Selasa, 24 April 2018

YAHYA, PELAJARAN DARI SEORANG SYUHADA

DABIQ 5 - ARTIKEL

YAHYA, PELAJARAN DARI SEORANG SYUHADA

Sejumlah riwayat tentang peristiwa yang terjadi di Syam sebagai tanda dekatnya hari kiamat antara lain penyebutan Isa Ibnu Maryam ‘alaihis salam, salah satu dari lima nabi yang dikenal sebagai ulul 'azmi – yang memiliki tekad kuat. Riwayat ini biasanya berbicara tentang pertempuran akhir zaman di mana umat Islam akan menyerang orang-orang Kristen dan Yahudi, termasuk pertempuran di mana umat Islam dipimpin oleh Nabi Isa ‘alaihis salam melawan Dajjal.

Jika Allah menghendaki, Dia bisa saja membiarkan Islam untuk mengalami peperangan kepahlawanan ini di bawah kepemimpinan seorang manusia biasa dari kalangan mereka. Namun Allah berkehendak bahwa nabi Isa akan kembali –sebagai pengikut syari'at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam– yang akan memberikan pukulan pamungkas untuk Dajjal dan para pengikutnya, orang-orang Yahudi terkutuk, yang memiliki sejarah mengkhianati dan bahkan membunuh para Nabi Allah. Padahal ia salah satu nabi yang pernah mereka coba untuk membunuhnya, tapi gagal, dan justru ia yang akan membunuh ‘raja yang dinanti’ mereka.

Allah berfirman; Maka (Kami hukum mereka), karena mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, serta karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan karena mereka mengatakan, "Hati kami tertutup." Sebenarnya, Allah telah mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman. Dan (Kami hukum juga) karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka yang sangat keji terhadap Maryam, dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa." (An-Nisa: 155-157)

Dengan demikian, kembalinya Isa ‘alaihis salam akan segera diikuti, bukan dengan damai, tetapi dengan pertempuran terhadap musuh-musuh Allah. Ini akan menjadi akhir yang sesuai dengan warisan para nabi-Nya di bumi, warisan yang dipenuhi dengan sikap seorang Nabi yang berdiri tegak membela kebenaran dan tidak mundur dalam menghadapi ancaman orang-orang kafir.

Mereka berkata, "Rabb kami mengetahui sesungguhnya kami adalah utusan-utusan(-Nya) kepada kamu. Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas." Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami." Mereka (utusan-utusan) itu berkata, "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas"." (Yasin: 16-19)

Sebuah warisan yang memperlihatkan perdebatan para nabi melawan para thaghut dan membela kebenaran.

"Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Rabbnya, karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, "Rabbku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," dia berkata, "Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata, "Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat." Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258)

Sebuah warisan yang, memperlihatkan para nabi menegur para thaghut dan menyampaikan perintah Allah.

"Aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku." (al-A'raf: 105)

Sebuah warisan yang memperlihatkan nabi menantang orang yang menyimpang dan jahat.

"Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." Dia (Hud) menjawab, "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan yang lain, sebab itu jalankanlah semua tipu dayamu terhadapku dan jangan kamu tunda lagi." (Hud: 54-55)

Sebuah warisan yang memperlihatkan nabi mengancam orang-orang yang melampaui batas.

"Maka mereka menyembelih unta itu, kemudian dia (Nabi Shaleh) berkata, Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan." ( Hud: 65)

Sebuah warisan yang memperlihatkan nabi memimpin pertempuran melawan kekuatan kufur.

"Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa." (Ali Imran: 146)

Dan warisan yang memperlihatkan nabi berhasil dan menang melawan segala rintangan.

"Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki." (Al-Baqarah: 251)

Warisan para nabi adalah warisan pertarungan dalam setiap kasus, yaitu pertarungan antara para nabi dan orang-orang kafir yang akan terus meningkat sampai akhirnya mencapai titik puncak, baik dengan terjadinya pertempuran fisik, atau dengan pemusnahan massal lantaran hukuman Allah yang turun atas orang-orang kafir secara tiba-tiba.

Dakwah para nabi tidak akan pernah berhenti, karena kebenaran tidak pernah bisa berdampingan dengan kebatilan. Dakwah mereka tidak akan pernah berhenti, karena kebaikan dan kejahatan tidak mungkin beriringan satu sama lain.

Ini adalah sunnatullah yang ditetapkan atas para Nabi dan pengikutnya. Dia menetapkan bahwa mereka akan memiliki musuh yang akan menentang mereka.

"Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh, yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin." (Al-An’am: 112)

Di antara mereka ada orang-orang yang akan diberikan kemenangan atas musuh-musuh mereka, dan di antara mereka ada orang-orang yang akan dibunuh, karena Allah memilih Syuhada dari kalangan hamba-Nya, baik dari Nabi atau dari pengikutnya.

"Dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada." ( Ali Imran: 140)

Salah satu Nabi yang Allah pilih untuk diri-Nya sebagai seorang syuhada, yang telah dibunuh oleh orang-orang yang dia diutus untuk menjadi pembimbing, adalah nabi Yahya alaihis salam. Kaum Bani Israil telah dikenal sebagai kaum yang gemar mengejek, memberontak, melawan, mempermainkan, dan bahkan membunuh nabi mereka.

"Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan kami telah berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami perkuat dia dengan Ruhul kudus (Jibril). Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?" (Al-Baqarah: 87)

Sampai-sampai mereka dikutuk oleh Nabi mereka sendiri.

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas." (Al-Maidah: 78)

Dalam membahas kisah kejadian yang menyeret kaum Bani Israil membunuh nabi Yahya alaihis salam, kita akan mempelajari tentang nama beliau dan fakta yang kemungkinan ini menjadi pertanda kesyahidannya.

"(Allah berfirman), "Wahai Zakariya! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya." (Maryam: 7)

Asy-Syinqithi menjelaskan tentang ayat ini; "Ayat ini menunjukkan bahwa Allah-lah yang menamainya secara langsung, bukan mempercayakan masalah penamaannya kepada ayahnya. Hal ini mengandung kebajikan yang luar biasa untuk Yahya." (Tafsir Adhwa'ul Bayan)

Dia kemudian menjelaskan bahwa kata "samiy" dalam ayat ini digunakan dalam bahasa Arab dalam dua cara. Yang pertama adalah ucapan mereka: "fulan dan fulan adalah 'samiy' dari fulan dan fulan." Artinya ia diberi nama yang sama dengan dia. Jadi jika dua orang memiliki nama yang sama, maka masing-masing dari mereka adalah 'samiy' dari yang lain." (Tafsir Adhwa'ul Bayan)

Dalam tafsir tentang ayat yang sama, az-Zamakhsyari menyatakan, "Dan nama-nama lain yang mereka gunakan sama untuk 'Yahya' antara lain; 'Ya'mur' atau 'Ya'isy', jika nama 'Yahya' memang bahasa Arab. Mereka juga menyebutnya 'Yamut'." (Tafsir al-Kasysyaf).

Tiga nama terakhir yang disebutkan di sini oleh Az-Zamakhsyari semua memiliki keterkaitan makna dengan nama "Yahya". Nama "Ya'isy" berarti hidup, dan nama "Ya'mur" berarti hidup panjang (berumur), sementara nama "Yamut" berarti mati. Nama "Yahya" sendiri artinya adalah hidup atau masih hidup. Nama ini sangat tepat mengingat bahwa nabi Yahya meninggal tidak hanya sebagai Nabi Allah, tetapi juga sebagai syahid, dua status yang tetap hidup bahkan setelah kematian. Dalam hal Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Para nabi tetap hidup dan berdoa di dalam kubur mereka." (Hasan: Diriwayatkan al-Bazzar dan Abu Ya'la dari Anas radhiyallahu anhu)

Sedangkan sebagai seorang syuhada, Allah berfirman; "Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (Al-Baqarah: 154)

Selain itu, kesyahidannya adalah kesyahidan yang terbaik, karena ia dibunuh di saat berdiri di hadapan penguasa tiran untuk melarangnya dari melakukan kejahatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik syuhada (orang yang gugur di jalan Allah) adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, kemudian seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa tiran, dia memerintahkan untuk berbuat baik dan melarang dia dari perbuatan jahat, sehingga ia (penguasa itu) membunuhnya." (Hadits Hasan: diriwayatkan oleh al-Hakim dan lain-lain dari Jabir radhiyallahu anhu)

Di antara pendapat yang disebutkan oleh para ulama tafsir tentang kematian Yahya ‘alaihis salam adalah bahwa ia dibunuh oleh seorang raja dari Bani Israil, setelah melarang dia dari menikahi seorang wanita yang tidak halal baginya untuk dinikah. Pendapat ini dipilih oleh 'Abdullah Ibnu 'Abbas,' Abdullah bin az-Zubair, al-Husain Ibnu Ali, dan as-Suddi, meskipun mereka berbeda apakah itu putrinya, keponakannya, anak tirinya, atau mantan istri saudaranya (ini sesuai, karena ini telah dilarang dalam hukum syari'at mereka). (Tafsir Zadul Ma'asir)

Dengan demikian, nabi Yahya telah meraih kematian yang mulia setelah hidup dalam kehidupan paling mulia. Dia adalah seorang Nabi Allah yang berasal dari keluarga kenabian dan kebenaran. Ia dikirim kepada para pembangkang dari kalangan Bani Israil untuk membimbing mereka kembali kepada Allah, dan ia tetap teguh pada misinya sampai dia kembali kepada Allah sebagai seorang syuhada.

Dalam mempelajari kematian nabi Yahya ‘alaihis salam, seorang muslim terinspirasi untuk berdiri teguh dalam menghadapi fitnah, tidak peduli dengan keadaan yang mungkin terjadi sebagai konsekuensi dari amalnya. Namun, seorang Muslim perlu memahami bahwa setiap individu diuji sesuai dengan level keimanannya. Karenanya, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya siapakah orang yang paling berat ujiannya? Beliau bersabda; "Para nabi". (Shahih: diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Sa'ad Ibnu Abi Waqqash radhiyallahu anhu)

Sehingga tidak mengherankan jika Nabi Yahya ‘alaihis salam, salah satu nabi Allah, akan ditakdirkan menghadapi ujian berat dengan berdiri di hadapan penguasa dan menyampaikan kata-kata kebenaran yang akan membuat kecewa dia. Namun, bahkan dalam kasus Nabi Allah, laki-laki yang memiliki tingkatan iman paling kuat, kita dapati bahwa mereka tetap mencari bantuan Allah dalam mengatasi rasa takut, ketika mereka merasa bahwa mereka tidak akan mampu memenuhi misi mereka.

"Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Keduanya berkata, "Ya Rabb kami, sungguh, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." (Thaha: 43-45)

Bahkan seorang Nabi paling mulia juga akan menghadap kepada Allah dalam do'a, meminta Dia untuk menunjukkan kepada mereka tanda-tanda-Nya sehingga hati mereka akan merasa tenang.

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati." Allah berfirman, "Belum percayakah engkau (kepada-Ku)?" Dia (Ibrahim) menjawab, Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap)." (Al-Baqarah: 260)

Pelajaran yang harus diambil adalah: bahkan manusia yang terbaik akan menemukan tantangan dalam dakwah dan jihad, dan mereka akan mencari pertolongan dari Allah Ta'ala. Pada saat tantangan menjadi begitu sulit sehingga mereka bertanya-tanya, "Kapankah datangnya pertolongan Allah ?" (Al-Baqarah: 214)

Tapi mereka akan terus berjuang tanpa henti, berusaha untuk memenuhi tugas mereka meski pun kesulitan yang mereka hadapi. Lebih dari itu, mereka akan menjalankannya dengan rasa penuh tanggungjawab, dan bukan meninggalkannya atau mengharap orang lain untuk datang dan menyelesaikan tugas itu.

Hal ini digambarkan dalam sebuah kejadian yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Yahya ‘alaihis salam. Rasulullah bersabda: "...Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya 'alaihimus salam dengan lima perintah, Dia memerintahkannya untuk mengamalkannya dan supaya memerintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya juga, dan ia hampir lambat untuk melakukannya. Allah kemudian memerintahkannya kepada Isa. Biarkan dia menyampaikan perintah itu atau engkau yang menyampaikan pada mereka." Maka Isa ‘alaihis salam berkata kepada Yahya, 'Sesungguhnya engkau diberi lima perintah dan diperintahkan untuk mengamalkannya dan untuk menyampaikannya pada Bani Israil supaya mereka mengamalkannya juga. Apakah engkau yang akan menyampaikan pada mereka atau aku akan melakukannya." Yahya mengatakan, 'Wahai ruh Allah! Aku takut jika engkau yang melakukannya sebelum aku, aku akan dihukum atau aku akan ditenggelamkan ke dalam bumi.' Dia kemudian mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis sampai penuh dan kemudian duduk di tempat tinggi. Dia kemudian memuji Allah dan menyampaikan lima perintah yang diturunkan kepadanya..." (Shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan lain-lain dari al-Harits al-Asy'ari)

Di sini, Yahya ‘alaihis salam tidak didekati oleh 'Isa ‘alaihis salam karena dia benar-benar lambat dalam melaksanakan perintah Allah. Sebaliknya, itu karena ia hampir lambat untuk melakukannya, seperti yang ditunjukkan dalam hadits di atas, kemudian, ketika Isa ‘alaihis salam menawarkan untuk mengambil alih tugas ini darinya ia segera menolak, percaya bahwa ia akan dihukum jika dia tidak melaksanakan tugas itu sendiri.

Keseriusan dan perhatian terhadap perintah Allah dan merasa butuh untuk memenuhi itu semua, sebagaimana kesadaran akan pentingnya dan bersegera dalam memenuhi itu semua adalah sarana kekuatan yang dapat mendorong seorang Muslim keluar dari sikap ragu-ragu dan membuatnya kuat memikul tugas paling sulit di jalan Allah.

Semoga Allah memberikan kita sifat-sifat ini, menguatkan kita, dan membuat kita teguh di jalan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar