RUMIYAH 12 - ARTIKEL
REFLEKSI MUJAHID DI TENGAH PERTEMPURAN MOSUL
Iman yang Telah Merasuki Relung hati
Musuh hanya berjarak beberapa meter saja dari garis pertahanan kami. Hanya dipisahkan sebuah jalan yang berlubang-lubang besar akibat bom pesawat B52 Amerika Serikat yang lepas landas dari pangkalan militer di Arab Saudi. Lubang-lubang yang juga tersebar di seluruh distrik Kota Tua Mosul akibat strategi naif baru Salibis demi menghalangi gerakan para Istisyhadi. Strategi itu justru berubah menjadi bencana. Lubang-lubang itu malah menghalangi mobilitas alat utama sistem persenjataan (alutsista) mereka. Sehingga terpaksalah pesawat menggantikan kendaraan tempur mereka untuk membuka jalan dan melindungi pergerakan tentara. Akibatnya wilayah yang luas ini berubah menjadi puing-puing yang berserakan di mana-mana hingga regu yang terluka hanya mampu bergerak beberapa meter saja.
Kembali ke front panas kami. Para mujahidin terbagi menjadi beberapa regu dan grup berjaga-jaga di balik reruntuhan bangunan dan parit di sepanjang garis pertahanan. Di setiap regu terdapat para sniper (penembak jitu) mumpuni yang saling bergantian siang dan malam mengintai pasukan Syiah Rafidhah. Sebuah tugas berat dan berbahaya. Tugas yang membutuhkan konsentrasi terus-menerus, mata yang tak terpejam, dan fisik prima.
Aku mendekati salah satu dari mereka. Wajahnya yang bercahaya dan tangan patahnya yang terbebat menarik perhatianku. Aku hendak membuka pembicaraan, namun aku takut jika hal itu membuatnya kehilangan mangsanya. Maka aku hanya duduk di sampingnya sembari mengintai pergerakan musuh.
Beberapa saat keheningan menyelimuti kita. Namun tiba-tiba keheningan ini dirobek oleh dentuman-dentuman ledakan. Salah satunya akibat bom fosfor putih yang meledak di dekat kami. Gas berbau busuk menguap. Aku segera menyambar secarik kain yang telah kusiapkan sebelumnya untuk menutupi hidungku. Namun Allah menjauhkan gas itu dari kami, yang ternyata malah bergerak ke arah musuh, alhamdulillah.
Tetapi debu yang timbul akibat bangunan hancur itu membutakan penglihatan. Ketika debunya telah mengendap, sang sniper itu menghampiriku dengan wajah berseri-seri. Dia hendak berpindah tempat. Katanya, “Dengan izin Allah, debu ini tak akan membuat hidungku, hidungmu, dan hidung seluruh mujahidin yang menghirupnya, menghirup asap jahannam, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Debu-debu fi sabilillah dan asap Jahannam selamanya tak akan berkumpul dalam tenggorokan seorang hamba,’ (HR Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad dan selainnya).
Kemudian dia melanjutkan, “Tahu nggak, sebenarnya aku paling membenci asap, namun sekarang aku malah menikmatinya.”
Ucapannya membuatku teringat ucapan Bilal radhiyallahu 'anhu ketika ditanya bagaimana ia bisa bersabar menghadapi siksaan kaum musyrikin kepadanya di padang pasir Makkah. Jawabnya, “Aku campur antara manisnya iman dan pahitnya siksaan. Ternyata manisnya iman melampau pahitnya siksaan, hingga aku mampu bersabar.”
Peristiwa ini juga membuatku teringat kisah lain bagimana manisnya iman berpengaruh pada seorang mukmin hingga mampu menikmati kepayahan demi agamanya.
Seorang pemuda yang berasal dari salah satu pedesaan Mosul. Kakinya pincang akibat luka serius di salah satu pertempuran. Ia telah mencapai tingkat kelima dalam studinya. Ia seorang murid yang cerdas. Ayahnya ingin ia menjadi dokter.
Ketika Mosul ditaklukkan, bapaknya bergabung dengan mujahidin. Lalu jejaknya diikuti oleh putranya, si pemuda ini, dan paman-pamannya, sampai seluruh keluarga besarnya. Hingga semuanya terbunuh di jalan Allah, demikianlah kami mengira dan Allah Mahatahu. Yang terakhir gugur adalah bapaknya dan salah satu pamannya dalam satu hari di Zanjili.
Aku bertanya kepadanya, “Apakah lukamu ini menyakitkanmu?
Jawabnya, “Ketika tertekan sesuatu akan terasa sangat sakit.”
Aku merasa kasihan padanya karena kondisinya itu. Namun ternyata ketika panasnya pertempuran engkau akan mendapatinya yang pertama kali bergegas bergerak layaknya orang sehat wal afiat. Masya Allah. Tak bisa diam. Selalu berusaha mengintai posisi musuh, dan terus berpindah mencari tempat yang cocok untuk menerkam mangsanya.
Di tengah-tengah pertempuran sengit ini, mendapatkan tempat pengintaian yang cocok itu teramat sulit. Karena biasanya dari mana musuh ditembaki di situlah akan dihujani rudal-rudal pesawat, sekalipun sebenarnya kekuatan militer Rafidhah Salibis benar-benar terkuras habis. Hingga posisi-posisi ribat di sepanjang garis pertempuran berubah menjadi tumpukan batu. Sekalipun demikian, mujahidin dengan keteguhan dan kekuatan pertahanannya bisa mengubahnya menjadi benteng-benteng kokoh, dengan keutamaan Allah.
Saudara kita ini lalu kembali dari usahanya mencari tempat pengintaian untuk dirinya sendiri. Ujarnya, “Ketika aku sedang mencari-cari, aku menemukan sepotong permen dan botol air dari besi. Aku menyadari permennya sudah kadaluarsa bertahun-tahun lalu, karena tempat itu sudah ditinggalkan. Aku makan saja permen itu. Kalau ada yang lainnya tentu akan ku makan juga.”
Ia lalu meninggalkanku sambil tersenyum, seakan-akan habis makan daging ayam, bukan permen yang sudah lama kadaluarsa.
Betul, itulah manisnya iman, sebagaimana disebutkan oleh Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya Heraklius tentang kondisi pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Heraklius berkata, “Aku bertanya padamu, apakah ada pengikutnya yang murtad lantaran benci dengan agamanya. Engkau menyangkal. Maka begitulah iman jika cahayanya telah merasuki relung-relung hati terdalam.”
Di Antara Dua Kebaikan
Di tempat yang sama, aku juga bertemu dengan seorang sniper dari Kepulauan Karibia. Ia mendengar aku menghubungi salah satu ikhwah a’jam (non-Arab) dengan Bahasa Inggris, maka ia mendekat ingin mengenal suara ini. Ketika kita berbincang, ia bertanya, “Apakah engkau memerlukan sniper berpengalaman di tempat ini?" Aku menjawab, “Kirimkan saja.”
Maka ia memanggil saudaranya, Abu Dzar Al-Busni, seorang mujahid berumur 15 tahun dari Bosnia Herzegovina.
Maka di tengah obrolan, aku dan saudaranya itu saling menarik. Aku bertanya padanya bagaimana ia mendapatkan hidayah dan bisa sampai di Daulah Islam. Ia menjawab, “Aku membaca dan mentadaburi ayat-ayat jihad di dalam Al-Qur’an seperti firman-Nya: ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat.’ (At-Taubah: 41).
Maka aku mulai mencari-cari jalan untuk berjihad. Ketika Daulah Islam dideklarasikan, aku dan saudaraku ini segera berusaha berhijrah. Allah pun menyiapkan jalannya untuk kami. Segala puji dan keutamaan bagi-Nya.”
Aku lalu mencandainya, “Kita akan kembali untuk menaklukkan Kepulauan Karibia –dengan izin Allah– lalu kita akan menikmati ikan hasil tangkapanmu, serta pisang dan kacangnya.”
Ia menjawab, “Tidak, aku hanya ingin surga saja.”
Aku pun tersenyum padanya. Kata-katanya itu membuatku teringat akan dua kebaikan (syahid dan ghanimah) sementara aku malah menginginkan yang terakhir.
Para Kesatria Jawatan di Medan Pertempuran
Walkie-talkie tiba-tiba menjerit mengabarkan bahwa milisi Unit Reaksi Cepat (Rafidhah) berhasil menyusup melalui bangunan yang dibombardir habis-habisan. Seorang akh (saudara) yang dijuluki Abu Mush’ab Ash-Shawari, yang bertugas menyalurkan logistik ke garis pertahanan, segera menjawab, “Siapkan empat ikhwah. Aku akan menyerbu bersama dengan mereka. Dengan izin Allah kita akan injak-injak leher murtadin itu. Rafidhah itu sejatinya wanita, tak mampu bertempur.”
Aku kagum dengan semangat dan keberanian petugas ini. Seorang kesatria lain yang biasa dipanggil Abu Ya’qub menjawab, “Sabar akhi, tunggu hingga para ikhwah sampai di sini, baru aku akan mengutus mereka kepadamu.”
Abu Mush’ab merasa jika Abu Ya’qub sedikit enggan, maka ia membentaknya. Abu Ya’qub membalas, “Sebentar akhi, demi Allah aku akan maju paling depan. Aku akan maju bersama mereka. Aku hanya menunggu hingga musuh sampai di dekat target.”
Sebentar kemudian seluruh kesatria pun berkumpul. Mereka segera bergerak menuju musuh sembari bertakbir dan berkata, “Ayo ikhwah, dua kemuliaan!”
Para kesatria itu pun segera bergegas bergerak menyisir bangunan itu, sekalipun di dekatnya berjaga tank Abrams dan kendaraan Hummer. Beberapa hari lamanya musuh berusaha membuka jalan menuju bangunan itu dengan traktornya karena jalanan hancur akibat ulahnya sendiri.
Abu Mus’ab lalu kembali dengan memar-memar ringan akibat bom. Ia diikuti oleh seluruh ikhwah telah berhasil menunaikan tugasnya, kecuali sang kesatria yang dijuluki Abu Ya’qub itu. Kita mendengar temannya lewat walkie-talkie berseru gembira bahwa Abu Ya’qub telah ‘beristirahat’. Demi Allah, ia benar-benar telah beristirahat dari penatnya dunia. Kami mengiranya sekarang sedang berada di tembolok burung yang beterbangan sesukanya di surga.
Tak perlu heran melihat bagaimana mereka saling berlomba-lomba menuju kematian di jalan Allah dan untuk menghancurkan hidup orang-orang kafir. Semua itu karena komandan mereka pun selalu berada di garis depan. Sekalipun sudah tua, tiap kali mendengar huru-hara, ia segera bergegas mencarinya demi mencari kematian. Ia selalu dan berulang-ulang memohon untuk melaksanakan amaliyah istisyhadiyyah sekalipun terus ditolak dan dicegah oleh amirnya.
Engkau melihatnya selalu menjelajahi front sektornya, mengamati, mengintai, menyebar patroli, dan bahkan menyerbu sendirian. Lalu apa yang dilakukan seorang prajurit yang melihat komandannya sedemikan semangat berkorban? Tentu ia akan merasa rendah diri dan memaksa jiwanya untuk meneladani komandannya itu.
Ibnul Mubarak pernah berkata, “Aku selalu merasa rendah diri jika melihat wajah Fudhail bin ‘Iyadh.”
Mungkin engkau bertanya padaku, siapa mereka? Dari satuan mana? Bagaimana mereka dilatih?
Mudah saja, mereka adalah singa-singa dari Departemen Kesehatan, yang membongkar seluruh disiplin ilmu militer. Para lelaki yang tak ada duanya, tak kenal lelah mengobati mujahidin yang terluka dan segenap rakyat Amirul Mukminin. Ketika musuh menyerbu negeri mereka, seperti itulah sebagian aksi mereka. Aku tak mungkin bisa memenuhi hak-hak mereka sekalipun ku tulis berjilid-jilid buku.
Engkau dapati ada dari mereka sekalipun berkali-kali terluka tetapi ia tetap kembali untuk mempertahankan front terdepan dan mengobati yang terluka, luka-lukanya sendiri tak dihiraukannya, seperti dr. Umar Kassar.
Ia terkena luka serius pada pertempuran di Jazirah Ramadi. Betisnya patah. Lalu ia datang ke Mosul untuk berobat sebelum pertempuran Mosul dimulai. Beberapa operasi dilakukan namun belum juga sembuh total. Maka para ikhwah menasihatinya untuk keluar dari kota sebelum terkepung. Namun ia dan istrinya, yang juga seorang dokter dan saudari Syaikh Hudzaifah Al-Bathawi, menolak keluar hingga mendapatkan salah satu dari dua kebaikan. Keduanya tetap bersusah payah mengobati orang-orang yang terluka.
Ketika pergerakan musuh mencapai front dekat dengan kompleks medisnya, dan terjadi pertempuran sengit di sekitarnya, keduanya tetap menolak keluar dari komplek, dan juga seluruh unit-unit medis lain. Hingga keduanya mendapatkan syahadah –demikianlah kami menilai dan Allah sebaik-baik penilai– lantaran bombardir massif yang meratakan kompleks medis itu. Orang-orang mulia lagi pemberani pencari syahadah (kesyahidan) fi sabilillah.
Sang Dokter Inghimasi Kepala Departemen Kesehatan
Hari yang tenang di sektor kita. Orang-orang murtad itu masih tersengal-sengal karena ghazwah (perang) penuh berkah yang dieksekusi oleh para ikhwah di sektor lain. Hari itu kita menyelesaikan puasa. Kita duduk melingkar mengelilingi makanan berbuka yang terdiri dari beberapa kurma dan sedikit adas. Kita kedatangan tamu, kepala Departemen Kesehatan, yang biasa dipanggil dokter Abdullah.
Sang dokter merebahkan badannya setelah berbuka untuk beristirahat sebentar setelah menghabiskan harinya mengunjungi seluruh regu. Terkadang ia ditemani Yahya, seorang pemuda berumur 20-an tahun yang tidak menamatkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran. Si pemuda ini selalu melayani ikhwah. Pasti engkau akan mendapatinya menyiapkan makanan atau memenuhi kebutuhan para ikhwah. Ia tetap terjaga hingga melihat seluruh ikhwah sudah tertidur. Seorang pemuda yang amat pemalu. Jika aku melihatnya pasti membatin, “Aku kira lelaki ini penghuni surga, kenapa masih bersama kita?”
Syaikh Abdullah memanggilnya, “Tolong pijat betisku, sakit banget ini.” Kemudian ia mendesah lama, dan berujar, “Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus pada umur 40 tahun. Beliau menanggung beban berat dakwah dan segala kepedihannya. Dua puluh tiga tahun dihabiskannya dalam dakwah dan jihad. Namun inilah aku, baru berumur 40 tahun lebih saja tak mampu bertahan sehari saja. Ya Rabb, kasihanilah kelemahan kami.”
Mukanya yang lelah dan terlihat pucat itu tertutupi oleh martabatnya. Ia sedikit mengaduh ketika Yahya memijat betisnya. Maka aku mencandainya dengan peribahasa terkenal, “Masa tua bukanlah aib.” Ia tertawa dan berkata, “Betul, betul, bukan aib.”
Ia adalah seorang lelaki yang ramah. Kemudian ia mengucapkan sesuatu yang tak kudengar karena suara ledakan bom. Syaikh lalu berkata setelah serangan udara berlalu, “AS ini benar-benar Firaun modern. Bayangkan saja, kompleks medis bertingkat empat itu dibombardir habis-habisan hingga seluruhnya rata dengan tanah.”
Semua tahu bahwa dokter-dokter kita di situ melakukan operasi demi operasi untuk menyelamatkan korban bombardir AS dan sekutunya. Tak cukup dengan membunuh dan mencabik-cabik wanita, anak-anak, dan orang tua, mereka dibiarkan diselamatkan oleh paramedis lalu dihabisi beserta paramedisnya sekalian. Benar-benar permusuhan yang nyata atas tauhid dan betapa mudahnya menumpahkan darah kaum muslimin.”
Sebaliknya, para dokter, perawat, dan paramedis kita amat pemberani dan penuh kehormatan. Ketika kompleks itu dibombardir untuk pertama kalinya, yang selamat datang kembali untuk mencari barangkali masih ada yang hidup di balik tumpukan reruntuhan sekalipun mereka tahu bahwa pesawat akan kembali mengebom dan membunuh mereka. Demikianlah akhirnya yang terjadi dalam tiga bombardir berturut-turut. Mereka benar-benar kebanggaan kita semua.
Namun obrolanku dengan sang dokter terputus sedih ketika aku mengetahui bahwa sahabatku dokter Abul Yaman Al-Baghdadi yang selalu berwajah ceria dan tersenyum itu ternyata salah satu korban bombardir barbar itu.
Selang beberapa hari, aku mendengar kabar bahwa kepala Departemen Kesehatan Syaikh Dokter Abdullah telah terbunuh. Ia sendirian menyerbu musuh-musuh Allah di distrik Asy-Syifa. Semoga Allah menerimanya dan mengumpulkannya dengan istrinya yang menjadi korban serangan mortir di Kota Tua pada hari yang sama. Kami kira Allah mengabulkan doa Syaikh kita itu ketika ia berdoa agar Dia berkenan memilihnya dan istrinya bersama-sama.
Selamat untukmu wahai kesatria Departemen Kesehatan, dan selamat untukmu wahai Amirul Mukminin karena mempunyai sosok-sosok amir seperti mereka.
Dalam dua hari saja para pengurus Departemen Kesehatan banyak yang terbunuh. Yang pertama adalah wakil kepala Departemen, dr. Khalid Qirdasy. Ia terkena tembakan yang membunuhnya setelah bertahan di front pertama pertempuran Kompleks Medis. Kemudian disusul oleh sang kesatria tercinta dr. Qutaibah. Lalu yang terakhir sang kepala kita dr. Abdullah.
Tak Menoleh Sedikitpun Hingga Terbunuh
Pagi datang disertai peringatan bahwa ada pergerakan aneh di dekat kita. Ketika kita bersiap-siap untuk bergerak, datang Abu Ubaidah. Ia seorang mujahid pakar IT yang selalu berwajah cerah. Jika bercanda, wajahnya akan membuatmu tertawa. Ia baru kembali dari liburan seharinya. Bajunya bersih dan rambutnya tersisir, tidak seperti orang yang berribat pada umumnya. Kesibukan ribat, pertempuran, dan ketiadaan air membuat kita kusut berdebu.
Aku bertanya, “Sudahkah kamu berpamitan pada keluargamu?"
Ia menjawab, “Sudah, aku bilang, ini pertemuan terakhir kita.”
Ketika itu sebelum pergi aku menasihatinya untuk berpamitan kepada keluarganya dan menitipkan mereka kepada Allah. Ia ketika itu menjawab, “Oke, oke,” sambil tertawa.
Walkie-talkie menjerit bahwa ada sebuah traktor yang mendekat ke lokasi kita. Maka Abu Ubaidah segera memanggilku dan meminta bazoka untuk menghancurkannya. Aku memberinya. Ia menembak traktor itu, yang kemudian kabur. Selang beberapa menit kemudian ia kembali berseru bahwa murtaddin menggerakkan berhala Abrams-nya, “Ambilkan bazoka lain, aku akan menembaknya, dengan izin Allah.”
Aku mengizinkannya, dan memberinya bazoka setelah menyarankan beberapa trik untuk keselamatannya. Mereka tidak menggerakkan Abrams itu kecuali untuk menembaki posisi meluncurnya peluru bazoka pertama.
Aku lalu berpindah tempat, sedangkan ia mengintai berhala itu untuk menghancurkannya. Maka aku mencandainya dengan kunyah (nama panggilan) yang ia biasa dipanggil ketika masih kecil, “Ya fulan, dengan granat, akhi, dengan granat.” Maksudnya, bahwa dalam pertempuran ini kita harus berada di posisi yang terjangkau oleh granat tangan, karena tak mungkin kembali lagi. Ia tertawa dan menjawab, “Dengan bazoka, insya Allah.”
Hanya beberapa saat kemudian, posisinya dipenuhi debu, asap, desing peluru, dan ledakan-ledakan. Kita segera berlarian ke posisi saudara kita itu. Kita menemukannya tengah tergeletak di antara reruntuhan dan kobaran api, sembari bernafas tersengal-sengal. Wajahnya tertutupi debu, salah satu kakinya putus dan kaki lainnya patah. Kita segera menggotongnya barangkali masih bisa menyelamatkannya. Namun kematian lebih dekat padanya.
Kita tidak sedih, karena ia tak berpaling dari kematian dan menghadapi tank Abrams dengan dada telanjang. Begitulah kami kira dan Allah Mahatahu. Kita tidak menyesal tidak membersihkan debu dari wajahnya karena akan ada yang membersihkannya. Diriwayatkan di dalam Mushannaf Abdur Razaq dari Abdullah bin Ubaidillah bin Umair Al-Laitsi, berkata, “Jika dua pasukan bertemu, Allah menurunkan bidadari surga ke langit dunia. Jika mereka melihat lelaki yang disukainya karena keteguhannya mereka berdoa, ‘Ya Allah teguhkanlah ia.’ Namun jika ternyata ia kabur maka mereka akan menutupi wajahnya. Jika ia terbunuh, dua orang bidadari akan turun padanya dan membersihkan debu dari wajahnya, dan berdoa, ‘Ya Allah, gelimangilah dengan debu dan tanah orang yang membuatnya bergelimang debu dan tanah.’”
Ketika itu kita tidak bisa menguburkannya karena pertempuran berlangsung sengit dan bombardir terus-menerus. Abu Ubaidah, kesatria berwajah ceria, selalu tersenyum, amat bersemangat, dan pemilik ‘kecemburuan’ (terhadap agama) telah pergi meninggalkan kita.
Yang Tak Ditetapkan Untukmu Pasti Takkan Menimpamu
Giliran ribatku sudah selesai. Al-Akh yang menggantikanku sudah datang. Aku lalu mengemasi perlengkapanku. Ketika hendak pergi aku teringat bahwa distrik Asy-Syifa dan Kompleks Medis sudah tak berbentuk lagi karena bombardir habis-habisan sehari-hari lewat serangan udara, artileri, maupun mortir. Hampir tak ada bangunan yang selamat dari bom. Aku khawatir tersesat jika melalui jalan itu yang akibatnya menjadi mangsa drone-drone yang tak lepas beterbangan sedikitpun.
Aku meminta pendapat ikhwah yang baru datang itu. Mereka menyarankanku untuk melalui jalur yang mereka lewati. Namun sebagian besarnya harus melewati area terbuka tanpa pelindung sedikitpun. Area itu sudah hancur lebur, akan tetapi Allah tak pernah tertidur sedikitpun. Dia menjaga mujahidin dan membutakan mata Salibis.
Aku melewati reruntuhan ruang UGD rumah sakit. Tergeletak beberapa mayat korban luka-luka yang telah membusuk. Paramedis terlambat menyelamatkan mereka. Mayat lain yang tak berbentuk dan berlumuran darah mengental tergeletak di atas tandu. Di pintu keluar tergeletak dokter yang berlumuran darah pasiennya dan darahnya sendiri. Semua itu menunjukkan betapa kejamnya Salibis dan murtaddin yang memerangi negeri kaum muslimin.
Aku segera melompat keluar sembari berdoa semoga Allah menerima para syuhada. Kemudian aku sampai di tempat yang ibarat cekpoin pertama sebelum berpindah ke titik berikutnya. Aku menemukan sisa-sisa air. Aku lalu mandi dan mengganti bajuku yang telah berubah warnanya berikut kulitku, sebagaimana digambarkan oleh Syaikh dr. Abdullah ketika melihat rupaku. Katanya kepada Yahya taqobbalahullah, “Abu Fulan itu, gara-gara tanah, ia terlihat seperti blok beton.” Aku memutuskan untuk tidur agar badanku yang letih ini bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Posisiku ini sebenarnya sedikit berbahaya karena dekat dengan posisi musuh dan garis pertempuran. Aku bertawakkal kepada Allah lalu merebahkan kepalaku berbantalkan senjata dan sabuk peledakku. Aku tertidur beberapa saat sampai terbangun karena suara baku tembak dan ledakan. Aku khawatir sudah terkepung, maka aku segera keluar menuju tempat berikutnya agar bisa sedikit melanjutkan istirahat.
Tapi sebentar kemudian lima rudal jatuh meledak berturut-turut dan mengguncangkan tempatku itu. Aku selamat bersama beberapa ikhwah, segala puji bagi Allah atas penjagaan-Nya. Pelajaran ini sudah menancap kokoh dalam benakku bahwa yang tak ditetapkan atasmu pasti tak akan menimpamu.
Aku lalu duduk menunggu sampainya ikhwah penunjuk jalan menuju cekpoin berikutnya. Tiba-tiba Al-Akh lain masuk dan mengabarkan bahwa Al-Akh penunjuk jalan sebenarnya sudah memimpin beberapa Al-Akh sebelumku sampai di tempat dengan selamat namun ketika kembali malah terkena bom. Semoga Allah menerimanya.
Aku memintanya menceritakan dengan rinci. Lalu katanya, “Ketika kembali ia dibom oleh pesawat drone hingga terluka parah. Kita tidak mampu mengurusnya. Kata-kata terakhir yang diucapkannya adalah, ‘Ya Allah, surga… Ya Allah, terimalah aku sebagai syuhada.’
Maka apa yang telah ditentukan atasmu tak akan meleset, dan seindah luka adalah fi sabilillah dan mendapatkan ridha-Nya serta surga-Nya.
REFLEKSI MUJAHID DI TENGAH PERTEMPURAN MOSUL
Iman yang Telah Merasuki Relung hati
Musuh hanya berjarak beberapa meter saja dari garis pertahanan kami. Hanya dipisahkan sebuah jalan yang berlubang-lubang besar akibat bom pesawat B52 Amerika Serikat yang lepas landas dari pangkalan militer di Arab Saudi. Lubang-lubang yang juga tersebar di seluruh distrik Kota Tua Mosul akibat strategi naif baru Salibis demi menghalangi gerakan para Istisyhadi. Strategi itu justru berubah menjadi bencana. Lubang-lubang itu malah menghalangi mobilitas alat utama sistem persenjataan (alutsista) mereka. Sehingga terpaksalah pesawat menggantikan kendaraan tempur mereka untuk membuka jalan dan melindungi pergerakan tentara. Akibatnya wilayah yang luas ini berubah menjadi puing-puing yang berserakan di mana-mana hingga regu yang terluka hanya mampu bergerak beberapa meter saja.
Kembali ke front panas kami. Para mujahidin terbagi menjadi beberapa regu dan grup berjaga-jaga di balik reruntuhan bangunan dan parit di sepanjang garis pertahanan. Di setiap regu terdapat para sniper (penembak jitu) mumpuni yang saling bergantian siang dan malam mengintai pasukan Syiah Rafidhah. Sebuah tugas berat dan berbahaya. Tugas yang membutuhkan konsentrasi terus-menerus, mata yang tak terpejam, dan fisik prima.
Aku mendekati salah satu dari mereka. Wajahnya yang bercahaya dan tangan patahnya yang terbebat menarik perhatianku. Aku hendak membuka pembicaraan, namun aku takut jika hal itu membuatnya kehilangan mangsanya. Maka aku hanya duduk di sampingnya sembari mengintai pergerakan musuh.
Beberapa saat keheningan menyelimuti kita. Namun tiba-tiba keheningan ini dirobek oleh dentuman-dentuman ledakan. Salah satunya akibat bom fosfor putih yang meledak di dekat kami. Gas berbau busuk menguap. Aku segera menyambar secarik kain yang telah kusiapkan sebelumnya untuk menutupi hidungku. Namun Allah menjauhkan gas itu dari kami, yang ternyata malah bergerak ke arah musuh, alhamdulillah.
Tetapi debu yang timbul akibat bangunan hancur itu membutakan penglihatan. Ketika debunya telah mengendap, sang sniper itu menghampiriku dengan wajah berseri-seri. Dia hendak berpindah tempat. Katanya, “Dengan izin Allah, debu ini tak akan membuat hidungku, hidungmu, dan hidung seluruh mujahidin yang menghirupnya, menghirup asap jahannam, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Debu-debu fi sabilillah dan asap Jahannam selamanya tak akan berkumpul dalam tenggorokan seorang hamba,’ (HR Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad dan selainnya).
Kemudian dia melanjutkan, “Tahu nggak, sebenarnya aku paling membenci asap, namun sekarang aku malah menikmatinya.”
Ucapannya membuatku teringat ucapan Bilal radhiyallahu 'anhu ketika ditanya bagaimana ia bisa bersabar menghadapi siksaan kaum musyrikin kepadanya di padang pasir Makkah. Jawabnya, “Aku campur antara manisnya iman dan pahitnya siksaan. Ternyata manisnya iman melampau pahitnya siksaan, hingga aku mampu bersabar.”
Peristiwa ini juga membuatku teringat kisah lain bagimana manisnya iman berpengaruh pada seorang mukmin hingga mampu menikmati kepayahan demi agamanya.
Seorang pemuda yang berasal dari salah satu pedesaan Mosul. Kakinya pincang akibat luka serius di salah satu pertempuran. Ia telah mencapai tingkat kelima dalam studinya. Ia seorang murid yang cerdas. Ayahnya ingin ia menjadi dokter.
Ketika Mosul ditaklukkan, bapaknya bergabung dengan mujahidin. Lalu jejaknya diikuti oleh putranya, si pemuda ini, dan paman-pamannya, sampai seluruh keluarga besarnya. Hingga semuanya terbunuh di jalan Allah, demikianlah kami mengira dan Allah Mahatahu. Yang terakhir gugur adalah bapaknya dan salah satu pamannya dalam satu hari di Zanjili.
Aku bertanya kepadanya, “Apakah lukamu ini menyakitkanmu?
Jawabnya, “Ketika tertekan sesuatu akan terasa sangat sakit.”
Aku merasa kasihan padanya karena kondisinya itu. Namun ternyata ketika panasnya pertempuran engkau akan mendapatinya yang pertama kali bergegas bergerak layaknya orang sehat wal afiat. Masya Allah. Tak bisa diam. Selalu berusaha mengintai posisi musuh, dan terus berpindah mencari tempat yang cocok untuk menerkam mangsanya.
Di tengah-tengah pertempuran sengit ini, mendapatkan tempat pengintaian yang cocok itu teramat sulit. Karena biasanya dari mana musuh ditembaki di situlah akan dihujani rudal-rudal pesawat, sekalipun sebenarnya kekuatan militer Rafidhah Salibis benar-benar terkuras habis. Hingga posisi-posisi ribat di sepanjang garis pertempuran berubah menjadi tumpukan batu. Sekalipun demikian, mujahidin dengan keteguhan dan kekuatan pertahanannya bisa mengubahnya menjadi benteng-benteng kokoh, dengan keutamaan Allah.
Saudara kita ini lalu kembali dari usahanya mencari tempat pengintaian untuk dirinya sendiri. Ujarnya, “Ketika aku sedang mencari-cari, aku menemukan sepotong permen dan botol air dari besi. Aku menyadari permennya sudah kadaluarsa bertahun-tahun lalu, karena tempat itu sudah ditinggalkan. Aku makan saja permen itu. Kalau ada yang lainnya tentu akan ku makan juga.”
Ia lalu meninggalkanku sambil tersenyum, seakan-akan habis makan daging ayam, bukan permen yang sudah lama kadaluarsa.
Betul, itulah manisnya iman, sebagaimana disebutkan oleh Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya Heraklius tentang kondisi pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Heraklius berkata, “Aku bertanya padamu, apakah ada pengikutnya yang murtad lantaran benci dengan agamanya. Engkau menyangkal. Maka begitulah iman jika cahayanya telah merasuki relung-relung hati terdalam.”
Di Antara Dua Kebaikan
Di tempat yang sama, aku juga bertemu dengan seorang sniper dari Kepulauan Karibia. Ia mendengar aku menghubungi salah satu ikhwah a’jam (non-Arab) dengan Bahasa Inggris, maka ia mendekat ingin mengenal suara ini. Ketika kita berbincang, ia bertanya, “Apakah engkau memerlukan sniper berpengalaman di tempat ini?" Aku menjawab, “Kirimkan saja.”
Maka ia memanggil saudaranya, Abu Dzar Al-Busni, seorang mujahid berumur 15 tahun dari Bosnia Herzegovina.
Maka di tengah obrolan, aku dan saudaranya itu saling menarik. Aku bertanya padanya bagaimana ia mendapatkan hidayah dan bisa sampai di Daulah Islam. Ia menjawab, “Aku membaca dan mentadaburi ayat-ayat jihad di dalam Al-Qur’an seperti firman-Nya: ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat.’ (At-Taubah: 41).
Maka aku mulai mencari-cari jalan untuk berjihad. Ketika Daulah Islam dideklarasikan, aku dan saudaraku ini segera berusaha berhijrah. Allah pun menyiapkan jalannya untuk kami. Segala puji dan keutamaan bagi-Nya.”
Aku lalu mencandainya, “Kita akan kembali untuk menaklukkan Kepulauan Karibia –dengan izin Allah– lalu kita akan menikmati ikan hasil tangkapanmu, serta pisang dan kacangnya.”
Ia menjawab, “Tidak, aku hanya ingin surga saja.”
Aku pun tersenyum padanya. Kata-katanya itu membuatku teringat akan dua kebaikan (syahid dan ghanimah) sementara aku malah menginginkan yang terakhir.
Para Kesatria Jawatan di Medan Pertempuran
Walkie-talkie tiba-tiba menjerit mengabarkan bahwa milisi Unit Reaksi Cepat (Rafidhah) berhasil menyusup melalui bangunan yang dibombardir habis-habisan. Seorang akh (saudara) yang dijuluki Abu Mush’ab Ash-Shawari, yang bertugas menyalurkan logistik ke garis pertahanan, segera menjawab, “Siapkan empat ikhwah. Aku akan menyerbu bersama dengan mereka. Dengan izin Allah kita akan injak-injak leher murtadin itu. Rafidhah itu sejatinya wanita, tak mampu bertempur.”
Aku kagum dengan semangat dan keberanian petugas ini. Seorang kesatria lain yang biasa dipanggil Abu Ya’qub menjawab, “Sabar akhi, tunggu hingga para ikhwah sampai di sini, baru aku akan mengutus mereka kepadamu.”
Abu Mush’ab merasa jika Abu Ya’qub sedikit enggan, maka ia membentaknya. Abu Ya’qub membalas, “Sebentar akhi, demi Allah aku akan maju paling depan. Aku akan maju bersama mereka. Aku hanya menunggu hingga musuh sampai di dekat target.”
Sebentar kemudian seluruh kesatria pun berkumpul. Mereka segera bergerak menuju musuh sembari bertakbir dan berkata, “Ayo ikhwah, dua kemuliaan!”
Para kesatria itu pun segera bergegas bergerak menyisir bangunan itu, sekalipun di dekatnya berjaga tank Abrams dan kendaraan Hummer. Beberapa hari lamanya musuh berusaha membuka jalan menuju bangunan itu dengan traktornya karena jalanan hancur akibat ulahnya sendiri.
Abu Mus’ab lalu kembali dengan memar-memar ringan akibat bom. Ia diikuti oleh seluruh ikhwah telah berhasil menunaikan tugasnya, kecuali sang kesatria yang dijuluki Abu Ya’qub itu. Kita mendengar temannya lewat walkie-talkie berseru gembira bahwa Abu Ya’qub telah ‘beristirahat’. Demi Allah, ia benar-benar telah beristirahat dari penatnya dunia. Kami mengiranya sekarang sedang berada di tembolok burung yang beterbangan sesukanya di surga.
Tak perlu heran melihat bagaimana mereka saling berlomba-lomba menuju kematian di jalan Allah dan untuk menghancurkan hidup orang-orang kafir. Semua itu karena komandan mereka pun selalu berada di garis depan. Sekalipun sudah tua, tiap kali mendengar huru-hara, ia segera bergegas mencarinya demi mencari kematian. Ia selalu dan berulang-ulang memohon untuk melaksanakan amaliyah istisyhadiyyah sekalipun terus ditolak dan dicegah oleh amirnya.
Engkau melihatnya selalu menjelajahi front sektornya, mengamati, mengintai, menyebar patroli, dan bahkan menyerbu sendirian. Lalu apa yang dilakukan seorang prajurit yang melihat komandannya sedemikan semangat berkorban? Tentu ia akan merasa rendah diri dan memaksa jiwanya untuk meneladani komandannya itu.
Ibnul Mubarak pernah berkata, “Aku selalu merasa rendah diri jika melihat wajah Fudhail bin ‘Iyadh.”
Mungkin engkau bertanya padaku, siapa mereka? Dari satuan mana? Bagaimana mereka dilatih?
Mudah saja, mereka adalah singa-singa dari Departemen Kesehatan, yang membongkar seluruh disiplin ilmu militer. Para lelaki yang tak ada duanya, tak kenal lelah mengobati mujahidin yang terluka dan segenap rakyat Amirul Mukminin. Ketika musuh menyerbu negeri mereka, seperti itulah sebagian aksi mereka. Aku tak mungkin bisa memenuhi hak-hak mereka sekalipun ku tulis berjilid-jilid buku.
Engkau dapati ada dari mereka sekalipun berkali-kali terluka tetapi ia tetap kembali untuk mempertahankan front terdepan dan mengobati yang terluka, luka-lukanya sendiri tak dihiraukannya, seperti dr. Umar Kassar.
Ia terkena luka serius pada pertempuran di Jazirah Ramadi. Betisnya patah. Lalu ia datang ke Mosul untuk berobat sebelum pertempuran Mosul dimulai. Beberapa operasi dilakukan namun belum juga sembuh total. Maka para ikhwah menasihatinya untuk keluar dari kota sebelum terkepung. Namun ia dan istrinya, yang juga seorang dokter dan saudari Syaikh Hudzaifah Al-Bathawi, menolak keluar hingga mendapatkan salah satu dari dua kebaikan. Keduanya tetap bersusah payah mengobati orang-orang yang terluka.
Ketika pergerakan musuh mencapai front dekat dengan kompleks medisnya, dan terjadi pertempuran sengit di sekitarnya, keduanya tetap menolak keluar dari komplek, dan juga seluruh unit-unit medis lain. Hingga keduanya mendapatkan syahadah –demikianlah kami menilai dan Allah sebaik-baik penilai– lantaran bombardir massif yang meratakan kompleks medis itu. Orang-orang mulia lagi pemberani pencari syahadah (kesyahidan) fi sabilillah.
Sang Dokter Inghimasi Kepala Departemen Kesehatan
Hari yang tenang di sektor kita. Orang-orang murtad itu masih tersengal-sengal karena ghazwah (perang) penuh berkah yang dieksekusi oleh para ikhwah di sektor lain. Hari itu kita menyelesaikan puasa. Kita duduk melingkar mengelilingi makanan berbuka yang terdiri dari beberapa kurma dan sedikit adas. Kita kedatangan tamu, kepala Departemen Kesehatan, yang biasa dipanggil dokter Abdullah.
Sang dokter merebahkan badannya setelah berbuka untuk beristirahat sebentar setelah menghabiskan harinya mengunjungi seluruh regu. Terkadang ia ditemani Yahya, seorang pemuda berumur 20-an tahun yang tidak menamatkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran. Si pemuda ini selalu melayani ikhwah. Pasti engkau akan mendapatinya menyiapkan makanan atau memenuhi kebutuhan para ikhwah. Ia tetap terjaga hingga melihat seluruh ikhwah sudah tertidur. Seorang pemuda yang amat pemalu. Jika aku melihatnya pasti membatin, “Aku kira lelaki ini penghuni surga, kenapa masih bersama kita?”
Syaikh Abdullah memanggilnya, “Tolong pijat betisku, sakit banget ini.” Kemudian ia mendesah lama, dan berujar, “Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus pada umur 40 tahun. Beliau menanggung beban berat dakwah dan segala kepedihannya. Dua puluh tiga tahun dihabiskannya dalam dakwah dan jihad. Namun inilah aku, baru berumur 40 tahun lebih saja tak mampu bertahan sehari saja. Ya Rabb, kasihanilah kelemahan kami.”
Mukanya yang lelah dan terlihat pucat itu tertutupi oleh martabatnya. Ia sedikit mengaduh ketika Yahya memijat betisnya. Maka aku mencandainya dengan peribahasa terkenal, “Masa tua bukanlah aib.” Ia tertawa dan berkata, “Betul, betul, bukan aib.”
Ia adalah seorang lelaki yang ramah. Kemudian ia mengucapkan sesuatu yang tak kudengar karena suara ledakan bom. Syaikh lalu berkata setelah serangan udara berlalu, “AS ini benar-benar Firaun modern. Bayangkan saja, kompleks medis bertingkat empat itu dibombardir habis-habisan hingga seluruhnya rata dengan tanah.”
Semua tahu bahwa dokter-dokter kita di situ melakukan operasi demi operasi untuk menyelamatkan korban bombardir AS dan sekutunya. Tak cukup dengan membunuh dan mencabik-cabik wanita, anak-anak, dan orang tua, mereka dibiarkan diselamatkan oleh paramedis lalu dihabisi beserta paramedisnya sekalian. Benar-benar permusuhan yang nyata atas tauhid dan betapa mudahnya menumpahkan darah kaum muslimin.”
Sebaliknya, para dokter, perawat, dan paramedis kita amat pemberani dan penuh kehormatan. Ketika kompleks itu dibombardir untuk pertama kalinya, yang selamat datang kembali untuk mencari barangkali masih ada yang hidup di balik tumpukan reruntuhan sekalipun mereka tahu bahwa pesawat akan kembali mengebom dan membunuh mereka. Demikianlah akhirnya yang terjadi dalam tiga bombardir berturut-turut. Mereka benar-benar kebanggaan kita semua.
Namun obrolanku dengan sang dokter terputus sedih ketika aku mengetahui bahwa sahabatku dokter Abul Yaman Al-Baghdadi yang selalu berwajah ceria dan tersenyum itu ternyata salah satu korban bombardir barbar itu.
Selang beberapa hari, aku mendengar kabar bahwa kepala Departemen Kesehatan Syaikh Dokter Abdullah telah terbunuh. Ia sendirian menyerbu musuh-musuh Allah di distrik Asy-Syifa. Semoga Allah menerimanya dan mengumpulkannya dengan istrinya yang menjadi korban serangan mortir di Kota Tua pada hari yang sama. Kami kira Allah mengabulkan doa Syaikh kita itu ketika ia berdoa agar Dia berkenan memilihnya dan istrinya bersama-sama.
Selamat untukmu wahai kesatria Departemen Kesehatan, dan selamat untukmu wahai Amirul Mukminin karena mempunyai sosok-sosok amir seperti mereka.
Dalam dua hari saja para pengurus Departemen Kesehatan banyak yang terbunuh. Yang pertama adalah wakil kepala Departemen, dr. Khalid Qirdasy. Ia terkena tembakan yang membunuhnya setelah bertahan di front pertama pertempuran Kompleks Medis. Kemudian disusul oleh sang kesatria tercinta dr. Qutaibah. Lalu yang terakhir sang kepala kita dr. Abdullah.
Tak Menoleh Sedikitpun Hingga Terbunuh
Pagi datang disertai peringatan bahwa ada pergerakan aneh di dekat kita. Ketika kita bersiap-siap untuk bergerak, datang Abu Ubaidah. Ia seorang mujahid pakar IT yang selalu berwajah cerah. Jika bercanda, wajahnya akan membuatmu tertawa. Ia baru kembali dari liburan seharinya. Bajunya bersih dan rambutnya tersisir, tidak seperti orang yang berribat pada umumnya. Kesibukan ribat, pertempuran, dan ketiadaan air membuat kita kusut berdebu.
Aku bertanya, “Sudahkah kamu berpamitan pada keluargamu?"
Ia menjawab, “Sudah, aku bilang, ini pertemuan terakhir kita.”
Ketika itu sebelum pergi aku menasihatinya untuk berpamitan kepada keluarganya dan menitipkan mereka kepada Allah. Ia ketika itu menjawab, “Oke, oke,” sambil tertawa.
Walkie-talkie menjerit bahwa ada sebuah traktor yang mendekat ke lokasi kita. Maka Abu Ubaidah segera memanggilku dan meminta bazoka untuk menghancurkannya. Aku memberinya. Ia menembak traktor itu, yang kemudian kabur. Selang beberapa menit kemudian ia kembali berseru bahwa murtaddin menggerakkan berhala Abrams-nya, “Ambilkan bazoka lain, aku akan menembaknya, dengan izin Allah.”
Aku mengizinkannya, dan memberinya bazoka setelah menyarankan beberapa trik untuk keselamatannya. Mereka tidak menggerakkan Abrams itu kecuali untuk menembaki posisi meluncurnya peluru bazoka pertama.
Aku lalu berpindah tempat, sedangkan ia mengintai berhala itu untuk menghancurkannya. Maka aku mencandainya dengan kunyah (nama panggilan) yang ia biasa dipanggil ketika masih kecil, “Ya fulan, dengan granat, akhi, dengan granat.” Maksudnya, bahwa dalam pertempuran ini kita harus berada di posisi yang terjangkau oleh granat tangan, karena tak mungkin kembali lagi. Ia tertawa dan menjawab, “Dengan bazoka, insya Allah.”
Hanya beberapa saat kemudian, posisinya dipenuhi debu, asap, desing peluru, dan ledakan-ledakan. Kita segera berlarian ke posisi saudara kita itu. Kita menemukannya tengah tergeletak di antara reruntuhan dan kobaran api, sembari bernafas tersengal-sengal. Wajahnya tertutupi debu, salah satu kakinya putus dan kaki lainnya patah. Kita segera menggotongnya barangkali masih bisa menyelamatkannya. Namun kematian lebih dekat padanya.
Kita tidak sedih, karena ia tak berpaling dari kematian dan menghadapi tank Abrams dengan dada telanjang. Begitulah kami kira dan Allah Mahatahu. Kita tidak menyesal tidak membersihkan debu dari wajahnya karena akan ada yang membersihkannya. Diriwayatkan di dalam Mushannaf Abdur Razaq dari Abdullah bin Ubaidillah bin Umair Al-Laitsi, berkata, “Jika dua pasukan bertemu, Allah menurunkan bidadari surga ke langit dunia. Jika mereka melihat lelaki yang disukainya karena keteguhannya mereka berdoa, ‘Ya Allah teguhkanlah ia.’ Namun jika ternyata ia kabur maka mereka akan menutupi wajahnya. Jika ia terbunuh, dua orang bidadari akan turun padanya dan membersihkan debu dari wajahnya, dan berdoa, ‘Ya Allah, gelimangilah dengan debu dan tanah orang yang membuatnya bergelimang debu dan tanah.’”
Ketika itu kita tidak bisa menguburkannya karena pertempuran berlangsung sengit dan bombardir terus-menerus. Abu Ubaidah, kesatria berwajah ceria, selalu tersenyum, amat bersemangat, dan pemilik ‘kecemburuan’ (terhadap agama) telah pergi meninggalkan kita.
Yang Tak Ditetapkan Untukmu Pasti Takkan Menimpamu
Giliran ribatku sudah selesai. Al-Akh yang menggantikanku sudah datang. Aku lalu mengemasi perlengkapanku. Ketika hendak pergi aku teringat bahwa distrik Asy-Syifa dan Kompleks Medis sudah tak berbentuk lagi karena bombardir habis-habisan sehari-hari lewat serangan udara, artileri, maupun mortir. Hampir tak ada bangunan yang selamat dari bom. Aku khawatir tersesat jika melalui jalan itu yang akibatnya menjadi mangsa drone-drone yang tak lepas beterbangan sedikitpun.
Aku meminta pendapat ikhwah yang baru datang itu. Mereka menyarankanku untuk melalui jalur yang mereka lewati. Namun sebagian besarnya harus melewati area terbuka tanpa pelindung sedikitpun. Area itu sudah hancur lebur, akan tetapi Allah tak pernah tertidur sedikitpun. Dia menjaga mujahidin dan membutakan mata Salibis.
Aku melewati reruntuhan ruang UGD rumah sakit. Tergeletak beberapa mayat korban luka-luka yang telah membusuk. Paramedis terlambat menyelamatkan mereka. Mayat lain yang tak berbentuk dan berlumuran darah mengental tergeletak di atas tandu. Di pintu keluar tergeletak dokter yang berlumuran darah pasiennya dan darahnya sendiri. Semua itu menunjukkan betapa kejamnya Salibis dan murtaddin yang memerangi negeri kaum muslimin.
Aku segera melompat keluar sembari berdoa semoga Allah menerima para syuhada. Kemudian aku sampai di tempat yang ibarat cekpoin pertama sebelum berpindah ke titik berikutnya. Aku menemukan sisa-sisa air. Aku lalu mandi dan mengganti bajuku yang telah berubah warnanya berikut kulitku, sebagaimana digambarkan oleh Syaikh dr. Abdullah ketika melihat rupaku. Katanya kepada Yahya taqobbalahullah, “Abu Fulan itu, gara-gara tanah, ia terlihat seperti blok beton.” Aku memutuskan untuk tidur agar badanku yang letih ini bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Posisiku ini sebenarnya sedikit berbahaya karena dekat dengan posisi musuh dan garis pertempuran. Aku bertawakkal kepada Allah lalu merebahkan kepalaku berbantalkan senjata dan sabuk peledakku. Aku tertidur beberapa saat sampai terbangun karena suara baku tembak dan ledakan. Aku khawatir sudah terkepung, maka aku segera keluar menuju tempat berikutnya agar bisa sedikit melanjutkan istirahat.
Tapi sebentar kemudian lima rudal jatuh meledak berturut-turut dan mengguncangkan tempatku itu. Aku selamat bersama beberapa ikhwah, segala puji bagi Allah atas penjagaan-Nya. Pelajaran ini sudah menancap kokoh dalam benakku bahwa yang tak ditetapkan atasmu pasti tak akan menimpamu.
Aku lalu duduk menunggu sampainya ikhwah penunjuk jalan menuju cekpoin berikutnya. Tiba-tiba Al-Akh lain masuk dan mengabarkan bahwa Al-Akh penunjuk jalan sebenarnya sudah memimpin beberapa Al-Akh sebelumku sampai di tempat dengan selamat namun ketika kembali malah terkena bom. Semoga Allah menerimanya.
Aku memintanya menceritakan dengan rinci. Lalu katanya, “Ketika kembali ia dibom oleh pesawat drone hingga terluka parah. Kita tidak mampu mengurusnya. Kata-kata terakhir yang diucapkannya adalah, ‘Ya Allah, surga… Ya Allah, terimalah aku sebagai syuhada.’
Maka apa yang telah ditentukan atasmu tak akan meleset, dan seindah luka adalah fi sabilillah dan mendapatkan ridha-Nya serta surga-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar