DABIQ 2 - FEATURE
BADAI MUBAHALAH
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam atas Rasul-Nya: Muhammad, dan atas keluarga dan para shahabatnya.
Pada bulan Jumadal Ula 1435 H, Syaikh Abu Muhammad al-Adnani hafizhahullah mengajak pemimpin Jabhah Jaulani untuk bermubahalah, di dalam audionya yang terkenal yang berjudul "Tsumma Nabtahail fa Naj’al La’natallahi ‘alal Kadzibin" (Mari kita Bermubahalah dan Menjadikan Laknat Allah Atas Orang yang Berdusta).
Itu terjadi setelah statemen Abu Abdullah Asy-Syami –seorang anggota Majlis Syura Jabhah Jaulani dan “Majelis Syar’i Umum"– dalam sebuah surat resmi yang panjang yang menyebutkan bahwa Daulah Islam adalah lebih buruk/jelek dibanding kaum Khawarij masa lalu. Dan setelah ajakan Syaikh al-Adnani, Asy-Syami pun menjawab (ajakan mubahalah) sebagai perwakilan dari kelompoknya, Jabhah Jaulani.
Syaikh Abu Muhammad al-Adnani berkata di dalam pidatonya –setelah menyebutkan beberapa tuduhan Asy-Syami dan menjelaskan bahwa itu semua adalah kedustaan yang tujuannya adalah menjelekkan Daulah Islamiyah– beliau berkata: “Ya Allah, siapa yang berdusta maka turunkanlah atasnya laknat-Mu, perlihatkanlah kepada kami ayat-Mu, jadikanlah ia sebagai pelajaran. Ya Allah (juga atas) seluruh orang yang bersekongkol atas jihad dan mujahidin, maka kembalikanlah tipu daya mereka ke atas leher mereka, singkaplah kebusukan mereka, sebarkanlah rahasia mereka, jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran. Ya Allah, kuasakanlah atas mereka kehancuran dan bencana”. (Tsumma Nabtahil fa Naj’al La’natallahi ‘alal Kadzibin’)
Dan sebelumnya, dahulu Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah pernah berdoa seperti ini atas orang-orang yang bergabung kepada "Hizbul Islam" (Partai Islam) atau yang bekerja sama dengan mereka di dalam pidatonya yang berjudul "Fasayakfikahumullah" (Maka Allah Akan Memelihara Kamu Dari Mereka). (Catatan: Hizbul Islam merupakan kelompok Ikhwanul Muslimin di Iraq yang dipimpin oleh Thariq al-Hasyimi).
Kemudian pada bulan Jumadal Akhirah 1435 H, Syaikh Abu Muhammad al-Adnani kembali menekankan mubahalah dengan doanya di dalam akhir pidatonya yang berjudul "Maa Kaana Hadza Manhajuna wa Lan Yakun" (Ini Bukanlah Manhaj Kami dan Tidak Akan Menjadi Manhaj Kami), beliau berkata: “Ya Allah, jikalau Daulah ini adalah Daulah Khawarij, maka musnahkanlah eksistensinya, matikanlah para pemimpinnya, jatuhkanlah panjinya, dan tunjukilah para tentaranya kepada kebenaran.
Ya Allah, jika Daulah ini adalah Daulah Islam, yang berhukum dengan kitab-Mu dan sunnah Nabi-Mu, berjihad melawan musuh-musuh- Mu, maka teguhkanlah ia, jayakanlah ia, tolonglah ia, dan berilah kekuasaan di bumi (tamkin), dan jadikanlah ia Kekhilafahan Di Atas Manhaj Kenabian. Maka katakanlah ‘aamiin’ wahai kaum muslimin.
Ya Allah, hancurkanlah seluruh manusia yang ingin memecah belah barisan para mujahidin, menceraiberaikan kesatuan kaum muslimin, membuat senang kaum kafirin, membuat murka kaum mukminin, dan mengakhirkan jihad bertahun-tahun.
Ya Allah bongkarlah rahasianya, tampakkanlah niat buruknya, dan turunkanlah kepadanya kemurkaan-Mu dan Laknat-Mu, serta perlihatkanlah kepada kami keajaiban Qudrah-Mu.
Katakanlah wahai kaum muslimin: “Aamiin”.
PEMBAHASAN TENTANG MUBAHALAH
Sesungguhnya Mujahidin –segala puji bagi Allah– adalah termasuk orang yang paling kuat imannya kepada syariat mubahalah, Syaikh Abdul Karim al-Humaid (semoga Allah menguatkannya dan melepaskannya dari tawanan) telah menulis sebuah risalah yang sangat berharga berjudul "Al-Masyayikh al-Judud wa Da’watuhum ilal Mubahalah" (Para Syaikh Junior dan Seruan Mereka kepada Mubahalah).
Di dalamnya beliau menyebutkan tentang landasan dalil dalam hal ini, dan menyeru "Hai’ah Kibaril Ulama" (Lembaga Ulama Senior –seperti yang mereka sebut), dan juga terhadap Syaikh Salman al-Audah dan Nashir al-Umar untuk bermubahalah, karena mereka telah berulang kali mengeluarkan pernyataan mujahidin sebagai ‘Khawarij’ dan menyeru warga Palestina untuk ikut andil dalam agama syirik demokrasi dengan memilih Hamas pada pemilu. Dan kebanyakan pembahasan berikut ini dinukil dari risalahnya.
Hujjah pokok dalam masalah ini adalah firman Allah: (Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya “Jadilah!”, maka jadilah sesuatu itu. Kebenaran itu dari Rabbmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu. Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anakmu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan juga kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”) (Ali-Imran : 59-61).
Asbabun nuzul ayat ini adalah, bahwanya ada utusan Nasrani dari Najran yang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mendebatnya dalam masalah Islam. Ketika utusan itu ditawarkan mubahalah, mereka menolak. Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir dan ulama tafsir lainnya dalam kitab tafsir mereka.
Dan Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa berada dalam kesesatan, maka biarlah Rabb Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya, sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik adzab maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya”.” (Maryam: 75)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Allah berfirman (Katakanlah) wahai Muhammad, kepada orang-orang yang musyrik kepada Rabb mereka dan mengaku bahwa mereka di atas kebenaran dan kalian di atas kebathilan, (barangsiapa berada dalam kesesatan) yakni: kami atau kalian, (maka biarlah Rabb Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya) yakni: Allah yang Maha Pengasih membiarkannya dalam keadaan mereka, hingga kelak menemui Rabbnya dan habislah ajalnya, (baik adzab) yang menimpanya (maupun Kiamat) yang datangnya tiba-tiba, (maka mereka akan mengetahui) ketika itu (siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya”) yakni berlawanan dengan apa yang mereka katakan dari kedudukan dan kelompok yang mulia. Mujahid berkata dalam firman Allah (maka biarlah Rabb Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya) maka biarkanlah Allah membiarkan mereka di dalam kesombongan mereka, demikian yang ditetapkan oleh Abu Ja’far ibnu Jarir rahimahullah. Dan ini adalah mubahalah terhadap kaum musyrikin yang mengaku bahwa keadaan mereka di atas kebenaran, sebagaimana Allah menjelaskan tentang mubahalah kepada orang- orang Yahudi dalam fiman-Nya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang Yahudi! Jika kamu mengira bahwa kamulah kekasih Allah, bukan orang-orang yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu orang yang benar”.” (Al-Jumu’ah: 6) yakni mari kita saling mendoakan kematian bagi siapa yang salah di antara kita, jika kalian memang menganggap diri kalian di atas kebenaran maka doa ini tidak akan membahayakan kalian. Akan tetapi mereka menghindar dari hal itu, dan telah berlalu penetapan hal ini secara rinci dalam surat Al-Baqarah, dan segala puji bagi Allah, sebagaimana Allah menyebutkan juga tentang mubahalah terhadap orang-orang Nashrani di dalam surat Ali-Imran ketika mereka tetap bersikeras di atas kekufuran, tetap di atas kecongkakan dan ghuluw dalam menyebut Isa sebagai anak Allah. Dan sungguh, Allah telah menjelaskan hujjah dan petunjuk-Nya atas sifat kehambaan Isa bahwa dia tidak lebih sebagai makhluk seperti Adam, sehingga Allah berfirman setelahnya: “siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anakmu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.” (Ali Imran: 61) dan mereka juga berpaling dari hal itu”. (Tafsir Ibnu Katsir)
Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Asy-Sya’bi, al-Auza’i, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayim, Ibnu Hajar, Muhammad bin Abdul Wahhab dan Shidiq Hasan Khan telah menyeru orang yang menyelisihi mereka kepada mubahalah, bahkan sebagian menyeru kepada mubahalah lantaran perkara furu’ dalam masalah fiqih.
Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Dan perdebatan jika telah mencapai batasan seperti ini dan tidak menghasilkan manfaat, maka seyogyanya untuk beralih kepada apa yang telah Allah perintahkan kepada Rasul-Nya berupa mubahalah.” (Mukhtashar Ash-Shawa’iq al-Mursalah).
Beliau juga berkata dalam masalah fiqh dari kisah utusan Najran: “Di antaranya: sesungguhnya sebuah sunnah dalam berdebat melawan pengusung kebathilan, apabila telah tegak hujjah Allah tapi mereka tetap tidak mau kembali, bahkan bertambah membangkang maka hendaknya dia mengajaknya untuk bermubahalah. Dan sungguh Allah telah memerintahkan Rasul-Nya dengan hal itu, dan Allah tidak berfirman: "Sesungguhnya hal itu tidak untuk umatmu sama sekali setelah ini". Dan telah menyeru kepada hal ini juga anak paman Rasul shallallahu alaihi wa sallam, Abdullah bin Abbas terhadap orang-orang yang berbeda faham dalam masalah furu’, dan tidak ada seorang shahabat pun ketika itu yang mengingkarinya. Dan Al-Auza’i pernah mengajak Sufyan Ats-Tsauri bermubahalah dalam masalah mengangkat tangan, dan hal itu tidak diingkari, dan ini merupakan kesempurnaan hujjah.” (Zaadul Ma’ad).
Dan mubahalah tidak memiliki lafadz khusus, misal ketika Ibnu Hajar menyeru mubahalah seorang laki-laki pengagum si zindik Ibnu Arabi, beliau berkata: “Katakanlah: ‘Ya Allah jika Ibnu Arabi di atas kesesatan maka laknatlah aku dengan laknat-Mu”’, dan Ibnu Hajar juga berdoa setelahnya: ‘Ya Allah jika Ibnu Arabi di atas kebenaran maka laknatlah aku dengan laknat- Mu’. Dan dua bulan kemudian pengagum Ibnu Arabi itu buta matanya dan binasa dengan hina, ini dikisahkan oleh As-Sakhawi (murid Ibnu Hajar) di dalam kitabnya yang berjudul Al-Qaul al-Mubni.
Para ulama berkata: dan di antara hal yang diketahui sesuai pengalaman, bahwa tidak lebih dari satu tahun berlalu atas orang yang bermubahalah dengan dusta, kecuali akan terjadi hasil mubahalah itu. Terkadang hasilnya berupa kebinasaan yang menghinakan (yang tidak termasuk mati syahid di jalan Allah), sakit, diasingkan dari negeri, kefakiran, dan lain-lain.
Dan apabila mubahalahnya terjadi antara dua kelompok, maka hasilnya yang terlihat jelas adalah kemenangan salah satu dari kelompok itu dan hancurnya kelompok lainnya, hasil ini akan memperlihatkan kelompok mana yang berdusta dengan sangat jelas, lebih dari sekedar kematian salah satu anggotanya dengan hina. Lalu bagaimana jika kelompok pendusta itu mengancam kelompok lawannya dengan kebinasaan secara menyeluruh terhadap pasukan ‘singa-singa dari timur’?!
Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata: “Datang Al-‘Aqib dan As-Sayid (keduanya penduduk Najran) kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak bermubahalah, namun salah satu dari keduanya berkata: ‘Jangan lakukan, demi Allah, jika dia benar seorang Nabi kemudian melaknat kita, maka kita tidak akan selamat dan juga keturunan kita nanti.” (Shahih Al-Bukhari).
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: “Seandainya orang-orang Yahudi itu mengharapkan kematian, pasti mereka akan mati dan melihat tempat duduk mereka di neraka. Jika orang-orang itu mau keluar bermubahalah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tentu mereka akan kembali (ke kampungnya) tanpa mendapati lagi harta dan keluarganya.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad).
Diriwayatkan oleh Ath-Thabari rahimahullah: dari ‘Ilba’ ibnu Ahmar Al-Yasykuri rahimahullah (beliau murid seorang tabi’in ahli tafsir, Ikrimah rahimahullah) dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak orang-orang Yahudi untuk bermubahalah saling melaknat, seorang pemuda dari Yahudi berkata: ‘Celaka kalian, tidakkah kalian ingat kejadian dahulu ketika saudara-saudara kalian dirubah menjadi kera dan babi? Janganlah kalian bermubahalah, berhentilah'." (Tafsir Ath-Thabari, dengan ringkasan).
Dan mubahalah merupakan salah satu bagian dari bentuk dakwah al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, di mana beliau berkata: “Dan aku mengajak orang-orang yang menyelisihiku kepada empat hal: 1. Kembali kepada kitab Allah, 2. Kembali kepada sunnah Rasul-Nya, 3. Kembali kepada ijma’ ahlul ilmi, dan 4. Jika tetap menolak maka aku mengajaknya bermubahalah, sebagaimana Ibnu Abbas pernah mengajak mubahalah dalam masalah ilmu waris (faraidh), Sufyan dan Al-Auza’i dalam masalah mengangkat tangan, dan ulama-ulama lainnya.” (Ad-Durar As-Saniyah).
Setelah pembahasan ini, maka kita harus ingat bahwa mujahidin adalah termasuk dari manusia yang paling benar aqidahnya, terutama dalam masalah nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Yang demikian karena aqidah mereka adalah aqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah, sehingga mereka beriman bahwa perbuatan Allah adalah haq dan tidak keluar dari sifat rahmah, keadilan dan hikmah.
Berlainan dengan Asy’ariah yang meyakini bahwa sifat hikmah menafikan sifat iradah ‘bebas berkehendak’, karenanya mereka tidak menyifati sifat hikmah dengan benar. Apalagi sifat rahmat, yang mereka maknai dengan “kehendak kebaikan bagi makhluk”. Bahkan sebagian ahli kalam menyangka bahwa bisa jadi Allah menakdirkan munculnya mukjizat kenabian dari tangan para pendusta yang mengaku nabi. Dan satu-satunya argumen untuk menggagalkan pengakuannya adalah seseorang yang melawan pengakuannya dengan mukjizat yang menyerupainya*.” Dan sebagian ahlu kalam dari kelompok mu’tazilah (dan yang mengikuti mereka dari orang-orang zhahiriyah) menolak hakikat karomah para wali**, dan bisa jadi sebagian orang-orang di Jabhah Jaulani mengadopsi keyakinan ini dan ghuluw di dalamnya, serta melebar untuk menolak hasil mubahalah apa pun setelah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
* Masalah hikmah, adil, tanda-tanda kenabian, tahsin dan taqbih telah dibahas oleh Ibnul Qayim rahimahullah dalam kitab Miftah Darus Sa’adah, Shawa’iq al-Mursalah, Syifa al-’Alil, dan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab An-Nubuwat.
** Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Al-Wasithiyah bahwa percaya kepada karamah para wali merupakan salah satu pokok aqidah ahlussunnah. Karena itu Al-Lalika-I membuat bab khusus tentang karamah para wali dalam kitabnya yang sangat berharga: Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wa Al-Jama’ah, di dalamnya beliau menyebutkan lebih dari 200 atsar tentangnya baik dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam maupun dari kalangan salaf.
Selain aqidah Ahlus sunnah yang lurus ini yang dipikul oleh para mujahidin, mereka juga berbaik sangka kepada Allah, karena Allah berfirman di dalam hadits qudsi: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, jika dia berprasangka kepada-Ku dengan kebaikan maka baginya (kebaikan). Jika dia berprasangka dengan keburukan, maka baginya (keburukan).” (Shahih: diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban).
Dan dalam riwayat lain: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku sekehendaknya.” (Shahih: diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim).
Dan dalam riwayat lain: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika dia berdoa kepada-Ku.” (Shahih Muslim).
KELURUSAN AQIDAH MUJAHIDIN
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meninggal kecuali dia berbaik sangka kepada Allah.” (Shahih Muslim).
Sebagai penutup, yang menjadi masalah adalah orang-orang yang menyelisihi Daulah Islam menanggapi mubahalah sedang mereka meyepelekan kebohongan, mereka menganggapnya seperti permainan anak kecil. Sedangkan para pemimpin Daulah Islam dan tentaranya menyadari bahwa takabbur terhadap mubahalah dan menuduh kaum muslimin dengan kedustaan bathil merupakan hal yang sangat berbahaya, sebuah perkara yang dapat mengundang amarah Allah yang Maha Perkasa.
Allah berfirman di dalam hadits qudsi: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya." (Shahih Al-Bukhari).
Wallahu Al-Musta’an...
SITUASI PASKA MUBAHALAH
Pasca mubahalah, sejumlah hal mulai terlihat ke permukaan :
Pertama: Sejumlah kisah yang dijadikan argumen oleh Abu Abdullah Asy-Syami untuk menuduh bahwa Daulah Islam menolak syariat Allah, terbukti dusta dan karangan belaka. Terutama tentang tuduhan bahwa Daulah Islam mengangkat permasalahan kepada Azh-Zhawahiri supaya bisa menjadi hakim antara Daulah dan orang-orang Jaulani. Dan Allah menakdirkan melalui lisan Azh-Zhawahiri sendiri yang mendustakan Asy-Syami dalam ceramah audionya (namun sayang terdapat kedustaan dan pemutar balikan fakta juga di dalam ceramahnya).
Kedua: banyak dari sekutu utama Jabhah Jaulani, terutama yang mereka sebut Jaisyul Mujahidin dan Jabhah Islamiyah dengan cepat memperlihatkan aqidah dan manhaj mereka yang sebenarnya. Misalnya pada 18 Maret 2014, Jaisyul Mujahidin mengeluarkan pernyataan bahwa hijab syar’i adalah kebebasan individu! Dan satu bulan kemudian dengan bangga mereka menerima As’ad Mushthafa, Menteri Pertahanan bagi pemerintahan sementara Koalisi Nasional Suriah (SNC).
Jangan lupa bahwa Asy-Syami menyebutkan Jaisyul Mujahidin dalam ceramahnya dan bersaksi akan lurusnya aqidah mereka, dan dia mengaku itu semua mereka ketahui karena hubungan dekat Jabhah Jaulani dengan mereka, dan dia mengaku bahwa mereka lebih tahu tentang mereka daripada Daulah Islam! Asy-Syami berkata: “Dan aku bermubahalah denganmu bahwa kalian menguji manusia tentang aqidah mereka, dengan bukti kalian memberikan syarat untuk menerima prakarsa Syaikh Al-Muhaisini, yang itu semua secara umum menguji aqidah manusia, bahkan sebaik-baik manusia. Maksudku adalah para mujahidin dari berbagai kelompok jihad, seperti Jabhah Islamiyah, Jaisyul Mujahidin dan selain dari keduanya.” (Al-Mubahalah).
Dia juga berkata: “Menggambarkan pertempuran yang terjadi adalah pertempuran antara Jama’ah Daulah dari satu sisi dan orang-orang yang ada di barisan Jarba dan Idris (keduanya tokoh SNC) di sisi yang lain adalah penggambaran yang jauh dari kebenaran, sangat jauh, karena sesungguhnya yang membawa beban terberat dalam memerangi jama’ah Daulah di sisi utara adalah Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin. … Adapun Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin adalah pion terbesar dalam memerangi Jama’ah Daulah dan belum tetap bagi kami bahwa mereka telah jatuh ke dalam kemurtadan, dan kami jauh lebih mengenal mereka daripada Jama’ah Daulah, karena dekatnya hubungan kami dengan mereka.” (Walau Annahum Fa’alu maa Yu’azhuna Lakaana Khairan Lahum).
Adapun Jabhah Islamiyah, pemimpin mereka mengeluarkan sejumlah statemen yang menyebut bahwa thaghut-thaghut Arab sebagai ‘mitra Suriah’. Mereka memperbaharui komitmen mereka untuk MENGHORMATI SEMUA AGAMA yang ada di Suriah tanpa terkecuali, ini termasuk di dalamnya Nushairiyah, Ismailiyah, Yazidiyah dan Druze. Dan ketika golongan Islam Sekuler di Turki memenangkan pemilu terakhir, pemimpin Jabhah Islamiyah mengucapkan selamat kepada sekuleris Erdogan atas kemurtadan barunya.
Dan terakhir, mereka mengeluarkan perjanjian berjudul “Perjanjian Revolusi Mulia” yang ditandatangani sejumlah kelompok lain di antaranya Jaisyul Mujahidin, perjanjian ini dibentuk sebagai deklarasi orang-orang sekuler akan sikap mereka yang bebas dari Islam, hingga sebagian penasihat senior Jabhah Islamiyah –seperti yang mereka sebut– meminta pemimpin Jabhah Islamiyah untuk mengeluarkan statemen pencabutan deklarasi perjanjian itu.
Dan yang lebih buruk dari itu, Jabhah Jaulani masuk ke dalam aliansi partai-partai sekuler yang termasuk di dalamnya Dewan Militer milik Staf Umum Militer Koalisi Nasional Suriah (SNC). Terutama di wilayah timur Suriah. Dan setelah perpecahan terakhir ‘Misymisy’ (secara bahasa berarti nama buah aprikot, tapi maksudnya singkatan dari Majlis Syura Manthiqah Syarqiyah/Majelis Syura Mujahidin Wilayah Timur, pent).
Para sekutu terbesar Jabhah Jaulani mulai secara terbuka memperbaharui permohonan mereka kepada Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan "mitra Suriah" (para thaghut Arab, edt) untuk mempersenjatai mereka dan mendukung mereka dalam perang melawan Daulah Islam! Pada masa ini, sebuah cuplikan tentang Al-Harari (seorang tokoh utama ‘Syar’i’ Jabhah Jaulani) dirilis, yang di dalamnya disebutkan bahwa dia adalah pendiri Jabhah Nushrah dan orang yang paling diburu Amerika! Kata-katanya penuh dengan riya’, nifaq dan kedunguan.
Kemudian seorang mantan tahanan dari Jabhah Jaulani merilis dan bersaksi bahwa al-Harari telah memaksanya untuk membuat rekaman kecaman terhadap Daulah Islam (dikeluarkan oleh Jabhah Jaulani) dan memintanya untuk menghubungi Shahawat Iraq dan pemimpin mereka Ibrahim ash-Shummari untuk mengkoordinasikan antara mereka dan Jabhah Jaulani dalam memerangi Daulah Islam! Laporan ini diperkuat oleh al-Harari melalui twitter "permintaan maaf" kepada orang-orang Iraq, di mana dia mengaku telah menzhalimi mereka karena telah memberi nama kelompok murtad dan berbahaya sebagai Shahawat!
Dan lebih dari itu, kata-kata pemimpin Jabhah Jaulani ini diisi dengan tuduhan dusta secara tidak langsung kepada Abu Umar Al-Baghdadi dan Abu Hamzah al-Muhajir, padahal sama-sama diketahui bahwa tidak ada seorang pun yang memerangi Shahawat di Iraq kecuali dua orang ini dan Daulah Islam yang dibawah kepemimpinannya, dan dahulu Syaikh Usamah bin Ladin serta pembesar Al-Qaidah pada masa itu memberikan pujian kepada dua orang ini dan kepada negara yang dibentuk oleh keduanya.
Dan tambahan atas ini semua, para Shahawat dan sekutu mereka dari orang-orang Jaulani harus mundur dari banyak wilayah di Aleppo, Homs, Damaskus dan Lattakia. Ini adalah Shahawat yang sama yang beberapa bulan lalu membual akan membebaskan tahanan di penjara pusat Aleppo yang tidak lagi dalam kepungan, dan membual angkuh ketika merebut kota perbatasan Kasab, yang kemudian mereka harus mundur dari sana. Lalu mereka membuat fitnah atas Daulah Islam dengan menggunakan kemenangan-kemenangan tipis Shahawat dan informasi dari media-media Qatar dan Saudi mereka jadikan ini sebagai bukti bahwa hanya Shahawat satu-satunya kelompok yang memerangi Nushairi.
Kemudian Jabhah Jaulani, semakin bertambah hari mereka semakin bersikap seperti gerilyawan yang tidak memiliki komando pusat, dan walaupun orang yang mereka akui sebagai pemimpin tertinggi –yakni Syaikh Azh-Zhawahiri telah memerintahkan mereka untuk menghentikan ‘bom manusia’ terhadap kaum muslimin, namun mereka masih saja menggunakan taktik ini untuk melawan orang-orang di luar mereka. Walaupun orang yang mereka serang adalah mantan anggota mereka yang baru saja memisahkan diri, seperti yang terjadi di Albu Kamal.
Dan ketika pembentukan ‘Misymisy’, diumumkanlah para anggota Misymisy, termasuk Jabhah Jaulani di wilayah Al-Khair, mereka mengatakan akan melebur ke dalam formasi baru ini setelah beberapa bulan pasca deklarasi. Dan secara bertahap, terdengar berita tentang masuknya beberapa pemimpin lokal Jabhah Jaulani ke dalam aliansi bersama kelompok-kelompok dukungan Saudi dan sekuler di wilayah itu.
Pada saat yang sama, beberapa pemimpin lokal lainnya di wilayah lain keluar dari aliansi, tanpa ada kesepakatan yang telah diraih atau keputusan yang diambil. Seolah-olah kepala komando pusat mereka telah terputus. Dan muncul kontradiksi yang sangat nyata ketika mereka menggunakan metode yang dulu Daulah Islam dikritik karena menggunakannya, seperti menargetkan para oposisi bersenjata yang bertingkah seperti gangster yang merampas kekayaan kaum muslimin, dan memperlihatkan permusuhan kepada organisasi militer –secara langsung atau tidak– milik oposisi pemerintah, termasuk badan ‘syar’i’ di dalamnya. Hal ini telah dipraktekkan oleh Daulah Islam sejak dahulu, namun dikecam oleh Jabhah Jaulani karena dianggap merubah arah ‘revolusi’ dan jihad, dalam pandangan mereka tidak ada yang boleh diperangi kecuali Nushairiyah saja, walaupun begitu nyata kemurtadan para penjahat itu.
Sebaliknya, meskipun Daulah Islam menghadapi berbagai pertempuran dalam masalah ekonomi, militer, politik dan media, dan meskipun berbagai kelompok bersama-sama menyerangnya –mulai dari kepemimpinan baru Al-Qa’idah di Khurasan, lalu kelompok Shafawi di Teheran, dan terakhir orang-orang Salib di Washington, namun Daulah Islam tetap meraih kemenangan satu demi satu. Dia berhasil membebaskan seluruh daerah timur di Suriah dari Shahawat, membebaskan wilayah Ninawa dan Al-Anbar, serta berbagai wilayah luas lainnya. Dan ini semua menyebabkan para tentara Shafawi membubarkan diri, berpencar dan menghilang, dan terbunuhnya ribuan orang rafidhah (mereka adalah ‘muslim’ menurut pandangan para komandan baru tanzhim Al-Qa’idah).
Dia memenuhi janjinya dan menghancurkan batas pemisah (perbatasan) yang telah memisahkan negeri Iraq dan Syam, pasukannya terus bertambah, kemudian mendeklarasikan Khilafah. Orang-orang segera berbai’at kepadanya, dari Aljazair, Sudan, Indonesia, Filipina, Waziristan dan negeri-negeri lainnya. Ini semua merupakan karunia dari Allah semata, dan Daulah Islamiyah jika disandarkan hanya kepada dirinya saja tentu tidak akan seperti ini. Namun demikian, aliansi Shahawat tetap menganggap bahwa berkelompok-kelompok itu lebih baik daripada bai’at, mendengar, ta’at, imarah, imamah dan jama’ah. Itu wajar, karena mereka memang tidak memiliki aspirasi politik praktis bagi Islam saat ini!
Wallahul Musta’an.
MEMAHAMI HIKMAH DALAM PERBUATAN ALLAH
Hal yang sangat penting untuk memahami hikmah Allah dalam perbuatan-Nya sebelum memikirkan masalah mubahalah, meski pembahasan berikut ini seputar hikmah Allah dalam lingkup yang lebih luas, namun ini akan membantu untuk memahami hakikat hikmah-Nya dalam bentuk lainnya.
Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Aku akan menceritakan kepada kalian tentang kisah perdebatan yang terjadi antara aku dan beberapa orang Yahudi, aku berkata kepadanya setelah dia menolak kenabian Nabi, aku katakan: ‘mengingkari kenabiannya berarti juga menuduh Rabb semesta alam dengan kecacatan dan seburuk-buruk kekurangan, jika tadi aku berbicara kepada kalian tentang Rasul, maka sekarang pembicaraan tentang penyucian Rabb Ta’ala.
Orang Yahudi berkata: ‘Bagaimana engkau bisa bicara seperti itu?’ Aku berkata: ‘Aku akan menjelaskannya, dengarkanlah: Kalian sekarang menganggap bahwa dia bukan seorang rasul, hanya seorang raja diktator yang memaksa manusia dengan pedangnya hingga mereka tunduk kepadanya, dia menetap selama 23 tahun berdusta atas nama Allah. Dia berkata "Aku telah mendapat wahyu", padahal tidak ada wahyu kepadanya, "aku mendapatkan perintah", padahal Dia tidak memerintahnya”. "Aku dilarang oleh-Nya", padahal Dia tidak melarangnya. "Allah berfirman begini", padahal Dia tidak pernah berfirman. "Dia menghalalkan ini dan mengharamkan itu, mewajibkan ini dan membenci itu", padahal Dia tidak pernah menghalalkan itu atau mengharamkannya dan juga tidak mewajibkannya.
Namun semua itu berasal dari dirinya sendiri berdusta dan mengada-ada atas nama Allah, para Nabi-Nya dan para malaikat-Nya, kemudian dia menetap selama 13 tahun menghabisi hamba-hamba-Nya, mengalirkan darah mereka, menjadikan budak para wanita dan anak-anak mereka, padahal mereka tidak memiliki kesalahan kecuali hanya karena menolak dan menyelisihinya. Dan meski itu semua, dia tetap mengatakan "Allah memerintahkanku untuk itu", padahal Dia tidak memerintahnya. Dan dia dengan leluasa mengganti agama para rasul, menghapus syariat mereka, menghapus tempat ibadah mereka, dan beginilah keadaannya menurut kalian.
Maka ada kemungkinan, apakah Rabb yang Maha Tinggi mengetahui ini semua, melihat keadaannya dan memperhatikannya ataukah tidak?
Jika kalian mengatakan bahwa ini semua luput dari Allah, Dia tidak mengetahuinya, maka kalian telah menuduh keburukan kepada Allah, dan menisbatkan kepada-Nya sifat bodoh yang sangat parah jika sampai Dia tidak mengetahui kejadian besar ini, tidak melihatnya dan tidak mengawasinya.
Jika kalian mengatakan bahwa ini semua terjadi di bawah pengawasan-Nya, pengetahuan dan persaksian-Nya, maka aku bertanya kepada kalian, apakah Dia tidak sanggup untuk merubah hal itu dan menghalanginya, ataukah tidak?
Jika kalian menjawab bahwa Dia tidak sanggup melakukan hal itu maka kalian telah menyandarkan sifat lemah kepada-Nya dan ini menafikan sifat rububiyah-Nya, karena manusia ini dan pengikutnya lebih sanggup untuk melakukan keinginannya.
Jika kalian mengatakan bahwa Dia sanggup akan hal itu namun Dia sengaja memberikan kekuasaan kepadanya di bumi ini dan menguasakannya atas segenap makhluknya, dan justru Dia tidak menolong para wali dan pengikut rasul-Nya, maka kalian juga telah menisbatkan kepada-Nya kebodohan paling parah dan tidak mengetahui hikmah! Ini jika Dia sengaja membiarkannya begitu saja.
Dan bagaimana lagi jika Dia justru menolong dan menguatkannya, mengabulkan doanya, membinasakan orang-orang yang menentangnya dan mendustakannya, lalu Dia memberikan bukti penguat berupa ayat-ayat dan bukti-bukti pada tangannya yang seandainya seluruh penduduk bumi berkumpul untuk mendatangkan yang semisalnya walau hanya satu ayat mereka tidak akan sanggup mendatangkannya.
Dan waktu demi waktu terjadi baginya sebab-sebab kemenangan, kekuasaan, kejayaan, ketinggian, pengikut yang bertambah, dan ini semua adalah perkara yang luar biasa. Maka jelaslah siapa yang mengingkari bahwa dia seorang Rasul dan Nabi maka berarti dia juga telah menuduh Allah, memfitnah dan menganggap Dia bodoh, lemah dan dungu.'
Aku lalu berkata: 'Dan ini semua tidak pernah terjadi kepada para raja zhalim yang telah Allah beri mereka kekuasaan di muka bumi dalam suatu masa, karena setelah itu Dia akan memutus eksistensinya, menghilangkan tradisinya, menghapus jejak dan kejahatannya, orang-orang tidak mengikuti ini semua, mereka juga tidak ditolong, dikuatkan atau dikeluarkan dari tangan mereka ayat-ayat. Rabb juga tidak membenarkan mereka dengan ketetapan-Nya, perbuatan-Nya atau firman-Nya, bahkan memerintahkan mereka dengan hal yang berlawanan dimana para rasul menjadi lawan mereka, seperti Firaun, Namrudz dan lain sebagainya.
Dan ini juga tidak berbeda dengan para pendusta yang mengaku sebagai nabi, sesungguhnya keadaan mereka berlawanan dengan keadaan para Rasul dari segala sisinya, bahkan keadaan mereka menjadi bukti paling nyata akan kebenaran Rasul. Dan di antara hikmah Allah Ta’ala Dia mengeluarkan orang-orang seperti ini ke permukaan, supaya kita tahu bagaimana perbedaan antara para pendusta dan orang-orang yang jujur. Kemunculan mereka menjadi dalil (bukti) paling jelas atas kebenaran para rasul dan perbedaan mereka dari para pendusta, karena dengan sesuatu yang berlawanan maka sesuatu itu akan menjadi jelas, sesuatu yang kontradiksi akan memperjelas kebenaran sesuatu yang menjadi lawannya, mengetahui dalil-dalil kebathilan dan syubhatnya merupakan salah satu jenis dalil-dalil kebenaran dan petunjuknya.'
Ketika mendengar hal ini, dia berkata: 'Aku berlindung kepada Allah, kami tidak akan mengatakan bahwa dia (Nabi Muhammad) seorang raja yang zhalim, tapi dia adalah Nabi yang mulia, siapa yang mengikutinya maka mereka akan bahagia…'." (At-Tibyan Fi Aqsami Al-Qur'an).
MERENUNGI HASIL MUBAHALAH
Walaupun kutipan kisah di atas berhubungan dengan masalah kenabian –yaitu masalah yang tidak kita ragukan jauh lebih agung dari apa yang kita bahas sekarang– akan tetapi kisah di atas dapat membantu kita dalam memahami hakikat hikmah Allah dan kemunculannya dalam perbuatan-Nya. Mubahalah adalah masalah yang diangkat kepada Allah hingga diputuskan antara dua pihak, dan membuktikan siapa pihak yang berdusta dan mengaku kebenaran, padahal hakikatnya dia bathil dan dusta.
Dan dalam bentuk mubahalah, tidak mungkin bagi Allah yang Maha Mulia dan Tinggi, terhadap dua golongan yang saling bersumpah akan mengaku keduanya sama-sama di atas manhaj dien yang benar, lalu keduanya berselisih dan saling menuduh bahwa salah satu mereka berada dalam kesesatan yang nyata, kemudian Allah memberkahi kelompok pendusta yang berhak mendapat laknat dan justru melaknat kelompok yang jujur yang berhak mendapat berkah, bahkan menghancurkan kelompok ‘yang diberkahi’ melalu tangan kelompok ‘yang dilaknat’!
Kemudian hasil mubahalah dapat menjadi hal yang sangat nyata yang dapat disaksikan oleh manusia, dan khususnya para ulama telah menjelaskan bahwa hasil mubahalah biasanya akan terlihat dalam tempo sekitar satu tahun setelah hari diadakannya mubahalah. Dan dalam hal ini juga terdapat bantahan kelompok-kelompok Hani As-Siba’i dan yang semisalnya yang menganggap bahwa kemenangan (kekuasaan) sama sekali tidak menunjukkan akan lurusnya manhaj, selamanya. Karena sesungguhnya kemenangan-kemenangan ini diraih dalam konteks setelah mubahalah dan juga hasil-hasil lain yang mengikutinya, dan bukan hal yang berdiri sendiri.
Namun jika kita mengenal logika hizbiyah mereka, engkau akan tahu bahwa mereka mungkin akan mangkir atau pura-pura tidak tahu akan hasil ini, atau akan bersikap seperti orang-orang musyrik Quraisy ketika mereka mengingkari bukti nyata yang mereka lihat ketika terjadi bulan terbelah, mereka justru mengatakan bahwa itu adalah pengaruh sihir.
“Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti keinginannya, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap kekafiran), (itulah) suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka), maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan).” (Al-Qamar: 1-6).
BADAI SYUBHAT DAN SYAHWAT
Jika ada yang bertanya: “Apa yang menyebabkan sesatnya kelompok-kelompok ini walau mereka mengaku akan kelurusan aqidah mereka?” Maka tidak ada jawabannya kecuali dengan mentadabburi sedikit hakikat kebenaran dan perkataan para ulama.
Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Pondasi kekafiran itu ada empat: sombong, hasad (iri hati), marah dan syahwat.” (al-Fawa'id).
Empat rukun ini akan mendorong seseorang atau sebuah kelompok ke dalam kekufuran. Bagaimana bisa?
Sombong dan hasad telah mendorong Iblis untuk menolak bersujud kepada Adam setelah Allah memerintahnya, kemudian dengan amarahnya dia bersumpah untuk memerangi Adam dan keturunannya walau dia tahu bahwa itu akan membuatnya dibakar di neraka. Sombong dan dengki juga yang telah menjadikan Bani Israil menolak Islam, dimana mereka menganggap bahwa penutup para nabi harus berasal dari kelompok mereka.
Syaikh Abu Umar al-Baghdadi menyebutkan, “Salah satu unsur penting terbentuknya Shahawat di Iraq adalah kelompok orang-orang dengki, karena disebabkan banyak pasukannya bahkan brigadenya yang membelot berbai’at dan bergabung ke dalam barisan Daulah Islam, karena jiwa manusia diciptakan mencintai superioritas, sehingga dia tidak suka dikalahkan oleh lainnya. … Maka mereka menghalangi manusia dari jihad fi sabilillah karena di dalam hati mereka terdapat rasa dengki dan iri terhadap kaum mukminin yang jujur, juga rasa takut dan cemas yang meliputi hati mereka. Mereka mengajak teman-teman mereka dan kerabat mereka untuk tenang dan bersantai-santai, walau dengan cara bertawali (menjadikan wali) orang-orang kafir, menentang Allah dan Rasul-Nya dan kaum mukminin. Mereka letakkan tangan mereka di atas tangan para thaghut Arab, meminta motivasi dari pemuka agama dan millah, dengan lisan yang tajam, mengatakan bahwa mereka hanya ingin mengusir para penjajah!”. (Qul Inni ‘Ala Bayinatin min Rabbi).
Kenyataan yang beliau ceritakan menyerupai apa yang terjadi di Syam dari banyak sisi, ratusan tentara meninggalkan kelompok-kelompok mereka yang sesat, bahkan terkadang satu brigade sekaligus, (keluar) untuk berbai’at kepada Daulah Islam. Hal ini menjadikan hati para mantan komandan mereka penuh dengan kedengkian dan amarah.
Syahwat juga mendorong kepada kekafiran, seperti yang dikatakan kaum salaf: “Kemaksiatan adalah gerbang menuju kekafiran”. Dan syahwat yang paling berbahaya adalah syahwat harta dan jabatan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dua serigala yang lapar lalu dilepaskan di tengah-tengah domba lebih berbahaya dari ambisi seseorang terhadap harta dan jabatan dalam agamanya.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi).
Kemudian empat faktor ini akan mendorong seseorang untuk mencari pembenaran atas kemaksiatan dan kekufurannya, kemudian dia mencari di dalam berjilid-jilid tebal rujukan untuk mencari satu nama yang mungkin terlupa atau satu pendapat asing misalnya yang ‘membolehkan’ baginya masuk ke dalam aliansi secara terang-terangan bersama orang-orang murtad seperti SNC atau Jabhah Saluliyah (baca: Saudi) untuk melawan ‘khawarij’. Kenapa hal itu tidak termasuk kekufuran dalam batas pengakuan mereka.
Kemudian entah karena orang-orang murtad itu adalah ‘kaum muslimin’ yang bodoh yang mengucapkan kekufuran sekedar untuk menipu orang-orang sekuler dan orang-orang Salib agar mereka aman dari senjata mereka, atau karena beraliansi dengan mereka adalah salah satu bentuk isti’anah dengan orang murtad untuk memerangi ‘khawarij’ dan mereka menganggap itu bukanlah kekafiran walaupun keadaan kelompok-kelompok itu dalam kenyataannya bermasalah.
Abu Amr bin Shalah rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang mencari-cari apa yang para ulama perselisihkan, lalu dia mengambil yang paling ringan dari pendapat mereka, maka dia telah berbuat zindik atau hampir saja.” (Ighatsatul Lahfan, Ibnu Al-Qayim).
Keadaannya seperti orang yang mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama yang berselisih, kemudian dia meletakkannya dalam timbangannya, dan yang paling berat adalah berpendapat kufur, seperti orang yang melakukan kekufuran karena membantu secara militer. Dia melihat sebagian ulama membolehkan mengakhirkan shalat ketika sedang berperang hingga setelah waktu jamak antara dua shalat, dan dia melihat sebagian ulama ada yang tidak mengkafirkan orang yang terkadang meninggalkan sebagian shalat, dia juga melihat sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa ancaman sungguh-sungguh dengan siksaan yang tidak disanggupi termasuk ‘ikrah’, sebagaian ‘ulama’ juga ada yang membuat-buat pendapat sesat dan menyesatkan bahwa dibolehkan melakukan kekufuran terang-terangan demi ‘kemaslahatan jihad’.
Lalu dia pun menyatukan pendapat-pendapat ini dalam timbangannya dan menetapkan bahwa boleh meninggalkan shalat, mengenakan salib, menyeru kepada demokrasi demi ‘menyelamatkan’ manusia dan ‘membela’ mereka. Yang jadi masalah kebanyakan yang terjatuh kedalam jenis kekufuran ini tidak mencari pembenaran perbuatan mereka dengan syubhat-syubhat lemah ini sejak awal, namun orang-orang neo-Jahmiyah ini mengarang sendiri pembenaran bagi mereka setelah mereka melakukannya, kemudian mereka bersekutu bersama orang-orang murtad untuk melawan ‘khawarij’.
Sungguh pasti, kesombongan, kedengkian, kemarahan dan syahwat adalah faktor menuju kekufuran, jika dia diminum oleh seseorang yang memiliki manhaj ‘lurus’ maka akan seperti pencahar yang akan memaksa mengeluarkan penyimpangan yang tersembunyi –jika memang ada– ke permukaan sehingga dapat dilihat oleh semua orang.
“Barangsiapa ingin mengetahui bagaimana sebuah jama’ah yang berjihad di jalan Allah berubah menjadi jama’ah yang berperang di jalan thaghut (seperti beberapa kelompok di Suriah), maka perhatikanlah sejarah, maka ketahuilah bahwa cinta popularitas, kedudukan, harta dan pandangan orang maka itu akan berubah menjadi ‘ujub (bangga diri). Dan ujub akan menjadi dengki, dan dengki akan menjadi sombong, sombong akan menjadi benci, benci akan menjadi permusuhan, dan permusuhan berarti menyelisihi lawan atau saingannya.
Dan menyelisihi ditunjukkan pertama-tama dengan menyembunyikan tauhid, lalu menampakkan lahn (kata-kata ambigu), menjauhi para muwahid dan berdamai dengan orang-orang musyrik. Kemudian menjadi kufrun bawwahan (kekafiran yang nyata) dan perang habis-habisan karena mengikuti syahwat dan berpegang dengan syubhat, kecuali jika Allah melindungi hamba-Nya dengan rahmat-Nya.” (Diringkas dari artikel ‘Abwah Laashiqah).
Hanya kepada Allah tempat kita meminta pertolongan, hanya kepada-Nya kita bertawakal, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Nya. Cukuplah Dia bagi kita dan sebaik-baik Penolong.
Ya Allah tunjukilah orang-orang yang bingung supaya dia bisa mentadabburi hasil mubahalah. Semoga mereka meninggalkan syubhat dan syahwat mereka, serta kembali ke dalam barisan para muwahhidin. Aamiin.
BADAI MUBAHALAH
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam atas Rasul-Nya: Muhammad, dan atas keluarga dan para shahabatnya.
Pada bulan Jumadal Ula 1435 H, Syaikh Abu Muhammad al-Adnani hafizhahullah mengajak pemimpin Jabhah Jaulani untuk bermubahalah, di dalam audionya yang terkenal yang berjudul "Tsumma Nabtahail fa Naj’al La’natallahi ‘alal Kadzibin" (Mari kita Bermubahalah dan Menjadikan Laknat Allah Atas Orang yang Berdusta).
Itu terjadi setelah statemen Abu Abdullah Asy-Syami –seorang anggota Majlis Syura Jabhah Jaulani dan “Majelis Syar’i Umum"– dalam sebuah surat resmi yang panjang yang menyebutkan bahwa Daulah Islam adalah lebih buruk/jelek dibanding kaum Khawarij masa lalu. Dan setelah ajakan Syaikh al-Adnani, Asy-Syami pun menjawab (ajakan mubahalah) sebagai perwakilan dari kelompoknya, Jabhah Jaulani.
Syaikh Abu Muhammad al-Adnani berkata di dalam pidatonya –setelah menyebutkan beberapa tuduhan Asy-Syami dan menjelaskan bahwa itu semua adalah kedustaan yang tujuannya adalah menjelekkan Daulah Islamiyah– beliau berkata: “Ya Allah, siapa yang berdusta maka turunkanlah atasnya laknat-Mu, perlihatkanlah kepada kami ayat-Mu, jadikanlah ia sebagai pelajaran. Ya Allah (juga atas) seluruh orang yang bersekongkol atas jihad dan mujahidin, maka kembalikanlah tipu daya mereka ke atas leher mereka, singkaplah kebusukan mereka, sebarkanlah rahasia mereka, jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran. Ya Allah, kuasakanlah atas mereka kehancuran dan bencana”. (Tsumma Nabtahil fa Naj’al La’natallahi ‘alal Kadzibin’)
Dan sebelumnya, dahulu Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah pernah berdoa seperti ini atas orang-orang yang bergabung kepada "Hizbul Islam" (Partai Islam) atau yang bekerja sama dengan mereka di dalam pidatonya yang berjudul "Fasayakfikahumullah" (Maka Allah Akan Memelihara Kamu Dari Mereka). (Catatan: Hizbul Islam merupakan kelompok Ikhwanul Muslimin di Iraq yang dipimpin oleh Thariq al-Hasyimi).
Kemudian pada bulan Jumadal Akhirah 1435 H, Syaikh Abu Muhammad al-Adnani kembali menekankan mubahalah dengan doanya di dalam akhir pidatonya yang berjudul "Maa Kaana Hadza Manhajuna wa Lan Yakun" (Ini Bukanlah Manhaj Kami dan Tidak Akan Menjadi Manhaj Kami), beliau berkata: “Ya Allah, jikalau Daulah ini adalah Daulah Khawarij, maka musnahkanlah eksistensinya, matikanlah para pemimpinnya, jatuhkanlah panjinya, dan tunjukilah para tentaranya kepada kebenaran.
Ya Allah, jika Daulah ini adalah Daulah Islam, yang berhukum dengan kitab-Mu dan sunnah Nabi-Mu, berjihad melawan musuh-musuh- Mu, maka teguhkanlah ia, jayakanlah ia, tolonglah ia, dan berilah kekuasaan di bumi (tamkin), dan jadikanlah ia Kekhilafahan Di Atas Manhaj Kenabian. Maka katakanlah ‘aamiin’ wahai kaum muslimin.
Ya Allah, hancurkanlah seluruh manusia yang ingin memecah belah barisan para mujahidin, menceraiberaikan kesatuan kaum muslimin, membuat senang kaum kafirin, membuat murka kaum mukminin, dan mengakhirkan jihad bertahun-tahun.
Ya Allah bongkarlah rahasianya, tampakkanlah niat buruknya, dan turunkanlah kepadanya kemurkaan-Mu dan Laknat-Mu, serta perlihatkanlah kepada kami keajaiban Qudrah-Mu.
Katakanlah wahai kaum muslimin: “Aamiin”.
PEMBAHASAN TENTANG MUBAHALAH
Sesungguhnya Mujahidin –segala puji bagi Allah– adalah termasuk orang yang paling kuat imannya kepada syariat mubahalah, Syaikh Abdul Karim al-Humaid (semoga Allah menguatkannya dan melepaskannya dari tawanan) telah menulis sebuah risalah yang sangat berharga berjudul "Al-Masyayikh al-Judud wa Da’watuhum ilal Mubahalah" (Para Syaikh Junior dan Seruan Mereka kepada Mubahalah).
Di dalamnya beliau menyebutkan tentang landasan dalil dalam hal ini, dan menyeru "Hai’ah Kibaril Ulama" (Lembaga Ulama Senior –seperti yang mereka sebut), dan juga terhadap Syaikh Salman al-Audah dan Nashir al-Umar untuk bermubahalah, karena mereka telah berulang kali mengeluarkan pernyataan mujahidin sebagai ‘Khawarij’ dan menyeru warga Palestina untuk ikut andil dalam agama syirik demokrasi dengan memilih Hamas pada pemilu. Dan kebanyakan pembahasan berikut ini dinukil dari risalahnya.
Hujjah pokok dalam masalah ini adalah firman Allah: (Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya “Jadilah!”, maka jadilah sesuatu itu. Kebenaran itu dari Rabbmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu. Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anakmu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan juga kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”) (Ali-Imran : 59-61).
Asbabun nuzul ayat ini adalah, bahwanya ada utusan Nasrani dari Najran yang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mendebatnya dalam masalah Islam. Ketika utusan itu ditawarkan mubahalah, mereka menolak. Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir dan ulama tafsir lainnya dalam kitab tafsir mereka.
Dan Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa berada dalam kesesatan, maka biarlah Rabb Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya, sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik adzab maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya”.” (Maryam: 75)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Allah berfirman (Katakanlah) wahai Muhammad, kepada orang-orang yang musyrik kepada Rabb mereka dan mengaku bahwa mereka di atas kebenaran dan kalian di atas kebathilan, (barangsiapa berada dalam kesesatan) yakni: kami atau kalian, (maka biarlah Rabb Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya) yakni: Allah yang Maha Pengasih membiarkannya dalam keadaan mereka, hingga kelak menemui Rabbnya dan habislah ajalnya, (baik adzab) yang menimpanya (maupun Kiamat) yang datangnya tiba-tiba, (maka mereka akan mengetahui) ketika itu (siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya”) yakni berlawanan dengan apa yang mereka katakan dari kedudukan dan kelompok yang mulia. Mujahid berkata dalam firman Allah (maka biarlah Rabb Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya) maka biarkanlah Allah membiarkan mereka di dalam kesombongan mereka, demikian yang ditetapkan oleh Abu Ja’far ibnu Jarir rahimahullah. Dan ini adalah mubahalah terhadap kaum musyrikin yang mengaku bahwa keadaan mereka di atas kebenaran, sebagaimana Allah menjelaskan tentang mubahalah kepada orang- orang Yahudi dalam fiman-Nya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang Yahudi! Jika kamu mengira bahwa kamulah kekasih Allah, bukan orang-orang yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu orang yang benar”.” (Al-Jumu’ah: 6) yakni mari kita saling mendoakan kematian bagi siapa yang salah di antara kita, jika kalian memang menganggap diri kalian di atas kebenaran maka doa ini tidak akan membahayakan kalian. Akan tetapi mereka menghindar dari hal itu, dan telah berlalu penetapan hal ini secara rinci dalam surat Al-Baqarah, dan segala puji bagi Allah, sebagaimana Allah menyebutkan juga tentang mubahalah terhadap orang-orang Nashrani di dalam surat Ali-Imran ketika mereka tetap bersikeras di atas kekufuran, tetap di atas kecongkakan dan ghuluw dalam menyebut Isa sebagai anak Allah. Dan sungguh, Allah telah menjelaskan hujjah dan petunjuk-Nya atas sifat kehambaan Isa bahwa dia tidak lebih sebagai makhluk seperti Adam, sehingga Allah berfirman setelahnya: “siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anakmu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.” (Ali Imran: 61) dan mereka juga berpaling dari hal itu”. (Tafsir Ibnu Katsir)
Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Asy-Sya’bi, al-Auza’i, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayim, Ibnu Hajar, Muhammad bin Abdul Wahhab dan Shidiq Hasan Khan telah menyeru orang yang menyelisihi mereka kepada mubahalah, bahkan sebagian menyeru kepada mubahalah lantaran perkara furu’ dalam masalah fiqih.
Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Dan perdebatan jika telah mencapai batasan seperti ini dan tidak menghasilkan manfaat, maka seyogyanya untuk beralih kepada apa yang telah Allah perintahkan kepada Rasul-Nya berupa mubahalah.” (Mukhtashar Ash-Shawa’iq al-Mursalah).
Beliau juga berkata dalam masalah fiqh dari kisah utusan Najran: “Di antaranya: sesungguhnya sebuah sunnah dalam berdebat melawan pengusung kebathilan, apabila telah tegak hujjah Allah tapi mereka tetap tidak mau kembali, bahkan bertambah membangkang maka hendaknya dia mengajaknya untuk bermubahalah. Dan sungguh Allah telah memerintahkan Rasul-Nya dengan hal itu, dan Allah tidak berfirman: "Sesungguhnya hal itu tidak untuk umatmu sama sekali setelah ini". Dan telah menyeru kepada hal ini juga anak paman Rasul shallallahu alaihi wa sallam, Abdullah bin Abbas terhadap orang-orang yang berbeda faham dalam masalah furu’, dan tidak ada seorang shahabat pun ketika itu yang mengingkarinya. Dan Al-Auza’i pernah mengajak Sufyan Ats-Tsauri bermubahalah dalam masalah mengangkat tangan, dan hal itu tidak diingkari, dan ini merupakan kesempurnaan hujjah.” (Zaadul Ma’ad).
Dan mubahalah tidak memiliki lafadz khusus, misal ketika Ibnu Hajar menyeru mubahalah seorang laki-laki pengagum si zindik Ibnu Arabi, beliau berkata: “Katakanlah: ‘Ya Allah jika Ibnu Arabi di atas kesesatan maka laknatlah aku dengan laknat-Mu”’, dan Ibnu Hajar juga berdoa setelahnya: ‘Ya Allah jika Ibnu Arabi di atas kebenaran maka laknatlah aku dengan laknat- Mu’. Dan dua bulan kemudian pengagum Ibnu Arabi itu buta matanya dan binasa dengan hina, ini dikisahkan oleh As-Sakhawi (murid Ibnu Hajar) di dalam kitabnya yang berjudul Al-Qaul al-Mubni.
Para ulama berkata: dan di antara hal yang diketahui sesuai pengalaman, bahwa tidak lebih dari satu tahun berlalu atas orang yang bermubahalah dengan dusta, kecuali akan terjadi hasil mubahalah itu. Terkadang hasilnya berupa kebinasaan yang menghinakan (yang tidak termasuk mati syahid di jalan Allah), sakit, diasingkan dari negeri, kefakiran, dan lain-lain.
Dan apabila mubahalahnya terjadi antara dua kelompok, maka hasilnya yang terlihat jelas adalah kemenangan salah satu dari kelompok itu dan hancurnya kelompok lainnya, hasil ini akan memperlihatkan kelompok mana yang berdusta dengan sangat jelas, lebih dari sekedar kematian salah satu anggotanya dengan hina. Lalu bagaimana jika kelompok pendusta itu mengancam kelompok lawannya dengan kebinasaan secara menyeluruh terhadap pasukan ‘singa-singa dari timur’?!
Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata: “Datang Al-‘Aqib dan As-Sayid (keduanya penduduk Najran) kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak bermubahalah, namun salah satu dari keduanya berkata: ‘Jangan lakukan, demi Allah, jika dia benar seorang Nabi kemudian melaknat kita, maka kita tidak akan selamat dan juga keturunan kita nanti.” (Shahih Al-Bukhari).
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: “Seandainya orang-orang Yahudi itu mengharapkan kematian, pasti mereka akan mati dan melihat tempat duduk mereka di neraka. Jika orang-orang itu mau keluar bermubahalah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tentu mereka akan kembali (ke kampungnya) tanpa mendapati lagi harta dan keluarganya.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad).
Diriwayatkan oleh Ath-Thabari rahimahullah: dari ‘Ilba’ ibnu Ahmar Al-Yasykuri rahimahullah (beliau murid seorang tabi’in ahli tafsir, Ikrimah rahimahullah) dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak orang-orang Yahudi untuk bermubahalah saling melaknat, seorang pemuda dari Yahudi berkata: ‘Celaka kalian, tidakkah kalian ingat kejadian dahulu ketika saudara-saudara kalian dirubah menjadi kera dan babi? Janganlah kalian bermubahalah, berhentilah'." (Tafsir Ath-Thabari, dengan ringkasan).
Dan mubahalah merupakan salah satu bagian dari bentuk dakwah al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, di mana beliau berkata: “Dan aku mengajak orang-orang yang menyelisihiku kepada empat hal: 1. Kembali kepada kitab Allah, 2. Kembali kepada sunnah Rasul-Nya, 3. Kembali kepada ijma’ ahlul ilmi, dan 4. Jika tetap menolak maka aku mengajaknya bermubahalah, sebagaimana Ibnu Abbas pernah mengajak mubahalah dalam masalah ilmu waris (faraidh), Sufyan dan Al-Auza’i dalam masalah mengangkat tangan, dan ulama-ulama lainnya.” (Ad-Durar As-Saniyah).
Setelah pembahasan ini, maka kita harus ingat bahwa mujahidin adalah termasuk dari manusia yang paling benar aqidahnya, terutama dalam masalah nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Yang demikian karena aqidah mereka adalah aqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah, sehingga mereka beriman bahwa perbuatan Allah adalah haq dan tidak keluar dari sifat rahmah, keadilan dan hikmah.
Berlainan dengan Asy’ariah yang meyakini bahwa sifat hikmah menafikan sifat iradah ‘bebas berkehendak’, karenanya mereka tidak menyifati sifat hikmah dengan benar. Apalagi sifat rahmat, yang mereka maknai dengan “kehendak kebaikan bagi makhluk”. Bahkan sebagian ahli kalam menyangka bahwa bisa jadi Allah menakdirkan munculnya mukjizat kenabian dari tangan para pendusta yang mengaku nabi. Dan satu-satunya argumen untuk menggagalkan pengakuannya adalah seseorang yang melawan pengakuannya dengan mukjizat yang menyerupainya*.” Dan sebagian ahlu kalam dari kelompok mu’tazilah (dan yang mengikuti mereka dari orang-orang zhahiriyah) menolak hakikat karomah para wali**, dan bisa jadi sebagian orang-orang di Jabhah Jaulani mengadopsi keyakinan ini dan ghuluw di dalamnya, serta melebar untuk menolak hasil mubahalah apa pun setelah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
* Masalah hikmah, adil, tanda-tanda kenabian, tahsin dan taqbih telah dibahas oleh Ibnul Qayim rahimahullah dalam kitab Miftah Darus Sa’adah, Shawa’iq al-Mursalah, Syifa al-’Alil, dan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab An-Nubuwat.
** Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Al-Wasithiyah bahwa percaya kepada karamah para wali merupakan salah satu pokok aqidah ahlussunnah. Karena itu Al-Lalika-I membuat bab khusus tentang karamah para wali dalam kitabnya yang sangat berharga: Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wa Al-Jama’ah, di dalamnya beliau menyebutkan lebih dari 200 atsar tentangnya baik dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam maupun dari kalangan salaf.
Selain aqidah Ahlus sunnah yang lurus ini yang dipikul oleh para mujahidin, mereka juga berbaik sangka kepada Allah, karena Allah berfirman di dalam hadits qudsi: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, jika dia berprasangka kepada-Ku dengan kebaikan maka baginya (kebaikan). Jika dia berprasangka dengan keburukan, maka baginya (keburukan).” (Shahih: diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban).
Dan dalam riwayat lain: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku sekehendaknya.” (Shahih: diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim).
Dan dalam riwayat lain: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika dia berdoa kepada-Ku.” (Shahih Muslim).
KELURUSAN AQIDAH MUJAHIDIN
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meninggal kecuali dia berbaik sangka kepada Allah.” (Shahih Muslim).
Sebagai penutup, yang menjadi masalah adalah orang-orang yang menyelisihi Daulah Islam menanggapi mubahalah sedang mereka meyepelekan kebohongan, mereka menganggapnya seperti permainan anak kecil. Sedangkan para pemimpin Daulah Islam dan tentaranya menyadari bahwa takabbur terhadap mubahalah dan menuduh kaum muslimin dengan kedustaan bathil merupakan hal yang sangat berbahaya, sebuah perkara yang dapat mengundang amarah Allah yang Maha Perkasa.
Allah berfirman di dalam hadits qudsi: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya." (Shahih Al-Bukhari).
Wallahu Al-Musta’an...
SITUASI PASKA MUBAHALAH
Pasca mubahalah, sejumlah hal mulai terlihat ke permukaan :
Pertama: Sejumlah kisah yang dijadikan argumen oleh Abu Abdullah Asy-Syami untuk menuduh bahwa Daulah Islam menolak syariat Allah, terbukti dusta dan karangan belaka. Terutama tentang tuduhan bahwa Daulah Islam mengangkat permasalahan kepada Azh-Zhawahiri supaya bisa menjadi hakim antara Daulah dan orang-orang Jaulani. Dan Allah menakdirkan melalui lisan Azh-Zhawahiri sendiri yang mendustakan Asy-Syami dalam ceramah audionya (namun sayang terdapat kedustaan dan pemutar balikan fakta juga di dalam ceramahnya).
Kedua: banyak dari sekutu utama Jabhah Jaulani, terutama yang mereka sebut Jaisyul Mujahidin dan Jabhah Islamiyah dengan cepat memperlihatkan aqidah dan manhaj mereka yang sebenarnya. Misalnya pada 18 Maret 2014, Jaisyul Mujahidin mengeluarkan pernyataan bahwa hijab syar’i adalah kebebasan individu! Dan satu bulan kemudian dengan bangga mereka menerima As’ad Mushthafa, Menteri Pertahanan bagi pemerintahan sementara Koalisi Nasional Suriah (SNC).
Jangan lupa bahwa Asy-Syami menyebutkan Jaisyul Mujahidin dalam ceramahnya dan bersaksi akan lurusnya aqidah mereka, dan dia mengaku itu semua mereka ketahui karena hubungan dekat Jabhah Jaulani dengan mereka, dan dia mengaku bahwa mereka lebih tahu tentang mereka daripada Daulah Islam! Asy-Syami berkata: “Dan aku bermubahalah denganmu bahwa kalian menguji manusia tentang aqidah mereka, dengan bukti kalian memberikan syarat untuk menerima prakarsa Syaikh Al-Muhaisini, yang itu semua secara umum menguji aqidah manusia, bahkan sebaik-baik manusia. Maksudku adalah para mujahidin dari berbagai kelompok jihad, seperti Jabhah Islamiyah, Jaisyul Mujahidin dan selain dari keduanya.” (Al-Mubahalah).
Dia juga berkata: “Menggambarkan pertempuran yang terjadi adalah pertempuran antara Jama’ah Daulah dari satu sisi dan orang-orang yang ada di barisan Jarba dan Idris (keduanya tokoh SNC) di sisi yang lain adalah penggambaran yang jauh dari kebenaran, sangat jauh, karena sesungguhnya yang membawa beban terberat dalam memerangi jama’ah Daulah di sisi utara adalah Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin. … Adapun Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin adalah pion terbesar dalam memerangi Jama’ah Daulah dan belum tetap bagi kami bahwa mereka telah jatuh ke dalam kemurtadan, dan kami jauh lebih mengenal mereka daripada Jama’ah Daulah, karena dekatnya hubungan kami dengan mereka.” (Walau Annahum Fa’alu maa Yu’azhuna Lakaana Khairan Lahum).
Adapun Jabhah Islamiyah, pemimpin mereka mengeluarkan sejumlah statemen yang menyebut bahwa thaghut-thaghut Arab sebagai ‘mitra Suriah’. Mereka memperbaharui komitmen mereka untuk MENGHORMATI SEMUA AGAMA yang ada di Suriah tanpa terkecuali, ini termasuk di dalamnya Nushairiyah, Ismailiyah, Yazidiyah dan Druze. Dan ketika golongan Islam Sekuler di Turki memenangkan pemilu terakhir, pemimpin Jabhah Islamiyah mengucapkan selamat kepada sekuleris Erdogan atas kemurtadan barunya.
Dan terakhir, mereka mengeluarkan perjanjian berjudul “Perjanjian Revolusi Mulia” yang ditandatangani sejumlah kelompok lain di antaranya Jaisyul Mujahidin, perjanjian ini dibentuk sebagai deklarasi orang-orang sekuler akan sikap mereka yang bebas dari Islam, hingga sebagian penasihat senior Jabhah Islamiyah –seperti yang mereka sebut– meminta pemimpin Jabhah Islamiyah untuk mengeluarkan statemen pencabutan deklarasi perjanjian itu.
Dan yang lebih buruk dari itu, Jabhah Jaulani masuk ke dalam aliansi partai-partai sekuler yang termasuk di dalamnya Dewan Militer milik Staf Umum Militer Koalisi Nasional Suriah (SNC). Terutama di wilayah timur Suriah. Dan setelah perpecahan terakhir ‘Misymisy’ (secara bahasa berarti nama buah aprikot, tapi maksudnya singkatan dari Majlis Syura Manthiqah Syarqiyah/Majelis Syura Mujahidin Wilayah Timur, pent).
Para sekutu terbesar Jabhah Jaulani mulai secara terbuka memperbaharui permohonan mereka kepada Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan "mitra Suriah" (para thaghut Arab, edt) untuk mempersenjatai mereka dan mendukung mereka dalam perang melawan Daulah Islam! Pada masa ini, sebuah cuplikan tentang Al-Harari (seorang tokoh utama ‘Syar’i’ Jabhah Jaulani) dirilis, yang di dalamnya disebutkan bahwa dia adalah pendiri Jabhah Nushrah dan orang yang paling diburu Amerika! Kata-katanya penuh dengan riya’, nifaq dan kedunguan.
Kemudian seorang mantan tahanan dari Jabhah Jaulani merilis dan bersaksi bahwa al-Harari telah memaksanya untuk membuat rekaman kecaman terhadap Daulah Islam (dikeluarkan oleh Jabhah Jaulani) dan memintanya untuk menghubungi Shahawat Iraq dan pemimpin mereka Ibrahim ash-Shummari untuk mengkoordinasikan antara mereka dan Jabhah Jaulani dalam memerangi Daulah Islam! Laporan ini diperkuat oleh al-Harari melalui twitter "permintaan maaf" kepada orang-orang Iraq, di mana dia mengaku telah menzhalimi mereka karena telah memberi nama kelompok murtad dan berbahaya sebagai Shahawat!
Dan lebih dari itu, kata-kata pemimpin Jabhah Jaulani ini diisi dengan tuduhan dusta secara tidak langsung kepada Abu Umar Al-Baghdadi dan Abu Hamzah al-Muhajir, padahal sama-sama diketahui bahwa tidak ada seorang pun yang memerangi Shahawat di Iraq kecuali dua orang ini dan Daulah Islam yang dibawah kepemimpinannya, dan dahulu Syaikh Usamah bin Ladin serta pembesar Al-Qaidah pada masa itu memberikan pujian kepada dua orang ini dan kepada negara yang dibentuk oleh keduanya.
Dan tambahan atas ini semua, para Shahawat dan sekutu mereka dari orang-orang Jaulani harus mundur dari banyak wilayah di Aleppo, Homs, Damaskus dan Lattakia. Ini adalah Shahawat yang sama yang beberapa bulan lalu membual akan membebaskan tahanan di penjara pusat Aleppo yang tidak lagi dalam kepungan, dan membual angkuh ketika merebut kota perbatasan Kasab, yang kemudian mereka harus mundur dari sana. Lalu mereka membuat fitnah atas Daulah Islam dengan menggunakan kemenangan-kemenangan tipis Shahawat dan informasi dari media-media Qatar dan Saudi mereka jadikan ini sebagai bukti bahwa hanya Shahawat satu-satunya kelompok yang memerangi Nushairi.
Kemudian Jabhah Jaulani, semakin bertambah hari mereka semakin bersikap seperti gerilyawan yang tidak memiliki komando pusat, dan walaupun orang yang mereka akui sebagai pemimpin tertinggi –yakni Syaikh Azh-Zhawahiri telah memerintahkan mereka untuk menghentikan ‘bom manusia’ terhadap kaum muslimin, namun mereka masih saja menggunakan taktik ini untuk melawan orang-orang di luar mereka. Walaupun orang yang mereka serang adalah mantan anggota mereka yang baru saja memisahkan diri, seperti yang terjadi di Albu Kamal.
Dan ketika pembentukan ‘Misymisy’, diumumkanlah para anggota Misymisy, termasuk Jabhah Jaulani di wilayah Al-Khair, mereka mengatakan akan melebur ke dalam formasi baru ini setelah beberapa bulan pasca deklarasi. Dan secara bertahap, terdengar berita tentang masuknya beberapa pemimpin lokal Jabhah Jaulani ke dalam aliansi bersama kelompok-kelompok dukungan Saudi dan sekuler di wilayah itu.
Pada saat yang sama, beberapa pemimpin lokal lainnya di wilayah lain keluar dari aliansi, tanpa ada kesepakatan yang telah diraih atau keputusan yang diambil. Seolah-olah kepala komando pusat mereka telah terputus. Dan muncul kontradiksi yang sangat nyata ketika mereka menggunakan metode yang dulu Daulah Islam dikritik karena menggunakannya, seperti menargetkan para oposisi bersenjata yang bertingkah seperti gangster yang merampas kekayaan kaum muslimin, dan memperlihatkan permusuhan kepada organisasi militer –secara langsung atau tidak– milik oposisi pemerintah, termasuk badan ‘syar’i’ di dalamnya. Hal ini telah dipraktekkan oleh Daulah Islam sejak dahulu, namun dikecam oleh Jabhah Jaulani karena dianggap merubah arah ‘revolusi’ dan jihad, dalam pandangan mereka tidak ada yang boleh diperangi kecuali Nushairiyah saja, walaupun begitu nyata kemurtadan para penjahat itu.
Sebaliknya, meskipun Daulah Islam menghadapi berbagai pertempuran dalam masalah ekonomi, militer, politik dan media, dan meskipun berbagai kelompok bersama-sama menyerangnya –mulai dari kepemimpinan baru Al-Qa’idah di Khurasan, lalu kelompok Shafawi di Teheran, dan terakhir orang-orang Salib di Washington, namun Daulah Islam tetap meraih kemenangan satu demi satu. Dia berhasil membebaskan seluruh daerah timur di Suriah dari Shahawat, membebaskan wilayah Ninawa dan Al-Anbar, serta berbagai wilayah luas lainnya. Dan ini semua menyebabkan para tentara Shafawi membubarkan diri, berpencar dan menghilang, dan terbunuhnya ribuan orang rafidhah (mereka adalah ‘muslim’ menurut pandangan para komandan baru tanzhim Al-Qa’idah).
Dia memenuhi janjinya dan menghancurkan batas pemisah (perbatasan) yang telah memisahkan negeri Iraq dan Syam, pasukannya terus bertambah, kemudian mendeklarasikan Khilafah. Orang-orang segera berbai’at kepadanya, dari Aljazair, Sudan, Indonesia, Filipina, Waziristan dan negeri-negeri lainnya. Ini semua merupakan karunia dari Allah semata, dan Daulah Islamiyah jika disandarkan hanya kepada dirinya saja tentu tidak akan seperti ini. Namun demikian, aliansi Shahawat tetap menganggap bahwa berkelompok-kelompok itu lebih baik daripada bai’at, mendengar, ta’at, imarah, imamah dan jama’ah. Itu wajar, karena mereka memang tidak memiliki aspirasi politik praktis bagi Islam saat ini!
Wallahul Musta’an.
MEMAHAMI HIKMAH DALAM PERBUATAN ALLAH
Hal yang sangat penting untuk memahami hikmah Allah dalam perbuatan-Nya sebelum memikirkan masalah mubahalah, meski pembahasan berikut ini seputar hikmah Allah dalam lingkup yang lebih luas, namun ini akan membantu untuk memahami hakikat hikmah-Nya dalam bentuk lainnya.
Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Aku akan menceritakan kepada kalian tentang kisah perdebatan yang terjadi antara aku dan beberapa orang Yahudi, aku berkata kepadanya setelah dia menolak kenabian Nabi, aku katakan: ‘mengingkari kenabiannya berarti juga menuduh Rabb semesta alam dengan kecacatan dan seburuk-buruk kekurangan, jika tadi aku berbicara kepada kalian tentang Rasul, maka sekarang pembicaraan tentang penyucian Rabb Ta’ala.
Orang Yahudi berkata: ‘Bagaimana engkau bisa bicara seperti itu?’ Aku berkata: ‘Aku akan menjelaskannya, dengarkanlah: Kalian sekarang menganggap bahwa dia bukan seorang rasul, hanya seorang raja diktator yang memaksa manusia dengan pedangnya hingga mereka tunduk kepadanya, dia menetap selama 23 tahun berdusta atas nama Allah. Dia berkata "Aku telah mendapat wahyu", padahal tidak ada wahyu kepadanya, "aku mendapatkan perintah", padahal Dia tidak memerintahnya”. "Aku dilarang oleh-Nya", padahal Dia tidak melarangnya. "Allah berfirman begini", padahal Dia tidak pernah berfirman. "Dia menghalalkan ini dan mengharamkan itu, mewajibkan ini dan membenci itu", padahal Dia tidak pernah menghalalkan itu atau mengharamkannya dan juga tidak mewajibkannya.
Namun semua itu berasal dari dirinya sendiri berdusta dan mengada-ada atas nama Allah, para Nabi-Nya dan para malaikat-Nya, kemudian dia menetap selama 13 tahun menghabisi hamba-hamba-Nya, mengalirkan darah mereka, menjadikan budak para wanita dan anak-anak mereka, padahal mereka tidak memiliki kesalahan kecuali hanya karena menolak dan menyelisihinya. Dan meski itu semua, dia tetap mengatakan "Allah memerintahkanku untuk itu", padahal Dia tidak memerintahnya. Dan dia dengan leluasa mengganti agama para rasul, menghapus syariat mereka, menghapus tempat ibadah mereka, dan beginilah keadaannya menurut kalian.
Maka ada kemungkinan, apakah Rabb yang Maha Tinggi mengetahui ini semua, melihat keadaannya dan memperhatikannya ataukah tidak?
Jika kalian mengatakan bahwa ini semua luput dari Allah, Dia tidak mengetahuinya, maka kalian telah menuduh keburukan kepada Allah, dan menisbatkan kepada-Nya sifat bodoh yang sangat parah jika sampai Dia tidak mengetahui kejadian besar ini, tidak melihatnya dan tidak mengawasinya.
Jika kalian mengatakan bahwa ini semua terjadi di bawah pengawasan-Nya, pengetahuan dan persaksian-Nya, maka aku bertanya kepada kalian, apakah Dia tidak sanggup untuk merubah hal itu dan menghalanginya, ataukah tidak?
Jika kalian menjawab bahwa Dia tidak sanggup melakukan hal itu maka kalian telah menyandarkan sifat lemah kepada-Nya dan ini menafikan sifat rububiyah-Nya, karena manusia ini dan pengikutnya lebih sanggup untuk melakukan keinginannya.
Jika kalian mengatakan bahwa Dia sanggup akan hal itu namun Dia sengaja memberikan kekuasaan kepadanya di bumi ini dan menguasakannya atas segenap makhluknya, dan justru Dia tidak menolong para wali dan pengikut rasul-Nya, maka kalian juga telah menisbatkan kepada-Nya kebodohan paling parah dan tidak mengetahui hikmah! Ini jika Dia sengaja membiarkannya begitu saja.
Dan bagaimana lagi jika Dia justru menolong dan menguatkannya, mengabulkan doanya, membinasakan orang-orang yang menentangnya dan mendustakannya, lalu Dia memberikan bukti penguat berupa ayat-ayat dan bukti-bukti pada tangannya yang seandainya seluruh penduduk bumi berkumpul untuk mendatangkan yang semisalnya walau hanya satu ayat mereka tidak akan sanggup mendatangkannya.
Dan waktu demi waktu terjadi baginya sebab-sebab kemenangan, kekuasaan, kejayaan, ketinggian, pengikut yang bertambah, dan ini semua adalah perkara yang luar biasa. Maka jelaslah siapa yang mengingkari bahwa dia seorang Rasul dan Nabi maka berarti dia juga telah menuduh Allah, memfitnah dan menganggap Dia bodoh, lemah dan dungu.'
Aku lalu berkata: 'Dan ini semua tidak pernah terjadi kepada para raja zhalim yang telah Allah beri mereka kekuasaan di muka bumi dalam suatu masa, karena setelah itu Dia akan memutus eksistensinya, menghilangkan tradisinya, menghapus jejak dan kejahatannya, orang-orang tidak mengikuti ini semua, mereka juga tidak ditolong, dikuatkan atau dikeluarkan dari tangan mereka ayat-ayat. Rabb juga tidak membenarkan mereka dengan ketetapan-Nya, perbuatan-Nya atau firman-Nya, bahkan memerintahkan mereka dengan hal yang berlawanan dimana para rasul menjadi lawan mereka, seperti Firaun, Namrudz dan lain sebagainya.
Dan ini juga tidak berbeda dengan para pendusta yang mengaku sebagai nabi, sesungguhnya keadaan mereka berlawanan dengan keadaan para Rasul dari segala sisinya, bahkan keadaan mereka menjadi bukti paling nyata akan kebenaran Rasul. Dan di antara hikmah Allah Ta’ala Dia mengeluarkan orang-orang seperti ini ke permukaan, supaya kita tahu bagaimana perbedaan antara para pendusta dan orang-orang yang jujur. Kemunculan mereka menjadi dalil (bukti) paling jelas atas kebenaran para rasul dan perbedaan mereka dari para pendusta, karena dengan sesuatu yang berlawanan maka sesuatu itu akan menjadi jelas, sesuatu yang kontradiksi akan memperjelas kebenaran sesuatu yang menjadi lawannya, mengetahui dalil-dalil kebathilan dan syubhatnya merupakan salah satu jenis dalil-dalil kebenaran dan petunjuknya.'
Ketika mendengar hal ini, dia berkata: 'Aku berlindung kepada Allah, kami tidak akan mengatakan bahwa dia (Nabi Muhammad) seorang raja yang zhalim, tapi dia adalah Nabi yang mulia, siapa yang mengikutinya maka mereka akan bahagia…'." (At-Tibyan Fi Aqsami Al-Qur'an).
MERENUNGI HASIL MUBAHALAH
Walaupun kutipan kisah di atas berhubungan dengan masalah kenabian –yaitu masalah yang tidak kita ragukan jauh lebih agung dari apa yang kita bahas sekarang– akan tetapi kisah di atas dapat membantu kita dalam memahami hakikat hikmah Allah dan kemunculannya dalam perbuatan-Nya. Mubahalah adalah masalah yang diangkat kepada Allah hingga diputuskan antara dua pihak, dan membuktikan siapa pihak yang berdusta dan mengaku kebenaran, padahal hakikatnya dia bathil dan dusta.
Dan dalam bentuk mubahalah, tidak mungkin bagi Allah yang Maha Mulia dan Tinggi, terhadap dua golongan yang saling bersumpah akan mengaku keduanya sama-sama di atas manhaj dien yang benar, lalu keduanya berselisih dan saling menuduh bahwa salah satu mereka berada dalam kesesatan yang nyata, kemudian Allah memberkahi kelompok pendusta yang berhak mendapat laknat dan justru melaknat kelompok yang jujur yang berhak mendapat berkah, bahkan menghancurkan kelompok ‘yang diberkahi’ melalu tangan kelompok ‘yang dilaknat’!
Kemudian hasil mubahalah dapat menjadi hal yang sangat nyata yang dapat disaksikan oleh manusia, dan khususnya para ulama telah menjelaskan bahwa hasil mubahalah biasanya akan terlihat dalam tempo sekitar satu tahun setelah hari diadakannya mubahalah. Dan dalam hal ini juga terdapat bantahan kelompok-kelompok Hani As-Siba’i dan yang semisalnya yang menganggap bahwa kemenangan (kekuasaan) sama sekali tidak menunjukkan akan lurusnya manhaj, selamanya. Karena sesungguhnya kemenangan-kemenangan ini diraih dalam konteks setelah mubahalah dan juga hasil-hasil lain yang mengikutinya, dan bukan hal yang berdiri sendiri.
Namun jika kita mengenal logika hizbiyah mereka, engkau akan tahu bahwa mereka mungkin akan mangkir atau pura-pura tidak tahu akan hasil ini, atau akan bersikap seperti orang-orang musyrik Quraisy ketika mereka mengingkari bukti nyata yang mereka lihat ketika terjadi bulan terbelah, mereka justru mengatakan bahwa itu adalah pengaruh sihir.
“Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti keinginannya, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap kekafiran), (itulah) suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka), maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan).” (Al-Qamar: 1-6).
BADAI SYUBHAT DAN SYAHWAT
Jika ada yang bertanya: “Apa yang menyebabkan sesatnya kelompok-kelompok ini walau mereka mengaku akan kelurusan aqidah mereka?” Maka tidak ada jawabannya kecuali dengan mentadabburi sedikit hakikat kebenaran dan perkataan para ulama.
Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Pondasi kekafiran itu ada empat: sombong, hasad (iri hati), marah dan syahwat.” (al-Fawa'id).
Empat rukun ini akan mendorong seseorang atau sebuah kelompok ke dalam kekufuran. Bagaimana bisa?
Sombong dan hasad telah mendorong Iblis untuk menolak bersujud kepada Adam setelah Allah memerintahnya, kemudian dengan amarahnya dia bersumpah untuk memerangi Adam dan keturunannya walau dia tahu bahwa itu akan membuatnya dibakar di neraka. Sombong dan dengki juga yang telah menjadikan Bani Israil menolak Islam, dimana mereka menganggap bahwa penutup para nabi harus berasal dari kelompok mereka.
Syaikh Abu Umar al-Baghdadi menyebutkan, “Salah satu unsur penting terbentuknya Shahawat di Iraq adalah kelompok orang-orang dengki, karena disebabkan banyak pasukannya bahkan brigadenya yang membelot berbai’at dan bergabung ke dalam barisan Daulah Islam, karena jiwa manusia diciptakan mencintai superioritas, sehingga dia tidak suka dikalahkan oleh lainnya. … Maka mereka menghalangi manusia dari jihad fi sabilillah karena di dalam hati mereka terdapat rasa dengki dan iri terhadap kaum mukminin yang jujur, juga rasa takut dan cemas yang meliputi hati mereka. Mereka mengajak teman-teman mereka dan kerabat mereka untuk tenang dan bersantai-santai, walau dengan cara bertawali (menjadikan wali) orang-orang kafir, menentang Allah dan Rasul-Nya dan kaum mukminin. Mereka letakkan tangan mereka di atas tangan para thaghut Arab, meminta motivasi dari pemuka agama dan millah, dengan lisan yang tajam, mengatakan bahwa mereka hanya ingin mengusir para penjajah!”. (Qul Inni ‘Ala Bayinatin min Rabbi).
Kenyataan yang beliau ceritakan menyerupai apa yang terjadi di Syam dari banyak sisi, ratusan tentara meninggalkan kelompok-kelompok mereka yang sesat, bahkan terkadang satu brigade sekaligus, (keluar) untuk berbai’at kepada Daulah Islam. Hal ini menjadikan hati para mantan komandan mereka penuh dengan kedengkian dan amarah.
Syahwat juga mendorong kepada kekafiran, seperti yang dikatakan kaum salaf: “Kemaksiatan adalah gerbang menuju kekafiran”. Dan syahwat yang paling berbahaya adalah syahwat harta dan jabatan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dua serigala yang lapar lalu dilepaskan di tengah-tengah domba lebih berbahaya dari ambisi seseorang terhadap harta dan jabatan dalam agamanya.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi).
Kemudian empat faktor ini akan mendorong seseorang untuk mencari pembenaran atas kemaksiatan dan kekufurannya, kemudian dia mencari di dalam berjilid-jilid tebal rujukan untuk mencari satu nama yang mungkin terlupa atau satu pendapat asing misalnya yang ‘membolehkan’ baginya masuk ke dalam aliansi secara terang-terangan bersama orang-orang murtad seperti SNC atau Jabhah Saluliyah (baca: Saudi) untuk melawan ‘khawarij’. Kenapa hal itu tidak termasuk kekufuran dalam batas pengakuan mereka.
Kemudian entah karena orang-orang murtad itu adalah ‘kaum muslimin’ yang bodoh yang mengucapkan kekufuran sekedar untuk menipu orang-orang sekuler dan orang-orang Salib agar mereka aman dari senjata mereka, atau karena beraliansi dengan mereka adalah salah satu bentuk isti’anah dengan orang murtad untuk memerangi ‘khawarij’ dan mereka menganggap itu bukanlah kekafiran walaupun keadaan kelompok-kelompok itu dalam kenyataannya bermasalah.
Abu Amr bin Shalah rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang mencari-cari apa yang para ulama perselisihkan, lalu dia mengambil yang paling ringan dari pendapat mereka, maka dia telah berbuat zindik atau hampir saja.” (Ighatsatul Lahfan, Ibnu Al-Qayim).
Keadaannya seperti orang yang mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama yang berselisih, kemudian dia meletakkannya dalam timbangannya, dan yang paling berat adalah berpendapat kufur, seperti orang yang melakukan kekufuran karena membantu secara militer. Dia melihat sebagian ulama membolehkan mengakhirkan shalat ketika sedang berperang hingga setelah waktu jamak antara dua shalat, dan dia melihat sebagian ulama ada yang tidak mengkafirkan orang yang terkadang meninggalkan sebagian shalat, dia juga melihat sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa ancaman sungguh-sungguh dengan siksaan yang tidak disanggupi termasuk ‘ikrah’, sebagaian ‘ulama’ juga ada yang membuat-buat pendapat sesat dan menyesatkan bahwa dibolehkan melakukan kekufuran terang-terangan demi ‘kemaslahatan jihad’.
Lalu dia pun menyatukan pendapat-pendapat ini dalam timbangannya dan menetapkan bahwa boleh meninggalkan shalat, mengenakan salib, menyeru kepada demokrasi demi ‘menyelamatkan’ manusia dan ‘membela’ mereka. Yang jadi masalah kebanyakan yang terjatuh kedalam jenis kekufuran ini tidak mencari pembenaran perbuatan mereka dengan syubhat-syubhat lemah ini sejak awal, namun orang-orang neo-Jahmiyah ini mengarang sendiri pembenaran bagi mereka setelah mereka melakukannya, kemudian mereka bersekutu bersama orang-orang murtad untuk melawan ‘khawarij’.
Sungguh pasti, kesombongan, kedengkian, kemarahan dan syahwat adalah faktor menuju kekufuran, jika dia diminum oleh seseorang yang memiliki manhaj ‘lurus’ maka akan seperti pencahar yang akan memaksa mengeluarkan penyimpangan yang tersembunyi –jika memang ada– ke permukaan sehingga dapat dilihat oleh semua orang.
“Barangsiapa ingin mengetahui bagaimana sebuah jama’ah yang berjihad di jalan Allah berubah menjadi jama’ah yang berperang di jalan thaghut (seperti beberapa kelompok di Suriah), maka perhatikanlah sejarah, maka ketahuilah bahwa cinta popularitas, kedudukan, harta dan pandangan orang maka itu akan berubah menjadi ‘ujub (bangga diri). Dan ujub akan menjadi dengki, dan dengki akan menjadi sombong, sombong akan menjadi benci, benci akan menjadi permusuhan, dan permusuhan berarti menyelisihi lawan atau saingannya.
Dan menyelisihi ditunjukkan pertama-tama dengan menyembunyikan tauhid, lalu menampakkan lahn (kata-kata ambigu), menjauhi para muwahid dan berdamai dengan orang-orang musyrik. Kemudian menjadi kufrun bawwahan (kekafiran yang nyata) dan perang habis-habisan karena mengikuti syahwat dan berpegang dengan syubhat, kecuali jika Allah melindungi hamba-Nya dengan rahmat-Nya.” (Diringkas dari artikel ‘Abwah Laashiqah).
Hanya kepada Allah tempat kita meminta pertolongan, hanya kepada-Nya kita bertawakal, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Nya. Cukuplah Dia bagi kita dan sebaik-baik Penolong.
Ya Allah tunjukilah orang-orang yang bingung supaya dia bisa mentadabburi hasil mubahalah. Semoga mereka meninggalkan syubhat dan syahwat mereka, serta kembali ke dalam barisan para muwahhidin. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar