Rabu, 25 April 2018

RAFIDHAH, DARI IBNU SABA’ HINGGA DAJJAL

DABIQ 13 - FEATURE

RAFIDHAH, DARI IBNU SABA’ HINGGA DAJJAL

Rafidhah dan Yahudi

Tabi’in asy-Sya’bi rahimahullah (wafat 104 H) berkata, “Aku memperingatkanmu terhadap pengikut nafsu yang sesat. Yang terburuk dari mereka adalah Rafidhah, sebab mereka Yahudinya umat ini. Beberapa dari mereka adalah Yahudi yang memalsukan Islam untuk menyebarkan penyimpangan mereka, seperti Paulus dari Yahudi yang memalsukan Kristen untuk menyebarkan penyimpangannya, berharap Yahudi akan berjaya. Rafidhah membenci Islam seperti Yahudi membenci Kristen. Mereka tidak masuk Islam karena mengharapkan Allah atau takut kepada-Nya, melainkan karena dendam kepada umat Islam dan untuk menimbulkan kerusakan di antara mereka. Shalat mereka tidak melampaui telinga mereka. Sungguh, Ali radhiyallahu ‘anhu membakar mereka hidup-hidup dan membuang mereka ke negeri lain. Di antara mereka ada 'Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Shan’a, yang dibuang ke Sabat."

Dia juga berkata, “Sungguh, bencana Rafidhah sama dengan bencana Yahudi. Yahudi berkata hanya dari keturunan Dawud yang sesuai untuk kerajaan. Rafidhah berkata hanya seseorang dari keturunan Ali yang sesuai untuk Imamah. Yahudi berkata tak ada jihad hingga al-Masih datang dan sebuah pedang turun dari surga. Rafidhah berkata tak ada jihad hingga al-Mahdi datang dan seorang penyeru menyeru dari surga dan berkata, “Ikuti dia”. Yahudi menyimpangkan Taurat. Rafidhah melakukan hal yang sama, menyimpangkan al-Qur’an. Yahudi tidak jujur ketika mengucapkan salam kepada orang-orang beriman, mereka berkata, “Semoga “sam” terlimpahkan untukmu”. Dan “sam” berarti kematian. Begitu pula Rafidhah. Yahudi menganggap kekayaan seluruh manusia adalah halal, sebagaima Allah jelaskan dalam Al-Qur’an bahwa mereka berkata, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (orang Arab)” [AIi Imran: 75]. Sama halnya dengan Rafidhah, di mana mereka menganggap kekayaan seluruh Muslim adalah halal. Yahudi menganggap darah seluruh Muslim adalah halal. Sama halnya dengan Rafidhah. Yahudi menganggap menipu manusia adalah halal. Sama halnya dengan Rafidhah. Yahudi membenci Jibrll dan berkata ia adalah musuh mereka dari kalangan malaikat. Begitu pula Rafidhah, beberapa di antara mereka mengklaim bahwa Jibril keliru menurunkan wahyu kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan melupakan AIi radhiyallahu ‘anhu.”[1]

Ini adalah bukti nyata, tak ada keraguan. Yahudi dan Rafidhah adalah dua sisi dari koin yang sama. Agama Rafidhi ("Syi’i") tidak lain adalah makar dari seorang Yahudi -Ibnu Saba’- mengikuti langkah Yahudi pendahulunya Paulus, yang merusak agama murni al-Masih ‘alaihis salam, meninggalkan Kristen di atas penyimpangan Paulus dan bid’ah Salib, dosa bawaan, inkarnasi, penebusan dosa, ketuhanan, anak Allah, dan ketuhanan al-Masih, serta antinomianisme (pengabaian syari’at Musa ‘alaihis salam).

Siapakah Ibnu Saba’?

Si Yahudi Ibnu Saba’, seperti Paulus, membenci Islam dan bernafsu untuk menyimpangkan umat Muslim dan merusak agama mereka dengan menciptakan konsep menyimpang meliputi ketuhanan, keilahian, dan kemunculan kedua Ali bin abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Di waktu yang sama, dia berupaya untuk membuat perselisihan di antara umat Muslim, menghasut untuk melawan Khalifah Rasyidah Utsman radhiyallahu ‘anhu hingga Utsman dibunuh. Pembunuhan Utsman mengawali kematian Muslim lainnya dan akhirnya munculnya Khawarij, yang membunuh AIi radhiyallahu ‘anhu, yang pernah diklaim Ibnu Saba’ sebagai Allah!

Tentang dia, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang pertama membuat bid’ah Rafidhi adalah seorang munafik sesat bernama Abdullah bin Saba’. Ia ingin merusak agama umat Muslim seperti Paulus -pengarang kitab yang dibaca umat Kristen- membuat bid’ah bagi Kristen untuk merusak agama mereka. Paulus adalah seorang Yahudi yang secara munafik memalsukan Kristen dengan maksud untuk merusaknya. Ibnu Saba’ pun adalah seorang Yahudi yang bermaksud sama. Dia berupaya untuk menyebarkan kesesatan untuk merusak agama, namun tak mampu melakukannya. Namun, sejumlah perpecahan dan perselisihan terjadi di antara umat Muslim, perselisihan di mana Utsman radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Kemudian setelahnya Pitnah berlangsung.” [Majmu’ al-Fatawa].

Ath-Thabari rahimahullah berkata dalam tarikhnya, “Ibnu Saba’ masuk Islam di masa Khalifah Utsman. Dia lalu melakukan perjalanan di negeri kaum Muslimin, mencoba menyesatkan mereka. Ia mulai dari al-Hijaz, lalu Bashrah, lalu Kufah, lalu Syam. Dia tidak berhasil mewujudkan makarnya di antara orang-orang Syam. Mereka akhirnya mengusirnya. Ia lalu pergi ke Mesir dan menyeru penduduknya. Di antara yang diucapkannya kepada mereka adalah, “Betapa aneh orang-orang yang mengklaim bahwa Isa akan kembali (turun ke bumi), namun membantah bahwa Muhammad akan kembali, sedangkan Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Dia yang mewajibkan atasmu al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali” [al-Qashash: 85].[2] Karenanya Muhammad lebih layak kembali daripada isa.” Beberapa orang menyambut seruannya dan demikianlah ia membuah bid’ah bagi mereka konsep kemunculan kedua. Mereka mulai membicarakan hal tersebut. Ia kemudian berkata kepada mereka, 'Ada ribuan nabi dan setiap nabi memiliki pewaris. Ali adalah pewaris Muhammad.' Dia kemudian mulai berkata, 'Muhammad adalah nabi terakhir dan Ali adalah pewaris terakhir.' Ia kemudian mulai berkata, 'Siapa yang lebih zhalim daripada seseorang yang tidak melaksanakan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian menusuk pewaris Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengambil alih kewenangan atas umat!' Dia kemudian berkata, Utsman mengambil perkara ini tanpa hak. Ali adalah pewaris Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka bangkitlah demi perkara ini dan provokasilah hal ini. Mulailah dengan memfitnah pemimpinmu. Tampakkan dirimu dalam amar ma’ruf nahi munkar, sehingga engkau mendapatkan perhatian manusia lalu seru mereka kepada perkara ini.' Ia kemudian mengirim penyerunya dan mengirim surat kepada mereka yang telah berbuat kerusakan di bumi dan mereka yang telah mengirim surat kepadanya sebelumnya. Mereka menyeru diam-diam kepada keyakinan yang mereka anut. Mereka menampakkan diri mereka dalam amar ma’ruf nahi munkar, mengirimkan surat ke berbagai wilayah, surat yang memfitnah para pemimpin."

Ibnu Saba' mati sekitar tahun 40 H, setelah menyebarkan benih Rafidhi dan fitnah bagi generasi yang akan datang. Dialah pendiri Rafidhi dan dikenal sebagai penghasut Khawarij. Karena sebab ini, para ulama yang menulis mengenai berbagai sekte yang menyimpang menyebutkannya dalam pembahasan mereka tentang Khawarij di samping tentang Rafidhah. Khawarij tidak muncul melainkan sebagai hasil dari makar Ibnu Saba' terhadap Utsman radhiyallahu ‘anhu. Pengikut Ibnu Saba' kelak akan sama dengan Khawarij dalam hal prinsip dasar bid’ah mereka, karena itu, seperti halnya Khawarij, mereka akan memvonis takfir atas sebagian besar Sahabat, seluruh Muslim, dan semua Khalifah.

Makna dari “Rafidhah”

Akhirnya fitnah Ibnu Saba’ mengarah pada pembentukkan sekte yang dikenal dengan Rafidhah, yang membawa dakwahnya dalam bentuk lain. Sekte tersebut, sebagaimana semua sekte sesat, berkembang seiring berjalannya waktu, semakin membuat-buat ajaran sesat, kekufuran dan kejahatan.

Adapun nama "Rafidhah", berasal dari kata "rafadha" yang berarti menolak. Asal muasal kenapa mereka dinamakan begitu adalah ketika mereka datang ke Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (wafat 122 H) dan memintanya untuk menyatakan bara’ah dari Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum sebagai syarat dukungan mereka. Dia menolak untuk melakukannya dan malah berkata, "Semoga Allah merahmati mereka berdua." Maka mereka berkata kepadanya, "Maka kami menolakmu." Sejak saat itu, mereka disebut "orang-orang yang menolak." Para ulama pun menyebut mereka demikian karena Rafidhah menolak imamah dari Abu Bakar, Umar, dan Utsman, karena mereka menolak Sahabat, karena mereka menolak Sunnah, dan karena mereka pada dasarnya menolak Al-Qur'an dan agama Islam.

Adapun nama "Syi'ah", berakar dari kata "syaya'a" yang berarti mendukung, sebagaimana Rafidhah yang mengklaim mendukung Ali radhiyallahu ‘anhu, yakni lebih mengutamakannya daripada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum.

Adapun nama "Itsna Asyariyah", yang berarti "Yang Dua Belas" dan "Imamiyah", dari kata "Imam," karena keyakinan mereka tentang sederet dua belas imam yang mereka klaim "ma'shum" (tidak pernah salah). Kedua belas imam tersebut adalah Ali Ibnu Abl Thalib dan dua putranya al-Hasan dan al-Husain, yang ketiganya adalah Sahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu al-Husain putra Ali as-Sajjad, anaknya Muhammad al-Baqir, dan kemudian anaknya Ja'far ash-Shadiq, ketiganya adalah ulama penting yang terkenal akan keshalehannya. Setelah mereka, datang Ja'far anak Musa al-Kazhim, anaknya Ali ar-Rida, anaknya Muhammad al-Jawad, anaknya Ali al-Hadi, dan kemudian anaknya al-Hasan al-'AskarI. Semua (tokoh ini) terkenal akan keshalehannya. Tapi tidak satupun dari sebelas orang tersebut beragama Rafidhi, kecuali hanya klaim-klaim palsu yang disebarkan oleh Rafldah.

Adapun "imam" mereka yang kedua belas, ia adalah Muhammad yang diklaim adalah anak al-Hasan al-'AskarI. Dia disebut sebagai "al-Mahdi" oleh Rafidhah. Mereka mengklaim bahwa ia lahir tahun 255 H di Samarra, Iraq dan berita kelahirannya tersembunyi dari masyarakat karena takut ia akan dibunuh oleh Khalifah. Mereka mengklaim bahwa ketika ia berusia lima tahun dan ayahnya meninggal, ia menjadi "imam" di zamannya dan bersembunyi dengan memasuki ruang bawah tanah (gua) di bawah rumah ayahnya. Rafidhah menyebut periode ini sebagai "Al-Ghaibah as-Sughra" (Keghaiban Kecil). Selama periode ini, tidak ada seorangpun yang bertemu dengan "imam" mereka kecuali empat "wakil" atau "utusan", yang menjadi satu-satunya perantara ke dunia luar. "Keghaiban Kecil" ini berlangsung sekitar 70 tahun, yakni ketika "wakil" mereka yang terakhir meninggal pada 329 H. Rafidhah mengklaim bahwa tak lama sebelum kematiannya, wakil terakhir menerima surat dari sang "Mahdi" yang menyatakan, "Kematian akan datang kepadamu dalam waktu enam hari. Maka kumpulkanlah kekuatanmu. Jangan menunjuk siapa pun untuk menggantikanmu setelah kematianmu. Keghaiban besar akan dimulai dengan kematianmu. Kedatanganku kembali akan terjadi hanya dengan izin Allah, setelah waktu yang sangat lama." [Kamal ad-Din - Ibnu Babawaih].

Namun, Ath-Thabari, Ibnu Hazm, dan Yahya Ibnu Sa'id menyatakan bahwa al-Hasan al-'AskarI tidak memiliki keturunan [As-Siyar - adz-Dzahabi] . Bahkan jika seseorang mengklaim bahwa keturunannya telah berhasil menyembunyikan kelahirannya dari khalayak selama 72 tahun, bagaimana ia tetap tersembunyi dari dunia dan hidup selama hampir 1200 tahun? Kalaupun diwajibkan untuk mempercayai hal itu, maka itu akan disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Jadi, tidak ada keraguan bahwa "Mahdi" mereka hanyalah klaim palsu di antara sekian banyak kebohongan Rafidhah, yang mengikuti jejak saudara Bathini mereka. Banyak dari Bathiniyah (sesat sekte yang mengklaim Al-Qur’an memiliki arti tersembunyi yang bertentangan dengan makna harfiahnya) juga percaya adanya seorang "imam" tersembunyi, yang pergi ke dalam keghaiban dan telah memilih "wakil" untuk mewakili, memanggil, atau berkomunikasi dengan sang "imam". Sekte yang paling terkenal adalah Isma’iliyah (Yang Tujuh), yang percaya tentang keghaiban Muhammad bin Ismall bin Ja'far ash-Shadiq, yang mereka klaim disembunyikan oleh ayah dan kakeknya, dan akan datang untuk kedua kalinya.

Karena prinsip-prinsip kejahilan dan penyimpangan yang ekstrem inilah, asy-Sya'bi rahimahullah berkata, "Aku melihat Rafidhah berpegang pada batang yang tidak berakar.[3] Jika aku ingin mereka untuk menawarkan leher mereka untukku sebagai budak, atau memenuhi rumahku dengan emas, atau melakukan ziarah ke rumahku ini agar aku berdusta sekali saja atas nama Ali radhiyallahu ‘anhu, mereka akan melakukannya. Demi Allah, aku tidak akan pernah berdusta atas namanya. Sungguh, aku telah mengamati para pengikut hawa nafsu dan tidak menemukan kaum yang lebih bodoh daripada Rafidhah. Jika mereka burung, mereka adalah burung nasar. Dan jika mereka binatang, mereka adalah keledai."[4]

Hukum atas Rafidah

Selain kejahilan dan penyimpangan mereka yang ekstrem, Rafidhah -baik para pemimpin mereka dan orang awamnya- adalah murtaddin. Amirul Mu’minin Abu Umar al-Husaini al-Baghdadi rahimahullah berkata, "Rafidhah adalah sekte syirik dan murtad." [Qul Inni 'Ala Bayinah Min Rabbi].

Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah berkata, "Perkataan Salaf yang mengkafirkan Rafidhah sudah masyhur. Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang orang yang mengutuk Abu Bakar, Umar, atau Aisyah. Dia menjawab, 'Aku tidak menganggap dia di atas Islam.' [As-Sunnah - Al-Khallal]. Dia juga mengatakan, 'Aku khawatir akan kekafiran mereka -seperti Rafidhah- yang mengutuk Sahabat. Kami katakan bahwa orang yang mengutuk Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah keluar dari agama.' [As-Sunnah - Al-Khallal]. Dia juga mengatakan, 'Rafidhah adalah mereka yang berlepas diri dari Sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mengutuk mereka, merendahkan mereka, dan mengutuk para pemimpin Sahabat kecuali empat orang: Ali, 'Ammar, al-Miqdad, dan Salman. Rafidhah tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam.' [As-Sunnah]. Al-Bukhari rahimahullah berkata, 'Bagiku tidak ada bedanya apakah aku shalat di belakang Jahmi atau Rafidhi atau di belakang Yahudi atau Kristen. Mereka tidak akan didahului dengan salam. Bila mereka sakit maka tidak perlu dijenguk. Mereka tidak boleh dinikahi. Pemakaman mereka tidak boleh dihadiri. Daging sembelihan mereka tidak boleh di makan.' [Khalq Afal al-'Ibad]. Ahmad bin Yunus rahimahullah (wafat 227 H) berkata, 'Bila seorang Yahudi menyembelih domba dan Rafidhi juga menyembelih domba, aku akan makan domba sembelihan orang Yahudi dan tidak makan sembelihan Rafidhi, karena Rafidhi adalah murtad.' [Ash-Sharim al-Maslul - Ibnu Taimiyah].

Ibnu Hazm berkata, 'Rafidhah bukan Muslim.' [Al-Fisal]. Ibnu Taimiyah berkata, “Barang siapa mengklaim bahwa beberapa ayat Al-Qur’an telah dihapus atau disembunyikan... maka tidak ada perbedaan pendapat untuk mengkafirkannya. Dan juga, barang siapa mengklaim bahwa para Sahabat murtad setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecuali sedikit saja yakni tidak lebih dari selusin, atau sebagian besar dari mereka menjadi fasiq (pelaku dosa besar), maka tidak ada keraguan untuk mengkafirkannya, karena ia mengingkari keutamaan mereka yang disebutkan dalam Al-Qur’an di sejumlah tempat. Bahkan, barang siapa yang meragukan kekafiran orang seperti itu, maka mengkafirkannya adalah wajib. Hal ini karena implikasi dari pernyataan tersebut adalah para penyampai Al-Qur’an dan Sunnah adalah orang kafir atau fasiq. Hal ini juga berarti bahwa mereka yang ditunjukkan oleh ayat ini “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” [Ali 'Imran: 110], yakni para generasi terbaik pertama, sebagian besar kafir atau fasiq. Hal ini juga berarti bahwa umat ini adalah seburuk-buruk umat dan pendahulu umat ini adalah orang paling jahat di antara umat ini! Takfir atas orang-orang tersebut merupakan hal yang diketahui secara pasti dalam agama Islam.” [Ash-Sharim al- Maslul]. As-Sam'ani mengatakan, 'Umat berijma' tentang pengkafiran atas Imamiyah karena mereka meyakini Sahabat telah menyimpang dan menolak Ijma' dari Sahabat dan menyandarkan kepada mereka hal-hal yang tidak pantas untuk mereka.' [Al-Ansab]" [Diringkas dari "Hal Ataka Hadits ar-Rafidhah 1"].

Syaikh az-Zarqawi rahimahullah juga berkata, "Para imam Salaf mengkafirkan Rafidhah dan membeberkan jati diri mereka ... Imam Malik rahimahullah berkata, 'Orang yang mengutuk Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak memiliki bagian dari Islam. [As-Sunnah - Al-Khallal]. Imam Malik juga mengomentari ayat berikut: “Demikian sifat-sifat mereka [Sahabat Nabi] dalam Taurat yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunas, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir” [Al-Fath: 29] dengan mengatakan, 'Maka barang siapa yang jengkel kepada Sahabat adalah kafir.' Imam asy-Syafi’i juga mengikuti pemahaman beliau." [Ila Umati al-Ghaliyah].

Keyakinan dan Amalan Kufur Rafidhah

Terdapat beberapa alasan untuk mengkafirkan Rafidhah, beberapa poin penting adalah sebagai berikut:

1) Mereka adalah sekte yang paling terkenal dalam penyembahan kuburan di antara semua sekte-sekte sesat. Banyak penyembah kuburan yang masuk ke dalam "Ahlus Sunnah" berasal dari Rafd dan Rafidhah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Yang pertama kali memalsukan hadlts tentang menziarahi kuil yang dibangun di atas kuburan adalah orang-orang menyimpang lagi sesat seperti Rafidhah dan semacamnya." [Majmu’ al-Fatawa].

Rafidhah kini sujud kepada kuburan dan berthawaf padanya. Mereka berdoa kepada orang yang dikubur dan mencari syafa’at dari mereka. Hati mereka lebih condong pada kuburan daripada Allah! Ini syirik murtad, sesuatu yang mereka semua -baik para pemimpin mereka dan orang awamnya- bersalah. Jika hanya ini kekafiran mereka, maka ini lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa mereka semua adalah orang murtad.

2) Rafidhah mengkafirkan sebagian besar Sahabat, membenci mereka, dan mengutuk mereka. Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab rahimahullah berkata, "Ayat-ayat Al-Qur’an tentang keutamaan Sahabat sangat banyak dan hadlts mengenai hal ini berderajat mutawatir dan secara jelas menyatakan kebaikan mereka. Jadi, barang siapa yang percaya bahwa Sahabat atau sebagian besar dari mereka adalah fasiq atau murtad atau percaya tentang kebenaran dan kebolehan mengutuk mereka, telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, mengingkari keutamaan Sahabat yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya." [Ar-Radd 'Alar Rafidhah]. Dia juga berkata, "Ini adalah penghancuran pondasi yang paling dasar dalam agama, karena pondasi agama ini adalah Al-Qur’an dan Hadits. Jika dikatakan bahwa semua yang belajar dari Nabi adalah murtad kecuali mereka yang sangat sedikit, maka orang-orang akan meragukan Al-Qur’an dan hadits. Dan kami mohon perlindungan dari keyakinan yang berpotensi merobohkan agama." [Ar-Radd 'Alar Rafidhah].

Dengan alasan inilah, sebagian besar Rafidhah -kecuali yang melakukan taqiyah (menutupi kekafiran mereka)- menganggap bahwa ayat Al-Qur’an telah dihapus, diubah, dan dibuat-buat oleh Sahabat dan oleh karenanya Al-Qur’an yang ada pada Ahlus Sunnah tidak benar dan tidak lengkap!

3) Selain sikap menyimpang mereka terhadap sebagian besar Sahabat, Rafidhah menekankan kebencian dan takfir mereka kepada Sahabat terbaik dan terkenal termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka melakukan hal yang sama terhadap istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terutama Aisyah putri Abu Bakar dan Hafshah putri Umar radhiyallahu ‘anhum. Dapatkah seseorang mengklaim dia memiliki iman seberat biji sawi sementara dia membenci istri-istri Nabi dan sahabatnya yang terbaik!

Al-Auza’i rahimahullah berkata, "Barang siapa yang mengutuk Abu Bakar ash-Shiddlq radhiyallahu ‘anhu, maka telah murtad." [Al-Ibanah as-Sughra - Ibnu Baththah]. Al-Firyabi rahimahullah (wafat 212 H) ditanya tentang seseorang yang mengutuk Abu Bakar. Dia menjawab, "Dia adalah kafir." [As-Sunnah - al-Khallal].

4) Rafidhah mencemarkan nama Aisyah radhiyallahu ‘anha dan kesuciannya dan secara tidak langsung (juga menodai) kehormatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dengan jelas mengingkari Al-Qur’an, karena Allah telah berfirman di Surat an-Nur ayat 11 sampai 26, menyatakan Aisyah tidak bersalah. Dan barang siapa yang mengingkari satu huruf dari Al-Qur’an maka ia kafir. Maka seberapa besar kekafirannya jika mengingkari lebih dari selusin ayat Al-Qur’an!

Ibnu Katsir berkomentar dalam tafsirnya, "Para ulama rahimahumullah berijma' bahwa siapa yang mengutuk 'Aisyah dan menuduhnya [berzina] setelah dibacakan padanya ayat-ayat ini dan apa yang disebutkan di dalamnya, maka ia adalah kafir karena menentang Al-Qur’an."

5) Rafidhah bersikap cinta fanatik buta terhadap "dua belas" imam, lebih mengutamakan sebagian dari mereka atas sebagian besar Nabi bahkan mensifati mereka dengan sifat-sifat ketuhanan Allah! Mereka mengklaim bahwa imam memiliki kontrol atas atom-atom di alam semesta, mengetahui hal-hal ghaib, dapat membatalkan Al-Qur’an, dan harus ditaati secara mutlak.

Setelah mengutip berbagai pernyataan dari Rafidhah yang menunjukkan kekafiran mereka ini, Syaikh Muhammad bin 'Abdil Wahhab rahimahullah berkomentar, "Siapa yang mengklaim bahwa selain para nabi lebih utama atau setara dengan para nabi, maka ia melakukan kekafiran. Lebih dari satu ulama telah meriwayatkan Ijma' tentang ini [menjadi kafir]." [Ar-Radd 'Alar Rafidah].

Berbagai bentuk kekafiran yang diyakini dan diamalkan oleh Rafidhah begitu banyak, terutama karena mereka menciptakan penyimpangan baru dari hari ke hari sementara mereka secara bersamaan memerangi Islam dan mendukung tentara salib dan kaum murtad melawan Muslim.

Rafidhah Menurut Para Pengklaim Jihad

Namun, berbagai pengklaim jihad mencoba menggambarkan Rafidhah sebagai sekte "Muslim" yang bodoh. Para pengklaim ini menggunakan dua syubhat utama untuk membenarkan klaim mereka.

1) Klaim bahwa Rafidhah diudzur karena kejahilan: Para pengklaim jihad menggunakan argumen ini sebagai tameng untuk melindungi Rafidhah dari takfir dan diperangi muwahhidln. Jika mujahidin meledakkan lingkungan Rafidhi di Iraq dengan bom mobil yang besar, pengklaim jihad berteriak, "Engkau membunuh Muslim yang bodoh dan tak bersalah! Engkau harus mendakwahi mereka, tidak membunuh mereka! Perang kita hanya dengan Amerika!"

Syubhat ini telah dibantah berkali-kali. Secara ringkas, jika orang yang mengaku Islam menyembah sesuatu atau siapa pun selain Allah, mengolok-olok Allah, atau meninggalkan peribadahannya kepada-Nya secara total, maka ia tidak dianggap sebagai Muslim. Islam adalah ketulusan terhadap Allah dan penyerahan diri kepada-Nya. Syahadat yang menyatakan bahwa tidak ada yang layak diibadahi dan ditaati kecuali Allah. Salah satu syaratnya adalah mengetahui; dan salah satu pembatalnya adalah berpaling dari belajar dasar-dasar keislaman. Berbeda dengan Murji'ah dan saudara-saudara mereka dari para pengklaim jihad, Islam bukan hanya klaim saja tanpa tindakan nyata. Jika itu benar, sebagian besar konflik antara Muslim dan kuffar akan diselesaikan tanpa perlu peperangan. Tapi kenyataan inilah -bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan- yang sangat menjengkelkan kuffar. Mereka ingin bahwa sebagaimana mereka telah meninggalkan sebagian besar amalan yang diamanatkan oleh Taurat dan Injil mereka yang telah diubah sementara berpegang dengan nama "Kristen", supaya kaum muslimin melakukan hal yang sama. “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama” [An-Nisa': 89].[5]

Ibnu Aba Buthain rahimahullah (wafat 1282 H) mengkritik mereka yang mengudzur orang-orang seperti awam Rafidhi, dan mengatakan, "Jika seseorang berkomentar tentang Rafidhah zaman ini bahwa mereka diudzur karena kejahilan terhadap tindakan mereka mengutuk Abu Bakar, Umar, dan 'Aisyah karena Rafidhah adalah pengikut buta lagi bodoh, para ulama dan orang-orang awam akan mencelanya!" [Ad-Durar as- Saniyah].

Itu lebih dari satu abad lalu dan dalam masalah mengutuk sahabat utama. Berapa banyak lebih layak dicela orang yang mengudzur Rafidhah berkaitan dengan syirik besar!

2) Klaim bahwa sebagian ulama tidak mengkafirkan semua Rafidhah: Ini adalah pemutarbalikkan salah satu dari dua hal.

Pertama: Mereka merujuk kepada ulama yang tidak mengkafirkan semua "Syi'ah," yang merupakan nama yang lebih umum dibandingkan Rafidhah, seperti orang yang mengutamakan 'Ali daripada Abu Bakar dan Umar namun masih mengakui Khalifah Abu Bakar dan Umar dan status Sahabat mereka. Ini adalah fenomena yang telah punah, yang sekarang hanya ada di kitab tarikh yang menjelaskan ahlul bid’ah. Adapun Zaidiyah masa kini, maka mereka telah di-Rafidhi-sasi oleh propaganda Iran, menjadikan mereka sebuah sekte yang ikut mengutuk Sahabat setelah sebelumnya meniru Rafidhah dalam penyembahan kuburan.

Kedua: Mereka merujuk kepada sebagian ulama yang tidak mengkafirkan Rafidhah secara keseluruhan. Namun fatwa mereka harus dipahami dalam konteks sejarah, karena para pemimpin Rafidhah telah mempratekkan taqiyah selama berabad-abad ketika tinggal di bawah penguasa Muslim, menyembunyikan banyak aspek agama mereka dari ulama Sunni, masyarakat, dan bahkan dari kalangan awam mereka sendiri hingga munculnya negara Shafawi di bawah kepemimpinan Isma’il ash-Shafawi di abad kesepuluh Hijriah. Setelah itu, mereka terang-terangan menampakkan aqidah kufur Bathini mereka dan tanpa malu-malu mempratekkan syirik akbar yang didiktekan kepada mereka, secara terbuka mengajak golongan mereka ke agama kufur terang-terangan, tanpa meninggalkan satupun awam Rafidhi terlepas dari kemurtaddan. Hal ini terjadi selama periode "kebangkitan" yaitu ketika Muhammad Baqir al-Majlisi menjadi pajabat agama resmi negara Shafawi. Dia menulis beberapa kitab berpengaruh dan menyebarkan propaganda "kebangkitan", meninggalkan efek abadi pada Rafd dan Rafidhah.

'Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu'Abdil Wahhab berkata setelah menyebutkan fatwa dari Ibnu Taimiyah tersebut di mana ia mengkafirkan para Rafidhah yang mengkafirkan sebagian besar Sahabat, "Ini hukum yang berlaku atas mereka di awal. Adapun generasi berikutnya hingga sekarang, mereka telah menambahkan syirik besar pada Rafd mereka. Mereka mempraktekkan syirik di kuil sampai ke taraf yang mana orang-orang Arab, yang kepadanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diutus, tidak sampai melakukannya." [Ad-Durar as-Saniyah].

Muhammad Ibnu 'Abdil Lathif Alu Asy-Syaikh juga berkata setelah menyebutkan fatwa Ibnu Taimiyah, "Ini adalah hukum mereka di awal. Adapun sekarang, maka keadaan mereka jauh lebih buruk, karena telah bertambah penyimpangan mereka dengan menyembah para wali dan orang shaleh dari Ahlul Bait, percaya bahwa Ahlul Bait bisa mendatangkan maslahat dan mudharat bagi mereka, berdoa pada mereka baik pada kesulitan dan kemudahan. Mereka percaya bahwa ini adalah perbuatan yang mendekatkan mereka kepada Allah dan agama yang harus mereka taati. Jadi barang siapa yang ragu akan kekafiran mereka setelah itu, maka ia bodoh akan realita yang dengannya para Rasul diutus dan dengannya kitab-kitab diturunkan. Sehingga dia harus mengecek kembali agamanya sebelum datang waktu kematiannya." [Ad-Durar as-Saniyah].

Syaikh Hamd al-Humaidi -salah satu ulama yang baru saja dibunuh Alu Salul dan yang telah berbai'at kepada Daulah Islam- mengomentari perkataan Ibnu 'Abdil Lathif, dengan mengatakan, "Itu di zamannya, lalu bagaimana jika ia melihat zaman ini dan perbuatan syirik mereka di Makkah dan al-Madinah, dan di kuburan al-Baqi' dan lainnya?" Dia kemudian berkomentar, "Oleh karena itu laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama mereka termasuk kuffar." [Aqwal Ahlil Islam Fil Hukmu 'Alar Rafidhah].[6]

Syaikh az-Zarqawi menanggapi kritikan al-MaqdisI terhadap serangan pada Rafidhah dengan jawaban yang serupa. [Bayan wa Taudih Li Ma Atsarahul Maqdisi].

Memelintir perkataan sebagian ulama untuk mengklaim bahwa Rafidhah adalah "Muslim", sama saja dengan mengambil perkataan Salaf terhadap Sufi di zaman mereka -Sufi awal yang kesalahannya terbatas pada zuhud dan waswas berlebihan- lalu menyalahgunakan pernyataan ini kepada kaum penyembah kuburan, Sufi Jahmi di zaman berikutnya, sehingga mengklaim bahwa Sufi awal adalah Muslim yang sesat, Sufi musyrik yang berikutnya juga "Muslim" yang sesat! Kami berlindung pada Allah atas penyimpangan ini.

Penyimpangan Para Pengklaim Jihad

Azh-Zhawahiri berkata, "Kami menganggap Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam) sebagai salah satu sekte mubtadi' yang membuat-buat bid'ah dalam aqidah yang mencapai taraf mengutuk Abu Bakar, Umar, Ummul Mu’minin, dan sebagian besar Sahabat dan Tabi'in. Mereka [Syi’ah] menganggap mereka telah kafir, terang-terangan mengutuk mereka, dan menganggap Al-Qur’an telah diubah... dan mereka membuat bid’ah dalam aqidah seperti mengklaim kema’shuman dua belas imam dan bahwa imam mencapai tingkat yang tiada seorang nabi atau malaikat pun dapat mencapainya... Adapun bagi mereka yang bodoh dan percaya pada aqidah yang salah ini karena hadits yang mereka anggap shahih sementara kebenaran tidak mencapai mereka atau mereka bodoh karena orang awam, maka mereka diudzur karena kebodohannya." [Mauqifuna Min Iran].

Dia juga mengatakan dalam suratnya yang terkenal mencela Syaikh az-Zarqawi: "Jika menyerang beberapa pemimpin Syi'ah diperlukan [seperti klaimmu], maka mengapa engkau menyerang orang awam Syi’ah? Bukankah hal ini menyebabkan keyakinan sesat mereka akan mengakar lebih dalam di hati mereka, sedangkan kewajiban atas kita adalah berbicara kepada mereka dengan dakwah dan menjelaskan serta menyampaikan kebenaran kepada mereka sehingga mereka mungkin akan mendapat petunjuk? Akankah mujahidin dapat membunuh semua Syi'ah di Iraq? Apakah dalam sejarah ada Negara Islam yang pernah melakukannya? Mengapa orang awam Syi’ah harus dibunuh padahal mereka diudzur karena kebodohan mereka? Dan apakah ada yang hilang jika kita tidak menargetkan Syi’ah?... Dan apakah saudara kami lupa bahwa kita dan Iran saling membutuhkan, tidak merugikan satu sama lain di masa ini di mana orang Amerika merupakan target kita bersama?"

Perkataannya di surat lain yang mencela penargetan kuil, pasar, dan lingkungan Rafidhi bahwa ia meyakini "perbuatan ini menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, karena darah wanita, anak-anak, dan awam Syi’ah - kecuali pejuang mereka” adalah terjaga, sebab mereka diudzur karena kejahilan."

Dia lalu melanjutkannya dengan mengejek, "Apakah engkau ingin membunuh semua Syi’ah Iraq? Kemudian setelah itu, semua Syi’ah Teluk dan Jazirah Arab? Kemudian Syi’ah Iran, Syam, dan seluruh dunia?!"

Dia juga berkata, "[Para mujahidln] tidak boleh memerangi sekte menyimpang seperti Rafidhah, Isma’iliyah, Qadiyaniyah, dan Sufi yang sesat, selama sekte tersebut tidak memerangi Ahlus Sunnah. Jika mereka memerangi Ahlus Sunnah, maka perlawanan harus terbatas pada pejuang mereka, sementara pada saat yang sama kita harus memperjelas bahwa kita hanya membela diri kita. Kita harus menghindari menyerang kalangan mereka yang bukan pejuang, keluarga mereka, rumah mereka, tempat ibadah mereka, perayaan dan pertemuan keagamaan mereka... Adapun daerah yang dikontrol dan dikuasai mujahidln, maka sekte ini harus diperlakukan dengan bijaksana setalah dakwah, memberikan pencerahan, menyingkap syubhat, dan amar ma’ruf nabi munkar dengan cara yang tidak menyebabkan bahaya yang lebih besar, seperti mujahidin diusir dari daerah tersebut atau masyarakat memberontak melawan mereka atau fitnah disebarkan, sehingga musuh mujahidin akan memanfaatkannya untuk merebut wilayah tersebut." [Pedoman Umum untuk Amal Jihadi].

Kebijakan Azh-Zhawahirl terhadap Rafidhah jelas didasarkan pada keyakinan sesat bahwa mereka "Muslim". Adapun klaimnya bahwa tidak ada Negara Islam sepanjang sejarah yang pernah berusaha untuk membunuh Rafidhah, maka itu adalah karena kebodohannya. Eksistensi Rafidhah Itsna Asyariyah pada era Khulafa'ur Rasyidin, Umawiyah, dan 'Abbasiyah tidak sebagaimana keadaan mereka pada saat ini, karena pada saat itu mereka adalah sekte minoritas yang bertaqiyah, tidak pernah memiliki kekuasaan politik maupun kekuatan militer untuk mewujudkan dan menyebarkan kekufuran dan kesyirikan mereka secara terang-terangan, suatu kondisi yang berubah setelah munculnya negara Shafawi empat ratus tahun yang lalu.

Adapun nasionalis Taliban, maka mereka mirip dengan Al-Qa'idah Zhawahiri, menganggap Rafidhah sebagai saudara- saudara mereka dan secara terbuka mencela mereka yang menyerang Rafidhah.

'Abdullah al-Wazir, koresponden resmi dari komite media nasionalis Taliban, berkata, "Syi’ah adalah Muslim... Semua orang yang mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah adalah seorang Muslim. Terdapat banyak sekte-sekte dan Allah akan memutuskan di antara mereka pada Hari Perhitungan."

Nasionalis Taliban juga membanggakan pertemuan mereka dengan pejabat Rafidhi Iran, dengan mengatakan, "Baru-baru ini perwakilan tinggi yang dipimpin oleh Muhammad Thayib Agha, kepala dewan politik Imarah Islam, berkunjung ke negara tetangga Iran. Selama kunjungan, anggota delegasi bersama para pejabat Iran membahas situasi Afghanistan saat ini, wilayahnya, dunia Muslim, dan kondisi pengungsi Afghanistan di Iran. Perlu dicatat bahwa kunjungan ini adalah bagian dari sekian banyak kunjungan rutin yang dilakukan Imarah Islam ke berbagai negara di dunia untuk membahas topik bilateral serta membangun, memperluas, dan memperkuat hubungan." [Pernyataan Juru Bicara Resmi Imarah Mengenai Perwakilan Tinggi Yang Dikirim Ke Iran].

Nasionalis Taliban juga membela negara Rafidhi Iran -baik pemerintahnya maupun rakyatnya- dengan mengatakan, "Imarah Islam Afghanistan mengecam hukuman terbaru dari Dewan Keamanan (PBB) terhadap Republik Islam Iran dan celaan terhadap negara ini dan rakyatnya. Imarah menyatakan keputusan ini tidak valid. Imarah Islam, sesuai dengan sikap simpati terhadap negara-negara, menganggap ancaman ekonomi yang terakhir maupun sebelumnya dari Dewan Keamanan adalah pelanggaran berat dan penindasan terhadap hak-hak Iran dan rakyatnya. Dalam hal ini, kami mengatakan bahwa efek merugikan dan akibat buruk dari peringatan ini dirasakan langsung oleh masyarakat Iran. Maka kami menuntut agar semua perkara diselesaikan dan semua masalah diselesaikan melalui diskusi dan saling memahami." [Pernyataan dari Komite Politik Imarah Mengenai Beberapa Kejadian Mengenai Afghanistan dan Dunia].

Nasionalis Taliban juga mengutuk serangan terhadap saudara mereka Rafidhi, dengan mengatakan, "Dua ledakan yang tidak diketahui sumbernya terjadi pada hari 'Asyura tanggal 10 Muharram 1433 H tahun ini di Kabul dan Mazar-i-Sharif yang menyebabkan sejumlah warga negara tak bersenjata dilumuri oleh darah mereka sendiri dan menyebabkan keluarga mereka menghadiri ritual kesedihan dan berkabung. Sejak awal, Imarah Islam amat sangat mengutuk serta mengecam kedua insiden tersebut. Pada tanggal 15-1-1433 H, kepala dewan syura Imarah Islam Afghanistan mengadakan pertemuan darurat membahas hal ini. Di pertemuan tersebut diadakan diskusi mendalam membahas dua insiden itu. Para pejabat menyatakan bahwa tindakan ini menjadi konspirasi yang di plot oleh musuh yang telah kalah. Telah diputuskan bahwa bangsa kita harus waspada dan cerdas terhadap perbuatan dan tindakan yang dilakukan oleh musuh dan tidak mengizinkan siapa pun untuk memicu permusuhan, pertikaian, dan perpecahan di antara satu bangsa kita apakah berdasarkan sekte, suku, bahasa, atau wilayah sehingga untuk mencegah mereka mencapai tujuan jahat dan buruk mereka. Dewan syura juga meminta agar semua kelompok politik dan agama di negara ini memberikan prioritas kepada kepentingan bersama dan bangsa daripada kepentingan mereka dan anggotanya selama krisis tersebut. Mereka seharusnya tidak membuat pernyataan untuk mencapai tujuan politik mereka sehingga merusak kesatuan bangsa kita dengan hal-hal yang hanya akan melemparkan minyak pada api yang telah dinyalakan musuh."

"Selama pertemuan itu, juga ditekankan bahwa musuh pada saat kritis seperti ini, yakni sebelum penarikannya yang sebentar lagi, akan mengulurkan tangannya, sesuai dengan kebiasaan buruk mereka dalam memanfaatkan kejadian seperti hari berkabung 'Asyura. Dia berusaha untuk menanam benih kemunafikan dan perpecahan di antara negara kesatuan Afghanistan untuk memecah belah persatuannya. Hal ini terjadi karena musuh telah gagal dalam mencapai semua skema dan konspirasinya, sehingga ia ingin memanfaatkan acara ini sebagai bayonet sebagai aksi balasan dendam terhadap bangsa kita yang tertindas dan miskin atas semua kekalahan mereka. Tapi bangsa kita yang waspada dan bersatu tidak akan kehilangan kesabaran. Tidak akan ceroboh. Tidak akan pernah tertipu oleh rencana yang dilakukan oleh musuh seperti ini. Rencana mereka akan gagal seperti semua rencana dan konspirasi lainnya. Pada akhir pertemuan setelah membahas dua insiden tersebut dari semua sisi, dirilis pernyataan yang mengandung hal-hal berikut.

1) Imarah Islam menyatakan belasungkawa kepada semua keluarga yang menderita dan dirugikan oleh kedua insiden. Kami juga sangat mengutuk semua insiden seperti ini.

2) Imarah Islam menganggap insiden ini sebagai perbuatan dan rencana penjajahan dan permusuhan bagi Afghanistan. Kami memanggil segenap warga negara untuk memenuhi tanggung jawab Islam kemudian tanggung jawab nasional mereka dan bekerja sama satu sama lain untuk mencegah insiden serupa, karena, seperti kejadian ini, tindakan musuh adalah melawan semua warga negara dan membahayakan tanah air Afghanistan.

3) Imarah Islam berharap agar semua ulama dan tokoh Syi’ah di Afghanistan untuk sepenuhnya waspada setelah apa yang terjadi pada mereka dan mengajarkan realitas pada masyarakat, bahwa dengan masalah ini tidak berarti terjadi permusuhan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Mereka seharusnya mengabaikan pernyataan tidak bertanggung jawab yang dilontarkan oleh sebagian agen musuh dalam negeri, yaitu mereka yang menggunakan kejadian ini sebagai penggambaran kedengkian sektarian dan domestik. Agen musuh melakukannya untuk mencapai tujuan pribadi dan menyenangkan atasan mereka.

4) Imarah Islam memerintahkan semua mujahidin untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan melaksanakan tugas yang telah ditugaskan pada mereka untuk lebih fokus dalam rangka mencegah hal-hal mengerikan seperti ini terulang kembali." [Laporan Pertemuan Darurat Dewan Syura Imarah dan Pernyataan Dirilis pada Dua Serangan pada Hari 'Asyura' di Kabul dan Mazar-i-Sharif].[7]

Mereka berbelasungkawa pada Rafidhah dan menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dengan mereka melawan mujahidin!

Manhaj Zarqawi terhadap Rafidhah

Sangat baik jika seseorang membandingkan penyimpangan Zhawahirl dan nasionalis Taliban ini dengan rencana Syaikh az-Zarqawi untuk membersihkan Iraq dari Rafidhah.

Syaikh Abu Mush’ab rahimahullah berkata dalam suratnya yang terkenal kepada Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah, "Rafidhah adalah hambatan yang sangat berat, ular yang mengintai, kalajengking penipu dan pendengki, musuh yang berkeliaran, racun yang mematikan. Kami di sini berperang dalam dua tingkat. Perang pertama adalah perang yang terbuka dan tampak dengan musuh yang agresif dan kufur yang jelas. Yang kedua adalah perang yang sulit dan sengit dengan musuh licik yang berpenampilan seperti seorang teman, menunjukkan persetujuan, dan menyeru kepada kesatuan, sementara ia menyembunyikan kejahatan dan membuat makar siang dan malam, setelah mengambil warisan dari semua sekte Bathini yang pernah muncul sepanjang sejarah, meninggalkan bekas luka pada wajahnya di mana hari demi hari tak dapat terhapus. Pengamat yang teliti dan pemantau yang bijaksana menyadari bahwa Syi’ah adalah bahaya yang mengancam dan tantangan yang nyata. “Mereka adalah musuh, maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah menghancurkan mereka, bagaimana mereka tertipu?” [Al-Munafiqun: 4]. Pesan sejarah telah dikonfirmasi oleh bukti kejadian terkini, dengan jelas menginformasikan kepada dunia bahwa Syi’ah adalah agama yang tidak sejalan dengan Islam kecuali sebagaimana Yahudi bersatu dengan Kristen di bawah label "Ahlul Kitab”. Syi’ah mengandung segala hal dari syirik yang nyata, menyembah kubur, berthawaf di makam, mengkafirkan Sahabat, mengutuk Ummul Mu’minin dan orang-orang terbaik umat ini, hingga mengklaim penyimpangan Al-Qur’an -kesimpulan logis dari fitnah mereka terhadap pembawanya- selain klaim ma'sumnya imam mereka dan bahwa keimanan kepada mereka dan pengakuan atas penerimaan wahyu mereka merupakan pondasi keimanan serta berbagai kekafiran lain dan perwujudan zindiq yang memenuhi buku karangan dan referensi utama mereka. Dan mereka tidak berhenti untuk mencetak, mendistribusikan, dan mempublikasikan buku dan referensi tersebut."

"Para pemimpi yang berpikir bahwa Syi’ah dapat melupakan warisan sejarah dan kedengkian kelam lamanya terhadap Nawasib -sebagaimana Rafidhah melabeli Ahlus Sunnah- adalah keliru. Ia seperti orang yang meminta 'Kristen' meninggalkan pemikiran tentang al-Masih yang disalib [dan masih menyebut dirinya 'Kristen']. Apakah manusia yang cerdas melakukannya?"

Dia kemudian berkata, "Rafidhah adalah sebuah kelompok pengkhianat dan melakukan pengkhianatan sepanjang sejarah dan zaman. Ini adalah sekte yang permusuhannya diarahkan terhadap Ahlus Sunnah."

Dia kemudian terus menjelaskan bahwa Rafidhah mulai membubarkan milisi mereka dan bergabung dengan pemerintahan Iraq yang baru dibentuk, tentaranya, dan pihak keamanannya di bawah pengawasan dan dengan bantuan Amerika. Rafidhah menyadari bahwa konflik langsung antara mereka dan Ahlus Sunnah hanya akan membahayakan kepentingan Rafidhi dengan bangkitnya Ahlus Sunnah untuk berjihad. Rafidhah percaya bahwa konflik seperti itu harus ditunda sampai diraihnya kestabilan pemerintahan yang disokong salibis yang dikontrol oleh Rafidhah sendiri. Dan mereka melakukan banyak kejahatan terhadap Ahlus Sunnah sebelum pemerintahan semacam ini tegak, namun selalu secara diam-diam, membunuh banyak mujahidin, ulama, intelektual, dokter, dan insinyur, sambil mengambil keuntungan dari fakta bahwa mereka tidak seperti Amerika yang sangat jelas, Rafidhah berbahasa Arab, tampak seperti orang Iraq, dan mengetahui wilayah Iraq dengan baik. Hal ini membuat mereka menjadi hambatan yang lebih besar dan musuh yang lebih berbahaya daripada Amerika. Rafidhah pun memanfaatkan keluguan Ahlus Sunnah, dengan bertaqiyah dan menyembunyikan kekufuran dan permusuhan mereka. Sebagai hasil dari skema ini, sebagian besar mujahidln yang terbunuh selama awal invasi Amerika sebenarnya dibunuh oleh Rafidhah.

Setelah pembahasan ini, ia menyatakan, "Rafidhah: Mereka adalah kunci untuk berubah. Maksudku mereka harus ditarget dan diserang dalam bidang agama, politik, dan inti militer mereka. Hal ini akan memicu mereka untuk menampakkan dendam mereka terhadap Ahlus Sunnah dan unjuk gigi atas kedengkian Bathini yang bernanah di dada mereka. Jika kita berhasil, maka ini akan membangkitkan kaum Sunni yang terlelap, karena mereka akan merasakan bahaya dan dekatnya kematian di bawah genggaman Saba'iyah [pengikut Ibnu Saba'] ini. Ahlus Sunnah, meskipun lemah dan terpecah-belah, namun lebih tajam pisaunya dan lebih teguh dan jujur di medan perang daripada Bathiniyah ini, karena Rafidhah adalah kaum pengkhianat dan pengecut. Mereka hanya menyerang yang lemah. Mereka hanya menyerang yang tak berdaya. Ahlus Sunnah secara umum memahami bahaya orang-orang ini, berhati-hati dan khawatir akan akibat yang ditimbulkan jika kekuasaan diberikan kepada Rafidhah. Jika bukan karena pemimpin pengecut Sufi dan Ikhwan yang menghalang-halangi, umat ini akan jauh lebih baik."

"Hal ini, selain untuk membangunkan mereka yang tertidur, juga akan memotong kuku Rafidhah dan mencabut gigi taring mereka sebelum perang yang tak terelakkan terjadi. Juga diharapkan ini mampu memicu kemarahan rakyat kepada Amerika, yang membawa kehancuran dan menyebabkan kejahatan ini. Hal ini pun akan mencegah orang untuk menikmati waktu luang dan meraih kelezatan yang telah dilarang bagi mereka, yang akan membuat mereka mengalah pada kenyamanan, condong kepada dunia, mengutamakan keselamatan, dan berpaling dari dentingan pedang dan ringkikan tunggangan."

"Metode Operasi: Kondisi kami mengharuskan kami menghadapi masalah ini dengan keberanian dan kejelasan dan berusaha keras untuk sebuah solusi... Solusi yang kami yakini, dan Allah Maha Tahu yang terbaik, adalah dengan menelanjangi Rafidhah dan membangkitkan kesadaran Ahlus Sunnah untuk melawan dan menghentikan mereka. Karena beberapa alasan:
A) Rafidhah telah menyatakan perang tersembunyi terhadap Muslim. Mereka adalah musuh yang dekat lagi berbahaya bagi Ahlus Sunnah. Meskipun Amerika juga merupakan musuh utama, tetapi Rafidhah jauh lebih berbahaya dan lebih kejam terhadap umat daripada Amerika...
B) Mereka bersekutu dengan Amerika, menolong mereka, berdiri di barisan mereka dalam memerangi mujahidin, dan mengorbankan dan terus mengorbankan segala yang berharga untuk Amerika demi untuk menghabisi jihad dan mujahidin.
C) Perang kita terhadap Rafidhah adalah cara untuk memicu dan membangkitkan kesadaran umat untuk pertempuran ini.”

Dia juga mengatakan pada tempat lain, "Tidak mungkin bagi kaum muslimin untuk mencapai kemenangan melawan kuffar yang berbahaya dari kalangan Yahudi dan Kristen kecuali dengan menghabisi kaki tangan murtad mereka -terutama Rafidhah- di sekitar Muslim. Ini yang telah sejarah paparkan pada kita, sebagaimana Baitul Maqdis, yang jatuh di tangan Tentara Salib dengan bantuan Rafidhah 'Ubaidi, tidak bisa direbut kembali kecuali melalui tangan Shalahuddln, meskipun Nuruddin Mahmud Zanki lebih keras perlawanannya terhadap Tentara Salib daripada Shalahuddln. Namun Allah ta’ala menakdirkan bahwa kemenangan dan pembebasan Baitul Maqdis di tangan Shalahuddln. Tapi kapan? Setelah ia memerangi Rafidhah 'Ubaidi selama bertahun-tahun dan benar-benar menghapus dan menghancurkan negara mereka. Setelah itu, ia memusatkan usahanya untuk memerangi Tentara Salib sampai kemenangan tercapai dan ia merebut kembali Baitul Maqdis, yang telah bertahun-tahun dikuasai Tentara Salib karena pengkhianatan dari Rafidhah."

"Ini adalah pelajaran sangat penting yang diajarkan sejarah pada kita. Kita tidak boleh melupakan pelajaran ini. Kita tidak akan pernah menang melawan kafir asli[8] kecuali setelah memerangi kafir murtad tanpa melupakan kafir asli. Kemenangan Islam yang terjadi di masa al-Khulafa ar-Rasyidin hanya datang setelah membersihkan Jazirah Arab dari kaum murtad." [Hal Ataka Hadits ar-Rafidhah].

Perbedaan antara kedua manhaj ini disebabkan karena masalah takfir. Syaikh Abu Mush'ab menganggap darah Rafidhah wajib untuk ditumpahkan, sehingga ia tidak ragu dalam melaksanakan operasi yang menyebabkan kematian mereka. Setiap hari, kota-kota dan lingkungan Rafidhi di Irak menjadi sasaran bom mobil dan bom truk. Sebaliknya, azh-ZhawahirI menganggap bahwa darah najis Rafidhah haram ditumpahkan, sehingga ia mengecam setiap upaya menghidupkan kembali jihad melawan kafir murtad!

Apakah Rafidhah Murtad atau Kafir Asli?

Pertanyaan ini membingungkan beberapa orang jahil, karena mereka berpikir bahwa menyatakan Rafidhah murtad mengharuskan Rafidhi yang dibesarkan diatas Rafd pernah menjadi "Muslim" sebenarnya. Orang jahil ini kemudian mengklaim bahwa siapapun yang menyatakan Rafidhah murtad, maka dirinya sendiri yang murtad, karena menurut mereka orang tersebut menyatakan kekafiran sebagai Islam.[9] Tapi pemahaman mereka tidak lain hanyalah kebathilan.

Thalhah bin Musarrif rahimahullah (wafat 112 H) berkata, "Wanita Rafidhah tidak boleh dinikahi. Daging sembelihan Rafidhah tidak boleh dimakan. Hal ini dikarenakan mereka adalah orang murtad." [Al-Ibanah as-Sughra - Ibnu Baththah].

Pernyataan tentang kemurtadan Rafidhah baik secara kelompok maupun individu dikutip dari banyak ulama dari berbagai zaman. Ini juga pendapat Ibnu Taimiyah dan yang lainnya tentang sekte Bathiniyah termasuk Druze, Nushairiyah, dan Isma’iliyah, dimana sekte-sekte itu terbentuk seabad sebelum masa ulama tersebut. Hukum ini tidak ada kaitannya dengan individu Rafidhi atau Bathini yang pernah menjadi Muslim dan memenuhi syarat Islam. Ini seperti kita menghukumi orang munafik yang mengaku Islam lalu kemudian menyatakan kemunafikannya atau seorang Yahudi yang mengucapkan syahadat tetapi dia hanya bercanda. Orang yang dibesarkan sebagai Rafidhi diperlakukan sebagai murtad, meskipun ia belum pernah benar-benar menjadi Muslim. Ini telah menjadi hukum para ulama selama berabad-abad berkenaan dengan kelompok murtad manapun.[10]

Hukum ini mengharuskan Rafidhah diperlakukan dengan pedang atas kemurtaddannya, yang berbeda dengan pedang terhadap kafir asli. Perbedaan antara dua pedang tersebut adalah sebagai berikut:
1) Orang murtad dapat dibunuh setelah ia ditawan bahkan jika ia menyatakan pertaubatan.
2) Orang murtad tidak bisa membayar jizyah untuk menjadi dzimmi.
3) Tidak ada perjanjian keamanan dengan pihak murtaddin.
4) Pria murtad tidak dapat diperbudak.
5) Orang murtad tidak dapat dibebaskan dengan uang tebusan.
6) Orang murtad tidak dapat dibebaskan dengan grasi.
7) Orang murtad dapat dipaksa kembali kepada Islam. Dan sebagainya.[11]

Klaim bahwa Rafidhah adalah kafir asli menyebabkan mereka tidak boleh dibunuh setelah bertaubat dalam penawanan, bahwa mereka bisa tetap menjadi Rafidhah, membayar jizyah, dan menjadi ahludz dzimmah, bahwa perjanjian bisa ditandatangani dengan mereka, bahwa laki-laki mereka bisa diperbudak, bahwa mereka bisa dibebaskan melalui grasi atau uang tebusan, dan bahwa mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam! Bahkan seseorang yang sesat lagi bodoh mungkin mengklaim mereka lebih pantas untuk dihukumi sebagai Ahlul Kitab seperti orang Yahudi dan Kristen, karena Rafidhah memiliki kitab, meskipun mereka anggap itu telah diubah!

Jika seseorang mencari kitab atsar dari Salaf, ia tidak akan menemukan sepotong dalil yang mendukung pendapat aneh di atas.

Pada akhirnya, fakta bahwa Rafidhah adalah murtad mengharuskan kita lebih keras dalam menebaskan pedang jihad ke leher menjijikkan mereka.

Kejahatan Rafidhah Terhadap Ahlus Sunnah

Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah (wafat 198 H) berkata, "Tidak ada yang memusuhi terhadap satu Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecuali menyimpan permusuhan yang lebih terhadap sisa umat Islam lainnya." [Al-Ibanah as-Sughra - Ibnu Baththah].

Wallahi, ia berkata benar. Bagaimana mungkin seseorang menyimpan permusuhan terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq dan putrinya Aisyah -dua orang yang dikatakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai orang yang paling dicintainya di bumi- dan kemudian tidak membenci Muslim pada umumnya sama sekali?!

Demikianlah, Rafidhah berperan dalam hampir setiap konspirasi yang dilancarkan terhadap Islam.

Ibnu Taimiyah berkata, "Karena mereka menganggap Muslim lebih kufur daripada Yahudi dan Kristen, mereka mengambil musuh dien ini sebagai sekutu dekat mereka, mereka yang permusuhannya diketahui semua orang, seperti Yahudi, Kristen, dan kafir. Mereka menyimpan permusuhan terhadap wali-wali Allah yang merupakan orang-orang terbaik dari dien ini dan para pemimpin orang-orang shaleh." [Minhaj as-Sunnah].

Dia pun berkata, "Tiap insan yang berakal harus merenungi peristiwa-peristiwa jahat, penuh fitnah, dan kerusakan pada zamannya dan (zaman) sebelumnya. Ia akan menemukan sebagian besar peristiwa tersebut berasal dari Rafidhah. Engkau akan dapati mereka sebagai makhluk terburuk dalam membuat fitnah dan berbuat jahat." [Minhaj as-Sunnah].

Oleh karena itu, Syaikh az-Zarqawi rahimahullah berkata, “Dengan mengingat sejarah, kesaksian di masa lalu, tanda-tanda kejadian masa kini, dan pengalaman hidup kita hari ini, kita akan benar-benar memahami arti “Mereka itulah musuh, maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka; bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” [Al-Munafiqun: 4]. Sepanjang sejarah, mereka telah menjadi duri di tenggorokan kaum muslimin, belati di punggung mereka, tikus yang menghancurkan bendungan, dan jembatan yang dilalui oleh musuh umat ini."

"Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata benar ketika ia menjelaskan kondisi mereka setelah menjelaskan takfir mereka kepada kaum Muslimin, ia berkata 'Dengan alasan inilah, mereka membantu kuffar melawan umat Muslim. Mereka pun membantu Mongol. Mereka adalah salah satu sebab terbesar bagi Jenghis Khan, raja kuffar, untuk menjajah tanah ummat Muslim. Mereka pun menjadi sebab bagi penjajahan Hulagu Khan ke Iraq, mengambil alih Aleppo, dan menjarah as-Salihiyah. Mereka pun melakukan banyak pengkhianatan lainnya dengan penuh kedengkian dan tipu daya. Atas alasan ini, mereka menjarah tentara Muslim yang lewat dekat mereka dalam perjalanan kembali ke Mesir setelah peristiwa pertama. Atas alasan ini, melalui perampokan bersenjata, mereka menghancurkan jalan raya kaum Muslimin. Atas alasan ini, mereka mendukung Mongol dan kaum Frank melawan Muslim. Kesedihan terbesar mereka tunjukkan ketika Islam kembali meraih kemenangan. Demikian pula, ketika Muslim menaklukkan tepian 'Akkah dan wilayah sekitarnya, Rafidhah mendukung Kristen dan mengutamakan mereka daripada kaum muslimin... Semua yang kupaparkan hanya sebagian dari kejahatan mereka, sedangkan perkara ini jauh lebih besar. Terdapat dendam dan amarah di dada mereka -sesuatu yang tak dapat ditemukan dalam hati orang lain- yang ditujukan untuk semua kelompok dan tingkatan umat Muslim. Menurut mereka, ibadah terbesar adalah mengutuk wali-wali Allah... Rafidhah adalah kaum yang paling berusaha untuk memecah Jama'ah kaum muslimin. Salah satu prinsip terbesar mereka adalah mentakfir dan mengutuk para pemimpin Muslim terbaik seperti al-Khulafa' ar-Rasyidin dan para ulama, karena semua orang yang tidak percaya pada ma'sumnya imam yang ghaib tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Rafidhah mencintai Mongol dan negeri mereka, karena melalui itu mereka meraih kemuliaan yang tidak dapat mereka peroleh di tanah kaum Muslimin. Jika Muslim mengalahkan orang Kristen dan musyrikln, itu akan menjadi duri di tenggorokan Rafidhah. Jika musyrikln dan Kristen mengalahkan umat Islam, ini akan menjadi perayaan dan sukacita bagi Rafidhah.” [Majmu’ al-Fatawa]. Itulah akhir perkataannya, rahimahullah. Seolah-olah dia hidup di antara kita menggambarkan apa yang ia saksikan dengan matanya sendiri, ketika ia berkata, 'Dan juga, jika Yahudi membangun negara di Iraq atau tempat lain, Rafidhah akan menjadi pendukung terbesar mereka, karena mereka selalu menolong kuffar dari musyrikin, Yahudi, dan Kristen. Mereka membantunya dalam berperang dan melawan Muslim’ [Majmu' al-Fatawa]." [Ila Ummati al-Ghaliyah].

Rafidhah berada di belakang awal fitnah di masa pemerintahan Utsman, Ali, dan Mu'awiyah. Rafidhah berada di balik kematian al-Husain radhiyallahu ‘anhu. Rafidhah memerangi Khilafah 'Abbasiyah dengan nama negara 'Fathimiyah". Mereka menolong Mongol melawan Khilafah 'Abbasiyah dan raja-raja Muslim setelahnya. Mereka menolong kaum Frank dan Tentara Salib dalam penjajahan Syam dan Palestina. Mereka berperang melawan Ahlus Sunnah melalui negara Shafawi. Mereka membantu Amerika dalam invasi Afghanistan dan Iraq. Mereka menolong rezim Nushairi di Syam dan mendirikan sebuah negara milisi Rafidhi di Yaman. Mereka akan terus memerangi Muslim sampai Rafidhah akhirnya bergabung dengan Yahudi di bawah panji Dajjal.

Rafidhah dan Dajjal

Dalam banyak kesempatan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan kita tentang Dajjal, bahkan memerintahkan Muslim untuk meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan dan fitnah Dajjal lima kali sehari (pada doa sebelum salam). Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan banyak sifat-sifat Dajjal.

Dalam Sunnah, Dajjal digambarkan memiliki kulit merah dan berbadan besar [HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar].

Rambutnya juga digambarkan sangat keriting [HR. Muslim dari Ibnu Umar].

Ia juga digambarkan berkulit coklat [HR. Imam Ahmad dari Junadah Ibnu Abi Umayah].

Ia juga dijelaskan sebagai Yahudi [HR. Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri].

Ia juga digambarkan berada di sebuah pulau di bagian timur laut, dirantai dan dipenjarakan [HR. Muslim dari Fathimah Binti Qais].

Dia digambarkan berasal dari Timur dalam perjalanannya ke Madinah [HR. Muslim dari Abu Hurairah].

Bumi dilipat baginya sehingga dia bisa melaluinya dalam 40 hari [HR. Ibnu Hibban dari Fathimah Binti Qais].

Dia tidak akan meninggalkan satupun mata air di bumi kecuali akan berhenti disitu [HR. Imam Ahmad dari Jabir].

Dia akan melewati puing-puing dan memerintahkannya untuk menghasilkan kekayaan darinya; lalu harta itu akan mengikutinya seperti lebah [HR. Muslim dari an-Nawwas Ibnu Sam'an].

Sifat-sifat yang disebutkan di atas mirip dengan yang dijuluki sang "Mahdi" yang dijelaskan dalam kitab-kitab kaum Rafidhah.

Rambutnya sangat keriting [Ilzam an-Nasib - al-Ha'iri].

Dia berkulit coklat [Al-Ghaibah - at-Tusi].

Dia memiliki perut besar [Al-Ghaibah - an-Nu'mani].

Dia berkulit merah [Al-Ghaibah - an-Nu'mani].

Dia tampak seperti orang-orang Bani Isra'il [Ilzam an-Nasib - al- Ha'iri].

Dia saat ini berada di pulau hijau di lautan dan dirantai untuk perlindungan [Ilzam an-Nasib - al-Hairi].

Dia terlantar dan sendirian [Biharul Anwar - al-Majlisi].

Dia akan memulai seruannya dari timur [Biharul Anwar - al-Majlisi].

Bumi akan dilipat untuknya [Ilzam an-Nasib].

Dia tidak akan meninggalkan satu mata air di bumi kecuali ia akan berhenti disitu [Kasyful Ghummah - al-Irbili].

Harta bumi akan bermunculan untuknya [I'lam al-Wara – at-Tabrasi].

"Malaikat" dan dia akan membawa pedang milik keluarga Dawud ‘alaihis salam [Al-Kafi - al-Kulaini].

Dia akan mengeluarkan perahu Musa dan Harun dan menaklukkan kota-kota dengannya [Ar-Raj'ah - al-Ihsa’i].

Dia akan memiliki tongkat Musa dan cincin Sulaiman [I'lam al-Wara - at-Tabrasi].

Dia akan memiliki catatan dari Musa [Al-Kafi - al-Kulaini]

Tidak diragukan lagi, riwayat palsu yang dibuat-buat lalu dikaitkan dengan Ahlul Bait benar-benar menggambarkan Dajjal - sang "Mahdi" orang Yahudi. Meskipun semua riwayat tersebut telah dibuat-buat, Rafidhah selalu mengikuti apa saja yang dikatakan oleh kebohongan, karena mereka menganggapnya sebagai pilar terbesar agama mereka. Apakah riwayat itu dipalsukan oleh Yahudi mengikuti jejak Ibnu Saba'? Apakah riwayat itu adalah makar dari Dajjal yang disampaikan ke Rafidhah melalui syaithan? Apakah riwayat itu diwahyukan kepada Rafidhah oleh syaithan dalam mimpi? Wallahu a'lam bish shawwab.[12]

Kesimpulan

Inilah Rafidhah. Diawali oleh Yahudi licik, mereka adalah sekte murtad yang tenggelam dalam penyembahan terhadap orang mati, mengutuk para sahabat terbaik dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menyebarkan keraguan mengenai perkara paling mendasar dalam agama (Al-Qur’an dan Sunnah), memfitnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, dan mengutamakan "dua belas" imam diatas Nabi dan bahkan diatas Allah!

Semua pengikutnya mengambil bagian kemurtaddan dari ketua dan pemimpin mereka. Jadi, tidak ada perbedaan antara orang awam Rafidhi dan "ulama"-nya kecuali di dalam hati orang berpenyakit dari para pengklaim jihad, Rafidhah tidak hanya menolak Abu Bakar dan Umar, mereka pun menolak Islam dan hal paling mendasar dalam agama. Dan sepanjang sejarah, mereka tidak pernah ragu untuk bekerja sama dengan Yahudi, Kristen, dan orang kafir melawan Islam dan kaum muslimin.

Jadi, Rafidhah adalah musyrik murtad yang harus dibunuh dimanapun mereka berada, sampai tidak ada Rafidhi yang berjalan di muka bumi, bahkan jika pengklaim jihad membenci hal ini dan bahkan jika pengklaim jihad membela Rafidhah dengan mulut-mulut mereka siang dan malam. Rafidhah dan pendiri mereka Ibnu Saba' membenci para khalifah kaum Muslimin, menyebarkan perselisihan di barisan mereka, mendorong perbedaan pendapat, dan memerangi khilafah terdahulu dengan dalih "amar ma’ruf nahi munkar", sebuah ciri yang dimiliki baik pengklaim jihad maupun Rafidhah.

Oleh karena itu tidak mengherankan jika pengklaim jihad hari ini berperang melawan Daulah Islam sembari mengutuk penargetan kuil Rafidhi, pasar, dan lingkungan mereka.

Akhirnya, Rafidhah menunggu Dajjal Yahudi, yang mereka plot untuk didukung bersama Yahudi untuk melawan kaum Muslimin. Sehingga, seiring munculnya tanda-tanda Kiamat, seorang Muslim harus menepis keraguan yang disebarkan oleh penyeru kepada pintu Jahannam dan seharusnya -sembari berjihad- merenungkan kondisi Rafidhah, pihak yang meniru mereka, dan pihak yang membela mereka, dan kemudian memohon kepada Allah untuk menjaga hatinya tetap teguh pada Islam, melindunginya dari kejahatan Dajjal dan semua fitnah lainnya, serta menyinari hatinya dengan kebenaran, sampai ia bertemu Allah dan Dia ridha kepadanya.

Catatan kaki :

[1] Berbagai pernyataan asy-Sya'bi diriwayatkan oleh al-Khallal dalam "as-Sunnah", al-Lalika’i dalam "Syarh Ushul al-I'tiqad," Ibnu Taimiyah dalam "Minhaj as-Sunnah," dan yang lainnya.

[2] Para ulama tafsir berkata bahwa ayat ini adalah janji bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau akan kembali sekali lagi ke Makkah setelah dipaksa keluar darinya.

[3] Yakni mereka memiliki klaim dan amalan tanpa dasar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

[4] Lihat catatan kaki #2.

[5[ Irja' secara umum serta pemahaman berlebihan tentang kejahilan sebagai udzur tersebut telah dibantah di beberapa artikel Dabiq. Lihat edisi 8: "Irja', Bid'ah Paling Berbahaya", edisi 7: "Islam Adalah Agama Pedang", edisi 6: "Al-Qaidah azh-Zhawahiri... Dan Hilangnya Kebijaksanaan Yaman", dan edisi 10: "Hukum Allah atau Hukum Manusia."

[6] Dalam karyanya, ia mengutip beberapa ulama Salaf di mana mereka mengkafirkan Rafidhah. Mereka yang tidak disebutkan di artikel ini antara lain: 'Abdullah Ibn al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu Abi Thalib (wafat 145 H), 'Abdullah Ibnu Mush'ab Ibnu Tsabit Ibnu Abdullah Ibnu az-Zubair (wafat 184 H), 'Abdur Rahman Ibnu Mahdi (wafat 198 H), 'Abdur Razzaq ash-Shan'ani (wafat 211 H), al-Qasim Ibnu Salam (wafat 224 H), Bisyr Ibnu al-Harits (wafat 22 7 H), Abu Zur'ah ar-Razi (wafat 264 H), dan Abu Hatim ar-Razi (meninggal 277 H). Semoga Allah merahmati mereka semua.

[7] Azh-Zhawahiri dan pemimpin Taliban memiliki banyak statemen yang membela Rafidhah. Sebagai contoh lihat Dabiq, edisi 6, "Al-Qa'idah azh-Zhawahiri ... Dan Hilangnya Kebijaksanaan Yaman."

[8] Catatan Editor: Kaflr asll adalah kafir yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam, seperti kaum Yahudi, Kristen, Hindu, dll. Adapun kafir yang pernah menjadi Muslim dan menjadi Yahudi atau Kristen, maka ia adalah murtad. Demikian juga kafir yang mencampuradukkan Islam dengan kekafiran dan syirik -seperti Rafidhah, thawaghit, dan Nushairiyah- maka mereka juga murtaddin.

[9] Salah satu contoh dari fenomena kebodohan ini disebutkan dalam Dabiq, edisi 6, "Membongkar Sel Khawarij," halaman 31.

[10] Yang pertama kali mengklaim hal sebaliknya adalah as-Sanani (wafat 1182 H). Pendapatnya dikritik oleh 'Abdul Lathif Alu asy-Syaikh (wafat 1293 H) di "Misbah azh-Zhalam."

[11] Rincian mengenai hal ini dapat ditemukan dalam buku-buku flqh.

[12] Untuk lebih banyak sifat dari "Mahdi" Rafidhi, silakan lihat Dabiq, edisi 11: "'Al-Mahdi' Rafidhah: Dajjal."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar