Rabu, 25 April 2018

MUHAJIRAH, SAUDARA KANDUNG PARA MUHAJIRIN

DABIQ 8 - MUSLIMAH

KEPADA SAUDARI KAMI :
MUHAJIRAH, SAUDARA KANDUNG PARA MUHAJIRIN
Oleh : Ummu Sumayah Al-Muhajirah

Dengan nama Allah yang telah menurunkan ayat bagi para muhajirah, dan memeliharanya di dalam Al-Qur'an hingga hari Kiamat, Shalawat dan salam semoga tercurah atas imam para mujahidin, orang yang paling dicinta oleh kaum anshar dan muhajirin, dan atas para keluarga, shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan. Amma ba'du.

Maka sesungguhnya, di saat hijrah di jalan Allah adalah perkara yang sangat agung, maka Allah menurunkan sebuah ayat: “Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik, maka Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah, dan Allah mempersiapkan bagi mereka surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang agung.” (At-Taubah: 100).

Demikian juga, seandainya bukan karena hijrah tentulah Nabi tidak akan memberikan permisalan kepada kita dengan sabdanya 'Setiap amal itu tergantung dari niatnya', di mana beliau bersabda: “Maka siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya”. Hijrah dari Makkah ke Madinah juga telah menjadi moment besar dan titik perubahan paling berpengaruh dalam misi kenabian, dia juga mengandung pelajaran yang sangat berharga, sehingga dia telah menjadi kejadian paling agung dalam sejarah Islam, dan dengan alasan ini dia menjadi dasar penganggalan dalam kalender Islam.

Hijrah di jalan Allah bertujuan untuk menyelamatkan diri dari fitnah, lantaran takut terjatuh ke dalamnya, dan menyelamatkan agama, karena terbiasa melihat kekufuran dan kesyirikan tanpa sedikitpun tergugah untuk merubahnya terkadang akan mematikan hati, sehingga tidak merasakan lagi perasaan Islam dan pemeluknya. Begitu juga di antara tujuan hijrah adalah untuk memperkuat barisan kaum muslimin dan membantu mereka untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah dan juga musuh mereka.

Dan hijrah, menurut definisi yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah adalah “Meninggalkan Darul Kufr menuju Darul Islam” (Al-Mughni). Syaikh Sa'd bin Atiq rahimahullah berkata, “Berpindah dari tempat syirik dan maksiat menuju negeri Islam dan ta'at” (Ad-Durar As-Saniyah). Dan Darul Islam Adalah negeri yang diatur oleh kaum Muslimin dan berlaku di dalamnya hukum-hukum islam, sehingga yang menjadi penentu adalah kaum muslimin, walau terkadang mayoritas masyarakatnya adalah kafir, sedangkan Darul Kufr adalah negeri yang diatur oleh orang-orang kafir, berlaku di dalamnya hukum-hukum kafir dan yang menjadi penentu adalah orang-orang kafir, walaupun mungkin mayoritas masyarakatnya adalah muslim.

Adapun hukum hijrah, yaitu dari darul kufr menuju darul Islam, adalah wajib. Allah berfirman : "Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)". Mereka (para malaikat) bertanya, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa : 97).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat ini menunjukkan kewajiban hijrah secara umum, maka setiap yang tinggal di antara masyarakat musyrik, dan dia sanggup untuk hijrah, dan tidak bisa leluasa menjalankan agamanya, maka dia berarti telah zhalim terhadap dirinya sendiri dan telah melakukan perbuatan haram secara ijma', telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanadnya dari Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa yang bercampur baur bersama orang-orang musyrik atau tinggal bersama mereka maka sesungguhnya dia seperti mereka”.

Dan seandainya tidak ada dalil-dalil lain atas wajibnya hijrah kecuali hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak akan terputus hijrah hingga terputusnya taubat, dan tidak akan terputus taubat hingga matahari terbit dari barat” (diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Mu'awiyah radhiyallahu anhu) dan “Tidak akan terputus hijrah selama masih ada jihad” (Diriwayatkan oleh Ahmad), dan “Aku berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal di antara orang-orang musyrik” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud), dan “Tidak akan terputus hijrah selama musuh masih diperangi” (DIriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa'i), jika kita tidak memiliki dalil-dalil kecuali hadits-hadits ini, maka ini semua telah cukup dan memadahi untuk menolak syubhat orang-orang yang membuat ragu dan kedustaan orang-orang yang membuat khawatir.

Dan hukum ini wajib atas wanita sebagaimana dia wajib atas laki-laki, di mana Allah Ta'ala ketika mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup berhijrah, Dia mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup dari kalangan wanita sebagaimana mengecualikan orang-orang yang tidak sanggup dari kalangan laki-laki. Allah berfirman; "Kecuali orang-orang lemah dari laki-laki, wanita dan anakanak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan, maka mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun" (An-Nisa: 98-99). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda; “Wanita adalah saudara kandung laki-laki” (diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dan hari ini, setelah kaum muslimin menegakkan sebuah daulah yang berhukum dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan wilayah kekuasaan yang terbentang lebih luas dari beberapa Negara bentukan Sykes Pycot, dan para tentaranya telah mengembalikan tentang khilafah yang dijanjikan dengan tajamnya pedang bukan dengan sikap pasif, maka menguatlah alur hijrah sehingga setiap hari tidak hanya muhajirin yang berhijrah ke negeri Islam, namun juga muhajirah, mereka telah bosan hidup di tengah kekufuran dan orang-orangnya, maka ketika mentari Daulah yang mereka tunggu telah bersinar, mereka pun segera melesat ke sana, baik secara berkelompok maupun secara sendiri-sendiri, dari berbagai penjuru bumi, timur dan baratnya, berbagai warna kulit dan bermacam bahasa namun hati mereka bersatu di atas Laa ilaaha illallah, dan aku teringat di saat aku berhijrah dan aku adalah satu-satunya wanita Arab di tengah-tengah para akhawat muhajirah.

Jika pembicaraan tentang muhajirin adalah hal yang menakjubkan, maka membicarakan saudara mereka dari kalangan muhajirah adalah hal yang lebih menakjubkan! Berapa banyak kisah yang jika bukan karena aku mendengarnya langsung dari lisan pelakunya atau melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri, maka aku mengira itu hanya dongen yang tidak masuk akal dan sesuatu yang mustahil!

Orang-orang yang tidak suka sering mengatakan bahwa mereka yang berhijrah ke Daulah Islam adalah kelompok masyarakat pinggiran di negerinya, hidup terlunta-lunta dengan susah payah antara menganggur, kemiskinan, problem rumah tangga dan gangguan jiwa, akan tetapi yang aku lihat berbeda dari itu semua! Aku melihat mereka adalah wanita yang telah mentalak dunia dan datang kepada Rabbnya, aku melihat para wanita yang zuhud dari kehidupan yang nyaman dan harta yang berlimpah, aku melihat wanita yang meninggalkan rumah megah dan mobil mewah untuk berlari di jalan Rabbnya dengan mengatakan di dalam hatinya "Wahai Rabbku bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga" (At-Tahrim: 11). Kama nahsabuhu, wallahu hasibuhu (Beginilah penilaianku, dan Allahlah sebaik-baik penilai).

Mereka adalah gelas-gelas kaca tetapi jiwa mereka adalah jiwa para ksatria, bahkan semangat mereka hampir merengkuh angkasa. Ya, mereka adalah para akhawat muwahhidah yang berhijrah ke pangkuan Daulah Islamiyah, mereka telah mewarisi semangat ini dari ibunda mereka, istri Rasul mereka shallallahu ‘alaihi wasallam ibunda kaum mukminin; Saudah binti Zam'ah radhiyallahu ‘anha, wanita yang telah hijrah ke Habasyah dan ke Madinah dan keluar dari Makkah dengan berbagai kemuliaannya, bersama sebelas wanita Quraisy lainnya dan tujuh wanita dari suku lain, dan juga saat hijrah kedua.

Sesungguhnya kisah hijrah para muwahhidah yang telah dikisahkan kepadaku tidaklah terlepas dari kesulitan dan ujian, semua dimulai ketika ukhti mengajukan idenya untuk keluar di jalan Allah, dan tantangan pertama bagi para muhajirah ini tidak lain adalah keluarga, dan kalian pasti tahu siapa itu keluarga! Kebanyakan keadaan keluarga mereka adalah orang-orang Islam yang awam, yang ketika mereka melayangkan ide hijrah maka seakan dia melayangkan sebuah batu karang ke atas mereka! Ya, seorang wanita adalah kehormatan mereka dan hak mereka untuk khawatir kepada mereka, akan tetapi mereka tidak khawatir atau takut apabila ukhti ini akan melakukan perjalanan mereka ke Paris atau London untuk mencari ilmu yang tidak bermanfaat, bahkan engkau dapati mereka mengharap hal itu, berusaha membantu dan membanggakannya, tetapi jika tujuannya adalah Daulah Islamiyah, maka semua akan menjadi fuqaha, yang memutuskan ini boleh dan itu tidak boleh! Dan demi Allah, aku mengenal seseorang yang keluar menemani suaminya menuju bandara dan tiba-tiba dihentikan oleh tentara thaghut setelah keluarganya memberikan informasi tentang mereka! Ini kisah wanita yang bersama mahram, lalu bagaimana yang tidak?

Maka di sini aku ingin mengatakannya dengan suara paling lantang, kepada orang-orang yang hatinya sakit berkepanjangan atas kehormatan para wanita yang menjaga diri, hijrah wanita dari Darul Kufr adalah kewajiban atasnya, baik bersama mahram atau tanpa mahram, jika dia mengetahui jalan yang relatif aman dan takut kepada Allah terhadap dirinya, pergi keluar tanpa menunggu siapa pun, pergi bersama agamanya dan sampai di negeri yang Islam menjadi jaya dan juga pemeluknya, dan siapa yang ragu akan hal ini maka telitilah kembali kitab-kitab fiqh dan pendapat para ulama, dan beritahukanlah kami, kepada siapa ayat mulia ini diturunkan?

"Hai orang-orang yang beriman, apabila perempuan-perampuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji keimanan mereka, Allah lebih tahu tentang keimanan mereka, dan jika engkau telah mengetahui tentang keimanan mereka maka janganlah engkau kembalikan mereka kepada orang-orang kafir." (Al-Mumtahanah: 10)

Akan tetapi, orang-orang yang berisik ini tidak sepakat dengan kita dalam hal pokok, yakni tegaknya Daulah Islamiyah walau telah terpenuhi syarat dan legitimasinya, lalu bagaimana mereka mau mendebat kami dalam masalah yang hanya cabangnya saja, yaitu hijrahnya para wanita tanpa mahram dari Darul Kufr menuju Darul Islam?! Maka tidak ada yang bisa kami ucapkan kecuali cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik penolong kami dari setiap orang yang menghalangi para muhajirah walau dengan satu huruf, dan di sisi Allah kelak akan diputuskan segala peraduan!

Lalu ukhti kita ini pun berhasil melewati tantangan keluarga, dengan jalan dan pengawasan dari Allah dan kemudahan dari-Nya, dia harus menempuh perjalanan panjang dan berat, walau sebenarnya menyenangkan dan penuh kenangan indah, dan sungguh terkadang kami bertukar kisah dan pengalaman hijrah kami, bertukar perasaan yang dialami dalam perjalanan hijrah kami, dan seakanakan kami baru keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari gua yang sempit dan sesak menuju lembah hijau yang luas, bahkan demi Allah, seakan kami baru saja dibangkitkan dari kematian! Ya benar, memang ada rasa takut, di sana ada rasa khawatir dan gelisah, karena mereka yang membenci muwahhid senantiasa terus mengintai, akan tetapi siapakah yang memberi keteguhan? Siapakah yang memberi rasa aman, siapakah yang memberikan rasa tenang di hati hamba-hamba yang lemah? Dia adalah Allah… Raja Diraja!

Aku pernah bertemu dengan seorang ukhti yang sedang hamil di usia keenam bulan, dia bersama suaminya berasal dari Inggris, aku sangat heran dengan petualangan mereka, aku bertanya, “Mengapa engkau tidak menunggu melahirkan bayimu lalu membawanya dan pergi berhijrah?” dia menjawab; “Tidak, kami tidak bisa lagi menunggu lebih lama, kami telah meleleh karena rindu dengan Daulah Islam!” Ada juga wanita lain yang hijrah bersama suaminya, dia dalam keadaan hamil, melakukan perjalanan menggunakan mobil dan menyeberangi tiga Negara hingga sampai di pangkuan Daulah Islamiyah, dan Allah menakdirkannya melahirkan janinnya dalam keadaan meninggal, mungkin karena perjalanan yang cukup berat yang dia hadapi hingga berpengaruh kepada janinnya. Ya, dia meninggal dan dimakamkan di Daulah Islamiyah dan ibunya dalam keadaan senang dan bersyukur –Kama nahsabuhu, wallahu hasibuhu (Beginilah penilaianku, dan Allahlah sebaik-baik penilai)– ya, dia meninggal di Daulah Islamiyah dalam keadaan fithrah, dan itu lebih baik dari pada dia dimatikan dalam keadaan teracuni kurikulum pendidikan thaghut. Betapa mahalnya hijrah dan alangkah murahnya pengorbanan di jalannya.

Dan ada juga seorang wanita tua, nenek yang menemaniku dalam perjalan yang menyenangkan, dia datang menemani seorang anak lelakinya, seorang anak perempuannya dan seorang cucunya, dan setelah bercerita panjang lebar apa yang dia hadapi dari kesulitan dan ujian hingga dia berhasil meninggalkan negerinya, dia mengatakan; “Putraku telah terbunuh, sehingga aku datang ke sini dengan anak laki-lakiku yang lain, anak perempuanku dan cucuku!” Allahu Akbar, Engkau telah membuat lelah orang yang ingin menyaingimu wahai nenek!

Maka tidaklah jalan kebenaran itu berhamparkan kecuali dengan duri, dan tidaklah surga itu dikelilingi kecuali dengan sesuatu yang dibenci jiwa, dan di jalan menuju surga maka tidak ada tempat bagi para penakut dan pengecut!

Jika aku lupa akan sesuatu, maka aku tidak akan lupa saat-saat aku pertama kali menginjakkan kaki ini ke tanah Islam yang indah, saat-saat melihat panji al-'uqab berkibar gagah! Berapa lama hati ini melihat berhala yang berkibar di negeri-negeri kufur! Dan checkpoint pertama yang kami lihat, gambaran pertama tentang tentara Daulah Islam, yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di internet dan televisi, kumuh dan berdebu dengan percikan darah dan kotor, tapi sekarang aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, air mataku menetes deras dan lisanku bertakbir dengan perlahan! Duhai, alangkah banyak kebaikan yang terhalang untukmu wahai orang yang tetap dudukduduk dan enggan berangkat jihad?

Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali" (An-Nisa: 97). Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan; “Dan ancaman keras ini menunjukkan bahwa itu adalah wajib” (Al-Mughni).

Namun ayat ini kemudian didengar oleh telinga para wanita hamba Allah dan merenungkannya, sehingga tumbuhlah semangat dan dia pun segera berhijrah meninggalkan negerinya, keluarganya, teman-teman dan cita-citanya demi hidup di bawah naungan syari'at Islam! Dan setiap kali aku bertanya kepada salah seorang dari mereka, “Apa yang membuatmu datang ke mari?” selalu aku dengar sebuah jawaban yang berulang-ulang; “Syari'at Allah” sebuah jawaban singkat namun jelas dan telah mencakup semua! Sedangkan telinga kaum laki-laki dari putra-putra kaumku, maka seolah telinga mereka tersumpal sesuatu –kecuali mereka yang dirahmati Allah– yang ini tertahan oleh dunia, yang itu tertahan oleh istrinya, dan yang lain mencari fatwa dari para 'syaikh' yang menakutkan, dan berkata; “Hai anakku, tetaplah engkau duduk di sini dan jauhilah olehmu fitnah”, dan sebagian lagi akalnya terkena tiupan setan sehingga menjadi samar beberapa hal, sehingga tidak bisa mengetahui kebenaran dari kebathilan, dan kepadanya aku katakan; “Dua raka'at di tengah malam, beberapa sujud dengan tulus, doa yang berlinang air mata, dan 'Ya Allah, perlihatkanlah aku kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniailah aku kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukilah aku kebathilan itu sebagai kebathilan dan karuniailah aku kekuatan untuk menjauhinya”, jika engkau jujur dalam melakukannya maka tidak perlu waktu lama engkau menunggu.

Sesungguhnya aku, berapa pun yang aku katakan dan apa yang aku tuliskan, maka aku tidak bisa memenuhi hak para muhajirah Daulah Islam, andaikan bukan suatu halangan tentu akan aku tuliskan dengan air mata kisah-kisah mereka, aku pernah melihat dua wanita yang mengeluarkan anak-anak mereka yang berusia sekitar lima belas tahunan, di suatu malam ketika perang sedang berkecamuk, dua wanita ini mendorong anak mereka keluar rumah sambil terus mengucapkan; “Allahu Akbar! Pergilah ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Rabbi! Sesungguhnya mereka adalah anak-anak mereka, belahan jiwa mereka, akan tetapi tidak ada yang lebih mahal dari dien ini dan dari umat ini! Ya, mereka adalah para muhajirah Daulah Islamiyah dan tidak lebih mulia dari ini, mereka telah mengenal dan faham dengan Haritsah yang berada di Firdaus lewat persaksian pemimpin para manusia, shallallahu ‘alaihi wasallam, - demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya – “Sungguh Haritsah telah meninggal pada saat perang Badar, dan ketika itu usianya masih muda, ibunya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Wahai Rasulullah, engkau tahu kedudukan Haritsah di hatiku, jika dia sekarang berada di surga maka aku akan bersabar dan mengharap pahala Allah, jika sebaliknya maka Engkau akan melihat apa yang akan aku perbuat”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Kasihan engkau… apakah engkau telah kehilangan fikiran, apakah engkau kira hanya satu surga? Sungguh itu adalah surga-surga, dan sesungguhnya dia ada di surga Firdaus”. (Shahih Al-Bukhari).

Di sini, aku ingin berbisik di telinga setiap ukhti muha- jirah, yang diuji dengan kehilangan suami di medan juang di Daulah ini; “Teguhlah wahai saudari ku, bersabarlah dan berharaplah akan pahala Allah, dan janganlah, sekali lagi janganlah engkau berfikir untuk kembali ke bumi para thaghut, dan ketahuilah bahwa engkau juga memiliki akhawat yang juga telah diuji dengan ujian seperti ujianmu, dari terbunuhnya suami, ada yang diamputasi, ada yang lumpuh, ada juga yang tertawan musuh, akan tetapi mereka tetap teguh laksana gunung yang menjulang, tidaklah ujian itu semua kecuali membuat mereka semakin sabar dan kuat, dan janganlah engkau lupa bahwa balasan itu sesuai dengan kadar ujian, dan “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak terjadi pada seorang pun kecuali pada seorang mukmin, jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, dan itu baik untuknya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, dan itu juga baik untuknya” (Shahih Muslim).

Ini adalah jalan para mukminat yang bersabar, tidak seperti para lelaki gadungan yang masih saja kita lihat digembosi oleh apa yang disebut 'Minbar Tauhid wal Jihad' yang menyeru untuk mengeluarkan para wanita dari wilayah Nainawa yang diberkahi.

Dan kepada mereka yang masih mengenakan pakaian nasihat dari minbar mukhadzil itu, aku katakan: “Engkau berkata dengan kedustaan atas kekhawatiran kalian kepada para wanita muwahhidah, padahal mereka sendiri tidak takut kecuali hanya kepada Allah semata, jika engkau masih memiliki kebaikan tentu engkau telah mengenakan pakaian perang untuk membela umat dan datang untuk beribath di perbatasan Mosul untuk melindungi 'akhawatmu', akan tetapi jauh dan jauh sekali… semoga Allah memburukkan turban para wanita PKK, mereka justru lebih jantan dari mereka!

Dan akhir dari seruan kami adalah segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi Muhammad, dan atas keluarga dan seluruh shahabatnya.

SYAIKH ABU THALHAH ABDURRAUF KHADIM AL-KHURASANI

DABIQ 8 - SYUHADA

DIANTARA ORANG BERIMAN TERDAPAT KESATRIA :
SYAIKH ABU THALHAH ABDURRAUF KHADIM AL-KHURASANI

Syaikh Abu Thalhah 'Abdurrauf Khadim Al-Khurasani rahimahullah, juga dikenal sebagai Mulla Khadim, dilahirkan di Helmand di desa Adzan. Beliau mulai mempelajari ilmu-ilmu syari'at pada usia muda disebabkan kuatnya keinginan untuk belajar agama. Beliau kemudian bergabung dengan kafilah jihad, membuka sebuah lembaran baru kehidupan beliau. Syaikh Abu Thalhah bergabung dengan Mulla Muhammad 'Umar (pemimpin Thaliban) di mana beliau kemudian bekerjasama dengannya di Dewan Hisbah ('amar ma'ruf dan nahi mungkar), dan beliau biasanya memandang menjadi petugas hisbah merupakan suatu bagian terpenting di dalam hidup beliau.

Setelah beberapa waktu dan dengan rahmat Allah, Kabul dibebaskan dan Syaikh menderita cedera akibat tembakan tank dalam sebuah pertempuran di Syar Asiyat dan kehilangan kakinya. Ini merupakan pengorbanan besar di jalan Allah dalam pertempuran. Beliau ditunjuk oleh Thaliban sebagai direktur pendidikan tinggi militer di Kabul dan juga melanjutkan peran pentingnya sebagai komandan lapangan di garis depan selama invasi pasukan salib di Afghanistan. Beliau ditangkap oleh Amerika dalam salah satu pertempuran dan termasuk di antara sejumlah tawanan yang dipindahkan ke Guantanamo di mana beliau ditahan selama enam setengah tahun di salah satu tempat dengan kondisi yang paling menakutkan. Pihak Amerika kemudian menyerahkan beliau kepada boneka-boneka Afghanistan dan kembali dimasukkan ke dalam penjara selama satu setengah tahun oleh rezim murtad.

Masa di penjara ini, bagaimana pun justru menjadi periode baginya untuk lebih lanjut mencari ilmu dan meninjau kembali 'aqidah Ahlus Sunnah. Pada awalnya beliau berada di atas 'aqidah Deobandi yang diliputi penyimpangan berkaitan dengan asma' dan sifat Allah serta aspek-aspek keimanan lainnya (termasuk irja'). Beliau meninggalkan 'aqidah ini, mengadopsi Sunnah yang murni, dan sesudah itu, berjuang di sisa-sisa hidup beliau untuk mengajak manusia kepada rahmat yang besar ini.

Setelah dibebaskan dari penjara di Kabul, beliau bergabung kembali dengan Thaliban dan menjadi seorang anggota majelis syura mereka. Beliau diangkat menjadi wali atas 14 wilayah Afghanistan. Beliau aktif dalam berdakwah, mengajak manusia kepada 'aqidah tauhid. Sebagai akibatnya beliau dipecat dari posisi sebagai wali, sebab 'aqidah tauhid bertentangan dengan 'aqidah Deobandi yang dipegang oleh sejumlah besar pemimpin Thaliban. Beliau tetap menjadi komandan lapangan dan benar-benar membuktikan kemampuannya, sehingga hasilnya beliau sekali lagi diangkat menjadi wali, kali ini atas tiga wilayah. Beliau kembali fokus dalam menyeru kepada tauhid dan sebagai akibatnya kembali beliau dipecat dari posisi sebagai wali. Beliau kembali menjadi komandan lapangan sekali lagi.

Syaikh Abu Thalhah telah lama sekali memimpikan untuk melihat kembalinya Khilafah, sebagaimana halnya banyak di antara mujahid yang berperang untuk meraih tujuan besar itu, sehingga kejayaan umat muncul kembali. Ketika Khilafah diumumkan, beliau berada di antara ikhwan yang ingin segera mendeklarasikan bai'at mereka dan bergabung dengan kafilah Khilafah. Bersama dengan ikhwan di Khurasan, beliau menunjukkan syarat yang diperlukan bagi mereka agar kepemimpinan Daulah Islam secara resmi mengakui bai'at mereka. Maka Khilafah mengadakan ekspansi ke Khurasan dan menunjuk Syaikh Abu Thalhah sebagai deputi wali bagi daerah tersebut, menjadi orang kedua setelah wali Syaikh Hafizh Sa'id Khan hafizhahullah.

Setelah pengumuman bai'at Khurasan, Syaikh Abu Thalhah mulai berkeliling daerah di dalam kafilah tentara Khilafah, mengajak suku-suku lokal untuk memberikan bai'at kepada Khalifah. Sejumlah tetua suku menjawabnya dengan positif, mengulurkan tangan mereka dan menyatakan janji setia mereka. Akhirnya, mendengar kehadiran Syaikh Abu Thalhah di Adzan, para partisan Deobandi yang pro Thaliban di daerah tersebut memblokir jalan dan pos pemeriksaan, mencegah beliau untuk meninggalkan desa hingga sebuah serangan udara Amerika membunuh beliau bersama dengan lima orang sahabat beliau pada hari Senin, 21 Rabi'ul Akhir. Dengan demikian, Syaikh Abu Thalhah meraih syahadah pada usia 45 tahun setelah kehidupan yang dipenuhi jihad, hisbah, dan dakwah. Kami memandang demikian dan hanya kepada Allah hisabnya. Semoga Allah merahmati beliau beserta sahabat-sahabat beliau dalam kesyahidan.

MEDAN TEMPUR LIBYA

DABIQ 8 - LAPORAN

MEDAN TEMPUR LIBYA

Selama masa pemberontakan melawan thaghut Libya (Gaddafi) pada 1432 H, sejumlah individu sesat berkumpul di kota Benghazi untuk membentuk dan selanjutnya mendapatkan dukungan Barat bagi lembaga politik yang akan membawa bendera kufur demokrasi. Lembaga ini, dikenal dengan Dewan Transisi Nasional (NTC), membuka jalan bagi terbentuknya sebuah pemerintahan boneka dan diangkatnya seorang thaghut lainnya untuk menggantikan mantan thaghut tersebut.

NTC mendapatkan pengakuan dan dukungan dari negara-negara salib ketika mereka terus mengisi kursi mantan thaghut Libya di Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB kemudian memberi lampu hijau bagi negara-negara salib untuk mengadakan zona larangan terbang di atas Libya dan intervensi militer dalam rangka mendukung boneka-boneka baru mereka.

Setelah penggulingan badut Libya Gaddafi, NTC terus berupaya untuk merampas kepentingan rakyat. Mereka memperkenalkan sebuah konstitusi kufur baru menggantikan manifesto kufur milik Gaddafi dan mengadakan pemilihan umum untuk memilih anggota-anggota Kongres Nasional Umum (GNC).
GNC ialah kekuasaan legislatif yang akan memegang "kekuasaan" untuk memperkenalkan hukum-hukum buatan manusia yang lebih parah. Ini menjadi pentas bagi "Islamis" demokrat yang berada di atas manhaj Ikhwanul "Muslimin" yang rusak untuk menguasai pemerintahan dengan menempatkan kandidat untuk menjalankan pemilihan umum demokrasi yang syirik.

Dengan GNC di bawah kontrol mereka, "Islamis" demokrat dan sekutu-sekutu sekuler mereka meletakkan hukum Allah untuk dipilih, berusaha untuk memotong-motong dan mengimplementasikan "syari'at" sebagian kecil saja di atas fondasi demokrasi yang najis, penuh pertentangan, dan permusuhan, walaupun Allah bebas dari kebutuhan untuk mendapat pengakuan siapa pun terhadap hukum-Nya.

"Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum-Nya" [QS. Al-Kahfi : 26].

GNC yang didominasi "Islamis" memilih untuk mengimplementasikan suatu bentuk "syari'ah" yang telah terpotong-potong, namun sekularis garis keras dan para pendukung salibisnya tidak akan menyetujuinya. Sebagaimana mereka tidak bisa menolerir Islam murni yang diperjuangkan oleh mujahidin yang ikhlas di Libya, para salibis tidak bisa menerima "Islam" yang telah terdistorsi dan lemah yang dipraktekkan oleh "Islamis" demokrat murtad.

Jadi, pihak salibis melepaskan sekutu-sekutu mereka yang lebih dicintai -yang lebih sekuler di antara kedua pihak- dan dengan rahmat Allah kamp kufur yang terbelah mulai melahap dirinya sendiri.

Di satu sisi, para sekularis murtad berjalan di belakang aset terbaru salibis, Khalifa Haftar, yang telah melancarkan "Operasi Kehormatan" untuk mengambil alih negeri dan menyerahkannya ke tangan orang-orang sekuler garis keras yang mendapat porsi terbesar di Dewan Perwakilan.

Di sisi lain, kelompok-kelompok bersenjata yang setia kepada kelompok demokrat murtad berjalan di belakan GNC di bawah bendera "Fajar Libya" dan menyerang balik Haftar dalam upaya untuk mempertahankan kekuasaan mereka yang dengan cepat merebut bandara Tharabulus.

Beberapa faksi yang masuk ke dalam "Fajar Libya" merupakan mantan pengklaim jihad, termasuk "Islamis" demokrat Abdelhakim Belhadj dan para mantan anggota Al-Jama'ah Al-lslamiyah Al-Muqatilah bi Libya (Kelompok Perlawanan Islam Libya). Para mantan pengklaim jihad ini telah murtad dan bergabung dengan agama demokrasi dengan memasuki sistemnya dan berjuang untuk menegakkannya.

Di saat situasi memanas dan faksi-faksi riddah terus berperang satu sama lain, Allah memudahkan bagi munculnya Daulah Islam di kancah Libya dengan sejumlah kelompok mujahid di sepanjang tiga wilayah Libya, yaitu Barqah, Fazzan, dan Tharabulus yang mendeklarasikan bai'at mereka kepada Amirul Mu'minin.

Dengan menyatukan kekuatan mereka dan berjalan di belakang bendera Khilafah, mujahidin Libya meningkatkan serangan mereka melawan kedua faksi riddah itu setelah kedua faksi itu mengkhianati agama dan rakyatnya. Mujahidin tidak perlu membedakan orang-orang yang mengkhianati Islam dengan mengadopsi sekularisme yang kufur dan orang-orang yang mengkhianati Islam dengan mengadopsi demokrasi yang kufur, karena kedua faksi tersebut telah memasuki kamp kufur.

"Dan perangilah orang-orang kafir secara keseluruhan sebagaimana mereka memerangi kamu secara keseluruhan" [QS. At-Taubah : 36].

Pada saat perang di Libya semakin meningkat, Daulah Islam menikmati konsolidasi yang lebih besar. Hukum Allah diterapkan, kebutuhan kaum Muslimin dipenuhi, dan tentara Khilafah terus bergerak maju untuk membebaskan daerah-daerah baru. Libya telah menjadi negeri hijrah yang ideal bagi orang yang mendapat kesulitan untuk memperoleh jalan ke Syam, khususnya saudara-saudara kita di Afrika.

Kami mohon kepada Allah untuk terus memperkokoh dan memperkuat muwahhidin di Libya serta terus menjatuhkan murtaddin di bawah telapak kaki mereka.

MENGHANCURKAN WARISAN KAUM YANG DIBINASAKAN

DABIQ 8 - LAPORAN

MENGHANCURKAN WARISAN KAUM YANG DIBINASAKAN

"DAN BERAPA BANYAK KAUM YANG TELAH KAMI BINASAKAN SEBELUM MEREKA" [SHAD : 3]

Bulan lalu, tentara Khilafah, dengan menggunakan palu di tangan, menghidupkan kembali Sunnah bapak mereka Nabi Ibrahim 'alaihis salam ketika mereka membuang warisan syirik sebuah umat yang telah berlalu lama dari muka bumi. Mereka memasuki reruntuhan Assyria kuno di Wilayah Nainawa dan menghancurkan patung-patung, arca-arca, serta ukiran patung dan raja. Hal tersebut menimbulkan kegemparan musuh-musuh Daulah Islam yang sangat marah dengan hilangnya "warisan terpendam".

Sebaliknya, mujahidin sama sekali tidak peduli perasaan dan sentimen kaum kafir, sebagaimana Nabi Ibrahim tidak peduli perasaan dan sentimen kaumnya ketika beliau menghancurkan berhala-berhala mereka.

Pada saat kaum kafir memprotes pengrusakan besar-besaran oleh tangan Daulah Islam, aksi yang dilakukan mujahidin tidak hanya menyamai pengrusakan yang dilakukan Nabi Ibrahim 'alaihis salam terhadap berhala-berhala kaumnya dan pengrusakan yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap berhala- berhala di sekitar Ka'bah ketika beliau menaklukkan Makkah, namun juga membuat kaum kafir marah. Hal itu sendiri merupakan sebuah amal yang dicintai oleh Allah.

"Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh" [QS. At-Taubah : 120].

Pihak kuffar telah menggali patung-patung dan reruntuhan ini dalam beberapa generasi terakhir dan berusaha untuk memberi gambaran kepadanya sebagai bagian dari warisan dan identitas budaya yang dianut dan dibanggakan oleh kaum Muslimin Iraq. Padahal ini bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan hanya memperlihatkannya sebagai agenda nasionalis yang benar-benar melemahkan al-wala' yang menjadi syarat bagi Muslimin terhadap Rabb mereka.

Tidaklah orang-orang dari bangsa kafir di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diperintahkan untuk memuji-muji dan mengidentifikasi diri beliau sendiri. Sebaliknya, beliau diperintahkan untuk mengidentifikasi dan menyamai tauladan bapak beliau Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan orang-orang yang bersamanya.

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama- lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja" [QS. Al-Mumtahanah : 4].

Selain itu, Al-Qur'an secara berulang-ulang menyebutkan -di beberapa ayat- bahwa banyak umat syirik telah dihancurkan karena kekafiran mereka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tetap bertahan di atas kesyirikan mereka.

"Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh kami binasakan" [QS. Al-lsraa' : 17].

"Katakanlah, 'Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." [QS. Ar-Ruum : 42].

"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka" [QS. Muhammad : 10].

Dengan demikian, kita diminta untuk mengambil pelajaran dari umat kafir yang datang sebelum kita dan menghindari apa yang menyebabkan kehancuran mereka, sebagai lawan dari penggalian dan pemeliharaan patung-patung mereka dan mempertontonkannya bagi manusia untuk dipuji.

Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Allah telah memelihara jasad Fir'aun, tidak untuk dikagumi namun sebaliknya, agar manusia mengambil pelajaran darinya.

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu!" [QS. Yunus : 92].

Kita diminta untuk menjadikan orang-orang dan umat-umat yang dibinasakan sebagai pelajaran lebih lanjut sebagaimana yang telah ditekankan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bersabda,

"Janganlah kalian memasuki tempat-tempat umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian." [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Umat-umat tertentu dihancurkan karena beribadah kepada selain Allah dan mengingkari nabi-nabi-Nya. Kekafiran dan kebencian mereka terhadap kebenaran lebih jauh lagi bahkan mencapai keberanian untuk memaki-maki nabi-nabi serta ayat-ayat dan mukjizat-mukjizat yang telah ditunjukkan kepada mereka, dan bahkan mengancam untuk membunuh nabi-nabi tersebut.

Maka Allah mempermalukan mereka dan membiarkan tempat tinggal mereka agar dilihat oleh generasi-generasi yang datang sesudah mereka. Bukan untuk ditatap penuh takjub, namun untuk dilihat dengan perasaan jijik dan benci, bercampur dengan rasa takut untuk jatuh ke dalam syirik dan tertimpa azab serupa yang telah mereka rasakan.

Dalam hal ini, ada kalimat terkenal yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang memandang perlunya untuk meminta perlindungan Allah dari kejahatan syirik, selain dia merupakan salah satu di antara rasul Allah terbesar dan terkenal karena sikap terus-terangnya melawan kesyirikan kaumnya.

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia'" [QS. Ibrahim : 35-36].

Semoga Allah membersihkan seluruh negeri Muslimin dari berhala- berhala, baik masa lampau maupun masa kini.

TENTARA TEROR (DI YAMAN)

DABIQ 8 - LAPORAN

TENTARA TEROR (DI YAMAN)

Pada bulan ini, tentara Khilafah mengirim sebuah pesan keras kepada kamp kufur dan murtad, yaitu dengan menyerang dan meneror mereka di berbagai negeri. Dan itu dilakukan tanpa visa, perbatasan, dan paspor yang menghalanginya. Serangan dilakukan di Yaman dan Tunisia oleh para lelaki yang loyalitas mereka disandarkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, tidak kepada kewarganegaraan yang bathil. Mereka siap mengorbankan jiwa mereka karena Allah di negeri mereka sendiri, mengadakan pembantaian atas orang-orang kafir dan murtad dengan tidak membeda-bedakan di antara mereka dalam hal latar belakang nasionalisme.

Di kota Tunis, dua tentara Daulah Islam menyerang para turis kafir di Museum Nasional Bardo. Kedua mujahidin, yaitu Abu Zakariya At-Tunisi dan Abu Anas At-Tunisi, dikirim dengan suatu misi setelah dilatih bersama saudara-saudara mereka di Libya dan mendeklarasikan bai'at mereka kepada Khalifah hafizhahullah. Mereka kembali ke Tunisia, lalu dengan gagah berani mereka bergerak ke arah markas keamanan di Tunis, memasuki museum –terletak di seberang gedung Parlemen Tunisia– dan menebar teror kepada orang-orang kafir di dalamnya dengan membunuh lebih dari 20 orang di antaranya dan mencederai puluhan lainnya. Kemudian mereka berbalik menghadapi pasukan keamanan murtad lokal dengan menggunakan senapan serbu AK mereka, granat tangan, dan sabuk peledak, lalu terbunuh fi sabilillah.

Operasi sukses dengan membawa hasil berupa kemarahan sejumlah negara yang terlibat dalam koalisi salib (Italia, Perancis, Inggris, Jepang, Polandia, Australia, Spanyol, dan Belgia) setelah beberapa warganya menjadi sasaran tentara Daulah Islam.

Hanya dua hari kemudian, di Wilayah Shan'a empat tentara Daulah Islam mengadakan operasi istisyhad terkoordinasi dengan menyerang kelompok Houtsi murtad di kota Shan'a. Mereka menyusup ke dua kuil di mana orang-orang Houtsi berkumpul dan meledakkan bom, membunuh lebih dari seratus orang, termasuk ulama besar Rafidhah Murtadha Al-Mahatwari dan sejumlah pemimpin Houtsi serta melukai ratusan lainnya. Secara hampir bersamaan, mujahid kelima melaksanakan operasi di Sa'dah dengan menargetkan gedung pemerintah Houtsi dan meledakkan bom.

Hanya beberapa hari setelah operasi dilakukan, Amerika mengumumkan bahwa mereka telah menarik mundur pasukan khusus mereka yang terakhir di Yaman. Operasi ini membawa ingatan kembali kepada serangan penuh berkah yang diperintahkan oleh Syaikh Abu Mush'ab Az -Zarqawi rahimahullah, ketika menargetkan Rafidhah Iraq dan membunuh ulama mereka Muhammad Baqir Al-Hakim.

Tidak lama setelah operasi yang diberkahi di Shan'a dan Sa'dah ini, Al-Qa'idah cabang Yaman keluar dan memperlihatkan sikap muka dua dengan mencela serangan dan menegaskan kembali kesetiannya pada garis-garis besar Azh-Zhawahiri, seolah-olah menyiratkan bahwa operasi Daulah Islam dilakukan terhadap kaum Sunni di tempat umum dan tidak khusus bagi kaum Houtsi, padahal kenyataannya sebaliknya. Pada saat (yang sama) orang membandingkan operasi yang diberkahi ini dengan serangan Al-Qa'idah terhadap demonstrasi orang-orang Houtsi di Lapangan Tahrir di Shan'a akhir musim gugur, kemunafikan nyata menjadi jelas: apakah boleh bagi Al-Qa'idah –menurut garis-garis besar Azh-Zhawahiri yang lemah– membom unjuk rasa Houtsi di lapangan umum, tetapi haram bagi Daulah Islam untuk membom sebuah majelis Houtsi di kuil Houtsi? Atau apakah pembedaan ini didasari fanatisme yang buta?

Semoga Allah menerima semua mujahid yang berperang, membantai, dan meneror kuffar tanpa membeda-bedakan di antara mereka di bawah pengaruh irja' atau latar belakang nasionalisme.

BAI'AT DARI AFRIKA BARAT

DABIQ 8 - LAPORAN

BAI'AT DARI AFRIKA BARAT

Pada tanggal 16 Jumadal Ula Al-Mujahid Syaikh Abu Bakar Shekau hafizhahullah, pemimpin Jama'ah Ahlus Sunnah lid Dakwah wal Jihad di Afrika Barat, mengumumkan bai'at kelompoknya kepada Amirul Mu'minin Ibrahim ibnu 'Awwad Al-Qurasyi hafizhahullah. Bai'at yang muncul bersamaan dengan keberhasilan besar yang dicapai oleh mujahidin di Nigeria dan ke kawasan negara-negara tetangga merupakan peristiwa sangat besar yang dirayakan oleh Muslimin dan kembali menjadi sumber kemuraman bagi orang-orang kafir.

Hati kaum Muslim terobati setelah mereka melihat saudara-saudara mereka di Afrika Barat meneror orang-orang Nasrani dan tentara murtad Nigeria, di mana kebanyakan mereka dipaksa lari secara memalukan dan mencari perlindungan di Chad. Sementara itu, media kafir yang telah mengantisipasi akan penyatuan mujahidin Afrika Barat dengan Daulah Islam, kini meratapi kenyataan bahwa suatu kekuatan yang tidak kenal henti dan agresif dengan tingkat konsolidasi yang kuat telah memutuskan untuk meraih panji Khilafah dalam perang melawan tentara salib dan orang-orang murtad.

Selama bertahun-tahun mujahidin Afrika Barat telah berdiri kokoh melawan pasukan murtad dan salib yang berusaha untuk menghapuskan jejak Islam di kawasan tersebut. Mereka berdiri kokoh dalam menghadapi celaan dan penentangan dari para ulama suu dan munafik lainnya. Mereka berdiri kokoh ketika pemimpin mereka, Syaikh Mujahid Muhammad Yusuf rahimahullah, dieksekusi mati oleh polisi murtad Nigeria. Mereka tidak takut celaan para pencela ketika mereka menangkap dan memperbudak ratusan perempuan Kristen, bahkan ketika mesin media salib melakukan serangan gencar agar menjadi perhatian dunia terhadap isu tersebut. Mereka tetap kokoh, sehingga Allah meningkatkan kekuatan mereka, mempercepat kemenangan mereka, memberikan mereka kekuatan, dan menghinakankan musuh-musuh mereka.

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (Ar-Rahmaan : 60)

Apa respon mereka terhadap kebaikan dan rahmat Allah?

Mereka menunjukkan rasa syukur mereka kepada-Nya lewat sebuah amal yang bahkan lebih besar daripada apa yang telah berhasil mereka dapatkan; mereka merapatkan barisan bersama saudara-saudara mereka di Daulah Islam, bersatu di atas kebenaran, membai'at untuk mendengar dan menaati Amirul Mu'minin dan terus berjalan untuk meninggikan kalimat Allah. Bai'at mereka diakui oleh Daulah Islam, dan mujahidin Afrika Barat sekarang menjaga satu lagi perbatasan Khilafah.

Juru bicara Daulah Islam, Syaikh Abu Muhammad Al'Adnani hafizhahullah, berkata, “Kami memberikan kabar baik bagi anda hari ini mengenai ekspansi Khilafah ke Afrika Barat, karena Khalifah hafizhahullah telah menerima bai'at yang dilakukan oleh saudara-saudara kami di Jama'ah Ahlus Sunnah lid Dakwah wal Jihad. Kami mengucapkan selamat kepada kaum Muslimin dan saudara mujahidin kami di Afrika Barat atas pemberian bai'at mereka dan kami mengucapkan selamat kepada mereka dengan bergabungnya bersama kafilah Khilafah. Maka bergembiralah, wahai Muslimin, karena ini adalah pintu baru yang telah dibuka oleh Allah Yang MahaKuat dan MahaAgung, sehingga kalian dapat berhijrah ke negeri Islam dan mengobarkan jihad. Jadi, barangsiapa yang dihentikan para penguasa kafir dan dihalang-halangi untuk berhijrah ke Iraq, Syam, Yaman, Jazirah Arab, atau Khurasan, maka dia tidak dihalangi-halangi –dengan izin Allah– dari berhijrah ke Afrika. Jadi, kemarilah, wahai Muslimin, ke Daulah kalian, karena kami menyeru kalian agar bergerak untuk jihad, mengajak kalian, dan mengundang kalian untuk berhijrah ke Afrika Barat. Dan secara khusus, kami mengajak thallabul 'ilm (para penuntut ilmu) dan da'i-da'i Islam. Bersegeralah, wahai Muslimin, ke negeri Khilafah.” (Lalu Mereka Membunuh atau Terbunuh)

Setelah pengumuman bai'at dan Daulah Islam menerimanya, kaum Muslimin di berbagai wilayah Khilafah turun ke jalan-jalan untuk untuk mengadakan perayaan, karena tidak ada yang lebih menggembIraqan bagi orang-orang beriman daripada melihat saudara-saudara mereka bersatu bersama mereka di bawah satu bendera dan satu imam, berjanji untuk mengobarkan perang melawan kekafiran hingga agama seluruhnya hanya milik Allah.

Kondisi mujahidin di Afrika Barat adalah sebuah kondisi persatuan di atas tauhid yang menyaksikan mereka berjalan di belakang pemimpin di antara mereka untuk mengobarkan perang melawan kekafiran dan menerapkan syari'at di negeri mereka. Maka, ketika mereka menyaksikan kaum Muslimin, terutama mujahidin di seluruh dunia bersatu di belakang Khalifah untuk mengangkat tinggi bendera Allah, mereka melakukannya pula, tidak untuk harta, ketenaran, atau kekuasaan, tetapi untuk hal yang lebih besar.

Dengan menggemakan kalimat mujahidin Libya, mereka berkata, “Kami berbai'at karena kebajikan umat ini, berkaitan dengan perkara keagamaan dan dunia. Hal ini tidak akan dicapai kecuali dengan mengobarkan perang terhadap orang-orang yang tiada henti melawan dan terhadap orang-orang yang merintangi manusia dari agama Allah. Ini adalah pondasi dasar agama, kitab sebagai pemberi petunjuk dan pedang sebagai penolong. "Dan cukuplah Rabbmu sebagai pemberi petunjuk dan penolong" (QS. Al-Furqan : 31).”

Mujahidin Afrika Barat terus mengobarkan jihad melawan musuh-musuh Allah di negeri yang terdiri dari sejumlah besar penduduk salibis pembenci. Massa Kristen di Nigeria kebanyakan menempati bagian selatan negeri dan mencakup kurang dari setengah populasi. Mereka belum terlepas dari membantai kaum Muslimin di Afrika Barat. Walaupun ada kebencian dari pasukan salib, namun mujahidin membawa bendera tauhid, menyeru kepada kebenaran, bentrok dengan orang-orang yang bathil, dan melancarkan pembalasan terhadap pasukan salib dan murtad, hingga keputusan Allah datang dan mujahidin dianugerahi kekuasaan di negeri. Mereka menerapkan syari'at-Nya, mendirikan shalat, serta amar ma'ruf dan nahi mungkar.

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar;" (QS. Al-Hajj: 41)

Mereka tetap berada di atas jalan ini sekarang di bawah bendera Khilafah, bahkan ketika pasukan kafir melipatgandakan upaya mereka untuk menghentikan kemajuan mereka (mujahidin Nigeria) di Afrika Barat, tidak lama setelah mendeklarasikan bai'at, mereka lalu berhadapan dengan serangan kombinasi udara dan darat yang agresif yang dilancarkan oleh pasukan murtad Chad dan Niger. Ini sebagai tambahan atas pasukan yang akhir-akhir ini didatangkan dari Kamerun, sebagaimana pula tentara bayaran, dan bahkan pasukan salib Perancis yang berbasis di Chad. Semua berusaha untuk menghentikan pembebasan mujahidin atas Afrika Barat.

Kami memohon kepada Allah agar langkah mereka tetap kokoh melawan orang-orang yang berusaha menghapus syari'at-Nya.

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ, KETEGUHAN TIADA BANDING

DABIQ 8 - SEJARAH

DARI LEMBARAN SEJARAH :
ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ, KETEGUHAN TIADA BANDING

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, "Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Abu Bakr menaati kami, maka kami telah kafir hanya dalam satu pagi, yakni ketika orang-orang meminta keringanan dalam masalah zakat (untuk tidak mengobarkan perang kepada para murtaddin penolak zakat), dan dia menolak pendapat mereka dan mengatakan; 'Seandainya mereka menahan dariku seutas tali, aku akan mengobarkan jihad atas mereka karenanya'." (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)

Dia radhiyallahu 'anhu juga mengatakan, "Kami hampir saja menjadi kufur hanya dalam satu pagi jika tidak Allah menyelamatkan kita melalui Abu Bakar asSiddiq (radiyallahu 'anhu)." (Al-Ibanah al-Kubra)

Abu Raja' Al-'Utaridi berkata; “Aku memasuki kota Madinah dan melihat orang-orang tengah berkumpul di sekitar seseorang yang sedang mencium dahi seorang laki-laki, orang yang mencium itu berkata, “Aku sebagai tebusanmu, jika bukan karenamu tentu kami telah binasa.” Maka aku bertanya, “Siapa orang yang mencium itu dan siapa orang yang dicium?” Mereka menjawab, “Itu adalah Umar yang mencium kepala Abu Bakr untuk memerangi orang-orang murtad yang enggan membayar zakat”. (Tarikh Dimasyq)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, jika Abu Bakr tidak diangkat sebagai khalifah, Allah tidak akan lagi disembah di muka bumi”. Dia mengulanginya hingga tiga kali (Al-I'tiqad – Al-Baihaqi).

Waki' bin Jarrah rahimahullah berkata; “Jika bukan karena Abu Bakr, Islam tentu telah binasa.” (Al-Ibanah Al-Kubra)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Bangsa Arab telah murtad, sehingga Abu Bakr bermusyawarah dengan orang-orang tentang mereka, maka lalu mengusulkan kepadanya untuk menerima shalat mereka dan membiarkan zakat dari mereka. Maka dia kemudian berkata, “Demi Allah jika mereka menahan dariku seutas tali yang dahulu biasa mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku kobarkan jihad terhadap mereka.” Jika bukan karena apa yang telah diperbuat oleh Abu Bakr, manusia tentu telah melakukan ilhad dalam masalah zakat hingga hari Kiamat”. (Tarikh Dimasyq)

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata; “Demi Allah, satu hari atau satu malam Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu itu lebih baik dari Umar dan keluarga Umar sejak mereka dilahirkan… adapun harinya adalah hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan murtadlah orang yang murtad dari kalangan bangsa Arab dan mengatakan, 'Kami akan shalat tapi kami tidak akan menyerahkan zakat atau mengumpulkannya'. Maka aku menemuinya dan aku tidak pernah meninggalkannya untuk memberikan saran kepadanya. Aku berkata, 'Wahai Khalifah Rasulullah, rayulah manusia dan bersikap lembutlah kepada mereka, karena mereka seakan berada di tempat yang terpencil'. Maka dia menjawab, 'Aku berharap pada dukunganmu tapi engkau justru datang membawa kehinaanmu? Apakah engkau perkasa di masa jahiliah tapi pengecut di masa Islam? Dengan apa aku akan merayu mereka? Dengan syair yang dibuat-buat atau dengan sihir yang menipu? Haihat haihat … Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, wahyu telah terputus dan agama telah sempurna. Apakah penyelewengan ini akan terjadi padahal aku masih hidup! Demi Allah, aku akan berjihad melawan mereka selama tanganku masih sanggup memegang pedang, walau hanya karena mereka menahan dariku seutas tali!' Maka aku dapati dia lebih bijaksana dan tegas dari padaku. Dia atur manusia di atas hal ini, sehingga membuat kesulitan menjadi lebih mudah untuk aku hadapi di saat aku mendapatkan kewenangan setelahnya. Inilah hari itu”. (Musnad Al-Faruq – Ibnu Katsir, Jami' al-Ushul – Ibnul Atsir)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Abu Bakr ditunjuk sebagai khalifah setelah beliau, dan bangsa Arab berubah menjadi murtad. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, 'Bagaimana engkau akan memerangi manusia padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan laa ilaaha illallah. Maka siapa yang mengatakan ini, terjagalah hartanya dan darahnya dariku kecuali dengan haknya, dan hisab mereka ada pada Allah'. Abu Bakr berkata; 'demi Allah, aku akan memerangi orang yang telah memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah hak atas kekayaan. Demi Allah jika mereka menolak untuk memberikan seutas tali yang biasa mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku akan perangi mereka lantaran keengganan mereka untuk menyerahkannya'. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, seakan-akan aku melihat setelah itu bahwa Allah telah melapangkan hati Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu kepada perang, aku tahu itu akan menjadi kebenaran'”. (Al-Bukhari dan Muslim)