Rabu, 25 April 2018

KEBANGKITAN JIHAD DI BANGLADESH, DENGAN MENYEBARNYA CAHAYA KHILAFAH

DABIQ 12 - SEJARAH

KEBANGKITAN JIHAD DI BANGLADESH,
DENGAN MENYEBARNYA CAHAYA KHILAFAH
Oleh : Abu Abdirrahman Al-Bangali

Sejarah Jihad Di Bengal

Sebagaimana jihad Afghanistan dalam melawan komunis yang berakhir pada "tahun delapan puluhan," banyak veteran yang berasal dari berbagai belahan dunia -termasuk bengal(1)- kembali ke tanah air mereka dengan membawa ide pembukaan front jihad baru berdasarkan pengalaman mereka yang baru diperoleh. Namun banyak diantara mereka yang kembali ke Bengal dari Khurasan memiliki kesalahan dalam aqidah dan manhaj mereka, termasuk kesalahan yang terkait dengan Tauhid, wala' dan bara', berdirinya sebuah organisasi jihad yang baik di Bengal yang berdasarkan Qur'an dan Sunnah serta pemahaman salaf tertunda selama bertahun-tahun sampai akhir "tahun sembilan puluhan" ketika Allah memberkahi asy-syahid ulama Mujahid Syaikh 'Abdur-Rahman rahimahullah yang sukses mengumpulkan beberapa muwahhidin dari berbagai wilayah di bengal untuk membentuk sebuah organisasi bernama "Jama'atul Mujahidin" yang tujuan utamanya adalah menegakkan kembali hukum Allah di atas bumi. Dengan demikian, lahirlah cahaya baru di tengah-tengah harapan kaum Muslimin di Bengal, tanah yang selama ratusan tahun tenggelam kedalam syirik dan bid'ah karena efek dari Kolonisasi Eropa ataupun invasi budaya Hindu.

Dengan bersandar kepada Allah saja, Syaikh 'Abdur-Rahman rahimahullah dan beberapa ulama mujahid lainnya mengerahkan segala upaya terbaik mereka untuk mengumpulkan umat Islam Bengal dibawah satu payung tunggal berdasarkan Qur'an, Sunnah, dan pemahaman salaf. Kelompok yang baru terbentuk ini menyediakan pelatihan militer yang tepat bagi para mujahidin dan juga melakukan operasi melawan tentara murtad dan hakim dari pemerintahan Thaghut yang memerintah dengan hukum buatan manusia. Dengan operasi-operasi yang diberkahi tersebut, Jama'atul Mujahidin mencoba yang terbaik untuk membangkitkan kesadaran kaum Muslimin dari Bengal akan pentingnya penegakan syari'at berdasarkan wala' dan Bara'. Dan atas karunia dari Allah, panggilan jihad ini telah mencapai berbagai Madaris (sekolah Islam) di Bengal dan orang-orangpun mulai bergabung dengan jama'ah dalam jumlah besar. Dan karena itu, Pasukan Thaghut dan para ulama istana yang menyimpang terguncang, sehingga pemerintah murtad memenjarakan dan meng-eksekusi Syaikh yang mulia 'Abdur-Rahman bersama dengan beberapa ulama jujur serta komandan Mujahid pada tahun "2007." Semoga Allah menerima mereka sebagai syuhada dan memberikan mereka tempat tertinggi di Jannah.

Pemerintah yang terdahulu, terutama yang terdiri dari sebuah koalisi Murtaddin baik dari "Bangladesh Nasionalist Party" (BNP) dan "Jamaat-e-Islami Bangladesh" (yang pada dasarnya "Persaudaraan Muslim" versi benua India), yang dengan bodohnya berpikir bahwa panggilan tauhid, jihad, dan Khilafah akan hancur oleh kesyahidan beberapa ulama sholeh. Thawaghit, para ulama istana, dan mereka yang hatinya berpenyakit lupa akan janji Allah subhanahu wa ta'ala, yang berfirman, “mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya” (Ash-Shaff: 8). Mereka telah lupa bahwa pohon umat ini tidaklah disiram kecuali dengan darah para syuhada.

Murtaddin ini juga mengabaikan peringatan Allah yang disebutkan dalam hadits Qudsi, "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah). Dan karenanya, mereka merasa aman dari azab Allah, mengabaikan deklarasi perang-Nya dalam melawan mereka. Dan hanya berselang beberapa tahun, banyak pejabat dan komandan tinggi pasukan Thaghut -Termasuk yang terlibat dalam eksekusi ulama Mujahid- tewas dalam pemberontakan barisan murtadin "Penjaga Perbatasan Bangladesh." Dalam beberapa hari terakhir, baik Murtaddin nasionalis dari BNP dan parlemen Murtaddin dari "Jamaat-e-Islami"- yang bersukacita, dan secara aktif mengambil bagian dalam "hukum" dan eksekusi atas ulama mujahid– Murtaddin ini juga dipermalukan, diseret ke penjara, dan diberi hukuman mati oleh pengadilan Thaghut yang sama. Beberapa dari mereka telah dieksekusi oleh pemerintah Thaghut dari "Liga Awami." Itu adalah akhir yang mirip dengan apa yang menimpa Shahawat Iraq di tangan mantan sekutu Rafidhah mereka. Dan inilah contoh dari Allah bagi berbagai kelompok kufur yang telah bekerja sama dalam memerangi muwahhidin. Ini adalah pelajaran bagi yang lain untuk tidak menapaki jalan menuju siksaan baik di dunia maupun diakhirat.

Dengan kesyahidan pemimpin Mujahid, maka kafilah terpecah dan diuji dengan berat serta membersihkan barisannya dari sejumlah besar orang-orang yang berpotensi menjadi munafik yang bergabung dengan kafilah yang awalnya hanya bertujuan mencari keuntungan duniawi. Dengan demikian, yang tertinggal hanya Beberapa muwahhidin yang tetap sabar pada jalan yang sulit dari jihad dan pengorbanan, sambil selalu menjaga kepastian janji dari Allah dan selalu mengharapkan yang terbaik dari Allah. Mereka tidak meniggalkan jihad seperti orang yang lemah hatinya, dan mereka juga tidak menyimpang dari manhaj yang lurus dari Qur'an dan Sunnah demi mengejar "dukungan rakyat" sebagaimana banyak pengklaim jihad yang (sedihnya) telah terinfeksi dengan Irja' dan cinta dunia. Mujahidin yang jujur tahu bahwa bukan drone dari tentara salib atau persenjataan modern mereka yang berteknologi tinggi yang akan membahayakan mereka, akan tetepi penurunan secara bertahap akan wala' dan bara' dalam hatilah yang dapat memberikan luka terbesar dalam jihad.

Dan seperti yang terjadi di "Arab Spring," penurunan secara bertahap akan wala' dan bara' ini mencapai titik terendahnya selama protes massa di Dhaka terhadap blogger atheis tahun "2013," sebagaimana pengklaim jihad mulai secara terbuka menyerukan aliansi dengan penyembah kubur palsu yang mengaku sebagai "pecinta Nabi" Shallallahu alaihi wassalam, "Jamaat-e-Islami" yang secara terbuka menyerukan dan mendukung agama demokrasi, dan Deobandis yang mengadopsi keyakinan Jahmiyah. "Aliansi" ini dibentuk untuk menghadapi "musuh bersama" dari ateis dan kaum kiri yang mengutuk Islam dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Pengklaim jihad menuduh bahwa yang menyebabkan perpecahan "Ummat" atas masalah "kecil" akan melemahkan "Muslim" di depan ateis. Demikian juga, mereka mengklaim bahwa Mujahidin harus melakukan sholat menurut madzhab Hanafi dan bahkan jika hal itu harus meninggalkan sunan yang mutawatir. Mereka membenarkan ini berdasarkan prinsip yang telah diubah, yaitu bahwa mazhab dari Mujahidin harus melakukan shalat sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat, seolah-olah mazhab dari Mujahid harus berbeda dari Salaf! (2)

Pengklaim jihad ini menuntut berbagai kelompok jihad di Bengal memberikan preferensi untuk mempertahankan "dukungan umum" dan menyenangkan "ulama" sesat diatas Qur'an dan Sunnah, jika tidak maka "gerakan jihad" akan "hancur" oleh kesyahidan pemimpinannya yang tidak memiliki "Dukungan rakyat" seperti klaim mereka yang telah terjadi di masa lalu pada Jama'atul Mujahidin. Mereka memfokuskan pada cara materialistis daripada fokus mencari dukungan ilahi dari Allah, mereka bergegas berkompromi dengan Murtaddin dan ahlu bid’ah daripada menyandarkannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala saja serta tetap teguh pada manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah, atau setiap Muslim yang mentakfir mereka yang jatuh ke dalam pembatal Islam yang nyata seperti penyembah kuburan, bergabung keparlemen, dan bersekutu dengan Kuffar dalam melawan Muslim, maka mereka melabelinya sebagai "Khariji". Dengan demikian, sebuah fitnah baru diluncurkan menyasar orang-orang bingung, yaitu Mujahidin muda yang masih labil pemikirannya. Tapi sayangnya, banyak dari mereka yang terpengaruh oleh panggilan busuk ini. Berbagai kelompok "Jihad" di Bengal kemudian terfragmentasi melalui perselisihan atas isu-isu iman, manhaj, kepemimpinan, strategi, dan taktik.

Deklarasi Khilafah

Dan atas karunia Allah, Khilafah dibangkitkan kembali di Syam di tanah yang diberkahi dari pada 1 Ramadhan 1436. Terbitnya Khilafah dan efektifitas kampanye medianya telah membawa cahaya harapan di hati Mujahidin muda di Bengal, seperti yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya. Sebagaimana kuatnya Kampanye militer dari tentara Khilafah dalam menghancurkan kekuatan kufur di medan perang fisik, kampanye media dalam perang idiologis yang di luncurkan oleh tentara media khilafah juga terus menghancurkan setiap argumen yang diciptakan munafik pengklaim jihad atau mereka yang terinfeksi penyakit Irja' dan hizbiyah. Dan kebenaran mulai memancarkan cahayanya dengan sangat cepat sehingga muwahhidin Bengal-pun bergegas untuk membaiat Khalifah.

Mujahidin Bengal menyadari bahwa tidak ada ruang untuk taqlid buta terhadap organisasi apapun setelah Khilafah diumumkan, dan bahwa tidak ada lagi legitimasi bagi setiap organisasi jihad independen apakah itu "Jama'atul mujahidin," "Al-Qa'idah," atau kelompok lainnya. Dengan demikian, orang-orang jujur dari berbagai kelompok jihad bergegas untuk mendukung Khilafah dan bergabung dengan barisan tentara di Bengal. Mereka menyatukan barisan mereka di belakang seorang imam Quraisy dan tidak takut celaan orang yang mencela yang memilih untuk tetap tertinggal di belakang, yaitu mereka yang membabi buta dalam mempertahankan organisasinya dengan mengklaim bahwa "Mullah Umar adalah Amirul-Mukminin" meskipun ia telah mati selama bertahun-tahun. Dan bahkan ia telah mati sebelum mereka mulai menggunakannya sebagai alasan untuk tidak menyatukan seluruh umat di belakang satu pemimpin tunggal. Mujahidin menyadari bahwa kesatuan umat hanya bisa tercapai melalui seorang pemimpin dengan otoritas yang kakiki, dan bukannya orang bodoh di tempat persembunyian yang tidak diketahui serta yang merilis pesan video usang yang berbaiat kepada orang mati dan memarahi mereka yang tidak melakukan hal yang sama! Dengan demikian, Allah subhanahu wa ta'ala menyatukan barisan Mujahidin di Bengal sekali lagi setelah mereka terpecah. Dia subhanahu wa ta'ala memberi mereka kehormatan menjadi tentara Khilafah dengan manhaj kenabian, insya Allah.

Kebangkitan Jihad Melalui Cahaya Khilafah

Pada tanggal 14 Zulhijah 1436, dan hanya karena karunia Allah, sel keamanan milik tentara Khilafah di Bengal membunuh seorang tentara salib Italia bernama Cesare Tavella di jalan Gulshan di kota Dhaka. Amaliah mulia ini mengguncang Thawaghit penguasa serta tentara salib yang hidup di sana, karena pembunuhan ini terjadi di dalam "Zona Diplomatik" di "ibukota" yang konon menjadi perumahan paling aman dari seluruh wilayah negara.

Hanya beberapa hari kemudian, pada 19 Zulhijah 1436, dan hanya karena karunia Allah, sel keamanan lain milik tentara Khilafah di Bengal menargetkan warga Jepang di utara wilayah Rangpur. Serangan yang diberkahi ini menyebabkan malapetaka di antara warga negara tentara salib dan sekutunya yang tinggal di Bengal serta memaksa diplomat mereka, wisatawan, dan ekspatriat untuk membatasi gerakan mereka dan hidup dalam ketakutan terus menerus. Selain itu, pesan yang kuat dari Ummat yang telah bersatu dan bekerja di bawah kepemimpinan Khilafah, telah disampaikan dengan indah melalui serangan-serangan yang diberkahi seperti ini, dan hal ini sekali lagi telah membuktikan kepada tentara salib yang sombong dari negara Tunisia hingga ke Bengal, selama mereka terus memerangi Daulah Islam maka warga mereka tidak akan pernah menikmati perdamaian atau keamanan di setiap bagian dari Tanah kaum Muslimin, bi-idznillah.

Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah –Juru bicara resmi Daulah Islam– berkata, "Wahai muwahhidin di Eropa, Amerika, Australia, dan Kanada… Wahai muwahhidin di Maroko dan Aljazair… Wahai muwahhidin di Khorasan, Kaukasus, dan Iran… Wahai muwahhidin di manapun di atas muka bumi… Wahai ikhwah seaqidah… Wahai ahlu Al wala wal bara… Wahai Anshar Daulah Islamiyah… Wahai orang yang telah berbai’at kepada Khalifah Ibrahim di manapun… Wahai orang yang mencintai Daulah Islamiyah… Wahai orang yang mendukung Khilafah… Wahai orang yang menganggap dirinya sebagai junud dan Ansharnya (Daulah Islamiyah)… Daulah kalian sedang menghadapi kampanye Perang Salib Baru. Maka wahai muwahhid di manapun kalian berada, apa yang akan kalian lakukan untuk menolong ikhwan kalian? Apa yang kalian tunggu sedangkan orang-orang telah terbelah menjadi dua perkemahan, dan suhu perang yang terus meningkat dari hari ke hari? Wahai muwahhid, kami memanggil kalian untuk membela Daulah Islam, puluhan negara telah berkumpul untuk menyerangnya, mereka memulai perang mereka melawan kita di segala bidang. Maka bangkitlah wahai muwahhid. Bangkit dan belalah Daulah kalian dari tempat kalian di manapun kalian berada. "(Sesungguhnya Rabb-mu Benar-Benar Mengintai).

Dia juga mengatakan, "wahai muwahhid, jangan biarkan pertempuran ini berlalu begitu saja di manapun kalian berada. Kalian harus menyerang tentara, Anshar, dan pasukan Thawaghit tersebut. Serang polisi, keamanan, dan anggota intelijen mereka, serta agen berbahaya mereka. Hancurkan tempat tidur mereka. Persulitlah kehidupan mereka dan buat mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Jika kalian bisa membunuh kafir Amerika atau Eropa -terutama pendengki Perancis yang najis- atau Australia, atau Kanada, atau kafir harbi lainnya, termasuk warga negara yang negaranya menandatangani koalisi penyerangan terhadap Daulah Islam, maka tawakkallah kepada Allah, dan bunuhlah dengan cara atau jalan apapun juga!" (Sesungguhnya Rabb-mu Benar-Benar Mengintai).

Selain itu, Daulah Islam telah memperingatkan bangsa pagan Jepang bahwa ia akan lebih banyak menargetkan warga Jepang karena dukungan Jepang dalam perang salib Amerika. Dabiq mengomentari tentang kesombongan Keputusan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang akan terus mendukung koalisi tentara salib: "Sebelum Shinzo Abe berpikir untuk berjanji memberikan dukungan dalam perang salib ini, Jepang tidak masuk daftar dalam prioritas yang akan ditargetkan oleh Daulah Islam, tapi karena kebodohan Shinzo Abe, semua warga negara Jepang dan kepentingannya -di mana pun mereka berada- maka sekarang menjadi target bagi para prajurit dan pendukung Khilafah di manapun" (edisi 7, "Muqadimah," Halaman 4).

Dengan demikian, para prajurit Khilafah di Bengal yang telah berbaiat kepada Khalifah Ibrahim hafizhahullah, lalu menyatukan barisan mereka, mengangkat pemimpin regional, berdiri di belakangnya, meleburkan fraksi mereka, menyelenggarakan persiapan militer yang cukup, dan bergegas menjawab perintah dari pimpinan Daulah Islam, dengan menargetkan tentara salib dan sekutu mereka di mana pun mereka dapat ditemukan.

Pada hari 'Asyura' tanggal 10 Muharram 1437, tentara Khilafah meledakkan serangkaian bom dimana Rafidhah berkumpul untuk pawai syirik yang besar di depan salah satu kuil terbesar mereka –yang dikenal dengan "Hosseini Dalan" - Di kota Dhaka. Operasi yang diberkahi ini adalah yang pertama kali menargetkan Rafidhah Bengal selama hampir 400 tahun. Lebih dari seratus Murtaddin tewas dan terluka. Kemudian dengan mengambil Momentum dari serangan yang diberkahi ini, kurang dari dua minggu kemudian Mujahidin melakukan penggerebekan dengan gagah berani pada 21 Muharram 1437, dengan memilih untuk menyerang sekelompok polisi yang bersiap untuk mendirikan pos pemeriksaan di sebuah daerah di Dhaka. Mereka menikam salah satu dari mereka hingga mati dan melukai empat orang lainnya, Alhamdulillah.

Sementara tentara Khilafah di Bengal sibuk mempersiapkan serangan berikutnya kepada orang-orang kafir, dengan izin Allah, Murtaddin sekuler dari pemerintah Liga Awami melanjutkan memelintir fakta lapangan dan memainkan isu dalam upaya untuk menempatkan tekanan politik dan menyalahkannya pada Murtaddin baik BNP nasionalis dan parlemen "Jamaat-e-Islami." Sementara itu, para prajurit Khilafah di Bengal terus meningkat dan berkembang, dan berkat rahmat Allah, ia akan terus meneror tentara salib dan sekutunya sampai hukum Allah ditegakkan di muka bumi.

Setelah berbulan-bulan menangkapi muwahhidin serta mengklaim palsu lebih dari sekali bahwa mereka telah menangkap "koordinator tertinggi IS" wilayah Bengal, pemerintah murtad yang tak tahu malu keluar tepat setelah operasi yang diberkahi atas Tavella Cesare dimana mereka mengatakan "tidak ada IS di Bangladesh"! dan Mereka mengulangi kebohongan yang sama berulang kali seperti kaset rusak setelah setiap kali operasi yang diberkahi dilakukan oleh prajurit Khilafah, semuanya adalah upaya putus asa demi menyelamatkan muka didepan masyarakat kufur internasional dan menyembunyikan ketidakmampuan mereka serta impotensi lembaga penegak hukum dalam memberikan keamanan untuk tuan tentara salib mereka dan warga Rafidhi.

Pemerintah murtadd Bengali akan segera menyadari, dengan Izin Allah, yang tanpa malu-malu menyangkal fakta di lapangan dan memainkan permainan anak-anak dengan menyalahkan oposisi murtadd, dan itu akan menjadi sia-sia bagi mereka, sebagaimana Daulah Islam memang ada dan akan menetap di sini, insya Allah. Ia memang ada dan akan menetap di Syam dan Iraq. Ia memang ada dan akan menetap di Khurasan dan Kaukasus. Ia memang ada dan akan menetap di Tunisia sampai ke Bengal bahkan jika Murtaddin menghina hal ini. Khilafah akan terus meluas hingga bayangannya menaungi seluruh bumi, disetiap tanah dimana masih terjangkau oleh siang dan malam, insya Allah.

Pada akhirnya, adalah menjadi tanggung jawab umat Islam di Bengal untuk mendukung Khilafah. Dan ini juga menjadi tugas semua Mujahidin di Bengal yang mendukung Daulah Islam untuk merapatkan barisan mereka, bersatu di bawah tentara Khilafah di Bengal, dan membantu mereka dengan setiap cara apapun.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”(Ash-Shaff: 4).

Dia juga subhanahu wa ta'ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (At Taubah: 123).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Berjihadlah / Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian" (Shahih, Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i dari Anas).

Semoga Allah memberkahi para mujahidin di Bengal, mendukung mereka, dan memberi mereka kesuksesan yang terus menerus sehingga mereka dapat menjadi sumber kekuatan dan dukungan atas Muslim yang tertindas di Bengal dan Burma. Semoga Allah menyatukan barisan umat Islam di setiap wilayah di bawah naungan Khilafah.

Catatan kaki :

(1)  Catatan Editor: Bengal adalah nama wilayah sebelum adanya Negara "Bangladesh" oleh kaum nasionalis tahun "1971."

(2) Catatan Editor: Sayangnya, pendapat aneh ini disebarkan lewat buku panjang setebal 1600 halaman yang tidak penting dan berjudul "Da'wah al-Muqawamah al-Islamiyah al-'Alamiyah "("Panggilan Global Perlawanan Islam"). Dalam buku ini, Abu Mush’ab as-Suri menyarankan kelompok jihad untuk tidak mengerahkan upaya atau memperingatkan Quburiyah, Ash'ariyah, bid'ah, dan taqlid, dan mengklaim bahwa dakwah ini akan dikerjakan oleh pihak lain! Menurut dia, sebuah kelompok jihad - demi "dukungan rakyat"- malah harus membiarkan orang lain memikul beban untuk dakwah seperti! Dia juga mengkritik mujahidin jujur yang mentakfir "Islamis" parlemen dan Rafidhah, dan mengklaim bahwa ini bukan manhaj "mayoritas jihadis"! Dia juga menyarankan "mujahidin" harus bersikap lunak terhadap nasionalis Arab demi perang bersama melawan musuh "asing"! Ia juga menyarankan agar mujahid mengikuti madzhab lokal dalam ibadah zhahir / yang Nampak, bahkan jika hal itu bertentangan dengan Sunnah yang jelas!

Perlu dicatat bahwa Tidak seperti klaim media Barat, buku ini tidak pernah mendefinisikan manhaj para mujahidin. Kepemimpinan Daulah Islam -termasuk Syaikh Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah- tidak merekomendasikan buku as-Suri ini. Adapun buku ringkasan yang baik dan menguntungkan setebal 100-halaman berjudul "Idarah at-Tawahhush" ("Manajemen Chaos") yang ditulis oleh orang yang tidak dikenal kecuali dengan nama samaran"Abu Bakr Naji," maka ketika Syaikh az-Zarqawi membaca buku ini ia berkomentar, " Seolah-olah penulis tahu atas apa yang saya rencanakan".

Catatan: Meskipun buku Naji menjelaskan dengan sangat tepat strategi keseluruhan dari Mujahidin, tapi Naji terjatuh kedalam beberapa kesalahan dalam diskusi tentang isu-isu yang berkaitan dengan takfir dari pihak yang tegas menolak syari'at dan hukum-hukumnya. Manhaj salaf tentang masalah ini telah dijelaskan dalam Dabiq, edisi 10 halaman 56-57, edisi 8 halaman 43-46, dan edisi 6 halaman 19-20 (catatan kaki 3-4).

WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, PELIHARALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA

DABIQ 12 - ARTIKEL

WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN,
PELIHARALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA
Oleh : Abu Tsabit Al Hijazi

Tak lama sebelum berhijrah ke Syam, beberapa tahun yang lalu di sebuah bangsa salib di mana aku dibesarkan, ibu-ku mengatakan kepadaku bahwa dia baru saja berbicara dengan seorang teman keluarganya yang berada di belakang rumah dan bertanya tentang kondisi kami serta kondisi keluarga lain dari negara yang sama yang tinggal di Barat. Dia mengatakan kepada saya bahwa kami dalam keadaan baik-baik saja - dan pada sudut pandang dunia kami sebenarnya memang cukup baik – tapi pada kenyataannya, sebagaimana yang ibuku katakan, "Setiap keluarga yang datang ke sini menderita sebuah bencana atau mungkin lebih terkait dengan anak-anak mereka." Ia melanjutkan untuk memperjelas bahwa apa yang dia maksud adalah banyaknya pemuda Muslim di Barat yang tak terhitung jumlahnya yang terjerat ke dalam narkoba, alkohol, gengster, pergaulan bebas, dan kejahatan lainnya serta penyakit sosial di mana hal itu akan menjadi tangisan setiap keluarga muslim yang terhormat bila terjadi kepada anak-anaknya.

Dan meskipun kebiasaan buruk ini sangatlah mengerikan, tapi pada kenyataannya mereka masih banyak yang meremehkannya dengan memban-dingkan dosa-dosa ini dengan kufur akbar. Ini bukanlah untuk meremehkan perbuatan dosa, tapi hanya perspektif yang saya buat untuk memperjelas bahwa ini ditujukan kepada umat Islam yang mempertaruhkan Seluruh akhirat-nya dengan terus hidup di bawah otoritas tentara salib yang berperang melawan Islam atau di tanah yang diperintah oleh hukum buatan manusia dibawah pemerintahan Thawaghit murtad. Dalam beberapa kondisi, hanya mereka yang diberkahi saja yang mampu untuk bertahan hidup dengan Iman yang utuh bersama dengan segunung dosa yang harus dijawab di hari kiamat. Tetapi bahkan dalam kasus lainya, diantara mereka yang telah membuat keputusan untuk meninggalkan tanah seperti itu dan berhijrah ke Darul-Islam setelah Allah memberi mereka petunjuk dan membuka mata mereka atas situasi yang berbahaya ditempat mereka berada, kadang kala hal ini sering terlambat bagi sebagian keluarga mereka. Dalam banyak kasus, keputusan mereka untuk menyelamatkan diri sendiri hadir setelah mereka kehilangan anak-anak mereka, beberapa jatuh kedalam obat-obatan dan perzinaan, dan yang lainnya jatuh kedalam kekufuran, syirik, dan bahkan ateisme. Dan semua itu bermula di sekolah-sekolah.

Banyak dari mereka yang menyekolahkan anaknya ke sekolah orang kafir adalah orang yang "tidak berpendidikan"* yang tidak dapat mengajari anak-anak mereka sendiri, sehingga mereka bergantung pada orang lain untuk mengajari mereka. Banyak diantara mereka yang terbentur masalah keuangan, sehingga mereka tidak memiliki uang untuk mendatangkan guru Muslim secara privat yang bisa mengajari anak-anak mereka tanpa menyisipi konsep yang tidak Islami kedalam pelajaran mereka, dan dengan demikian mereka "dipaksa" untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah kufur, atau sebagaimana klaim mereka. Dalam kasus orang-orang yang bermigrasi ke Barat, banyak yang tidak dapat berbicara dalam bahasa asli tanah tujuan, jadi mereka menderita kerugian yang parah ketika memantau apa yang diajarkan oleh sekolah-sekolah kepada anak-anak mereka. Dan dari sanalah, permasalahan muncul.

*Ini adalah istilah yang digunakan untuk merujuk secara eksklusif untuk "pendidikan" Sekuler. Banyak orang yang telah ditipu untuk percaya bahwa "Pendidikan" sekuler adalah "kewajiban", sehingga begitu banyak dari mereka yang menganggap itu penting sebagai "hak" dari anak untuk membuang puluhan tahun di sekolah demi mendapatkan selembar kertas yang pada akhirnya itu mungkin tidak ada hubungannya dengan profesi di tempatnya bekerja! Selain itu, orang bisa menghafal Qur'an dan mempelajari Sunnah kepada ustad, tetapi jika ia -terlepas dari semua itu– tidak menyelesaikan "pendidikan" sekulernya, ia akan dicap sebagai manusia yang "tidak berpendidikan"!

Pada saat pertama kali Anak-anak menghadiri sekolah orang kafir, mereka langsung dikenalkan dengan konsep kufur nasionalisme, dimana mereka diwajibkan untuk berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan, dan di tempat-tempat seperti Amerika, bersumpah setia / membaiat beberapa simbol nasional seperti bendera, atau membaca slogan nasionalis, atau janji kesetiaan kepada raja Thaghut atau presiden, seperti halnya dengan tanah yang diperintah oleh Thawaghit murtad nasionalis. Intinya adalah untuk mengindoktrinasi mereka ke dalam sistem sedini mungkin dengan menghantam kepala mereka bahwa kesetiaan mereka yang pertama dan paling utama adalah untuk bangsa atau ras mereka, bukan kepada orang Islam, atau agama mereka, atau bahkan kepada Allah! Dan ini berjalan bertentangan dengan landasan fundamental Islam: wala' dan bara'.

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang” (Al-Ma'idah: 55-56).

Setelah dimulai dengan menghancurkan wala' dan Bara' mereka, sekolah kufur kemudian memperkenalkan anak-anak kepada Konsep "toleransi" di usia dini. Mereka mengajari untuk mentolerir dan menghormati agama-agama lain, padahal Allah berfirman, “Dan barang siapa mencarai agama selain islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi” (Ali 'Imran: 85) dan “wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (At Taubah: 28). Mereka mengajari anak-anak untuk mentolerir dan menghormati pelaku sodomi, meskipun Allah berfirman, “Dan Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, "mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kamu?” Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki dan bukan kepada perempuan, kamu benar-benar kaum yang melampaui batas" (Al-A'raf: 80-81).

Terlepas dari mengajari mereka untuk menerima segala macam penyimpangan agama dan sosial, sekolah-sekolah kuffar juga mewajibkan anak didiknya untuk mengambil bagian dalam berbagai festival kufur dan syirik, termasuk Natal, Halloween, dan Paskah, atau yang lainnya. Mereka mendandaninya, merias wajah mereka, menyanyikan lagu-lagu, menghadiri pesta-pesta, bertukar hadiah, dan mengambil bagian dalam drama sekolah yang diadakan di berbagai kesempatan.

Selain mengintegrasikan siswa dengan budaya yang penuh dengan kekufuran dan syirik, mereka juga mengajarkan berbagai konsep yang secara terang-terangan membatalkan ke-Islam-an seseorang, orang-orang kafir lalu berusaha untuk merusak mereka dengan memasukkan konsep anti-fitrah ke dalam kurikulum yang dapat menyebabkan mereka untuk mempertanyakan atau bahkan meninggalkan agama mereka. Ini adalah kasus bagi mereka yang menggunakan "prinsip-prinsip ilmiah" atau yang sering disebut "Metode ilmiah" sebagai alibi untuk mempertanyakan keberadaan Allah, meskipun Allah memberikan manusia daya faham akan panca indra untuk mengamati dan memikirkan tentang penciptaan sebagai sarana untuk meningkatkan kekaguman dan rasa hormat kepada-Nya, dan bukan bertujuan untuk menjerumuskan mereka kepada kekufuran dan atheisme.

“Sesunggunnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (Ali 'Imran: 190).

Ini hanyalah sebuah ilustrasi singkat dari racun yang menanti pemuda dan anak-anak dari ummat yang dikirim ke sekolah orang-orang kafir, baik itu di Negara tentara salib atau di Negara Thawaghit murtad. Setelah memahami bahaya dari anak-anak Muslim di seluruh dunia yang mungkin terjadi, seseorang hanya bisa bertanya tentang bagaimana bisa orang tua mereka rela melemparkan mereka ke dalam api dari sistem pendidikan Kufur ini!

Memang, membesarkan anak dalam Islam dan mengajari mereka untuk mengetahui dan mengakui kebenaran serta dapat membedakannya dengan kesesatan adalah kepercayaan dari Allah dan beban berat yang ditempatkan di atas pundak setiap orang tua muslim. Dan termasuk dalam hal ini, Dia harus memberi mereka contoh yang sangat baik untuk diikuti dan memprioritaskan apa yang harus diajarkan kepada anak-anak kita sesuai masanya.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar”." (Luqman: 13).

Diriwayatkan bahwa 'Ali Ibn al-Husain Ibn' Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (meninggal 94H) ketika mengajar anaknya, dia mengatakan, "Katakanlah, Aku beriman kepada Allah, dan aku mengkufuri Thaghut" (HR Ibnu Abi Shaybah dalam Musannaf nya di bawah bab yang berjudul "Apa yang yang diutamakan untuk Diajarkan kepada Anak Ketika Dia Pertama kali Belajar ").

Kemudian bagaimana dengan salah seorang yang telah Allah anugrahi dengan anak-anak, mereka bisa dengan beraninya mengabaikan dan meremehkan kepercayaan yang telah dibebankan atasnya oleh Allah dengan mengirimkan mereka untuk "diajari" oleh musuh-musuh Allah ?! Dan jika ada beberapa yang berkeinginan untuk menyatakan bahwa mereka tidak punya pilihan lain karena anak mereka akan diambil oleh otoritas kafir jika mereka menolak untuk mengirimkanya ke sekolah, maka saya katakan kepada mereka, Anda adalah orang-orang yang rela memilih untuk hidup seperti domba di wilayah serigala, jadi jangan menyalahkan serigala ketika ia datang untuk menggigit mangsanya! Apa yang mendorong Anda untuk menggiring keluarga Anda ke wilayah Tentara Salib sebagai pilihan pertama?, dan apa yang membuat Anda dan keluarga anda untuk tetap melangsungkan hidup diwilayah Thawaghit murtad, dan menolak untuk berhijrah ke Daulah Islam? Apakah itu sebuah niat yang tulus untuk menyeru orang-orang kafir dan Murtaddin kepada Islam -Semua aspek dalam Islam, termasuk yang tidak ditoleransi oleh musuh-musuh Allah?- Atau itu mungkin niat yang tulus untuk melawan mereka di tanah mereka sendiri? Atau itu hanya mimpi yang memperdayai Anda untuk mendapakan dunia ataukah itu keengganan Anda untuk mengorbankannya demi tujuan hijrah? Jika yang terakhir adalah jawabannya -dan mereka yang jujur akan mengakui bahwa itu adalah dosa- maka jangan berharap Allah akan memberkahi usaha Anda untuk tinggal dengan damai di tanah kufur demi mengejar kemewahan dunia ini, sementara anda mengabaikan perintah yang jelas dari Allah dan agama-Nya. Sebaliknya, Anda harus takut bahwa Dia akan menghukum anda di dunia ini - melalui anak-anak Anda, atau dengan cara lain - sebelum menghukum Anda di akhirat jika Anda menolak untuk sungguh-sungguh bertobat sebelum terlambat.

Dalam kasus ibu saya, dia sering menyatakan bahwa dilema yang dialaminya merupakan hukuman dari Allah, dan ia menunjukkan pengertiannya ketika saya akan mengungkapkan rasa jijik akan ide untuk membangun sebuah keluarga di antara orang-orang kafir atau mengirim anak saya ke sekolah kufur. Dalam salah satu percakapan kami tentang topik ini, ia menggambarkan kondisi salah satu dari saudara saya dan menyesalkan bahwa dia lebih baik hidup sebagai pengemis daripada bermigrasi demi kepentingan Dunia dan risiko kehilangan anak-anaknya dalam proses tersebut.

Bagi orang lain yang benar-benar peduli kepada putra dan putri mereka dan belum kehilangan mereka, tetapi telah membuat kesalahan yang sama dengan mengirimkan mereka untuk "dididik" oleh serigala dengan harapan yang salah untuk melihat mereka berhasil, saya menawarkan Anda dengan nasehat yang paling tulus dalam artikel ini sebelum itu sangat terlambat:

(Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu) (At- Tahrim: 6).

Semoga Allah melindungi umat Islam dan anak-anak mereka serta pemuda dari kerusakan yang ditimbulkan oleh tangan orang-orang kafir dan munafiqin.

DAN TERHADAP NIKMAT DARI RABBMU HENDAKNYA ENGKAU NYATAKAN

DABIQ 12 - ARTIKEL

DAN TERHADAP NIKMAT DARI RABBMU HENDAKNYA ENGKAU NYATAKAN

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diberi nikmat, kemudian dia menyebutnya, sungguh ia telah bersyukur. Dan jika ia menyembunyikannya, sungguh ia telah mengingkarinya” (Shahih: HR. Abu Dawud dari Jabir Ibnu 'Abdillah).

Al-Hasan Ibnu 'Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, "Jika engkau memperoleh nikmat / kebaikan, maka ceritakanlah kepada saudara-saudaramu."

Umar Ibn' abdil-Aziz rahimahullah (wafat 101 H) mengatakan, "menceritakan nikmat merupakan wujud rasa syukur."

Abu Nadrah rahimahullah (wafat 108 H) mengatakan, "kaum Muslimin biasanya memandang bahwa menceritakan tentang nikmat merupakan perwujudan terima kasih atasnya."

Al-Hasan al-Basri rahimahullah (wafat 110 H) mengatakan, "Biasakanlah untuk menceritakan nikmat, karena itu adalah bagian dari rasa syukur."

Qatadah rahimahullah (wafat 118 H) mengatakan, "menyebarkan kabar baik tentang sebuah nikmat adalah bagian dari terima kasih atasnya."

Al-Jariri rahimahullah (wafat 144 H) dan Yahya Ibnu Sa'id rahimahullah (wafat 143 H) keduanya berkata, "Dahulu dikatakan bahwa menghitung nikmat-nikmat itu adalah bagian dari rasa syukur."

Al-Fudhail Ibn 'Iyad rahimahullah (wafat 187 H) mengatakan, "Dahulu dikatakan bahwa membicarakan nikmat adalah bagian untuk menunjukkan terima kasih atasnya."

Ibn Abi al-Hawari mengatakan, "Fudhail bin Iyadh dan Sufyan bin Uyainah, keduanya duduk bersama di malam hari untuk saling mengingatkan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada keduanya. Sufyan mengatakan, ”Allah telah menganugerahkan kepada kita ini dan itu, Dia telah menolong kita tatkala ini dan itu..” Begitupun halnya dengan Fudhail."*

*Riwayat ini dari Salaf dan para ulama yang dikutip dan merujuk kepada tafsir ayat. Lihat "Ad-Durr al-Mantsur."

Kenikmatan terbesar yang diberikan kepada kaum Muslimin pada umumnya dan untuk para mujahidin khususnya adalah kebangkitan Khilafah, tubuh umat islam yang telah absen selama beberapa abad sejak runtuhnya khilafah Abbasiyah. Tidak ada yang dapat menyadari dan memahami nikmat ini melebihi mereka yang pernah hidup dinegara tentara salib di Barat, atau penduduk syam yang pernah tersiksa oleh Baath dan Thawaghit Nushairiyah, atau penduduk Syam yang dijarah oleh murtadin dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan sekutu nasionalisnya.

Ya, kebangkitan kembali Khilafah adalah nikmat yang tidak terbantahkan bagi mereka yang berusaha dan mengupayakannya, sehingga mereka bersyukur kepada Allah atasnya, dan ia tidak akan pernah bisa berhenti mengucapkan rasa syukur ini kepada-Nya. Salah satu contoh dari Dawud (‘alaihis salam) yang diriwayatkan bahwa ia telah berkata, "Ya Rabbku, bagaimana aku bisa bersyukur atas nikmat-Mu sementara aku saya tidak bisa bersyukur kecuali dengan nikmat-Mu?" kemudian Allah mewahyukan kepadanya, "Wahai Dawud, tidakkah engkau mengetahui bahwa nikmat yang engkau miliki itu adalah dari-Ku?" Dia menjawab, "Tentu saja Rabbku." Allah berkata kepadanya, "Aku Puas dengan rasa syukur seperti itu darimu." (HR Imam Ahmad dalam "Az- Zuhd").

Kami juga memiliki contoh dari Musa ‘alaihis salam yang diriwayatkan bahwa ia telah berkata, "Ya Rabbku, bagaimana aku bisa bersyukur sementara aku tidak mampu mengganti nikmat terkecil dari nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dengan semua amalku?" Maka Allah berfirman kepadanya, "wahai Musa, sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku" (HR Imam Ahmad dalam "Az-Zuhd").

Ya, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberkahi kita dengan menghidupkan kembali Khilafah bagi kita melalui tentara dari Daulah Islam. Dia juga memberkahi kita dengan meng-izin-kan kita untuk bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang besar ini. Dan tidaklah semua ini tercapai kecuali atas kehendak-Nya sendiri.

Keterasingan

Keterasingan adalah suatu kondisi dimana Muslim yang tinggal di Barat yang tidak dapat melarikan diri selama dia tetap berada diantara pasukan salib. Dia adalah orang asing di antara orang Kristen dan kaum liberal. Ia adalah orang asing di antara pezina dan pelaku sodomi. Dia adalah orang asing di antara pemabuk dan pecandu obat-obatan. Dia adalah orang asing dalam iman dan perbuatannya, yang ketulusan dan penyerahan dirinya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala saja, sedangkan orang-orang kafir dari Barat mereka menyembah dan mentaati pendeta, badan legislatif, media, nafsu kebinatangan serta keinginan menyimpang mereka. adalah aneh Bagi mereka jika ada seseorang yang memanifestasikan penyerahan diri secara tulus untuk Tuhan-Nya dalam kata dan perbuatan.

Sungguh aneh orang yang bekerja untuk akhirat dan lebih mempropritaskannya daripada dunia. Sungguh aneh ketika seseorang tidak memburu nafsunya seperti binatang atau bahkan percobaan atas keinginannya yang menyimpang seperti setan! Mereka seperti kaum Sodom yang terkutuk yang mengatakan tentang Luth ‘alaihis salam, "Usirlah mereka (luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci" (Al- A'raf: 82).

Penyimpangan yang merata ini –sebagaimana dinubuatkan dalam Sunnah– bertentangan dengan fitrah dari manusia, apalagi Muslim yang telah dianugerahi oleh Tuhannya untuk menggenggam erat fitrah dari ketulusan, kemurnian, dan moralitas. Dan meskipun orang Mu'min yang asing ini diberkahi dalam Sunnah dari Rasulullah, seorang Mu'min tidak akan membuat Islam menjadi aneh. Kecuali jika ia berusaha untuk menghidupkan kembali dan menyebarkan Islam serta membuat jahiliyah terancam atau malah melenyapkannya.

Dengan demikian, Muslim di Barat selalu berada dalam pertempuran yang terus-menerus. Fitrahnya selalu berperang melawan kecenderungan menyimpang kuffar yang mengelilinginya. Pertempuran yang tidak mengenal gencatan senjata untuk melindungi fitrah dan imannya. Jika dia ingin melindungi iman yang hanya sebesar biji shallallahu ‘alaihi wasallami yang telah dikaruniakan kepadanya, ia harus menguras tenaganya semaksimal mungkin untuk hanya tetap bertahan sebagai seorang Muslim saja, apalagi untuk menjadi seorang Mu'min yang berjihad?. Jika ia meninggalkan perjuangan atau hanya sesekali saja, ia akan segera menemukan dirinya sebagai seorang murtad.

Kesulitan lain yang ada di Barat adalah bahwa pada umumnya tidak ada masjid yang berdiri kecuali masjid Dhirar atau masjid yang dijalankan oleh Ikhwan, para sufi, para Madakhilah, Sururiyah, Jama'ah Tabligh, Deobandis, dan modernis yang menyimpang. Hampir tidak ada Masjid di mana seseorang dapat mencari perlindungan dari bid'ah dan dimiliki oleh komunitas orang-orang “asing”. Jika disana ada dakwah yang lurus, maka akan bertentangan dengan pihak menyimpang yang mengendalikan "Masjid" itu.

Secara umum, ini adalah kasus yang paling sering ditemui oleh seorang Muslim ketika tinggal di Barat. Ia merasa dirinya orang asing dan selalu mencari tempat di mana ia dapat mengamalkan Islam secara menyeluruh, terutama jika ia berharap untuk berjihad, maka ia akan berada dalam ancaman dan penganiayaan badan intelijen tentara salib. Dia tidur setiap malam dengan pisau atau pistol di sampingnya, khawatir akan ada penggerebekan pada malam atau dini hari dirumahnya, hanya karena ia selalu mengingatkan dirinya dan orang lain dengan kewajiban dari jihad.

Ini adalah apa yang saya rasakan di Barat dan karenanya saya lari bersama agama saya menuju Syam beberapa tahun sebelum "Revolusi Suriah”.

Saya langsung merasakan perbedaan ketika berada diantara orang-orang Syam. Saya tidak lagi merasa asing untuk hanya melaksanakan beberapa kewajiban Islam yang mungkin akan menciptakan gelombang hebat bila dikerjakan di Barat. Tapi masih banyak yang kurang di Suriah ini. Memiliki jenggot akan memunculkan kecurigaan dari aparat keamanan murtadin. Mengangkat tangan sebelum dan sesudah ruku' juga menarik perhatian mereka karena mereka akan menuduh Anda salafi. Mencari ilmu agama juga memicu kecurigaan mereka. Niat untuk berjihad juga suatu kejahatan. Permusuhan terhadap Thaghut juga kejahatan. Takfir kepada Rafidhah, Nushairiyah, dan Baath adalah kejahatan juga. Dan aku terus merasa asing di Syam, meskipun kadar dan sifat keterasingannya masih kurang parah dibanding dibarat.

Di sana, kerabat dan teman hanya berbicara tentang Dunia. Lidah mereka sibuk dengan harga barang pokok dan dekorasi rumah mereka. Bila tidak, mereka akan saling memfitnah. 'Aqidah dan jihad merupakan hal yang asing untuk sebagian besar masyarakat. Mereka telah dirusak oleh "agama" yang dipelihara oleh "ulama" rezim pemerintah dan "agama satelit”. Aku harus berdebat dengan beberapa orang yang berpikir bahwa Jamal Abdil Nasir, Bashar Al-Assad, Nasserites, Baathists, dan Thawaghit Arab dan Murtaddin lainnya adalah "Muslim"! Aku harus berdebat dengan orang yang berpikir bahwa Rafidhah, Hasan Nasrullat, dan Hizbullat adalah "Muslim" atau bahkan "Mujahidin"! yang paling parah adalah ketika saya harus berdebat dengan orang-orang yang berpikir bahwa Nushairiyah adalah "Muslim"! Aku bahkan harus berdebat dengan beberapa yang berpikir bahwa mencari syafaat dari orang mati atau mengutuk agama itu benar-benar hal "normal"!

Ini sangat mengejutkan, mengingat saya selalu memiliki asumsi yang baik tentang orang-orang yang tinggal di negeri-negeri Muslim' dan mengasumsikan bahwa Thawaghit murtad tidak akan berhasil merusak agama kecuali orang yang bodoh saja. Suasana disana juga sedikit berbahaya, itu karena Dunia yang diprioritaskan oleh kebanyakan orang sehingga mengikis perjuangan seseorang untuk berjihad. Itu adalah keterasingan lainnya yang harus saya hadapi.

Beberapa tahun kemudian, saya mengamati "Musim Semi Arab" yang melompat dari Tunisia ke Mesir ke Libya dan ke Yaman. Saya berharap bahwa kekacauan yang ditimbulkan oleh "Musim Semi Arab" akan datang ke Syam, karena itu akan memudahkan kebangkitan jihad di sana. Pada saat yang sama, saya berpikir bahwa orang-orang syam tidak akan bergerak karena banyaknya pembantaian atas orang Syam yang telah dilakukan oleh Rezim selama awal "1980" di Halab, Hamah, Tadmur, Jisr Ash-Shughur, dan tempat lain, dan juga karena agama mereka telah dirusak selama lima puluh tahun pemerintahan Baath, itu selain kecondongan mereka kepada dunia. Tapi ternyata Aku salah, karena beberapa pemudalah yang memulai pergerakan, mereka yang hanya mendengar pembantaian ini dalam cerita dari orang tua untuk menakut-nakuti mereka agar bersikap apatis. Saya bertemu dengan beberapa pemuda ini, lalu bekerja sama dengan mereka yang religius, dan memperoleh wawasan langsung didalam sifat demonstrasi ini.

Sayangnya, sebagian besar demonstran tidak berdiri diatas dasar Islam. Kebanyakan mereka sekularis yang menyerukan adanya Thaghut baru dalam demokrasi, yang ikut mengucapkan "Allahu Akbar" hanya karena latar belakang dan budaya tempat mereka dibesarkan, dan bukan karena mereka meyakini bahwa Allah maha besar dan memiliki hak mutlak dalam membuat undang-undang. Banyak dari mereka yang menghadiri Shalat tarawih atau Jumat hanya untuk bergabung dengan demonstran, tapi sebaliknya, mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan sholat ataupun Masjid.

Saya sendiri harus berdebat dengan sekuleris yang datang menghadiri pemakaman seorang pria yang bermanhaj jihadi yang meninggal didalam penjara Rezim Nushairiyah. Saya mengatakan kepada sekuleris sesaat sebelum pemakaman: "Saya menasehatkan kepada Anda untuk bertobat dari sekularisme sebelum pemakamanmu. Jika tidak, maka bila Anda mati Anda akan berada didalam neraka." Dia tidak mendengarkan nasehat saya, dia malah berteriak dan berpendapat bahwa nasionalisme Suriah dan pemisahan agama dan negara bukanlah sekularisme! Ini karena pemikiran bodoh yang menyimpulkan bahwa sekularisme adalah kata lain dari atheisme.

Pada insiden berikutnya, aku akhirnya di penjara untuk beberapa waktu setelah tertangkap oleh murtad Shabihah. Aku berada di sebuah ruangan dengan enam puluh tahanan yang semuanya juga ditangkap karena terkait dengan demonstrasi. Sayangnya, tidak lebih dari sepuluh orang yang shalat lima waktu dari enam puluh tahanan itu! di antara tahanan tersebut tidak sedikit yang mengutuk agama. Dan masa penahanan saya hanya seminggu, Alhamdulillah.

Di antara para demonstran, ada juga orang-orang yang berpikiran "Islam" yang mengakui bahwa Burhan Ghalyun dan Dewan Nasional Suriah adalah kafir, tapi ia mengklaim bahwa itu bukan waktu yang tepat utuk menyatakan takfir kepada mereka! (Ada juga pengklaim jihad online yang mengatakan bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk jihad karena itu akan merusak citra "revolusi"). Sekali lagi, ini adalah keterasingan baru yang harus dihadapi.

Sebagaimana demonstran menjadi lebih militan, slogan-slogan yang diangkat oleh berbagai nasionalis dan sekuleris juga menjadi lebih militan. Kehadiran Daulah Islam di arena –pertama kali bernama "Jabhah an-Nushrah," kemudian bernama Daulah Islam Iraq dan Syam (sebelum kebangkitan dari Khilafah)– memaksa penggambaran politik dan agama di Syam bergeser. Sekularis dan nasionalis sekarang berada dalam perlombaan propaganda dengan Mujahidin. Tentara Pembebasan Suriah (FSA), faksi yang didukung Thaghut, dan semua faksi proxy dari tentara salib juga berusaha menarik simpati dari masyarakat awam di Syam, yang pada umumnya jahil atas hukum Islam dan tidak menyukai sekulerisme. Sangatlah sulit untuk meyakinkan seorang Muslim atau bahkan orang awam bodoh pengklaim islam untuk memilih yang terbaik diantara terbunuh demi sedikit uang atau mendapatkan sebuah tempat didekat Allah di surga. Dan begitu banyak sekularis dan nasionalis menjadi lebih "Islam" (permukaannya saja), dan beberapa dari mereka bahkan bergabung dan menyusup ke beberapa faksi yang lebih "Islami".

Sebelum memiliki kesempatan untuk bergabung dengan Daulah Islam yang telah memasuki Syam dengan nama "Jabhah an-Nushrah", Aku telah bertempur di beberapa pertempuran bersama beberapa faksi lokal yang mengaku memperjuangkan Syari'ah; dan itu sebelum bantuan dari luar negeri yang menyebabkan kemunafikan mereka muncul ke permukaan. Nasionalisme dan kebanggaan lokal telah mengakar dan hal ini tidak bisa mereka hilangkan dari diri mereka sendiri. Mereka yang berasal dari pedesaan selalu sesumbar dengan bangga bahwa mereka dari pedesaan dan bukan dari kota. Mereka yang dari suatu kampung akan selalu membanggakan bahwa mereka berasal dari kampung itu dan bukan kampung lainnya. Merokok di bulan Ramadhan adalah salah satu kebiasaan diantara pejuang ini. Tidak jarang mereka mengutuk agama ketika marah. Perampokan rakyat biasa dan pencurian rampasan perang semakin menyebar. Saya lalu menyadari bahwa mereka adalah calon Shahawat yang menunggu sponsor untuk mengaktifkan mereka. Alhamdulillah, saya bisa bergabung dengan Daulah Islam, yang waktu itu disebut "Jabhah an-Nushrah". Dengan demikian, beban berat keterasingan cukup berkurang.

Tapi itu bukanlah perberhentian terakhir. Kami dikelilingi oleh tentara murtad FSA dan faksi munafik yang bersembunyi sambil menunggu untuk mengumumkan wala mereka untuk demokrasi dan Thawaghit. Setiap Muhajir yang dicari oleh tentara salib atau Thawaghit sangat berhati-hati akan kemunafikan ini, karena tidak ada hal yang dapat mencegah mereka dari menangkap dan menyerahkannya kepada kuffar. Faksi Munafik ini selalu menyebabkan masalah bagi Muhajirin, seolah-olah mereka diperintahkan untuk melakukannya oleh tentara salib dan Thawaghit. Itu adalah bentuk lain dari keterasingan yang harus saya hadapi.

Kepemimpinan Daulah Islam sangatlah bijaksana dan memerintahkan untuk beroperasi dengan nama "Jabhah An-Nusrah" yang secara umum bersih dari faksi menyimpang. Tapi banyak Pemimpin di "Jabhah An-Nusrah" yang dari Suriah telah mendekatkan diri dengan faksi yang menyimpang, hanya karena mereka memiliki hubungan kerabat atau mantan rekan kerja di faksi tersebut. Mereka lalu menjadi sensitif dengan konsep wala' dan bara' serta sam'u (mendengarkan) dan tha'ah (mematuhi). Mereka membenci kritik kepada faksi-faksi itu. Mereka mengeluhkan perintah dari pemimpin Daulah Islam untuk menghindari -sebanyak mungkin– kerjasama dengan faksi yang menyimpang. Mereka mengkritik perintah untuk memisahkan diri dari faksi-faksi itu. Mereka bahkan menjadikan kehadiran Muhajirin sebagai kambing hitam atas semua masalah antara "jabhah" dan faksi-faksi lain. Mereka mencoba untuk membatasi kehadiran Muhajirin secara Perlahan-lahan. Dan perintah ini diberikan oleh Abu Ahmad Zakkur Di Halab –mantan pemimpin wilayah Halab yang ditunjuk oleh Jaulani. Itu kurang lebih dua bulan sebelum pengumuman resmi berdirinya Daulah Islam Iraq dan Syam.

Pengumuman resmi yang diberkahi ini membuat Syam terbagi menjadi dua kelompok yang berbeda serta memudarnya zona abu-abu. Polarisasi / pengerucutan ini juga dibantu dengan pergeseran alamiah dalam agama dan politik. Faksi nasionalis dan kriminal lalu berpura-pura mengubah nada mereka menjadi "Islami", dan kemunafikanpun akan beresonansi. Tiba-tiba berbagai faksi mengubah bendera dan nama mereka untuk tampil lebih "Islami". Mereka mencampurkan pesan nasionalis mereka dengan kata-kata yang bisa ditafsirkan secara “islami” oleh seorang pemuda yang naif. "Islamisasi" permukaan faksi ini dilakukan hingga tiga bulan sebelum hadirnya Shahawat yang memulai proses de-"Islamisasi".

Bahkan pengkalim jihad yang bersekutu dengan nasionalis dan faksi sekuleris mengubah “nada” mereka. Tiba-tiba mereka mengakui dan menerima kehadiran Muhajirin dan mendengungkan takfir kepada Thawaghit, setelah berbulan-bulan mengklaim itu hingga akhirnya mereka malah "merusak" jihad.

Kemudian datanglah peristiwa (pengkhianatan) Shahawat, tapi tidak seperti Shahawat Iraq pada tahun "2006/2007" yang mampu memaksa Daulah Islam keluar dari kota-kota dan tinggal di padang pasir, Shahawat syam memandang Daulah Islam tidak punya pengalaman sebelumnya dalam mengkonsolidasikan pasukan akan pengkhianatan seperti ini. Tapi secara mengejutkan wilayah-wilayah besar seperti al-Khair, ar-Raqqah, Hims, Halab timur, dan al-Barakah secara eksklusif berada di bawah kekuasaan Daulah Islam dengan tanpa faksi munafik atau murtad apapun yang memperebutkan kekuasaan didalamnya. Perluasan Daulah Islam setelah konspirasi Shahawat diikuti dengan konsolidasi lebih lanjut di Iraq serta kebangkitan Khilafah. Dan tiba-tiba Muhajir dapat melakukan perjalanan dari al-Bab dan Manbij di Syam ke Mosul dan al-Fallujah di Iraq tidak takut apapun kecuali ban kempes.

Khilafah telah dibangkitkan kembali, dan Muhajirin dari seluruh penjuru bumi seakan tumpah ke tanah Syam pada tingkat yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Tidak seorangpun yang merasa asing sebagaimana yang ia alami di tanah tentara salib atau di tanah Thawaghit maupun di wilayah yang dikuasai faksi nasionalis. Dialah tuan diatas tanahnya sendiri, di mana aqidahnya dijunjung tinggi dan manhajnya ditegakkan, aqidah dan manhaj Islam, Sunnah, dan Jama'ah. Tidak ada ikhwanisme, Irja', ataupun hizbiyah.

Setelah hampir dua puluh tahun hidup di bawah penindasan dari tentara salib dan murtad, seseorang akhirnya bisa menjalani Kehidupan Islami dengan keselamatan dan keamanan yang terjamin. Dia mampu mempraktekan imannya dalam jihad tanpa khawatir intelijen kafir tiba-tiba menggerebek rumahnya. Dia bisa menyatakan Takfir atas Thawaghit dan Murtaddin tanpa takut hukuman penjara. Dia bisa membesarkan anak-anaknya jauh dari sistem sekolah orang-orang kafir tanpa takut akan dinas layanan sosial yang akan menculik anak-anaknya.

Dan ia tidak lagi terasing di dalam masyarakatnya sendiri. Dia dikelilingi oleh Mujahidin muwahhid. Ia akan dengan mudah menemukan beberapa mujahidin selain dirinya yang berjalan pada setiap jalan utama di dalam kota di Daulah Islam. Bila dia pergi ke Masjid atau bahkan toko-toko ia akan menemukan keakraban mujahirin dan Ansar. Banyak masyarakat umum yang tidak sabar menuju ma’had syar’i untuk belajar dan berlatih agama mereka. Percakapan mereka banyak yang menjadi, "Apakah ini dan itu adalah bid'ah? Apakah ini dan itu adalah Sunnah?" Setelah bertahun-tahun percakapannya hanya tentang Dunia saja.

Keterasingan yang berat telah terangkat. Satu-satunya keterasingan yang dihadapi adalah aliansi tentara salib, aliansi Shahawat, dan aliansi Safawi. Tapi kami menyambut keterasingan ini, karena itu adalah kunci untuk Syahadah dan Jannah.

Ya Allah….. segala nikmat yang ada pada kami ini hanyalah dari-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan hanya kepada-Mu lah segala puji dan syukur, ya Allah….. lindungilah Khilafah karena ia adalah nikmat terbesar bagi kami hingga Nabi Isa ‘alaihis salam turun untuk memimpin kami. Ya Allah….. jadikanlah kami sebagai hamba yang pandai bersyukur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka tidak bersyukur kepada Allah" (HR Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dan Khilafah ini tidak akan aman jika bukan karena Allah yang menjaga garis depannya. Semoga Allah membalas murabitin, muqatilin, dan Syuhada' dengan balasan yang sangat besar baik di dunia dan Akhirat.

Dan segala puji hanya bagi Allah yang telah memberkahi semua nikmat hingga selesai.

DUA, TIGA, ATAU EMPAT

DABIQ 12 - MUSLIMAH

DUA, TIGA, ATAU EMPAT
Oleh : Ummu Sumayah Al Muhaajirah

Dengan menyebut Asma Allah, Raja dari segala sesuatu, yang telah men-syari’at-kan pernikahan dan melarang perzinaan, yang telah menciptakan kami dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Rosulullah beserta keluarga dan para Shahabatnya, dan atas siapapun yang mengikuti Sunnah-Nya dan istiqamah di jalannya sampai Hari kiamat. Amma ba’du:

Sesungguhnya, ketika syari’at Allah disingkirkan, maka hukum dan pemerintahan orang-orang kafir mendapatkan kekuasaan di tanah Muslim, Islam ditinggalkan secara memalukan, dan wajahnya berbalik menuju arah Eropa yang kacau, bid’ah bermunculan dan bersamanya muncul suara yang memusuhi siapapun yang memegang teguh agamanya, dan mereka yang mengatur dengan selain hukum Allah subhanahu wa ta'ala itu layaknya kanker yang menggerogoti habis tubuh umat. Mereka mengharamkan / melarang apa yang Allah wajibkan / izinkan, dan mereka mewajibkan / membolehkan apa yang Allah haramkan / larang, dan salah satu syari’at yang paling nyata yang mereka hancurkan dengan fitnah keji untuk membela perempuan dan hak-hak mereka –sebagaimana klaim mereka- adalah syari’at poligini.

Mereka memanfaatkan setiap mimbar dengan tujuan untuk memfitnah poligini, termasuk mimbar parlemen kufur dan saluran TV sekuler, dan mereka menempatkan di panggung ini anjing yang selalu menggonggong, yang membodohi orang-orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui kebodohan mereka. Kata-kata beracun mereka merayap jauh ke dalam hati perempuan-perempuan dari tanah kaum muslimin, hingga sampai pada titik bahwa kita hampir tidak bisa menemukan wanita lajang yang menerima poligini ini, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah.

Allah subhanahu wa ta'ala telah mengatakan dengan jelas dalam wahyu-Nya, (Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zhalim. QS. An-Nisa': Ayat 3).

Ini adalah sebuah ayat yang sangat jelas, seterang matahari di yang tidak memerlukan Penjelasan ataupun penafsiran yang panjang. Oleh karena itu wahai hamba Allah, engkau diperbolehkan untuk menikahi dua, tiga, atau empat perempuan, kecuali engkau takut atau khawatir bahwa engkau tidak mampu berlaku adil terhadap mereka atau tidak sanggup untuk memenuhi hak-hak mereka, maka engkau dalam hal ini cukup dengan satu istri saja.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Pernyataanya (dua atau tiga atau empat) (An-Nisa ': 3) berarti Nikahilah wanita yang kalian sukai selain wanita yang yatim tersebut. Jika kalian ingin, maka nikahilah dua, atau tiga atau jika kalian ingin lagi boleh menikahi empat wanita."

Islam bukanlah yang pertama kali memperkenalkan poligini. Akan tetapi, poligini hadir dalam syari'at dari orang-orang sebelum kita. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, "Sulaiman bin Dawud 'alaihis salam berkata, "Sungguh malam ini aku akan menggilir seratus isteriku, atau Sembilan puluh Sembilan yang kesemuanya akan melahirkan laki-laki penunggang kuda yang berjihad fi sabilillah...." (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Dan yang aneh adalah bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen mengejek kaum Muslimin yang menghormati poligini, namun jika mereka mau melihat ke dalam kitab suci mereka sendiri, mereka akan mengetahui bahwa poligini itu telah disampaikan dalam agama mereka, dan itu dinyatakan dalam injil mereka bahwa Ya'qub 'alaihis salam memiliki dua istri dan dua budak, dan juga Dawud 'alaihis salam memiliki sejumlah istri dan budak, seperti yang disebutkan dalam 2 Samuel (5: 13) dan 1 Samuel (25: 42-44). Mereka juga menyatakan bahwa Sulaiman 'alaihis salam memiliki 700 istri dan 300 budak, sebagaimana disebutkan dalam 1 Raja-raja (11: 3).

Mereka juga menyatakan Rahba'am (Rehoboam) Ibnu Sulaiman, yang menurut mereka menggantikan ayahnya sebagai raja, memiliki 18 istri dan 60 budak. Dengan demikian, orang-orang dari bangsa sebelum kita sudah terbiasa dengan banyaknya istri, dan hal ini telah di perbolehkan dalam syari'at orang-orang sebelum kita. Kemudian syari’at Islam datang dan mendefinisikan jumlah tertentu dari istri yang diperbolehkan yaitu maksimal 4 istri, sedangkan untuk budak maka itu tidak ada batasan. Dan tidak boleh ada Muslim yang melanggarnya.

Salim meriwayatkan dari ayahnya bahwa Ghaylan Ibn Salamah Ats-Tsaqafi memeluk Islam dan memiliki 10 istri pada saat itu. Kemudian Nabi Nabi Shallallahu alaihi wassalam berkata kepadanya, "Pilihlah empat dari mereka" (HR. At-Tirmidzi dalam kitab an-Nikah pada sub tema berjudul, "Bab: Apa yang harus dilakukan seorang Pria ketika memeluk Islam Sementara ia Memiliki Sepuluh Istri;" Ibnu Majah juga meriwayatkannya dalam "kitab an-Nikah" pada sub tema berjudul, "Bab: lelaki yang masuk Islam Sementara ia Memiliki Istri Lebih dari Empat ").

Sungguh, dalam pen-syari’at-an poligini ini mengandung banyak kearifan. Diantaranya adalah bahwa perempuan lebih besar jumlahnya daripada laki-laki yang menghadapi banyak bahaya dan kesulitan dalam hidup mereka, seperti perang, pekerjaan berbahaya, dan bencana. Demikian juga, laki-laki muda cenderung lebih menyukai perawan dari pada menikahi janda (baik janda karena kematian atau perceraian), jadi siapa yang kemudian akan menikahi sekelompok perempuan ini?

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mungkin menetapkan / memberi ujian seorang wanita dengan infertilitas (kemandulan), disini Islam telah memberi jalan keluar dengan mengizinkan lelaki yang beristri mandul ini untuk menikah dengan wanita lain dengan tetap menjaga kehormatan dan dukungan terhadapnya daripada menceraikannya.

Dan Juga sisi lain kearifan dari poligini adalah bahwa wanita itu sebagaimana kodratnya, akan mengalami beberapa fase dalam hidupnya, fase di mana ia tidak akan mampu untuk memenuhi hak-hak suaminya, seperti menstruasi, melahirkan, dan pendarahan ketika mengandung. Jadi selama fase tersebut dia dapat mendatangi istrinya yang lain, sehingga dapat mencegahnya jatuh kedalam sesuatu yang dilarang atau hal yang mencurigakan. Tapi, demi Allah, jika tidak ada kebajikan dalam poligini selain fakta bahwa itu adalah Sunnah kenabian dari manusia yang terbaik, maka kita akan menulikan telinga jika ada orang keras kelapa yang menentangnya, dan kita akan mencukupkan diri dengan itu sebagai bukti.

Kenyataan tentang banyaknya orang yang menentang syari’at poligini telah membakar sebagian jiwaku dan membuat hati para muwahhid berdarah, mereka menentangnya baik secara langsung maupun tidak langsung, dan telah hilang dari perempuan-perempuan buta dan sekarang hanya bersemayam di hati beberapa wanita pencari ilmu dan wanita yang mematuhi aturan syari’at. Hal ini menjadi seperti itu setelah seruan dari musuh-musuh Allah, agama, dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wassalam menemukan jalan untuk meragukan syari’at ini dan menyebarkannya, mereka menyatakan, "Tidak untuk poligini. Poligini adalah penindasan terhadap perempuan." Dan cukuplah Allah bagi kita.

Dan saya merasa sedih untuk mengatakan bahwa beberapa dari mereka, dalam permasalahan ini dapat mencapai titik dimana mereka mengucapkan perkataan kufur – dan hanya Allah tempat berlindung- atau pernyataan yang bisa menyiratkan kekufuran. Anda akan menemukan dia berkata (setelah Setan membisiki dan menambahinya dengan kedustaan), "Akan ku taati apa pun selain poligini, apa pun itu kecuali syari’at ini. Ya Allah maafkanlah aku, tapi aku tidak bisa menghadapinya, tidak untuk diriku sendiri maupun untuk wanita lain." Dan bahkan seorang wanita pernah mengatakan kepada saya: "Apakah kau ingin aku melakukan kekufuran dan menjadi murtad? Jika saya melihat dia bersama wanita lain maka itu akan menjadi fitnah bagi saya, maka demi menjaga kepatuhan akan agama, saya akan meninggalkan rumah dan pergi dari sisinya!" kemudian ada seorang wanita yang bertanya kepada temannya, "Ketika Allah membebaskan suamimu setelah dipenjara selama bertahun-tahun, kemudian ia ingin menikahi seorang wanita lagi, maka apa yang akan kamu lakukan, apa kamu ingin ia tetap dipenjara atau melihatnya menikah lagi?" dia menjawab dengan terang-terangan, dia berkata "Saya lebih suka ia tetap dipenjara, dan itu lebih mudah bagi saya daripada melihatnya menikahi istri kedua!"

Kasihanilah kami ya Allah! Bagi seorang Muslim, suami muwahhid yang kembali dipenjarakan oleh Rafidhah atau kafir dan menjadi sasaran terburuk dari berbagai jenis siksaan, itu lebih mudah diterima bagi seorang Wanita yang cemburu melihat suaminya keluar dari penjara dan mempraktekkan sebuah hukum dari hukum-hukum Allah? Ini semua merupakan contoh disamping pernyataan berbahaya lainnya yang tidak dipikirkan dengan masak-masak oleh wanita sebelum mengatakannya, yang mungkin akan melemparkan mereka ke dalam api neraka, dan hanya Allah tempat mencari perlindungan.

Dan berapa banyak wanita di tanah kaum muslimin menampilkan "ketidakpuasan" mereka terhadap poligini! Aku pernah duduk dengan beberapa perempuan dan menasehati mereka, dan aku menemukan bahwa banyak diantara mereka yang nada bicaranya mencerminkan bahwa "ketidakpuasan" ini sebenarnya adalah kebencian akan syari’at itu sendiri, Iblis Terkutuk telah mempercantiknya hingga para wanita meremehkannya, dengan mengatakan, "Anda hanya tidak menginginkannya untuk suami Anda, dan Anda tidak dapat disalahkan atas penolakan ini!" Jadi di sini saya memperingatkanya, dan saya mengingatkannya akan firman Allah,

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa ': 65).

Jadi di mana ketundukanmu dan di mana ketaatanmu akan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebijaksanaan-Nya? tidaklah Engkau disebut sebagai seorang "Muslimah" kecuali karena engkau telah menyerahkan diri secara utuh kepada Allah dengan tauhid, yang dengannya akan menghasilkan ketaan yang utuh kepada-Nya!

Dan berapa banyak para penuntut ilmu dari kalangan muhajirah yang saya yakini mereka sebagai yang terbaik diantara para wanita, ketika saya singgung masalah ini mereka benar-benar berbalik arah dan hampir saja mempromosikan slogan dari sekularis tanpa disadarinya. Dan Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Sebaliknya, ada diantara mereka yang memuji Allah ketika suaminya syahid sebelum menikahi beberapa istri lagi, dan Sesungguhnya Kita adalah Milik Allah Dan Kepada-Nya Kita akan Kembali! Dan Untuk orang-orang seperti dia maka saya katakan: Mengapa Anda hijrah? Bukankah itu untuk menerapkan syari'at Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan bukankah poligini merupakan bagian dari syari'at ini?

Ketahuilah bahwa barangsiapa yang telah menghormati wanita Muslim dan telah memberikan hak-haknya serta melindunginya dari rencana jahat orang fasik, maka ia adalah salah seorang yang telah diizinkan untuk menikahi siapa saja wanita yang menarik hatinya. Dan berdasarkan itu, maka tidak diperbolehkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mendebat syari'at Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau untuk menerima apa yang menyenangkan hatinya dan menolak apa yang tidak sesuai dengan keinginan dirinya.

Bisyr al-Hafi rahimahullah (meninggal 227H) mengatakan, "Setiap bencana bermula dari mengikuti hawa nafsumu, dan semua obatnya terletak dalam penentanganmu kepada mereka" (Sifat Ash-Shafwah).

Sesungguhnya, agama ini telah sempurna dan tidak dapat dipilih-pilih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.) (Al-Baqarah: 85).

Jadi berhati-hatilah saudariku dari menjadi bagian di antara orang-orang seperti itu, berhati-hatilah ketika Anda membiarkan kecemburuan buta menuntun Anda untuk tidak menyukai ketetapan syari’at ini, dan yang saya khawatirkan adalah Anda akan jatuh ke dalam kemurtadan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “yang demikian itu karena mereka membenci apa (al-Qur’an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka” (Muhammad: 9).

Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah rahimahullah menyatakan ketika menafsirkan ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu dapat terhapus sedangkan kamu tidak menyadari” (Al-Hujurat: 2), "Jadi jika mereka hanya meninggikan suaranya di atas suara Nabi menjadi penyebab terhapusnya amalan mereka, maka berapa banyak lagi amalan yang terhapus ketika mereka meninggikan pendapat mereka, akal mereka, hawa nafsu mereka, diatas semua yang Nabi bawa bersamanya? Apakah ini tidak lebih pantas menjadi penyebab dari pembatalan amal perbuatan mereka? " (I'lam al-Muwaqqi'in).

Setiap Muslimah harus faham bahwa adalah normal baginya untuk cemburu dan merasa sedih jika suaminya menikah lagi dengan wanita lain, sedangkan kita tidaklah lebih baik dari ummul mukminin, 'Aisyah radhiyallahu anha as siddiqah putri Ash-Shiddiq, yang juga cemburu sebagaimana telah banyak diriwayatkan. Namun, dia tidak pernah menentang apa yang telah diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga tidak mencegah suaminya –Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam– untuk menikahi wanita lainnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha dan juga ayahnya tidak pernah berdiri dan berkata, "pilih aku atau dia atau ceraikan aku dan menikahlah dengannya." dia tidak melakukannya sejauh itu!

Setan –mungkin setan dari kalangan wanita– akan mengatakan kepada Anda, "Jika ia mencintai Anda, dia tidak akan menikahi wanita lain saat menikah dengan Anda." Maka katakanlah kepadanya, "Nabi kami Shallallahu ‘alaihi wassalam menikahi tujuh wanita setelah beliau menikahi 'Aisyah radhiyallahu ‘anha sementara ia adalah orang yang paling beliau cintai, dan cintanya tidak pernah melemah atau bahkan berkurang, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan beliau untuk wafat di kamarnya dengan kepalanya berada diantara dada dan lehernya."

Dia juga akan mengatakan kepada Anda, "Anda tidak memiliki kekurangan apapun, jadi apa hak-nya untuk menikah dengan wanita lain saat menikah dengan Anda? " maka katakanlah kepadanya," Bahkan jika saya adalah perempuan yang paling sempurna, yang terbaik di antara mereka dalam karakter, keindahan, pengetahuan, dan sopan santun, maka sang pembuat hukum tidaklah meng-istimewakan saya dari wanita lainnya, dan telah memberikan hak kepada pria untuk menikahi dua, tiga, atau empat wanita! "

Pembisik, apakah itu dari kalangan manusia atau jin, juga akan mengatakan kepada Anda, "Anda dapat mencegah dia, atau menyulitkannya, atau membuat hidupnya jadi tidak menyenangkan, dan menghasut anak-anak untuk melawannya."

Maka katakanlah kepadanya, "Ya, saya bisa melakukannya, dan memang rencana wanita itu luar biasa, sebagaimana yang telah Allah jelaskan, tetapi di mana kehormatanku ketika aku memiliki rasa takut kepada Allah? Dan di mana rasa takutku kepada-Nya yang dapat membuat keadaanku menjadi sulit di dunia, dan bagaimana aku akan menjawab pertanyaan-Nya di Akhirat jika saya menentang apa yang telah diperbolehkan dan membenci apa yang telah diizinkan ?! "

Dia juga akan mengatakan kepada Anda, "Anda tidak akan mampu bertahan melihat suami Anda bersama istrinya yang lain, dan itu pasti akan menjadi fitnah bagi Anda dalam ketaatan Anda kepada agama!"

Maka katakanlah kepadanya, "Ini tidak akan menjadi fitnah bagi saya, dan Allah subhanahu wa ta'ala adalah pelindung saya. Allah tidak akan pernah meninggalkan saya ketika saya telah menyerahkan diri kepada-Nya dan kepada hukum-Nya!"

Lalu putuskanlah setiap jalan yang mereka lalui untuk membisikimu dan merayumu dengan kedustaan, Kemudian ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36).

Dan nasehatku kepada Anda wahai saudariku, wahai istri dari pria yang mengamalkan poligini:

Saya tahu dengan pasti bahwa tidak ada jihad yang lebih sulit bagi seorang budak daripada jihad melawan hawa nafsunya sendiri. Ibnul Qayim rahimahullah berkata, "jihad yang paling utama adalah jihad melawan diri sendiri, melawan hawa nafsunya, melawan Setan, dan melawan Dunia. Jadi siapa pun berjihad melawan empat hal ini fie sabilillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membimbingnya ke jalur untuk mencapai Ridha-Nya, yang mana akan membawamu ke surga-Nya "(Al-Fawa'id).

Jadi jika Anda berjihad terhadap hawa nafsumu, yang terus menerus menghasut Anda untuk berbuat jahat, maka buatlah dinding pembatas antara Anda dan para pembisik (Setan), tahanlah kecemburuan Anda dengan tali kekang syari’at, tetaplah sabar dan kuatkanlah kesabaranmu serta berharaplah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala –Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal– maka Anda akan merasa nyaman, ringan, dan memiliki kehidupan yang menyenangkan.

Jangan pernah mendengarkan / memperhatikan ucapan-ucapan wanita yang tidak berprinsip yang bersumber dari sandiwara keji dan sinetron. Sebaliknya, jadikanlah wanita-wanita dalam rumah tangga kenabian sebagai contoh bagi anda. Dan setiap wanita harus tahu bahwa ketika suaminya ingin menikah dengan wanita lain, maka tidak wajib baginya untuk berkonsultasi dengan istrinya, atau untuk meminta izinnya, atau untuk mencoba menenangkan istrinya. Tapi jika dia melakukan itu, maka itu adalah kemurahan hatinya dan merupakan bagian dan sarana untuk melestarikan hubungan yang terjadi antara mereka berdua.

Wahai saudariku, jika engkau ingin merasa puas dan senang maka murnikanlah ketaatan kepada-Nya, dan tunduklah kepada hukum-Nya. Dan jika seorang wanita mampu melakukan hal ini, maka sudah sepantasnya yang Maha Pemurah untuk memberikan pahala terbaik baginya di dunia dan akhirat.

Di sini, saya juga ingin menyampaikan pesan kepada lelaki, baik kepada mereka yang telah memiliki banyak istri atau mereka yang baru berniat untuk memiliki beberapa istri, dan saya ingin mengingatkan mereka tentang dua hal. Yang pertama adalah bahwa wanita seperti yang telah diketahui, ia diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok wahai saudaraku, jadi jika Anda telah memutuskan untuk menikah yang kedua kalinya, maka saya mengingatkan Anda dengan asma Allah agar bersikap ramah dan berbicara lembut kepadanya, kuatkanlah kesabaran dan toleransimu ketika Anda mengutarakan niat Anda. Jangan takut akan reaksi awalnya, bersabarlah dengan dia, dan gunakanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam setiap nasehatmu.

Dan jika dia membandel, maka ancamlah ia dengan ancaman Yang Maha Kuasa dan ingatkanlah bahwa ini adalah bagian dari syari'at islam, dan bahwa kita berada dalam sistem negara yang pemerintahannya adalah khilafah dengan metodologi kenabian insyaa Allah. Namun, jika dia tetap menolak dan sombong maka saya katakan kepada Anda sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan kepada orang terbaik yang hidup di bumi: “Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah maha pengampun, maha penyayang” (At-Tahrim: 1).

Imam Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, "para ulama berbeda pendapat tentang hal apakah yang telah Allah halalkan untuk Rasul-Nya yang kemudian Rosul-Nya melarang hal itu untuk dirinya. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa hal itu adalah Mariyah, budak perempuan Koptik yang beliau larang untuk dirinya sendiri dengan bersumpah bahwa beliau tidak akan mendekatinya, karena berusaha untuk menyenangkan istrinya Hafshah Binti Umar, karena dia cemburu kepada Mariyah yang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada hari (jatah bermalamnya) dan berada di kamarnya. Yang lainnya berkata bahwa hal itu adalah sesuatu yang biasa beliau minum dan beliau juga menyukainya. Pernyataan yang benar tentang masalah ini adalah bahwa apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam larang untuk dirinya sendiri adalah sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah halalkan baginya, bisa jadi itu adalah budak perempuan, atau bisa jadi itu salah satu jenis minuman, dan atau bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang lainnya, tapi apapun itu, beliau telah melarang sesuatu untuk dirinya sendiri sesuatu yang halal baginya, sehingga Allah menegurnya dan menyatakan pembatalan sumpah yang melarang baginya untuk berbuat seperti ini atau mengharamkan sesuatu untuk dirinya sendiri. " dan untuk alasan ini, maka bantulah mereka untuk menjaga kehormatan seorang janda atau menjadi wali dari seorang yatim, janganlah mengharamkannya untuk dirimu sendiri hanya karena Anda berusaha untuk menyenangkan istri Anda!

Adapun masalah kedua, maka saya ingin menyampaikan pesan kepada lelaki, baik kepada mereka yang telah memiliki banyak istri atau mereka yang baru berniat untuk memiliki beberapa istri, takutlah kepada Allah, dan ingatlah bahwa kezhaliman akan membawa kepada kegelapan pada hari kiamat, dan bahwa sisi miring dari tubuh Anda (karena tidak adil) tidak akan dapat diperbaiki oleh istri yang Anda lebih condong kepadanya di dunia, dengan demikian maka kezhaliman dan penganiayaan terhadap salah satu istri Anda, maka itu akan langsung menjadi tanggung jawab anda.

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya” ('Abasa: 34-36).

Selain itu, garis perbatasan Daulah Islam - semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepadanya- telah meningkat dalam jumlah yang besar dan garis depannya telah berlipat ganda setelah semua sekte kufur dan nifaq bersekutu bersama-sama untuk berperang melawannya, dan tidak ada perang yang berlangsung kecuali akan ada orang-orang yang tewas di kedua belah pihak, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surge untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh.” (At Taubah: 111).

Berapa banyak Syuhada yang telah meninggalkan dunia ini- kami menganggap begitu, dan Allah adalah hakimnya - dan meninggalkan Istri yang berduka serta anak-anak yatim. Jadi setalah Allah, maka siapa yang bersedia untuk merawat mereka? Jika salah satu dari sahabat radhiyallahu ‘anhu meninggal dan dia punya istri, maka sahabat radhiyallahu ‘anhu yang lain akan berlomba satu sama lain untuk melamarnya setelah ia menyelesaikan 'iddah-nya, masing-masing dari mereka ingin membantu menjaga kehormatannya dan menjadi wali dari anak yatimnya, dan ketahuilah bahwa pahalanya ada disisi Allah.

Dan aku dulu selalu mengatakan kepada saudari Muslimku, "Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah maha mengetahui” (Ali 'Imran: 92), dan suami adalah bagian dari apa yang dicintai oleh seorang istri, jadi mengapa dia tidak menginfaqkannya, yaitu dia dengan senang hati menikahkannya dengan wanita lain demi mencari keridhaan Allah?" Marilah setiap dari kita menempatkan dirinya pada sepatu dari istri seorang syuhada dan mengorbankan beberapa keegoisan yang merupakan sifat alami kita!

Dan seruan terakhir kami adalah: Segala puji hanya bagi Allah, Raja dari dari segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para Shahabatnya.

BAQIYAH WA TATAMADDAD (TETAP EKSIS DAN TERUS MELUAS)

DABIQ 12 - SEJARAH

BAQIYAH WA TATAMADDAD

Sembilan tahun yang lalu, pada hari dimana Daulah Islam di deklarasikan di Iraq (Ramadhan 1427) Mungkin menjadi hari yang paling berkesan setelah 11 September untuk kebanyakan muwahhidin. Ia adalah Negara yang berdasarkan tauhid dan jihad dengan seorang Imam dari Quraisy. Dan ia menjadi dasar dari masa depan Khilafah. Kepemimpinannya telah di ingkari oleh orang-orang kompromistis dan merekapun diperangi oleh seluruh pejuang kekufuran dan kesesatan, dan menjadikan mereka bersandar hanya kepada Allah saja.

Beberapa bulan kemudian, Shahawat Iraq didirikan. Amerika menyediakan insentif dan bantuan kepada Shahawat dari suku-suku korup dan beberapa faksi yang baru dibentuk untuk mengobarkan perang melawan Daulah Islam. Lalu pada tahun 1427-1428 hijriyah, Daulah Islam mulai kehilangan beberapa wilayah yang direbut pejuang murtad yang didukung tentara salib. Dan itu merupakan bagian dari cobaan dan kesengsaraan yang pasti akan menimpa orang orang mukmin sebagaimana dalam hadits, “Orang yang paling berat cobaannya adalah Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya.” (Shahih at-Tirmidzi dari Sa’ad Ibn Abi Waqqas).

Selama terjadinya kekacauan atas konspirasi Shahawat ini, sebuah bisikan mulai muncul ditengah orang-orang yang berhati lemah, bahwa Daulah Islam hanya akan menjadi legenda dimasa lalu, dan ini mengingatkan kita pada Pertempuran al-Ahzab ((Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang dahsyat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, “Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.”) (Al-Ahzab: 10-12). Dan inilah seluruh peristiwa yang terjadi selama adanya Shahawat di Iraq. Orang-orang mukmin terguncang dengan hebat namun mereka kembali kokoh, sedangkan orang-orang munafik menampakkan diri dan mengkritik aqidah dan manhaj Daulah Islam.

Dan meskipun berada dalam kesengsaraan yang besar ini, ada seorang pria yang berbicara dengan lidah yang jujur serta hati yang tulus: kita menganggapnya demikian sedang Allah adalah hakimnya. Dialah orang yang baru ditunjuk sebagai amirul mukminin, Syaikh Abu Umar al-Husaini al-Baghdadi taqabbalahullah. Dia berbicara dengan kata-kata yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah, yakin akan setiap janji Allah, serta tidak memiliki keraguan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan mereka. Dia mengatakan dalam pidatonya yang terkenal “Masa panen pada Tahun ini oleh Negara para Muwahhid”, yang dirilis enam bulan setelah deklarasi Daulah Islam di Iraq, pada saat gelombang gelap terdahsyat dari Shahawat:

“Daulah Islam akan tetap baqiyah (eksis). Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena itu dibangun dari jasad pada Syuhada yang disirami dengan darah mereka, dan dengan ini pasar-pasar surga diselenggarakan. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena kemenangan yang diberikan Allah dalam jihad ini lebih terang daripada matahari di tengah hari. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena tidak terkontaminasi oleh barang haram ataupun manhaj yang menyimpang. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena kejujuran dari para pemimpinnya yang telah mengorbankan darah mereka dan juga kejujuran dari tentaranya yang telah meninggikannya dengan senjata mereka; kami menganggapnya demikian, sedangkan Allah adalah hakim mereka. . Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena menyatukan para mujahidin dan memberi kabar gembira bagi yang tertindas. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena Islam telah bangkit dan bersinar, awan gelap telah teruraikan, dan kekufuran sudah mulai tak terlindungi dan terkalahkan. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena doa dari orang-orang yang tertindas, air mata orang yang berduka, jeritan tahanan, dan harapan anak yatim. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena semua agama kufur dan sekte sesat telah berkumpul untuk menentangnya dan karena setiap pengkhianat dan pengecut mulai menyebarkan fitnah dan mencemarkan nama baiknya; dan yang tertinggal disana hanya kejujuran dalam tujuan dan kelurusan jalan. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena kita berada diatas kepastian bahwa Allah tidak akan mengecewakan hati muwahhidin yang tertindas dan Dia tidak akan membiarkan para penindas bersukacita kecuali atas kekalahan mereka. Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena Allah telah menjanjikan secara eksplisit dengan berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (An- Nur: 55). “Dan Allah berkuasa terhadap urusan- Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (Yusuf: 21).“

Dia mengatakan kata-kata ini dengan kepastian bahwa itu hanya akan dikabulkan oleh Allah saja. Kata-katanya telah menyentuh hingga hati yang terdalam, mengingatkan mereka akan janji Allah kepada orang-orang mukmin serta menjaga agar mereka tetap kokoh pada tahun-tahun mendatang. Daulah Islam akan tetap eksis, meskipun tentara salib, Thawaghit, suku-suku dan faksi Shahawat, Rafidhah, Peshmerga, dan ulama kerajaan bersatu menyerangnya.

Setelah adanya Shahawat Iraq, tentara yang tersisa dari Daulah Islam hanya di kamp militer di padang pasir al-Anbar saja, di kota-kota Iraq yang beroperasi hanyalah sel-sel keamanan, dan hakim syar’i hanya menghukumi mereka yang datang kepadanya saja.

Orang-orang munafik pengklaim jihad mulai menampar Daulah Islam dengan mengklaim bahwa itu semua karena kesalahan dari Daulah Islam yang membiarkan Shahawat masuk kedalam barisan, Dan ketika tidak ada lagi akar dari Shahawat yang tersimpan kecuali kemunafikan yang ada dalam hati para penjahat korup, faksi-faksi pecahan, dan bidah yang menyimpang. Hingga akhirnya sejarah dari kata “baqiyah” terus menggema di hati para mujahidin.

Dan hanya dalam waktu yang singkat, hanya beberapa tahun kemudian Daulah Islam muncul kembali dengan kemanangan besar di kancah peperangan Iraq. Dan disaat yang sama, ia telah menginjakkan kakinya di Syam dan mempersiapkan pondasi dasar untuk pelebaran Wilayah disana. Kata-kata “Daulatul Islam baqiyah” memenuhi udara dan menggema sebelum ini dan juga setelahnya di berbagai tempat di wilayah Daulah Islam. Daulah Islam tidak hanya eksis di Iraq saja, tetapi sekarang telah menyebar ke semenajung arab, Syam, Afrika Utara dan Afrika Barat, Khurasan, al-Qauqaz, dan di tempat-tempat lain.

Ini adalah sejarah di balik pernyataan “Daulatul Islam Baqiyah”.

Semoga Allah menjaga Daulah Islam untuk tetap eksis dan meluas hingga para mujahidin muwahhid melawan tentara salib di dekat Dabiq. Daulatul Islam baaqiyah (dan terus meluas). Ia akan tetap baqiyah (eksis) karena itu dibangun dari jasad pada Syuhada yang disirami dengan darah mereka, dan dengan ini pasar-pasar surga diselenggarakan.

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 5, TAMAT)

DABIQ 12 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 5, TAMAT)

Semenjak de-"Islamisasi" oleh nasionalis Shahawat “islam” di mulai, -faksi yang memiliki loyalitas terhadap Thawaghit Arab dan Turki- tidak ada bulan yang berlalu tanpa deklarasi nasionalisme dan demokrasi yang dirilis oleh sekutu al-Qa'idah di Syam ini. Thawaghit telah diperintahkan oleh tentara salib untuk menekan Shahawat agar terus menerus mengumumkan pengakuannya sehingga bantuan militer dan non-militer terus mengalir untuk mereka baik untuk mendapatkan dukungan politik internasional ataupun bantuan tentara salib dari udara.

Pengakuan itu tidak akan berakhir, dengan demikian kemurtadan mereka akan semakin menjadi-jadi dan lebih terang-terangan sehingga tidak ada lagi yang meragukannya, bahkan Murji’ah yang paling menyimpang sekalipun[1]. hal itu telah mencapai titik dimana setiap seorang dalam Jabhah Jaulani telah menyadari bahwa sekutunya terlalu memalukan untuk terus didukung secara terbuka[2]. Dengan demikian aliansi yang terdahulu dilengserkan, diremehkan, atau diabaikan, sampai pada titik dimana Jabhah Jaulani mempublikasikan penyerahan pos garis depan mereka ke Jabhah Syamiyah, sekutu terbuka dari tentara salib Amerika dan Thawaghit Turki. Itu bukanlah sekedar penarikan biasa tanpa tekanan militer, tapi penyerahan itu dikoordinasikan oleh kepemimpinan Jabhah Jaulani dan didokumentasikan dalam foto yang dirilis oleh sekutu dekat mereka. "Penarikan" Ini dimaksudkan untuk menyajikan bukti kepada "Muhajirin" di Jabhah Jaulani bahwa pemimpin mereka tidak bekerja sama dengan agen Amerika.

Tapi apakah ada kelompok "jihad" yang menyerahkan pos-nya kepada agen tentara salib yang didukung oleh jet untuk melawan Muslim?

Dan bagaimanapun juga, selama dua bulan terakhir telah ada tiga kali deklarasi besar yang dirilis oleh sekutu nasionalis Al-Qa'idah di Syam. Dan ketiga deklarasi itu berbau nasionalisme dan demokrasi.

Pada "15 September 2015," sebuah deklarasi dirilis oleh "Faksi Revolusioner Suriah" di mana mereka mengatakan:

"Perwakilan dari faksi revolusioner Suriah telah bertemu bersama dan membahas Pernyataan presiden oleh Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan pada tanggal 17 Agustus 2015, serta rencana yang diusulkan oleh utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura. Faksi-faski yang ikut dalam Pertemuan telah mengakui bahwa pernyataan dewan Keamanan PBB dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk memulai negosiasi politik obyektif dan membangun kepercayaan di antara semua pihak. Dan faksi-faksi dalam pertemuan telah mencapai beberapa persetujuan umum diantaranya:"

"1. Kami menyambut panggilan untuk memulai proses politik yang mengarah kepada transisi politik menurut kesepakatan Jenewa yang mengatur pembentukan pemerintahan transisi yang akan difungsikan segera setelah solusi kesepakatan tercapai, termasuk semua otoritas eksekutif, dan kepresidenan."

"2. Kami menekankan prasyarat dari pelengseran Bashar al-Assad dan semua pilar rezimnya, dan tidak satupun dari mereka yang akan memiliki tempat atau peran dalam Suriah baru atau selama fase transisi."

"Kami memandang bahwa ini adalah prasyarat dasar dalam pelaksanakan setiap proses politik."

"3. Melaksanakan resolusi No. 2139 yang menyerukan semua kelompok untuk menghentikan setiap serangan terhadap warga sipil; dan untuk menahan diri dari menggunaan senjata di daerah padat penduduk, hal ini mencakup pemboman membabi buta dan penjatuhan barel peledak pada warga sipil, serta penghentian segera penahanan paksa, penyiksaan dan penculikan, serta membebasan semua tahanan."

"4. Kami menekankan pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2165 pada tahun 2014 yang memungkinkan semua pihak dalam konflik Suriah untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan sesegera mungkin dan tanpa hambatan, seperti memberikan bantuan langsung kepada penduduk."

"5. Kami menolak untuk mengabaikan dan diam terhadap kelompok teror dibawah rezim Assad yang dipanggil ke Suriah, sementara mereka disini hanya berlatih genosida dan memaksakan perpindahan penduduk serta perubahan demografis di Suriah; Diantara kelompok tersebut termasuk milisi sektarian, Pengawal Republik Iran dan Hizbullah Lebanon. Kami meminta agar kelompok ini dimasukan dalam Daftar kelompok Teroris."

"6. Menghormati keinginan rakyat Suriah; karena orang suriah adalah satu-satunya pemegang kuasa untuk mendirikan konstitusi masa depan Suriah. Ini berarti bahwa tidak boleh ada prinsip-prinsip yang dikenakan pada orang-orang untuk memenjarakan kebebasan mereka."

"7. Kami minta untuk mengeluarkan Iran dari setiap perundingan terkait Suriah, karena Iran benar-benar basah dengan darah rakyat Suriah, menjadi pendukung milisi teroris, serta bertindak untuk menyalakan perselisihan sektarian antara orang-orang Suriah, di samping fakta bahwa Iran tidak mengakui kesepakatan Jenewa sebagai dasar (meskipun kesepakatan ini telah didukung penuh oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2118)."

"8. Kami menekankan kelangsungan penyediaan layanan Lembaga negara sebagai isu penting dan vital. Namun, kami menolak kelangsungan penyediaan tentara dan keamanan lembaga. Kita ingin membubarkan aparat keamanan dan restrukturisasi militer dan peradilan."

"9. Dewan Keamanan PBB menyatakan dan menyerukan untuk berpegang pada negosiasi politik dan transisi politik atas dasar kesepakatan Jenewa. Pembangunan badan transisi telah sangat jelas dan eksplisit dalam kesepakatan. Dan dengan demikian, kita menyeru Utusan PBB untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan kesepakatan Jenewa dengan jaminan regional dan internasional; semua itu tanpa kembali kebelakang untuk menata ulang atau membentuk komite baru yang akan memakan waktu dan menjadikan kesepakatan Jenewa hanyalah pepesan kosong."

"10. Kami menekankan perlunya memiliki jaminan nyata yang mewajibkan semua pihak untuk melaksanakan apapun yang disepakati; sebagaimana rezim Suriah telah terbiasa melanggar komitmen atas semua resolusi selama lima tahun ini."

"11. intervensi Rusia yang jelas dan semakin parah pada wilayah Suriah menggerogoti upaya untuk mencapai kesepakatan politik."

"12. Kami menyerukan kepada PBB dan Dewan Keamanan PBB untuk bertanggung jawab atas tragedi Suriah, dan untuk bertindak serius terhadap pelaksanaan resolusi yang relevan dengan tujuan melayani kepentingan masyarakat Suriah."

Deklarasi ini ditandatangani oleh faksi utama yang bersekutu dengan al-Qa'idah di Syam, dan juga dipuji oleh pembohong Abu 'Abdillah Asy-Syami (pemimpin Jabhah Jaulani yang kebohongannya menyebabkan mubahalah yang terkenal), serta faksi yang menjadi anggota "Jaisyul Fath" dan "Jundul Malahim," dan keduanya memiliki koalisi dengan Jabhah Jaulani. Faksi yang menandatangani deklarasi ini termasuk "FSA", "Harakah Nuruddin Zinkī," "Jabhah Syamiyah," "Faylaq Asy-Syam," "Jaisyul Mujahidin," "Al-Ittihad al-islami li Ajnād Asy-Syam," dan "Ahrar Asy-Syam."

Deklarasi ini dengan jelas menampilkan sisi nasionalis serta berlatar belakang Thaghut dari faksi-faksi. Klausul nomer enam secara terbuka menyerukan implementasi dari agama pagan demokrasi, dan bukannya Syari'ah.

Kemudian pada "18 September 2015," sebuah dokumen dirilis dengan judul "Lima Prinsip Revolusi Suriah" yang dihiasi dengan bendera jahiliyah dari Sykes-Picot. Di dalamnya, mereka mengatakan:

"Deklarasi Ini adalah untuk rakyat Suriah dan warga kehormatan di belahan dunia manapun. As-salamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Revolusi Suriah diluncurkan untuk melawan tirani, korupsi, dan penindasan, dan untuk menggapai keadilan, transparansi, dan pemulihan kehormatan dan kebebasan yang tercampakan. Revolusi menolak apa yang dilakukan rezim termasuk berbagai macam represi dan pelanggaran. Orang-orang Suriah, peluncur revolusi ini belum mampu mengkompromikan hak asasi manusia dan nasional mereka yang di jamin oleh Islam, semua agama surgawi dan hukum serta sistem internasional. Tapi mereka akan melanjutkan jalan mereka dan berpegang pada semua tujuannya. Di antara cara ini adalah solusi politik berdasarkan prinsip-prinsip tetap sebagai berikut:

1) Melengserkan Bashar Al-Assad dan semua pilar rezim dan membawa mereka kepengadilan.

2) Membongkar tirani intelijen dan aparat militer serta membangun keamanan dan aparat militer berdasarkan nilai kehormatan nasional sambil membangun lembaga negara lainnya.

3) Pengusiran semua kekuatan teroris asing dan sektarian dari Suriah, Pengawal Revolusi Iran, Hizbullah, milisi Abul-Fadl al-'Abbas, dan organisasi Daulah Islam.

4) Pembangunan kesatuan Suriah sebagai negara serta menjaga independensinya, kedaulatan, dan yang identitas rakyat.

5) Penolakan distribusi kekuasaan berdasarkan agenda politik dan sektarianisme."

"Setiap metode yang dipakai dalam negosiasi untuk penyelesaian politik tidak boleh menyingkirkan mimpi orang Suriah atau malah menjadi upaya untuk memotong tujuan mereka. Dan itu hanyalah membuang-buang waktu. Demikian pula, setiap upaya untuk menyelesaikan isu-isu penting seperti rekonstruksi, memerangi terorisme, tercapainya keamanan dalam negeri dan perdamaian, dan penegakan sistem konstitusional, yang tidak berdasar dari prinsip-prinsip orang suriah tidak akan diterima, karena hal itu hanya mengabaikan akar masalah serta mengkerdilkan tujuan mereka dan meneliti gejalanya saja. Tapi kami menganggap bahwa setiap usaha yang diberikan untuk menyelamatkan Suriah haruslah dihargai, kami percaya bahwa penundaan keputusan pada masalah utama –melengserkan Al-Assad dan milisi-nya, pembentukan persatuan, independensi, kepentingan nasional, negara Suriah- dengan tanpa jaminan dari setiap kesepakatan, dengan segala hormat, maka itu hanya akan meningkatkan kompleksitas masalah dan kedalaman luka. Dewan Keamanan -yang bertanggung jawab secara hukum, politik, dan moral untuk memelihara perdamaian dunia- telah gagal dalam membela rakyat Suriah atau gagal berkontribusi dalam mencapai tujuan mulia mereka, serta gagal mencegah terjadinya pembantaian yang dilakukan terhadap mereka. kita malah melihat upaya untuk merehabilitasi rezim, bahkan upaya serius untuk membuatnya menjadi bagian dari masa kini dan depan masa Suriah. Kami juga melihat Dewan Keamanan mengabaikan pembantaian mengerikan yang terjadi dan terus terjadi sebelum dan setelah pernyataan presiden. Pasukan Nasional yang menandatangani dokumen ini menegaskan kembali kepatuhan mereka akan prinsip-prinsip rakyat Suriah yang mulia dalam revolusi mereka dan menganggap bahwa setiap pelanggaran terhadap prinsip ini menjadi pengabaian akan hak hak orang suriah, penghinaan darah dan pengorbanan mereka, dan usaha yang tidak akan pernah berhasil, karena mengasumsikan dan memaksakan dasar yang tertolak secara hukum, politik, dan moral."

Dokumen ini ditandatangani oleh faksi utama yang bersekutu dengan Jabhah Jaulani. Faksi ini termasuk faksi "FSA", "Harakah Nuruddin Zinkī," "Jabhah Syamiyah," "Faylaq Asy-Syam," "Jaisyul Mujahidin," dan "Al-Ittihad al-Islami li Ajnād Asy-Syam." Hal ini juga ditandatangani oleh sekuleris Dewan Nasional Suriah / dewan provinsi regional, Khalid Khawjah (kepala Koalisi Nasional Suriah), 'Abdul-Jabbar al-'Akidi (mantan kolonel rezim, sekarang sekutu ateis PKK), dan bahkan George Sabra dan Michel Kilo (politisi oposisi Kristen). Hal aneh dalam deklarasi ini ada pada poin pertama, Bashar Al-Assad adalah seorang Thaghut murtad pemimpin sekte murtad Nushairiyah dan partai murtad Baats; adalah kewajiban untuk membunuhnya bahkan jika ia tidak pernah membunuh seorang Muslim sekalipun. Maka betapa wajib untuk membunuhnya setelah semua pembantaian yang ia lakukan! kejahatannya begitu yang jelas dan tidak memerlukan pengadilan untuk membuktikan kemurtadan dan kejahatannya, kecuali agama tentara salib dimana para nasionalis bersusah payah menyenangkan mereka.

Hal ini diikuti oleh dokumen ketiga yang dirilis pada "3 Oktober 2015." Dimana, mereka berkata:

"Kantor Politik dibawah faksi pemberontak dan Komite politik Koalisi Suriah telah mengadakan pertemuan dan mempelajari dengan seksama proposal yang diajukan oleh Utusan PBB Staffan de Mistura, yang berjudul prakarsa 'Kelompok kerja'. Setelah meninjau dari sisi realitas regional dan internasional yang melanda wilayah Suriah serta Perkembangan baru-baru ini yang sensitif dalam arena dan pengaruh politik, maka kami menyampaikan kepedulian kami terhadap respon dari peluncuran politik yang baru saja gagal dan memakan ribuan nyawa lebih, serta kehancuran atas sisa-sisa infrastruktur negara, maka kami menegaskan poin-poin berikut:"

"Pertama: Peserta dalam pertemuan tersebut menekankan komitmen mereka untuk mencapai solusi politik sebagai tangga menuju tujuan revolusi, menyelamatkan identitas rakyat Suriah dan mengakhiri penderitaan mereka. Proses politik ini harus memastikan bahwa rezim saat ini tidak direproduksi lagi baik kepalanya maupun pilarnya, tangan mereka talah berlumuran darah rakyat Suriah, dan tidak akan diberi peran dalam proses transisi politik demi masa depan Suriah."

"Kedua: Meskipun kekuatan revolusi dan oposisi selalu memandang positif utusan PBB (walaupun tidak dipraktikan), mereka menekankan bahwa mereka akan terus mendengarkan saran positif dari PBB dalam rangka mencapai kepentingan rakyat Suriah."

"Ketiga: Kepercayaan rakyat Suriah telah benar-benar hilang atas kemampuan masyarakat internasional untuk mendukung perjuangan mereka setelah lima tahun melawan kejahatan rezim yang mereka lakukan dengan dukungan militer Iran, serta cakupan politik Rusia dan legitimasinya bahwa komunikasi internasional bersikeras pada penyediaan tempat untuk rezim pembunuh. kemarahan yang merata saat ini harus diperhitungkan dalam setiap proses politik dan harus didahului dengan langkah-langkah nyata untuk memenangkan kepercayaan dari rakyat Suriah. Hal yang paling penting dari langkah ini adalah untuk secara eksplisit menyatakan bahwa kepala rezim dan pilar nya tidak akan diberikan peran untuk bermain dalam politik proses."

"Keempat: Bashar al-Assad tidak memiliki tempat dalam setiap proses politik berdasarkan pada alasan hukum dan praktikalnya: Bashar al-Assad mewarisi kekuasaan dengan cara yang sepenuhnya ilegal. Bashar al-Assad menjadi penjahat perang saat ia memulai membunuh rakyat Suriah yang menuntut hak-hak mereka. Dia menggunakan senjata kimia ilegal terhadap warga sipil yang tak berdosa. Dan kejahatan ini telah didokumentasikan oleh organisasi internasional yang netral untuk mencegah keraguan dalam hal ini. Bashar al-Assad dan rezimnya telah menunjukkan penolakan mutlak untuk terlibat dalam proses politik, tidak mematuhi setiap deklarasi gencatan senjata, dan tidak mau bekerjasama dengan masyarakat internasional dalam masalah kemanusiaan. Semua ini telah menanggalkan kredibilitas dan kepercayaan atasnya. Sementara Bashar al-Assad dan rezimnya telah gagal dalam upaya mereka memerangi ISIS dan tidak mendapatkan kemenangan baik secara intelektual maupun lapangan terhadap organisasi ekstremis ini, namun ada bukti yang menarik terkait koordinasi penuh antara kedua belah pihak dan Rezim Assad pun memainkan peran dalam munculnya ISIS. Bashar al-Assad telah membuka pintu Suriah bagi milisi asing untuk melakukan pembantaian sektarian terburuk dan pada saat yang sama memainkan retorika sektarian dan menyiramnya dengan bensin, dan hal ini talah merampas haknya untuk berpartisipasi dalam setiap proses politik yang bertujuan untuk menyatukan negara. Hingga akhirnya, Bashar al-Assad menyerahkan Suriah kepada penjajah Iran dan Rusia, dan itu merupakan suatu tindakan pengkhianatan tak termaafkan baik dalam sejarah Negara ini, masa depan dan martabatnya."

"Kelima: Kami menganggap bahwa pembubaran badan keamanan dan restrukturisasi institusi militer merupakan isu penting untuk setiap solusi politik. Institusi militer telah terkepung dan runtuh dan berubah menjadi milisi sektarian yang dipimpin oleh Iran. Dan mereka tidak bisa berada disana karena mereka akan membentuk tim inti dari tentara nasional, serta tidak akan mendapat kepercayaan rakyat Suriah dalam memulihkan keamanan dan stabilitas negara."

"Keenam: Pembentukan badan transisi merupakan Proses transfer kekuasaan secara penuh di mana Bashar al-Assad dan pilar rezimnya tidak akan memiliki tempat. Kami menekankan perlunya membangun lembaga negara dan mencegah perpecahan karena itu adalah hak rakyat Suriah, dan untuk mencegah negara tergelincir kedalam kekacauan yang semakin dalam."

"Ketujuh: Kami menganggap bahwa pengusulan prakarsa 'Kelompok kerja' telah mengabaikan sebagian besar resolusi PBB yang relevan terhadap Suriah, terutama resolusi No. 2118, 2165 dan 2139. Prakarsa ini sebenarnya proses politik yang rumit dan membutuhkan pembangunan kepercayaan antara rakyat Suriah di satu sisi dan PBB sebagai fihak yang akan mensponsori proses politik. Pembangunan kepercayaan hanya dapat dicapai melalui pelaksanaan atas apa yang disebutkan dalam resolusi PBB bahwa rezim Suriah telah dinonaktifkan."

"Kedelapan: Kami menganggap bahwa prakarsa 'Kelompok kerja' dalam bentuk yang sekarang dan mekanisme yang tidak jelas telah menyediakan lingkungan yang sempurna untuk mereproduksi rezim baru. 'kelompok kerja' ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang berdasarkan pada standar yang jelas untuk memilih peserta dalam kelompok-kelompok ini dan solusi dari visi akhir."

"Kesembilan: Kami mengutuk eskalasi langsung militer Rusia di Suriah dan menganggap bahwa rezim Suriah yang harus bertanggung jawab penuh karena telah mengubah Suriah menjadi sarang bagi intervensi asing. Diamnya masyarakat internasional juga menjadi tanggung jawab atas eskalasi ini dan mencerminkan tidak adanya titik terang dalam hubungan antara rakyat Suriah dan Rusia. Eskalasi ini jelas menunjukkan bahwa Rusia tidak serius dalam komitmennya dalam proses politik, dan bahwa mereka tidak pernah menjadi mediator yang jujur tapi malah menjadi bagian dari konflik dan menjadi sekutu utama rezim kriminal. "

"Kesepuluh: Sementara kekuatan revolusi dan lembaga-lembaganya menegaskan kembali komitmen kepada orang-orang kami, kami bersumpah untuk mengerahkan sebagian besar upaya untuk merapatkan barisan dan memperbaiki kesalahan sebelumnya. Kami juga bersumpah bahwa revolusi akan tetap setia pada prinsip-prinsip dan darah para pahlawan yang gugur, dan bahwa kita akan menjaga keseimbangan antara pencapaian tujuan dan prinsip dasar kami. Kami juga berjanji untuk meringankan penderitaan dari orang-orang kami, mempercepat kemenangan dan untuk mendedikasikan kemampuan politik dan militer kami untuk tujuan ini."

"Dengan demikian, prakarsa 'Kelompok kerja' dalam bentuknya yang sekarang tidak dapat diterima baik secara praktis atau secara hukum kecuali poin poin yang disebutkan di atas dipertimbangkan sehingga ambiguitas mekanisme prakarsa ini dapat diselesaikan."

Deklarasi ini berbau nasionalisme dan demokratisasi yang menyimpang dan ditandatangani lagi oleh sekutu utama Jabhah Jaulani di Syam termasuk "Ahrar Asy-Syam." Dan juga ditandatangani oleh Koalisi Nasional Suriah (Thaghut "sementara” Pemerintah Suriah) dan beberapa faksi yang bersekutu dengan ateis PKK. Sekali lagi, tidak ada wala' dan bara' dalam keyakinan faksi tersebut, dan ini merupakan realitas dari semua faksi "Islam" nasionalis yang bersekutu dengan Jabhah Jaulani. Mereka adalah pihak murtad yang tidak memiliki agama kecuali kepentingan faksi. Dan jika ada keberhasilan dari faksi atau keberlangsungan kepemimpinan mereka yang mengharuskan adanya penyembahan kepada PBB, demokrasi, atau nasionalisme, maka mereka sungguh telah menyembah berhala ini. Dikarenakan mereka ingin menarik pejuang yang naif, maka mereka sesekali menyisipkan pesan "Islami" atau mengutip beberapa ayat-ayat Qur'an sini atau di sana. Namun, misi akhir mereka adalah pembentukan Thaghut nasionalis dan demokratis. Dan karena alasan ini, salah satu sekutu "jihad" Jabhah Jaulani - "Jundul Aqsa" - tidak lagi bisa mentolerir kondisi faksi dan merilis sebuah pernyataan yang mengumumkan penarikan dirinya dari "Jaisyul Fath." Mereka menjelaskan alasan atas keputusan mereka ini sebagai berikut:

"Penarikan diri kami dari Jaisyul Fath memiliki beberapa alasan, diantaranya.

A) Beberapa fraksi dalam Jaisyul Fath memiliki misi yang bertentangan dengan syari'at Islam. Hal ini telah jelas dalam pernyataan terakhir De Mistura yang dirilis di mana pada klausul keenam menyatakan: 'Menghormati kehendak rakyat Suriah; sebagaimana orang suriah merupakan satu-satunya pemegang kekuasaan untuk menetapkan Konstitusi masa depan Suriah. Ini berarti bahwa tidak boleh ada prinsip yang dipaksakan kepada orang-orang sebagai cara untuk menyita keinginan bebas mereka'! Ada klausul lain dalam dokumen ini yang kita anggap menentang syari’at diantaranya penyambutan Intervensi Turki dan pernyataan orang kalah lainnya.” Kemudian mereka (Jundul aqsa) mengumumkan kesediaan mereka untuk kembali ke "Jaisyul Fath" di bawah beberapa kondisi, termasuk, "Semua faksi dalam Jaisyul Fath harus mengklarifikasi secara terbuka dan menjelaskan posisi mereka dalam semua misi yang bertentangan dengan pelaksanaan Syari'ah." Meskipun pernyataan mereka mendeklarasikan perang melawan faksi jahiliyah ini, tapi klarifikasi itu hanyalah pernyataaan yang memperjelas segalanya sehingga tidak lagi memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari Dabiq.

Adapun dengan Jabhah Jaulani, apakah mereka sekarang akan bertobat dari pengkhianatan dan kemurtadan mereka serta menjauhkan diri dari sekutu nasionalis "Islam" mereka, dimana mereka bersama-sama menyerang Daulah Islam meskipun mereka sangat tahu dengan baik kemurtadan faksi nasionalis ini? Apakah jabhah jaulani akan memerangi mereka dan kembali ke barisan Daulah Islam? Tapi tampaknya keberpihakan dan cinta mereka akan kepemimpinan telah mengalahkan mereka, dan mereka akan terus tetap di barisan dari Shahawat sampai sekutu mereka sendiri yang memerangi mereka. Dan Allah maha mengetahui yang terbaik.

Akhirnya, inilah koalisi Shahawat murtad – faksi nasionalis dan sekutu pengklaim jihad mereka - dan orang-orang yang seperti mereka di dalam dan di luar Syam yang bersatu melawan Daulah Islam, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah telah mentakfir mereka pada saat beliau mengatakan,

“Dan kami juga mengulangi seruan kami kepada para tentara kelompok-kelompok di Syam dan Libya, kami mengajak mereka untuk berfikir berulang kali sebelum maju memerangi Daulah Islamiyah, yang telah berhukum dengan apa yang Allah turunkan, ingatlah wahai engkau yang terkena fitnah sebelum engkau maju memeranginya, sesungguhnya tidak ada di muka bumi ini satu jengkal tanah pun yang ditegakkan di atasnya syari’at Allah kecuali daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Daulah Islam, ingatlah jika engkau berhasil merebut satu jengkal tanah darinya atau satu kota atau satu desa, maka hukum Allah di dalamnya akan diganti dengan hukum manusia, maka tanyakanlah kepada dirimu, apa hukum bagi orang yang mengganti atau menyebabkan hukum Allah berganti dengan hukum manusia? Ya, engkau menjadi kafir dengan hal itu, maka berhati-hatilah sesungguhnya engkau dengan memerangi Daulah Islamiyah engkau akan terjatuh ke dalam kekafiran baik engkau sadar atau tidak." (Wahai Kaum Kami, Penuhilah Seruan Orang Yang Menyeru Kepada Allah).

Dalam pidato selanjutnya, beliau menegaskan bahwa Daulah Islam tidak akan membedakan niat masing-masing fihak yang memeranginya. Hal ini karena faksi ini telah masuk dalam aliansi tunggal di mana pemimpinnya adalah nasionalis murtad, sebuah kenyataannya yang sekarang tidak lagi tersembunyi dari tentara peringkat terendah mereka. Oleh karena itu, tidak peduli berapa banyak dari mereka yang menekankan ukuran atas sebuah "niat" demi menerapkan "syari'ah," karena supremasi aliansi mereka dalam memerangi Daulah Islam bukanlah “niat” untuk menegakkan syari'at, melainkan itu adalah penolakan Syari'ah secara tegas dan sebagian besarnya termasuk manifestasi dari pemutusan wala' dan bara', pelaksanaan hudud, dan kinerja hisbah (amar ma'ruf dan nahi mungkar). Dengan demikian, aliansi mereka adalah salah satu dari kemurtadan, dan individu tidak dikecualikan hanya karena “niat” mereka.

Oleh karena itu, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnānī mengatakan, "Adapun kalian para kelompok murtad dan agen-agen musuh; hai kelompok-kelompok hina di setiap tempat, hai manusia-manusia sampah, tidakkah kalian mengambil pelajaran dengan para pendahulu kalian dari berbagai kelompok di Iraq sepanjang tahun? Atau kalian tidak mengambil pelajaran dari apa yang kalian dapatkan di Syam? ... dengan izin Allah akan mendatangi kalian, dan sesugguhnya kami kasihan kepada kalian. Maka ambillah kata-kata kami dan renungkanlah... kami tahu bahwa niat kalian beragam, keadaan dan tujuan kalian beragam: ada dari kalian yang memerangi kami karena agama kami dan tidak menginginkan Daulah Islamiyah, karena benci dengan syari’at Allah dan untuk menolong thaghut, dan ridha dengan undang-undang buatan, dan golongan ini sedikit, alhamdulillah. Dan banyak dari kalian yang memerangi kami walau dia ingin menerapkan syari’at Allah, akan tetapi dia tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk. Ada juga dari kalian yang memerangi kami karena mengira kami adalah musuh yang menyerang, ada juga karena ingin mendapat sebagian keuntungan dunia dan gaji dari kelompoknya, ada juga dari kalian yang berperang karena semangat kesukuan atau ingin dibilang berani atau niatan lainnya dan perdagangan yang buruk, maka ketahuilah bahwa kami tidak membeda-bedakan kelompok dan tujuan-tujuan ini; hukumnya bagi kami setelah dia tertangkap adalah satu: tembakan di kepala atau pisau tajam di leher." (Katakan Kepada Orang-Orang Kafir: Bahwa Kalian Pasti Akan Dikalahkan).

Jika mereka memiliki niat yang baik dan mereka jujur atas niatnya, maka mereka akan meninggalkan aliansi Shahawat, bertobat dari kemurtadan mereka, mengucapkan takfir kepada mantan sekutu mereka, dan menyalakan peperangan untuk melawan mereka, dan bukannya dengan memerangi Daulah Islam. Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani menasehati tentara Shahawat, "Dengan izin Allah. Sesungguhnya kami akan datang dengan izin Allah wahai para prajurit kelompok-kelompok di mana saja kalian berada walau dalam tempo lama. Bukan kalian yang kami inginkan, maka janganlah berdiri menghadang mujahidin. Maka siapa yang menyerahkan senjata dan bertaubat maka dia aman. Maka siapa yang duduk di masjid karena bertaubat maka dia aman. Siapa yang masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintunya karena taubat maka dia aman. Siapa yang memisah dirinya dari fashilah atau katibah yang memerangi kami dan bertaubat maka dia aman. Dia aman terhadap jiwa dan hartanya, bagaimanapun permusuhannya terdahulu kepada mujahidin dan kejahatannya. Ya Allah, bukankah kami telah memberi udzur? Ya Allah saksikanlah." (Katakan kepada Orang-orang kafir: Bahwa kalian pasti akan dikalahkan).

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kemenangan bagi mujahidin di Syam, bahkan jika tentara salib, Thawaghit, agen-agen mereka, dan sekutu mereka membencinya.

Catatan kaki :

[1] Meskipun realitas bahwa faksi nasionalis telah diketahui oleh kepemimpinan pengklaim jihad, mereka menggunakan klaim dari Murji'ah untuk memperlakukan faksi murtad dan munafik sebagai Muslim serta membenarkan aliansi mereka dalam melawan Daulah Islam. Lihat Dabiq, edisi 8, "Irja': Bid'ah Paling Berbahaya". Lihat juga Dabiq, edisi 10, "Wawancara dengan Abu Samir al-Urdunī,".

[2] Lihat dalam edisi ini, "Dalam perbicangan Musuh".