DABIQ 1 - ARTIKEL
KONSEP IMAMAH (KEPEMIMPINAN) BERASAL DARI MILLAH IBRAHIM
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Amma ba’du.
Abdullah bin 'Amr radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya iman itu akan usang di dalam hati kalian sebagaimana pakaian kalian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui iman kalian." (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dia mengatakan bahwa sanad haditsnya hasan).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (An-Nahl : 92)
Dalam menjelaskan ayat ini, para ulama tafsir menyatakan, "Ini adalah tentang seorang wanita bodoh di Makkah. Setiap kali dia memintal beberapa benang dan membuatnya kuat, dia akan melepaskannya lagi."
Sesungguhnya Millah Ibrahim ‘alaihis salam telah benar-benar kembali muncul dalam jiwa para pemuda muslim muwahhid, mereka meyakininya, mencintainya, menyatakannya secara terang-terangan, dan menjalankan sesuai syarat-syaratnya. Para pemuda muwahhid ini tidak lain hanya mengikuti orang-orang yang telah mendahului mereka dalam iman, dari kalangan para ulama yang ilmu dan praktik agamanya dapat dipercaya.
Dengan demikian, para ulama ini membimbing mereka dengan dalil syar'i, kepada hakekat millah yang agung ini, dan menulis sejumlah karya yang mencantumkan namanya, berusaha keras menjelaskan kewajiban untuk mengikutinya dan menyeru orang lain kepadanya. Hingga hal ini mencapai titik di mana gema millah yang agung ini bergaung di antara pemuda muwahhidin di hampir setiap sudut dunia, termasuk Negara-negara Eropa.
Banyak pemuda ini mulai mengajak orang lain untuknya, dan menjadikan hal ini motto mereka, berbicara tentang hal itu dan menjelaskan maknanya dalam masjid-masjid, Islamic center, dan tempat- tempat umum. Beberapa bahkan mengungkapkan cinta mereka terhadap millah ini dengan menyanyikan nasyid-nasyid Islam dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa Eropa lainnya.
Rahasia di balik semua ini –dan Allah yang lebih tahu– adalah bahwa millah ini mampu memuaskan rasa haus dalam jiwa para pemuda ini dan mengembalikan kepercayaan dalam agama dan keyakinan mereka, terutama berkenaan dengan masalah berlepas diri dari orang-orang kafir dan musyrik (baraa’).
Hal ini berbeda dengan mereka yang begitu lama memilih membungkuk dan bersujud patuh terhadap kaum musyirikin, dan kini mereka mulai mencegah orang-orang yang secara terbuka memperlihatkan agama mereka (izharuddien) di tengah-tengah masyarakat yang berseberangan dengan mereka, dengan dalih bahwa ini adalah demi perdamaian global yang diserukan PBB dan oleh wahyu agama –beginilah mereka berdusta.
Kemudian setelah itu, sejak waktu yang lama, millah ini telah menderita di dalam jiwa-jiwa para pendukungnya, oleh hal yang sama yang menimpa iman dalam hati manusia, dan mulai menjadi compang-camping dan usang sebagaimana pakaian menjadi compang-camping dan usang. Hal ini bahkan sampai terjadi pada individu-individu yang telah menenun “benang” ini, memperkuatnya, menulis tentangnya, dan menyatakan hal ini dengan terang-terangan, kini berusaha untuk membatalkannya (mengurainya) dengan tangan mereka sendiri seperti wanita Makkah yang bodoh itu.
Jadi menjadi tugas kita untuk menghidupkan kembali karakteristik millah ini yang mulai membusuk dalam jiwa manusia, dan mencoba untuk menyadarkan orang-orang yang berusaha mengurai kembali pintalan mereka yang telah mereka tenun dengan kuat. Semua ini, dengan harapan semoga Allah akan menerima taubat mereka dan semoga mereka kembali lagi kepada petunjuk yang dahulu mereka di atasnya, mendukung kebenaran dan mengikuti millah ini.
CONTOH DALIL YANG MENUNJUKKAN KATA IMAMAH BERMAKNA IMAMAH POLITIK
Abdullah bin Umar radiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipimpinnya, imam adalah seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggung-jawaban atas rakyatnya”. (HR Al-Bukhari)
Dalam bagian dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:, "Berpegang teguhlah pada jama'ah kaum muslimin dan imam mereka." Aku berkata, "Dan jika mereka tidak memiliki jama'ah atau imam?" Beliau bersabda, "Jauhilah olehmu semua kelompok itu, walaupun dengan menggigit akar pohon dan kematian datang menjemputmu dan engkau dalam kondisi seperti itu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Qays ibnu Hazim meriwayatkan, bahwa Abu Bakar radhiyallahu anhu menemui seorang wanita dari suku Ahmas bernama Zainab dan melihat bahwa dia tidak berbicara kepada siapa pun. Beliau bertanya, "Mengapa dia tidak mau berbicara?" Mereka berkata, "Dia bersumpah untuk melaksanakan haji tanpa berbicara dengan siapa pun."
Beliau berkata kepadanya, "Berbicaralah, sebab hal ini tidak diperbolehkan. Ini termasuk perbuatan jahiliyah." Wanita itupun mulai berbicara, dan bertanya kepadanya: "Siapakah engkau?" Dijawab, "Seorang laki-laki dari muhajirin." Dia bertanya, "Muhajirin yang mana?" Beliau menjawab, "Quraisy". Dia bertanya, "Quraisy cabang yang mana Anda berasal?" Beliau pun menjawab, "Kau terlalu banyak bertanya. Aku adalah Abu Bakar."
Dia bertanya "Berapa lama kita akan tetap dalam kondisi baik ini, yang telah Allah anugerahkan, setelah kita sebelumnya berada di masa jahiliyah?” Abu Bakar menjawab," Kau akan tetap seperti ini selama imam-imam kalian memperlakukan kalian dengan adil." Wanita itu bertanya, "Dan apa maksud imam-imam itu?" Beliau menjawab, "Bukankah orang-orangmu memiliki pemimpin dan pembesar yang perintahnya mereka taati?" Wanita itu berkata, "Ya". Abu Bakar berkata, "Mereka itulah imam-imam mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Di antara bukti yang digunakan untuk menyatakan bahwa imamah yang dimaksud dalam ayat di atas (al-Baqarah: 124) adalah imamah dalam politik, yaitu bahwa para ulama tafsir menggunakan ayat ini sebagai dasar ketika menjelaskan sifat terpenting dari sifat-sifat al-imamah al-kubra (kepemimpinan terbesar, yaitu Khilafah Islam). Sifat itu adalah al-‘adalah (keadilan).
Ketika Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kedudukan mulia ini, yakni berupa imamah, beliau mengerti keagungan dalam nikmat ini, sehingga ia segera meminta untuknya juga untuk keturunannya: (Dia (Ibrahim) memohon, 'Dan juga (pemimpin) dari keturunanku?’)
Hanya saja Allah memberitahukan syarat utama yang harus dipenuhi oleh siapa pun yang menginginkan posisi ini setelah dia: ((Allah) berfirman, 'Perjanjian-Ku tidak termasuk orang-orang yang zhalim.')
Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Sejumlah ulama menggunakan ayat ini sebagai bukti bahwa imam haruslah seorang yang adil, berperilaku yang baik dan bijak, serta memiliki kekuatan untuk menjalankan perannya. Dan imam yang seperti inilah yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umat Islam untuk tidak memberontak terhadapnya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Adapun pendosa, tidak adil, dan bermoral tiran, maka individu seperti ini tidak memenuhi syarat untuk posisi ini, menurut kesimpulan dari pernyataan Allah, (Perjanjian-Ku tidak termasuk orang-orang yang zhalim).
Atas alasan inilah Ibnu Az-Zubair dan Al-Husain bin Ali memberontak. Demikian juga, orang terbaik dari rakyat Iraq dan ulama mereka memberontak melawan Al-Hajjaj, dan orang-orang Madinah mengusir suku Bani Umayah dari Madinah dan kemudian memberontak melawan mereka (Penguasa Umayah), sehingga (terjadi pembantaian) Al-Harrah yang dilakukan oleh Muslim bin ‘Uqbah atas mereka." (Ahkamul Qur'an, 2: 108)
Maka kami mengambil dalil dari qaul (perkataan) ini, atas kebenaran pendapat yang kami pilih bahwa lafazh imamah mencakup dua makna, yaitu imamah dalam agama dan politik, dan keduanya memiliki syarat yang sama.
Catatan: Al-Qurthubi kemudian melanjutkan dengan mengatakan, "Mayoritas ulama mengmbil pendapat bahwa bersabar terhadap penguasa yang menindas lebih baik daripada memberontak melawannya, karena memberontak akan merubah rasa aman menjadi rasa takut, menyebabkan pertumpahan darah, melepaskan tangan-tangan bodoh (untuk merugikan/berbuat kerusakan), memungkinkan terjadinya serangan yang akan dilakukan terhadap Muslim, dan menyebarnya korupsi di muka bumi. Pendapat pertama (membolehkan pemberontakan) adalah pemikiran dari kelompok Mu'tazilah dan pendapat kaum Khawarij, jadi berhati-hatilah." (Selesai kutipan)
Pemberontakan melawan penguasa Muslim yang zhalim juga berlawanan dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat jelas. Oleh karena itu, banyak ayat menunjukkan larangan awal memilih seorang Pemimpin Muslim yang zhalim, tetapi tidak mengizinkan pemberontakan terhadap dirinya setelah dia mencapai kekuasaan.
KONSEP IMAMAH BERASAL DARI MILLAH IBRAHIM
Di antara simbol dari millah yang agung ini, yang telah mulai memudar dari dalam jiwa-jiwa kebanyakan orang dan dipandang tidak lebih dari sekedar khayalan, adalah gagasan bahwa Umat Muslim (secara kenegaraan) harus berusaha untuk bersatu di belakang satu imam (pemimpin), berjuang di bawah panji- panjinya dan mendukungnya untuk menjaga tanah agama ini dan menerapkan syariat Allah Rabb semesta alam.
Hal ini, pada kenyataannya, merupakan hasil dari sekulerisme yang telah meresapi pikiran manusia di zaman kita, memisahkan antara agama dan negara, antara syariat dan pemerintah, dan memperlakukan Al-Qur’an tidak lebih dari sekedar buku nyanyian dan bacaan daripada buku pemerintahan, undang- undang, dan penegakan hukum. Lingkungan seperti ini memiliki efek bagi para da’i, di mana mereka mulai terus-menerus meyakinkan orang-orang tidak adanya keinginan dari para da’i yang tulus akan kekuasan dan legalitas.
Dan seolah salah satu dari mereka telah rela bagi diri mereka, perlakuan menjadi da’i yang terkurung dalam penjara thaghut, selama salah satu dari mereka mengkafirkan thaghut dan mengkafirkan mereka yang berperang di jalannya. Dia lebih memilih peran ini daripada hidup bebas di bawah naungan seorang imam Muslim, menyeru orang lain kepadanya, dan membantu untuk memperkuat posisinya.
Du'at ini tidak bisa memahami gagasan bahwa Islam bisa memiliki negara dan seorang imam, mereka juga tidak bisa mulai memahami apa harga yang harus kita bayar untuk mencapai hal ini. Seolah-olah mereka tidak pernah belajar sejarah Islam dan belajar bahwa usaha ini akan membutuhkan kita dalam hal darah. Seolah mereka tidak menyadari bahwa yang telah mencurahkan darahnya demi alasan ini adalah sebuah kaum yang bersaksi akan Laa Ilaha Illallah.
Akan tetapi, mereka tidak lain adalah bughot (pemberontak) yang halal untuk diperangi, lantaran mereka menolak untuk memberikan bai’at ke imam ini atau itu. Bahkan seandainya imam itu –setelah dia ditunjuk– membiarkan mereka di atas pemberontakan dan pemisahan mereka, maka imam itu telah berdosa dan tidak dianggap berbuat baik kepada rakyatnya kaum muslimin.
Allah Ta’ala telah mengaruniakan kepada kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihis salam imamah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin (imam) bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.” (al-Baqarah: 124).
Allah menjadikan balasan atas sikap Ibrahim yang telah menyempurnakan kalimat-Nya yang diujikan kepadanya, Dia mengaruniakan kepadanya kedudukan imamah, memuliakannya. Dan imamah ini, yang tersebut dalam ayat di atas, tidaklah bermaksud hanya imamah dalam agama saja. Sebagaimana nanti akan dijelaskan oleh banyak ahli tafsir.
Namun imamah di sini juga mencakup imamah dalam politik, yang kebanyakan ahli agama menjauhinya, membencinya karena akan membuat hati terpaut atasnya, dan juga membenci jalan untuk meraihnya. Orang-orang hari ini tidak memahami, bahwa imamah yang hakiki di dalam agama, tidak akan diraih kecuali jika para pengemban kebanaran itu berhasil meraih imamah di dalam politik secara total, atas Negara dan warga.
Adapun jika ada seorang individu dari umat ini berusaha untuk menikmati sedikit kebebasan dalam dakwah dan khotbah di bawah pemerintahan thaghut, atau mencari perlindungan dari mereka untuk tujuan menyampaikan dakwahnya, maka dia hanya melompat keluar dari penggorengan menuju ke dalam api. Juga seperti orang yang haus dan melihat fatamorgana yang dia kira air, namun ketika dia akan mengambilnya dengan tangan, dia tidak mendapati apa-apa.
Adapun yang mendorong kita untuk berpendapat bahwa lafazh imamah yang dikaruniakan kepada Nabi Ibrahim dalam ayat di atas adalah mencakup dua makna, karena tidak diragukan bahwa istilah bahasa dan syariat telah mencakup makna keduanya. Dan mengambil banyak makna dalam satu kata selama tidak terdapat kontradiksi di dalamnya merupakan madzhab paling selamat dalam hal seperti ini, tidak diragukan lagi.
PERINTAH ALLAH KEPADA IBRAHIM
Ayat yang mulia di atas (Al-Baqarah : 124, pent), telah menjelaskan tentang bentuk ‘penyempunaan kalimat’ yang merupakan sebab langsung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam meraih posisi imamah, sehingga sangatlah baik jika kalimat yang sama ini, menjadi sebab bagi keturunannya untuk meraih posisi mulia ini.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah Ta’ala ((Dengan kalimat-kalimat)) maknanya adalah dengan syariat-syariat, perintah-perintah dan larangan-larangan, maka kata ‘kalimat’ jika digunakan terkadang maknanya adalah takdir, seperti firman Allah kepada Maryam alaihassalam, ((dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya: dan dia termasuk orang-orang yang taat)) (At-Tahrim: 12). Dan terkadang juga bermakna syariat, seperti firman Allah Ta’ala: ((Dan telah sempurna kalimat-kalimat Rabbmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-Nya)) (Al-An’am : 115) yakni syari’at-Nya, baik itu berupa kabar yang benar, atau tuntutan keadilan jika dia berupa perintah atau larangan. Dan termasuk dalam hal ini adalah ayat mulia ini ((Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna)) maksudnya mengerjakannya. Allah berfirman ((Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia)) yakni sebagai balasan atas apa yang telah beliau lakukan. Sebagaimana beliau telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sehingga Allah menjadikan beliau sebagai teladan dan imam yang diteladani dan diikuti jejak langkahnya.” (At-Tafsir 1 : 405).
Dan di antara tafsiran kata ‘kalimat’ apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhu: “Kalimat yang dengannya Allah menguji Ibrahim lalu beliau menyempurnakannya adalah berpisah dengan kaumnya –di jalan Allah– ketika dia diperintah untuk meninggalkan mereka, dan perdebatannya dengan Namrudz –karena Allah– lantaran sikapnya kepadanya yang melawannya yang dia membantahnya, kemudian kesabarannya ketika beliau dilemparkan ke dalam api –karena Allah– atas kemarahan mereka, dan hijrahnya dari negeri-nya setelah itu –karena Allah– ketika beliau diperintahkan untuk keluar meninggalkan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 1)
DAULAH ISLAMIYAH, IMAMAH SESUNGGUHNYA
Dari pembahasan sebelumnya, kita ketahui bahwa Daulah Islamiyah di Iraq dan Syam merupakan yang paling layak –dengan pertolongan Allah– untuk mendapatkan kedudukan imamah secara penuh di tempat mereka berada. Yang demikian karena Daulah telah melaksanakan perintah Allah –semampu yang dia lakukan– dengan sebaik-baiknya. Mereka menjalankan agama di tempat mereka berkuasa dan terus berusaha sekuat mungkin.
Itu semua setelah Allah mengaruniakan kepada pemimpinnya dengan jihad dan hijrah di jalan-Nya, di samping atas kemulian nasabnya yang menonjol dan ketajaman akal, serta kedudukan yang tinggi dalam ilmu dan agama. Maka tidak ada seorang pun, siapa pun dia, yang berhak untuk merobohkan bangunan ini, yang telah bertahun-tahun dibangun dan ditinggikan oleh orang-orang jujur dari umat ini.
Dan janganlah bermimpi seorang pun, walau dia memiliki keutamaan dan jasa, untuk menjinakkan seorang tentara yang ikhlas dari tentara-tentara Daulah Islamiyah, untuk mundur dari misinya demi beralih ke misi lainnya yang penuh syubhat atau yang lainnya. Bahkan amirul mukminin sendiri tidak berhak hari ini, untuk memerintahkan pembubaran Daulah Islamiyah dan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya, (namun yang bisa dilakukan olehnya –menurut salah satu pendapat ulama– ia boleh mengundurkan dirinya sendiri, sehingga ketika itu Ahlul Halli wal Aqdi di Daulah Islamiyah akan menunjuk imam yang baru, dan Daulah Islamiyah tetap eksis).
Allah telah berfirman setelah mengaruniakan kepada Ibrahim ‘alaihis salam dengan imamah: “Dan barangsiapa yang membenci Millah Ibrahim, dia hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang shaleh.” (Al-Baqarah: 130).
Maka kita ketahui dari bentuk ayat di atas bahwa Imamah merupakan bagian dari Millah Ibrahim, dan orang yang membencinya berarti telah membenci bagian dari millah agung ini. Dan millah adalah jalan yang mesti diikuti secara mutlak, jalan yang telah dipilih oleh Allah bagi Ibrahim dan keturunannya dan orang-orang yang setelahnya. Dia adalah jalan imamah dengan dua jenisnya (yakni imamah agama dan politik) bagi siapa yang mampu ke arah sana.
Maka bagi siapa saja dari kalangan ulama yang menyeru atau menulis tentang wajibnya mengikuti Millah Ibrahim, hendaknya tidak membenci imamah pada Daulah Islam hari ini, dan tidak berusaha menghancurkannya atau merusaknya. Dan hendaknya mereka memahami bahwa Daulah Islam hari ini –dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadanya, berupa penaklukan, tamkin dan menegakkan dien– terhitung sebagai imamah yang sebenarnya di Iraq dan Syam, dan orang yang keluar darinya dianggap bughat (pemberontak) yang boleh diperangi setelah ditegakkan hujjah atasnya.
Dan dia akan tetap bersikap seperti ini dengan izin Allah, walau harus menghadapi berbagai ujian yang berat dalam menjalaninya, hingga memecah satu sama lain.
Dari Abdurrahman bin Abdu Rabbul Ka’bah berkata: “Aku memasuki Masjidil Haram, dan ternyata Abdullah bin Amr bin Ash sedang duduk di bawah naungan Ka’bah dan orang-orang berkumpul di sekitarnya, lalu aku mendatangi mereka dan duduk di sisinya, lalu dia berkata: ‘Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu kami singgah di suatu tempat. Lalu di antara kami ada yang memperbaiki tenda, ada yang berlatih memanah dan ada yang mengurus binatang tunggangan, lalu penyeru Rasulullah mengumandangkan seruan untuk shalat berjamaah, kami pun segera berkumpul kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu berliau bersabda:
‘Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku kecuali dia benar-benar telah menunjukkan kepada kaumnya atas kebaikan yang dia ketahui, dan memperingatkan mereka dari keburukan yang dia ketahui. Sedangkan umat kalian ini dijadikan keselamatannya pada pendahulunya, sedangkan orang-orang sesudahnya akan ditimpa bala’ (ujian) dan perkara yang tidak mereka sukai, maka muncullah fitnah sehingga mereka menghina satu sama lain, lalu muncullah fitnah (ujian) sehingga seorang mukmin akan mengatakan ini adalah kebinasaanku, kemudian fitnah itu tersingkap, lalu datanglah fitnah lainnya dan seorang mukmin mengatakan inilah inilah (yang akan membinasakanku).
Maka siapa yang suka untuk dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka hendaknya dia didatangi kematian dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya dia mendatangi orang-orang yang suka untuk didatangi olehnya, dan siapa yang membai’at seorang imam dan dia memberikan sepenuh tangannya dan sepenuh hatinya maka hendaknya dia menaatinya sesuai kemampuannya. Jika datang seseorang yang ingin mencabutnya maka tebaslah leher orang lain tersebut.” (HR. Muslim)
Dan dahulu hadits ini terdengar sangat keras di kalangan salaf, terutama yang berkaitan dengan masalah imamah, dan tentang penjelasan hukum atas siapa yang keluar dari imam-imam kaum muslimin. Perawi hadits mengatakan: “Lalu aku mendekatinya dan berkata, Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah engkau mendengar ini dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Lalu beliau menunjuk dua telinganya dan dadanya sambil berkata: “Aku mendengarnya dengan kedua telingaku dan aku menyimpannya di dalam hatiku”.
Aku berkata: “Ini anak pamanmu, padahal Allah berfirman ((Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara bathil, kecuali karena perdagangan yang kalian lakukan dengan dasar keridhoan. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian)). Dia berkata: ‘Lalu dia diam sejenak, kemudian berkata: ‘Taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah, dan jangan kalian taati dia dalam maksiat kepada Allah’.” (HR. Muslim).
Maka sesungguhnya kami akan selalu menaati imam selama dia memerintahkan kami dalam ketaatan Ar-Rahman, dan jika dia memerintahkan kami dalam kemaksiatan maka kami tidak akan mentaatinya. Sungguh akan kami penggal leher orang yang berusaha mencabutnya dari imamah, siapa pun dia. Dan sungguh kami akan bersabar atas setiap fitnah dalam hal ini semua, karena pertolongan Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Memberi. Maka biarkanlah kami menyukai urusan kami, karena kami akan selalu setia atas bai’at kami, tanpa tawar menawar.
Ya Allah curahkanlah shalawat atas Nabi Muhammad yang memberi kabar gembira dan peringatan, juga atas keluarga dan sahabatnya semua.
KONSEP IMAMAH (KEPEMIMPINAN) BERASAL DARI MILLAH IBRAHIM
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Amma ba’du.
Abdullah bin 'Amr radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya iman itu akan usang di dalam hati kalian sebagaimana pakaian kalian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui iman kalian." (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dia mengatakan bahwa sanad haditsnya hasan).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (An-Nahl : 92)
Dalam menjelaskan ayat ini, para ulama tafsir menyatakan, "Ini adalah tentang seorang wanita bodoh di Makkah. Setiap kali dia memintal beberapa benang dan membuatnya kuat, dia akan melepaskannya lagi."
Sesungguhnya Millah Ibrahim ‘alaihis salam telah benar-benar kembali muncul dalam jiwa para pemuda muslim muwahhid, mereka meyakininya, mencintainya, menyatakannya secara terang-terangan, dan menjalankan sesuai syarat-syaratnya. Para pemuda muwahhid ini tidak lain hanya mengikuti orang-orang yang telah mendahului mereka dalam iman, dari kalangan para ulama yang ilmu dan praktik agamanya dapat dipercaya.
Dengan demikian, para ulama ini membimbing mereka dengan dalil syar'i, kepada hakekat millah yang agung ini, dan menulis sejumlah karya yang mencantumkan namanya, berusaha keras menjelaskan kewajiban untuk mengikutinya dan menyeru orang lain kepadanya. Hingga hal ini mencapai titik di mana gema millah yang agung ini bergaung di antara pemuda muwahhidin di hampir setiap sudut dunia, termasuk Negara-negara Eropa.
Banyak pemuda ini mulai mengajak orang lain untuknya, dan menjadikan hal ini motto mereka, berbicara tentang hal itu dan menjelaskan maknanya dalam masjid-masjid, Islamic center, dan tempat- tempat umum. Beberapa bahkan mengungkapkan cinta mereka terhadap millah ini dengan menyanyikan nasyid-nasyid Islam dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa Eropa lainnya.
Rahasia di balik semua ini –dan Allah yang lebih tahu– adalah bahwa millah ini mampu memuaskan rasa haus dalam jiwa para pemuda ini dan mengembalikan kepercayaan dalam agama dan keyakinan mereka, terutama berkenaan dengan masalah berlepas diri dari orang-orang kafir dan musyrik (baraa’).
Hal ini berbeda dengan mereka yang begitu lama memilih membungkuk dan bersujud patuh terhadap kaum musyirikin, dan kini mereka mulai mencegah orang-orang yang secara terbuka memperlihatkan agama mereka (izharuddien) di tengah-tengah masyarakat yang berseberangan dengan mereka, dengan dalih bahwa ini adalah demi perdamaian global yang diserukan PBB dan oleh wahyu agama –beginilah mereka berdusta.
Kemudian setelah itu, sejak waktu yang lama, millah ini telah menderita di dalam jiwa-jiwa para pendukungnya, oleh hal yang sama yang menimpa iman dalam hati manusia, dan mulai menjadi compang-camping dan usang sebagaimana pakaian menjadi compang-camping dan usang. Hal ini bahkan sampai terjadi pada individu-individu yang telah menenun “benang” ini, memperkuatnya, menulis tentangnya, dan menyatakan hal ini dengan terang-terangan, kini berusaha untuk membatalkannya (mengurainya) dengan tangan mereka sendiri seperti wanita Makkah yang bodoh itu.
Jadi menjadi tugas kita untuk menghidupkan kembali karakteristik millah ini yang mulai membusuk dalam jiwa manusia, dan mencoba untuk menyadarkan orang-orang yang berusaha mengurai kembali pintalan mereka yang telah mereka tenun dengan kuat. Semua ini, dengan harapan semoga Allah akan menerima taubat mereka dan semoga mereka kembali lagi kepada petunjuk yang dahulu mereka di atasnya, mendukung kebenaran dan mengikuti millah ini.
CONTOH DALIL YANG MENUNJUKKAN KATA IMAMAH BERMAKNA IMAMAH POLITIK
Abdullah bin Umar radiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipimpinnya, imam adalah seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggung-jawaban atas rakyatnya”. (HR Al-Bukhari)
Dalam bagian dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:, "Berpegang teguhlah pada jama'ah kaum muslimin dan imam mereka." Aku berkata, "Dan jika mereka tidak memiliki jama'ah atau imam?" Beliau bersabda, "Jauhilah olehmu semua kelompok itu, walaupun dengan menggigit akar pohon dan kematian datang menjemputmu dan engkau dalam kondisi seperti itu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Qays ibnu Hazim meriwayatkan, bahwa Abu Bakar radhiyallahu anhu menemui seorang wanita dari suku Ahmas bernama Zainab dan melihat bahwa dia tidak berbicara kepada siapa pun. Beliau bertanya, "Mengapa dia tidak mau berbicara?" Mereka berkata, "Dia bersumpah untuk melaksanakan haji tanpa berbicara dengan siapa pun."
Beliau berkata kepadanya, "Berbicaralah, sebab hal ini tidak diperbolehkan. Ini termasuk perbuatan jahiliyah." Wanita itupun mulai berbicara, dan bertanya kepadanya: "Siapakah engkau?" Dijawab, "Seorang laki-laki dari muhajirin." Dia bertanya, "Muhajirin yang mana?" Beliau menjawab, "Quraisy". Dia bertanya, "Quraisy cabang yang mana Anda berasal?" Beliau pun menjawab, "Kau terlalu banyak bertanya. Aku adalah Abu Bakar."
Dia bertanya "Berapa lama kita akan tetap dalam kondisi baik ini, yang telah Allah anugerahkan, setelah kita sebelumnya berada di masa jahiliyah?” Abu Bakar menjawab," Kau akan tetap seperti ini selama imam-imam kalian memperlakukan kalian dengan adil." Wanita itu bertanya, "Dan apa maksud imam-imam itu?" Beliau menjawab, "Bukankah orang-orangmu memiliki pemimpin dan pembesar yang perintahnya mereka taati?" Wanita itu berkata, "Ya". Abu Bakar berkata, "Mereka itulah imam-imam mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Di antara bukti yang digunakan untuk menyatakan bahwa imamah yang dimaksud dalam ayat di atas (al-Baqarah: 124) adalah imamah dalam politik, yaitu bahwa para ulama tafsir menggunakan ayat ini sebagai dasar ketika menjelaskan sifat terpenting dari sifat-sifat al-imamah al-kubra (kepemimpinan terbesar, yaitu Khilafah Islam). Sifat itu adalah al-‘adalah (keadilan).
Ketika Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kedudukan mulia ini, yakni berupa imamah, beliau mengerti keagungan dalam nikmat ini, sehingga ia segera meminta untuknya juga untuk keturunannya: (Dia (Ibrahim) memohon, 'Dan juga (pemimpin) dari keturunanku?’)
Hanya saja Allah memberitahukan syarat utama yang harus dipenuhi oleh siapa pun yang menginginkan posisi ini setelah dia: ((Allah) berfirman, 'Perjanjian-Ku tidak termasuk orang-orang yang zhalim.')
Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Sejumlah ulama menggunakan ayat ini sebagai bukti bahwa imam haruslah seorang yang adil, berperilaku yang baik dan bijak, serta memiliki kekuatan untuk menjalankan perannya. Dan imam yang seperti inilah yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umat Islam untuk tidak memberontak terhadapnya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Adapun pendosa, tidak adil, dan bermoral tiran, maka individu seperti ini tidak memenuhi syarat untuk posisi ini, menurut kesimpulan dari pernyataan Allah, (Perjanjian-Ku tidak termasuk orang-orang yang zhalim).
Atas alasan inilah Ibnu Az-Zubair dan Al-Husain bin Ali memberontak. Demikian juga, orang terbaik dari rakyat Iraq dan ulama mereka memberontak melawan Al-Hajjaj, dan orang-orang Madinah mengusir suku Bani Umayah dari Madinah dan kemudian memberontak melawan mereka (Penguasa Umayah), sehingga (terjadi pembantaian) Al-Harrah yang dilakukan oleh Muslim bin ‘Uqbah atas mereka." (Ahkamul Qur'an, 2: 108)
Maka kami mengambil dalil dari qaul (perkataan) ini, atas kebenaran pendapat yang kami pilih bahwa lafazh imamah mencakup dua makna, yaitu imamah dalam agama dan politik, dan keduanya memiliki syarat yang sama.
Catatan: Al-Qurthubi kemudian melanjutkan dengan mengatakan, "Mayoritas ulama mengmbil pendapat bahwa bersabar terhadap penguasa yang menindas lebih baik daripada memberontak melawannya, karena memberontak akan merubah rasa aman menjadi rasa takut, menyebabkan pertumpahan darah, melepaskan tangan-tangan bodoh (untuk merugikan/berbuat kerusakan), memungkinkan terjadinya serangan yang akan dilakukan terhadap Muslim, dan menyebarnya korupsi di muka bumi. Pendapat pertama (membolehkan pemberontakan) adalah pemikiran dari kelompok Mu'tazilah dan pendapat kaum Khawarij, jadi berhati-hatilah." (Selesai kutipan)
Pemberontakan melawan penguasa Muslim yang zhalim juga berlawanan dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat jelas. Oleh karena itu, banyak ayat menunjukkan larangan awal memilih seorang Pemimpin Muslim yang zhalim, tetapi tidak mengizinkan pemberontakan terhadap dirinya setelah dia mencapai kekuasaan.
KONSEP IMAMAH BERASAL DARI MILLAH IBRAHIM
Di antara simbol dari millah yang agung ini, yang telah mulai memudar dari dalam jiwa-jiwa kebanyakan orang dan dipandang tidak lebih dari sekedar khayalan, adalah gagasan bahwa Umat Muslim (secara kenegaraan) harus berusaha untuk bersatu di belakang satu imam (pemimpin), berjuang di bawah panji- panjinya dan mendukungnya untuk menjaga tanah agama ini dan menerapkan syariat Allah Rabb semesta alam.
Hal ini, pada kenyataannya, merupakan hasil dari sekulerisme yang telah meresapi pikiran manusia di zaman kita, memisahkan antara agama dan negara, antara syariat dan pemerintah, dan memperlakukan Al-Qur’an tidak lebih dari sekedar buku nyanyian dan bacaan daripada buku pemerintahan, undang- undang, dan penegakan hukum. Lingkungan seperti ini memiliki efek bagi para da’i, di mana mereka mulai terus-menerus meyakinkan orang-orang tidak adanya keinginan dari para da’i yang tulus akan kekuasan dan legalitas.
Dan seolah salah satu dari mereka telah rela bagi diri mereka, perlakuan menjadi da’i yang terkurung dalam penjara thaghut, selama salah satu dari mereka mengkafirkan thaghut dan mengkafirkan mereka yang berperang di jalannya. Dia lebih memilih peran ini daripada hidup bebas di bawah naungan seorang imam Muslim, menyeru orang lain kepadanya, dan membantu untuk memperkuat posisinya.
Du'at ini tidak bisa memahami gagasan bahwa Islam bisa memiliki negara dan seorang imam, mereka juga tidak bisa mulai memahami apa harga yang harus kita bayar untuk mencapai hal ini. Seolah-olah mereka tidak pernah belajar sejarah Islam dan belajar bahwa usaha ini akan membutuhkan kita dalam hal darah. Seolah mereka tidak menyadari bahwa yang telah mencurahkan darahnya demi alasan ini adalah sebuah kaum yang bersaksi akan Laa Ilaha Illallah.
Akan tetapi, mereka tidak lain adalah bughot (pemberontak) yang halal untuk diperangi, lantaran mereka menolak untuk memberikan bai’at ke imam ini atau itu. Bahkan seandainya imam itu –setelah dia ditunjuk– membiarkan mereka di atas pemberontakan dan pemisahan mereka, maka imam itu telah berdosa dan tidak dianggap berbuat baik kepada rakyatnya kaum muslimin.
Allah Ta’ala telah mengaruniakan kepada kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihis salam imamah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin (imam) bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.” (al-Baqarah: 124).
Allah menjadikan balasan atas sikap Ibrahim yang telah menyempurnakan kalimat-Nya yang diujikan kepadanya, Dia mengaruniakan kepadanya kedudukan imamah, memuliakannya. Dan imamah ini, yang tersebut dalam ayat di atas, tidaklah bermaksud hanya imamah dalam agama saja. Sebagaimana nanti akan dijelaskan oleh banyak ahli tafsir.
Namun imamah di sini juga mencakup imamah dalam politik, yang kebanyakan ahli agama menjauhinya, membencinya karena akan membuat hati terpaut atasnya, dan juga membenci jalan untuk meraihnya. Orang-orang hari ini tidak memahami, bahwa imamah yang hakiki di dalam agama, tidak akan diraih kecuali jika para pengemban kebanaran itu berhasil meraih imamah di dalam politik secara total, atas Negara dan warga.
Adapun jika ada seorang individu dari umat ini berusaha untuk menikmati sedikit kebebasan dalam dakwah dan khotbah di bawah pemerintahan thaghut, atau mencari perlindungan dari mereka untuk tujuan menyampaikan dakwahnya, maka dia hanya melompat keluar dari penggorengan menuju ke dalam api. Juga seperti orang yang haus dan melihat fatamorgana yang dia kira air, namun ketika dia akan mengambilnya dengan tangan, dia tidak mendapati apa-apa.
Adapun yang mendorong kita untuk berpendapat bahwa lafazh imamah yang dikaruniakan kepada Nabi Ibrahim dalam ayat di atas adalah mencakup dua makna, karena tidak diragukan bahwa istilah bahasa dan syariat telah mencakup makna keduanya. Dan mengambil banyak makna dalam satu kata selama tidak terdapat kontradiksi di dalamnya merupakan madzhab paling selamat dalam hal seperti ini, tidak diragukan lagi.
PERINTAH ALLAH KEPADA IBRAHIM
Ayat yang mulia di atas (Al-Baqarah : 124, pent), telah menjelaskan tentang bentuk ‘penyempunaan kalimat’ yang merupakan sebab langsung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam meraih posisi imamah, sehingga sangatlah baik jika kalimat yang sama ini, menjadi sebab bagi keturunannya untuk meraih posisi mulia ini.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah Ta’ala ((Dengan kalimat-kalimat)) maknanya adalah dengan syariat-syariat, perintah-perintah dan larangan-larangan, maka kata ‘kalimat’ jika digunakan terkadang maknanya adalah takdir, seperti firman Allah kepada Maryam alaihassalam, ((dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya: dan dia termasuk orang-orang yang taat)) (At-Tahrim: 12). Dan terkadang juga bermakna syariat, seperti firman Allah Ta’ala: ((Dan telah sempurna kalimat-kalimat Rabbmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-Nya)) (Al-An’am : 115) yakni syari’at-Nya, baik itu berupa kabar yang benar, atau tuntutan keadilan jika dia berupa perintah atau larangan. Dan termasuk dalam hal ini adalah ayat mulia ini ((Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna)) maksudnya mengerjakannya. Allah berfirman ((Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia)) yakni sebagai balasan atas apa yang telah beliau lakukan. Sebagaimana beliau telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sehingga Allah menjadikan beliau sebagai teladan dan imam yang diteladani dan diikuti jejak langkahnya.” (At-Tafsir 1 : 405).
Dan di antara tafsiran kata ‘kalimat’ apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhu: “Kalimat yang dengannya Allah menguji Ibrahim lalu beliau menyempurnakannya adalah berpisah dengan kaumnya –di jalan Allah– ketika dia diperintah untuk meninggalkan mereka, dan perdebatannya dengan Namrudz –karena Allah– lantaran sikapnya kepadanya yang melawannya yang dia membantahnya, kemudian kesabarannya ketika beliau dilemparkan ke dalam api –karena Allah– atas kemarahan mereka, dan hijrahnya dari negeri-nya setelah itu –karena Allah– ketika beliau diperintahkan untuk keluar meninggalkan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 1)
DAULAH ISLAMIYAH, IMAMAH SESUNGGUHNYA
Dari pembahasan sebelumnya, kita ketahui bahwa Daulah Islamiyah di Iraq dan Syam merupakan yang paling layak –dengan pertolongan Allah– untuk mendapatkan kedudukan imamah secara penuh di tempat mereka berada. Yang demikian karena Daulah telah melaksanakan perintah Allah –semampu yang dia lakukan– dengan sebaik-baiknya. Mereka menjalankan agama di tempat mereka berkuasa dan terus berusaha sekuat mungkin.
Itu semua setelah Allah mengaruniakan kepada pemimpinnya dengan jihad dan hijrah di jalan-Nya, di samping atas kemulian nasabnya yang menonjol dan ketajaman akal, serta kedudukan yang tinggi dalam ilmu dan agama. Maka tidak ada seorang pun, siapa pun dia, yang berhak untuk merobohkan bangunan ini, yang telah bertahun-tahun dibangun dan ditinggikan oleh orang-orang jujur dari umat ini.
Dan janganlah bermimpi seorang pun, walau dia memiliki keutamaan dan jasa, untuk menjinakkan seorang tentara yang ikhlas dari tentara-tentara Daulah Islamiyah, untuk mundur dari misinya demi beralih ke misi lainnya yang penuh syubhat atau yang lainnya. Bahkan amirul mukminin sendiri tidak berhak hari ini, untuk memerintahkan pembubaran Daulah Islamiyah dan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya, (namun yang bisa dilakukan olehnya –menurut salah satu pendapat ulama– ia boleh mengundurkan dirinya sendiri, sehingga ketika itu Ahlul Halli wal Aqdi di Daulah Islamiyah akan menunjuk imam yang baru, dan Daulah Islamiyah tetap eksis).
Allah telah berfirman setelah mengaruniakan kepada Ibrahim ‘alaihis salam dengan imamah: “Dan barangsiapa yang membenci Millah Ibrahim, dia hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang shaleh.” (Al-Baqarah: 130).
Maka kita ketahui dari bentuk ayat di atas bahwa Imamah merupakan bagian dari Millah Ibrahim, dan orang yang membencinya berarti telah membenci bagian dari millah agung ini. Dan millah adalah jalan yang mesti diikuti secara mutlak, jalan yang telah dipilih oleh Allah bagi Ibrahim dan keturunannya dan orang-orang yang setelahnya. Dia adalah jalan imamah dengan dua jenisnya (yakni imamah agama dan politik) bagi siapa yang mampu ke arah sana.
Maka bagi siapa saja dari kalangan ulama yang menyeru atau menulis tentang wajibnya mengikuti Millah Ibrahim, hendaknya tidak membenci imamah pada Daulah Islam hari ini, dan tidak berusaha menghancurkannya atau merusaknya. Dan hendaknya mereka memahami bahwa Daulah Islam hari ini –dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadanya, berupa penaklukan, tamkin dan menegakkan dien– terhitung sebagai imamah yang sebenarnya di Iraq dan Syam, dan orang yang keluar darinya dianggap bughat (pemberontak) yang boleh diperangi setelah ditegakkan hujjah atasnya.
Dan dia akan tetap bersikap seperti ini dengan izin Allah, walau harus menghadapi berbagai ujian yang berat dalam menjalaninya, hingga memecah satu sama lain.
Dari Abdurrahman bin Abdu Rabbul Ka’bah berkata: “Aku memasuki Masjidil Haram, dan ternyata Abdullah bin Amr bin Ash sedang duduk di bawah naungan Ka’bah dan orang-orang berkumpul di sekitarnya, lalu aku mendatangi mereka dan duduk di sisinya, lalu dia berkata: ‘Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu kami singgah di suatu tempat. Lalu di antara kami ada yang memperbaiki tenda, ada yang berlatih memanah dan ada yang mengurus binatang tunggangan, lalu penyeru Rasulullah mengumandangkan seruan untuk shalat berjamaah, kami pun segera berkumpul kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu berliau bersabda:
‘Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku kecuali dia benar-benar telah menunjukkan kepada kaumnya atas kebaikan yang dia ketahui, dan memperingatkan mereka dari keburukan yang dia ketahui. Sedangkan umat kalian ini dijadikan keselamatannya pada pendahulunya, sedangkan orang-orang sesudahnya akan ditimpa bala’ (ujian) dan perkara yang tidak mereka sukai, maka muncullah fitnah sehingga mereka menghina satu sama lain, lalu muncullah fitnah (ujian) sehingga seorang mukmin akan mengatakan ini adalah kebinasaanku, kemudian fitnah itu tersingkap, lalu datanglah fitnah lainnya dan seorang mukmin mengatakan inilah inilah (yang akan membinasakanku).
Maka siapa yang suka untuk dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka hendaknya dia didatangi kematian dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya dia mendatangi orang-orang yang suka untuk didatangi olehnya, dan siapa yang membai’at seorang imam dan dia memberikan sepenuh tangannya dan sepenuh hatinya maka hendaknya dia menaatinya sesuai kemampuannya. Jika datang seseorang yang ingin mencabutnya maka tebaslah leher orang lain tersebut.” (HR. Muslim)
Dan dahulu hadits ini terdengar sangat keras di kalangan salaf, terutama yang berkaitan dengan masalah imamah, dan tentang penjelasan hukum atas siapa yang keluar dari imam-imam kaum muslimin. Perawi hadits mengatakan: “Lalu aku mendekatinya dan berkata, Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah engkau mendengar ini dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Lalu beliau menunjuk dua telinganya dan dadanya sambil berkata: “Aku mendengarnya dengan kedua telingaku dan aku menyimpannya di dalam hatiku”.
Aku berkata: “Ini anak pamanmu, padahal Allah berfirman ((Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara bathil, kecuali karena perdagangan yang kalian lakukan dengan dasar keridhoan. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian)). Dia berkata: ‘Lalu dia diam sejenak, kemudian berkata: ‘Taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah, dan jangan kalian taati dia dalam maksiat kepada Allah’.” (HR. Muslim).
Maka sesungguhnya kami akan selalu menaati imam selama dia memerintahkan kami dalam ketaatan Ar-Rahman, dan jika dia memerintahkan kami dalam kemaksiatan maka kami tidak akan mentaatinya. Sungguh akan kami penggal leher orang yang berusaha mencabutnya dari imamah, siapa pun dia. Dan sungguh kami akan bersabar atas setiap fitnah dalam hal ini semua, karena pertolongan Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Memberi. Maka biarkanlah kami menyukai urusan kami, karena kami akan selalu setia atas bai’at kami, tanpa tawar menawar.
Ya Allah curahkanlah shalawat atas Nabi Muhammad yang memberi kabar gembira dan peringatan, juga atas keluarga dan sahabatnya semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar