DABIQ 12 - SYUHADA
DIANTARA ORANG-ORANG BERIMAN ADA KSATRIA :
ABU JUNAYDAH AL-ALMANI
Abu Junaydah, orangtuanya berasal dari Maroko, dan ia tumbuh di negara salib Jerman. Seperti kebanyakan pemuda lainngya dari keluarga imigran, dia agak jauh dari agama-Nya meskipun ayah dan ibunya adalah Muslim yang religius. Dan meskipun kehidupan di Darul-kufur menyebabkan banyak Pemuda Muslim meninggalkan shalat, tapi tidak untuk Abu Junaydah. Tidak peduli apapun yang ia hadapi dalam hidupnya, ia tidak akan pernah meninggalkan Shalat.
Ketika ia masih kecil, ayahnya membantunya menghafal beberapa juz Qur'an dan mengajaknya pergi bersama ke masjid. Yang kemudian ia sadari banyaknya mangfaat dari kedisiplian itu Ketiak ia tumbuh dewasa, dimana ia telah belajar banyak dari kitab Allah pada masa itu.
Dan Allah menuntun siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia menunjukkan Rahmat-Nya atas Abu Junaydah, membimbingnya untuk serius beramal pada usia delapan belas tahun. Dia mulai mempelajari agamanya dengan usahanya sendiri serta menjauhkan diri dari semua pengaruh yang buruk. Dia juga menikah lebih awal untuk melindungi dirinya dari perangkap zina. Tak lama setelah pernikahannya, Allah menganugerahkan dia dengan seorang Putri, yang ia beri nama Junaydah.
kesedihan atas peristiwa yang terjadi di Syam dan kejahatan yang dilakukan terhadap Ahlus-Sunnah membuatnya memutuskan untuk berhijrah dan mengambil bagian dalam jihad tersebut.
Pada tahun "2013," ia pergi ke Syam dan bergabung dengan fraksi "Jundu Asy-Syam," yang dipimpin oleh Muslim pembohong yang menyimpang Asy-Syishani. Setelah kedatanngannya, Abu Junaydah sangat bahagia karena telah tiba di tanah jihad, tapi dengan cepat dia dapat menemukan bahwa tidak setiap "Mujahid" dan tidak setiap faksi "Jihad" memiliki manhaj yang lurus. Dia dan mujahidin lainnya dilarang mengucapkan takfir kepada Thaghut Erdogan dan Thawaghit lain dari Turki dengan alasan "maslahah." mereka juga dilarang untuk mengucapkan takfir kepada "Tentara Pembebasan Suriah" (FSA). Ia juga menyaksikan sendiri bagaimana Daulah Islam dikecam dengan sangat keras. Ada juga banyak situasi dimana hukum Allah dilanggar oleh faksi-faksi lokal; dan orang-orang disana juga tidak dihukumi dengan syari'at. Dalam salah satu contoh kasus ini misalnya, orang yang menghina Allah ta’ala tidak menerima hukuman atas kejahatannya ini.
Ketika masuk ke Jundu Asy-Syam, ia direkomendasikan oleh sahabatnya Abu Luqman al-Almani dan Abu Hafs al-Almani sepupu Abu Junaydah, untuk melaksanakan jihad melawan Thawaghit dan sekutu mereka dimanapun mereka berada. Tapi kebersamaan Abu Luqman dan Abu Hafsh dengan Jundu Asy-Syam tidaklah lama, karena mereka dengan cepat mengetahui korupsi manhaj dan penyimpangan fraksi ini yang kemudian membulatkan tekad mereka untuk bergabung dengan Jama'ah. mereka berdua berbai'at kepada Amirul Mukminin Abu Bakr al-Husaini al-Baghdadi hafizhahullah dan bergabung dengan Daulah Islam.
Pada hari pengkhianatan Shahawat, Abu Luqman dan Abu Hafs ditangkap oleh FSA dan dipenjarakan bersama dengan ratusan Muhajirin lainnya. Tetapi mereka menipu penculik mereka hingga mereka melepaskannya. Hal ini menuntun mereka untuk menemui Abu Junaydah lagi yang telah meninggalkan Jundu Asy-Syam dan bergabung dengan Jabhah Jaulani sesaat sebelum pengkhianatan Shahawat. Yang mana disana Dia bekerja di Departemen media untuk Jabhah Jaulani ini.
Dikarenakan oleh Abu Sulaiman, sang pembohong dari Australia, Abu Junaydah memiliki beberapa kesalahpahaman tentang Daulah Islam, tapi hatinya tetap merindukan untuk bergabung dengan Jama'ah dan berada di barisannya karena seluruh dunia telah berkumpul melawannya baik dari segi militer, politik, ekonomi, dan bahkan di ranah media. Ia juga mulai menangkap banyaknya kontradiksi dalam setiap klaim Abu Sulaiman al Australia dan rekan Shahawatnya terhadap Daulah Islam. Selain itu, Abu Hafsh - yang terjebak di Halab setelah dibebaskan dari penjara Shahawat - secara teratur menyarankan Abu Junaydah untuk bergabung dengan Daulah Islam.
Dan Allah menuntun siapa yang Dia kehendaki. Abu Junaydah mendengarkan dan membandingkan pidato dari orang pikun yang menyimpang azh-Zhawahiri dengan pidato dari mantan menteri perang Daulah Islam, Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah. Dia mendengarkan pidato mereka tentang Daulah Islam agar dapat menyimpulkan sendiri perbedaan pendapat tentang masalah Daulah Islam dan al-Qa'idah. Dengan cepat ia menyadari bahwa kepemimpinan baru al-Qai'dah sesungguhnya adalah kebohongan kepada umat. Dengan demikian, ia memutuskan untuk meninggalkan Kafar Hamrah dengan sepupunya Abu Hafsh untuk bergabung dengan Daulah Islam.
Setelah ia tiba di Daulah Islam, ia segera pergi untuk Ribat, dan mengambil bagian dalam pertempuran melawan pengkhianat Shahawat. mereka membuka jalan mundur ke I'zaz dan kemudian al-Bab Bersama dengan tentara lain dari Daulah Islam.
Setelah tiba di al-Bab, Abu Junaydah pergi bersama sepupunya ke ar-Raqqah untuk membawa keluarganya kembali ke Syam, sebagaimana beberapa ikhwan lainnya telah mengirim istri dan anak mereka menjauhi bahaya dari Shahawat selama kekacauan yang mengikuti Peluncuran konspirasi Shahawat.
Tak lama setelah itu, Abu Junaydah ditugaskan dengan banyak proyek dakwah tapi dia selalu ingin kembali ke medan pertempuran. Ia merindukan sepupunya dan ingin bersamanya lagi. Abu Hafsh telah mengambil bagian dalam pertempuran dekat Sirrin melawan Shahawat dari Liwa Tsuwwar ar-Raqqah, yang dipimpin oleh mantan pemimpin Jabhah Jaulani Abu 'Isa ar-Raqqah. Dia juga berpartisipasi dalam pertempuran melawan Shahawat di al-Khair yang dipimpin oleh pemimpin Jabhah Jaulani Abu Mariyah al-Harari. Dia dibunuh secara khianat pada musim panas "2014" oleh "tentara" Harari ketika mengendarai mobil di al-Khair, salah satu kota yang telah dibebaskan. Semoga Allah menerima dia.
Abu Junaydah sangatlah sedih, tapi ia tetap berkomitmen untuk bekerja dan mencoba untuk menjelaskan kepada kerabat dan keluarganya bahwa Abu Hafsh telah memberikan darahnya untuk penegakan Khilafah dan itu adalah keinginan terbesar dari mereka berdua dan inilah alasan untuk membawa keluarganya berhijrah ke Islam Negara. Atas karunia Allah, adiknya mengikuti keteladanannya sebagaimana ia tidak ingin tinggal lebih lama lagi di negara yang memerangi Islam, kaum Muslimin, dan Khilafah.
Meskipun ia bekerja di bagian dakwah dan juga memiliki dua istri serta anak-anak yang harus ia perhatikan, ia juga telah berpartisipasi dalam banyak pertempuran melawan orang-orang murtad. Dia mengambil bagian dalam pertempuran di 'Ayn al-Islam, Tadmur, dan Mari', hingga akhirnya ia mencapai apa yang ia rindukan sejak lama, Syahadah. pesawat tentara salib datang memberi bantuan kepada Shahawat di Halab –sekutu al-Qa'idah di Syam- dan menembak tepat di posisi di mana ia melakukan Ribat di pinggiran Mari'. Dia pun meninggal seketika, pada hari-hari yang paling diberkahi di setiap tahun, pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda, "Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fie sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fie sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun" (HR Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas). Hadits ini adalah hadits yang ia pilih saat menceritakan saudaranya ketika dalam perjalanan ke Mari '.
Semoga Allah menyatukan dia dan sepupunya di surga dan mengizinkan kita untuk mengikuti mereka. Semoga Allah menjaga keluarganya dan melindungi anak-anaknya di bawah naungan Khilafah, sehingga mereka hanya hidup dengan Tauhid dan mereka menjadi salah satu di antara barisan Nabi Isa 'alaihis salam ketika ia turun untuk memimpin tentara Muslim.
DIANTARA ORANG-ORANG BERIMAN ADA KSATRIA :
ABU JUNAYDAH AL-ALMANI
Abu Junaydah, orangtuanya berasal dari Maroko, dan ia tumbuh di negara salib Jerman. Seperti kebanyakan pemuda lainngya dari keluarga imigran, dia agak jauh dari agama-Nya meskipun ayah dan ibunya adalah Muslim yang religius. Dan meskipun kehidupan di Darul-kufur menyebabkan banyak Pemuda Muslim meninggalkan shalat, tapi tidak untuk Abu Junaydah. Tidak peduli apapun yang ia hadapi dalam hidupnya, ia tidak akan pernah meninggalkan Shalat.
Ketika ia masih kecil, ayahnya membantunya menghafal beberapa juz Qur'an dan mengajaknya pergi bersama ke masjid. Yang kemudian ia sadari banyaknya mangfaat dari kedisiplian itu Ketiak ia tumbuh dewasa, dimana ia telah belajar banyak dari kitab Allah pada masa itu.
Dan Allah menuntun siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia menunjukkan Rahmat-Nya atas Abu Junaydah, membimbingnya untuk serius beramal pada usia delapan belas tahun. Dia mulai mempelajari agamanya dengan usahanya sendiri serta menjauhkan diri dari semua pengaruh yang buruk. Dia juga menikah lebih awal untuk melindungi dirinya dari perangkap zina. Tak lama setelah pernikahannya, Allah menganugerahkan dia dengan seorang Putri, yang ia beri nama Junaydah.
kesedihan atas peristiwa yang terjadi di Syam dan kejahatan yang dilakukan terhadap Ahlus-Sunnah membuatnya memutuskan untuk berhijrah dan mengambil bagian dalam jihad tersebut.
Pada tahun "2013," ia pergi ke Syam dan bergabung dengan fraksi "Jundu Asy-Syam," yang dipimpin oleh Muslim pembohong yang menyimpang Asy-Syishani. Setelah kedatanngannya, Abu Junaydah sangat bahagia karena telah tiba di tanah jihad, tapi dengan cepat dia dapat menemukan bahwa tidak setiap "Mujahid" dan tidak setiap faksi "Jihad" memiliki manhaj yang lurus. Dia dan mujahidin lainnya dilarang mengucapkan takfir kepada Thaghut Erdogan dan Thawaghit lain dari Turki dengan alasan "maslahah." mereka juga dilarang untuk mengucapkan takfir kepada "Tentara Pembebasan Suriah" (FSA). Ia juga menyaksikan sendiri bagaimana Daulah Islam dikecam dengan sangat keras. Ada juga banyak situasi dimana hukum Allah dilanggar oleh faksi-faksi lokal; dan orang-orang disana juga tidak dihukumi dengan syari'at. Dalam salah satu contoh kasus ini misalnya, orang yang menghina Allah ta’ala tidak menerima hukuman atas kejahatannya ini.
Ketika masuk ke Jundu Asy-Syam, ia direkomendasikan oleh sahabatnya Abu Luqman al-Almani dan Abu Hafs al-Almani sepupu Abu Junaydah, untuk melaksanakan jihad melawan Thawaghit dan sekutu mereka dimanapun mereka berada. Tapi kebersamaan Abu Luqman dan Abu Hafsh dengan Jundu Asy-Syam tidaklah lama, karena mereka dengan cepat mengetahui korupsi manhaj dan penyimpangan fraksi ini yang kemudian membulatkan tekad mereka untuk bergabung dengan Jama'ah. mereka berdua berbai'at kepada Amirul Mukminin Abu Bakr al-Husaini al-Baghdadi hafizhahullah dan bergabung dengan Daulah Islam.
Pada hari pengkhianatan Shahawat, Abu Luqman dan Abu Hafs ditangkap oleh FSA dan dipenjarakan bersama dengan ratusan Muhajirin lainnya. Tetapi mereka menipu penculik mereka hingga mereka melepaskannya. Hal ini menuntun mereka untuk menemui Abu Junaydah lagi yang telah meninggalkan Jundu Asy-Syam dan bergabung dengan Jabhah Jaulani sesaat sebelum pengkhianatan Shahawat. Yang mana disana Dia bekerja di Departemen media untuk Jabhah Jaulani ini.
Dikarenakan oleh Abu Sulaiman, sang pembohong dari Australia, Abu Junaydah memiliki beberapa kesalahpahaman tentang Daulah Islam, tapi hatinya tetap merindukan untuk bergabung dengan Jama'ah dan berada di barisannya karena seluruh dunia telah berkumpul melawannya baik dari segi militer, politik, ekonomi, dan bahkan di ranah media. Ia juga mulai menangkap banyaknya kontradiksi dalam setiap klaim Abu Sulaiman al Australia dan rekan Shahawatnya terhadap Daulah Islam. Selain itu, Abu Hafsh - yang terjebak di Halab setelah dibebaskan dari penjara Shahawat - secara teratur menyarankan Abu Junaydah untuk bergabung dengan Daulah Islam.
Dan Allah menuntun siapa yang Dia kehendaki. Abu Junaydah mendengarkan dan membandingkan pidato dari orang pikun yang menyimpang azh-Zhawahiri dengan pidato dari mantan menteri perang Daulah Islam, Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah. Dia mendengarkan pidato mereka tentang Daulah Islam agar dapat menyimpulkan sendiri perbedaan pendapat tentang masalah Daulah Islam dan al-Qa'idah. Dengan cepat ia menyadari bahwa kepemimpinan baru al-Qai'dah sesungguhnya adalah kebohongan kepada umat. Dengan demikian, ia memutuskan untuk meninggalkan Kafar Hamrah dengan sepupunya Abu Hafsh untuk bergabung dengan Daulah Islam.
Setelah ia tiba di Daulah Islam, ia segera pergi untuk Ribat, dan mengambil bagian dalam pertempuran melawan pengkhianat Shahawat. mereka membuka jalan mundur ke I'zaz dan kemudian al-Bab Bersama dengan tentara lain dari Daulah Islam.
Setelah tiba di al-Bab, Abu Junaydah pergi bersama sepupunya ke ar-Raqqah untuk membawa keluarganya kembali ke Syam, sebagaimana beberapa ikhwan lainnya telah mengirim istri dan anak mereka menjauhi bahaya dari Shahawat selama kekacauan yang mengikuti Peluncuran konspirasi Shahawat.
Tak lama setelah itu, Abu Junaydah ditugaskan dengan banyak proyek dakwah tapi dia selalu ingin kembali ke medan pertempuran. Ia merindukan sepupunya dan ingin bersamanya lagi. Abu Hafsh telah mengambil bagian dalam pertempuran dekat Sirrin melawan Shahawat dari Liwa Tsuwwar ar-Raqqah, yang dipimpin oleh mantan pemimpin Jabhah Jaulani Abu 'Isa ar-Raqqah. Dia juga berpartisipasi dalam pertempuran melawan Shahawat di al-Khair yang dipimpin oleh pemimpin Jabhah Jaulani Abu Mariyah al-Harari. Dia dibunuh secara khianat pada musim panas "2014" oleh "tentara" Harari ketika mengendarai mobil di al-Khair, salah satu kota yang telah dibebaskan. Semoga Allah menerima dia.
Abu Junaydah sangatlah sedih, tapi ia tetap berkomitmen untuk bekerja dan mencoba untuk menjelaskan kepada kerabat dan keluarganya bahwa Abu Hafsh telah memberikan darahnya untuk penegakan Khilafah dan itu adalah keinginan terbesar dari mereka berdua dan inilah alasan untuk membawa keluarganya berhijrah ke Islam Negara. Atas karunia Allah, adiknya mengikuti keteladanannya sebagaimana ia tidak ingin tinggal lebih lama lagi di negara yang memerangi Islam, kaum Muslimin, dan Khilafah.
Meskipun ia bekerja di bagian dakwah dan juga memiliki dua istri serta anak-anak yang harus ia perhatikan, ia juga telah berpartisipasi dalam banyak pertempuran melawan orang-orang murtad. Dia mengambil bagian dalam pertempuran di 'Ayn al-Islam, Tadmur, dan Mari', hingga akhirnya ia mencapai apa yang ia rindukan sejak lama, Syahadah. pesawat tentara salib datang memberi bantuan kepada Shahawat di Halab –sekutu al-Qa'idah di Syam- dan menembak tepat di posisi di mana ia melakukan Ribat di pinggiran Mari'. Dia pun meninggal seketika, pada hari-hari yang paling diberkahi di setiap tahun, pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda, "Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fie sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fie sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun" (HR Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas). Hadits ini adalah hadits yang ia pilih saat menceritakan saudaranya ketika dalam perjalanan ke Mari '.
Semoga Allah menyatukan dia dan sepupunya di surga dan mengizinkan kita untuk mengikuti mereka. Semoga Allah menjaga keluarganya dan melindungi anak-anaknya di bawah naungan Khilafah, sehingga mereka hanya hidup dengan Tauhid dan mereka menjadi salah satu di antara barisan Nabi Isa 'alaihis salam ketika ia turun untuk memimpin tentara Muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar