Jumat, 27 April 2018

SERI NASEHAT 2 - BERHATI-HATILAH DARI BENCANA RIYA'

BERHATI-HATILAH DARI BENCANA RIYA'

Serial Bisikan-bisikan Pada Telinga Mujahid 2

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para shahabatnya serta orang yang loyal kepadanya, amma ba’ad:

Pada pertemuan pertama dari silsilah “Seri Nasehat Untuk Mujahid” kita telah membahas tentang akhlak ikhlas dan pengaruh-pengaruhnya yang besar. Di sini -wahai mujahid- kita akan membicarakan tentang lawan dari ikhlas dan yang membatalkan amal, yang merupakan penyakit terbesar yang menyerang mujahid dalam perjuangan jihadnya, dan merupakan seburukburuk penyakit hati; yaitu riya, kita berlindung kepada Allah dari penyakit tersebut.

Apa definisi riya?
Apa jenis-jenisnya?
Apa dampaknya?

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian merusak pahala sedekah-sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ingin riya terhadap manusia, dan tidaklah dia itu beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS al-Baqarah: 264).

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “’Yang menafkahkan hartanya karena ingin riya terhadap manusia’, yakni memperlihatkan amalnya di hadapan manusia. Seperti menginfakkan hartanya terang-terangan agar nampak bagi manusia bahwa ia ikhlas karena Allah sehingga meluncurlah padanya pujian manusia, padahal hakikatnya tidaklah dia menginginkan Allah dan tidak pula mengharap balasan dari-Nya. Demikian juga maksudnya agar manusia memujinya dan berkata, ‘Sungguh dia merupakan seorang yang dermawan mulia lagi orang shaleh.’ Sehingga semakin bertambah-tambah pujian mereka padanya, padahal mereka tiada mengetahui niat sebenarnya dalam menginfakkan hartanya.”

Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu hendak menipu Allah, dan Allah-lah yang akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka hendak menegakkan shalat, mereka shalat dengan malas serta bermaksud riya dan tidak pula mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit.” (QS an-Nisa: 142).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “’Mereka bermaksud riya’, yakni tidak ada keikhlasan dalam diri mereka dan tidak hendak berhubungan dengan Allah. Mereka melakukannya dalam rangka membentuk citra dan mencari muka di hadapan manusia.

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, ‘Seseorang berperang demi kejantanan dan berperang demi keberanian serta berperang karena riya, maka apakah semua hal tersebut merupakan di jalan Allah? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi maka dia fi sabilillah.’ Dalam suatu riwayat, ‘Seseorang berperang demi mendapatkan ghanimah, dan seseorang berperang agar namanya disebut serta seseorang yang berperang agar kedudukannya dilihat’.” (Muttafaq ‘alaihi).

Ibnu Daqiq al-‘Ied berkata, “Adapun riya maka dia merupakan lawan dari ikhlas itu sendiri, mustahil keduanya bisa bertemu; yang aku maksud seseorang berperang karena Allah sekaligus karena manusia.” (Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam).

Sebagaimana halnya bahwasanya riya itu merupakan suatu kesyirikan wal ‘iyadzubillah.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu 'anhu berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Ingatlah sesungguhnya aku mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian dari Dajjal.’ Kami bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, ‘Sesuatu itu adalah syirik tersembunyi, seseorang shalat lalu memperindah shalatnya ketika mengetahui manusia melihatnya’.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh al-Haitsamiy).

Riya itu bermacam-macam, sebagiannya lebih buruk dibanding sebagian yang lain, dampak sebagiannya lebih berbahaya daripada yang lain. Yang paling besar keburukannya adalah riya yang murni, dan yang paling rendah adalah bersitan dalam hati yang jika berhasil dicegah maka beruntunglah dia namun ketika dibiarkan maka rugilah dia.

Macam-macam riya yaitu :

Pertama; Riya murni

Riya murni merupakan suatu amal yang sama sekali tidak mengharap wajah Allah, hanya menginginkan dunia dan tujuan-tujuan pribadi lainnya. Yang seperti ini adalah kondisi munafik murni, hampir tidak muncul pada seorang mukmin.

Kedua; Beramal mengharapkan wajah Allah sekaligus ingin dilihat, (riya' macam ini) ada dua macam:

1. Riya mencampuri amalnya sejak permulaan. Maka amalnya batal dan rusak. Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu 'anhu berkata, “Bahwasanya seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berperang karena mengharap pahala sekaligus keterkenalan? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak mendapatkan apapun’, beliau mengulangnya sebanyak tiga kali dan bersabda kepadanya, ‘Tidak mendapatkan apapun’, kemudian Rasulullah melanjutkan, ‘Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas dan karena menginginkan wajah Allah’.” (Dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan dihasankan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi).

2. Riya itu datang tiba-tiba ketika beramal. Dalam hal ini Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Adapun jika asalnya amal itu untuk Allah, kemudian tiba-tiba riya menimpanya, maka jika dia menolaknya tidak diperselisihkan lagi riya tersebut tidak akan membahayakannya. Namun jika riya tersebut dibiarkan maka apakah hal ini membatalkan amal, ataukah tidak membahayakannya, dan apakah dia dibalas dengan niat aslinya? Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama… Imam Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan bahwasanya perbedaan pendapat ini terjadi pada suatu amal yang akhirnya itu terikat dengan awalnya seperti shalat, shaum dan haji. Adapun amal yang tidak seperti itu seperti membaca Al-Qur’an, zikir, berinfaq dan menyebarkan ilmu, maka sungguh terputuslah ia dengan niat riya yang datang tiba-tiba tadi, dan mesti baginya untuk memperbaharui niatnya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

Jihad di jalan Allah merupakan suatu amal yang senantiasa membutuhkan pembaruan niat untuk membersihkannya dari noda riya dan hal-hal yang serupa dengannya.

Ketiga; Ingin beramal demi mengharap wajah Allah dan pahala sekaligus ghanimah:

Seperti orang yang ingin berjihad sekaligus ingin mendapatkan ghanimah, maka amalnya ini tidaklah batal akan tetapi pahalanya berkurang. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maka sesungguhnya mencampur niat jihad dengan niat selain riya, seperti mengambil upah untuk melayani, atau mengambil sesuatu dari ghanimah atau perdagangan, maka ini mengurangi pahala jihad mereka dan tidak membatalkannya secara keseluruhan.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

PERINGATAN:

Jika seorang hamba beramal dengan suatu amalan demi mencari wajah Allah, kemudian dia dipuji atas hal tersebut dan dia senang dengan pujian tersebut dengan keutamaan Allah atasnya, maka hal tersebut insya Allah tidak membahayakannya. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maka apabila dia beramal ikhlas karena Allah kemudian Allah menyelipkan pujian untuknya dalam hati kaum muslimin, dan dengan hal tersebut ternyata dia senang akan keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, dan dia gembira dengan hal tersebut, maka tidaklah hal tersebut membahayakannya. Tentang makna ini terdapat hadits Abu Dzar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ‘Bahwasanya beliau ditanya tentang seorang laki-laki yang beramal dengan suatu amalan untuk Allah dan manusiapun memujinya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Itu merupakan suatu kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin’. (HR. Muslim).

Ibnu Majah mentakhrij dalam riwayat miliknya, ‘Seorang laki-laki beramal karena Allah maka manusiapun mencintainya’, dan atas makna inilah Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibnu Jarir ath-Thabari dan selain mereka menafsirkannya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam).

PERINGATAN KEDUA:

Riya itu bisa terjadi baik dengan melakukan suatu perbuatan maupun meninggalkannya sebagaimana perkataan Fudhail bin ‘Iyadh, “Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah Allah melindungimu dari keduanya.” (al-Adab asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih al-Maqdisi).

Dampak dan pengaruh riya pada diri mujahid cukup banyak dan berbahaya. Akibat riya di dunia di antaranya:

1. Tidak mendapatkan hidayah dan taufik. Allah tidak menunjuki kepada kebenaran dan memberi taufik kecuali orang-orang yang ikhlas, Allah ta'ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad karena kami maka kami akan menunjukkan atas mereka jalan-jalan kami dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang muhsin.” (QS al-‘Ankabut: 69).

2. Malas dan tidak sempurna dalam beramal. Orang yang riya akan berlipat ganda kesungguhannya ketika manusia memujinya, dan dia menjadi malas ketika dia diabaikan dan dicela, sebagaimana seorang yang riya itu bersungguh-sungguh apabila bersama manusia, dan menjadi malas ketika dia sendiri dan jauh dari manusia. Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, “Tanda untuk orang yang riya itu ada tiga, yaitu malas apabila dia sendiri, rajin apabila dia bersama manusia dan dia ingin menambahkan amalannya apabila dia dipuji, serta mengurangi amalnya apabila dia dicela. (az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair, al-Haitami).

3. Aibnya tersingkap. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa menampak-nampakkan amalnya, maka Allah akan menyingkap aib-aibnya, dan barangsiapa yang ingin amalnya dilihat, maka Allah akan mempertontonkan isi hatinya.” (Muttafaq alaihi). Imam an-Nawawi berkata, (samma’a), dengan mim bertasydid, maknanya adalah dia menampakkan amalnya kepada manusia karena riya. (samma’allahu bihi; Allah akan menampakkannya) yaitu menyingkap aib-aibnya pada hari kiamat. Adapun ‘barang siapa yang ingin amalnya dilihat’ yakni barang siapa menampak-nampakkan amal shalih yang dilakukannya agar terlihat penting, maka Allah akan memperlihatkannya, yakni mempertontonkan isi hatinya pada seluruh makhluk. (Riyadush Shalihin).

Adapun dampak di akhirat adalah:

4. Amalannya batal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Apabila Allah telah mengumpulkan manusia yang pertama kali diciptakan dan yang terakhir di hari yang tidak ada keraguan didalamnya, maka berserulah seorang penyeru, ‘Barang siapa menyekutukan sesuatu dengan Allah pada amalan yang dilakukannya maka mintalah pahala darinya, karena Allah tidaklah membutuhkan akan sekutu-sekutu.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh al-Arnauth). Berkata al-Munawi rahimahullah, “Dalam hadits ini terdapat hujjah bagi orang yang berpendapat bahwasanya riya meskipun sedikit itu membatalkan amal.” (Faidhul Qadir).

5. Masuk neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang yang syahid, maka didatangkanlah ia dan dia diberi tahu akan nikmatnikmatnya maka ia pun mengetahui, Allah berkata kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan? Dia berkata, ‘Aku berperang karenamu sehingga aku pun syahid, Allah berkata, ‘Engkau dusta, akan tetapi engkau berperang karena ingin disebut pemberani, dan telah dikatakan. Kemudian diperintahkan agar dia diseret paksa dan dilemparkan ke dalam Nereka.” (HR. Muslim).

Wahai akhi mujahid, demikianlah telah jelas bagimu dampak-dampak riya, maka bersungguh-sungguhlah untuk membersihkan niatmu karena Allah ta'ala dalam semua kondisimu ketika menempuh jalan jihad ini. Peganglah selalu keikhlasanmu. Perbarui selalu niatmu dan perbaiki sanubarimu ketika setan menutup-nutupi hatimu. Hati anak manusia itu terkadang kuat dan terkadang lemah.

Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadamu dari riya.

Maktabah Al-Himmah

SERI NASEHAT 1 - PERBARUI NIAT DAN PERBAIKI HATI

PERBARUI NIAT DAN PERBAIKI HATI

Serial Bisikan-bisikan Pada Telinga Mujahid 1

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosululloh, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang loyal padanya. Amma ba’d;

Agama kita yang hanif telah mendorong seluruh manusia kepada akhlaq yang mulia dan memperingatkan mereka akan akhlaq yang tercela dalam semua kondisi dan urusan mereka. Sementara ia secara khusus memerintahkan beberapa golongan tertentu dari manusia agar menghias diri dengan sekumpulan adab yang berkaitan dengan mereka lebih banyak daripada selain mereka, seperti adab-adab penuntut ilmu, adab-adab para pengusung al-Qur-an (para hafizh), adab-adab para qodhi, serta adab-adab mufti dan mustafti (orang yang meminta fatwa). Dan engkau, wahai mujahid di jalan Alloh, engkau wajib menghias diri dengan akhlaq-akhlaq dan adab-adab khusus yang dituntut darimu lebih banyak daripada selainmu. Engkau sedang menjalani sebuah ibadah yang besar. Engkau mengusung keprihatinan umat. Dan engkau dilihat tidak sebagaimana orang lain dilihat. Karena itu, engkau harus menjadi panutan dalam segala sesuatu.

Dari sini, kami —saudara-saudaramu yang mencintai di jalan Alloh— akan menunjukkanmu dalam serial ini kepada sifat-sifat terpuji yang penting, yang bagus bagimu untuk menghias diri dengannya. Dan kami akan memperingatkanmu dari sifat-sifat yang tidak layak bagimu sebagai seorang mujahid, yang tersebar di antara barisan-barisan para mujahid saat ini, dan tidak ada satu medan jihad pun yang sama sekali bersih darinya. Agar engkau dapat memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dan menjauhi apa yang harus dijauhi darinya, terutama untuk membuat ridho Robbmu ‘azza wa jalla, dan yang kedua untuk mengangkat “Kepala” Khilafah Islam yang engkau wakili.

Adab pertama dan terpenting di antara adab-adab yang engkau wajib menghias diri dengannya, wahai saudaraku, adalah mengikhlaskan (memurnikan) niat kepada Alloh ta’ala dalam jihad dan menginginkan ridho Alloh jalla jalaluhu semata, bukan menginginkan harta benda atau keuntungan-keuntungan dunia. Keikhlasan dalam jihad terwujud dengan saudara meniatkan dalam jihadnya perkara-perkara yang syar’iy, seperti; menegakkan syari’ah Alloh, mencegah kezholiman, membebaskan tawanan, menjaga agama, terbunuh sebagai syahid dan niat-niat yang baik lainnya. Sementara akan merusak keikhlasan mujahid dan menjerumuskannya ke lembah riya’ jika niatnya adalah selain itu, seperti ghanimah, reputasi, kebanggaan, posisi terdepan, kedudukan, kepemimpinan, dan niat-niat yang rusak lainnya, wal ‘iyadzu billah.

Dalam ash-Shohihayn, diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam dan berkata: “Laki-laki berperang demi ghanimah, laki-laki berperang demi reputasi, dan laki-laki berperang agar dilihat keberadaanya, siapakah yang di jalan Alloh?” Beliau bersabda, “Barang siapa berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Alloh.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa laki-laki itu bertanya kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam: “Apa itu perang di jalan Alloh? Sesungguhnya seorang dari kami berperang karena marah dan berperang karena antusiasme.” Beliau shollallohu ‘alayhi wasallam pun bersabda kepadanya: “Barang siapa berperang agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Alloh ‘azza wa jalla.”

Ketahuilah, saudaraku di jalan Alloh, bahwa pengaruh-pengaruh keikhlasan niat dalam jihad itu terlalu banyak untuk dihitung dan buah-buahnya terlalu banyak untuk dibatasi. Di antaranya sebagai contoh:

1. Diterimanya amal

Jihad adalah ‘ibadah. Dan ia harus memenuhi syarat keikhlasan agar diterima. Ia tidak akan diterima kecuali jika murni untuk Alloh subhanahu, sebagaimana Dia jalla fii ‘ulahu berfirman: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Alloh dengan mengikhlaskan agama ini kepada-Nya dan bersikap hanif.” [al-Bayyinah: 5]

Diriwayatkan dari Abu Umamah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam dan berkata, “Tidakkah Anda melihat seorang laki-laki berperang demi mencari bayaran dan reputasi, apa yang didapatkannya?” Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tak sesuatu pun yang dia dapatkan.”

Laki-laki itu mengulanginya tiga kali dan Rosululloh berkata kepadanya, “Tak sesuatu pun didapatkan yang dia dapatkan.” Kemudian beliau shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh tidak menerima ‘amal kecuali yang murni untuk-Nya dan dengannya ingin dicapai ridho-Nya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i, dan dinilai hasan oleh al-Hafizh al-‘Iroqiy dan al-Mundziri]

Ibnul Qoyyim berkata, “Dan amal-amal itu ada empat. Satu diterima dan tiga ditolak. Yang diterima adalah yang murni untuk Alloh dan sesuai dengan as-Sunnah. Dan yang ditolak adalah yang tidak memiliki kedua sifat ini atau salah satu dari keduanya.” [I’lamul Muwaqqi’in ‘an Robbil ‘Alamin]

2. at-Tawfiq dan as-Sadad (Kesesuaian dan Kelurusan)

Alloh ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan
jalan-jalan Kami kepada mereka. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [al-‘Ankabut: 69]

Pertama sekali ayat ini membatasi jalan jihad (berjihad di jalan Kami). Alloh subhanahu tidak mengatakan “berjihad” saja. Tetapi Dia subhanahu mensifati jihad yang menghasilkan hidayah sebagai jihad yang murni demi ridho Alloh (di jalan Kami). Dalam komentarnya terhadap ayat ini, as-Sa’di berkata: “Ini menunjukkan bahwa manusia yang paling pantas untuk selaras dengan kebenaran adalah para pelaku jihad, dan bahwa barang siapa mengerjakan dengan baik apa yang diperintahkan kepadanya maka Alloh akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab hidayah.” [Taisir al-Karim ar-Rohman fi Tafsiri Kalamil Mannan]

3. Masuk surga yang penuh kenikmatan

Alloh ta’ala berfirman, “Kecuali hamba-hamba Alloh yang terpilih / yang ikhlash. Mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan. (Yaitu) buah-buahan, dan mereka dimuliakan. Di dalam surga-surga yang penuh keni’matan.” [ash-Shoffat: 40-43]

Penduduk Madinah dan Kufah membaca dengan memfathahkan lam (al-mukhlashin), artinya: orang-orang yang dipilih oleh Alloh untuk menaati-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dan sebagiannya membaca dengan mengkasrohkan lam (al-mukhlishin), artinya: orang-orang yang memurnikan ibadah dan tauhid untuk Alloh. [Fathul Qadir al-Jami’ bayna Fannayr Riwayah wad Diroyah min ‘Ilmit Tafsir karya asy-Syawkaniy]

4. Penjagaan dari tipu daya setan

Alloh ta’ala berfirman, “Dia (Iblis) berkata: wahai Robb-ku, oleh karena Engkau telah menyesatkanku, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka
semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih / yang ikhlash.” [al-Hijr: 39-40]

Dan Alloh subhanahu berfirman tentang nabi-Nya yang mulia, Yusuf ash-Shiddiq ‘alayhis salam: “Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih / yang ikhlash.” [Yusuf: 24]

5. Sebab kemenangan dan tamkin

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abu Waqqosh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh memberikan kemenangan kepada umat ini karena orang-orang lemahnya, karena doa mereka, sholat mereka dan keikhlasan mereka.” [Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan sanad yang shohih, dan pokoknya ada dalam Shohih al-Bukhoriy]

al-Mundziriy berkata, “Maknanya adalah bahwa ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas, karena bersihnya hati mereka dari kecintaan pada perhiasan dunia. Dan mereka menjadikan tujuan mereka satu. Maka doa mereka dikabulkan dan amal-amal mereka menjadi bersih.” [‘Awnul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud karya Syamsul Haq Abadi]

Maka, wahai orang-orang yang menantikan kemenangan atas koalisi Salibis yang saat ini sedang memerangi Daulah Islam! Kalian harus menjaga keikhlasan. Kalian harus menjaga keikhlasan. Sebab, di dalamnya terdapat keselamatan, dengan izin Alloh ta’ala.

6. Turunnya kelapangan dan keselamatan dari bencana serta pertolongan dalam kesulitan

Mungkin engkau akan merasa heran jika mengetahui bahwa Alloh ta’ala memberikan kelapangan kepada orang musyrik karena keikhlasan, seandainya dia sedikit berbuat ikhlas kepada Alloh, padahal dia seorang musyrik. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang mu’min? Alloh ta’ala berfirman: “Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Tetapi ketika Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, maka di antara mereka ada yang sedang-sedang saja (dalam ber’amal). Dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali setiap pengkhianat yang tidak bersyukur.” [Luqman: 32]

Maka, wahai para muqotil di jalan Alloh, yang berada di front-front pertempuran!
Wahai para murobith di perbatasan-perbatasan! Wahai para junud Khilafah semuanya!
Ikhlaskan dan murnikanlah niat untuk Alloh. Sebab, di dalamnya terdapat kelapangan yang dekat in syaa-a Alloh.

7. Merasakan ketenangan dan kedamaian iman

Alloh ta’ala berfirman: “Sungguh Alloh telah meridhoi orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Maka Dia menurunkan kedamaian pada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” [al-Fath: 18]

Ath-Thobariy berkata dalam Tafsirnya: “Firman-Nya: ‘Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.’ Alloh ta’ala dzikruhu berfirman: Robbmu, wahai Muhammad, mengetahui apa yang ada dalam hati orang-orang yang beriman di antara para sahabatmu ketika mereka bersumpah setia kepadamu di bawah pohon, yakni kejujuran niat, penepatan apa yang mereka sumpahkan kepadamu dan kesabaran untuk menyertaimu. Dia berfirman: Maka Dia menurunkan ketenangan dan keteguhan di atas apa yang mereka tetapi, yakni agama mereka dan penglihatan mereka yang baik terhadap kebenaran yang Alloh tunjukkan kepada mereka.”

Ibnun Nuhas berkata dalam Tafsirnya: “‘Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka,’ yakni keikhlasan. Ayat ini adalah dalil bahwa Alloh ta’ala meneguhkan orang yang mukhlis dalam jihad dengan kemenangan, pertolongan untuk menjalankan ketaatan, penguatan iman, dan ganjaran di dunia selain itu, di luar ganjaran akhirat.

Ya Alloh! Karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan.

Maktabah Al-Himmah

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 4)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 4)

Disini kita akan menyebutkan kembali sebagian ghazwah Daulah Islamiyah yang terjadi di bulan Ramadhan dari umur Daulah yang diberkahi ini –semo¬ga Allah memanjangkan umurnya dan meluaskan kekuasaannya– sesuai den¬gan statemen-statemen resmi Daulah pada waktu itu. Kita akan menyebutkan beberapa saja dari ghazwah-ghazwah tersebut, karena ghazwah-ghazwah Dau¬lah yang terjadi di bulan Ramadhan itu amat banyak, semisal pada Ramadhan tahun 1434, amaliyah jihad yang tercatat saja berjumlah (867) amaliyah, itu selain amaliyah yang tidak tercatat. Berikut beberapa ghazwah yang terjadi selama Ramadhan:

25. Ghazwah al-Asiir (pembebasan tawanan) Pertama – 4 Ramadhan 1430 H

Ghazwah yang diberkahi, diinisiasi oleh Menteri Perang Daulah Islamiyah Syaikh Abu Hamzah Al Muhajir rahimahullah dan dieksekusi di jantung kota Baghdad dengan amaliyah-amaliyah istisyhadiyah yang akurat. Merobohkan markas-markas kekafiran dan benteng-benteng syirik pemer¬intahan Shafawiyah: Kementrian Luar Negeri, Kementrian Keuangan, Ke¬mentrian Pertahanan, dan bangunan gubernur Baghdad, serta sebagian sarang-sarang keburukan di Zona Hijau (Green Zone). Gempuran-gempuran ini mengakibatkan hancurnya markas-markas ini dan memakan korban mati dan luka ratusan dedengkot Shafawiyin.

26. Ghazwah al-Asiir Kedua – 18 Ramadhan 1431 H

Gelombang mengguncang dari gelombang-gelombang gempuran Ghazwah al-Asiir setahun setelah dimulainya operasi ini. Dalam operasi ini, mayori¬tas formasi Kementrian Perang Daulah Islam dikerahkan, baik dari detase¬men tempur ataupun keamanan, dipelopori oleh barisan istisyhadi. Seluruh rangkaian ghazwah yang berhasil dieksekusi hanya dalam beberapa jam saja ini mencakup seluruh wilayah Irak. Target dipilih secara teliti baik berupa markas-markas, pemusatan kekuatan dan pos-pos pemeriksaan Shafawiyin, juga gembong-gembong murtad dan perusak. Operasi ini memakan korban ratusan murtaddin terbunuh atau terluka.

27. Shoulah al-Muwahidin (serangan para muwahid membela kehormatan Ummahatul Mukminin) - 30 Ramadhan 1431 H

Setelah Rafidhah secara terang-terangan dengan lancangnya mencaci Umma¬hatul Mukminin –semoga Allah ta’ala meridhai mereka–, beberapa pemuda Daulah Islam yang telah menadzarkan nyawa mereka sebagai tebusan untuk kehormatan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam segera bangkit. Mereka segera mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, dan memilih salah satu lambing proyek Shafawi sebagai target, yaitu (Komando Operasi Janib ar-Rushafah (salah satu dari Sembilan distrik administratif di Baghdad), dan Komando Pusat militer Irak di Kementerian Pertahanan) yang terletak di daerah administratif Baghdad yang paling dijaga ketat, yaitu daerah Bab al-Mu’azzam.

Ghozwah ini dimulai dengan bomber istisyhadi yang berhasil meledakkan mobilnya di gerbang belakang kompleks, yang berhasil meng¬hancurkan Menara pengawas dan membinasakan seluruh penjaganya. Diten¬gah-tengah kebingungan dan kengerian yang menimpa murtaddin, empat inghi¬masi menyerbu masuk komplek dan berhasil menguasai bangunan utama. Baku tembak dengan tentara Shafawi yang berada di dalam komplek terjadi lebih dari sejam.

Tak ketinggalan pesawat Salibis ikut mengambil bagian, na¬mun Allah mengaruniakan kepada para pembela-Nya berupa puluhan mur¬taddin yang terbunuh dan terluka, sebelum akhirnya para in-ghimasi itu ke¬habisan peluru, lalu meledakkan sabuk peledak mereka pada tentara Shafawi yang mencoba menerobos masuk.

28. Ghazwah pembalasan untuk para pemimpin mulia – 14 Ramadhan 1432 H

Pembalasan untuk darah-darah suci yang tertumpah dari Syaikh: Ibn Ladin, Abu ‘Umar, Abu Hamzah, Abu Ibrahim taqabbalahumullah. Pada pertenga¬han Ramadhan, Kementrian Perang melancarkan serangan luas yang meliputi 100 operasi penyergapan yang bermacam-macam. Yang paling besar adalah penyerbuan inghimasi ke komplek istana pemerintah di Tikrit, penyerbuan inghimasi ke komplek milik Dewan Pemerintahan Provinsi Anbar, penyer¬buan tiga inghimasi atas markas pusat kepolisian Al Baghdadi, seorang bomber istisyhad yang menyerbu markas intelijen militer di Taji, serangan istisyhad atas Direktorat Bina Marga yang terletak di tengah-tengah kota Najaf, dan serangan istisyhad atas Markas Direktorat Jenderal Kepolisian Tarmiyah, bersamaan dengan peledakkan 16 bom mobil yang diparkir di Karbala, Hil¬lah, Bashrah dan lainnya, peledakkan puluhan IED atas target yang berma¬cam-macam, mengeksekusi puluhan perwira dengan pistol berperedam, dan masih banyak lagi amaliyah lainnya.

29. Gelombang pertama operasi Hadmul Aswar (menghancurkan jeruji) – 14 Ramadhan 1432 H

Untuk melaksanakan instruksi Amirul Mukminin Abu Bakr Al Baghdadi ha¬fizhahullah lewat pengumuman proyek Hadmul Aswar dan menandai fase baru amal jihad merebut kembali wilayah-wilayah yang pada waktu sebelum¬nya Daulah mundur darinya; Katibah-katibah mujahidin berangkat berge¬lombang dalam operasi berskala luas menargetkan sendi-sendi proyek Shafa¬wi, pengikut dan simpatisannya di seluruh wilayah ‘Iraq.

Dalam ghazwah ini, operasi-operasi jihad dalam satu hari berjumlah mencapai 166 amaliyah, yang berhasil memanen kepala-kepala najis Shafawi.

30. Ghazwah Direktorat Kontra Terorisme – 14 Ramadhan 1433 H

Berangkatlah sekelompok orang-orang mukmin bomber istisyhadi untuk menggempur salah satu simbol proyek Shafawi dan sendi keamanannya di Iraq, yaitu Depertemen Kontra Terorisme yang terletak di pusat kota Bagh¬dad. Amaliyah ini dimulai dengan meledakkan dua bom mobil yang diparkir di pintu gerbang komplek, yang berhasil menewaskan dan melukai puluhan penjaganya. Setelahnya, satu detasemen yang berkekuatan lima inghimasi mernyerbu masuk. Target mereka adalah akses masuk di lantai dua dima¬na para perwira investigasi biasanya beristirahat. Setelah membunuh sia-papun yang berusaha menghalangi, para ikhwah berhasil mengakses lantai dua. Kemudian mereka memblokade seluruh pintu masuknya dan berhasil mengeksekusi 30 perwira di mejanya masing-masing.

Setelah itu, murtaddin berusaha keras untuk mengontrol kembali komplek tersebut, yang seluruhn¬ya berujung pada kegagalan. Setelah 7 jam baku tembak sengit, para ikhwah kehabisan peluru, maka tibalah perang sabuk peledak. Tiap kali pasukan penyerbu berusaha masuk, mereka dikejutkan dengan ledakan yang men¬cabik-cabik tubuh. Ghazwah ini berhasil menewaskan 70 perwira dan calon perwira, dan komplek tersebut hampir seluruhnya hancur. Para eksekutor ghazwah menulisi dinding-dindingnya dengan kalimat: dengan darah mu¬wahhid; Daulah Islam akan terus eksis.

31. Ghazwah Ramadi dan Muqdadiyah – 6 Ramadhan 1434 H

Tiga inghimasi menyerang markas kepolisian andalus di Ramadi. Ghazwah dimulai dengan salah seorang istisyhadi menyerbu masuk menggunakan bom mobil dan meledakkannya ditengah-tengah mereka, disusul dengan dua inghimasi yang lain menyerbu masuk untuk menghabisi siapa saja yang tersisa dari mereka. Ketika patroli bantuan sampai, mereka segera terlibat baku tembak sengit selama enam jam. Dalam baku tembak ini salah satu dari keduanya terbunuh, sedangkan yang inghimasi yang lain menyergap dan meledakkan sabuk peledaknya di garda terdepan patroli. Disaat itu juga, seorang bomber istisyhadi meledakkan sabuk peledaknya di tengah-tengah pertemuan besar pemimpin dan elemen-elemen milisi Rafidhah di kota Miq¬dadiyah, provinsi Diyala. Dua ghazwah ini berhasil membunuh dan melukai lebih dari 100 shafawi.

32. Ghozwah Qahru Thawaghit (memukul mundur thaghut) – 13 Ramadhan 1434 H

Untuk memenuhi seruan Syaikh Mujahid Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahul¬lah, yaitu agar menutup proyek “Hadmul Aswar” dengan ghazwah kualitatif yang bisa mengalahkan thaghut, menghancurkan belenggu, dan membebas¬kan para singa; Berangkatlah katibah-katibah mujahidin, setelah persiapan dan perencanaan berbulan-bulan, menargetkan dua penjara terbesar Pemer¬intahan Shafawi, yaitu Penjara Sentral Baghdad (Abu Ghuraib) dan Penjara Al Haut (At Taaji).

Di malam ke 13 Ramadhan, para singa tauhid menyerang pintu-pintu utama dan dinding terluar kedua penjara secara bergelombang dengan aliran bom-bom mobil yang dikemudikan oleh bomber istisyhadi. Jumlah bom mobil berhasil diledakkan total mencapai 12 bom mobil den¬gan beragam ukuran. Sebelumnya, jalan-jalan yang menuju ke dua penjara tersebut diblokade total setelah cekpoin yang bertebaran berhasil di musnah¬kan. Bersamaan dengan itu, semua kamp militer Shafawi yang berdekatan dengan lokasi dihujani dengan lontaran roket dan mortar. Dengan demiki¬an, akses-akses menuju ke dua penjara tersebut berhasil diamankan secara sempurna, dan pergerakan bantuan dara dan udara juga berhasil dihalangi.

Setelahnya barulah dimulai fase penyerangan dengan detasemen-detasemen inghimasi. Baku tembak dengan penjaga pejara berlangsung selama beberapa jam, dan berakhir dengan dikuasainya seluruh Menara pengawas serta ter¬bunuhnya seluruh penjaganya. Lalu, bersama dengan detasemen-detasemen yang berhasil dibebaskan, mereka menyisir seluruh bangunan. Dalam bebera¬pa jam saja, ribuan tawanan berhasil dibebaskan dan dipindahkan ke tempat yang aman. Lebih dari 160 elemen-elemen Shafawi terbunuh dan puluhan lainnya terluka.

33. Ghozwah sepuluh hari terakhir – 20 Ramadhan 1434 H

Sebagai pembalasan atas tekanan dan pengusiran Rafidhah terhadap terha¬dap orang-orang yang lemah dari kalangan ahlus sunnah; Para tentara Dau¬lah Islamiyah segera bergerak dalam amaliyah pertama dalam proyek “Ha¬shad al-Ajnad” untuk meluluhlantakkan protektorat Shafawi di Baghdad dan wilayah selatan dalam satu hari. Target-target khusus yang telah mengalami proses pemilihan dan pemantauan dipilih dengan teliti. Target-target tersebut berupa komplek-komplek pemerintahan, markas-markas keamanan dan mi¬liter, dan sorban-sorban Rafidhah serta sekutu mereka dari pengkhianat ahlus sunnah. Amaliyah ini dieksekusi ketika puncaknya penyebaran personel-per¬sonel keamanan pemerintahan Rafidhah. Operasi ini berhasil membunuh dan melukai ratusan dari mereka.

34. Ghazwah pembebasan bandar militer Minnigh – 27 Ramadhan 1434 hijriyah
Setelah memblokade bandara tersebut selama lebih dari Sembilan bulan; para prajurit Daulah Islam bergerak untuk membebaskan bandara militer Minnigh dari cengkeraman Nushairiyah. Ghazwah dibuka dengan serangan bombar¬dir selama tiga hari berkesinambungan. Setelah musuh kelelahan, pasukan pelopor penyerbu segera bergerak, didahului dengan seorang muhajir yang mengendarai BMP, yang berjalan pelan lantaran beratnya bahan peledak. Al¬lah memudahkan bomber istisyhadi ini memasuki komplek utama bandara dan meledakkan kendaraannya, yang segera disusul dengan kompi-kompi penyerbu dari tiga sisi.

Setelah baku tembak sengit yang berlangsung dari pagi sampai tengah malam, seluruh komplek bandara berhasil dikuasai secara sempurnya, puluhan tentara Nushairi berhasil ditawan.

35. Fathu al-Futuuh (kemenangan gilang gemilang) – 1 Ramadhan 1435 H

Setelah perjalanan jihad yang sedemikian panjang, dengan aliran sungai darah para syuhada, dan kehancuran proyek Salibis, Shafawi, orang-orang sekuler, serta setelah Daulah Islamiyah berhasil mengontrol wilayah luas di Irak dan Syam melalui berbagai pertempuran sengit; juru bicara Daulah Islamiyah Syaikh Abu Muhammad Al ‘Adnani hafizhahullah mendeklarasikan di hari Ahad di hari pertama Ramadhan 1435 H kembalinya Khilafah Islamiyah dan pengangkatan Syaikh Ibrahim Ibn ‘Awwad Al-Badri Al-Husaini hafi¬zhahullah sebagai Khalifah bagi setiap muslim.

Selesai…

Ya Allah, terimalah syuhada kami, sembuhkan luka-luka kami, bebaskan dari kami yang tertawan.
Ya Allah, jagalah Khilafah ini, pemimpin, prajurit dan rakyatnya.

Maktabah Al Himmah

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 3)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 3)

Pada edisi yang lalu (edisi kedua) kita telah sampai pada pertempuran ke duapuluh dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di bulan Ramadhan yang berbarakah. Sekarang kita akan membicarakan pertempuran-pertempuran berikutnya.

21 Pertempuran az-Zallaqah – Ramadhan 479 H

Sejak awal abad ke 5 Hijriyah, Negeri Andalusia al-Islami terbagi menjadi thawaif (negara-negara kecil) yang saling bermusuhan, yang menyebabkan air liur ketamakan salibis meleleh. Maka kerajaan-kerajaan Kristen Eropa berkoalisi untuk menyerbu Andalusia, dan mencabut Islam di sana sampai ke akar-akarnya. Bergeraklah mereka di bawah kepemimpinan (Alfonso VI) dengan pasukan yang berjumlah lebih dari (100.000) orang. Mereka menyerbu dan menduduki kota Toledo, Coria, dan Zaragoza, membakar, menghancurkan dan membantai penduduknya.

Para pemimpin negara-negara kecil itu berkumpul dan sepakat untuk mengirim utusan meminta bantuan Daulah Murabithin di Negeri Maghrib, yang terletak berseberangan dengan Laut Mediterania. Mereka memohon kepada pemimpinnya, yaitu Yusuf ibn Tasyfin (al-Mauritani), agar sudi mengirimkan
bantuan. Sekalipun umurnya sudah melebihi 70 tahun, akan tetapi ia segera menyambut seruan saudara seaqidahnya, dan bangkit untuk membantu Andalusia. Ia berlayar dari Pantai Sabtah (Ceuta) dan melabuhkan kapal-kapalnya di Pulau Khadra, yang kemudian dijadikannya sebagai benteng utamanya. Kemudian ia memasuki Sevilla, dan menetap di sana selama delapan hari, sambil menunggu kedatangan para pemimpin Andalusia dengan pasukan mereka, untuk secara bersama-sama menggempur pasukan Salibis. Setelah berkumpulnya kaum muslimin yang jumlahnya mencapai (48.000) mujahid, yang mana setengahnya adalah pasukan Andalusia dan sisanya adalah orang-orang Murabithun, mereka segera bergerak untuk menemui musuhnya.

Di saat yang sama, pasukan Salibis juga terus berdatangan dari segala penjuru. Maka kedua pasukan ini pun bertemu di dataran Zallaqah, Provinsi Badajoz (terletak di barat daya Spanyol, berbatasan dengan Portugal). Kedua kubu berhadaphadapan selama tiga hari, selama tiga hari itu Ibnu Tasyfin bernegosiasi dengan Alfonso memberikan tiga opsi, yaitu: masuk Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Ternyata si
tinggi hati itu (Alfonso) memilih opsi ketiga. Pada suatu hari yang bersejarah dalam sejarah panjang Islam, barisan mujahidin yang merindukan kesyahidan berjibaku dengan barisan orang-orang Nashrani para penyembah dunia.

Pertempuran berkecamuk sengit selama seharian penuh, memakan korban (3000) kaum muslimin syahid, diantara mereka terdapat para 'ulama, fuqaha, dan hakim. Hampir-hampir salibis mendapat kemenangan, namun Ibnu Tasyfin yang mengamati jalannya peperangan dari anak bukit, bersama dengan pengawalnya yang berjumlah (4000) ksatria dari para prajurit Sudan pilihan, langsung menceburkan dirinya ke dalam kancah pertempuran. Mereka berhasil memecah barisan Salibis, membantai mereka habis-habisan, sampai bisa mendekati Alfonso, dan Ibnu Tasyfin berhasil menusuknya dengan pisau di pahanya. Ketika itulah jalannya pertempuran berbalik seratus delapan puluh derajat. Allah menganugerahi kaum muslimin pundak-pundak musuhnya. Kaum muslimin membantai, menawan, dan membakar musuhnya. Sedangkan Alfonso sendiri melarikan diri bersama dengan para pengiringnya, hampir-hampir mereka tidak selamat jika saja malam tidak memayungi medan pertempuran. Ketika fajar terbit, para mujahidin menunaikan shalat shubuh di dataran Zallaqah, setelah sebelumnya Ibnu Tasyfin memerintahkan untuk memenggal kepala bangkai-bangkai Salibis lalu menyusunnya membentuk piramida, kemudian memerintahkan untuk mengumandangkan adzan di atas tumpukan kepala tersebut.

Pertempuran Zallaqah telah berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan kehinaan Salibis, sebuah tragedi yang tidak akan bisa mereka lupakan selamanya. Mayoritas tentara Salib tewas pada pertempuran ini, tidak ada yang selamat kecuali hanya (500) orang yang melarikan diri dengan tubuh penuh luka, dan (400) orang dari mereka tewas di tengah perjalanan. Lebih dari (10.000) tentara Salib berhasil ditawan, dan kaum muslimin memperoleh ghanimah yang tak terhitung, diantaranya adalah (100.000 tenda), (70.000) senjata, dan (146.000) hewan tunggangan seperti kuda, bighal, dan keledai. IbnuTasyfin meninggalkan semuanya untuk raja-raja thawaif, dan ia kembali ke negeri Maghrib bersama tentaranya dengan membawa pahala yang besar, setelah berhasil membendung banjir bah Nashrani yang menyerbu Andalusia.

Setelahnya, masyarakat Andalusia kembali menikmati hidup di bawah naungan syariat selama empat abad berikutnya.

22 Pertempuran Mematahkan Pengepungan Syam  – Ramadhan 532 H

Sekalipun terdapat perselisihan internal, para salibis berkoalisi dengan orang-orang Byzantium untuk menyerang negeri Syam. Maka mereka segera berlayar ke selatan dengan pasukan berkekuatan (100.000) penunggang kuda dan (100.000) infantri. Mereka mampu menjajah beberapa daerah di bagian utara Syam dan melakukan perusakan, kemudian mengepung beberapa kota seperti Aleppo, Syaizar dan kota-kota lain.

Meskipun perlengkapan dan jumlah kaum muslimin sedikit, lemahnya Khilafah 'Abbasiyah ketika itu, dan munculnya beberapa negara-negara kecil – seperti Daulah Saljuq (Seljuk) yang loyal terhadap orang-orang 'Abbasiyah dan menguasai banyak wilayah di Irak dan Syam –para mujahidin dibawah kepemimpinan seorang komandan yang cemerlang, yaitu 'Imaddudin Zanki, mampu mematahkan pengepungan atas Syam, dan mengusir musuh yang menyerang.

Zanki, ia berasal dari kabilah Turkmen, ketika itu menjabat sebagai gubernur Mosul, mampu mengatur jalannya perang sampai mendapatkan kemenangan atas koalisi Byzantium–Salibis, dan berhasil merebut kembali kota-kota di Syam, serta memaksa mereka mundur jauh ke utara Syam. Ia terus memburu mereka dan berhasil membunuh banyak dari mereka. Kesuksesannya itu karena ia berhasil mengobarkan permusuhan dan menanamkan rasa takut diantara mereka (atau lebih dikenal dalam istilah modern sebagai perang urat syaraf). Juga keberhasilannya mengeksploitasi metode pertempuran baru, ia tidak menghadapi mereka secara langsung, namun ia mengirim detasemen-detasemen kecil untuk menyergap pasukan musuh dan membunuh siapapun yang bisa dibunuh, dan detasemen untuk memutus jalur logistic. Terakhir, Zanki berhasil menyatukan kaum muslimin yang terpecah-belah dalam beberapa imarah yang saling bertikai.

23 Pertempuran Manshurah – Ramadhan 647 H

Dengan restu dari dewan gereja Katholik, orang-orang Eropa bergerak dalam sebuah pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Perancis (Louis IX) dalam rangka menjajah Mesir dan Baitul Maqdis. Mereka berkumpul di Pulau Cyprus, jumlah mereka mencapai lebih dari (80.000) tentara. Dalam perjalanan, banyak dari tentara kerajaan-kerajaaan Salib pesisir yang bergabung. Mereka berlayar dengan (1800) kapal perang. Ketika sampai di kota Dumyat (Damietta), mereka mendudukinya setelah mendapatinya kosong karena ditinggalkan penduduknya. Mereka menetap di kota tersebut selama lebih dari 5 bulan, mereka merubah masjid-masjidnya menjadi gereja dan membentenginya dengan amat kokoh.

Mesir ketika itu dikuasai oleh keluarga Ayub, dan rajanya adalah Najmuddin Ayub (seorang Kurdi asli). Raja yang shalih initelah berhasil menyatukan Mesir dan Syam dibawah kekuasaannya. Sebelumnya ia berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan para Salibis setelah beberapa pertempuran sengit yang memakan korban lebih dari (30.000) tentara salib. Dan setelah 30 tahun berlalu para Salibis kembali memobilisasi kekuatannya dan mengumpulkan seluruh persenjataannya dalam rangka membalas dendam.

Ketika para Salibis menjajah kota Dumyat, Raja yang shalih ini sedang berada di Damaskus, karena menderita sakit keras, namun beliau tetap berangkat meninggalkan pembaringannya, dan bergegas menuju Mesir dengan ditandu, lalu mengumumkan mobilisasi umum. Maka berkumpulah bersamanya sebanyak (25.000) mujahidin. Namun, bersamaan dengan mulainya pergerakan Salibis untuk menjajah Mesir, raja yang shalih ini wafat. Kabar wafatnya beliau disembunyikan agar tidak merusak moral para tentara.

Setelah  wafatnya, pada waktu itu muncul seorang komandan cerdas yang bernama Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari (seseorang berkebangsaan Turki Kipchak, negara Kazakhstan sekarang). Ia mengajukan strateginya untuk membendung laju Salibis, yang intinya adalah memancing Salibis untuk memasuki kota Manshurah (terletak di Provinsi Daqhaliyah sekarang), lalu diblokade dan diserbu secara tiba-tiba dan sekaligus. Baibars lalu menutup seluruh jalan-jalan keluar dari Manshurah, dan membuka pintu gerbangnya untuk memancing tentara Salibis. Dia memerintahkan para mujahidin untuk berdiam dan bersiap-siap di seluruh lorong-lorong kota. Pasukan Salibis memakan umpan ini.

Pasukan garis depannya (Knight Templar) memasuki kota dan menyangkanya kosong sebagaimana halnya Dumyat, lalu diikuti oleh seluruh pasukan. Setelah itu, kaum muslimin bergegas menutup jalan kembali dengan perisai. Ketika itulah para mujahidin keluar secara serempak dan menyerbu habis-habisan pasukan Salibis. Prajurit yang tidak terbunuh di tangan mujahidin menenggelamkan dirinya di sungai Nil.

Dan diwaktu fajar pada hari berikutnya, para mujahidin segera bergerak ke Dumyat untuk menghabisi sisa-sisa pasukan Salib. Mereka berhasil menghabisi pasukan Salib di kota Fariskur, sebuah kota di dekat Dumyat. Para mujahidin berhasil membunuh (30.000) Salibis dan menawan (10.000) lainnya, diantara yang tertawan adalah Raja Louis IX itu sendiri. Para Salibis terpaksa menebusnya bersama dengan tawanan lain dengan imbalan (500.000) dinar dan seluruh kaum muslimin yang ditawan harus dibebaskan, serta menanggung penuh pembanguan kembali kota Dumyat dan Manshurah, juga bersumpah untuk tidak kembali menyerbu negeri-negeri kaum muslimin.

Setelah mereka menduduki Baghdad dan membunuh Khalifah 'Abbasiy al-Mu'tashim Billah, dibawah kepemimpinan (Hulagu Khan), Mongol bergerak menuju Syam. Mereka menduduki Damaskus, Aleppo, dan Hama. Kemudian Hulagu kembali ke ibukotanya di (Tabriz), memberikan mandat kepada komandannya (Kitbuqa Noyan) untuk melanjutkan ekspansi. Maka bergeraklah pasukan Mongol untuk menjajah Mesir, yang ketika itu dikuasai oleh Daulah Mamluk, dan pemimpinnya adalah Komandan Muzhaffar Saifuddin Quthz al-Khawarizmi (terletak di sebelah barat Uzbekistan sekarang).

Ia mulai mempersiapkan pasukan Islam, memperbaiki jembatan, benteng, dan kastil, kemudian ia bergerak untuk menggempur Tartar dengan pasukan berkekuatan (20.000) mujahid. Ia membagi pasukan menjadi dua detasemen, yang pertama berjumlah sedikit dengan penunggang kuda pilihan, dan yang kedua adalah pasukan induk yang dipimpinnya sendiri. Kemudian ia memasuki Palestina dan sampai di Gaza yang telah diduduki Mongol, maka dia pun menaklukkannya.

Ia terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di daerah yang bernama ('Ain Jalut), sebuah dataran yang terletak di antara kota Bisan dan Nablus di Palestina, dan wilayah ini saat ini dibawah kekuasaan Yahudi semoga Allah melaknat mereka. Di 'Ain Jalut ini pasukan kaum muslimin bertemu dengan pasukan Tartar yang berjumlah (20.000) prajurit.

Pada suatu hari Jum'at di bulan Ramadhan, pertempuran dimulai. Strategi Quthz adalah menempatkan kubu pertama dari pasukannya berada di garda terdepan, sedang pasukan inti yang dipimpinnya bersembunyi di balik bukit. Strategi ini berhasil mengecoh Kitbuqa, dia menyangka bahwa pasukan yang dihadapinya ini adalah seluruh pasukan kaum muslimin, maka ia menyerang dengan kekuatan penuh. Pasukan kaum muslimin pura-pura kalah dan mundur untuk memancing Mongol, terpancinglah tentara Mongol dan terjebak dalam perangkap. Maka ketika mereka berada ditengah-tengah dataran 'Ain Jalut, keluarlah pasukan yang dipimpin Quthz dan mengepung pasukan Mongol dari seluruh penjuru.

Mengetahui hal ini, Mongol terus bertempur membabi buta. Ketika Quthz melihat hal ini, ia melempar topi bajanya, turun dari kudanya, dan bergerak memecah barisan Mongol seraya berteriak “wa Islamaah”. Dengan ini, pasukan Islam mulai menguasai keadaan. Komandan Mongol, Kitbuqa sendiri terbunuh. Tentara Mongol terus berperang membabi buta untuk membuka jalan, sehingga sejumlah besar pasukan berhasil selamat dan bergerak menuju utara. Kaum muslimin segera bergerak mengejar mereka. Pengejaran terus berlanjut sampai di kota Bisan. Di sana pertempuran besar kembali terjadi.

Dalam pertempuran ini, pasukan Mongol ditumpas habis, tidak ada seorangpun tentara Mongol yang selamat. Sekalipun pasukan kaum muslimin ditimpa musibah dengan banyaknya jumlah syuhada, Quthz tetap memutuskan bergerak bersama pasukannya yang penuh luka untuk membebaskan Damaskus. Akan tetapi ketika penduduk Damaskus mendengar kabar kemenangan kaum muslimin atas Tartar di 'Ain Jalut, mereka menyerang Tartar, berhasil membunuh beberapa dari mereka, menawan sebagian lain dan sedangkan sisa-sisa Tartar kabur dari Damaskus. Quthz memasuki Damaskus pada hari terakhir di Bulan Ramadhan dengan sambutan meriah penduduknya. Kemudian ia mengirim pasukan untuk membebaskan kota-kota lainnya. Allah mengaruniakannya keberhasilan membebaskan seluruh negeri Syam dari cengkeraman Tartar, dan membebaskan banyak kaum muslimin yang tertawan di penjara-penjara Mongol.

Bersambung In Sya Allah...

Maktabah Al-Himmah

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 2)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 2)

Dengan berkah dari Allah, kita akan meneruskan pembahasan mengenai pertempuran-pertempuran yang terjadi di bulan Ramadhan; setelah pada edisi pertama kita sampai pada pembahasan ghazwah yang ketiga belas.

14 Perang Qadisiyah – Ramadhan 15 H

Mutsanna ibn Haritsah selaku gubernur Irak mengutus pembawa pesan kepada Khalifah Umar Radhiyallahu 'anhu, memberitahunya bahwa Raja Persia yaitu Yazdajir (Yazdegerd III) sedang memobilisasi pasukannya untuk menyerbu Irak, maka Umar mengumumkan mobilisasi umum dan mengutus sepasukan tentara –disebutkan jumlahnya mencapai empat sampai enam ribu orang, dan bantuan terus mengalir sampai mencapai (30,000) mujahid, diantara mereka ada (70) sahabat yang ikut serta pada perang Badar dan (300) lainnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam– Umar mengangkat Sa'ad ibn Abi Waqqash sebagai komandan pasukan. Persia keluar dengan pasukan yang berkekuatan (120.000) tentara, atau lebih, mereka mengendarai gajah-gajah perang dan dikomandoi (Rustum). Dua pasukan ini pun bertemu suatu tempat yang bernama (Qadisiyah), yang terletak di selatan 'Irak. Terjadi pertempuran sengit yang berlangsung selama tiga hari, yang berujung pada kemenangan kaum muslimin. Kaum muslimin terus mengejar sisa-sisa pasukan Persia dan berhasil membunuh ribuan prajurit, diantaranya Rustum sendiri. Dan pertempuran ini adalah awal mula dari runtuhnya Imperium Persia.

15 Penaklukkan Pulau Rhodes – Ramadhan 53 H

Pulau Rhodes – terletak di timur Laut Mediterania yang menghadap ke arah Iskandariyah, Mesir, dan pulau ini pada saat itu berada dibawah kekuasaan Romawi, kemudian armada angkatan laut kaum muslimin berhasil menaklukkannya dibawah kepemimpinan sahabat Junadah ibn Abi Umayah di zaman Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhuma. Posisi pulau ini amat strategis, setelah kaum muslimin berhasil menguasainya, maka kaum muslimin menggunakan pulau ini sebagai pos untuk menghadang dan menyergap kapal-kapal Romawi. Hal itu dikemudian hari berpengaruh besar dalam melemahkan armada laut Romawi.

16 Penaklukkan Andalusia – Ramadhan 96 H

Setelah Musa ibn Nushair berhasil melabuhkan (beliau adalah gubernur Ifriqiyah di zaman Khalifah Umawiy al-Walid ibn Abdil Malik) pondasi-pondasi islam di al-Maghrib al-Kabir (daerah-daerah di barat Mesir sampai di pesisir Samudera Atlantik) dan mengokohkan tauhid serta jihad dalam jiwa penduduk Maghrib dan Ifriqiyah (suku Berber atau Amazigh), maka langkah berikutnya yang tertinggal adalah penaklukkan Andalusia (Semenanjung iberia, yaitu negara Spanyol dan Portugal saat ini), yang mana semenanjung ini dikuasai oleh kerajaan Goth (Visigoth). Maka Musa ibn Nushair mengutus bekas budaknya, yaitu komandan Thariq ibn Ziyad bersama 12.000 mujahid, yang mayoritasnya adalah suku Berber, pasukan ini berlayar ke utara dan berlabuh di gunung Calpe (Mons Calpe, dalam Bahasa Romawi) dan gunung ini adalah yang dikemudian hari dinamakan dengan nama sang komandan, sehingga jadilah gunung ini dikenal dengan nama Jabal Thariq (Gibraltar).

Namun Raja Andalusia (Rodrigo atau Roderic) telah bersiap menyambut kaum muslimin dengan pasukan berkekuatan 100.000 prajurit, maka bertemulah kedua pasukan ini di lembah Lakkah atau dataran Barbath (yang sekarang dikenal dengan nama Guadalete). Terjadi pertempuran yang amat sengit selama delapan hari, memakan korban 3000 prajurit muslim sebagai syahid dan puluhan ribu tentara Goth, termasuk raja mereka (Roderic). Lalu Allah pun menaklukkan negeri Andalusia untuk kaum muslimin dan mereka mendirikan sebuah negara Islam yang eksis selama lebih dari tujuh abad.

17 Penaklukkan Negeri Sind – Ramadhan 96 H

Di zaman Khalifah Umawiy al-Walid ibn 'Abdil Malik, dengan perintah dan arahan dari al-Hajaj ibn Yusuf sebagai gubernur Irak pada zaman Daulah Umawiyah, berangkatlah Komandan Muhammad ibn al-Qasim ats-Tsaqafi –ketika itu ia berumur 17 tahun– membawa pasukan sejumlah 20.000 prajurit, dalam rangka menaklukkan negeri Sind (Pakistan dan sekitarnya) yang ketika itu berada dibawah kekuasaan orang-orang Budha dan Hindu. Setelah kaum muslimin berhasil menaklukkan beberapa wilayah, tentara islam pun mengepung kota Debal (dekat dengan kota Karachi pada saat ini). Mereka berhasil menaklukkannya setelah pertempuran sengit selama tiga hari, yang setelahnya penduduk Sind meminta damai tanpa syarat, dan Muhammad al-Qosim menerima dengan baik perdamaian itu.

Lalu kaum muslimin menaklukkan kota Bayrun (yaitu kota Haidarabad). Setelahnya satu demi satu, kota demi kota dan benteng demi benteng terus berjatuhan, sampai akhirnya gerak pasukan Islam terhalangi sungai Mihran (sungai Indus). Segera setelah mereka berhasil menyeberangi sungai tersebut, pasukan Raja Sind (Raja Dahir) telah menyambut mereka, maka terjadilah pertempuran sengit yang hasil akhirnya adalah terbunuhnya Dahir dan seluruh negeri Sind menyerah. Maka Muhammad al-Qasim langsung memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala dan peninggalan-peninggalan ajaran budha, serta membangun masjid-masjid.

18 Pertempuran Balath Syuhada – Ramadhan 114 H

Kaum muslimin terus merayap untuk melanjutkan ekspansinya ke seluruh daratan Eropa. Kota demi kota berhasil ditaklukkan. Sampai pada zaman Khalifah Hisyam ibn 'Abdil Malik kaum muslimin berhasil mencapai ujung barat Perancis, dan kota terakhir yang berhasil ditaklukkan adalah kota (Tours), yang berjarak (295 km) dari Paris. Di kota ini, pasukan Islam yang dipimpin gubernur Andalusia Abdurrahman al-Ghafiqi bermarkas.

Disisi yang lain, orang-orang Frank (yaitu orang-orang Prancis) sedang menghimpun seluruh kekuatan dan sekutu-sekutu mereka dari orang-orang Germania, Saxxon dan kumpulan-kumpulan tentara bayaran, dibawah kepemimpinan (Charles Martel), untuk menghentikan ekspansi Islam. Maka di suatu tempat yang bernama (Balath), dinamakan berdasarkan sebuah istana yang tak berpenghuni di situ, kedua belah pihak bertempur sengit dan berlangsung sampai berhari-hari. Ribuan tentara Frank terbunuh, demikian juga ribuan prajurit kaum muslimin gugur sebagai syahid, termasuk komandan mereka al-Ghafiqi.

Setelah komandan mereka terbunuh, kaum muslimin mundur dari pertempuran pada malam hari, orang-orang Nashrani tidak mengejar mereka karena dihinggapi rasa takut dan ngeri. Para ahli sejarah menamakan pertempuran ini dengan nama Balath Syuhada, untuk mengenang kejadian tersebut.

19 Penaklukkan Sisilia – Ramadhan 212 H

Di zaman Khalifah 'Abbasiyah al-Ma'mun ibn Harun ar-Rasyid, Gubernur Ifriqiyah yaitu Ziyadatullah ibn al-Aghlab at-Tamimi menyiapkan angkatan laut yang berkekuatan (10.000) prajurit atau lebih, dan mengirimnya untuk menaklukkan Pulau Shiqiliyah (Sisilia), pulau terbesar di Laut Mediterania, provinsi terbesar Italia, dan pulau terbesar dalam rangkaian kepulauan yang menghubungkan Benua Afrika dan Eropa serta Laut Mediterania Barat dan Timur. Tentara Islam lalu mengarungi Laut Mediterania di bawah kepemimpinan seorang faqih madzhab Maliki hakim Qairawan, yaitu Komandan Asad ibn Furat, ketika itu ia berumur 70 tahun. Setelah berlayar selama lima hari, armada Islam berlabuh di pantai-pantai Sisilia, tepatnya di daerah yang bernama (Mazara). Romawi menyambut mereka dengan pasukan yang berkekuatan (150.000) prajurit.

Terjadilah pertempuran sengit, dan dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Kemudian Ibn Furat terus bergerak maju dan mengepung kota (Sarqusah) (Syracuse), ditengah-tengah pengepungan Ibn Furat terkena luka-luka yang menyebabkan kematiannya, dan beliau pun dimakamkan disana. Ketika para prajurit melihat Komandan mereka syahid, mereka justru bertempur mati-matian dan mampu memukul mundur pasukan Romawi dan memaksa mereka kabur. Selang beberapa lama, seluruh pulau Sisilia berhasil ditaklukkan, syariat ditegakkan, dan pulau Sisilia tetap berada di pangkuan kaum muslimin selama lebih dari empat abad.

20 Penaklukkan ‘Ammuriyah – Ramadhan 223 H

Ditengah-tengah kesibukan Khalifah 'Abbasiyah al-Mu'tashim Billah memadamkan pemberontakan (Babak al-Khorrami) di negeri Persia, dimana Babak memimpin pemberontakan orang-orang Gerakan Bathiniyah kotor melawan pemerintahan Bani Abbas; Kaisar Romawi (Bizantium Theophilos Michael) memanfaatkan kesempatan dengan menyerang Zibathrah dan Malathyah (Sozopetra dan Arsamosata), dua kota Islam, terletak di Turki pada saat ini. Ia menghancurkannya, membantai penduduknya, memutilasi mayat-mayatnya dan menawan wanita-wanita kaum muslimin, diantara yang ditawan itu ada seorang wanita dari Bani Hasyim, seorang Romawi menamparnya dan wanita ini pun meminta tolong kepada Khalifah dengan sebuah perkataan yang terkenal: “Wa mu'tashimah (Wahai Mu'tashim!)”

Ketika kabar tentang wanita tersebut sampai di telinga al-Mu'tashim, ia segera berteriak di istananya: “Aku penuhi panggilanmu, aku penuhi panggilanmu! Perang, perang!”

Beliau bergegas bangkit dan langsung memerintahkan untuk menyiapkan pasukan. Maka keluarlah dari Baghdad sepasukan tentara yang berkekuatan lebih dari 100.000 prajurit. Kemudian dia bertanya kepada para komandannya: “Negeri Romawi apa yang paling kuat dan kokoh?”

Maka dikatakan kepadanya: “Yaitu 'Ammuriyah (Amorium), tidak ada salah seorang pun dari kaum muslimin yang bisa mencapainya”, dan 'Ammuriyah merupakan kota penting orang-orang Nashrani, serta tempat lahirnya Dinasti Ammuriyah yang merupakan nenek moyang Kaisar Theophilos itu sendiri. Maka bergeraklah al-Mu'tashim dan pasukannya menuju 'Ammuriyah (yang terletak negara Turki saat ini, di barat daya Ankara). Ketika sampai di suatu tempat yang bernama (Saruj), al-Mu'tashim membagi tentaranya menjadi dua detasemen, detasemen pertama menuju Ankara dipimpin seorang komandan Turki bernama (Haidar ibn Kawus) yang dijuluki al-Afsyin, sedang al-Mu'tashim memimpin pasukan induk.

Dalam perjalanannya, pasukan al-Afsyin bertemu dengan pasukan Kaisar Theophilos di wilayah (Dazimon), terjadilah pertempuran sengit yang mengakibatkan kekalahan pasukan Romawi, sehingga membuat Theophilos kabur ke Konstantinopel (sekarang dinamakan Istanbul). Kedua detasemen pasukan Islam bergabung di Ankara, dan berhasil menaklukkannya tanpa mendapat perlawanan berarti. Lalu kedua detasemen itu bergerak bersama-sama menuju 'Ammuriyah. Sesampainya di kota itu, mereka mengepungnya dengan amat ketat, karena kota ini adalah sebuah kota yang dibentengi dengan kuat dan kokoh serta mempunyai menara-menara yang tinggi.

Ditengah-tengah pengepungan, Kaisar Romawi Theophilos mengutus utusan kepada al-Mu'tashim, meminta damai, dan meminta maaf atas perbuatannyakepada kaum muslimin. Ia berjanji untuk melepaskan seluruh tawanan wanita, serta membangun kembali kota-kota yang dihancurkannya, akan tetapi Khalifah menolak tawaran itu, dan terus melakukan pengepungan sampai jatuhnya Ammuriyah; untuk memberi pelajaran kepada Romawi dan mengembalikan kemuliaan wanita-wanita yang suci.

Setelah (11) hari pengepungan dan melontari kota dengan manjaniq, 'Ammuriyah berhasil ditaklukkan. Pasukan Islam memasuki kota dengan bertakbir. Mereka membunuh banyak orang-orang Romawi dan mendapatkan ghanimah; berupa harta yang tak terhitung dan tawanan berupa wanita dalam jumlah banyak. Mereka membakar manjaniq (katapel raksasa untuk melontarkan batu) dan dabbabah (battering ram, untuk menjebol dinding atau pintu benteng), serta membebaskan wanita Bani Hasyim tersebut dan membunuh orang Romawi yang menamparnya.

Setelah 'Ammuriyah jatuh, Theophilos mengirim utusan yang kedua kalinya kepada al-Mu'tashim dengan membawa hadiah yang banyak dan surat permohonan maaf serta berjanji untuk melaksanakan seluruh syarat al-Mu'tashim, dengan syarat al-Mu'tashim mengembalikan 'Ammuriyah, namun al-Mu'tashim kembali menolak untuk kedua kalinya, bahkan ia bertekad untuk terus bergerak untuk menaklukkan ibu kota Romawi, yaitu Konstantinopel. Namun ia urung bergerak dan malah kembali, karena sebab fitnah internal.

Al-Mu'tashim kembali ke Baghdad setelah membunuh (30.000) Romawi dan menawan (30.000) lainnya, serta menaklukkan banyak kota, sembari membawa pulang ghanimah yang melimpah. Seorang penyair yaitu Abu Tamam ath-Thaiy menggambarkan penaklukkan 'Ammuriyah ini dalam suatu kasidah yang bagus sekali, yang pembukaannya berbunyi:

Pedang adalah pembawa berita yang lebih jujur daripada buku
Dengan ketajamannya memisahkan antara senda gurau dan sungguh-sungguh

Bersambung In Sya Allah...

Inilah Ramadhan! Dan beginilah dahulu para salafus shalih! Jihad, penyerbuan, dan semangat, dan dukungan serta kemenangan dari Allah! Jauh, dan betapa jauhnya perbedaan antara mereka dengan yang menghabiskan hari-hari Ramadhan dengan tidur dan mempersiapkan beraneka ragam makanan dan minuman! Dan menghabiskan malam-malamnya dengan bergadang, senda gurau dan bermain-main.

Wahai Junud Daulah Islamiyah! Wahai yang menyiapkan Khilafah 'ala minhajin nubuwwah! Inilah bulan Ramadhan yang mulia mendatangi kalian, maka tunjukkan kepada Allah apa yang dicintai dan diridhai-Nya, lanjutkan jihad kalian, lipat gandakan kesungguhan kalian, sucikan najis orang-orang shafawi dan bungkam orang-orang sekuler, patahkanlah aliansi salibis, dan jangan kalian lupakan para singa dan wanita-wanita merdeka yang terpenjara, karena keluarga mereka telah menunggu untuk merayakan hari raya…

Maktabah Al-Himmah

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 1)

SARIYAH, GHAZWAH DAN FUTUHAT DI BULAN RAMADHAN (BAGIAN 1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada bag¬inda Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan semua yang mengikutinya, amma ba’du:

Sesungguhnya bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya; yaitu bulan berpuasa, menegak¬kan sholat, membaca Al-Qur’an, sedekah dan seluruh ibadah lain¬nya. Dalam bulan ini kesungguhan kaum muslimin dalam berib¬adah lebih dari bulan-bulan lainnya.

Adapun berperang di jalan Allah pada bulan ini, maka para mujahidin memberikan sambutan yang teramat hangat dan perhatian yang lebih besar. Karena da¬lam bulan Ramadhan, Allah menaklukkan banyak tempat untuk muslimin dan menurunkan kepada mereka rahmat-Nya. Ia adalah bulan yang diberkati, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan terbelenggu. Bulan yang mulia, dimana kebaikan dilipatgandakan dan syahwat-syahwat terkekang.

Suatu bulan, dimana orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan sungguh-sungguh, akan diampuni dosanya yang telah lalu, lalu bagaimana halnya dengan yang dia berpuasa, mendirikan malamnya, dan berjihad didalamnya dengan jiwa, harta dan lisannya!

Oleh sebab itu, sepanjang sejarah, hari-hari di bulan Ramadhan adalah hari-hari jihad dan pertempuran. Dalam bulan ini banyak terjadi pengiriman sariyah (detasemen tempur), penyerbuan, dan penaklukan-penaklukan Islam yang merubah wajah sejarah. Kami akan menyebutkan beberapa saja, karena tidaklah cukup jika peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut dirinci satu demi satu:

Ghazwah adalah pertempuran yang dihadiri atau dip¬impin sendiri oleh Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam. Adapun Sariyah adalah detasemen tempur yang dikirim oleh Rasul Shallallahu ’alaihi wasallam, namun Beliau tidak menghadiri atau memi¬mpin pasukan ini. Jumlah sariyah yang diutus oleh Nabi Shallal¬lahu ’alaihi wasallam adalah 73 sariyah, 11 diantaranya dikirim di bulan Ramadhan.

Sariyah-sariyah yang diutus oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika Ramadhan

1. Sariyah Sahil Al-Bahr (pesisir laut) – Ramadhan, tahun pertama Hijrah

Bendera perang yang pertama kali diangkat dalam sejarah Islam, dan langkah pertama dalam perjalanan panjang jihad. Rasulullah memberikannya pada Hamzah dan mengutusnya memimpin 30 laki-laki muhajirin. Mereka berangkat untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam. Ketika mereka sampai di Siif Al-Bahr (suatu daerah di pesisir Laut Merah), kedua belah pihak bertemu dan berbaris untuk bertempur. Akan tetapi kedua kelompok ini dihalang-halangi oleh Majdi ibn ‘Amr Al-Juhani, dan ia adalah sekutu dari kedua belah pihak, sehingga pertempu¬ran tidak terjadi.

2. Sariyah ‘Umair Ibn ‘Adi Al-Khathami – Ramadhan, tahun kedua Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus sariyah ini untuk membunuh ‘Ashmaa Binti Marwan yang telah mengejek Islam dan menghasut orang-orang untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada tengah malam, Umair bin ‘Adi men¬datanginya di rumahnya, kemudian menghunus pedangnya dan berhasil menusuk dadanya sampai tembus punggungnya.

3. Sariyah Zaid Ibn Haritsah – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimnya ke Bani Fazarah, yang bertempat di salah satu sisi Wadil Qura, lantaran ada beberapa orang Bani Fazarah yang menghadang dagangan kaum muslimin dan merampoknya. Zaid ibn Haritsah kemudian berangkat mengepalai beberapa orang sahabat, mereka berhasil menyergap orang-orang itu secara tiba-tiba, mengepung mereka, dan berhasil menawan Ummu Qirfah Fathimah Binti Rabi’ah Al-Fazariyah, dia seorang wanita yang sudah tua, ditaati dan dimuliakan oleh kaumnya, sebelumnya dia telah menyiapkan 40 penunggang kuda dari anak-anak dan cucu-cucunya untuk mem¬bunuh Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam. Maka Zaid Ibn Haritsah membunuh mereka semua juga membunuh Ummu Qirfah.

4. Sariyah ‘Abdullah Ibn ‘Atiq – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Adalah suku Aus dan Khazraj selalu berlomba dalam membela Ra¬sulullah Shallallahu ’alaihi wasallam. Tatkala suku Aus membunuh Ka’ab Ibn Asyraf, yang telah menyakiti Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam, suku Khazraj mencari-cari siapa yang permusuhannya atas Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menyerupai Ibn Asyraf. Merekapun menemukan Abu Rafi’ Salam Ibn Abi Al-Haqiq An-Nadhari. Dialah yang mengumpulkan pasukan Ahzab pada perang Khandaq, mendanai kabilah Ghathafan untuk ikut serta dalam koalisi itu, dan selalu mencaci Rasulullah dalam setiap kes¬empatan. Maka para sahabat dari kalangan Khazraj meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam untuh membunuh Abu Rafi’. Rasulullah memberi izin kepada mereka, lalu mengu¬tus 5 orang dari mereka dan menunjuk Abdullah ibn ‘Atiq untuk memimpin mereka. Sariyah itupun kemudian menyerbu kedia¬man Abu Rafi’, menghabisinya, dan kemudian kembali ke Madi¬nah dengan selamat.

5. Sariyah Ghalib Al-Laitsi – Ramadhan, tahun keenam Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutusnya kepada Bani ‘Awal dan Bani ‘Abd ibn Tsa’labah yang keduanya itu adalah kabi¬lah Arab Badui di Nejd. Sebelumnya, orang-orang dari kedua kabi¬lah itu menyerbu pinggiran Madinah ketika kaum muslimin sibuk bertempur melawan kafir Quraisy dan Yahudi. Maka kaum mus¬limin bergerak dengan berkekuatan 130 prajurit yang dikomandoi oleh Ghalib ibn ‘Abdullah Al-Laitsi. Mereka menyerbu pada waktu fajar, dan membunuh siapapun yang melawan, sedangkan sisanya melarikan diri. Mereka berhasil mendapatkan ghanimah berupa unta dan kambing dalam jumlah banyak, lalu menggiringnya ke Madinah.

6. Sariyah Abu Qatadah As-Sulami – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Ketika Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam berencana untuk menginvasi Makkah, diutuslah Abu Qatadah Al-Harits Ibn Rib’i dalam satu sariyah berkekuatan 8 orang menuju Batn Idhom (suatu lembah di utara Makkah) untuk menipu Quraisy dan mengkamuflasekan tujuan kaum muslimin yang sebenarnya. Se¬hingga mereka mengira kaum muslimin sedang bergerak menuju arah tersebut. Sariyah ini berhasil sampai ke tujuannya tanpa me¬nemui hambatan. Kemudian mereka pergi dan bergabung dengan pasukan induk kaum muslimin.

7. Sariyah Khalid ibn Walid – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Setelah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menghancurkan seluruh berhala yang berada di dalam Ka’bah ketika penaklukan kota Makkah, Rasulullah mengutus beberapa sariyah untuk menghancurkan berhala-berhala di daerah-daerah tetangga. Maka diutuslah Kholid dengan 30 pasukan berkuda menuju berhala Al ‘Uzza di Nakhlah (lembah diantara Makkah dan Thaif) dan dihan¬curkanlah berhala itu.

8. Sariyah ‘Amru Ibn Al-‘Ash – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Pada waktu yang sama, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam mengirim Amru ibn Al-‘Ash memimpin sariyah menuju berhala Suwaa’ di Ruhath (jauhnya sekitar 3 mil dari Makkah), mereka lalu meng¬hancurkan berhala itu beserta rumah penyimpanannya.

9. Sariyah Sa’ad Ibn Zaid Al-Asyahili – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam juga mengutus Sa’ad Ibn Zaid den¬gan 20 pasukan berkuda menuju berhala Manat di wilayah yang dikenal dengan nama Musyallal (di pesisir Laut Merah). Tatkala mereka sampai di tempat itu, dari dalam bangunan berhala itu muncul seorang perempuan berkulit hitam yang telanjang, dengan rambut acak-acakan, sembari berteriak-teriak akan kecelakaan dan kebinasaan, sambil memukul-mukul dadanya, maka Sa’ad mem¬bunuhnya dan menghancurkan berhalanya.

10. Sariyah ‘Ali Ibn Abi Tholib – Ramadhan, tahun kesepuluh Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus ‘Ali menuju Yaman, menetapkan untuknya sebuah panji khusus dan menyerahkannya dengan tangan beliau sendiri. Maka berangkatlah ‘Ali dengan 300 pasukan berkuda. Ketika tiba, ia mengutus prajuritnya, dan mere¬ka kembali dengan membawa rampasan berupa wanita, anak-anak, binatang ternak dan ghanimah lainnya. Kemudian kaum muslim¬in bertemu dengan pasukan mereka. Diserulah mereka kepada Is¬lam, namun mereka menolak, malah memanahi serta melempari kaum muslimin dengan batu. Maka Ali membariskan pasukannya, kemudian menyerbu mereka, dan berhasil membunuh 20 orang. Maka mereka mundur tercerai berai. Ali lalu menghentikan penge¬jaran, kemudian menyeru mereka kepada Islam dan mereka men-yambutnya.

11. Sariyah Jarir Ibn ‘Abdullah Al-Bajali – Ramadhan, tahun kesepuluh Hijrah

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengutus Jarir Ibn ‘Abdullah bersama 150 pasukan berkuda menuju berhala Dzil Khalashah, se¬buah rumah sesembahan di wilayah Tabaalah (antara Makkah dan Yaman). Rumah ini dinamakan Ka’bah Yamaniyah, karena orang-orang jahiliyah berhaji menuju rumah itu. Tatkala mereka sampai di rumah itu, mereka membakarnya, lalu kemudian menghancur¬kannya.

Ghazwah yang dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam ketika Ramadhan

Ghazwah yang dipersiapkan dan dipimpin sendiri oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam berjumlah 28 ghazwah, dua ghazwah yang paling penting terjadi di bulan Ramadhan, yaitu: Ghazwah Badar Al-Kubra dan Fathu Makkah.

12. Perang Badar – Ramadhan, tahun kedua Hijrah

Adalah Perang Badr Al-Kubra, perang yang digambarkan oleh Al¬lah Ta’ala dalam firmannya: “Di hari Furqan, yaitu di hari berte¬munya dua pasukan.” [Al Anfal : 41], dan Allah Yang Maha Suci menggambarkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin setelah kondisi lemah mereka dengan firman-Nya: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepa¬da Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” [Ali Imran : 123]

Ketika itu kaum muslimin keluar bersama Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam untuk menghadang kafilah Quraisy yang dip¬impin Abu Sufyan, akan tetapi Abu Sufyan mengubah rute kaf¬ilahnya melalui pesisir, dan ia memprovokasi penduduk Makkah untuk menolongnya. Maka keluarlah mereka untuk menghadang kaum muslimin, di bawah pimpinan Abu Jahal. Kedua belah pihak bertemu di Badr (sebuah sumur diantara Makkah dan Madinah). Allah memenangkan orang-orang mukmin, yang ketika itu hanya berjumlah 317 prajurit menghadapi kaum musyrikin yang jum¬lahnya melebihi seribu prajurit. Dalam pertempuran ini 14 orang sahabat gugur syahid, 6 orang dari kalangan Anshar dan 8 dari ka-langan muhajirin, sedangkan korban dari kaum musyrikin seban¬yak 70 orang dan 70 lainnya tertawan.

13. Ghazwah Fathu Makkah – Ramadhan, tahun kedelapan Hijrah

Makkah Al-Mukarramah, negeri yang aman sentosa dan dihormati. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bergerak untuk menakluk¬kannya dengan 10.000 pasukan setelah kafir Quraisy melanggar perjanjian. Allah menaklukkannya untuknya dengan kemenangan yang nyata setelah terjadi kontak senjata ringan yang memakan korban 16 orang musyrikin dan tiga orang sahabat gugur syahid.

Ibnul Qayim mendeskripsikan Fathu Makkah dengan ka¬ta-katanya: “Ini adalah kemenangan besar; yang dengannya Allah memuliakan Dien-Nya, Rasul-Nya, dan tentara-Nya, ser¬ta golongan-Nya yang terpercaya, dan menyelamatkan neg¬eri dan rumah-Nya, yang dijadikannya petunjuk bagi semesta alam, dari tangan orang-orang kafir dan musyrik. Ia adalah ke¬menangan yang membuat gembira penduduk langit, gendang kemuliaan ditabuh dibawah kerlip bintang Alfa Orion, ber¬bondong-bondong manusia masuk kedalam Dien-Nya, dan bumi memancarkan kemilau kebahagiaan. [Zaadul Ma’ad]

Bersambung In Sya Allah...

Wahai Junud Daulah Islamiyah! Wahai yang menyiapkan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah! Inilah bulan Ramadhan yang mulia mendatangi kalian, maka tunjukkan kepada Allah apa yang dicintai dan diridhai-Nya, lanjutkan jihad kalian, lipat gandakan kesungguhan kalian, sucikan najis orang-orang shafawi dan bungkam orang-orang sekuler, patahkanlah aliansi salibis, dan jangan kalian lupakan para singa dan wanita-wanita merdeka yang terpenjara, karena keluarga mereka telah menunggu untuk merayakan hari raya…

Maktabah Al Himmah

PELAJARAN TAUHID UNTUK ANAK-ANAK

PELAJARAN TAUHID UNTUK ANAK-ANAK

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam teruntuk kepada baginda Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya. Amma ba’du:

Sesungguhnya madrasah, guru-guru dan masjid-masjid kita terbiasa memulai proses pengajaran anak-anak kita dengan menghafal Al Qur’an dan mengetahui hukum-hukum bacaannya sebelum memulai pengajaran ilmu-ilmu lainnya. Sekalipun keagungan Kitabullah yang mulia dan urgensi mempelajari serta mengajarkannya; namun metode yang lebih utama dalam tarbiyah (pengasuhan) dan ta’lim (pengajaran) adalah memulai dengan ushuluddin (pokok-pokok ajaran Islam), mempelajari dan menghafal surah Al Fatihah dan sebagian surah-surah pendek, baru kemudian memulai menghafal Al Quran Al Karim dan cara-cara membacanya.

Dan inilah cara yang benar, sesuai dengan metode Nabi Sholallahu’alaihi wasallam, para sahabatnya Radhiyallahu ’anhum dan generasi setelahnya. Dari Jundub Ibn ‘Abdillah Al Bajali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Adalah kami masih anak-anak hazaawiroh –jama’ dari hazawwarun, yaitu anak-anak yang mendekati baligh– pada zaman Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam ketika beliau mengajari kami iman sebelum mengajarkan Al Qur’an, kemudian barulah kami mempelajari Al Quran, sehingga bertambah-tambahlah iman kami” [Shohih, dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan selainnya].

Maka ketika anak-anak mempelajari aqidah dan tauhid, pokokpokok Dien yang utama, serta menghafal beberapa surat Al Qur’an agar bisa melaksanakan sholatnya dengan baik, tidak mengapa baru dimulai pengajaran dan hafalan Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah ilmu yang paling agung dan mulia, yang belajar dan mengajarkannya adalah sebaik-baik manusia.

Dalam hal itu, kami menemukan risalah yang berharga karya Al Imam Muhammad Ibn ‘Abdil Wahhab, beliau menyebutkan beberapa perkara yang wajib dipelajari anak-anak yang mulai menapaki thalabul ‘ilmu, beliau berkata:

Segala puji bagi Rabb semesta ‘alam, sholawat serta salam tercurah kepada penghulu para rasul, keluarga, dan para sahabatnya seluruhnya, amma ba’du:

Inilah risalah yang bermanfaat, tentang apa yang wajib atas manusia mengajarkannya kepada anak-anak sebelum mereka mempelajari Al Quran, sampai ia menjadi manusia yang sempurna diatas fitrah islam, dan muwahhid yang baik diatas jalan keimanan. Saya menyusunnya dalam metode tanya jawab:

SOAL PERTAMA

Jika dikatakan kepadamu: Siapakah Rabbmu?

Maka, katakanlah: Rabbku adalah Allah

SOAL KEDUA

Apakah arti Rabb itu?

Katakanlah: Al Maalik Al Ma’buud (raja dari yang disembah) dan Al Mu’iin (Maha Penolong), Allah pemilik uluhiyyah dan ‘ubudiyyah atas makhluk-Nya seluruhnya.

SOAL KETIGA

Kemudian jika dikatakan kepadamu: Dengan apa kamu mengetahui Rabbmu?

Katakanlah: Aku mengetahuinya dengan ayat-ayat-Nya (tandatandanya) dan makhluk ciptaan-Nya. Diantara ayat-ayat-Nya: malam dan siang, matahari dan bulan, dan diantara makhluk ciptaan-Nya: langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam [Al A’raf: 54]

SOAL KEEMPAT

Kemudian jika dikatakan kepadamu: Untuk apa kamu diciptakan?

Katakanlah: Untuk menyembah-Nya semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan taat kepada-Nya dengan mematuhi apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Sebagaimana kalam Allah Ta’ala:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku [Adz Dzariyyat: 54]

Juga sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka [Al Maidah: 72]

Dan syirik adalah: menjadikan tandingan bagi Allah, menyerunya, mengharap kepadanya, takut kepadanya, atau bertawakkal kepadanya, atau lebih menyukai sesuatu tersebut daripada Allah, atau macam-macam ibadah lainnya.

Karena sesungguhnya ibadah adalah: suatu istilah yang mencakup segala hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik itu perkataan maupun perbuatan, perkara batin maupun zahir. Diantaranya adalah doa, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah [Al Jin: 18]

Dan dalil bahwasannya doa kepada selain Allah adalah kekafiran:

Dan barang siapa menyembah ilah yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung [Al Mu’minuun: 117]

Yang demikian itu adalah lantaran doa merupakan ibadah yang paling agung, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” [Ghaafir: 60]

Diriwayakan dalam buku-buku Sunan dari Anas secara marfu’: “Doa adalah inti ibadah”.

Dan yang pertama kali yang diwajibkan Allah atas hambaNya adalah kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah, Allah berfirman:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” [An Nahl: 36]

Thaghut adalah: apapun yang diibadahi selain Allah, atau syaithon, para dukun, peramal, dan siapa saja yang berhukum selain dengan apa yang Allah turunkan, serta setiap orang yang diikuti dan ditaati dengan tidak hak. Berkata Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah ta’ala: Segala hal yang melampui batasan seorang hamba, baik itu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati.

SOAL KELIMA

Jika dikatakan kepadamu: Apa Dienmu?

Katakanlah: Dien (agama) ku adalah Islam Dan makna Islam adalah: Tunduk kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan mematuhi-Nya dengan ketaatan, dan berwala kepada orang-orang muslim dan dan memusuhi orangorang musyrik. Allah berfirman:

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam [Ali ‘Imran: 19]

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekalikali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi [Ali ‘Imran: 85]

Telah shahih dari Nabi Sholallahu‘alaihi wasallam sabdanya: “Engkau bersaksi bahwasannya tiada sesembahan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah (laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah), mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa dibulan ramadhan, dan berhaji ke baitullah jika engkau mampu”.

Dan makna laa ilaaha illallah: Tiada yang berhak disembah sebenar-benarnya kecuali Allah, sebagaimana firman Allah:

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. [Az Zukhruf: 26-28]

Dan dalil tentang sholat dan zakat sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [Al Bayyinah: 5]

Ayat ini memulai dengan tauhid dan bara-ah yaitu keberlepasan diri dari syirik. Seagung-agungnya apa yang diperintahkanNya adalah tauhid, dan sebesar-besarnya apa yang dilarangNya adalah syirik, lalu perintah untuk mendirikan sholat dan menunaikan zakat, yang tersebut itu adalah mayoritasnya Dien ini, syariat-syariat lain setelahnya mengikutinya.

Dan dalil atas wajibnya shiyam (berpuasa): Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu...[Al Baqarah: 183], sampai pada firman-Nya "Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu...[Al Baqarah: 185]

Dan dalil atas wajibnya haji: Dan Allah telah mewajibkan manusia untuk menunaikan haji ke Baitullah [Ali ‘Imran: 97]

Dan rukun iman ada enam yaitu: iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir, serta ketetapan yang baik dan buruk.

Dan dalilnya sebagaimana di dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh ‘Umar Ibn Khatthab.

SOAL KEENAM

Jikalau dikatakan kepadamu: Siapa Nabimu?

Maka katakanlah: Nabi kami adalah Muhammad Ibn ‘Abdullah Ibn ‘Abdul Muttholib Ibn Hasyim Ibn ‘Abdu Manaf.

Allah memilihnya dari bangsa Quraisy dan mereka adalah putera-putera terbaik Isma’il 'Alaihis salaam, beliau diutus kepada bangsa kulit putih dan kulit hitam, diturunkan kepada beliau Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah), maka beliau menyeru kepada seluruh manusia untuk beribadah dengan ikhlas dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah dari: patungpatung, batu-batu, pepohonan, para nabi, orang-orang sholih, malaikat-Nya, dan lainnya.

Beliau menyeru manusia untuk meninggalkan syirik, dan memerangi mereka sampai meninggalkannya, dan agar mereka menjadikan ibadah murni semata-mata hanya pada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Rabbku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya” [Al Jin: 20]

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku” [Az Zumar: 18]

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali” [Ar Ra’d: 36]

Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang bodoh?”. Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. [Az Zumar: 64-66]

Diantara pokok-pokok iman yang menyelamatkan dari kekafiran: Iman kepada hari kebangkitan, hari berkumpul, pembalasan, hisab, dan bahwa surga dan neraka adalah haq, Allah berfirman:

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. [Thaha: 55]

Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: “Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?” Orang-orang itulah yang kafir kepada Rabbnya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. [Ar Ra’d: 5]

Ayat ini adalah dalil bahwa siapa saja yang menyangkal hari berbangkit adalah kafir, balasan untuknya adalah kekekalan di neraka. Kami berlindung kepada Allah dari kekafiran dan perbuatan orang-orang kafir.

Maka terkandung didalam ayat ini penjelsan apa-apa yang diutus dengannya Nabi Sholallahu ’alaihi wasallam dari mengikhlaskan ibadah dan melarang dari beribadah kepada selain Allah dan membatasi ibadah kepada Allah.

Inilah Dien-Nya, yang dengannya beliau menyeru manusia dan menjihadi mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. [Al Anfal: 39]

Allah telah mengutusnya ketika menginjak umur 40 tahun, maka beliau manusia untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan meninggalkan segala bentuk peribadahan kepada selain-Nya, selama lebih kurang 10 tahun, kemudian diangkat menuju ke langit dan shalat lima waktu diwajibkan kepadanya dengan tanpa ada perantara antara beliau dengan Allah.

Kemudian beliau diperintahkan untuk berhijrah, maka berhijrahlah menuju Madinah. Juga diperintahkan untuk berjihad, maka beliau berjihad dijalan Allah dengan sebenarbenar jihad, selama kurang lebih sepuluh tahun sampai manusia menuju agama Allah secara keseluruhan. Ketika beliau telah berumur 63 tahun, Dien telah sempurna –walhamdulillah–, dan datang penyampai wahyu bahwa ajalnya telah dekat, semoga sholawat dan salam-Nya terus mengalir kepadanya.

Rasul yang pertama kali diutus adalah Nuh ‘Alaihis salaam, dan yang terakhir adalah Muhammad Sholallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya... [An Nisa: 163]

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul... [Ali ‘Imran: 144]

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al Ahzab: 40]

Dan seutama-utama para Rasul: adalah Nabi kita Muhammad Sholallahu ’alaihi wasallam.

Dan sebaik-baik manusia setelah para Nabi Shallallahu ’alaihim wasallam adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali Radhyiallahu ‘anhum ajma’in.

Dan sebaik-baik generasi: genarasi dimasa Rasulullah, kemudian yang mengikutinya setelahnya, kemudian setelahnya lagi.

Dan Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam akan turun dari langit dan membunuh dajjal.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Selesai kata-kata beliau Rahimahullah.

Maktabah Al-Himmah