Selasa, 24 April 2018

SESUNGGUHNYA RABBMU BENAR-BENAR MENGAWASI

DABIQ 4 - STATEMEN

"SESUNGGUHNYA RABBMU BENAR-BENAR MENGAWASI"
KUTIPAN DARI STATEMEN JURU BICARA RESMI DAULAH ISLAMIYAH SYAIKH ABU MUHAMMAD AL-ADNANI

Beberapa saat sebelum ekspansi formal Perang Salib Amerika ke Syam, juru bicara resmi Daulah Islam –Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani asy-Syami hafizhahullah– memberi pidato penting memotivasi kaum muslimin, meneror tentara salib, dan mengingatkan semua akan Janji Allah. Alhamdulillah, sejumlah hal terjadi segera setelah pidato sebagai bentuk ketaatan kepada pemimpin Daulah Islam, termasuk penangkapan tentara salib di negeri Muslim dan eksekusi mereka, pembunuhan tentara salib di kampung halaman mereka, dan menaklukkan daerah baru di Iraq dan Syam meskipun di bawah serangan udara tentara salib. Pada saat yang sama, para thaghut Arab, sahwat, pengaku jihadis, dan mujahidin palsu, telah tersingkap sekali lagi topeng dan kemunafikan mereka sehingga Muslim yang tulus tidak dibiarkan dalam gelap keraguan. Dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Berikut adalah beberapa sebagian kutipan penting dari pidatonya:

"Wahai tentara Daulah Islam, alangkah mulia kalian! Sungguh balasan kalian ada di sisi Allah. Demi Allah, Dia telah menyembuhkan dada orangorang yang beriman melalui tangan-tangan kalian yang telah membunuh orang-orang nusairiiah dan Rafidah. Dia telah mengisi hati orang-orang kafir dan munafik dengan kemarahan melalui Kalian. Alangkah mulia kalian! Siapa Kalian? Siapa Kalian wahai tentara Daulah Islam? dari mana Kalian datang? Apa rahasia kalian? Mengapa hati Timur dan Barat bergetar karena ketakutan mereka terhadap Kalian? Mengapa otot-otot dada Amerika dan sekutu-sekutunya menggigil karena takut kepada Kalian? Di mana pesawat tempur Kalian? Dimana kapal perang Kalian? Di mana rudal Kalian? Di mana senjata pemusnah massal kalian? Mengapa dunia bersatu melawan Kalian? Mengapa negara-negara kafir bersatu menyerang Kalian?"

"Ketahuilah! -Demi Allah- kita tidak takut kawanan pesawat, atau rudal balistik, atau drone, atau satelit, atau perang, atau senjata pemusnah massal. Bagaimana kita bisa takut kepada mereka, sementara Allah Ta'ala berfirman, "Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (Ali Imran: 160). Bagaimana kita bisa takut kepada mereka, sementara Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman." (Ali Imran: 139)."

"Oleh karena itu Allah akan memberikan kemenangan. Sesungguhnya Allah akan memberikan kepada kalian kemenangan. Demi Allah, Allah akan memberi kalian kemenangan. Jaminlah bagi kami dua hal, maka kami akan menjaminkan bagi kalian -dengan izin Allah- kemenangan terus menerus dan tamkin. Pertama, janganlah berbuat zhalim kepada siapa pun juga, dan janganlah puas dengan kezhaliman dengan mendiamkannya di saat melihat hal itu dan tidak melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwenang. Kedua, jangan menjadi sombong atau arogan. Ini adalah apa yang kami khawatirkan terjadi pada kalian dan kami takutkan dari kalian."

"Dan kita harus tahu bahwa cobaan, penyaringan, dan seleksi, diperlukan antara satu periode dan lainnya, sebagian orang telah masuk ke dalam barisan kalian padahal mereka bukan bagian dari kalian, mereka hanya mengaku-aku, sehingga terjadilah pencampuran. Maka sudah seharusnya terjadi fitnah (ujian) untuk membersihkan kotoran, dan memurnikan barisan. Kami mengharapkan kepada Allah akan pengampunan dan kesehatan. Juga, kebanggaan dan kesombongan telah memasuki beberapa jiwa kita, sehingga sebagian dari kita berlaku zhalim dan menindas sebagian lainnya, maka sudah semestinya ada tamhish (penyaringan) dari dosa-dosa dan semoga kita kembali kepada Allah. Allah telah mengasihi para mujahidin, sehingga Dia mengambi sebagian mereka sebagai syuhada. Kita berharap kepada Allah agar menjadikan kita termasuk dari mereka, dan bukan dari orang-orang yang dihinakan atau mereka yang terkena fitnah (dalam agama mereka)."

"Hai Amerika, hai sekutu Amerika, dan hai salib, ketahuilah bahwa hal ini lebih berbahaya dari apa yang kalian bayangkan dan lebih besar dari apa yang kalian kira. Kami telah memperingatkan kalian bahwa hari ini kita berada dalam era baru, era dimana Daulah, tentaranya, dan putra-putranya adalah pemimpin, dan bukan budak. Mereka adalah orang-orang yang selama berabad-abad tidak mengenal kekalahan. Hasil pertempuran mereka telah disimpulkan sebelum perang dimulai. Mereka tidak memiliki persiapan untuk pertempuran, sejak zaman nabi Nuh kecuali dengan keyakinan mutlak akan kemenangan. Terbunuh -menurut mereka- adalah kemenangan. Di sinilah terletak rahasia. Kalian melawan orang yang tidak pernah bisa dikalahkan."

"Dan kami berjanji dengan izin Allah bahwa operasi militer ini akan menjadi operasi militer terakhir kalian. Ia akan hancur dan dikalahkan, seperti semua operasi militer sebelumnya yang hancur dan dikalahkan, bahkan kini kita akan menyerang kalian setelah ini, dan kalian tidak akan pernah menyerang kami lagi. Kami akan menaklukkan kota Roma kalian, mematahkan salib kalian, dan memperbudak wanita kalian, dengan izin Allah Ta'ala. Ini adalah janji-Nya untuk kita; Maha Suci Dia dan Dia tidak menyelisihi janji-Nya. Jika kita tidak mencapai waktu itu, maka anak-anak kami dan cucu-cucu kami akan mencapai hal itu, dan mereka akan menjual anak-anak kalian sebagai budak di pasar budak."

"Kerahkanlah kekuatanmu, hai tentara salib. kerahkanlah kekuatan kalian, menderulah, ancamlah siapa saja yang kalian inginkan, buatlah makar, siapkanlah senjata, siapkanlah, seranglah, bunuhlah, dan hancurkanlah! Ini semua tidak akan memberikan manfaat bagi kalian. Kalian akan kalah. Hal ini tidak akan bermanfaat sedikit pun bagi kalian, karena Rabb kami, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuat, telah berjanji kepada kami dengan kemenangan kami dan kekalahan kalian. Kirimlah senjata dan peralatan kepada para agen dan anjing kalian. Persiapkanlah bagi mereka peralatan yang paling modern. Kirimlah kepada mereka sebanyak-banyaknya, dan kelak akan menjadi rampasan perang di tangan kami, dengan izin Allah. Kemudian kalian akan menghabiskannya, dan akan menjadi penyesalan bagi kalian, kemudian kalian akan dikalahkan. Lihatlah kendaraan lapis baja kalian, mesin, persenjataan, dan peralatan, kini di tangan kami. Allah yang memberikannya kepada kami. Dan kami memerangi kalian dengan itu. Maka matilah dengan kemarahan kalian. "Sesungguhnya orangorang yang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan." (Al-Anfal: 36)"

"Kau mengaku telah menarik diri dari Iraq –hai Obama– sejak empat tahun lalu. Tapi kami katakan kepada kalian bahwa kalian adalah pembohong, kalian belum menarik diri, dan kaliani kalian telah menarik diri kalian pasti akan kembali, walau setelah beberapa waktu lamanya, kalian pasti akan kembali. Dan sekarang kalian ada di sini, kalian belum ditarik. Sebaliknya kalian hanya menyembunyikan beberapa kekuatan kalian di belakang wakil kalian dan mencabut sisanya. Pasukan kalian akan kembali dengan jumlah lebih besar dari sebelumnya. Kalian pasti akan kembali dan wakil kalian tidak akan memberi manfat sedikit pun bagi kalian. Dan jika kalian tidak mampu untuk kembali, maka kami yang akan datang ke tanah air kalian dengan izin Allah."

"Wahai Amerika, dan wahai Eropa, sesungguhnya Daulah Islam tidak memulai perang melawan kalian sebagaimana pemerintah kalian mencoba meyakinkan kalian dan media mencoba membuat kalian percaya. Kalianlah yang memulai permusuhan terhadap kami, dan siapa yang memulai maka dialah yang paling dzalim dan kalian akan membayar harga yang besar. Kalian akan membayar harga ketika perekonomian kalian runtuh. Kalian akan membayar harga ketika anak-anak Kalian dikirim untuk memerangi kami, dan mereka kembali kepada Kalian dengan cacat diamputasi, atau di dalam peti mati, atau 9 mati, atau sakit jiwa. Kalian akan membayar harga karena kalian akan merasa takut bepergian ke negeri mana pun. Bahkan kalian akan membayar harga di mana Kalian akan merasa takut berjalan di jalan-jalan kalian, menoleh ke kanan dan kiri, takut terhadap umat Islam. Kalian tidak akan merasa aman bahkan dalam kamar tidur kalian. Kalian akan membayar harga saat ini operasi salib Kalian runtuh, dan setelah itu kita akan menyerang Kalian di tanah air Kalian, dan Kalian akan tidak pernah bisa menyakiti siapa pun setelah itu. Kalian akan membayar harga, dan kami telah menyiapkan untuk kalian apa yang akan membuat kalian sakit."

"Wahai umat Islam, Amerika tidak datang dengan perang salibnya untuk menyelamatkan umat Islam, mereka juga tidak menghabiskan kekayaan meskipun runtuhnya ekonomi mereka dan membebani diri mereka untuk mempersenjatai dan melatih Sahawat di Syam dan Iraq lantaran aku ng dan rasa khawatir kepada para mujahidin dari "kekejaman Khawarij," sebagaimana mereka katakan. "Duhai seandainya kaumku mengetahui" (Yasin: 26). Apakah tentara salib akan bersegera memberi dukungan kepada para mujahidin yang berjuang di jalan Allah, dan bergegas untuk menolong dan menyelamatkan mereka dari Khawarij? ‘Hiduplah cukup lama maka Kalian akan melihat hal-hal aneh!’ Celakalah kaumku! Kapan mereka akan mengerti?"

"Wahai muwahhid, jangan biarkan pertempuran ini berlalu begitu saja di mana pun Kalian berada. Seranglah oleh kalian tentara, pelayan, dan pasukan para thaghut itu. Serang polisi mereka, petugas keamanan, intelijen serta agen berbahaya mereka. Hancurkan tempat tidur mereka. Susahkan hidup mereka dan sibukkan mereka dengan diri mereka sendiri. Jika Kalian dapat membunuh kafir Amerika atau Eropa – terutama si dengki dan kotor Perancis- atau Australia, atau Kanada, atau kafir lainnya dari orang-orang kafir combatan, termasuk warga dari negara-negara yang masuk dalam koalisi untuk menyerang Daulah Islam, maka bertawakkallah kepada Allah, kemudian bunuh mereka dengan alat atau cara apapun. Jangan meminta saran siapa pun dan fatwa apa pun. Bunuhlah orang-orang kafir apakah ia sipil atau militer, karena mereka memiliki hukum yang sama."

"Wahai muwahhid ... Hai orang yang beriman pada wala' dan bara'... apakah kalian akan membiarkan orang Amerika, Prancis, atau salah satu dari sekutu mereka untuk berjalan dengan aman di atas bumi?, sementara para tentara salib menyerang negeri kaum muslimin tanpa membedakan antara sipil dan pejuang? Mereka telah menewaskan sembilan per- empuan Muslim tiga hari yang lalu dengan meledakkan bus yang mengangkut mereka dari Syam ke Iraq. Apakah Kalian akan membiarkan orang kafir untuk tidur aman di rumah sementara wanita Muslim dan anak-anak mereka menggigil ketakutan dari deruan pesawat tempur pasukan salib yang terbang siang dan malam? Bagaimana Kalian dapat menikmati hidup dan tidur sementara kalian tidak membantu saudara-saudara kalian, tidak juga menyemaikan ketakutan ke dalam hati para penyembah salib, dan tidak menanggapi serangan mereka dengan sesuatu yang lebih? Wahai muwahhid mana pun Kalian berada, halangilah orang-orang yang ingin menyakiti saudara-saudaramu dan Daulah sebanyak yang Kalian bisa. Hal terbaik yang dapat Kalian lakukan adalah berusaha untuk yang terbaik dengan membunuh kafir apapun, apakah ia orang Prancis, Amerika, atau salah satu sekutu mereka."

"Sebagai penutup, kita tidak lupa untuk menyampaikan pesan terhadap saudara-saudara kami; orang-orang Muslim Kurdi di Iraq, Syam, dan di tempat lain. Perang kami dengan orang Kurdi adalah perang agama. Ini bukan perang nasionalistis – kita berlindung kepada Allah. Kami tidak memerangi orang Kurdi disebabkan karena mereka adalah orang Kurdi. Akan tetapi kita memerangi orang-orang kafir di antara mereka, sekutu tentara salib dan Yahudi dalam perang mereka terhadap Muslim. Adapun Kurdi Muslim, maka mereka adalah orang-orang dan saudara kami di mana pun mereka berada. Kami akan menumpahkan darah kami demi menyelamatkan darah mereka. Muslim Kurdi di barisan Daulah Islam ada banyak. Mereka adalah pejuang paling keras dalam melawan orang-orang kafir dari orang-orang mereka."

YAKIN DENGAN DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH

DABIQ 4 - PENDAHULUAN

YAKIN DENGAN DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah atas Rasul-Nya Muhammad, keluarganya dan parat shahabatnya. Amma ba’du.

Walau perang salib ini dilancarkan terhadap Daulah Islam, namun kita harus ingat bahwa di antara aqidah seorang Muslim adalah berlaku husnuzh zhann Billah (prasangka yang baik terhadap Allah). Allah Ta'ala berfirman, seperti dalam hadits Qudsi, "Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Maka biarkan dia berprasangka pada-Ku sesuai apa yang ia inginkan." (Shahih: Riwayat Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

Sedangkan kebalikan dari sikap ini berarti berayun di antara kesesatan dan kekufuran. Allah Ta'ala berfirman, "Dia (Ibrahim) berkata, Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang yang sesat." (Al-Hijr: 56). Dan Allah Ta’ala juga berfirman, menceritakan ayah Nabi Yusuf alaihis salam, "Wahai anak-anakku! Pergilah kalian, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." (Yusuf: 87)

Sikap ini merupakan salah satu penyakit hati, karena mereka adalah orang-orang yang Allah ta'ala sebutkan dalam pernyataan-Nya, "Bahkan (semula) kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya, dan dijadikan terasa indah yang demikian itu di dalam hatimu, dan kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk, karena itu kamu menjadi kaum yang binasa." (Al-Fath: 12)

Sikap ini juga termasuk zhan (persangkaan) jahiliyah. Ini adalah sikap keraguan akan pertolongan Allah bagi agama-Nya dan pengikutnya.

Kita memiliki janji dari Allah bahwa agama ini pasti menang, dan agama ini yang dimaksud adalah agama dijelaskan oleh salah seorang Khulafa'ur Rasyidin Mahdiyin; 'Umar Ibnul Khattab (Radiyallahu 'Anhu) yang mengatakan, "Tidak ada Islam kecuali dengan Jama'ah, dan tidak ada jama'ah kecuali dengan Imarah (kepemimpinan), dan tidak ada Imarah kecuali dengan tha'ah (ketaatan)." (Sunan ad-Darimi)

Agama yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti dalam hadits, "Aku memerintahkanmu dengan lima hal yang Allah telah memerintahkanku dengannya: jama'ah, as-sam'u (mendengarkan), ath-tha'ah, hijrah, dan jihad fi sabilillah, barangsiapa meninggalkan jama'ah walau satu jengkal maka dia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya hingga ia kembali." (Shahih: Riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Agama ini adalah agama yang dijanjikan dengan kemenangan, bukan agama perpecahan, bergolong-golongan, membuat-buat, dan berbangga dengan pendapat pribadi, bukan juga agama yang kosong dari bai'at, Imarah, dan khilafah. Ini adalah agama yang benar-benar diwujudkan di tingkat individu, masyarakat, dan bangsa. Ini adalah agama yang dijanjikan dengan: "Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (At Taubah: 33). "Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al Fath: 28)

Keyakinan dan sikap ini telah dipelihara oleh para pemimpin dan tentara Daulah Islam sejak hari-hari di mana Abu Mush'ab az-Zarqawi taqabbalahullah merintis jalan bagi pembentukan Daulah ini. Karena itulah, kalian dapati kata-kata para imam penuh keyakinan mutlak akan pertolongan Allah terhadap Daulah Islam. Mereka tidak memiliki keraguan mengenai hal ini walau sebesar biji sawi.

Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah berkata, "Orang-orang munafik dan orang-orang yang menghalangi jalan menuju Allah akan berkata kepadamu, 'Apakah kamu berpikir apa yang kamu inginkan akan bisa tercapai? Apakah kamu benarbenar berpikir bahwa Khilafah Islam atau bahkan hanya negara Islam akan bisa didirikan? Ini sesuatu yang tidak pernah bisa terjadi dan itu semua lebih dekat kepada khayalan daripada kenyataan". Maka, jika mereka mengatakan seperti itu kepadamu, maka ingatlah pernyataan Allah ta'ala, ((Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, "Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya." (Allah berfirman), "Barangsiapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (Al-Anfal: 49). Dan juga katakan kepada mereka, 'Sesungguhnya, Allah akan mengabulkan bagi kaum Muslimin penaklukan Roma, sebagaimana Rasulullah (shallallahu 'alayhi wasallam) telah berjanji'." (Wasaya Hammah Lil Mujahidin)

Beliau juga mengatakan, "Kami melakukan jihad di sini (Iraq), sementara mata kami tertuju pada al-Quds. Kami berjuang di sini, sementara tujuan kami adalah Roma dengan harapan yang baik kepada Allah bahwa Dia menjadikan kita kunci bagi bisyarah (kabar gembira) Nabi dan keputusan Ilahi." (Riyah an-Nashr)

Sikap ini kemudian diwariskan oleh penggantinya, Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah, yang mengatakan, "Wahai muwahhidin, terimalah kabar gembira, demi Allah, kita tidak akan beristirahat dari jihad kita sampai kita berada di bawah pohon-pohon zaitun Roma, setelah kita menghancurkan rumah kotor yang disebut Gedung Putih." (Inil Hukmu Illa Lillah)

Sikap ini juga bergema oleh manusia pegunungan, Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah, yang berkata, "Wahai tentara Daulah Islam, wahai pemuda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ... Hari ini kita di ambang pintu menuju sebuah era baru, sebuah titik balik bukan sekedar untuk peta wilayah, tetapi dunia. Hari ini kita menyaksikan akhir kebohongan yang disebut ‘Peradaban Barat’ dan bangkitnya raksasa Islam. Ini adalah apa yang telah diperingatkan oleh Bush dalam pidato terakhirnya di depan veteran ketika ia berkata, 'Daerah ini berubah menjadi salah satu yang mengancam peradaban dengan kehancuran', yang dimaksud peradaban adalah peradaban syirik dan kufur, peradaban riba dan prostitusi, peradaban penghinaan dan penaklukan. Dan dia mengatakan tentang tentara Daulah Islam di Mesopotamia, "Mereka berusaha untuk membangun kembali Khilafah yang akan meluas dari Spanyol ke Indonesia." Ini terjadi setelah dia membuat ancaman satu-satunya kaum Sunni adalah Amerika dan peradabannya". (Wa Yamkuruna Wa Yamkurullah)

Dan dia berkata, "Hal ini mendorong musuh Allah -Bush- mengatakan setelah deklarasi Daulah Islam yang penuh berkah, "Mereka berusaha untuk mendirikan sebuah Negara Islam yang membentang dari Cina ke Spanyol." Dia berbicara benar meskipun ia adalah pembohong." (Wa Qul Ja'al Haqqu Wa Zahaqal Bathil)

Dan kepastian ini adalah janji Allah yang diminta oleh Abu Umar al-Baghdadi saat dia mengatakan dengan penuh keyakinan, "Innad Dawlatal Islami Baqiyah, Sungguh Daulah Islam akan tetap eksis..." (Hashad as-Sinin)

Dan juga berkata, "Pada akhirnya, aku katakan kepada kaum muslimin di mana pun berada, yang menyaksikan kerasnya serangan militer dan propagkalian media terhadap Daulah Islam di Mesopotamia, jangan takut atau khawatir tentang jihad yang ada di Iraq. Berprasangka baiklah, karena kerasnya gelombang itu telah pecah. Sungguh, bangunan yang dibangun di atas tengkorak Syuhada dan yang disirami dengan darah orang-orang yang shaleh, adalah bangunan kebenaran yang lebih kuat daripada gunung yang kokoh, dan tegak lebih tinggi dan lebih mulia dari bintang-bintang. Dan karena kesempurnaan-Nya di atas dan di luar kesalahan apapun, Dia al-Karim, ar-Rahman, ar-Rahim Yang tidak akan pernah membiarkan pengorbanan mereka pergi sia-sia." (Hashad al-Khair)

Kepastian ini senada dengan apa yang disampikan oleh Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah dalam pidato terakhirnya ketika ia berkata, "Dan kami berjanji (wahai salibis), dengan izin Allah bahwa operasi militer ini akan menjadi operasi militer terakhir kalian. Ia akan hancur dan dikalahkan, sebagaimana semua operasi militer sebelumnya yang hancur dan dikalahkan, bahkan kini saatnya bagi kami untuk menyerang kalian setelah ini, dan kalian tidak akan pernah menyerang kami lagi. Kami akan menaklukkan Roma kalian, mematahkan salib, dan memperbudak wanita kalian, dengan izin Allah Ta'ala. Ini adalah Janji-Nya kepada kami; Dia Mahamulia dan Dia tidak tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Jika kita tidak mencapai itu waktu, maka anak-anak dan cucu-cucu kami akan mencapainya, dan mereka akan menjual anak-anakmu sebagai budak di pasar budak." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)

Akhirnya, kepastian akan hal ini menjadi satu hal yang terus berdenyut di hati setiap mujahid Daulah Islam dan setiap pendukungnya di luar sana, hingga tiba saatnya nanti memerangi tentara salib Romawi di dekat Dabiq.

DARAH FOLEY DALAM GENGGAMAN OBAMA

DABIQ 3 - SPESIAL

DARAH FOLEY DALAM GENGGAMAN OBAMA

Adalah sebuah penyejuk hati bagi orang-orang beriman untuk menyaksikan eksekusi seorang warga negara Amerika, James Wright Foley, sebagai balasan atas agresi militer Amerika baru-baru ini terhadap ummat Islam Iraq.

Pada saat yang sama, kemarahan dan kebencian disemburkan oleh mulut-mulut orang kafir dan munafik. Di mana media, tanpa menunggu waktu yang lama, secara langsung menerjunkan diri mereka, siang dan malam, dalam upaya untuk menyesatkan masyarakat Amerika dan masyarakat di seluruh dunia tentang penyebab sesungguhnya dari eksekusi James Foley. Jadi siapakah James Foley? Dan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematiannya?

James Wright Foley adalah seorang warga negara Amerika yang menghabiskan sebagian besar karirnya dengan bepergian secara eksklusif ke zona peperangan di mana militer Amerika memerangi kaum Muslimin. Dia memasuki Afghanistan dan Iraq berkali-kali dari tahun 2008 sampai 2010 selama perang salib berlangsung. TG Taylor[1] dan Mathew Gregory[2] adalah dua pengawas militernya karena ia menutupi aksi militer AS di Afghanistan.

[1] tg.taylor@afgan.swa.army.mil – tel: 0794342276
[2] mathew.gregory@afgan.swa.army.mil – tel: 0797069916

Pekerjaannya mendokumentasi peperangan, dilakukan melalui mata para tentara salib, melaporkan semua hal yang memberitakan kebijakan luar negeri dan agenda mereka, serta menutupi berita apapun yang dapat mengekspos kejahatan mereka. Dalam arsip foto yang dia ambil secara pribadi, terdapat foto yang menggambarkan pemuliaan tentara salib Amerika di Afghanistan dan Iraq, sama seperti yang dilakukan pemerintah boneka Iraq. Terdapat pula foto-foto yang menggambarkan penangkapan banyak orang miskin Afghan dan muslim Iraq di tangan tentara salib. Penyesalan bagi James, karena arsip tersebut ada padanya saat dia ditangkap.

James melakukan perjalanan ke Suriah, melakukan banyak proteksi keamanan karena pengetahuan dan pengalaman sebelumnya sebagai seorang “wartawan” Amerika. Dia tahu bahwa orang Amerika tidak diterima di negeri Muslim karena pemerintah mereka yang tidak tahu malu dan tercatat lama melakukan agresi terhadap kaum muslimin. Namun demikian, dia memasuki Suriah dengan membawa barang-barang yang digunakan untuk mengintai, yang juga ditemukan sebagai miliknya saat dia ditangkap.

Tentang siapa pihak yang bertanggung jawab atas eksekusinya, maka pemerintahan Obama sadar akan penahanan James di awal November 2013. Dalam pesan yang dikirim setelah itu, solusi sederhana untuk membebaskannya telah jelas dinyatakan kepada Amerika. Semua yang harus dilakukan Obama adalah membebaskan saudara-saudara Muslim kita dari penjara mereka.

Sejak pegiriman pesan ini sampai dengan eksekusi James, ada banyak upaya yang telah dilakukan oleh Daulah Islam untuk mencapai sebuah solusi mengenai nasib James Wright Foley, akan tetapi pemerintah AS yang sombong, bodoh, dan payah itu berpaling dari warga mereka dengan acuh.

Selama 9 bulan ini, karena pemerintah Amerika telah angkat kaki, enggan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa James, negosiasi dilakukan oleh pemerintah sejumlah tahanan Eropa, yang menghasilkan dua belas tawanan mereka bebas, setelah tuntutan-tuntutan yang diberikan Daulah Islam dipenuhi. Tersisa sejumlah tahanan dari Inggris dan Amerika dalam penjara Daulah Islam, hanya karena keangkuhan pemerintah mereka yang menolak untuk melepaskan saudara-saudara muslim kita yang dipenjara diantaranya saudari kita, Dr. Aafia Siddiqui.

Untuk menceritakan kisah James, pemerintah Obama akhirnya memukulkan paku terakhirnya di peti mati James dan membunuhnya dengan mengebom Iraq. Sebuah pesan dikirim dua hari sebelum eksekusi James dilaksanakan, peringatan kematian sebagai akibat dari serangan udara AS di Iraq. Solusinya mudah… Hentikan serangan udara!

Pemerintah AS yang sombong tidak memperhatikan tawaran (untuk negosiasi) tidak pula ancaman yang menyertainya, maka pertanyaan yang perlu ditanyakan setiap orang berakal adalah: Apa alasan sebenarnya di balik penolakan pemerintah Obama dalam memenuhi tuntutan yang diajukan oleh Daulah Islam untuk membebaskan warganya sendiri?

Jawabannya adalah bahwa saat ini Obama mengikuti Bush –sang “presiden perang”– secara membabi buta. Dia akan terus memperkuat musuh lama dan bersejarah dari Barat –yakni Persia/Iran–. Dia mengirim kabar yang menyenangkan kepada wakil pemerintah Iran di Suriah dan Libanon (Assad dan Hizbullah). Melalui keputusannya, dia membekukan pemerintahan boneka Iran di Iraq sebagaimana pemerintahan Iran yang didukung milisi Syiah bersekutu dengan pemerintahan boneka.

Dia mendukung sekutu syiah Iran di Afghanistan. Dia menyerang mujahidin –musuh sejati syiah di Yaman–, dengan demikian maka dia telah memperkuat wakil syiah Houti Iran. Semua tindakan yang dilakukannya jauh lebih bodoh dari apa yang Bush lakukan, karena Iran adalah sekutu utama Rusia, musuh bersejarah Barat yang lain, yang saat ini berperang melawan sekutu Barat di Ukraina dan lainnya! Demi tercapainya tujuan ini, dia mengorbankan kesejahteraan rakyat Amerika demi menguntungkan “beberapa hal” meliputi Zionisme dan Kapitalisme. Amerika menghadapi krisis demi krisis termasuk gempa bumi di California, protes di Missouri, dan potensi kematian para tahanan Amerika yang dilakukan oleh Daulah Islam…

PESAN LENGKAP DARI JAMES FOLEY

Namaku James Wright Foley, aku seorang warga negara Amerika. Ini adalah pesan untuk pemerintah AS dan seluruh rakyatnya.

Tujuan dari pesan ini bukanlah permohonan untuk kebebasanku. Karena banyak kesempatan yang telah diberikan kepada pemerintah (Amerika) dan keluargaku untuk bernegosiasi agar aku dibebaskan, namun semua penyebab kegagalan berada pada pemerintah dan keluargaku.

Orang-orang yang menangkapku telah banyak berupaya untuk membuat sebuah penawaran yang menguntungkan. Di antaranya mereka membuat persyaratan yang ketat terhadap keluargaku dan orang-orang yang kucintai agar tidak memberitahu media tentang kasusku.

Alasannya adalah agar pemerintah AS dapat hadir dalam sebuah penawaran yang cepat dan bijak, dengan demikian mereka dapat membebaskanku tanpa harus merasa malu di hadapan publik dan secara jelas melawan cara kerja mereka yang tidak bernegosiasi dengan teroris.

Hal ini terbukti sangat sukses dalam negosiasi beberapa rekanku sesama narapidana yang berkewarganegaraan Eropa, (padahal Eropa) secara terbuka berbagi konsep yang mirip (dengan AS) yang menyebutkan bahwa “tidak ada toleransi” dalam bernegosiasi dengan teroris.

Walaupun begitu, semua pemerintah melaksanakan tuntutan-tuntutan untuk membebaskan warga negara mereka, sementara aku dan warga Amerika lainnya putus asa menunggu politisi egois yang tak punya belas kasih untuk memutuskan nasib kami.

Aku dan rekan sesama narapidana tidak ditangkap hanya untuk dibunuh atau ditahan tanpa alasan. Sebagaimana halnya kebanyakan kaum muslim dari Iraq, Afghanistan, Somalia, Yaman, Libya dan negara-negara muslim lainnya, saat ini mereka menjadi tahanan pemerintah AS dengan berbagai kasus yang dipertanyakan legalitasnya menurut hukum AS. Dan kami yang warga Amerika pun menjadi korban dari kebijakan luar negeri pemerintah kami.

Pemerintah kami, selama 13 tahun terakhir telah mengerahkan pasukan militernya di seluruh tanah kaum muslimin untuk mencampuri urusan mereka. Mereka membunuh atas nama “mempertahankan hidup”, menyiksa dan memperkosa atas nama “kemanusiaan”, menghancurkan atas nama “membangun”, dan merusak kehidupan jutaan orang. Mereka telah berhutang besar atas darah yang ditumpahkan dan kekayaan yang dirampas. Hal tersebut akan membuat kalian dan aku, yakni kebanyakan masyarakat Amerika, yang harus membayar hutang atas kejahatan-kejahatan mereka.

Hari ini pemerintah kami terus melancarkan serangannya terhadap tanah kaum muslimin, sekali lagi dengan bom-bom serangan udara di beberapa kota terbesar Iraq, membunuh dan melukai banyak orang.

Sebagaimana aku yang berbicara disini sebelum kalian, aku menyerumu untuk bangun dan membawa kehidupmu, dan anak-anakmu ke tanganmu sendiri. Jangan biarkan dirimu menjadi pion catur di tangan para politisi sehingga mereka dapat memutuskan apakah engkau hidup atau mati!

Dan ingat, adalah hal yang sangat mudah jika kelak engkau berada dalam posisiku!

Aku menyeru teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang kucintai untuk bangkit melawan pembunuhku yang sebenarnya, yakni pemerintah AS. Apa terjadi padaku hanyalah akibat dari kepuasan diri mereka dan kejahatan mereka sendiri.

Pesanku kepada orang tuaku yang tercinta adalah, simpankan untukku sedikit martabat dan jangan menerima sedikit pun kompensasi kematianku dari orang yang sama yang memukulkan paku terakhir ke peti matiku dengan kampanye udara terbaru mereka di Iraq.

Aku menyeru pada adikku, John, yang saat ini merupakan bagian dari angkatan udara AS, untuk berpikir tentang apa yang ia lakukan dan betapa pekerjaannya menghancurkan kehidupan banyak orang, termasuk keluarganya sendiri.

Aku meminta kepadamu John, untuk berpikir tentang siapa saja yang telah membuat keputusan untuk mengebom Iraq baru-baru ini dan membunuh orang-orang itu, siapapun mereka yang mungkin. Pikirkan John. Siapa sebenarnya yang mereka bunuh? Dan apakah mereka berpikir tentang aku, kau, atau keluarga kita dan seperti apa pengaruh keputusannya terhadap kita?

Aku mati pada hari itu, John. Ketika rekan-rekanmu menjatuhkan bom-bom itu, mereka menandatangani surat kematianku!

Aku harap aku punya waktu lebih. Aku berharap aku bisa memohon untuk bebas dan melihat keluargaku sekali lagi. Namun sayangnya, kapal telah berlabuh.

Sekarang, semua yang dapat kukatakan adalah, aku berharap bahwa aku berasal dari negara lain yang pemerintahnya benar-benar peduli terhadap warganya.

Semua yang kuharapkan adalah, aku berharap bahwa aku bukan orang Amerika.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 3

DABIQ 3 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada 7 Agustus 2014, sang pasukan salib lagi kafir –Barack Obama– mengumumkan kepada dunia tentang kelanjutan perang antara tentara salib Amerika melawan Islam dan kaum Muslimin Iraq, hanya untuk membuktikan kepada pengikutnya bahwa tidak ada perbedaan antara kebijakan politiknya dengan pendahulunya –Bush– kecuali hanya polesan dan sentuhan-sentuhan yang dangkal. Keputusannya pun mengekspos politik munafik Amerika yang hanya melayani kepentingan sekutunya, yakni Yahudi dan Israel, serta kerakusan mereka sendiri terhadap harta. Saat terjadi genosida yang dilakukan oleh tentara Maliki, Assad, dan Israel terhadap kaum muslimin, baik melalui pembantaian sistematis, senjata kimia, pemerkosaan, maupun kelaparan karena pengepungan; di luar sana Obama menontonnya dengan gembira. Namun, ketika saudara-saudaranya dari kalangan setan Yazidi dan Zionis Kurdistan dibunuh, maka ia panik. Obama menghadapi hal ini dengan mengatakan:

“Hari ini saya meresmikan dua operasi di Iraq –serangan udara yang ditargetkan untuk melindungi tentara Amerika– dan upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan ribuan warga sipil Iraq yang terjebak di gunung tanpa makanan dan air, dan hampir mengalami kematian. Izinkan saya untuk menjelaskan tindakan yang kami ambil dan alasan kami mengambil tindakan tersebut.

Pertama, saya telah mengatakan pada bulan Juni, karena kelompok teroris ISIS mulai bergerak di seluruh Iraq, maka Amerika Serikat akan bersiap untuk melakukan serangan militer di Iraq jika kami melihat bahwa situasi tersebut diperlukan. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok teroris ini terus bergerak di sepanjang Iraq dan telah mendekati kota Irbil, tempat di mana diplomat Amerika dan warga sipil melayani konsulat kami, serta tentara militer Amerika melatih pasukan Iraq. Untuk menghentikan gerakan mereka di Irbil, saya telah mengarahkan militer kami untuk melakukan serangan udara melawan konvoi teroris ISIS yang bergerak menuju kota (Irbil). Kami berencana untuk tetap waspada dan mengambil tindakan jika pasukan teroris itu mengancam tentara atau fasilitas kami di mana pun di Iraq, termasuk konsulat kami di Irbil dan kedutaan kami di Baghdad. Kami juga memberikan bantuan darurat untuk pemerintah Iraq dan pasukan Kurdi sehingga mereka dapat lebih efektif melancarkan serangan melawan ISIS.

Kedua, atas permintaan pemerintah Iraq, kami telah memulai operasi untuk membantu menyelamatkan warga sipil Iraq yang terjebak di gunung. Karena ISIS telah bergerak di seluruh Iraq dan melakukan kampanye yang kejam melawan rakyat Iraq yang tidak bersalah. Dan kelompok teroris ini sangat barbar terhadap kelompok agama minoritas, termasuk Kristen dan Yazidi, sebuah sekte agama yang kecil dan kuno. Tidak terhitung barapa banyak rakyat Iraq yang telah mengungsi, laporan memberi gambaran mengerikan tentang militan ISIS yang mengumpulkan keluarga, melakukan eksekusi massal, dan memperbudak wanita-wanita Yazidi. Dalam beberapa hari terakhir, wanita-wanita Yazidi, pria, dan anak-anak dari daerah Sinjar melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka. Dan ribuan, mungkin puluhan ribu, kini bersembunyi di atas gunung tanpa bekal kecuali pakaian di punggung mereka. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Orang-orang kelaparan, anak-anak sekarat karena kehausan. Sementara itu, pasukan ISIS menyerukan pemusnahan seluruh kaum Yazidi secara sstematis di bawah konstitusi genosida…”

HIJRAH DARI KEMUNAFIKAN MENUJU KEJUJURAN

DABIQ 3 - FEATURE

HIJRAH DARI KEMUNAFIKAN MENUJU KEJUJURAN

Pendahuluan

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaff : 2-3)

Ayat-ayat seperti inilah yang menggerakkan para Sahabat supaya diri mereka tidak dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang munafiq. Rasa takut akan kemunafiqan telah meresap ke dalam hati mereka, tidak ada waktu bagi mereka untuk berhenti dari rasa takut itu, berlawanan dengan kaum muslimin pada zaman ini yang terus menerus merasa tenang dan aman berkenaan dengan iman dan amal-amal mereka. Para Sahabat mengetahui esensi dari kemunafiqan –baik nifaq akbar (besar) maupun nifaq ashghar (kecil)- yaitu berbeda antara apa yang tersembunyi dalam hati dan apa yang ditampakkan dengan perbuatan, dan nifaq ashghar dapat mengarahkan kepada nifaq akbar.

Oleh karena itu, mengingkari janji untuk hijrah kepada Allah, dapat mengakibatkan sebuah akhir yang buruk (su’ul khatimah) bagi seorang hamba.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, "Dan diantara mereka (orang-orang munafiq) ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pasti kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) Maka Allah menimbulkan kemunafiqan pada hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta." (At-Taubah : 75-77)

Dalam ayat-ayat ini, Allah mengatakan bahwa Dia menghukum orang-orang munafiq dengan menanamkan kemunafiqan yang lebih dalam lagi sebagai akibat dari pengingkaran janji mereka kepada Allah.

Sifat (pengingkaran) terhadap perintah Allah seperti ini juga sebagaimana yang terjadi pada Bani Isra’il.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, "Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah : 246-247)

Sifat dari Bani Isra’il ini juga nampak ketika mereka menanyakan pertanyaan yang detail perihal sapi yang mereka klaim sebagai apa yang mereka cari, ketika diperintahkan oleh nabi Musa ‘alaihis salam untuk menyembelih sapi itu. Mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu agar bisa menghindar dari tanggung jawab; dan ketika mereka akhirnya mematuhi perintah tersebut, mereka melakukannya dengan malas-malasan. "Kemudian mereka menyembelihnya (sapi itu) dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu." (Al-Baqarah : 71)

Oleh karena itu, setiap Muslim “professional” yang telah menunda jihadnya di masa lalu dengan “alasan-alasan” ingin belajar syari'ah, kedokteran, atau teknik mesin, dan lain-lain. Dengan “klaim” bahwa dia akan dapat berkontribusi untuk islam di kemudian hari dengan keahliannya tersebut. Sebaiknya sekarang orang-orang semacam itu segera bertaubat dan menjawab panggilan hijrah, khususnya setelah Khilafah telah kembali ditegakkan. Khilafah inilah yang sekarang lebih membutuhkan para ahli, tenaga professional dan spesialis yang dapat membantu berkontribusi dalam menguatkan pondasinya.

Adapun kepada para pelajar Muslim (thalabul 'ilm) yang juga menggunakan “alasan-alasan” yang sama untuk terus meninggalkan kewajiban (hijrah dan jihad) pada zaman ini, maka mereka harus tahu bahwa dengan hijrah mereka dari darul kafir menuju darul islam dan berjihad, adalah sesuatu yang lebih Fardhu (wajib) dan mendesak daripada menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar yang sementara itu mereka dapat terkena keraguan-keraguan (syubhat) dan hawa nafsu yang pada akhirnya akan menghancurkan agama mereka dan dengan demikian akan mengakhiri masa depan jihad mereka.

RASA TAKUT AKAN KEMUNAFIKAN

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mati tanpa pernah berjihad dan tidak pernah berniat untuk berjihad sama sekali, maka dia mati dalam cabang kemunafiqan.” (Shahih Muslim)

Oleh karena itu, meninggalkan jihad adalah suatu sifat orang munafiq. Maka berhati-hatilah dengannya, atau bisa saja sifat itu membelenggu hatimu.

Al-Hasan al-Basri rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang takut akan kemunafikan kecuali dia adalah orang yang beriman, dan tidak ada seorangpun yag merasa aman dari kemunafikan kecuali dia adalah orang munafik”. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

Ibn Rajab rahimahullah berkata, “Sahl at-Tustari berkata, ‘Murid (pengikut sufi) takut akan terkena dosa-dosa, tetapi ‘arif (seorang hamba yang berilmu) takut akan terkena kekufuran.’ Karena alasan inilah para Sahabat dan Salafushalih setelahnya, takut akan terkena nifaq (kemunafikan) pada diri mereka, dan kekhawatiran mereka akan nifaq sangatlah tinggi. Oleh karena itu, orang-orang beriman takut akan adanya setitik saja nifaq pada diri mereka, dan dia takut bahwa setitik nifaq itu dapat mengalahkan dirinya sebelum dia menemui kematian dan akan menggiring dirinya menuju nifaq akbar, sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa nifaq tersembunyi dapat mengantarkan seseorang kepada kematian yang buruk (su’ul khatimah).” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

Maka meninggalkan hijrah –jalan menuju jihad- adalah persoalan yang berbahaya. Akibatnya, seseorang yang meninggalkan jihad harus rela menerima kondisi tragisnya sebagai ‘penonton yang munafik’. Dia tinggal di darul kufur bersama para kuffar bertahun-tahun, menghabiskan waktunya berjam-jam di internet, membaca berita-berita dan memberi komentar di forum-forum, hanya untuk terkena ayat, "Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja." (Al-Ahzab : 20).

Setiap orang harus bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa jaminannya bahwa saya tidak akan terkena ayat ini atau ayat-ayat yang sejenis lainnya?”

Dia juga harus merenungkan, "Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”. Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kalian; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim." (At-Taubah : 46-47)

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Allah tidak menyukai ketaatan mereka dikarenakan kotornya hati-hati mereka dan busuknya niat-niat mereka, maka Allah menghalau mereka ke belakang dan membuat mereka terduduk (bersama orang-orang yang duduk). Allah membenci ‘kedekatan’ mereka kepada diri-Nya, dikarenakan kecenderungan mereka terhadap musuh-musuh Allah, maka Allah menghalau mereka dan menjauhkan mereka dari-Nya. Mereka berpaling dari ayat-ayat Allah, maka Allah pun berpaling dari mereka, membuat mereka menderita, tidak memberikan kebahagiaan kepada mereka, dan menetapkan atas mereka agar mereka tidak mendapatkan harapan keberhasilan apapun, kecuali jika mereka bertaubat.” (Madarijus Salikin)

Tanyakan pada diri kalian, “Apa jaminannya bahwa Allah tidak membenci keberangkatanku? Apa mungkin Allah melihat bahwa dalam diriku terdapat sifat kemunafikan yang mana aku tidak dapat melihatnya, dan oleh karena itulah Allah mencegah keberangkatanku untuk berjihad?”

Perasaan keragu-raguan secara terus menerus dapat menghancurkan bagian dalam diri seseorang. Pada beberapa waktu lalu, para Muslim yang tulus akan menangis dan berdoa setiap hari agar dapat melarikan diri dari bumi-bumi “qu’ud” (tempat dimana orang-orang duduk-duduk meninggalkan jihad) lalu pergi menuju bumi-bumi jihad, bahkan mereka mau jika mereka nantinya (di bumi jihad) hanya hidup sebagai seorang prajurit yang terus menantikan kesempatan untuk bertempur. Mereka memimpikan untuk pergi ke Iraq, Afghanistan, Yaman, Chechnya, Aljazair, Somalia, dan Waziristan, tetapi tidak berhasil. Mereka tahu bahwa satu-satunya jalan bagi seseorang yang mengklaim bahwa dirinya masih memiliki sebiji sawi keimanan adalah dengan pergi meninggalkan darul kufur.

Sebelumnya, memang jalan hijrah ini terdengar mustahil bagi beberapa orang, tetapi sekarang sudah ada Khilafah yang sudap siap menerima setiap Muslim dan Muslimah untuk berhijrah menuju bumi-bumi Nya, dan Khilafah ini juga berusaha dan Khilafah ini juga berusaha semampunya dengan kekuatannya untuk melindungi mereka (para muhajirin), sambil bersandar kepada Allah semata.

KATA-KATA INSPIRASI DARI SYUHADA

Berkaca kepada keadaan emosi yang digambarkan oleh Asy-Syahid Abu Dujanah al-Khurasani rahimahullah, yang selama bertahun-tahun dalam hidupnya mencari sebuah jalan untuk berjihad, sampai akhirnya para musuh islam sendirilah yang –dengan rahmat Allah- menempatkan dirinya diatas jalan itu. Beliau kemudian mengambil keuntungan dari makar mereka untuk menghancurkan wajah-wajah mereka sendiri, berhasil membunuh sejumlah salibis amerika dan agen-agen murtad mereka.

Abu Dujanah al-Khurasani rahimahullah berkata, “Dari setiap kematian yang aku ketahui, aku dapat mati. Dari setiap penyakit yang aku ketahui, aku dapat jatuh sakit. Dari setiap tahun yang berlalu dalam hidupku, aku akan semakin tua. Inilah Sunnatullah mengenai para Qa’idun (mereka yang duduk dan meninggalkan jihad). Aku mengenal betul kondisi ini. Ini adalah sebuah kondisi yang disebut dengan “kematian secara halus (perlahan)". Oleh karena itu, kata-kataku akan sirna jika aku tidak menebusnya dengan darahku. Emosiku akan padam jika aku tidak membakarnya dengan kematianku. Apa yang aku tulis ini akan bersaksi atas diriku kelak jika aku tidak membuktikan bahwa aku bukan orang munafik. Tidak ada satupun kecuali hanya dengan darah yang dapat sepenuhnya memastikan adanya bukti itu. Jika Allah mentaqdirkan kalian untuk masuk ke sebuah kota dimana kata-kata dan perasaanku itu tinggal didalamnya, kalian akan menemukan foto-fotoku tergantung pada dinding-dinding dan tiang-tiang, dan dibawah fotoku itu tertulis, ‘Dicari : hidup atau mati’.” (Mata Tashrab Kalimati min Dima’i)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kecintaan ini (terhadap jihad), bagi mereka yang tidak mengetahuinya, membuat pahit hidup para “qa’idun” (mereka yang duduk dan meninggalkan jihad) dan menghancurkan kesenangan mereka. Tidak seorangpun yang akan memahami kata-kataku kecuali bagi seseorang yang berada dalam kondisi yang sama sepertiku. (…) Jika kecintaan terhadap jihad sudah merasuk pada hati seseorang, maka rasa ini tidak akan meninggalkan dirinya, walaupun dia telah berharap seperti itu. Jika dia berusaha untuk melupakan atau berpura-pura lupa, maka gejala-gejalanya akan semakin memberatkan dan kondisinya akan semakin sulit. Dia akan mendapati dirinya dikelilingi dengan segala sesuatu yang mengingatkan dia terhadap jihad. (…) Pepatah berkata, ‘terkadang cinta membunuhmu’. Aku tidak mendapati kebenaran atas perkataan itu kecuali dengan ‘kecintaan terhadap jihad’, karena cinta ini akan membunuhmu dengan penyesalan jika kalian memilih untuk duduk dan meninggalkan jihad, atau cinta ini dapat membunumu, membuat dirimu menjadi seorang syuhada fi sabilillah jika kalian memilih untuk menjawab seruan jihad. Kalian hanya dapat memilih salah satu dari dua macam kematian itu." (Thala’i’ Khurasan Edisi 15).

Kondisi ini mungkin menggambarkan satu dari sekian banyak pengalaman keseharian setiap Muslim. Yang mana tidak ada solusi atasnya kecuali dengan mengambil langkah pertama menuju jihad, (yaitu dengan) Hijrah.

PERBUDAKAN ERA MODERN

Perbudakan di zaman modern ini melalui pemekerjaan (lowongan pekerjaan), jam kerja, gaji, dll, adalah salah satu hal yang menyebabkan kaum Muslimin secara terus menerus terbuai dalam ketundukannya kepada bos atau tuan mereka dari kalangan orang kafir. Dia tidak hidup dengan kekuasaan dan kemulian yang mana setiap muslim harus hidup dengannya dan merasakannya. Ini sama halnya dengan ibarat Bilal radhiyallahu ‘anhu tidak pernah berkeinginan untuk hidup sebagai orang merdeka, lalu Daulah Islam Madinah tidak pernah didirikan, dan ayat-ayat jihad, jizyah, dan ghanimah tidak pernah diturunkan kepada Rasulullah untuk Ummat Muslim!

Padahal jika kalian membandingkan situasi para Sahabat setelah hijrah dan jihad, kalian akan melihat bahwa “Dunia” datang menghampiri mereka tanpa mereka harus mengekor kepadanya. Mereka mendedikasikan hidupnya hanya untuk Allah, maka “Dunia” pun mendatangi mereka tanpa mereka harapkan.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengharapkan Akhirat, Allah akan mengumpulkan baginya segala urusannya dan akan menaruh kekayaan pada hatinya. Dunia akan mendatangi dirinya dengan sendirinya. Dan barangsiapa yang mengharapkan Dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menaruh kemiskinan di pelupuk matanya. Tidak akan ada Dunia yang mendatanginya kecuali apa yang sudah ditetapkan baginya.” (Shahih, riwayat at-Tirmidzi).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Fitnah ibarat potongan-potongan gelapnya malam yang telah membayangi kalian. Orang yang paling selamat dari fitnah ini adalah orang yang berada di pegunungan yang tinggi yang memberi makan dirinya dari susu kambing miliknya, atau orang yang menempuh jalan utama (pada garis depan dekat dengan musuhnya) yang menggenggam tali kekang kudanya dan makan dari (apa yang dia dapatkan dengan) pedangnya.” (Shahih, riwayat al-Hakim)

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Para ulama telah berijma’ bahwa sebaik-baik harta penghasilan adalah ghanimah (rampasan perang) (…) selama itu bebas dari ghulul (mencuri dari ghanimah).” (Bahjatul Majalis)

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Jika dikatakan, ‘Apakah sumber penghasilan (rizki) yang terbaik dan paling halal?’ (…) Pendapat yang benar adalah bahwa penghasilan yang paling halal adalah yang berasal dari sumber yang sama dengan sumber penghasilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu penghasilan para ghanimin (para penghasil ghanimah), yang mana telah dihalalkan bagi mereka melalui Syari'at Allah. Penghasilan(rizki) ini dipuji didalam Al-Qur’an melebihi dari penghasilan apapun. Orang-orangnya (yang mendapat penghasilan dari ghanimah) juga dipuji dengan pujian yang tidak pernah didapatkan orang selainnya. Untuk alasan inilah, Allah menetapkan penghasilan ini untuk sebaik-baik makhluk Nya dan penutup dari para Nabi, yang bersabda, ‘Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sehingga Allah saja yang disembah dan tidak disekutukan dengan lain-Nya dan rizkiku terletak di bawah tombakku, dan kehinaan itu dijadikan atas orang yang menyelisihi agamaku." (Shahih, riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar). Itulah penghasilan (rezeki) yang diraih melalui kekuatan, kemuliaan dan penaklukan atas musuh-musuh Allah. Ini telah menjadi hal yang paling dicintai bagi Allah, dan maka tidak penghasilan lain yang dapat menandinginya. Wallahu a’lam.” (Zadul Ma’ad)

Fa’i (rampasan yang diraih tanpa peperangan) termasuk dalam makna dari “rizkiku terletak di bawah tombakku” lebih utama dari segala macam bentuk rampasan perang, sebagaimana para ulama telah menyebutkan ketika mengomentari hadits tersebut.

Penghasilan yang mulia ini (ghanimah) membantu seseorang untuk berlepas diri dari perbudakan dan mendedikasikan hidupnya secara sungguh-sungguh kepada Tuannya (Allah) melalui Ibadah, Jihad, dan belajar ilmu agama. Padahal dedikasi hidup seseorang kepada suatu pekerjaan, jika tuannya adalah orang kafir, hanya akan menggiring dirinya kepada kehinaan yang mungkin dari waktu ke waktu dapat mengarahkan kepada pengakuan yang diikuti dengan keadaan yang rendah dan tercampuri oleh kekufuran. Mungkin, untuk alasan ini para Ulama menyebutkan bahwa merupakan suatu hal yang tidak disukai (makruh) jika seorang Muslim bekerja kepada orang kafir (lihat Fathul Bari jilid 4, hal 452).

Tetapi bagi siapapun yang telah melakukan hijrah dan secara bodoh mengharapkan untuk hidup royal atau rakus kemudian menimbulkan fitnah terhadap ghanimah, maka hijrahnya adalah sesuai niatnya, dan dia jangan mengharapkan imbalan apapun di Akhirat kecuali jika dia bertaubat.

TIADA HIDUP TANPA JIHAD DAN TIADA JIHAD TANPA HIJRAH

Allah ‘azza wa jalla berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu." (Al-Anfal : 24)

‘Urwah Ibnu Zubair rahimahullah berkata, "Suatu yang memberi kehidupan kepada kamu" maknanya adalah perang, yang mana Allah memuliakan kalian setelah kehinaan, menguatkan kalian setelah kelemahan, dan membela kalian dari musuh kalian setelah penindasan mereka terhadap kalian.” (Tafsir Ibn Katsir).

Jihad tidak hanya memberikan kehidupan bagi skala besar dari Ummat, tetapi itu juga memberikan kehidupan secara penuh pada skala individu manusia.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Jika tidak ada yang didapatkan dari Memanah kecuali itu menolak kegelisahan dan kesedihan dari hati, maka itu sudah cukup menjadi suatu keutamaan. Apalagi, para Pemanah telah merasakan ini. Juga, Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Hisyam Ibnu Urwah dari ayahnya, dari A’isyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika suatu ketika kegelisahan membelenggu diri seseorang, dia hanya perlu untuk memakai busur panahnya lalu melesatkannya anak panahnya yang dengan demikian akan dapat mengusir kegelisahannya” (salah satu susunan isnadnya terdapat perawi yang sangat lemah yang bernama Muhammad az-Zubaidi, sebagaimana yang disebutkan dalam Majma’ az-Zawa’id). Perkataan ini mirip dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Lakukanlah Jihad fi sabilillah, karena itu adalah salah satu gerbang diantara gerbang-gerbang Jannah, dimana Allah mengusir kegelisahan dan kesedihan dari jiwa-jiwa” (Shahih, Riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim dari Ubadah ibnu Shamit). Ini juga berasal dari firman Allah ta’ala, "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (At-Taubah : 14-15).” (Al-Furusiyah)

Kehidupan Jihad ini tidak mungkin (kalian dapatkan) sampai kalian berkemas dan hijrah menuju (bumi) Khilafah.

TEMAN YANG BURUK MERUSAK HATI

Hidup di tengah-tengah ahli maksiat dapat mematikan hati seseorang, lalu bagaimana halnya jika hidup di tengah-tengah orang-orang kafir! Kekufuran mereka pada awalnya hanya membuat goresan dan jejak pada hati yang dari waktu ke waktu akan menjadi ukiran dan pahatan yang hampir tidak mungkin untuk dihilangkan. Mereka dapat menghancurkan fitrah seseorang menuju sebuah titik yang mana tidak bisa kembali lagi, jadi keraguan dan hasrat dari hatinya akan sepenuhnya membelenggu dirinya.

Dalam hadits tentang seorang pria yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan kemudian memutuskan untuk bertaubat, seorang ulama berkata kepadanya, “Pergilah menuju sebuah negeri ini dan ini, karena didalamnya terdapat orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah. Maka Beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan jangan pernah kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk(jahat).” (Shahih Muslim).

Jarir ibnu Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Aku berlepasdiri dari setiap muslim yang hidup di tengah-tengah kaum musyrikin. Tidak akan terkumpul dua api mereka berdua." (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Bahkan jika seseorang selalu menghabiskan waktunya di masjid untuk sholat, dzikir dan belajar ilmu agama, sementara dia hidup bersama (komunitas) kaum Muslimin yang hidup berdampingan dengan orang-orang kafir dan meninggalkan jihad, maka orang seperti ini hanya akan membangun hujjah (bukti) yang paling kuat (untuk menjatuhkan dirinya sendiri di hari Kiamat) atas dirinya dan dosa-dosanya.

Juga dikatakan oleh Abu Musa Al-'Asy'ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) membakar pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap." (Al-Bukhari dan Muslim)

Jadi, teman yang buruk (ahlu maksiat) mau tidak mau akan tetap mempengaruhi kalian. Dan dosa yang paling berat pada zaman ini adalah qu’ud (meninggalkan jihad), dikarenakan hukum jihad sekarang adalah Fardhu ‘ain (Wajib atas setiap individu). Lalu bagaimana bisa seseorang merasa senang bersama teman-teman yang meninggalkan jihad?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Inti dari hijrah adalah untuk meninggalkan dosa dan para pelakunya (ahlul maksiat), termasuk hajr (menjauhi / memboikot) para penyeru bid’ah, maksiat, dan mereka yang berbaur bersama mereka atau membantu mereka. Demikian pula, bagi seseorang yang meninggalkan Jihad (amalan yang tanpanya dia tidak bisa mencapai maslahah apapun) harus dihukum dengan hajr (boikot), karena dia tidak mengarahkan kaum Muslimin menuju ketaqwaan dan jalan yang benar. Dan seperti, para zunah (pezina), para luthiyah (pelaku sodomi), para qu’ud (orang yang meninggalkan jihad), para ahlul bid’ah (orang-orang yang membuat perkara baru dalam hal agama) dan para peminum Khamr (pemabuk), semuanya berbahaya bagi Dienul Islam, dan membaur bersama mereka juga suatu hal yang berbahaya. Mereka tidak mengarahkan menuju jalan yang benar atau tidak juga mengarahkan kepada ketaqwaan. Barangsiapa yang tidak meninggalkan mereka maka dia telah meninggalkan sebuah kewajiban dan jatuh ke dalam suatu hal yang dilarang.” (Majmu’ al-Fatawa)

Apakah kalian merasa senang berbaur dengan mereka yang disebutkan oleh Syaikhul Islam yaitu para pezina, kaum sodom, dan juga para ahlul bid’ah dan para peminum khamr? Wallahi, mereka akan menghancurkan Dien seseorang sampai orang itu mendapati dirinya di Neraka!

NASEHAT BAGI MEREKA YANG MEMULAI HIJRAH

Sebelum kalian menempuh perjalanan kalian, ingat baik-baik hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (Shahih, riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi dan lainnya, dari Umar)

Hadits ini dikatakan berkaitan dalam urusan dunia, lalu bagaimana halnya jika berkaitan dalam urusan Dien, yang mana Allah telah menjanjikan pertolongannya! Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Andaikan seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal untuk memindahkan gunung dari tempatnya dan dia diperintah untuk memindahkan gunung tersebut, niscaya dia akan mampu memindahkannya.” (Madarijus Salikin)

Maka jangan pernah berkata kepada dirimu sendiri, “Aku tidak akan pernah berhasil dalam hijrahku.” Kebanyakan dari mereka yang telah berusaha, mereka telah berhasil mencapai bumi Khilafah. Diantara mereka ada yang berpergian melalui darat, terkadang berjalan kaki, dari suatu Negara ke Negara yang lainnya, menyeberangi suatu perbatasan ke perbatasan lainnya, dan Allah telah mengantarkan mereka dengan selamat sampai ke bumi Khilafah.

Jangan pernah berkata kepada dirimu sendiri, “Aku akan tertangkap.” Ketakutan itu adalah suatu hal yang tidak pasti dan sedangkan kewajiban hijrah itu adalah suatu hal yang pasti. Tidaklah dibenarkan untuk membatalkan sesuatu yang pasti dengan sesuatu yang tidak pasti (sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh Abdullah Azzam dalam beberapa khutbah dan tulisannya). Jika kalian takut ditangkap, maka lakukanlah sesuai kemampuanmu untuk menghindari deteksi, dengan tidak membicarakan kepada siapapun mengenai niat kalian untuk hijrah.

Jangan khawatir mengenai pekerjaan atau tempat tinggal untuk dirimu dan keluargamu (di bumi Khilafah nanti). Disana terdapat banyak rumah-rumah dan sumber daya untuk menaungi dirimu dan keluargamu.

Ingat baik-baik bahwa Khilafah adalah sebuah Daulah yang penghuni dan pasukannya hanyalah manusia biasa. Mereka tidak sempurna seperti Malaikat. Kalian mungkin akan mendapati beberapa hal yang perlu ditingkatkan dan hal-hal lain yang sedang dalam proses perbaikan.

“JIKA KALIAN BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH DENGAN SEBENAR-BENAR TAWAKKAL, NISCAYA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KALIAN RIZKI SEBAGAIMANA DIA MEMBERIKAN RIZKI KEPADA BURUNG-BURUNG. MEREKA PERGI PAGI HARI DENGAN PERUT KOSONG DAN KEMBALI DENGAN KENYANG MALAM HARI..."

Kalian mungkin akan menemui beberapa kesalahan yang perlu diperbaiki. Kalian mungkin akan mendapati beberapa saudara kalian dengan sifat-sifat yang perlu diperbaiki. Tetapi ingat bahwa Khilafah sedang dalam kondisi perang terhadap banyak Negara kafir dan sekutunya, dan ini adalah sesuatu yang membutuhkan banyak pembagian sumber daya. Maka bersabarlah.

Akhirnya, jika kalian telah tiba (di bumi Khilafah), jangan biarkan pencapaian Hijrah kalian menggugurkan amal-amal kalian dengan membiarkan kesombongan merasuki hati-hati kalian dan kemudian merendahkan saudara-saudara kalian dari kalangan Anshar! Muhajirin tidak akan pernah ada tanpa Anshar. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa hijrah adalah suatu amalan yang sangat utama tetapi itu juga bukan merupakan sebuah pembenaran untuk memandang diri kalian lebih utama daripada yang lainnya.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Telah ada riwayat shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Tidak seorangpun dengan sebiji sawi kesombongan akan memasuki surga.” Mereka berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, jika ada seseorang yang mengenakan sepatu dan pakaian bagus. Apakah itu merupakan kesombongan?’ Beliau bersabda, ‘Tidak, Allah itu indah dan Dia menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain’ (Shahih Muslim). Maka kesombongan adalah meremehkan kebenaran, menolaknya, mengelak darinya setelah mengetahuinya, dan memandang rendah seseorang dengan pandangan enggan, benci, dan cemooh. Tidak ada yang salah dengannya (memakai pakaian bagus) jika itu dilakukan karena Allah. Tanda bahwa hal itu dilakukan karena Allah adalah orang itu akan lebih merendahkan dirinya (tawadhu’). Tetapi jika dia merendahkan orang lain dikarenakan beranggapan bahwa dirinya lebih utama, maka inilah kesombongan yang akan menghalanginya masuk surga.” (Raudhatul Muhibbin)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa seorang tabi’in yang bernama Wahab Ibnu Munabbih berkata, “Musa berkata kepada Bani Isra’il, ‘bawakan kepadaku orang-orang terbaik kalian’. Maka mereka membawakan seseorang kepadanya. Musa berkata, ‘apakah engkau yang terbaik dari Bani Isra’il?’ Dia menjawab, ‘ya, sebagaimana yang mereka katakan.’ Maka Musa mengatakan kepadanya, ‘pergilah dan bawakan kepadaku orang yang terburuk dari Bani Isra’il.’ Maka dia pergi dan kembali sendirian. Musa berkata, ‘Apakah engkau telah membawakan orang yang terburuk dari Bani Isra’il?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengenali banyak hal mengenai mereka sebagaimana aku mengenali diriku sendiri.’ Musa berkata, ‘(Maka) memang benar engkaulah yang terbaik diantara mereka’.” (Az-Zuhud)

Wallahu a'lam. Kami memohon kepada Allah agar Dia memudahkan hijrah kalian. Aamiin.

DAKWAH DAN HISBAH DI DAULAH ISLAM

DABIQ 3 - LAPORAN

DAKWAH DAN HISBAH DI DAULAH ISLAM

Ketika kabilah Bani Syaiban menawarkan diri untuk menolong Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melawan Arab tetapi tidak melawan Persia, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada mereka, "Agama Allah hanya akan ditolong oleh orang yang melindunginya dari segala isinya." [Ibnu Hajar berkata, diriwayatkan oleh al-Hakim, Abu Nu'aim, dan al-Baihaqi dalam ad-Dala'il dengan sanad hasan].

Hadits ini hanya sebagai gambaran akan kemauan dan tekad yang Allah tuntut dari kita ketika hendak menegakkan agama-Nya, hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak bisa dipilah-pilah dan dicapai sedikit demi sedikit. Kita tidak bisa mengadopsi pemikiran bahwa jihad dapat diterima tanpa da'wah, atau bahwa hudud tidak dapat ditegakkan selama jihad defensif, atau bahwa kami hidup di masa yang mirip dengan zaman Nabi di Makkah dan oleh karenanya harus fokus kepada da'wah karena tidak ada jihad.

Sebaliknya, Islam adalah agama yang menyeluruh yang harus diikuti dari setiap sisinya, dan dipertahankan dari segala penjuru. Jika salah satu aspeknya diabaikan atau dilalaikan, syaithan dan tentaranya akan segera mengisi kekosongan tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya, syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.” [Al-Baqarah: 208].

Karena alasan inilah Daulah Islam telah lama menjaga inisiatif untuk menegakkan jihad beriringan dengan kampanye da'wah yang secara aktif memenuhi kebutuhan masyarakat, ia berperang untuk membela Muslimin, membebaskan tanah-tanah mereka, dan mengakhiri para thaghut. Dan pada saat yang sama berusaha untuk membimbing dan membina mereka yang berada di bawah kekuasaanya serta memastikan dengan baik bahwa kebutuhan agama Tambahan laporan

dan sosial mereka terpenuhi. Karena tiada kebaikan dalam pembebasan suatu kota jika hanya untuk membiarkan penduduknya berjalan di atas kebathilan dan penderitaan, menderita karena kebodohan dan perpecahan, dan terputus dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallalllahu 'alaihi wasallam.

Demikianlah, Daulah Islam secara aktif bekerja untuk mengedukasi masyarakatnya, memberi ceramah dan nasehat kepada mereka, mengajak mereka untuk berpegang teguh kepada kewajiban-kewajiban Islam, memutuskan perselisihan mereka, menerapkan syar'iat hudud, membasmi semua bentuk kesyirikan dan kebid'ahan, menyeru orang-orang untuk berjihad, dan menyeru mereka untuk bersatu di bawah Khalifah Ibrahim bin 'Awwad al-Husaini al-Qurasyi.

PEMBEBASAN DABIQ

DABIQ 3 - LAPORAN

PEMBEBASAN DABIQ

Bulan ini, tentara Daulah Islam melancarkan serangan cepat dan senyap ke utara Halab. Serangan tersebut, yang bernama "Pembalasan untuk Saudari Yang Suci", dengan sasaran para pengkhianat Shahawat murtad yang menjual diri mereka kepada Amerika dan boneka lokalnya, menikam mujahidin dari belakang, serta menawan dan memperkosa banyak Muhajirah.

Serangan di utara Halab berhasil membebaskan sejumlah kota dan desa termasuk Akhtarin, Turkman Barih, Huwar an-Nahr, dan Dabiq, yang namanya pasti dikenali oleh para pembaca sebagai nama majalah ini. Sebagaimana disebutkan di Pendahuluan edisi pertama kami, nama majalah ini diambil dari daerah bernama Dabiq di tepian utara Halab, karena peran penting yang akan diperankannya selama al-Malhamah al-Kubra (Perang Terbesar) melawan tentara Salib.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hari kiamat tidak akan terjadi sampai negeri Romawi di al-A'maq atau Dabiq (dua tempat berdekatan di utara Halab). Lalu pasukan dari Madinah yang berisi orang-orang terbaik di bumi akan keluar untuk melawan mereka. Ketika mereka telah berbaris, Romawi berkata, ‘Biarkan kami dan orang-orang yang telah mengambil tawanan dari kami sehingga kami bisa memerangi mereka’. Kaum Muslimin akan berkata, ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan menyerahkan saudara-saudara kami kepadamu’. Maka mereka akan saling berperang. Kemudian sepertiga dari mereka akan kabur (lari dari pertempuran), Allah tidak akan mengampuni mereka. Sepertiga akan terbunuh, mereka akan menjadi syuhada terbaik di sisi Allah. Dan sepertiga akan mengalahkan mereka, mereka tidak akan terkena fitnah (selamanya). Kemudian mereka akan menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka membagi ghanimah, menggantungkan pedang mereka di pohon zaitun, syaitan akan menyeru, ‘Dajjal Al Masih (palsu) telah mencapai keluargamu [yang tertinggal]’. Maka mereka akan kembali [kepada keluarganya], tapi berita dari syaitan itu hanya bohong. Ketika mereka kembali ke Syam, dia (Dajjal) muncul. Lalu ketika mereka bersiap untuk perang dan mengatur barisan, datang panggilan shalat. Maka Isa bin Maryam 'alaihis salam akan turun dan memimpin mereka. Ketika musuh Allah (Dajjal) melihatnya, maka dia akan meleleh seperti garam di dalam air. Seandainya dia membiarkannya (Dajjal) tentu ia meleleh sampai habis, tetapi dia membunuh Dajjal dengan tangannya, dan kemudian dia menunjukkan darah Dajjal di ujung tombaknya." [Shahih Muslim]

Kami memohon kepada Allah untuk menempatkan kami di kubu orang-orang yang beriman di hari al-Malhamah dan menguatkan kami hingga Dia menganugerahkan kepada kami kemenangan atau mati syahid.