Rabu, 25 April 2018

BURUKNYA PERPECAHAN DAN JUGA TAQLID

DABIQ 11 - ARTIKEL

BURUKNYA PERPECAHAN DAN JUGA TAQLID

Allah ta'ala telah menurunkan al-Qur'an dan as-Sunnah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam sehingga umat manusia dapat mempelajari dan mempraktekkannya. Inilah agama Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada sahabatnya, yang kemudian mereka menyampaikannya kepada generasi setelahnya. Islam telah dijaga di dalam al-Qur'an dan Sunnah, dan Sunnah dijaga di dalam kitab-kitab hadits. Jika seorang Muslim dengan pemahaman bahasa Arab mengambil al-Qur'an, atau Shahih al-Bukhari, atau Shahih Muslim, maka ia tidak membutuhkan ensiklopedi pengetahuan lagi untuk dapat memahami dan mempraktikkan agamanya secara keseluruhan, untuk mempelajari dasar-dasarnya semua telah difasilitasi oleh Allah. Dia mengamalkan Tauhid dan Iman dari hal-hal sederhana yang mana orang awam pun bisa mengerti. Tidak berbeda pada kebanyakan masalah hukum yang pasti (qath'i) dari Islam, termasuk kewajiban untuk bersatu dalam satu tubuh, menunjuk seorang pemimpin tunggal, serta mendengar dan mematuhinya, sebagai bukti dalam syari'at dan bukti dalam penciptaan begitu banyak seseorang lewat fitrahnya saja, bahkan walau seandainya dia cukup bodoh, tidak akan mampu untuk mengabaikan kewajiban ini.

"Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah bersama-sama dan janganlah bercerai berai" (Ali Imran: 103). Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa mati dan tidak ada ikatan bai‘at di atas lehernya maka dia mati dalam keadaan jahiliah." (diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Umar). Petunjuk-petunjuk, baik yang tersurat maupun yang tersirat, tentang hal ushul ini sangat banyak, siapapun yang berusaha mencarinya pasti akan menemukannya dengan mudah.(1)

Namun umat Islam hari ini tidak dianjurkan oleh apa yang disebut "Salafi" atau bahkan oleh pengklaim "Salafi Jihadi" untuk mendekati al-Qur'an dan Sunnah, membatasi mereka demi keinginan "ulama" kontemporer dari mereka yang mendukung para thaghut atau mereka yang kembali duduk di antara istri-istri mereka dalam naungan thaghut. Bisakah wasilah sesat dari sebuah kondisi seperti ini untuk memahami agama? Apakah itu pernah menjadi sebuah prasyarat untuk jama'ah?

Ketahuilah bahwa tidak diragukan lagi ini merupakan salah satu sifat orang-orang sesat yang ingin tetap tercerai berai tanpa seorang imam tunggal. Karena sebab inilah, Ahlus Sunnah disebut Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, yang berarti mereka mengikuti Sunnah dan patuh untuk membentuk persatuan kaum muslimin yang diwujudkan dalam Khilafah, dan Imam ini yang akan menjauhkan aliran-aliran yang menyimpang dan pihak-pihak yang memberontak. Adapun "Ahlus Sunnah" kontemporer maka mereka telah mengganti konsep jama'ah dengan interpretasi menyimpang dari syura yang jauh lebih mirip dengan kotak suara demokrasi daripada syura Khulafa' ar-Rasyidin ridhwanallah alaihim.

Imam Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab rahimahullah berkata, "ini adalah perkara-perkara di mana ahlul Kitab dan orang-orang ummi dari kaum Jahiliyah menentang Rasulullah. Seorang Muslim tidak bisa untuk tidak mengetahui hal ini, dan dengan mengetahui lawan sesuatu maka kebaikan akan menjadi jelas, dan dengan mengetahui lawannya maka perkara itu akan jelas ... hal yang kedua dari hal ini (setelah syirik akbar) adalah bahwa mereka memecah belah agama mereka, seperti yang difirmankan oleh Allah "Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama) mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka" (Al-Mu‘minun: 53). Mereka juga memecah belah dunia mereka dan mereka merasa hal itu benar. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam datang dengan kesatuan dien dengan pernyataan Allah: "Dia (Allah) telah mensyari'atkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketaqwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya" (Asy-Syura: 13). Allah juga berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka" (Al-An?am: 159). Dia juga telah melarang kita untuk berlaku seperti mereka dengan pernyataan dari Allah: "Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat" (Ali Imran: 105). Dia juga melarang kita dari memecah belah dunia dengan firman Allah ta'ala: "Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (dien) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" (Ali Imran: 103). Yang ketiga dari hal ini adalah mereka menganggap bahwa tidak mematuhi waliyul-amr dan menolak untuk tunduk kepadanya merupakan kebajikan. Mendengar dan menaati mereka dianggap penghinaan dan aib. Rasulullah  menentang mereka dan memerintahkan para sahabatnya untuk bersabar atas kezhaliman para pemimpin tersebut(2). Dia memerintahkan mereka untuk mendengar dan menaati mereka dan memberi mereka nasihat yang tulus. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menekankan hal ini, menjelaskannya dan mengulanginya. Ketiga hal ini terkumpul dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim: "Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian akan tiga hal, kalian beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun, berpegang erat dengan tali (dien) Allah dan tidak berpecah belah, dan memberikan nasihat yang tulus kepada siapa yang Allah berikan otoritas diri kalian kepada mereka (waliyul-amr)". Tidak ada kerusakan pada dien dan dunia manusia kecuali dengan rusaknya tiga hal ini atau sebagiannya." (Masa‘il al-Jahiliyah)

Beliau rahimahullah juga mengatakan, "Dari hal yang paling menakjubkan dan tanda-tanda terbesar yang menunjukkan kekuasaan Allah Ta‘ala adalah enam prinsip yang telah Allah jadikan sangat jelas lebih daripada apa yang orang-orang ragu fikirkan. Akan tetapi, banyak orang 'pintar' di dunia ini dan orang-orang 'bijak' keliru tentang prinsip-prinsip ini, kecuali sangat sedikit. ... Prinsip kedua (setelah kewajiban tauhid dan larangan syirik) adalah bahwa Allah memerintahkan untuk bersatu dan melarang untuk bercerai berai di dalam agama. Allah menjelaskan hal ini dengan bukti yang sangat jelas yang dapat dimengerti bahkan oleh orang awam. Dia melarang kita untuk menjadi seperti orang-orang yang telah terpecah belah sebelum kita sehingga dengan demikian mereka binasa. Dia juga menyebutkan bahwa Allah telah memerintahkan Rasul untuk bersatu di dalam dien dan melarang mereka berpecah belah di dalamnya. Apa yang membuat ini lebih jelas adalah apa yang datang di dalam Sunnah dari ajaran yang sangat menakjubkan dalam hal ini. Hal ini kemudian berubah hingga perpecahan di dalam ushul dan cabang agama menjadi 'pengetahuan' dan 'fiqh agama'! Dan kemudian tidak ada yang menyebut-nyebut kewajiban untuk persatuan di dalam dien kecuali dianggap orang 'zindiq' atau 'orang gila'! Prinsip ketiga adalah bahwa sempurnanya persatuan adalah dengan mendengar dan menaati siapa yang telah diberikan otoritas kita atasnya (waliyul-amr) bahkan walau dia seorang budak Habasyah. Allah telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang luas dan cukup melalui berbagai macam penjelasan syar'i dan qadari. Namun ini kemudian menjadi dasar yang tidak diketahui oleh sebagian besar pengklaim ilmu. Apa lagi beramal dengan hal ini!" (Sittatu Ushul 'Adzimah Mufidah)

Dan meskipun Jama'ah merupakan salah satu kewajiban yang paling jelas bahkan sesuai dengan fitrah dari banyak hewan yang cenderung untuk itu, mereka yang mengklaim Islam modern berpendapat bahwa lebih baik bagi umat untuk memiliki keberagaman dalam agama dan politik! Mereka lebih memilih bahwa Ahlus Sunnah mentolerir berbagai sekte bid'ah dan bahkan murtad yang diklaim bagian dari umat Islam. Mereka juga berharap bahwa Ahlus Sunnah akan mengizinkan keberadaan kesesatan, yang memerangi, dan partai politik egois dan faksi-faksi militan di negeri-negeri Muslim yang telah dibebaskan! Mereka membuat taqlid (mengikuti secara buta) atas para pengikut mereka, "ulama" jahat merupakan salah satu aspek penting dari "agama". Dan melalui hal ini, mereka menyebarkan "kebajikan" perpecahan dan mencela "jahatnya" Jama'ah dalam seruan mereka yang dihidupkan kembali melawan bangkitnya persatuan Islam, Khilafah. Betapa jahat kelompok-kelompok sesat ini dan para "ulama" suu'! Oleh karena itu ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa dasar utama bagi agama-agama jahiliyah adalah taqlid.

Setelah Imam Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab rrahimahullah menyebutkan tiga aspek pertama agama mereka (syirik, perpecahan agama, dan keberagaman politik), beliau mengatakan, "Masalah keempat adalah bahwa agama mereka didasarkan pada prinsip-prinsip, yang terbesar adalah taqlid. Ini adalah kaedah terbesar untuk semua orang-orang kafir, baik yang pertama dari mereka hingga yang terakhir, sebagaimana yang Allah firmankan: "Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka'." (Az-Zukhruf: 23). Dia juga berfirman: "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah!' Mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami'. Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam adzab api yang menyala-nyala (neraka)?" (Luqman: 21). Maka beliau datang kepada mereka dengan firman Allah, "Katakanlah, 'Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri: kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) adzab yang keras." (Saba': 46) dan juga dengan firman Allah Ta‘ala "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran" (Al-A‘raf: 3)". (Masa'il al-Jahiliyah)

Kemudian beliau mulai menjelaskan lebih rinci tentang beragam jenis taqlid yang dikerjakan oleh orang-orang jahiliyah, beliau mengatakan: "Di antara kaedah terbesar mereka adalah mereka tertipu dengan jumlah kebanyakan, menjadikannya hujjah bahwa sesuatu itu di atas kebenaran, dan menjadikannya sebagai dalil atas bathilnya sesuatu dengan asing dan sedikitnya orang yang mengerjakannya, maka Dia datang dengan sesuatu yang bertentangan dengan hal ini dan menjelaskannya bukan hanya pada satu tempat di dalam Al-Qur'an(3). Mereka juga menjadikan orang-orang terdahulu sebagai hujjah, seperti yang Allah jelaskan tentang perkataan mereka: "(Fir'aun) berkata, 'Jadi bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu?'" (Thaha: 51) dan firman Allah: "Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada (masa) nenek moyang kami yang dahulu" (Al-Mu'minun: 24). Mereka juga mengambil dalil dengan suatu kaum yang menilai sebuah kekuatan pada pengetahuan dan pekerjaan, pada kekuasaan, harta dan pangkat, maka Allah membantah hal itu dengan firmannya: "Dan sungguh, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka (dengan kemakmuran dan kekuatan) yang belum pernah Kami berikan kepada kamu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat Allah, dan (ancaman) adzab yang dahulu mereka perolok-olokkan telah mengepung mereka" (Al-Ahqaf: 26). Mereka juga mengklaim atas kebathilan sesuatu apabila ia tidak diikuti kecuali oleh orang-orang lemah: "Mereka berkata, 'Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?" (Asy-Syu‘ara': 111). "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?" (Al-An'am: 53). Maka Allah menjawab itu dengan firmannya: "Bukankah Allah lebih mengetahui siapa yang bersyukur?" (Al-An'am: 53). Mereka mengambil teladan dengan mengikuti ulama dan ahli ibadah fasiq: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta manusia dengan jalan yang bathil, dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah" (At-Taubah: 34). Dan juga dalam firman Allah: "Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus." (Al-Maidah: 75). Mereka juga menjadikan dalil bathilnya dien dengan sedikitnya jumlah pengikut dan lemahnya kecerdasan mereka, seperti kata mereka: "Berpikiran rendah" (Hud: 27). Mereka juga menjadikan dalil dari qiyas yang salah, seperti pernyataan mereka: "Engkau tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami" (Ibrahim: 10). Dan mereka juga menolak qiyas yang shahih(4), dan yang menyatukan hal ini dengan sebelumnya adalah tidak adanya kefahaman antara sesuatu yang menyamakan dan yang membedakan. Mereka juga bersikap ghuluw dalam mencintai dan meniru ulama dan orang-orang shalih, seperti yang dijelaskan oleh firman Allah: "Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar" (An-Nisa': 171). Semua hal yang telah disebutkan di atas dibangun di atas kaedah yaitu an-nafyu (peniadaan) dan itsbat (penetapan), sehingga mereka mengikuti hawa nafsu, persangkaan dan berpaling dari apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. (point ke 5-14 dari Masa'il Al-Jahiliyah)

Ketahuilah juga bahwa taqlidnya orang-orang jahiliyah bukanlah kepada ulama-ulama shalih atau kepada ahli ibadah yang berilmu, tapi seperti yang dijelaskan oleh Imam Muhammad ibnu Abdil Wahhab: "Para pemimpin agama mereka adalah ulama suu' (buruk) dan ahli ibadah yang bodoh, sebagaimana yang Allah jelaskan di dalam ayat-Nya: "Sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubah taurat setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya" (Al-Baqarah: 75), hingga firman Allah: "Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga." (Al-Baqarah: 78)." (Masa'il al-Jahiliyah)

Beliau rahimahullah juga menjelaskan kondisi ini dengan mengatakan: "Kaidah yang keempat adalah penjelasan tentang ilmu dan ulama, fiqih dan fuqaha, dan siapakah yang merasa dirinya termasuk golongan ini padahal bukan bagian dari mereka. Allah telah menjelaskan kaedah ini di dalam surat Al-Baqarah ketika menjelaskan tentang Bani Israil (Al-Baqarah: 40-121). Dan hal ini menjadi lebih jelas dengan apa yang telah diterangkan oleh as-sunnah dalam membicarakan hal ini dengan penjelasan yang gamblang dan terang bahkan bagi seorang yang awam dan bodoh. Kemudian hal ini menjadi hal yang mengherankan dan asing, sehinggu 'ilmu‘ dan 'fiqh‘ menjadi bid‘ah dan sesat, dan amal terbaik yang mereka lakukan adalah mencampur yang haq dengan yang bathil, sehingga ilmu yang telah Allah wajibkan atas hamba-Nya dan telah memujinya tidak lagi diucapkan kecuali oleh orang yang dianggap 'zindiq‘ atau 'gila‘, dan orang yang mengingkari mereka, memusuhi dan membuat tulisan untuk memperingatkan dari mereka, mencegah dari mereka, kecuali dia dianggap 'faqih‘ dan 'alim‘. Kaedah yang kelima adalah bahwasanya Allah menjelaskan tentang wali-wali-Nya dan membedakan antara mereka dan antara orang-orang yang menyerupai dari kalangan musuh-musuh kaum munafiq dan pendosa. Dan cukup dalam hal ini sebuah ayat di dalam surat Ali Imran, yaitu firman Allah Ta‘ala: "Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu'" (Ali Imran: 31), dan satu ayat di dalam surat Al-Maidah: "Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela" (Al-Maidah: 54), dan sebuah ayat di dalam surat Yunus: "Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa" (Yunus: 62-63). Kemudian hal ini kebanyakan orang yang mengklaim dirinya sebagai orang yang berilmu, mendapat petunjuk dan penjaga syari'at bahwa para wali haruslah orang yang meninggalkan sikap ittiba‘ (mengikuti) rasul, siapa yang mengikuti rasul berarti bukan wali, dia harus orang yang meninggalkan jihad, maka siapa yang berjihad maka berarti bukan termasuk wali, dia harus meninggalkan iman dan taqwa, maka siapa yang memiliki sikap iman dan taqwa maka bukan termasuk wali. Wahai Rabb kami, kami mengharap padamu maaf dan keselamatan, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. (Sittatu Ushul Azhimah Mufidah)

Begitu juga halnya para pengklaim Islam saat ini meminta kaum Muslimin untuk mengikuti secara buta para ulama suu‘ dan ahli ibadah bodoh dan menolak kewajiban berjama‘ah jika tidak maka dia adalah "Khawarij"! Mereka meminta kaum Muslimin untuk mengikuti "ulama" ini yang telah meninggalkan jihad di zaman di mana jihad adalah fardhu 'ain. Mereka meminta kaum muslimin untuk mengikuti para "ulama" yang diam dengan kejahatan pemerintah yang mereka adalah thaghut dan bukan sekedar tirani. Mereka bahkan meminta kaum muslimin untuk mengikuti para "ulama" ini yang menyeru kepada kesesatan dan kemunafikan dan yang berdiri di sisi para salibis dan kaum murtad yang memerangi kaum muslimin! Bukankah ini menjadi kewajiban untuk membenci para "ulama" ini di jalan Allah dan memboikot mereka hingga mereka bertaubat?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Hijrah yang komprehensif (paripurna) adalah dengan hijrah dari perbuatan dosa dan dari para pelaku dosa, serta dari para penyeru bid'ah, orang-orang fasiq, orang-orang yang bersosialisasi dengan orang-orang ini atau membantu mereka dalam dosa mereka, dan orang-orang yang meninggalkan jihad, perbuatan yang tidak memiliki manfaat bagi umat, maka dia harus dihukum dengan diboikot karena ia tidak membantu umat Islam dalam keshalihan dan kebenaran. Karena itu pezina, pelaku sodomi, orang yang meninggalkan jihad, para pelaku bid'ah, dan pemabuk, orang-orang ini dan berbaur dengan mereka adalah berbahaya bagi agama Islam. Mereka tidak memberikan mashlahat pada kebenaran atau pada keshalihan. Siapa pun yang tidak memboikot mereka maka telah meninggalkan perbuatan yang diperintahkan dan telah melakukan perbuatan yang layak dikecam." (Majmu' al-Fatawa)

Ya, mereka yang meninggalkan jihad mereka mirip dengan pezina, para pelaku sodomi dan pemabuk. Namun demikian pengklaim Islam meminta para mujahid untuk taqlid buta mengikuti "ulama" suu' (jahat) ini, mereka yang lebih memilih duduk di bawah naungan para thaghut dan salibis daripada berjihad melawan orang-orang kafir. Adapun para "ulama" yang hanya diam terhadap para thaghut, maka mereka lebih buruk dari orang-orang yang melakukan dosa bahkan dosa besar.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: "Siapa yang memiliki khibrah (latar belakang) dengan apa yang telah Allah utus dengannya Rasul-Nya dan dengan apa yang diamalkan olehnya dan juga para shahabatnya, maka dia akan melihat bahwa sebagian besar dari mereka yang terkenal religiusitasnya sebenarnya adalah manusia yang paling sedikit agamanya, wallahul-Musta‘an. Agama apakah dan kebaikan apakah atas orang yang melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya dirusak, dien-Nya ditinggalkan dan sunnah Rasul-Nya dibenci sedangkan hatinya tetap merasa tenang dan lisannya diam? Dia adalah setan bisu, sebagaimana orang yang berbicara kebathilan adalah setan yang bicara, adakah bencana dien kecuali karena orang-orang yang apabila selamat lumbung makanan mereka dan jabatan mereka maka mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan dien? Yang lebih mending dari mereka adalah yang berusaha bersedih dan membuka mulutnya. Jika mereka diganggu pada sebagian hal yang membuat mereka marah, pada jabatannya atau hartanya maka dia akan berusaha dan berusaha, berjuang dan mengerahkan semua tiga tingkat pengingkaran yang bisa untuk dia lakukan. Orang-orang ini, selain telah jatuh di dalam pandangan Allah, murka Allah juga atas mereka. Mereka telah tertimpa musibah di dunia dengan musibah yang terbesar sedangkan mereka tidak menyadari, yaitu matinya hati, sesungguhnya itu adalah hati, di mana jika kehidupan hati itu semakin baik maka semakin kuat juga murkanya karena Allah dan Rasul-Nya serta semakin sempurna pembelaannya terhadap dien." (I'lam al-Muwaqqi‘in)

Beliau rahimahullah juga berkata, "Agama bukanlah hanya meninggalkan dosa yang zhahir saja, akan tetapi, dia harus melakukan perintah yang dicintai oleh Allah. Kebanyakan dari mereka yang mengaku sebagai orang paling religius tidak melakukan itu semua kecuali apa yang orang awam memiliki kesamaan dengan mereka. Adapun jihad, memerintahkan kebaikan (amar ma'ruf), melarang kejahatan (nahi munkar), memberi nasihat dengan tulus karena Allah dan Rasul-Nya, sungguh-sungguh menasihati hamba-Nya, dan menolong Allah, Rasul-Nya, agama-Nya, dan kitab-Nya, maka perbuatan tersebut tidak terlintas dalam pikiran mereka, apa lagi terfikir untuk melakukannya, apalagi benar-benar melakukan itu dengan sebaik-baiknya. Orang yang paling sedikit diennya dan paling dibenci oleh Allah adalah mereka yang meninggalkan perbuatan ini bahkan walaupun mereka berlaku zuhud terhadap semua (harta) dunia. Sangat sedikit engkau akan melihat salah satu dari mereka yang wajahnya berubah dan menjadi merah karena Allah, marah karena kehormatan-Nya, dan mengerahkan harga dirinya demi menolong dien-Nya. Orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar lebih baik dalam pandangan Allah dari orang-orang ini." (Uddatush Shabirin)

Dengan demikian, bagaimana bisa seseorang mengambil teladan dari laki-laki banci, yang meninggalkan jihad? Atau setan bisu yang diam terhadap para thaghut, di bawah naungan mereka sambil beristirahat bersama istri-istri mereka? Jika taqlid buta dalam mengikuti seorang ulama yang shalih atau ahli ibadah yang berilmu adalah salah, maka jauh lebih salah mengikuti setan berdosa! Mengapa umat Islam tidak berpaling kembali kepada ajaran dasar al-Qur'an dan Sunnah dan menerapkannya sebagaimana mestinya diterapkan tanpa menjadikan para "ulama" ini penghalang baginya untuk bergabung dengan jama'ah kaum muslimin: Khilafah?

Imam Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: "Kaedah keenam adalah menolak syubhat yang dibuat oleh setan untuk meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah, dan mengikuti pendapat dan hawa nafsu para pemecah belah dan pembuat perbedaan, yaitu: bahwa Al-Qur'an dan sunnah tidak dapat difahami kecuali oleh para mujtahid mutlaq. Dan mujtahid adalah orang yang memiliki sifat ini dan ini – yaitu sifat-sifat yang mungkin tidak dapat ditemukan secara sempurna bahkan dalam sosok Abu Bakr dan Umar! Dan jika seseorang tidak seperti mereka, maka "tidak diragukan" lagi, dia "wajib" untuk jauh-jauh dari al-Qur'an dan Sunnah! Maka siapa yang mencari petunjuk dari al-Qur'an dan Sunnah, maka dia adalah "zindiq" atau "orang gila", karena sangat sulit untuk memahami keduanya! Maha Suci Allah dan segala puji hanya bagi-Nya! Berapa banyak Allah telah menjelasakan syari‘at, qadar, penciptaan dan perintah, dalam menolak syubhat terlaknat ini dari berbagai arah, bahkan mencapai derajat dharuriyah 'ammah (pengetahuan umum), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. "Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia" (Yasin: 7-11)." (Sittatu Ushul 'Azhimah Mufidah)

Setelah ini, setiap orang harus menghancurkan berbagai berhala yang didirikan di dalam hati oleh para "jihadis" muqallidin dalam upaya untuk menghambat perkembangan Khilafah. Setiap patung kesesatan harus dihancurkan hingga kejayaan hanya untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saja dan bai‘at bagi Imam Quraisy saja. Tidak ada berhala hizbi yang menjadi kendala bagi seorang Muslim pada jalannya menuju Khilafah. Semoga Allah menunjukkan kebenaran sebagai kebenaran dan menujukkan kemunafikan orang-orang munafik.

Catatan kaki :

1. lihat sebagai contoh “Kitab al-Ahkam” milik Imam al-Bukhari dan “Kitab al-Imarah” milik Imam Muslim.

2. Maksudnya adalah penguasa muslim yang memerintah dengan syari'at namun melakukan ketidakadilan, bukan penguasa yang murtad secara legislatif dan eksekutif, yang berhukum dengan hukum buatan manusia, atau penguasa yang berwala' kepada salibis dalam memerangi umat Islam.

3. Misalnya firman Allah Ta’ala: "Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran). (Al-An'am: 111)

4. Mereka banyak menolak bukti-bukti logis uluhiyah dan kebangkitan, misalnya: "Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen, dan pohon-pohon kurma yang tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur)" (Qaf: 9-11)

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 4)

DABIQ 11 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 4)

Lebih dari setahun yang lalu di tahun 1435 H, kebohongan Abu 'Abdillah Asy-Syami dari Jabhah Jaulani disuarakan kepada dunia, "Aku melakukan mubahalah terhadap kalian (Daulah Islam) atas pengujian kalian terhadap manusia atas aqidah mereka. ... Justru kalian sedang menguji manusia yang terbaik. Maksudku adalah para mujahidin dari faksi Mujahid seperti Jabhah Islamiyah, Jaisyul Mujahidin, dan lain-lain" (Al-Mubahalah).

Dia juga mengatakan, "Menggambarkan pertempuran yang terjadi sebagai pertempuran antara kelompok Daulah di satu sisi dan mereka yang berdiri dengan Jarba dan Idris (pemimpin SNC, Koalisi Nasional Suriah) di sisi lain, adalah jauh dari kebenaran. Mereka yang memikul beban terbesar perang melawan kelompok Daulah di utara adalah Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin ... Adapun Jabhah Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin –dua pemain utama dalam perang melawan kelompok Daulah– maka belum tetap bagi kami bukti bahwa mereka telah jatuh ke dalam kemurtadan, dan kami lebih mengerti kondisi mereka daripada kelompok Daulah karena kedekatan kita kepada mereka." (Wa Lau Annahum Fa'alu Maa Yu'azhuuna Bih)

Sangat cepat setelah mubahalah ini, "Jaisyul Mujahidin" secara terbuka memamerkan hubungan mereka dengan kelompok sekuler Koalisi Nasional Suriah (SNC), "Pemerintah Sementara," dan "Kementerian Pertahanan" (1). Mereka baru saja menambahkan daftar perbuatan murtad mereka dengan merilis sebuah pernyataan di mana mereka mengatakan, "Para pemimpin Jaisyul Mujahidin mengirimkan rasa belasungkawa kepada Turki, pemerintah dan rakyatnya, atas pembunuhan satu tentara Turki dan warga di tangan teroris "Tanzhim Daulah" dan partai PKK. Kami dari Jaisyul Mujahidin mengumumkan solidaritas dan dukungan lengkap kepada pemerintah Turki terhadap teroris "Tanzhim Daulah" dan partai PKK ... Kami berdiri dengan negara Turki dalam satu parit dan menganggap pembunuhan ini sebagai serangan terhadap sikap Turki yang mendukung rakyat Suriah." Mereka tidak lupa untuk menghias pernyataan mereka dengan bendera jahiliyah negara Turki!

Turki adalah salah satu anggota aliansi tentara salib NATO. Dia ikut ambil bagian dalam berbagai kampanye perang tentara salib yang diluncurkan dan dipimpin oleh Amerika, termasuk "Operasi Enduring Freedom - Afghanistan", "Operasi Enduring Freedom - Tanduk Afrika" (di Somalia dan wilayah sekitarnya), dan "Operasi Resolve Inherent" (di Irak dan Suriah terhadap Daulah Islam). Pemerintah Turki adalah salah satu negara yang secara legislatif, eksekutif, dan hukumnya diatur dengan hukum buatan manusia. Tentaranya dirancang untuk membela thaghut Turki dan sekutu salibis mereka. Pemerintahan ini dan tentaranya adalah salah satu dari kemurtadan yang sangat jelas, namun "Jaisyul Mujahidin" berdiri dalam mendukung pemerintah Turki melawan Islam dan kaum muslimin.

Imam Muhammad ibnu Abdil Wahhab mengatakan bahwa di antara pembatal keislaman adalah "Mendukung dan membantu orang-orang musyrik memerangi kaum Muslimin. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala : "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu): mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka . Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim" (Al-Ma'idah: 51)". (Nawaqidul Islam)

Sebagaimana Jabhah "Islamiyah", "Ahrar Syam" mewakili blok terbesar dari front yang terpecah-pecah ini. Para pemimpin Jabhah Jaulani telah berusaha keras untuk menggambarkan bahwa kelompok ini sebagai kelompok "Islam" bahkan "Jihadi", tapi statemen terbaru dari pemimpin resminya hanya bisa membuat malu para pengklaim jihad dari Jabhah Jaulani. Dalam kenyataannya, perang dingin media sedang berkobar antara kedua belah pihak dalam cinta kepemimpinan dan kebanggaan pandangan, dan seperti es yang mencair, kedua belah pihak akan mulai saling mengirimkan sel keamanan mereka untuk menyerang secara diam-diam setiap pemimpin lawan dengan IED dan senjata berperedam, ini jika memang belum dimulai. Bagaimana pun juga, kelompok murtad "Ahrar Asy-Syam" dulunya dianggap Shahawat potensial dan proyek menyimpang dalam pembentukannya oleh para pemimpin Jabhah Jaulani.(2)

Ya, sejak diluncurkannya Shahawat Suriah, Jabhah Jaulani berupaya keras untuk menggambarkan "Ahrar Asy-Syam" sebagai "mujahidin", hingga Jabhah Jaulani dan para "ideolog" duduk di bawah naungan Thaghut Yordania yang dipermalukan oleh artikel tak tahu malu yang dirilis oleh Labib al-Nahhas, Direktur Urusan Luar Negeri "Ahrar Asy-Syam." Artikel terbarunya baru-baru ini(3) dirilis pada "21 Juli 2015" melalui media salibis Inggris "Telegraph" yang berjudul "Aku Orang Suriah dan Aku Berperang Melawan ISIS setiap hari. Diperlukan lebih dari sekedar bom dari Barat untuk mengalahkan ancaman ini". Di dalamnya dia mengatakan: "Di Raqqah … warga menerima arahan (karena kelambanan Barat) dari apa yang disebut Islamic State (ISIS), itu semua hanyalah bayangan pucat dari apa yang ada saat ini, kapitalisasi di Barat telah gagal untuk memerintah Assad. Narasi propaganda mereka : Barat bersekongkol dengan Assad dan pendukung Syi‘ah Iran dalam sebuah konspirasi untuk mengalahkan dan mempermalukan Arab Sunni di wilayah tersebut..."

"Kebanyakan warga Suriah … memiliki tujuan tunggal dari revolusi yaitu kebebasan, kehormatan, dan kualitas hidup yang lebih baik. Kami di Ahrar Asy-Syam dan Grup Bersenjata Revolusi (ARGs) lainnya berjuang untuk rakyat Suriah. Kita mengangkat senjata karena kita tidak memilik pilihan lain, yaitu antara apakah kami harus menyerah tanpa syarat kepada rezim atau kita berjuang demi kebebasan rakyat kita…"

"Semakin lama perang berlangsung, semakin sedikit bagian Suriah yang bisa diselamatkan. Ahrar Asy-Syam ingin melihat berakhirnya pemerintahan Assad, dikalahkannya ISIS secara komprehensif dan dibentuknya pemerintahan yang stabil dan representatif di Damaskus yang akan menempatkan Suriah pada jalan menuju perdamaian, rekonsiliasi dan pemulihan ekonomi. Kita ingin melihat sistem politik yang menghormati identitas dan legitimasi aspirasi politik mayoritas rakyat Suriah sekaligus melindungi masyarakat minoritas dan memberikan kesempatan mereka untuk bermain nyata dan peran positif dalam negara masa depan. Kami ingin melihat persatuan Suriah dan integritas wilayah yang dikekalkan ..."

"Kami menyadari bahwa harapan kami ini tidak akan bisa diraih hanya dengan cara militer saja. Dia butuh proses politik dan kami tahu bahwa itu berarti membuat keputusan-keputusan yang sulit..."

"Dalam beberapa hari terakhir Perdana Menteri David Cameron mengisyaratkan kemungkinan adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap intervensi bersenjata di Suriah. Dia mengatakan bahwa Inggris harus 'melangkah dan melakukan hal lebih' dalam memerangi ISIS di Irak dan Suriah. Itu semua bagus dan baik. Di Ahrar Asy-Syam kita telah kehilangan 700 pejuang kami dalam pertempuran melawan IS sejak Januari 2014, dan kami serta sekutu kami mempertahankan garis depan front sepanjang 45km terhadap ISIS di Aleppo. Kita tahu hal seperti apa untuk menghadapi ancaman ISIS. ... Kami percaya bahwa ISIS bukan hanya ancaman keamanan atau militer saja tetapi merupakan fenomena sosial dan ideologis yang perlu dihadapi di setiap levelnya dan membutuhkan sebuah alternatif Sunni nasional untuk menghadapi Assad dan Islamic State."

"Ahrar Asy-Syam, sebagai kelompok Islam Sunni mainstream yang berakar kuat di atas lanskap revolusioner, sedang menjalin alternatif itu. Tetapi mereka (Barat) mengharapkan Sunni alternatif yang 'sempurna' sesuai dengan standar liberal Barat, sehingga pasti akan kecewa. Seperti yang kita semua harus tahu sekarang, sistem politik dan model pemerintahan tidak bisa di impor ke Timur Tengah dan diharapkan untuk berkembang karena pengalaman sejarah, budaya dan struktur politik sosial begitu berbeda secara radikal. Dibutuhkan sebuah hal yang akan menjadi peran utama untuk agama dan budaya setempat dalam pengaturan politik yang muncul dari puing-puing konflik, dan itu harus berasal dari salah satu hal yang sesuai dengan keyakinan mayoritas rakyat Suriah yang berlaku. ..."

"Sebagaimana RAF (Royal Air Force) yang bersiap untuk ikut bergabung dalam koalisi militer melawan ISIS, akan lebih bijaksana bagi pemerintah Inggris untuk mempertimbangkan pendekatan baru dalam memerangi kelompok ekstrimis lebih dari sekedar menjatuhkan bom."

Selesai kata-kata sesatnya.

Sebagai ringkasan: Dia menggunakan nasionalis, dialek demokratis untuk mendukung penentuan nasib sendiri, kekuatan bagi mayoritas, perlindungan bagi minoritas (termasuk Rafidhah, Nusairiyah, Druze, dan Ismailiyah), dan pengekalan perbatasan nasionalis. Dia mencalonkan "Ahrar Asy-Syam" sebagai "alternatif" moderat untuk Daulah Islam, "alternatif" yang bersedia bekerja sama dengan Barat dalam perang salib melawan Daulah Islam. Dia memuji perang dan serangan udara tentara salib Inggris terhadap Daulah Islam, tetapi juga menyarankan kepada mereka dengan mengatakan itu tidaklah cukup dan ada hal lebih yang harus dilakukan!

Setelah artikel ini, "Kantor Politik" dari "Ahrar Asy-Syam" merilis "Pernyataan mengenai Zona Aman di Suriah utara" pada "11 Agustus 2015." Di dalamnya mereka mengatakan:

"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan." (Al-Ma'idah: 2)

"Ini adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa sepanjang empat tahun terakhir pemerintah Turki dan rakyat Turki telah mendukung rakyat Suriah dan revolusi mereka dengan segala cara. Dukungan ini terus berjalan meskipun ancaman yang muncul terhadap keamanan nasional Turki dan tekanan kuat internal dan eksternal terhadap pemerintah Turki terus datang. Turki tetap teguh dalam sikap di atas etika dan nilai kemanusiaan terhadap rakyat dan revolusi kami. Posisi bijaksana dan bertanggung jawab ini telah membuat Turki sekutu paling penting dari revolusi Suriah dan telah membuka jalan baru dari kepentingan bersama antara kedua bangsa, baik di front internal maupun regional. Jalan terbaru dari kepentingan bersama untuk berdiri melawan Daisy (Daulah Islam). Daisy telah terbukti menjadi bencana terbesar yang menimpa revolusi serta menjadi ancaman nyata bagi keamanan dan stabilitas Turki. Kebijakan sektarian dari Bashar Assad dan kebijakan bodoh Daisy telah merubah Suriah menjadi arena konflik internasional dan perang proksi. Ini semua menjadi ancaman nyata bagi keamanan sekutu rakyat Suriah. Sementara mempertahankan posisi untuk berprinsip pada menolak perintah dan kehendak asing, sekarang telah menjadi kenyataan yang harus ditangani sesuai dengan prinsip-prinsip kepentingan bersama dan kepentingan jangka panjang negara secara keseluruhan."

"Berdasarkan visi komprehensif Gerakan Islam Ahrar Asy-Syam terhadap bidang internal dan regional Suriah, dan bertindak sesuai dengan kepentingan rakyat Suriah dan sekutunya dalam hal politik atau militer, dan sangat percaya perlunya solidaritas Sunni dalam menghadapi ancaman Iran, kami percaya bahwa pengumuman niat Turki untuk mendirikan zona aman di utara Suriah adalah hal yang melayani kepentingan rakyat Suriah. Zona aman akan memiliki dampak positif pada tingkat kemanusiaan, politik dan militer, juga manfaat yang akan dirasakan oleh kedua negara. Zona aman juga kebutuhan penting yang diperlukan untuk meningkatkan keamanan nasional Turki dan menghentikan rencana teroris atau separatis Daisy dan PKK. ... Zona aman di utara Suriah akan membantu para pengungsi kembali ke rumah mereka dan makar musuh revolusi akan digagalkan. Karena itu Gerakan Islam Ahrar Asy-Syam mendukung sepenuhnya zona aman dengan bantuan Turki dan kerjasama politik dan militer dari Grup Angkatan Bersenjata Revolusioner. Kami mengambil kesempatan ini untuk menguatkan ikatan yang tak bisa dipecahkan dan kebaikan bersama rakyat Suriah dan Turki dan menggaris-bawahi kebutuhan untuk hubungan strategis dengan Turki untuk menjadi landasan pendekatan umum untuk mengatasi tantangan saat ini dan masa depan."(4)

Dengan demikian, "Ahrar Asy-Syam" telah mengulurkan tangannya secara terang-terangan terhadap rezim murtad dan tentara Turki dan mencalonkan diri menjadi agen mereka di Suriah. Maka akankah para pengklaim jihad Jabhah Jaulani bertobat dari kemurtadan dan mengucapkan bara'ah dari sekutu terdekat mereka di mana pemimpin mereka pernah dianggap sebagai "Shahawat masa depan"? Atau akankah lereng licin "udur" yang didikte oleh hizbiyah terus membuat mereka jatuh hingga nanti mereka berjuang di bawah bendera fitnah terbesar –Al-Masih Ad-Dajjal– demi kepemimpinan, perpecahan, dan penyimpangan.(5)

Kita berharap kepada Allah agar menolong para Mujahidin Daulah Islam dalam melawan para agen thaghut dan agen tentara salib hingga bendera Khilafah berkibar tinggi di atas Istanbul dan Vatikan.

Catatan kaki :

1. Lihat halaman 24-25 pada Dabiq edisi 2.

2. Lihat halaman 75 pada Dabiq edisi 10.

3. Artikelnya sebelum ini pernah dinukil pada majalah Dabiq edisi 10 halaman 12-13.

4. Perhatikan bahwa dalam statemen dari berbagai faksi Shahawat mereka mengklaim untuk melindungi rakyat Syam padahal diketahui bahwa serangan udara itu dirancang untuk membentuk "zona aman" Turki yang akan menargetkan Mujahidin Khilafah, para prajurit yang paling keras melawan pasukan Nushairi. Faksi ini juga menggunakan atheis PKK sebagai alasan untuk berperang di bawah bendera Thaghut Turki tetapi lupa bahwa mereka sendiri melakukan gencatan senjata dan perjanjian yang mereka jalin dengan PKK murtad di Halab, beberapa perjanjian ini bahkan yang melibatkan pembagian kekuasaan untuk mengelola wilayah yang berada di bawah kontrol PKK. Perjanjian paling terkenal di Halab dengan PKK ditandatangani oleh Ahrar Asy-Syam dan Jabhah Syamiyah, yaitu perjanjian Operation Room. Dalam perjanjian ini ikut termasuk "Jaisyul Mujahidin" dan "Ahrar Asy-Syam" sebagai anggota. Jika mereka benar-benar khawatir terhadap atheis PKK sebagaimana yang mereka klaim, maka daripada menandatangani gencatan senjata dengan mereka, tentu mereka akan mengobarkan perang terhadap mereka sebagaimana Daulah Islam telah melakukannya.

5. Baru-baru ini, Robert Ford (mantan duta besar AS untuk Suriah) menulis sebuah artikel berjudul "Ya, Bicara dengan Ahrar Asy-Syam Suriah" di mana ia sangat mengusulkan kerjasama langsung AS dengan "Ahrar Asy-Syam" melawan Daulah Islam, setelah hampir dua tahun bekerjasama secara tidak langsung melalui para thaghut. Hal ini diikuti oleh sebuah artikel pada "Daily Beast" berjudul "Kesepakatan dengan Setan, Petraeus: Menggunakan Pejuang Al Qaeda untuk Mengalahkan ISIS," di mana ide David Petraeus (mantan komandan jenderal tentara salib di Irak dan pendiri Shahawat Irak) untuk bekerja sama dengan Jabhah Jaulani melawan Daulah Islam telah dipublikasikan. Hal ini diikuti oleh kebohongan Abu 'Abdillah Asy-Syami membenarkan kerjasama dengan berbagai Shahawat Turki, Amerika, dan para thaghut Teluk berdasarkan klaim bahwa seseorang tidak bisa mengucapkan takfir pada faksi ini karena udzur yang dia buat untuk Shahawat lantaran kerjasama mereka dengan tentara salib dan murtad! Dia kemudian berbohong dan menyatakan bahwa Daulah Islam sendiri pernah "bekerja sama" dengan Turki dan ia menggunakan sebagai "bukti" adalah pertukaran tahanan di mana 46 tahanan Turki ditukar dengan hampir 200 Muhajirin! Apakah ini "kerjasama" atau memenuhi kewajiban untuk berjuang membebaskan tahanan Muslim! Dia membuat kebohongan yang memalukan padahal dia tahu bahwa rezim murtad Turki dan tentaranya merupakan bagian dari NATO dan perang salib pimpinan Amerika terhadap Daulah Islam dan bahwa Turki mengambil bagian dalam memenjarakan para Muhajirin dan bersama-sama dengan Amerika menyerang posisi Daulah Islam di Halab demi Shahawat sekutu Jabhah Jaulani, bahkan terkadang untuk mendukung posisi Jabhah Jaulani itu sendiri! Hanya satu hal yang bisa dikatakan kepadanya, "Jika Anda tak tahu malu, maka berbuatlah sesukamu" (HR Al-Bukhari dari Abu Mas'ud). Asy-Syami bisa berbohong sebanyak yang dia sukai, tetapi kenyataannya terlalu jelas. Ketika domba Shahawat terbangun dan akan menyadari bahwa mereka pada akhirnya melayani kepentingan tentara salib?

KEBOHONGAN YANG MENUTUPI KEMATIAN MULLA UMAR

DABIQ 11 - PENDAHULUAN

KEBOHONGAN YANG MENUTUPI KEMATIAN MULLA UMAR

Bismillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para shahabat dan para pengikutnya. Amma ba’du.

Sebuah peristiwa yang paling memalukan pada tahun 1436 H –wallahu a'lam bish-shawab– yang akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya, kecuali dalam sejarah kebohongan dan legenda. Jika seseorang mencari melalui pintu sejarah ini, mungkin dia akan menemukan hal yang paling mirip yang pernah terjadi sebelumnya adalah mitos "Paus Joan," seorang wanita yang sepertinya telah menipu gereja pagan agar memilihnya sebagai Paus sambil menyamarkan dirinya sebagai seorang pria. Dia diduga berhasil menipu dan memerintah para penyembah salib selama beberapa tahun sebelum kedoknya terbongkar dan meninggal tak lama kemudian ...

Sosok yang paling mirip lainnya adalah "Imam Tersembunyi" milik beberapa sekte sesat termasuk Rafidhah yang percaya pada keghaiban Muhammad al-'Askari, sekte Ismailiyah yang percaya pada keghaiban Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ja'far ash-Shadiq, dan Druze yang percaya pada keghaiban "al-Hakim bi Amrillah" al-'Ubaydi. Beberapa sekte mereka bahkan percaya pada reinkarnasi dari apa yang disebut "imam tersembunyi" atau pada wakil yang bertindak atas namanya ...

Ya, ini semua adalah hal yang paling mirip yang pernah terjadi sebelumnya dengan sebuah kejadian paling memalukan: kebohongan Akhtar Mansur, seorang laki-laki yang akrab dan disukai oleh "Inter-Service Intelligence" Pakistan (ISI, Dinas Intelijen Pakistan) dan yang selama bertahun-tahun telah memerintah "Imarah Islam Afghanistan" yang telah kadaluarsa dengan menggunakan nama orang yang telah meninggal: Mulla Muhammad 'Umar. Dan dengan memanfaatkan Kematian Mulla 'Umar, Akhtar merilis pernyataan –baik dengan mengatas-namakan Mulla 'Umar dan nama "Imarah"– untuk mendukung rekonsiliasi nasional dengan rezim boneka murtad Afghan, normalisasi hubungan dengan rezim murtad Pakistan dan angkatan bersenjatanya, memuji berbagai Thaghut Arab dan non-Arab, termasuk budak Amerika Hamad Alu Thani dan Tamim Alu Thani dari Qatar, dan menyatakan bahwa musuh paling jahat Islam -Rezim Shafawi Iran- sebagai negara Muslim!

Dia merilis statemen yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip PBB, konvensi internasional, nasionalisme, "modernisme," dan pasifisme, serta statemen yang mengingkari jihad ofensif dan defensif kecuali untuk perang nasionalis Afghan melawan pasukan penjajah Amerika. Dia merilis pernyataan mendukung legalitas dan otoritas pemilu demokrasi thaghut di Mesir dan hasil pemilihan mereka. Dia merilis pernyataan yang menyatakan bahwa Rafidhah adalah Muslim, bahkan mengutuk serangan terhadap Rafidhah Afghanistan(1). Dan selama mereka tetap mempertahankan Thaliban, ia dan antek-antek terdekatnya –demi keuntungan pribadi dan penyimpangan parah dan atas nama Mulla 'Umar yang telah meninggal–ia mengobarkan perang terhadap Khilafah yang memerintah dengan syari'at dan mempraktekkan al-wala' wal bara', sementara "Imarah" Thaliban mereka dengan tegas menolak kewajiban yang telah jelas dan pasti dari aqidah al-wala' wal bara' ini. Maka menurut perkataan dan perbuatan Akhtar dan kaki-tangannya, Rafidhah dan para thaghut adalah "saudara Muslim" yang harus mereka hormati, sedangkan para pemimpin Daulah Islam dan tentaranya adalah "Khawarij" yang kepada mereka harus dikobarkan perang...

Sepanjang periode ini, berbagai cabang al-Qa'idah mengklaim bahwa mereka tidak bisa berbai'at kepada Khalifah Abu Bakr al-Qurasyi al-Baghdadi (hafizhahullah) karena Mulla 'Umar adalah "Imam tertinggi" mereka, walau setelah bertahun-tahun para pemimpin al-Qa'idah menyatakan bahwa Mulla Umar bukanlah khalifah tetapi pemimpin untuk wilayah terbatas sebuah emirat regional(2). Hal ini ditambah dengan Thaliban yang bertahun-tahun merilis pernyataan menolak akan misi apapun di luar Afghanistan.

Mujahidin di Khurasan kemudian mulai menolak secara terbuka klaim bahwa Mulla 'Umar masih hidup, banyak dari mereka yang yakin bahwa dia sudah meninggal hampir empat belas tahun lalu, tak lama setelah dimulainya invasi Amerika ke Afghanistan pada "akhir 2001." Semakin banyak para pejuang yang jujur meninggalkan barisan Thaliban Akhtar dan berbai‘at kepada Khilafah, sedangkan yang lain mulai menekan para pemimpin Thaliban untuk memberikan bukti jika Mulla 'Umar masih hidup. Thaliban merilis statemen tertulis lain yang dibuat dengan nada nasionalis dan dialek yang mengatasnamakan Mulla 'Umar yang telah meninggal, ucapan selamat Idul Fitri kepada umat dan mendukung rekonsiliasi nasional Afghanistan dengan rezim murtad!

Tekanan semakin membesar bahkan dari para pendukung Akhtar di dalam Intelijen Pakistan dan Afghan, sampai dia dan antek-anteknya mengakui akan kematian Mulla 'Umar. Biro politik "Imarah" Thaliban kemudian mengumumkan bahwa Mulla 'Umar telah meninggal tepatnya pada "23 April 2013". Setelah itu Muhammad Thayib Agha –kepala kantor politik dan sebelumnya dia merupakan salah satu orang yang paling dekat dengan Mulla 'Umar– mengumumkan pengunduran dirinya dan menyatakan bahwa dirinya menganggap penyembunyian kematian Mulla 'Umar untuk jangka waktu "dua setengah tahun" adalah sebuah "kesalahan sejarah".

Hal ini diikuti oleh pernyataan dari Zabihullah Mujahid (juru bicara resmi "Imarah" Thaliban) di mana ia mengaku bahwa mereka telah menutupi kematian Mulla 'Umar sejak "23 April 2013". Dengan demikian, Mulla 'Umar telah meninggal setidaknya lebih dari satu tahun sebelum deklarasi Khilafah dan sangat lama setelah ekspansi resmi Daulah Islam ke Syam, ini jika kita menganggap bahwa dia tidak meninggal pada tahun-tahun sebelum itu... Maka apa yang akan dilakukan oleh al-Qa'idah dan pengikutnya dalam menanggapi kebohongan ini? Apakah mereka akan bertobat dan bergabung ke dalam barisan Khilafah?

Tidak ... Para pendukung Al-Qa'idah di antara mereka yang mengaku "ulama" justru menulis risalah untuk membenarkan penyembunyian kematian Mulla Umar, tanpa mengutip al-Qur'an dan Sunnah, tetapi mengutip buku sejarah tentang khalaf (generasi setelah Salaf) yang penuh dengan peristiwa yang tidak bisa diteliti keshahihannya yang secara personal bahkan tidak bisa dijadikan contoh bagi umat!

Beberapa contoh dari Salaf mereka kutip dan diselewengkan, seperti yang berkaitan dengan dirahasiakannya kematian pemimpin hanya untuk waktu yang singkat dan hanya kepada sebagian kecil tentara Muslim yang terlibat dalam pertempuran, tidak selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun dan tentu tidak kepada seluruh umat! Para "ulama" hizbi kemudian secara ghuluw berlaku dusta demi perang dan rekonsiliasi termasuk untuk berdusta tanpa ada batasan waktu kepada Umat Muslim di seluruh dunia secara keseluruhan dari Timur jauh hingga ke Barat jauh termasuk semua cendikiawan, pemimpin, pejuang dan laki-laki, semuanya demi "Maslahat" yang didefinisikan sangat longgar.

Mereka bahkan mengizinkan untuk berpidato yang dibuat atas nama orang yang sudah meninggal hanya untuk menghalangi bersatunya umat di bawah kewajiban Khilafah dan untuk mengikat dengan rantai taqlid di atas keburukan hizbiyah (berkelompok)! Yang lebih buruk lagi, dengan demikian "Ulama" ini telah membuka jalan bagi masyarakat untuk menolak sesuatu apapun yang ditujukan kepada mereka, karena penyimpangan sebelumnya dan justifikasi lemah yang berarti segala hal bisa menjadi kedustaan tak berujung bagi seluruh umat demi hizbiyah. Dan siapa yang tahu, mungkin beberapa dari masyarakat yang jahil akan keluar dan menyatakan bahwa Mulla 'Umar masih hidup, tidak mati, lalu akan muncul "okultasi" baru tambahan dari apa yang diklaim oleh kaum Rafidhah dan Bathiniyah ...

Kemudian tiba-tiba Azh-Zhawahiri –orang yang telah menghilang lebih dari satu tahun sejak 3 September 2014– keluar dan menyatakan bai‘at kepada si pendusta Akhtar Manshur! Ini semua dia lakukan meskipun otoritas Akhtar sangat diperdebatkan oleh banyak divisi Thaliban, termasuk yang dipimpin oleh anak Mulla 'Umar dan saudaranya, serta sebagian lagi yang menentang rencana Akhtar untuk rekonsiliasi nasional dan normalisasi internasional.

Beberapa pemimpin Thaliban meninggalkan "Syura Quetta" di mana Akhtar menjadi "Terpilih", keberatan dengan otoritas Akhtar dan legitimasi "Syura"nya. Para pemimpin lain mengundurkan diri dari posisi mereka –seperti Muhammad Tayib Agha, 'Aziz 'Abdur-Rahman, dan Nek Muhammad– sebagai protes atas kedustaan atau penolakan Akhtar atau dalam mengejar kepemimpinan!

Bagaimanapun Zhawahiri tetap berbai‘at. Pertanyaan selanjutnya adalah: Akankah domba buta di berbagai cabang al-Qa‘idah segera mengkuti dan memberikan bai‘at kepada seorang pendusta terkenal? Apakah mereka akan berbai‘at kepada seseorang yang telah menolak dasar dari al-wala wal bara‘ dan berbicara mengatasnamakan orang yang telah mati? Apakah mereka akan berbai‘at kepada seseorang yang secara resmi mengutus delegasi politik kepada Shafawi Iran dan "Imarah" nya yang menyebut rezim Iran sebagai "Negara Islam" dan memanggil para pemimpin Rafidhah dan pengikutnya sebagai "Saudara Muslim"!

Jika mereka mau merenungkan kembali kedustaan ini, bai'at kepada tokoh penipu ini, dan kerusakan berbagai cabang mereka yang telah mengerahkan media dan militer untuk melakukan kampanye perang melawan Daulah Islam, tentu mereka akan takut terhadap hal ini semua yang bisa menjadi kemungkinan merupakan hasil dari mubahalah yang telah dideklarasikan lebih dari satu tahun lalu, tapi yang menyedihkan kebanyakan dari mereka tidak berfikir untuk diri mereka sendiri, dan membiarkan hawa nafsu mereka dan membiarkan si penggembala buta menuntun mereka. Kita memohon kepada Allah semoga melindungi kita dari keburukan hawa nafsu, taqlid, irja‘, hizbiyah dan dari Dajjal.

Catatan kaki :

1. Statemen-statemen ini dapat ditemukan di situs resmi Thaliban. Sejumlah besar statemen-statemen ini telah dikumpulkan dan direferensikan dalam sebuah artikel berjudul “Fadhihat asy-Syam wa Kasr al-Ashnam” oleh Abu Maisarah Asy-Syami.

2. Secara eksplisit hal ini telah disampaikan oleh Athiyatullah al-Libi, dan juga secara eksplisit telah dinyatakan oleh Azh-Zhawahiri dan an-Nazhari, akan tetapi sikap hizbiyah telah membutakan hati!

WAWANCARA BERSAMA ABU SAMIR AL-URDUNI, MANTAN ANGGOTA MAJELIS SYURA JABHAH JAULANI

DABIQ 10 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA ABU SAMIR AL-URDUNI,
MANTAN ANGGOTA MAJELIS SYURA JABHAH JAULANI

Allah memberikan kesempatan pada Dabiq untuk mewawancarai saudara Abu Samir al-Urduni (Yordania), mantan anggota Majelis Syura Jaulani. Dia tinggalkan Jabhah Jaulani setelah Allah memberinya petunjuk dengan memperlihatkan padanya kontradiksi manhaj dan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Jabhah Jaulani. Dan Allah berkahi dia dengan kesempatan guna menyaksikan realisasi tauhid Hakimiyah (penegakkan hukum Allah) di bumi Khilafah. Pada akhirnya, dia kembali bergabung dalam barisan Khilafah, dan berikut ini bincang-bincang kita bersamanya:

Dabiq: Informasi apa saja yang kamu miliki terkait makar shahawat dan peran Jabhah Jaulani di dalamnya?

Abu Samir: Jaulani mengunjungiku di akhir bulan Desember 2013 dan menginformasikan padaku bahwa dia berada dalam sebuah pertemuan bersama Jabhah Islamiyah dan faksi-faksi anggotanya, termasuk diantaranya Liwa Tauhid dan sejumlah batalyon lain dari elemen Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Dia menuturkan padaku bahwa mereka bermufakat untuk memerangi Daulah Islamiyah. Aku bertanya padanya, "Kenapa kau diundang dalam pertemuan itu?" Dia menjawab, "Guna mengusulkan dan mendiskusikan suatu perkara denganku, karena aku adalah salah satu pihak yang berada di lapangan dan paling dekat dengan Daulah Islamiyah". Aku berkata kepadanya, "Lantas, apa tanggapanmu?" Dia menjawab, "Aku katakan pada mereka bahwa aku akan berada di front-front yang menghalangi rezim". Aku menimpali, "Itulah peranmu dalam peperangan melawan Daulah Islamiyah!" Dia berkata kepadaku, "Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku mempunyai peran dalam rencana itu?" Maka aku katakan kepadanya, "Engkau akan menggantikan beberapa front pertempuran yang sekarang mereka hadapi agar bisa mundur lalu berkumpul dalam jumlah besar untuk memerangi Daulah Islamiyah". Inilah yang terjadi kurang lebih 10 hari setelah pertemuan dengan Jaulani pada tanggal 3 Januari 2014.[1]

Aku bahkan mendengar Ahmad Zakkur, salah seorang pemimpin "Jabhah an-Nushrah" tengah berbicara dengan Jaulani menggunakan walkie-talkie ketika dia menghilang pasca dimulainya perang antara Daulah Islamiyah dan faksi-faksi tersebut, termasuk diantaranya FSA. Zakkur berkata kepadanya, "Kita harus menolong saudara kita dari serangan faksi-faksi yang ada di medan perang dan menghentikan kezhaliman Daulah Islam dan memeranginya".

Aku juga menyaksikan peristiwa-peristiwa lainnya. Misalnya, ketika beberapa pemimpin "Jabhah an-Nushrah" mendukung FSA dengan bantuan persenjataan dan menolong mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah di beberapa kawasan, seperti halnya kasus yang terjadi pada Hammaudah dan Abu Dzar at-Tunisi di bagian barat Halab. [Hammaudah ialah pemimpin tertinggi Jabhah Jaulani di kawasan tersebut].

Hal yang sama terjadi di Idlib, ketika Abu Sulaiman al-Australi mencegah para tentara "Jabhah an-Nushrah" membantu Daulah Islamiyah saat FSA berencana menyerang kamp pelatihanan militer Daulah di sana padahal mereka mampu memberikan pertolongan. Maka aku dikirim menghadap Abu Sulaiman al-Australi lalu berkata kepadanya, "Sebenarnya engkau sanggup menempatkan pasukan untuk mencegah FSA bergerak menyerbu kamp pelatihan". Aku terkejut ketika keesokan harinya FSA telah memasuki kamp pelatihan Daulah Islamiyah setelah mengepungnya, memotong jalur bantuan, dan memerangi Daulah Islamiyah di dalamnya. Inilah awal kecurigaanku bahwa di sana terdapat makar rahasia antara FSA dan "Jabhah an-Nushrah".

Dabiq: Kapan anda memutuskan untuk menjaga jarak dari peristiwa yang tengah terjadi ini?

Abu Samir: Setelah mengamati dan mengikuti kejadian-kejadian yang ada, aku merasa di sana terdapat sebuah makar yang sedang berlangsung melawan Daulah Islamiyah yang melibatkan "Jabhah an-Nushrah". Maka aku memutuskan untuk menjaga jarak dan bergerak ke selatan. Dalam perjalanan, aku mengumpulkan banyak bukti atas kesimpulan ini. Dimulai dari pertemuanku dengan Abu 'Abbas ad-Darir, amir "Jabhah an-Nushrah" untuk wilayah Raqqah. Aku berjumpa dengannya di daerah Albu Kamal dan menanyakan alasannya memerangi Daulah Islamiyah di Raqqah. Dia menceritakan seluruhnya, bagaimana dia dan Ahrar Asy-Syam bersepakat dengan banyak batalyon, termasuk batalyonnya Abu 'Isa ar-Raqqawi (Katibah Liwa' Tsuwwar Raqqah) yang telah berbai'at kepada "Jabhah an-Nushrah". Abu 'Isa dan pasukannya sekarang bersama dengan PKK di 'Ainul Islam untuk memerangi Daulah Islamiyah. Abu 'Abbas ad-Darir berkata kepadaku, "Kami berencana untuk memerangi Daulah Islamiyah". Ketika aku menanyakan alasannya, dia menjawab, "Karena mereka membunuh Abu Sa'ad al-Hadhrami". Dia mencoba mengesankan padaku bahwa permasalahan itu seolah-olah adalah respon dirinya atas pembunuhan Al-Hadhrami.[2]

Aku berkata padanya, "Mengapa engkau mengambil kesempatan waktu dalam memerangi Daulah Islamiyah bertepatan dengan dimulainya peperangan antara Daulah Islamiyah dan FSA di semua batalyon lain di medan tempur, baik itu di Idlib, Lattakia, dan Hamah?" Dia menjawab, "Kami memang telah mengadakan rencana bersama mereka dan mengambil keuntungan dari kebijakan Daulah untuk memeranginya".

Dabiq: Apa sikap para anggota Jabhah Jaulani di awal peperangan dengan Daulah Islamiyah? Apakah berbeda dengan sikap Jaulani dan orang-orang terdekatnya?

Abu Samir: Abu 'Abbas ad-Darir menyebutkan sebuah insiden yang membuat perkara ini nampak lebih jelas. Dia pergi menuju wilayah al-Khair untuk mencari tahu sebab alasan mengapa Abu Mariyah menunda pengiriman bantuan untuk memerangi Daulah Islamiyah, oleh karena Abu Mariyah menjanjikan kepadanya ratusan orang dan konvoi demi konvoi pasukan -sebagaimana yang diklaim olehnya- untuk memerangi Daulah Islamiyah di Raqqah. Ketika menghitung jumlah pemuda yang telah dikumpulkan oleh al-Harari, terkuaklah bahwa personel pasukan bantuan itu hanya berjumlah 60 orang saja. Abu 'Abbas mengerahkan mereka semua untuk melawan Daulah Islamiyah, namun dalam perjalanan ada suatu hal yang merusak rencana tersebut. Salah seorang personel Jabhah an-Nushrah melihat papan tanda yang bergambar bendera Daulah Islamiyah. Maka dia berteriak, "Daulah Islam, baqiyah!" Lalu Abu 'Abbas menghentikan konvoi dan bertanya kepada mujahid tersebut, "Apa yang kamu katakan?" Dia menjawab, "Daulah Islam, baqiyah. Mereka adalah saudara-saudara kita". Abu 'Abbas kembali bertanya, "Apakah kamu tidak tahu ke mana kamu hendak berangkat?" Dia menjawab, "Aku tidak tahu". Abu 'Abbas berkata, "Bagaimana bisa kamu tidak mengetahuinya? Kamu akan pergi memerangi Daulah Islamiyah. Apakah Abu Mariyah tidak memberitahumu tentang hal ini?" Sang pejuang tadi berkata, "Kami tidak ingin memerangi Daulah Islamiyah dan kami tidak setuju untuk memeranginya. Abu Mariyah berkata bahwa kami diberangkatkan untuk melakukan ribath di Divisi 17". Adanya insiden ini menjelaskan padaku adanya unsur penipuan yang dilakukan Jabhah an-Nushrah di kawasan timur yang berada di bawah komando Abu Mariyah, bahkan terhadap para tentaranya untuk memudahkan makar dan perang terhadap Daulah Islamiyah.[3]

Dabiq: Pada waktu itu apa sikap anggota faksi-faksi yang memerangi Daulah Islamiyah? Apakah mereka harus diyakinkan dulu untuk memerangi Daulah Islamiyah seperti halnya para pemimpinnya?

Abu Samir: Sebagian besar prajurit faksi-faksi "Islam" yang berperang melawan Daulah Islamiyah pada saat itu tidak setuju untuk memeranginya. Aku teringat terhadap sebuah peritiwa yang mampu menjelaskan hal ini. Jaulani mengatakan kepadaku bahwa Ahrar Asy-Syam telah membentuk sebuah kelompok yang disebut dengan nama "Sel Krisis", terdiri dari Abu 'Ali Taibah, Abu Zaid Asy-Syar’i, Abu Jamil Quthb, Abu Anas Saraqib, dan Abu al-Khair. Barangkali aku keliru menyebutkan salah satu nama tersebut, tetapi empat diantaranya aku meyakini kebenarannya. "Sel Krisis" ini datang menemui Jaulani. Aku bertanya kepadanya, "Apa keperluan mereka untuk menemuimu?" Dia menjawab, "Mereka mendatangiku untuk meyakinkan padaku kekufuran Daulah Islamiyah, dimana Daulah adalah sebuah organisasi yang bekerja untuk kepentingan Iran yang mengimplementasikan politik Rafidhah di Syam. Dan mereka merupakan bagian dari makar Iran". Jaulani mengaku bahwa dia membahas hal itu bersama mereka, lalu berkata, "Tuduhan itu tidaklah logis". Akan tetapi mereka tetap bersikeras menginginkan tuduhan itu, dan menginginkan fatwa atasnya, guna meyakinkan pasukan mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah karena sebagian besar darinya tidak yakin, tidak menyetujui, dan menolak peperangan terhadap Daulah Islamiyah. Sementara itu para pimpinan mereka tengah berusaha keras mencari dalih untuk meyakinkan pasukannya agar memerangi Daulah Islamiyah, maka mereka berjuang untuk menawarkan vonis kufur terhadap Daulah Islamiyah yang diberi nama "politik takfir”.[4]

Dabiq: Beberapa orang masih berpikir bahwa kesepakatan faksi-faksi kelompok tersebut untuk memerangi Daulah Islamiyah merupakan sebuah "kebetulan". Apakah hal itu benar?

Abu Samir: Itu tidak benar. Mobilisasi peperangan yang gila ini tidaklah timbul secara kebetulan. Aku mengetahuinya melalui pengalamanku di lapangan bahwa FSA, batalyon-batalyon lain, dan bahkan "Jabhah an-Nushrah," saat hendak melakukan aksi militer, jika pun terbatas, mereka butuh waktu berhari-hari dan banyak menggelar pertemuan untuk merencanakannya, merumuskannya, dan mengadakan kesepakatan terkait peran masing-masing kelompok anggota di dalam aksi militer tersebut. Adapun jika hal itu terjadi secara kebetulan dalam sehari semalam seperti yang mereka klaim dan katakan, termasuk yang diklaim oleh al-Muhaisini, maka hal itu tidaklah benar. Justru realitanya menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi lewat kerjasama langsung dan tidak langsung antara Barat, FSA, dan berbagai faksi lainnya. Tidak mungkin bagi semua kelompok untuk ikut andil bersama-sama di saat yang sama dan tanggal yang sama melawan Daulah Islamiyah dengan jalan seperti ini.

Dabiq: Apakah Anda melihat target khusus yang ingin dicapai oleh Jabhah Jaulani?

Abu Samir: Faksi-faksi kelompok di Syam itu tidaklah memiliki target apapun melainkan pendistorsian atas makna hakimiyah dan ini merupakan fitnah pada masa ini. Hukum Allah tidak hanya berupa bangunan yang disebut "mahkamah"! Hukum-hukum Allah dan syari'at-Nya lebih luas dan lebih komprehensif daripada hal tersebut. Makna syari'at Allah sekarang telah mengalami distorsi dan dibatasi hanya pada wilayah mahkamah dan komite arbitrase. Melalui ini, manusia disesatkan agar percaya bahwa hukum Allah ada di dalamnya. Padahal sesungguhnya, hukum Allah tidak akan terwujud kecuali dengan pendirian sebuah negara dan pengangkatan seorang amir yang menerapkan hukum Allah kepada manusia dan mengatur mereka dengan syari'at-Nya.[5]

Aku masih ingat saat batalyon-batalyon "Islam" moderat terbesar di Suriah mengumumkan pembentukan kelompok yang disebut dengan Jabhah “Islamiyah". Ketika itu aku bertanya kepada Jaulani, "Jika kau menolak penegakan Daulah Islamiyah dan perjuangannya untuk berhukum dengan hukum Allah di muka bumi dan menundukkan manusia padanya, lalu kenapa kau tidak bergabung saja dengan Jabhah “Islamiyah” dan proyek azh-Zhawahiri?" Dia menjawab, "Aku lebih mengetahui peta lapangan daripada Dr. Aiman dan kita tidak suka dengan manhaj politik Jabhah “Islamiyah”. Karena itu, kita menginformasikan Dr. Aiman bahwa kita tidak akan pernah bergabung dengan mereka". Lalu kukatakan kepadanya, "Dengan ini, kau mengumumkan adanya proyek ketiga di lapangan, lalu apakah itu? Kau tidak menyukai misi dan penerapan hukum Allah oleh Daulah Islamiyah di muka bumi melalui kekuatan dan kau juga tidak menyukai proyek meraup dukungan massa dan bergabung dengan kebanyakan massa manusia di negeri ini dan di lapangan bersama faksi-faksi kelompok yang telah ada. Lalu apa gerangan proyek ketiga yang dibenakmu itu?" Dia terdiam dan aku tidak mendapatkan jawaban apa pun darinya. Akan tetapi, kemudian dia berkata, "Kita akan mencoba mereformasikan dukungan massa hingga ia menjadi salah satu manhaj yang sesuai dan orientasi politik yang pantas".

Pada saat itulah azh-Zhawahiri mengirimkan tiga surat, dua untuk Ahrar Asy-Syam yang ditujukan kepada Abu Khalid As-Suri dan satunya kepada Jaulani. Surat tersebut berisikan seruan dari azh-Zhawahiri pada "Jabhah An-Nushrah" untuk bergabung ke dalam Jabhah “Islamiyah" dan dia menyatakan penundaan untuk bergabung dalam jama'ah tersebut merupakan sebuah kesalahan. Karena itu, aku kemudian menanyakan bagaimana balasannya terhadap perintah tersebut, maka dia berkata, "Aku tidak akan menyetujui perintah itu kecuali dengan syarat". Saya bertanya kepadanya, "Syarat apa itu?" Dia berkata, "Zahran 'Allusy dan Jaisyul “lslam” keluar dari formasi Jabhah “lslamiyah".”[6]

Saya kembali bertanya kepadanya, "Apa lagi syaratnya?" Dia mengatakan bahwa Jabhah “Islamiyah” memiliki struktur yang terdiri dari seorang direktur jenderal, pengawas syar’i, dan biro politik luar negeri yang berbicara atas nama Jabhah “Islamiyah” yaitu Abu 'Abdillah al-Hamawi. Dia tidak menginginkan hanya satu pengurus disana yang menerima delegasi luar negeri, namun menginginkan jumlah tiga orang. Maka aku katakan padanya, "Jadi kau setuju untuk bertemu dengan politisi thawaghit?" Dia menjawab, "Ya, apa ada yang salah dengan hal itu?" Lalu dia berkata, "Apakah kau tidak menyaksikan dan mendengar bagaimana Taliban bermajelis bersama dengan Pakistan dan Qatar serta membuka kantor di Qatar?" Dia hendak menyoroti Taliban dan tindakan mereka agar dia diperkenankan melakukan hal yang sama, terutama setelah azh-Zhawahiri memproklamirkan bai'at dirinya kepada Mullah 'Umar. Pada asalnya, dia menyatakan secara tidak langsung, bila "amir kita" saja bisa melakukan hal ini, maka mengapa kita tidak diperbolehkan melakukannya? Abu Khalid as-Suri, mantan pemimpin Jabhah “Islamiyah" yang nasionalis.

Dabiq: Lalu, langkah apa ditempuh oleh Jabhah al Jaulani sekarang?

Abu Samir: Kenyataannya adalah "Jabhah an-Nushrah" tidak mempunyai langkah khusus atau proyek dengan bentuk yang jelas. Karena ia berada dalam bayangan pola global yang jahat serta melakukan makar melawan manhaj yang shahih, dimana para pengikutnya juga berupaya untuk memikat dan mengakomodasi semua tujuan itu, kini kami mengetahui bahwa "Jabhah An-Nushrah" secara efektif bergabung dalam misi jahat tersebut dan membenamkan diri ke dalamnya. Manhaj infiltrasi "Jabhah An-Nushrah" mendorongnya untuk menyerahkan diri kepada politik regional dan tidak mempunyai kejelasan dan keistiqamahan dalam setiap sikapnya, sementara ia berada di bawah bayang-bayang yang membuat tata organisasinya berserakan dan memiliki rencana yang salah. Maka kekuatan dalam dan luar akhirnya memanipulasi "Jabhah An-Nushrah".

Gambaran ketidakberdayaan yang jelas dari "Jabhah An-Nushrah" nampak ketika mereka mengutuk tindakan-tindakan Daulah Islamiyah dan realita memaksa mereka untuk melakukan cara yang persis sama yang dilakukan oleh Daulah Islamiyah, karena tidak ada jalan lain menuju pada konsolidasi kekuatan kecuali dengan menempuh apa-apa yang telah dilakukan oleh daulah Islamiyah. Selain itu, sikap mereka berkaitan dengan faksi-faksi yang mereka jadikan sebagai sekutu. Contohnya, mereka mengutuk Daulah Islamiyah karena menetapkan takfir terhadap Jabhah “Islamiyah", syar’i Abu Muhammad (Abu 'Abdillah Asy-Syami) sebelumnya telah menggambarkan "Jabhah Islamiyah" sebagai "Hamas Masa Depan" (merujuk pada manhaj sesat Hamas dan hukum junjungan mereka yang berdasarkan hukum buatan manusia). Dan dia termasuk orang yang paling tahu mengenai keadaan mereka. Karena dia dahulu termasuk salah satu anggotanya dan tiga saudara lelakinya adalah pemimpin di Ahrar Asy-Syam, di antaranya ialah saudaranya yang bernama Abu al-Khair yang merupakan wakil dari Abu 'Abdillah al-Hamawi dan terbunuh bersama dengannya dalam sebuah ledakan yang sangat terkenal. Dan dia dahulu menggambarkan mereka sebagai "Hamas Masa Depan"! Jaulani sendiri berkata kepadaku, "Ahrar asy-Syam adalah shahawat masa depan, tetapi Daulah Islamiyah tergesa-gesa dalam memerangi mereka!"[7]

Aku juga pernah bertanya kepada Jaulani mengenai FSA setelah "Jabhah an-Nushrah" memandang harta dan senjata mereka halal untuk dirampas di Idlib, "Apakah kamu mengkafirkan mereka?" Dia menjawab, "Ya".[8] Aku sama sekali tidak heran, karena kita mengkafirkan FSA yang murtad setiap kali dia berkumpul dengan mereka. Aku kembali berkata kepadanya, "Lalu mengapa engkau mengutuk Daulah Islamiyah atas kebijakannya memerangi FSA dan bagaimana Daulah Islamiyah melawan Hayani, Jazarah, dan seluruh pasukan FSA? Beberapa hari yang lalu engkau mencela mereka dan menuduh kebijakan Daulah Islamiyah adalah penyebab terjadinya fitnah dan perang antar faksi di Halab, Idlib, Hamah, dan Latakia, namun sekarang engkau sendiri melakukan hal yang sama."

Walaupun seluruh diskusi ini terjadi di antara para pimpinan, realita mereka bertentangan dengan pernyataan mereka sendiri yang tidak mereka umumkan. Hal ini semata-mata terjadi lantaran sikap penuh kerancuan, keraguan, dan kompromi hingga slogan-slogan "Jabhah An-Nushrah" di lapangan benar-benar dangkal dan tidak konsisten karena tidak memiliki makna yang jelas.

Di manakah tanggung jawab dakwah untuk menjelaskan kebenaran, dan mewujudkannya di antara manusia? Bukankah kita seharusnya mengajak manusia kepada 'aqidah yang shahih dan membebaskan bumi dari kekuasaan thawaghit? Bukankah membebaskan hati dan membebaskan manusia dari kesyirikan adalah tugas kita, dan bukannya menipu, memanfaatkan, dan mengeksploitasi mereka demi tujuan dan kepentingan sehingga semuanya bisa kita kompromikan! Bukan dengan menyesatkan mereka dan diam terhadap kebathilan yang ada pada mereka dan dengan sanjungan! "Jabhah an-Nushrah" mengira bahwa hasil dari kebijakan ini ialah mereka mengontrol berbagai pihak yang ada di lapangan, namun waktu akan membuktikan sebaliknya. Awal dari persoalan ini mungkin sudah tampak jelas dengan dideklarasikannya koalisi "Jaisyul Fath" dan demikian pula dengan melebur dan hilangnya Jabhah An-Nushrah di Ghuthah Timur dan selatan Damaskus. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Afghanistan setelah berakhirnya perang melawan Rusia tidak tersembunyi dari siapa pun yang memiliki ilmu dan akal.

Dabiq: Adakah orang yang memiliki pandangan yang sama dengan Anda? Apakah ada orang di sana yang memiliki kesimpulan yang sama?

Abu Samir: Ya, tentu saja. Dan aku akan mengatakan apa yang aku lihat sebelum berhijrah ke Daulah Islamiyah. Ketika itu aku pergi meninggalkan Jabhah Jaulani dan mengikuti berbagai perkembangan, aku memutuskan untuk kembali ke barisan Daulah Islamiyah setelah menyaksikan dan mendengar berbagai hal. Selain itu, aku sejatinya juga putera Daulah Islamiyah. Pada saat itu, aku berbincang-bincang kepada dua orang yang tengah mengeluhkan diriku sendiri kepada Allah 'azza wa jalla dan untuk menyampaikan catatan kesaksianku dan apa yang aku alami setelah meninggalkan Jabhah al Jaulani. Aku menemui dua penasihat dan pemimpin "Jabhah an-Nushrah". Salah seorang diantara mereka -sudah sangat dikenal di antara "Jabhah An-Nushrah"- merupakan delegasi Aiman azh-Zhawahiri. Dia orang yang berbicara dan menyampaikan pesan kepada azh-Zhawahiri mengenai setiap kejadian yang ada di medan Syam. Ketika aku duduk bersamanya dalam suatu pertemuan yang berlangsung selama 10 jam, aku menjelaskan kepadanya sejarah dan tindak tanduk Jaulani, dewan syura'nya, dan pendapatku mengenai situasi di lapangan.

Dia berkata kepadaku, "Akhi yang aku hormati, kami lebih mengetahui daripada apa-apa yang engkau katakan dan kami mengumpulkan banyak hal yang lebih jelas daripadamu". Aku terlejut! Dia berkata, "Ya, aku mempunyai lebih banyak bukti daripada yang kau miliki". Aku berkata kepadanya, "Subhanallah! Pada Hari Pembalasan, ini akan menjadi bukti atas pengingkaranmu! Lalu apa yang musti kau lakukan dengan setiap ucapanmu itu? Aku mempunyai sejarah, fakta, dan cerita yang terjadi antara diriku dan Jaulani, dewan syura'nya, fakta lapangan, dan pendapatku terhadap hal ini, juga telah membuat keputusan dan menyelesaikan perkara yang terjadi, sementara kau mengatakan lebih mengetahui banyak hal daripada diriku, maka menurutmu apa yang harus kau lakukan" Dia berkata, "Saat ini kami adalah dewan rekonsiliasi. Kami memproses perkara-perkara yang kau sebutkan dan bekerja untuk mereformasi organisasi ini". Aku berkata, "Subhanallah! Apakah ini adalah 'gantungan kain' di mana engkau menggantungkan sikapmu? Karena aku percaya bahwa seorang pembaharu pastilah mempunyai batasan waktu atau proyek bertahap yang menjadi dasar pijakan baginya untuk mereformasi atau mengubah sesuatu. Lantas, apakah engkau melihat suatu perubahan? Apakah kau memandang dirimu mampu untuk melakukan perubahan?"

Yang lebih membuat sikapku semakin keras padanya ketika dia menceritakan diumumkannya "Imarah" oleh Jaulani dalam pidato terkenalnya di Idlib. Dia tidak mengkonsultasikan rencana itu kepada siapa pun sejak awal, baik itu pada utusan azh-Zhawahiri maupun orang-orang yang dipercayainya ketika bersamanya. Jaulani telah meminta delegasi azh-Zhawahiri dan al-Muhaisini guna hadir dalam acara pidato tersebut yang akan dibacakan dan disebutkan di dalamnya "sesuatu yang besar"! Mereka tidak tahu apakah gerangan sesuatu yang besar tersebut dan delegasi azh-Zhawahiri tersebut mengatakannya kepada saya secara rinci, "Jaulani ingin memanfaatkan diriku untuk membacakan sebuah pidato yang isinya terkait pembentukan imarah dan semacamnya". Lalu dia berkata, "Aku terkejut mendengar hal itu karena dia sama sekali tidak membicarakan hal itu terlebih dahulu padaku dan tidak pernah mendiskusikan tentang ini sebelumnya". Akan tetapi, al-Muhaisini yang bukan anggota "Jabhah an-Nushrah" dan sejak awal juga tidak mempunyai bai'at kepada "Jabhah an-Nushrah" berbicara dengan lantang dan berpidato dengan disertai rasa antusiasme yang tinggi dan teriakan takbir saat diumumkannya rencana penegakan "Imarah Islam" yang mereka klaim itu.

Aku mengatakan kepadanya, "Bagaimana bisa engkau mengklaim sebagai bagian dari reformasi dan engkau akan mengadakan perubahan, sedangkan engkau bahkan tidak ikut dilibatkan dalam perkara besar tersebut?! Bagaimana bisa engkau mengadakan perubahan terhadap apa yang engkau ingkari hari ini?" Dia mengatakan, "Hanya pada Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami mencoba mengubahnya". Dia mengatakan hal ini dengan nada pasrah dan penuh kekalahan. Maka aku katakan padanya, "Saudaraku yang mulia, aku memohon kepadamu demi Allah; mengapa engkau tidak memberitahu azh-Zhawahiri dan menginformasikan padanya mengenai hal ini?" Dia menjawab, "Siapa bilang aku tidak memberitahunya semua hal ini?" Kemudian aku menimpalinya dengan berkata, "Allahu Akbar! Apa jawabannya?" Dia mengakui bahwa azh-Zhawahiri "tidak mempunyai kekuatan otoritas apapun untuk melakukan apa-apa"! Setelah itu aku bertakbir, sujud kepada Allah sebagai rasa syukur, dan berkata, "Subhanallah, jika azh-Zhawahiri tidak memiliki kekuasaan, lalu organisasi apa yang sedang dia pimpin! Alhamdulillahi rabbil 'alamin! Aku berlepas diri dari organisasi yang pemimpinnya tidak mempunyai otoritas terhadap apa yang dipimpinnya!" Dengan demikian, maka pendirianku untuk meninggalkan "Jabhah An-Nushrah" semakin kuat, la tidaklah lebih dari sekedar sekumpulan geng untuk kawasan yang kecil. Setiap pemimpin memiliki kawasan tersendiri. Dan ini adalah kesaksian dari delegasi Aiman azh-Zhawahiri kepadaku.[9]

Dabiq: Sebagai penutup, kami mohon kepada Allah agar menjadikan kesaksian ini untuk membimbing orang-orang yang tetap berada dalam Koalisi Shahawat agar bertaubat secara tulus dan menjadikan kesaksian ini sebagai timbangan amal shalihmu. Jazakallahu khairan.

Catatan kaki :

[1] Catatan Editor: Jaulani sebelumnya telah mengetahui rencana tersebut dan tetap menyembunyikannya dari Daulah Islamiyah, bahkan dia ikut ambil bagian dalam perencanaan dan melaksanakan rencana tersebut. Rencana ini merupakan makar yang hampir menghancurkan jihad di bumi Syam. Karena perbuatannya darah suci muhajirin dan anshar tertumpah. Kemudian beberapa orang dengan lancang mengatakan bahwa kelompoknya tidak ikut serta di dalam barisan Shahawat!

[2] Catatan Editor: Abu Sa'ad al-Hadhrami adalah seorang berkebangsaan Suriah yang mendapatkan beberapa informasi rahasia mengenai salah satu departemen terpenting Daulah Islamiyah di Wilayah Raqqah. Dia mengambil semua informasi tersebut dan membeberkannya kepada beberapa faksi yang bernaung di bawah FSA dan Koalisi Nasional Suriah sebagai suatu "tanda kesetiakawanan" untuk meyakinkan mereka agar bergabung dengan Jabhah Jaulani. Ketika Daulah Islamiyah mengetahui perkara tersebut, dia kemudian ditangkap. Kemudian Mahkamah Syari'ah mempelajari kasusnya dan memvonis bahwa perbuatan tersebut dan yang serupa dengannya adalah suatu bentuk pemberian bantuan bagi orang-orang kafir atas Muslimin. Oleh karenanya dia dibunuh. Perlu diingat, bahwa tentara bawahan al-Hadhrami -yakni Abu 'Isa ar-Raqqawi dan kelompok yang dipimpinnya (Liwa' Tsuwwar Raqqah)- saat ini bersama dengan kelompok atheis Kurdi dan tentara Salibis yang memerangi Khilafah di 'Ainul Islam.

[3] Catatan Editor: Ini terjadi di saat awal munculnya gerakan Shahawat. Akan tetapi, setelahnya mereka yang mempunyai kebajikan walau seberat biji sawi di dalam hatinya di antara tentara mereka meninggalkan barisan mereka dan bergabung dalam barisan Daulah Islamiyah. Tidak ada yang tersisa dari para prajuritnya kecuali orang-orang yang hatinya dirasuki oleh benih irja' dan hizbiyah bahkan mempunyai loyalitas terhadap orang murtad untuk memerangi Muslimin!

[4] Catatan Editor: Ketika barisan itu saling berbeda di antara sesama dan pihak muhajirin dan anshar bekerjasama untuk mengimplementasikan syari'at Islam sementara orang-orang sesat dan munafik bekerjasama untuk memerangi orang-orang yang berhukum dengan syari'at Islam, banyak dari anggota Jabhah "Islamiyah" bangkit dan segera memberikan bai'at kepada Daulah Islamiyah. Adapun kasus yang ada saat ini, maka kondisi pasukan Jabhah “Islamiyah" tidak berbeda dengan Jabhah Jaulani. Mereka bersaing memerangi Daulah Islamiyah untuk membela faksi lain seperti faksi mereka sendiri yang telah menentang syari'at Islam dan masuk ke dalam Koalisi Shahawat. Selain itu, perbuatan itu adalah salah satu dari banyak pengkhianatan yang dilakukan Jaulani. Bukannya melakukan pengingkaran setelah mereka memperlihatkan kepalsuan ini kepadanya, dia malah mengatakan bahwa tuduhan mereka terhadap daulah Islamiyah tidak logis dan tidak akan dipercayai oleh setiap pejuang. Lebih parah lagi, dia mengobarkan perang melawan Daulah Islamiyah dalam rangka bekerjasama dengan Jabhah “Islamiyah"!

[5] Catatan Editor: Serupa dengan syubhat mahkamah dan komitenya ialah syubhat pernyataan pers dan nama organisasi. Contohnya, Jabhah Syamiyah mengucapkan kata kufur melalui kepala kantor politik dan medianya, Zakariya Malahifji, dalam acara konvensi pihak oposisi di Turki. (Kami mengutip pidatonya pada serial "Aliansi al-Qa'idah di Syam (Bagian 2)” pada Dabiq edisi 8.) Namun kemudian, mereka mengumumkan dalam pernyataan persnya klaim berhukum dengan syari'at Islam dan bekerja untuk mendirikan negara yang berdasarkan syari'at Islam. Akan tetapi, klausul komite "syar'i" nya secara tegas menolerir semua firqah yang ada di Suriah tanpa kecuali. Jadi, menurut orang-orang ini apakah status bagi firqah Nushairiyah, Druze, Rafidhah, dan Isma'iliyah selain persaudaraan berdasarkan nasionalisme? Selain itu, kasus mengenai nama yang tidak pantas di Syam seperti "Anshar asy-Syari’ah" mereka tidak pernah mengaplikasikan syari'at dan tidak menampakkan permusuhan terhadap musuh mana pun atas dasar agama, kecuali musuh "revolusi." Adapun bagi kelompok yang menentang syari'at Islam, maka mereka merupakan sekutunya. Mereka membesar-besarkan diri mereka sendiri demi kelompok seperti "Failaq Asy-Syam" untuk berkembang dan memperkuat diri, sementara "Failaq Asy-Syam" telah menyatakan kesetiaan total kepada Salman alu Salul. Dengan demikian, mereka telah menyediakan pijakan bagi thaghut Salman untuk mencampuri bumi Syam, entah mereka mengetahuinya atau tidak. Permasalahannya adalah mereka menyatakan terikat kepada syari'at Islam tetapi tidak memberlakukan hukum-hukumnya, seperti zakat, menerapkan jizyah, membuka pertaubatan bagi orang murtad, dan menegakkan hudud, walaupun mereka mampu untuk melakukannya di sejumlah kawasan di Idlib dan daerah pinggirannya.

[6] Catatan Editor: Jaulani mendiskreditkan Zahran 'Allusy dan Jaisyul “Islam" dan menganggap bahwa kehadiran mereka di dalam Jabhah “Islamiyah" merupakan suatu rintangan baginya untuk bergabung di dalamnya, tetapi dia sendiri bersekutu dengan Jabhah “Islamiyah" untuk memerangi Daulah Islamiyah meskipun di situ ada Zahran 'Allusy dan pasukannya.

[7] Catatan Editor: Ahrar asy-Syam baginya adalah "Shahawat masa depan," tetapi dia bekerjasama dengan mereka memerangi Daulah Islamiyah!

[8] Catatan Editor: Ini termasuk diantara pengkhianatan Jaulani. Dia mengkafirkan FSA tetapi bergabung bersama dengan faksi-faksi yang termasuk di dalamnya terdapat FSA yang berencana mengkhianati dan memerangi Daulah Islamiyah! Kemudian dia dan para amir seniornya -seperti Ahmad Zakkur, Abu Mariyah al Harari, Hammaudah, dan yang lainnya- bekerjasama dengan FSA yang murtad memerangi Daulah Islamiyah!

[9] Catatan Editor: Adapun untuk orang kedua yang ceritanya disebutkan al-Akh ini, dia juga merupakan anggota dewan syura' Jaulani; dia bertaubat dari "Jabhah an-Nushrah" dan bergabung ke dalam barisan Daulah Islamiyah. Dia menjatuhkan vonis takfir kepada Jaulani atas sejumlah perkara yang ia saksikan sendiri sebelum meninggalkannya. Selain itu, dia menyebutkan bahwa Jaulani mengajukan rencana di hadapannya untuk menyerang kota Raqqah dari arah wilayah Badiyah bersamaan dengan dimulainya serangan pasukan Salibis melawan Daulah Islamiyah, dengan kata lain memanfaatkan situasi Daulah Islamiyah yang sedang lengah dengan perang baru tersebut!

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 10

DABIQ 10 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Mujahidin belum pernah melihat pesawat-pesawat tempur salibis dan thaghut menyerang "Khawarij" dalam rangka membela "Ahlus Sunnah wal Jama’ah" kecuali pada era yang dikenal dengan nama "Arab Spring". Ketika pesawat-pesawat tempur kuffar yang jahat datang menyerang dan membela koalisi Shahawat -termasuk diantaranya Jabhah Jaulani- dan menolong koalisi Shahawat memerangi Daulah Islamiyah di bawah payung Koalisi salibis, meskipun diantara mereka terdapat permusuhan yang sangat hebat dan hati mereka berpecah-belah*, mereka saling bersekutu satu sama lain**.

*Lihat Surat al-Hasyr ayat 14.

**Lihat Surat al-Ma’idah ayat 51.

Pasca Junud Khilafah menguasai wilayah Shauran di l'zaz dan memukul mundur koalisi Shahawat dengan kondisi memalukan dari tempat tersebut, Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan kepala faksi-faksi serta dewan mereka di Turki meminta bantuan Amerika atas nama Koalisi Shahawat (pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah tidak lupa untuk ambil bagian dalam seruan ini), dan dua orang Republikan, John McCain dan Lindsey Graham mendesak serta menekan pemegang kebijakan Salibis, yakni Obama. Maka Obama menjawab permintaan mereka dengan menyerang Daulah Islamiyah di Shauran, l'zaz dan wilayah-wilayah yang berdekatan dengannya pada tanggal "7 Juni 2015", dan "14 Juni 2015", pun pada hari-hari lainnya, demi melayani kepentingan koalisi Shahawat.

Lembaga SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia" (yang dipimpin oleh si murtad Rami Abdurrahman) mengomentari peristiwa pada tanggal "7 Juni 2015" tersebut dengan kalimat, "Jet-jet koalisi Internasional dan negara-negara Arab sedikitnya memuntahkan empat serangan udara menargetkan lokasi-lokasi dan tempat berkumpulnya para anggota organisasi 'Daulah Islamiyah' di desa Shauran, l'zaz di pinggiran utara Aleppo, dilaporkan terjadi pertempuran dahsyat selama sekitar 10 hari antara organisasi 'Daulah Islamiyah' pada satu pihak melawan pihak lain yang diantaranya: Jabhah an-Nushrah -Tanzhim al Oa'idah fi Biladusy Syam- bersama dengan faksi militer Islamis lainnya. Kawasan tersebut juga menyaksikan terjadinya saling serang antara dua pihak dan kehancuran kendaraan-kendaraan tempur milik organisasi 'Daulah Islamiyah' oleh serangan an-Nushrah dan faksi lainnya yang menggunakan misil TOW Amerika".

Ketua SOHR "Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia", Rami Abdulrahman berkata, "Ini pertama kalinya Koalisi Internasional mendukung oposisi non Kurdi dalam pertempuran melawan para pejuang organisasi 'Daulah Islamiyah'".

Dia juga mengatakan, "Serangan ini merupakan bantuan secara tidak langsung bagi Ahrar asy-Syam dan Jabhah an-Nushrah". (Dia lupa akan seruan yang dibuat koalisi salibis oleh pemimpin Ahrar asy-Syam dan Jabhah Syamiyah via satelit televisi dan tweet internet).

Dia juga mengatakan bahwa serangan udara tersebut mengindikasikan jawaban "keputusan Amerika untuk menghalangi kemajuan organisasi 'Daulah Islamiyah' dari Shauran menuju pinggiran kota l'zaz yang berbatasan dengan Turki." [dikutip dari sebuah artikel berjudul "Koalisi Internasional Menargetkan Para Jihadis Dekat Aleppo demi Kepentingan Faksi-Faksi Islamis, Termasuk Diantaranya an-Nushrah", yang diterbitkan oleh website "Observatorium Suriah" pada tanggal "8 Juni 2015"].

Nampaknya kebijakan para salibis terhadap Jabhah Jaulani meniru kebijakan para thaghut terhadap kelompok tersebut. Serupa dengan thaghut Turki, Qatar, dan alu Salul yang mendukung faksi "Jaisyul Fath" dengan bantuan bersyarat (tidak ada bantuan tak bersyarat, sebagaimana kesaksian Jaulani sendiri dalam wawancaranya bersama Al-Jazeera), kemudian bantuan yang di distribusikan pada seluruh faksi yang berpartisipasi dalam "Jaisyul Fath" termasuk Jabhah Jaulani, pun sama halnya dengan serangan Salibis menargetkan Khilafah demi kepentingan koalisi Shahawat dimana Jaulani juga berada dalam koalisi tersebut.

Inilah simbiosis mutualisme "pragmatis" antara Amerika dan koalisi Shahawat termasuk diantaranya Jabhah Jaulani.

"Jangan berhukum dengan Syari'ah dan kami akan menyerang musuh kalian". "Berhentilah beroperasi melawan para salibis dan lainnya atau kami akan membombardir kalian" Inilah politik 'stick and carrot'.

Ini mungkin menjadi awal dari implementasi dari proposal grup pemikir salibis, yang pernah dikutip dalam beberapa edisi terakhir Dabiq, pada segmen kategori "Perbincangan Musuh". Boleh jadi dimulai setelah aksi pembunuhan Salibis terhadap para pemimpin al-Qa’idah sehingga Tanzhim tersebut menyerah dalam rasa takut bersama saudara-saudara mereka di Taliban di hadapan politik Amerika. Saat ini Taliban tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan negeri-negeri para salibis, begitu juga al Qaidah. Terutama setelah Zhawahiri mengambil kebijakan yang melawan kebijakan Syaikh Mujahid Usamah bin Ladin. Maka Zhawahiri menjadikan tanah air para salibis aman sentosa, thaghut merasa aman, mantan thaghut "Arab Spring" aman, thaghut Ikhwani aman, pasukan murtaddin aman, dan para pengikut Rafidhi yang biadab merasa aman [sebagaimana yang dikutip dalam wawancara Jaulani dengan Al-Jazeera dan tertulis dalam "Panduan Umum bagi Amal Jihad" oleh Zhawahiri].

Yang menjadi masalah terbesar adalah mencapai "maslahah paling besar" dengan meninggalkan implementasi Syari'ah dan hukum-hukumnya! Sebuah kebijakan yang pragmatis, sebagaimana yang dikatakan oleh para Salibis. New York Times juga mengatakan pada tanggal "9 Juni 2015" dalam sebuah artikel bertajuk "Al-Qaeda Mencoba Taktik Baru untuk Mempertahankan Kekuasaan: Berbagi", "Setelah mereka mengirim pasukan ke Yaman Selatan, para prajurit Al-Qaeda menyerang kota al Mukalla, mengambil alih gedung-gedung pemerintahan, melepaskan para jihadis dari penjara dan mencuri jutaan dollar dari bank sentral. Kemudian mengejutkan setiap orang. Bukannya mengibarkan bendera mereka dan menegakkan hukum Islam, mereka malah melepaskan kontrol kota pada Dewan Sipil dan memberikannya anggaran untuk membayar gaji, mengimpor bahan bakar dan menggaji para pekerja untuk membersihkan sampah. Sementara itu, para prajurit mereka mundur ke belakang, hanya mengatur sebuah kantor polisi untuk menengahi pertikaian".

"Cabang [dari Al-Qaeda] di Yaman dan Suriah saat ini semakin sering bertikai dengan kelompok lokal hanya pada masalah-masalah yang umum..."

"Cabang Al Qaeda di Suriah dan Yaman telah mengambil sebuah jalan yang berbeda [dari Daulah Islamiyah], dengan membangun ikatan bersama kelompok lokal dan menahan diri dari pengaplikasian Syari'ah secara ketat, yakni hukum Islam, ketika berhadapan dengan kekuatan lokal, demikian menurut pernyataan penduduk di wilayah yang berada di bawah pengaruh Al Qa'eda. Demikian menurut penduduk yang tinggal di daerah yang dikuasai Al-Qa'eda. Ketika mengambil alih Al Mukalla pada bulan April, Al-Qa'eda merebut gedung pemerintah dan menggunakan truk untuk mengangkut lebih dari $120 juta dari bank sentral. Namun kemudian mereka menyerahkan kekuasaan kepada sebuah Dewan Sipil dengan memberikan anggaran belanja lebih dari $4 juta dolar untuk menyediakan pelayanan, suatu program yang bisa diterima oleh pejabat lokal yang berusaha membantu penduduk selama masa perang. 'Kami bukan kaki tangan Al-Qa'eda’ kata Abdul Hakim ibnu Mahfuud, sekretaris jendral dewan kota dalam sebuah wawancara via telepon. 'Kami membentuk dewan ini untuk mencegah terjadinya perusakan atas kota ini’.

Menurut warga, dewan sementara tersebut memberikan gaji dan mendistribusikan bahan bakar minyak. Akan tetapi Al Qa'idah tetap mengontrol kantor kepolisian untuk menyelesaikan perselisihan. Sejauh ini mereka tidak berusaha mengadakan larangan merokok dan mengatur bagaimana cara wanita berpakaian. Mereka pun tidak menyebut dirinya al-Qa'eda, tetapi menggunakan nama Putra-Putra Hadhramaut untuk menekankan hubungannya dengan provinsi di sekitarnya. .."

Afiliasi al Qa'idah di Suriah, Jabhah an-Nushrah, telah menjadikan dirinya sebagai komponen penting bagi pasukan pemberontak untuk menggulingkan Assad. Baru-baru ini mereka bergabung dengan sebuah koalisi pemberontak bernama Jaisyul Fath, menyatukan diri mereka dalam satu kubu sebagai kelompok yang mendapat dukungan dari Barat. 'Kelompok-kelompok di dalamnya adalah Muslim, tidak ada bedanya dengan kami’ kata Abu Muhammad al Jaulani, pemimpin Jabhah an-Nushrah, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera baru-baru ini. Dia juga mengatakan kelompok ini telah diminta oleh Aiman azh-Zhawahiri untuk tidak melancarkan serangan terhadap negara-negara asing yang bisa mengacaukan peperangan melawan Assad..."

"Para warga sipil yang hidup di wilayah-wilayah Jabhah An-Nushrah juga berkata bahwa kelompok tersebut telah berupaya membangun dukungan warga lokal, menahan diri untuk tidak menerapkan syari'at Islam ketika warga menolak. Sementara itu, para pejuangnya telah mendistribusikan makanan dan memperbaiki pipa saluran air. Di desa Binnisy, akhir-akhir ini mereka membuat tim dalam sebuah pertandingan sepakbola persahabatan melawan kelompok pemberontak lainnya. Tim An-Nushrah menggunakan pakaian sejalan dengan Islam yang moderat dan mereka kalah melawan para pemain yang menggunakan celana pendek. 'An-Nushrah bukan ekstrimis’ kata seorang aktivis yang menyaksikan pertandingan. 'Mereka mendistribusikan selebaran di pos-pos pemeriksaan dan mengajak manusia menuju agama Islam."

Berdasarkan pandangan politik thawaghit terhadap Al Qa'idah di Suriah, penulis dan jurnalis murtad Ahmed Rashid menulis sebuah artikel di "New York Review of Books" pada "15 Juni 2015" yang menjelaskan kondisi pendekatan dan rekonsiliasi antara rezim thaghut dengan Al Qa'idah. Judul artikel tersebut adalah "Mengapa Kami Membutuhkan Al-Qa'eda"! Sebagian dari apa yang ditulisnya ialah, "Apakah kelompok dalam periode yang lama dipandang sebagai organisasi teroris paling berbahaya di dunia itu akan menjadi opsi tersisa di Timur Tengah bagi AS dan sekutu-sekutunya? Para anggota koalisi pimpinan AS melawan ISIS, termasuk Turki dan Arab Saudi, secara aktif mendukung an-Nushrah dengan senjata dan uang [berupa dukungan tidak langsung, melalui operasi gabungan dewan dan militer oposisi, dewan sipil dan lokal, serta dengan pengakuan dan pengawasan negara-negara pemberi bantuan]. Sebagian besar dunia Arab saat ini intinya berpihak kepada AQAP dalam perang yang dipimpin Saudi melawan para pemberontak Houtsi di negara tersebut. Faktanya ialah, Al-Qa'eda mengalami perubahan besar semenjak kematian Usamah bin Ladin dan kemunculan ISIS. Mereka terus menjauhkan diri dari ISIS dalam perkara strategi dan menentukan sasaran di medan pertempuran, baik di Suriah maupun Yaman."

"Dalam perang ini negara-negara Arab secara terbuka menghindari pemboman dan penyerangan terhadap an-Nushrah dan AQAP. Justru sekarang mereka menyediakan untuk keduanya dukungan dana dan senjata [secara tidak langsung, lewat faksi-faksi yang bersekutu dengan mereka]. Oleh karena kedua kelompok tersebut memiliki tujuan yang sejalan dengan negara-negara Arab. Maka an-Nushrah dan AQAP telah menjadi sekutu dan bukan musuh bagi negara-negara Arab, meskipun faktanya al-Qa'eda sendiri pernah berupaya menggulingkan rezim-rezim ini..."

"Negara-negara Arab membenarkan kesimpulan bahwa al-Qa'eda sedang berkembang. Kedua kelompok itu kini telah mengambil alih kota-kota besar dan kecil di negara operasi masing-masing. Dan keduanya telah membuat kebijakan lokal yang secara mencolok berbeda dengan ISIS."

"Mengingat an-Nushrah adalah rival utama bagi ISIS di Suriah. Tidak seperti ISIS, an-Nushrah bekerjasama dengan kelompok anti-Assad lainnya dan akhir-akhir ini ikut andil dalam aliansi bersama milisi-milisi pemberontak "Jaisyul Fath" di utara Suriah. Lebih dari itu, berbeda dengan ISIS yang sebagian besar terdiri dari pasukan internasional dan pejuang non-Suriah, para pejuang an-Nushrah hampir seluruhnya orang asli Suriah, sehingga mereka lebih dapat diandalkan dan lebih sesuai dengan masa depan Suriah. Sementara itu, dalam wawancara dengan al-Jazeera, para pemimpin an-Nushrah telah berjanji untuk tidak membuat target-target serangan di Barat, memperkenalkan sebuah ideologi yang bisa disebut 'jihadis nasionalis' daripada jihad global. Beberapa bulan terakhir ini, para pemimpin an-Nushrah telah menurunkan intensitas seruan penegakan hukum Islam versi mereka yang brutal, sambil memegang rencana mereka untuk membangun sebuah Khilafah".

"Perubahan-perubahan serupa ini sebagian besar terjadi pula dengan AQAP di Yaman. Kelompok tersebut merebut ibukota Mukalla, merampok bank, lalu mundur. Mereka sendiri tidak menjalankan pemerintahan atau memberlakukan hukum syari'at, tetapi menerapkan sebuah dewan yang terdiri dari para tokoh. Mereka meminta dewan tersebut untuk berfokus dalam mengurus dan menyediakan layanan bagi masyarakat..."

Yaroslav Trofimov menulis sebuah tulisan serupa untuk Wall Street Journal pada "11 Juni 2015" berjudul "Bagi Sekutu-Sekutu AS, Afiliasi al-Qa'eda di Suriah Dipandang Berkurang Kejahatannya - Ketika Daulah Islamiyah meraih kemenangan, seruan untuk mendekati Jabhah an-Nushrah meningkat." Di dalamnya dia berkata, "Dalam perang tiga arah yang melanda Suriah, apakah cabang lokal al-Qa'eda dipandang kurang jahat hingga perlu dirayu daripada dibom? Ini merupakan pandangan yang terus meningkat dari beberapa sekutu regional Amerika dan bahkan beberapa pejabat Barat. Tiga kekuatan utama yang tersisa di lapangan [di Suriah] saat ini ialah rezim Assad, Daulah Islamiyah, dan aliansi pemberontak Islamis di mana Jabhah An-Nushrah -afiliasi al Qa'idah yang digolongkan ke dalam kategori kelompok teroris oleh AS dan PBB- memainkan peran besar. Karena kalah, para pemberontak yang didukung Barat dan lebih sekuler kini bahu-membahu bersama dengan an-Nushrah di medan-medan tempur kunci. Di saat rezim Assad terguncang, sementara Daulah Islamiyah atau ISIS menang, baik di Suriah maupun lraq, maka mendekati an-Nushrah yang lebih pragmatis merupakan satu-satunya pilihan rasional bagi komunitas internasional, yaitu mereka yang menyokong model pendekatan ini..."

"Pada awalnya, sebagian besar pihak Turki dan Qatar lah yang membantu kerjasama para pemberontak Islam Suriah dengan an-Nushrah. Negara regional yang besar seperti Saudi Arabia nampak sedikit enggan dan berhati-hati dalam bekerjasama dengan al-Qa'eda [dengan mendukung faksi-faksi yang beraliansi dengan Jabhah Jaulani]. Dalam beberapa bulan terakhir, Raja Arab Saudi yang baru, Salman mulai semakin mendekati Doha dan Ankara di dalam mendukung aliansi pemberontak yang didominasi kaum Islamis termasuk an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan para diplomat dan pejabat regional. Negara-negara ini memandang awalnya penderitaan yang dialami Suriah oleh rezim Assad sebagai penyebab utama kemunculan Daulah Islamiyah, sementara mereka lebih suka melihat an-Nushrah dan sekutu-sekutunya daripada Daulah Islamiyah yang masuk ke wilayah yang dikuasai oleh Damaskus."

"Tidak seperti Daulah Islamiyah, an-Nushrah sebagian besar terdiri dari orang Suriah, sedangkan pandangan keagamaannya, meski pastinya radikal, tapi tidak terlalu ekstrim. Sementara mereka menahan diri untuk tidak menyerang Israel meskipun memegang kendali atas kota-kota sepanjang garis perbatasan di Dataran Tinggi Golan, kelompok tersebut berbeda dengan Daulah Islamiyah dan memiliki kemauan bekerjasama dengan para kelompok pemberontak non-lslamis."

Frederic Hof yang bekerja sebagai wakil Presiden Obama bagi oposisi Suriah berkata, "An-Nushrah benar-benar telah menjadi magnet bagi para pejuang muda Suriah yang tidak mempunyai agenda jihadis tertentu atau bahkan kelompok sektarian yang radikal. Upaya an-Nushrah untuk membedakan diri dari Daulah Islamiyah tampak jelas akhir-akhir ini, terutama setelah wawancara bersama pemimpin kelompok tersebut, Abu Muhammad al-Jaulani, dengan jaringan televisi Qatar al-Jazeera. Sambil mengenaikan kemeja kotak-kotak dengan wajahnya tertutup, Jaulani duduk di atas kursi bersandar tinggi seperti singgasana yang pernah diduduki oleh mantan gubernur Idlib. la menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan yang menjebak selama berlangsungnya siaran terpisah hampir satu jam lamanya yang disiarkan secara luas di kawasan tersebut sebagai upaya Qatar untuk membuat an-Nushrah tampak lebih menarik. Seraya berulang kali menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin al-Qa'eda Aiman azh-Zhawahiri, Jaulani berkata bahwa an-Nushrah tidak menjadikan Barat sebagai target serangan dan menyebutkan kata-kata perdamaian berkaitan dengan minoritas Kristen".

"Sementara itu Daulah Islamiyah bersifat ofensif, tampaknya Washington bertindak 'cukup jauh' untuk mentolerir awal kolaborasi antara sekutu-sekutu regionalnya dan an-Nushrah. Demikian seperti yang dikatakan Admiral Angkatan Laut AS James Stavridis yang telah pensiun dua tahun lalu sebagai panglima sekutu tertinggi NATO. Dia berkata, 'Tampaknya kita akan beroperasi bersama-sama dengan kader-kader an-Nushrah. Tetapi jika sekutu-sekutu kita bekerja bersama mereka, maka hal itu bisa diterima. Jika anda melihat kembali Perang Dunia II, maka kita berkoalisi dengan orang-orang yang mempunyai pandangan yang jauh berbeda, termasuk Stalin dari Rusia' ... 'Saya kira itu bukan sebuah hal yang membuat AS harus terhenti terkait masalah keterlibatan dalam koalisi itu."

Dengan mengenyampingkan berita dan analisis mereka, perkara ini masih menjadi opini yang paling banyak ditawarkan para salibis dan orang murtad bagi pemerintah Amerika! Jadi, kapan tentara Jabhah Jaulani mau bertaubat dan menyadari bahwa perang mereka melawan Daulah Islamiyah hanya melayani kepentingan sekutu-sekutu mereka di Koalisi Shahawat yang merupakan bagian dan sekutu dari sekutu mereka (Koalisi Salibis)? Kapan pula orang-orang yang "berpikiran rasional" di dalam al-Qa'idah memperbaiki kondisi organisasi mereka sebelum al Qa'idah -dengan semua cabangnya- menjadi gerakan Shahawat, yang dikendalikan oleh kedengkian, permusuhan, sikap berat sebelah, dan media-media penyihir dalam perang melawan Khilafah yang telah bangkit kembali?