al istislamu lillahi bit tauhid, wal inqiyaadu lahu bit too’ah, wal barooatu minasyirki wa ahlihi
Minggu, 24 Juni 2018
Sabtu, 05 Mei 2018
MAKA IKUTILAH PETUNJUK MEREKA
MAKA IKUTILAH PETUNJUK MEREKA
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hassan Al Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya, menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya, mengatur segala perkara dengan perintah-Nya, memperdaya kaum kafir dengan makar-Nya, yang telah menentukan hari-hari itu silih berganti dengan keadilan-Nya, dan menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertakwa dengan karunia-Nya. Shalawat serta salam untuk sosok yang dengan pedangnya Allah meninggikan ‘menara’ Islam. Amma ba’du…
Di medan laga, gaung harapan orang-orang kafir kembali menggema untuk menghabisi Daulah Islam. Para pembawa panji Islam dan penjaga akidah meminta kekuatan dari Sang Pencipta mereka yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Karena segala keputusan ada di tangan-Nya, mereka bersandar dan bertawakal hanya kepada-Nya, dan mereka mengokohkannya dengan janji dan amalan-amalan shalih.
Kekalahan para penyebar kabar dusta, para pengecut, dan orang-orang bathil tidak dapat melemahkan kekuatan mereka. Sungguh, mereka orang-orang superior, dermawan, penuh harga diri lagi mulia. Mereka membaca firman Allah, “Jika kamu tidak berangkat (berperang)…” (At-Taubah: 39), maka mereka segera bangkit. Ketika telinga mereka menyimak seruan “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad)...” (At-Taubah: 40), mereka segera mengorbankan diri dan mengerahkan tenaga, baik dalam keadaan ringan dan berat, baik tua maupun muda.
Mereka tak mau terbelenggu kenyamanan dan kenikmatan (dunia), tidak pula condong kepada harta dunia yang akan lenyap. Mereka melepasakan semua itu demi kebenaran, sehingga mereka berpegang teguh kepada pasak kebenaran. Ia pun tumbuh, ranum, menghasilkan buah sangat manis, dan bertambah besar. Tibalah jihad menghentak muka bumi. Gelanggangnya meluas, hingga kobarannya menghanguskan bangsa-bangsa Salibis, para pemerintahan murtad, dan antek-anteknya. Dalam memerangi musuh-musuh Allah, tekad mereka menguat. Pertempuran dahsyat sejati yang diukir orang-orang sabar lagi meyakini janji Allah kepada mereka. Mereka membaca firman Rabb mereka: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin),” (Ali ‘Imran: 179).
Mereka lalui malapetaka seiring berlalunya hari-hari. Bahwasannya seleksi, penyaringan, segenap cobaan pastilah datang, mau tidak mau. Sebuah sunatullah yang niscaya berlaku, sedangkan engkau tidak akan mendapati pergantian pada sunatullah. Bersamaan dengan setiap peristiwa dan bencana, mereka kembali dan merasa puas dengan ‘mata air’ pertolongan Allah yang tak pernah kering. Relung hati mereka tak sekali pun terkotori keraguan. Kesukaran tak dapat membebani bahu mereka, tidak pula banyaknya musuh.
Mulia seperti gunung kesabaran mereka, puncak gunung serasa bukit kecil bagi mereka
Ketika marah karena Allah keberanian mereka membuatmu gembira, lebih berani dari kawanan singa murka
Jika putuskan hidup dalam perang mereka akan laksanakan, penggerak mereka di negeri bagai mata tombak
Engkau kira mereka hidup makmur dan kaya, singa-singa mendobrak fatamorgana dalam sarangnya
Mereka mencengangkan bangsa-bangsa kafir, meneror mereka, merampas kenyamanan dan keamanan mereka, serta mencerai-beraikannya. Hingga mereka mengharapkan kehidupan tenang, namun mereka tak lagi mendapatkannya. Mereka tak tahu dari pintu mana akan diserang. Selanjutnya, dengan karunia Allah, seorang muwahid-mujahid yang tak berdaya di muka bumi melihat keledai Salibis Eropa-Amerika digilas dan ditikam di jalanan Paris, London, dan Manhattan, mendapatkan ganjaran setara dan sebanding, sebagai balasan setimpal. Sebagaimana mereka membunuh, mereka pun terbunuh. Mereka membombardir, mereka pun akan diluluh-lantakkan, dan mereka akan dikumpulkan dalam neraka Jahanam.
Kami bunuh mereka seperti membunuh gerombolan anjing. Kami takkan biarkan mereka di tengah-tengah manusia berteriak penuh kesombongan. Meski demikian, orang-orang yang teperdaya para pemimpin kekafiran masih belum dapat mengambil pelajaran. Orang-orang dungu senantiasa membujuk dan menipu mereka, sehingga mereka tiada henti terjebak kejahatan mereka, tanpa mempertimbangkan hari-hari yang kelak terjadi akibat tindakan bodoh dan kelaliman mereka terhadap kaum Muslimin, tanpa belas kasihan. Lalu mengapa kita tercengang? Inilah tabiat dan kebiasaan mereka, sebagaimana Allah yang Maha Mengetahui mengabarkan kepada kita, Ketika Dia berfirman dalam Kitab-Nya, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)
Rabb kita yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui menjelaskan kepada kita di dalam Kitab-Nya mengenai hakikat orang-orang kafir para kriminal itu, dan Dia memerintahkan kita untuk membunuh dan memerangi mereka hingga Agama itu seluruhnya milik Allah. Mereka mau memeluk Islam atau tunduk kepada perintah dan hukum Allah dengan penuh kehinaan dan kerendahan, karena itu Allah mewajibkan kita menyucikan bumi ini dari busuknya kesyirikan mereka, dari kejahilan mereka, dari kekonyolan mereka, serta dari kesewenang-wenangan dan tirani mereka di muka bumi.
Rabb kita subhanahu wa ta'ala menitahkan kita memerangi kaum musyrik seluruhnya, sebagaimana mereka memerangi kita seluruhnya. Tiada perbedaan antara perang kita melawan Si Thaghut murtad Salman dan putra idiotnya itu dengan perang kita melawan As-Sisi dan pasukannya. Tidak ada perbedaan antara perang kita melawan Si Rafidhah Shafawi (Ali) Khamenei dengan perang kita melawan Si Sekularis Abbas dan Hamas. Tidak ada bedanya perang kita melawan mereka dengan perang kita melawan para majikan mereka dari kalangan Salibis Amerika, Rusia, maupun Eropa. Hanya saja, anak-cucu keturunan Ya’qub (bangsa Arab) lebih besar permusuhan dan kebenciannya terhadap Islam, namun lebih rendah tingkatannya di neraka. Rabb kita berfirman, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)
Dia berfirman, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Allah memperingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maa`idah: 51)
Memerangi orang-orang kafir lagi musyrik adalah agama yang kita yakini guna beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya subhanahu wa ta'ala agar Dia meridhai kita. Dia berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Allah berfirman mengingatkan dan memotivasi para hamba-Nya tentang betapa agungnya orang yang berjihad di jalan-Nya untuk memerangi musuh-musuhNya, “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Sesungguhnya berperang di jalan Allah adalah perniagaan menguntungkan, yang mana Dia mengarahkan para hamba-Nya kepadanya. Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Ash-Shaff: 10-11)
Allah menjadikan pahala dan balasan besar nan agung yang terangkan di dalam firmannya, “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff: 12-13)
Ibnul Qayyim berkata di dalam Madarij As-Salikin, “Sesungguhnya ibadah jihad merupakan jenis ibadah yang paling dicintai-Nya ta'ala. Sekiranya seluruh manusia beriman, niscaya akan terlantarlah ibadah ini dan hal-hal yang menyertainya berupa loyalitas karena-Nya ta'ala, permusuhan, cinta dan benci karena-Nya serta mencurahkan jiwa untuk-Nya dalam memerangi musuh-Nya.” Sampai ucapannya: “Di antaranya adalah ibadah menyelisihi musuh-Nya, serta membencinya karena Allah, dan membuat musuh-Nya jengkel karena Allah, adalah termasuk jenis peribadatan yang paling dicintai-Nya. Karena sesungguhnya Allah mencintai wali-Nya yang membuat jengkel dan membuat murka musuh-Nya, juga berbuat buruk kepadanya. Dan inilah ubudiyah yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang cerdas.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Di dalam Ash-Shahih, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka berkata ‘Laa ilaaha illallah’. Jika mereka telah mengatakannya, shalat dengan sholat kita, menghadap kiblat kita, dan menyembelih sembelihan kita, maka sungguh haram atas kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisabnya urusan Allah.”
Ketika ditanya tentang makna “La ilaha Illallah”, Imam Dakwah Nejed rahimahullah menjawab, “Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kalimat ini adalah demarkasi (pemisah) antara kekafiran dan Islam. Ia adalah kalimat ketakwaan, ia juga adalah tali iman terkuat, ia kalimat yang dijadikan Nabi Ibrahim alaihis salam sebagai “…kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu),” (Az-Zukhruf: 28). Bukanlah yang dimaksud itu sekadar mengucapkannya dengan lisan namun tidak memahami maknanya. Karena sesungguhnya kaum munafik pun mengucapkannya namun mereka justru berada di bawah orang-orang kafir di kerak neraka, padahal mereka melaksanakan shalat, berpuasa, dan bersedekah. Namun yang dimaksud adalah mengetahuinya sepenuh hati, mencintainya dan mencintai pengusungnya, membenci dan memusuhi orang yang menyelisihinya, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengatakan La ilaaha Illah dengan ikhlas,” dalam sebuah riwayat: “Secara jujur dari hatinya,” dalam sebuah lafazh: “Siapa yang mengatakan Laa ilaaha Illallah dan mengingkari semua yang sesembahan selain Allah,” dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan kebodohan mayoritas manusia akan syahadat ini.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Beliau juga berkata terkait tafsir firman Allah ta'ala: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang taat kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (An-Nahl: 120)
Adapun firman-Nya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam”, agar pejalan di jalan (tauhid) tidak merasa kesepian karena sedikitnya yang berjalan. “Yang taat kepada Allah”, bukan taat kepada para raja, tidak pula kepada para pedagang makmur. “Hanif”, tidak condong ke kanan dan ke kiri seperti para ulama yang terkena fitnah (kerancuan/penyimpangan). “Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” menyelisihi golongan mayoritas dan mengira menjadi bagian dari kaum muslimin.
Tiada Ilah selain Allah, betapa banyaknya orang-orang yang mundur dan menjauh dari kalimat “ikhlas” (baca: tauhid). Mereka melakoni ‘lawannya’ (syirik), dari kalangan yang menisbatkan diri kepada umat ini. Mereka menghancurkan rukun-rukunnya, mengklaim menolongnya, loyal kepada musuh-musuh kalimat ini, memerangi para pengusung dan pengawalnya. Dan sesungguhnya keadaan umat Islam tidaklah lurus dan takkan pernah lurus kecuali dengan ‘Kitab’ yang memberi petunjuk dan ‘pedang’ yang menolong, serta menghidupkan sunnah (Abu Bakar) Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dalam menghadapi orang murtad yang menjauhkan diri dari hukum dan syariat Allah.
Dia segera menyerang ‘kemah’ orang-orang kafir yang loyal kepada para thaghut, kaum musyrik, dan orang-orang atheis, meskipun dia shalat, puasa, dan tawaf di Rumah Suci (Ka’bah). Dalam peristiwa tersebut, nampak jelaslah pemeliharaan dan penjagaaan Allah untuk agama ini, dan tidak ada yang mampu melakoni peperangan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi orang murtad dari bangsa Arab, kecuali para pemilik tekad lurus dan terbimbing ilham lagi diberi taufik dari kalangan para ksatria. Dengan sebab itulah, Allah menghancurkan setiap musuh agama, menyatukan umat, dan mengembalikan mereka kepada agama, setelah kebanyakan mereka murtad dari agamanya dan mayoritas mereka mundur ke belakang dalam keadaan kafir.
Saat itu, Abu Bakar radhiyallahu anhu berdiri bak gunung menjulang di hadapan angin kencang dan fitnah (kekacauan) pekat, sampai dia berkata, “Demi Allah! Aku akan membunuh siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah! Sekiranya mereka menahan dariku seekor anak domba yang daulu mereka tunaikan kepada Rasulullah, sungguh aku akan memeranginya karena menahannya (zakat).” Ketika itu, para sahabat radhiyallahu anhum berkata kepadanya, “Bagaimana bisa engkau memerangi manusia, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah,’ Umar radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, bersikap lembutlah kepada manusia dan berbuat baiklah kepada mereka.” Maka Abu Bakar menjawab, “Engkau begitu berani pada masa jahiliyah, namun pengecut setelah masuk Islam, sungguh wahyu telah terputus, agama telah sempurna, apakah agama ini akan digerogoti sedangkan aku masih hidup?!”
Sampai Al-Faruq berkata, “Demi Allah iman Abu Bakar telah mengungguli iman seluruh umat ini dalam urusan memerangi kaum murtad.” Abu Bakar bin Ayyasy menyatakan, “Aku mendengar Abu Hushain berkata, ‘Tiada seorang pun yang dilahirkan setelah para Nabi yang lebih baik daripada Abu Bakar radhiyallahu anhu. Sungguh dia berada di posisi salah seorang nabi dari dalam memerangi kaum murtad.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan jika kaum Salaf menyebut para penolak zakat sebagai kaum murtad, padahal mereka berpuasa dan shalat, tidak pula memerangi jamaah kaum muslimin, lalu bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dengan memerangi kaum muslimin?”
Bahkan kami katakan pada saat ini, maka bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, dari kalangan para thaghut pengganti syariat Allah dan hukum-Nya, menjadi pelayan hina lagi loyalis pembantu para Salibis dan para atheis? Ditambah lagi dia menghembuskan amarah dan kegeraman kepada jamaah kaum muslimin, mengharapkan lenyapnya hukum dan syariat Allah, berbangga dengan hal itu, serta secara terang-terangan dan menyambutnya, sebagaimana terjadi di Mosul, Sirte, Raqqah, dan lainnya.
Dan di antara keanehan zaman adalah kedunguan orang yang menganggap nikmatnya dusta dan kebohongan, gembira dengan bencana yang menimpa Daulah Khilafah, serta menyusutnya kekuasan Daulah dari muka bumi yang telah ditegakkan syariat Allah. Di saat seorang muslim tidak menjumpai di muka bumi ini sebuah Darul Islam yang dapat dia tuju, selain wilayah yang berada di bawah kekuasaan Khilafah, kendati betapa dahsyat dan bengisnya kampanye Salibis.
Meski demikian, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Khurasan, Sinai, Libya, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah lainnya tiada henti mengorbankan jiwa mereka dengan murah dalam rangka meninggikan kalimat kebenaran dan agama Islam. Pada saat ini, mereka adalah para pejuang agama Islam, dan merekalah manusia paling layak disebut “Thaifah Manshurah” (kelompok yang dimenangkan) yang disebutkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabda: “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, selalu menang hingga Hari Kiamat.”
Wahai putra-putra Islam dan para pengusung tauhid di seluruh tempat,
Kalianlah para pionir Khilafah. Perbanyaklah kuantitasnya dan bergabunglah dengan kafilahnya. Sesungguhnya kita berada di ambang penaklukan yang semakin dekat dan kemenangan mulia, dengan izin Allah. Maka janganlah terlewatkan ganjaran menjadi pelopor dan kebaikan yang paripurna.
Sejatinya perang kami melawan para pengusung kekafiran dan kemurtadan adalah takdir yang niscaya dan sebuah kewajiban. Tidak boleh seorang pun yang mengimani Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Nabinya, menunda diri atau menjauhkan diri darinya, demi menghalau serangan mereka dan perampasan mereka terhadap negeri-negeri kaum muslimin. Sejak sangat lama, kaum muslimin tak ubahnya kambing kehujanan di malam deras guyuran hujan, sebab musuh menghegemoni mereka yang kehilangan kekuatan.
Engkau tidak melihat kebanyakan orang yang menisbatkan diri kepada Islam kecuali mengekor hawa nafsu, menyimpang jauh dari millah (agama), dalam kemurtadan dan perbudakan bengis dari anak-cucu kera dan babi. Sepanjang sejarah, kaum muslimin belum pernah didera musibah seperti ini. Mulai dari dari perang akidah, metodologi, ekonomi, militer, maupun media. Dan umat pun belum pernah diuji dengan kaum yang menisbatkan diri kepada ilmu (ulama) seperti sekarang ini. Bahkan, para pengklaim ilmu itu kini telah berubah menjadi ‘pisau belati’ yang digunakan untuk memerangi siapa saja yang hendak menegakkan hukum dan syariat Allah di muka bumi.
Maka sungguh mengherankan orang yang membaca Kitab Rabbnya, namun hidup dalam kubangan kehinaan dan kenistaan; kehendaknya dirampas, didikte keyakinannya dan apa yang mesti dijauhi dari agamanya. Dia hidup dalam celah kelemahan dan jauh sekali dari pemahaman realita, yang tidak diketahui dan dipahami kecuali oleh orang yang mau bangkit dari kehinaan dan mendaki puncak agama, puncak tertinggi lalu melihat dengan ucapan perbuatan nyata, bukan ucapan omong kosong, bualan, dan keadaan orang-orang tertinggal dan terlantar. Semua itu bukanlah jalan untuk menyelamatkan umat Islam dari bencana dahsyat dan keburukan merajalela. Sesungguhnya hidayah Allah segera menghampiri siapa saja yang berjihad di jalan-Nya dan janji-Nya untuk mereka maha benar. Dia subhanahu wa ta'ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)
Ibnul Qayyim berkata, “Dan ketahuilah bahwa pendirian seorang hamba dalam Islam tidak akan kokoh sampai dia mengikat hatinya bahwa agama seluruhnya milik Allah, bahwa petunjuk adalah petunjuk Allah, bahwa kebenaran berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada yang ditaati dan diikuti selain beliau. Ucapan manusia selain beliau haruslah ditimbang berdasarkan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam, jika sesuai maka kita terima, bukan karena dia yang mengatakannya, namun karena dia mengabarkannya dari Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Namun jika bertentangan, maka kita tolak. Perkataan beliau shallallahu alaihi wasallam tidak ditimbang dengan pendapat-pendapat ahli logika, tidak pula dengan akal para filsuf dan ahli kalam, tidak pula dengan perasaan orang-orang yang sok zuhud (sufi). Akan tetapi semua pemikiran mereka wajib ditimbang dengan risalah beliau, semisal menimbang uang dirham yang tak dikenal kepada para pakar penimbang. Apa yang dihukumi beliau benar, maka diterima. Dan apa yang ditolak beliau, maka ia tertolak.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Wahai orang yang meniti manhaj Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau kalangan terpilih!
Wahai orang yang enggan selain berjalan di atas jalur Salaf (pendahulu) pelaku kebajikan umat ini!
Wahai orang yang berdoa di malam hari, namun didera kesusahan di siang hari!
Wahai orang yang memasrahkan wajahnya kepada Allah, mengira lambatnya kelapangan dan sirnanya bencana, setelah meyakini bahwa tiada solusi, jalan keluar, dan sarana kebahagiaan dan keselamatan umat dari dasar kesengsaraan, yang diridhai Rabb kita selain jihad di jalan Allah, pembunuhan, dan peperangan. Sehingga seorang muslim kembali merdeka lagi mulia, bukan menjadi budak pengekor lagi nista. Sehingga Islam mendominasi bumi dan seluruh makhluk tunduk kepada Allah Rabb Semesta Alam.
Ketahuilah, seseorang takkan sampai kepada ketenangan dan kenikmatan selain melalui ‘jembatan’ kepayahan dan penderitaan.
Wahai Akhi Mujahid, hal demikian memperlihatkanmu bahwa segenap musibah dan penderitaan berujung puncak kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.
Betapa tidak, hari ini engkau berada di tempat mulia lagi luhur yang dimiliki orang pada zaman ini, memperjuangkan millah Ibrahim dan sunnah sebaik-baik rasul –shalawat serta salam untuk mereka– dalam rangka mematuhi Allah, mengharapkan janji-Nya, dan menunaikan perintah-Nya. Berhati-hatilah dari muslihat tipu daya. Berhati-hatilah, karena sesungguhnya seorang hamba shalih terkadang teperdaya dan terkadang terkena angan-angan, sehingga dia terjerumus ke dalam jebakan serta jerat tipu daya dan makar. Sesugguhnya perkara tersebut sungguh gamblang, dan dia akan binasa. Rabbmu menjanjikan siapa saja yang beriman kepada-Nya, membenarkan para rasul-Nya, berhijrah, menderita di jalan-Nya, dan berperang, sampai dia terbunuh sembari mengharapkan pahala.
Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Para sahabat –semoga Allah meridhai mereka– adalah generasi terbaik dan paling murni, serta manusia paling mengetahui Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak pernah mundur dari memerangi orang-orang kafir musyrik bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa beliau. Mereka juga tak pernah mundur dari memerangi orang-orang murtad selepas wafatnya beliau. Dalam hal itu, mereka mengukir peristiwa paling luhur dan mulia, sehingga mereka pun meninggikan ‘menara’ Islam, setelah hampir roboh dan berlubang.
Dalam salah satu gambaran pengorbanan demi agama ini, serta keteguhan tekad “orang-orang pertama yang masuk Islam”, diriwayatkan Anas radhiyallahu anhu, dia menceritakan, “Pamanku, Anas bin An-Nadhr, absen dalam Perang Badar. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak ikut saat pertama kali engkau berperang memerangi orang-orang musyrik. Seandainya Allah memperkenankan aku dapat berperang memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah dapat melihat apa yang akan aku lakukan. Pada Perang Uhud, dan dari barisan kaum muslimin ada yang melarikan diri dari medan tempur, Anas berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni para sahabat Nabi, dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni orang-orang musyrik.” Maka dia maju, lalu Sa’ad bin Mu’adz menjumpainya. Dia berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, aku menginginkan surga. Demi Rabbnya An-Nadhar, sungguh aku mencium wangi surga dari balik Bukit Uhud ini.”
Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup menggambarkan apa yang dialaminya.” Anas berkata, “Kemudian kami mendapati dia dengan luka tidak kurang dari 80 sabetan pedang atau tikaman tombak atau tembakan panah. Dan kami menemukannya telah terbunuh, dan kaum musyrik telah mencabik-cabik jasadnya. Sehingga tidak ada satu pun yang mengenalinya selain saudara perempuannya yang mengenali jarinya.” Anas berkata, “Kami melihat atau kami mengira bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dirinya dan orang yang serupa dirinya; ‘Dan di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang membuktikan janji mereka kepada Allah,’ hingga akhir ayat.”
Diriwayatkan juga dari Anas bin Malik, Rasulullah berangkat bersama para sahabat beliau menuju Badar hingga mendahului orang-orang musyrik. Kemudian kaum musyrik tiba, maka Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian bertindak sebelum ada perintah dariku.” Ketika kaum musyrik semakin dekat, maka Rasulullah bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Tiba-tiba ‘Umair bin Al-Hammam berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Beliau menjawab, “Ya.” Umair berkata, “Bakh...bakh (bagus..bagus)!” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa yang mendorongmu mengatakan, ‘Bakh...bakh’?” Umair menjawab, “Tidak, demi Allah, aku berharap aku menjadi penghuninya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.” Kemudian dia mengeluarkan beberapa butir kurma dari sakunya, dan memakannya sebagian. Kemudian dia berkata, “Seandainya aku masih hidup sampai aku menghabiskan kurma-kurma ini, sesungguhnya itu kehidupan yang lama.” Dia pun membuang kurma yang tersisa, lalu memerangi mereka hingga terbunuh.
Bahkan, para penghapal Al-Qur'an dari kalangan para sahabat mulia –semoga Allah meridhai mereka– adalah orang-orang yang bersegera berlomba menerobos menerjuni kematian. Ya, wahai pencari ilmu, dalam perang melawan kemurtadan, Umar Al-Faruq dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma khawatir banyak ayat Al-Qur'an akan hilang disebabkan banyaknya penghapal Al-Qur'an yang terbunuh. Sampai-sampai Umar Al-Faruq berkata kepada Khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Korban perang telah meluas pada Perang Yamamah hingga merenggut para penghapal Al-Qur'an. Maka aku khawatir dengan terbunuhnya para penghapal Al-Qur'an di banyak tempat, mengakibat sebagian besar ayat Al-Qur'an akan hilang. Aku berpendapat sebaiknya engkau memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur'an.” Hal itu merupakan sebab kodifikasi (penghimpunan) dan melestarikan Al-Qur'an secara tertulis dalam lembaran-lembaran. Betapa luhurnya posisi seorang pengemban ilmu dan Al-Qur'an pada hari ketika buah manis ilmunya mendorongnya menjadi sosok pemberani, bukan menjadi penakut dan kebingungan. Inilah Zaid bin Al-Khattab hyang membawa panji kaum muslimin pada Perang Yamamah guna memerangi orang-orang murtad. Dia berkata sembari berteriak penuh keyakinan bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik, lebih kekal, dan kesudahan baik adalah milik ketakwaan:
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon uzur kepada-Mu dari kaburnya sahabat-sahabatku dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa Musailimah.” Dia pun lantas merangsek maju membawa panji membantai musuh, kemudian berperang sampai terbunuh. Selanjutnya Salim sahaya Abu Hudzaifah membawa panji, dan tatkala kaum muslimin lari tunggang-langgang pada Perang Yamamah, Salim yang termasuk penghapal Al-Qur'an berkata, “Bukan seperti itu yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Dia pun menggali lubang untuk dirinya, lalu berdiri di dalamnya sembari membawa panji Muhajirin pada hari itu. Dia pun berperang hingga terbunuh, semoga Allah merahmatinya.
Merekalah generasi mulia, siapa menapaktilasi penuh tekad dia berusaha dan menggelanggang
Melihat mereka bergolak, sang penyeru berteriak: murahkan jiwa dalam laga sambil melenggang
Mungkin lembaran kertas menahbiskanmu sebagai alim, namun tindakan dan ucapanmu centang-perenang
Melalui pedang, nyali, dan akidah suci agama ‘kan berkilau dan kaum cerdik pandai pun gemilang
Hendaknya siapa saja yang memerangi Daulah Khilafah menyadari bahwa Khilafah bergerak merealisasikan ancamannya kepada para musuhnya. Berkat karunia Allah, pedang kami tak pernah tumpul. Peperangan dahsyat baru saja dimulai. Tidaklah para putra Islam menceburkan diri ke dalam deru lautan dalam lagi menghempas, melainkan mereka yakin akan kepastian lapangnya dunia dan akhirat. Seseorang yang menerobos deburan ini takkan pernah merugi. Sejatinya ia adalah salah satu dari dua kebaikan, satu dari dua kemuliaan; kemenangan atau kesyahidan. Kehidupan mulia, bukan kehidupan nista. Kehidupan pejuang, bukan kehidupan terbelenggu dan mengemis.
Seorang pemerhati hari ini, berkat anugerah Allah serta keteguhan putra-putra Khilafah dan para pembelanya, dia akan menyaksikan konstelasi “Poros Tunggal” tempat di mana Amerika menjalaninya. Ia hidup dalam kondisi terjaga, berharap dirinya dapat memberangus Daulah Islam. Ia lupa atau pura-pura lupa bagaimana keadaannya di tengah para musuh dan bangsa-bangsa kompetitornya, lalu pada hakikatnya siapakah yang ‘memenangkan’ dan mendapat kehilangan dominansi dan kepioniran? Angin politik tidaklah berjalan sesuai dengan harapan dan cita-citanya.
Hari ini Amerika kebingungan, linglung, berjalan tergelincir, dan semua tujuannya berserakan. Kemauanmu kini telah menyusut, dan sekarang engkau merayu semua musuhmu yang binasa. Engkau kini menyesuaikan diri dengan kehendak mereka, rela dengan win-win solution, dan tak berdaya melakoni benturan langsung dengan mereka. Peristiwa yang engkau jalani dalam menggandeng kekuasaan Shafawi di kawasan belum lagi beranjak, dan ini menjadi sebaik-baik bukti. Penderitaanmu hari ini akibat melemahnya perekonomian yang membuatmu miskin itu, telah membuatmu kehilangan arah politik yang engkau klaim sebagai sebuah kecerdasan bersama para sekutu. Kini engkau tidak malu lagi untuk memperlihatkan tindakanmu memeras rekan-rekan terdahulumu dan sekarang di hadapan dunia. Bahkan engkau menggadaikan keberadaanmu di Syam dengan sokongan mereka yang tidak sesuai aturan, atau mereka harus menyelesaikan semua masalah mereka sendiri. Ataukah engkau mengira bahwa bombardirmu terhadap rezim kriminal Nushairiyah pembunuh Ahlus sunnah, akan membuat Rusia tunduk atau bisa sedikit mengubah perimbangan, atau bahkan melupakan kejahatan-kejahatanmu terhadap Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Peristiwa Ghouta dan Douma tiada lain hanyalah salah satu episode dari kisah yang belum selesai babaknya.
Bencana yang mendera Ahlus sunnah, dan ‘keberanianmu’ melakukan hal itu, tiada lain hanyalah setitik abu di mata, akalmu memandang remeh hal itu, dan engkau merekayasa konflik khayalan demi menjaga secuil kepentinganmu bersama para thaghut kaum murtad Ahlus sunnah di kawasan. Engkaulah yang menyerahkan kawasan-kawasan Ahlus sunnah kepada negara Majusi Iran. Betapa tidak, armada-armada laut dan udaramu mengawal seluruh mobilisasi Rafidhah Shafawi di Irak, serta memudahkan mereka merampas berbagai negeri Ahlus sunnah. Bahkan, Hizbullata Rafidhah kini telah menjadi ‘lengan’ Iran yang melontarkan pujian atas tindakannya dan perbuatan yang dilakukan ‘kedua tangannya’ terhadap Ahlus sunnah di Syam. Semua kelompok dan milisi Rafidhah di Irak pun kini menduduki berbagai posisi penting, kemudian mereka dipuji kerena membantai dan merampas kawasan-kawasan penduduk Ahlus sunnah yang kini berupaya menyembuhkan luka dan menghapus airmata, semenjak engkau mempersilakan masuk para penjajah. Engkau bergembira dengan kesengsaraan mereka, diperbudaknya mereka, peperangan terhadap akidah mereka, serta perampokan sumber daya alam mereka. Maka kemenangan macam apa yang mereka bicarakan, dan kemenangan seperti apa yang diperbincangkan Amerika?!
Berkat karunia Allah, mujahidin berada dalam superioritas, keunggulan, kekuatan, dan keperkasaan mumpuni, berpandangan jauh, persatuan barisan, dan keadaannya lebih baik dari keadaan dirimu yang kalah lagi nista saat hengkang dari Irak bertahun-tahun silam. Hanya beberapa tahun saja, sampai Allah menaklukkan untuk mujahidin para hamba-Nya berbagai kota dan daerah pinggiran, serta menganugerahi mereka dari karunia-Nya. Dengan demikian, kemenangan macam apa yang engkau bicarakan, sedangkan engkau hari ini keluar-masuk dari satu negeri ke negeri lainnya, engkau mengemis kasih sayang sejumlah negara dan merayu negara-negara lainnya, setelah musuh bebuyutanmu meraih dominansi, yaitu negara Salibis Rusia yang masih belum mendapatkan ucapan selamat atas kemenangan semunya di Negeri Pertempuran Dahsyat. Dengan frustrasi dan ucapan selamat palsu, Rusia muncul via media melalui sebuah citra penyelamat bagi para sekutunya, terutama Nushairiyah, di Syam setelah menggunakan politik “membumihanguskan negeri”, mempertunjukkan kekuatan ekstrem di berbagai kota Ahlus sunnah. Pemandangan ini tidaklah menyenangkan Amerika, dan citra yang ingin disampaikan Keledai Rusia kepada dunia adalah: “Sekarang aku kembali mendominasi.”
Ya, orang-orang licik telah mengalahkanmu. Alih-alih menambal rumah berlubang, justru pena diambil guna melakukan penandatanganan di hadapan dunia bahwa Al-Quds adalah ibukota negara Yahudi. Hal itu dilakukan untuk merusak sambutan kemenangan musuhnya, yaitu Rusia, dan memalingkan pandangan dunia darinya. Engkau membuat marah ‘buih’ dari kalangan orang-orang yang meyakini bahwa engkau memiliki kebaikan dan keburukan. Hari ini engkau tergsa-gesa melakoni sesuatu yang takkan bisa engkau capai. Hentikanlah dan kembalilah ke seberang lautan, karena engkau takkan mampu menggapai mujahidin dan negeri-negeri kaum muslimin. Ambillah pelajaran dari orang-orang sebelumnya, karena orang berakal takkan mencoba mengulang hal yang pernah dicoba. Sesungguhnya janji Allah untuk memberikan kekuasaan kepada mujahidin para hamba-Nya yang bertakwa sungguh sangat dekat.
Kemudian, apakah pengakuanmu akan bermanfaat sedikit pun di hadapan keputusan Allah, meskipun engkau melancarkan serangan, serta datang dengan segenap kapal perang, pesawat, pakar, serta penasihat militer ke negeri “Tempat Isra” dan kiblat pertama guna melindungi Yahudi. Sesungguhnya, mereka dan bala tentara Islam terikat janji yang takkan mereka selisihi. Ia adalah sebuah janji, demi Rabb Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka bersabarlah wahai keluarga kami di negeri “Tempat Isra” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bersabarlah, demi Allah, kami takkan melupakan kalian.
Sesungguhnya saudara-saudara kalian di Daulah Khilafah, tidaklah memerangi bangsa-bangsa kafir melainkan mereka merasakan kepedihan hati dan duka cita menyayangkan tidak bisa berhadapan dengan Yahudi, karena sibuk menolak serangan musuh mereka dan hendak melenyapkan batas-batas negara hina yang mengekang umat Islam. Ketegaran dan keteguhan bala tentara Khilafah di Sinai, serta operasi mereka menghalau satu persatu kampanye militer, merupakan petunjuk nyata dan bukti kesungguhan. Sejatinya, konfrontasi dengan mereka sudah dekat.
Kemenangan seperti apa yang dibicarakan Amerika, di saat para putra kaum muslimin dari segenap penjuru tiada hentinya berturut-berturut bergabung membaiat dan membela Khilafah. Mereka berharap menjadi satu batu bata berkualitas dalam mengokohkan istananya dan meninggikan bangunannya. Bahkan, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Sinai, Khurasan, Libya, Afrika Barat, Somalia, Filipina, dan Tunisia, mereka senantiasa menimpakan bencana kepada antek-antek dan bala tentaramu. Mereka selalu terikat dalam jihad yang dicintai dan diridhai Allah, serta takkan berhenti sampai turunnya Nabi Isa putra Maryam alaihis salam sebagai hakim adil. Sesungguhnya mimpi buruk yang kalian reguk di setiap babak mengerikannya, takkan pernah bisa dihentikan oleh satu mimpi semu atau operasi udara besar walau sejenak. Dengan izin Allah, yang akan datang akan lebih dahsyat dan lebih pahit.
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga lebih dari 70 negara berhimpun memerangimu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga berbagai konferensi dan koalisi dibentuk guna membahasmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai keledai Amerika, Rusia, Eropa, Barat, dan Timur datang memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai engkau dibombardir dengan “induk” segala bom (mother of all bombs) dan bom fosfor, dan dari atas kepalamu dimuntahkan berbagai hal yang dianggap jahat dan tabu oleh mereka?!
Siapakah engkau, sampai-sampai umat ‘buih’ bersembunyi untuk tidak membelamu, dan bahkan mereka berdiri bersama musuh untuk memerangimu?! Namun engkau tetap berlalu dan tidak memalingkan wajahmu agar tetap setia membela agamamu.
Siapakah engkau, sehingga media-media keji hiruk pikuk, saat engkau merobohkan tumpukan batu yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Mereka harap-harap cemas lagi murung dan diam membisu, menyaksikan negeri-negeri Ahlus sunnah dihancurkan dan diruntuhkan di hadapan para penduduknya, serta tak terhitung banyaknya nyawa melayang dan banyak kehormatan dirusak, dengan dalih memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga engkau didiskreditkan; terkadang disebut antek, terkadang dilabeli Khawarij, terkadang dicap kafir, dan terkadang distempeli atheis?!
Para Bal’am murtad sampai kebingungan dalam melabelimu, mencelamu, dan menstigmakanmu. Namun seiring semua hal itu, engkau tetap menceburkan dirimu ke dalam lautan kematian demi mempertahankan umat dan agamamu.
Siapakah engkau yang mana ganjaran dan pahalamu ada di sisi Allah?!
Ingatlah kembali siapa engkau, agar engkau menyadari anugerah Allah untukmu. Syukurilah nikmat ini dengan cara teguh di atas agama-Nya, memerangi seluruh musuh-Nya, karena sejatinya engkau di atas kebenaran. Ya Allah, berilah kemudahan kepada bala tentara Khilafah untuk menjalani hijrah mereka, dan janganlah engkau membuat mereka mundur.
Sejak dideklarasikan dan dalam perkembangannya, sesungguhnya Daulah Khilafah memberi kabar gembira kepada umat dengan jihad, pertempuran, dan peperangan di jalan Allah. Ia tidak menjanjikan dan memberi harapan dengan dunia sedikit pun kepada umat. Maka ia pun menegakkan agama, menghidupkan al-walaa wal baraa`, terbebas dari sesaknya kelompok dan tanzhim (organisasi) menuju kelapangan Khilafah. Ia mengembalikan jamaah muslimin kepada wibawa dan kemuliaannya di kalangan manusia. Jikalau tidak demikian, para thaghut di belahan timur dan barat niscaya takkan mengeroyoknya, dan seluruh bangsa takkan memeranginya. Para mujahid jujur membaiat Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Qurasyi Al-Husaini Al-Baghdadi –semoga Allah menjaganya– sebagai Khalifah kaum muslimin. Dengan bendera tersebut, benturan dengan pengusung kekafiran mengarah ke bentuk lain dan membedakannya dengan segenap jihad yang sebelumnya pernah ada pada zaman kita. Hal itu merupakan taufik dari Allah untuk pengusung jihad di Irak dan Syam.
Maka seorang imam tak ubahnya perisai, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “...seseorang berperang mengikutinya dan berlindung dengan (kekuasaan)nya.” Dengan hal itu, terputuslah elemen keburukan yang terejawantah dalam perpecahan hasil perbuatan para pengadu domba, pembuat makar dan pengkhianatan, untuk menggiring para putra Islam ke berbagai kelompok, golongan, dan jamaah yang bercerai-berai. Dengan deklarasi Khilafah, berkat karunia Allah, pulihlah hubungan ukhuwah keimanan dan terwujudlah makna “satu tubuh” dalam umat ini di antara putra-putra Islam di berbagai penjuru. Engkau melihat seorang muwahid melakoni betapa sulitnya berangkat dan berhijrah ke Darul Islam. Dulunya dia tinggal di tengah-tengah kaum musyrik dari Yahudi, Salibis, dan kaum murtad, kemudian dia berperang berdasarkan basirah dari perintah-Nya demi membela agama-Nya, setelah nampak jelas di hadapannya tujuan dari peperangan yang dapat membunuhnya. Sehingga pedang kami di segenap penjuru barat dan timur menjadi perisai berbagai negeri dan kelompok. Hari-hari yang kami lalui sudah masyhur di kalangan musuh-musuh kami, hari-hari tersebut sarat marabahaya dan sangat dikenal.
Wahai bala tentara tauhid di Daulah Islam,
Khilafah adalah kebanggaan kaum muslimin dan kebencian bagi kaum kafir. Maka panjatkanlah pujian kepada Allah, karena Dia telah memuliakan kalian dengan mengangkat panjinya, membela, dan mempertahankannya. Kita memandang bahwa orang yang masih hidup dan yang telah mendahului, mereka adalah orang-orang terbaik. Melajulah menuju penaklukan baru dan kemenangan agung. Sesungguhnya satu generasi yang ditempa di atas tauhid, menjalani al-walaa wal-baraa` dalam kehidupan nyata lagi praktis, mencicipi kemuliaan jihad, dan nikmatnya pengorbanan di jalan Allah, adalah umat yang diharapkan, setelah Allah ta'ala, untuk membangkitkan Islam di masa ini. Kalian pada hari ini menyaksikan berbagai pertempuran dahsyat di bumi Irak, Syam, dan negeri-negeri lainnya. Maka perlihatkan diri kalian sebaik-baiknya kepada Allah. Sebuah negeri takkan terjaga dan penduduknya takkan mulia kecuali dengan tombak dan peledak. Melalui daya dan kekuatan Allah, putra-putra Islam terikat janji dan waktu yang ditentukan lagi disegerakan dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Rafidhah Shafawi dan para antek mereka dari kaum murtad yang secara dusta dan palsu berafiliasi kepada Ahlus sunnah. Peperangan belumlah berakhir.
Atas karunia Allah, singa-singa Khilafah takkan berhenti berjalan sesuai keinginan mereka. Mereka merancang, dan mereka adalah para pengatur peperangan, para instruktur tempur, serta para penakluk dan pengguncang bangsa-bangsa kafir. Maka janganlah seseorang berpikir rendah lagi pengecut, karena ada ‘tangan’ yang terulur kepada mujahidin dan menjaga kehormatan mereka. Seseorang akan menikmati ‘uluran’ tersebut.
Demi Dzat yang menggerakkan awan, membangun tujuh langit kokoh, dan mencerai-beraikan pasukan kafir saat penaklukan di setiap tempat. Tangan dan kaki mereka niscaya akan terputus, nyawa di dalam jasad mereka akan melayang, dan bangkai mereka akan tersungkur di pusara. Maka kami takkan merasa lemah dan pengecut.
Kami adalah anak-cucu (Abu Bakar) Ash-Shiddiq dan (Khalid) Ibnul Walid. Kami akan menghidupkan sunnahnya untuk siapa pun yang murtad dan memusuhi umat Islam, dari kalangan kaum pandir dan rakyat jembel. Dengar dan simak baik-baik, wahai kaum Rafidhah Irak dan Majusi Iran. Kami bersumpah dan bersumpah, tempat yang luas benar-benar akan menjadi sempit oleh bangkai busuk kalian. Sungai Dijlah dan Eufrat benar-benar akan tercemar busuknya mayat kalian. Dan setiap muslimat suci lagi terhormat yang digiring menuju kematian, niscaya akan dibalas dengan terburainya jantung kalian dan berdarahnya hari-hari kalian.
Wahai para pengobar peperangan di “Tanah Hitam”* dan tanah kelahiran Khilafah. Wahai para kesatria Daulah serta para pengawal agama dan millah, jangan kalian biarkan setiap unit keamanan, militer, ekonomi, ataupun media pemerintahan Rafidhah, melainkan kalian menjadikannya tinggal kenangan. Jangan kalian biarkan kepala sesepuh kabilah busuk lagi murtad kecuali kalian penggal, jangan biarkan juga ada perkampungan kafir yang wajib diperangi, melainkan kalian meninggalkan bekas untuk dijadikan tanda dan pelajaran bagi yang mau mengambil pelajaran dari setiap orang keji yang teperdaya. Merekalah orang-orang yang rela menjadi pelayan dan budak kaum Rafidhah, serta mata-mata yang senantiasa terjaga menjadi penghalang antara mujahidin dengan musuh mereka.
*Ardh Sawad (Tanah Hitam) adalah nama yang digunakan pada awal zaman Islam (abad ke-7–ke-12) untuk menyebut kawasan di selatan Irak (Edt.)
Sumbatlah nafas para penyeru fitnah dan kesesatan, mereka yang menganjurkan dan berkomitmen untuk mengubah akidah manusia, dari kalangan para imam, khatib, ulama, ustadz, dan guru. Janganlah belas kasihan kepada mereka mencegahmu untuk menjalankan agama Allah, karena mereka adalah orang-orang murtad, zindiq, dan kriminal. Mereka merayu manusia agar menjadi penurut patuh Rafidhah. Tebaslah leher siapa saja yang menyakiti hamba-hamba Allah bertauhid, dari kalangan murtad meski suatu hari pernah bergabung dengan mujahidin. Terimalah taubat siapa pun yang bertaubat sebelum tertangkap, berbuat baiklah kepada siapa saja yang mau membela, menolong, memelihara perjanjian, dan tidak melepaskan jaminan keamanannya dengan kaum muslimin. Jadilah kalian penolong dan penyokong baginya. Berilah dia dari harta Allah yang diberikan kepadamu, dan hormatilah dia.
Dan ketahuilah wahai Ahlus sunnah wal Jamaah di Irak, Syam, dan setiap tempat, tidak ada lagi tempat kembali untuk kalian, setelah Allah, selain bala tentara Khilafah Daulah Islam. Maka lindungilah mereka, belalah mereka, serta jadilah penolong mereka dari kejahatan orang lain.
Kami memperingatkan bahwa pemerintahan Hasyad Rafidhah Irak yang disokong Iran, hendak menyambut apa yang mereka namakan dengan pemilihan umum (pemilu). Maka siapa saja yang berusaha untuk melangsungkannya, dengan sokongan dan bantuan, maka berarti dia termasuk loyali kepadanya dan para penganutnya. Maka status hukumnya sama seperti status para penyeru dan pendukungnya. Para calon anggota legislatif (caleg) adalah para pengklaim Rububiyah dan Uluhiyah. Dan para pencoblos mereka berarti telah menjadikan mereka sebagai rabb-rabb dan sekutu-sekutu selain Allah, maka hukum mereka dalam agama Alloh adalah kafir dan keluar dari Islam (murtad).
Maka sungguh kami mewanti-wanti kalian, wahai Ahlus sunnah di Irak, agar tidak loyal kepada orang-orang yang memasuki pintu kemurtadan. Sesungguhnya, tempat-tempat pencoblosan (TPS) dan siapa saja yang berada di dalamnya, adalah sasaran pedang-pedang kami. Karena itu, menjauhlah darinya dan janganlah berjalan di dekatnya. Barangsiapa di antara kalian yang egois dan condong kepada dunia, enggan membela Daulah Islam dan tempat berlindung Ahlus sunnah, maka hendaklah dia diam di rumahnya, dan uruslah keperluan dirinya sendiri, serta jangan sekali-kali menjadi penolong dan penyokong kaum musyrik Rafidhah beserta antek-anteknya dari kalangan kaum murtad yang mengaku sebagai Ahlus sunnah.
Wahai bala tentara dan anshar Khilafah di setiap tempat!
Ketahuilah bahwa hari ini kita memasuki fase baru dan tikungan tajam di jalan jihad memerangi musuh dengki yang hendak menjajah negeri-negeri kaum muslimin dan ingin mewarisi peninggalan Amerika. Padahal, sebelumnya mujahidin sukses meluluh-lantakkannya dengan berbagai operasi dan aksi mereka selama hampir dua dekade. Dekadensi mulai kembali lagi tanpa menghiraukan apa pun, menyaksikan kegagalan para sekutu yang tak mampu mengekang Rusia dan Negara Majusi Iran. Maka, jadikanlah keduanya sebagai target dalam pentas operasi dan jihad kalian, agar Majusi dan Rusia yang berada di belakangnya merasakan akibat kebengisan despotisme mereka dan bombardir mereka terhadap kawasan-kawasan Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Berpartisipasilah dalam perang ini dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.
Berangkatlah dengan keyakinan terhadap janji dan pertolongan Allah, konsekuen terhadap ketaatan, jaga dan lestarikanlah jamaah. Jauhilah perselisihan, karena itu adalah keburukan yang mendera kalian dan lebih berbahaya dari pedang yang tajam. Tunaikanlah semua kebutuhan kalian secara sembunyi-sembunyi. Curahkanlah segenap potensi secara maksimal dalam mengintai target dan membongkar celah musuh. Waspadailah ‘mata-mata’ yang menempel kita, yaitu segala perangkat komunikasi. Karena semuanya adalah pemandu yang mematikan. Ambillah semua sarana untuk bisa membantai dan menyerang musuh kalian. Tengoklah para Salibis Amerika, mereka mencicipi lezatnya tindakan yang mendatangkan kehancuran mereka, dengan izin Allah, dan sesekali memberanikan diri untuk terjun langsung.
Maka, salah seorang dari kalian jangan melewatkan kesempatan untuk memerangi mereka yang kini telah memasuki arena kalian. Ingatlah setiap waktu dan selalu bahwa ‘kubah’ kemenangan, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim, dibangun kecuali di atas lima perkara, diterangkan Rabb kita di dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 45-46)
Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan mujahidin dengan lima perkara. Tidaklah kelimanya terkumpul dalam suatu kelompok, melainkan ia niscaya akan menang, meskipun berjumlah sedikit sedangkan musuh berjumlah banyak. Pertama, berteguh hati. Kedua, banyak berdzikir kepada Allah ta'ala. Ketiga, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Keempat, persatuan dan tidak berselisih yang mengakibatkan kegagalan dan kelemahan. Karena perselisihan ibarat seorang prajurit, di mana orang-orang berselisih berarti ikut menguatkan musuh mereka. Sementara persatuan tak ubahnya sekat anak panah, tidak akan ada yang mampu mematahkannya. Namun jika seseorang menguraikan ikatannya dan dibiarkan sendiri-sendiri, maka semuanya dapat dipatahkan. Adapun yang kelima adalah sendi, pengikat, dan pokok dari semuanya, yaitu sabar. Inilah lima perkara yang melandasi kubah kemenangan. Kapan saja kelimanya hilang atau sebagiannya hilang, maka kemenangan pun akan sirna, sesuai apa yang hilang. Namun jika kelimanya bersatu, satu sama lainnya saling menguatkan, niscaya berpengaruh besar dalam sebuah kemenangan.
Tatkala semuanya terkumpul pada para sahabat, tidak ada satu bangsa pun yang mampu menghadapi mereka. Maka mereka menaklukkan dunia, semua orang dan negeri tunduk kepada mereka. Tetapi ketika generasi setelah mereka bercerai-berai dan melemah, maka kondisinya berlangsung seperti adanya. Allah-lah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bersandar. Dialah penolong kita dan sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Agung.
Seruan kami terakhir, segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.
Al-Furqan Media
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hassan Al Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya, menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya, mengatur segala perkara dengan perintah-Nya, memperdaya kaum kafir dengan makar-Nya, yang telah menentukan hari-hari itu silih berganti dengan keadilan-Nya, dan menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertakwa dengan karunia-Nya. Shalawat serta salam untuk sosok yang dengan pedangnya Allah meninggikan ‘menara’ Islam. Amma ba’du…
Di medan laga, gaung harapan orang-orang kafir kembali menggema untuk menghabisi Daulah Islam. Para pembawa panji Islam dan penjaga akidah meminta kekuatan dari Sang Pencipta mereka yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Karena segala keputusan ada di tangan-Nya, mereka bersandar dan bertawakal hanya kepada-Nya, dan mereka mengokohkannya dengan janji dan amalan-amalan shalih.
Kekalahan para penyebar kabar dusta, para pengecut, dan orang-orang bathil tidak dapat melemahkan kekuatan mereka. Sungguh, mereka orang-orang superior, dermawan, penuh harga diri lagi mulia. Mereka membaca firman Allah, “Jika kamu tidak berangkat (berperang)…” (At-Taubah: 39), maka mereka segera bangkit. Ketika telinga mereka menyimak seruan “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad)...” (At-Taubah: 40), mereka segera mengorbankan diri dan mengerahkan tenaga, baik dalam keadaan ringan dan berat, baik tua maupun muda.
Mereka tak mau terbelenggu kenyamanan dan kenikmatan (dunia), tidak pula condong kepada harta dunia yang akan lenyap. Mereka melepasakan semua itu demi kebenaran, sehingga mereka berpegang teguh kepada pasak kebenaran. Ia pun tumbuh, ranum, menghasilkan buah sangat manis, dan bertambah besar. Tibalah jihad menghentak muka bumi. Gelanggangnya meluas, hingga kobarannya menghanguskan bangsa-bangsa Salibis, para pemerintahan murtad, dan antek-anteknya. Dalam memerangi musuh-musuh Allah, tekad mereka menguat. Pertempuran dahsyat sejati yang diukir orang-orang sabar lagi meyakini janji Allah kepada mereka. Mereka membaca firman Rabb mereka: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin),” (Ali ‘Imran: 179).
Mereka lalui malapetaka seiring berlalunya hari-hari. Bahwasannya seleksi, penyaringan, segenap cobaan pastilah datang, mau tidak mau. Sebuah sunatullah yang niscaya berlaku, sedangkan engkau tidak akan mendapati pergantian pada sunatullah. Bersamaan dengan setiap peristiwa dan bencana, mereka kembali dan merasa puas dengan ‘mata air’ pertolongan Allah yang tak pernah kering. Relung hati mereka tak sekali pun terkotori keraguan. Kesukaran tak dapat membebani bahu mereka, tidak pula banyaknya musuh.
Mulia seperti gunung kesabaran mereka, puncak gunung serasa bukit kecil bagi mereka
Ketika marah karena Allah keberanian mereka membuatmu gembira, lebih berani dari kawanan singa murka
Jika putuskan hidup dalam perang mereka akan laksanakan, penggerak mereka di negeri bagai mata tombak
Engkau kira mereka hidup makmur dan kaya, singa-singa mendobrak fatamorgana dalam sarangnya
Mereka mencengangkan bangsa-bangsa kafir, meneror mereka, merampas kenyamanan dan keamanan mereka, serta mencerai-beraikannya. Hingga mereka mengharapkan kehidupan tenang, namun mereka tak lagi mendapatkannya. Mereka tak tahu dari pintu mana akan diserang. Selanjutnya, dengan karunia Allah, seorang muwahid-mujahid yang tak berdaya di muka bumi melihat keledai Salibis Eropa-Amerika digilas dan ditikam di jalanan Paris, London, dan Manhattan, mendapatkan ganjaran setara dan sebanding, sebagai balasan setimpal. Sebagaimana mereka membunuh, mereka pun terbunuh. Mereka membombardir, mereka pun akan diluluh-lantakkan, dan mereka akan dikumpulkan dalam neraka Jahanam.
Kami bunuh mereka seperti membunuh gerombolan anjing. Kami takkan biarkan mereka di tengah-tengah manusia berteriak penuh kesombongan. Meski demikian, orang-orang yang teperdaya para pemimpin kekafiran masih belum dapat mengambil pelajaran. Orang-orang dungu senantiasa membujuk dan menipu mereka, sehingga mereka tiada henti terjebak kejahatan mereka, tanpa mempertimbangkan hari-hari yang kelak terjadi akibat tindakan bodoh dan kelaliman mereka terhadap kaum Muslimin, tanpa belas kasihan. Lalu mengapa kita tercengang? Inilah tabiat dan kebiasaan mereka, sebagaimana Allah yang Maha Mengetahui mengabarkan kepada kita, Ketika Dia berfirman dalam Kitab-Nya, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)
Rabb kita yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui menjelaskan kepada kita di dalam Kitab-Nya mengenai hakikat orang-orang kafir para kriminal itu, dan Dia memerintahkan kita untuk membunuh dan memerangi mereka hingga Agama itu seluruhnya milik Allah. Mereka mau memeluk Islam atau tunduk kepada perintah dan hukum Allah dengan penuh kehinaan dan kerendahan, karena itu Allah mewajibkan kita menyucikan bumi ini dari busuknya kesyirikan mereka, dari kejahilan mereka, dari kekonyolan mereka, serta dari kesewenang-wenangan dan tirani mereka di muka bumi.
Rabb kita subhanahu wa ta'ala menitahkan kita memerangi kaum musyrik seluruhnya, sebagaimana mereka memerangi kita seluruhnya. Tiada perbedaan antara perang kita melawan Si Thaghut murtad Salman dan putra idiotnya itu dengan perang kita melawan As-Sisi dan pasukannya. Tidak ada perbedaan antara perang kita melawan Si Rafidhah Shafawi (Ali) Khamenei dengan perang kita melawan Si Sekularis Abbas dan Hamas. Tidak ada bedanya perang kita melawan mereka dengan perang kita melawan para majikan mereka dari kalangan Salibis Amerika, Rusia, maupun Eropa. Hanya saja, anak-cucu keturunan Ya’qub (bangsa Arab) lebih besar permusuhan dan kebenciannya terhadap Islam, namun lebih rendah tingkatannya di neraka. Rabb kita berfirman, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)
Dia berfirman, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Allah memperingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maa`idah: 51)
Memerangi orang-orang kafir lagi musyrik adalah agama yang kita yakini guna beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya subhanahu wa ta'ala agar Dia meridhai kita. Dia berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Allah berfirman mengingatkan dan memotivasi para hamba-Nya tentang betapa agungnya orang yang berjihad di jalan-Nya untuk memerangi musuh-musuhNya, “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Sesungguhnya berperang di jalan Allah adalah perniagaan menguntungkan, yang mana Dia mengarahkan para hamba-Nya kepadanya. Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Ash-Shaff: 10-11)
Allah menjadikan pahala dan balasan besar nan agung yang terangkan di dalam firmannya, “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff: 12-13)
Ibnul Qayyim berkata di dalam Madarij As-Salikin, “Sesungguhnya ibadah jihad merupakan jenis ibadah yang paling dicintai-Nya ta'ala. Sekiranya seluruh manusia beriman, niscaya akan terlantarlah ibadah ini dan hal-hal yang menyertainya berupa loyalitas karena-Nya ta'ala, permusuhan, cinta dan benci karena-Nya serta mencurahkan jiwa untuk-Nya dalam memerangi musuh-Nya.” Sampai ucapannya: “Di antaranya adalah ibadah menyelisihi musuh-Nya, serta membencinya karena Allah, dan membuat musuh-Nya jengkel karena Allah, adalah termasuk jenis peribadatan yang paling dicintai-Nya. Karena sesungguhnya Allah mencintai wali-Nya yang membuat jengkel dan membuat murka musuh-Nya, juga berbuat buruk kepadanya. Dan inilah ubudiyah yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang cerdas.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Di dalam Ash-Shahih, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka berkata ‘Laa ilaaha illallah’. Jika mereka telah mengatakannya, shalat dengan sholat kita, menghadap kiblat kita, dan menyembelih sembelihan kita, maka sungguh haram atas kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisabnya urusan Allah.”
Ketika ditanya tentang makna “La ilaha Illallah”, Imam Dakwah Nejed rahimahullah menjawab, “Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kalimat ini adalah demarkasi (pemisah) antara kekafiran dan Islam. Ia adalah kalimat ketakwaan, ia juga adalah tali iman terkuat, ia kalimat yang dijadikan Nabi Ibrahim alaihis salam sebagai “…kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu),” (Az-Zukhruf: 28). Bukanlah yang dimaksud itu sekadar mengucapkannya dengan lisan namun tidak memahami maknanya. Karena sesungguhnya kaum munafik pun mengucapkannya namun mereka justru berada di bawah orang-orang kafir di kerak neraka, padahal mereka melaksanakan shalat, berpuasa, dan bersedekah. Namun yang dimaksud adalah mengetahuinya sepenuh hati, mencintainya dan mencintai pengusungnya, membenci dan memusuhi orang yang menyelisihinya, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengatakan La ilaaha Illah dengan ikhlas,” dalam sebuah riwayat: “Secara jujur dari hatinya,” dalam sebuah lafazh: “Siapa yang mengatakan Laa ilaaha Illallah dan mengingkari semua yang sesembahan selain Allah,” dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan kebodohan mayoritas manusia akan syahadat ini.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Beliau juga berkata terkait tafsir firman Allah ta'ala: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang taat kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (An-Nahl: 120)
Adapun firman-Nya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam”, agar pejalan di jalan (tauhid) tidak merasa kesepian karena sedikitnya yang berjalan. “Yang taat kepada Allah”, bukan taat kepada para raja, tidak pula kepada para pedagang makmur. “Hanif”, tidak condong ke kanan dan ke kiri seperti para ulama yang terkena fitnah (kerancuan/penyimpangan). “Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” menyelisihi golongan mayoritas dan mengira menjadi bagian dari kaum muslimin.
Tiada Ilah selain Allah, betapa banyaknya orang-orang yang mundur dan menjauh dari kalimat “ikhlas” (baca: tauhid). Mereka melakoni ‘lawannya’ (syirik), dari kalangan yang menisbatkan diri kepada umat ini. Mereka menghancurkan rukun-rukunnya, mengklaim menolongnya, loyal kepada musuh-musuh kalimat ini, memerangi para pengusung dan pengawalnya. Dan sesungguhnya keadaan umat Islam tidaklah lurus dan takkan pernah lurus kecuali dengan ‘Kitab’ yang memberi petunjuk dan ‘pedang’ yang menolong, serta menghidupkan sunnah (Abu Bakar) Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dalam menghadapi orang murtad yang menjauhkan diri dari hukum dan syariat Allah.
Dia segera menyerang ‘kemah’ orang-orang kafir yang loyal kepada para thaghut, kaum musyrik, dan orang-orang atheis, meskipun dia shalat, puasa, dan tawaf di Rumah Suci (Ka’bah). Dalam peristiwa tersebut, nampak jelaslah pemeliharaan dan penjagaaan Allah untuk agama ini, dan tidak ada yang mampu melakoni peperangan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi orang murtad dari bangsa Arab, kecuali para pemilik tekad lurus dan terbimbing ilham lagi diberi taufik dari kalangan para ksatria. Dengan sebab itulah, Allah menghancurkan setiap musuh agama, menyatukan umat, dan mengembalikan mereka kepada agama, setelah kebanyakan mereka murtad dari agamanya dan mayoritas mereka mundur ke belakang dalam keadaan kafir.
Saat itu, Abu Bakar radhiyallahu anhu berdiri bak gunung menjulang di hadapan angin kencang dan fitnah (kekacauan) pekat, sampai dia berkata, “Demi Allah! Aku akan membunuh siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah! Sekiranya mereka menahan dariku seekor anak domba yang daulu mereka tunaikan kepada Rasulullah, sungguh aku akan memeranginya karena menahannya (zakat).” Ketika itu, para sahabat radhiyallahu anhum berkata kepadanya, “Bagaimana bisa engkau memerangi manusia, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah,’ Umar radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, bersikap lembutlah kepada manusia dan berbuat baiklah kepada mereka.” Maka Abu Bakar menjawab, “Engkau begitu berani pada masa jahiliyah, namun pengecut setelah masuk Islam, sungguh wahyu telah terputus, agama telah sempurna, apakah agama ini akan digerogoti sedangkan aku masih hidup?!”
Sampai Al-Faruq berkata, “Demi Allah iman Abu Bakar telah mengungguli iman seluruh umat ini dalam urusan memerangi kaum murtad.” Abu Bakar bin Ayyasy menyatakan, “Aku mendengar Abu Hushain berkata, ‘Tiada seorang pun yang dilahirkan setelah para Nabi yang lebih baik daripada Abu Bakar radhiyallahu anhu. Sungguh dia berada di posisi salah seorang nabi dari dalam memerangi kaum murtad.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan jika kaum Salaf menyebut para penolak zakat sebagai kaum murtad, padahal mereka berpuasa dan shalat, tidak pula memerangi jamaah kaum muslimin, lalu bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dengan memerangi kaum muslimin?”
Bahkan kami katakan pada saat ini, maka bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, dari kalangan para thaghut pengganti syariat Allah dan hukum-Nya, menjadi pelayan hina lagi loyalis pembantu para Salibis dan para atheis? Ditambah lagi dia menghembuskan amarah dan kegeraman kepada jamaah kaum muslimin, mengharapkan lenyapnya hukum dan syariat Allah, berbangga dengan hal itu, serta secara terang-terangan dan menyambutnya, sebagaimana terjadi di Mosul, Sirte, Raqqah, dan lainnya.
Dan di antara keanehan zaman adalah kedunguan orang yang menganggap nikmatnya dusta dan kebohongan, gembira dengan bencana yang menimpa Daulah Khilafah, serta menyusutnya kekuasan Daulah dari muka bumi yang telah ditegakkan syariat Allah. Di saat seorang muslim tidak menjumpai di muka bumi ini sebuah Darul Islam yang dapat dia tuju, selain wilayah yang berada di bawah kekuasaan Khilafah, kendati betapa dahsyat dan bengisnya kampanye Salibis.
Meski demikian, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Khurasan, Sinai, Libya, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah lainnya tiada henti mengorbankan jiwa mereka dengan murah dalam rangka meninggikan kalimat kebenaran dan agama Islam. Pada saat ini, mereka adalah para pejuang agama Islam, dan merekalah manusia paling layak disebut “Thaifah Manshurah” (kelompok yang dimenangkan) yang disebutkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabda: “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, selalu menang hingga Hari Kiamat.”
Wahai putra-putra Islam dan para pengusung tauhid di seluruh tempat,
Kalianlah para pionir Khilafah. Perbanyaklah kuantitasnya dan bergabunglah dengan kafilahnya. Sesungguhnya kita berada di ambang penaklukan yang semakin dekat dan kemenangan mulia, dengan izin Allah. Maka janganlah terlewatkan ganjaran menjadi pelopor dan kebaikan yang paripurna.
Sejatinya perang kami melawan para pengusung kekafiran dan kemurtadan adalah takdir yang niscaya dan sebuah kewajiban. Tidak boleh seorang pun yang mengimani Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Nabinya, menunda diri atau menjauhkan diri darinya, demi menghalau serangan mereka dan perampasan mereka terhadap negeri-negeri kaum muslimin. Sejak sangat lama, kaum muslimin tak ubahnya kambing kehujanan di malam deras guyuran hujan, sebab musuh menghegemoni mereka yang kehilangan kekuatan.
Engkau tidak melihat kebanyakan orang yang menisbatkan diri kepada Islam kecuali mengekor hawa nafsu, menyimpang jauh dari millah (agama), dalam kemurtadan dan perbudakan bengis dari anak-cucu kera dan babi. Sepanjang sejarah, kaum muslimin belum pernah didera musibah seperti ini. Mulai dari dari perang akidah, metodologi, ekonomi, militer, maupun media. Dan umat pun belum pernah diuji dengan kaum yang menisbatkan diri kepada ilmu (ulama) seperti sekarang ini. Bahkan, para pengklaim ilmu itu kini telah berubah menjadi ‘pisau belati’ yang digunakan untuk memerangi siapa saja yang hendak menegakkan hukum dan syariat Allah di muka bumi.
Maka sungguh mengherankan orang yang membaca Kitab Rabbnya, namun hidup dalam kubangan kehinaan dan kenistaan; kehendaknya dirampas, didikte keyakinannya dan apa yang mesti dijauhi dari agamanya. Dia hidup dalam celah kelemahan dan jauh sekali dari pemahaman realita, yang tidak diketahui dan dipahami kecuali oleh orang yang mau bangkit dari kehinaan dan mendaki puncak agama, puncak tertinggi lalu melihat dengan ucapan perbuatan nyata, bukan ucapan omong kosong, bualan, dan keadaan orang-orang tertinggal dan terlantar. Semua itu bukanlah jalan untuk menyelamatkan umat Islam dari bencana dahsyat dan keburukan merajalela. Sesungguhnya hidayah Allah segera menghampiri siapa saja yang berjihad di jalan-Nya dan janji-Nya untuk mereka maha benar. Dia subhanahu wa ta'ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)
Ibnul Qayyim berkata, “Dan ketahuilah bahwa pendirian seorang hamba dalam Islam tidak akan kokoh sampai dia mengikat hatinya bahwa agama seluruhnya milik Allah, bahwa petunjuk adalah petunjuk Allah, bahwa kebenaran berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada yang ditaati dan diikuti selain beliau. Ucapan manusia selain beliau haruslah ditimbang berdasarkan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam, jika sesuai maka kita terima, bukan karena dia yang mengatakannya, namun karena dia mengabarkannya dari Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Namun jika bertentangan, maka kita tolak. Perkataan beliau shallallahu alaihi wasallam tidak ditimbang dengan pendapat-pendapat ahli logika, tidak pula dengan akal para filsuf dan ahli kalam, tidak pula dengan perasaan orang-orang yang sok zuhud (sufi). Akan tetapi semua pemikiran mereka wajib ditimbang dengan risalah beliau, semisal menimbang uang dirham yang tak dikenal kepada para pakar penimbang. Apa yang dihukumi beliau benar, maka diterima. Dan apa yang ditolak beliau, maka ia tertolak.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Wahai orang yang meniti manhaj Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau kalangan terpilih!
Wahai orang yang enggan selain berjalan di atas jalur Salaf (pendahulu) pelaku kebajikan umat ini!
Wahai orang yang berdoa di malam hari, namun didera kesusahan di siang hari!
Wahai orang yang memasrahkan wajahnya kepada Allah, mengira lambatnya kelapangan dan sirnanya bencana, setelah meyakini bahwa tiada solusi, jalan keluar, dan sarana kebahagiaan dan keselamatan umat dari dasar kesengsaraan, yang diridhai Rabb kita selain jihad di jalan Allah, pembunuhan, dan peperangan. Sehingga seorang muslim kembali merdeka lagi mulia, bukan menjadi budak pengekor lagi nista. Sehingga Islam mendominasi bumi dan seluruh makhluk tunduk kepada Allah Rabb Semesta Alam.
Ketahuilah, seseorang takkan sampai kepada ketenangan dan kenikmatan selain melalui ‘jembatan’ kepayahan dan penderitaan.
Wahai Akhi Mujahid, hal demikian memperlihatkanmu bahwa segenap musibah dan penderitaan berujung puncak kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.
Betapa tidak, hari ini engkau berada di tempat mulia lagi luhur yang dimiliki orang pada zaman ini, memperjuangkan millah Ibrahim dan sunnah sebaik-baik rasul –shalawat serta salam untuk mereka– dalam rangka mematuhi Allah, mengharapkan janji-Nya, dan menunaikan perintah-Nya. Berhati-hatilah dari muslihat tipu daya. Berhati-hatilah, karena sesungguhnya seorang hamba shalih terkadang teperdaya dan terkadang terkena angan-angan, sehingga dia terjerumus ke dalam jebakan serta jerat tipu daya dan makar. Sesugguhnya perkara tersebut sungguh gamblang, dan dia akan binasa. Rabbmu menjanjikan siapa saja yang beriman kepada-Nya, membenarkan para rasul-Nya, berhijrah, menderita di jalan-Nya, dan berperang, sampai dia terbunuh sembari mengharapkan pahala.
Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Para sahabat –semoga Allah meridhai mereka– adalah generasi terbaik dan paling murni, serta manusia paling mengetahui Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak pernah mundur dari memerangi orang-orang kafir musyrik bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa beliau. Mereka juga tak pernah mundur dari memerangi orang-orang murtad selepas wafatnya beliau. Dalam hal itu, mereka mengukir peristiwa paling luhur dan mulia, sehingga mereka pun meninggikan ‘menara’ Islam, setelah hampir roboh dan berlubang.
Dalam salah satu gambaran pengorbanan demi agama ini, serta keteguhan tekad “orang-orang pertama yang masuk Islam”, diriwayatkan Anas radhiyallahu anhu, dia menceritakan, “Pamanku, Anas bin An-Nadhr, absen dalam Perang Badar. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak ikut saat pertama kali engkau berperang memerangi orang-orang musyrik. Seandainya Allah memperkenankan aku dapat berperang memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah dapat melihat apa yang akan aku lakukan. Pada Perang Uhud, dan dari barisan kaum muslimin ada yang melarikan diri dari medan tempur, Anas berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni para sahabat Nabi, dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni orang-orang musyrik.” Maka dia maju, lalu Sa’ad bin Mu’adz menjumpainya. Dia berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, aku menginginkan surga. Demi Rabbnya An-Nadhar, sungguh aku mencium wangi surga dari balik Bukit Uhud ini.”
Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup menggambarkan apa yang dialaminya.” Anas berkata, “Kemudian kami mendapati dia dengan luka tidak kurang dari 80 sabetan pedang atau tikaman tombak atau tembakan panah. Dan kami menemukannya telah terbunuh, dan kaum musyrik telah mencabik-cabik jasadnya. Sehingga tidak ada satu pun yang mengenalinya selain saudara perempuannya yang mengenali jarinya.” Anas berkata, “Kami melihat atau kami mengira bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dirinya dan orang yang serupa dirinya; ‘Dan di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang membuktikan janji mereka kepada Allah,’ hingga akhir ayat.”
Diriwayatkan juga dari Anas bin Malik, Rasulullah berangkat bersama para sahabat beliau menuju Badar hingga mendahului orang-orang musyrik. Kemudian kaum musyrik tiba, maka Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian bertindak sebelum ada perintah dariku.” Ketika kaum musyrik semakin dekat, maka Rasulullah bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Tiba-tiba ‘Umair bin Al-Hammam berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Beliau menjawab, “Ya.” Umair berkata, “Bakh...bakh (bagus..bagus)!” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa yang mendorongmu mengatakan, ‘Bakh...bakh’?” Umair menjawab, “Tidak, demi Allah, aku berharap aku menjadi penghuninya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.” Kemudian dia mengeluarkan beberapa butir kurma dari sakunya, dan memakannya sebagian. Kemudian dia berkata, “Seandainya aku masih hidup sampai aku menghabiskan kurma-kurma ini, sesungguhnya itu kehidupan yang lama.” Dia pun membuang kurma yang tersisa, lalu memerangi mereka hingga terbunuh.
Bahkan, para penghapal Al-Qur'an dari kalangan para sahabat mulia –semoga Allah meridhai mereka– adalah orang-orang yang bersegera berlomba menerobos menerjuni kematian. Ya, wahai pencari ilmu, dalam perang melawan kemurtadan, Umar Al-Faruq dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma khawatir banyak ayat Al-Qur'an akan hilang disebabkan banyaknya penghapal Al-Qur'an yang terbunuh. Sampai-sampai Umar Al-Faruq berkata kepada Khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Korban perang telah meluas pada Perang Yamamah hingga merenggut para penghapal Al-Qur'an. Maka aku khawatir dengan terbunuhnya para penghapal Al-Qur'an di banyak tempat, mengakibat sebagian besar ayat Al-Qur'an akan hilang. Aku berpendapat sebaiknya engkau memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur'an.” Hal itu merupakan sebab kodifikasi (penghimpunan) dan melestarikan Al-Qur'an secara tertulis dalam lembaran-lembaran. Betapa luhurnya posisi seorang pengemban ilmu dan Al-Qur'an pada hari ketika buah manis ilmunya mendorongnya menjadi sosok pemberani, bukan menjadi penakut dan kebingungan. Inilah Zaid bin Al-Khattab hyang membawa panji kaum muslimin pada Perang Yamamah guna memerangi orang-orang murtad. Dia berkata sembari berteriak penuh keyakinan bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik, lebih kekal, dan kesudahan baik adalah milik ketakwaan:
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon uzur kepada-Mu dari kaburnya sahabat-sahabatku dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa Musailimah.” Dia pun lantas merangsek maju membawa panji membantai musuh, kemudian berperang sampai terbunuh. Selanjutnya Salim sahaya Abu Hudzaifah membawa panji, dan tatkala kaum muslimin lari tunggang-langgang pada Perang Yamamah, Salim yang termasuk penghapal Al-Qur'an berkata, “Bukan seperti itu yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Dia pun menggali lubang untuk dirinya, lalu berdiri di dalamnya sembari membawa panji Muhajirin pada hari itu. Dia pun berperang hingga terbunuh, semoga Allah merahmatinya.
Merekalah generasi mulia, siapa menapaktilasi penuh tekad dia berusaha dan menggelanggang
Melihat mereka bergolak, sang penyeru berteriak: murahkan jiwa dalam laga sambil melenggang
Mungkin lembaran kertas menahbiskanmu sebagai alim, namun tindakan dan ucapanmu centang-perenang
Melalui pedang, nyali, dan akidah suci agama ‘kan berkilau dan kaum cerdik pandai pun gemilang
Hendaknya siapa saja yang memerangi Daulah Khilafah menyadari bahwa Khilafah bergerak merealisasikan ancamannya kepada para musuhnya. Berkat karunia Allah, pedang kami tak pernah tumpul. Peperangan dahsyat baru saja dimulai. Tidaklah para putra Islam menceburkan diri ke dalam deru lautan dalam lagi menghempas, melainkan mereka yakin akan kepastian lapangnya dunia dan akhirat. Seseorang yang menerobos deburan ini takkan pernah merugi. Sejatinya ia adalah salah satu dari dua kebaikan, satu dari dua kemuliaan; kemenangan atau kesyahidan. Kehidupan mulia, bukan kehidupan nista. Kehidupan pejuang, bukan kehidupan terbelenggu dan mengemis.
Seorang pemerhati hari ini, berkat anugerah Allah serta keteguhan putra-putra Khilafah dan para pembelanya, dia akan menyaksikan konstelasi “Poros Tunggal” tempat di mana Amerika menjalaninya. Ia hidup dalam kondisi terjaga, berharap dirinya dapat memberangus Daulah Islam. Ia lupa atau pura-pura lupa bagaimana keadaannya di tengah para musuh dan bangsa-bangsa kompetitornya, lalu pada hakikatnya siapakah yang ‘memenangkan’ dan mendapat kehilangan dominansi dan kepioniran? Angin politik tidaklah berjalan sesuai dengan harapan dan cita-citanya.
Hari ini Amerika kebingungan, linglung, berjalan tergelincir, dan semua tujuannya berserakan. Kemauanmu kini telah menyusut, dan sekarang engkau merayu semua musuhmu yang binasa. Engkau kini menyesuaikan diri dengan kehendak mereka, rela dengan win-win solution, dan tak berdaya melakoni benturan langsung dengan mereka. Peristiwa yang engkau jalani dalam menggandeng kekuasaan Shafawi di kawasan belum lagi beranjak, dan ini menjadi sebaik-baik bukti. Penderitaanmu hari ini akibat melemahnya perekonomian yang membuatmu miskin itu, telah membuatmu kehilangan arah politik yang engkau klaim sebagai sebuah kecerdasan bersama para sekutu. Kini engkau tidak malu lagi untuk memperlihatkan tindakanmu memeras rekan-rekan terdahulumu dan sekarang di hadapan dunia. Bahkan engkau menggadaikan keberadaanmu di Syam dengan sokongan mereka yang tidak sesuai aturan, atau mereka harus menyelesaikan semua masalah mereka sendiri. Ataukah engkau mengira bahwa bombardirmu terhadap rezim kriminal Nushairiyah pembunuh Ahlus sunnah, akan membuat Rusia tunduk atau bisa sedikit mengubah perimbangan, atau bahkan melupakan kejahatan-kejahatanmu terhadap Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Peristiwa Ghouta dan Douma tiada lain hanyalah salah satu episode dari kisah yang belum selesai babaknya.
Bencana yang mendera Ahlus sunnah, dan ‘keberanianmu’ melakukan hal itu, tiada lain hanyalah setitik abu di mata, akalmu memandang remeh hal itu, dan engkau merekayasa konflik khayalan demi menjaga secuil kepentinganmu bersama para thaghut kaum murtad Ahlus sunnah di kawasan. Engkaulah yang menyerahkan kawasan-kawasan Ahlus sunnah kepada negara Majusi Iran. Betapa tidak, armada-armada laut dan udaramu mengawal seluruh mobilisasi Rafidhah Shafawi di Irak, serta memudahkan mereka merampas berbagai negeri Ahlus sunnah. Bahkan, Hizbullata Rafidhah kini telah menjadi ‘lengan’ Iran yang melontarkan pujian atas tindakannya dan perbuatan yang dilakukan ‘kedua tangannya’ terhadap Ahlus sunnah di Syam. Semua kelompok dan milisi Rafidhah di Irak pun kini menduduki berbagai posisi penting, kemudian mereka dipuji kerena membantai dan merampas kawasan-kawasan penduduk Ahlus sunnah yang kini berupaya menyembuhkan luka dan menghapus airmata, semenjak engkau mempersilakan masuk para penjajah. Engkau bergembira dengan kesengsaraan mereka, diperbudaknya mereka, peperangan terhadap akidah mereka, serta perampokan sumber daya alam mereka. Maka kemenangan macam apa yang mereka bicarakan, dan kemenangan seperti apa yang diperbincangkan Amerika?!
Berkat karunia Allah, mujahidin berada dalam superioritas, keunggulan, kekuatan, dan keperkasaan mumpuni, berpandangan jauh, persatuan barisan, dan keadaannya lebih baik dari keadaan dirimu yang kalah lagi nista saat hengkang dari Irak bertahun-tahun silam. Hanya beberapa tahun saja, sampai Allah menaklukkan untuk mujahidin para hamba-Nya berbagai kota dan daerah pinggiran, serta menganugerahi mereka dari karunia-Nya. Dengan demikian, kemenangan macam apa yang engkau bicarakan, sedangkan engkau hari ini keluar-masuk dari satu negeri ke negeri lainnya, engkau mengemis kasih sayang sejumlah negara dan merayu negara-negara lainnya, setelah musuh bebuyutanmu meraih dominansi, yaitu negara Salibis Rusia yang masih belum mendapatkan ucapan selamat atas kemenangan semunya di Negeri Pertempuran Dahsyat. Dengan frustrasi dan ucapan selamat palsu, Rusia muncul via media melalui sebuah citra penyelamat bagi para sekutunya, terutama Nushairiyah, di Syam setelah menggunakan politik “membumihanguskan negeri”, mempertunjukkan kekuatan ekstrem di berbagai kota Ahlus sunnah. Pemandangan ini tidaklah menyenangkan Amerika, dan citra yang ingin disampaikan Keledai Rusia kepada dunia adalah: “Sekarang aku kembali mendominasi.”
Ya, orang-orang licik telah mengalahkanmu. Alih-alih menambal rumah berlubang, justru pena diambil guna melakukan penandatanganan di hadapan dunia bahwa Al-Quds adalah ibukota negara Yahudi. Hal itu dilakukan untuk merusak sambutan kemenangan musuhnya, yaitu Rusia, dan memalingkan pandangan dunia darinya. Engkau membuat marah ‘buih’ dari kalangan orang-orang yang meyakini bahwa engkau memiliki kebaikan dan keburukan. Hari ini engkau tergsa-gesa melakoni sesuatu yang takkan bisa engkau capai. Hentikanlah dan kembalilah ke seberang lautan, karena engkau takkan mampu menggapai mujahidin dan negeri-negeri kaum muslimin. Ambillah pelajaran dari orang-orang sebelumnya, karena orang berakal takkan mencoba mengulang hal yang pernah dicoba. Sesungguhnya janji Allah untuk memberikan kekuasaan kepada mujahidin para hamba-Nya yang bertakwa sungguh sangat dekat.
Kemudian, apakah pengakuanmu akan bermanfaat sedikit pun di hadapan keputusan Allah, meskipun engkau melancarkan serangan, serta datang dengan segenap kapal perang, pesawat, pakar, serta penasihat militer ke negeri “Tempat Isra” dan kiblat pertama guna melindungi Yahudi. Sesungguhnya, mereka dan bala tentara Islam terikat janji yang takkan mereka selisihi. Ia adalah sebuah janji, demi Rabb Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka bersabarlah wahai keluarga kami di negeri “Tempat Isra” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bersabarlah, demi Allah, kami takkan melupakan kalian.
Sesungguhnya saudara-saudara kalian di Daulah Khilafah, tidaklah memerangi bangsa-bangsa kafir melainkan mereka merasakan kepedihan hati dan duka cita menyayangkan tidak bisa berhadapan dengan Yahudi, karena sibuk menolak serangan musuh mereka dan hendak melenyapkan batas-batas negara hina yang mengekang umat Islam. Ketegaran dan keteguhan bala tentara Khilafah di Sinai, serta operasi mereka menghalau satu persatu kampanye militer, merupakan petunjuk nyata dan bukti kesungguhan. Sejatinya, konfrontasi dengan mereka sudah dekat.
Kemenangan seperti apa yang dibicarakan Amerika, di saat para putra kaum muslimin dari segenap penjuru tiada hentinya berturut-berturut bergabung membaiat dan membela Khilafah. Mereka berharap menjadi satu batu bata berkualitas dalam mengokohkan istananya dan meninggikan bangunannya. Bahkan, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Sinai, Khurasan, Libya, Afrika Barat, Somalia, Filipina, dan Tunisia, mereka senantiasa menimpakan bencana kepada antek-antek dan bala tentaramu. Mereka selalu terikat dalam jihad yang dicintai dan diridhai Allah, serta takkan berhenti sampai turunnya Nabi Isa putra Maryam alaihis salam sebagai hakim adil. Sesungguhnya mimpi buruk yang kalian reguk di setiap babak mengerikannya, takkan pernah bisa dihentikan oleh satu mimpi semu atau operasi udara besar walau sejenak. Dengan izin Allah, yang akan datang akan lebih dahsyat dan lebih pahit.
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga lebih dari 70 negara berhimpun memerangimu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga berbagai konferensi dan koalisi dibentuk guna membahasmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai keledai Amerika, Rusia, Eropa, Barat, dan Timur datang memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai engkau dibombardir dengan “induk” segala bom (mother of all bombs) dan bom fosfor, dan dari atas kepalamu dimuntahkan berbagai hal yang dianggap jahat dan tabu oleh mereka?!
Siapakah engkau, sampai-sampai umat ‘buih’ bersembunyi untuk tidak membelamu, dan bahkan mereka berdiri bersama musuh untuk memerangimu?! Namun engkau tetap berlalu dan tidak memalingkan wajahmu agar tetap setia membela agamamu.
Siapakah engkau, sehingga media-media keji hiruk pikuk, saat engkau merobohkan tumpukan batu yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Mereka harap-harap cemas lagi murung dan diam membisu, menyaksikan negeri-negeri Ahlus sunnah dihancurkan dan diruntuhkan di hadapan para penduduknya, serta tak terhitung banyaknya nyawa melayang dan banyak kehormatan dirusak, dengan dalih memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga engkau didiskreditkan; terkadang disebut antek, terkadang dilabeli Khawarij, terkadang dicap kafir, dan terkadang distempeli atheis?!
Para Bal’am murtad sampai kebingungan dalam melabelimu, mencelamu, dan menstigmakanmu. Namun seiring semua hal itu, engkau tetap menceburkan dirimu ke dalam lautan kematian demi mempertahankan umat dan agamamu.
Siapakah engkau yang mana ganjaran dan pahalamu ada di sisi Allah?!
Ingatlah kembali siapa engkau, agar engkau menyadari anugerah Allah untukmu. Syukurilah nikmat ini dengan cara teguh di atas agama-Nya, memerangi seluruh musuh-Nya, karena sejatinya engkau di atas kebenaran. Ya Allah, berilah kemudahan kepada bala tentara Khilafah untuk menjalani hijrah mereka, dan janganlah engkau membuat mereka mundur.
Sejak dideklarasikan dan dalam perkembangannya, sesungguhnya Daulah Khilafah memberi kabar gembira kepada umat dengan jihad, pertempuran, dan peperangan di jalan Allah. Ia tidak menjanjikan dan memberi harapan dengan dunia sedikit pun kepada umat. Maka ia pun menegakkan agama, menghidupkan al-walaa wal baraa`, terbebas dari sesaknya kelompok dan tanzhim (organisasi) menuju kelapangan Khilafah. Ia mengembalikan jamaah muslimin kepada wibawa dan kemuliaannya di kalangan manusia. Jikalau tidak demikian, para thaghut di belahan timur dan barat niscaya takkan mengeroyoknya, dan seluruh bangsa takkan memeranginya. Para mujahid jujur membaiat Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Qurasyi Al-Husaini Al-Baghdadi –semoga Allah menjaganya– sebagai Khalifah kaum muslimin. Dengan bendera tersebut, benturan dengan pengusung kekafiran mengarah ke bentuk lain dan membedakannya dengan segenap jihad yang sebelumnya pernah ada pada zaman kita. Hal itu merupakan taufik dari Allah untuk pengusung jihad di Irak dan Syam.
Maka seorang imam tak ubahnya perisai, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “...seseorang berperang mengikutinya dan berlindung dengan (kekuasaan)nya.” Dengan hal itu, terputuslah elemen keburukan yang terejawantah dalam perpecahan hasil perbuatan para pengadu domba, pembuat makar dan pengkhianatan, untuk menggiring para putra Islam ke berbagai kelompok, golongan, dan jamaah yang bercerai-berai. Dengan deklarasi Khilafah, berkat karunia Allah, pulihlah hubungan ukhuwah keimanan dan terwujudlah makna “satu tubuh” dalam umat ini di antara putra-putra Islam di berbagai penjuru. Engkau melihat seorang muwahid melakoni betapa sulitnya berangkat dan berhijrah ke Darul Islam. Dulunya dia tinggal di tengah-tengah kaum musyrik dari Yahudi, Salibis, dan kaum murtad, kemudian dia berperang berdasarkan basirah dari perintah-Nya demi membela agama-Nya, setelah nampak jelas di hadapannya tujuan dari peperangan yang dapat membunuhnya. Sehingga pedang kami di segenap penjuru barat dan timur menjadi perisai berbagai negeri dan kelompok. Hari-hari yang kami lalui sudah masyhur di kalangan musuh-musuh kami, hari-hari tersebut sarat marabahaya dan sangat dikenal.
Wahai bala tentara tauhid di Daulah Islam,
Khilafah adalah kebanggaan kaum muslimin dan kebencian bagi kaum kafir. Maka panjatkanlah pujian kepada Allah, karena Dia telah memuliakan kalian dengan mengangkat panjinya, membela, dan mempertahankannya. Kita memandang bahwa orang yang masih hidup dan yang telah mendahului, mereka adalah orang-orang terbaik. Melajulah menuju penaklukan baru dan kemenangan agung. Sesungguhnya satu generasi yang ditempa di atas tauhid, menjalani al-walaa wal-baraa` dalam kehidupan nyata lagi praktis, mencicipi kemuliaan jihad, dan nikmatnya pengorbanan di jalan Allah, adalah umat yang diharapkan, setelah Allah ta'ala, untuk membangkitkan Islam di masa ini. Kalian pada hari ini menyaksikan berbagai pertempuran dahsyat di bumi Irak, Syam, dan negeri-negeri lainnya. Maka perlihatkan diri kalian sebaik-baiknya kepada Allah. Sebuah negeri takkan terjaga dan penduduknya takkan mulia kecuali dengan tombak dan peledak. Melalui daya dan kekuatan Allah, putra-putra Islam terikat janji dan waktu yang ditentukan lagi disegerakan dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Rafidhah Shafawi dan para antek mereka dari kaum murtad yang secara dusta dan palsu berafiliasi kepada Ahlus sunnah. Peperangan belumlah berakhir.
Atas karunia Allah, singa-singa Khilafah takkan berhenti berjalan sesuai keinginan mereka. Mereka merancang, dan mereka adalah para pengatur peperangan, para instruktur tempur, serta para penakluk dan pengguncang bangsa-bangsa kafir. Maka janganlah seseorang berpikir rendah lagi pengecut, karena ada ‘tangan’ yang terulur kepada mujahidin dan menjaga kehormatan mereka. Seseorang akan menikmati ‘uluran’ tersebut.
Demi Dzat yang menggerakkan awan, membangun tujuh langit kokoh, dan mencerai-beraikan pasukan kafir saat penaklukan di setiap tempat. Tangan dan kaki mereka niscaya akan terputus, nyawa di dalam jasad mereka akan melayang, dan bangkai mereka akan tersungkur di pusara. Maka kami takkan merasa lemah dan pengecut.
Kami adalah anak-cucu (Abu Bakar) Ash-Shiddiq dan (Khalid) Ibnul Walid. Kami akan menghidupkan sunnahnya untuk siapa pun yang murtad dan memusuhi umat Islam, dari kalangan kaum pandir dan rakyat jembel. Dengar dan simak baik-baik, wahai kaum Rafidhah Irak dan Majusi Iran. Kami bersumpah dan bersumpah, tempat yang luas benar-benar akan menjadi sempit oleh bangkai busuk kalian. Sungai Dijlah dan Eufrat benar-benar akan tercemar busuknya mayat kalian. Dan setiap muslimat suci lagi terhormat yang digiring menuju kematian, niscaya akan dibalas dengan terburainya jantung kalian dan berdarahnya hari-hari kalian.
Wahai para pengobar peperangan di “Tanah Hitam”* dan tanah kelahiran Khilafah. Wahai para kesatria Daulah serta para pengawal agama dan millah, jangan kalian biarkan setiap unit keamanan, militer, ekonomi, ataupun media pemerintahan Rafidhah, melainkan kalian menjadikannya tinggal kenangan. Jangan kalian biarkan kepala sesepuh kabilah busuk lagi murtad kecuali kalian penggal, jangan biarkan juga ada perkampungan kafir yang wajib diperangi, melainkan kalian meninggalkan bekas untuk dijadikan tanda dan pelajaran bagi yang mau mengambil pelajaran dari setiap orang keji yang teperdaya. Merekalah orang-orang yang rela menjadi pelayan dan budak kaum Rafidhah, serta mata-mata yang senantiasa terjaga menjadi penghalang antara mujahidin dengan musuh mereka.
*Ardh Sawad (Tanah Hitam) adalah nama yang digunakan pada awal zaman Islam (abad ke-7–ke-12) untuk menyebut kawasan di selatan Irak (Edt.)
Sumbatlah nafas para penyeru fitnah dan kesesatan, mereka yang menganjurkan dan berkomitmen untuk mengubah akidah manusia, dari kalangan para imam, khatib, ulama, ustadz, dan guru. Janganlah belas kasihan kepada mereka mencegahmu untuk menjalankan agama Allah, karena mereka adalah orang-orang murtad, zindiq, dan kriminal. Mereka merayu manusia agar menjadi penurut patuh Rafidhah. Tebaslah leher siapa saja yang menyakiti hamba-hamba Allah bertauhid, dari kalangan murtad meski suatu hari pernah bergabung dengan mujahidin. Terimalah taubat siapa pun yang bertaubat sebelum tertangkap, berbuat baiklah kepada siapa saja yang mau membela, menolong, memelihara perjanjian, dan tidak melepaskan jaminan keamanannya dengan kaum muslimin. Jadilah kalian penolong dan penyokong baginya. Berilah dia dari harta Allah yang diberikan kepadamu, dan hormatilah dia.
Dan ketahuilah wahai Ahlus sunnah wal Jamaah di Irak, Syam, dan setiap tempat, tidak ada lagi tempat kembali untuk kalian, setelah Allah, selain bala tentara Khilafah Daulah Islam. Maka lindungilah mereka, belalah mereka, serta jadilah penolong mereka dari kejahatan orang lain.
Kami memperingatkan bahwa pemerintahan Hasyad Rafidhah Irak yang disokong Iran, hendak menyambut apa yang mereka namakan dengan pemilihan umum (pemilu). Maka siapa saja yang berusaha untuk melangsungkannya, dengan sokongan dan bantuan, maka berarti dia termasuk loyali kepadanya dan para penganutnya. Maka status hukumnya sama seperti status para penyeru dan pendukungnya. Para calon anggota legislatif (caleg) adalah para pengklaim Rububiyah dan Uluhiyah. Dan para pencoblos mereka berarti telah menjadikan mereka sebagai rabb-rabb dan sekutu-sekutu selain Allah, maka hukum mereka dalam agama Alloh adalah kafir dan keluar dari Islam (murtad).
Maka sungguh kami mewanti-wanti kalian, wahai Ahlus sunnah di Irak, agar tidak loyal kepada orang-orang yang memasuki pintu kemurtadan. Sesungguhnya, tempat-tempat pencoblosan (TPS) dan siapa saja yang berada di dalamnya, adalah sasaran pedang-pedang kami. Karena itu, menjauhlah darinya dan janganlah berjalan di dekatnya. Barangsiapa di antara kalian yang egois dan condong kepada dunia, enggan membela Daulah Islam dan tempat berlindung Ahlus sunnah, maka hendaklah dia diam di rumahnya, dan uruslah keperluan dirinya sendiri, serta jangan sekali-kali menjadi penolong dan penyokong kaum musyrik Rafidhah beserta antek-anteknya dari kalangan kaum murtad yang mengaku sebagai Ahlus sunnah.
Wahai bala tentara dan anshar Khilafah di setiap tempat!
Ketahuilah bahwa hari ini kita memasuki fase baru dan tikungan tajam di jalan jihad memerangi musuh dengki yang hendak menjajah negeri-negeri kaum muslimin dan ingin mewarisi peninggalan Amerika. Padahal, sebelumnya mujahidin sukses meluluh-lantakkannya dengan berbagai operasi dan aksi mereka selama hampir dua dekade. Dekadensi mulai kembali lagi tanpa menghiraukan apa pun, menyaksikan kegagalan para sekutu yang tak mampu mengekang Rusia dan Negara Majusi Iran. Maka, jadikanlah keduanya sebagai target dalam pentas operasi dan jihad kalian, agar Majusi dan Rusia yang berada di belakangnya merasakan akibat kebengisan despotisme mereka dan bombardir mereka terhadap kawasan-kawasan Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Berpartisipasilah dalam perang ini dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.
Berangkatlah dengan keyakinan terhadap janji dan pertolongan Allah, konsekuen terhadap ketaatan, jaga dan lestarikanlah jamaah. Jauhilah perselisihan, karena itu adalah keburukan yang mendera kalian dan lebih berbahaya dari pedang yang tajam. Tunaikanlah semua kebutuhan kalian secara sembunyi-sembunyi. Curahkanlah segenap potensi secara maksimal dalam mengintai target dan membongkar celah musuh. Waspadailah ‘mata-mata’ yang menempel kita, yaitu segala perangkat komunikasi. Karena semuanya adalah pemandu yang mematikan. Ambillah semua sarana untuk bisa membantai dan menyerang musuh kalian. Tengoklah para Salibis Amerika, mereka mencicipi lezatnya tindakan yang mendatangkan kehancuran mereka, dengan izin Allah, dan sesekali memberanikan diri untuk terjun langsung.
Maka, salah seorang dari kalian jangan melewatkan kesempatan untuk memerangi mereka yang kini telah memasuki arena kalian. Ingatlah setiap waktu dan selalu bahwa ‘kubah’ kemenangan, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim, dibangun kecuali di atas lima perkara, diterangkan Rabb kita di dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 45-46)
Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan mujahidin dengan lima perkara. Tidaklah kelimanya terkumpul dalam suatu kelompok, melainkan ia niscaya akan menang, meskipun berjumlah sedikit sedangkan musuh berjumlah banyak. Pertama, berteguh hati. Kedua, banyak berdzikir kepada Allah ta'ala. Ketiga, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Keempat, persatuan dan tidak berselisih yang mengakibatkan kegagalan dan kelemahan. Karena perselisihan ibarat seorang prajurit, di mana orang-orang berselisih berarti ikut menguatkan musuh mereka. Sementara persatuan tak ubahnya sekat anak panah, tidak akan ada yang mampu mematahkannya. Namun jika seseorang menguraikan ikatannya dan dibiarkan sendiri-sendiri, maka semuanya dapat dipatahkan. Adapun yang kelima adalah sendi, pengikat, dan pokok dari semuanya, yaitu sabar. Inilah lima perkara yang melandasi kubah kemenangan. Kapan saja kelimanya hilang atau sebagiannya hilang, maka kemenangan pun akan sirna, sesuai apa yang hilang. Namun jika kelimanya bersatu, satu sama lainnya saling menguatkan, niscaya berpengaruh besar dalam sebuah kemenangan.
Tatkala semuanya terkumpul pada para sahabat, tidak ada satu bangsa pun yang mampu menghadapi mereka. Maka mereka menaklukkan dunia, semua orang dan negeri tunduk kepada mereka. Tetapi ketika generasi setelah mereka bercerai-berai dan melemah, maka kondisinya berlangsung seperti adanya. Allah-lah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bersandar. Dialah penolong kita dan sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Agung.
Seruan kami terakhir, segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.
Al-Furqan Media
DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB
DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hasan Al-Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang beriman itu melihat pasukan Ahzab (golongan-golongan yang bersekutu), mereka berkata, ‘inilah yang Allah janjikan kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)
Dan aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah telah mengutus beliau dengan pedang menjelang akhir zaman, sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya, serta pelita yang menerangi. Melalui beliaulah, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan yang lurus, membela millah hanifiyah (agama lurus), dan berjihad di jalan Allah sehingga agama pun tegak melalui beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah deras kepada beliau, amma ba’du:
Sesungguhnya, di antara sunnah-sunnah Allah yang takkan berubah dan berganti adalah cobaan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, sebagaimana dikabarkan Allah ‘azza wa jalla melalui firman-Nya:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 2-3)
Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman:
ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ
“Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur dijalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amalan mereka.” (Muhammad: 4)
Maka orang beriman sudah semestinya memposisikan dirinya untuk (menghadapi) ujian. Disebutkan di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya subhanahu wa ta’ala:
“Ketahuilah bahwasannya Rabbku memerintahkanku untuk mengajari apa yang kalian tidak ketahui dari apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hariku ini, semua harta yang Aku berikan kepada hambaku adalah halal, dan Aku telah menciptakan hambaku itu dalam keadaan lurus semuanya, namun sesungguhnya setan-setan itu mendatangi mereka, sehingga setan mengalihkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka, (setan) menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku yang Aku tidak pernah menurunkan keterangan pun tentangnya. Dan sesungguhnya Allah b melihat penduduk bumi maka Dia sangat membencinya, baik mereka bangsa Arab maupun merka ‘Ajam (non-Arab), kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab, maka Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku hanyalah mengutusmu untuk mengujimu, dan Aku menguji (manusia) denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang air tidak dapat mencucinya, yang engkau baca baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.’ Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar Quraisy, maka aku berkata, ‘Wahai Rabbku jadi mereka akan memecahkan kepalaku dan meninggalkannya seperti roti.’ Dia berfirman, ‘Usirlah mereka seperti mereka telah mengusirmu, perangilah mereka seperti mereka mereka telah memerangimu, berinfaklah maka engkau akan diberi, utuslah satu pasukan maka Aku akan mengutus lima kali lipatnya, berperanglah bersama orang yang taat kepadamu melawan orang yang mendurhakaimu.”
Beragam cobaan yang tengah dilalui Daulah Islam pada hari ini, berupa berhimpunnya berbagai agama kekafiran dan bersekutunya golongan-golongan berkoalisi melawannya, tidak lain adalah bukti akan kebenaran janji itu. Maka kami tidaklah mengatakan kecuali seperti perkataan para pendahulu kami yang shalih dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala mereka melihat golongan-golongan yang bersekutu itu: “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.
Dan Allah telah menurunkan ayat di dalam Surat Al-Baqarah:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)
Allah jalla fi ‘ula menjelaskan seraya mengingkari orang yang mengira sebaliknya, bahwasannya mereka itu tidak akan masuk surga kecuali setelah mereka diuji seperti umat-umat sebelum mereka, dengan ‘malapetaka’ yaitu (minimnya) kebutuhan dan kemiskinan, dengan ‘kesengsaraan’ yaitu derita dan penyakit, dan dengan ‘keguncangan’ yaitu guncangan musuh.
Maka tatkala datang golongan-golongan yang bersekutu pada Perang Khandaq, kemudian mereka melihatnya, mereka berkata, “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan mereka menyadari bahwa Allah telah menguji mereka dengan guncangan, dan telah datang kepada mereka (cobaan) seperti yang (dialami) orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan hal demikian itu tidaklah menambah kepada mereka selain keimanan dan ketundukan terhadap hukum Allah dan perintah-Nya.
Dan inilah kondisi kaum muslimin yang jujur pada hari ini, sebagaimana juga kondisi kaum muslimin yang jujur di setiap masa, dan sesungguhnya fitnah (huru-hara) yang diujikan kepada kaum muslimin di Daulah Khilafah melawan orang-orang kafir perusak yang menyerang syariat Islam ini, sungguh pernah berlaku juga semisalnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengannya Allah menguji Nabi-Nya dan kaum mukmin, dan dalam peristiwa-peristiwa itu Allah ‘azza wa jalla menurunkan sejumlah surat yang gamblang dan ayat-ayat yang terang. Lalu kitab-kitab sunah sangat melimpah dengan pembahasan mengenainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang keduanya merupakan dakwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berlaku bagi segenap makhluk. Dan berbagai janji Allah di dalam kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya akan diberlakukan untuk generasi akhir umat ini, sebagaimana telah berlaku untuk generasi awalnya. Sesungguhnya, Allah mengisahkan kepada kita berbagai kisah kaum dari umat-umat sebelum kita untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kita, sehingga kita bisa menyandingkan keadaan kita dengan keadaan mereka, dan menimbang umatumat generasi belakangan dengan generasi-generasi awalnya. Agar kaum mukmin dari generasi mutakhir memiliki persamaan dengan kaum beriman terdahulu.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Di Perang Badar, Allah menceritakan keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia berhadapan dengan musuh-musuh mereka. Allah berfirman,
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
“Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orangorang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Ali Imran: 13)
Allah juga mengisahkan kepada kita terkait pengepungan mereka terhadap Bani Nadhir, Dia berfirman,
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut kedalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan-tangan orang-orang Mukmin. Maka amblillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)
Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari hal ihwal orang yang mendahului kita dari umat ini, dan dari umat-umat sebelumnya. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya, bahwa ketetapan-Nya terkait suatu umat adalah suatu keniscayaan dan terus berlanjut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung tidak pula penolong. Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)
Maka setiap mujahid di Daulah Islam sepatutnya mempelajari sunnatullah dan segenap peristiwanya terkait para hamba-Nya, terlebih lagi di saat agresi semakin sengit terhadap Darul Islam dan negeri Khilafah. Kemunafikan mulai menampakkan jati dirinya dan kekafiran telah memperlihatkan taringnya. Orang-orang munafik dan orang-orang berpenyakit hati mengira bahwa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu adalah tipu-daya belaka, serta mengira bahwa golongan Allah dan Rasul-Nya tidak akan kembali bertemu keluarganya selama-lamanya. Dan hal itu dipandang baik di dalam hati mereka, dan mereka berprasangka yang buruk, sedangkan mereka adalah kaum yang binasa.
Sejatinya sudut pandang dari berbagai peristiwa agung ini adalah sebagaimana kaum beriman diuji bersama Rasulullah pada Perang Ahzab, dan Allah menurunkan satu surat yang mengandung hikayat peperangan ini yang mana Allah menolong golongan tepercaya-Nya, menolong bala tentara-Nya, dan menghancurkan sendiri semua musuh-Nya tanpa melalui peperangan, bahkan hanya dengan keteguhan kaum mukmin dalam menghadapi musuh mereka. Pun demikian keadaan hari ini di Raqqah, Mosul, dan Tal Afar, sangat persis menyerupai kondisi masa-masa itu.
Pada hari ini, manusia telah terbagi sebagaimana terbaginya mereka pada masa Perang Khandaq. Pada perang Ahzab, kaum muslimin dikeroyok oleh seluruh kaum musyrik yang mengepung. Dengan pasukan besar, mereka mendatangi Madinah untuk membasmi kaum muslimin. Bangsa Quraisy dan para sekutu mereka berhimpun, mulai dari kabilah Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Dan berhimpun pula kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Sebelumnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengusir Bani Nadhir, sebagaimana dikisahkan Allah dalam Surat Al-Hasyr.
Dalam Perang Ahzab, mereka bergabung dengan Bani Quraizhah, padahal mereka telah menekan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hidup berdampingan dengan beliau dekat Madinah. Mereka tetap dalam kondisi demikian, sampai akhirnya Bani Quraizhah melanggar perjanjian dan bergabung ke dalam golongan-golongan bersekutu Pasukan Ahzab).
Pasukan Ahzab yang besar ini berhimpun, jumlah dan persenjataan mereka mengungguli kaum muslimin berlipat-lipat ganda. Rasulullah pun mengungsikan para wanita dan anak-anak kecil ke perbukitan Madinah. Kemudian memposisikan mereka membelakangi Gunung Sila’ dan membuat parit antara beliau dan musuh. Sedangkan musuh yang mengepung mereka dari atas dan bawah adalah musuh dengan permusuhan yang sangat keras. Seandainya mereka berhasil mengalahkan kaum beriman, niscaya akan menyiksa dengan siksaan yang luar biasa.
Pada peristiwa-peristiwa hari ini, seluruh musuh dari kalangan Salibis, Atheis, Syiah Rafidhah, dan kelompok-kelompok murtadin lainnya, mereka datang disertai pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal perang mereka, serta seluruh kekuatan yang mereka miliki, untuk menyerang dan menjajah negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mengepung negeri-negeri kaum muslimin dari segala penjuru, sebagaimana Allah Rabb firmankan mengenai Perang Ahzab,
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا
هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا
“Yaitu ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan berbagai purbasangka. Di situlah orang-orang mukmin diuji dan diguncang hatinya dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang penafsiran ayat ini, “Allah ‘azza wa jalla berfirman mengabarkan keadaan tersebut, ketika golongan-golongan yang bersekutu itu tiba di sekitaran Madinah, sedangkan kaum Muslimin terkepung dalam keadaan sangat sulit dan sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka; di saat mereka diuji, diberikan cobaan, dan diguncang dengan guncangan sangat hebat, maka saat itulah muncul sifat kemunafikan, lalu orang-orang berpenyakit hati mulai melontarkan isi hati mereka. Adapun orang munafik, kemunafikannya menyeruak. Dan orang yang hatinya menyimpang, maka pendiriannya melemah, dia merasakan kebimbangan di dalam jiwanya; disebabkan kelemahan imannya, dan penderitaan yang menimpanya berupa kesulitan.” Selesai ucapannya rahimahullah.
Hari ini, manusia berhamburan mengikuti keyakinan masing-masing. Orang-orang yang lemah lagi bingung akan berburuk sangka. Kelompok ini menyangka bahwa tidak ada seorang mujahid pun yang akan mampu menghadapi pasukan koalisi, dan para pemeluk Islam akan binasa. Kelompok ini menyangka bahwa seandainya mereka melawan niscaya musuh-musuh itu akan melumat mereka dengan sekali hentakan, dan akan membelenggu mereka tak ubahnya gelang melilit pergelangan tangan. Kelompok ini juga menyangka bahwa bumi Iraq, Syam, dan negeri-negeri Islam lainnya tidak lagi menjadi tempat berlindung kaum muslimin, dan tak lagi berada di bawah kekuasaan Daulah Islam. Jiwanya membisikinya untuk kabur ke darul kufur. Kelompok ini mengira bahwa apa yang diinformasikan para ulama hadits Nabi Muhammad dan para pakar periwayatan berupa kabar-kabar gembira, tiada lain hanyalah angan-angan dusta dan dongeng yang sia-sia. Kemudian Allah menyebutkan perkataan kalangan munafikin yang berada dalam barisan pasukan kaum muslim di Perang Ahzab,
وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ
“Dan ingatlah ketika segolongan diantara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’” (Al-Ahzab: 13)
Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangun kamp bersama kaum muslimin di Gunung Sila’, dan membuat parit antara beliau dengan musuh. Segolongan dari mereka lantas berkata, “Tidak ada tempat bagimu di sini, karena begitu banyaknya musuh, maka kembalilah ke Madinah.” Dan dikatakan juga: “Tidak ada tempat bagi kalian di atas agama Muhammad, maka kembalilah kepada agama kesyirikan.” Dan dikatakan pula: “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, maka kembalilah meminta jaminan keamanan dan perlindungan kepada mereka.” Kemudian Allah azza wa jalla menyebutkan kondisi kaum munafikin dalam perang itu dan ucapan mereka, di lebih dari satu tempat, terkadang mereka berkata, “Kalianlah yang telah menyuruh kami untuk tinggal di tempat ini dan menetap di tsughur (front) ini sampai sekarang. Jika sekiranya kami pergi sebelum ini, maka musibah ini tidak akan menimpa kami.” Terkadang mereka mengatakan, “Dengan jumlah pasukan yang sedikit dan kelemahan kalian, maka kalian hendak mengalahkan musuh, sungguh kalian telah tertipu oleh agama kalian.”
Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman,
إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَٰؤُلَاءِ دِينُهُمْ ۗ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya.’ (Allah berfirman), ‘Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa, Maha bijaksana.’” (Al-Anfal: 49)
Terkadang mereka berkata, “Kalian sudah gila, kalian tidak punya akal. Kalian hendak membinasakan diri kalian dan membinasakan manusia bersama kalian.” Kadang mereka juga mengatakan berbagai macam ucapan yang sangat menyakitkan. Lalu setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang yang teguh dari kalangan kaum mukminin dalam surat Al-Ahzab, Dia memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk meneladani dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di peristiwa-peristiwa seperti ini.
Allah berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat danyang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang diuji dengan musuh seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diuji, maka diri beliau menjadi teladan yang baik bagi mereka, yang mana mereka tertimpa seperti apa yang menimpa beliau. Maka hendaklah mereka itu mencontoh beliau dalam hal ketawakkalan dan kesabaran, serta janganlah menyangka bahwa hal ini merupakan siksaan bagi dirinya, penistaan untuknya. Karena jika begitu, maka Rasulullah yang notabene makhluk terbaik, tidak akan diuji dengan cobaan. Bahkan dengan cobaan, derajat-derajat tinggi akan diraih, dan dengannya pula Allah menghapus kesalahankesalahan bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.
Imam Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Ayat mulia ini menjadi fondasi sangat agung dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, baik dalam ucapan, perbuatan, dan peristiwa-peristiwa yang dialami beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Perang Ahzab dalam hal kesabaran, saling berwasiat dalam kesabaran, keteguhan dalam ribath, kesungguhan dan kesabaran beliau menanti jalan keluar dari Rabb beliau jalla fi ‘ula, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada orang-orang yang gundah, terguncang, dan gelisah akan kondisinya pada Perang Ahzab, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,” yaitu mengapa kalian tidak meneladani beliau dan mencontoh sifat-sifat beliau? Oleh sebab itu, Dia berfirman, “(Yaitu) bagi mereka yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Sungguh Allah menghalau Pasukan Ahzab dengan mengirim angin topan dan mencerai-beraikan hati mereka sehingga meluluh-lantakkan persatuan mereka, dan mereka tidak memperoleh kebaikan sedikit pun, sebagaimana terdapat di dalam firman-Nya:
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا
“Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, kerena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apapun. Cukuplah Allah yang menolong dan menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (Al-Ahzab: 25)
Maka kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menghalau Pasukan Koalisi dari Daulah Khilafah sebagaimana Dia telah menghalaunya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia –semoga Allah meridhai mereka–.
Duhai Rabb Penjaga Baitullah limpahkan ampunan-Mu dan pertaubatan
Dengan keagunganmu ilhamkan kepada kami kebenaran
Dengan karunia-Mu pakaikanlah kami mahkota kemenangan
Dan kenakan siksa kepada kumpulan kekafiran
Demikianlah sayap setiap orang menunjukkan penghormatan
Dan demi kemuliaan-Mu leher-leher kami patahkan
Wahai tentara Khilafah.
Telaah dan pelajarilah berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarmu. Renungkan kemudian lihatlah. Demi Allah, semua itu tidak lain hanyalah kematian yang satu dan kebinasaan yang satu. Maka jadilah orang yang mulia dengan agamamu dan berpegang teguhlah dengan keimananmu, mudah-mudahan engkau menghadap Tuhanmu yang meridhaimu, sedang engkau tetap maju dan pantang mundur.
Wahai tentara Khilafah.
Hindarilah dan jauhilah forum-forum fitnah. Ikutilah wasiat Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku, berarti dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amir, berarti telah menaati ku, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, berarti dia telah bermaksiat kepadaku.”
Dalam kesempatan ini, tak lupa kami mengingatkan para ikhwah mujahidin dan umat Islam secara umum agar memanfaatkan sisa waktu di bulan mulia ini, yang mana Allah berfirman tentangnya,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia sekaligus penjelasan dari petunjuk dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)
Sesungguhnya, di antara nikmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba-Nya yang beriman adalah diantarkannya mereka ke musim kebaikan ini, demi menyucikan jiwa mereka dan membersihkan kotoran yang melekat agar kembali jernih dan murni. Sehingga mereka bersegera menjalankan amalan-amalan shalih dan memanfaatkan hari-hari yang tersisa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang Bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan para setan dibelenggu.”
Maka selamat bagi yang sukses mendapatkannya, berarti sungguh dia telah menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan dan mengikuti millah (agama) Ibrahim yang hanif (lurus). Selamat bagi yang mengamalkan seluruh syariat islam. Selamat bagi yang tetap teguh di atas kebenaran dan “mengambil” Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Selamat bagi yang menyambut seruan Allah, beriman kepada para rasul-Nya, berjihad melawan para musuh-Nya, dan membenarkan janji-Nya.
Wahai bala tentara Khilafah para penggenggam bara api yang bersabar lagi teguh di atas janji, yang menyadari bahwa dunia ini hanyalah negeri cobaan dan ujian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
“Dan Kami benar-benar akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian dan orang-orang yang sabar di antara kalian, serta akan Kami uji perihal kalian.” (Muhammad: 31)
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sejatinya kalian saat ini adalah katibah (batalion) dan para pelopor Islam dalam melawan koalisi-koalisi kekafiran. Dengan keteguhan, determinasi, dan kesabaran kalian, terdapat kemuliaan bagi Islam, kemenangan bagi kaum muslimin dan Daulah mereka, maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian.
Wahai singa-singa Mosul, Raqqah dan, Tal ‘Afar...
Wahai simbol kemuliaan dan kebanggaan, serta penyulut kemarahan orang-orang kafir.
Semoga Allah memberkahi lengan-lengan kokoh dan wajah-wajah bercahaya. Seranglah orang-orang Rafidhah dan murtadin serta gempurlah mereka dengan kehebatan satu orang laki-laki. Tidak akan terhina orang yang kembali kepada Sang Pencipta dan Sang Tuannya, dan tidak akan mulia orang yang berlindung kepada selain-Nya. Kalian berperang di jalan Allah memerangi orang yang kafir kepada Allah, dan kalian mempertaruhkan nyawa demi mendekatkan diri kepada Allah, demikianlah kami menilai kalian dan Allah-lah penilai kalian. Perbaruilah niatan, perbaikilah amal, dan bersabarlah atas pedihnya luka dan tikaman, bersabarlah dan sulut kemarahan para wali setan. Dan bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah sebaik-baik bekal dalam peperangan dan seutama-utama muslihat, agar kalian beruntung. Sungguh, kemenangan itu adalah kesabaran sesaat, kemudian kemenangan akan berpihak kepada kalian dengan izin Allah.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Dijlah, Al-Badiyah, Shalahuddin, Diyala, Karkuk, Utara dan Selatan Baghdad...
Wahai bala tentara Islam di Fallujah, Anbar, dan Al-Furat...
Waspadalah, jangan sampai kalian melewatkan malam-malam bulan yang utama ini, melainkan kalian telah membuat orang-orang Rafidhah dan murtadin mencicipi berbagai macam pembunuhan dan malapetaka. Dan inilah mereka, pada hari ini telah memasuki halaman rumah kalian. Tak ada gunanya hidup jika diinjak-injak oleh anak-cucu kaum Majusi, di tengah negeri-negeri yang telah kalian atur dengan syariat Allah. Maka aturlah perangkap-perangkap, pasanglah ranjau-ranjau, dan pecahkanlah kepala dengan tembakan senapan-senapan sniper (penembak jitu), binasakan perkumpulan mereka dengan berbagai peledak.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Halab (Aleppo), Al-Khair, Al-Barakah, Hims, Hama, dan Damaskus...
Wahai anak-cucu Khalid dan Abu Ubaidah...
Wahai para pahlawan Islam dan singa-singa pemberani...
Seranglah orang-orang Nushairi, orang-orang Kurdi Atheis, dan para Shahawat murtad di Syam. Terkamlah mereka tak ubahnya singa yang mengamuk. Sergaplah mereka dari setiap pintu, Jangan kalian lewatkan keberuntungan kalian di bulan ini. Temuilah Rabb kalian dalam keadaan tunduk, patuh, dan bertaubat. Kejar dan carilah kesyahidan.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali ‘Imran: 133)
Wahai bala tentara Islam di wilayah Sinai, Mesir, Khurasan, Yaman, Afrika Barat, Somalia, Libya, Tunisia, Aljazair, dan di semua tempat....
Lantaskan jihad kalian, bertahanlah di front-front dan pos-pos ribath kalian. Jangan kalian menunda menyerang musuh-musuh Allah meskipun hanya sesaat di siang hari, berupayalah berjihad menegakkan syariat dan hukum Allah di muka bumi. Karena tujuan jihad kita adalah supaya agama ini semuanya menjadi milik Allah, dan semua belahan bumi di atur dengan hukum Allah.
Wahai putra-putra Khilafah di Asia Timur...
Kami mengucapkan selamat kepada kalian atas takluknya kota Marawi, Ingatlah selalu Allah dalam keteguhan. Syukurilah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian. Mintalah pertolongan Allah untuk menghadapi musuh kalian, niscaya Dia akan mencukupi kalian, Dialah penolong kalian, Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Kepada para mujahid pemberani yang bertempur melawan musuh...
Wahai bala tentara Khilafah putra-putra Ahlussunnah di bumi Persia...
Semoga Allah memberkahi aksi kalian terhadap musuh-musuh millah dan agama. Kalian melegakan dada dan membuat kaum muslimin bergembira, kalian telah menimpakan orang-orang musyrik dengan sesuatu yang selama ini mereka takutkan. Maka lantaskanlah serangan-serangan kalian. Sungguh, benteng negara Majusi lebih lemah dari pada rumah (sarang) laba-laba.
Kepada saudara-saudara seaqidah dan seiman, di Eropa, Amerika, Rusia, Australia, dan yang lainnya...
Saudara-saudara kalian telah menunaikan udzur (mengangkat dosa) di negeri kalian, menerkamlah mengikuti jejak mereka, tirulah aksi mereka, dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah kilatan pedang.
Wahai saudara-saudara kami yang menjadi tawanan di mana saja...
Demi Allah, tidak pernah sehari pun kami melupakan kalian. Kami tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian memiliki hak atas kami. Maka bersabarlah dan teguhlah. Jangan kalian berkata kecuali kebaikan. Karena besarnya pahala seiring dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Dia akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan. Perbanyaklah berdoa di bulan penuh berkah ini, agar Dzat Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui memberikan kebebasan dan jalan keluar kepada kalian. Berdoalah agar Allah menganugerahkan kemenangan, keteguhan, dan tamkin kepada para ikhwah mujahidin kalian. Dengan izin Allah, kami tidak pernah menghemat-hemat usaha keras untuk membebaskan kalian.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkan kaki kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.
Dan akhir seruan kami; segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hasan Al-Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang beriman itu melihat pasukan Ahzab (golongan-golongan yang bersekutu), mereka berkata, ‘inilah yang Allah janjikan kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)
Dan aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah telah mengutus beliau dengan pedang menjelang akhir zaman, sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya, serta pelita yang menerangi. Melalui beliaulah, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan yang lurus, membela millah hanifiyah (agama lurus), dan berjihad di jalan Allah sehingga agama pun tegak melalui beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah deras kepada beliau, amma ba’du:
Sesungguhnya, di antara sunnah-sunnah Allah yang takkan berubah dan berganti adalah cobaan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, sebagaimana dikabarkan Allah ‘azza wa jalla melalui firman-Nya:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 2-3)
Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman:
ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ
“Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur dijalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amalan mereka.” (Muhammad: 4)
Maka orang beriman sudah semestinya memposisikan dirinya untuk (menghadapi) ujian. Disebutkan di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya subhanahu wa ta’ala:
“Ketahuilah bahwasannya Rabbku memerintahkanku untuk mengajari apa yang kalian tidak ketahui dari apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hariku ini, semua harta yang Aku berikan kepada hambaku adalah halal, dan Aku telah menciptakan hambaku itu dalam keadaan lurus semuanya, namun sesungguhnya setan-setan itu mendatangi mereka, sehingga setan mengalihkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka, (setan) menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku yang Aku tidak pernah menurunkan keterangan pun tentangnya. Dan sesungguhnya Allah b melihat penduduk bumi maka Dia sangat membencinya, baik mereka bangsa Arab maupun merka ‘Ajam (non-Arab), kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab, maka Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku hanyalah mengutusmu untuk mengujimu, dan Aku menguji (manusia) denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang air tidak dapat mencucinya, yang engkau baca baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.’ Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar Quraisy, maka aku berkata, ‘Wahai Rabbku jadi mereka akan memecahkan kepalaku dan meninggalkannya seperti roti.’ Dia berfirman, ‘Usirlah mereka seperti mereka telah mengusirmu, perangilah mereka seperti mereka mereka telah memerangimu, berinfaklah maka engkau akan diberi, utuslah satu pasukan maka Aku akan mengutus lima kali lipatnya, berperanglah bersama orang yang taat kepadamu melawan orang yang mendurhakaimu.”
Beragam cobaan yang tengah dilalui Daulah Islam pada hari ini, berupa berhimpunnya berbagai agama kekafiran dan bersekutunya golongan-golongan berkoalisi melawannya, tidak lain adalah bukti akan kebenaran janji itu. Maka kami tidaklah mengatakan kecuali seperti perkataan para pendahulu kami yang shalih dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala mereka melihat golongan-golongan yang bersekutu itu: “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.
Dan Allah telah menurunkan ayat di dalam Surat Al-Baqarah:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)
Allah jalla fi ‘ula menjelaskan seraya mengingkari orang yang mengira sebaliknya, bahwasannya mereka itu tidak akan masuk surga kecuali setelah mereka diuji seperti umat-umat sebelum mereka, dengan ‘malapetaka’ yaitu (minimnya) kebutuhan dan kemiskinan, dengan ‘kesengsaraan’ yaitu derita dan penyakit, dan dengan ‘keguncangan’ yaitu guncangan musuh.
Maka tatkala datang golongan-golongan yang bersekutu pada Perang Khandaq, kemudian mereka melihatnya, mereka berkata, “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan mereka menyadari bahwa Allah telah menguji mereka dengan guncangan, dan telah datang kepada mereka (cobaan) seperti yang (dialami) orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan hal demikian itu tidaklah menambah kepada mereka selain keimanan dan ketundukan terhadap hukum Allah dan perintah-Nya.
Dan inilah kondisi kaum muslimin yang jujur pada hari ini, sebagaimana juga kondisi kaum muslimin yang jujur di setiap masa, dan sesungguhnya fitnah (huru-hara) yang diujikan kepada kaum muslimin di Daulah Khilafah melawan orang-orang kafir perusak yang menyerang syariat Islam ini, sungguh pernah berlaku juga semisalnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengannya Allah menguji Nabi-Nya dan kaum mukmin, dan dalam peristiwa-peristiwa itu Allah ‘azza wa jalla menurunkan sejumlah surat yang gamblang dan ayat-ayat yang terang. Lalu kitab-kitab sunah sangat melimpah dengan pembahasan mengenainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang keduanya merupakan dakwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berlaku bagi segenap makhluk. Dan berbagai janji Allah di dalam kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya akan diberlakukan untuk generasi akhir umat ini, sebagaimana telah berlaku untuk generasi awalnya. Sesungguhnya, Allah mengisahkan kepada kita berbagai kisah kaum dari umat-umat sebelum kita untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kita, sehingga kita bisa menyandingkan keadaan kita dengan keadaan mereka, dan menimbang umatumat generasi belakangan dengan generasi-generasi awalnya. Agar kaum mukmin dari generasi mutakhir memiliki persamaan dengan kaum beriman terdahulu.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Di Perang Badar, Allah menceritakan keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia berhadapan dengan musuh-musuh mereka. Allah berfirman,
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
“Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orangorang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Ali Imran: 13)
Allah juga mengisahkan kepada kita terkait pengepungan mereka terhadap Bani Nadhir, Dia berfirman,
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut kedalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan-tangan orang-orang Mukmin. Maka amblillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)
Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari hal ihwal orang yang mendahului kita dari umat ini, dan dari umat-umat sebelumnya. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya, bahwa ketetapan-Nya terkait suatu umat adalah suatu keniscayaan dan terus berlanjut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung tidak pula penolong. Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)
Maka setiap mujahid di Daulah Islam sepatutnya mempelajari sunnatullah dan segenap peristiwanya terkait para hamba-Nya, terlebih lagi di saat agresi semakin sengit terhadap Darul Islam dan negeri Khilafah. Kemunafikan mulai menampakkan jati dirinya dan kekafiran telah memperlihatkan taringnya. Orang-orang munafik dan orang-orang berpenyakit hati mengira bahwa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu adalah tipu-daya belaka, serta mengira bahwa golongan Allah dan Rasul-Nya tidak akan kembali bertemu keluarganya selama-lamanya. Dan hal itu dipandang baik di dalam hati mereka, dan mereka berprasangka yang buruk, sedangkan mereka adalah kaum yang binasa.
Sejatinya sudut pandang dari berbagai peristiwa agung ini adalah sebagaimana kaum beriman diuji bersama Rasulullah pada Perang Ahzab, dan Allah menurunkan satu surat yang mengandung hikayat peperangan ini yang mana Allah menolong golongan tepercaya-Nya, menolong bala tentara-Nya, dan menghancurkan sendiri semua musuh-Nya tanpa melalui peperangan, bahkan hanya dengan keteguhan kaum mukmin dalam menghadapi musuh mereka. Pun demikian keadaan hari ini di Raqqah, Mosul, dan Tal Afar, sangat persis menyerupai kondisi masa-masa itu.
Pada hari ini, manusia telah terbagi sebagaimana terbaginya mereka pada masa Perang Khandaq. Pada perang Ahzab, kaum muslimin dikeroyok oleh seluruh kaum musyrik yang mengepung. Dengan pasukan besar, mereka mendatangi Madinah untuk membasmi kaum muslimin. Bangsa Quraisy dan para sekutu mereka berhimpun, mulai dari kabilah Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Dan berhimpun pula kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Sebelumnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengusir Bani Nadhir, sebagaimana dikisahkan Allah dalam Surat Al-Hasyr.
Dalam Perang Ahzab, mereka bergabung dengan Bani Quraizhah, padahal mereka telah menekan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hidup berdampingan dengan beliau dekat Madinah. Mereka tetap dalam kondisi demikian, sampai akhirnya Bani Quraizhah melanggar perjanjian dan bergabung ke dalam golongan-golongan bersekutu Pasukan Ahzab).
Pasukan Ahzab yang besar ini berhimpun, jumlah dan persenjataan mereka mengungguli kaum muslimin berlipat-lipat ganda. Rasulullah pun mengungsikan para wanita dan anak-anak kecil ke perbukitan Madinah. Kemudian memposisikan mereka membelakangi Gunung Sila’ dan membuat parit antara beliau dan musuh. Sedangkan musuh yang mengepung mereka dari atas dan bawah adalah musuh dengan permusuhan yang sangat keras. Seandainya mereka berhasil mengalahkan kaum beriman, niscaya akan menyiksa dengan siksaan yang luar biasa.
Pada peristiwa-peristiwa hari ini, seluruh musuh dari kalangan Salibis, Atheis, Syiah Rafidhah, dan kelompok-kelompok murtadin lainnya, mereka datang disertai pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal perang mereka, serta seluruh kekuatan yang mereka miliki, untuk menyerang dan menjajah negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mengepung negeri-negeri kaum muslimin dari segala penjuru, sebagaimana Allah Rabb firmankan mengenai Perang Ahzab,
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا
هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا
“Yaitu ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan berbagai purbasangka. Di situlah orang-orang mukmin diuji dan diguncang hatinya dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang penafsiran ayat ini, “Allah ‘azza wa jalla berfirman mengabarkan keadaan tersebut, ketika golongan-golongan yang bersekutu itu tiba di sekitaran Madinah, sedangkan kaum Muslimin terkepung dalam keadaan sangat sulit dan sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka; di saat mereka diuji, diberikan cobaan, dan diguncang dengan guncangan sangat hebat, maka saat itulah muncul sifat kemunafikan, lalu orang-orang berpenyakit hati mulai melontarkan isi hati mereka. Adapun orang munafik, kemunafikannya menyeruak. Dan orang yang hatinya menyimpang, maka pendiriannya melemah, dia merasakan kebimbangan di dalam jiwanya; disebabkan kelemahan imannya, dan penderitaan yang menimpanya berupa kesulitan.” Selesai ucapannya rahimahullah.
Hari ini, manusia berhamburan mengikuti keyakinan masing-masing. Orang-orang yang lemah lagi bingung akan berburuk sangka. Kelompok ini menyangka bahwa tidak ada seorang mujahid pun yang akan mampu menghadapi pasukan koalisi, dan para pemeluk Islam akan binasa. Kelompok ini menyangka bahwa seandainya mereka melawan niscaya musuh-musuh itu akan melumat mereka dengan sekali hentakan, dan akan membelenggu mereka tak ubahnya gelang melilit pergelangan tangan. Kelompok ini juga menyangka bahwa bumi Iraq, Syam, dan negeri-negeri Islam lainnya tidak lagi menjadi tempat berlindung kaum muslimin, dan tak lagi berada di bawah kekuasaan Daulah Islam. Jiwanya membisikinya untuk kabur ke darul kufur. Kelompok ini mengira bahwa apa yang diinformasikan para ulama hadits Nabi Muhammad dan para pakar periwayatan berupa kabar-kabar gembira, tiada lain hanyalah angan-angan dusta dan dongeng yang sia-sia. Kemudian Allah menyebutkan perkataan kalangan munafikin yang berada dalam barisan pasukan kaum muslim di Perang Ahzab,
وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ
“Dan ingatlah ketika segolongan diantara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’” (Al-Ahzab: 13)
Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangun kamp bersama kaum muslimin di Gunung Sila’, dan membuat parit antara beliau dengan musuh. Segolongan dari mereka lantas berkata, “Tidak ada tempat bagimu di sini, karena begitu banyaknya musuh, maka kembalilah ke Madinah.” Dan dikatakan juga: “Tidak ada tempat bagi kalian di atas agama Muhammad, maka kembalilah kepada agama kesyirikan.” Dan dikatakan pula: “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, maka kembalilah meminta jaminan keamanan dan perlindungan kepada mereka.” Kemudian Allah azza wa jalla menyebutkan kondisi kaum munafikin dalam perang itu dan ucapan mereka, di lebih dari satu tempat, terkadang mereka berkata, “Kalianlah yang telah menyuruh kami untuk tinggal di tempat ini dan menetap di tsughur (front) ini sampai sekarang. Jika sekiranya kami pergi sebelum ini, maka musibah ini tidak akan menimpa kami.” Terkadang mereka mengatakan, “Dengan jumlah pasukan yang sedikit dan kelemahan kalian, maka kalian hendak mengalahkan musuh, sungguh kalian telah tertipu oleh agama kalian.”
Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman,
إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَٰؤُلَاءِ دِينُهُمْ ۗ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya.’ (Allah berfirman), ‘Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa, Maha bijaksana.’” (Al-Anfal: 49)
Terkadang mereka berkata, “Kalian sudah gila, kalian tidak punya akal. Kalian hendak membinasakan diri kalian dan membinasakan manusia bersama kalian.” Kadang mereka juga mengatakan berbagai macam ucapan yang sangat menyakitkan. Lalu setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang yang teguh dari kalangan kaum mukminin dalam surat Al-Ahzab, Dia memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk meneladani dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di peristiwa-peristiwa seperti ini.
Allah berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat danyang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang diuji dengan musuh seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diuji, maka diri beliau menjadi teladan yang baik bagi mereka, yang mana mereka tertimpa seperti apa yang menimpa beliau. Maka hendaklah mereka itu mencontoh beliau dalam hal ketawakkalan dan kesabaran, serta janganlah menyangka bahwa hal ini merupakan siksaan bagi dirinya, penistaan untuknya. Karena jika begitu, maka Rasulullah yang notabene makhluk terbaik, tidak akan diuji dengan cobaan. Bahkan dengan cobaan, derajat-derajat tinggi akan diraih, dan dengannya pula Allah menghapus kesalahankesalahan bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.
Imam Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Ayat mulia ini menjadi fondasi sangat agung dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam, baik dalam ucapan, perbuatan, dan peristiwa-peristiwa yang dialami beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Perang Ahzab dalam hal kesabaran, saling berwasiat dalam kesabaran, keteguhan dalam ribath, kesungguhan dan kesabaran beliau menanti jalan keluar dari Rabb beliau jalla fi ‘ula, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada orang-orang yang gundah, terguncang, dan gelisah akan kondisinya pada Perang Ahzab, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,” yaitu mengapa kalian tidak meneladani beliau dan mencontoh sifat-sifat beliau? Oleh sebab itu, Dia berfirman, “(Yaitu) bagi mereka yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Sungguh Allah menghalau Pasukan Ahzab dengan mengirim angin topan dan mencerai-beraikan hati mereka sehingga meluluh-lantakkan persatuan mereka, dan mereka tidak memperoleh kebaikan sedikit pun, sebagaimana terdapat di dalam firman-Nya:
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا
“Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, kerena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apapun. Cukuplah Allah yang menolong dan menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (Al-Ahzab: 25)
Maka kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menghalau Pasukan Koalisi dari Daulah Khilafah sebagaimana Dia telah menghalaunya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia –semoga Allah meridhai mereka–.
Duhai Rabb Penjaga Baitullah limpahkan ampunan-Mu dan pertaubatan
Dengan keagunganmu ilhamkan kepada kami kebenaran
Dengan karunia-Mu pakaikanlah kami mahkota kemenangan
Dan kenakan siksa kepada kumpulan kekafiran
Demikianlah sayap setiap orang menunjukkan penghormatan
Dan demi kemuliaan-Mu leher-leher kami patahkan
Wahai tentara Khilafah.
Telaah dan pelajarilah berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarmu. Renungkan kemudian lihatlah. Demi Allah, semua itu tidak lain hanyalah kematian yang satu dan kebinasaan yang satu. Maka jadilah orang yang mulia dengan agamamu dan berpegang teguhlah dengan keimananmu, mudah-mudahan engkau menghadap Tuhanmu yang meridhaimu, sedang engkau tetap maju dan pantang mundur.
Wahai tentara Khilafah.
Hindarilah dan jauhilah forum-forum fitnah. Ikutilah wasiat Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku, berarti dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amir, berarti telah menaati ku, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, berarti dia telah bermaksiat kepadaku.”
Dalam kesempatan ini, tak lupa kami mengingatkan para ikhwah mujahidin dan umat Islam secara umum agar memanfaatkan sisa waktu di bulan mulia ini, yang mana Allah berfirman tentangnya,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia sekaligus penjelasan dari petunjuk dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)
Sesungguhnya, di antara nikmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba-Nya yang beriman adalah diantarkannya mereka ke musim kebaikan ini, demi menyucikan jiwa mereka dan membersihkan kotoran yang melekat agar kembali jernih dan murni. Sehingga mereka bersegera menjalankan amalan-amalan shalih dan memanfaatkan hari-hari yang tersisa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang Bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan para setan dibelenggu.”
Maka selamat bagi yang sukses mendapatkannya, berarti sungguh dia telah menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan dan mengikuti millah (agama) Ibrahim yang hanif (lurus). Selamat bagi yang mengamalkan seluruh syariat islam. Selamat bagi yang tetap teguh di atas kebenaran dan “mengambil” Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Selamat bagi yang menyambut seruan Allah, beriman kepada para rasul-Nya, berjihad melawan para musuh-Nya, dan membenarkan janji-Nya.
Wahai bala tentara Khilafah para penggenggam bara api yang bersabar lagi teguh di atas janji, yang menyadari bahwa dunia ini hanyalah negeri cobaan dan ujian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
“Dan Kami benar-benar akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian dan orang-orang yang sabar di antara kalian, serta akan Kami uji perihal kalian.” (Muhammad: 31)
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sejatinya kalian saat ini adalah katibah (batalion) dan para pelopor Islam dalam melawan koalisi-koalisi kekafiran. Dengan keteguhan, determinasi, dan kesabaran kalian, terdapat kemuliaan bagi Islam, kemenangan bagi kaum muslimin dan Daulah mereka, maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian.
Wahai singa-singa Mosul, Raqqah dan, Tal ‘Afar...
Wahai simbol kemuliaan dan kebanggaan, serta penyulut kemarahan orang-orang kafir.
Semoga Allah memberkahi lengan-lengan kokoh dan wajah-wajah bercahaya. Seranglah orang-orang Rafidhah dan murtadin serta gempurlah mereka dengan kehebatan satu orang laki-laki. Tidak akan terhina orang yang kembali kepada Sang Pencipta dan Sang Tuannya, dan tidak akan mulia orang yang berlindung kepada selain-Nya. Kalian berperang di jalan Allah memerangi orang yang kafir kepada Allah, dan kalian mempertaruhkan nyawa demi mendekatkan diri kepada Allah, demikianlah kami menilai kalian dan Allah-lah penilai kalian. Perbaruilah niatan, perbaikilah amal, dan bersabarlah atas pedihnya luka dan tikaman, bersabarlah dan sulut kemarahan para wali setan. Dan bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah sebaik-baik bekal dalam peperangan dan seutama-utama muslihat, agar kalian beruntung. Sungguh, kemenangan itu adalah kesabaran sesaat, kemudian kemenangan akan berpihak kepada kalian dengan izin Allah.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Dijlah, Al-Badiyah, Shalahuddin, Diyala, Karkuk, Utara dan Selatan Baghdad...
Wahai bala tentara Islam di Fallujah, Anbar, dan Al-Furat...
Waspadalah, jangan sampai kalian melewatkan malam-malam bulan yang utama ini, melainkan kalian telah membuat orang-orang Rafidhah dan murtadin mencicipi berbagai macam pembunuhan dan malapetaka. Dan inilah mereka, pada hari ini telah memasuki halaman rumah kalian. Tak ada gunanya hidup jika diinjak-injak oleh anak-cucu kaum Majusi, di tengah negeri-negeri yang telah kalian atur dengan syariat Allah. Maka aturlah perangkap-perangkap, pasanglah ranjau-ranjau, dan pecahkanlah kepala dengan tembakan senapan-senapan sniper (penembak jitu), binasakan perkumpulan mereka dengan berbagai peledak.
Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Halab (Aleppo), Al-Khair, Al-Barakah, Hims, Hama, dan Damaskus...
Wahai anak-cucu Khalid dan Abu Ubaidah...
Wahai para pahlawan Islam dan singa-singa pemberani...
Seranglah orang-orang Nushairi, orang-orang Kurdi Atheis, dan para Shahawat murtad di Syam. Terkamlah mereka tak ubahnya singa yang mengamuk. Sergaplah mereka dari setiap pintu, Jangan kalian lewatkan keberuntungan kalian di bulan ini. Temuilah Rabb kalian dalam keadaan tunduk, patuh, dan bertaubat. Kejar dan carilah kesyahidan.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali ‘Imran: 133)
Wahai bala tentara Islam di wilayah Sinai, Mesir, Khurasan, Yaman, Afrika Barat, Somalia, Libya, Tunisia, Aljazair, dan di semua tempat....
Lantaskan jihad kalian, bertahanlah di front-front dan pos-pos ribath kalian. Jangan kalian menunda menyerang musuh-musuh Allah meskipun hanya sesaat di siang hari, berupayalah berjihad menegakkan syariat dan hukum Allah di muka bumi. Karena tujuan jihad kita adalah supaya agama ini semuanya menjadi milik Allah, dan semua belahan bumi di atur dengan hukum Allah.
Wahai putra-putra Khilafah di Asia Timur...
Kami mengucapkan selamat kepada kalian atas takluknya kota Marawi, Ingatlah selalu Allah dalam keteguhan. Syukurilah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian. Mintalah pertolongan Allah untuk menghadapi musuh kalian, niscaya Dia akan mencukupi kalian, Dialah penolong kalian, Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Kepada para mujahid pemberani yang bertempur melawan musuh...
Wahai bala tentara Khilafah putra-putra Ahlussunnah di bumi Persia...
Semoga Allah memberkahi aksi kalian terhadap musuh-musuh millah dan agama. Kalian melegakan dada dan membuat kaum muslimin bergembira, kalian telah menimpakan orang-orang musyrik dengan sesuatu yang selama ini mereka takutkan. Maka lantaskanlah serangan-serangan kalian. Sungguh, benteng negara Majusi lebih lemah dari pada rumah (sarang) laba-laba.
Kepada saudara-saudara seaqidah dan seiman, di Eropa, Amerika, Rusia, Australia, dan yang lainnya...
Saudara-saudara kalian telah menunaikan udzur (mengangkat dosa) di negeri kalian, menerkamlah mengikuti jejak mereka, tirulah aksi mereka, dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah kilatan pedang.
Wahai saudara-saudara kami yang menjadi tawanan di mana saja...
Demi Allah, tidak pernah sehari pun kami melupakan kalian. Kami tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian memiliki hak atas kami. Maka bersabarlah dan teguhlah. Jangan kalian berkata kecuali kebaikan. Karena besarnya pahala seiring dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Dia akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan. Perbanyaklah berdoa di bulan penuh berkah ini, agar Dzat Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui memberikan kebebasan dan jalan keluar kepada kalian. Berdoalah agar Allah menganugerahkan kemenangan, keteguhan, dan tamkin kepada para ikhwah mujahidin kalian. Dengan izin Allah, kami tidak pernah menghemat-hemat usaha keras untuk membebaskan kalian.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkan kaki kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.
Dan akhir seruan kami; segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.
NISCAYA KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN PADA KALIAN
NISCAYA KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN PADA KALIAN
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hasan Al-Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Sungguh segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan pada-Nya. Kami berlindung pada Allah dari kejahatan jiwa kami dan keburukan amal kami. Siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan maka tiada yang dapat memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah limpahkan shalawat pada beliau, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga semoga terlimpah salam yang banyak hingga hari pembalasan. Amma ba’du;
Allah ta’ala berfirman,
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Perangilah mereka, semoga Allah mengadzab mereka melalui tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian dan menyembuhkan hati kaum beriman, serta menghilangkan kemarahan pada hati mereka dan menerima taubat siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha mengetahui lagi bijaksana. Apakah kalian mengira bawah kalian akan dibiarkan sedangkan Allah belum melihat orang-orang yang berjihad di antara kalian dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [At-Taubah : 14-16]
Kepada para mujahidin di jalan Allah di setiap tempat.
Wahai prajurit Khilafah yang bersabar lagi menggenggam bara.
Wahai para penjaga Diin dan kehormatan.
Wahai (perwira) yang mengorbankan ruh dengan murah di jalan Allah.
Wahai kalian yang menghadang dengan dada kalian serangan salibis yang tiada henti lagi tercatat oleh sejarah, kalian yang menjaga kemunian Islam dengan darah kalian.
Wahai kalian yang menggentarkan Bangsa-Bangsa Kafir dan Pasukan Murtad dengan keberanian dan keterikatan jiwa kalian, kalian juga telah membuat bingung seluruh alam ini dengan kesabaran dan keteguhan jiwa kalian.
Aku menasehatkan kalian dengan apa yang dinasehatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di mana beliau bersabda,
فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Kalau saja seluruh makhluq ini ingin memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah tuliskan untukmu, niscaya mereka tidak akan mampu untuk itu. Sedangkan jika mereka ingin menimpakan marabahaya kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan untukmu, niscaya mereka tidak akan mampu untuk itu. Ketahuilah, sungguh dalam kesabaran menghadapi apa yang tidak kalian suka terdapat banyak kebaikan, sungguh kemenangan bersama kesabaran, sungguh kelapangan ada bersama kesulitan dan sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad]
Sungguh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada para syaikh dari Bani ‘Abas, “Dengan apa kalian memerangi manusia?” Mereka menjawab, “Dengan kesabaran. Kami tidak menghadapi satu kaum melainkan kami bersabar terhadap mereka sebagaimana mereka bersabar menghadapi kami.”
Sebagian salaf berkata, “Kita semua membenci kematian dan sakitnya luka, namun kita menjadi mulia dengan kesabaran.”
Maka bersabarlah wahai saudara-saudara ku seperjuangan, tetaplah teguh dan bergembiralah. Demi Allah kalian pasti menang. Ujian yang kalian lalui ini tidak lain hanyalah satu mata rantai dari serangkaian ujian yang dengannya Allah melimpahkan rohmah pada hamba-hamba-Nya yang terpilih, untuk memisahkan yang buruk dengan yang baik, kemudian untuk mempersiapkan kalian dalam mengemban amanah yang lebih berat dan lebih besar. Ujian yang hakikatnya adalah anugerah ini, tidaklah lebih sulit dari ujian sebelumnya.
Sungguh telah berlalu pada kalian berbagai ujian yang kalau saja ditimpakan kepada gunung-gunung yang kokoh, niscaya ujian tersebut menjadikan gunung-gunung itu hancur rata dengan tanah, namun kalian dapat bersabar dalam ujian itu. Bahkan, kalian keluar darinya dengan tekad lebih kuat dan kembali dengan lebih solid.
Wahai Prajurit-Prajurit ‘Iraq dan Syam.
Wahai ghuroba’ Islam.
Sungguh kebathilan telah tertipu oleh hasil sementara, tertipu oleh angan-angan, bertindak aniaya terhadap dirinya sendiri dan setan telah meniupkan kesombongan pada hidungnya, hingga mereka berontak dan keluar, naik pitam, gemetar dan melancarkan serangan terhadap Darul Islam dan Bumi Khilafah dengan serangan yang belum pernah ada yang semisalnya dalam sejarah di masa lampau.
Inilah salibis Amerika dan Eropa, beserta komunis Rusia, majusi Iran, sekuleris Turki, atheis Kurdi, Rafidhah, Nushairiyah, Shahawat, milisi-milisi (bayaran), Thaghut-Thaghut ‘Arab dan militer mereka, mereka semua berada dalam satu barisan dipersenjatai dengan gudang militer kontemporer dan didukung dengan kekuatan media kotor.
Mereka memiliki satu slogan; “Basmi islam dan pemeluknya.” Mereka memiliki satu semboyan, “Siapa yang lebih kuat dari kami?!”
Lalu mereka merayap menuju kalian dengan ketajaman dan besi mereka. Mereka letakkan di depan mereka domba-domba dari binatang murtaddin dari kalangan bangsa kalian. Mereka giring menuju kalian hingga sampai di di medan pertempuran kalian. Maka bersabarlah, kuatkanlah kesabaran, tabahlah dan tetaplah komitmen memerangi mereka.
Sungguh Rafidhah dengan kendaraan dan pasukan infanterinya telah menghadap ke arah bumi Tal’afar, didorong kuat oleh kedengkian dan bualan menuju Darul Islam, untuk mengalahkannya dan menghinakan Ahlus Sunnah di dalamnya. Maka janganlah kalian membiarkan musuh Allah menghembuskan nafasnya atau merusak perisai Darul Islam. Siapkanlah penyergapan, kembalilah bertempur dan bersikap keraslah dalam berperang.
Sungguh kalian memerangi kaum yang tidak memiliki akal, pedoman, agama dan tidak pula dunia yang tertolong. Mereka digiring oleh penyembah salib di depannya untuk menghalangi posisinya dalam peperangan dan pertempuran ini, serta untuk mewujudkan target-target dan tujuan-tujuannya dalam membagi-bagi area tersebut, menundukkannya dan penduduknya pada hukum Rafidhah majusi. Padahal, demi Allah, mereka tidak akan mampu untuk itu!
Maka apabila dua kelompok telah berbaris, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, hancurkanlah kendaraan-kendaraan mereka, serbulah mereka, kejutkanlah mereka di jalur pelarian mereka, hingga mereka dapat merasakan sebagian kekuatan kalian. Mereka tidak akan bertahan hingga Allah anugerahkan pada kalian pundak-pundak mereka.
Janganlah terbetik dalam diri kalian untuk melarikan diri. Demi Allah, jika kalian melarikan diri, janganlah kalian lari kecuali dari karena kehormatan yang tidak mendapat pelindung dan agama yang mengeluhkan pada Allah mengenai kaum yang menyia-nyiakannya dan para pembela yang menelantarkannya.
Ingatlah selalu firman Allah ta’ala,
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ"
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan satu kelompok (musuh), tetaplah teguh dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya semoga kalian beruntung. Taatilah Allah dan Rasul-Nya, serta janganlah berselisih hingga kalian menjadi lemah dan hilanglah kekuatan kalian. Dan bersabarlah, sungguh Allah bersama orang-orang yang bersabar.” [Al-Anfal : 45-46]
Dan (ingatlah) juga firman Allah subhanah,
وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَن قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lemah dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [Ali ‘Imran : 146 - 148]
Demi Allah, sungguh kami melihat bahwa Allah ta’ala telah memberikan umpan kepada salibis, murtaddin dan atheis untuk kebinasaan mereka. Sungguh ini adalah akhir serangan mereka dengan izin Allah, dan sebentar lagi kami yang akan menyerang mereka di pusat negeri mereka sebagai kepercayaan kami kepada Dzat Yang Maha Esa dan sebagai husnuzhan kami terhadap Dzat Yang Tunggal lagi Kekal.
Wahai Ahlul Islam dan singa-singa Islam di Ar-Raqqah!
Wahai orang-orang gagah, pemberani, perkasa, perwira dan mulia!
Apakah yang akan melakukan perampasan tanah kaum muslimin dari kalian seorang perempuan pezina atheis dan kafir, setelah pejantan yang mereka lahirkan menggagahi betina-betina sebayanya dan pejantan itu mencurahkan sampahnya pada mereka? Bahkan pejantan-pejantan luar daerah dari kalangan ahlul kufur dan penyembah berhala juga bersetubuh dengan mereka dalam rangka membela kebathilan mereka dan dalam rangka memerangi Islam dan pemeluknya.
Katakanlah, demi Rabb kalian, apa solusinya jika kelaliman atheis Kurdi tidak dapat ditolak dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan? Semoga Allah tidak menetapkan hal itu. Jika itu terjadi, niscaya agama kalian diperangi, syari’ah kalian dilenyapkan, masjid-masjid kalian dinodai, pria-pria kalian dihinakan namun wanita-wanita dan istri-istri kalian dibiarkan hidup. Padahal demi Allah, mereka adalah orang-orang hina, rendahan, bodoh dan pesakitan. Ketika itu, tidak ada lagi kebaikan dalam hidup, tidak lagi berharga kehidupan dan ketahuilah bahwa inilah saat-saat kejujuran dan pemenuhan janji.
Wahai orang-orang Islam yang berjihad.
Ada tiga hal yang telah terkumpul untuk kalian dan celakalah seorang muslim yang ingin mengganti tiga hal ini;
- Bumi yang diterapkan syari’ah Allah,
- Satu musuh agresor (penjajah) yang tiada lagi kewajiban setelah iman selain dari menolak serangan tersebut, dan
- Syahadah yang telah lama diharapkan oleh orang-orang jujur.
قَلْبِي عَلَى ثِقَة ٍ وَنَفْسِيَ حُرَّة
تَأْبَى الدَّنِيَّ، وَصَارِمِي ذَلاَّقُ
فَعلامَ يَخشى المرءُ فرقة َ روحِه ؟
أوَ لَيْسَ عَاقِبَة َ الْحَيَاة ِ فِرَاقُ؟
فارغَب بِنفسِكَ وهِى َ فى أثوابِها
إن لم تَكُن شامٌ فَتِلكَ عِراقُ
لاَ خَيْرَ فِي عَيْشِ الْجَبَانِ يَحُوطُهُ
مِنْ جَانِبَيْهِ الذُّلُّ وَالإِمْلاَقُ
عَابُوا عَليَّ حَمِيَّتِي ونِكَايَتِي
والنارُ ليسَ يَعيبُها الإحراقُ
Hatiku percaya dan jiwaku merdeka
Enggan menerima kehinaan dan pedangku tajam
Mengapa orang takut berpisah dengan nyawanya?
Bukankah hidup pasti membawa pada perpisahan?
Maka sukailah (kematian itu) dengan jiwamu karena itu berpahala
Jika tidak di Syam, maka di ‘Iraq
Tidak ada kebaikan dalam kehidupan pengecut yang mengelilinginya
Dari kedua sisi (pengecut) ada kehinaan dan kemiskinan
Mereka mencela keberanian dan kemampuanku untuk mengalahkan
Padahal api tidak dicela oleh kebakaran.
Wahai para Ksatria Pemburu Syahadah dan singa-singa jihad di Al-Bab dan pedesaannya.
Semoga Allah memperelok wajah-wajah kalian dan membalas amal baik kalian, sungguh kalian telah menghadapi murtaddin Turki, Shahawat, Kurdi dan gerombolan Nushairiyah yang hina, dengan berani maju berkorban untuk diin kalian dalam keperkasaan dan keteguhan. Maka bersabarlah, kuatkanlah kesabaran, tetaplah siaga dan bertaqwalah pada Allah semoga kalian beruntung.
Sungguh anak-cucu para pembunuh muwahhidin hari ini dari kalangan murtaddin Turki telah maju untuk mengulangi lagi perbuatan para pendahulu mereka. Mereka hendak membinasakan Daulah dan Jama’ah Muslimin. Sungguh telah tiba hari pembalasan untuk diin dan tauhid kalian. Sungguh kalian tidaklah memearangi orang-orang kuat, namun (mereka) hanyalah (pasukan) fantasi yang berlindung di pundak pagar dan dinding. Maka realisasikan serangan kalian terhadap mereka, buatlah mereka gelisah, bunuhlah mereka di manapun kalian berada, kejarlah mereka di setiap jalan di atas penjuru bumi dan di bawah penjuru langit!!
Sungguh si murtadin ikhwaniy Turki yang mengemis di pintu Salibis Eropa menyangka bahwa dia dan pemerintahannya dalam kelapangan dan ketentraman dari urusan ini.
Wahai muslimin pemilik ghirah di setiap tempat.
Wahai para muwahhid yang jujur.
Wahai Ahlul Wala’ wal Bara’.
Sungguh si terlaknat ini telah memobilisasi sampah manusia dari Shahawat hina di Syam untuk memerangi agama Allah dan untuk memadamkan cahaya-Nya, membombardir dan menghancurkan rumah-rumah di atas kepala para penghuninya tanpa membedakan antara manusia dengan batu, seraya melumuri tangannya dengan darah-darah muslimin, serta melecehkan agama dan kehormatan mereka.
Oleh karena itu, sungguh kami menyeru setiap muwahhid yang jujur untuk mentarget persendian-persendian pemerintahan sekuler murtad Turki, divisi keamanan, militer, ekonomi dan media, bahkan kedutaan dan konsulat yang mewakilinya di negeri-negeri di seluruh dunia ini.
Kemudian ketahuilah wahai para mujahidin yang bertauhid, bahwa yang paling jahat, serta yang paling besar kekufuran dan dosanya adalah anjing-anjing mereka yang menggonggong dari kalangan ulama sesat dan para penyeru kepada kekufuran, para masyayikh kekerdilan dan jajahan, yang loyal pada kaum musyrik dan pemerintahan murtad dengan segala bentuk loyalitas dan dukungan melalui asosiasi-asosiasi ‘ilmiyah, majlis-majlis fatwa dan program-program media mereka. Bahkan juga dengan akun-akun pribadi mereka dan forum-forum diskusi mereka. Nama-nama mereka terkenal, lokasi-lokasi mereka diketahui dan acara-acara mereka dapat dideskripsikan.
Para ulama’ sesat itulah yang meramaikan pemerintahan kafir tiran, menggembirakan dan bergembira dengan kerusakkannya dalam memimpin. Mereka pun berlindung pada pemerintahaan ini dari penjuru negeri dan memberikan ucapan selamat padanya menyatakan kemudtaddan yang nyata dan kekufuran yang jelas. Mereka menjadikan negerinya terbuka untuk aktivitas mereka, tempat berlindung untuk kehinaan dan kebodohan mereka. Mereka pun menghapus rambu-rambu hidayah dengan daya-upaya mereka, membunuh sisa-sisa sikap keras terhadap kuffar dengan menjadikan mereka sebagai saudara. Itulah seburuk-buruk daya-upaya dan sejelek-jelek persaudaraan.
Para ulama’ sesat itu mendekati kukufuran, mengaggapnya sepele, merusak citra agama yang agung ini dan mencelanya. Dengan demikian tipuan menjadi semakin banyak, tersebarlah bid’ah, hawa nafsu disembah dan itulah seburuk-buruk sesembahan, sementara yang terpuji menjadi seperti tercela dan yang tercela menjadi seperti terpuji.
Adalah musibah dahsyat dan bencana besar ketika mereka menjadi pemimpin dan panutan manusia, serta mengajak untuk menjadi celaka. Mereka itu para penakut yang takut pada manusia melebihi rasa takut pada Allah, namun mereka juga orang-orang kuat yang cinta ketenaran, ingin didengar dan suka kedudukan, terfitnah dengan cinta kesenangan fana dan takut penyapihan (ujian). Sehingga mereka terus meraba dan melakukan kesia-siaan, serta mengubur kebenaran yang murni dan menyebarkan keburukan.
Orang-orang lain seperti mereka yang tidak perlu lagi kami sebutkan, dan sekarang kami tidak peduli dengan terbukanya aib mereka. Oooh… semoga Allah hinakan jiwa-jiwa cacat, jenggot-jenggot bayaran dan lisan-lisan palsu.
اذا غاب ملاح السفينة وارتمت ** بها الريح يوما، دبرتها الضفادع
Apabila para pelaut dalam perahu telah hilang dan perahu berlabuh
Ketika angin berhembus padanya, para katak pun ikut mengemudinya
Hampir saja tidak terlihat orang yang menghalangi mereka dan tidak pula orang yang dapat memotong lagak mereka, bahkan sekedar mencegah (saja)!
Sungguh dahulu Bal’am bin Baura’ lebih terlaknat dari kaumnya dan Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah lebih terlaknat dari Musailamah. Sungguh salah seorang dari mereka hari ini lebih membahayakan Islam dan pemeluknya dari pada kebanyakan orang yang kalian kira. Sungguh demi Allah, telah tiba saatnya kesedihan ini terbelah, jiwa-jiwa ini menjadi tenang dan lisan-lisan ini terpotong.
‘Iyadh Al-Yahshibiy menyebutkan dalam kitabnya Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, bahwa Al-‘Allamah Abu Bakr Isma’il Ibnu Ishaq Ibnu ‘Udzrah rahimahullah ditanya mengenai para khathib di masa Bani ‘Ubaid al-Fathimiyin dan dikatakan kepadanya bahwa para khathib itu sunniy! Maka beliau bertanya, “Bukankah mereka mengatakan, “Yaa Allah, limpahkanlah shalawat kepada hamba-Mu al-Hakim* dan anugerahkanlah bumi ini padanya.”? Mereka pun menjawab, “Iya.”
*Al-Hakim adalah Khalifah ke-6 Dinasti Syi’ah Fathimiyah yang pernah berkuasa di Mesir
Maka beliau bertanya, “Tahukah kalian, apabila seorang khathib berkhuthbah, lalu memuji Allah dan Rasul-Nya, lalu memperelok pujian itu, kemudian berkata, ‘Abu Jahl berada di surga.’ Apakah dia telah kafir?” Mereka pun menjawab, “Iya.” Maka beliau kembali berkata, “Padahal Al-Hakim itu melebihi Abu Jahl.”
‘Iyadh berkata, Ad-Dawudiy ditanyai mengenai masalah ini, maka beliaupun menjawab, “Khathib mereka yang berkhuthbah untuk mereka dan melantukan doa kebaikan untuk mereka pada hari Jum’at adalah kafir dibunuh dan tidak dimintai taubat, isterinya diharamkan baginya, tidak mewarisi dan tidak diwarisi, sedangkan hartanya adalah fai’ untuk muslimin.” Hingga di sini perkataan beliau.
Wahai prajurit Tauhid pemilik ghirah di setiap tempat.
Semangatilah jiwa kalian untuk mentarget ulama’ suu’ dan para penyeru fitnah di setiap tempat yang mengganggu agama Allah dan wali-wali-Nya. Jika salah seorang di antara kalian melihat salah seorang di antara mereka, maka jangan sampai bayangannya berpisah hingga dia menyerang dan membinasakannya walaupun di dalam rumahnya dan di antara keluarganya.
Mulailah dengan yang terang-terangan melakukan permusuhan, menyeru untuk memerangi mujahidin atau menuduh mereka atheis atau (menuduh) keluar dari agama. Hidupkanlah terhadap mereka itu sunnah membunuh Jahm, Ja’d, Al-Hallaj dan Ma’bad. Sungguh demi Allah, kalau saja setan menegakkan negaranya, niscaya ia mendapati di antara mereka sebagai prajurit siaga, pendukung dan pembela, wa laa hawla wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyil ‘azhim…
Abul Hasan ‘Aliy bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Akan datang satu masa pada manusia, di mana Islam hanya tinggal nama dan Al-Qur’an hanya tinggal tulisan saja. Ketika itu masjid-masjid mereka ramai namun kosong dari petunjuk. Ulama’ mereka adalah seburuk-buruk makhluk di bawah kolong langit dan dari mereka itulah fitnah keluar dan kepada merka pula fitnah itu kembali.”
Ternyata sungguh fitnah ini dimulai dari mulut-mulut mereka dan di mimbar-mimbar mereka. Setelah mereka mengharamkan dan mengkriminalkan jihad fii sabiilillah, mereka pun mulai menyeru untuk masuk kepada kebathilan dan kekufuran dengan cara berperang di bawah panji-panji para Thaghut, demi menenangkan para penguasa mereka, juga demi keselamatan kekuasaan dan martabat mereka.
Orang yang merugi adalah yang merugi agamanya dengan mengikuti hawa nafsu mereka dan menjaga dunia mereka. Maka siapa yang tidak menyibukkan dirinya dengan kebenaran, setan pun akan menyibukkannya dengan kebathilan. Siapa yang hari ini tidak berperang di jalan Allah, suatu hari nanti Thaghut akan membawanya untuk berperang di jalannya.
Kepada kaum muslimin umumnya dan Ahlus Sunnah di ‘Iraq dan Syam khususnya.
Sungguh kejahatan dari negeri majusi Iran telah sampai puncaknya. Orang-orang jahat itu menyebar ke penjuru negeri dan (akibatnya) manusiapun menjadi buruk. Mereka pun menyerang Ahlus Sunnah di ‘Iraq dan Syam melalui agen-agen, pakar-pakar dan pemandu-pemandu mereka. Hingga seorang Sunniy menjadi antara terbelenggu lagi bersembunyi dan terhina berkhianat lagi mengikuti. Bahkan tidak cukup itu saja, karena tidak ada yang mencegah mereka dari kaum muslimin setelah Allah selain Daulah Islam, meskipun kebenaran lebih jelas dan kebathilan tergagap-gagap.
Bagaimana bisa penakar yang hilang melakukan tawar-menawar dengan prajurit Khilafah atau dua orang memperdebatkan orang yang membela agama, kehormatan dan tanah? Siapa yang menimpakan (balasan) kekejaman dan kesusahan pada Iran dan para pengikutnya? Semoga Allah menghinakan jenggot-jenggot jahat, amat besar kejahatan dan kedurhakaan mereka.
Siapa yang menghunus pedang kebenaran di hadapan Negara majusi Iran, menimpakan kebinasaan dari Baghdad hingga Beirut, Halab, Damaskus, Khurasan dan hingga Shan’a, wahai para penyeru keburukan dan kebinasaan, siapa?
Hari inilah Negara majusi itu menembus negeri-negeri Ahlus Sunnah, memerangi hamba-hamba Allah yang bertauhid lagi berjihad di bawah bombardir serta dukungan salibis dan pemerintahan murtadd kalian yang menjadi agen (mereka), meminang kasih-sayang mereka dan berharap hidup rukun dengan mereka. Semoga Allah menyegerakan kehancuran singgasana mereka dan lenyapnya kerajaan mereka di tangan mujahidin, dengan daya dan kekuatan Allah.
Belumkah tiba saatnya bagi kalian wahai Ahlus Sunnah untuk membuang omong kosong, teka-teki tabu, bualan semu dan mimpi-mimpinya? Untuk apa pongah, lirikan sinis, berwajah angkuh, congkak dan sombong? Apakah karena penolakan kalian terhadap kelaliman musuh yang bertindak aniaya, yang menyerang negeri-negeri dan telah berada di tempat pelemparan batu dari Makkah dan Madinah? Ataukah karena sangat kuat dan kerasnya kekuatan para penguasa kalian, yang menjadikan kalian mengira bahwa mereka menjaga dan membela kalian? Demi Allah, sungguh merugilah prasangka-prasangka itu. Kelak, niscaya kalian akan mengingat apa yang aku katakan pada kalian.
حتى ما نحن نساري النجم في الظلم ** وما سراه على خف ولا قدم
Sampai kapan kita berjalan dalam kegelapan bersama bintang
Sedangkan perjalan itu tidaklah menggunakan sepatu ataupun kakI
Sungguh musuh yang telah Allah (berikan) telah menyerang negeri kalian, hendak menghapus agama kalian dan melecehkan kehormatan kalian –semoga Allah menghinakan mereka-. Inilah telah tampak jalan yang benar maka lihatlah, Islam telah memanggil maka bela-lah, kehormatan meminta bantuan maka tolonglah, sedangkan saudara kalian se-iman yang berjihad menyeru kalian maka janganlah menelantarkannya.
Sungguh Darul Islam adalah negeri kalian dan Syari’ah Allah adalah amanah di pundak kalian. Mempertahankan Darul Islam dan Syari’ah bukan hanya kewajiban mujahidin, sehingga tidak ada ‘udzur untuk kalian di sisi Allah dan di hadapan kaum muslimin jika sampai anak cucu kera dan babi, beserta para penyembah pohon, batu dan manusia itu selamat. Bersegeralah bergabung dengan kafilah jihad dan tolonglah mujahidin fii sabilillah dengan segala kalian mampu dengan jiwa, harta, motivasi dan doa...
Kepada prajurit Khilafah dan para pendukungnya di seluruh penjuru dunia.
Kepada singa-singa tersembunyi yang merontokkan dipan-dipan kekufuran, menjadikan mereka lupa kemewahannya, menginjak hidung-hidung agen intelijen mereka ke tanah dan menjadikan keamanan hanyalah mimpi mereka.
Ketahuilah, semoga Allah menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya, bahwa operasi-operasi kalian yang berbarokah ini dapat membalikkan timbangan dan merubah moncong artileri kekufuran terhadap muslimin. Maka seranglah mereka di rumah-rumah mereka, di pasar-pasar mereka, di jalan-jalan mereka, di forum-forum mereka dan dari arah yang tidak mereka sangka. Bakarlah bumi dari bawah kaki mereka dan buatlah keruh langit mereka hingga mereka menjadi sibuk. Tambahlah kerja keras kalian dan intens-kan operasi kalian, semoga Allah memberkahi kalian.
Dalam kesempatan ini, tidak lupa saya sampaikan pujian untuk para Ksatria Da’wah, Kesehatan, Media dan yang lainnya dari kalangan prajurit Islam. Saya haturkan selamat pada jihad dan ribath kalian di berbagai medan mereka masing-masing, karena pertempuran mereka hari ini tidak kalah pentingnya dari pertempuran militer.
اللهم لك الحمد حتى ترضى ولك الحمد اذا رضيت ولك الحمد بعد الرضى
اللهم عليك بالكفرة المجرمين اللذين يصدون عن سبيلك ويقاتلون اولياءك ويكذبون رسلك ويبغونها في الأرض عوجا اللهم انصر دينك وجندك واعلي كلمتك وارفع رايتك إله الحق ولا حول ولا قوة إلا بالله والحمدلله رب العالمين.
Yaa Allah, segala puji bagi-Mu sebanyak yang Engkau ridha, segala puji bagi-Mu ketika Engkau ridha dan segala puji bagi-Mu setelah Engkau ridha.
Yaa Allah, binasakanlah orang-orang kafir yang jahat yang menghalang-halangi dari jalan-Mu, memerangi wali-wali-Mu, mendustakan para Rasul-Mu dan menginginkan kerusakan di bumi ini.
Yaa Allah, tolonglah agama-Mu dan prajurit-Mu, serta tinggikanlah panji-Mu wahai Tuhan Kebenaran. Tiada daya dan kekuatan selain selain dengan kehendak Allah, wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamin.
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hasan Al-Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Sungguh segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan pada-Nya. Kami berlindung pada Allah dari kejahatan jiwa kami dan keburukan amal kami. Siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan maka tiada yang dapat memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah limpahkan shalawat pada beliau, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga semoga terlimpah salam yang banyak hingga hari pembalasan. Amma ba’du;
Allah ta’ala berfirman,
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Perangilah mereka, semoga Allah mengadzab mereka melalui tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian dan menyembuhkan hati kaum beriman, serta menghilangkan kemarahan pada hati mereka dan menerima taubat siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha mengetahui lagi bijaksana. Apakah kalian mengira bawah kalian akan dibiarkan sedangkan Allah belum melihat orang-orang yang berjihad di antara kalian dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [At-Taubah : 14-16]
Kepada para mujahidin di jalan Allah di setiap tempat.
Wahai prajurit Khilafah yang bersabar lagi menggenggam bara.
Wahai para penjaga Diin dan kehormatan.
Wahai (perwira) yang mengorbankan ruh dengan murah di jalan Allah.
Wahai kalian yang menghadang dengan dada kalian serangan salibis yang tiada henti lagi tercatat oleh sejarah, kalian yang menjaga kemunian Islam dengan darah kalian.
Wahai kalian yang menggentarkan Bangsa-Bangsa Kafir dan Pasukan Murtad dengan keberanian dan keterikatan jiwa kalian, kalian juga telah membuat bingung seluruh alam ini dengan kesabaran dan keteguhan jiwa kalian.
Aku menasehatkan kalian dengan apa yang dinasehatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di mana beliau bersabda,
فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Kalau saja seluruh makhluq ini ingin memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah tuliskan untukmu, niscaya mereka tidak akan mampu untuk itu. Sedangkan jika mereka ingin menimpakan marabahaya kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah tetapkan untukmu, niscaya mereka tidak akan mampu untuk itu. Ketahuilah, sungguh dalam kesabaran menghadapi apa yang tidak kalian suka terdapat banyak kebaikan, sungguh kemenangan bersama kesabaran, sungguh kelapangan ada bersama kesulitan dan sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad]
Sungguh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada para syaikh dari Bani ‘Abas, “Dengan apa kalian memerangi manusia?” Mereka menjawab, “Dengan kesabaran. Kami tidak menghadapi satu kaum melainkan kami bersabar terhadap mereka sebagaimana mereka bersabar menghadapi kami.”
Sebagian salaf berkata, “Kita semua membenci kematian dan sakitnya luka, namun kita menjadi mulia dengan kesabaran.”
Maka bersabarlah wahai saudara-saudara ku seperjuangan, tetaplah teguh dan bergembiralah. Demi Allah kalian pasti menang. Ujian yang kalian lalui ini tidak lain hanyalah satu mata rantai dari serangkaian ujian yang dengannya Allah melimpahkan rohmah pada hamba-hamba-Nya yang terpilih, untuk memisahkan yang buruk dengan yang baik, kemudian untuk mempersiapkan kalian dalam mengemban amanah yang lebih berat dan lebih besar. Ujian yang hakikatnya adalah anugerah ini, tidaklah lebih sulit dari ujian sebelumnya.
Sungguh telah berlalu pada kalian berbagai ujian yang kalau saja ditimpakan kepada gunung-gunung yang kokoh, niscaya ujian tersebut menjadikan gunung-gunung itu hancur rata dengan tanah, namun kalian dapat bersabar dalam ujian itu. Bahkan, kalian keluar darinya dengan tekad lebih kuat dan kembali dengan lebih solid.
Wahai Prajurit-Prajurit ‘Iraq dan Syam.
Wahai ghuroba’ Islam.
Sungguh kebathilan telah tertipu oleh hasil sementara, tertipu oleh angan-angan, bertindak aniaya terhadap dirinya sendiri dan setan telah meniupkan kesombongan pada hidungnya, hingga mereka berontak dan keluar, naik pitam, gemetar dan melancarkan serangan terhadap Darul Islam dan Bumi Khilafah dengan serangan yang belum pernah ada yang semisalnya dalam sejarah di masa lampau.
Inilah salibis Amerika dan Eropa, beserta komunis Rusia, majusi Iran, sekuleris Turki, atheis Kurdi, Rafidhah, Nushairiyah, Shahawat, milisi-milisi (bayaran), Thaghut-Thaghut ‘Arab dan militer mereka, mereka semua berada dalam satu barisan dipersenjatai dengan gudang militer kontemporer dan didukung dengan kekuatan media kotor.
Mereka memiliki satu slogan; “Basmi islam dan pemeluknya.” Mereka memiliki satu semboyan, “Siapa yang lebih kuat dari kami?!”
Lalu mereka merayap menuju kalian dengan ketajaman dan besi mereka. Mereka letakkan di depan mereka domba-domba dari binatang murtaddin dari kalangan bangsa kalian. Mereka giring menuju kalian hingga sampai di di medan pertempuran kalian. Maka bersabarlah, kuatkanlah kesabaran, tabahlah dan tetaplah komitmen memerangi mereka.
Sungguh Rafidhah dengan kendaraan dan pasukan infanterinya telah menghadap ke arah bumi Tal’afar, didorong kuat oleh kedengkian dan bualan menuju Darul Islam, untuk mengalahkannya dan menghinakan Ahlus Sunnah di dalamnya. Maka janganlah kalian membiarkan musuh Allah menghembuskan nafasnya atau merusak perisai Darul Islam. Siapkanlah penyergapan, kembalilah bertempur dan bersikap keraslah dalam berperang.
Sungguh kalian memerangi kaum yang tidak memiliki akal, pedoman, agama dan tidak pula dunia yang tertolong. Mereka digiring oleh penyembah salib di depannya untuk menghalangi posisinya dalam peperangan dan pertempuran ini, serta untuk mewujudkan target-target dan tujuan-tujuannya dalam membagi-bagi area tersebut, menundukkannya dan penduduknya pada hukum Rafidhah majusi. Padahal, demi Allah, mereka tidak akan mampu untuk itu!
Maka apabila dua kelompok telah berbaris, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, hancurkanlah kendaraan-kendaraan mereka, serbulah mereka, kejutkanlah mereka di jalur pelarian mereka, hingga mereka dapat merasakan sebagian kekuatan kalian. Mereka tidak akan bertahan hingga Allah anugerahkan pada kalian pundak-pundak mereka.
Janganlah terbetik dalam diri kalian untuk melarikan diri. Demi Allah, jika kalian melarikan diri, janganlah kalian lari kecuali dari karena kehormatan yang tidak mendapat pelindung dan agama yang mengeluhkan pada Allah mengenai kaum yang menyia-nyiakannya dan para pembela yang menelantarkannya.
Ingatlah selalu firman Allah ta’ala,
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ"
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan satu kelompok (musuh), tetaplah teguh dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya semoga kalian beruntung. Taatilah Allah dan Rasul-Nya, serta janganlah berselisih hingga kalian menjadi lemah dan hilanglah kekuatan kalian. Dan bersabarlah, sungguh Allah bersama orang-orang yang bersabar.” [Al-Anfal : 45-46]
Dan (ingatlah) juga firman Allah subhanah,
وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَن قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lemah dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [Ali ‘Imran : 146 - 148]
Demi Allah, sungguh kami melihat bahwa Allah ta’ala telah memberikan umpan kepada salibis, murtaddin dan atheis untuk kebinasaan mereka. Sungguh ini adalah akhir serangan mereka dengan izin Allah, dan sebentar lagi kami yang akan menyerang mereka di pusat negeri mereka sebagai kepercayaan kami kepada Dzat Yang Maha Esa dan sebagai husnuzhan kami terhadap Dzat Yang Tunggal lagi Kekal.
Wahai Ahlul Islam dan singa-singa Islam di Ar-Raqqah!
Wahai orang-orang gagah, pemberani, perkasa, perwira dan mulia!
Apakah yang akan melakukan perampasan tanah kaum muslimin dari kalian seorang perempuan pezina atheis dan kafir, setelah pejantan yang mereka lahirkan menggagahi betina-betina sebayanya dan pejantan itu mencurahkan sampahnya pada mereka? Bahkan pejantan-pejantan luar daerah dari kalangan ahlul kufur dan penyembah berhala juga bersetubuh dengan mereka dalam rangka membela kebathilan mereka dan dalam rangka memerangi Islam dan pemeluknya.
Katakanlah, demi Rabb kalian, apa solusinya jika kelaliman atheis Kurdi tidak dapat ditolak dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan? Semoga Allah tidak menetapkan hal itu. Jika itu terjadi, niscaya agama kalian diperangi, syari’ah kalian dilenyapkan, masjid-masjid kalian dinodai, pria-pria kalian dihinakan namun wanita-wanita dan istri-istri kalian dibiarkan hidup. Padahal demi Allah, mereka adalah orang-orang hina, rendahan, bodoh dan pesakitan. Ketika itu, tidak ada lagi kebaikan dalam hidup, tidak lagi berharga kehidupan dan ketahuilah bahwa inilah saat-saat kejujuran dan pemenuhan janji.
Wahai orang-orang Islam yang berjihad.
Ada tiga hal yang telah terkumpul untuk kalian dan celakalah seorang muslim yang ingin mengganti tiga hal ini;
- Bumi yang diterapkan syari’ah Allah,
- Satu musuh agresor (penjajah) yang tiada lagi kewajiban setelah iman selain dari menolak serangan tersebut, dan
- Syahadah yang telah lama diharapkan oleh orang-orang jujur.
قَلْبِي عَلَى ثِقَة ٍ وَنَفْسِيَ حُرَّة
تَأْبَى الدَّنِيَّ، وَصَارِمِي ذَلاَّقُ
فَعلامَ يَخشى المرءُ فرقة َ روحِه ؟
أوَ لَيْسَ عَاقِبَة َ الْحَيَاة ِ فِرَاقُ؟
فارغَب بِنفسِكَ وهِى َ فى أثوابِها
إن لم تَكُن شامٌ فَتِلكَ عِراقُ
لاَ خَيْرَ فِي عَيْشِ الْجَبَانِ يَحُوطُهُ
مِنْ جَانِبَيْهِ الذُّلُّ وَالإِمْلاَقُ
عَابُوا عَليَّ حَمِيَّتِي ونِكَايَتِي
والنارُ ليسَ يَعيبُها الإحراقُ
Hatiku percaya dan jiwaku merdeka
Enggan menerima kehinaan dan pedangku tajam
Mengapa orang takut berpisah dengan nyawanya?
Bukankah hidup pasti membawa pada perpisahan?
Maka sukailah (kematian itu) dengan jiwamu karena itu berpahala
Jika tidak di Syam, maka di ‘Iraq
Tidak ada kebaikan dalam kehidupan pengecut yang mengelilinginya
Dari kedua sisi (pengecut) ada kehinaan dan kemiskinan
Mereka mencela keberanian dan kemampuanku untuk mengalahkan
Padahal api tidak dicela oleh kebakaran.
Wahai para Ksatria Pemburu Syahadah dan singa-singa jihad di Al-Bab dan pedesaannya.
Semoga Allah memperelok wajah-wajah kalian dan membalas amal baik kalian, sungguh kalian telah menghadapi murtaddin Turki, Shahawat, Kurdi dan gerombolan Nushairiyah yang hina, dengan berani maju berkorban untuk diin kalian dalam keperkasaan dan keteguhan. Maka bersabarlah, kuatkanlah kesabaran, tetaplah siaga dan bertaqwalah pada Allah semoga kalian beruntung.
Sungguh anak-cucu para pembunuh muwahhidin hari ini dari kalangan murtaddin Turki telah maju untuk mengulangi lagi perbuatan para pendahulu mereka. Mereka hendak membinasakan Daulah dan Jama’ah Muslimin. Sungguh telah tiba hari pembalasan untuk diin dan tauhid kalian. Sungguh kalian tidaklah memearangi orang-orang kuat, namun (mereka) hanyalah (pasukan) fantasi yang berlindung di pundak pagar dan dinding. Maka realisasikan serangan kalian terhadap mereka, buatlah mereka gelisah, bunuhlah mereka di manapun kalian berada, kejarlah mereka di setiap jalan di atas penjuru bumi dan di bawah penjuru langit!!
Sungguh si murtadin ikhwaniy Turki yang mengemis di pintu Salibis Eropa menyangka bahwa dia dan pemerintahannya dalam kelapangan dan ketentraman dari urusan ini.
Wahai muslimin pemilik ghirah di setiap tempat.
Wahai para muwahhid yang jujur.
Wahai Ahlul Wala’ wal Bara’.
Sungguh si terlaknat ini telah memobilisasi sampah manusia dari Shahawat hina di Syam untuk memerangi agama Allah dan untuk memadamkan cahaya-Nya, membombardir dan menghancurkan rumah-rumah di atas kepala para penghuninya tanpa membedakan antara manusia dengan batu, seraya melumuri tangannya dengan darah-darah muslimin, serta melecehkan agama dan kehormatan mereka.
Oleh karena itu, sungguh kami menyeru setiap muwahhid yang jujur untuk mentarget persendian-persendian pemerintahan sekuler murtad Turki, divisi keamanan, militer, ekonomi dan media, bahkan kedutaan dan konsulat yang mewakilinya di negeri-negeri di seluruh dunia ini.
Kemudian ketahuilah wahai para mujahidin yang bertauhid, bahwa yang paling jahat, serta yang paling besar kekufuran dan dosanya adalah anjing-anjing mereka yang menggonggong dari kalangan ulama sesat dan para penyeru kepada kekufuran, para masyayikh kekerdilan dan jajahan, yang loyal pada kaum musyrik dan pemerintahan murtad dengan segala bentuk loyalitas dan dukungan melalui asosiasi-asosiasi ‘ilmiyah, majlis-majlis fatwa dan program-program media mereka. Bahkan juga dengan akun-akun pribadi mereka dan forum-forum diskusi mereka. Nama-nama mereka terkenal, lokasi-lokasi mereka diketahui dan acara-acara mereka dapat dideskripsikan.
Para ulama’ sesat itulah yang meramaikan pemerintahan kafir tiran, menggembirakan dan bergembira dengan kerusakkannya dalam memimpin. Mereka pun berlindung pada pemerintahaan ini dari penjuru negeri dan memberikan ucapan selamat padanya menyatakan kemudtaddan yang nyata dan kekufuran yang jelas. Mereka menjadikan negerinya terbuka untuk aktivitas mereka, tempat berlindung untuk kehinaan dan kebodohan mereka. Mereka pun menghapus rambu-rambu hidayah dengan daya-upaya mereka, membunuh sisa-sisa sikap keras terhadap kuffar dengan menjadikan mereka sebagai saudara. Itulah seburuk-buruk daya-upaya dan sejelek-jelek persaudaraan.
Para ulama’ sesat itu mendekati kukufuran, mengaggapnya sepele, merusak citra agama yang agung ini dan mencelanya. Dengan demikian tipuan menjadi semakin banyak, tersebarlah bid’ah, hawa nafsu disembah dan itulah seburuk-buruk sesembahan, sementara yang terpuji menjadi seperti tercela dan yang tercela menjadi seperti terpuji.
Adalah musibah dahsyat dan bencana besar ketika mereka menjadi pemimpin dan panutan manusia, serta mengajak untuk menjadi celaka. Mereka itu para penakut yang takut pada manusia melebihi rasa takut pada Allah, namun mereka juga orang-orang kuat yang cinta ketenaran, ingin didengar dan suka kedudukan, terfitnah dengan cinta kesenangan fana dan takut penyapihan (ujian). Sehingga mereka terus meraba dan melakukan kesia-siaan, serta mengubur kebenaran yang murni dan menyebarkan keburukan.
Orang-orang lain seperti mereka yang tidak perlu lagi kami sebutkan, dan sekarang kami tidak peduli dengan terbukanya aib mereka. Oooh… semoga Allah hinakan jiwa-jiwa cacat, jenggot-jenggot bayaran dan lisan-lisan palsu.
اذا غاب ملاح السفينة وارتمت ** بها الريح يوما، دبرتها الضفادع
Apabila para pelaut dalam perahu telah hilang dan perahu berlabuh
Ketika angin berhembus padanya, para katak pun ikut mengemudinya
Hampir saja tidak terlihat orang yang menghalangi mereka dan tidak pula orang yang dapat memotong lagak mereka, bahkan sekedar mencegah (saja)!
Sungguh dahulu Bal’am bin Baura’ lebih terlaknat dari kaumnya dan Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah lebih terlaknat dari Musailamah. Sungguh salah seorang dari mereka hari ini lebih membahayakan Islam dan pemeluknya dari pada kebanyakan orang yang kalian kira. Sungguh demi Allah, telah tiba saatnya kesedihan ini terbelah, jiwa-jiwa ini menjadi tenang dan lisan-lisan ini terpotong.
‘Iyadh Al-Yahshibiy menyebutkan dalam kitabnya Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, bahwa Al-‘Allamah Abu Bakr Isma’il Ibnu Ishaq Ibnu ‘Udzrah rahimahullah ditanya mengenai para khathib di masa Bani ‘Ubaid al-Fathimiyin dan dikatakan kepadanya bahwa para khathib itu sunniy! Maka beliau bertanya, “Bukankah mereka mengatakan, “Yaa Allah, limpahkanlah shalawat kepada hamba-Mu al-Hakim* dan anugerahkanlah bumi ini padanya.”? Mereka pun menjawab, “Iya.”
*Al-Hakim adalah Khalifah ke-6 Dinasti Syi’ah Fathimiyah yang pernah berkuasa di Mesir
Maka beliau bertanya, “Tahukah kalian, apabila seorang khathib berkhuthbah, lalu memuji Allah dan Rasul-Nya, lalu memperelok pujian itu, kemudian berkata, ‘Abu Jahl berada di surga.’ Apakah dia telah kafir?” Mereka pun menjawab, “Iya.” Maka beliau kembali berkata, “Padahal Al-Hakim itu melebihi Abu Jahl.”
‘Iyadh berkata, Ad-Dawudiy ditanyai mengenai masalah ini, maka beliaupun menjawab, “Khathib mereka yang berkhuthbah untuk mereka dan melantukan doa kebaikan untuk mereka pada hari Jum’at adalah kafir dibunuh dan tidak dimintai taubat, isterinya diharamkan baginya, tidak mewarisi dan tidak diwarisi, sedangkan hartanya adalah fai’ untuk muslimin.” Hingga di sini perkataan beliau.
Wahai prajurit Tauhid pemilik ghirah di setiap tempat.
Semangatilah jiwa kalian untuk mentarget ulama’ suu’ dan para penyeru fitnah di setiap tempat yang mengganggu agama Allah dan wali-wali-Nya. Jika salah seorang di antara kalian melihat salah seorang di antara mereka, maka jangan sampai bayangannya berpisah hingga dia menyerang dan membinasakannya walaupun di dalam rumahnya dan di antara keluarganya.
Mulailah dengan yang terang-terangan melakukan permusuhan, menyeru untuk memerangi mujahidin atau menuduh mereka atheis atau (menuduh) keluar dari agama. Hidupkanlah terhadap mereka itu sunnah membunuh Jahm, Ja’d, Al-Hallaj dan Ma’bad. Sungguh demi Allah, kalau saja setan menegakkan negaranya, niscaya ia mendapati di antara mereka sebagai prajurit siaga, pendukung dan pembela, wa laa hawla wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyil ‘azhim…
Abul Hasan ‘Aliy bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Akan datang satu masa pada manusia, di mana Islam hanya tinggal nama dan Al-Qur’an hanya tinggal tulisan saja. Ketika itu masjid-masjid mereka ramai namun kosong dari petunjuk. Ulama’ mereka adalah seburuk-buruk makhluk di bawah kolong langit dan dari mereka itulah fitnah keluar dan kepada merka pula fitnah itu kembali.”
Ternyata sungguh fitnah ini dimulai dari mulut-mulut mereka dan di mimbar-mimbar mereka. Setelah mereka mengharamkan dan mengkriminalkan jihad fii sabiilillah, mereka pun mulai menyeru untuk masuk kepada kebathilan dan kekufuran dengan cara berperang di bawah panji-panji para Thaghut, demi menenangkan para penguasa mereka, juga demi keselamatan kekuasaan dan martabat mereka.
Orang yang merugi adalah yang merugi agamanya dengan mengikuti hawa nafsu mereka dan menjaga dunia mereka. Maka siapa yang tidak menyibukkan dirinya dengan kebenaran, setan pun akan menyibukkannya dengan kebathilan. Siapa yang hari ini tidak berperang di jalan Allah, suatu hari nanti Thaghut akan membawanya untuk berperang di jalannya.
Kepada kaum muslimin umumnya dan Ahlus Sunnah di ‘Iraq dan Syam khususnya.
Sungguh kejahatan dari negeri majusi Iran telah sampai puncaknya. Orang-orang jahat itu menyebar ke penjuru negeri dan (akibatnya) manusiapun menjadi buruk. Mereka pun menyerang Ahlus Sunnah di ‘Iraq dan Syam melalui agen-agen, pakar-pakar dan pemandu-pemandu mereka. Hingga seorang Sunniy menjadi antara terbelenggu lagi bersembunyi dan terhina berkhianat lagi mengikuti. Bahkan tidak cukup itu saja, karena tidak ada yang mencegah mereka dari kaum muslimin setelah Allah selain Daulah Islam, meskipun kebenaran lebih jelas dan kebathilan tergagap-gagap.
Bagaimana bisa penakar yang hilang melakukan tawar-menawar dengan prajurit Khilafah atau dua orang memperdebatkan orang yang membela agama, kehormatan dan tanah? Siapa yang menimpakan (balasan) kekejaman dan kesusahan pada Iran dan para pengikutnya? Semoga Allah menghinakan jenggot-jenggot jahat, amat besar kejahatan dan kedurhakaan mereka.
Siapa yang menghunus pedang kebenaran di hadapan Negara majusi Iran, menimpakan kebinasaan dari Baghdad hingga Beirut, Halab, Damaskus, Khurasan dan hingga Shan’a, wahai para penyeru keburukan dan kebinasaan, siapa?
Hari inilah Negara majusi itu menembus negeri-negeri Ahlus Sunnah, memerangi hamba-hamba Allah yang bertauhid lagi berjihad di bawah bombardir serta dukungan salibis dan pemerintahan murtadd kalian yang menjadi agen (mereka), meminang kasih-sayang mereka dan berharap hidup rukun dengan mereka. Semoga Allah menyegerakan kehancuran singgasana mereka dan lenyapnya kerajaan mereka di tangan mujahidin, dengan daya dan kekuatan Allah.
Belumkah tiba saatnya bagi kalian wahai Ahlus Sunnah untuk membuang omong kosong, teka-teki tabu, bualan semu dan mimpi-mimpinya? Untuk apa pongah, lirikan sinis, berwajah angkuh, congkak dan sombong? Apakah karena penolakan kalian terhadap kelaliman musuh yang bertindak aniaya, yang menyerang negeri-negeri dan telah berada di tempat pelemparan batu dari Makkah dan Madinah? Ataukah karena sangat kuat dan kerasnya kekuatan para penguasa kalian, yang menjadikan kalian mengira bahwa mereka menjaga dan membela kalian? Demi Allah, sungguh merugilah prasangka-prasangka itu. Kelak, niscaya kalian akan mengingat apa yang aku katakan pada kalian.
حتى ما نحن نساري النجم في الظلم ** وما سراه على خف ولا قدم
Sampai kapan kita berjalan dalam kegelapan bersama bintang
Sedangkan perjalan itu tidaklah menggunakan sepatu ataupun kakI
Sungguh musuh yang telah Allah (berikan) telah menyerang negeri kalian, hendak menghapus agama kalian dan melecehkan kehormatan kalian –semoga Allah menghinakan mereka-. Inilah telah tampak jalan yang benar maka lihatlah, Islam telah memanggil maka bela-lah, kehormatan meminta bantuan maka tolonglah, sedangkan saudara kalian se-iman yang berjihad menyeru kalian maka janganlah menelantarkannya.
Sungguh Darul Islam adalah negeri kalian dan Syari’ah Allah adalah amanah di pundak kalian. Mempertahankan Darul Islam dan Syari’ah bukan hanya kewajiban mujahidin, sehingga tidak ada ‘udzur untuk kalian di sisi Allah dan di hadapan kaum muslimin jika sampai anak cucu kera dan babi, beserta para penyembah pohon, batu dan manusia itu selamat. Bersegeralah bergabung dengan kafilah jihad dan tolonglah mujahidin fii sabilillah dengan segala kalian mampu dengan jiwa, harta, motivasi dan doa...
Kepada prajurit Khilafah dan para pendukungnya di seluruh penjuru dunia.
Kepada singa-singa tersembunyi yang merontokkan dipan-dipan kekufuran, menjadikan mereka lupa kemewahannya, menginjak hidung-hidung agen intelijen mereka ke tanah dan menjadikan keamanan hanyalah mimpi mereka.
Ketahuilah, semoga Allah menguatkan kalian dengan pertolongan-Nya, bahwa operasi-operasi kalian yang berbarokah ini dapat membalikkan timbangan dan merubah moncong artileri kekufuran terhadap muslimin. Maka seranglah mereka di rumah-rumah mereka, di pasar-pasar mereka, di jalan-jalan mereka, di forum-forum mereka dan dari arah yang tidak mereka sangka. Bakarlah bumi dari bawah kaki mereka dan buatlah keruh langit mereka hingga mereka menjadi sibuk. Tambahlah kerja keras kalian dan intens-kan operasi kalian, semoga Allah memberkahi kalian.
Dalam kesempatan ini, tidak lupa saya sampaikan pujian untuk para Ksatria Da’wah, Kesehatan, Media dan yang lainnya dari kalangan prajurit Islam. Saya haturkan selamat pada jihad dan ribath kalian di berbagai medan mereka masing-masing, karena pertempuran mereka hari ini tidak kalah pentingnya dari pertempuran militer.
اللهم لك الحمد حتى ترضى ولك الحمد اذا رضيت ولك الحمد بعد الرضى
اللهم عليك بالكفرة المجرمين اللذين يصدون عن سبيلك ويقاتلون اولياءك ويكذبون رسلك ويبغونها في الأرض عوجا اللهم انصر دينك وجندك واعلي كلمتك وارفع رايتك إله الحق ولا حول ولا قوة إلا بالله والحمدلله رب العالمين.
Yaa Allah, segala puji bagi-Mu sebanyak yang Engkau ridha, segala puji bagi-Mu ketika Engkau ridha dan segala puji bagi-Mu setelah Engkau ridha.
Yaa Allah, binasakanlah orang-orang kafir yang jahat yang menghalang-halangi dari jalan-Mu, memerangi wali-wali-Mu, mendustakan para Rasul-Mu dan menginginkan kerusakan di bumi ini.
Yaa Allah, tolonglah agama-Mu dan prajurit-Mu, serta tinggikanlah panji-Mu wahai Tuhan Kebenaran. Tiada daya dan kekuatan selain selain dengan kehendak Allah, wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamin.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
RUMIYAH 3 - ARTIKEL WAJIBNYA MENYINGKAP KEDOK ULAMA SUU Syariat Islam telah diturunkan untuk menjaga lima perkara pokok yang merupakan ponda...
-
RUMIYAH 11 - STATEMEN DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH, SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUH...
-
DABIQ 3 - ARTIKEL DAULAH ISLAM SEBELUM MALHAMAH kUBRA MUHAJIRIN KE BUMI MALAHIM Imam Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah berkata: “Sungguh a...