuasa terhadap urusan-Nya” [Yusuf: 21] dan karena itu Dia akan menolong hamba-Nya dan menganugerahkan mereka kemenangan bahkan terhadap musuh yang memiliki kekuatan berkali lipat daripada mereka. Banyaknya kekuatan mereka tidak berarti, karena “Sesungguhnya tipu daya Syaitan sangatlah lemah” [An-Nisa : 76], dan “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang yang banyak dengan izin Allah” [Al-Baqarah: 249].
Maka berapa banyak lagi jaminan yang dibutuhkan oleh orang- orang mukmin untuk mengerti bahwa kemenangan telah tertulis untuk mereka dan yang harus mereka lakukan hanyalah maju ke depan dan mencarinya!
Ini adalah perkara yang gagal dipahami oleh Bani Israil, ketika Musa ‘alaihis salam memerintahkan mereka maju ke depan dan mengambil tanah yang Allah tetapkan untuk mereka, mereka menggunakan besarnya kekuatan musuh sebagai alasan untuk tidak berjihad fi sabilillah.
“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya." [Al-Ma’idah: 21-22].
Kegagalan mereka dalam menempatkan kepercayaan kepada Rabb mereka dan berjihad fi sabilillah telah menggiring mereka kepada hukuman-Nya, yakni mereka dilarang memasuki Tanah Suci dan dibuat berputar-putar kebingungan selama empat puluh tahun.
Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu." [Al-Ma'idah: 26].
Jadi, seorang muslim haruslah waspada dari mengabaikan perintah Allah untuk berjihad di jala-Nya, dan bahkan harus lebih waspada dari menerima alasan-alasan rapuh yang diajukan oleh ulama suu yang mengklaim bahwa umat terlalu lemah untuk berjihad, dan anggapan ini telah dibuktikan salah oleh Daulah Islam hari demi hari.
Semoga Allah mengembalikan umat Islam pada dien mereka dan membimbing mereka kembali ke jalan jihad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar