Sabtu, 05 Mei 2018

SEDANGKAN ALLAH MENGETAHUI DAN KALIAN TIDAK MENGETAHUI

SEDANGKAN ALLAH MENGETAHUI DAN KALIAN TIDAK MENGETAHUI
Statemen Amirul Mu’minin, Syaikh Al-Mujahid Abu Bakar Al-Husaini Al-Qurosyi Al-Baghdadi

Alih Bahasa:
Forum Islam Al-Busyro

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan pada-Nya. Kami berlindung pada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan ‘amal perbuatan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang Dia sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk padanya.
   
Aku bersaksi tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya –semoga Allah limpahkan sholawat dan salam padanya beserta keluarga dan para shohabatnya.

Adapun kemudian;

Sesungguhnya di antara sunnah dan hikmah (kebijasanaan) Allah –tabaaroka wa ta’ala- adalah bercampurnya barisan kaum mu’minin dan mujahidin dengan orang yang bukan dari golongan mereka dan dengan golongan munafiqin. Namun Allah tidak-lah membiarkan barisan muslim (terus) bercampur dengan golongan munafiq dan tukang klaim yang bersembunyi di balik tabir Islam, juga bersembunyi di belakang da’wah Iman. Maka Allah subhaanahu wa ta’ala pun mengadakan tradisi ujian dan cobaan (sunnatul fitnah wal ibtila’).

Allah ta’ala berfirman;

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ...

(Allah tidaklah membiarkan kaum mu’minin dalam keadaan kalian saat ini, hingga Dia menyisihkan yang buruk (munafiq) dari yang baik (mu’min)...” (Ali ‘Imron: 179)

Allah ta’ala berfirman;

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Sungguh telah kami uji orang-orang sebelum kalian, maka Allah pun benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan orang-orang yang berdusta.” (Al-‘Ankabut: 3)

Maka barisan ini haruslah dipanasi agar keburukan / kotoran keluar darinya, harus ditekan agar bata yang lemah tersingkir dan harus dipijarkan cahaya padanya agar tersingkap para penyusup dan pihak-pihak tak dikenal.

Demikianlah, pergelutan antara Al-haq dan Al-bathil tidaklah berhenti dan tradisi bentrokan (sunnah tadaffu’) yang jika berhenti tentulah telah dirobohkan gereja-gereja, rumah-rumah ibadah dan masjid-masjid yang di dalamnya disebut nama Allah, serta bumi pun akan rusak. Maka bentrokan dan pergulatan ini terus berlanjut, sedangkan ujian, cobaan dan penyaringan terus ada, namun kesudahan yang baik (hanya) bagi orang-orang yang bertaqwa, serta kesuksesan dan keberuntungan bagi kaum mu’minin yang jujur.

Sedangkan ujian yang terus menimpa mujahid di jalan Allah tidaklah menambahnya selain semakin bersih dan jernih, tidak pula ia menghadapi berbagai kesulitan / kepayahan selain menambah tekad dan keteguhan(nya).

Maka bersabarlah wahai mujahidin di Daulah Islam di Iraq dan Syam,

Kuatkanlah kesabaran dan siap-siagalah, serta jangan bersedih terhadap penelantaran orang dekat dan bersekongkolnya musuh. Janganlah kalian ngeri terhadap serangan yang gencar terhadap Daulah ini, karena Allah ‘azza wa jalla akan menolong pasukan-Nya dan membela orang-orang yang beriman. Janganlah kalian gemetar terhadap besarnya kedustaan dan tuduhan, serta apa saja yang disepakati oleh musuh-musuh Islam dan apa saja yang mereka perundingkan untuk melawan kalian, karena Allah ‘azza wa jalla mengetahui mana orang yang merusak dan mana orang yang membuat kebaikan, Dia mengetahui mana mujahid dan mana tukang klaim, Dia mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang berdusta, Dia mengetahui siapa yang tulus dan siapa munafiq.

Ketahuilah, bahwa ujian yang menimpa kalian di Syam, insya Allah hanyalah kebaikan yang banyak, lalu tidak akan berlangsung lama dan akan berubah menjadi karunia yang sangat besar dengan ijin Allah.

Wahai putera-putera Daulah di Syam,

Sesungguhnya Allah mengetahui kemudian kalian pun juga mengetahui bahwa Daulah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghentikan serangan yang ditimpakan padanya oleh berbagai detasemen tempur.

Lalu Allah mengetahui dan kalian pun juga mengetahui bahwa kami tidak menginginkan, tidak mengusahakan dan tidak pula merencanakan terjadinya peperangan ini, karena secara nyata dan apa yang nampak oleh kami adalah yang mendapat banyak keuntungan dari peperangan tersebut adalah Nushairiyah dan Rafidhah, namun sungguh kami terpaksa untuk menjalani peperangan ini dan untuk bertahan selama beberapa hari. Kami juga berusaha menghentikan peperangan ini meskipun benci (melihat) pengkhianatan yang jelas terhadap kami dan penganiayaan yang jelas atas kami, hingga orang-orang yang tertipu itu menyangka bahwa Daulah adalah sesuap (santapan) lezat, dan (mereka menyangka) bahwa mereka mampu mengalahkannya di belakang kepalsuan dan kebathilan media informasi. Sedangkan kami tidak memiliki pilihan lain selain memasuki peperangan ini dalam keadaan terpaksa. HasbunAllah wa ni’mal wakiil, cukuplah Allah bagi kami dan (Dia) adalah sebaik-baik pelindung.

Ketika kalian telah mengetahui hal ini wahai putera-putera Daulah, tawakkal-lah pada Allah dan berlepas dirilah kalian dari daya dan kekuatan kalian menuju daya dan kekuatan Allah, dan bertaqwalah pada Allah karena kesudahan yang baik untuk kalian jika kalian taqwa pada-Nya. Janganlah kalian zholim dan jangan ingkar janji. Kami nasehatkan kalian untuk menahan diri terhadap siapa saja yang menahan dirinya dan tidak menodongkan senjatanya dihadapan kalian dari pihak yang pernah memerangi kalian dari kalangan detasemen-detasemen itu, seberapapun kejahatannya dan seberapun besar dosanya. Pebanyaklah maaf dan pengampunan agar kalian dapat menyelesaikan musuh jahat yang mengancam semua Ahlus Sunnah (yakni kaum Syi’ah).

Lalu jika kalian telah mengerahkan seluruh kemampuan kalian untuk menghentikan peperangan ini dan (telah) menyelesaikan Nushairiyah dan Rafidhah, kemudian kalian telah lemah dan telah memiliki alasan di sisi Robb kalian, maka bertaqwalah pada Allah dan mintalah pertolongan pada-Nya karena cukuplah Dia saja bagi kalian, masuklah dalam peperangan itu karena kalian berhak menyelesaikannya dengan daya dari Allah. Yakinlah bahwa ini pasti baik bagi kalian karena hal ini (telah) diatur oleh Allah untuk kalian;

...وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“...Sedangkan Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Jauhilah dan hindarilah sifat zholim oleh kalian. Sedangkan siapa saja yang telah berbuat zholim atau aniaya terhadap seseorang, maka hendaknya dia bersegera secepat mungkin untuk mengembalikan hak dan bertaubat karena sungguh kami mengembalikan (hak) setiap kezholiman yang terlanjur kami lakukan dan kami berlepas diri pada Allah dari setiap kezholiman yang dilakukan oleh personel Daulah.

Kami perintahkan pada setiap jundiy untuk mengembalikan (hak) setiap kezholiman yang terlanjur dia lakukan dan Allah tidaklah memberikan barokah pada setiap mujahid yang terlanjur berbuat zholim namun tidak mengembalikan (hak)nya jika ia mampu atau bisa berusaha mengangkatnya.

Perbanyaklah taubat, istighfar dan ucapan “laa hawla wa laa quwwata illaa billah (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan ijin Allah)”.

Sedangkan (berikut) ini adalah seruan yang kami tujukan pada setiap mujaahid yang berjihad di jalan Allah dari kalangan detasemen-detasemen dan jama’ah-jama’ah di bumi Syam, sebagai qoid ataupun prajurit;

(Ketahuilah) bahwa pertempuran ini adalah pertempuran seluruh ummat dan yang menjadi target adalah seluruh mujahidin. Daulah hanyalah pintu untuk kalian, jika pintu itu telah dirusak, maka setelah pintu itu adalah lebih ringan bagi musuh kita, maka janganlah sampai datang pada kalian satu hari di mana kalian (harus) menggigit jari-jari penyesalan.

Kami katakan juga pada setiap pihak yang kakinya telah bergeser hingga memerangi kami atau terlibat bersama siapa saja dari kalangan detasemen yang memerangi Daulah,

Tinjaulah kembali perhitungan kalian dan taubatlah pada Robb kalian. Sungguh kalian telah menyerang kami ketika lengah dan kalian tikam kami dengan pengkhianatan dari belakang sedangkan (ketika itu) pasukan kami berada dalam front garis depan dan ribath, kecuali sedikit.

Kemudian hari ini kalian telah melihat sebagian dari kekuatan kami dan kalian lihat perbedaan(nya) antara hari ini dan kemarin. Sungguh kemarin sebelum kalian memerangi kami, kalian dapat berpatroli dengan aman, tidur dengan tenang. Lalu (sekarang) kalian berada dalam ketakutan dan gelisah. Kalian (harus) begadang dan berjaga-jaga dalam keadaan diawasi.

Dan inilah Daulah mengulurkan tangannya agar kalian menahan diri dari (menyerang)nya, hingga ia (juga) menahan diri dari (membalas) kalian. Agar kita dapat membereskan Nushairiyah dan Rafidhah. Jika tidak, ketahuilah bahwa dalam Daulah ada orang-orang yang tidak tidur di atas kelaliman, (telah) teruji dan dikenal oleh yang dekat dan yang jauh.

Adapun kalian wahai saudara-saudara kami di Syam,

Sungguh kalian memiliki Allah,

Semuanya menjual-belikan kalian dan semuanya menggigit kalian, (mereka) berlomba-lomba untuk menaiki pundak kalian bahkan tubuh kalian. Maka cukuplah Allah bagi kalian, cukuplah Allah bagi kalian.

Nushairiyah menumpahkan darah kalian dan mengkoyak-koyak kehormatan kalian, mereka hancurkan rumah-rumah kalian dengan dalih memerangi teroris untuk menjaga kalian.

Yahudi dan Nasrani membuat konspirasi untuk Islam serta membuat tipu daya dan memerangi mujahidin sembari berpura-pura menangisi kalian, padahal mereka menjual darah kalian dan urusan kalian.

Para thoghut dari kalangan penguasa negeri-negeri kaum muslimin membeli pelayanan, memfasilitasi antek-antek (penjajah) dan mengumpulkan para pendukung dengan dalih membantu kalian.

Para pembajak, pencuri dan perampok merampas harta dan kekayaan kalian, serta menghisap darah kalian atas nama kalian sendiri dan dengan dalih menolong, membela dan menjaga kalian.

Kalian memiliki Allah wahai saudara-saudara kami di Syam…

Alangkah beruntungnya kalian jika kalian bersabar, sungguh Allah sang pelindung telah menjamin kalian.

Adapun kami, hanya dapat menyampaikan pada kalian,

Darah dibalas dengan darah, penghancuran dibalas dengan penghancuran. Kami hanyalah berperang di jalan Allah dan mencari ridha Allah. Dalam hal ini kami tidak takut pada celaan para pencela, dalam hal ini kami tidak takut pada celaan para pencela. Kami telah bangkit untuk menolong kalian semenjak ujian kalian semakin mengeras dan kami tidaklah menyimpan kerja keras untuk itu, dan kami tidaklah menyimpan insya Allah. Kami senantiasa melakukan apa yang kami mampu insya Allah.

Maka janganlah kalian terpengaruh oleh media penipu dan insya Allah kalian tidak akan mendapati kami kecuali sebagai orang yang paling menyayangi kalian dan sebagai orang yang paling keras terhadap musuh-musuh kalian. Inilah hakekat kami.

Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahuinya. Cukuplah bagi kami Allah mengetahui bahwa kami berusaha dengan segala kejujuran dan ikhlash untuk menjaga kaum muslimin, membela kehormatan mereka dan menjaga darah mereka, lalu kami dituduh di waktu malam dan di waktu dhuha-nya bahwa kami mengkafirkan saudara-saudara kami di Syam padahal kami berlindung pada Allah dari yang demikian, dan kami (dituduh) menghalalkan darah mereka padahal demi Allah tidaklah demikian.

Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahui bahwa kami tidaklah memasuki sebuah desa, wilayah ataupun jalan kecuali kaum muslimin di tempat itu mendapat keamanan terhadap harta, jiwa dan kehormatan mereka, sedangkan para pencuri, perampok dan penjahat di tempat itu melarikan diri (hingga) kami pun mendapat tuduhan bahwa kami menakut-nakuti kaum muslimin dan menghalalkan kehormatan mereka.

Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahui bahwa kami berbicara pada setiap orang dan kami buka tangan kami pada setiap jama’ah, kemudian kami dituduh bahwa kami hanya memandang diri kami, tidak mengakui (adanya) mujahid selain kami dan kami (dituduh) merugikan pekerjaan orang-orang (selain kami) padahal tidaklah seperti itu.

Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahui bahwa kami tidak mengklaim suci (tak pernah salah) meskipun sehari atau sengaja berbuat salah atau terus-terusan (tidak mau berhenti) berbuat salah sebagaimana yang dituduhkan pada kami.
   
Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahui bahwa kami tidaklah meninggalkan keluarga dan negeri kami dengan membawa nyawa kami (untuk) kami korbankan dengan murah di jalan Allah kecuali untuk menerapkan syari’ah Allah, lalu di waktu malam dan di waktu dhuha-nya kami dipersepsikan sebagai thoghut yang tidak berhukum pada syari’ah Allah, padahal kami berlindung pada Allah (dari yang demikian).

Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahui bahwa kami termasuk orang yang paling keras terhadap Rafidhah dan Nushairiyah, sedangkan mereka sendiri mengetahui akan hal itu.

Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahui bahwa hal itu adalah malam pengkhianatan terhadap kami dan kami ditikam di punggung kami, padahal kami memiliki pasukan di wilayah Al-Khair yang dipimpin oleh asy-Syaykh ‘Umar asy-Syisyaniy yang bertekad untuk tidak kembali hingga dapat membebaskan seluruh wilayah tersebut sedangkan beliau telah meletakkan rancangan untuk itu dan telah menjalankan rancangan tersebut. Kami juga memiliki kekuatan di Halab (Aleppo) yang menghadapi Front Barat dalam rencana untuk membebaskan seluruh Halab (Aleppo). Ada pula kekuatan lain yang aktif menyergap bandara Kuwairis dari Front Timur. Ada pula kekuatan lain yang siap menyergap barak Hananu. Ada pula detasemen yang disiapkan untuk menggempur Nushairiyah dengan sinkron di dalam wilayah-wilayah yang jatuh dalam kontrol mereka.

Dan Allah mengetahui bahwa kekuatan yang disiapkan di wilayah Idlib hanyalah menunggu keringnya bumi untuk menyergap sebelas tempat razia milik Nushairiyah dan guna membebaskan lembah adh-Dho’if dalam satu hari (saja). Sedangkan kekuatan yang berada di wilayah Hama tengah bersiap-siaga untuk menimpakan serangan terhadap Nushairiyah.

Cukuplah bagi kami bahwa Allah mengetahui semua, kemudian tentara-tentara kami pun mengetahui juga. Namun itu semua terhenti pada malam pengkhianatan terhadap kami, kemudian kami pun dituduh sebagai antek-antek Nushairiyah dan Rafidhah.

Maka cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.
Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.

Maha suci Allah, tidak ada suatu apapun di bumi dan di langit yang tersembunyi bagi-Nya.

Rosululloh Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda;

“Akan datang pada manusia tahun-tahun penipuan, di mana pendusta dibenarkan (ucapannya) dan orang jujur dianggap dusta (perkataannya), pengkhianat dipercaya dan orang yang amanah dianggap berkhianat.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Adapun untuk Ahlus Sunnah di Iraq maka kami katakan,

Wahai saudara-saudara kami, inilah kalian telah melihat Rafidhah dengan sikap aslinya. Sungguh akhirnya kalian telah mengangkat senjata di hadapan mereka, dan ini adalah kesempatan bagi kalian, janganlah kalian menyia-nyiakannya. Jika tidak, setelah itu tidak akan ada lagi kalimat. Kemudian sungguh peperangan kalian melawan Rafidhah ini adalah perang ideology dan hal itu telah diteriakkan oleh Nuri si Shafawiy yang pendengki, juga sebagaimana yang dia teriakkan dengan sangat lancang seraya berkata bahwa peperangannya melawan mujahidin adalah perang suci dan peperangannya melawan Ahlus Sunnah adalah perang antara kufur dan iman. Benarlah (ucapannya) meskipun dia seorang pendusta.

Maka merapatlah kalian di sekitar putera-putera kalian yang berjihad dan umumkanlah hal itu dengan ikhlash (mengharap ridha) Allah. Sungguh hari ini kalian telah menjadi tameng bagi Ahlus Sunnah dalam melawan Rafidhah, maka jangan sampai mereka diserang dari arah kalian.

Wahai putera-putera Daulah di Iraq,

Wahai orang-orang yang telah dibersihkan dengan berbagai ujian serta dipilih dan dikilapkan dengan berbagai kondisi yang sangat sulit; alangkah mulianya kalian yang lebih teguh dari gunung. Janganlah kalian bergeser oleh berbagai syubuhat dan janganlah kalian terpengaruh oleh berbagai tuduhan. Jadilah yang terdepan dalam perang melawan Shafawiy, tetaplah kalian dalam barisan depan, berdirilah kalian di depan serangan Rafidhah ini dan bergeraklah menuju Baghdad dan Al-Janub untuk membakar orang-orang Rafidhah di pusat negeri mereka. Janganlah kalian menyerahkan keluarga dan rakyat kalian, ketahuilah bahwa Ahlus Sunnah di setiap tempat melihat kalian, dan saudara-saudara kalian di Syam menantikan kalian. BaarokaAllah fiikum, semoga Allah melimpahkan barokah atas kalian.

Terakhir, Pesan ini kami tujukan pada Amerika,

Ketahuilah wahai penjaga salib; bahwa proxy war / perang perwakilan tidaklah berguna bagi kalian di Syam, sebagaimana itu juga tidak berguna bagi kalian di Iraq. Dalam waktu dekat kalian akan berhadapan langsung, meskipun (kalian) membenci (hal ini) dengan ijin Allah. Dan sungguh putera-putera Islam telah mempersiapkan diri mereka untuk hari ini.

...فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ

“...Maka tungguhlah sungguh kami (turut) menunggu bersama kalian.” (at-Taubah: 52)

...رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“...Wahai Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah (tidak disengaja). Wahai Robb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau telah membebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami pikul. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan limpahkanlah rohmah pada kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah: 286)

Al-Furqan Media

DAN BERILAH KABAR GEMBIRA KEPADA KAUM MUSLIMIN (DEKLARASI DAULAH ISLAM DI IRAQ DAN SYAM)

DAN BERILAH KABAR GEMBIRA KEPADA KAUM MUSLIMIN (DEKLARASI DAULAH ISLAM DI IRAQ DAN SYAM)
Statemen Amirul Mu'minin, Syaikh Al-Mujahid Abu Bakar Al-Husaini Al-Qurasyi Al-Baghdadi

 بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, meminta petunjuk-Nya dan berserah diri kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah orang yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, niscaya engkau sekali-kali tidak akan mendapatkan baginya seorang penolong yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada Ilah Yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Allah telah mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Allah memenangkan agama-Nya di atas semua agama lainnya, sekalipun orang-orang musyrik membenci hal itu.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103) وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian sekali-kali mati kecuali dalam keadaan muslim.
Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah-belah, dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu kalian saling bermusuhan maka Allah menyatukan hati kalian sehingga kalian pun dengan nikmat Allah tersebut menjadi bersaudara. Dan adalah kalian dahulu berada di bibir jurang neraka (yaitu saat kalian masih musyrik dan kafir, edt) maka Allah menyelamatkan kalian darinya (dengan nikmat Islam dan iman, edt). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat-Nya supaya kalian mendapatkan petunjuk.
Dan hendaklah ada segolongan orang di antara kalian yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan hAl-hal yang ma’ruf dan mencegah dari hAl-hal yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti-bukti kebenaran yang nyata. Bagi mereka itu adzab yang berat.” (QS. Ali Imran : 102-104)

Amma ba’du.

Inilah kabar gembira yang kami sampaikan kepada umat Islam di tengah peristiwa-peristiwa yang kami tumbuh di tengahnya dan untuknya. Segala puji bagi Allah semata, dari-Nya semata datangnya pertolongan dan ketepatan. Maka saya katakan dengan meminta pertolongan kepada Allah semata.

Sesungguhnya peningkatan dari satu tingkatan yang lebih rendah kepada tingkatan yang lebih tinggi merupakan kemurahan Allah kepada jama’ah-jama’ah jihad. Hal itu merupakan bukti keberkahan amal mereka. Sebagaimana sikap mundur, ragu-ragu dan menarik diri merupakan bukti buruknya amal, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Tingkatan-tingkatan yang tinggi hanya diraih karena keutamaan tingkatan-tingkatan sebelumnya sebagai hal yang mengantarkan dan memudahkannya. Peningkatan seperti ini hanya akan difikirkan oleh orang-orang yang dikaruniai bagian yang banyak dari pencarian terhadap tempat-tempat yang mendatangkan ridha Allah Ta’ala, sehingga ia melangkahkan kaki kepadanya. Tidak akan memikirkan peningkatan seperti ini kecuali orang-orang yang Allah karuniakan kepada mereka pandangan yang jauh dan penguasaan (wawasan) terhadap maslahat-maslahat umum serta apa (sumbangsih) yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam dari mujahidin. Peningkatan ini tidak akan difikirkan kecuali oleh orang-orang yang diberi rizki oleh Allah berupa pencarian terhadap tempat-tempat yang membuat marah orang-orang kafir dan orang-orang murtad.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (120)

“Dan tidaklah mereka mereka menginjakkan kaki pada suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak pula mereka menimpakan suatu bencana kepada musuh-musuh Allah melainkan dicatat untuk mereka sebagai amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. At-Taubah : 120)

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam antusias untuk membuat orang-orang musyrik di Makkah marah. Unta yang beliau rebut dalam perang Badar masih beliau simpan sampai tahun keenam hijrah. Beliau membawanya ke Makkah dan beliau sembelih sebagai qurban untuk Allah. Padahal unta itu dikenal luas oleh penduduk Makkah sebagai unta milik Abu Jahal.

Imam Ibnul Qayim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, dalam menjelaskan faedah-faedah dari perjanjian Hudaibiyah, menulis: “Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyembelih beberapa hewan qurban dan di antara yang beliau sembelih adalah seekor unta milik Abu Jahal yang di hidungnya terdapat seikat tali dari perak, untuk membuat marah orang-orang musyrik.” (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, 3/266)

Peningkatan dan pencapaian tingkatan yang tinggi ini menuntut kita untuk mengalahkan (menguasai sepenuhnya) perasaan dan akal kita, karena ia adalah tuntutan syariat, sedangkan syariat didahulukan atas perasaan dan akal.

Nama-nama kelompok jihad bukanlah nama yang disebutkan secara tegas dalam nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah), juga bukan nama marga dan suku yang tidak boleh ditinggalkan, dirubah atau diganti. Ia adalah nama-nama pengenal yang kondisi darurat yang secara syariat menuntut untuk mengadakannya, dan kondisi darurat yang secara syariat lebih tinggi membolehkan untuk meniadakan dan mengganti nama-nama tersebut dengan nama-nama lain sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Peningkatan ini menuntut nama baru yang membawa beban Islam dalam skala yang lebih luas, lebih jauh dan lebih menyebar luas; agar membawakan harapan kepada umat Islam untuk kembali. Nama-nama baru yang melupakan dari nama-nama lama yang telah dikenal. Demikianlah yang pernah terjadi dalam jihad di Iraq. Karena orang-orang yang teguh dari kalangan ulama-ulama kami ~semoga Allah menerima mereka~ telah ditolong oleh Allah untuk menempuh beberapa langkah dalam jihad ini:

1. Pengangkatan mujahid Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi, semoga Allah menerimanya, yang telah Allah beri pertolongan untuk memberikan pembalasan dan hukuman terhadap orang-orang kafir dan orang-orang murtad. Di samping operasi-operasi jihad yang penuh berkah tersebut, Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menyatukan orang-orang yang baik, shalih dan jujur dalam membela agama Allah. Maka beliau mengumumkan di Iraq nama Jama’ah Tauhid wal Jihad, maka hati-hati kaum muslimin melekat dengan nama itu, pandangan-pandangan mata tertuju kepada jama’ah tersebut dan operasinya, dan telinga-telinga rindu mendengarkan berita-beritanya.

2. Setelah jama’ah itu memiliki peranan penting dalam lapangan dan media massa, maka Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi meningkat kepada kedudukan yang lebih tinggi, dengan membai’at Amir mujahidin Syaikh Usamah bin Ladin, semoga Allah menerimanya.

Seseorang yang mendengar langsung dari Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi telah menceritakan kepadaku bahwa Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi berkata: “Ketika aku membai’at Syaikh Usamah, demi Allah aku tidak berada dalam kondisi membutuhkan beliau, tidak harta, tidak senjata dan tidak pula personil. Namun aku melihat beliau adalah simbol umat Islam dalam memperjuangkan agama Allah, maka aku pun menempatkan diriku dalam posisi di bawah beliau.”

Maka pembai’atan itu menjadi berkah bagi tanzhim Al-Qa’idah. Perubahan ini memiliki konskuensi-konskuensi, salah satunya adalah perubahan nama Jama’ah Tauhid wal Jihad, sebuah nama yang telah melekat kuat dengan jihad di Iraq. Kalaulah bukan karena demi mencari ridha Allah semata, melakukan peningkatan dan pencapaian derajat yang lebih tinggi, serta membuat marah musuh-musuh Allah; tentulah jiwa akan berat untuk melepaskan nama Jama’ah Tauhid wal Jihad, dari pihak para pendiri dan anggotanya. Sebab ia adalah nama yang telah dibangun oleh Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi sejak masa (i’dad dan jihad) di Afghanistan pada pertengahan tahun 90an dari abad yang lalu (abad 20 M).

Hati orang-orang yang bertautan erat dengan nama jama’ah tersebut, karena mencintai Allah dan semata-mata untuk Allah, telah menyambut panggilan perluasan yang penuh berkah tersebut, dari ruang lingkup Iraq semata menuju ruang lingkup jihad internasional. Maka sejak itu jihad di Iraq berkaitan erat dengan sebuah nama yang baru dan mulia, tanzhim Qa’idatul Jihad fi Bilad ar-Rafidain (Organisasi Jihad Al-Qa’idah di Negeri Dua Aliran Sungai; Eufrat dan Tigris).

Ketika Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi, semoga Allah menerimanya, membai’at tanzhim Al-Qa’idah, maka beliau mengetahui sepenuhnya seberapa besar beban yang harus ditanggung oleh kaum muslimin Ahlus Sunnah di Iraq, dan seberapa besar beban yang harus ditanggung oleh saudara-saudara dan putra-putra beliau, yaitu kelompok mujahidin.

Hanya saja ridha Allah berada di atas semua pertimbangan manusiawi. Maka Allah mencukupi beliau dari bantuan manusia.

Dari ibunda kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

“Barangsiapa mencari ridha Allah meski harus mendapatkan rasa benci manusia, niscaya Allah akan mencukupinya dari gangguan manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia meski harus mendapatkan rasa benci Allah, niscaya Allah akan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414)

3. Namun jiwa-jiwa yang selalu ingin bergerak maju, senantiasa ingin meraih peningkatan menuju tempat datangnya kecintaan Allah Ta’ala, untuk meraih ridha-Nya dan membuat marah musuh-musuh-Nya.

Maka Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi mengulurkan tangannya kepada jama’ah-jama’ah yang berjihad di Iraq, yang beraqidah Ahlus Sunnah wal jama’ah, dan beliau mengajukan syarat kepada mereka agar mereka tidak mencampakkan senjata (meninggalkan jihad), apapun kondisi pemerintahan thaghut Iraq yang akan dibentuk (oleh AS dan Barat), sampai Allah memberikan kemenangan (kepada mujahidin) atau kita terbunuh di jalan ini.

Para amir jama’ah-jama’ah jihad itu menyambut ajakan Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Maka tercapailah kesepakatan, tekad pun diteguhkan dan terbentuklah organisasi baru, dengan nama baru: Majlis Syura Mujahidin. Jama’ah (pimpinan Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi) ini melepaskan nama tanzhim Al-Qa’idah yang telah menggentarkan musuh-musuh Allah Ta’ala, sebuah nama yang memiliki gaung mendunia dan terkait erat dengan nama Syaikh Usamah bin Ladin, semoga Allah menerimanya. Demikian pula jama’ah-jama’ah jihad lainnya di Iraq melepaskan nama-nama khas mereka, semoga Allah membalas mereka kebaikan atas kebaikan mereka kepada kaum muslimin. Barisan-barisan mujahidin pun bersatu dalam ikatan cinta karena Allah, dan di atas ikatan cinta kepada-Nya mereka berperang di jalan Allah.

4. Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi terhenti dari upaya untuk membawa jama’ah-jama’ah jihad menggapai tingkatan yang lebih tinggi di jalan Allah, ketika Allah mengaruniakan kepada beliau kematian syahid di jalan-Nya. Semangat beliau untuk selalu melakukan pendakian menuju ridha Allah telah merasuki jiwa-jiwa para amir dan komandan jama’ah-jama’ah jihad sepeninggal beliau. Maka mereka memulai langkah baru dengan melanjutkan langkah Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Maka Amir Syaikh Abu Umar Al-Qurasyi Al-Baghdadi dan menteri perangnya, syaikh mujahidin Abu Hamzah Al-Mishri Al-Muhajir ~semoga Allah menerima beliau berdua~ mengumumkan fase baru dan langkah yang penuh berkah, dengan dukungan saudara-saudara mereka para komandan mujahidin dan bantuan orang-orang shalih dari para pemuka suku dan tokoh masyarakat.

Hasil dari usaha itu adalah Daulah Islam Iraq, segala puji dan karunia milik Allah semata. Maka nama Majlis Syura Mujahidin pun berakhir dan tak berbekas lagi.

Jadi ini adalah pandangan para ulama senior yang bertujuan menyatukan barisan-barisan mujahidin dan menghancurkan musuh-musuh agama Islam guna menegakkan kalimat tauhid yang nyata. Begitulah orang-orang yang memiliki cita-cita yang tinggi. Mereka melebarkan luasnya wilayah Islam, untuk membuat marah musuh-musuh Allah.

Maka semoga Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi tentram di tempat peristirahatannya, karena jalan yang ia tempuh, ia pancangkan rambu-rambunya dan selalu ia arahkan, telah dilanjutkan oleh para tokoh sepeninggalnya, dan kini kami berjalan meniti jejak mereka dengan izin Allah.

Para pendahulu kami telah meninggalkan kami di atas jalan para ulama yang kami tiada pilihan selain melanjutkan jalan mereka yang penuh berkah. Para ulama pendahulu kami telah menggariskan jalan yang tidak mengakui batas-batas territorial (yang ditetapkan oleh penjajah, edt) dan mereka menuliskan untuk kita sebuah manhaj (sistem) yang tidak berdasar kebangsaan atau kesukuan yang sempit, serta tidak menghentikan perjalanan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.

Adapun di Iraq, maka mereka telah menyempurnakan perjalanan mendaki mereka dengan mengumumkan berdirinya Daulah Islam Iraq.

Adapun di negeri Syam, mereka telah membentuk sel-sel jihad yang baru sebatas pada operasi i’dad dan bantuan jihad, sambil menunggu-nunggu kesempatan mencapai pendakian lebih tinggi yang harus terus berjalan.

Ketika kondisi kaum muslimin di negeri Syam telah sampai pada keadaan penumpahan darah, penodaan kehormatan (oleh rezim Nushairiyah Suriah), penduduk Syam meminta bantuan mereka sementara masyarakat internasional berlepas diri dari mereka, maka tiada pilihan bagi kami kecuali bangkit untuk menolong mereka.

Maka kami mengutus (Abu Muhammad) Al-Jaulani (pemimpin tertinggi Jabhah Nushrah, edt), dan dia adalah salah seorang tentara kami dan bersamanya sejumlah orang dari putra-putra kami. Kami berangkatkan mereka dari Iraq menuju Syam untuk bertemu dengan sel-sel jihad kami di negeri Syam.

Kami merumuskan bagi mereka perencanaan-perencanaan dan kami tetapkan untuk mereka pengendalian operasi (siyasah Al-‘amal), dan kami biayai mereka dari setengah baitul mal kaum muslimin (Daulah Islam Iraq), dan kami dukung mereka dengan personil-personil yang telah matang di medan-medan jihad dari kalangan muhajirin dan anshar.

Maka mereka berjuang dengan sungguh-sungguh bersama-sama para penduduk negeri Syam yang bersemangat membela rakyat dan agamanya. Maka kekuasaan Daulah Islam Iraq semakin meluas ke negeri Syam. Pada saat itu kami tidak mengumumkannya karena faktor-faktor keamanan, dan agar rakyat bisa melihat hakekat dari Daulah (Islam Iraq), hakekat sebenarnya yang jauh dari pencitraan buruk dan kebohongan oleh media massa.

Kini telah tiba saatnya kami mengumumkan kepada penduduk negeri Syam dan seluruh masyarakat dunia bahwa Jabhah Nushrah tidak lain hanyalah perpanjangan dari Daulah Islam Iraq dan bagian darinya.

Kami telah membulatkan tekad, setelah beristikharah kepada Allah Ta’ala dan bermusyawarah dengan orang-orang yang kami percayai agama dan kebijaksanaan mereka, untuk terus melanjutkan perjalanan menanjak jama’ah ini, dan tidak mempedulikan apapun celaan yang akan ditujukan kepada kami, karena sesungguhnya ridha Allah di atas segala-galanya, apapun yang akan menimpa kami karena hal itu.

Maka dengan ini kami meniadakan nama Daulah Islam Iraq dan meniadakan nama Jabhah Nushrah, dan kami menggabungkan keduanya dalam satu nama baru: Daulah Islam di Iraq dan Syam. Demikian pula kami mengumumkan penyatuan bendera, bendera Daulah Islam, bendera Khilafah Islamiyah, insya Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan (tuhan-tuhan palsu) yang mereka (ibadahi) selain-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah niscaya tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar : 36)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

«لَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى أَمْرِ اللهِ، قَاهِرِينَ لِعَدُوِّهِمْ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ»

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang di atas agama Allah, mereka mengalahkan musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan mampu menimpakan madharat kepada mereka, sampai datangnya hari kiamat dan mereka tetap istiqamah di atas kondisi tersebut.” (HR. Muslim no. 1924)

Dengan adanya pengumuman ini, maka nama Daulah Islam Iraq dan nama Jabhah Nushrah akan menghilang dan tidak muncul lagi dalam interaksi-interaksi kami. Keduanya akan menjadi bagian dari sejarah jihad kami yang penuh berkah, seperti nama-nama lain yang telah mendahuluinya.

Dalam kesempatan yang sama, kami mengulurkan lebar-lebar tangan kami, membuka hati dan dada kami secara lapang, kepada kelompok-kelompok jihad lainnya dan kepada suku-suku perwira (yang membela rakyat dan agamanya, edt) di negeri Syam yang tercinta, dengan syarat kalimat Allah (agama Allah) menjadi hal yang paling tinggi (berkuasa), bangsa dan negara diatur dengan syariat Allah, selain Allah tidak memiliki hak untuk menetapkan undang-undang.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah (kemusyrikan dan kekafiran) dan seluruh ketaatan (umat manusia) hanya ditujukan kepada Allah semata.” (QS. Al-Anfal : 39)

Maka marilah bersatu dengan orang-orang yang sepakat dengan kami untuk tidak mencampakkan senjata (meninggalkan jihad) sampai kita bisa menerapkan syariat Allah Ta’ala.

Dan sesungguhnya yang akan memegang urusan (pemerintahan) di negeri Syam dari pihak jama’ah kami adalah putra-putra kami dari kalangan rakyat Syam yang telah menjual jiwa mereka kepada Allah Ta’ala (mujahidin asli Suriah, edt). Mereka akan didampingi oleh saudara-saudara mereka, para muhajirin di jalan Allah. Kepemimpinan bukan untuk orang yang memelopori (pendahulu), namun untuk orang yang jujur berjuang di jalan Allah. Dan barang siapa memadukan dua perkara tersebut (kepeloporan dan kejujuran dalam berjuang di jalan Allah), maka ia telah meraih hal yang ideal untuk berkhidmat bagi agama Allah dan kaum muslimin.

Adapun kalian wahai rakyat kami di bumi Iraq dan Syam…

Sesungguhnya kami menyematkan di pundak kalian amanat ini dan kalian layak untuk mengembannya, agar kalian membela agama Rabb kalian, sunnah nabi kalian, kehormatan kaum muslimin, nyawa mereka dan harta mereka.

Adapun kalian wahai para ulama rabbaniyun…

Maka kami meminta bantuan kalian dalam masalah agama, kami mengajak kalian untuk bergabung dengan kami. Belumkah tiba saatnya bagi kalian untuk membuat telapak kalian berdebu di jalan Allah? Belumkah tiba saatnya bagi kalian mendengar desingan peluru di atas kepala kalian? Demi Allah, kalian akan mendapati rasa takut di jalan Allah lebih nyaman dari kasur empuk tempat kalian beristirahat.

Adapun kalian wahai rakyat kami di negeri Syam yang tercinta…

Janganlah kalian seperti anai-anai (laron) yang berlomba-lomba memasuki api, padahal telah banyak anai-anai sebelumnya yang binasa oleh api tersebut. Kalian telah merasakan pemerintahan diktator selama masa-masa kezhaliman dan kegelapan yang sangat lama.

Maka janganlah kalian beralih dari masa-masa kezhaliman diktator tersebut kepada masa-masa kezhaliman demokrasi, sementara saudara-saudara kalian penduduk Iraq telah merasakan masa kezhaliman (demokrasi) tersebut, lalu mereka menimpakan pengalaman serupa kepada saudara-saudara kalian di Mesir, Tunisia dan Libya. Perhatikanlah kondisi mereka saat ini. Janganlah kalian terperosok ke dalam lubang yang kaum muslimin di negara-negara tersebut terperosok ke dalamnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bahwasanya beliau bersabda:

«لاَ يُلْدَغُ المُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»

“Seorang mukmin tidak terperosok ke satu lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998)

Janganlah kalian menjadikan demokrasi sebagai harga untuk ribuan orang yang terbunuh di antara kalian. Janganlah kalian menjadikan demokrasi sebagai harga untuk anggota badan yang tercerai-berai di bawah reruntuhan bangunan kalian, yang dihancurkan (oleh bombardir rezim Nushairiyah Suriah, edt) sehingga menimpa anak-anak, wanita dan orang jompo. Janganlah kalian menjadikan demokrasi sebagai harga untuk pengusiran dari rumah-rumah dan kehidupan di tenda-tenda pengungsian. Janganlah kalian menjadikan demokrasi sebagai harga untuk anak-anak perempuan kita dan istri-istri kita yang diperkosa (oleh tentara rezim Nushairiyah Suriah, edt). Jika begitu, demi Allah, ia adalah seburuk-buruk harga dan seburuk-buruk buah yang dipetik.

Jauhilah oleh kalian, wahai rakyat kami di negeri Syam, berbuat kerusakan. Dan di antara kerusakan adalah kalian rela untuk diperintah dengan undang-undang positif, setelah kalian mempersembahkan pengorbanan yang demikian besar ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa: “Dan barangsiapa berbuat di muka bumi tanpa berlandaskan kepada kitab Allah dan sunnah rasul-Nya maka berarti ia telah bekerja untuk berbuat kerusakan di muka bumi.” (Majmu’ Fatawa, 28/470)

Maka janganlah kalian berbuat kerusakan. Karena sesungguhnya keshalihan kalian merupakan bertahannya kebaikan bagi umat Islam sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, nabi yang benar dan dibenarkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam musnadnya, dari Mu’awiyah (bin Qurrah dari bapaknya radhiyallahu ‘anhuma, edt) berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِذَا فَسَدَ أَهْلُ الشَّامِ فَلَا خَيْرَ فِيكُمْ

“Jika penduduk negeri Syam telah rusak, maka tiada kebaikan lagi pada diri kalian.” (HR. Abu Dawud Ath-Thayalisi no. 1172. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 15596, Ibnu Hibban no. 7303, Ibnu Abi Syaibah no. 1172 dan lain-lain. Sanad hadits ini shahih)

Maka takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, wahai penduduk negeri Syam apabila umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikuasai musuh dari arah kalian. Awan tebal yang selama ini berada di atas langit negeri-negeri kita yang tercinta telah hampir tersingkap, sehingga mentari Islam bisa bersinar terang, membawa kedamaian, keamanan, kemuliaan dan kehidupan yang makmur bagi setiap muslim dan muslimah, bagi setiap anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Karena setiap orang di antara mereka memiliki hak pada baitul mal kaum muslimin.

Wahai putra-putraku dari kalangan muhajirin dan anshar, dari putra-putra Daulah Islam…

Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada penduduk Iraq dan Syam.

Ya Allah, satukanlah hati kaum muhajirin dan anshar sebagaimana Engkau telah menyatukan hati para sahabat nabi-Mu…

Ya Allah, jadikanlah orang yang berhijrah ke Iraq dan Syam sebagai golongan orang-orang yang mengikuti generasi muhajirin dengan baik…

Ya Allah, jadikanlah penduduk Iraq dan Syam sebagai golongan orang-orang yang mengikuti generasi anshar dengan baik…

Ya Allah, terimalah orang-orang yang gugur di antara kami sebagai syuhada’ dan segerakanlah kesembuhan orang-orang yang terluka di antara kami…

Ya Allah, bebaskanlah kaum muslimin yang tertawan… ya Allah, bebaskanlah kaum muslimin yang tertawan… dan berilah tempat berlindung bagi kaum muslimin yang tercerai-berai…

Ya Allah, akhirilah kehidupan kami dengan gugur sebagai syuhada’ di jalan-Mu… Janganlah Engkau jadikan musibah kami terjadi pada urusan agama kami… Pekerjakanlah kami di jalan ketaatan kepada-Mu dan kami berlindung kepada-Mu dengan wajah-Mu yang mulia dari mengganti kami…

Ya Allah, curahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pijakan kaki kami dan menangkanlah kami atas orang-orang kafir.

Aamiin… ya Rabbal ‘alamiin...

Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya, sahabatnya dan istri-istrinya. Akhir dari seruan kami adalah segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.

Al-Furqan Media

Jumat, 27 April 2018

SEPULUH PERKARA DALAM AQIDAH YANG WAJIB DIKETAHUI DAN DIPELAJARI OLEH SEORANG MUSLIM

SEPULUH PERKARA DALAM AQIDAH YANG TIDAK BOLEH TIDAK DIKETAHUI OLEH SEORANG MUSLIM DAN WAJIB DIPELAJARI

Segala puji bagi Alloh. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosululloh, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang loyal padanya. Amma ba'd:

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam telah bersabda:

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya. Sanadnya didho’ifkan oleh mayoritas ahli ilmu dan dihasankan oleh yang lain seperti as-Suyuthi dan al-Mizziy. Tetapi ma’na hadis disepakati di antara ahlul ilmu.]

Mengomentari hadits ini, al-Bayhaqiy berkata: “Yang beliau maksud —wallohu a’lam— tidak lain adalah ilmu umum yang tidak boleh tidak diketahui oleh orang baligh yang berakal.” [al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubro]

Imam asy-Syafi’i ditanya: “Apa itu ilmu? Dan apa di antara yang wajib atas manusia?” Dia berkata: “Ilmu itu ada dua macam. (Pertama), ilmu yang tidak boleh tidak diketahui oleh orang baligh yang akalnya tidak rusak. Ilmu ini ada dalam Kitab Alloh, serta diriwayatkan dan diceritakan oleh kaum muslimin dari Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam. Dan mereka tidak berselisih tentang kewajibannya.” [ar-Risalah karya asy-Syafi’i]

Di antara yang disepakati oleh para ahlul ‘ilmi adalah bahwa ilmu syar’i terbagi —dari segi kewajibannya— ke dalam dua jenis:

Pertama, fardhu kifayah, yaitu yang wajib dipelajari dan dijaga oleh umat Islam secara keseluruhan. Jika sebagian dari kaum muslimin telah mengerjakannya dengan cukup, maka mereka mendapatkan keutamaan dan pahala, dan dosa telah gugur dari semua. Dan jika tidak ada sebagian yang mengerjakannya dengan cukup, maka seluruh kaum muslimin berdosa. Di antara ilmu yang fardhu kifayah adalah: menghafal al-Qur-an dan tafsirnya, hadits dan ilmu-ilmunya, ushul fiqh, dsb.

Jenis kedua dari ilmu sya’i adalah fardhu ‘ayn, wajib atas setiap mukallaf —yaitu setiap muslim yang baligh dan berakal— untuk mempelajarinya. Jika dia berpaling darinya atau melalaikannya, maka dia berdosa. Dan di antara perkara-perkara yang hukumnya fardhu ‘ain atas setiap muslim dan muslimah untuk mempelajarinya dalam aqidah adalah:

Perkara pertama: al-Ushul ats-Tsalatsah (Tiga Hal Pokok)

Yaitu pengetahuan hamba tentang Robbnya, agamanya, dan Nabi-Nya Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam.

Jika dikatakan kepadamu: “Siapa Robbmu?” maka katakanlah: Robbku adalah Alloh yang telah mengurusku dan mengurus alam semesta dengan nikmat-nikmat-Nya. Dan Dia adalah Sembahanku. Aku tidak memiliki sembahan selain-Nya.

Jika dikatakan kepadamu: “Apa agamamu?” maka katakanlah: Agamaku adalah Islam. Dan ia adalah berserah diri pada Alloh dengan tauhid, tunduk pada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para para penganutnya.

Dan jika dikatakan kepadamu: “Siapa Nabimu?” maka katakanlah: Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Muththolib bin Hasyim. Hasyim adalah sebagian dari kabilah Quroisy. Kabilah Quroisy adalah sebagian dari bangsa Arab. Dan bangsa Arab adalah keturunan Isma’il bin Ibrohim ‘alayhima wa ‘ala nabiyyina afdholush sholati wat taslim.

Perkara kedua: pokok agama dan pondasinya adalah dua perkara

1. Perintah untuk beribadah kepada Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya, motivasi untuk melakukan itu, loyalitas atas dasarnya, dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya.
2. Peringatan akan syirik dalam beribadah kepada Alloh, kecaman keras terhadapnya, permusuhan atas dasarnya, dan pengkafiran orang yang mengerjakannya.

Dari pokok ini bercabanglah aqidah al-wala’ wal baro’ yang kokoh. Dan pokok aqidah ini berdiri di atas prinsip pemisahan dan pembedaan antara kaum muslimin dan lainnya atas dasar agama, bukan atas dasar tanah dan nasionalisme. Seorang muslim muwahhid adalah saudaraku di jalan Alloh, aku loyal kepadanya dan menolongnya, meskipun dia adalah orang yang (berjarak) paling jauh. Sementara orang kafir dan orang murtad adalah musuhku, aku membenci dan memusuhinya, meskipun dia adalah orang yang (berjarak) paling dekat.

Perkara ketiga: ma’na la ilaha illalloh

Laa Ilaaha Illalloh adalah pemisah antara kufr dan Islam, ia adalah kalimat taqwa (kalimatut taqwa) dan ia adalah tali yang kuat (al-‘urwah al-wutsqo), ia tidak terwujud dengan sekadar mengucapkannya di sertai ketidaktahuan tentang ma’nanya dan tanpa mengerjakan konsekuensinya. Sebab, orang-orang munafiq mengucapkannya, tetapi mereka berada di tingkatan paling bawah dari neraka. Ia hanya terwujud dengan mengucapkannya, mengetahui ma’nanya, mencintainya, mencintai para penganutnya dan loyal kepada mereka, serta membenci orang yang menyelisihinya, memusuhinya, dan memeranginya.

Syahadat Laa Ilaaha Illalloh adalah penafian dan penetapan. Laa ilaaha (tiada ilah) menafikan segala macam peribadatan dari selain Alloh ta’ala. Dan illalloh (kecuali Alloh) menetapkan segala macam peribadatan kepada Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya.

Di antara konsekuensi syahadat Laa Ilaaha Illalloh adalah syahadat bahwa Muhammad Rosululloh. Dan syahadat Muhammad Rosululloh terwujud dengan mentaati Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam dalam apa yang diperintahkannya, menjauhi apa yang dilarang dan dicegahnya, dan membenarkannya dalam apa yang diberitakannya.

Perkara keempat: syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh

Alloh ta’ala menjadikan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illalloh sebagai tanda masuk ke dalam Islam, harga surga dan sebab keselamatan dari neraka. Tetapi ia tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya selama dia tidak mewujudkan syarat-syaratnya. Telah dikatakan kepada al-Hasan al-Bashri: “Sesungguhnya ada orang-orang yang megatakan: Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh, maka dia akan masuk surga?” Dia berkata: “Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh, lalu menunaikan hak dan kewajibannya, maka dia akan masuk surga.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab al-Hanbali]

Imam al-Bukhori berkata: Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih: “Bukankah Laa Ilaaha Illalloh adalah kunci surga?” Dia berkata: “Benar. Tetapi tidak ada kunci kecuali ia memiliki gerigi. Jika engkau membawa kunci yang memiliki gerigi, maka akan dibukakan bagimu. Dan jika tidak, maka tidak akan dibukakan bagimu.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab al-Hanbali]

Gerigi kunci surga adalah syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh. Dan syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh adalah:

1. Pengetahuan tentang ma’nanya dari segi penafian dan penetapan.
2. Yaqin, yaitu kesempurnaan pengetahuan tentangnya yang meniadakan keraguan dan kebimbangan.
3. Ikhlash yang meniadakan syirik.
4. Kejujuran yang meniadakan kedustaan.
5. Kecintaan kepada kalimat ini dan kepada apa yang ditunjukkan olehnya, serta kegembiraan dengan hal itu.
6. Ketundukan terhadap hak-haknya dengan ikhlash untuk Alloh dan demi mencari ridho-Nya.
7. Penerimaan yang meniadakan penolakan.

Semua syarat ini ditunjukkan oleh dalil-dalil yang jelas dari al-Kitab dan as-Sunnah yang shohih.

Perkara kelima: pembatal-pembatal Islam

Ada banyak hal-hal yang mengeluarkan seorang muslim dari lingkaran Islam, dan jika dia melanggarkan maka dijatuhkan padanya nama murtad dari agama tauhid. Yang terbesar di antaranya sepuluh, yaitu:

1. Syirik dalam beribadah kepada Alloh ta’ala.
2. Menjadikan antara dirinya dan Alloh perantara-perantara yang dia seru, dia mintai syafa’at dan dia jadikan sebagai sandaran (tawakkal).
3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka.
4. Meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam lebih sempurna daripada petunjuk beliau atau bahwa keputusan selain beliau lebih baik daripada keputusan beliau.
5. Membenci sesuatu dari apa yang dibawa oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam.
6. Mengolok-olok Alloh atau Kitab-Nya atau Rosul-Nya.
7. Sihir, di antaranya shorf (memalingkan laki-laki dari istrinya atau sebaliknya, -pent) dan ‘athf (menimbulkan kecintaan laki-laki kepada istrinya atau sebaliknya, -pent).
8. Mendukung kaum musyrikin dan membantu mereka terhadap kaum muslimin.
9. Meyakini bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam, sebagaimana Khidhir boleh keluar dari syariat Musa ‘alayhis salam.
10. Berpaling dari agama Alloh ta’ala, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya.

Dalam seluruh pembatal Islam tersebut tidak ada bedanya antara orang yang bersenda gurau, serius ataupun karena takut, kecuali orang yang terpaksa.

Perkara keenam: macam-macam tauhid

1. Tauhid ar-rububiyyah, yaitu mentauhidkan Alloh dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Itu terwujud dengan meyakini bahwa Alloh adalah yang menciptakan semua makhluk sendirian, memberi mereka rezeki sendirian, dan mengatur segala urusan sendirian.

Mayoritas manusia —dengan fitrah mereka— meyakini bahwa Alloh adalah Al-Kholiq (yang menciptakan), Ar-Roziq (yang memberi rezeki), Al-Muhyi (yang menghidupkan), dan Al-Mumit (yang mematikan). Mereka mengakui semua itu dan membenarkannya. Bahkan sampai orang-orang kafir yang diperangi oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam dan dihalalkan oleh beliau darah dan harta mereka pun membenarkan semua itu. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ.
“Katakanlah (Muhammad): Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Alloh.” [Yunus: 31]

Tetapi tauhid ar-rububiyyah saja —dengan hamba mengimani bahwa Alloh adalah yang menciptakannya, memberinya rezeki dan menghidupkannya— tidak cukup untuk masuknya dia ke dalam Islam selama dia tidak meyakini tauhid al-uluhiyyah.

2. Tauhid al-uluhiyyah, yaitu mentauhidkan Alloh ta’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba, seperti berdoa, bernadzar, menyembelih, berharap, takut, keinginan, cemas, bertaubat, memohon pertolongan, memohon perlindungan, mengagungkan, rukuk, berjihad, dsb. Ma’nanya adalah bahwa hamba menunaikan ibadah demi mendekatkan diri kepada Alloh semata. Jika dia melakukan itu, maka dia telah menjadi seorang muslim yang telah mewujudkan tauhid. Adapun jika hamba menunaikan ibadah seraya mendekatkan diri dengannya kepada selain Alloh, atau mengarahkan sebagian darinya kepada Alloh dan sebagian yang lain kepada selain Alloh, maka dia belum mewujudkan tauhid dan jatuh ke dalam syirik. Wal ‘iyadzu billah.

Tauhid al-uluhiyyah yang juga dinamakan tauhid ibadah, adalah sebab para rosul ‘alayhimus salam diutus. Karena, setiap rosul memulai dakwahnya kepada kaumnya dengan perintah untuk mentauhidkan ibadah. Alloh ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rosul (untuk menyerukan): Sembahlah Alloh …” [an-Nahl: 36]

Dan Nuh, Hud, Sholih, dan Syu’aib mengatakan perkataan yang sama,
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ.
“Wahai kaumku! Sembahlah Alloh! Tidak ada sembahan bagi kalian selain Dia.” [al-A’rof: 59, 65, 73, 85]

Di antara jenis-jenis tauhid, jenis inilah yang diperselisihan sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang antara para rosul dan umat-umat mereka, serta menjadi sebab Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam memerangi orang-orang kafir Quroisy dan sebab Khulafa’ Rosyidun memerangi orang-orang murtad.

3. Tauhid al-asma’ wa ash-shifat, yaitu mengimani semua yang disebutkan dalam al-Qur-an al-Karim dan hadis-hadis shohih dari nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya yang dengan itu Dia menyifati diri-Nya sendiri atau dengannya Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wasallam menyifati-Nya, dalam pengertian yang sebenarnya, serta meyakini bahwa Alloh itu:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.” [asy-Syuro: 11]

Wajib hukumnya mengimani nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya yang ada dalam al-Kitab dan as-Sunnah dengan ma’na-ma’nanya dan hukum-hukumnya berdasarkan pemahaman salaf sholih. Nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya diketahui dari al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh bagi seseorang —siapapun dia— untuk mendatangkan dari dirinya sendiri sebuah nama atau sebuah sifat bagi Alloh ta’ala. Sebab, nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya adalah perkara tauqifiyyah. Artinya, di dalamnya kita berhenti pada nama-nama yang disebutkan atau disifati Alloh untuk diri-Nya sendiri, atau yang disebutkan atau disifati oleh Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wasallam.

Nama-nama Alloh semuanya bagus (husna), Dan ada banyak, di antaranya: ash-Shomad (tempat meminta segala sesuatu), al-Bari’ (Sang Pencipta), as-Sami’ (Maha Mendengar), al-Bashir (Maha Melihat), ar-Rohman (Maha Pengasih), ar-Rohim (Maha Penyayang), … sebagaimana Alloh subhanahu memiliki banyak sifat yang semuanya luhur, di antaranya; ar-rohmah, al-quwwah (kuat), al-hikmah (bijaksana), al-hayah (hidup), al-‘izzah (perkasa), al-‘ilmu, al-jabarut (kekuasaan), dsb.

Perkara ketujuh: macam-macam syirik

1. Syirik akbar, yaitu dosa besar yang Alloh tidak akan mengampuninya dan tidak akan menerima amal sholih bersamanya. Alloh ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” [an-Nisa’: 48]

Alloh subhanahu berfirman:
إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ، وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ.
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Alloh, maka sungguh Alloh mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zholim.” [al-Maidah: 72]

Dan Alloh jalla jalaluhu berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Sungguh, jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.” [az-Zumar: 65]

Syirik akbar ada empat macam, yaitu: (a) syirik doa; (b) syirik niat, keinginan dan tujuan; (c) syirik ketaatan; (d) syirik cinta.

2. Syirik ashghor, yaitu segala sesuatu yang menjadi jalan menuju syirik akbar dan perantara untuk jatuh ke dalamnya, seperti riya’, bersumpah dengan selain Alloh, mengucapkan “ma sya’allohu wa syi’ta (sesuai yang Alloh kehendaki dan yang kamu kehendaki)”, mengucapkan “aku bersandar kepada Alloh dan kepadamu”, dan hal-hal lainnya yang sedikit sekali orang yang selamat darinya. Kafarat (penghapus)-nya adalah mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا أَعْلَمُهُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لَا أَعْلَمُ.
“Ya Alloh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak mempersekutukan dengan-Mu sesuatu yang aku ketahui. Dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya, dan dishohihkan oleh al-Haytsami dan Ibnu Hibban]

Perkara kedelapan: macam-macam kufur

1. Kufur akbar yang mengeluarkan dari agama, dan ini ada lima macam, yaitu: (a) kufur pendustaan; (b) kufur penolakan dan kesombongan diri; (c) kufur keraguan; (d) kufur keberpalingan; (e) kufur nifaq.

2. Kufur ashghor yang tidak mengeluarkan dari agama, dan ini adalah kufur ni’mat. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ، فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ.
“Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya  ating kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, lalu (penduduk)nya mengingkari ni’mat-ni’mat Alloh, maka Alloh menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” [an-Nahl: 112]

Perkara kesembilan: macam-macam nifaq

1. Nifaq akbar (i’tiqodi), yaitu menyembunyikan kufr dalam hati dan memperlihatkan iman pada lisan dan anggota tubuh. Jenis-jenisnya ada enam, yang pelakunya termasuk penghuni tingkatan paling bawah dari neraka, yaitu: (a) mendustakan Rosul; (b) mendustakan sebagian dari apa yang dibawa oleh Rosul; (c) membenci Rosul; (d) membenci sebagian dari apa yang dibawa oleh Rosul; (e) bergembira atas kejatuhan agama Rosul; (f) membenci kemenangan agama Rosul ‘alayhis sholatu wassalam.

2. Nifaq ashghor (‘amali). Ini terjadi dengan mengerjakan sesuatu dari perbuatan-perbuatan orang-orang munafiq dan bersifat dengan satu sifat dari sifat-sifat mereka, disertai dengan tetap adanya pokok iman. Ia adalah lima macam yang disebutkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam dalam sabda-Nya:

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ.
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara berbohong, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat.”

Dan dalam riwayat lain:

إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ.
“Jika bertengkar menyimpang dari kebenaran dan jika membuat perjanjian mengkhianati.” [Muttafaq ‘alaih]

Perkara kesepuluh: ma’na thoghut dan jenis-jenisnya yang paling utama

Yang pertama kali diwajibkan oleh Alloh kepada anak Adam adalah kufur kepada thoghut dan berimanz kepada Alloh. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rosul (untuk menyerukan): Sembahlah Alloh dan jauhilah thoghut.” [an-Nahl: 36]

Bentuk kufur kepada thoghut adalah meyakini kebatilan beribadah kepada selain Alloh, meninggalkannya, membencinya, serta mengkafirkan pelakunya dan memusuhi mereka. Adapun bentuk iman kepada Alloh adalah meyakini bahwa Alloh adalah satu-satunya ilah yang disembah tanpa selain-Nya, memurnikan semua jenis ‘ibadah untuk Alloh dan menafikannya dari semua sesembahan selain Alloh, serta mencintai di jalan Alloh dan membenci di jalan Alloh.

Thoghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan hamba melampaui batas, berupa suatu yang disembah, yang diikuti, atau yang ditaati.

Contoh yang disembah adalah setan-setan jin yang menyuruh para penyihir manusia untuk menyembah mereka, lalu mereka pun menyembah para jin tersebut. Contoh yang ditaati adalah para presiden, para raja dan para pemimpin yang memerintahkan rakyat mereka untuk menyalahi syariat dan berhukum kepada undang-undang buatan manusia, serta memerangi penegakan hukum syariat dan orang yang menyeru kepada penerapannya, lalu rakyat mengikuti mereka. Adapun yang ditaati contohnya para ulama, para rahib, dan para syekh jahat yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, lalu mereka ditaati dalam hal itu.

Sementara muslim muwahhid mengingkari setiap yang disembah, diikuti dan ditaati selain Alloh, berlepas diri dari mereka dan dari para pengikut mereka, serta memusuhi dan membenci mereka. Inilah millah Ibrohim ‘alayhis salam yang barang siapa membencinya maka dia telah membodohi dirinya sendiri. Dan ia adalah teladan baik yang Alloh ta’ala menganjurkan kita untuk mengikutinya dalam firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ، كَفَرْنَا بِكُمْ، وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ.
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Alloh. Kami kufur kepada kalian. Dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya, sampai kalian beriman kepada Alloh saja.’” [al-Mumtahanah: 4]

Dan di antara millah Ibrohim adalah memerangi para thoghut, para wali (penolong) mereka, dan para pengikut mereka demi meninggikan kalimat Alloh. Alloh ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ، فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ، إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا.
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh, dan orang-orang kafir berperang di jalan thoghut. Maka perangilah wali-wali (penolong-penolong) setan. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” [an-Nisa’: 76]

Thoghut-thoghut itu banyak, yang paling utama di antara mereka lima:

1. Setan yang menyeru kepada ibadah kepada selain Alloh. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ.
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai anak cucu Adam agar kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” [Yasin: 60]

Setan adalah thoghut akbar yang terus-menerus berusaha memalingkan manusia dari ketaatan kepada Alloh. Ada juga di antara manusia yang menyertai setan dalam menghalangi manusia dari beribadah kepada Alloh, dan mereka itu juga thoghut-thoghut.

2. Penguasa zholim yang merubah  okum-hukum Alloh ta’ala. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ، وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا.
“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu, mereka ingin berhukum kepada thoghut padahal mereka telah diperintahkan untuk kufur kepadanya. Dan setan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.” [an-Nisa’: 60]

3. Orang yang memutuskan dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh. Dalilnya firman Alloh ta’ala:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ.
“Dan barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itulah orang-orang kafir.” [al-Ma’idah: 44]

Jika hakim atau qodhi memutuskan di antara dua orang yang bersengketa dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh, seperti menggunakan undang-undang buatan manusia, adat-istiadat, serta tradisi-tradisi suku dan kabilah, maka dia telah murtad dari agama Alloh dan menjadi thoghut.

Orang yang memutuskan dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh adalah kafir. Dan orang-orang bersengketa yang berhukum kepadanya juga kafir. Alloh ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
“Maka demi Robbmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [an-Nisa’: 65]

Alloh subhanahu menafikan keimanan dari mereka karena mereka tidak menegakkan  okum Alloh di antara mereka dan berhukum kepada thoghut.

4. Orang yang mengklaim mengetahui perkara ghoib. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ، وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ.
“Katakanlah (Muhammad): Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghoib kecuali Alloh. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” [an-Naml: 65]

Barang siapa mengklaim bahwa dia mengetahui perkara ghoib, maka dia adalah thoghut yang mendustakan ayat al-Qur-an al-Karim yang jelas. Dan wajib atas seorang muslim untuk menghidari pergi ke setiap orang yang mengklaim mengetahui perkara ghoib, seperti para penyihir, para dukun, dan para peramal dan tidak mempercayai mereka dalam apa yang mereka klaim. Sebab,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.
“Barang siapa mendatangi seorang dukun atau seorang peramal, lalu dia membenarkan apa dikatakannya, maka dia telah kufur apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan dihasankan oleh Syu’aib al-Arna’uth]

5. Orang yang disembah selain Alloh dan dia ridho dengan penyembahannya, atau orang yang menyeru manusia untuk menyembah dirinya. Dalilnya firman Alloh ta’ala,

وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ، كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ.
“Dan barang siapa di antara mereka berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Alloh,’ maka orang itu Kami beri balasan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zholim.” [al-Anbiya’: 29]

Ibadah adalah haq Alloh ‘azza wa jalla (atas hambanya). Tidak boleh bagi seorang pun untuk menyeru manusia untuk menyembah dirinya atau untuk menyembah seseorang selain Alloh ta’ala. Barang siapa melakukan itu, atau dia tidak melalukan itu tetapi ridho disembah selain Alloh, maka dia adalah thoghut.
   
Demikianlah. Dan sesungguhnya manusia tidak menjadi orang yang beriman kepada Alloh kecuali dia kufur kepada thoghut. Dalilnya firman Alloh ta’ala:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ، قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ، فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا، وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.
“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara kebenaran dan kesesatan. Barang siapa kufur kepada thoghut dan beriman kepada Alloh, maka sungguh dia telah berpegang pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [al-Baqoroh: 256]

Kebenaran (ar-Rusydu) adalah agama Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam, kesesatan (al-Ghoyy) adalah agama Abu Jahl, sedangkan tali yang kuat (al-‘urwah al-wutsqo) adalah syahadat Laa Ilaaha Illalloh.

Hamba tidak dianggap berpegang pada tali yang kuat (tauhid) kecuali jika padanya terdapat dua sifat: kufur kepada thoghut dan iman kepada Alloh.

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, serta kepada semua keluarga dan sahabatnya.

Maktabah Al-Himmah

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLOH

APAKAH ENGKAU MENGETAHUI MA’NA LAA ILAAHA ILLALLOH

Diambil dari perkataan asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohimahulloh

Segala puji hanya bagi Alloh. Sholawat dan salam semoga tercurahkan ke atas Rosululloh, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berwala' kepada beliau, adapun kemudian;

Ini adalah penjelasan singkat tentang ma’na kalimat “Laa ilaaha illalloh”. Kalimat tawhid yang merupakan hak Alloh atas seorang hamba. “Laa ilaaha illalloh” adalah kalimat yang tinggi, mulia dan berharga. Barangsiapa yang berpegang teguh padanya dia akan selamat dan siapa yang menjaganya maka dia akan terjaga. “Laa ilaaha illalloh” adalah al-‘Urwah al-Wutsqo (ikatan yang kokoh), kalimat taqwa, al-Hanifiyah (kelurusan), millah (ajaran) Ibrohim ‘alayhis salam.

“Laa ilaaha illalloh” adalah kalimat yang karenanya makhluk-makhluk diciptakan, yang dengannya tegaklah langit dan bumi, dan karenanya diutuslah para Rosul serta diturunkanlah Kitab-kitab. Alloh ta'ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" [adz-Dzaariyaat: 56].

Dan Dia berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Kami utus seorang Rasul pun sebelum kamu (Muhammad), kecuali Kami wahyukan kepadanya bawa tiada ilaah kecuali Aku, maka beribadahlah kepada-Ku" [al-Anbiyaa': 25]

Akan tetapi “Laa ilaaha illalloh” itu memiliki lafadz dan juga ma’na. Mengucapkannya adalah kulit sedangkan ma’nanya adalah intisari. Lafadz adalah cangkang sedangkan ma’na adalah mutiara. Apa guna kulit tanpa adanya intisari?! Dan apa guna cangkang tanpa adanya mutiara?!

Kedudukan “Laa ilaaha illalloh” terhadap ma’nanya, seperti kedudukan ruuh terhadap jasadnya. Maka tidak bermanfaat jasad itu tanpa adanya ruuh. Begitu juga tidak bermanfaat kalimat ini tanpa disertai ma’nanya.

Maka ketahuilah –semoga Alloh merahmatimu– bahwa bukanlah yang diinginkan itu pengucapan kalimat ini dengan disertai kebodohan terhadap ma’nanya. Karena orang-orang munafiq mengucapkannya tetapi mereka berada di bawah orang-orang kafir di dalam dasar neraka! Akan tetapi yang diinginkan adalah pengucapan kalimat ini disertai pemahaman dengan hati terhadap ma’nanya, mencintainya, mencintai para pemeluknya, serta membenci dan memusuhi orang-orang yang menyelisihinya.

Lalu apa ma’na kalimat yang agung ini?

Jika dikatakan: ma’na “Laa ilaaha illalloh” itu adalah: Tidak ada pencipta selain Alloh, maka ini telah diketahui. Karena tidak ada yang menciptakan makhluk kecuali Alloh. Tidak ada seorangpun yang bersekutu dengan-Nya dalam hal ini. Jika dikatakan: bahwa ma’nanya adalah tidak ada pemberi rizqi kecuali Alloh, maka inipun bisa diterima.

Maka pikirkanlah –semoga Alloh memberimu taufiq– tentang hal ini. Bertanyalah tentang ma’na Al Ilaah. Sebagaimana engkau bertanya tentang ma’na al-Kholiq dan ar-Roziq.

Maka ma’na “Laa ilaaha illalloh” adalah:

لا معبود بحق إلا الله
"Tidak ada sesuatu yang berhak diibadahi kecuali Alloh."

Kalimat ini terdiri dari nafyun (peniadaan) dan itsbaatun (penetapan). Peniadaan terhadap ilahiyah (ketuhanan) segala sesuatu selain Alloh ta'ala dari kalangan makhluk-makhluk, bahkan terhadap Nabi shollallohu 'alayhi wasallam sekalipun, apalagi selain beliau dari kalangan para wali dan orang-orang sholih. Dan penetapan ilahiyah (ketuhanan) itu seluruhnya hanya untuk Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada hak ilahiyah (ketuhanan) bagi selain-Nya, tidak bagi malaikat yang didekatkan, tidak pula bagi nabi yang diutus.

Al-Ilahiyah dari kata al-ilah dan al-ilah itu adalah al-Ma'bud (sesuatu yang diibadahi), ini adalah tafsir dari lafadz ini dengan kesepakatan (ijma') ahlul ilmi. Maka siapa pun yang beribadah kepada sesuatu, dia telah menjadikan sesuatu itu sebagai ilah (tuhan) selain Alloh.

Jika engkau ingin memahami hal ini dengan pemahaman yang sempurna maka pahamilah dua hal:

Yang pertama: Hendaknya engkau memahami bahwa orang-orang kafir yang Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam memerangi dan membunuh mereka serta merampas harta mereka dan menghalalkan wanita-wanita mereka (untuk dijadikan budak -.pent.). Mereka itu mengakui Tauhid Rububiyah. Yaitu tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, mengatur segala urusan kecuali Alloh semata. Dalilnya adalah Firman Alloh ta'ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
"Katakanlah: 'Siapakah yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: 'Alloh'." [Yunus: 31]

Ini adalah perkara yang sangat penting! Yaitu engkau memahami bahwa orang-orang kafir itu bersaksi terhadap hal ini sepenuhnya dan mengakuinya. Mereka juga shodaqoh, haji, ‘umroh, beribadah, serta meninggalkan perkara-perkara yang diharomkan karena takut kepada Alloh 'azza wa jalla. Meskipun begitu, semua itu tidak menjadikan mereka masuk ke dalam Islam. Dan tidak menjadikan haram darah dan harta mereka.

Akan tetapi perkara yang kedua: hal yang menjadikan mereka kafir dan menjadikan halal darah dan harta mereka adalah bahwa mereka tidak bersaksi terhadap Alloh dengan Tauhid Uluhiyah, yaitu bahwa tidak berdoa kecuali kepada Alloh tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak dimohon pertolongan (istighotsah) dengan selain-Nya, tidak disembelih untuk selain-Nya dan tidaklah hukum dikembalikan kepada selain syari'at-Nya. Maka barangsiapa memohon pertolongan (istighotsah) dengan selain-Nya maka dia kafir, barangsiapa menyembelih untuk selain-Nya maka dia kafir dan barangsiapa memutuskan hukum dengan selain syari'at-Nya maka dia kafir ... dan lain sebagainya.

Sebagai penyempurna hal ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rosululloh, mereka itu berdoa kepada orang-orang sholih maka mereka kafir dengan sebab doa mereka kepada orang-orang sholih itu, sekalipun mereka mengakui bahwa Alloh adalah al-Kholiq (Sang Pencipta), ar-Roziq (Sang Pemberi Rezeki) dan al-Mudabbir (Sang Pengatur)! Jika engkau telah memahami hal ini maka engkau telah memahami ma’na (Laa Ilaaha Illallaah). Dan engkau telah memahami bahwa jika seorang muslim mengkultuskan seorang nabi, wali atau malaikat, atau dia memohon pertolongan (istighotsah) kepadanya, maka dia telah keluar dari Islam.

Jika seseorang dari kalangan orang-orang musyrik berkata: Kami tahu hal itu, akan tetapi orang-orang sholih itu mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Alloh, maka kami berdoa kepada mereka, bernadzar kepada mereka, mengunjungi (makam) mereka, dan ber-istighotsah kepada mereka. Dan dengan itu kami mengharapkan kedudukan dan syafa'at. Sebaliknya kami memahami dan beriman bahwa Alloh itu al-Kholiq (Sang Pencipta), al-Mudabbir (Sang Pengatur) dan satu-satunya Dzat Yang Diibadahi!!

Maka katakanlah: Perkataanmu ini adalah madzhab Abu Jahal dan orang-orang semisalnya, karena sesungguhnya mereka dahulu berdoa kepada patung-patung dan para wali itu dengan menginginkan (seperti) apa yang kalian inginkan.

Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"...Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya'..." [Az-Zumar: 3]

Dan Dia Berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
"Dan mereka menyembah selain daripada Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Alloh'..." [Yunus: 18]

Dan itu dikarenakan mereka menyangka –sebagaimana (sangkaan) kalian– bahwa Alloh menjadikan orang-orang tertentu memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya, di mana Dia Ridho agar manusia berlindung dan beristighotsah kepada mereka, serta menjadikan orang-orang tertentu itu sebagai wasilah (perantara) antara diri mereka dengan Alloh. Sedangkan hal itu merupakan pembatal kalimat (Laa ilaaha illalloh), karena tuntutan dari (Laa ilaaha illalloh) adalah meniadakan perantara di hadapan Alloh...

Selesai, dikutip dari "ad-Duror as-Saniyah fil Ajwibati an-Najdiyah"

Maktabah Al-Himmah

KOALISI INTERNASIONAL ADALAH PENYARINGAN DAN UJIAN

التحالف العالمي تمحيص وابتلاء
KOALISI INTERNASIONAL ADALAH PENYARINGAN DAN UJIAN

Dengan menyebut nama Alloh Yang maha pengasih lagi maha penyayang, Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, yang atas rohmah-Nya –subhanahu wa bihamdih- telah menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman (manhaj) untuk ummat ini. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi kita Muhammad ibnu Abdillah, yang telah bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أبدا؛ كتاب الله وسنتي
“Aku tinggalkan untuk kalian, yang jika kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku nanti selama-lamanya, Kitabulloh dan Sunnahku.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan yang lainnya)

Saudara-saudaraku yang mulia, Alloh Yang maha mulia dan maha suci nama-nama-Nya, mengetahui akan kelemahan ummat ini, mengetahui fitnah-fitnah dan musuh-musuh kejam yang menantinya, maka dari bentuk kemuliaan dan kedermawanan-Nya, Alloh senantiasa menjaga atas ummat ini manhajnya (pedomannya), Alloh ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti kami pula yang memeliharanya.” (al-Hijr : 9)

al-Qur’an terjaga oleh penjagaan Alloh Jalla jalaaluh, adapun kitab-kitab terdahulu yang terjaga pada kita hingga hari ini adalah sebatas nama-namanya. Sedangkan apa yang Alloh subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam kitab-kitab tersebut berupa syari’at, telah terkotori oleh tangan-tangan pendosa, di dalamnya meraka mencampur adukkan (kebenaran dengan kebatilan), menyelewengkan maknanya, dan menjual ayat-ayat Alloh dengan harga yang sedikit.

Lalu muncullah Manhaj Pemelintiran (Manhaj at-Tahrif), yang Alloh ta’ala sebutkan untuk kita agar kita mengetahui para pelakunya dan agar ummat ini tidak tertipu oleh mereka, agar mereka mengetahui orang yang benar (Jujur) dan siapa mereka yang membuat kedustaan, siapa orang-orang yang memiliki kepentingan yang benar (jujur) dan siapa siapa saja yang mengulurkan tangannya pada kekufuran dan berbicara dengan (mengutip) kalam Alloh dan Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wasallam.

Seluruh bentuk konggres kekafiran hari ini, sejak diutusnya nabi shollallohu ‘alayhi wasallam hingga hari ini, hingga Alloh membangkitkan makhluq-Nya kelak, seluruh konggres dan konspirasi, Alloh ta’ala telah meringkasnya untuk kita dalam satu ayat atau sebagian dari ayat, Alloh ta’ala berfirman :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan ridho kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah mereka.” (al-Baqoroh 120)

Oleh karena itu Alloh ta’ala juga berfirman,:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
“Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik.” (al-Maidah : 82)

Pada hari ini kaum yahudi dan salibis beserta para pengikutnya, mereka ini berjalan diatas apa yang telah digariskan oleh kakek moyang dan bapak-bapak mereka, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu, sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat : 53)

Maka, pasukan ahzab hari ini, mereka adalah perpanjangan dari pasukan ahzab kemarin, pasukan ahzab kemarin yang menjadi pelopor siapa? ulama bani Nazhir, merekalah yang mempelopori untuk melawan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, bersama mereka kaum Quroisy, Ghothofan dan yang lainnya, mereka menyulut kelompok-kelompok kekafiran hingga meraka sampai di kota Madinah.

Maka untuk itu, pada hari saat terjadinya perang Ahzab, Alloh ta’ala menyifati keadaan kaum muslimin karena kerasnya permusuhan lawan atas mereka, Alloh ta’ala berfirman kepada kaum mu’minin :

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (11)
“(yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika penglihatan kalian terpana dan hati kalian menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian berprasangka yang bukan-bukan terhadap Alloh, di situlah diuji orang-orang yang mu’min dan diguncangkan hatinya dengan guncangan yang dahsyat.” (al-Ahzab :10 -11)

Pada hari ini dikatakan pada kaum mu’minin seperti ini; “hari ini ummat dalam keadaan jika tidak melewati sunnah (ketetapan) ini, setidaknya mendekati sunnah ini.” Akan tetapi manusia itu terbagi (menjadi beberapa golongan) dalam situasi seperti ini. Di antara mereka ada yang isi hatinya keluar, ternyata hatinya penuh dengan nifaq, dan islam yang ia klaim, tidak lain hanya untuk mendapatkan kemashlahatan duniawi, ia berjalan bersama para penyeru syari’ah dan ia memakai pakaian islam demi kepentingan pribadi, maka selama islam masih memberi harapan baik padanya, berupa makanan, minuman dan tempat tinggal, dia tidak segan untuk menisbatkan diri padanya.

Akan tetapi,
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
“Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kalian sekarang ini.” (Alu ‘Imron : 179),

Harus ada pemisahan (pembersihan) barisan.

Maka saat terjadi kondisi seperti ini, berbicaralah sifat kemunafiqannya, mereka mengatakan:

مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
“yang dijanjikan Alloh dan rosul-Nya kepada kami hanyalah tipu daya belaka.” (al-Ahzab : 12)

Alloh juga berfirman tentang mereka di ayat yang lain,

إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
“tatkala orang-orang munafiq dan orang-orang yang hatinya berpenyakit mengatakan, “yang di janjikan Alloh dan rosul-Nya kepada kami hanyalah tipu daya belaka” (al-Ahzab : 12 )

Dan Alloh berfirman :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka sesungguhnya Alloh maha perkasa lagi maha bijaksana.” (al-Anfal : 49)

Jadi Alloh ta’ala dalam kondisi seperti ini memberikan kita sebesar-besar gambaran (sifat) dari sel-sel yang paling berbahaya dalam masyarakat, yaitu nifaq, orang orang munafiq, para pemilik jenggot panjang, pakaian (celana) cingkrang dan mereka hadir di masjid-masjid, sosok mereka menyerupai sosok orang-orang mu’min, akan tetapi hati-hati mereka terpisah dari orang-orang mu’min, mereka bergabung dengan pasukan kekufuran, bergabung dalam satu parit kekufuran, mereka berhubungan dengannya sepanjang malam dan siang,

Terhadap Mereka itu … ummat sangat membutuhkan penjelasan Alloh akan sifat-sifat mereka, menampakkan aib-aib mereka dan agar mereka menampakkan diri mereka pada pergolakan semacam ini, mereka berceloteh, dan pada hari ini, al-hamdu lillah … mereka jatuh, kelompok-kelompok yang banyak dari mereka, dan kita bisa melihatnya di layar-layar kaca, Ulama suu’ dan ulama negeri, kita bisa melihat analisa mereka pada berita-berita di channel-channel mereka dan selain mereka, kita bisa melihat di majlis-majlis yang mengatasnamakan islam dan kaum muslimin.

Jadi pada hari ini kita, perkara kita adalah seperti halnya perkara kemarin, yaitu perkara Diin, perkara aqidah, perkara ikatan dengan Alloh Jalla jalaaluhu. Kekufuran hari ini, ketika berkembang ditengah-tengah ummat di setiap tempat, Fenomena ini memberikan kabar gembira dengan kebaikan, al-hamdu lillah… Fenomena ini membuat orang yang beriman bergembira karenanya, tidak sebagaimana firman Alloh ta’ala terhadap suatu kaum, “mereka berbalik ke belakang, merugi di dunia dan di akhirat.” (al-Haj : 11)

Bahkan Alloh ta’ala memberi kabar tentang hamba-hamba Nya yang terdahulu yang mengikuti orang-orang yang telah berjumpa (dengan-Nya), Alloh ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang orang (yang menaati Alloh dan Rosul Nya) ketika ada orang-orang mengatakan kepada mereka: ”orang-orang (Quroisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah pada mereka”  Apa yang terjadi? bertambah Keimanan, bukan gentar dan ketakutan ,.. Alloh ta’ala hanya berifirman,: (Ucapan itu) menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab “Cukuplah Alloh menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” (Alu ‘Imron : 173)

Dengan demikian ketika Alloh memperlihatkan dengan pandangan kita tetang jumlah kekafiran dan pasukannya, mesin-mesin mereka yang berada di udara dan mesin-mesin mereka yang berada di lautan, ketika Alloh memperlihatkan melalui pandangan kita, kemudian kita menganalisa permasalahan-permasalahan dan kita membuat gambaran dari masalah itu dengan mata hati kita, jadi beresekutunya kaum kafir hari ini perkara yang menakutkan atau menggembirakan? Dalam tolok ukur syari’at menggembirakan, sedangkan dalam tolok ukur manusiawi itu menakutkan dan menggentarkan, bukankah demikian ?

Maka yang membaca di channel-channel, yang membaca di surat-surat kabar dan seluruh media informasi, akan mengatakan apa? Bahwa masalahnya telah ditetapkan (semoga Alloh menguatkan kalian) oleh anggota dewan, selesai. Mereka adalah para pembuat keputusan, bukankah demikian?

Ya, akan tetapi bagi yang menelaah al-Qur’an, dia mendengar bahwa Alloh Ta’ala berfirman,:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfaq kan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Alloh, mereka (terus) menginfaq kan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan, ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.” (al-Anfal : 36)

Jadi, inilah timbangan kita, dengan kadar kekuatan keimanan kita, akan terjadi, dengan kadar kekuatan aqidah kita, akan terjadi, maka kita di zaman ini, terkhusus di saat ini, perkara paling wajib diantara kewajiban-kewajiban lain adalah lari kepada Alloh Jalla jalaaluhu, yaitu kembali kepada Alloh subhanallohu Wa bihamdihi, memohon pertolongan kepada Nya Jalla jalaaluhu,

Dia adalah maha dekat yang maha mengabulkan do’a ketika kalian memohon pertolongan pada Nya, dan pertolongan Alloh paling agung terhadap para hamba Nya adalah Dia Alloh menurukan ketenangan kepada mereka, apabila Alloh menurunkan ketenangannya kepada mereka maka artinya adalah Alloh mendatangkan kemenangan pada mereka disetiap tempat, dan musibah terbesar yang Alloh timpakan terhadap musuh-musuh Nya adalah rasa takut, ketika Alloh Ta’ala menetapkan rasa takut kepada musuh-musuh Nya, maka di sanalah kekalahan yang sebenarnya,

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ
“Ingatlah ketika Robb mu mewahyukan kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku bersama kalian maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”, kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah diatas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.” (al-Anfal : 12)

Kita memohon kepada Alloh yang maha Agung, Robb pemilik ‘Arsy yang mulia, agar meneguhkan hati-hati kaum muslimin dan terkhusus para mujahidin, dan menurunkan kepada mereka ketenangan, menyatukan barisan mereka, menguatkan keimanan mereka, serta menjadikan pertolongan kepada mereka adalah bentuk kemenangan bagi kaum muslimin di belahan bumi timur dan barat,

Hendaklah setiap muslim mengetahui dengan seyaqin-yaqinnya, bahwa Daulah Islam ini… demi Alloh, Alloh lah yang menjadi penolong nya, demi Alloh ia adalah Daulah yang dimenangkan dengan pertolongan dan janji Alloh terhadapnya.

Dan hendaklah setiap orang mengetahui, baik yang dekat ataupun yang jauh, bahwa daulah ini tidak dibangun di atas kemashlahatan kepentingan tertentu, tetapi daulah ini terbangun urusannya untuk menegakkan syari’at Alloh, maka Alloh adalah yang menjadi penolong dan pembelanya.

Dan siapa saja yang akan menangis maka menangislah untuk dirinya sendiri, siapa saja yang ingin bersedih hati, bersedihlah untuk dirinya sendiri, dan siapa saja yang berprasangka bahwa Daulah ini akan terkalahkan, sungguh dia telah berburuk sangka kepada Alloh jalla jalaluhu, Demi Alloh, Dialah Alloh yang menjadi penolongnya, sebagaimana Ia telah menolong Rosul Nya shollallohu ‘alayhi wasallam di gua Tsaur, dan Alloh yang memberikan tamkin selama Daulah menolong agama Nya, selama daulah menegakkan syari’at Alloh Jalla jalaaluhu, maka ini adalah janji Alloh, dan Alloh tidak akan pernah menyalahi janji Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya,

Adapun negeri-negeri kufur, maka ia akan dikalahkan, demi Alloh ia akan terkalahkan, dan yang mengalahkan di hari kemarin, yang memprakarsai pasukan ahzab kemarin, mereka akan dikalahkan pada hari ini, Alloh Jalla jalaaluhu berfirman, :
   
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (al-Qomar : 45)

Dan Alloh juga berfirman,:
 قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ
“Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, “kalian (pasti) akan dikalahkan dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam.” (Alu Imron :12)

Tapi tidak Tawaakal (hanya bersandar tanpa membuat sebab) tapi dengan apa? Dengan Tawakkal (bersandar setelah dan membuat sebab)

Alloh ta’ala Yang berfirman :
 وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَ
“Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Alloh), sungguh mereka tidak dapat melemahkan (Alloh).” (al-Anfal : 59)

Setelah itu Dia juga Yang berfirman :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ,
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuataan yang kalian miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh-musuh Alloh dan musuh-musuh kalian.” (al-Anfal : 60)

Maka hendaklah para mujahidin dan setiap orang yang jujur bergembira bahwa pertolongan Alloh akan datang, dan itu hanya dalam beberapa hari yang sudah ditentukan.

Firman Alloh ta’ala telah menetapkannya untuk ummat islam, sebagaimana ketetapan sabda Nabi shollallohu alayhi wasallam setelah kalahnya kaum ahzab, “pada hari ini kita yang memerangi mereka dan mereka tidak lagi menyerang kita,” Maka besok kita akan mendengar Amiirul Mu’minin dengan perkataan seperti itu di atas setiap mimbar, “pada hari ini kita yang memerangi mereka dan mereka tidak lagi memerangi kita, dengan izin Alloh Ta’ala.

سبحان ربك رب العزّة عمّا يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله ربّ العالمين, وصلى الله وسلّم على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Maktabah Al-Himmah

PENJELASAN LENGKAP FIQH PUASA

HUKUM-HUKUM SEPUTAR PUASA
PENJELASAN LENGKAP FIQH PUASA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Segala puji hanya bagi Alloh. Sholawat dan salam semoga tercurahkan ke atas Rosululloh, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang yang berwala' kepada beliau, adapun kemudian;

Sesungguhnya puasa Romadhon merupakan salah satu rukun Islam. Wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan rukun ini agar sempurna keislamannya. Hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali ia memahami hukum-hukum terpenting dalam puasa Romadhon.

Definisi Puasa

Puasa (الصوم) secara bahasa: yaitu berasal dari kata صام - يصوم - صوما و صياما adalah menahan dari segala sesuatu, diantaranya makanan, minuman, perkataan atau lain sebagainya. Alloh ta'ala berfirman:

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا
“Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Robb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini." [Maryam: 26]. Adapun صوما disini adalah dimaknai menahan diri dari berbicara [Lisanul 'Arob - Ibnu Manzhur].

Adapun puasa secara syar'i: puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa (diantaranya makan, minum, dan jima') dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan disertai niat.

Hukum Puasa

Puasa Romadhon adalah salah satu rukun Islam. Maka wajib (fardhu) atas setiap muslim melakukannya dengan berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah serta ijma’.

Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian agar kalian bertaqwa” [al-Baqoroh: 183].

Dan Alloh Subhanah juga berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Bulan Romadhon, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” [al-Baqoroh: 185].

Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ   
"Islam dibangun atas lima perkara: syahadat “Laa Ilaaha IllaAlloh, Muhammad Rosululloh”, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Romadhon" [Muttafaqun ‘alayh].

'Ulama telah bersepakat atas wajibnya puasa bulan Romadhon bagi seluruh muslim. Sedang siapa saja yang mengingkarinya maka ia telah kafir [Marotibul Ijma' - Ibnu Hazm azh-Zhohiri].

Syarat Diwajibkannya Puasa

Tidaklah diwajibkan puasa melainkan atas:
1. Muslim, tidak wajib bagi kafir.
2. Berakal, orang gila tidak wajib puasa.
3. Baligh, anak-anak yang belum baligh tidak wajib puasa. Akan tetapi disunnahkan untuk puasa sebagai upaya mendidiknya dan agar dia siap ketika telah baligh.
4. Sehat, tidak wajib atas orang sakit jika puasa itu membuat dia tambah sakit, atau memperlambat kesembuhannya.
5. Menetap, puasa tidak wajib bagi musafir, dan disunnahkan untuk berpuasa jika tidak ditemukan halangan.
6. Mampu, tidak wajib bagi yang terhalang ‘udzur, misal orang tua renta, orang yang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, hamil, ibu yang menyusui jika puasa itu membawa mudhorot bagi ibu dan anaknya.

Rukun Puasa

1. Niat: tempatnya di hati, dan niat itu cukup dimulai di hari pertama sejak awal Romadhon untuk satu bulan, dan niat itu harus dibarengi dengan persiapan bangun untuk sahur serta dibolehkan menikmati hidangan sahur sampai terbitnya fajar.
2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa: diantaranya makan, minum, jima' (menahan syahwat perut dan kemaluan).
3. Waktu: waktu puasa adalah sejak terbitnya fajar shodiq sampai terbenamnya matahari.

Keutamaan Puasa

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang berpuasa Romadhon karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu" [HR. al-Bukhori].

Jika engkau berpuasa Romadhon karena keimanan dari dirimu, bahwa itu merupakan kewajiban dari Alloh yang harus dilaksanakan –dan tidak berpuasa karena ingin menurunkan berat badan, atau untuk menyembuhkan penyakit dan lain sebagainya– maka engkau telah mengamalkan syarat awal dalam hadits, dan jika engkau berpuasa Romadhon karena berharap ganjaran dan pahala di sisi Alloh ta'ala, dan tidak berpuasa karena riya’ dan sum'ah; maka engkau telah mengamalkan syarat yang kedua dari hadits tersebut, dan setelah itu engkau berhak mendapat berita gembira dari Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam berupa ampunan untuk dosa-dosamu yang terdahulu in syaa Alloh.

Hikmah Puasa

Puasa Romadhon memiliki hikmah yang luar biasa. Seluruh rangkaian ibadah puasa memiliki hikmah sebagaimana yang telah Alloh tetapkan, dan ia adalah taqwa, yang terepresentasikan dengan menjalankan apa yang Alloh perintahkan dan menahan diri dari apa yang Alloh larang. Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian agar kalian bertaqwa” [al-Baqoroh: 183].

Dan (لعل) dalam ayat tersebut bermakna menjelaskan sebab atau agar bertaqwa kepada Alloh. Dimana engkau akan meninggalkan apa yang Alloh haramkan dan melaksanakan apa yang Alloh wajibkan.

Hukum Bagi Yang Meninggalkan Puasa

Barangsiapa yang meninggalkan puasa Romadhon dengan ‘udzur maka tidak berdosa, sebagaimana orang yang tidak berpuasa karena sakit atau sedang safar, atau ‘udzur lainnya.

Sedangkan siapa saja yang meninggalkan puasa tanpa ada ‘udzur syar'i maka harus dilihat dulu keadaannya. Jika dia tidak berpuasa karena malas atau ingin makan, minum, jima' dan lain sebagainya, namun dia masih meyakini wajibnya puasa Romadhon dan statusnya sebagai rukun Islam, maka yang demikian adalah dosa besar. Dan apabila dibarengi dengan makan di hadapan manusia (ketika Romadhon), maka ia fasiq karena terang-terangan dalam kemaksiatannya.

Berkata al-Hafizh adz-Dzahabi: "Di dalam hati orang mu'min ada keyakinan bahwa siapa saja yang meninggalkan puasa Romadhon tanpa sakit atau tanpa ‘udzur yang membolehkannya, maka dia lebih buruk daripada seorang pezina serta peminum khomr" [al-Kabair].

Adapun yang mengingkari wajibnya puasa, semisal ia mengatakan: "Di dalam Islam tidak diwajibkan untuk berpuasa Romadhon," maka ia kafir menurut ijma' ahli fiqih dikarenakan kewajiban puasa Romadhon telah dipahami. Dan puasa Romadhon adalah rukun dimana Islam dibangun atasnya. Dan barangsiapa yang mengingkari rukun itu, maka ia telah membatalkan pondasi agamanya.

Hukuman Bagi Yang Tidak Berpuasa Tanpa ‘Udzur

Yang dimaksud hukuman disini adalah balasan duniawi yang berlaku bagi yang tidak berpuasa Romadhon tanpa sebab ‘udzur syar'i.

Dan hukumannya bercabang tergantung pada keyakinan pelakunya terhadap hukum puasa. Barangsiapa yang meninggalkan puasa Romadhon tanpa ada ‘udzur akan tetapi ia tidak mengingkari akan wajibnya, maka ia dihukum cambuk atau dikurung dan dilarang untuk makan di siang hari di bulan Romadhon atau sebagaimana imam memberlakukan hukuman-hukuman yang bersifat mengekang baginya. Sedangkan siapa saja yang meninggalkan puasa Romadhon dengan menghalalkan untuk tidak berpuasa maka ia dibunuh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Jika seseorang membatalkan puasa Romadhon dengan menghalalkan perbuatannya sedangkan dia mengetahui keharamannya, wajib baginya dibunuh. Dan jika ia adalah orang fasiq dihukum berdasarkan pembatalan puasanya sesuai keputusan imam" [Majmu' al-Fatawa].

Sunnah-Sunnah Puasa Romadhon

Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa Romadhon ada banyak, diantaranya yang terpenting adalah:
1. Sahur, waktu sahur lebih baik diakhirkan hingga menjelang terbitnya fajar.
2. Do’a dipanjatkan saat berpuasa dan ketika berbuka puasa.
3. Menyegerakan berbuka setelah tenggelamnya matahari.
4. Berbuka dengan ruthob (kurma matang sebelum menjadi tamr) dengan jumlah ganjil. Jika tidak ada ruthob maka boleh dengan tamr. Atau sekedar air putih.
5. Memberi buka orang-orang yang berpuasa.
6. Memperbanyak sholat sunnah, diantaranya: qiyamul lail dengan tarowih dan tahajjud, membaca al-Qur’an, shodaqoh, serta i'tikaf di masjid.
7. Senantiasa sholat berjama'ah di masjid.
Dan selain itu terdapat banyak ketaatan-ketaatan yang lain.

Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Puasa

1. Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah, seperti berlebihan saat berkumur dan menghirup air saat wudhu, mencicipi makanan di luar keperluannya.
2. Meninggalkan sunnah-sunnah puasa, seperti menyegerakan sahur dan mengakhirkan buka.
3. Terlalu banyak berbicara yang tidak dalam rangka mengingat Alloh, juga tanpa keperluan dan menghabiskan malam-malam dengan hal-hal yang sia-sia.
4. Akhlaq tercela, seperti hasad (dengki), dendam, berbohong, berbicara kotor, memandang yang haram, dan lain sebagainya.

Hal-Hal Yang Mubah Dalam Puasa

1. Mengakhirkan mandi wajib bagi yang junub, haid, nifas apabila suci sampai terbitnya fajar.
2. Menelan sesuatu yang dimaklumi, seperti ludah, atau menghirup debu yang ada di jalan.
3. Mencicipi makanan (tanpa menelannya) untuk keperluan seperti memasak, membeli, atau memberi makan bayi.
4. Mencium bau-bauan (parfum atau makanan).
5. Menyiramkan air di kepala atau badan dan begitu pula ketika kehujanan atau berendam dalam air.
6. Berobat, yang tidak sampai menjangkau lambung seperti tusuk jarum (bukan makanan) ke dalam otot dan pembuluh darah.

Pembatal Puasa

1. Membatalkan salah satu syarat sah puasa. Misalnya murtad, gila, serta haid dan nifas bagi wanita.
2. Membatalkan salah satu rukun puasa. Misalnya sengaja makan atau minum saat puasa (sedangkan apabila karena lupa, maka puasa tidak menjadi batal), jima', mengeluarkan air mani dengan sengaja (adapun mimpi basah saat berpuasa, maka tidak membatalkan).
3. Muntah dengan sengaja. Adapun jika memang benar-benar muntah, maka tidak membatalkan puasa.
4. Berbekam saat berpuasa. Sebagaimana hadits Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam: "Orang yang membekam dan yang dibekam, menjadi batal puasanya" [Hadist Shohih riwayat Abu Dawud dan lainnya]. Orang yang membekam dikarenakan menghisap dengan cuping bekam, dimungkinkan ia menghirup sesuatu yang keluar dari darah. Akan tetapi kalau dia membekam menggunakan alat, maka puasanya tidak batal.

Sebagai penutup, kita meminta pada Alloh Ta'ala agar berkenan untuk menerima amalan puasa, shalat, jihad kami dan kalian juga seluruh amalan lainnya. Dan bulan Romadhon dikembalikan pada kami di dalam naungan khilafah di saat Baghdad dan Damaskus / Dimasyq telah ditaklukkan untuk kita, dan semoga para tawanan (laki-laki dan perempuan) yang dikurung di penjara-penjara thowaghit telah dibebaskan…

Ya Alloh, limpahkanlah sholawat kepada Nabi kami Muhammad dan kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya.

Maktabah Al-Himmah