Rabu, 25 April 2018

JIHAD DENGAN DOA

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

JIHAD DENGAN DOA

Doa adalah senjata yang amat tajam, kuat, lagi ampuh. Berbagai musibah dapat tersingkap dengan doa, pun kehancuran dapat dicegah. Seorang mukmin dapat mencegah malapetaka dan menghadapi makar musuh-musuhnya dengan doa. Berbagai nikmat dapat diperoleh dengan doa. Permusuhan dapat dicegah juga dengan doa. Doa adalah ciri ibadah yang paling jelas. Bahkan doa itu adalah ibadah itu sendiri. Dalam doa ada kesempurnaan cinta dan kehinaan diri kepada Allah Yang Maha Esa, Mahabijaksana, dan Mahaadil. Dalam doanya seorang hamba berkonsultasi kepada Rabbnya. Ia mengakui kelemahan dan ketidakberdayaannya. Doa itu laksana penghibur hati, salep luka, dan melapangkan dada. Doa mempermudah segala urusan. Doa adalah penjaga yang kuat dan benteng yang kokoh. Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah selain doa. Manusia yang paling lemah adalah yang terhalangi dari doa. Doa adalah ibadah yang mudah, sangat mudah dilakukan pada setiap saat, dapat dilaksanakan di darat maupun di laut, dan disyariatkan dalam keadaan menetap maupun safar. Berdoa berarti menyerahkan diri pada Dzat Yang Maha Penyayang, Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui. Para pendoa adalah orang-orang yang bergantung kepada Rabb Yang Maha Penguasa, Mahakudus lagi Maha Pemberi Keselamatan. Engkau lihat mereka dalam doanya menyandarkan diri pada Dzat yang paling mulia. Mereka memutuskan hubungan dengan alam dan menghadap kepada Rabb semesta alam. Mereka berlepas diri dari meminta-minta manusia dan mengharap pemberian mereka. Sebaliknya, mereka menyerahkan diri sepenuhnya kepada Rabbnya lagi amat mengharap karunia-Nya.

Inilah doa itu, betapa seorang muslim sangat membutuhkannya pada hari-hari ini saat seluruh kaum kafir dengan segala macam sekte dan agamanya mengeroyok jamaah muslimin. Sudah seharusnya seorang mujahid fi sabillah mengetahui urgensi senjata ini dan wajib baginya menekuninya serta meninggalkan ketergantungan selain kepada Yang Maha Mendengar lagi Mengabulkan. Demikian juga hendaknya setiap muslim dan muslimah ikut serta dalam memerangi musuh Allah menggunakan senjata Rabbani yang efektif ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Perangilah orang orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai).

Jihad dengan lisan itu tidak terbatas pada provokasi untuk berjihad, memuji mujahidin, mencela orang-orang yang duduk-duduk dari jihad, dan menghina orang-orang kafir, tetapi bagian terpenting jihad dengan lisan adalah doa, yaitu seorang muslim berdoa untuk kekalahan orang-orang musyrik dan kemenangan orang-orang mukmin.

Jenis jihad ini (jihad dengan doa) semakin dipertegas pada orang-orang yang belum dimudahkan Allah untuk berjihad di jalan-Nya lantaran udzur syar’i seperti wanita, orang sakit, orang tua dan yang terhalangi. Mereka wajib mendoakan orang-orang yang bertempur di jalan Allah. Ketika Allah mengudzur mereka untuk tidak berperang, Dia mensyaratkan pada mereka untuk berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya agar udzur mereka diterima, yaitu diantaranya dengan mendoakan wali-wali Allah dan pengikut Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Allah ta'ala berfirman, “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. at-Taubah: 91).

Bahkan doa orang-orang lemah itu adalah sebab terbesar kemenangan kaum muslimin dan kekalahan orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh ketika mengira dirinya lebih utama daripada kaum muslimin yang lemah, “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rizki kecuali lantaran orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat an-Nasai, “Hanyasanya Allah menolong umat ini lantaran orang-orang lemahnya, lantaran doa, shalat dan keikhlasan mereka.”

Ibnu Hajar al-‘Asqolani berkata, “as-Suhaili berkata, ‘Jihad terkadang menggunakan senjata dan terkadang lewat doa.’” (Fathul Bari). Hal ini sebenarnya sudah tetap dan jelas, namun pada hari ini orang-orang yang terguncang lagi terpukul, yaitu orang-orang yang menyerah pada berhala teknologi militer dan menganggap kemenangan koalisi salibis atas Daulah Islamiyah adalah hal yang pasti terjadi, mereka telah meninggalkan doa, seakan-akan mereka tidak mendapatkan manfaat dari doa tersebut, wal’iyadzu billah! Pandangan keliru yang menghinggapi sebagian orang ini adalah dikarenakan ketidaktahuannya dengan senjata jenis ini. Jika mereka mengetahui urgensi doa, kehebatan efeknya, tata cara dan adab-adabnya, serta mendengar kisah-kisah bagaimana Allah azza wa jalla mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya, niscaya mereka tidak akan meninggalkannya dan tidak akan bergantung kepada selainnya.

Seorang muslim wajib mengetahui bahwa doa mempunyai banyak keutamaan yang tiada berbatas, diantaranya; berdoa berarti melaksanakan perintah Allah azza wa jalla yang berfirman, “Serulah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan pada-Nya.” (QS. al-A’raf: 29). “Berdoalah pada-Nya dengan penuh rasa takut dan harap.” (QS. al-A’raf: 56). “Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. al-A’raf: 55).

Berdoa adalah tanda kesempurnaan tawakkal, ketundukan, dan ketawadhu’an kepada Allah azza wa jalla yang berfirman, “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

Doa adalah sebab tertolaknya malapetaka sebelum terjadi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim). Doa jugalah yang dapat mengangkat malapetaka setelah terjadinya, sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Kehati-hatian tidaklah dapat menghindarkan takdir, dan doa dapat mencegah musibah yang telah terjadi pun yang belum terjadi. Sungguh suatu malapetaka itu turun dan kemudian bertemu dengan doa, lalu keduanya saling bergulat hingga hari kiamat.” (Hadits hasan riwayat Hakim).

Doa juga merupakan sebab tercapainya hal yang diinginkan dalam doa itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang ia tidak terdapat dosa atau memutus kekerabatan, kecuali Allah akan memberikan padanya salah satu dari tiga hal; doanya segera dikabulkan, atau Allah akan menyimpannya (sebagai kebaikan) untuknya di akhirat, atau Dia akan menjauhkannya dari hal buruk yang semisalnya.) (HR. Ahmad dan al-Hakim). demikianlah, sungguh doa mempunyai kedudukan yang agung.

Bisa jadi buah terpenting dari doa adalah sebagai sebab keteguhan yang berakhir pada kemenangan atas musuh. Hal ini sudah termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah mutawatir dalam sejarah Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabatnya radhiyallahu anhum dan para salafus shalih rahimahumullah. Dalam kisah pertempuran Thalut dan tentaranya yang mukmin dengan Jalut dan tentaranya yang kafir, apa yang dilakukan orang-orang mukmin pada saat itu dan apa pula akibatnya? Allah berfirman, “Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (QS al-Baqarah: 250). Doa yang dilantunkan para Muwahhid sebelum dan ketika terjadi bentrokan dengan orang-orang musyrik. Maka Allah pun seketika mengabulkan doa mereka, kalam-Nya, “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah.” (QS. al-Baqarah: 251).

