DABIQ 4 - FEATURE
REFLEKSI ATAS PERANG SALIB TERAKHIR
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasul-Nya; Muhammad, keluarga dan para shahabatnya. Amma ba’du:
Sejarah selalu berulang dengan sendirinya, dengan ketetapan Allah. Ini adalah sunnatullah atas ciptaan-Nya. "Sebagai sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (Al Ahzab: 62)
"(Demikianlah) hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu." (Al-Fath: 23)
Tidak ada jalan keluar dari ketentuan Ilahi ini. Ini harus terjadi dan pasti akan terjadi. Sejak runtuhnya kaum musyrikin di Arab, Persia, dan India oleh tangan para shahabat dan tabi'in, sebagian besar jihad diarahkan untuk melawan para penyembah salib Roma, dan wilayah Syam memainkan peran penting dalam semua perang antara kaum muslimin dan tentara salib. Dan ini akan terus terjadi hingga Thaghut salib mereka dipatahkan oleh al-Masih 'Isa ‘alaihis salam.
Sebagai perang salib terakhir yang akan terjadi dan sebelum disusul dengan jeda singkat dan diikuti oleh pengkhianatan tentara salib (dan itu selalu terjadi), maka penting merefleksi sejumlah hal ini. Kami meminta kepada Allah untuk menjadikan kami orang-orang yang mengerti, bukan orang yang tuli, bisu dan buta yang tidak mengerti.
PESAN NUBUWAH TENTANG PASUKAN SALIB ROMAWI
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Hari kiamat tidak akan terjadi hingga bangsa Romawi turun di suatu tempat bernama alA'maq atau Dabiq (dua tempat yang berdekatan di sebelah utara Halab/Aleppo). Sehingga ada sekelompok pasukan dari Madinah keluar menghadapi mereka. Mereka adalah manusia terbaik di bumi ketika itu. Ketika mereka berbaris berhadapan, pasukan Romawi berkata, 'Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami’. Kaum Muslimin menjawab, 'Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan saudara-saudara kami diperangi!’. Maka terjadilah peperangan di antara mereka. Kemudian sepertiga dari mereka akan lari; Allah tidak akan pernah mengampuni mereka, sepertiga lagi akan terbunuh; mereka menjadi syuhada terbaik di sisi Allah, dan sepertiga lainnya akan mengalahkan mereka; mereka tidak akan pernah terkena fitnah selamanya. Kemudian mereka akan menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka sedang membagibagikan harta rampasan perang (ghanimah), setelah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon-pohon zaitun, Setan berteriak, ‘Al-Masih (Dajjal) telah mendatangi keluarga kalian(yang tertinggal.) ', mereka pun segera pergi berhamburan (ke arah keluarga mereka yang ditinggal), tetapi seruan setan adalah dusta. Ketika mereka tiba di Syam dia pun muncul. Kemudian ketika mereka sedang mempersiapkan barisan untuk berperang tiba-tiba datanglah waktu shalat. Lalu turunlah Isa bin Maryam ‘alaihis salam dan memimpin mereka shalat. Ketika musuh Allah (Dajjal) melihatnya, ia akan mencair seperti garam meleleh di dalam air. Jika saja dia membiarkannya, ia akan meleleh terus sampai mati, tapi dia membunuhnya dengan tangannya sendiri, dan kemudian menunjukkan pada mereka darahnya pada ujung tombaknya". (Shahih Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Orang-orang Romawi akan mengikat perjanjian damai dengan kalian dan kalian akan memerangi musuh bersama mereka, maka kalian akan menang, memperoleh harta rampasan perang, dan selamat. Hingga kemudian kalian beranjak dan singgah di suatu padang rumput yang penuh gundukan batu, maka salah seorang penyembah salib mengangkat salib sambil mengatakan; ‘ Telah menang salib’, maka marahlah seorang laki-laki muslim lalu mendatanginya dan mengatakan, ‘sesungguhnya Allahlah yang menang" dia lalu mematahkan salib itu tanpa ada jarak dengan lelaki itu, ketika itulah orang -orang Romawi mengkhianati perjanjian, dengan membunuh laki-laki yang mematahkan salib tadi. Pasukan kaum muslimin pun segera mengambil senjata-senjata mereka, maka mereka bersiap untuk berperang. Allah akan memberkahi kelompok muslim ini dengan kesyahidan. Orang-orang Romawi akan berkata kepada pemimpin Romawi mereka; "Kita cukup untukmu mengalahkan orang-orang Arab". Maka mereka akan berkumpul untuk perang malhamah, mereka akan mendatangi kalian dengan 80 bendera, dan di setiap bendera terdiri dari 12.000 orang. (Shahih; diriwayatkan dari Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Dzi Mikhmar)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: "Sesugguhnya Kiamat tidak akan terjadi hingga tiba suatu masa, di saat itu harta warisan tidak lagi dibagi-bagi, dan manusia tidak bergembira manakala mendapat harta rampasan perang." Beliau lalu menunjuk tangannya ke arah Syam, dan kembali melanjutkan, "Di sana akan berkumpul musuh yang bersatu untuk memerangi umat Islam, dan umat Islam pun bersatu untuk menghadapi mereka." Aku (Yusair ibnu Jabir) bertanya, "Apakah yang engkau maksudkan adalah bangsa Romawi?" Beliau menjawab, "Ya benar, dan dalam pertempuran itu akan terjadi pertarungan dahsyat. Kaum muslim membentuk sebuah pasukan perintis berani mati, yang tidak akan kembali kecuali setelah mendapat kemenangan. Terjadilah pertempuran dahsyat (dari pagi hingga sore), sampai akhirnya datang malam menghentikan peperangan mereka. Pasukan muslim dan bangsa Romawi kembali ke kemah-kemah mereka, tanpa ada pihak yang meraih kemenangan. Seluruh anggota pasukan berani mati umat Islam tersebut ternyata terbunuh di medan laga. Maka kaum muslim kembali membentuk sebuah pasukan perintis berani mati, yang tidak akan kembali kecuali setelah mendapat kemenangan. Terjadilah pertempuran dahsyat (dari pagi hingga sore), sampai akhirnya datang malam menghentikan peperangan mereka. Pasukan muslim dan bangsa Romawi kembali ke kemah-kemah mereka, tanpa ada pihak yang meraih kemenangan. Seluruh anggota pasukan berani mati umat Islam tersebut ternyata terbunuh di medan laga. Maka kaum muslim kembali membentuk sebuah pasukan perintis berani mati, yang tidak akan kembali kecuali setelah mendapat kemenangan. Terjadilah pertempuran dahsyat (dari pagi hingga sore), sampai akhirnya datang malam menghentikan peperangan mereka. Pasukan muslim dan bangsa Romawi kembali ke kemah-kemah mereka, tanpa ada pihak yang meraih kemenangan. Seluruh anggota pasukan berani mati umat Islam tersebut ternyata terbunuh di medan laga. Maka pada hari keempat, kaum muslim yang tersisa maju ke kancah pertempuran dengan ganas, sehingga akhirnya Allah mengalahkan bangsa Romawi. Pasukan Romawi terbunuh dalam jumlah yang sangat banyak yang belum pernah dialami sebelumnya. Begitu banyaknya yang terbunuh, sehingga apabila ada burung yang melewati kawasan pertempuran mereka, maka burung itu akan mati sebelum meninggalkan mereka. (Setelah peperangan) satu sama lain yang masih hidup pun menghitung jumlah ke- luarganya yang terbunuh di medan laga. Ternyata dari seratus orang saudara, hanya seorang saja yang masih bertahan hidup. Maka harta rampasan perang mana yang bisa mendatangkan kebahagiaan? Harta warisan mana lagi yang harus dibagikan? Tatkala mereka dalam kondisi pilu seperti ini, tiba-tiba mereka mendengar musibah yang lebih besar lagi. Seorang penyeru (setan) meneriakkan bahwa Dajjal telah menguasai keluarga mereka. Mereka pun melemparkan segala harta rampasan perang yang masih mereka genggam, dan segera bergegas untuk memerangi Dajjal. Mereka mengirim sepuluh orang prajurit berkuda sebagai pasukan mata-mata terdepan." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sungguh aku mengenal nama-nama mereka, nama-nama bapak mereka, dan bahkan warna kuda-kuda mereka. Mereka pada waktu itu adalah sebaik-baik prajurit berkuda di muka bumi." (Shahih Muslim)
Hadits-hadits ini mengindikasikan bahwa kaum muslim akan berperang melawan orang-orang Nasrani Romawi. Romawi menurut lidah Arab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang Nasrani Eropa dan koloni-koloni mereka di Syam sebelum ditaklukkannya Syam lewat tangan para Shahabat. Akan ada jeda dalam peperangan ini karena sebuah gencatan senjata atau pernjanjian.
Selama masa itu, orang-orang Islam dan Romawi akan bertempur melawan musuh bersama. Kenyataan bahwa mereka melawan musuh bersama tidak mengharuskan adanya bentuk kerjasama militer di antara kedua belah pihak, sebagaimana sejumlah pensyarah hadits berkata, "Atau (artinya) kamu berperang melawan musuhmu sendiri secara terpisah sementara mereka melawan musuh (yang sama) sendiri secara terpisah." (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Sunan Ibnu Majah)
Penafsiran ini lebih dekat maknanya dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, "Aku tidak meminta bantuan seorang musyrik." (Shahih Muslim). Dalam ungkapan lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kami tidak meminta bantuan seorang musyrik." (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Kami tidak meminta bantuan musyrikin untuk melawan musyrikin (yang lain)" (Hasan; Riwayat Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lainnya)
Orang-orang Romawi mengkhianati perjanjian dengan mengangkat salib dan membunuh seorang muslim. Peristiwa ini berbuntut pada perang yang kembali berkobar antara umat Islam dan bangsa Romawi. Bangsa Romawi menuntut sebagian orang yang diperbudak dari mereka atau orang-orang mereka yang sebelumnya menjadi tawanan dan kemudian masuk Islam agar mereka (tentara Romawi, pent.) bisa melawan mereka (orang Romawi yang telah masuk Islam, pent.). Perbudakan ini bisa saja terjadi sebelum gencatan senjata atau setelah penkhianatan, wallahu a’lam. Peristiwa ini seluruhnya mengarah ke pertempuran terakhir, terbesar dan paling berdarah –Al-Malhamah Al-Kubra– antara umat Islam dan bangsa Romawi sebelum munculnya ad-Dajjal dan turunnya Al-Masih. Perang ini mengakhiri era kejayaan Nasrani Romawi setelah kaum muslim mengambil alih Konstantinopel lalu Roma, menaklukkan kedua kota tersebut dan mengibarkan bendera Khilafah di atas keduanya.
PERKATAAN PENDIRI DAULAH ISLAM TENTANG TANDA-TANDA KIAMAT
Dari keyakinan dan optimisme berdasarkan Husnuzh Zhann Billah, Fiqh Fitan dan Malahim, tauhid yang hidup dan juga jihad, inilah kata-kata dari para pemimpin Daulah Islam –Abu Mush'ab az-Zarqawi , Abu Hamzah al-Muhajir, dan Abu Umar al-Baghdadi– semoga Allah menerima mereka semua. Mereka tahu bahwa upaya para mujahidin Iraq akan mengarah ke Malhamah, setiap kali terjadi.
Syaikh Abu Mush'ab Az-Zarqawi rahimahullah mengatakan, "Percikan apinya telah menyala di sini, di Iraq, dan panasnya akan terus meningkat –dengan izin Allah– hingga membakar tentara salib di Dabiq." (Ayna Ahlul Muru'at)
Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah berkata, "Untukmu wahai ksatria tauhid, biarawan malam, dan singa rimba, semoga Allah membalas kalian dengan segala kebaikan atas nama kita dan umat Islam. Karena aku telah melihat perang dan orang-orangnya, dan aku bersaksi demi Allah, aku bersaksi demi Allah, bahwa umat kita di negeri dua aliran sungai (Iraq) tidak pernah pelit untuk menganugerahkan putra-putra terbaik dan paling mulia dan jujur kepada kita. Mataku belum pernah melihat orang-orang seperti mereka, juga belum pernah aku mendengar ada orang seperti mereka kecuali kelompok pertama kaum Muslimin (para sahabat). Maka aku bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang yang paling jujur dalam ucapannya, yang paling setia kepada janji-janji mereka, yang paling kuat dari para lelaki, dan yang terkuat dalam menaati Allah. Aku tidak ragu sedikit pun –dan Allah yang lebih tahu– bahwa kita adalah tentara yang akan sampai pada panji hamba Allah al-Mahdi. Jika yang pertama dari kita terbunuh, maka yang terakhir dari kita akan sampai kepadanya" (Sayuhzamul Jam'u Wa Yuwallunad Dubur)
Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah mengatakan, "Jihad Iraq telah membawa kembali kehidupan daerah jihad yang telah sedikit melemah setelah sebelumnya kuat, yang juga akan menyiapkan jalan untuk menyerang negara Yahudi dan merebut kembali Baitul Maqdis. Seolah-olah aku berdiri di hadapan 'asa'ib (kelompok) dari Iraq yang berangkat dari sini untuk memberikan dukungan kepada Mahdi saat ia berpegang pada tirai Ka'bah." (Hashad as-Sinin).
Firasat ini dan pemahaman yang mendalam tentang din adalah sebab mengapa Abu Umar al-Baghdadi menyebutkan dalam kata-katanya, "Wahai umat Islam, ketika kami mengumumkan Daulah Islam dan mengatakan bahwa itu adalah negeri hijrah dan jihad, kami tidak berbohong terhadap Allah dan selanjutnya terhadap manusia, tidak juga kita berbicara tentang mimpi palsu, bukan, dengan karunia Allah Ta'ala, kita lebih mampu memahami sunnatullah dalam hal jihad. Pemahaman ini berasal dari darah para mujahidin di antara Muhajirin dan Anshar, setelah kita menyaksikan karakter dan manhaj mereka dengan mata kita." (Hashad as-Sinin)
Kata-kata ini ditulis di dalam darah mereka yang telah berbicara kata-kata ini, semoga Allah menerima mereka.
Jenis keyakinan tertentu terkadang sulit bagi banyak orang untuk memahaminya, seperti sulitnya umat Islam ketika itu untuk memahami keyakinan dan firasat dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah selama perang melawan Tatar. Hati yang jauh dari Al-Qur'an, Sunnah, dan atsar salaf akan melihat firasat tersebut menjadi hal yang konyol, karena keterikatan mereka terhadap materialisme, filsafat, dan bid’ah dari orang-orang khalaf dan Mu'tazilah.
Ibnul Qayim rahimahullah mengisahkan beberapa firasat gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan, "Dan aku telah menyaksikan hal menakjubkan dari firasat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah - semoga Allah mengampuni dosanya. Apa yang belum aku saksikan jauh lebih besar. Jikalau orang ingin mengumpulkan contoh firasatnya maka akan memerlukan catatan jilid yang besar."
"Beliau memberitahu para sahabatnya bahwa Tatar akan memasuki Syam pada tahun 699, bahwa Tentara Muslim akan dikalahkan, bahwa Damaskus tidak akan mengalami pembantaian besar atau mengalami perbudakan dalam skala besar, dan bahwa kemarahan dan semangat tentara ada pada harta. Dan ini sebelum Tatar memutuskan untuk bergerak maju."
"Dia kemudian memberitahu orang-orang dan para pemimpin di tahun 702 ketika Tatar mulai bergerak maju menuju Syam, bahwa kemalangan dan kekalahan akan menimpa Tatar sedangkan kemenangan dan kejayaan akan menjadi milik umat Islam. Dia kemudian bersumpah atas masalah ini hingga lebih dari tujuh puluh kali sumpah. Hingga dikatakan padanya, Katakanlah insya Allah. Beliau kemudian berkata, "Insya Allah dengan penuh kepastian tanpa keraguan!" Aku mendengar beliau mengatakan hal ini. Beliau berkata, Ketika mereka terus membisikiku dengan keraguan, maka aku katakan kepada mereka untuk berhenti melakukannya dan berkata Allah Ta'ala telah menulisnya di dalam al-Lauhul Mahfudz bahwa Tatar akan dikalahkan kali ini dan kemenangan akan menjadi milik tentara Islam. Dan aku membuat beberapa pemimpin dan tentara agar percaya diri dan bercita-cita untuk meraih manisnya kemenangan sebelum mereka pergi bertemu musuh."
"Dan firasat-firasat yang jelas ini, tentang dua pertempuran ini laksana hujan."
"Dan ketika ia dipanggil ke negeri Mesir untuk tujuan eksekusi – setelah semua seakan sudah pasti terjadi, teman-temannya berkumpul untuk mengucapkan perpisahan. Mereka mengatakan, "Telah terdengar kabar yang sangat banyak bahwa mereka berencana untuk membunuhmu." Maka beliau berkata, "Wallahi, mereka tidak akan pernah mencapai hal tersebut." Mereka berkata, "Apakah engkau akan dipenjara?" Dia berkata, "Ya, dan aku akan dipenjara cukup lama. Lalu aku akan meninggalkan penjara dan berbicara tentang Sunnah di depan orang-orang." Aku mendengarnya mengatakan ini."
"Ketika musuhnya yang dijuluki Jashinkir menduduki tahta kerajaan dan Syaikhul Islam diberitahu akan hal itu, mereka mengatakan kepadanya, 'Sekarang ia akan melaksanakan rencananya melawan engkau." Namun beliau justru bersujud syukur kepada Allah dengan sujud yang panjang. Maka dikatakan kepadanya, 'Apa penyebab sujud ini?" beliau berkata, "Mulai sekarang Ini adalah awal dari kehinaan dan perginya kekuatan. Dan sudah dekat waktunya urusannya akan sirna." Dikatakan padanya, "Kapan itu akan terjadi?" Dia berkata, "Kuda-kuda tentara tidak akan ditambat- kan dengan pasak sampai negaranya dikalahkan." Dan hal ini terjadi sesuai apa yang beliau katakan. Aku mendengar ini darinya. (...) "
"Dan beliau mengatakan kepadaku tentang hal-hal besar yang akan terjadi dalam waktu yang akan datang tanpa memberikan tanggal tertentu. Aku telah melihat sebagian telah terjadi dan aku menunggu sebagian lainnya. Sebagaimana para shahabat senior telah menyaksikan, maka itu jauh lebih dari apa yang telah aku saksikan. Wallahu a’lam." (Madarijus Salikin)
Dan setelah membaca kisah di atas tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kita tidak perlu terkejut mendengar keyakinan dan kepastian pemimpinan para mujahidin tentang janji Allah dan nubuwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
PERKATAAN SYAIKH ADNANI TENTANG PERANG SALIB
Syaikh Abu Muhammad al-Adnani asy-Syami hafizhahullah berkata, "Wahai tentara Daulah Islam, bersiaplah untuk operasi militer terakhir tentara salib. Ya, dengan kehendak Allah, ini akan menjadi yang terakhir. Setelah itu, kita yang akan menyerang mereka dengan izin Allah dan mereka tidak akan menyerang kita." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dan dia berkata, "Dan kami berjanji dengan izin Allah bahwa operasi militer ini akan menjadi operasi militer terakhir kalian. Ia akan hancur dan dikalahkan, seperti semua operasi militer sebelumnya yang hancur dan dikalahkan, bahkan kini kita akan menyerang kalian setelah ini, dan kalian tidak akan pernah menyerang kami lagi. Kami akan menaklukkan kota Roma kalian, mematahkan salib kalian, dan memperbudak wanita kalian, dengan izin Allah Ta'ala. Ini adalah janji-Nya untuk kita; Maha Suci Dia dan Dia tidak menyelisihi janjiNya. Jika kita tidak mencapai waktu itu, maka anakanak kami dan cucu-cucu kami akan mencapai hal itu, dan mereka akan menjual anak-anak kalian sebagai budak di pasar budak." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dan dia berkata, "Oleh karena itu Allah akan memberikan kemenangan. Sesungguhnya Allah akan memberikan kepada kalian kemenangan. Demi Allah, Allah akan memberi kalian kemenangan. Jaminlah bagi kami dua hal, maka kami akan menjaminkan bagi kalian -dengan izin Allah- kemenangan terus menerus dan tamkin. Pertama, janganlah berbuat zhalim kepada siapa pun juga, dan janganlah puas dengan kezhaliman dengan mendiamkannya di saat melihat hal itu dan tidak mela- porkan hal tersebut kepada pihak yang berwenang. Kedua, jangan menjadi sombong atau arogan. Ini adalah apa yang kami khawatirkan terjadi pada kalian dan kami takutkan dari kalian." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dan dia berkata, "Ya Allah, jadikanlah operasi militer pasukan salib ini sebagai yang terakhir, sehingga kita menyerang mereka dan mereka tidak menyerang kita." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dia mengungkapkan dengan tanpa keraguan, bahwa jika para mujahidin berpegang teguh pada perjanjian mereka dengan Rabb mereka, dan hanya bertawakal kepada-Nya, maka serangan salib yang lemah, menyedihkan, dan yang gagal akan menjadi yang terakhir, yang akan disusul gencatan senjata, kemudian terjadi pengkhianatan pasukan salib yang mengarah ke al-Malhamah al-Kubra, wallahu a’lam.
REFLEKSI ATAS PERANG SALIB TERAKHIR
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasul-Nya; Muhammad, keluarga dan para shahabatnya. Amma ba’du:
Sejarah selalu berulang dengan sendirinya, dengan ketetapan Allah. Ini adalah sunnatullah atas ciptaan-Nya. "Sebagai sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (Al Ahzab: 62)
"(Demikianlah) hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu." (Al-Fath: 23)
Tidak ada jalan keluar dari ketentuan Ilahi ini. Ini harus terjadi dan pasti akan terjadi. Sejak runtuhnya kaum musyrikin di Arab, Persia, dan India oleh tangan para shahabat dan tabi'in, sebagian besar jihad diarahkan untuk melawan para penyembah salib Roma, dan wilayah Syam memainkan peran penting dalam semua perang antara kaum muslimin dan tentara salib. Dan ini akan terus terjadi hingga Thaghut salib mereka dipatahkan oleh al-Masih 'Isa ‘alaihis salam.
Sebagai perang salib terakhir yang akan terjadi dan sebelum disusul dengan jeda singkat dan diikuti oleh pengkhianatan tentara salib (dan itu selalu terjadi), maka penting merefleksi sejumlah hal ini. Kami meminta kepada Allah untuk menjadikan kami orang-orang yang mengerti, bukan orang yang tuli, bisu dan buta yang tidak mengerti.
PESAN NUBUWAH TENTANG PASUKAN SALIB ROMAWI
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Hari kiamat tidak akan terjadi hingga bangsa Romawi turun di suatu tempat bernama alA'maq atau Dabiq (dua tempat yang berdekatan di sebelah utara Halab/Aleppo). Sehingga ada sekelompok pasukan dari Madinah keluar menghadapi mereka. Mereka adalah manusia terbaik di bumi ketika itu. Ketika mereka berbaris berhadapan, pasukan Romawi berkata, 'Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami’. Kaum Muslimin menjawab, 'Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan saudara-saudara kami diperangi!’. Maka terjadilah peperangan di antara mereka. Kemudian sepertiga dari mereka akan lari; Allah tidak akan pernah mengampuni mereka, sepertiga lagi akan terbunuh; mereka menjadi syuhada terbaik di sisi Allah, dan sepertiga lainnya akan mengalahkan mereka; mereka tidak akan pernah terkena fitnah selamanya. Kemudian mereka akan menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka sedang membagibagikan harta rampasan perang (ghanimah), setelah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon-pohon zaitun, Setan berteriak, ‘Al-Masih (Dajjal) telah mendatangi keluarga kalian(yang tertinggal.) ', mereka pun segera pergi berhamburan (ke arah keluarga mereka yang ditinggal), tetapi seruan setan adalah dusta. Ketika mereka tiba di Syam dia pun muncul. Kemudian ketika mereka sedang mempersiapkan barisan untuk berperang tiba-tiba datanglah waktu shalat. Lalu turunlah Isa bin Maryam ‘alaihis salam dan memimpin mereka shalat. Ketika musuh Allah (Dajjal) melihatnya, ia akan mencair seperti garam meleleh di dalam air. Jika saja dia membiarkannya, ia akan meleleh terus sampai mati, tapi dia membunuhnya dengan tangannya sendiri, dan kemudian menunjukkan pada mereka darahnya pada ujung tombaknya". (Shahih Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Orang-orang Romawi akan mengikat perjanjian damai dengan kalian dan kalian akan memerangi musuh bersama mereka, maka kalian akan menang, memperoleh harta rampasan perang, dan selamat. Hingga kemudian kalian beranjak dan singgah di suatu padang rumput yang penuh gundukan batu, maka salah seorang penyembah salib mengangkat salib sambil mengatakan; ‘ Telah menang salib’, maka marahlah seorang laki-laki muslim lalu mendatanginya dan mengatakan, ‘sesungguhnya Allahlah yang menang" dia lalu mematahkan salib itu tanpa ada jarak dengan lelaki itu, ketika itulah orang -orang Romawi mengkhianati perjanjian, dengan membunuh laki-laki yang mematahkan salib tadi. Pasukan kaum muslimin pun segera mengambil senjata-senjata mereka, maka mereka bersiap untuk berperang. Allah akan memberkahi kelompok muslim ini dengan kesyahidan. Orang-orang Romawi akan berkata kepada pemimpin Romawi mereka; "Kita cukup untukmu mengalahkan orang-orang Arab". Maka mereka akan berkumpul untuk perang malhamah, mereka akan mendatangi kalian dengan 80 bendera, dan di setiap bendera terdiri dari 12.000 orang. (Shahih; diriwayatkan dari Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, dari Dzi Mikhmar)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: "Sesugguhnya Kiamat tidak akan terjadi hingga tiba suatu masa, di saat itu harta warisan tidak lagi dibagi-bagi, dan manusia tidak bergembira manakala mendapat harta rampasan perang." Beliau lalu menunjuk tangannya ke arah Syam, dan kembali melanjutkan, "Di sana akan berkumpul musuh yang bersatu untuk memerangi umat Islam, dan umat Islam pun bersatu untuk menghadapi mereka." Aku (Yusair ibnu Jabir) bertanya, "Apakah yang engkau maksudkan adalah bangsa Romawi?" Beliau menjawab, "Ya benar, dan dalam pertempuran itu akan terjadi pertarungan dahsyat. Kaum muslim membentuk sebuah pasukan perintis berani mati, yang tidak akan kembali kecuali setelah mendapat kemenangan. Terjadilah pertempuran dahsyat (dari pagi hingga sore), sampai akhirnya datang malam menghentikan peperangan mereka. Pasukan muslim dan bangsa Romawi kembali ke kemah-kemah mereka, tanpa ada pihak yang meraih kemenangan. Seluruh anggota pasukan berani mati umat Islam tersebut ternyata terbunuh di medan laga. Maka kaum muslim kembali membentuk sebuah pasukan perintis berani mati, yang tidak akan kembali kecuali setelah mendapat kemenangan. Terjadilah pertempuran dahsyat (dari pagi hingga sore), sampai akhirnya datang malam menghentikan peperangan mereka. Pasukan muslim dan bangsa Romawi kembali ke kemah-kemah mereka, tanpa ada pihak yang meraih kemenangan. Seluruh anggota pasukan berani mati umat Islam tersebut ternyata terbunuh di medan laga. Maka kaum muslim kembali membentuk sebuah pasukan perintis berani mati, yang tidak akan kembali kecuali setelah mendapat kemenangan. Terjadilah pertempuran dahsyat (dari pagi hingga sore), sampai akhirnya datang malam menghentikan peperangan mereka. Pasukan muslim dan bangsa Romawi kembali ke kemah-kemah mereka, tanpa ada pihak yang meraih kemenangan. Seluruh anggota pasukan berani mati umat Islam tersebut ternyata terbunuh di medan laga. Maka pada hari keempat, kaum muslim yang tersisa maju ke kancah pertempuran dengan ganas, sehingga akhirnya Allah mengalahkan bangsa Romawi. Pasukan Romawi terbunuh dalam jumlah yang sangat banyak yang belum pernah dialami sebelumnya. Begitu banyaknya yang terbunuh, sehingga apabila ada burung yang melewati kawasan pertempuran mereka, maka burung itu akan mati sebelum meninggalkan mereka. (Setelah peperangan) satu sama lain yang masih hidup pun menghitung jumlah ke- luarganya yang terbunuh di medan laga. Ternyata dari seratus orang saudara, hanya seorang saja yang masih bertahan hidup. Maka harta rampasan perang mana yang bisa mendatangkan kebahagiaan? Harta warisan mana lagi yang harus dibagikan? Tatkala mereka dalam kondisi pilu seperti ini, tiba-tiba mereka mendengar musibah yang lebih besar lagi. Seorang penyeru (setan) meneriakkan bahwa Dajjal telah menguasai keluarga mereka. Mereka pun melemparkan segala harta rampasan perang yang masih mereka genggam, dan segera bergegas untuk memerangi Dajjal. Mereka mengirim sepuluh orang prajurit berkuda sebagai pasukan mata-mata terdepan." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sungguh aku mengenal nama-nama mereka, nama-nama bapak mereka, dan bahkan warna kuda-kuda mereka. Mereka pada waktu itu adalah sebaik-baik prajurit berkuda di muka bumi." (Shahih Muslim)
Hadits-hadits ini mengindikasikan bahwa kaum muslim akan berperang melawan orang-orang Nasrani Romawi. Romawi menurut lidah Arab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang Nasrani Eropa dan koloni-koloni mereka di Syam sebelum ditaklukkannya Syam lewat tangan para Shahabat. Akan ada jeda dalam peperangan ini karena sebuah gencatan senjata atau pernjanjian.
Selama masa itu, orang-orang Islam dan Romawi akan bertempur melawan musuh bersama. Kenyataan bahwa mereka melawan musuh bersama tidak mengharuskan adanya bentuk kerjasama militer di antara kedua belah pihak, sebagaimana sejumlah pensyarah hadits berkata, "Atau (artinya) kamu berperang melawan musuhmu sendiri secara terpisah sementara mereka melawan musuh (yang sama) sendiri secara terpisah." (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Sunan Ibnu Majah)
Penafsiran ini lebih dekat maknanya dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, "Aku tidak meminta bantuan seorang musyrik." (Shahih Muslim). Dalam ungkapan lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kami tidak meminta bantuan seorang musyrik." (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Kami tidak meminta bantuan musyrikin untuk melawan musyrikin (yang lain)" (Hasan; Riwayat Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lainnya)
Orang-orang Romawi mengkhianati perjanjian dengan mengangkat salib dan membunuh seorang muslim. Peristiwa ini berbuntut pada perang yang kembali berkobar antara umat Islam dan bangsa Romawi. Bangsa Romawi menuntut sebagian orang yang diperbudak dari mereka atau orang-orang mereka yang sebelumnya menjadi tawanan dan kemudian masuk Islam agar mereka (tentara Romawi, pent.) bisa melawan mereka (orang Romawi yang telah masuk Islam, pent.). Perbudakan ini bisa saja terjadi sebelum gencatan senjata atau setelah penkhianatan, wallahu a’lam. Peristiwa ini seluruhnya mengarah ke pertempuran terakhir, terbesar dan paling berdarah –Al-Malhamah Al-Kubra– antara umat Islam dan bangsa Romawi sebelum munculnya ad-Dajjal dan turunnya Al-Masih. Perang ini mengakhiri era kejayaan Nasrani Romawi setelah kaum muslim mengambil alih Konstantinopel lalu Roma, menaklukkan kedua kota tersebut dan mengibarkan bendera Khilafah di atas keduanya.
PERKATAAN PENDIRI DAULAH ISLAM TENTANG TANDA-TANDA KIAMAT
Dari keyakinan dan optimisme berdasarkan Husnuzh Zhann Billah, Fiqh Fitan dan Malahim, tauhid yang hidup dan juga jihad, inilah kata-kata dari para pemimpin Daulah Islam –Abu Mush'ab az-Zarqawi , Abu Hamzah al-Muhajir, dan Abu Umar al-Baghdadi– semoga Allah menerima mereka semua. Mereka tahu bahwa upaya para mujahidin Iraq akan mengarah ke Malhamah, setiap kali terjadi.
Syaikh Abu Mush'ab Az-Zarqawi rahimahullah mengatakan, "Percikan apinya telah menyala di sini, di Iraq, dan panasnya akan terus meningkat –dengan izin Allah– hingga membakar tentara salib di Dabiq." (Ayna Ahlul Muru'at)
Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah berkata, "Untukmu wahai ksatria tauhid, biarawan malam, dan singa rimba, semoga Allah membalas kalian dengan segala kebaikan atas nama kita dan umat Islam. Karena aku telah melihat perang dan orang-orangnya, dan aku bersaksi demi Allah, aku bersaksi demi Allah, bahwa umat kita di negeri dua aliran sungai (Iraq) tidak pernah pelit untuk menganugerahkan putra-putra terbaik dan paling mulia dan jujur kepada kita. Mataku belum pernah melihat orang-orang seperti mereka, juga belum pernah aku mendengar ada orang seperti mereka kecuali kelompok pertama kaum Muslimin (para sahabat). Maka aku bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang yang paling jujur dalam ucapannya, yang paling setia kepada janji-janji mereka, yang paling kuat dari para lelaki, dan yang terkuat dalam menaati Allah. Aku tidak ragu sedikit pun –dan Allah yang lebih tahu– bahwa kita adalah tentara yang akan sampai pada panji hamba Allah al-Mahdi. Jika yang pertama dari kita terbunuh, maka yang terakhir dari kita akan sampai kepadanya" (Sayuhzamul Jam'u Wa Yuwallunad Dubur)
Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah mengatakan, "Jihad Iraq telah membawa kembali kehidupan daerah jihad yang telah sedikit melemah setelah sebelumnya kuat, yang juga akan menyiapkan jalan untuk menyerang negara Yahudi dan merebut kembali Baitul Maqdis. Seolah-olah aku berdiri di hadapan 'asa'ib (kelompok) dari Iraq yang berangkat dari sini untuk memberikan dukungan kepada Mahdi saat ia berpegang pada tirai Ka'bah." (Hashad as-Sinin).
Firasat ini dan pemahaman yang mendalam tentang din adalah sebab mengapa Abu Umar al-Baghdadi menyebutkan dalam kata-katanya, "Wahai umat Islam, ketika kami mengumumkan Daulah Islam dan mengatakan bahwa itu adalah negeri hijrah dan jihad, kami tidak berbohong terhadap Allah dan selanjutnya terhadap manusia, tidak juga kita berbicara tentang mimpi palsu, bukan, dengan karunia Allah Ta'ala, kita lebih mampu memahami sunnatullah dalam hal jihad. Pemahaman ini berasal dari darah para mujahidin di antara Muhajirin dan Anshar, setelah kita menyaksikan karakter dan manhaj mereka dengan mata kita." (Hashad as-Sinin)
Kata-kata ini ditulis di dalam darah mereka yang telah berbicara kata-kata ini, semoga Allah menerima mereka.
Jenis keyakinan tertentu terkadang sulit bagi banyak orang untuk memahaminya, seperti sulitnya umat Islam ketika itu untuk memahami keyakinan dan firasat dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah selama perang melawan Tatar. Hati yang jauh dari Al-Qur'an, Sunnah, dan atsar salaf akan melihat firasat tersebut menjadi hal yang konyol, karena keterikatan mereka terhadap materialisme, filsafat, dan bid’ah dari orang-orang khalaf dan Mu'tazilah.
Ibnul Qayim rahimahullah mengisahkan beberapa firasat gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan, "Dan aku telah menyaksikan hal menakjubkan dari firasat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah - semoga Allah mengampuni dosanya. Apa yang belum aku saksikan jauh lebih besar. Jikalau orang ingin mengumpulkan contoh firasatnya maka akan memerlukan catatan jilid yang besar."
"Beliau memberitahu para sahabatnya bahwa Tatar akan memasuki Syam pada tahun 699, bahwa Tentara Muslim akan dikalahkan, bahwa Damaskus tidak akan mengalami pembantaian besar atau mengalami perbudakan dalam skala besar, dan bahwa kemarahan dan semangat tentara ada pada harta. Dan ini sebelum Tatar memutuskan untuk bergerak maju."
"Dia kemudian memberitahu orang-orang dan para pemimpin di tahun 702 ketika Tatar mulai bergerak maju menuju Syam, bahwa kemalangan dan kekalahan akan menimpa Tatar sedangkan kemenangan dan kejayaan akan menjadi milik umat Islam. Dia kemudian bersumpah atas masalah ini hingga lebih dari tujuh puluh kali sumpah. Hingga dikatakan padanya, Katakanlah insya Allah. Beliau kemudian berkata, "Insya Allah dengan penuh kepastian tanpa keraguan!" Aku mendengar beliau mengatakan hal ini. Beliau berkata, Ketika mereka terus membisikiku dengan keraguan, maka aku katakan kepada mereka untuk berhenti melakukannya dan berkata Allah Ta'ala telah menulisnya di dalam al-Lauhul Mahfudz bahwa Tatar akan dikalahkan kali ini dan kemenangan akan menjadi milik tentara Islam. Dan aku membuat beberapa pemimpin dan tentara agar percaya diri dan bercita-cita untuk meraih manisnya kemenangan sebelum mereka pergi bertemu musuh."
"Dan firasat-firasat yang jelas ini, tentang dua pertempuran ini laksana hujan."
"Dan ketika ia dipanggil ke negeri Mesir untuk tujuan eksekusi – setelah semua seakan sudah pasti terjadi, teman-temannya berkumpul untuk mengucapkan perpisahan. Mereka mengatakan, "Telah terdengar kabar yang sangat banyak bahwa mereka berencana untuk membunuhmu." Maka beliau berkata, "Wallahi, mereka tidak akan pernah mencapai hal tersebut." Mereka berkata, "Apakah engkau akan dipenjara?" Dia berkata, "Ya, dan aku akan dipenjara cukup lama. Lalu aku akan meninggalkan penjara dan berbicara tentang Sunnah di depan orang-orang." Aku mendengarnya mengatakan ini."
"Ketika musuhnya yang dijuluki Jashinkir menduduki tahta kerajaan dan Syaikhul Islam diberitahu akan hal itu, mereka mengatakan kepadanya, 'Sekarang ia akan melaksanakan rencananya melawan engkau." Namun beliau justru bersujud syukur kepada Allah dengan sujud yang panjang. Maka dikatakan kepadanya, 'Apa penyebab sujud ini?" beliau berkata, "Mulai sekarang Ini adalah awal dari kehinaan dan perginya kekuatan. Dan sudah dekat waktunya urusannya akan sirna." Dikatakan padanya, "Kapan itu akan terjadi?" Dia berkata, "Kuda-kuda tentara tidak akan ditambat- kan dengan pasak sampai negaranya dikalahkan." Dan hal ini terjadi sesuai apa yang beliau katakan. Aku mendengar ini darinya. (...) "
"Dan beliau mengatakan kepadaku tentang hal-hal besar yang akan terjadi dalam waktu yang akan datang tanpa memberikan tanggal tertentu. Aku telah melihat sebagian telah terjadi dan aku menunggu sebagian lainnya. Sebagaimana para shahabat senior telah menyaksikan, maka itu jauh lebih dari apa yang telah aku saksikan. Wallahu a’lam." (Madarijus Salikin)
Dan setelah membaca kisah di atas tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kita tidak perlu terkejut mendengar keyakinan dan kepastian pemimpinan para mujahidin tentang janji Allah dan nubuwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
PERKATAAN SYAIKH ADNANI TENTANG PERANG SALIB
Syaikh Abu Muhammad al-Adnani asy-Syami hafizhahullah berkata, "Wahai tentara Daulah Islam, bersiaplah untuk operasi militer terakhir tentara salib. Ya, dengan kehendak Allah, ini akan menjadi yang terakhir. Setelah itu, kita yang akan menyerang mereka dengan izin Allah dan mereka tidak akan menyerang kita." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dan dia berkata, "Dan kami berjanji dengan izin Allah bahwa operasi militer ini akan menjadi operasi militer terakhir kalian. Ia akan hancur dan dikalahkan, seperti semua operasi militer sebelumnya yang hancur dan dikalahkan, bahkan kini kita akan menyerang kalian setelah ini, dan kalian tidak akan pernah menyerang kami lagi. Kami akan menaklukkan kota Roma kalian, mematahkan salib kalian, dan memperbudak wanita kalian, dengan izin Allah Ta'ala. Ini adalah janji-Nya untuk kita; Maha Suci Dia dan Dia tidak menyelisihi janjiNya. Jika kita tidak mencapai waktu itu, maka anakanak kami dan cucu-cucu kami akan mencapai hal itu, dan mereka akan menjual anak-anak kalian sebagai budak di pasar budak." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dan dia berkata, "Oleh karena itu Allah akan memberikan kemenangan. Sesungguhnya Allah akan memberikan kepada kalian kemenangan. Demi Allah, Allah akan memberi kalian kemenangan. Jaminlah bagi kami dua hal, maka kami akan menjaminkan bagi kalian -dengan izin Allah- kemenangan terus menerus dan tamkin. Pertama, janganlah berbuat zhalim kepada siapa pun juga, dan janganlah puas dengan kezhaliman dengan mendiamkannya di saat melihat hal itu dan tidak mela- porkan hal tersebut kepada pihak yang berwenang. Kedua, jangan menjadi sombong atau arogan. Ini adalah apa yang kami khawatirkan terjadi pada kalian dan kami takutkan dari kalian." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dan dia berkata, "Ya Allah, jadikanlah operasi militer pasukan salib ini sebagai yang terakhir, sehingga kita menyerang mereka dan mereka tidak menyerang kita." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)
Dia mengungkapkan dengan tanpa keraguan, bahwa jika para mujahidin berpegang teguh pada perjanjian mereka dengan Rabb mereka, dan hanya bertawakal kepada-Nya, maka serangan salib yang lemah, menyedihkan, dan yang gagal akan menjadi yang terakhir, yang akan disusul gencatan senjata, kemudian terjadi pengkhianatan pasukan salib yang mengarah ke al-Malhamah al-Kubra, wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar