RUMIYAH 3 - SYUHADA
ABU MARIYAH AL-IRAQI
PANGLIMA MEDIA PERANG SPEICHER, PEMBURU FRAGMEN PERISTIWA DAN KREATOR VIDEO
Nama aslinya adalah Abbas Munzhir Abbas ar-Rafi’i, sang singa pemberani, suksesor gerbong pertama para tokoh media semisal Maisarah al-Gharib, Nashir al-Jazrawi, dan sederet kesatria lainnya yang meninggalkan kesan mendalam di ranah media, juga penjagal kaum Rafidhah dan Salibis. Abu Mariyah menimpakan luka bagi mereka di sana-sini, memerangi mereka dengan senapannya di suatu tempat, dan menantang mereka dengan kameranya di banyak tempat. Kemudian perjalanannya berakhir sebagai amir (kepala) i’lam ‘askari (media ketentaraan) di wilayah-wilayah timur (al-wilayah asy-syarqiyah).
Abu Mariyah al-Iraqi menempuh jalan perang dengan senjatanya. Perjalanan meniti jalur maut, pembunuhan, dan serpihan jasad, justru semakin menguatkan keteguhannya. Sebuah jalan yang takkan pernah membuatnya takut. Bahkan dia acapkali berkata kepada sahabat-sahabatnya sambil bercanda, “Siapa yang takut mati, tidak usah menjadi temanku.”
Terbunuh di jalan Allah adalah cita-citanya, keridhaan Dzat Yang Maha Pengasih adalah doa yang dipanjatkan untuk dirinya, merengkuh surga adalah harapannya kepada Rabbnya. Seolah-olah seorang penyair berucap melalui lisannya di kala dia bersenandung:
Aku menanggung pasukan maka aku tak mengapa
Aku ‘kan sambut ia atau pun yang selainnya
Aku miliki jiwa merindukan sesuatu yang mulia
Akan binasa kelak atau akan kutunaikan hasratnya
Gurun al-Jallam mengenalnya sebagai mutiaranya Wilayah Shalahuddin, yang merupakan negeri para pahlawan dan gudangnya para kesatria. Ia merupakan negeri titik awal berbagai penaklukkan yang mana kesatria kita ini banyak mendokumentasikan seluruh peperangan dan perkembangan peristiwanya di waktu sulit dan sempit. Yaitu hari ketika sengatan musim panas membakar wajah mujahidin, dan bekunya musim dingin mengoyak kulit mereka.
Hari-hari nan penuh cobaan membuatnya bersinar, semakin kokoh, dan pengalaman-pengalaman di masa itu semakin mengasah keahliannya. Dia juga banyak mengambil manfaat dari para masyayikh (ulama) jihad yang berperang dan hilir-mudik di medan-medan perangnya, semisal Syaikh Abu al-Mughirah al-Qahthani rahimahullah. Dia benar-benar merupakan sebaik-baik komandan dan pimpinan, sangat tawadhu, jujur, lagi pemimpin yang baik.
Seorang yang bertaqwa dan jujur, suka menasehati saudara-saudarnya agar berhati-hati terhadap dosa pribadi dan kemaksiatan-kemaksiatan karena kelalaian. Dia juga senantiasa mengarahkan saudara-saudaranya agar mengikhlaskan niat karena Allah dalam beramal, dan supaya batin selalu bersesuaian dengan kondisi lahirnya.
Sebagaimana Abu Mariyah juga takut terhadap riya dan ujub, serta memperingatkan rekan-rekannya dari kedua perasaan tersebut. Sampai pada tingkatan bahwa dia tidak pernah menampakkan sabuk peledak yang tidak pernah dilepasnya, namun dia kenakan di balik pakaiannya. Lalu pistol pribadinya pun bersembunyi di balik rompi militer yang tak pernah ditanggalkannya.
Tak hanya itu, dia benar-benar sangat mengawasi dirinya, sehingga jika engkau menyaksikannya mendengar pujian atas dirinya, dia berkata, “Aku takut kelak datang di Hari Kiamat, lalu dikatakan kepadaku: ‘Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan,’ (al-Furqan: 23)
Abu Mariyah al-Iraqi berpartisipasi dalam penaklukkan, kemudian masuk ke Tikrit, ad-Daur, al-Ilm, Baiji, dan ash-Shiniyah dengan penuh tawadhu dan memuji Allah. Alih-alih membuatnya berubah, kemenangan dan tamkin (kekuasaan) justru semakin meningkatkan sikap tawadhunya kepada Allah Rabb Semesta Alam.
Dia mulai melakoni kewajiban jihad ketika berusia 14 tahun. Dia masuk ke penjara di kota al-Ahdats, al-Mathar, kemudian penjara Kamp Bucca. Dia ikut mendekam di berbagai sel penjara menyertai saudara-saudara dan ayahnya. Walaupun masih kecil, dia menolak untuk berpisah dari ayahnya, meskipun di dalam penjara sekalipun, demi melayaninya serta meringankan penderitaannya akibat belenggu dan pemenjaraan. Namun sipir Salibis enggan selain memisahkan keduanya, merusak kekompakkan keduanya, sebagaimana kekompakkan keluarga mereka tercerai-berai di luar tembok penjara. Keluarga Abu Mariyah senantiasa berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lainnya. Terkadang mereka tinggal di kota al-Ishaqi, kadang di Balad, di ad-Daur, di adh-Dhulu’iyah, al-Karmah, terkadang di Tikrit, sampai akhirnya tinggal menetap di Mosul.
Di salah satu stasiun pemberhentian di kota Balad, Abu Mariyah mengambil satu toko untuk dijadikannya sebagai titik pengintaian konvoi pasukan Salibis, untuk kemudian menyerangnya dengan bom termal, bersama-sama dengan rekan-rekan jihadnya. Kemudian dia pun ditangkap disebabkan aktivitasnya itu.
Abu Anas, saudara laki-lakinya terbunuh dalam jihad memerangi pasukan Salibis, dan membuat Abu Mariyah semakin kokoh menapaki jalan jihad, yang mana saat itu dia berada di awal masa mudanya. Lalu saudaranya yang kedua, yaitu Abu Maryam, juga terbunuh. Dan dia adalah seorang dokter yang menolak pergi meninggalkan Tikrit saat dikepung pasukan Rafidhah. Bagaimana bisa dia pergi dan meninggalkan pasien-pasiennya yang mencapai 200-an korban luka-luka di Rumah Sakit Tikrit, sedangkan dia seorang ahli bedah yang sangat dibutuhkan. Maka dia pun tetap teguh dan tidak meninggalkan pekerjaannya. Lalu ketika waktu konfrontasi dengan Rafidhah semakin dekat, dia meledakkan mereka dengan sabuk peledaknya, dan menjadi anggota keluarga kedua yang syahid. Hal ini membuat Abu Mariyah semakin yakin akan kebenaran manhaj yang dilalui dirinya dan keluarganya.
Selanjutnya, tibalah giliran saudara laki-lakinya yang ketiga, yaitu Abu Thalhah, seorang petempur penyerbu yang membuat Rafidhah berdarah-darah di Kamp Speicher. Dia kerapkali membuat mereka menderita di banyak tempat dan pertempuran. Dan dia terbunuh seiring dengan gugurnya Syaikh Umar Asy-Syisyani, beberapa pekan sebelumnya.
Abu Mariyah termasuk salah seorang yang banyak membunuh tentara Rafidhah, terutama saat membantai mereka di Kamp COB Speicher. Dia merupakan pelopor pertempuran via media, bahkan dengan tangannya sendiri dia menerapkan hukum Allah bagi orang-orang Musyrik Rafidhah.
Abu Mariyah termasuk awak media (i’lami) Wilayah Shalahuddin yang paling menonjol. Berbagai video yang diproduksi di bawah pengawasannya –di bawah kepemimpinannya di Kantor Media Wilayah Shalahuddin— menempati posisi-posisi teratas dalam peringkat umum rilisan video Daulah Islam. Hal tersebut kemudian menghantarkannya menduduki posisi amir sektor i’lam ‘askari (media militer) di Wilayah-Wilayah Timur (al-Wilayah asy-Syarqiyah). Dia membuat i’lam ‘askari tak ubahnya sel lebah yang tidak mengenal senyap dan diam (baca: bekerja tiada henti), meskipun dia sangat menolak dibebani posisi tersebut.
Selain memproduksi lebih dari 25 video jihad, dia pun mendapatkan kehormatan untuk berpartisipasi dalam puluhan rilisan video lainnya yang berpengaruh besar dalam meningkatkan semangat juang, menguatkan tekad, dan meneror musuh-musuh agama. Sampai-sampai, orang-orang menyukai suara pelannya dari balik kamera, yang memekikkan takbir seraya mengulang-ulang, “Pembalasan untuk ibunda kami, Aisyah!” sembari mengangkangi jasad balatentara Rafidhah.
Sebagaimana Abu Mariyah juga merupakan salah seorang singa pertempuran Baiji, dan termasuk orang yang mendokumentasikan pertempuran di kilang Baiji. Dia menerobos ke dalam pertempuran sambil berlari, bersama dengan kader-kader media binaannya. Padahal saat itu Baiji sedang dikepung oleh pasukan Rafidhah dan milisi-milisinya, di tengah timah panas kesyirikan dan kemurtadan para sniper (penembak jitu), di bawah pesawat tempur Salibis yang meliuk-liuk di langit kilang Baiji. Abu Mariyah berlari sepanjang dua kilometer di tanah terbuka di tengah berondongan peluru, untuk menemui mujahidin di dalam kilang. Dan dia pun keluar dengan cara yang sama setelah selesai mendokumentasikan pertempuran.
Langit cita-cita dan ambisinya sangat menjulang tinggi. Di dalam dirinya terdapat kepercayaan besar bahwa dia akan merealisasikan segala hal yang dikehendakinya. Betapa tidak, dialah yang membentuk berbagai tim media dan merevolusi media, ketika dia menduduki singgasana tertinggi di i’lam ‘askari (media militer) dan meletakkan sejumlah fondasi sempurna lagi kokoh bagi masa depan i’lam ‘askari. Dia mendelegasikan tugas dan misi secara sukses, tidak menjadikan tugas hanya terfokus atau bergantung pada dirinya saja secara eksklusif. Demikianlah, agar terjamin bahwa tugas tidak terhenti dengan absennya salah seorang awak media atau terbunuhnya amir.
Abu Mariyah amat bersikeras agar ada ikhwah lainnya yang mau menggantikan posisinya untuk mengemban amanah berat tersebut, dan dia dapat fokus bekerja sebagai juru kamera dalam banyak peperangan dan pertempuran. Sehingga di sana dia bisa memposisikan dirinya di medan-medan pertempuran dan di front-front yang mempertaruhkan dirinya, meskipun dia terikat tugas-tugas berat di pekerjaan barunya.
Dia adalah sosok yang sangat merindukan atmosfer jihad dan debu pertempuran, serta mengiringi para muqatil (petempur). Dia merasa tidak nyaman untuk hidup jauh dari mereka. Oleh karenanya, engkau bisa mendapatinya senantiasa eksis bersama mereka dalam setiap pertempuran dan peperangan. Dia tidak mau untuk sekadar berada di jantung pertempuran, dan lebih dari itu, dialah yang mengendalikan jalannya peristiwa-peristiwa heroik (malaihim) dari sisi media. Betapapun dahsyatnya kesengitan dan kobaran api perang, dia senantiasa mengumumkan kabar gembira kemenangan. Engkau bisa mendapati banyak pasang mata semuanya menanti apa yang datang darinya, dan kumandang takbir pun menggema apabila dia mengumumkan hal-hal yang menyejukkan dada orang-orang beriman, mulai dari kabar hancurnya tank-tank Amerika Serikat (AS), atau gagalnya serangan-serangan Rafidhah, atau menderitanya pasukan murtad Kurdi Peshmerga.
Abu Mariyah menyambung waktu malam dengan siang harinya antara memenuhi kebutuhan-kebutuhan tugas yang diembannya dan berkeliling ke sejumlah front pertempuran, sampai rasa lelah menderanya. Terkadang, dia tidak punya waktu untuk rapat dengan pasukannya kecuali setelah lewat tengah malam, dan rapat baru selesai menjelang fajar, hal ini disebabkan sempitnya waktunya dan banyaknya pekerjaannya.
Pada saat-saat terakhir di malam kepergiannya, Abu Mariyah seperti berpamitan kepada pasukannya dengan perpisahan selamanya... “Telah tiba waktunya, tak lama lagi, dengan izin Allah kita akan berjumpa dengan orang-orang tercinta. Demi Allah, sungguh aku merindukan perjumpaan dengan Allah.” Demikianlah dia mengucapkan untaian kalimat terakhir, dari hati yang merasakan dekatnya perjumpaan dengan Allah azza wa jalla.
Pada pagi keesokan harinya, meski dalam kondisi lelah, penat, dan letih, dia bergerak menuju front untuk memantau kondisi dan jalannya pertempuran di salah satu daerah. Di perjalanan pulang, jet tempur Salibis AS mengebomnya, sehingga sang kesatria media pun akhirnya undur diri dari arena yang telah diterjuninya dengan rasa lelah, kerja keras, dan penuh pembelaan terhada agama Allah, serta ambisi terhadap sesuatu di sisi Allah Sang Pemilik dan Sang Penguasa segalanya. Berakhirlah sebuah episode keberanian salah satu dari sekian kesatria Daulah Islam. Para kesatria yang mewarnai petualangan mereka dengan darah, merajut perjalanan mereka dengan pengorbanan, dan membayar akhir perjalanan dengan mahar cabikan anggota tubuh.
Abu Mariyah terbunuh di usia 27 tahun yang separuhnya dihabiskan di medan-medan jihad sebagai seorang petempur, tawanan, buronan, penakluk, dan amir. Terbunuhlah sang pemilik muruah (budi luhur, wibawa) yang sangat marah apabila mengetahui adanya penelantaran terhadap hak-hak keluarga ikhwah yang syahid, atau sedang ditawan, atau tengah ribath. Maka dengan segera dirinya menunaikan keperluan-keperluan mereka. Sampai-sampai dia membentuk satu lajnah (komite) khusus di i’lam ‘askari untuk memenuhi urusan-urusan keluarga; keluarga syuhada, keluarga korban luka-luka, dan keluarga para awak media.
Telah beranjak pergi seseorang yang seringkali berkata, “Aku khawatir akan membebani siapa saja yang bekerja bersamaku, lalu Allah mengujiku dengan seorang amir yang membebaniku dalam pekerjaanku.” Pernyataannya ini mendorongnya menutup jalan untuk kezhaliman, bahkan dia bersikap adil kepada orang yang dizhalimi, dan berupaya untuk mengurai permasalahan-permasalahan rekan-rekannya, sesibuk apapun dia dengan urusan-urusan pekerjaan media dan ketentaraan.
Sang Kesatria telah pergi menemui ketiga saudara laki-lakinya yang mendahuluinya menuju surga, dengan seizin Allah azza wa jalla, meninggalkan celah kosong yang sulit untuk ditutup oleh sosok penggantinya kelak. Kita menilainya sebagai orang-orang yang dikatakan Rasulullah: “Sebaik-baik kehidupan manusia adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya untuk bergegas di jalan Allah, dia melompat ke atas punggung kudanya demi mengharapkan terbunuh dan kematian di tempat yang ia tuju.” (HR. Muslim). Di sisi Allah-lah pahala bagimu, wahai Abu Mariyah.
Engkau telah pergi wahai Abu Mariyah, wahai engkau yang berlinang air mata karena kerinduan terhadap peperangan sengit, hingga membuatmu menangis. Betapa tidak, engkaulah sang singa pemberani di tengah kobaran api. Beristirahatlah dengan penuh kebahagiaan, wahai sang gunung! Sungguh engkau telah mewariskan satu generasi setelahmu yang takkan pernah terpejam menyaksikan ketidakadilan!
ABU MARIYAH AL-IRAQI
PANGLIMA MEDIA PERANG SPEICHER, PEMBURU FRAGMEN PERISTIWA DAN KREATOR VIDEO
Nama aslinya adalah Abbas Munzhir Abbas ar-Rafi’i, sang singa pemberani, suksesor gerbong pertama para tokoh media semisal Maisarah al-Gharib, Nashir al-Jazrawi, dan sederet kesatria lainnya yang meninggalkan kesan mendalam di ranah media, juga penjagal kaum Rafidhah dan Salibis. Abu Mariyah menimpakan luka bagi mereka di sana-sini, memerangi mereka dengan senapannya di suatu tempat, dan menantang mereka dengan kameranya di banyak tempat. Kemudian perjalanannya berakhir sebagai amir (kepala) i’lam ‘askari (media ketentaraan) di wilayah-wilayah timur (al-wilayah asy-syarqiyah).
Abu Mariyah al-Iraqi menempuh jalan perang dengan senjatanya. Perjalanan meniti jalur maut, pembunuhan, dan serpihan jasad, justru semakin menguatkan keteguhannya. Sebuah jalan yang takkan pernah membuatnya takut. Bahkan dia acapkali berkata kepada sahabat-sahabatnya sambil bercanda, “Siapa yang takut mati, tidak usah menjadi temanku.”
Terbunuh di jalan Allah adalah cita-citanya, keridhaan Dzat Yang Maha Pengasih adalah doa yang dipanjatkan untuk dirinya, merengkuh surga adalah harapannya kepada Rabbnya. Seolah-olah seorang penyair berucap melalui lisannya di kala dia bersenandung:
Aku menanggung pasukan maka aku tak mengapa
Aku ‘kan sambut ia atau pun yang selainnya
Aku miliki jiwa merindukan sesuatu yang mulia
Akan binasa kelak atau akan kutunaikan hasratnya
Gurun al-Jallam mengenalnya sebagai mutiaranya Wilayah Shalahuddin, yang merupakan negeri para pahlawan dan gudangnya para kesatria. Ia merupakan negeri titik awal berbagai penaklukkan yang mana kesatria kita ini banyak mendokumentasikan seluruh peperangan dan perkembangan peristiwanya di waktu sulit dan sempit. Yaitu hari ketika sengatan musim panas membakar wajah mujahidin, dan bekunya musim dingin mengoyak kulit mereka.
Hari-hari nan penuh cobaan membuatnya bersinar, semakin kokoh, dan pengalaman-pengalaman di masa itu semakin mengasah keahliannya. Dia juga banyak mengambil manfaat dari para masyayikh (ulama) jihad yang berperang dan hilir-mudik di medan-medan perangnya, semisal Syaikh Abu al-Mughirah al-Qahthani rahimahullah. Dia benar-benar merupakan sebaik-baik komandan dan pimpinan, sangat tawadhu, jujur, lagi pemimpin yang baik.
Seorang yang bertaqwa dan jujur, suka menasehati saudara-saudarnya agar berhati-hati terhadap dosa pribadi dan kemaksiatan-kemaksiatan karena kelalaian. Dia juga senantiasa mengarahkan saudara-saudaranya agar mengikhlaskan niat karena Allah dalam beramal, dan supaya batin selalu bersesuaian dengan kondisi lahirnya.
Sebagaimana Abu Mariyah juga takut terhadap riya dan ujub, serta memperingatkan rekan-rekannya dari kedua perasaan tersebut. Sampai pada tingkatan bahwa dia tidak pernah menampakkan sabuk peledak yang tidak pernah dilepasnya, namun dia kenakan di balik pakaiannya. Lalu pistol pribadinya pun bersembunyi di balik rompi militer yang tak pernah ditanggalkannya.
Tak hanya itu, dia benar-benar sangat mengawasi dirinya, sehingga jika engkau menyaksikannya mendengar pujian atas dirinya, dia berkata, “Aku takut kelak datang di Hari Kiamat, lalu dikatakan kepadaku: ‘Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan,’ (al-Furqan: 23)
Abu Mariyah al-Iraqi berpartisipasi dalam penaklukkan, kemudian masuk ke Tikrit, ad-Daur, al-Ilm, Baiji, dan ash-Shiniyah dengan penuh tawadhu dan memuji Allah. Alih-alih membuatnya berubah, kemenangan dan tamkin (kekuasaan) justru semakin meningkatkan sikap tawadhunya kepada Allah Rabb Semesta Alam.
Dia mulai melakoni kewajiban jihad ketika berusia 14 tahun. Dia masuk ke penjara di kota al-Ahdats, al-Mathar, kemudian penjara Kamp Bucca. Dia ikut mendekam di berbagai sel penjara menyertai saudara-saudara dan ayahnya. Walaupun masih kecil, dia menolak untuk berpisah dari ayahnya, meskipun di dalam penjara sekalipun, demi melayaninya serta meringankan penderitaannya akibat belenggu dan pemenjaraan. Namun sipir Salibis enggan selain memisahkan keduanya, merusak kekompakkan keduanya, sebagaimana kekompakkan keluarga mereka tercerai-berai di luar tembok penjara. Keluarga Abu Mariyah senantiasa berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lainnya. Terkadang mereka tinggal di kota al-Ishaqi, kadang di Balad, di ad-Daur, di adh-Dhulu’iyah, al-Karmah, terkadang di Tikrit, sampai akhirnya tinggal menetap di Mosul.
Di salah satu stasiun pemberhentian di kota Balad, Abu Mariyah mengambil satu toko untuk dijadikannya sebagai titik pengintaian konvoi pasukan Salibis, untuk kemudian menyerangnya dengan bom termal, bersama-sama dengan rekan-rekan jihadnya. Kemudian dia pun ditangkap disebabkan aktivitasnya itu.
Abu Anas, saudara laki-lakinya terbunuh dalam jihad memerangi pasukan Salibis, dan membuat Abu Mariyah semakin kokoh menapaki jalan jihad, yang mana saat itu dia berada di awal masa mudanya. Lalu saudaranya yang kedua, yaitu Abu Maryam, juga terbunuh. Dan dia adalah seorang dokter yang menolak pergi meninggalkan Tikrit saat dikepung pasukan Rafidhah. Bagaimana bisa dia pergi dan meninggalkan pasien-pasiennya yang mencapai 200-an korban luka-luka di Rumah Sakit Tikrit, sedangkan dia seorang ahli bedah yang sangat dibutuhkan. Maka dia pun tetap teguh dan tidak meninggalkan pekerjaannya. Lalu ketika waktu konfrontasi dengan Rafidhah semakin dekat, dia meledakkan mereka dengan sabuk peledaknya, dan menjadi anggota keluarga kedua yang syahid. Hal ini membuat Abu Mariyah semakin yakin akan kebenaran manhaj yang dilalui dirinya dan keluarganya.
Selanjutnya, tibalah giliran saudara laki-lakinya yang ketiga, yaitu Abu Thalhah, seorang petempur penyerbu yang membuat Rafidhah berdarah-darah di Kamp Speicher. Dia kerapkali membuat mereka menderita di banyak tempat dan pertempuran. Dan dia terbunuh seiring dengan gugurnya Syaikh Umar Asy-Syisyani, beberapa pekan sebelumnya.
Abu Mariyah termasuk salah seorang yang banyak membunuh tentara Rafidhah, terutama saat membantai mereka di Kamp COB Speicher. Dia merupakan pelopor pertempuran via media, bahkan dengan tangannya sendiri dia menerapkan hukum Allah bagi orang-orang Musyrik Rafidhah.
Abu Mariyah termasuk awak media (i’lami) Wilayah Shalahuddin yang paling menonjol. Berbagai video yang diproduksi di bawah pengawasannya –di bawah kepemimpinannya di Kantor Media Wilayah Shalahuddin— menempati posisi-posisi teratas dalam peringkat umum rilisan video Daulah Islam. Hal tersebut kemudian menghantarkannya menduduki posisi amir sektor i’lam ‘askari (media militer) di Wilayah-Wilayah Timur (al-Wilayah asy-Syarqiyah). Dia membuat i’lam ‘askari tak ubahnya sel lebah yang tidak mengenal senyap dan diam (baca: bekerja tiada henti), meskipun dia sangat menolak dibebani posisi tersebut.
Selain memproduksi lebih dari 25 video jihad, dia pun mendapatkan kehormatan untuk berpartisipasi dalam puluhan rilisan video lainnya yang berpengaruh besar dalam meningkatkan semangat juang, menguatkan tekad, dan meneror musuh-musuh agama. Sampai-sampai, orang-orang menyukai suara pelannya dari balik kamera, yang memekikkan takbir seraya mengulang-ulang, “Pembalasan untuk ibunda kami, Aisyah!” sembari mengangkangi jasad balatentara Rafidhah.
Sebagaimana Abu Mariyah juga merupakan salah seorang singa pertempuran Baiji, dan termasuk orang yang mendokumentasikan pertempuran di kilang Baiji. Dia menerobos ke dalam pertempuran sambil berlari, bersama dengan kader-kader media binaannya. Padahal saat itu Baiji sedang dikepung oleh pasukan Rafidhah dan milisi-milisinya, di tengah timah panas kesyirikan dan kemurtadan para sniper (penembak jitu), di bawah pesawat tempur Salibis yang meliuk-liuk di langit kilang Baiji. Abu Mariyah berlari sepanjang dua kilometer di tanah terbuka di tengah berondongan peluru, untuk menemui mujahidin di dalam kilang. Dan dia pun keluar dengan cara yang sama setelah selesai mendokumentasikan pertempuran.
Langit cita-cita dan ambisinya sangat menjulang tinggi. Di dalam dirinya terdapat kepercayaan besar bahwa dia akan merealisasikan segala hal yang dikehendakinya. Betapa tidak, dialah yang membentuk berbagai tim media dan merevolusi media, ketika dia menduduki singgasana tertinggi di i’lam ‘askari (media militer) dan meletakkan sejumlah fondasi sempurna lagi kokoh bagi masa depan i’lam ‘askari. Dia mendelegasikan tugas dan misi secara sukses, tidak menjadikan tugas hanya terfokus atau bergantung pada dirinya saja secara eksklusif. Demikianlah, agar terjamin bahwa tugas tidak terhenti dengan absennya salah seorang awak media atau terbunuhnya amir.
Abu Mariyah amat bersikeras agar ada ikhwah lainnya yang mau menggantikan posisinya untuk mengemban amanah berat tersebut, dan dia dapat fokus bekerja sebagai juru kamera dalam banyak peperangan dan pertempuran. Sehingga di sana dia bisa memposisikan dirinya di medan-medan pertempuran dan di front-front yang mempertaruhkan dirinya, meskipun dia terikat tugas-tugas berat di pekerjaan barunya.
Dia adalah sosok yang sangat merindukan atmosfer jihad dan debu pertempuran, serta mengiringi para muqatil (petempur). Dia merasa tidak nyaman untuk hidup jauh dari mereka. Oleh karenanya, engkau bisa mendapatinya senantiasa eksis bersama mereka dalam setiap pertempuran dan peperangan. Dia tidak mau untuk sekadar berada di jantung pertempuran, dan lebih dari itu, dialah yang mengendalikan jalannya peristiwa-peristiwa heroik (malaihim) dari sisi media. Betapapun dahsyatnya kesengitan dan kobaran api perang, dia senantiasa mengumumkan kabar gembira kemenangan. Engkau bisa mendapati banyak pasang mata semuanya menanti apa yang datang darinya, dan kumandang takbir pun menggema apabila dia mengumumkan hal-hal yang menyejukkan dada orang-orang beriman, mulai dari kabar hancurnya tank-tank Amerika Serikat (AS), atau gagalnya serangan-serangan Rafidhah, atau menderitanya pasukan murtad Kurdi Peshmerga.
Abu Mariyah menyambung waktu malam dengan siang harinya antara memenuhi kebutuhan-kebutuhan tugas yang diembannya dan berkeliling ke sejumlah front pertempuran, sampai rasa lelah menderanya. Terkadang, dia tidak punya waktu untuk rapat dengan pasukannya kecuali setelah lewat tengah malam, dan rapat baru selesai menjelang fajar, hal ini disebabkan sempitnya waktunya dan banyaknya pekerjaannya.
Pada saat-saat terakhir di malam kepergiannya, Abu Mariyah seperti berpamitan kepada pasukannya dengan perpisahan selamanya... “Telah tiba waktunya, tak lama lagi, dengan izin Allah kita akan berjumpa dengan orang-orang tercinta. Demi Allah, sungguh aku merindukan perjumpaan dengan Allah.” Demikianlah dia mengucapkan untaian kalimat terakhir, dari hati yang merasakan dekatnya perjumpaan dengan Allah azza wa jalla.
Pada pagi keesokan harinya, meski dalam kondisi lelah, penat, dan letih, dia bergerak menuju front untuk memantau kondisi dan jalannya pertempuran di salah satu daerah. Di perjalanan pulang, jet tempur Salibis AS mengebomnya, sehingga sang kesatria media pun akhirnya undur diri dari arena yang telah diterjuninya dengan rasa lelah, kerja keras, dan penuh pembelaan terhada agama Allah, serta ambisi terhadap sesuatu di sisi Allah Sang Pemilik dan Sang Penguasa segalanya. Berakhirlah sebuah episode keberanian salah satu dari sekian kesatria Daulah Islam. Para kesatria yang mewarnai petualangan mereka dengan darah, merajut perjalanan mereka dengan pengorbanan, dan membayar akhir perjalanan dengan mahar cabikan anggota tubuh.
Abu Mariyah terbunuh di usia 27 tahun yang separuhnya dihabiskan di medan-medan jihad sebagai seorang petempur, tawanan, buronan, penakluk, dan amir. Terbunuhlah sang pemilik muruah (budi luhur, wibawa) yang sangat marah apabila mengetahui adanya penelantaran terhadap hak-hak keluarga ikhwah yang syahid, atau sedang ditawan, atau tengah ribath. Maka dengan segera dirinya menunaikan keperluan-keperluan mereka. Sampai-sampai dia membentuk satu lajnah (komite) khusus di i’lam ‘askari untuk memenuhi urusan-urusan keluarga; keluarga syuhada, keluarga korban luka-luka, dan keluarga para awak media.
Telah beranjak pergi seseorang yang seringkali berkata, “Aku khawatir akan membebani siapa saja yang bekerja bersamaku, lalu Allah mengujiku dengan seorang amir yang membebaniku dalam pekerjaanku.” Pernyataannya ini mendorongnya menutup jalan untuk kezhaliman, bahkan dia bersikap adil kepada orang yang dizhalimi, dan berupaya untuk mengurai permasalahan-permasalahan rekan-rekannya, sesibuk apapun dia dengan urusan-urusan pekerjaan media dan ketentaraan.
Sang Kesatria telah pergi menemui ketiga saudara laki-lakinya yang mendahuluinya menuju surga, dengan seizin Allah azza wa jalla, meninggalkan celah kosong yang sulit untuk ditutup oleh sosok penggantinya kelak. Kita menilainya sebagai orang-orang yang dikatakan Rasulullah: “Sebaik-baik kehidupan manusia adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya untuk bergegas di jalan Allah, dia melompat ke atas punggung kudanya demi mengharapkan terbunuh dan kematian di tempat yang ia tuju.” (HR. Muslim). Di sisi Allah-lah pahala bagimu, wahai Abu Mariyah.
Engkau telah pergi wahai Abu Mariyah, wahai engkau yang berlinang air mata karena kerinduan terhadap peperangan sengit, hingga membuatmu menangis. Betapa tidak, engkaulah sang singa pemberani di tengah kobaran api. Beristirahatlah dengan penuh kebahagiaan, wahai sang gunung! Sungguh engkau telah mewariskan satu generasi setelahmu yang takkan pernah terpejam menyaksikan ketidakadilan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar