DABIQ 4 - FEATURE
PERANG SALIB YANG MELAYANI IRAN DAN RUSIA
Aliansi aneh antara Persia dan Rusia –dua kekuasaan yang selama berabad-abad berperang dengan Barat– adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Mengenai beberapa pertempuran di masa lalu mereka, Allah Ta'ala mengungkapkan, "Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang. (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ar-Rum: 2-6)
Dan setelah berabad-abad konflik antara Barat dengan Persia dan Rusia, kita menemukan bahwa dua pemimpin Barat -Bush dan Obama– bertekad untuk melakukan segala hal untuk bisa memperkuat pengaruh Persia dan Rusia di Timur Tengah.
Mengenai kesalahan Bush, Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir mengatakan, "Aku ingin mengingatkan tentang orang bodoh yang ditaati oleh rakyatnya (Bush) yang ia mampu dalam waktu yang sangat singkat untuk menghidupkan kembali kejayaan Kekaisaran Persia kuno. Dengan demikian, ia menjadi lebih menyenangkan bagi negaranya daripada Gorbatchev bagi Unionnya (Uni Soviet). Bush aktif menyebarkan pengaruh Persia (Iran) di Afghanistan yang sebelumnya itu menjadi hal sangat sulit bagi orang-orang Persia. Dia diperbantukan dengan Iraq dan membuka kekayaannya, yang sebelumnya mereka tidak bermimpi bisa meminum seteguk airnya. Dan sekarang mereka bisa menyedot minyaknya, menjarah harta, dan memperbudak warganya. Ketiga, dia khawatir terhadap tiran Rafidhi Nushairi –melalui embargo atas Suriah*– untuk membuka negaranya hingga ratusan, bahkan ribuan orang Persia dan menjadikan diri mereka warga negara di sana dan kelak menjadi pendukung bagi agen Dajjal Nasrullat yang disebut 'Nasr Allah', yang baru saja muncul dari apa yang disebut ‘kemenangan melawan mesin perang Romawi (militer Israel)’. Dan dengan demikian, Kekaisaran Persia kuno selesai dan diperluas dari Daerah di Belakang Sungai (Iraq, Mesopotamia) ke Iran kemudian melalui Iraq –lokasi al-Mada'in (yang dulu merupakan ibukota kekaisaran Persia)– berakhir di Syam (Suriah, Lebanon, Palestina). Jadi apakah Anda berpikir bahwa orang-orang Majusi Persia akan pernah bisa membayar si bodoh -Bush- yang telah menghidupkan kembali kejayaan kuno mereka bagi mereka tanpa perlu bagi mereka menembak satu peluru pun atau mengorbankan satu prajurit pun? Dan menurut Anda apakah masuk akal orang-orang Romawi akan menyadari bahwa mereka telah menjadi budak untuk Persia dan telah menjadi tentara bayaran yang berperang bagi mereka tanpa dibayar." (Inil Hukmu Illa Lillah).
Sejumlah orang Amerika dan Barat telah berbicara tentang musuh lama mereka; Iran dan sekutunya – mungkin ini adalah musuh bersama yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seorang tentara salib Yahudi, mantan Menlu AS dan Penasihat Keamanan Nasional AS, Henry Kissinger, mengatakan; "Dalam semua krisis yang bergolak di dunia, AS seharusnya tidak kehilangan fokus terhadap Iran," seperti yang disampaikan oleh Scott Simon dari NPR.
Henry Kissinger juga mengatakan, "Di sana (telah) ada semacam sabuk Syiah yang memanjang dari Teheran melalui Baghdad hingga ke Beirut. Dan ini memberikan Iran kesempatan untuk merekonstruksi Imperium Persia kuno, kali ini di bawah label Syiah. Dari titik geostrategis, aku menganggap Iran lebih besar masalahnya dari ISIS. ISIS adalah sekelompok petualang dengan ideologi yang sangat agresif. tapi mereka harus menaklukkan lebih banyak lagi wilayah sebelum mereka bisa menjadi geo-strategis, dan berwujud nyata. Aku pikir konflik dengan ISIS – dan itu tetap penting itu – lebih mudah ditangani daripada konfrontasi dengan Iran" (Wawancara NPR). *
Sekali lagi, sikap meremehkan Daulah Islam muncul karena analisis materialis yang percaya bahwa kekuatan hanya ada dalam persenjataan dan teknologi, lupa bahwa kekuatan sejati bergantung pada keyakinan tauhid, yang akan membebaskan seseorang dari semua rasa takut dan hanya menyimpan rasa takut kepada Rabbnya sehingga akan memperoleh pertolongan dari-Nya. Oleh karena itu, Iran tidak akan pernah menjadi "masalah yang lebih besar dari ISIS" kecuali Barat menyepakati gencatan senjata dengan Daulah Islam yang mengharuskan penghentian semua serangan terhadap Muslim.
Mantan Kepala CIA "Urusan Stasiun Bin Laden" Michael Scheuer, mengatakan, "Untuk saat ini, bagaimanapun, awal dari kebijaksanaan adalah dengan melihat apa yang sedang terjadi di Iraq dan Suriah dan melihatnya dengan jelas. Di kedua tempat, semua orang yang oleh beberapa pemerintah AS telah diidentifikasi sebagai musuh Amerika saling membunuh satu sama lain. Di Suriah, rezim Assad, Iran dan Hizbullah Lebanon membunuh Mujahidin Sunni dari seluruh dunia, serta menjadi sekutu lokal dan pendukung mereka. Pada gilirannya, Muslim Sunni di Suriah membunuh pasukan Assad, Garda Revolusi Iran, dan pejuang Hizbullah. Ini adalah keadaan yang sempurna untuk Amerika Serikat, semua musuh kami saling membunuh tanpa kita perlu mengeluarkan satu sen pun dan mengorbankan satu nyawa pun."
*Dalam wawancara yang sama si Yahudi sombong dan pengecut ini berkata, "Aku pikir ketika kita sedang berhadapan dengan kelompok seperti ISIS, kita tidak harus masuk ke posisi di mana mereka dapat menyeret kita menurunkan pasukan darat. Tapi kita harus menetapkan tujuan strategis di mana kita dapat menggagalkan tujuan apa pun untuk mengatur diri mereka sendiri, yang harus kita mampu lakukan adalah menyerang dengan kekuatan udara yang unggul. Dan kemudian jika kita bisa meminta negara-negara lain atau kelompok-kelompok lokal atau yang lainnya untuk melakukan pertempuran darat, kita mungkin benar-benar bisa menghancurkan mereka. "
"Selama di Iraq, kita juga melihat banyak fenomena mengagumkan yang sama yang terjadi. Mujahidin multinasional Sunni dan mantan personil militer Saddam berperang dan membunuh rezim diktator Maliki, pasukan militer Syiah, dan pendukung militer Iran. Dan, seperti di Suriah, Maliki dan gengnya membunuh musuh Islamis Sunni kami. Di Iraq juga ada potensi untuk bonus menggiurkan yang mulai membuahkan hasil. Jika Amerika Serikat tetap keluar dari konflik ini, maka perang baru di Iraq dapat memicu perang sipil antara Syiah Vs Sunni yang meluas di mana musuh Islam kita – sebagaimana mereka didefinisikan oleh para elit politik bipartisan kami – mungkin akan mulai saling membunuh satu sama lain untuk waktu yang lama dan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan, sekali lagi, tanpa sedikit pun kita harus membayarnya, baik nyawa ataupun dollar".
"Jadi mari kita menarik nafas dalam-dalam dan Letnan Kolonel Peters hanya memberikan saran dan duduk kembali sambil menonton apa yang terjadi di Suriah dan Iraq dengan tenang dan benar-benar dari pinggir lapangan. Bersorak untuk tidak mendukung sisi mana pun, tidak menjawab permintaan bantuan –terutama bukan salah satu dari fihak yang dekat dengan kubu neokonservatif yang sekarang kita tahu mereka tenggelam dengan Israel tercinta di invasi Iraq 2003– dan juga berdoa agar Obama tidak bekerja sama dengan Iran untuk mengembalikan tirani Maliki Syiah sehingga dengan demikian mendapatkan permusuhan kekal dari seluruh dunia Sunni."
Dia juga mengatakan, "Apa yang harus dilakukan sekarang? Pertama, keluar dari Iraq secara total dan menyeluruh. Untuk kembali melakukan intervensi justru akan membuat Amerika mengeluarkan biaya uang lebih dan nyawa, dan itu akan mendorong harga minyak naik lebih cepat. Itu juga akan menyebar tidak hanya pada intervensi Amerika Serikat di negara Muslim yang kaya minyak saja, tapi juga berarti ikut campur dalam perang agama antara Sunni-Syiah, dan berdiri di sisi Syiah, berarti menghadapi kebencian dari muslim Sunni seluruh dunia."
Meskipun kata-katanya mengandung harapan agar umat Islam terus dibunuhi oleh tangan Rafidah sehingga AS bisa menontonnya dengan gembira, tetapi ia mengungkapkan kebenaran yang memang tercermin di atas dan memang seperti itulah, mengapa Amerika merepotkan dirinya dalam peperangan yang terjadi di antara dua musuhnya dan mendukung salah satu sisi dari mereka yang seolah melayani kepentingan musuhnya di wilayah tersebut dan tidak ada yang lain?
Obama kini memperkuat rezim Iraq, yang tak diragukan lagi didukung oleh intelijen, militer, dan keuangan Iran. Milisi Syiah Iran saat ini berjuang untuk "membela" Baghdad. Rezim Iraq dan pendiri Iran telah menjadi salah satu sekutu terbesar rezim Asad di Suriah. Mereka telah mengirim para pejuang ke batalyon AbulFadl al-'Abbas. Angkatan udara Asad telah menghentikan semua serangan udara terhadap Daulah Islam di sejumlah wilayah Syam, mungkin karena lebih murah bagi mereka untuk mendapatkan keuntungan dari serangan udara AS atas nama mereka, terutama sejak finansial rezim Asad runtuh dan tidak pintar memukul target secara akurat. Pada saat yang sama, mereka telah berhasil "menyembunyikan" senjata kimia dari Barat dan menggunakannya tanpa penghalang. Hizbullah telah mengirim gerilyawan untuk memerangi umat Islam di Iraq dan Suriah. Dan Houtsi Yaman –sekutu Iran– telah membanjiri Shana’a.
Yang paling signifikan, Rusia –sebagai sekutu terbesar Iran serta sekutu China– telah memasuki Ukraina, yang diduga diklaim oleh Barat. Rusia terus mempersenjatai rezim Asad terhadap Muslim Syam. Mereka telah membual tentang kemampuan nuklir mereka sekali lagi. Namun Obama menegaskan setelah memperkuat "Bulan Sabit Persia" dan pengaruh Rusia di wilayah tersebut. Rasanya Para pemimpin Amerika dibutakan oleh cinta mereka terhadap Negara Yahudi yang hanya melakukan kerusakan yang disangka benar menurut kepentingan Barat.
PERANG PROKSI DAN SERANGAN UDARA YANG TIDAK EFEKTIF
Amerika –di saat berada dalam puncak kelemahan dan kepengecutan– meyakinkan rakyatnya untuk tidak masuk ke dalam kancah pertempuran secara langsung di darat melawan Daulah Islam, melainkan akan bergantung pada proksi-proksi murtadnya di wilayah tersebut. Lantas, siapa sajakah proksi yang diusulkan?
PKK
PKK (Partiya Karkerên Kurdistan/Partai Pekerja Kurdi) adalah organisasi nasionalis Marxis Kurdi. Pendiri mereka, Ocalan, adalah seorang Kurdi yang berasal dari keluarga penganut Nushairiyah. Dia membentuk partai tersebut, menyerukan pembentukan negara Marxis Kurdi yang merdeka. Partai ini kemudian membentuk PYD (Partiya Yekîtiya Demokrat/Partai Persatuan Demokrat), sebuah front untuk PKK di Syam. PYD membentuk komite lokal di dalam wilayah Kurdi yang berkoordinasi dengan rezim Asad. Sasaran komite syabihah Kurdi ini adalah orang-orang Muslim Kurdi yang menentang Asad dan memprotes Nushairiyah.
PKK merupakan salah satu organisasi terbesar yang bertanggung jawab terhadap lalu lintas perdagangan narkotika di Eropa. Organisasi ini dianggap sebagai organisasi "teroris" oleh para salibis – AS, Uni Eropa, dan negara boneka mereka, Turki. Orang-orang "komunis", "teroris" dan pendukung rezim Asad ini –yang juga terdiri dari sejumlah "pejuang" perempuan yang lemah–didukung oleh serangan udara AS di Syam. Meskipun didukung oleh serangan udara dan pengalaman perang yang diduga panjang dari para gerilyawan PKK di Turki, Daulah Islam berhasil mengusir PKK dari sebagian besar benteng mereka dengan kekuasaan dan kekuatan dari Allah.
FSA
FSA (Free Syrian Army) adalah pengelompokan dangkal sejumlah grup yang sangat longgar ikatannya dengan kepemimpinan pusat yang lemah, yang berbasis di Turki. Mereka tidak meraih keberhasilan satu pun dalam medan pertempuran besar atas rezim Asad, sejak runtuhnya FSA dan bangkitnya apa yang disebut dengan pejuang Islamis dari Front Islam (Jabhah Islamiyah) yang didukung Alu Salul (Saudi Arabia, pent) dan Qatar.
Meskipun FSA mengklaim memperjuangkan ideologi kufur demokrasi, sebenarnya tidak ada ideologi yang tepat untuk "tentara" ini selain pencurian dan tembakau. Dengan alasan ini, para pejuang mereka terus-menerus beralih aliansi dari FSA ke Azh-Zhawahiri ke PKK – seperti halnya yang terjadi dengan Jabhah Tsuwwar ar-Raqqah. Mereka juga berulang kali menjual senjata yang mereka terima dari Barat dan para donatur murtad untuk sesuatu yang hampir tidak ada nilainya ke para pedagang senjata. Daulah Islam telah membeli senjata tersebut dalam jumlah yang banyak dengan harga yang murah. Akhirnya, kelompok tentara ini belum pernah dilatih para salibis untuk melawan mujahidin.
Peshmerga
Sejak lama, Peshmerga telah dipengaruhi oleh PUK (Patriotic Union of Kurdistan) yang berhaluan Marxis hingga Berzani mengambil alih sepenuhnya dan membuat milisi ini lebih "menarik". Selama pemerintahan Berzani, Kurdistan berkembang menjadi pembunuh dengan semangat juang terbesar – negeri yang dipenuhi hawa nafsu dan dunia. Berbeda dengan Peshmerga di masa lalu, para pejuang mereka saat ini adalah tentara bayaran yang pengecut dan kosong dari aqidah apa pun yang hanya menunggu untuk upah yang sangat kecil. Oleh karena itu, Daulah Islam mampu mengusir mereka dari Wilayah Nainawa dengan mudah.
Yang tersisa hanyalah Dewan Kebangkitan Iraq (Gerakan Shahwah / Shahawat) yang telah gagal, Garda Nasional Iraq yang belum juga terbentuk dan terlatih, dan Front "Islam" (Jabhah Islamiyah) yang sekarat. Para pejuang yang tidak disiplin ini yang diharap akan berperang melawan Daulah Islam yang setiap harinya menerima ratusan relawan yang bertobat, yaitu orangorang yang kecewa dengan para pemimpin Shahwah Suriah.
Dengan demikian, tentara salib pengecut dibiarkan tanpa memiliki pasukan darat yang kuat dan terpaksa untuk mengandalkan sepenuhnya pada serangan udara yang memungkinkan rezim Asad untuk berhenti sejenak untuk menyerang umat Islam di Syam. Lagi pula, seberapa efektifkah serangan udara ini?
Daulah Islam telah meluas hingga ke ‘Ain Al-Islam dan daerah-daerah di Wilayah Al-Anbar dan Baghdad dengan cara yang tak terduga oleh pihak Barat. ‘Ain Al-Islam adalah fokus utama Daulah Islam, sebab PKK diperkIraqan akan menjadi sekutu utama tentara salib dalam tahap Perang Salib mereka. Hal ini berdasarkan pengalaman bertempur para pejuang PKK dan ideologi sekuler partai mereka yang murni, yang memandang negara Yahudi adalah sekutu negara Kurdi di masa depan.
Komandan pasukan salib Jenderal Dempsey mengklaim bahwa AS membutuhkan minimal 15 ribu pejuang di darat untuk merebut wilayah dari Daulah Islam, sedangkan CIA mengklaim Daulah Islam memiliki 31,500 pejuang yang berkembang setiap hari! Menteri Pertahanan Hagel mengatakan para pejuang proksi mereka harus disaring untuk memastikan senjata dan bantuan yang dikirim oleh AS tidak berakhir di tangan musuh-musuhnya.
Latihan militer ini akan memakan waktu setahun lamanya hingga selesai. Jadi, sampai sekarang, serangan udara yang gagal adalah satu-satunya perangkat berperang tentara salib. Menurut Scheuer, satu-satunya waktu di mana serangan udara berhasil menentukan akhir dari peperangan adalah serangan yang dilakukan atas Hiroshima dan Nagasaki!
Sungguh, sekali lagi Amerika telah terjebak di rawa-rawa!
Note: Proxy war (perang proksi) adalah perang yang terjadi ketika salah satu di antara dua pihak yang bertikai memanfaatkan pihak ketiga dalam menghadapi lawannya.
SEJARAH YANG BERULANG
Pada tanggal 17 September 2001 George W. Bush berkata, "Perang salib ini, perang melawan terorisme ini, akan memakan waktu cukup lama. Dan rakyat Amerika harus bersabar."
Barack Obama mengikuti pendahulunya pada tanggal "9 Agustus 2014" dengan mengatakan perang salib melawan Daulah Islam "akan menjadi proyek jangka panjang".
Akan tetapi, Obama lebih munafik dengan mengatakan bahwa perang Iraq adalah "perang yang bodoh". Dia memulai kepresidenannya dengan janji untuk mengakhiri perang Iraq namun dia kembali mengatakan sebagaimana yang ditinggalkan pendahulunya, dan mengirim pasukan ke Iraq setelah berjanji untuk tidak mengirimnya. Dia kemudian memerintahkan untuk mengadakan serangan udara yang menyebabkan terbunuhnya pria, wanita, dan anak-anak muslim di Iraq dan Syam. Dia memberi hak kepada pasukannya untuk melakukan hal tersebut, sambil menuduh pembunuhan atas Foley, Sotloff, Haines, dan Henning sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan! Dia mendapatkan semua ini setelah menerima penghargaan Nobel Perdamaian yang munafik.
Dan tidak seperti Bush, pemerintahannya terpecah dengan pertanyaan tentang apa itu perang dan bagaimana perang itu harus dimenangkan. Mereka bahkan tidak tahu apakah mereka harus terlibat dalam perang atau tidak! Akan tetapi, mereka semua –termasuk Bush– sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Ta’ala: "Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti." (al-Hasyr: 14)
MEMUDARNYA ZONA ABU-ABU
Sejak dimulainya perang salib ini, di media garis depan, para ideolog jihad gadungan dan mujahidin palsu telah mencoba memposisikan diri di posisi yang tidak mendukung Daulah Islam tidak juga mendukung Shahawat ... ini hanya akan membuat mereka terjerumus ke dalam parit media murtad dan ulama agama para thaghut Arab. Mereka bahkan meniru Nushairiyah dan oposisi sekuler dengan memberi label pada Daulah Islam sebagai "Da’isy" dan "Tanzhim ad-Daulah," dengan sikap tepatnya meniru channel satelit dan ulama istana Alu Salul dan Qatar.
Salah satu orang paling top dalam "Ideolog jihad" menyajikan hukum tentang cara menghadapi "ekstremisme dan takfir" dari "Jamaah Daulah" sesuai dengan yang diutarakan oleh Obama, Chuck Hagel, Dempsey, dan Departemen Nasional AS. Termasuk Sarannya untuk mencegah sumber daya keuangan dan manusia untuk mencapai Daulah Islam serta agama tidak menganggap sah Daulah sebagaimana cara pejabat AS mengatakan ulama "Muslim" harus melakukan seperti ini. Namun dia dan orang-orang sepertinya mengklaim bahwa mereka netral!
Hal ini seolah-olah menandakan bahwa mereka belum membaca ayat-ayat Qur'an yang mengajarkan kita bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen memerangi kaum Muslimin karena agama mereka dan bahwa semakin dia diperangi oleh mereka lantaran agamanya maka semakin dekat dia ke jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah." (Al-Baqarah: 120)
"Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah: 217)
Mengutip perkataan Syaikh Anwar al-Awlaki rahimahullah, "Jika seseorang ingin mengenal orang-orang yang dalam kebenaran, maka biarlah dia menga- mati ke mana panah musuh ditujukan". Kebanyakan dari mereka –jika tidak semua– sekarang mengarah kepada Daulah Islam, pemimpinnya, tentara, dan warganya.
Perang salib melawan Daulah Islam adalah kesaksian terbesar dari Allah akan baiknya manhaj Khilafah ini. Siapa pun kita, sekarang harus memperhatikan imannya sebelum Kematian yang datangnya tiba-tiba merenggutnya saat ia berdiri dengan satu kaki di parit tentara salib dan yang lainnya di parit orang-orang munafik sementara dia mengklaim di zona abu-abu! Seorang Mujahid tidak mengenal zona abu-abu. Sebagai seorang pembohong, Bush jujur ketika berkata, "Entah Anda bersama kami atau Anda bersama dengan teroris."
Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah berkomentar, "Maka dunia saat ini terbagi ke dalam dua kubu. Bush berbicara kebenaran saat mengatakan, "Entah Anda dengan kami atau Anda dengan para teroris". Yakni, baik Anda bersama perang salib atau Anda dengan Islam. Bush hari ini di garis depan membawa salib besar dan berjalan. Aku bersumpah demi Allah yang Maha Agung bahwa setiap orang yang berjalan di belakang Bush dalam rencananya maka dia telah murtad dari agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hukum ini adalah hukum yang sangat jelas di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah (shallallahu 'alayhi wasallam). Para ulama telah mengatakan ini sebagaimana aku telah sebutkan sebelumnya. Bukti untuk ini adalah pernyataan Allah Subhanahu wa Ta'ala di mana Dia menjelaskan kepada orang-orang yang beriman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim." (Al-Ma'idah: 51). Para ulama berkata, "Barangsiapa yang bersekutu dengan kaum kafir maka dia telah kafir." Bentuk terbesar dari persekutuan adalah dengan dukungan, baik dengan pernyataan, tombak, atau pidato. Maka orang-orang yang melangkah di belakang Bush dalam perang salib terhadap kaum Muslimin mereka telah kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya. (...) Maka aku katakan kepada umat Islam, berhati -hatilah dan berhati-hatilah dari bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, dan siapa pun yang terlanjur telah berkata-kata, maka hendaknya dia takut kepada Allah, memperbaharui imannya, dan bertobat dari perbuatannya. (...) Bahkan walau dia mendukung mereka hanya dengan satu kata. Dia yang sejalan dengan mereka walau hanya dengan satu kata maka dia telah jatuh ke dalam kemurtadan – Kemurtadan ekstrim, wa laa haula wa laa quwwata illa Billah." (Wawancara 4 Sya'ban 1422H)
Beberapa dari mereka mengaku dalam zona abu-abu, ketika merasa cepat kecewa dengan tentara salib meskipun mereka terus menerus Ribat di media dan parit militer Alu Salul dan Qatar, dan mereka ditenangkan oleh tentara salib dengan pembebasan tanpa syarat tahanan mereka dalam apa yang dijelaskan oleh petugas "intelijen" AS sebagai upaya untuk menjaga jarak dari "ekstremis" Daulah Islam.
Seseorang dengan ketulusan akan menyadari bahwa tidak ada zona abu-abu dalam perang salib melawan Daulah Islam, dan bahwa dunia telah dibagi menjadi dua kubu, satu untuk orang-orang beriman, yang lain bagi orang-orang kufur, semua dalam persiapan untuk malhamah terakhir.
BERSEGERALAH DUKUNG DAULAHMU WAHAI UMAT ISLAM
Pada titik perang salib terhadap Daulah Islam ini, sangat penting akan serangan yang terjadi di setiap negara yang telah menandatangani aliansi terhadap Daulah Islam, khususnya Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia, dan Jerman. Karenanya, warga negara tentara salib harus ditargetkan di mana pun mereka dapat ditemukan. Biarkan para muwahhid tidak terpengaruh oleh "Analysis Paralysis"* sehingga meninggalkan setiap operasi hanya karena rasa was-wasnya, dan "perfeksionisme" mendorongnya ke arah operasi yang konon pernah bisa gagal – sesuatu yang hanya ada secara teoritis di atas kertas. Dia harus senang bertemu Rabbnya, walau hanya ada satu nama orang kafir yang mati yang tertulis di dalam kitab amalannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Orang kafir dan pembunuhnya tidak akan berkumpul di neraka." (Shahih Muslim)
*Analysis Paralysis adalah keadaan di mana seorang individu tenggelam dalam menganalisa berbagai teori atau cara secara berlebihan sehingga tidak berani mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, pent
Setiap Muslim harus keluar dari rumahnya, menemukan tentara salib, dan membunuhnya. Adalah penting bahwa pembunuhan menjadi ciri dari pendukung Daulah Islam yang telah mematuhi pemimpinnya. Ini dapat dengan mudah dilakukan dengan anonimitas. Jika tidak, media salib akan membuat serangan tersebut seolah pembunuhan acak.
Kerahasiaan harus selalu dilakukan ketika akan melakukan perencanaan dan mengeksekusi serangan apa pun. Semakin sedikit orang yang terlibat dan semakin jarang diskusi yang dilakukan sebelumnya, semakin besar kemungkinan operasi akan berhasil tanpa masalah.
Salah satu yang mempersulit serangan adalah dengan melibatkan pihak-pihak lain, pembelian berbagai bahan, atau berkomunikasi dengan individu yang berhati lemah. "Bertawakallah kepada Allah dan tusuklah tentara salib itu!" harus menjadi teriakan perang bagi semua pendukung Daulah Islam.
Akhirnya, jangan lupa bahwa Allah bersama orangorang Muslim dan tidak akan pernah meninggalkan mereka kepada musuh-musuh-Nya. Dan Daulah Islam baaqiyah (tetap eksis) hingga panjinya berkibar di atas Roma.
PERANG SALIB YANG MELAYANI IRAN DAN RUSIA
Aliansi aneh antara Persia dan Rusia –dua kekuasaan yang selama berabad-abad berperang dengan Barat– adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Mengenai beberapa pertempuran di masa lalu mereka, Allah Ta'ala mengungkapkan, "Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa, Maha Penyayang. (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ar-Rum: 2-6)
Dan setelah berabad-abad konflik antara Barat dengan Persia dan Rusia, kita menemukan bahwa dua pemimpin Barat -Bush dan Obama– bertekad untuk melakukan segala hal untuk bisa memperkuat pengaruh Persia dan Rusia di Timur Tengah.
Mengenai kesalahan Bush, Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir mengatakan, "Aku ingin mengingatkan tentang orang bodoh yang ditaati oleh rakyatnya (Bush) yang ia mampu dalam waktu yang sangat singkat untuk menghidupkan kembali kejayaan Kekaisaran Persia kuno. Dengan demikian, ia menjadi lebih menyenangkan bagi negaranya daripada Gorbatchev bagi Unionnya (Uni Soviet). Bush aktif menyebarkan pengaruh Persia (Iran) di Afghanistan yang sebelumnya itu menjadi hal sangat sulit bagi orang-orang Persia. Dia diperbantukan dengan Iraq dan membuka kekayaannya, yang sebelumnya mereka tidak bermimpi bisa meminum seteguk airnya. Dan sekarang mereka bisa menyedot minyaknya, menjarah harta, dan memperbudak warganya. Ketiga, dia khawatir terhadap tiran Rafidhi Nushairi –melalui embargo atas Suriah*– untuk membuka negaranya hingga ratusan, bahkan ribuan orang Persia dan menjadikan diri mereka warga negara di sana dan kelak menjadi pendukung bagi agen Dajjal Nasrullat yang disebut 'Nasr Allah', yang baru saja muncul dari apa yang disebut ‘kemenangan melawan mesin perang Romawi (militer Israel)’. Dan dengan demikian, Kekaisaran Persia kuno selesai dan diperluas dari Daerah di Belakang Sungai (Iraq, Mesopotamia) ke Iran kemudian melalui Iraq –lokasi al-Mada'in (yang dulu merupakan ibukota kekaisaran Persia)– berakhir di Syam (Suriah, Lebanon, Palestina). Jadi apakah Anda berpikir bahwa orang-orang Majusi Persia akan pernah bisa membayar si bodoh -Bush- yang telah menghidupkan kembali kejayaan kuno mereka bagi mereka tanpa perlu bagi mereka menembak satu peluru pun atau mengorbankan satu prajurit pun? Dan menurut Anda apakah masuk akal orang-orang Romawi akan menyadari bahwa mereka telah menjadi budak untuk Persia dan telah menjadi tentara bayaran yang berperang bagi mereka tanpa dibayar." (Inil Hukmu Illa Lillah).
Sejumlah orang Amerika dan Barat telah berbicara tentang musuh lama mereka; Iran dan sekutunya – mungkin ini adalah musuh bersama yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seorang tentara salib Yahudi, mantan Menlu AS dan Penasihat Keamanan Nasional AS, Henry Kissinger, mengatakan; "Dalam semua krisis yang bergolak di dunia, AS seharusnya tidak kehilangan fokus terhadap Iran," seperti yang disampaikan oleh Scott Simon dari NPR.
Henry Kissinger juga mengatakan, "Di sana (telah) ada semacam sabuk Syiah yang memanjang dari Teheran melalui Baghdad hingga ke Beirut. Dan ini memberikan Iran kesempatan untuk merekonstruksi Imperium Persia kuno, kali ini di bawah label Syiah. Dari titik geostrategis, aku menganggap Iran lebih besar masalahnya dari ISIS. ISIS adalah sekelompok petualang dengan ideologi yang sangat agresif. tapi mereka harus menaklukkan lebih banyak lagi wilayah sebelum mereka bisa menjadi geo-strategis, dan berwujud nyata. Aku pikir konflik dengan ISIS – dan itu tetap penting itu – lebih mudah ditangani daripada konfrontasi dengan Iran" (Wawancara NPR). *
Sekali lagi, sikap meremehkan Daulah Islam muncul karena analisis materialis yang percaya bahwa kekuatan hanya ada dalam persenjataan dan teknologi, lupa bahwa kekuatan sejati bergantung pada keyakinan tauhid, yang akan membebaskan seseorang dari semua rasa takut dan hanya menyimpan rasa takut kepada Rabbnya sehingga akan memperoleh pertolongan dari-Nya. Oleh karena itu, Iran tidak akan pernah menjadi "masalah yang lebih besar dari ISIS" kecuali Barat menyepakati gencatan senjata dengan Daulah Islam yang mengharuskan penghentian semua serangan terhadap Muslim.
Mantan Kepala CIA "Urusan Stasiun Bin Laden" Michael Scheuer, mengatakan, "Untuk saat ini, bagaimanapun, awal dari kebijaksanaan adalah dengan melihat apa yang sedang terjadi di Iraq dan Suriah dan melihatnya dengan jelas. Di kedua tempat, semua orang yang oleh beberapa pemerintah AS telah diidentifikasi sebagai musuh Amerika saling membunuh satu sama lain. Di Suriah, rezim Assad, Iran dan Hizbullah Lebanon membunuh Mujahidin Sunni dari seluruh dunia, serta menjadi sekutu lokal dan pendukung mereka. Pada gilirannya, Muslim Sunni di Suriah membunuh pasukan Assad, Garda Revolusi Iran, dan pejuang Hizbullah. Ini adalah keadaan yang sempurna untuk Amerika Serikat, semua musuh kami saling membunuh tanpa kita perlu mengeluarkan satu sen pun dan mengorbankan satu nyawa pun."
*Dalam wawancara yang sama si Yahudi sombong dan pengecut ini berkata, "Aku pikir ketika kita sedang berhadapan dengan kelompok seperti ISIS, kita tidak harus masuk ke posisi di mana mereka dapat menyeret kita menurunkan pasukan darat. Tapi kita harus menetapkan tujuan strategis di mana kita dapat menggagalkan tujuan apa pun untuk mengatur diri mereka sendiri, yang harus kita mampu lakukan adalah menyerang dengan kekuatan udara yang unggul. Dan kemudian jika kita bisa meminta negara-negara lain atau kelompok-kelompok lokal atau yang lainnya untuk melakukan pertempuran darat, kita mungkin benar-benar bisa menghancurkan mereka. "
"Selama di Iraq, kita juga melihat banyak fenomena mengagumkan yang sama yang terjadi. Mujahidin multinasional Sunni dan mantan personil militer Saddam berperang dan membunuh rezim diktator Maliki, pasukan militer Syiah, dan pendukung militer Iran. Dan, seperti di Suriah, Maliki dan gengnya membunuh musuh Islamis Sunni kami. Di Iraq juga ada potensi untuk bonus menggiurkan yang mulai membuahkan hasil. Jika Amerika Serikat tetap keluar dari konflik ini, maka perang baru di Iraq dapat memicu perang sipil antara Syiah Vs Sunni yang meluas di mana musuh Islam kita – sebagaimana mereka didefinisikan oleh para elit politik bipartisan kami – mungkin akan mulai saling membunuh satu sama lain untuk waktu yang lama dan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan, sekali lagi, tanpa sedikit pun kita harus membayarnya, baik nyawa ataupun dollar".
"Jadi mari kita menarik nafas dalam-dalam dan Letnan Kolonel Peters hanya memberikan saran dan duduk kembali sambil menonton apa yang terjadi di Suriah dan Iraq dengan tenang dan benar-benar dari pinggir lapangan. Bersorak untuk tidak mendukung sisi mana pun, tidak menjawab permintaan bantuan –terutama bukan salah satu dari fihak yang dekat dengan kubu neokonservatif yang sekarang kita tahu mereka tenggelam dengan Israel tercinta di invasi Iraq 2003– dan juga berdoa agar Obama tidak bekerja sama dengan Iran untuk mengembalikan tirani Maliki Syiah sehingga dengan demikian mendapatkan permusuhan kekal dari seluruh dunia Sunni."
Dia juga mengatakan, "Apa yang harus dilakukan sekarang? Pertama, keluar dari Iraq secara total dan menyeluruh. Untuk kembali melakukan intervensi justru akan membuat Amerika mengeluarkan biaya uang lebih dan nyawa, dan itu akan mendorong harga minyak naik lebih cepat. Itu juga akan menyebar tidak hanya pada intervensi Amerika Serikat di negara Muslim yang kaya minyak saja, tapi juga berarti ikut campur dalam perang agama antara Sunni-Syiah, dan berdiri di sisi Syiah, berarti menghadapi kebencian dari muslim Sunni seluruh dunia."
Meskipun kata-katanya mengandung harapan agar umat Islam terus dibunuhi oleh tangan Rafidah sehingga AS bisa menontonnya dengan gembira, tetapi ia mengungkapkan kebenaran yang memang tercermin di atas dan memang seperti itulah, mengapa Amerika merepotkan dirinya dalam peperangan yang terjadi di antara dua musuhnya dan mendukung salah satu sisi dari mereka yang seolah melayani kepentingan musuhnya di wilayah tersebut dan tidak ada yang lain?
Obama kini memperkuat rezim Iraq, yang tak diragukan lagi didukung oleh intelijen, militer, dan keuangan Iran. Milisi Syiah Iran saat ini berjuang untuk "membela" Baghdad. Rezim Iraq dan pendiri Iran telah menjadi salah satu sekutu terbesar rezim Asad di Suriah. Mereka telah mengirim para pejuang ke batalyon AbulFadl al-'Abbas. Angkatan udara Asad telah menghentikan semua serangan udara terhadap Daulah Islam di sejumlah wilayah Syam, mungkin karena lebih murah bagi mereka untuk mendapatkan keuntungan dari serangan udara AS atas nama mereka, terutama sejak finansial rezim Asad runtuh dan tidak pintar memukul target secara akurat. Pada saat yang sama, mereka telah berhasil "menyembunyikan" senjata kimia dari Barat dan menggunakannya tanpa penghalang. Hizbullah telah mengirim gerilyawan untuk memerangi umat Islam di Iraq dan Suriah. Dan Houtsi Yaman –sekutu Iran– telah membanjiri Shana’a.
Yang paling signifikan, Rusia –sebagai sekutu terbesar Iran serta sekutu China– telah memasuki Ukraina, yang diduga diklaim oleh Barat. Rusia terus mempersenjatai rezim Asad terhadap Muslim Syam. Mereka telah membual tentang kemampuan nuklir mereka sekali lagi. Namun Obama menegaskan setelah memperkuat "Bulan Sabit Persia" dan pengaruh Rusia di wilayah tersebut. Rasanya Para pemimpin Amerika dibutakan oleh cinta mereka terhadap Negara Yahudi yang hanya melakukan kerusakan yang disangka benar menurut kepentingan Barat.
PERANG PROKSI DAN SERANGAN UDARA YANG TIDAK EFEKTIF
Amerika –di saat berada dalam puncak kelemahan dan kepengecutan– meyakinkan rakyatnya untuk tidak masuk ke dalam kancah pertempuran secara langsung di darat melawan Daulah Islam, melainkan akan bergantung pada proksi-proksi murtadnya di wilayah tersebut. Lantas, siapa sajakah proksi yang diusulkan?
PKK
PKK (Partiya Karkerên Kurdistan/Partai Pekerja Kurdi) adalah organisasi nasionalis Marxis Kurdi. Pendiri mereka, Ocalan, adalah seorang Kurdi yang berasal dari keluarga penganut Nushairiyah. Dia membentuk partai tersebut, menyerukan pembentukan negara Marxis Kurdi yang merdeka. Partai ini kemudian membentuk PYD (Partiya Yekîtiya Demokrat/Partai Persatuan Demokrat), sebuah front untuk PKK di Syam. PYD membentuk komite lokal di dalam wilayah Kurdi yang berkoordinasi dengan rezim Asad. Sasaran komite syabihah Kurdi ini adalah orang-orang Muslim Kurdi yang menentang Asad dan memprotes Nushairiyah.
PKK merupakan salah satu organisasi terbesar yang bertanggung jawab terhadap lalu lintas perdagangan narkotika di Eropa. Organisasi ini dianggap sebagai organisasi "teroris" oleh para salibis – AS, Uni Eropa, dan negara boneka mereka, Turki. Orang-orang "komunis", "teroris" dan pendukung rezim Asad ini –yang juga terdiri dari sejumlah "pejuang" perempuan yang lemah–didukung oleh serangan udara AS di Syam. Meskipun didukung oleh serangan udara dan pengalaman perang yang diduga panjang dari para gerilyawan PKK di Turki, Daulah Islam berhasil mengusir PKK dari sebagian besar benteng mereka dengan kekuasaan dan kekuatan dari Allah.
FSA
FSA (Free Syrian Army) adalah pengelompokan dangkal sejumlah grup yang sangat longgar ikatannya dengan kepemimpinan pusat yang lemah, yang berbasis di Turki. Mereka tidak meraih keberhasilan satu pun dalam medan pertempuran besar atas rezim Asad, sejak runtuhnya FSA dan bangkitnya apa yang disebut dengan pejuang Islamis dari Front Islam (Jabhah Islamiyah) yang didukung Alu Salul (Saudi Arabia, pent) dan Qatar.
Meskipun FSA mengklaim memperjuangkan ideologi kufur demokrasi, sebenarnya tidak ada ideologi yang tepat untuk "tentara" ini selain pencurian dan tembakau. Dengan alasan ini, para pejuang mereka terus-menerus beralih aliansi dari FSA ke Azh-Zhawahiri ke PKK – seperti halnya yang terjadi dengan Jabhah Tsuwwar ar-Raqqah. Mereka juga berulang kali menjual senjata yang mereka terima dari Barat dan para donatur murtad untuk sesuatu yang hampir tidak ada nilainya ke para pedagang senjata. Daulah Islam telah membeli senjata tersebut dalam jumlah yang banyak dengan harga yang murah. Akhirnya, kelompok tentara ini belum pernah dilatih para salibis untuk melawan mujahidin.
Peshmerga
Sejak lama, Peshmerga telah dipengaruhi oleh PUK (Patriotic Union of Kurdistan) yang berhaluan Marxis hingga Berzani mengambil alih sepenuhnya dan membuat milisi ini lebih "menarik". Selama pemerintahan Berzani, Kurdistan berkembang menjadi pembunuh dengan semangat juang terbesar – negeri yang dipenuhi hawa nafsu dan dunia. Berbeda dengan Peshmerga di masa lalu, para pejuang mereka saat ini adalah tentara bayaran yang pengecut dan kosong dari aqidah apa pun yang hanya menunggu untuk upah yang sangat kecil. Oleh karena itu, Daulah Islam mampu mengusir mereka dari Wilayah Nainawa dengan mudah.
Yang tersisa hanyalah Dewan Kebangkitan Iraq (Gerakan Shahwah / Shahawat) yang telah gagal, Garda Nasional Iraq yang belum juga terbentuk dan terlatih, dan Front "Islam" (Jabhah Islamiyah) yang sekarat. Para pejuang yang tidak disiplin ini yang diharap akan berperang melawan Daulah Islam yang setiap harinya menerima ratusan relawan yang bertobat, yaitu orangorang yang kecewa dengan para pemimpin Shahwah Suriah.
Dengan demikian, tentara salib pengecut dibiarkan tanpa memiliki pasukan darat yang kuat dan terpaksa untuk mengandalkan sepenuhnya pada serangan udara yang memungkinkan rezim Asad untuk berhenti sejenak untuk menyerang umat Islam di Syam. Lagi pula, seberapa efektifkah serangan udara ini?
Daulah Islam telah meluas hingga ke ‘Ain Al-Islam dan daerah-daerah di Wilayah Al-Anbar dan Baghdad dengan cara yang tak terduga oleh pihak Barat. ‘Ain Al-Islam adalah fokus utama Daulah Islam, sebab PKK diperkIraqan akan menjadi sekutu utama tentara salib dalam tahap Perang Salib mereka. Hal ini berdasarkan pengalaman bertempur para pejuang PKK dan ideologi sekuler partai mereka yang murni, yang memandang negara Yahudi adalah sekutu negara Kurdi di masa depan.
Komandan pasukan salib Jenderal Dempsey mengklaim bahwa AS membutuhkan minimal 15 ribu pejuang di darat untuk merebut wilayah dari Daulah Islam, sedangkan CIA mengklaim Daulah Islam memiliki 31,500 pejuang yang berkembang setiap hari! Menteri Pertahanan Hagel mengatakan para pejuang proksi mereka harus disaring untuk memastikan senjata dan bantuan yang dikirim oleh AS tidak berakhir di tangan musuh-musuhnya.
Latihan militer ini akan memakan waktu setahun lamanya hingga selesai. Jadi, sampai sekarang, serangan udara yang gagal adalah satu-satunya perangkat berperang tentara salib. Menurut Scheuer, satu-satunya waktu di mana serangan udara berhasil menentukan akhir dari peperangan adalah serangan yang dilakukan atas Hiroshima dan Nagasaki!
Sungguh, sekali lagi Amerika telah terjebak di rawa-rawa!
Note: Proxy war (perang proksi) adalah perang yang terjadi ketika salah satu di antara dua pihak yang bertikai memanfaatkan pihak ketiga dalam menghadapi lawannya.
SEJARAH YANG BERULANG
Pada tanggal 17 September 2001 George W. Bush berkata, "Perang salib ini, perang melawan terorisme ini, akan memakan waktu cukup lama. Dan rakyat Amerika harus bersabar."
Barack Obama mengikuti pendahulunya pada tanggal "9 Agustus 2014" dengan mengatakan perang salib melawan Daulah Islam "akan menjadi proyek jangka panjang".
Akan tetapi, Obama lebih munafik dengan mengatakan bahwa perang Iraq adalah "perang yang bodoh". Dia memulai kepresidenannya dengan janji untuk mengakhiri perang Iraq namun dia kembali mengatakan sebagaimana yang ditinggalkan pendahulunya, dan mengirim pasukan ke Iraq setelah berjanji untuk tidak mengirimnya. Dia kemudian memerintahkan untuk mengadakan serangan udara yang menyebabkan terbunuhnya pria, wanita, dan anak-anak muslim di Iraq dan Syam. Dia memberi hak kepada pasukannya untuk melakukan hal tersebut, sambil menuduh pembunuhan atas Foley, Sotloff, Haines, dan Henning sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan! Dia mendapatkan semua ini setelah menerima penghargaan Nobel Perdamaian yang munafik.
Dan tidak seperti Bush, pemerintahannya terpecah dengan pertanyaan tentang apa itu perang dan bagaimana perang itu harus dimenangkan. Mereka bahkan tidak tahu apakah mereka harus terlibat dalam perang atau tidak! Akan tetapi, mereka semua –termasuk Bush– sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Ta’ala: "Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti." (al-Hasyr: 14)
MEMUDARNYA ZONA ABU-ABU
Sejak dimulainya perang salib ini, di media garis depan, para ideolog jihad gadungan dan mujahidin palsu telah mencoba memposisikan diri di posisi yang tidak mendukung Daulah Islam tidak juga mendukung Shahawat ... ini hanya akan membuat mereka terjerumus ke dalam parit media murtad dan ulama agama para thaghut Arab. Mereka bahkan meniru Nushairiyah dan oposisi sekuler dengan memberi label pada Daulah Islam sebagai "Da’isy" dan "Tanzhim ad-Daulah," dengan sikap tepatnya meniru channel satelit dan ulama istana Alu Salul dan Qatar.
Salah satu orang paling top dalam "Ideolog jihad" menyajikan hukum tentang cara menghadapi "ekstremisme dan takfir" dari "Jamaah Daulah" sesuai dengan yang diutarakan oleh Obama, Chuck Hagel, Dempsey, dan Departemen Nasional AS. Termasuk Sarannya untuk mencegah sumber daya keuangan dan manusia untuk mencapai Daulah Islam serta agama tidak menganggap sah Daulah sebagaimana cara pejabat AS mengatakan ulama "Muslim" harus melakukan seperti ini. Namun dia dan orang-orang sepertinya mengklaim bahwa mereka netral!
Hal ini seolah-olah menandakan bahwa mereka belum membaca ayat-ayat Qur'an yang mengajarkan kita bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen memerangi kaum Muslimin karena agama mereka dan bahwa semakin dia diperangi oleh mereka lantaran agamanya maka semakin dekat dia ke jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah." (Al-Baqarah: 120)
"Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah: 217)
Mengutip perkataan Syaikh Anwar al-Awlaki rahimahullah, "Jika seseorang ingin mengenal orang-orang yang dalam kebenaran, maka biarlah dia menga- mati ke mana panah musuh ditujukan". Kebanyakan dari mereka –jika tidak semua– sekarang mengarah kepada Daulah Islam, pemimpinnya, tentara, dan warganya.
Perang salib melawan Daulah Islam adalah kesaksian terbesar dari Allah akan baiknya manhaj Khilafah ini. Siapa pun kita, sekarang harus memperhatikan imannya sebelum Kematian yang datangnya tiba-tiba merenggutnya saat ia berdiri dengan satu kaki di parit tentara salib dan yang lainnya di parit orang-orang munafik sementara dia mengklaim di zona abu-abu! Seorang Mujahid tidak mengenal zona abu-abu. Sebagai seorang pembohong, Bush jujur ketika berkata, "Entah Anda bersama kami atau Anda bersama dengan teroris."
Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah berkomentar, "Maka dunia saat ini terbagi ke dalam dua kubu. Bush berbicara kebenaran saat mengatakan, "Entah Anda dengan kami atau Anda dengan para teroris". Yakni, baik Anda bersama perang salib atau Anda dengan Islam. Bush hari ini di garis depan membawa salib besar dan berjalan. Aku bersumpah demi Allah yang Maha Agung bahwa setiap orang yang berjalan di belakang Bush dalam rencananya maka dia telah murtad dari agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hukum ini adalah hukum yang sangat jelas di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah (shallallahu 'alayhi wasallam). Para ulama telah mengatakan ini sebagaimana aku telah sebutkan sebelumnya. Bukti untuk ini adalah pernyataan Allah Subhanahu wa Ta'ala di mana Dia menjelaskan kepada orang-orang yang beriman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim." (Al-Ma'idah: 51). Para ulama berkata, "Barangsiapa yang bersekutu dengan kaum kafir maka dia telah kafir." Bentuk terbesar dari persekutuan adalah dengan dukungan, baik dengan pernyataan, tombak, atau pidato. Maka orang-orang yang melangkah di belakang Bush dalam perang salib terhadap kaum Muslimin mereka telah kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya. (...) Maka aku katakan kepada umat Islam, berhati -hatilah dan berhati-hatilah dari bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, dan siapa pun yang terlanjur telah berkata-kata, maka hendaknya dia takut kepada Allah, memperbaharui imannya, dan bertobat dari perbuatannya. (...) Bahkan walau dia mendukung mereka hanya dengan satu kata. Dia yang sejalan dengan mereka walau hanya dengan satu kata maka dia telah jatuh ke dalam kemurtadan – Kemurtadan ekstrim, wa laa haula wa laa quwwata illa Billah." (Wawancara 4 Sya'ban 1422H)
Beberapa dari mereka mengaku dalam zona abu-abu, ketika merasa cepat kecewa dengan tentara salib meskipun mereka terus menerus Ribat di media dan parit militer Alu Salul dan Qatar, dan mereka ditenangkan oleh tentara salib dengan pembebasan tanpa syarat tahanan mereka dalam apa yang dijelaskan oleh petugas "intelijen" AS sebagai upaya untuk menjaga jarak dari "ekstremis" Daulah Islam.
Seseorang dengan ketulusan akan menyadari bahwa tidak ada zona abu-abu dalam perang salib melawan Daulah Islam, dan bahwa dunia telah dibagi menjadi dua kubu, satu untuk orang-orang beriman, yang lain bagi orang-orang kufur, semua dalam persiapan untuk malhamah terakhir.
BERSEGERALAH DUKUNG DAULAHMU WAHAI UMAT ISLAM
Pada titik perang salib terhadap Daulah Islam ini, sangat penting akan serangan yang terjadi di setiap negara yang telah menandatangani aliansi terhadap Daulah Islam, khususnya Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia, dan Jerman. Karenanya, warga negara tentara salib harus ditargetkan di mana pun mereka dapat ditemukan. Biarkan para muwahhid tidak terpengaruh oleh "Analysis Paralysis"* sehingga meninggalkan setiap operasi hanya karena rasa was-wasnya, dan "perfeksionisme" mendorongnya ke arah operasi yang konon pernah bisa gagal – sesuatu yang hanya ada secara teoritis di atas kertas. Dia harus senang bertemu Rabbnya, walau hanya ada satu nama orang kafir yang mati yang tertulis di dalam kitab amalannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Orang kafir dan pembunuhnya tidak akan berkumpul di neraka." (Shahih Muslim)
*Analysis Paralysis adalah keadaan di mana seorang individu tenggelam dalam menganalisa berbagai teori atau cara secara berlebihan sehingga tidak berani mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, pent
Setiap Muslim harus keluar dari rumahnya, menemukan tentara salib, dan membunuhnya. Adalah penting bahwa pembunuhan menjadi ciri dari pendukung Daulah Islam yang telah mematuhi pemimpinnya. Ini dapat dengan mudah dilakukan dengan anonimitas. Jika tidak, media salib akan membuat serangan tersebut seolah pembunuhan acak.
Kerahasiaan harus selalu dilakukan ketika akan melakukan perencanaan dan mengeksekusi serangan apa pun. Semakin sedikit orang yang terlibat dan semakin jarang diskusi yang dilakukan sebelumnya, semakin besar kemungkinan operasi akan berhasil tanpa masalah.
Salah satu yang mempersulit serangan adalah dengan melibatkan pihak-pihak lain, pembelian berbagai bahan, atau berkomunikasi dengan individu yang berhati lemah. "Bertawakallah kepada Allah dan tusuklah tentara salib itu!" harus menjadi teriakan perang bagi semua pendukung Daulah Islam.
Akhirnya, jangan lupa bahwa Allah bersama orangorang Muslim dan tidak akan pernah meninggalkan mereka kepada musuh-musuh-Nya. Dan Daulah Islam baaqiyah (tetap eksis) hingga panjinya berkibar di atas Roma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar