Rabu, 25 April 2018

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 3)

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 3) RAFIDHAH, DALIL PALSU DAN IMAM YANG GHAIB

Para penyeru kebathilan meletakkan untuk diri mereka sendiri prinsip-prinsip rusak. Mereka lalu membangun di atasnya teori dan teologi hasil reka ciptanya. Sehingga tak lama berselang mereka menemukan bahwa teori-teori kreasi mereka itu tak bisa terus berdiri stabil di atas prinsip-prinsip itu. Maka mereka tambahkan bid’ah demi bid’ah dan kesesatan demi kesesatan pada prinsip-prinsip itu agar kuat menahan bangunan di atasnya. Tak lupa mereka susun ulang bangunan yang telah berdiri itu demi mendapatkan sedikit keseimbangan.

Mereka terus berbuat demikian sampai pada tahapan tak mampu lagi memperkuat pondasinya atau menambal bangunannya, hingga runtuhlah bangunan itu. Rugilah mereka di dunia setelah rugi akhirat. Allah d berfirman, “Maka apakah orang- orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 109-110).

Seperti itulah mayoritas teori yang diciptakan oleh orang-orang yang mengaku Islam dan mengklaim jujur berusaha menegakkan Daulah Islamiyah. Mereka mendasarkan upayanya itu di atas prinsipprinsip rusak. Lalu dibangunlah di atasnya aktivitas, orientasi, dan ijtihad keliru mereka. Hingga hasilnya buyarlah prinsip-prinsip itu. Maka mereka tidak punya pilihan lain kecuali memperkuat prinsip yang sudah bobol itu dengan kebathilan demi kebathilan. Semakin sesatlah mereka, dan semakin berantakan bangunannya, hingga tak ada lagi Islam yang tersisa.

Dalam diskusi kita mengenai metode-metode penegakkan Daulah Islamiyah antara pengikut minhaj nabawi dan pengikut jalan kesesatan ini, kita terpaksa meninjau agak lama mengenai percobaan Rafidhah Itsna ‘Asyriyah. Percobaan yang sampai pada tingkatan mereka kreasikan sebuah agama baru lewat tangan dan lisannya, yang tidak berhubungan sama sekali dengan Islam kecuali seperti hubungan agama-agama Yahudi dan Kristen dengan dien Ibrahim alaihis salam. Kita akan pelajari percobaan yang telah berjalan selama 11 abad ini. Percobaan terpanjang dan terjelas bagaimana suatu penyimpangan terjadi lantaran aktivitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip rusak, sekalipun mengklaim berusaha menegakkan Daulah Islamiyah dan berupaya menjaga Islam dari bid’ah dan penyimpangan.

Dogma Nash Imamah

Rafidhah musyrik mengklaim bahwa dakwah mereka itu bersumber dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri ketika beliau berwasiat dan menyerahkan khilafah dan imamah kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dan keturunannya. Mereka tidak mempunyai bukti yang memperkuat wasiat ini kecuali takwil-takwil bathil yang mereka ciptakan dari teks-teks Qur’an dan Sunnah. Bahkan bukti-bukti yang ada malah mendongkel klaim mereka itu.

Di antaranya kata-kata Umar radhiyallahu anhu, “Sesungguhnya jika aku tidak menunjuk seseorang sepeninggalku maka Rasulullah g berbuat demikian. Jika aku menunjuk seseorang maka Abu Bakar juga berbuat demikian.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Di situ ada dalil bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menunjuk Ali maupun para sahabat lain radhiyallahu anhum sepeninggalnya.

Bukhari meriwayatkan dari al-Asud, ujarnya, “Mereka menyebut-nyebut pada Aisyah bahwa Ali k adalah penerima wasiat (Rasulullah). Maka ia menyangkal, “Kapan beliau berwasiat padanya? Aku menyandarkan beliau di dadaku. Lalu beliau meminta siwak dan bersiwak sambil bersandar, hingga aku tidak sadar beliau telah meninggal. Lalu kapan beliau berwasiat?”

Demikian juga para sahabat telah sepakat membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tidak ada seorangpun yang diklaim sebagai penerima wasiat itu yang menentangnya, padahal mereka adalah Ali dan putranya Hasan dan Husain radhiyallahu anhuma. Masih banyak lagi bukti yang menyangkal kisah wasiat ini.

Di antara sekte-sekte Rafidhah dan simpatisan ahlul bait sendiri pun saling sikut mengenai kepada siapakah wasiat itu disampaikan. Tiap sekte mengklaim salah seorang ahlul bait yang berhak mendapatkannya. Khususnya pasca terbunuhnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Ada yang mengalungkannya pada keturunan Abbas bin Abdul Mutthalib, ada juga yang menyematkannya pada anak cucu Hasan bin Ali, atau Husain bin Ali, atau Muhammad bin Ali al-Hanafiyah. Bahkan ada yang memakaikannya pada keturunan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Tidaklah pihak yang disematkan padanya wasiat itu meninggal kecuali hawa nafsu dan syubhat semakin mencerai beraikan mereka. Tiap-tiap mereka menyematkannya pada siapapun yang dikehendakinya. Barangkali jika ada dari mereka memang memiliki teks wasiat itu tentulah akan menjadi pihak pemenang. Namun kenyataannya tidak ada yang bisa dimanfaatkan sebagai bukti untuk melemahkan lawannya kecuali mukjizat-mukjizat fiktif lagi imajiner. Mereka gunakan kesaksian dan baiat batu serta pohon untuk membuktikan imamah Ali bin Husain dan menolak imamah saudaranya Zaid bin Husain.

Dogma Imam Maksum Asal Kesesatan Rafidhah

Kita bisa menyimpulkan prinsip utama yang dibangun di atasnya agama Rafidhah dan seluruh penyimpangan serta kesesatannya yaitu bahwa mereka meyakini jika Daulah Islamiyah mustahil tegak kecuali melalui seorang imam yang memenuhi syarat-syarat hasil reka ciptanya. Syarat terpentingnya adalah bahwa ia haruslah terjaga dari semua hal yang mencemarkan ‘adalahnya (nama baik) lahir batin, mengetahui segala sesuatu termasuk hal yang gaib, dan kepemimpinannya itu merupakan perintah teks langsung dari Allah ta'ala. Mereka meyakini agama manusia tidak akan lurus tanpa imam ini. Jika manusia mempercayai imam-imam itu dengan seluruh sifatnya dan menaati seluruh perintahnya maka perkara mereka akan lurus dan daulahnya adalah daulah ‘ala minhajin nubuwwah.

Tak cukup mereka menyematkan pada sang imam sifat-sifat itu. Bagi mereka sang imam harus diistimewakan secara mutlak dari manusia lain. Tak boleh ada yang menyerupainya dan tak boleh ada yang menandinginya. Barangsiapa ada yang menandinginya sekecil apapun itu maka dia adalah thaghut. Barangsiapa ada yang menyematkannya pada si penanding itu sifat-sifat sang imam maka dia telah musyrik kepada Allah ta'ala.

Prinsip rusak ini bersumber dari pandangan mereka bahwa seorang imam itu wajib ditaati dan diikuti layaknya Nabi shallallahu alaihi wasallam. Oleh karena itu, seorang imam tidak mungkin berasal dari kaum muslimin umumnya yang boleh lupa, salah, bodoh, dan terkena hawa nafsu. Ia haruslah mengetahui segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Ia harus suci dari kekurangan-kekurangan manusia seperti lupa, salah, dan condong pada hawa nafsu agar tidak ditaati dalam kemaksiatan dan diikuti dalam kesesatan. Ia tidak boleh ditandingi kekuasaannya agar tidak terjadi fitnah. Ia tidak boleh ditandingi keilmuannya agar tidak terjadi perselisihan dan lalu perpecahan.

Ketika sifat-sifat yang mereka jadikan prasyarat itu merupakan rahasia yang tidak mungkin diketahui, maka mereka berpandangan bahwa sang imam harus dipilih langsung oleh Allah ta'ala. Karena hanya Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Bahkan mereka melangkah lebih jauh dengan memandang bahwa wajib bagi Allah untuk mengangkat seorang imam. Jika tidak maka –menurut mereka– Allah telah berbuat zhalim jika tetap mengazab mereka sedangkan Dia tidak mengangkat seorang imam pun. Ketiadaan seorang imam, yang mengisi kedudukan rasul, berarti tidak ada hujjah atas mereka. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Oleh karena itu, mereka menyifati individu yang disemati imamah itu sebagai ‘hujjah’, yakni bukti yang terang atas manusia. Agar dengannya Allah bisa mengazab yang bermaksiat kepada sang imam. Kemudian pemilihan ini haruslah dengan sebuah teks terang, yang mereka sematkan pada diri Ali radhiyallahu anhu dan keturunannya.

Tauhid Ketaatan Mendongkel Teori Maksum

Kerusakan prinsip mereka mengenai kemaksuman imam berasal dari kekeliruan mereka dalam persoalan ketaatan kepada imam. Allah ta'ala mengaitkan ketaatan pada imam itu dengan ketaatan pada-Nya dan RasulNya, tidak sepadan. Selama pemimpin itu menyuruh pada yang makruf maka taat kepadanya berarti taat kepada Allah ta'ala. Ketika taat pada pemimpin itu bertentangan dengan taat kepada Allah maka harus bermaksiat padanya dan hanya taat pada Allah semata.

Allah ta'ala juga telah mewajibkan taat pada ulil amri. Namun Dia juga memerintahkan untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya –berarti kembali kepada Kitab dan Sunnah– saat terjadi perselisihan, untuk mengkonfirmasi jika ketaatan kepada amir berarti taat kepada Allah. Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa: 59).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa bermaksiat padaku berarti bermaksiat pada Allah. Barangsiapa menaati amirku berarti telah menaatiku. Barangsiapa bermaksiat pada amirku berarti telah bermaksiat padaku.” (HR. Muslim).

Tidak masuk akal Rasul shallallahu alaihi wasallam berwasiat untuk menaati amirnya ketika Rasul masih hidup sedangkan ia menyelisihi perintah-perintah Rasul.

Demikian juga Rasul tidak mensyaratkan bahwa imam yang wajib ditaati itu haruslah maksum.

Beliau bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam maksiat. Taat itu hanya dalam hal makruf saja.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian, maka tak perlu lagi imam yang maksum, selama taat dan mengikuti imam ini itu terikat dengan taat kepada Allah ta'ala dan mengikuti RasulNya shallallahu alaihi wasallam. Inilah jalan ahlus sunnah wal jamaah sejak masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai Allah menghancurkan dunia dan seisinya. Wajib taat kepada ulil amri kaum muslimin dalam hal makruf selama mereka masih islam. Kezhaliman dan kejahatan mereka tidak menghalangi hakhaknya selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat.

Tambalan Bid’ah Pada Prinsip Rusak

Berdasarkan prinsip rusak mereka bahwa bumi tidak akan pernah kosong dari seorang maksum yang meneruskan pendahulunya melalui teks wasiat semasa hidup imam sebelumnya. Bahkan mereka mensyaratkan sang imam harus menyerahkan tongkat wasiat kemaksuman itu pada salah satu anaknya. Hasilnya Rafidhah terpaksa berbenturan dengan berbagai persoalan pelik. Persoalan itu memaksa sebagian mereka rujuk dari prinsip rusak itu. Sedangkan sebagian lainnya semakin bertambah penyimpangannya. Hal itu demi menjaga prinsip yang sudah berevolusi menjadi pondasi agama mereka secara kesuluruhan bukan sekedar pada persoalan imamah saja. Ada beberapa contoh yang menunjukkan hal itu.

Mereka mengklaim semasa hidup Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib bahwa ahli wasiat setelahnya adalah putranya Ismail. Ketika ternyata Ismail meninggal semasa hidup ayahnya terjadilah kontradiksi antara dogma wasiat dengan meninggalnya sang ahli wasiat. Tipuan ini kemudian disadari oleh sekelompok orang. Mereka menyadari kedustaan teori wasiat ini. Karena tidaklah masuk akal jika Allah telah menentukan seseorang itu menjadi imam lalu kemudian mencabut nyawanya sebelum menyerahkan imamah padanya. Namun yang lainnya masih terus berpegang dengan prinsip ini, dan disusunlah di atasnya bangunan yang lebih rusak.

Sekelompok orang lalu berpandangan bahwa imamah Ismail bin Ja’far masih terus berlanjut. Mereka mengingkari kematiannya, atau mengklaim bahwa ia hidup lagi. Mereka mendustakan imamnya sendiri Ja’far (yang mereka sendiri menyebutnya asshadiq [yang jujur]) ketika mengabarkan kematian putranya itu. Mereka mengklaim jika sang imam mereka-reka kematian putranya itu lantaran taqiyah untuk melindunginya dari musuh-musuhnya. Mereka mengklaim jika sang putra tak terlihat oleh manusia. Dari merekalah berkembang sekte Ismailiyah Bathiniyah yang masih terus eksis hingga saat ini. Mereka menyematkan rentetan imam fiktif pada keturunan Ismail bin Ja’far. Dari sinilah berkembang bid’ah teologi ghaibah (sang imam tak muncul di kalangan manusia, penj.), hidup abadi, dan reinkarnasi (imam mereka kembail hidup setelah mati, penj.)

Sebagian yang lain malah berdusta atas nama Allah ta'ala. Mereka berpandangan jika boleh-boleh saja Allah merubah teks wasiat yang telah diberikannya pada imam yang baru. Padahal sebelumnya mereka juga mengharuskan bagi Allah untuk menurunkan teks wasiat atas imam sebelumnya. Mereka namakan kreasi menjijikkan dan bid’ah dalam Din ini dengan teologi al-bada. Maknanya adalah bahwa Allah ta'ala merevisi nash wasiat itu kepada orang lain. Semoga Allah membinasakan mereka atas kekejian itu. Berdasarkan hal itu mereka (yaitu sekte al-Mausawiyah) merevisi nash wasiat dari Ismail bin Ja’far, yang telah meninggal, kepada saudaranya Musa bin Ja’far (yang dijuluki al-Kazhim), demi menyelamatkan teologi mereka itu dari kepunahan.

Teori Yang Dikuatkan Dengan Bualan

Ketika Ja’far bin Muhammad meninggal tanpa adanya nash mengenai imam setelahnya, ekstremis Rafidhah terperangkap dalam kebingungan baru. Mereka lalu menyematkan imamah kepada putra sulungnya yaitu Abdullah bin Ja’far (yang mereka sebut sebagai al-afthah). Namun sebagiannya lalu mengingkari imamahnya ketika ternyata ia berpandangan berbeda dengan pendapat mereka. Mereka menuduhnya fasik lalu bergabung dengan pihak yang menyematkan imamah pada saudaranya Musa bin Ja’far.

Adapun yang tetap menyematkan imamah pada Abdullah bin Ja’far ternyata kembali terperangkap dalam kebingungan ketika ia meninggal tanpa mempunyai keturunan. Ia tidak mempunyai anak yang bisa disematkan padanya imamah itu. Akibatnya sebagian pihak lalu rujuk dari dogma wasiat fiktif itu. Namun pihak lain malah bertambah kesesatannya. Mereka berdusta atas nama imamnya itu dengan mengklaim bahwa sang imam mempunyai putra yang belum dilahirkan. Mereka mengklaim sang putra tidak terlihat dalam pandangan manusia. Mereka akhirnya mengulangi pendapat ekstrem mengenai diri Ismail bin Ja’far. Teologi ghaibah diadopsi secara total. Bahkan mereka melangkah lebih jauh lagi dengan berbaiat pada seorang gaib yang belumlah dilahirkan apalagi melihat dunia walaupun sesaat. Mereka kreasikan rentetan imam yang tak berwujud.

Adapun yang menyematkan imamah pada diri Musa bin Ja’far (yang dijuluki al-Kazhim) kembali terperangkap dalam kebingungan ketika sang imam wafat dalam penjara tanpa menunjuk imam setelahnya. Maka mereka kembali mengkreasikan bualan demi bualan demi menjaga teori bathil dan prinsip rusaknya itu. Yang terus menetapkan imamahnya menyangkal wafatnya dan meyakini bahwa sang imam terus hidup namun tak nampak. Mereka disebut sekte Waqifiyah. Yang terpaksa menerima wafatnya mereka sematkan imamah pada diri putranya Ali bin Musa (yang dijuluki ar-Ridha). Sekte Waqifiyah memusuhi Ali bin Musa dan menuduhnya berdusta ketika mengumumkan kabar wafatnya bapaknya.

Dibuat Bingung Oleh Imamnya Sendiri

Adapun yang menyematkan imamah pada diri Ali bin Musa ternyata kembali terperangkap dalam kontradiksi parah ketika sang imam berbaiat pada al-Makmun bin Harun ar-Rasyid dan menerima pengangkatannya sebagai putra mahkota. Sebuah bukti baru ditambahkan pada rentetan bukti bahwa teori wasiat, nash, dan ‘ishmah (maksum) adalah tak lebih dari bualan belaka. Karena tak masuk akal jika sang imam maksum yang diangkat berdasarkan teks ilahi berbaiat pada lelaki yang merampas kekuasaannya yang agama dan ilmunya tak disucikan. Maka di depan mereka ada dua pilihan, menaati pilihan sang imam maksum yang berakibat mendongkel dogma nash imamah, atau menyelisih sang imam maksum yang berarti menyalahkan sang imam maksum dan mengingkari kemaksumannya, yang berakibat seluruh bangunan agama mereka bakal ambruk. Namun sebagaimana biasa mereka berdalih dengan taqiyah atau al-bada, sebagaimana tingkah mereka pada tiap bualan yang mereka kreasikan.

Imamah Anak Kecil dan Orang Yang Tak Berujud

Kembali mereka tertimpa petaka ketika Ali bin Musa wafat. Rafidhah, sebagai konsekuensi pandangan mereka, terpaksa menyematkan imamah pada anak kecil, yaitu Muhammad bin Ali bin Musa (yang dijuluki al-Jawwad). Si anak baru berumur tujuh tahun ketika bapaknya wafat di Khurasan. Rafidhah tercerai berai. Satu kelompok berbaiat pada pamannya Ahmad bin Musa. Satu kelompok memandang ketidak absahan imamah ar-Ridha karena ia tidak menunjuk seorang imam sepeninggalnya dan tidak dimandikan oleh imam. Kelompok lain membaiat Muhammad bin al-Qasim bin Umar bin Ali bin Husain. Kelompok lain tetap membaiat alJawwad. Mereka mengklaim sang imam mengetahui ilmu gaib dan bisa pergi dari Madinah ke Khurasan untuk memandikan bapaknya lalu kembali dalam sekejap, dan bulan-bualan lainnya.

Perkara itu kembali terulang ketika al-Jawwad wafat di Khurasan di usia dua puluh lima tahun dan meninggalkan dua anaknya yang masih kecil yaitu Ali (al-Hadi) dan Musa. Tidak hanya itu ia juga menunjuk seseorang untuk menjaga harta keduanya sampai usia baligh. Hal itu memaksa Rafidhah berpikir keras bagimana seorang anak kecil bisa memikul perkara umat sedangkan bapaknya yang “maksum” itu tidak mempercayainya soal hartanya sendiri.

Kemudian sekelompok dari mereka kembali menentang imamah Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawwad. Yaitu ketika anaknya Muhammad yang diserahi wasiat meninggal ketika sang imam masih hidup, lalu sang imam menyerahkannya pada putranya yang lain yaitu al-Hasan al-Askari. Sekelompok Rafidhah tetap bersikukuh menyematkan imamah pada diri Ali al-Hadi dan mengingkari kematiannya, demi menjaga dogma wasiat yang mereka syaratkan untuk perpindahan imamah. Sedangkan kelompok lain membaiat al-Hasan al-Askari berdasarkan akidah al-bada itu.

Kali ini mereka mendapat pukulan berat ketika al-Hasan al-Askari bin Ali al-Hadi wafat tanpa mempunyai keturunan. Maka para ekstremis itu terpaksa mencontoh saudaranya al-Afthahiyah. Mereka ciptakan bagi al-Hasan al-Askari seorang anak yang tidak pernah dilahirkan yang mereka namakan Muhammad al-Mahdi, demi menyempurnakan rentetan 12 imam. Mereka mengklaim bahwa sang bocah bersembunyi di sebuah lubang di Samarra karena takut kepada musuh-musuhnya. Ia akan muncul ketika ancaman padanya hilang. Sejak bersembunyinya si bocah ini sampai sekarang, selama lebih kurang 1200 tahun, Rafidhah terus menunggu sang imam fiktif ini keluar untuk menegakkan Daulah Islamiyah berdasarkan teologi imamah maksumnya itu.

Agama Palsu di Atas Prinsip Rusak

Demikianlah perjalanan orang-orang sesat itu yang dicerai beraikan oleh Allah lantaran keluar dari jama’atul muslimin. Mereka tercerai berai menjadi sekian puluh sekte yang saling melaknat dan mengkafirkan. Kita dapati mereka menjadikan prinsip rusak dan ideologi bathilnya itu sebagai justifikasi penolakannya atas khalifah-khalifah kaum muslimin dari masa Abu Bakar sampai hari kiamat nanti. Tidak mungkin seorangpun mewujudkan syarat maksum, nash wasiat, dan mukjizat yang mereka ciptakan itu kecuali mereka sendiri yang memberikannya melalui bualan-bualannya itu. Kemudian mereka juga tidak menerima imam kecuali menurut hawa nafsunya. Oleh karena itu, kita lihat mereka terus menerus menentang orang-orang yang mereka semati imamah itu karena sang imam menyelisihi pandangan mereka, atau terjadi sesuatu takdir yang mendongkel prinsp mereka itu. Kita dapati juga bahwa orang-orang yang diklaim pencipta teori itu terus menerus menyelisihinya selama hidupnya dengan perkataan dan perbuatannya.

Mereka juga terpaksa terus menambah-nambahi agamanya dan menciptakan prinsip-prinsip baru demi menjaga keseimbangan bangunannya yang hampir runtuh. Mereka tambahkan teologi wasiat, nash, al-bada, dan lain-lain. Bahkan mereka juga merubah-rubah Kitab dan Sunnah dan mengingkari semua yang menyelisihi ideologi mereka. Mereka juga terpaksa mereka-reka cerita khayalan dan menjustifikasinya betapapun menggelikannya seperti hilang selama ratusan tahun, kembali lagi setelah hilang, menciptakan anak, imamah anak kecil, dan lain-lain.

Pada tulisan berikutnya – dengan izin Allah – kita akan bagaimana Rafidhah menciptakan sebagian besar agamanya selama masa ghaibah yang terjadi setelah bersembunyinya Muhammad al-Mahdi si bocah palsu itu. Bagaimana mereka menambah dan mengurangi agamanya sendiri selama ratusan tahun ini sampai negara najis mereka berdiri di Iran sekarang. Mereka juga berusaha melebarkan negaranya itu sampai mencakup seluruh dunia sebagai persiapan kembalinya al-Mahdi mereka setelah sebab-sebab bersembunyinya itu berhasil dihilangkan.

BERSABARLAH, SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ITU BENAR

RUMIYAH 9 - STATEMEN

BERSABARLAH, SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ITU BENAR
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH: SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan amalan kita, barang siapa yang diberi-Nya petunjuk maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang diberi-Nya hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah semata, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba‘du:

Allah ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46-45)

Allah ta'ala berfirman, “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekalikali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. ar-Rum: 60)

Sabar, teguh dan yakin akan janji Allah, meski ujian dan kesusahan menerpa, meski semua musuh bersekutu, di tengah gelegar tembakan artilleri dan bombardir pesawat. Kaum muslimin tetap yakin akan pertolongan Rabb mereka. Mereka tak bimbang, linglung, ataupun mengendor semangatnya, dengan kesabaran terus maju tanpa mundur, guncangan demi guncangan tiada melemahkannya.

Sebaliknya di gelap gulitanya malam, mereka nyalakan cahaya kebenaran, dengan darahnya menghidupkan lentera hidayah dan menjauhi jalan yang sesat. Mereka serap kitab Rabb mereka, mereka berjalan dan beramal dengan sunnah Nabi mereka shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tahu bahwa kemenangan berada di sisi Allah dan tak pernah sehari pun kemenangan diraih dengan banyaknya jumlah maupun persenjataan, karena Allah adalah Maha Perkasa, tiada yang bisa mengalahkannya. Dia adalah yang Maha Kuat, bisa menelantarkan siapa saja yang menjadikan kekuatan dan banyaknya jumlah pasukan sebagai kebanggan. Maha Bijaksana dalam mengatur segala urusan dengan semua sebab-sebabnya dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya, dan akan menolong siapa saja yang menolong-Nya dan sebaliknya akan menelantarkan mereka yang menelantarkan-Nya, tiada kelemahan dan celah di dalamnya.

Firman-Nya, “Jika Allah menolongmu, maka tiaada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong 27 kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 160)

Ya, sesungguhnya janji Allah adalah benar seperti halnya perintah-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, ketentuan dan hikmah-Nya berlaku terhadap seluruh makhluk-Nya. Dia turunkan ujian kapan Dia kehendaki, dan mengangkatnya kapanpun Dia berkehendak, Maha Mengetahui dan Bijaksana, tidak ada sesuatu pun yang bisa melemahkannya baik di bumi dan di langit. Jika Dia memutuskan sesuatu akan Dia berkata, “Jadilah” maka akan terjadi ia.

Dia berfirman, sedangkan Firman-Nya adalah benar, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?“ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al Baqarah: 214)

Sesungguhnya sunnah Allah berlaku, kemenangan tidak akan terwujud tanpa keistiqomahan di atas perintah-Nya c dan kembali kepada-Nya dengan jujur. Maka barang siapa yang lebih besar pertolongannya terhadap dien Allah dan lebih keras jihadnya terhadap musuh-musuhNya, serta mentaati Allah pun Rasul-Nya, maka ia lebih besar ketatatannya dan pertolongannya.

Wahai ummat Islam...

Waktu telah berputar, dan sejarah kembali terulang. Apa yang kini terjadi menyerupai kondisi Darul Islam di masa lampau, era generasi terdahulu dimana kejadian-kejadian besar menerpa, meninggalkan bekas yang tidak bisa terhapus, dan luka dalam di tubuh ummat yang tak bisa tersembuhkan. Namun, itu menjadi pelajaran dari para pendahulu, sebuah pengingat dari Jama’ah Muslimin agar menjauhi ketegelinciran yang bisa menjerumuskan mereka dalam kehancuran yang nyata, yakni melepaskan diri mereka dari Islam dan mati di atas selain Millah Islam.

Inilah Salibis Amerika dan antek-anteknya kembali menyerang Darul Islam dan bumi Khilafah. Dalam lintas sejarah, seluruh sekte kekafiran dari berbagai ras dan keyakinannya senantiasa berkumpul bersama kaum yang mengklaim diri sebagai bagian Ahlus Sunnah dari kalangan penguasa murtaddin, ulama dan dai Suu, -bahkan mereka yang mengklaim berjihad dan bermanhaj benar-. Mereka semua dalam satu parit bersama seluruh sekte kekafiran melawan putra-pura Daulah Khilafah. Ada beda antara zaman kala itu dengan peperangan yang kita selama saat ini, bahwasanya Daulah Muslimin pada zaman itu dalam keadaan paling buruk dan jauh dari Dien Rabbnya, negeri mereka telah dibagi-bagi oleh para raja dan kelompok, maka Allah timpakan musuh yang merajalela, menghancurkan hewan-hewan ternak dan tanaman.

Adapun hari ini, bersamaan dengan panas menyengatnya pertempuran baik di timur dan barat atas Darul Islam, kondisi kaum muslimin di negeri Khilafah berlainan dengan zaman itu, dimana Daulah Islamiyah adalah yang membela dan mempertahankan Darul Islam, mengobarkan semangat orang-orang yang beriman, mengasah tekad putra-putranya untuk terlepas dari belenggu perbudakan dan tabiat sekte-sekte kekafiran. Daulah inilah yang mengarungi peperangan sengit demi membela ummatnya, dan tiada pelit untuk mengeluarkan tenaganya guna berperang serta menahan gempuran musuh dengan segenap kekuatan yang dikaruniakan padanya, dengan berbagai macam cara dan sarana.

Atas rahmat dan karunia Allah, Daulah khilafah masih terus mengajak kaum muslimin menuju Dien mereka, sementara Ulama Thawaghit dan corong-corong keburukan menghalang-halanginya dan hanya menginginkan ummat Islam terus dalam keadaan hina dipimpin oleh kaum Salibis pun antek-anteknya dari para penguasa murtaddin. Akan tetapi, Daulah Khilafah atas taufik Allah telah mengetahui penyakit sekaligus penawarnya. Dengan izin Allah ia terus berjalan di atas jalannya, tak akan takut celaan para pencela, sampai menyerahkan panji kepada Isa bin Maryam ‘alaihis salam.

Wahai ummat Islam...

Sesungguhnya kita adalah suatu kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka kita tidak akan mengharap kemuliaan dengan selainnya. Ummat yang terakhir dari ummat ini tidak akan baik kecuali dengan mengikuti generasi awalnya. Dan tidak ada yang mulia dalam Dien-nya kecuali dengan mewujudkan tauhid, menghidupkan al-Wala dan al-Bara dimana keduanya menjadi sikap yang tidak terpisahkan dalam seluruh aspek kehidupannya, baik kondisi lapang maupun sempit, susah maupun senang, tatkala berkumpunya musuh dan bertambahnya jumlah panji pasukan musuh. Dia palingkan muka dari Astana, dan tiada pula mengemis-ngemis pada Thawaghit. Sekali-kali tidak! Sebaliknya, ia tanamkan millah yang mulia dan mengikuti para nabi seraya berkata kepada seluruh sekte kekafiran, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al Mumtahanah: 4).

Inilah jalan kaum mukminin yang mendapatkan petunjuk, dan selainnya adalah jalan orang-orang kafir yang melampaui batas, merubah dan mengganti Syariat Rabbul ‘Alamin.

Wahai Junud Khilafah dan singa-singa Islam...

Ketahuilah bahwa rahmat Alllah dan surga-Nya tidaklah diraih dengan sekedar angan-angan. Allah tidak akan memberikan ampunan, kasih sayang yang luas kecuali pada orang-orang yang teguh, sabar, jujur, dan membenarkan apa yang dijanjikan kepada mereka.

Tidakkah kalian membaca Firman Rabb kalian, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111)

Asal jual beli antara makhluk adalah seperti yang dikatakan al-Qurthubi rahimahullah yaitu mengganti apa yang keluar dari tangannya berupa barang yang lebih bermanfat atau manfaatnya sebanding dari apa yang dikeluarkan. Maka Allah membeli dari hambahamba-Nya dengan cara membinasakan diri dan hartanya dalam ketaatan pada-Nya, dan meninggal dunia demi meraihridha-Nya. Allah memberi imbalan mereka surga jika mereka melakukan hal demikian, merupakan imbalan yang sangat tiada sebanding dengan hal yang ditukar dengannya. Dia jelaskan transaksi dan imbalannya –seorang hamba mesti korbankan jiwa dan hartanya, lalu Allah akan memberi imbalan pahala, inilah yang dinamakan membeli.

Wahai Junud Khilafah...

Demi Rabb bumi dan langit, ini adalah perdagangan yang menguntungkan. Dengan izin Allah kami tidak akan berhenti dan membatalkan jual beli ini. Maka berlakulah jujur dalam pertempuran. Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya. Itulah perdagangan menguntungkan yang Allah khusukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang menjual jiwa-jiwa mereka dengan murah di jalan-Nya, demi meninggikan kalimatNya dan menegakkan syariat-Nya.

Sesungguhnya tujuan yang didiimpikan oleh seorang mujahid di jalan Allah adalah mendapatkan ridha Rabbnya, ampunanNya, kebaikan-Nya, taufik-Nya dan karunia-Nya. Itu semua diraih dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, membantai musuh-musuh-Nya di setiap negeri dan tempat, sampai Dien ini semata-mata milik Allah, dan seluruh bumi ini diatur dengan Syariat-Nya. Jika hidup, dalam keadaan mulia, dan jika mati, mati dalam keadaan mulia. Demikianlah keadaan para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ummat pilihan terdahulu dari generasi utama.

Dan inilah kabar gembira dari Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam ia bersabda, “Allah akan menanggung orang yang keluar di jalan Allah hanya untuk berjihad di jalanku (Allah), beriman kepadaku dan membenarkan kerasulanku, dia akan dijamin untuk masuk ke dalam surga atau kembali ke rumahnya dalam keadaan memperoleh pahala atau ghanimah (harta rampasan). Demi jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, tak satupun luka yang diperoleh di jalan Allah, kecuali datang pada hari kiamat sebagaimana keadaannya ketika dilukai. Warnanya adalah warna darah, wanginya seharum misk (minyak wangi). Demi jiwa Muhammad yang dalam genggaman-Nya, seandainya tidak memberatkan kaum Muslimin, aku tidak akan duduk di belakang pasukan (tidak ikut) berperang di jalan Allah selamanya, akan tetapi aku tidak mampu (baik fisik dan materi) untuk membawa mereka (berperang) dan mereka juga tidak akan mampu, namun mereka akan merasa berat untuk diam (tidak mengikutiku berperang). Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, aku rindu untuk berperang di jalan Allah lalu terbunuh (kata tersebut diulangi tiga kali).” (HR. Muslim)

Wahai Manusia...

Tidakkah sampai pada kalian cerita tentang orang-orang yang teguh, tidakah sampai ke telinga akan kalian kabar ini? Kabar apakah gerangan? Demi Allah, kabar apakah itu? Tentang zaman yang di dalamnya musibah amatlah berat, kepemimpinan berada di tangan orang-orang kafir dan manusia terburuk.. Katakan pada siapa saja yang tergelincir dalam kotoran, dan menyimpang dari kebenaran, akan kisah keteguhan Ahlul Iman yang memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perbuatan mungkar. Mereka yang mendobrak pintu-pintu Salibis Eropa dengan peringatan dan ancaman, sampai telinga mereka menjadi tuli, dadanya dipenuhi dengan rasa takut dan gentar. Mereka sadar bahwa itu adalah luapan kematian. Atas karunia Allah, kubu keimanan telah meninggi dengan kemuliaan dan tidak akan merendah, sedangkan kubu kekafiran kian condong pada kesesatan dan kehinaan.

Kemanapun engkau pergi, disana ada Sirte yang akan menceritakan kisah rakyatnya padamu. Tentang kaum Muhajirin, Anshar, orang-orang pilihan nan suci, merekalah yang menancapkan panji Tauhid tinggi-tinggi di atas negeri Libya, setelah mereka tinggalkan perselisihan dan perpecahan, lalu memilih persatuan barisan dan menyatukan kalimat dalam rangka ketaatan pada Allah pun RasulNya. Mereka berbai’at pada Khalifatul Muslimin dan Imam mereka, maka Allah taklukkan beberapa daerah untuk mereka, mereka tegakkan di dalamnya syariat Allah, menegakkan Dien, menerapkan hukuman hudud, memerintahkan perkara yang makruf dan melarang dari perbuatan mungkar. Kaum arogan pun marah menyaksikannya, lantas mereka persiapkan pasukan dan memobilisasi kaum Salibis, mengharapkan pertolongan dan memberikan loyalitasnya demi memerangi Islam serta ummatnya. Semua itu disokong oleh para pembesar Ikhwanusy Syayathin dan para munafik zindiq zaman ini. Mereka kerahkan seluruh kekuatan yang mereka miliki guna memerangi Daulah Khilafah, dan mengeluarkan fatwa demi fatwa menghalalkan kemurtadan menjadi antek Salibis, penumpahan darah-darah yang terjaga lagi haram.

Atas karunia Allah, Junud Khilafah dan cucu-cucu para penakluk tetap teguh dalam peperangan tersengit yang disaksikan daerah tersebut. Keteguhannya bak kokohnya gunung, mulia dengan Dien, dan membusungkan dada dengan keimanan mereka, berkorban dengan jiwa, harta, dan anak-anaknya sembari berkata dengan penuh keyakinan, “Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggutunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.“ (QS. at-Taubah: 52)

Mereka jadikan antek-antek Salibis penuh rasa frustasi, saling serang menyerang selama lebih dari setengah tahun, dalam pertempuran yang meluluh lantakkan semuanya tanpa bersisa. Sementara para kesatria Islam dan Junud Khilafah kembali kepada Rabb mereka, selepas mereka melaksanakan janjijanjinya, demikianlah penilaian kami dan Allah-lah sebenar-benar penilai, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. al-Buruj: 8-9)

Keteguhan ummat yang berjihad itu memiliki bekas yang agung, setelah mereka lebih memilih kematian dan terbunuh di jalan Allah, bersabar seraya mengharap pahala. Mereka bertekad untuk tidak mundur dari negeri yang telah mereka tegakkan syariat Allah di dalamnya, lalu menyerahkannya kepada orang-orang yang kafir terhadap Rabb Semesta Alam. Mereka berikan contoh nyata pada Ahlul Iman dalam perkara kesabaran, penguatan kesabaran, keteguhan, pengorbanan. Mereka persembahkan nyawa dan raga dengan murah, sebagaimana halnya menyeru ummat Islam agar mengetahui putra-putra mereka yang jujur, yang tidak rela kecuali menjadi jembatan yang dengannya ummat ini menyeberang menuju laga kemuliaan, kekuasaan, kemenangan dan penaklukkan, dengan izin Allah.

Ada dua jalan, entah kemenangan yang kita raih
Ataukah taman surga abadi, yang di dalamnya terdapat rumah terbaik,
Kita tidaklah berperang dengan ribuan prajurit yang kita kumpulkan,
Bahkan sejuta pahlawan yang bersenjatakan lengkap

Hanyasanya kami berperang dengan Dien,
Yang menjadi penjamin kemenangan generasi pertama,
Mereka dilengkapi dan dilindungi ketetapan hati untuk bertempur,
Dengan kejujuran dalam peperangan, tanpa terkena tipu daya,

Mereka terus bergerak maju, meskipun gunung menjadi condong lantaran rasa takut,
Persatuan mereka tak terganggu oleh rasa takut, tiada pula mengendor,
Barang siapa yang mendahulukan kebenaran, ia kan korbankan nyawanya,
Dan barang siapa yang tekadnya jauh ke depan, ia kan sanggup meraihnya.

Waspadalah, waspadalah, wahai Junud khilafah, jangan sampai kalian berlemah lembut terhadap musuh kalian, karena hal itu bukanlah apa yang diperintahkan pada kalian. Sesungguhnya inilah yang disaksikan oleh kaum kuffar yang dikepalai Amerika, yang atas karunia Allah tiada pernah merayakan kemenangan sejak mereka seret diri mereka ke dalam peperangan melawan Islam dan kaum muslimin. Kita pada hari ini atas karunia Allah berada di era baru yang di dalamnya bangunan Khilafah meninggi, meskipun kekafiran bersatu dan bersekutu, mereka tidak akan melihat dari kita kecuali hal buruk yang akan menimpa mereka, atas daya dan kekuatan Allah. Dialah sebaik-baik penolong dan pelindung kita. Sesungguhnya Allah adalah penolong kita atas mereka. Ini semua tidak lain baru sebatas kilatan pertempuran dan permulaan dari peperangan besar. Yang menang di dalamnya adalah yang bersabar lagi jujur, bukan yang terlebih dahulu sampai ke depan. Hanyasanya hasil penentuan adalah di akhir.

Wahai bala tentara Islam, dan pengemban panjinya di Libya...

Jagalah Dien dan ummat kalian, jangan sampai Islam diserang dari arah kalian. Saudara-saudara kalian telah menepati janji-janji mereka dan apa yang menjadi tanggung jawab mereka. Jika kalian bersabar, teguh di atas al-Haq, dan yakin, maka kalian akan melihat buah yang baik dari penanaman jual beli yang dengan izin Allah setelah ia disirami dengan darah dan jasad yang suci.

Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah saat hari-hari Mihnah, “Wahai Abu Abdullah tidakkah kamu melihat bagaimana kebathilan mengalahkan kebenaran?” Katanya, “Sekali-kali tidak, kemenangan kebathilan atas al-Haq itu terjadi ketika berpindahnya hati dari petunjuk menuju kesesatan. Sementara hati kita kini masih berada di atas al-Haq.”

Dan saudara-saudara kalian telah menunjukkan kesabaran dan keteguhan sebagai teladan untuk diikuti dan perbuatan yang harus dikerjakan kembali. Karenanya, mintalah pertolongan kepada Allah, jangan sampai murtaddin hidup dan kenyamanan dan tidur dengan terlelap, karena peperangan ini kian sengit, hari demi hari terus berputar, dan hasil akhir yang baik adalah milik para muttaqin.

Wahai Ahlus Sunnah di Irak dan Syam, wahai Ahlus Sunnah...

Pasukan Ahzab dari bala tentara kekafiran pun Salibis yang dikomandoi oleh Amerika untuk memerangi Daulah Khilafah di Irak dan Syam serta seluruh tempat yang tegak kekuasannya, mereka ini mengira sanggup memadamkan cahaya jihad dari jiwa-jiwa muslimin, dan mematikan kobaran kemuliaan yang menyalanyala di dalam dada mereka, setelah ummat Islam memiliki Khilafah yang menyatukan mereka dan merapatkan barisan mereka, kalimat mereka di bawah satu imam, satu panji, dan satu tujuan, inilah mereka pada hari ini mengorbankan segenap usaha mereka untuk menguasai daerah-daerah Daulah Islamiyah, yang atas karunia Allah menjadi benteng kalian yang kuat, perisai kalian yang kokoh dalam melawan Rafidhah, Nushairiyah, dan kaum Atheis. Kalian telah menyaksikan, mendengarkan mobilisasi pasukan Salibis atas Mosul dan Tal Afar, pun apa yang dikorbankan oleh putra-putra Khilafah untuk membela dan mempertahankan keduanya. Kami tidak mengira kalian tak mengetahui pengorbanan putra-putranya yang agung dari kalangan Muhajirin pun Anshar, dan kalian telah melihat atas karunia Allah serta karunia-Nya, bahwa pengorbanan jiwa dengan murah di jalan Allah dan membinasakannya demi meraih ridha-Nya, adalah karakter dan tujuan putra putra Islam pilhan yang mencampakkan fanatisme kesukuan. Bahkan kalian lihat seorang Anshari mendahului saudaranya al-Muhajir. Atas karunia Allah operasi istisyhadiyah tidak hanya terbatas bagi para pemuda tanpa orang tua, bahkan semuanya berusaha mendahului temannya.

Seorang pemuda yang melihat kematian sebagai sebuah kemuliaan
Seperti halnya orang-orang tua yang diuji melalui peperangan

Matilah kalian dalam kegeraman wahai Amerika, matilah dalam kebencian kalian! Tidak akan kalah sebuah ummat dimana para putranya, baik pemuda maupun orang tuanya berlomba-lomba menuju kematian dan menumpahkan nyawa mereka dengan murah di jalan Allah. Tidak akan kalah generasi yang hasratnya adalah akhirat dan hasil yang baik.

Maka bangkitlah wahai Ahlus Sunnah untuk menolong saudara-saudara kalian dan meleburlah ke dalam barisan mereka. Ambillah peran yang menggembirakan kalian, dan Dia dalam keadaan ridha pada kalian. Para ummat Salibis dan umat kafir pada hari ini, berjalan dalam usaha nan picik penuh tipu daya yang busuk, untuk mengosongkan satu per satu wilayah dari eksistensi kalian wahai Ahlu Sunnah di Irak dan Syam, untuk diberikan kekuasaannya pada Rafidhah, Nushairiyah, dan kaum Atheis Kurdi. Mereka tahu, sebelum dan sesudahnya, bahwa kalian adalah manusia yang paling keras permusahannya terhadap mereka, serta membayahakan negeri kecil Yahudi dan antek-antek mereka, dari pemerintahan murtad di negaranegara Teluk serta Timur Tengah.

Disamping kekhawatiran mereka atas sirnanya keuntungan dan penghasilan-penghasilan mereka di negeri-negeri kaum muslimin yang terjajah. Mereka telah manancapkan cakar-cakarnya ke dalam tubuh ummat sejak berabad-abad. Dan sungguh cakar-cakar itu pasti akan dicabut, dan tangantangan itu akan dipotong, dengan izin Allah, dengan keimanan, keteguhan, tawakal, kesabaran dan tekad putra-putra khilafah, In Sya Allah. Itu adalah janji Rabbaniyah, baik mereka suka atau tidak, baik mereka telah membuat rencana dan makar, tidak akan terwujud kecuali urusan Allah dan takdir-Nya. Allah telah menjaga Syam dan penduduknya, kami berbaik sangka dengan Rabb kita bahwa Dia tidak akan menelantarkan kita.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan terdiri menjadi beberapa bala tentara, tentara di Syam, Irak, dan Yaman.” Ibnu Hawalah berkata, “Wahai Rasulullah, berilah pilihan padaku.” “Hendaknya kamu memilih Syam, jika tidak maka hendaknya menuju Yaman.”

Bala tentara muslimin akan tetap kokoh di tempatnya dengan izin Allah, baik di Syam, Irak, Yaman, dan seluruh belahan negeri muslimin yang kekuasaan Khilafah sampai kepadanya, meskipun para pembesar kekafiran dan petinggi Salibis mengira mereka akan menahan janji Rabbani dan kejadiankejadian yang akan datang mengenai kehancuran mereka, atau mereka kira telah menang dengan membunuh putra-putra Islam dalam peperangan di tiap daerah, kota ataupun desa, maka anggapan mereka telah salah. Para lelaki yang telah bersikap jujur dan memenuhi janji mereka –kami menilainya demikian dan Allah-lah yang sebenarnya menilainya– keluar berperang berusaha untuk mendapatkan kematian di tempat yang ia tuju, dan itu merupakan cita-cita yang selama ini diharapkannya, sungguh mustahil wahai para penyembah Salib, sesungguhnya Allah ta'ala akan melaksanakan janji-Nya,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nur: 55)

Wahai Ahlus Sunnah di Syam...

Kalian telah melihat dan menyaksikan perbuatan antek-antek kafir di kota al-Bab dan pinggirannya. Pun apa yang diperbuat pasukan murtad al-Ikhwani Turki, dan anjing-anjingnya liarnya, yaitu para shahawat hina, antek menjijikkan, berupa pembantaian terhadap Ahlus Sunnah. Kota ini hancur lebur akibat bombardir Rusia, Amerika dan antek-antek murtad mereka. Mereka tiada mengasihani kaum wanita maupun anak-anak ataupun orang tua dari kalangan awam muslimin yang tinggal di dalamnya. Kaum Atheis Kurdi dan Nushairi berkoalisi memerangi desa-desa yang berada di sekitar kota, memanfaatkan serangan sengit yang tengah menimpa ummat Islam, dan kita tidak mendengarkan satupun kata dari para Ulama Suu nan durjana –semoga Allah melaknat dan menghinakan mereka- yang mengingkari, menyangkal atau cemburu atas mahramnya, dan mereka tidak akan cemburu akannya. Hampir-hampir engkau tidak mendengar celotehan mereka kecuali kedustaan atas Mujahidin dan melontarkan kepada mereka sifat terburuk. Demi Allah, mereka tidak lain adalah tombak yang digunakan Salibis untuk menusuk siapa saja yang berusaha mengembalikan ummat menuju kemuliaan generasi terdahulunya, berperang demi membantai partai kafir dunia yang yang menusuk dada ummat yang memerangi ummat Islam.

Maka sadarlah wahai Ahlus Sunnah di Syam, dan pahamilah apa yang dinginkan dari kalian. Sungguh Daulah Islamiyah tidak pernah menutup pintunya sehari pun di hadapan mereka yang berusaha jujur dan bertaubat, serta tidak menginginkan untuk kalian kecuali kebaikan dan hal yang menghantarkan kepada kemuliaan kalian. Kalian telah dikejutkan dengan sebelumnya oleh orang-orang yang meninggalkan kota Halab dari kalangan Shahawat murtad. Dia pun berlari di belakang Dolar untuk memerangi Daulah Khilafah, dan justru menyerahkan Aleppo untuk Nushairiyah tanpa perang. Dan pada hari ini, mereka menjarah serta mencuri rumah-rumah penduduk alBab yang terusir dan terbunuh, dan mayat-mayat penduduknya masih terkubur bawah di puing-puing bangunan yang telah hancur. Dalam keadaan paling hina dan gambaran terburuk dalam kerendahan, khianat, tidak ada dosa setelah kekafiran, dan jangan terkejut jika esok hari nanti ada yang melakukan genjatan senjata dan menggembar-gemborkannya agar Nushairi bisa menghela nafas dan menyatukan front pertempurannya melawan Daulah Khilafah. Menjadi partner Nushairiyah dalam negara dan bekerja melawan terror -mereka menamakan dirinya dengan Jabhah, Hai’ah dan Harakah, bak bunglon yang bergonta-ganti warna, setiap hari mereka berganti urusan dan penampilan. Mereka semua adalah tameng Salibis dan penjaga Nushairiyah, pun sebab kesengsaraan dan kesusahan yang kalian temui.

Tidak ada yang kalian miliki setelah Allah wahai Ahlus Sunnah di Syam, kecuali Daulah Khilafah, yang menjaga Dien kalian yang di dalamnya terdapat kemuliaan kalian dan terlepasnya kalian dari kesengsaraan. Kalian jaga kehormatan kalian, bersegeralah menuju kemuliaan kalian, bergeralah menuju yang menghidupkan kalian dan menyelamatkan kalian dari siksaan Allah. Bersegeralah menuju jihad, ribath menuju ibadah yang kalian telantarkan, setelah kalian tersesat dan hidup berselimutkan kehinaan pun kerendahan. Demi Rabbku, kalian tidaklah diciptakan dengan sia-sia, kalian akan bertemu dengan Rabb kalian, dan Dia akan menanyai kalian, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan itu.

Wahai bala tentara Khilafah, wahai ummat Islam...

Si dedengkot kejahatan dan kerusakan, yaitu Amerika telah terperdaya dengan kekuatannya dan pandangan matanya yang buta. Ia pun maju menyongsong rawa kehancuran dan kemusnahannya. Ya, dia akan tenggelam, dan kala itu tidak ada tempat untuk melarikan diri. Ia terus berusaha dengan sia-sia untuk menghindar dari jebakan, namun ia tiada memperoleh kehasilan. Ia pun diseret bersama bala tentara dan kendaraannya menuju Syam serta Irak, dan mereka akan diporakpondakan. Setelah ia melarikan diri dalam keadaan kalah dan hina dari Irak, lihatlah mereka kembali lagi, namun inilah yang dijanjikan. Meskipun kita banyak kehilangan daerah, kota atau desa, inilah ujian dan penyaringan Jama’ah muslimin, guna membersihkannya dari keburukan, dan Allah memilih hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Itu tak lain merupakan musibah dan himpitan, yang akan datang setelahnya penaklukkan besar dengan izin Allah, penaklukkan Baghdad, Damaskus, al-Quds, Amman dan Jazirah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Batalyon-batalyon keimanan akan memerangi Persia. Qum dan Teheran akan ditaklukkan, dan setelahnya kita akan memerangi Roma. Para singa akan mengaung dengan takbir atas penalukkan Konstantinopel tanpa perang. Inilah janji Rabb kita dan kabar gembira dari Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Atas karunia Allah, generasi di negeri Khilafah terdidik di atas Tauhid al-Wala dan Bara, menikmati pembunuhan dan kematian di jalan Rabbnya, dan kemuliaan Diennya. Kau tak akan berhasil wahai Amerika, kau tidak akan berkutik di hadapannya, sementara nadi/ cahaya keimanan telah berjalan di darahnya dan merasakan rasa mulia pun kebanggaan akan Diennya. Betapa banyak usaha Amerika untuk menghalangi manusia dari dien-Nya di Irak, Syam, Khurasan dan seluruh dunia. Betapa banyak kamu kucurkan seluruh tenagamu untuk menjauhkan manusia dari mujahidin, dan kamu kerahkan manusia-manusia terburuk, namun itu akan sia-sia, ya itu akan siasia. Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, usahamu akan merugi, mereka adalah yang menaiki bom-bom mobil mereka dan berperang di barisan pertama. Lelaki tua yang jenggotnya beruban namun enggan mewarnainya kecuali dengan darah.

Allah telah merealisasikan janji-Nya untuk kita dan kau berdusta wahai Amerika. Pada hari Dia menaklukkan untuk kami beberapa negeri dan menghinakanmu, serta menjadikanmu dan bala tentaramu sebagai pelajaran dan tanda-tanda. Kamu telah membelanjakan harta dan mengerahkan semua yang kamu miliki, yang atas karunia Allah menjadi ghanimah tanpa perlawanan bagi mujahidin yang lemah. Maha Benar Janji Allah, Dia menolong hamba-hamba-Nya, memuliakan bala tentara-Nya. Dan enyahlah kau Amerika, kau telah berdusta, kau menjadi lelucon setelah banyak mengalami kepayahan dan kesengsaraan. Kau mengira telah membasmi mujahidin di Irak dan kau serahkan kepemimpinannya kepada Rafidhah.

Atas karunia Allah, kami hunuskan pedang kebenaran di atas leherleher Rafidhah dan Shahawat murtad dari kalangan kabilah-kabilah suku. Mereka temui kematian mereka, meski mereka membencinya, menggali kuburan mereka dengan tangan mereka sendiri, disembelih di atas kasur-kasur mereka, sebagaimana yang akan datang saat ini yaitu para murtaddin Kurdi dan Shahawat yang kalian telantarkan. Mereka akan menemui nasib mereka sebagaimana nasib pendahulu mereka di Irak, dengan izin Allah.

Allah telah merealisasikan janji-Nya dan kamu berdusta, serta prasangkamu salah wahai Amerika. Di saat kami mengembalikan makna untuk ummat ini yang lenyap dari realita selama beberapa abad, dan atas karunia Allah kami hidupkan syiar-syiar yang telah terkikis dan dilupakan kaum muslimin, bahkan banyak dari mereka tidak mendengarkannya sejak pertama kali ia melihat dunia, maka kami deklarasikan Khilafah. Ya, kami deklarasikan Khilafah dan kami bai’at Khalifah Muslimin yang harus ditaati dalam hal-hal yang makruf, selama yang diterapkannya adalah dari kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, menghantarkan mereka pada kemuliaan. Atas karunia Allah, jalan ini semakin jelas, kami tidaklah diceraiberaikan oleh partai-partai, kelompok dan jamaah.

Kamu telah mengetahui wahai Amerika, tidak ada penolong bagimu. Kau menjadi buruan bala tentara Khilafah di seluruh penjuru bumi, kau telah merugi, sedangkan tanda-tanda kebinasanmu telah nampak dengan jelas. Dan yang paling jelas dari tanda-tanda itu adalah kau dipimpin oleh orang idiot yang tak tahu menahu apa itu Syam, apa itu Irak, apa itu Islam, yang selama ini didengungkan oleh musuh-musuhnya dan diumumkannya perang atasnya. Di hadapanmu hanya ada dua pilihan, keduanya adalah pilihan pahit, entah kau ambil pelajaran dari yang telah lalu dan kau mundur, maka mujahidin menikmati apa-apa yang kamu tinggalkan berupa ghanimah. Atau kau turun ke darat dan kau telah melakukan hal itu, maka kamu akan diceburkan ke dalam rawa kematian, dan hal itu melegakan dada– dada muwahhidin, dengan izin Alllah.

Wahai Ahlus Sunnah di Jazirah Muhammad shallallahu alaihi wasallam...

Celakalah kalian, apakah kalian tidak mendengar, apakah kalian tidak melihat mana hati kalian jika memang pandangantelah buta, mana Tauhid dan Iman kalian, dimana al-Wala dan Bara kalian, tidakkah kalian melihat Thawaghit Jazirah –semoga Allah menghinakan dan memusnahkan pekerjaan mereka- mereka melempar lampung penyelamat bagi Rafidhah di Irak, bahkan memberi selamat atas penjarahan terhadap daerah-daerah Ahlus Sunnah.

Belumkah tiba waktunya bagi kalian untuk meniup debu-debu kehinaan dan bangkit menyerang para murtaddin penghianat itu, yang tidak meninggalkan pintu kekafiran kecuali mereka telah memasukinya? Tidak ada rencana Salibis untuk memerangi Mujahidin kecuali mereka tolong dan sokong pun membantunya dengan semua yang mereka miliki. Apakah dari tempat turunnya wahyu dan sumber risalah (Islam), Ahlu Sunnah di Irak dan Syam dihinakan? Apakah dari negeri sahabat, para penakluk pertama, mereka tertimpa malapetaka dan penistaan, mana para pencemburu dari kalian? Mana cucu-cucu ash-Shiddiq dan al-Faruq Umar? Mana cucu-cucu Abu Bashir dan Abu Jandal? Wahai saudara setauhid di negeri Haramain, seranglah bala tentara Thagut, ulama keburukan dan fitnah, seranglah para Presiden dan Menteri, perlihatkan kepada mereka kemurkaanmu dan pertolonganmu untuk Dien, dan pembelaan terhadap saudara-saudaramu. Sungguh penyiksaan mereka terhadap Ahlu Syam telah mencapai puncaknya, para wanita telah mengeluhkan mala petaka dan musibah yang menimpanya, maka jangan sampai ada satupun orang bodoh yang menghalangimu dari menolong mereka.

Wahai Junud Khilafah di Mosul, Tal Afar, Raqqah, dan setiap front Daulah Islamiyah...

Ketahuilah bahwa kita pada hari ini melalui fase terbesar dari sejarah jihad kita dan paling berbahaya, pun titik perubahan dalam sejarah ummat. Maka jadilah kalian pengemban amanah. Kalian dengan izin Allah mampu untuk mengemban beban itu, berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa, mintalah tolong kepada Allah dan jangan merasa lemah. Gantungkan hati kepada yang Maha Tinggi dan Maha Penyayang, mintalah darinya pertolongan dan sokongan. Dia subhanah dekat dan mengabulkan orang-orang yang membutuhkannya dan menyingkap bencana, serta mencukupkan hamba-hamba-Nya.

Maka siapa lagi yang menyelamatkan Ibrahim dari api selain-Nya? Yang membelahkan laut untuk Musa dan menyelamatkan hamba-Nya Yunus dengan kasih saying serta karunia-Nya, dan menolong hamba-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan ketakutan musuh sebulan sebelum beliau sampai pada mereka. Maka bersabarlah, teguh dan bertawakallah. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Renungkanlah firman Rabb kalian dan hayatilah, “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkasangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 3)

Wahai bala tentara Khilafah. Wahai para penjaga kehormatan, wahai pembalas untuk Dien dan ummat mereka...

Kami mengenal kalian sebagai para pahlawan dan kesatria yang teguh dalam pertempuran dan bersabar dalam peperangan, serta para penguasa mulia, maka songsonglah janji Rabb kalian berupa kemenangan dan penaklukkan, dan siapkan diri kalian untuk menghadapi luka yang terpedih, sungguh itu adalah satu kematian, kemudian setelahnya adalah kemuliaan yang tak akan terputus. Jangan sampai kalian tinggalkan sejengkal tanah kecuali kalian jadikan itu sebagai gunung api bagi orang-orang kafir pendosa. Sergaplah mereka di rumah-rumah, gang-gang dan jalan-jalan, tanamlah ranjau di setiap jembatan, dan lancarkan serangan demi serangan, tangkap, kepung dan intailah mereka.

Wahai para kesatria Baghdad, baik di utara dan selatannya, di Kirkuk, Shalahuddin, Diyala, Fallujah, dan al-Anbar...

Tambahlah pengorbanan kalian, balas musuh-musuh Allah dari kalangan Rafidhah najis dan Ahlus Sunnah yang murtad, buatlah mereka merasakan kepahitan racun mematikan. Kalian adalah kesatria yang menyungkurkan musuh, mintalah ketepatan serangan pada Allah. Jadikan ketergantungan dan tawakal kalian atas-Nya, semua perkara berada di tangan-Nya.

Wahai Junud Khilafah di Khurasan, Yaman, Sinai, Libya, Afrika Barat dan dimana saja kalian berada...

Atas karunia Allah, kalian masih menjadi penolong terbaik untuk Daulah kalian, maka kuatkan agresi militer kalian terhadap musuh-musuh Allah dari kalangan kuffar pun halnya antek-antek mereka yang murtad. Ketahuilah, nyala api peperangan kalian terhadap mereka adalah bentuk aksi pertahanan kalian melawan serangan para ummat kekafiran atas Darul Islam di Irak dan Syam, sama saja dengan engkau mengalahkan koalisi dan mobilisasi pasukan mereka.

Wahai para muwahhidin yang jujur di Amerika, Rusia, dan Eropa. Wahai para Anshar Khilafah, wahai kalian yang rindu untuk bergerak menyerbu musuh, sementara kalian hari ini berada di tengah-tengah kaum musyrikin...

Singsingkan lengan baju kalian dan bersiaplah dengan penuh kesungguhan, serta berlaku jujurlah dalam usaha kalian. Ketahuilah, bahwasanya peperangan melawan musuh kita adalah perang global dengan keuntungan yang mudah diraih. Maka sibukkanlah diri mereka dari Khilafah dan Darul Islam kalian.

Ingatlah selalu sabda Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang kafir tidak akan berkumpul dengan pembunuhnya di neraka.” (HR. Muslim)

Ya Allah laknatlah orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mendustakan Rasul-Mu, memerangi wali-wali-Mu.

Ya Allah cerai beraikan kalimat mereka, jadikanlah permusuhan dan kebencian diantara mereka, guncangkanlah bawah telapak kaki mereka, turunkan kebengisanMu yang tidak tidak dapat dielakkan oleh kaum penjahat.

Ya Allah, tolonglah Dien dan bala tentaraMu, tinggikan kalimat dan panji-Mu yang haq, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

MENGANGKAT ULAMA DAN RAHIB SEBAGAI TUHAN SELAIN ALLAH

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

MENGANGKAT ULAMA DAN RAHIB SEBAGAI TUHAN SELAIN ALLAH
OLEH : SYAIKH SULAIMAN BIN ABDULLAH BIN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata di dalam kitab Taisirul ‘Azizil Hamid fi Syarhi Kitabi at-Tauhid pada bab Menaati ulama dan penguasa yang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah dan yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah, berarti telah menjadikan mereka sebagai tuhan selain Allah.

Ujarnya, “Ketaatan adalah salah satu jenis ibadah, bahkan merupakan ibadah itu sendiri, ialah menaati Allah dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya melalui lidah para Rasul-Nya p. Menaati seseorang itu harus didasarkan pada ketaatan kepada Allah, karena pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk taat kepada seseorang hanya karena diri orang itu sendiri.”

Yang dimaksudkan di sini adalah ketaatan khusus, yaitu dalam hal pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram. Jadi, siapa yang menaati makhluk selain Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam hal tersebut, dan beliau berbicara tidak berdasarkan nafsu, berarti dia musyrik, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam firman-Nya, ‘mereka menjadikan para ahbar mereka’, yakni para ulama, ‘dan para rahib mereka’, yakni para ahli ibadah, ‘sebagai arbab selain Allah dan al-masih adalah Putra Maryam. Dan tidaklah mereka diperintah melainkan untuk beribadah kepada ilah yang satu. Tidak ada ilah yang hak selain Dia. Mahasa Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.’ (QS. at-Taubah: 31).

Nabi shallallahu alaihi wasallam menafsirkan ayat itu bahwa maksudnya adalah mereka tunduk dan taat dalam hal mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sebagaimana yang akan disebutkan nanti pada hadits Adi bin Hatim.

Jika ada yang berdalih bahwa Allah ta'ala telah berfirman, ‘Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri diantara kalian.’ (QS. an-Nisa: 59), yakni para ulama, atau para penguasa, kedua pendapat tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad, Ibnul Qayim berkata, ‘Pastinya bahwa ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut (ulama dan penguasa).’

Maka sanggahannya adalah bahwa menaati mereka wajib jika memerintahkan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama itu adalah yang menyampaikan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan penguasa itu adalah pelaksananya, maka disaat itulah wajib menaati mereka sebagai tindak lanjut dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, ‘Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat , sesungguhnya ketaatan itu adalah dalam hal yang makruf.’ (HR. Bukhari dan Muslim), dan sabdanya, ‘Hendaklah seseorang mendengar dan taat selama tidak diperintah untuk bermaksiat. Jika dia diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” Kedua hadits ini adalah shahih. Jadi kandungan ayat ini tidak ada yang menyelisihi ayat surat at-Taubah di atas.

Ibnu Abbas berkata, ‘Hampir saja turun hujan batu dari langit atas kalian. Saya berkata, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda demikian,’ tetapi justru kalian menyanggah bahwa Abu Bakar dan Umar berkata demikian.’ Kata beliau, ‘Yusyiku, Abu as-Sa’adat berkata, ‘Artinya mendekat dengan segera.’ Kata-kata ini diucapkan oleh Ibnu Abbas kepada orang yang mendebat beliau dalam masalah haji tamattu’. Ia memerintahkan hal tersebut, tetapi sang pendebat berargumen bahwa Abu Bakar dan Umar melarang hal itu, maksudnya keduanya lebih tahu dari pada dirimu (Ibnu Abbas) dan lebih layak untuk diikuti. Oleh karena itu, Ibnu Abbas melontarkan perkataan ini. Kata-kata yang berasal dari keimanan yang tulus dan kuatnya mutaba’ah kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam meskipun ditentang oleh siapapun itu, sebagaimana kata Imam Syafi’I, ‘Para ulama sepakat bahwa siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka tidak boleh meninggalkannya karena perkataan seseorang.’ [Madarijus Salikin].

Jika seperti ini kata-kata Ibnu Abbas kepada orang yang mendebat beliau dengan pendapat Abu Bakar dan Umar, padahal keduanya memang begitu, lalu apa yang akan beliau katakan kepada orang yang mendebat sunnah-sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan pendapat imamnya dan yang semadzhab dengannya? Dia anggap perkataan imamnya itu laksana hakim atas al-Qur’an dan Sunah, mana yang sesuai maka diterima, adapun yang tidak sesuai maka ditolak atau ditakwilkan. Allahul musta’an.

Alangkah baik apa yang dikatakan oleh sebagian ulama,

Jika datang dalil yang selaras kepada mereka
Niscaya mereka tidak lagi pergi kepada bapaknya
Mereka akan menerimanya, dan jika tidak niscaya akan dikatakan bahwa ini perlu ditakwil
Padahal hal itu sulit untuk di takwil

Tidak diragukan bahwa hal ini masuk dalam firman Allah ta'ala, ‘Mereka menjadikan para alim dan pendeta mereka sebagai rabb selain Allah.’ (QS. at-Taubah: 31).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, ‘Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Aku heran dengan kaum yang mengetahui shahihnya isnad, tetapi justru mengambil pendapat Sufyan, sedangkan Allah ta'ala berfirman, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah.’ (QS. an-Nur: 63). Tahukah anda apakah fitnah itu? Fitnah adalah syirik, bisa jadi jika dia menolak sebagian sabda beliau shallallahu alaihi wasallam, akan muncul suatu kedurhakaan di dalam hati, sehingga akhirnya binasalah ia.’ Ini adalah perkataan Imam Ahmad yang diriwayatkan oleh Fadl bin Ziyad dan Abu Thalib.

Fadhl meriwayatkan dari Imam Ahmad, ‘Aku meneliti mushaf. Kudapati perintah untuk menaati Rasul terdapat pada 33 tempat. Kemudian beliau membaca, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah.’ (QS. an-Nur: 63). Beliau mengulang ulangnya seraya berkata, “Fitnah itu adalah syirik, bisa jadi jika dia punya niat buruk kepada sebagian sabda beliau, maka muncul suatu kedurhakaan di dalam hati, hingga hatinya menyimpang lalu membinasakannya. Beliau membaca ayat ini, ‘Maka, sekali-kali tidak demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam hal yang dipersengketakan antara mereka.’ (QS. an-Nisa: 65).

Abu Thalib meriwayatkan dari Ahmad, bahwa suatu kali diceritakan padanya bahwa ada suatu kaum yang meninggalkan hadits dan justru mengambil pendapat Sufyan, lalu beliau berkata, ‘Aku merasa heran terhadap suatu kaum yang telah mendengar hadits dan mengetahui shahihnya isnad, namun mereka meninggalkannya dan justru mengambil pendapat Sufyan dan yang lain. Allah ta'ala berfirman, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau adzab yang pedih.’ (QS. an-Nur: 63). Tahukah anda apa fitnah itu? Yaitu kekufuran, Allah ta'ala berfirman, ‘Fitnah itu lebih besar dari pada pembunuhan.’ (QS. al-Baqarah: 217). Mereka meninggalkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga hawa nafsu menjerumuskan mereka untuk mengikuti pendapat akal.’ Hal itu disebutkan oleh Syaikhul Islam.

Saya (penulis) katakan, ‘Perkataan Imam Ahmad dalam mencela sikap taklid dan mengingkari penulisan buku-buku yang bersumber dari ra’yu (akal) sangatlah banyak lagi masyhur.’

Kata beliau, ‘Mereka mengetahui isnad,’ maksudnya ialah sanad-sanad hadits, ‘dan keshahihannya,’ maksudnya ialah keshahihan isnad, yang menunjukkan bahwa hadits itu adalah shahih.

Kata beliau, ‘Tetapi justru mengambil pendapat Sufyan,’ maksudnya Sufyan ats-Tsauri, seorang Imam yang zuhud, ahli ibadah, terpercaya lagi faqih. Beliau memiliki pengikut dan madzhab yang masyhur, lalu terputus (madzhabnya tidak sampai kepada kita seperti madzhab empat imam. Edt.).

Imam Ahmad bermaksud mengingkari orang yang mengetahui sanad dan keshahihan hadits, namun malah bertaklid kepada Sufyan dan yang lain. Kemudian berdalih dengan alasan-alasan bathil. Seperti karena menganggap bahwa berdalil dengan hadits adalah ijtihad, sedangkan ijtihad telah terputus sejak lama. Atau karena menganggap bahwa imam yang ditaklidi itu lebih tahu, tidak mungkin dia berkata tanpa ilmu, dan tidaklah dia meninggalkan hadits ini, misalnya, melainkan berdasarkan ilmu. Atau menganggap bahwa hal itu adalah ijtihad, sedangkan syarat mujtahid adalah mengetahui Kitabullah dan Sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, nasikh dan mansukh, sunnah yang shahih dan yang cacat, mengetahui metode menyimpulkan dalil, ilmu bahasa arab, nahwu, ushul fiqih dan syarat- syarat lain yang barang kali juga tidak dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang dikatakan oleh penulis.

Jika memang alasan-alasan tersebut bisa dibenarkan, maka yang mereka maksud adalah mujtahid mutlak. Namun jika hal itu dijadikan syarat boleh atau tidaknya beramal dengan al-Qur’an dan Sunnah maka ini adalah kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam serta kepada para imam. Yang seharusnya dilakukan oleh seorang mukmin jika sampai kepadanya al-Qur’an dan Sunnah RasulNya shallallahu alaihi wasallam dan ia memahami makna yang terkandung, maka hendaklah dia beramal dengannya meskipun ditentang oleh siapapun itu.

Demikianlah Rabb kita dan Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada kita, dan semua ulama juga sepakat atas hal itu, kecuali para pentaklid bodoh dan dungu itu. Orang-orang seperti mereka tidak dianggap ahli ilmu. Dinukilkan sebuah ijma bahwa mereka bukan ulama, diantaranya oleh Abu Umar bin Abdul Barr dan yang lain.

Allah ta'ala berfirman, ‘Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).’ (QS. al-A’raf: 3).

Firman-Nya, ‘Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.’ (QS. an-Nur: 54).

Allah ta'ala bersaksi bahwa siapapun yang menaati Rasul shallallahu alaihi wasallam maka dia akan mendapatkan petunjuk. Sedangkan menurut para pentaklid jumud itu bahwa siapa yang menaati beliau shallallahu alaihi wasallam bukanlah orang yang mendapat petunjuk, melainkan orang yang bermaksiat kepadanya, meninggalkan sabdasabdanya, dan membenci sunnahnya, serta beralih kepada madzhab atau syaikh dan lain sebagainya. Banyak orang yang mengaku ulama, penulis hadist dan kitab-kitab sunan justru terjerumus dalam taklid haram ini. Anda lalu mendapatinya begitu jumud kepada salah satu madzhab, dan menganggap orang yang menentangnya terjerumus dalam dosa besar.

Perkataan Imam Ahmad mengisyaratkan bahwa sikap taklid sebelum sampainya hujah tidaklah tercela, tetapi yang tercela lagi mungkar dan haram adalah tetap seperti itu setelah sampainya hujah. Betul, mengingkari tindakan mempelajari kitab-kitab fikih dan merasa puas dengannya serta meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Bahkan jika mereka membaca sesuatu dari Kitabullah dan Sunah Rasul Nya shallallahu alaihi wasallam, maka tidak lain hanya untuk mencari berkah, bukan untuk belajar atau memahami. Barangkali juga karena ada orang yang hendak berwakaf kepada seseorang yang membaca Shahih Bukhari, maka ia membacakannya untuk mendapatkan kerja, bukan demi mendapatkan ilmu syar’i. Mereka adalah manusia yang paling layak untuk masuk dalam katagori firman Allah ta'ala, ‘Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an). Barangsiapa berpaling dari pada Al qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.’ (QS. Thaha: 99-101), dan firman-Nya, ‘Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’ (QS. Thaha: 124) hingga ayat, ‘Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.’ (QS. Thaha: 127).

Jika anda bertanya, ‘Lalu bolehkah seseorang membaca kitab-kitab karya para madzhab ini?’

Ada yang berpendapat bahwa membaca kitab tersebut boleh asalkan tujuannya adalah untuk membantu dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah, serta memahami banyak persoalan. Sehingga kitab-kitab tersebut hanya sebagai alat. Adapun jika kitab-kitab tersebut lebih didahulukan daripada Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, yang menengahi perselisihan manusia, menyeru manusia untuk berhukum kepadanya dengan mengesampingkan hukum Allah dan Rasul-Nya g, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu bisa menafikan iman dan bertentangan dengannya. Sebagaimana firman Allah b, ‘Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’ (QS. an-Nisa: 65).

Jika ketika terjadi persengketaan Anda justru berhukum kepada kitab-kitab madzhab itu. Lalu jika Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara ternyata hati Anda merasa berat, tetapi Anda tidak merasa berat jika yang memutuskan adalah “ahli kitab”.

Lalu jika Rasul shallallahu alaihi wasallam memutuskan suatu perkara ternyata Anda tidak mau tunduk, tetapi Anda justru tunduk patuh jika mereka yang memutuskan perkara tersebut, maka sungguh Allah ta'ala telah bersumpah–dan Dia adalah Dzat yang paling jujur– dengan sumpah yang paling mulia yaitu diri-Nya sendiri azza wa jalla, bahwa anda bukanlah seorang mukmin.

Setelah itu Allah ta'ala juga telah berfirman, ‘Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.’ (QS. al-Qiyamah: 14-15).

WANITA ADALAH PENANGGUNG JAWAB RUMAH SUAMINYA

RUMIYAH 9 - MUSLIMAH

WANITA ADALAH PENANGGUNG JAWAB RUMAH SUAMINYA

Sudah seyogyanya bagi setiap ibu yang diberi nikmat melahirkan dalam naungan Darul Islam untuk memanfaatkan karunia agung itu yang tidak semua wanita mendapatkannya. Seyogyanya dia berusaha sekuat tenaga untuk membimbing anak-anaknya demi mendatangkan ridha Rabbnya dan bermanfaat bagi ummat. Bagaimana tidak? Sedangkan ia adalah seorang ibu yang melahirkan, mengasuh, dan mendidik disaat para lelaki dan para bapak sibuk dengan ribath dan pekerjaan mereka.

Dari Abdullah bin Umar, berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Sedangkan istri adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam harta majikannya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Para ahli ilmu telah menjelaskan bahwa kata ar-Rai (pemimpin) adalah bermakna penjaga, yang dipercaya, dan berkomitmen untuk menjaga apa yang diamanahkan kepadanya. Dia dituntut untuk adil dan berusaha selalu memberikan maslahat kepada apa yang diembannnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban apakah telah menunaikan kewajiban atas yang dipimpinnya ataukah tidak.

Ketika baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya,” berarti taklif (pembebanan) agung dan amanat besar yang diserahkan kepada seorang wanita muslimah. Di dalamnya terdapat pahala jika ia menunaikan kewajibannya terhadap anak-anaknya, sekaligus ada hisab dan siksa jika ia menyia-nyiakan amanah ini dan meremehkan hak-hak anak-anaknya.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. at-Tahrim: 6).

Ibnu Umar berkata kepada seorang laki-laki, “Ajarkanlah adab pada anakmu! Sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentang anakmu; adab apa yang telah engkau ajarkan kepadanya, apa yang telah engkau ajarkan kepadanya, karena sesungguhnya dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bakti dan taatnya padamu.” (Riwayat al-Baihaqi).

Awali dengan Tauhid

Kewajiban pertama atas seorang ibu muslimah kepada anak-anak adalah mendidiknya diatas tauhid sejak awal mereka berbicara. Ia menalqin mereka dengan persaksian (syahadat) Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah dan maknanya, sebagaimana diriwayatkan dari Ali bin al-Husain r bahwasannya dia mengajari anaknya, ujarnya, “Katakanlah, Aku beriman kepada Allah dan aku kufur terhadap thaghut.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah).

Selain itu seorang ibu harus mengajarkan kepada anaknya tiga ushul (pokok). Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Juga pertanyaan kepada anak, dimana Allah? Apa itu al-Qur’an? Yaitu pertanyaan-pertanyaan semisal ini yang dapat mengokohkan pondasi akidah yang lurus serta tauhid murni dalam jiwa anak.

Diantara hal terindah yang dipelajari oleh seorang anak adalah ma’iyatullah (kebersamaan Allah) ta'ala kepada hamba-Nya. Dia mempelajari khasyah (takut) kepada Allah ta'ala dan mengagungkan sang Khaliq (pencipta) di dalam jiwanya, dan merasa pengawasanNya kepada dirinya dalam kondisi sembunyi atau terang-terangan.

Inilah Abdullah at-Tasturi rahimahullah dalam masa kecilnya sebelum tidur ia selalu mengulang-ulang perkataan, “Allah menyaksikanku, Allah melihatku, Allah bersamaku.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah).

Keshalehan Ibu Adalah Sebab Keshalehan Anak

Wajib atas seorang ibu pendidik sekaligus pengajar dan teladan untuk memperbaiki dirinya sendiri sehingga dia berhasil memperbaiki didikannya di dalam rumahnya. Baiknya yang dipimpin adalah hasil dari baiknya pemimpin, dan baiknya anak-anak adalah efek dari baiknya sang ibu.

Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan bahwasannya ‘Utban bin Abi Sufyan berkata kepada guru adab anaknya, “Wahai Abu Abdus Shamad, hendaknya pertama yang engkau lakukan sebelum memperbaiki (adab) anakku adalah engkau perbaiki dirimu sendiri; karena aib mereka terikat dengan aibmu, dan kebaikan disisi mereka adalah apa yang engkau perbuat sedangkan keburukan bagi mereka adalah apa yang engkau anggap buruk.” (an-Nafaqah ‘alal ‘Iyal).

Mengajarkan Zuhud dan Hidup Qana'ah

Seorang ibu muslimah juga harus menanamkan dalam jiwa anak-anaknya bahwa dunia ini adalah negeri safar sedangkan akhirat adalah negeri kekal, dan Allah ta'ala berfirman terhadap lisan seorang mukmin dari keluarga Fir’aun, “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 39).

Maka dengan demikian anak-anak akan tumbuh di atas kezuhudan, sehingga dunia menjadi hina bagi mereka sedangkan di mata mereka Akhirat sangatlah agung. Ini semua lantaran tarbiyah sang ibunda terhadap mereka diatas kesukaran hidup dan kesulitan, dan asupan untuk mereka tentang makna zuhud. Sesungguhnya nikmat-nikmat yang sedang kita kecap saat ini (dunia dan isinya) adalah hal yang pasti lenyap, tidak lebih utama dari perjalanan hidup sang pemimpin kaum zuhud (Rasulullah) shallallahu alaihi wasallam.

Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah i bahwasannya ia berkata, “Sesungguhnya kami melalui tiga kali hilal dalam dua bulan dan selama itu pula tidak pernah ada nyala api (untuk memasak) dalam rumah-rumah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam!” Maka aku (Urwah) bertanya, ‘Wahai bibi, lalu kalian hidup dengan apa?” Jawabnya, ‘Kurma dan air, hanya saja dahulu Rasulullah memiliki tetangga Anshar yang memberikan susu kepada Rasulullah sehingga bisa memberi kami minum.” (Muttafaq Alaihi).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad itu makanan pokok.” Ibnu Hajar berkata, “Quut maksudnya cukupkanlah mereka dengan makanan pokok itu, sehingga tidak membuat mereka terjerumus ke dalam hinanya meminta-minta dan mereka tidak memiliki kelebihan yang akan menjadi faktor untuk bermewah-mewahan di dunia.” [Fathul Bari].

Benar, ini adalah apa yang diminta oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk keluarga beliau padahal Jibril alaihis salam pernah mendatangi beliau dengan membawa kunci-kunci pembendaharaan bumi akan tetapi beliau shallallahu alaihi wasallam sangat zuhud di dunia ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Selama tiga hari berturut-turut keluarga Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak pernah kenyang, hingga beliau wafat.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Inilah ia seorang Nabi shallallahu alaihi wasallam kekasih Allah Yang Mahabenar, manusia pilihanNya dan sebaik-baik makhluk-Nya, tidur diatas tikar hingga membekas di lambungnya dan terlihat oleh Umar radhiyallahu anhu hingga membuatnya menangis.

Nabi pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Jawab Umar, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, sebab aku melihat tikar ini membekas di rusuk anda, dan aku tidak melihat sesuatupun di tempat penyimpanan anda selain apa yang telah aku lihat, padahal istana Persia dan kaisar Romawi berlimpah-limpah dengan buah-buahan dan sungaisungai, sedangkan engkau adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan orang pilihan-Nya. Beliau bersabda, “Wahai Ibnul Khatthab, tidak sukakah kamu jika akhirat untuk kita sedangkan dunia untuk mereka?’’ (Muttafaq Alaihi).

Demikianlah keadaan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam di dunia ini. Pada keadaan seperti inilah seharusnya generasi khilafah digembleng, sehingga menumbuhkan generasi kuat yang mampu menanggung ujian hidup dan kokoh pendiriannya. Dengan itu dia siap untuk memikul amanah, menjunjung panji dan kekuasaan di muka bumi.

Dari Abu Utsman an-Nahdiy, berkata, “Sebuah surat dari Umar bin Al-Khatthab sampai kepada kami. Isinya, ‘Kuatlah, teguhlah, bersatulah dan jadilah seperti besi, jauhilah bermewah-mewahan dan pakaian orang ‘ajam.” (Diriwayatkan oleh athThahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar).

Mengajarkan Cinta Perang di Jalan Allah

Diantara nikmat Allah yang teragung atas para asybal (anak-anak) di bumi Khilafah yang harus dirasakan, dimanfaatkan, dan disyukuri oleh para ibu yaitu anak-anaknya tumbuh didalam asuhan seorang ayah mujahid. Mereka tumbuh besar terbiasa melihat senjata baik berupa senapan, kantong peluru, peluru, bom, dan rompi peledak. Mengikuti rilisan-rilisan mujahidin dan kabar mereka baik berupa tulisan maupun audio dapat menumbuhkan rasa cinta anak terhadap jihad dan mujahidin, serta kebencian terhadap musuh mereka. Namun terkadang seorang ibu biasa mendengar celaan dari sebagian manusia terhadap metode tarbiyah yang ia terapkan terhadap anak-anaknya, dengan dalih bahwa hal itu dapat membunuh masa kekanakan mereka dan mematikan keluguan mereka.

Kepada orang seperti mereka ini maka kami katakan, “Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad jayid (bagus) dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, ujarnya, ‘Hasan dan Husain n bergulat dihadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka Rasulullah bersabda, ‘Ayo Hasan!’ (bermaksud menyemangati). Fatimah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau berkata, ‘Ayo Hasan?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Jibril alaihis salam berkata, ‘Ayo Husain’.”

Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Abdurrahman bin Auf bahwasannya dia berkata, “Aku berdiri dalam barisan pada perang Badar. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata aku berada diantara dua anak dari kalangan Anshar yang masih sangat belia, aku sangat ingin jika seandainya aku adalah salah satu dari mereka berdua. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menggamitku dan bertanya, ‘Wahai paman, apakah engkau mengetahui Abu Jahal?’ ‘Tentu, apa yang akan kamu lakukan wahai anak saudaraku?’, jawabku. Dia berkata, ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa dia telah mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya seandainya aku melihatnya maka bayanganku tidak akan berpisah dari bayangannya sampai maut memisahkan kami.’ Kemudian temannya juga menggamitku dan bertanya pertanyaan yang sama. Akupun dibuat heran oleh hal itu. Tak lama kemudian aku melihat Abu Jahal berkeliling diantara manusia, kemudian aku berkata kepada mereka berdua, ‘Lihat itu, dialah orang yang kalian tanyakan tadi. Maka mereka berdua pun segera menghampirinya, dan ia (Abu Jahal) menghadapi keduanya. Keduanya berhasil menebasnya dengan pedang dan membunuhnya. Kemudian mereka berdua menghampiri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberitahunya, maka beliau bersabda, ‘Siapa dari kalian yang membunuhnya?’. Keduanya mengaku telah membunuhnya. Beliau lalu bertanya, ‘Sudahkah kalian mengelap pedang kalian?’ Mereka berkata, ‘Belum.’ Rasulullah melihat kedua bilah pedang mereka dan bersabda, ‘Kalian berdua telah berhasil membunuhnya.’

Disebutkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, dari Hisyam bin Urwah, berkata, “Sesungguhnya hal pertama kali yang diucapkan oleh Abdullan bin Zubair dengan fasih ketika ia masih kecil adalah, ‘Saif, saif (pedang, pedang).’ Ia tidak pernah berhenti mengucapkannya. Zubair ketika mendengarnya dia berkata, ‘Demi Allah suatu saat engkau akan memilikinya.”

Dari Urwah bin Zubair bahwa Zubair menaikkan anaknya yaitu Abdullah pada perang Yarmuk ke atas seekor kuda pada usia sepuluh tahun dan menitipkannya kepada seseorang. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Bersungguh-sungguh dalam mengajarkan bahasa Arab

Betapa bagusnya bila seorang ibu muslimah menjaga dan membiasakan bahasa Arab kepada anak-anaknya, dan mengevaluasi logatnya. Jika mereka bukan dari bangsa Arab maka hendaknya ia (ibu) berusaha mengajari mereka bahasa Arab, agar mereka dapat mempelajari perkara-perkara agama dan berbaur dengan jamaah kaum muslimin. al-Khatib al-Baghdadi telah meriwayatkan bahwa Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar radhiyallahu anhu memukul anak-anak mereka jika ada kesalahan logat.

Demikianlah perhatian mereka dalam mengajarkan Bahasa arab yang dengannya al Qur’an diturunkan, semoga Allah mengaruniai kita keturunan yang sholeh dan generasi yang berjihad di jalan-Nya dan menolong dien-Nya.

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Di Antara Gambaran Ini

Dahulu kabilah-kabilah Quraisy sepakat untuk mengembargo dan mengisolasi kaum mukminin bersama Bani Hasyim di kubu Abu Thalib. Tidak ada jual beli apapun selama tiga tahun, sampai-sampai mereka terpaksa memunguti serangga untuk dimakan. Hampir saja kaum mukminin binasa jika saja bukan karena rahmat Allah.

Ashabul-Ukhdud, mereka dicampakkan ke dalam api. Mereka tidak mau menegosiasikan agamanya dan lebih memilih mati di jalan Allah. Hingga kemudian thaghut menggali parit, menyalakan api, dan menyuruh para algojo dan tentaranya untuk membakar kaum mukminin. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, tak ada satupun yang menjadi lemah atau kabur. Tidak ada riwayat pun yang menyebutkan bahwa ada yang kabur, mundur, atau bersikap pengecut, akan tetapi kita dapati mereka maju dan berani. Mereka berlomba-lomba menceburkan dirinya ke dalam api. Seolah sang ghulam telah menghembuskan keberanian dan keteguhan ke dalam jiwa mereka. Inilah mereka, menyusulnya menjemput kematian, seolah mereka merasakan nikmat ketika menyuguhkan jiwa sebagai tebusan bagi agama. Mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, bahkan Allah ta'ala menyebutnya sebagai “kemenangan yang besar.” “Sesungguhnya orangorang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah kemenangan yang besar.” (QS. al-Buruj: 11).

Dari Anas ibn Malik h, berkata, “Pamanku Anas bin an-Nazhr tidak hadir dalam perang Badar, maka dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak hadir dalam perang yang pertama kalinya engkau memerangi kaum musyrikin. Jika Allah memberikanku kesempatan untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang akan aku perbuat.’ Maka ketika Perang Uhud, dan kaum muslimin tersingkap, ujarnya, ‘Ya Allah, aku meminta uzur kepada-Mu dari apa yang mereka perbuat – yakni para shahabatnya – dan aku berlepas diri dari apa yang mereka perbuat – yakni orang-orang musyrik.’ Dia pun segera maju. Dia berpapasan dengan Sa’ad bin Muadz, katanya, ‘Hai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabbnya an-Nazhr, surga demi Rabbnya an-Nazhr, sungguh aku mencium baunya dari arah Uhud.’ Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup beraksi seperti aksinya.’ Anas berkata, “Kami dapati ada lebih dari 80 luka sabetan pedang, tikaman tombak, atau tusukan anak panah. Kami dapati jasadnya telah dimutilasi oleh orang-orang musyrik. Tidak ada yang dapat mengenali jasadnya kecuali saudara perempuannya, lewat jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun untuknya atau yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggununggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)’.” (QS. al-Ahzab: 23).

Kita dapati makna kemenangan ini di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Khabbab. Ia datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, “Tidakkah engkau memintakan kemenangan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?” Beliau bersabda, “Dahulu di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang ditanam di dalam lubang, lalu digergajilah tubuhnya dari kepala hingga terbelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dari tulangnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari Diennya.”

Di antara kemenangan samar yang hanya bisa dilihat oleh mukmin bahwa musuh-musuh kebenaran, meskipun mereka begitu kuat dan berlebih-lebihan dalam memperlakukan lawan-lawannya, hanya saja mereka harus menelan berbagai macam kepahitan moral dan siksaan jiwa sebelum menyakiti musuhmusuhnya. Bahkan terkadang setelah melakukan kejahatannya mereka tidak bisa menemukan ketenangan dan merasakan kebahagiaan. Karena itu, tatkala al-Hajjaj ibn Yusuf membunuh Sa’id ibn Jubair, berbagai tekanan batin dirasakannya hingga tak dapat tidur nyenyak. Ia sering terbangun tiba-tiba dari tidurnya dan berkata, “Ada apa antara aku dan Sa’id?”, hingga dia mati dalam kesedihan dan kekhawatirannya itu.

Inilah yang kita yakini dalam perang melawan pembawa panji salib si thaghut durjana Amerika ini. Sekalipun dengan segala kedurjanaan dan kediktatorannya, dengan segala kekuatan dan persenjataannya, hanya saja mereka tertimpa kehinaan jiwa dan kehancuran moral yang seandainya ditumpahkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur.

Al-Qur’an telah menggambarkan kenyataan ini dalam surat Ali Imran, Allah ta'ala berfirman, “Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka), ‘Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 119-120).

Allah juga berfirman, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (QS. al-Ahzab: 25).

Di antara gambaran-gambaran tersebut, yang samar bagi mereka yang tertutup mata hatinya, ialah kerinduan akan kehidupan sempurna yang telah Allah siapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya. Allah ta'ala berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169).

Siapa yang tidak mati dengan pedang maka dia pasti akan mati dengan selainnya
Sebab kematian itu beragam namun kematian itu satu

Dari penjelasan di atas, jelaslah bagi kita makna yang menyeluruh dari kemenangan, dan bahwasanya tidak boleh kita membatasi jenis kemenangan pada apa yang kita kehendaki.

Sesungguhnya di antara faktor penguat keteguhan dan kuatnya perjuangan – seperti yang kita lihat di Fallujah – bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi tahu kita bahwa di antara tanda kemenangan Dien Islam adalah tidak ada kekuatan apa pun di muka bumi ini yang dapat membinasakan seluruh kaum mukminin, sebagaimana dahulu hampir terjadi di zaman nabi Nuh atau di awal risalah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa jihad akan tetap ada dan dijalankan di muka bumi, seperti yang ditunjukkan dalam hadits shahih, “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah, tidak membahayakan mereka siapa yang menggembosi atau menyelisihi mereka, hingga datanglah keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.”

Kemenangan dan kelangsungan dien ini ada di tangan Allah. Dia telah menjaminnya dan berjanji akan hal itu. Jika Dia berkehendak maka akan menolong dan memenangkannya, dan jika Dia berkehendak maka akan menundanya dan mengakhirkannya, dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan urusan-Nya. Jika Dia memperlambatnya maka itu semua karena kebijaksanaanNya yang telah ditentukan-Nya, dan tentu di dalamnya terdapat kebaikan bagi mukmin. Tidak ada yang lebih cemburu terhadap kebenaran dan pemeluknya daripada Allah ta'ala, “Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum: 4-6).

Jangan engkau kira kemuliaan itu seperti kurma yang engkau memakannya
Engkau tidak akan meraih kemuliaan hingga engkau mengecap kesabaran

Sesungguhnya Allah ta'ala, Mahatinggi keputusanNya dan Mahamulia keagungan-Nya, Dia terkadang mengaruniakan kemenangan kepada orang-orang beriman dan terkadang menguji mereka. Dia menghalangi mereka dari nikmat ini dan menimpakan ujian karena hikmah yang telah ditentukan dan diketahui-Nya. Terkadang Allah memberikan nikmat dalam ujian meski berat dan terkadang Allah menguji suatu kaum dengan nikmat.

Ibnul Qayim rahimahullah di dalam Zadul Ma’ad telah menyebutkan hikmah-hikmah ini secara sekilas, ujarnya, “Di antaranya bahwa ini adalah salah satu ciri para rasul, seperti yang dikatakan Heraklius kepada Abu Sufyan, ‘Apakah kalian memeranginya?’ ‘Ya’, jawabnya. Heraklius bertanya lagi, ‘Bagaimana perang antara kalian dengannya?’ Jawabnya, ‘Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya.’ Heraklius berujar, ‘Begitulah para Rasul, mereka diuji lalu kesudahan yang baik bagi mereka.’

Di antaranya hikmahnya yaitu untuk memisahkan antara mukmin yang jujur dan munafik pendusta. Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin pada Perang Badar sehingga mereka ditakuti, ada orangorang yang masuk Islam secara lahir namun tidak secara batin. Sehingga Allah menguji hamba-Nya, berdasarkan hikmah-Nya, agar memisahkan antara muslim dan munafik. Pada perang orang-orang munafik mengangkat kepalanya dan melontarkan apa yang selama ini mereka sembunyikan, menampakkan apa yang mereka tutupi, dan menyerukan apa yang mereka ucapkan secara samar, sehingga ketika itu manusia terbagi menjadi mukmin, kafir, dan munafik secara jelas. Kaum mukminin menjadi tahu bahwa mereka memiliki musuh dalam selimut yang hidup bersama mereka dan tidak terpisah, sehingga bisa bersiap dan bersikap waspada.

Di antaranya; jika Allah selalu menolong dan memenangkan kaum mukminin di setiap pertempuran, membuat mereka berkuasa atas musuhnya terus menerus, maka mereka akan menjadi tinggi hati, angkuh, dan berlebihan. Jika pertolongan dan kemenangan dibentangkan atas mereka tentu keadaan mereka akan menjadi seperti jika rizki dibentangkan atas mereka. Hamba-hamba-Nya tidak akan menjadi lurus kecuali dengan kemudahan disertai kesulitan, dan kesempitan disertai kelapangan. Dia menggilirkan urusan hambaNya sesuai apa yang layak menurut hikmah-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui dan Melihat.

Di antaranya; menumbuhkan rasa penghambaan total para wali dan golongan-Nya, dalam kelapangan dan kesempitan, dalam sesuatu yang mereka sukai dan yang mereka benci, dalam keadaan menang atau ketika musuh menang. Jika mereka tetap taat dan menghamba dalam keadaan yang disukai maupun dibenci, maka itulah hamba-Nya yang sesungguhnya, bukan seperti mereka yang beribadah kepada Allah hanya dalam tepian saja, dalam kesenangan, kelapangan dan kemudahan.

Di antaranya; apabila Dia menguji mereka dengan kekalahan, kesulitan dan kehancuran, mereka akan melemah, sedih dan tunduk, sehingga akan mengundang kejayaan dan pertolongan. Kalung kemenangan selalu bersama dengan sikap merendah dan menghinakan diri, Allah ta'alaerfirman, ‘Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar padahal kalian (ketika itu) orang- orang yang lemah.’ (QS. Ali Imran: 123), dan firman-Nya, ‘Dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (QS. at-Taubah: 25). Jika Allah ta'ala berkehendak menjayakan, menguatkan dan menolong hamba-Nya, Dia akan mematahkannya terlebih dahulu, sehingga penawar, penyembuh, dan pertolongannya berbanding lurus dengan lukanya.

Di antaranya; bahwasannya Allah telah menyiapkan kedudukan di negeri kemuliaan-Nya bagi hamba-Nya yang tidak bisa diraih dengan amal-amal mereka. Mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan ujian dan cobaan, hingga Dia mengikat sebab-sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada-Nya, dengan ujian dan cobaan-Nya itu. Allah juga memberi taufiq untuk melakukan amal shalih, yang itu semua termasuk bagian dari sebab-sebab sampainya mereka kepada-Nya.

Di antaranya; sesungguhnya jika jiwa terus menerus sehat, menang, dan kaya, maka dia akan angkuh dan cenderung tergesa-gesa. Itu adalah penyakit yang menghalanginya bersungguh-sungguh berjalan menuju Allah dan negeri akhirat. Jika Rabb, Pemilik, dan Sang Maha Pengasih menginginkan kemulian baginya, maka Dia akan berikan padanya ujian dan cobaan untuk menjadi obat dari penyakit itu, yang menghalangi jalan menuju kepada-Nya. Ujian dan cobaan ini laksana dokter yang memberikan obat yang pahit kepada orang sakit, dan memutus semua faktor penyebab rasa sakit, yang seandainya dibiarkan maka penyakit itu akan menguasainya dan membinasakannya.

Di antaranya; syahid di sisi Allah adalah derajat paling tinggi bagi para wali-Nya. Para syuhada adalah orang-orang khusus dan hamba-hamba-Nya yang dekat. Tidak ada derajat setelah orang-orang jujur selain mati syahid. Dia senang untuk menjadikan dari hamba-hamba-Nya sebagai syuhada. Darah mereka mengalir demi meraih kecintaan dan kerelaan-Nya. Mereka lebih suka kerelaan dan kecintaan-Nya daripada dirinya sendiri. Tidak ada jalan untuk meraih derajat ini kecuali dengan menyuguhkan sebab-sebab yang mengarah kepadanya, seperti dengan dikuasai musuh dan lainnya.”

Allah ta'ala berfirman, “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).

Imam Ibnul Qoyim rahimahullah berkata di dalam al-Fawaid, “Di dalam ayat ini terdapat sejumlah hikmah, rahasia dan kebaikan bagi hamba. Jika seorang hamba tidak mengetahui bahwa sesuatu yang dibenci terkadang membawa sesuatu yang disukai, dan sesuatu yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, maka dia tidak boleh merasa aman dari sesuatu yang membahayakan jika datang kepadanya sesuatu yang membahagiakan, dan dia tidak boleh berputus asa dari datangnya sesuatu yang membahagiakan jika datang padanya sesuatu yang membahayakan, karena dia tidak mengetahui bagaimana suatu urusan itu akan berakhir. Allah membuatnya melakukan hal itu karena Dia mengetahui apa yang tidak diketahui hamba-Nya. Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa tidak ada hal yang lebih bermanfaat baginya selain menjalankan semua perintah meskipun pada awalnya itu adalah hal yang berat, karena pada akhirnya semua adalah kebaikan, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan. Jika nafsunya membenci maka itu adalah kebaikan dan manfaat baginya. Juga tidak ada yang lebih berbahaya baginya dari melakukan apa yang Dia larang meski nafsunya menyukainya dan condong kepadanya, karena kesudahan itu semua adalah rasa sakit, kesedihan, keburukan dan musibah. Orang yang memiliki akal akan lebih memilih menahan rasa sakit yang ringan, yang setelahnya adalah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak, serta menjauhi kenikmatan yang sebentar yang setelahnya rasa sakit yang berkepanjangan dan keburukan yang lama.

Di antara hikmah ayat ini ialah bahwa ayat ini menuntut hamba untuk menyerahkan segala urusan kepada siapa yang mengetahui akhir segala urusan, dan rela dengan apa yang dipilih dan ditentukannya, karena mengharap kesudahan yang baik.

Di antara hikmah ayat ini ialah hendaknya seorang hamba tidak mengritik Rabbnya, tidak memilih sesuatu di luar apa yang telah ditentukan untuknya, dan tidak meminta sesuatu yang tiada diketahuinya. Bisa jadi bahaya dan kebinasaan telah menunggu pada pada hal itu dan dia tidak mengetahuinya. Maka janganlah dia memilih di luar apa yang telah ditentukan Rabbnya. Hendaknya dia meminta agar dirinya mampu melaksanakan hal itu dengan sebaik-baiknya dan agar Dia menjadikannya rela dengan apa yang telah ditentukan untuknya, tidak ada yang lebih bermanfaat baginya dari hal itu.

Di antaranya juga, apabila dia menyerahkan urusannya kepada Rabbnya serta rela dengan apa pilihan-Nya, maka Dia akan memberikan kekuatan, tekad, dan kesabaran untuk menjalani pilihan-Nya itu. Ia akan dialihkan dari keburukan, yang merupakan konsekuensi pilihannya sendiri, dan akan diperlihatkan padanya kesudahan yang dari pilihan-Nya, yang mungkin tidak bisa diraih walau sebagiannya jika dia bertindak menurut pilihannya dirinya.

Di antaranya juga, bahwa hal itu akan membuatnya tenang dari beban pikiran yang melelahkan tentang bermacam-macam pilihan, dan melegakan dadanya dari berbagai perhitungan yang terkadang naik dan terkadang turun, yang itu semua tetap tidak keluar dari ketentuanNya. Andai dia rela dengan pilihan Allah maka dia akan tertimpa takdir dalam keadaan terpuji dan mendapat pahala serta kelembutan-Nya. Jika tidak maka takdir tetap berlaku atasnya sedang dia dalam keadaan tercela dan tidak mendapat kelembutan-Nya, karena dia bertindak menurut pilihannya sendiri. Ketika kerelaan dan berserah diri-nya itu telah benar maka apa yang telah ditakdirkan akan meliputinya dibarengi dengan kelembutan dan kasih sayang, sehingga dia berada di antara kelembutan dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya akan melindunginya dari apa yang dia takutkan, kelembutan-Nya akan membuatnya merasa ringan dengan apa yang ditakdirkan-Nya. Jika suatu takdir berlaku pada seorang hamba, maka faktor utama berlakunya takdir itu adalah ketika ia berusaha untuk menolaknya, maka tidak ada yang lebih bermanfaat daripada menyerahkan diri dan memasrahkannya di hadapan takdir sebagaimana mayat, karena binatang buas tidak senang untuk memakan bangkai.”

Dia terus mengingatkanku kepada Allah sembari duduk sedang air mata mengalir deras dari kedua pelupuknya
Wahai putri pamanku, Kitabullah telah mengeluarkanku dengan paksa, maka apakah Allah akan menghalangiku lantaran air matamu
Jika aku kembali maka alangkah banyak orang yang mengembalikanku, jika aku menemui Rabbku maka carilah pengganti
Aku bukan orang pincang atau buta sehingga itu mengudzurku, bukan juga anak kecil yang lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa

Diriwayatkan oleh at-Thabrani dari Ibnu Ishaq bahwa ada sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berkata, “Aku mengikuti Perang Uhud bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama saudaraku. Lalu kami berdua kembali dalam keadaan terluka. Tatkala penyeru Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan untuk keluar mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku – atau saudaraku berkata kepadaku – ‘Apakah engkau akan terlewat dari perang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?’ Demi Allah, kita tidak memiliki tunggangan dan kita terluka berat. Maka kami pun keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lukaku lebih ringan daripada saudaraku, sehingga ketika dia kelelahan aku menggendongnya hingga ia kuat berjalan lagi, hingga kami berhasil menyusul ke lokasi konsentrasi kaum muslimin.”

Abu Darda berkata, “Puncak keimanan adalah sabar terhadap ketentuan dan rela terhadap takdir.” Maka dengan obat ini kita membebat luka-luka yang tertoreh di sana-sini.

Wahai Umat Islam

Tubuhmu telah penuh luka tusukan. Luka dan penyakit yang telah membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid yang terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapankah engkau memutuskan dengan benar untuk berangkat berperang dan melepaskan diri dari para algojo? Pertempuran hari ini tidak pernah jeda dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam berharap untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaannya adalah terus menerus berperang dan berjihad.

Aku ingatkan kalian dengan hadits Jibril bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam paska perang Ahzab, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali ke kota Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para muhajirin dan anshar.”

Bagaimana bisa kalian, wahai kaum muslimin, ringan saja melihat saudara-saudara dan putra-putra Dien kalian tertimpa berbagai macam siksaan, pembunuhan dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!