Dalam Perang Badar al-Kubra, pada malam harinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri mengerjakan shalat dan memperbanyak doa dalam sujudnya (al-Bidayah wa an-Nihayah). Ketika pagi harinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperhatikan para sahabatnya yang berjumlah tiga ratus prajurit lebih sedikit, sedangkan orang-orang musyrik berjumlah lebih dari seribu prajurit, maka beliau menghadap kiblat dan berkata, “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, Ya Allah datangkanlah apa yang engkau janjikan kepadaku, Ya Allah seandainya engkau hancurkan kelompok kecil dari Ahlul Islam ini, Engkau tidak akan diibadahi lagi di bumi ini.” Beliau terus bermunajat pada Rabbnya sampai selendangnya terjatuh dari pundaknya. (HR. Muslim).

Adapun para sahabat dalam perang badar, maka Allah menyifati mereka sebagai orang-orang yang selalu memanjatkan doa dan meminta pertolongan pada-Nya. Kalam-Nya, “Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. al-Anfal: 9). Setelah untaian doa Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum, maka bagaimanakah hasilnya? Allah mengirimkan bantuan balatentara seribu malaikat, Dia menurunkan ketenangan atas mereka, meneguhkan kaki mereka, meliputi mereka dengan ketenteraman berupa rasa kantuk, Dia turunkan air dari langit yang dengannya Dia mensucikan mereka, menjauhkan gangguan syaithan dari mereka, Dia teguhkan hati mereka dan Dia selipkan rasa takut ke dalam hati orang-orang musyrik, maka mereka pun mengalahkan orang-orang musyrik itu dengan izin Allah.

Dalam Perang Ahzab ketika orang-orang musyrik mengepung Madinah dengan amat ketat, kaum muslimin teramat sangat kelaparan, haus dan takut, sementara mereka didatangi oleh musuh mereka dari atas dan bawah mereka, membuat hati menyesak naik hingga kerongkongan, Nabi shallallahu alaihi wasallam pun memohon kepada Rabbnya dan merintih dalam doanya. Salah satu doa yang beliau shallallahu alaihi wasallam lantunkan ketika menggali parit adalah, “Ya Allah, seandainya bukan karena Engkau, tentulah kami tidak mendapat hidayah, tidak bersedakah dan tidak shalat, maka turunkanlah ketenangan pada kami, dan teguhkanlah kaki kami ketika kami bertemu musuh, sesungguhnya para musuh telah melampaui batas, jika mereka menginginkan fitnah maka akan kami abaikan*.” (HR. Bukhari). Sedangkan doa beliau ketika terkepung, “Ya Allah Yang telah menurunkan kitab, Yang menjalankan awan dan Yang menghancurkan golongan kafir, hancurkalah mereka dan tolonglah kami atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

*Maksudnya, sekalipun tiba-tiba ada teriakan perang maka kami tetap teguh dan tak akan lari.

Adapun para sahabat, mereka bertanya pada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dengan apa mereka memohon kepada Rabb mereka? Dari Abi Sa’id al-Khudhri radhiyallahu anhu berkata, “Ketika perang Khandaq kami bertanya pada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan (doakan)? Hati telah menyesak sampai ke tenggorokan.’ Beliau bersabda, ‘Ya, (katakanlah) Ya Allah tutuplah aurat kami, dan gantilah rasa takut kami dengan rasa aman.” (HR. Ahmad).

Apa yang terjadi setelah doa-doa yang penuh berkah ini dipanjatkan? Angin topan bertiup kencang pada malam yang gelap, yang membalikkan periuk-periuk orang-orang musyrik, memporak-porandakan kemah mereka, memadamkan api unggun mereka dan mengubur tunggangan mereka, maka tidak ada jalan bagi mereka kecuali harus mundur. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang kamu tidak dapat melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Ahzab: 9).

Kepada kaum muslimin yang tertindas di seluruh dunia, berdoalah, berdoalah, dan berdoalah. Serulah Allah sedangkan kalian yakin akan dikabulkan, Allah pasti akan memenuhi janji-Nya. Dia sendirilah yang akan menghancurkan koalisi ini, dengan segala daya dan kekuatan-Nya, yang pasti akan terjadi.

Doa adalah senjata seorang mukmin. Doa juga salah satu sisi dari jihad fi sabilillah dengan lisan. Jenis jihad ini semakin dipertegas pada kalangan lemah dari kaum muslimin dan orang-orang yang belum dimudahkan oleh Allah untuk berjihad dengan jiwa dan hartanya. Doa juga merupakan faktor kemenangan Thalut dan tentaranya para muwahhid atas Jalut dan tentaranya sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Baqarah. Doa jugalah yang pertama kali dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam baik ketika kaum muslimin menyerbu musuh secara mendadak, mengepung, maupun berjibaku dengan orang-orang musyrik.

Demikian juga para sahabat dan tabiin. Mereka hanya meminta tolong kepada Rabbnya dalam pertempuran-pertempuran mereka, bertawakkal kepada-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, memohon dengan memelas kepada-Nya, dan berlepas diri dari segala daya upaya kecuali kepada-Nya azza wa jalla. Maka dengan segera Dia azza wa jalla meneguhkan mereka, menurunkan ketenangan kepada mereka, menghinakan dan menyelipkan rasa takut dalam dada musuh mereka, dan akhirnya mengalahkan mereka.

Inilah sahabat mulia an-Nu’man bin Muqorrin yang diutus Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu mengomandoi pasukan penakluk Persia. Pada tahun 21 H pasukan Persia berkekuatan 150.000 prajurit keluar untuk menginvasi negeri-negeri kaum muslimin. Kedua pasukan bertemu di Nahawand, suatu tempat di negeri Persia. an-Nu’man menunggu sampai datangnya waktu yang paling disukai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menyerbu musuh, yaitu setelah tergelincirnya matahari. Ketika menjelang waktunya, an-Nu’man menaiki kudanya untuk menginspeksi barisan. Ia berhenti di setiap pembawa bendera, mengingatkan mereka, menyemangati, dan menjanjikan kemenangan. Kemudian ia berkata, “Aku akan bertakbir tiga kali, setelahnya aku akan menyerbu musuh, maka bergeraklah kalian.” Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, muliakanlah Din-Mu dan tolonglah hamba-hamba-Mu. Jadikan an-Nu’man yang syahid pertama kali pada hari ini. Ya Allah, aku memohon kepadamu untuk menyejukkan mataku dengan kemenangan yang memuliakan Islam, dan ambillah aku sebagai syahid.” Mendengarnya, seluruh pasukan menangis dan mengaminkan doanya.

Lalu bagaimana akhirnya? Setelah terjadi pertempuran yang sangat sengit, pasukan Persia terkalahkan. Darah mereka yang terbunuh dari sejak tergelincirnya matahari sampai tenggelamnya membanjiri medan pertempuran sampai menggelincirkan kaki-kaki. Ketika Allah telah menyejukkan mata an-Nu’man dengan kemenangan dan ia telah melihat kekalahan orang-orang musyrik maka Dia memilihnya sebagai syahid di akhir pertempuran sebagai jawaban atas doanya. (al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibnul Atsir).

Jika kita sebutkan satu per satu atsar para salaf tentang bagaimana mereka menggunakan senjata doa dalam setiap pertempuran mereka dan bagaimana doa amat berpengaruh dalam kemenangan mereka, tentulah amat banyak. Diantaranya adalah sang penakluk agung Jenderal Qutaibah bin Muslim al-Bahili rahimahullah. Beliau selalu menyertakan para ahli ibadah, ulama dan fuqoha dalam setiap penaklukkannya, mengharapkan kemenangan lewat doa mereka. Pada akhir abad pertama hijriyah dalam salah satu penaklukkannya, pasukan Qutaibah berbaris menghadapi Turk. Jumlah dan perlengkapan mereka menggentarkannya. Maka segera dicarinya seorang imam tabiin yaitu Muhammad bin Wasi’ rahimahullah. Dikatakan padanya bahwa beliau berada di sayap kanan pasukan sedang bertelekan pada busurnya sembari mengangkat telunjuknya memohon pertolongan Rabbnya atas musuhnya. Qutaibah pun mengatakan kalimatnya yang masyhur itu, “Telunjuk itu lebih aku sukai daripada seribu pemuda yang kuat beserta pedang yang terhunus.” (Siyar A’lam an-Nubala).

Tidaklah ia mengatakan hal itu kecuali lantaran mengetahui urgensi dan keutamaan senjata doa. Demikianlah, ketika pasukannya menyerbu pasukan musyrik Turk, Allah memberikan kemenangan padanya. Ia berhasil mematahkan kekuatan mereka, menaklukkan negeri-negeri mereka, membunuh dan menawan banyak dari mereka, dan merampas harta yang banyak. (al-Bidayah wa an-Nihayah)

Marilah kita perhatikan lagi sang penakluk berikutnya, yaitu sang jenderal wali Khurasan Asad bin Abdullah al-Qosri rahimahullah. Pada salah satu pertempuran strategisnya melawan orang-orang Turk pada tahun 119 H, beliau mengimami pasukan muslim melaksanakan shalat subuh, kemudian berkhutbah, “Sesungguhnya musuh Allah al-Harits bin Suraij – yaitu orang yang memberontak atas Bani Umayah pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik – telah meminta bantuan thaghutnya – yaitu Khagan Turk – untuk memadamkan cahaya Allah, namun Allah akan menghinakannya insya Allah. Sesungguhnya musuh kalian si anjing ini telah membunuh banyak saudara kalian. Namun jika Allah menghendaki kemenangan kalian, banyak atau sedikitnya jumlah tidak akan berpengaruh, maka minta tolonglah kepada Allah.” Kemudian katanya, “Saya diberitahu bahwa saat yang seorang hamba paling dekat kepada Allah adalah ketika ia meletakkan dahinya ke tanah. Aku akan turun dan meletakkan dahiku ke tanah, maka berdoalah pada Allah, bersujudlah dan ikhlaskan doa pada-Nya.”

Seluruh pasukan melaksanakan perintahnya itu. Ketika mereka mengangkat kepala, tidak sedikitpun ragu akan kemenangan mereka. Mereka segera bergerak untuk menggempur Turk. Ketika sampai di Balkh – salah satu kota di Khurasan – sang jenderal memimpin pasukan melaksanakan shalat dua rekaat yang dipanjangkannya. Kemudian ia menyeru seluruh pasukan untuk berdoa. Doa yang panjang dipanjatkannya, memohon kemenangan, dan seluruh pasukan mengaminkannya. “Demi Rabb Ka’bah, kalian telah menang insya Allah” katanya tiga kali.

Ketika mereka bertemu orang-orang musyrik dan murtad itu, berkecamuklah pertempuran sengit. Al-Harits terpukul mundur, sang Khagan kabur dari pertempuran dan pasukan Turk tercerai berai. Kaum muslimin mengejar dan membunuhi mereka yang tertangkap dan berhasil memperoleh ghanimah yang amat banyak. Lebih dari 155.000 kambing ditangkap dan digiring. (Tarikh ath-Thabari).

Ini hanya sedikit dari kisah pendahulu kita. Bisa kita ambil pelajaran bahwa doa adalah faktor kemenangan terpenting, jika seluruh syarat dikabulkannya terpenuhi dan tidak ada hal-hal yang menghalanginya.

Syarat terpenting dikabulkannya doa adalah mengikhlaskan hanya karena Allah Yang Maha Esa. Juga meneladani cara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa dan menghindari bid’ah dalam doa. Doa juga harus dipanjatkan dengan tekad bulat, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian berdoa maka bulatkanlah tekad kalian, jangan malah berkata, ‘Ya Allah jika Engkau berkehendak maka karuniailah aku’.” (Muttafaq ‘alaih).

Engkau juga harus yakin bahwa doamu akan dikabulkan oleh Allah, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian meminta pada Allah maka mintalah sedangkan kalian yakin akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa hamba yang dipanjatkan dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad).

Demikian juga dalam berdoa hendaknya amat berharap pahala disisi Allah dan amat takut akan siksa-Nya, serta disertai hati yang khusyuk, Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS al-Anbiya: 90)

Demikian juga ada adab-adab dan sunnah-sunnah berdoa yang bisa mengangkat doa itu. Hendaknya si pendoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat, dan mengangkat kedua tangannya. Ia memulai doanya dengan memuji Allah azza wa jalla dengan sepantasnya dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tidak lupa menyebutkan amal shalihnya. Dalam doanya ia sebaiknya memohon dengan memelas kepada Allah, mengulang-ulang permohonannya sembari menangis. Doa dilantunkannya dengan suara yang lirih jika sendirian, adapun imam harus meninggikan suaranya agar makmum mengaminkannya. Hendaknya memilih waktu-waktu yang mustajab, seperti sepertiga malam terakhir, setelah menunaikan shalat wajib, diantara adzan dan iqomat, ketika turun hujan, ketika bergerak dalam sebuah pasukan dan ketika bertemu musuh, waktu terakhir pada hari Jumat, ketika mendengar kokok ayam, ketika berbuka puasa dan ketika bepergian.

Hendaknya si pendoa juga menghindari hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa seperti berdoa kepada selain Allah, meminta bantuan orang mati dan jin, dan hal itu adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam. Diantaranya juga berdoa kepada Allah dengan tawasul bid’ah seperti bertawasul dengan martabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan berkata, “Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan martabat Nabi-Mu”. Juga dilarang berdoa dengan membatasi rahmat Allah seperti katanya, “Ya Allah, rahmatilah fulan, ampunilah fulan, dan jangan Engkau ampuni serta rahmati si fulan.” Dilarang berdoa untuk suatu dosa dan memutus silaturahmi.

Hal lain yang menghalangi doa yaitu melakukan maksiat khususnya memakan barang haram seperti mencuri, riba, minum khamr atau merokok. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyebutkan hal itu dalam sabdanya, “Seorang lelaki yang sedang bepergian, rambutnya kusut masai, badannya penuh debu, lalu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berseru wahai Rabb, wahai Rabb, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan barang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan? (HR Muslim).

Hal lain yang menghalangi doa adalah meninggalkan amar makruf nahi munkar. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, laksanakan amar makruf nahi munkar atau jika tidak, maka dikhawatirkan Allah akan mengirim bencana, kemudian kalian berdoa pada-Nya namun tidak dikabulkan-Nya.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya).

Seorang pendoa juga hendaknya menghindari hal-hal makruh dalam berdoa, seperti berteriak-teriak ketika berdoa. Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Ayat ini (Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu) turun berkenaan dengan doa.”

Diantaranya juga adalah berdoa dengan lafazh yang dibuat-buat berirama, atau yang tidak dipahami orang-orang. Sekalipun kefasihan dalam berdoa itu terpuji agar tidak mempengaruhi makna namun keluar dari yang sudah maklum dalam berdoa adalah hal yang tercela karena menghilangkan khusyuk dan menyibukkan hati. Hendaknya si pendoa juga tidak meminta suatu masalah yang tidak layak diminta seperti meminta kepada Allah untuk memberinya hidup selamanya di dunia, atau meminta agar kedudukannya seperti kedudukan para nabi.

Wahai Junud Daulah Islamiyah, wahai para amirnya, wahai rakyatnya, dan para munashirnya, berdoalah kepada Allah agar menolong khilafah kalian ini, berdoalah pada-Nya agar mengalahkan Jalut modern Amerika dan pasukannya. Sesungguhnya Allah pasti akan mengabulkan doa kalian sekalipun setelah berlalu beberapa waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar