Selasa, 24 April 2018

DARI HIJRAH MENUJU KHILAFAH

DABIQ 1 - FEATURE

DARI HIJRAH MENUJU KHILAFAH

Tujuan pembentukan Khilafah selalu menjadi tujuan yang memenuhi hati para mujahidin sejak kebangkitan jihad abad ini. Ia selalu menjadi harapan para mujahidin yang pasti akan diraih, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berjanji kepada mereka akan hal itu.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Akan ada Masa Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, hingga Dia akan menghapusnya ketika Dia berkehendak. Setelah itu akan ada Masa Kekhilafahan di Atas Manhaj Kenabian yang akan berlangsung selama yang Allah kehendaki, lalu Allah akan menghapusnya jika Dia berkehendak. Setelah itu akan datang Masa Raja-raja yang Menggigit selama masa yang Allah kehendaki, lalu Allah akan menghapusnya jika Dia berkehendak. Lalu muncullah Masa Raja-raja yang Memaksa (Tiran) yang akan berlangsung selama yang Allah kehendaki, lalu Allah menghapusnya jika Dia berkehendak. Kemudian akan muncul Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah (Kekhilafahan di Atas Manhaj Kenabian)" setelah itu beliau diam.” (HR. Ahmad).

Juga diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, "Akan ada masa Kenabian dan rahmat, kemudian Khilafah dan rahmat, kemudian kerajaan yang menggigit, kemudian kerajaan tirani, kemudian thawaghit." (As-Sunan Waridatu fil Fitan, Abu 'Amr ad-Dani).

Namun, pertanyaan yang menyibukkan para mujahidin adalah bagaimana cara mereka untuk meraih tujuan ini?

Selama jihad di Afghanistan melawan komunis, banyak para muhajirin yang menemukan diri mereka berperang persis seperti perang mereka di Syam saat ini. Berbagai pihak dengan latar belakang berbeda bersatu memerangi “musuh bersama”, tanpa menghiraukan semua hal yang bisa membedakan mereka satu sama lain, bahkan semua hal yang bisa menghambat pembentukan Khilafah. Faktor terbesar yang menghambat (penegakkan Khilafah) adalah sikap nasionalisme yang mencemari banyak kelompok dan pihak di Afghanistan, di samping perubahan serius yang menghancurkan keyakinan dan kesehatan pada tubuh jama'ah Muslim yang diperlukan untuk menghidupkan kembali Khilafah.

Allah Azza wa Jalla selalu memberkahi jihad, dan banyak dari pemimpin dan pasukan (dari jihad Afghan, pent) yang kelak akan menjadi jembatan di mana jihad akan berjalan di atasnya menuju Kekhilafahan yang dinanti-nanti. Salah satu jembatan yang penting ini adalah sang Mujaddid (pembaharu) Abu Mush'ab Az-Zarqawi rahimahullah.

Belajar dari berbagai pelajaran yang diperoleh dari Afghanistan dan di tempat lain, ia tahu bahwa Khilafah tidak dapat dibentuk kecuali melalui jama'ah yang dikumpulkan oleh al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, yang bersih dari sikap ekstrem Murji'ah dan Khawarij. Tujuan terpenting jama'ah ini adalah untuk menghidupkan kembali tauhid terutama dalam masalah yang banyak diabaikan dan ditinggalkan oleh gerakan-gerakan “islam”, yaitu masalah yang berhubungan dengan al-wala’ wal bara’, hukum, dan tasyri ' (legislasi).

Jama'ah akan menggunakan kewajiban jihad sebagai alat fundamental untuk perubahan dan melaksanakan perintah Allah: “Dan perangilah mereka hingga tidak ada fitnah dan (hingga) agama itu hanya untuk Allah.” (Al-Anfal: 39).

Jihad ini akan dibangun di atas hijrah, bai'at, as-sam'u (mendengarkan), ath-tha’ah (ketaatan), dan i'dad (pelatihan), yang mengarah kepada ribath dan qital (pertempuran), kemudian Khilafah atau kesyahidan.

Hijrah telah menjadi pilar tak terpisahkan dari jihad, khususnya dalam era kekosongan Darul Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Hijrah tidak akan berhenti selama masih ada jihad." (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda, "Hijrah tidak akan berhenti selama orang-orang kafir masih berperang." (HR. An-Nasa'i).

Karena hampir tidak ada tempat berlindung yang aman di bumi yang tersisa untuk para mujahidin, maka lahan ideal untuk hijrah adalah tempat di mana mereka bisa beroperasi tanpa ancaman dari negara polisi yang kuat. Dalam kasus Abu Mush’ab, ia memilih Afghanistan dan kemudian Kurdistan sebagai dasar untuk membentuk Jama’ah Tauhid wal Jihad.

Alhamdulillah, sekarang ada banyak tempat dengan kondisi yang mendukung jihad, seperti Yaman, Mali, Somalia, Semenanjung Sinai, Waziristan, Libya, Chechnya, dan Nigeria, serta beberapa bagian dari Tunisia, Aljazair, Indonesia, dan Filipina. Syaikh Abu Mush'ab rahimahullah menerapkan strategi dan taktik jitu untuk mencapai tujuan Khilafah tanpa keraguan.

Ringkasnya, ia berusaha untuk membuat sebanyak mungkin kekacauan dengan cara yang diijinkan oleh Syariah, menggunakan serangan yang sering disebut “Operasi Nikayah" yang tujuan utamanya menyebabkan kematian musuh, cedera, dan kerusakan. Dengan kekacauan, ia bermaksud untuk mencegah rezim thaghut untuk mengembalikan stabilitas seperti semula, stabilitas yang memungkinkan mereka untuk mencapai status quo mirip dengan yang terjadi di negeri-negeri muslim yang dikuasai selama puluhan tahun oleh para thaghut. Seperti status quo –yang terdiri dari badan intelijen dan keamanan yang kuat– yang memungkinkan para thaghut untuk menghancurkan setiap gerakan Islam yang mencoba, walau hanya sedikit, untuk mengangkat kepala dan membisikkan keyakinannya.

Untuk menghasilkan kekacauan maksimal, Syaikh Abu Mush’ab menggunakan senjata paling efektif yang ada di gudang para mujahidin: bom mobil, IED, dan bom istisyhad. Dia akan memerintahkan untuk melaksanakan operasi nikayah puluhan kali dalam puluhan lokasi setiap hari, menargetkan dan membunuh terkadang hingga ratusan orang murtad dari pasukan polisi dan orang Rafidhah.

Selain itu, ia mencoba untuk memaksa setiap kelompok murtad yang ada di Iraq untuk keluar, perang terbuka dengan Ahlussunnah. Jadi dia targetkan pasukan murtad Iraq (tentara, polisi, dan intelijen), orang-orang Rafidhah (di pasar Syiah, kuil, dan pasukan milisi), dan orang-orang Kurdi sekuler (pengikut Barzani dan Talabani).

Dalam pidatonya yang berjudul "Hadza Bayanu lin-Nasi wa li Yundharu Bih" (Ini adalah Deklarasi untuk Manusia dan Agar Mereka Mendapat Peringatan dengannya), bahkan ia mengancam perang pada setiap suku Sunni, partai, atau anggota yang mendukung pasukan salib. Juga ketika beberapa kelompok yang disebut "Islamis" rela masuk ke dalam proses politik demokrasi –mereka mengabaikan syirik besar di dalamnya–, maka ia secara resmi menyatakan perang atas mereka dalam pidatonya yang berjudul "Wa li Tastabina Sabilul-Mujrimin" (Dan Supaya Jelas Jalan Orang-orang Pendosa).

Jadi, dengan menggunakan metode yang bisa menyebabkan kekacauan maksimal ini, yang menargetkan orang-orang murtad dari semua latar belakang yang berbeda, mujahidin mampu menjaga Iraq dalam kondisi tidak stabil dan perang terus menerus, mereka tidak pernah membiarkan semua kelompok murtad untuk menikmati rasa aman walau sekejap. Mereka setiap hari melaksanakan operasi terhadap pasukan salib di Iraq yang tujuan utamanya adalah untuk mendirikan sebuah rezim boneka murtad yang setia kepada mereka.

Jelas, operasi para mujahidin tidak pernah menargetkan tempat umum Sunni dan tempat pertemuan mereka –jauh berbeda dengan klaim dari tentara salib dan media murtad. Kejahatan yang dilakukan oleh para milisi Rafidhah yang membalas dendam terhadap Ahlus Sunnah, dan oleh tentara bayaran pasukan Salib yang mencoba menodai citra para mujahidin sebenarnya.

Syaikh Abu Mush’ab telah merencanakan untuk melakukan serangan selanjutnya yang lebih kompleks dengan skala yang lebih besar, yang terkadang disebut sebagai “Operasi Tamkin”, yang bertujuan membuka jalan untuk menguasai sebuah wilayah. Semua ini menyebabkan runtuhnya secara bertahap otoritas tentara salib di daerah yang dikenal sebagai "Segitiga Sunni".

Dengan cepat Keruntuhan ini diikuti oleh mujahidin untuk segera memasuki kekosongan yang ditinggalkan, mengumumkan dan menetapkan Daulah Islam Iraq di bawah kepemimpinan Amirul Mu'minin Abu Umar al-Husaini al-Baghdadi rahimahullah –sebuah kejadian monumental dalam sejarah umat. Ini adalah negara pertama di “era modern" yang diatur secara eksklusif oleh para mujahidin di jantung dunia Islam, hanya selemparan batu dari Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis.

Singkatnya, fase ini terdiri dari hijrah ke negeri dengan otoritas pusat yang lemah untuk digunakan sebagai basis di mana jama'ah dapat dibentuk, merekrut anggota, dan melatih mereka. (Jika lahan tersebut tidak ada atau hijrah tidak mungkin, lahan ini dapat dibentuk melalui kampanye panjang serangan nikayah yang dilakukan oleh sel-sel mujahid bawah tanah. Serangan ini akan memaksa pasukan murtad sedikit demi sedikit menarik diri dari wilayah pedesaan dan berkumpul kembali di daerah-daerah perkotaan).

Jama'ah kemudian akan mengambil keuntungan dari situasi ini dengan meningkatkan kekacauan ke titik yang mengarah kepada runtuhnya rezim thaghut secara total di seluruh daerah, situasi ini terkadang disebut sebagai "tawahhush" ("kekacauan").

Langkah selanjutnya adalah mengisi kekosongan dengan mengelola urusan negara dan mengembangkannya hingga menjadi Negara seutuhnya, dan selanjutnya melakukan ekspansi ke wilayah yang masih di bawah kendali taghut tersebut. Ini selalu menjadi peta perjalanan mujahidin menuju Khilafah.

Sayangnya, mereka sekarang ditentang oleh pemimpin kelompok jihad terkenal yang sekarang menjadi beku dalam tahap serangan nikayah, hampir-hampir mempertimbangkan pencapaian kekuatan menjadi hal tabu atau merusak. Dan bukannya mempercayakan urusan umat kepada para mujahidin yang shaleh, pemimpin kelompok ini bersikeras agar meninggalkan masalah ini untuk diperebutkan sehingga setiap munafik dapat meregangkan tangannya dan meraih kepemimpinan umat hanya untuk menghancurkannya. Wallahu Musta'an.

Apa yang membuat keadaan menjadi lebih buruk adalah bahwa pemimpin baru kelompok ini mengambil keuntungan dari kesyahidan pemimpin lama, sampai sekarang ditekan untuk mulai menyebarkan sebuah manhaj menyimpang. Salah satunya, mereka yang dianggap thaghut –seperti Mursi dan Haniyeh– pada akhirnya menjadi harapan baru bagi Ummat.

Singkatnya, kelompok ini menyerahkan pilihan kepada popularitas dan rasio daripada menyenangkan Allah dan bertawakkal kepada-Nya saja. Mereka menjadi malu mengakui dasar syariat yang tak terbantahkan, seperti takfir kepada mereka yang jelas-jelas thaghut dan orang-orang murtad. Ketika Daulah Islam Iraq diumumkan –setelah melalui fase perang– hal ini memberikan efek terungkapnya semua pengaku jihad di Iraq, membelah mereka ke dalam dua kubu.

Setiap kelompok dan individu yang memiliki iman dan ikhlas segera berbai’at (berjanji setia) kepada Amir Daulah Islam, karena mereka tidak pernah mengambil langkah ke arah jihad kecuali membentuk Daulah Islam sebagai tujuan utama mereka. Mereka yang menolak negara yang baru lahir ini terjadi karena dua alasan:
1. Manhaj yang menyimpang, dan
2. Ambisi buruk untuk meraih ketenaran, kekayaan, dan kekuasaan.

Akibatnya, deklarasi ini menyebabkan beberapa penyimpangan yang tersembunyi muncul ke permukaan. Keburukan yang disembunyikan agar tidak terlihat akhirnya terkuak juga. Beberapa dari mereka membawa keburukan yang ada di dalam hati mereka dengan dengan dengan cepat mengizinkan rasa bangga dan iri menguasai mereka, mendorong mereka untuk masuk ke dalam aliansi, baik yang tersembunyi atau terbuka, bersama tentara salib, rezim murtad baru, dan thaghut Negara tetangga, menghadapi Negara Islam yang baru lahir, sehingga membentuk gerakan "Shahwah" ("Kebangkitan", Shahawat), sebuah istilah yang diciptakan oleh pion Amerika untuk mempercantik kemurtaddan dan pengkhianatan mereka.

Shahwah menerima keuangan, politik, dan "syaikh" pendukung dari Alu Su'ud, Ikhwan, dan bahkan Amerika. Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menguji mujahidin sebagaimana dahulu Dia telah menguji hamba-Nya di Makkah (sebelum Hijrah), Uhud (ketika pasukan pemanah tidak taat dan meninggalkan pos mereka), Hunain (ketika orang-orang yang baru masuk Islam kagum dengan mereka jumlah mereka), dan Jazirah Arab (selama perang terhadap kaum murtad).

Ini adalah cobaan yang diberikan Allah ‘Azza wa Jalla supaya Dia melihat para mujahidin yang sabar dan mengusir orang-orang yang berhati lemah dari barisan mereka, dan dengan demikian memperkuat Daulah Islam yang baru lahir untuk mempersiapkan tanggung jawab yang lebih besar. Sebagaimana Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Satu kekuasaan tidak akan bersatu kecuali setelah berhasil mengatasi kesusahan."

Selama periode ini, Daulah Islam sebagian besar terpaksa untuk mundur ke daerah-daerah gurun al-Anbar, di mana tentaranya kembali digabungkan, direncanakan, dan dilatih. Dari padang gurun, mereka terus melakukan serangan terhadap tentara salib dan pengkhianat murtad, serangan ini terkoordinasi dengan operasi yang dilaksanakan oleh unit bawah tanah di daerah perkotaan.

Dan ketika Amirul Mu'minin Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah memperoleh syahadah bersama Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah, Daulah Islam tidak goyah, bahkan kepemimpinan (qiyadah) secara bulat membai’at Amirul Mu'minin Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah, terus berjalan menuju sebuah kekhilafahan yang menyatukan umat.

Kemudian peristiwa Syam mulai terjadi dan Daulah Islam segera melibatkan diri, menjawab tangisan kaum muslimin yang lemah dan tertindas dengan mengirimkan misi dari Iraq untuk mengaktifkan unitnya di Syam dan kemudian membuat pengumuman ekspansi resmi. Sekali lagi, rasa bangga, iri hati, nasionalisme (ashabiyah), dan perubahan (manhaj) menyebabkan peristiwa serupa dengan Iraq. Neo Shahawat dibentuk dengan sumber keuangan, politik, dan "syaikh" dukungan yang sama persis (seperti di Iraq). Mereka mengulangi kesalahan para pendahulu mereka di Iraq dan memutuskan untuk masuk ke dalam perang terhadap Daulah Islam, tapi di sini Allah ‘Azza wa Jalla memberkahi para mujahidin dengan cara yang unik di tanah Syam, sehingga pengkhianatan Shahwah cepat tersingkap dan dihancurkan.

Kemudian, berkat rahmat Allah, mujahidin mendapatkan kontrol atas wilayah yang lebih besar daripada banyak negara yang mengklaim "legalitas" hari ini, lahan yang dulunya dalam sejarah di bawah kendali Dinasti Umayah dari Syam dan Dinasti Abbasiyah dari Iraq. Setelah itu, harapan akan Khilafah menjadi kenyataan tak terbantahkan, yang tidak memberi ruang bagi siapa pun, dengan alasan apapun untuk melawan kewenangan imam kecuali akan ditangani oleh hukum yang ditentukan Allah.

Kemenangan di Nainawa, al-Anbar, Shalahuddin, al-Khair, al-Barakah, dan tempat lain, semua membantu deklarasi yang dibuat oleh Daulah Islam pada awal Ramadhan 1435H, di mana Khilafah secara resmi diumumkan.

Kondisi baru ini membuka jalan untuk menyatukan secara utuh semua masyarakat Muslim dan Negara-negara dibawah otoritas tunggal Khalifah. Hal ini juga menekankan perlunya untuk mematuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perintahnya, "Barangsiapa datang kepada kalian saat kalian bersatu di belakang satu orang, dan bermaksud untuk memisahkan persaudaraan atau mengganggu persatuan kalian, maka bunuhlah dia". (Shahih Muslim).

Kewajiban itu sekarang lebih jelas daripada sebelumnya, bagi semua umat Islam untuk meningkatkan suara dan janji setia mereka kepada Imamul Muslimin dan Amirul Mu'minin –Khalifah– Abu Bakar al-Husaini al-Baghdadi (semoga Allah meninggikan pasukannya dan mempermalukan musuh-musuhnya).

Semoga Allah melindungi Daulah Khilafah ini dan terus membimbingnya sampai pasukannya melawan tentara salib yang akan berkumpul di dekat Dabiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar