DABIQ 12 - ARTIKEL
NASEHAT UNTUK MUJAHIDIN,
MENDENGARLAH DAN TAAT
(Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh “Shallallahu ‘alaihi wasallamtul-jihad,” Bekas majalah Al-Qa’idah di Semenanjung Arab / AQAP (sebelum adanya cabang di Yaman). Penulis dari karya ini tidaklah mencukupkan diri hanya dengan mencari pengetahuan dan pelatihan saja, tapi beliau juga memimpin pertempuran melawan Al Salul hingga beliau mendapatkan syahid fie sabilillah. Semoga Allah menerimanya, membalasnya, dan meridhainya.)
Dengan senang hati saya akan menyajikan nasehat yang dinukil dari majalah “Shallallahu ‘alaihi wasallamtul-jihad” untuk para mujahidin pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya.
Nasehat bagian pertama - setelah saya Nasehatkan untuk takut kepada Allah dan berhati-hatilah dalam urusan-Nya - adalah untuk mendengarkan dan mematuhi mereka yang telah diberi Allah otoritas atas urusan mujahidin.
Saat ini Umat sedang menderita karena pengkhianatan dari penguasa murtad dan para pemimpinnya yang bahkan telah melanggar hakhak Allah dan juga hak-hak ciptaan-Nya. Dan telah diketahui bersama bahwa otoritas penguasa ini tidaklah valid, dan wajib hukumnya untuk menyelisihi mereka dan berperang melawan mereka. Tapi yang dimaksud dengan mendengarkan dan mentaati disini hanya mengacu pada orang-orang yang telah Allah berikan otoritas atas urusan jihad (dan sekarang, Khilafah). Ini adalah hal yang sangat penting dan sangat serius, dimana hal ini telah ditetapkan oleh Sang pembuat undang-undang. Dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan bahwa pembangkangan dari pemimpin yang sah itu sama dengan pembangkangannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar dan taat adalah untuk persatuan, kerjasama, dan kekuatan, dan ini berbanding terbalik dengan pertengkaran, perpecahan, dan perselisihan pendapat.
Pertengkaran dan perselisihan dalam jihad berarti kegagalan dan kekalahan. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal: 46).
Siapapun yang telah mempelajari sejarah dan Sirah akan melihat bahwa ketidak-taatannya kepada Pemimpin -dalam bentuk apapun- memiliki konsekuensi yang berat dan sangat merugikan, dan contoh terbaik dari semua itu adalah apa yang terjadi pada Sahabat di Perang Uhud, yaitu ketika mereka tidak mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagai hasilnya tentara Muslim mengalami kemunduran dan bencana, termasuk banyak dari sahabat terbaik yang terbunuh, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta sejumlah sahabat lain-nya terluka. Ini semua adalah hasil dari ketidaktaatan kepada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan sudah berulang kali ketika pemimpin didurhakai di beberapa tempat dan arena jihad, maka hasil akhir dari harga yang harus dibayar adalah bencara dan kesengsaraan, dan itu termasuk kematian dan tertumpahnya darah, karena kedurhakaan kepada pemimpin itu tidak hanya sebuah dosa yang hanya mempengaruhi orang yang durhaka saja. Sebaliknya, hal itu mempengaruhi seluruh kelompok, dan seluruh pasukan pada sebagian kasus.
Sudah berapa kali ikhwan Mujahid telah diperintahkan oleh pemimpinnya untuk tidak pergi ke daerah tertentu, tapi ia mendurhakai pemimpinnya hingga akhirnya ia tertangkap!
Dan sudah berapa kali ikhwan yang tidak menaati pemimpinnya sehubungan dengan langkah-langkah keamanan dan tindakan pencegahan, dan sebagai hasilnya ia dan sekelompok ikhwan tertangkap!
Ada banyak contoh di mana sekelompok ikhwan ditawan atau ditangkap, hanya karena salah satu dari mereka tidak menaati amirnya dalam mengambil tindakan pencegahan untuk keamanan mereka.
Salah satu dari banyak contoh kecil dalam hal ini adalah sebuah insiden yang berhubungan dengan saya oleh salah satu ikhwan tentang seorang pria yang ingin bergabung dengan kamp pelatihan di Afganistan. Orang yang bertanggung jawab dalam keberangkatannya memberi dia arahan agar tidak menelepon keluarganya hingga ia mencapai Pakistan. Tapi ikhwan tidak menaati perintah ini dan menghubungi keluarganya dari bandara di negaranya tepat sebelum menaiki pesawat. Segera setelah itu, keluarganya bergegas melapor kepada petugas bandara dan berhasil menangkapnya sebelum pesawat lepas landas. Ia membayar harga ketidaktaatannya dengan hilangnya kesempatan untuk beramal jihad fie sabilillah!
Ada banyak insiden seperti itu, tapi di sini saya ingin menyarankan kepada ikhwan-ikhwan yang telah menolak untuk menjalani kehidupan yang penuh keninaan dan telah mengalahkan keinginan dan hawa nafsu mereka, untuk mengikatkan diri untuk mendengarkan dan mematuhi pemimpin dalam segala hal baik besar maupun kecil, untuk senantiasa taat dalam segala hal kecuali dalam dosa. Dan jika perintah pemimpin adalah masalah ijtihadiyah di mana mungkin ada lebih dari dua pendapat yang sah dan pemimpin telah memilih salah satu pendapat - terlepas dari apakah pilihan itu lebih benar atau kurang benar - adalah wajib untuk mentaati pendapat yang telah dipilih dan tunduk atas pilihannya, karena masalah ini adalah masalah ijtihad dan tidak boleh ada celaan dalam hal itu.
Dan berhati-hatilah untuk tidak mencari celah dalam menghindari ketaatan, karena itu adalah penyebab dari bencana dan kesedihan. Kapanpun seseorang ingin mencari alasan untuk dirinya sendiri untuk mengingkari pemimpinnya, ia akan dengan mudah menemukannya. Begitu juga dengan orang-orang yang tidak mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Uhud, alasan mereka adalah bahwa pertempuran telah berakhir dan tidak ada lagi alasan tersisa bagi pemanah untuk tetap di bukit’, dan sebagainya dan sebagainya ... Jadi jangan mencari alasan ketika Anda berpikir untuk tidak mematuhi perintah, melainkan paksakanlah diri anda untuk mengikuti perintah dan tidak melampaui batas.
Sangatlah menyedihkan ketika melihat orang-orang sesat dan tentara Thawaghit selalu mendengar dan mematuhi perintah sedangkan mereka itu relatif disiplin. Anda mungkin melihat salah satu dari mereka melakukan dosa - Bahkan melakukan kekufuran - dan jika ia ditanya tentang hal itu ia dengan bodohnya akan berkata, “Aku hanya seorang budak yang telah diberi perintah!”
Sedangkan Anda akan menemukan bahwa mendengarkan dan menaati pemimpin (yang tidak memerintahkan kepada dosa) adalah suatu hal yang terlupakan dan mulai memudar ketika itu dihadapkan pada Mujahidin. Wallahul-Musta’an ...
Ini adalah kewajiban atas Anda, saudara yang saya muliakan, untuk menasehati dengan keras kepada siapa saja yang mendurhakai pemimpinnya, dan untuk membantu pemimpin Anda serta saudara Anda untuk mencegah setiap ketidaktaatan dan kesalahan yang akan dibayar dengan sangat mahal oleh umat dan para mujahidin.
Dan ketahuilah wahai orang yang di berkahi, bahwa mendengarkan dan menaati itu adalah sikap rendah hati terhadap orang-orang beriman, dan bahwa pelanggaran atas hal ini adalah sikap kejam kepada orang-orang mukmin!
Saya akan menyimpulkan nasehat saya ini dengan sebuah sajak:
Dengarkanlah nasihat tulus dariku, karena sesungguhnya aku ingin kebaikan dan keuntungan untukmu, wahai saudaraku.
Ketaatanmu kepada pemimpinmu merupakan sebuah kebutuhan penting, dan siapapun yang mendurhakai perintahnya maka ia telah berbuat dosa.
Untuk mendengarkan dan mematuhi pemimpin adalah untuk mendengarkan dan mematuhi Muhammad, sang pengantar kabar gembira.
Adapun menentang perintah dan tidak mematuhinya, maka itu adalah dosa terhadap Allah. Dan itu adalah dasar dari kelemahan dan kekalahan, dan mengantarkan pada korupsi pendapat dan kehilangan tekad.
Dan apa yang telah terjadi dengan sahabat dalam Perang Uhud akan selalu menjadi pelajaran bagi setiap orang mukmin.
Jadi tetaplah taat dan bersabarlah dalam ketaatan dan jangan sampai lelah. Dengarkanlah baik di masa susah maupun senang,
Kecuali perintah pemimpin untuk melawan syari’ah, karena tidak ada lagi ketaatan kepada pemimpin dalam hal itu.
Saya memohon kepada Allah untuk membantu saya dan Anda saudaraku, untuk mendengar dan taat, dan tidak menjadikan kita sebagai sebab dari bahaya yang menimpa saudara-saudara kita melalui dosa-dosa kita, dan memaafkanlah kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan.
NASEHAT UNTUK MUJAHIDIN,
MENDENGARLAH DAN TAAT
(Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh “Shallallahu ‘alaihi wasallamtul-jihad,” Bekas majalah Al-Qa’idah di Semenanjung Arab / AQAP (sebelum adanya cabang di Yaman). Penulis dari karya ini tidaklah mencukupkan diri hanya dengan mencari pengetahuan dan pelatihan saja, tapi beliau juga memimpin pertempuran melawan Al Salul hingga beliau mendapatkan syahid fie sabilillah. Semoga Allah menerimanya, membalasnya, dan meridhainya.)
Dengan senang hati saya akan menyajikan nasehat yang dinukil dari majalah “Shallallahu ‘alaihi wasallamtul-jihad” untuk para mujahidin pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya.
Nasehat bagian pertama - setelah saya Nasehatkan untuk takut kepada Allah dan berhati-hatilah dalam urusan-Nya - adalah untuk mendengarkan dan mematuhi mereka yang telah diberi Allah otoritas atas urusan mujahidin.
Saat ini Umat sedang menderita karena pengkhianatan dari penguasa murtad dan para pemimpinnya yang bahkan telah melanggar hakhak Allah dan juga hak-hak ciptaan-Nya. Dan telah diketahui bersama bahwa otoritas penguasa ini tidaklah valid, dan wajib hukumnya untuk menyelisihi mereka dan berperang melawan mereka. Tapi yang dimaksud dengan mendengarkan dan mentaati disini hanya mengacu pada orang-orang yang telah Allah berikan otoritas atas urusan jihad (dan sekarang, Khilafah). Ini adalah hal yang sangat penting dan sangat serius, dimana hal ini telah ditetapkan oleh Sang pembuat undang-undang. Dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan bahwa pembangkangan dari pemimpin yang sah itu sama dengan pembangkangannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar dan taat adalah untuk persatuan, kerjasama, dan kekuatan, dan ini berbanding terbalik dengan pertengkaran, perpecahan, dan perselisihan pendapat.
Pertengkaran dan perselisihan dalam jihad berarti kegagalan dan kekalahan. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal: 46).
Siapapun yang telah mempelajari sejarah dan Sirah akan melihat bahwa ketidak-taatannya kepada Pemimpin -dalam bentuk apapun- memiliki konsekuensi yang berat dan sangat merugikan, dan contoh terbaik dari semua itu adalah apa yang terjadi pada Sahabat di Perang Uhud, yaitu ketika mereka tidak mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagai hasilnya tentara Muslim mengalami kemunduran dan bencana, termasuk banyak dari sahabat terbaik yang terbunuh, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta sejumlah sahabat lain-nya terluka. Ini semua adalah hasil dari ketidaktaatan kepada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan sudah berulang kali ketika pemimpin didurhakai di beberapa tempat dan arena jihad, maka hasil akhir dari harga yang harus dibayar adalah bencara dan kesengsaraan, dan itu termasuk kematian dan tertumpahnya darah, karena kedurhakaan kepada pemimpin itu tidak hanya sebuah dosa yang hanya mempengaruhi orang yang durhaka saja. Sebaliknya, hal itu mempengaruhi seluruh kelompok, dan seluruh pasukan pada sebagian kasus.
Sudah berapa kali ikhwan Mujahid telah diperintahkan oleh pemimpinnya untuk tidak pergi ke daerah tertentu, tapi ia mendurhakai pemimpinnya hingga akhirnya ia tertangkap!
Dan sudah berapa kali ikhwan yang tidak menaati pemimpinnya sehubungan dengan langkah-langkah keamanan dan tindakan pencegahan, dan sebagai hasilnya ia dan sekelompok ikhwan tertangkap!
Ada banyak contoh di mana sekelompok ikhwan ditawan atau ditangkap, hanya karena salah satu dari mereka tidak menaati amirnya dalam mengambil tindakan pencegahan untuk keamanan mereka.
Salah satu dari banyak contoh kecil dalam hal ini adalah sebuah insiden yang berhubungan dengan saya oleh salah satu ikhwan tentang seorang pria yang ingin bergabung dengan kamp pelatihan di Afganistan. Orang yang bertanggung jawab dalam keberangkatannya memberi dia arahan agar tidak menelepon keluarganya hingga ia mencapai Pakistan. Tapi ikhwan tidak menaati perintah ini dan menghubungi keluarganya dari bandara di negaranya tepat sebelum menaiki pesawat. Segera setelah itu, keluarganya bergegas melapor kepada petugas bandara dan berhasil menangkapnya sebelum pesawat lepas landas. Ia membayar harga ketidaktaatannya dengan hilangnya kesempatan untuk beramal jihad fie sabilillah!
Ada banyak insiden seperti itu, tapi di sini saya ingin menyarankan kepada ikhwan-ikhwan yang telah menolak untuk menjalani kehidupan yang penuh keninaan dan telah mengalahkan keinginan dan hawa nafsu mereka, untuk mengikatkan diri untuk mendengarkan dan mematuhi pemimpin dalam segala hal baik besar maupun kecil, untuk senantiasa taat dalam segala hal kecuali dalam dosa. Dan jika perintah pemimpin adalah masalah ijtihadiyah di mana mungkin ada lebih dari dua pendapat yang sah dan pemimpin telah memilih salah satu pendapat - terlepas dari apakah pilihan itu lebih benar atau kurang benar - adalah wajib untuk mentaati pendapat yang telah dipilih dan tunduk atas pilihannya, karena masalah ini adalah masalah ijtihad dan tidak boleh ada celaan dalam hal itu.
Dan berhati-hatilah untuk tidak mencari celah dalam menghindari ketaatan, karena itu adalah penyebab dari bencana dan kesedihan. Kapanpun seseorang ingin mencari alasan untuk dirinya sendiri untuk mengingkari pemimpinnya, ia akan dengan mudah menemukannya. Begitu juga dengan orang-orang yang tidak mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Uhud, alasan mereka adalah bahwa pertempuran telah berakhir dan tidak ada lagi alasan tersisa bagi pemanah untuk tetap di bukit’, dan sebagainya dan sebagainya ... Jadi jangan mencari alasan ketika Anda berpikir untuk tidak mematuhi perintah, melainkan paksakanlah diri anda untuk mengikuti perintah dan tidak melampaui batas.
Sangatlah menyedihkan ketika melihat orang-orang sesat dan tentara Thawaghit selalu mendengar dan mematuhi perintah sedangkan mereka itu relatif disiplin. Anda mungkin melihat salah satu dari mereka melakukan dosa - Bahkan melakukan kekufuran - dan jika ia ditanya tentang hal itu ia dengan bodohnya akan berkata, “Aku hanya seorang budak yang telah diberi perintah!”
Sedangkan Anda akan menemukan bahwa mendengarkan dan menaati pemimpin (yang tidak memerintahkan kepada dosa) adalah suatu hal yang terlupakan dan mulai memudar ketika itu dihadapkan pada Mujahidin. Wallahul-Musta’an ...
Ini adalah kewajiban atas Anda, saudara yang saya muliakan, untuk menasehati dengan keras kepada siapa saja yang mendurhakai pemimpinnya, dan untuk membantu pemimpin Anda serta saudara Anda untuk mencegah setiap ketidaktaatan dan kesalahan yang akan dibayar dengan sangat mahal oleh umat dan para mujahidin.
Dan ketahuilah wahai orang yang di berkahi, bahwa mendengarkan dan menaati itu adalah sikap rendah hati terhadap orang-orang beriman, dan bahwa pelanggaran atas hal ini adalah sikap kejam kepada orang-orang mukmin!
Saya akan menyimpulkan nasehat saya ini dengan sebuah sajak:
Dengarkanlah nasihat tulus dariku, karena sesungguhnya aku ingin kebaikan dan keuntungan untukmu, wahai saudaraku.
Ketaatanmu kepada pemimpinmu merupakan sebuah kebutuhan penting, dan siapapun yang mendurhakai perintahnya maka ia telah berbuat dosa.
Untuk mendengarkan dan mematuhi pemimpin adalah untuk mendengarkan dan mematuhi Muhammad, sang pengantar kabar gembira.
Adapun menentang perintah dan tidak mematuhinya, maka itu adalah dosa terhadap Allah. Dan itu adalah dasar dari kelemahan dan kekalahan, dan mengantarkan pada korupsi pendapat dan kehilangan tekad.
Dan apa yang telah terjadi dengan sahabat dalam Perang Uhud akan selalu menjadi pelajaran bagi setiap orang mukmin.
Jadi tetaplah taat dan bersabarlah dalam ketaatan dan jangan sampai lelah. Dengarkanlah baik di masa susah maupun senang,
Kecuali perintah pemimpin untuk melawan syari’ah, karena tidak ada lagi ketaatan kepada pemimpin dalam hal itu.
Saya memohon kepada Allah untuk membantu saya dan Anda saudaraku, untuk mendengar dan taat, dan tidak menjadikan kita sebagai sebab dari bahaya yang menimpa saudara-saudara kita melalui dosa-dosa kita, dan memaafkanlah kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar