Rabu, 25 April 2018

BAGAIMANA AKU MEMELUK ISLAM

DABIQ 15 - MUSLIMAH

BAGAIMANA AKU MEMELUK ISLAM
Oleh : Umm Khalid Al-Finlandiyah

Aku berasal dari Finlandia, sebuah negara “Kristen” dimana masyarakatnya tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap agamanya yang telah rusak. Kebanyakan dari mereka mengaku sebagai pemeluk agama kristen namun mereka sebenarnya tidak mempraktikan keyakinannya yang salah. Mungkin mereka hanya akan ke gereja bila ada suatu acara pernikahan atau pemakaman saja, namun kebanyakan dari mereka tidak mengetahui banyaknya penyimpangan atas agama yang mereka anut, meskipun demikian mereka tetap membanggakannya; dan aku tidak melihat adanya nilai-nilai kekristenan yang termanfestasikan dalam keseharian mereka.

Dalam kehidupanku, keadaanku hampir sama dengan yang lainnya. Setiap orang harus mempelajari agamanya di sekolah, disanalah pengetahuanku terus bertumbuh. Sebelum itu ibuku biasa mengirimku ke sekolah yang diadakan setiap hari minggu meskipun ibuku sendiri bukanlah seorang yang religius. Aku pun pergi hanya untuk mendapat stiker, dan aku merasa bahwa aku tidak memperoleh pelajaran dan juga tidak memahami apapun disana. Aku belajar lebih banyak ketika di sekolah, tapi kekristenan pada saat ini menurutku sangat membingungkan.

Sebagian besar yang diajarkan oleh mereka hanyalah untuk meyakini bahwa Yesus adalah juru selamatmu, yang meninggal demi menebus dosamu, lalu Kamu akan selamat. Dan ini sangatlah sulit untuk diterima, karena ini sangatlah tidak masuk akal untukku. Meskipun bingung, aku selalu percaya bahwa sang Pencipta itu ada. Orang tuaku, seperti kebanyakan orang tua lainnya, tidak benar-benar tertarik untuk berbicara mengenai agama. Kami biasa merayakan natal dan paskah, namun nilai-nilai kekristenan tidak pernah memiliki pengaruh dalam kehidupanku.

Ketika aku berumur 16 tahun, aku dikirim ke sebuah tempat dimana aku harus mendalami agama kristen. Sekali lagi, pelajaran disana sangatlah tidak masuk akal, tapi karena orang tua mengirimku kesini dan fakta bahwa akan diadakan sebuah pesta di setiap akhir program dimana aku akan mendapatkan berbagai macam hadiah, aku tetap melakukan ini untuk mereka. 

Hal pokok yang paling membuat tidak masuk akal bagiku adalah konsep trinitas. Aku berpikir, bagaimana mungkin seorang “anak” Tuhan disalib? Bagaimana mungkin “sebagian” dari Tuhan –menurut pemahaman trinitas– disalib? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa menjadi Tuhan, kemudian dihinakan dan meninggal dalam kematian yang hina?

Aku selalu berada dalam kebingungan, dan tidak pernah berdoa kepada Yesus. Ketika aku berdoa, aku hanya berdoa kepada Tuhan. Ketika aku masih muda aku tidak terlalu memperhatikan hal ini, aku hanya berpikir mengenai hal ini dan itu, tetapi saat itu aku tidak mengetahui bagaimana caranya menggali lebih dalam serta menulusurinya, dan aku tidak memiliki kepercayaan diri bahwa aku sedang berada dalam agama yang benar.

Kemudian di sekolah, mereka mengenalkan kepadaku berbagai hal seperti teori evolusi dan teori “big bang” –ledakan dahsyat-, yang justru hanya menambah kebingunganku. Pada akhirnya, aku tidak tahu harus meyakini apa, namun aku selalu percaya akan adanya sang Pencipta dan Dia harus disembah sendiri saja.

Pertama kali Aku mendengar tentang Islam adalah ketika kami sedang belajar agama di sekolah. Kami membahas sejumlah agama yang berbeda termasuk Islam. Pada pelajaran pertama, guru kami –yang bahkan bukan seorang muslim– mengucapkan kalimat syahadat dalam Bahasa Arab, kemudian dia menjelaskan kepada kami bahwa kalimat itu adalah persaksian atas keimanan dalam islam. Kami juga mempelajari lima rukun islam dari tingkatan yang paling dasar, namun ada beberapa hal kedengarannya terasa tidak masuk akal bagiku. Sebagai contohnya, kami diberi tahu bahwa ketika puasa pada bulan Ramadhan, kaum muslimin tidak makan dan minum pada siang hari, namun mereka berpesta dan makan pada malam hari.

Perjumpaanku dengan Islam berikutnya adalah ketika aku menikah. Suamiku dibesarkan dalam lingkungan keluarga muslim, namun dia sama sekali tidak mempraktekkan islam. Kami mempunyai anak tapi kemudian bercerai beberapa tahun setelahnya. Pada titik itu, aku sangat ingin mempelajari Islam, dan karena peristiwa 11 September yang diberkahi, aku selalu melihat Islam diperolok media, tapi aku tetap penasaran dan ingin mencari tahu lebih dalam mengenai agama ini.

Pada saat yang sama, aku memiliki tetangga (perempuan) yang mengenalkanku pada Islam beberapa tahun yang lalu. Sehingga dia mengijinkanku untuk meminjam sebuah salinan al-Qur’an yang telah diterjemahkan kedalam bahasa-ku. Terjemahannya memang tidak terlalu bagus, namun dia sangatlah pandai menjelaskan, jadi jika aku tidak mengerti suatu hal, maka dia akan menjelaskannya kepadaku. Yang paling membuatku tersentak Ketika membaca al-Qur’an adalah ketika aku membaca ayat-ayat tentang neraka dan hukuman di akhirat.

Tidak lama kemudian, aku mulai mengetahui bahwa sesungguhnya agama ini adalah suatu kebenaran. Aku mulai belajar shalat atas kehendakku sendiri karena aku berpikir bahwa aku harus mempelajari segala hal sebelum menjadi muslim. Dan aku harus mengakui bahwa pada waktu itu aku takut dan gugup karena banyak hal yang tidak aku ketahui. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Bagaimana reaksi orangtuaku nanti jika mereka tahu aku menjadi seorang muslim? atau Bagaimana dengan reaksi teman-temanku?”. Hal ini terasa seperti cobaan terberat bagiku meskipun aku mengetahui bahwa didalam hatiku aku harus melakukan ini.

Ketika aku dalam perjalanan pulang dari kerja, aku berjumpa dengan tetanggaku (perempuan) di dalam bus, kemudian aku bertanya kepadanya, “Maukah Kamu mengajariku cara shalat?” Kemudian dia menjawab dengan bertanya, “Apakah kamu ingin menjadi seorang muslim?” Pada saat itu aku merasa didalam hatiku mengatakan, “Ya, aku ingin”. Maka aku berkata, “Ya”, lalu dia dan suaminya mulai menangis. Aku mengucapkan kalimat syahadat di rumah mereka dan mereka mulai mengajariku cara shalat. Itu adalah Perasaan yang sangat menakjubkan. Setelah terus-menerus mencari kebenaran maka saat menemukannya adalah seperti sebuah pembebasan dan Aku merasa sangat damai.

Aku tidak dapat mengatakan bahwa beberapa hal akan menjadi lebih mudah setelah aku menjadi seorang muslim, namun hal itu memberikan kenyamanan dihatiku. Beberapa hal tidaklah mudah bagi orangtuaku, waktu pertama kalinya mereka mengetahuinya, mereka tidak bereaksi terlalu banyak, namun setahun kemudian ketika aku menikah lagi, mereka mulai menjadikannya sebagai sebuah masalah. Saat aku mulai mengenakan hijab, mereka mulai menyulitkanku. Mereka berargumen, “Bahkan orang yang dilahirkan sebagai muslim pun tidak memakainya, lalu mengapa kamu memakainya?”.

Mereka tidak senang, dan yang menjadikannya lucu adalah pada saat mereka seolah-olah menjadi seorang Kristen yang lebih taat dari sebelumnya. Dimana sebelumnya mereka bahkan tidak pernah berbicara tentang agama kristen, namun tiba-tiba mereka lebih sering menyinggung itu, mereka seakan mengatakan, “Ini adalah agama nenek moyang kita”.

Semua itu mereka lakukan untuk mengembalikanku kepada agama mereka. Aku juga merasakan hal yang sama dari teman-temanku yang menanyakan kepadaku mengapa aku membuat keputusan ini. Ini terjadi karena aku adalah satu-satunya muslim yang sering mereka lihat.

Aku tinggal di ibu kota, meskipun disini ada beberapa orang muslim namun itu tidaklah sama dengan negara-negara Eropa lainnya; komunitas muslim disini sangatlah kecil. Dan dikarenakan kecilnya komunitas ini, setahun sebelum aku menikah, aku tidak memiliki banyak akses ke orang alim ketika aku berusaha mempelajari Islam. Sangatlah sulit untuk mencari seseorang yang bisa mengajariku, karena bila salah orang bisa jadi setiap orang mengajarkan setiap hal, dan tentu saja, ketika kamu baru memeluk Islam, kamu tidak mengetahui banyak hal.

Semenjak aku tidak menemukan muslim yang baik lagi kuat disekitarku, aku mencoba melakukan penelitian sendiri, tapi sangatlah sulit untuk mendapatkan informasi yang benar, meskipun demikian Allah selalu memudahkan jalan, sehingga kebenaran menjadi nyata bagiku. Sesuatu menjadi menjadi lebih mudah setelah aku menikah karena aku mendapat dukungan di rumah. Pada satu titik, suamiku mulai mengenalkanku pada jihad dan aqidah yang lurus.

Aku kemudian terlibat ke dalam dakwah. Aku mengambil bagian dalam mengorganisir acara bagi wanita dan anak-anak di Mesjid lokal dan aku juga mengadakan acara bagi saudara (perempuan) yang baru memeluk Islam. Pada saat itu, aku sama sekali tidak berpikir tentang hijrah (berpindah ke negeri Islam). Namun hal itu segera berubah dan yang pada akhirnya membangunkanku adalah ketika otoritas kafir menangkap suamiku dengan tuduhan terorisme. Mereka menangkapnya ketika ia sedang berada di jalan. Pada saat itu aku dirumah dengan anak-anakku, kemudian mereka datang dan mulai menggeledah rumah kami. Itu merupakan kejutan besar bagiku. Mereka pada akhirnya menahan suamiku di penjara untuk waktu yang cukup lama sebagaimana mereka meneruskan penyelidikan. Kesulitan itu, mungkin menjadi hal terbaik bagiku karena itu membuka mataku akan pentingnya hijrah, tapi semua cobaan ini menjadikan segalanya lebih sulit.

Alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah), ada beberapa saudara lelaki dan perempuan yang memiliki aqidah baik dan memberi dukungan kuat. Mereka berada pada manhaj yang benar, jumlah mereka tidaklah banyak dan itu tidak menjadi masalah.

Ketika Khilafah dideklarasikan, kami tahu kemana kami harus pergi dan apa yang kami inginkan. Sebagai seorang muslim, kami harus mengingkari orang-orang kafir dan hidup dibawah naungan Khilafah. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Aku berlepas diri terhadap muslim yang hidup berdampingan dengan orang-orang musyrik.” Kemudian sahabatnya bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa demikian?” Beliau menjawab, “Mereka tidak seharusnya saling melihat api unggun (atau cahaya) masing-masing” (Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Setelah suamiku keluar dari penjara, kami mengira akan sulit untuk ber-hijrah karena setiap negara menjadi lebih waspada atas niatnya untuk bepergian. Ia berusaha dengan sangat keras untuk menemukan sebuah jalan menuju Khilafah, Alhamdulillah, dan ketika Allah menghendaki untuk membuka jalan bagi seseorang, maka tidak ada yang dapat menutupnya. Hingga kami mampu ber-hijrah tanpa kendala apapun. Kami bermimpi tentangnya dan berdoa untuknya sejak lama hingga Allah menjadikannya mudah bagi kami.

Aku bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku ketika berhasil melintasi perbatasan dan memasuki tanah Khilafah. Ini seperti rahmat dari Allah untuk bisa hidup dibawah naungan Khilafah. Berapa Banyak orang yang berusaha dengan melakukan berbagai macam cara agar bisa berhijrah namun belum berhasil. Tentu saja, ketika kamu datang ke Khilafah setelah mengorbankan segalanya untuk Allah, kamu tentu akan terus diberi cobaan. Kamu akan melalui berbagai macam kesulitan dan ujian, tapi setiap hari kamu akan terus bersyukur kepada Allah karena telah mengijinkanmu melakukan hijrah dan hidup dibawah naungan Syari’ah. Hidup di Daulah Islam merupakan suatu keberkahan.

Kamu akan menghadapi kesulitan dan ujian, kamu mungkin tidak terbiasa dengan makanan dan juga perubahan gaya hidup disana, kamu mungkin tidak memahami bahasa setempat, kamu akan mendengar pengeboman dan mungkin anak-anak menjadi takut, tetapi tidak ada satupun dari hal itu yang bisa mencabut rasa syukur yang kamu punya kepada Allah karena telah mengizinkanmu untuk berada disini.

Dan juga, jikalau kamu tidak hidup disini, kamu tidak akan dapat memahami kehidupan seperti apa yang kamu miliki sebelumnya. Kehidupan disini sangatlah bersih. Ketika kamu berada di Darul Kufr (Negara Kafir), kamu membiarkan dirimu dan anak-anakmu terkontaminasi dengan berbagai macam hal hina dan rusak. Kamu membuat setan menjadi lebih mudah untuk menyesatkanmu. Disini kamu hidup dengan kehidupan yang bersih, dan anakmu dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Mereka tidak perlu malu dengan agamanya. Mereka bebas menjalankannya dan dididik dengan aqidah yang benar sejak dini.

Setelah empat bulan kami hidup disini, anakku mendapatkan syahid, dan ini merupakan sebuah keberkahan lainnya, setiap kali aku memikirkannya, aku bertanya kepada diriku sendiri, “Jika aku tetap di negara kafir, akhir hidup seperti apa yang akan didapatkannya? Apa yang mungkin terjadi dengannya?” Alhamdulillah dia diselamatkan dari semua itu, dan apa lagi yang lebih baik baginya selain terbunuh di jalan Allah? Sungguh, hal ini tidaklah mudah bagiku, namun aku memohon kepada Allah agar mengijinkan kami untuk bergabung bersamanya (di surga).

Aku nasehatkan kepada muslim yang masih berada di negeri kafir agar tidak terintimidasi oleh media, dan dengarlah perkataan Allah dan Rasul-Nya. Semuanya sangatlah jelas di dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah. Dan aku dengan tulus menasehati setiap muslim untuk ber-hijrah. Tidaklah diizinkan dan juga tidak baik bagimu untuk hidup di negri kafir. Kamu mungkin berpikir bahwa kamu dapat mempraktikkan agamamu disana, namun bila kamu benar-benar mengikuti apa yang diajarkan kepadamu dari al-Qur’an dan Sunnah, kamu tidak akan bisa mempraktikkan agamamu disana.

Aku juga ingin mengingatkan kepadamu bahwa ketika kamu mulai berpikir untuk ber-hijrah, kamu akan menemukan berbagai macam rintangan. Kamu akan merasa takut, dan Kamu akan merasa khawatir terkait bagaimana segala sesuatu akan berjalan nantinya. Kamu harus mengerti bahwa kebanyakan dari rintangan ini hanya ada didalam kepalamu dan itu adalah pekerjaan setan. Ketika Kamu mengmbil langkah untuk pertama kalinya, Allah yang akan mengurus sisanya.

Dan untuk mereka yang tidak dapat ber-hijrah, aku nasihatkan kepadamu untuk menyerang salibis dan sekutu-sekutu mereka dimanapun Kamu berada, karena itu adalah hal yang dapat Kamu lakukan. Jangan tertipu oleh “ulama-ulama” murtadd. Kebenaran ada diluar sana dan tidaklah sulit untuk menemukannya selama kamu membuka hatimu untuk menerimanya.

Terakhir, aku ingin menasihati orang-orang kristen di Finlandia dan dimanapun kalian berada:

Berapa banyak diantara kalian yang tidak mempraktikkan agamanya karena kalian tahu bahwa itu bukanlah agama yang benar. Kalian berkata bahwa kalian hanya perlu meyakini Yesus dan kalian akan masuk surga. Namun bagaimana mungkin hal tersebut masuk akal ketika seseorang mati untuk menebus dosamu dan Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka atau apapun yang terlintas dalam pikiranmu untuk hidup tanpa hukum dan aturan lalu berharap untuk dimasukkan ke surga? Itu sungguh tidak masuk akal.

Aku nasihatkan kepadamu untuk bisa membuka hatimu dan mencari tahu tentang Islam. Jangan percaya dengan apa yang di katakan media tentangnya. Kembalikanlah kepada terjemahan al-Qur’an dan ambilah pelajaran dari sana. Apapun cobaan yang mungkin kalian hadapi pada jalan itu akan seimbang dengan apa yang kamu dapatkan.

Pada akhirnya, Kamu akan sangat bahagia karena berhasil menemukan kebenaran, karena apapun yang kamu peroleh setelah memeluk Islam adalah lebih baik daripada pengorbananmu atau apapun yang mungkin hilang darimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar