Rabu, 25 April 2018

MENGAPA KAMI MEMBENCI KALIAN DAN MEMERANGI KALIAN

DABIQ 15 - ARTIKEL

MENGAPA KAMI MEMBENCI KALIAN DAN MEMERANGI KALIAN

Tidak lama setelah terjadinya serangan yang diberkahi terhadap kaum sodom di sebuah klub malam salibis oleh sang mujahid Omar Mateen, para politisi Amerika dengan cepat melompat kedalam lampu sorot dan mencela peristiwa penembakan tersebut, menyatakan bahwa itu adalah tindakan kriminal yang berlandaskan kebencian, terorisme, dan juga kekerasan yang keji. Berlandaskan kebencian?

Ya, tidak ada keraguan bahwa Kaum muslimin sangat membenci kaum sodom liberal, sebagaimana mestinya manusia yang masih memiliki fitrah (sifat manusia sejak lahir) yang utuh. Sebuah tindakan terorisme? Pasti, karena kaum muslimin telah diperintahkan untuk meneror orang kafir musuh Allah. Tetapi sebuah tindakan kekerasan yang keji?

Saat ini, seseorang mungkin berpikir bahwa rata-rata orang barat akan meninggalkan klaim yang melelahkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh mujahidin –yang telah berulang kali menyatakan tujuan, niat, dan motivasi mereka– tidak masuk akal. Kecuali jika anda benar-benar –dan secara naif– percaya bahwa kejahatan yang dilakukan oleh barat terhadap Islam dan kaum Muslimin, baik itu menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, membakar al-Qur’an, atau mengobarkan perang melawan Khilafah, tidak akan memicu pembalasan yang dilakukan mujahidin, dan kalian tentu sangat memahami bahwa serangan yang dilakukan oleh Omar Mateen, Larossi Aballa dan yang lain sebelum dan sesudah mereka, adalah dalam rangka membalas dendam untuk Islam dan Kaum Muslimin, dan hal ini sangatlah masuk akal. Satu-satunya hal yang justru tidak masuk akal adalah apabila tidak adanya kekerasan atau tindakan pembalasan yang sengit pada urutan pertama!

Bagaimanapun juga, banyak orang barat yang sudah memahami bahwa klaim serangan yang dilakukan oleh mujahidin sebagai suatu tindakan yang keji sambil terus-menerus mempertanyakan mengapa kami harus membenci Barat dan mengapa kami harus memerangi mereka yang tidak lain hanya sekedar tindakan politik dan alat propaganda saja. Para politisi akan mengatakan hal itu tanpa mempedulikan betapa banyak pertentangan antara fakta dan akal sehat yang hanya digunakan untuk meningkatkan popularitas dalam pungutan suara dalam putaran pemilihan selanjutnya. Pengamat dan jurnalis juga akan mengatakan demikian dalam rangka menjaga diri dari menjadi target bila mengatakan sesuatu yang menurut khalayak sebagai “kesalahan politik”. Para “imam” murtadd di barat juga akan mengikuti pernyataan klise yang melelahkan tersebut demi menghindari reaksi dari komunitas kafir dimana mereka telah memutuskan untuk tinggal berdampingan dengannya. Intinya adalah, orang-orang mengetahui bahwa itu adalah sesuatu kebodohan, tapi mereka tetap mengulangi tanpa menghiraukannya karena mereka takut akan konsekuensi bila tidak sesuai naskah.

Tidak diragukan lagi, terdapat pengecualian diantara orang kafir, orang yang tanpa malu-malu mendeklarasikan bahwa jihad dan hukum syari’ah –sebagaimana hal lain yang dianggap tabu oleh kelompok “islam adalah agama damai”– yang pada faktanya mereka sangatlah islami, namun mereka cenderung menjadi manusia dengan kredibilitas rendah yang terwarnai oleh kehidupan sosial di sekitarnya, sehingga suara mereka diabaikan dan sejumlah besar orang bodoh terus mempercayai narasi salah ini. Dengan demikian, menjadi sesuatu yang penting bagi kami untuk mengklarifikasi kepada barat dalam bahasa yang terang –dan sekali lagi– mengapa kami harus membencimu dan mengapa kami harus memerangimu.

1. Pertama dan yang paling utama, Kami harus membencimu karena kalian adalah orang kafir; kalian menolak ke-Esaan Allah –baik kalian menyadarinya ataupun tidak– dengan mengadakan sekutu bagi-Nya dalam beribadah, kalian menghina dan menyekutukan-Nya, mengklaim bahwa Dia mempunyai anak, kalian menciptakan kebohongan terhadap Nabi dan Rasul-Nya, dan kalian mengikuti setiap perbuatan setan. Dan karena alasan inilah kami diperintahkan untuk secara terbuka mendeklarasikan kebencian dan permusuhan terhadap kalian. “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang–orang yang bersama dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama–lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Al-Mumtahanah: 4). Selanjutnya, sebagaimana kekafiranmu menjadi alasan utama kami untuk memerangi kalian, maka kami telah diperintahkan untuk memerangi orang kafir sampai mereka tunduk pada syari’at Islam, baik itu menjadi muslim atau membayar jizyah –dan kepada mereka yang menerima pilihan ini– dapat hidup dalam kehinaan dibawah hukum Islam. Meskipun seandainya kalian berhenti memerangi kami, skenario terbaik kalian dalam kondisi perang ini adalah kami akan menunda serangan terhadap kalian –jika kami menganggap itu diperlukan– agar lebih fokus terhadap serangan dan ancaman yang lebih dekat, sebelum pada akhirnya kami melanjutkan kampanye memerangi kalian. Selain itu, terdapat juga pilihan gencatan senjata sementara, pilihan ini adalah satu-satunya skenario yang dapat kalian miliki untuk beristirahat sebentar dari serangan kami. Namun pada akhirnya kalian tidak akan mendapatkan genjatan tanpa jangka waktu dalam peperangan kami terhadap kalian. Paling tidak, kalian hanya akan bisa menundanya sementara. “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama ini semata-mata hanya untuk Allah.” (Al-Baqarah: 193).

2. Kami harus membenci kalian karena masyarakat sekuler dan liberal kalian yang mengizinkan banyak hal yang telah Allah larang, dan kalian justru melarang banyak hal yang Allah perbolehkan, suatu hal yang tidak kalian pedulikan karena kalian memisahkan antara agama dan negara, yang dengannya kekuasaan tertinggi atas kalian adalah akal dan nafsu kalian lewat legislator yang kalian pilih untuk menjadi penguasa. Dengan demikian, kalian ingin merampas hak Allah untuk ditaati dan kalian merebut hak itu untuk diri kalian sendiri. “Keputusan itu hanya milik Allah” (Yusuf: 40). Liberalisme sekuler kalian telah mengarahkan kalian untuk menoleransi dan bahkan mendukung “Hak Kaum Gay”, mengizinkan alkohol, narkoba, zina, judi, dan riba hingga menjadi tersebar luas, dan menghasut manusia untuk mencemooh mereka yang mencela perbuatan dosa yang keji dan buruk ini. Oleh karena itu kami mengobarkan perang terhadap kalian untuk menghentikan langkah kalian yang menyebarkan kekafiran dan penyelewengan asusila, sekulerisme, nasionalisme kalian, nilai-nilai liberal yang rusak, kekristenan dan atheisme kalian – dan semua kebejatan serta kerusakan yang mengikutinya. Kalian telah menjadikannya sebagai misi untuk “membebaskan” masyarakat muslim; dan begitu juga kami telah menjadikannya misi untuk memerangi pengaruh kalian dan melindungi manusia dari konsep sesat dan cara hidup kalian yang menyimpang.

3. Dalam kasus kaum atheis, kami membenci kalian dan mengobarkan perang terhadap kalian karena kalian mengingkari keberadaan Tuhan dan penciptamu. Kalian telah menyaksikan betapa rumitnya proses penciptaan makhluk, dan betapa menakjubkan dan misteriusnya hukum fisika yang mampu dengan tepatnya mengatur alam semesta, namun kalian tetap bersikeras bahwa semua itu terjadi karena kebetulan acak, dan untuk yang satu ini, maka itu harus disalahkan, dicela, dihinakan dan diasingkan karena pengakuan mereka akan keagungan tanda-tanda yang kita saksikan hari demi hari adalah ciptaan yang Maha Bijaksana, pencipta yang Maha Mengetahui dan itu bukanlah hasil dari suatu kebetulan saja. “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (At-Tur: 35). Pengingkaran kalian akan pencipta kalian menggiring kalian untuk menolak adanya hari penghakiman dan mengklaim bahwa “hidup hanya sekali”. “Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7).

4. Kami harus membenci kalian karena kejahatan kalian terhadap Islam dan kami harus memerangi kalian untuk menghukum kalian atas perbuatan kalian yang melampaui batas terhadap agama kami. Selama kalian terus-menerus menghina keimanan kami, menghina para Nabi Allah –termasuk Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam– membakar al-Qur’an, dan secara terbuka mengejek hukum Syari’ah, kami akan terus melakukan pembalasan, tidak dengan slogan ataupun papan demonstrasi, melainkan dengan peluru dan pisau.

5. Kami harus membencimu karena kejahatan kalian terhadap umat Muslim; bom dari drone dan pesawat tempur kalian yang membunuh dan meluluh lantahkan saudara-saudara kami di seluruh penjuru dunia, dan penindasan, penyiksaan, serta pengumuman perang terhadap siapa saja yang mengusung kebenaran oleh boneka kalian yang berada di tanah yang kalian jajah. Oleh karena itu kami harus memerangi kalian untuk menghentikan kalian dari membunuhi lelaki, wanita, dan anak-anak kami, untuk membebaskan mereka yang kalian penjarakan dan kalian siksa, dan untuk membalaskan dendam kaum Muslimin yang tidak terhitung jumlahnya yang menderita akibat perbuatan kalian.

6. Kami harus membenci kalian karena kalian menginvasi tanah kami dan kami harus memerangi kalian untuk mengusir keluar kalian dari tanah kami. Selama masih ada satu inchi saja dari tanah yang harus kami bebaskan, maka jihad akan terus dilakukan sebagai suatu kewajiban individu atas setiap muslim.

Hal terpenting yang harus diketahui adalah meskipun beberapa orang akan berargumen bahwa kebijakan luar negeri kalianlah yang menimbulkan kebencian kami terhadap kalian, maka ketahuilah bahwa itu adalah alasan sekunder kami, karena itu kami menempatkannya di posisi terakhir dari daftar kami. Faktanya adalah, meskipun kalian berhenti membom kami, memenjarakan kami, menyiksa kami, memfitnah kami, menjajah tanah kami, namun kami harus terus membenci kalian karena alasan utama kami membenci kalian tidak akan pernah berhenti sampai kalian masuk Islam. Bahkan jika kalian membayar jizyah dan hidup dibawah naungan Islam dalam keadaan hina, kami harus tetap membenci kalian. Tidak diragukan lagi, kami akan berhenti memerangi kalian sebagaimana kami berhenti memerangi orang kafir manapun yang mengadakan perjanjian damai dengan kami, namun kami tidak akan pernah berhenti membenci kalian.

Dan tidak kalah penting untuk difahami adalah bahwa kami memerangi kalian itu tidak hanya untuk menghukum dan menghalangi kalian, namun juga untuk memberikan kalian kebebasan yang sebenarnya dalam kehidupan ini dan keselamatan di kehidupan akhirat, kebebasan dari menjadi budak akal dan nafsu, budak para pendeta dan pembuat undang-undang, dan keselamatan dengan menyembah Tuhan yang menciptakan kalian tanpa mempersekutukan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya. Kami harus memerangi kalian dalam rangka mengeluarkan kalian dari kegelapan kekufuran kepada cahaya Islam, dan membebaskan kalian dari ikatan kehidupan keduniawian saja, sehingga kalian bisa menikmati keberkahan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Pokok dari masalah ini adalah, sesungguhnya disana terdapat irama dari tindakan terrorisme, peperangan, kekejaman, dan kebrutalan kami. Sebagaimana beberapa jurnalis liberal akan menginginkan kalian untuk percaya bahwa apa yang kami lakukan itu tidak lebih karena kami hanyalah monster tanpa logika dibalik semua tindakan kami, kenyataanya adalah kami terus mengobarkan –dan akan meningkatkan– peperangan yang telah direncanakan dimana barat mengira bahwa perang telah berakhir beberapa tahun lalu. Kami akan terus menyeret kalian jauh lebih dalam ke lumpur, dan kalian mengira kalian berhasil lari darinya padanya; padahal kalian hanya terjebak jauh lebih terperosok lagi kedalam kesuraman air lumpur itu… dan kami melakukan hal itu seraya menawarkan jalan keluar kepada kalian dengan syarat yang kami tentukan. Sehingga kalian dapat terus mempercayai bahwa para “teroris menyedihkan” itu membenci kalian karena menginginkan tanah dan hutan kalian, dan kalian akan terus menghabiskan uang dengan jumlah yang konyol untuk mencoba memenangkan peperangan yang tidak bisa dimenangkan, atau kalian dapat menerima kenyataan dan menyadari bahwa kami tidak akan berhenti membenci kalian sampai kalian menerima Islam, dan kami tidak akan berhenti memerangi kalian sampai kalian siap untuk meninggalkan lumpur peperangan dan teror kami ini dengan jalan keluar yang telah kami tentukan, jalan keluar yang ditetapkan oleh Tuhan kami bagi para ahli kitab; Islam, Jizyah, atau –sebagaimana yang kami maksudkan tentang penangguhan– yaitu gencatan senjata sementara.

UNTAIAN NASEHAT TULUS DARI MUALAF AMERIKA DI DAULAH ISLAM KEPADA MANTAN KRISTEN YANG MEMELUK ISLAM

DABIQ 15 - ARTIKEL

UNTAIAN NASEHAT TULUS
DARI MUALAF AMERIKA DI DAULAH ISLAM
KEPADA MANTAN KRISTEN YANG MEMELUK ISLAM

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du:

Sebagaimana tidak ada yang layak disembah selain Allah sang Maha Raja, maka tidak ada yang lebih berhak untuk menerima Pujian kami, cinta kami, dan ketaatan kami selain Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia yang telah menciptakan kita, mendidik kita, dan mengantarkan kita semenjak kecil hingga dewasa, memberi kita tanggung jawab untuk memenuhi tugas kita kepada-Nya, Pencipta kita, yang kita ketahui sebagai Penguasa dan satu-satunya sumber utama yang berhak mengontrol kehidupan kita.

Diantara rahmat-Nya yang terbesar atas umat manusia adalah Dia mengutus seorang nabi kepada mereka dengan misi sederhana, dan memerintahkan semua manusia untuk mengikutinya hingga sebelum akhir masa hidupnya di dunia. Misi untuk menyebarkan ke-Esa-an Allah Subhanahu wa ta’ala dengan mengikuti ketetapan-Nya dan menyeru manusia kepada-Nya, dengan harapan bahwa beberapa manusia mungkin akan merespon seruan dan dapat diselamatkan dari api (neraka), yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa "Agama itu adalah nasehat untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan kepada para pemimpin Muslim serta kaum Muslimin secara umum" (Muslim).

Ini adalah untaian nasehat yang tulus dari kami kepadamu, semoga Allah merahmatimu dan membimbing setiap langkahmu.

Waspadalah terhadap para "imam" yang menyerumu ke pintu neraka. Mereka yang tampil sebagai "Muslim" dan berbicara dengan bahasa "Islam," tetapi mereka menyeru kepada perpecahan dan menjauh dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya, mereka menyeru untuk menyembah Tuhan-Tuhan palsu, memuja jalan dari orang-orang yang dibenci Allah, dan meninggalkan seruan untuk berdiri pada satu parit bersama Muslim dalam melawan musuh-musuh Islam! Mereka menukar kalimat yang jelas didalam Sunnah dengan kalimat mengambang yang dikatakan oleh manusia yang bisa salah, beberapa ulama tidak mengutip dengan jujur karena sudah tua, tetapi kebanyakan bid’ah kontemporer itu karena kesesatan yang parah. Mereka akan menggodamu ke berbagai jalan Setan dan untuk menjauh dari jalan Allah yang lurus. Apakah kamu tidak membaca bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, "dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya." (Al-An'am: 153)

Sekarang engkau telah menemukan kebenaran akan Tuhanmu dan meninggalkan jalan Setan yang menyesatkan, waspadalah terhadap penyakit riddah (murtad) yang telah tersebar luas. Apakah sebegitu cepatnya engkau berpaling dari syukur atas bimbingan Allah dan mundur kejalan setan, dan bahkan bila itu hanya demi kedok Islam belaka?

"Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka" (Muhammad: 25).

"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" (Al-Baqarah: 217).

Ingatlah bahwa Allah tidak memerintahkan engkau untuk mentaati kelompok apapun kecuali kepada satu-satunya bangsa Muslim, dan daripada melarang engkau menyempal dan membuat atau bergabung dengan kelompok lainnya, ingatlah bahwa Dia Subhanahu wa ta’ala berfirman, "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (Al-Anbiya: 92), "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Ar-Ruum: 32), "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai," (Al 'Imran: 103), dan “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim" (Al-Hajj: 78).

Bangsa tunggal itu adalah kelompok yang mengikuti Qur’an dan Sunnah, dengan ketaatan kepada satu pemimpin, Khalifah kaum muslimin. Dan ketika muncul para "penyeru ke pintu neraka," yaitu mereka yang berasal dari "kulit/golongan kita dan berbicara dengan bahasa kita" dan yang mengikutinya akan dilemparkan ke neraka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk "memegang erat jama’ah kaum Muslimin dan pemimpin mereka “ (Al-Bukhari dan Muslim).

Ya, kelompok tunggal umat Islam dengan pemimpin tunggal mereka, dan orang yang disekitar mereka yang bersatu untuk memenuhi perintah Allah, "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu" (An-Nisa: 59).

Apakah engkau tidak melihat begitu banyaknya mereka yang disebut sebagai "imam" dan "ulama" yang menyeru kepada persekutuan dengan orang-orang kafir yang memerangi Islam, yang menyeru untuk menjaga perpecahan bangsa Muslim dengan adanya perbatasan khayal, dan menolak penegakkan kembali Khilafah yang dinyatakan oleh banyak ulama terdahulu sebagai "kewajiban yang paling utama?!" Apakah para imam ini tidak "satu kuit atau satu golongan dan juga tidak berbicara dengan bahasa kita," namun mereka malah menyeru kepada sesuatu yang pasti akan menyebabkan kehancuran bagi kita? Sesungguhnya, mereka adalah penyeru ke gerbang neraka, jadi berhati-hatilah dan jangan sampai tertipu oleh mereka.

Jadi tolaklah seruan kepada perpecahan ini dan datanglah kemari. Hiduplah dalam kehidupan Islam karena engkau telah meninggalkan jalan yang bathil, dan janganlah mati dalam kematian Jahiliyah, yaitu ketika tidak ada pemersatu kaum Muslimin (khilafah) yang berbai’at kepada seorang imam tunggal dan dengan demikian ia tidak memiliki kewajiban untuk taat kepada orang yang berhak dengan sah.

Sesungguhnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak terikat bai’at maka dia mati dalam kematian jahiliyah" (Muslim).

Dan dia juga bersabda, "Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu dalam diri pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan ketaatan atas pemimpinnya, bahkan hanya sejengkal (dan mati), maka ia mati dalam kematian jahiliyah" (Al-Bukhari dan Muslim).

Pada awal Ramadhan tahun 1435 H, para mujahidin yang terlibat dalam pertempuran sengit melawan salibis, sekutu mereka, dan boneka mereka di Iraq dan Syam, telah mencapai sebuah titik di mana semua syarat yang diperlukan untuk mengumumkan Khilafah telah terpenuhi. Jadi dengan sukacita yang besar, kewajiban yang hilang dihidupkan kembali dan hanya karena karunia Allah bangsa Muslim dapat sekali lagi bersatu dibawah imam tunggal, Ibrahim Ibn 'Awwad al-Badriy Hafizhahullah.

Terlepas dimanapun kamu berada, ketahuilah bahwa berjanji setia (berbai’at) adalah kewajiban atasmu, yaitu untuk mendengarkan pemimpinmu, Khalifah, dan menaati perintahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Wajib atas seorang Muslim untuk mendengarkan dan taat atas apa yang dia cintai dan apa yang dia benci, kecuali dalam kemaksiatan. Jika ia memerintahkan untuk bermaksiat, maka janganlah mendengarkan atau menaatinya (dalam dosa itu)“ (Al-Bukhari dan Muslim).

Bersegeralah untuk hijrah ke negara Islam, di mana Syari’ah diterapkan secara kaffah. Hijrah adalah tanda dari kecintaan seseorang atas persatuan dan kepatuhannya kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini juga dinyatakan lagi sebagai perintah langsung dari Amirul Muminin, dengan mengatakan, "Wahai Muslim di manapun kamu berada, barangsiapa mampu berHijrah ke Daulah Islam, maka lakukanlah, karena Hijrah ke Daulah Islam adalah wajib" (Pesan kepada Mujahidin dan umat Islam).

Tetapi jika kamu tidak mempu melakukannya, maka ketahuilah bahwa kamu telah diberkahi dengan kesempatan untuk menjalankan tujuan yang jauh lebih besar daripada tinggal di antara umat Islam dan berjihad di tepian luar tanah Islam. Sesungguhnya, kamu sedang berada di belakang garis pertahanan musuh dan dapat menyerang mereka tepat di tempat yang paling menyakitkan bagi mereka.

Berhati-hatilah agar tidak jatuh ke dalam alasan palsu yang menahanmu dari tujuan sejati dan kewajiban terbesar setelah menjadi seorang Muslim. Jangan tertipu oleh klaim "jihad yang hakiki" adalah memberikan dakwah - bukankah dakwah yang nyata itu adalah dengan mengobarkan jihad!

Sebagian besar manusia sangat menyadari akan keberadaan Islam dan bahkan ajarannya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa tindakan dapat berbicara lebih keras daripada kata-kata yang terucap. Darah orang-orang kafir adalah wajib untuk ditumpahkan. Perintah ini sangatlah jelas. Bunuh orang-orang kafir, karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, "Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka" (At-Taubah: 5).

Maka seberapa besar lagi kewajiban untuk melakukannya setelah orang-orang kafir ini membantai umat Islam di setiap tempat dimana perang salib berlangsung dalam memerangi Islam?

Dalam hal ini, juru bicara Khilafah Abu Muhammad al-'Adnaniy hafizhahullah berkata, "Jika thawaghit menutup dihadapan kalian pintu Hijrah, maka bukalah dihadapan mereka pintu jihad... Jika salah seorang dari kalian berharap dan berusaha keras untuk sampai di Daulah Islamiyah, maka kami di sini berharap bisa di tempat kalian untuk menimpakan bencana terhadap para salibis agar tidak bisa tidur siang malam, mengancam mereka, meneror mereka hingga seorang tetangga takut dengan tetangga lainnya" (Agar Mereka Hidup Dengan Bukti Nyata).

Dan jangan salah, karena "Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu" (An-Nisa: 101).

Musuh yang dipelopori oleh Tentara Salib dan sekutu Yahudi mereka, belum lagi boneka mereka di Teluk dan negara-negara lainnya yang dijajah oleh penguasa murtadd. Ini adalah diantara mereka yang melindungi rezim murtad, partai-partai, dan faksi-faksi di Iraq, Syam, Libya, Mesir, Yaman, Somalia, Afrika Barat, Khurasan, Chechnya, Filipina, dan sebagainya, yang berusaha semaksimal mungkin untuk menegakkan paganisme mereka dengan berperang melawan orang-orang yang hanya menerima untuk dikuasai dan diperintah oleh Pencipta mereka di bawah hukum-Nya.

Mereka adalah orang-orang dibalik berkumpulnya para "imam" murtad dari timur dan barat, dan tidak ada alasan lain kecuali untuk menjaga status quo. Ini adalah orang-orang yang mendanai dan meluncurkan serangan udara demi membunuhi Muslim setiap hari di Iraq, Syam, Libya, dan di tempat lainnya.

Dan semua musuh nyata ini didukung oleh pemberi suara Tentara Salib dan pembayar pajak di negara-negara demokrasi Barat. sesungguhnya, setiap bangsa salib yang mengaku diperintah oleh "keinginan Rakyat" telah melibatkan penduduk mereka sendiri dalam kejahatan militer yang mereka lakukan terhadap bangsa Muslim, menjadi kewajiban untuk menargetkan mereka bahkan lebih jelas bagi yang meragukannya.

Demikian juga, karena mereka dengan sembarangan telah membunuh kaum Muslimin dalam perang mereka melawan mujahidin, dan itu menjadi lebih wajib bagi kamu untuk menyerang negara-negara salib dan warga negara mereka di tanah air mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tentara Khilafah, Muhammad Youssef Abdulazeez dan Faisal mohammad taqabbalahumullah, masing-masing di Chattanooga dan Merced.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, "Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu" (Al-Baqarah: 194).

Jika akalmu terlalu bebal untuk menerima tugas yang telah dibuktikan dengan jelas kepadamu, maka setidaknya lihatlah ke hatimu yang memiliki cinta kepada Tuhanmu, yang mana kamu merasa bahagia saat mengaku sebagai seorang Kristen dan apakah akan memudar setelah kamu masuk Islam? Sesungguhnya, itu tidaklah mungkin, karena mencintai Allah adalah kondisi dimana seseorang memiliki iman yang benar dalam dirinya. Dan sama seperti semua hal dalam agama-Nya, Allah telah memberikan kita cara untuk membuktikan cinta kita kepada-Nya.

Dialah yang memerintahkan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mengatakan kepadanya, "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran: 31).

Dan apa cara terbaik untuk menunjukkan cinta kamu kepada Allah dalam mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka lakukanlah apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.

Sesungguhnya, dia Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan untuk mati berperang di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi, lalu terbunuh, lalu dihidupkan lagi, lalu terbunuh." (Al-Bukhari dan Muslim).

Tetapi jika kamu menolak, ketahuilah bahwa Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela" (Al-Maidah: 54).

Selanjutnya, Ingatlah bahwa Islam adalah sebuah persaudaraan, yang menjadikan setiap orang beriman itu bersaudara dalam memikul tanggung jawab, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara" (Al-Hujurat 10).

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tolonglah saudaramu baik yang zhalim (dengan menghentikannya) atau dizhalimi" (Al-Bukhari).

Dan dia Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim, tidak menganiyayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain" (Muslim).

Jika kamu tulus, kamu tidak akan pernah meninggalkan saudara Muslimmu, saudari muslimmu, dan anak-anak mereka, yang mengalami kematian, cedera, goncangan, dan kehilangan orang yang dicintainya setiap hari. Mereka tidak menginginkan lebih dari berdiri tegaknya agama Allah, agama yang kamu anut dan yang kamu klaim atasnya.

Kamu mungkin sekarang berada di kandang singa, tapi ketahuilah bahwa singa yang sesungguhnya adalah mujahid yang mengatasi semua ketakutan fana dan yang menyerang orang kafir di sekelilingnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, "Syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan sekutunya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang beriman" (Ali 'Imran: 175).

Sesungguhnya, kamu telah terjun langsung di tengah-tengah musuh, sebuah posisi yang menjadikan iri dan didambakan oleh mujahidin yang paling berani.

Adapun untaian kalimat terakhir dari nasihat kepadamu terkait operasimu, jangan membuat rencana yang rumit, tapi buatlah se-sederhana dan se-efektif mungkin. Jika kamu mampu memperoleh senjata, maka lakukanlah dan gunakanlah sesegera mungkin di tempat yang akan menyebabkan kerusakan dan kepanikan yang paling besar hingga mengantarkan musuh Allah pada kematian dan cedera. Sebagaimana orang-orang kafir yang menakut-nakuti umat Islam di negeri-negeri Islam, maka kamu harus kamu menakut-nakuti orang kafir di tanah air mereka sendiri. Tapi tidak seperti mereka, teror-mu harus adil, sebuah pembalasan yang setimpal atas kejahatan mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin.

FITHRAH MANUSIA DAN PUNAHNYA WANITA BARAT

DABIQ 15 - MUSLIMAH

FITHRAH MANUSIA DAN PUNAHNYA WANITA BARAT

Sejak hari-hari yang disebut sebagai Revolusi Perancis di Barat dan kemudian Revolusi Oktober di Timur, pada umumnya tanah kafir Kristen setelah itu dikendalikan oleh berbagai filosofi yang menyatakan perang habis-habisan melawan fitrah (sifat dasar manusia)[1]. Ajaran Darwin, Marx, Nietzsche, Durkheim, Weber, dan Freud telah membuka jalan masuk ke dalam masyarakat Barat melalui sistem pendidikan serta industri media dan dirancang untuk menghasilkan generasi dengan kekosongan jejak akan fitrah. Anak-anak -dan bahkan orang dewasa- diajari bahwa penciptaan manusia adalah murni hasil dari kekacauan, bahwa sejarah hanyalah hasil dari konflik antar material alam, bahwa agama itu hanyalah ciptaan manusia naif, bahwa kesatuan sosial keluarga itu diadopsi hanya demi kenyamanan, dan bahwa hubungan seksual adalah alasan utama di balik keputusan dan tindakan manusia. Filosofi ini menyebabkan kehancuran semua aspek dari fitrah di tanah paganisme Kristen. Mereka menghancurkan fondasi dasar religiusitas -meskipun juga telah dirusak oleh paganisme dengan kitab suci yang ternoda- dan apa yang mengikutinya baik moralitas maupun masyarakatnya.

Orang-orang kafir Kristen selama ber-abad abad telah mengadopsi agama kontradiktif yang memerangi fitrah – termasuk keyakinan bahwa Allah itu adalah Tuhan dan manusia, bahwa Dia adalah satu yang terdiri dari tiga entitas, bahwa Dia memiliki seorang ibu yang dirinya adalah manusia, dan bahwa Dia dibunuh di kayu salib! Maha Suci dan Maha tinggi Allah atas apa yang mereka katakan! Orang-orang kafir tersebut kemudian diseret ke medan perang baru untuk memerangi fitrah. Masyarakat dan Moralitas bagi mereka sekarang hanyalah konsep relatif murni yang tidak memiliki landasan atau dasar kecuali dalam apa yang didiktekan oleh keuntungan finansial dan naluri seksual. Kejahatan hanya dipandang sebagai ketidak berdayaan atau kesalah fahaman individual. Peran antara pria dan wanita tercampur, seperti tanggung jawab ayah dan ibu terhadap anak perempuan dan lelakinya. Wanita tidak perlu menjadi seorang ibu, seorang istri, atau seorang gadis, melainkan ia harus bekerja seperti laki-laki, memerintah seperti laki-laki, dan melakukan hubungan seksual seperti binatang tanpa menyadari bahwa Tuhannya mengawasi dirinya bersama pasangan keji dalam kejahatannya.

Penyimpangan terus diangkat hingga apa yang disebut dengan "Brave New World" dari Amerika dan Eropa Barat mulai melegalisasi ganja, nafsu kebinatangan, transgenderisme, sodomi, pornografi, feminisme, dan kejahatan lainnya dan menjadikan pagan Kristen Eropa, Amerika, dan Australia untuk memecahkan rekor kejahatan dari setiap bangsa kafir yang telah mendahului mereka dalam sejarah termasuk Sodom dan Gomora. Meskipun tersembunyi dilapisan dalam kegelapan nya, disana masih ada jejak fitrah yang tertekan dan terkubur di lubuk hati yang mati, dan menunggu petunjuk yang dibutuhkan dan diperlukan untuk menghapus noda yang ditinggalkan oleh paganisme Kristen dan "modernisme" Barat. Kepada hati yang mati ini, katakanlah kepadanya:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki “ (Al-Hajj: 18).

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman, "Katakanlah: "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy." Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al-Isra: 42-44).

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman, "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati." (Fussilat: 11).

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman, "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Al-Anbiya: 22).

Dalam berbagai ayat diatas, Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan hamba-Nya bahwa alam semesta yang Dia ciptakan itu memanifestasikan pengakuan ketuhanan-Nya yang hanya menyembah-Nya dengan meninggikan pujian bagi-Nya dan bersujud semata-mata kepada-Nya. Dibalik keseragaman dalam penciptaan dan apa yang didalamnya terkandung hukum yang ditetapkan oleh-Nya menjadikan Ketundukan ini hanyalah untuk-Nya. Apabila ciptaan telah mengambil tuhan lain selain penciptanya, menaati Allah dan menaati tuhan palsu, mencintai Allah dan mencintai tuhan palsu, serta takut kepada Allah dan takut tuhan palsu, maka akan runtuhlah alam semesta.

Allah subhanahu wa ta’ala juga menciptakan manusia dan menanamkan dalam dirinya fitrah, sebuah kecenderungan untuk mengenali ke-Tuhanannya dan penyembahan hanya kepada-Nya saja.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “ (Ar-Rum: 30).

Dia subhanahu wa ta’ala membuat fitrah ini sebagai bukti terhadap umat manusia dengan berfirman, "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul, kami menjadi saksi." agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (Al-A'raf: 172- 173).

Jadi fitrah inilah yang menyebabkan manusia dapat membedakan antara monotheisme (tauhid) dan politheisme (kesyirikan). Hal ini juga membantunya secara umum untuk membedakan antara kemurnian dan kekotoran, antara kesopanan dan kekejian, antara belas kasih dan kekejaman, antara keadilan dan tirani, antara kebenaran dan kepalsuan, serta antara benar dan salah. Terkait ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Setiap anak dilahirkan diatas fitrah. Orang tua-nyalah yang kemudian membuatnya menjadi seorang Yahudi atau Kristen, sebagaimana unta berkembang biak, apakah kamu pernah melihat anak unta dengan bagian tubuh terpotong hingga kamu memotongnya sendiri?" Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata, "Bacalah bila engkau menghendaki, '... fitrah dari Allah atas (setiap) manusia yang Dia ciptakan; seharusnya tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah ... '.“ (Muslim).

Dalam hal ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Mereka (orang-orang musyrik) tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila'nati Allah dan syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan. Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya." Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.“ (An-Nisa: 117-119).

Dengan demikian, fitrah berdiri dan menjadi benteng dalam menghadapi Setan ketika ia mencoba untuk menyesatkan manusia dari tauhid dan kemurnian ke paganisme dan kekejian, setan berusaha untuk melenyapkan fitrah ini, seperti yang dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits qudsi, "Setiap nikmat yang Ku-limpahkan kepada seorang hamba adalah sesuai ukuran[2]. Dan Aku menciptakan hamba-Ku semua dalam bertauhid. Memang, setan datang kepada mereka, menarik mereka dari agamanya, melarang bagi mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk membuat sekutu bagi-Ku dalam ibadah apa-apa yang tidak Aku tetapkan.” (Muslim).

Dan fitrah dalam sabda dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan perkataan sahabatnya radhiyallahu ‘anhu mencakup lebih dari sekedar pokok agama, tauhid yang murni, dan pernyataan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Fitrah juga mencakup khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, membasuh persendian, istinsyaq, berkumur dengan air, mencuci bagian pribadi setelah buang air besar atau buang air kecil, menyisir rambut, lebih memilih susu daripada minuman keras, shalat di awal waktu, dan membungkuk serta bersujud kepada Allah dengan benar. Pada dasarnya, fitrah mendorong manusia untuk tetap bersih, sehat, tenang, dan beriman.

Fitrah adalah daya tarik laki-laki terhadap wanita dan juga wanita terhadap laki-laki sambil menyandarkan daya tarik ini pada hukum perkawinan, perceraian, dan perbudakan yang telah didiktekan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Rum: 21). "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman..." "... kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu'minun: 1, 6-7).

Kebalikan dari fitrah adalah semua kekejian seksual, dan yang terburuk yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah dari kaum sodom. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan Luth berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri." Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (Al-A'raf: 80-84).

Fitrah adalah Belas kasih dan sifat keibuan dari seorang ibu kepada anaknya. "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,” (Al-Ahqaf: 15). "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Luqman: 14).

Dan karena belas kasih ibu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat budak perempuan menyusui bayi laki-laki dan berkata kepada sahabatnya, "Dapatkah engkau membayangkan dia melemparkan anaknya ke dalam api?" Mereka menjawab, "Tidak, dia tidak akan pernah melakukannya selama dia mampu untuk tidak melemparkannya." Beliau kemudian bersabda, "Allah lebih menyayangi hamba-Nya daripada sayangnya wanita itu terhadap anaknya.“ (Bukhari dan Muslim).

Dan sifat keibuan ini menjadikannya merawat anaknya di rumah, sementara itu ayahnya bekerja sebagai pencari nafkah dan ia mematuhi suaminya sebagai seorang istri. "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf" (Al-Baqarah: 233). "laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)" (An-Nisa: 34). "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al-Baqarah: 228).

Fitrah mengharuskan adanya kesederhanaan dan kesucian. "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya..." "...Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.“ (An-Nur: 31).

Fitrah adalah Wanita tidak menyerupai laki-laki, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita atau wanita yang menyerupai laki-laki (Al-Bukhari).

Fitrah adalah wanita tidak memimpin laki-laki. Dan karena alasan ini, ketika seorang putri raja Persia menjadi penguasa Persia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidak akan pernah beruntung keadaan suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada seorang perempuan." (Al-Bukhari).

Fitrah adalah wanita tidak diwajibkan untuk berperang, sebaliknya, laki-laki yang meninggalkan jihad fisik akan diadili. Dan karena alasan ini, ketika beberapa istri Nabi radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk berjihad, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya dengan bersabda, "Jihad kalian adalah haji ke makkah." (Al-Bukhari).

Fitrah adalah mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyambung tali silaturahmi, membantu yang lemah, bersedekah kepada orang miskin, menghormati tamu, menjadi tuan rumah bagi musafir, menolong yang menderita, dan memerintahkan pengikutnya untuk melakukan apa yang dia lakukan dalam hal menyembah Allah saja, meninggalkan penyembahan batu dan berhala, berkata jujur, bertanggung jawab, bersikap baik terhadap tetangga, menjauhkan diri dari kekejian, dan merawat anak yatim. "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung.” (At-Taubah: 128-129).

Persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah mewajibkan untuk menyembah Allah saja dan peribadahan seperti ini tidak akan dapat diaktualisasikan kecuali dengan cara yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala yaitu hanya dengan mengikuti jalan orang yang dipercaya untuk menyampaikan pesan dari Allah kepada umat manusia yaitu para nabi ‘Alaihis salam. Hal ini karena fitrah yang murni -meskipun itu adalah bantuan untuk membedakan antara kebenaran dan kepalsuan- tidak mampu dengan sendirinya menyimpulkan perangai pokok yang dengannya manusia harus menyembah Tuhannya, dan hukum yang adil serta terinci yang harus ia laksanakan, ataupun hal yang gaib dan akhirat yang berisi sesuatu yang harus diyakini.

Bagaimana jika kemudian fitrah tersebut dirusak oleh generasi paganisme? Dan karena rahmat-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghukum orang sebelum mengirimkan kepada mereka Rasul. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (Al-Isra: 15). Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang terakhir dari para Rasul. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam muncul di tengah Jazirah Arab, yang tenggelam dalam kegelapan paganisme dan kebodohan. Dia menyatakan pesannya, bahwa ia dikirim oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat manusia untuk menghapus kegelapan dan membimbingnya menuju terang, dan menyampaikan pesan ini atas nama Allah selama 23 tahun, ditolong dalam memerangi musuh-musuhnya di Jazirah Arab dan mereka yang berani menentang peringatannya, hingga ia dan agamanya menang atas yang lainnya termasuk Arab penyembah berhala, orang-orang Yahudi dan Kristen.

Jika dia adalah nabi palsu, sebagaimana klaim orang-orang Yahudi dan Kristen, maka apakah pantas bagi Allah yang Maha Bijaksana, untuk terus menolong pembohong untuk memerangi hamba-hambanya yang seharusnya jujur selama 23 tahun (dan berabad-abad setelahnya di tangan kekhalifahan), memfasilitasinya untuk membantai, mengusir dan memperbudakan wanita dan anak-anak mereka? Sesungguhnya, inilah bukti yang dapat dikenali oleh fitrah.

Fitrah adalah untuk menghormati dan memuliakan Perawan Maryam atas kesuciannya, kesopanannya, dan keshalihannya. Namun, penghormatan orang Kristen terhadap Maryam telah mencapai pada titik yang tidak dapat ditolerir oleh fitrah. Mereka mengklaim bahwa dia adalah "ibunya Allah" dan memohon kepadanya ketika berdoa, meskipun dia telah meninggal hampir dua ribu tahun yang lalu, dia tetap tidak mampu mendengar permintaan mereka atau mengabulkan permintaan mereka, karena memberikan izin untuk memberi syafaat dan menerimanya hanya Hak Allah saja. "Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan”." (Az-Zumar: 44).

Allah tidak pernah mengizinkan seseorang untuk mencari syafaat dari orang yang telah meninggal, terkubur, dan tidak ada. Sebaliknya, inilah paganisme dari sebagian besar manusia pada masa lalu; mereka memohon kepada yang telah mati diantara orang-orang shaleh untuk mencari syafaat, menyandarkan diri atas mereka dan bukannya bersandar hanya kepada Allah yang telah berfirman, "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk.“ (Al-Baqarah : 186).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berbicara mengenai propaganda paganisme oleh orang-orang Kristen sesat dengan berfirman, "Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil seorang anak." Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. “ (Maryam: 87-95).

Klaim bahwa Perawan Maryam melahirkan Pencipta langit dan bumi adalah salah satu yang setiap ibu mengetahuinya dengan fitrah bahwa itu adalah bohong. Dia mengetahui banyaknya kekurangan dan kelemahan yang dialami setiap anak sebelum kelahiran dan setelahnya. Dia dikelilingi oleh darah, dan nutrisinya bergantung pada kehidupan ibunya. Dia kemudian meninggalkan tubuh ibunya setelah 9 bulan, keluar dari bagian yang sama dari mana ia masuk, dan direndam dalam darah yang kotor. Dia sering menangis, mencari makanan, memiliki penglihatan yang lemah, dan tidak mampu makan kecuali dengan bantuan ibunya. Dia tidak bisa tetap bersih kecuali ibunya memandikannya secara teratur dan membersihkan dirinya setelah setiap buang air besar atau kecil. Jika bukan karenanya, dia akan berendam dalam kotoran. Jika ia ditinggalkan, ia akan mati dalam hitungan hari. Dia merasa (paling) nyaman ketika dia didekatkan ke payudara ibunya. Ketika ia mulai berjalan, dia jatuh dengan wajah dan kepala terlebih dahulu, menangis mencari kenyamanannya. Ketika ia mulai "berbicara," ia menggumamkan kata-kata yang tidak berarti. Ketika dia memiliki saudara atau saudari, ia mulai iri terhadap adiknya. Ini adalah anak yang dibesarkan oleh ibunya. Dapatkah Tuhan langit dan bumi menjadi seperti ini!

Setelah itu, orang-orang kafir Kristen sekali lagi menentang dirinya sendiri dan fitrah. Mereka mengklaim bahwa ibunya yesus adalah "ibunya Allah," disamping itu juga melukiskannya dengan cara yang rendah, baik dalam sikap dan pakaiannya. Namun, mereka mendorong wanita-wanita Barat untuk menjadi berlawanan dalam segala hal dengan Maryam. Wanita barat didorong untuk bersaing dengan laki-laki di tempat kerja, untuk menampilkan tubuhnya yang tidak pernah ditampilkan oleh laki-laki, dan untuk lebih bercampur dengan laki-laki melebihi pelacur yang pernah ada. Tidak ada kemiripan dalam wanita Barat dengan apa yang ada pada diri Maryam, sama seperti tidak adanya kemiripan antara laki-laki Barat dengan apa yang ada dalam diri Yesus (isa al-masih) berupa kerendahan hati, religiusitas, dan kesucian.
Dan sebagaimana fitrah yang terus ternodai hari demi hari di Barat dan semakin banyaknya perempuan yang meninggalkan peran ibu, istri, kesucian, feminitas, dan heteroseksualitas, telah menjadikan wanita - yang utuh fitrahnya - di Barat menjadi makhluk yang hampir punah.

Cara hidup yang diadopsi oleh perempuan Barat telah membawa serta begitu banyak bahaya dan penyimpangan yang mengancam jiwanya sendiri. Dia adalah korban yang bersedia mengorbankan dirinya untuk menjadi wanita “bebas” tak bermoral, yang menawarkan dan menempatkan fitrahnya diatas altar liberalisme sekuler. Jika dia mengkhawatirkan jiwanya, dia seharusnya merefleksikan kemana arah paganisme Kristen dan demokrasi sesat akan terus memimpin dirinya, atau merenungkan bagaimana jadinya dunia bila berabad-abad lalu memiliki wanita-wanita yang mengadopsi jalur keji dari Barat, yang membebaskan dirinya untuk diperbudak oleh kecanduan hedonistik dan doktrin kafir. Solusinya terletak pada punggung wanita Barat. Tidak lain hanyalah dengan meletakkannya diatas Islam, agama fitrah manusia.

Catatan kaki :

[1] Fitrah adalah sifat dasar bawaan manusia yang ditanamkan kedalam diri manusia oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk membantunya membedakan antara yang baik dan buruk. Ini akan diuraikan lebih lanjut di artikel ini.

[2] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahiroh, sa’ibah, washilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti” (Al-Maidah 103). Keempat kata -bahiiroh, sa'ibah, wasilah, dan ham– merupakan deskripsi yang diberikan oleh orang musyrik Arab untuk membedakan jenis ternak dan tunggangan mereka yang dinyatakan dilarang digunakan untuk diri mereka sendiri. Misalnya, mereka akan melarang penggunaan sapi, unta, atau domba, dan membiarkannya bebas berkeliaran di bumi, mengklaim bahwa hal tersebut adalah suatu tindakan penyembahan. Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa inovasi seperti ini tidak disyari’atkan oleh-Nya dan bahwa hewan tersebut diberikan kepada hamba-Nya untuk digunakan sesuai ukuran.

JAWABAN KEPADA DAKWAH NABI

DABIQ 15 - SEJARAH

JAWABAN KEPADA DAKWAH NABI

Setelah Perjanjian Hudaibiyah di tahun ke-6 hijriyah, Daulah Islam, dibawah pimpinan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengambil keuntungan dari perjanjian damai sementara dengan kaum kafir Quraisy untuk mulai menyebarkan cahaya Islam ke wilayah sekitar dari Jazirah Arab dan negeri-negeri yang jauh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim utusan kepada para penguasa di berbagai negeri, menyampaikan kepada mereka risalah Islam, mengajak mereka untuk masuk Islam dan mengikutinya diatas jalan petunjuk, serta memberi mereka peringatan bahwa jika mereka menolak mereka akan bertanggungjawab atas kekafiran dan kesesatan rakyatnya.

Diantara penguasa yang dikirimi surat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Raja Habasyah “Asyamah ibnu Abjar” yang dikenal dengan Najasyi (Negus), Raja Koptik Mesir “Juraij ibnu Mina” yang dikenal dengan Muqauqas, dan Kaisar Bizantium “Heraklius”. Ketiga penguasa Kristen tersebut masing-masing menerima Islam, namun jawaban dan respon mereka berbeda.

Adapun Asyamah, yang telah menampung puluhan sahabat (yang berhijrah) di kerajaannya –termasuk sepupunya Ja’far radhiyallahu ‘anhu- ketika mereka lari dari penganiayaan musyrikin Makkah, dia menyadari kebenaran Islam dan segera menyatakan keislamannya (mengikuti risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) di depan istananya. Ini terjadi ketika kaum Quraisy mengirim dua utusan kepadanya untuk memintanya menyerahkan Ja’far dan kaum muslimin yang bersamanya agar bisa kembali ke Makkah.

Kedua utusan itu adalah “Amr ibnu Al-Ash” dan “Abdullah ibnu Abi Rabi’ah”, yang membawa berbagai untuk Asyamah dan para menterinya. Terlebih dahulu mereka memberikan hadiah kepada para menteri dan menjelaskan kepada mereka permintaan yang akan mereka ajukan kepada Asyamah dengan harapan para menteri itu akan membantu mereka dan membujuk Asyamah untuk memenuhi permintaan mereka. Para menteri menerima hadiah itu dan setuju untuk melakukannya. Kedua utusan itu lalu menemui Asyamah memberikan hadiah dari mereka, dan kemudian berbicara kepadanya, “Wahai raja, sesungguhnya sejumlah pemuda bodoh telah mengungsi ke negerimu. Mereka telah meninggalkan agama kaumnya dan tidak masuk ke agamamu. Mereka telah datang dengan sebuah agama baru yang mereka ciptakan dan yang tidak diketahui oleh kami dan olehmu. Kami telah diutus kepadamu, terkait mereka, oleh para pembesar kaum kami, dari kalangan bapak-bapak mereka, paman-paman mereka, dan kabilahkabilah mereka, supaya engkau mengembalikan (para pemuda ini) kepada mereka, karena mereka yang paling mengenal mereka dan lebih mengetahui atas apa mereka menyalahkan dan mengingatkan mereka.”

Para menteri berkata, "Mereka telah berkata jujur, wahai raja. Serahkanlah mereka sehingga mereka bisa dikembalikan ke kaum dan negeri mereka." Namun, Asyamah, ingin mendengar kisah dari sisi lainnya, maka dia memanggil kaum Muslimin dan bertanya kepada mereka, "Apakah agama yang karenanya kalian telah meninggalkan kaum kalian, karenanya kalian tidak masuk ke agamaku tidak pula agama-agama lainnya?"

Ja'far radhiyallahu ‘anhu, sebagai juru bicara kaum Muslimin, berkata, "Wahai raja, kami dulunya ialah orang-orang bodoh yang menyembah berhala, memakan bangkai binatang, melakukan zina, memutus silaturahim, dan menyakiti tetangga kami; dan orang-orang kuat di antara kami menzhalimi yang lemah."

"Kami terus seperti itu sampai Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami yang keturunan, kejujuran, sifat terpercaya, dan kedermawanannya kami kenal. Dia menyeru kami kepada mentauhidkan Allah, memerintahkan kami untuk beribadah kepada-Nya dan meninggalkan apa yang kami dan bapak-bapak kami sembah berupa batu-batu dan berhala, dan memerintahkan kami untuk berbicara jujur, memenuhi amanah [kepada yang berhak], menyambung silaturahim, berbuat baik pada tetangga, dan menahan diri dari perkara-perkara haram dan penumpahan darah yang haram, dan dia melarang kami dari zina, berbicara dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita yang suci berzina. Dia memerintahkan kepada kami untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya dan memerintahkan kami dengan shalat, zakat, dan puasa. Maka kami mengakui kebenarannya dan beriman kepadanya, dan kami mengikutinya di atas apa yang ia bawa dari agama Allah.

"Kami beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, kami mengharamkan apa yang telah ia haramkan atas kami, dan menghalalkan apa yang ia halalkan atas kami, maka kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa kami dan ingin mengeluarkan kami dari agama kami dengan bujukan dan penganiayaan untuk mengembalikan kami untuk menyembah berhala selain Allah yang Maha Mulia, dan untuk menghalalkan hal-hal jahat yang dulu kami halalkan. Jadi, ketika mereka merendahkan kami, menzhalimi kami, membuat segala sesuatu sulit bagi kami, dan menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kami pergi ke negerimu. Kami memilihmu dari semua selainmu, dan kami menginginkan perlindunganmu, dan berharap kami tidak akan terzhalimi di depanmu, wahai raja."

Asyamah bertanya padanya, “Apakah engkau membawa sesuatu dari apa yang ia bawa dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Asyamah berkata, “Bacakanlah ia untukku.” Maka Ja’far membacakan untuknya bagian pertama Surat Maryam. Asyamah menangis hingga jenggotnya menjadi basah dan para menterinya juga menangis hingga buku-buku mereka menjadi basah saat mereka mendengar apa yang dibacakan Ja’far untuk mereka.

Asyamah kemudian berkata, “Sesungguhnya, ini dan apa yang dibawa Yesus datang dari sumber yang sama.” Dia pun kemudian berkata kepada dua utusan Quraisy, “Pergilah, karena demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu dan mereka tidak akan disakiti.” Maka mereka pergi, dan ‘Amr berkata kepada ‘Abdullah, “Demi Allah, besuk aku akan membawakannya sesuatu dari mereka yang akan mencabut kegembiraan mereka.”

Keesokan harinya, ‘Amr berkata kepada Asyamah, “Wahai raja, mereka mengatakan sesuatu yang besar mengenai ‘Isa putra Maryam.” Maka Asyamah memanggil Ja’far dan kaum Muslimin yang bersamanya dan menanyai mereka tentang apa yang mereka katakan tentang ‘Isa. Ja’far berkata, "Kami katakan tentangnya sebagaimana yang diajarkan nabi kami shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami – bahwa dia adalah hamba Allah, rasul-Nya, ruh [pilihan]-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan ke perawan Maryam.”[1] Asyamah lalu mengambil sebuah tongkat lantas berkata, “Demi Allah, ‘Isa putra Maryam tidak melebihi apa yang engkau katakan walau sepanjang tongkat ini.” Para menterinya mendengus, maka dia berkata kepada mereka, “Demi Allah, meskipun kalian mendengus!” (Sirah Ibnu Hisyam).

Beberapa tahun kemudian, ketika surat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai padanya, dia telah menyatakan syahadat keimanan, menjawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kata-kata berikut:

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Kepada Muhammad, Rasulullah, dari Najasyi Asyamah: Semoga shalawat dan salam Allah terlimpah kepadamu, wahai Nabi Allah, sekaligus rahmat dan kasih sayang-Nya; Laa ilaaha illallaah.”

“Amma ba’du: Suratmu telah sampai padaku, wahai Rasulullah, termasuk apa yang engkau sebutkan mengenai ‘Isa. Demi Tuhan langit dan bumi, ‘Isa tidak melebihi dari apa yang engkau katakan. Bahkan, dia adalah apa engkau katakan. Kami telah mempelajarinya dengan apa yang engkau kirimkan kepada kami, dan kami telah menampung sepupumu dan para sahabatmu. Maka, aku bersaksi, dengan kebenaran dan keyakinan, bahwa engkau adalah Rasulullah, dan aku berbai’at kepadamu. Aku telah berbai’at kepada sepupumu dan, di tangannya, aku telah berserah diri pada Allah, Tuhan seluruh makhluk” (Zadul Ma’ad).

Jadi, setelah dipercaya untuk mengurus dan melindungi keluarga dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, hubungan Asyamah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beralih ke babak baru. Dengan masuk Islam, dia telah membatalkan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dan menggenggam ikatan Islam yang kuat, menjadikannya satu-satunya timbangan untuk menentukan hubungan dia dengan orang lain. Hal ini terwujud ketika dia memutus hubungan dengan kaisar Byzantium, Heraklius, dengan membatalkan pajak yang biasa ia bayarkan kepadanya.

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus ‘Amr bin Al-Ash kepada dua raja Oman dengan suratnya yang menyeru mereka untuk masuk Islam, 'Amr bertemu dengan yang lebih muda dari dua saudara yang memerintah negeri itu, menjawab beberapa pertanyaannya, dan memberitahunya bahwa Asyamah memeluk Islam.[2] Raja itu menyatakan keyakinannya bahwa kaisar Byzantium, Heraklius, tidak menyadari hal ini, tapi 'Amr memberitahunya bahwa ia menyadari fakta ini. Ketika dia bertanya pada 'Amr bagaimana ia tahu hal ini, 'Amr berkata bahwa Asyamah biasa membayar pajak kepada Heraklius, tetapi setelah masuk Islam ia berhenti membayar pajak berikutnya, dan mengatakan, "Tidak, demi Allah! Jika ia meminta dariku satu dirham, aku tidak akan memberikannya" (Zadul Ma'ad).

Ketika Asyamah wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya untuk shalat ghaib bagi jenazahnya, hal ini dilakukan pertama kali dalam Islam. Beliau memberitahu sahabatnya tentang kematian raja Habasyah, dengan bersabda, "Seorang shaleh telah wafat hari ini, maka bangkit dan mintakanlah ampunan bagi saudara kalian Asyamah" (Al-Bukhari).

Adapun Heraklius, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim Dihyah al-Qalbi radhiyallahu ‘anhu kepada pemimpin Busra dengan suratnya agar ia akan meneruskannya ke Heraklius. 'Abdullah Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Abu Sufyan ibn Harb radhiyallahu ‘anhu memberitahunya bahwa Heraklius datang padanya ketika ia bersama kafilah Quraisy melakukan bisnis di Syam selama periode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan kafir Quraisy.[3] Maka ia dan sahabatnya datang ke Heraklius ketika dia berada di Yerusalem. Heraklius memanggil mereka ke istana dengan dihadiri pemimpin Romawi. Dia kemudian memanggil mereka ke depan dan memanggil penerjemah, dan kemudian berkata, "Siapa di antara kalian yang paling dekat kekerabatannya dengan orang ini yang mengklaim dirinya sebagai seorang nabi?"

Abu Sufyan berkata, "Akulah yang paling dekat." Dia lalu berkata, "Bawa dia mendekat padaku dan biarkan mereka berdiri di belakangnya." Dia lalu berkata kepada penerjemah, "Katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya padanya tentang orang ini [Nabi], maka jika ia membohongiku mereka harus membantahnya."

Ketika mengisahkan peristiwa itu pada Ibnu 'Abbas, Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, jika tidak karena aku takut mereka akan mendapatiku berbohong, aku akan berbohong tentang beliau. Lalu, hal pertama yang ia tanyakan adalah, 'Bagaimana kedudukan nasabnya di antara kalian?' Aku berkata, 'Beliau memiliki nasab yang mulia di antara kami.' Dia berkata, 'Adakah seseorang dari kalian pernah mengklaim seperti ini [kenabian]?" Aku berkata, 'Tidak.’ Dia berkata, 'Adakah salah satu dari leluhurnya seorang raja?" Aku berkata, 'Tidak.' Dia berkata, 'Apakah yang mengikutinya adalah dari kalangan bangsawan atau kalangan lemah?' Aku berkata, 'Kalangan lemah.' Dia berkata, 'Apakah jumlah mereka terus meningkat atau menurun?" Aku berkata, 'Mereka meningkat.’ Dia berkata, 'Adakah dari mereka yang meninggalkan agamanya karena tidak menyukainya setelah mereka masuk ke dalamnya? "Aku berkata, 'Tidak.’ Dia berkata, 'Apakah kamu pernah mendapatinya berbohong sebelum ia membuat klaim ini?’ Aku berkata, 'Tidak.’ Dia berkata, 'Apakah dia berkhianat?" Aku berkata, 'Tidak, tapi kami sedang dalam perjanjian damai dengannya dan tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengannya."

Aku tidak menemukan kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang melawannya selain itu. Dia lalu berkata, 'Apakah kamu memeranginya?" Aku berkata, 'Ya.; Dia berkata, ‘Bagaimana hasil peperanganmu dengannya?’ Aku berkata, 'Perang antara kami bergantian menang dan kalah; ia mengalahkan kami dan kami mengalahkannya.’ Dia berkata, 'Apa yang ia perintahkan padamu?’ Aku berkata, 'Dia menyuruh kami, 'Sembahlah Allah saja dan jangan menyekutu-Nya, dan tinggalkan perkataan nenek moyangmu.’ Dia menyuruh kami untuk shalat, bersedekah, berkata jujur, menjaga kehormatan, dan menjaga silaturahim.”’

“Dia lalu berkata pada penerjemahnya, 'Katakan padanya, 'Aku bertanya padamu mengenai nasabnya dan kau katakan ia memiliki nasab yang mulia dari kaumnya. Demikianlah para Rasul; mereka berasal dari nasab yang mulia diantara kaumnya. Aku bertanya padamu adakah di antara kalian yang pernah membuat klaim serupa [kenabian] dan kau katakan ‘Tidak.’ Aku katakan pada diriku jika ada seseorang yang membuat klaim serupa sebelumnya, aku akan berpikir bahwa dia hanya seseorang yang meniru apa yang dilakukan orang lain sebelumnya. Aku bertanya padamu adakah dari leluhurnya yang seorang raja dan kau katakan, ‘Tidak.’ Aku katakan pada diriku jika ada dari leluhurnya yang pernah menjadi raja aku akan berpikir bahwa dia adalah seorang lelaki yang ingin mengambil kembali kerajaan leluhurnya. Aku bertanya padamu apakah kau pernah mendapatinya berbohong sebelum ia membuat klaim ini dan kau katakan, ‘Tidak.’ dan yang aku tahu bahwa jika dia tidak menghindari berbohong tentang manusia maka ia juga akan berbohong tentang Allah. Aku bertanya padamu apakah yang mengikutinya dari kalangan bangsawan atau kalangan lemah dan kamu berkata bahwa kalangan lemahlah yang mengikutinya, dan memang, merekalah yang biasanya menjadi pengikut para Rasul. Aku bertanya padamu apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang dan kau katakan bahwa jumlah mereka terus bertambah, dan memang, begitulah perkara keimanan hingga ia sempurna. Aku bertanya padamu apakah ada yang meninggalkan agamanya karena tidak menyukainya setelah masuk ke dalamnya dan kau berkata, ‘Tidak,’ dan demikianlah keimanan ketika manisnya telah masuk ke hati dan bersatu dengannya. Aku bertanya padamu apakah ia berkhianat dan kau berkata, ‘Tidak.’ Dan begitulah para Rasul mereka tidak berkhianat. Aku bertanya padamu apa yang dia perintahkan padamu dan kau berkata bahwa perintahnya adalah untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya, melarangmu dari menyembah berhala, menyuruhmu untuk shalat, berkata jujur, dan menjaga kehormatan. Jika yang kau katakan adalah benar maka tak lama lagi dia akan memiliki [kerajaan] yang ada di bawah kakiku. Sungguh, aku tahu bahwa ia akan muncul tapi aku tidak berpikir bahwa ia akan datang dari kalian (bangsa Arab). Jika aku yakin aku bisa mencapainya aku akan bersegera menemuinya, dan jika aku bersamanya aku akan mencuci kakinya.’”

Dia lalu meminta surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam –yang dikirim melalui Dihyah untuk pemimpin Busra yang kemudian diteruskan ke Heraklius– dan ia membacanya. Isi surat itu adalah sebagai berikut."

"'Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dari Muhammad, Rasulullah, kepada Heraklius, pemimpin Roma: Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk.’”

“Amma ba’du: Aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuklah ke dalam Islam dan kau akan selamat, dan Allah akan memberimu pahala dua kali. Tapi jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa [menyesatkan] rakyatmu.’"

"'Selanjutnya: 'Hai Ahli Kitab, marilah [berpegang] pada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Namun jika mereka berpaling, maka katakan, 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim [yang berserah diri kepada-Nya]' (Ali 'Imran : 64)'"

"Ketika ia mengatakan apa yang dia katakan dan selesai membaca surat, terjadilah hiruk-pikuk dan suara-suara ribut, hingga mengusir kami. Ketika kami keluar, aku berkata pada temanku, 'Perkara [Muhammad] telah menjadi besar. Raja Romawi takut padanya.' Lalu aku senantiasa yakin bahwa ia akan meraih kejayaan hingga Allah membimbingku pada Islam."

Dalam mempertimbangkan seruan Nabi, Heraklius menulis surat kepada temannya di Roma yang setara dengannya dalam ilmu, lalu ia melakukan perjalanan ke Homs. Sebelum pergi dari Homs, ia menerima balasan dari temannya di Roma, yang menyetujui pendapatnya bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memang seorang nabi. Maka Heraklius memanggil para pembesar Byzantium ke istananya di Homs lalu memerintahkan agar pintupintu dikunci. Lantas dia berpidato pada mereka, mengatakan, "Wahai bangsa Rum, maukah kalian semua memperoleh kemenangan dan petunjuk sedangkan kerajaan kalian tetap utuh dengan berbai'at kepada nabi ini?" Lalu mereka lari ke pintu-pintu bagaikan keledai liar dan mendapatinya terkunci. Ketika Heraklius melihat mereka melarikan diri dan putus harapannya agar mereka menerima Islam, ia berkata, “Bawa mereka kembali padaku.” Ia kemudian mengatakan pada mereka, “Aku hanya mengucapkan apa yang kuucapkan untuk menguji keteguhan hati kalian pada agama kalian, dan aku telah melihatnya.” Maka mereka bersujud padanya dan ridha dengannya, dan inilah akhir kisah Heraklius terkait dengan Islam (Al-Bukhari).

Maka, kaisar Romawi memilih untuk menolak kebenaran –setelah jelas-jelas mengakuinya– dan tetap di atas kebathilan karena takut kehilangan kerajaan dan kekuasaan. Kurang dari dua tahun kemudian, di tahun ke-8 setelah hijrah nabi, peperangan antara umat Muslim dan Imperium Byzantium dimulai. Peperangan yang berlanjut selama beberapa tahun sebelum Byzantium terusir dari Syam secara total, setelah mereka mendapat kekalahan di Pertempuran Yarmuk, dan dipaksa mundur ke benteng mereka di Eropa. Jadi, Heraklius akhirnya kehilangan banyak dari kerajaannya, sebelum akhirnya mati beberapa tahun kemudian, meski telah mengorbankan keselamatan akhiratnya dalam usahanya yang sia-sia untuk mempertahankan kekuasaannya.

Adapun Juraij, raja Koptik Mesir, Ibnul Qayyim menyebutkan dalam "Zadul Ma'ad" bahwa surat Nabi disampaikan kepadanya oleh Hatib ibnu Abi Balta'ah radhiyallahu ‘anhu. Surat itu berisi sebagai berikut:

"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dari Muhammad, hamba Allah, kepada Muqauqas, pemimpin umat Koptik: Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk."

“Amma ba’du: Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam. Masuklah ke dalam Islam maka kau akan selamat. Masuklah ke dalam Islam maka Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Tapi jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa [menyesatkan] umat Koptik. 'Hai Ahli Kitab, marilah [berpegang] pada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan suatu apapun dan tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Namun jika mereka berpaling, maka katakanlah, 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim [yang berserah diri kepada- Nya]'" (Ali 'Imran : 64)."

Setelah memberikan surat kepadanya, Hatib menasihatinya, dengan berkata, "Sungguh, ada seorang lelaki sebelum kamu yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, Yang Maha Tinggi, sehingga Allah menghukumnya dengan hukuman yang dapat menjadi peringatan untuk yang pertama dan yang terakhir [dari kezhalimannya], menghukum orang lain dengannya dan kemudian menghukumnya. Maka jadikanlah ia sebagai pelajaran dan jangan biarkan orang lain menjadikanmu sebagai pelajaran." Dia lalu menjawab, "Sesungguhnya, kami memiliki agama yang tidak akan kami tinggalkan kecuali untuk yang lebih baik dari itu."

Lalu Hatib berkata, "Kami menyerumu kepada agama Allah, ia adalah agama Islam yang mana Allah menurunkannya untuk menggantikan agama selainnya. Sesungguhnya, nabi ini mengajak manusia [kepada Islam]. Orang-orang yang paling keras memusuhinya adalah [suku] Quraisy, yang paling memusuhinya adalah orang-orang Yahudi, dan yang paling dekat [menerima] dengannya adalah umat Kristen. Aku bersumpah bahwa kabar gembira Musa mengenai Yesus adalah sebagaimana kabar gembira Yesus mengenai Muhammad, dan seruan kami kepada Al-Qur’an adalah sebagaimana seruan pengikut Taurat (yaitu kaum Yahudi) terhadap Injil. Jika ada nabi yang menjangkau suatu umat, mereka adalah orang-orang yang kepada merekalah risalah ditujukan, maka wajib bagi mereka untuk mematuhinya. Dan kalian adalah diantara orang-orang yang Nabi ini jangkau. Kami tidak menghalangimu dari agama Al-Masih yang benar, bahkan kami memerintahkanmu dengannya.”[4]

Meskipun Hatib menasihati dengan baik, Juraij menolak seruan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi menanggapi dengan cara yang sopan, dengan menyatakan, "Sesungguhnya, aku telah melihat ke dalam urusan nabi ini dan mendapati bahwa dia tidak memerintahkan apa-apa yang tidak disukai atau melarang dari hal-hal yang diinginkan. Aku tidak mendapati bahwa ia seorang tukang sihir yang sesat atau dukun pembohong, dan aku telah mendapati tanda-tanda kenabian padanya dengan kemampuannya menyingkap apa-apa yang tersembunyi dan mengabarkan apa-apa yang dibicarakan secara rahasia, jadi aku akan memeriksanya."

Dia kemudian mengambil surat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meletakkannya di sebuah kotak dari gading lalu menyegelnya dan menyerahkannya kepada seorang budak perempuannya. Dia kemudian memanggil salah seorang juru tulisnya untuk menulis surat berikut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Kepada Muhammad ibn ‘Abdillah dari Muqauqas, pemimpin umat Koptik: Semoga keselamatan bagimu. Amma ba’du.”

“Aku telah membaca suratmu dan mengerti apa yang engkau sebutkan di dalamnya dan apa yang kau seru kepadaku. Aku mengetahui bahwa masih ada seorang Nabi [yang belum datang] dan menyangka bahwa ia akan muncul dari Syam. Aku menghormati risalahmu, dan telah aku kirim kepadamu dua orang budak perempuan yang memiliki status yang tinggi diantara umat Koptik, dengan tambahan beberapa pakaian, dan menghadiahimu dengan keledai untuk kamu kendarai. Semoga keselamatan bagimu.”

Demikianlah, meskipun jawaban sopan yang ia berikan, ia tidak menerima Islam dan malah memilih untuk tetap di atas kekafirannya. Setelah menerima surat dan hadiah-hadiahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, "Lelaki jahat ini sedang mencengkeram kerajaannya, tapi kerajaannya tidak akan bertahan."

Hanya beberapa tahun kemudian, ekspansi umat Muslim mencapai Mesir di masa Khalifah 'Umar radhiyallahu ‘anhu, dan pemimpin pasukan Muslim di Mesir, 'Amr ibn al-'Ash radhiyallahu ‘anhu, mencapai gerbang Aleksandria dan menawarkan Juraij salah satu dari tiga pilihan: Islam, jizyah, atau perang. Dia memilih untuk membayar jizyah dalam kehinaan, sehingga mengakhiri kekuasaannya saat ia memilih untuk tetap hidup dalan kedamaian –dengan ditundukkan dan diturunkan dari tahta– daripada memasuki perang berkepanjangan dengan umat Muslim.

Oleh karena itu, jawaban yang berbeda dari ketiga pemimpin Kristen itu terhadap dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengantarkan mereka kepada nasib yang berbedabeda. Asyamah memilih Islam dan dengannya menjaga kehidupan dunianya ditambah dengan mendapatkan kebahagiaan yang kekal di akhirat, sedangkan Juraij dan Heraklius menolak dakwah, masing-masing memilih pilihan yang berbeda dalam berusaha untuk mempertahankan apa yang bisa ia pertahankan dari kehidupan dunianya. Juraij memilih untuk membayar jizyah dengan harapan menghindari terjadinya pertumpahan darah dan perbudakan dalam waktu dekat dan memperoleh kedamaian, meskipun dalam keadaan terhina, dan penurunan tahta. Sementara itu, Heraklius, memilih perang, berharap dapat menghalau ancaman terhadap kedudukan dan hartanya, masing-masing berusaha mempertahankan secuil bagian dari kehidupan dunianya sembari mengorbankan keselamatan di akhirat, namun sebaliknya, masing-masing dari mereka harus kehilangan keduanya.

Ini adalah pilihan yang sama yang ditawarkan kepada umat Kristen hari ini. Mereka mempunyai pilihan untuk mencoba menggenggam kemewahan hidup yang sementara, menolak kebenaran dengan jalan antara membayar jizyah kepada Daulah Islam atau terus melancarkan perang perlawanan yang sia-sia terhadapnya. Atau, mereka dapat memperhatikan peringatan Allah bahwa kehidupan duniawi tidak terjamin bahkan bagi mereka yang mengejarnya dengan mengorbankan keselamatan mereka, sehingga mereka memilih untuk memeluk islam, meraih kebenaran, menggapai rahmat dari Tuhan mereka, dan masuk ke dalam Taman-Taman Surga.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arahnya dengan sungguhsungguh sedang ia adalah orang yang beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan dibalas dengan baik” (Al-Isra : 18-19).

Catatan kaki :

[1] Di sini, 'Amr merujuk kepada fakta bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya menyatakan bahwa Yesus bukanlah anak Allah sebagaimana yang diklaim secara dusta oleh umat Kristen karena penyimpangan agama mereka.

[2] Selama pembicaraan, raja Oman bertanya kepada 'Amr tentang kapan dia sendiri masuk Islam. 'Amr memberitahunya bahwa ia masuk Islam di tangan Najasyi Asyamah di Habasyah.

[3] Hal ini sebelum Abu Sufyan masuk Islam, yang terjadi tidak lama sebelum penaklukan Makkah.

[4] Di sini, Hatib mengacu pada agama 'Isa Putra Maryam 'alaihis salam –agama tauhid yang murni, yang mana setiap nabi Allah menyeru kepadanya– sebelum dirusak oleh orang-orang Kristen musyrik. Hatib juga mengacu pada nubuat 'Isa mengenai datangnya rasul terakhir, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Jadi Hatib pada dasarnya memerintahkannya untuk tunduk pada tauhid dan kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

MERENUNGKAN PENCIPTAAN, TADABBUR QS ALI IMRAN AYAT 190-191

DABIQ 15 - ARTIKEL

MERENUNGKAN PENCIPTAAN,
TADABBUR QS ALI IMRAN AYAT 190-191

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. “ (Ali Imran: 190-191)[1]

'Amir Ibn' Abd Qais rahimahullah berkata, "Aku mendengar lebih dari satu, dua, dan tiga sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata, 'Cahaya iman adalah tafakur (perenungan)." Hal itu juga dikatakan oleh al-Auza'i rahimahullah, "hal pokok Apa yang dapat direnungkan dari ayat ini (mengacu ayat diatas)?" Dia menjawab, "Untuk membacanya dengan memahaminya." Umm ad-Darda rahimahullah ditanya, "Apa ibadah terbaik yang dilakukan oleh Abud-Darda?" dia menjawab, "tafakur dan memperhatikan contoh." dan baik Ibn 'Abbas maupun Abud-Darda rahimahullah mengatakan, "tafakur selama satu jam lebih baik daripada menghabiskan malam dengan shalat" (Ad-Durr al-Mantsur)

Itu adalah hari yang sangat dingin saat ribath (menjaga perbatasan) di dekat zona industri Layramun ketika musim dingin yang kadang antara akhir "2012" dan awal "2013." Saat itu adalah jadwal jagaku dan aku menggigil saat duduk di atas batu di pos ribath. Dengan kacamata “night vision”, aku memantau setiap gerakan pasukan Nushairiy yang mungkin maju dari arah Khalidiyah. Tiba-tiba saja sesuatu bergerak mendekat, dua meter kurang dariku. Hal itu menarik perhatianku dan menggangguku. Aku melihat bahwa itu adalah seekor kucing yang kedinginan seperti diriku. Ia mengawasiku selama beberapa detik sebagaimana aku mengawasinya, Ia kemudian Nampak menimbang, apakah jiwaku agresif atau penyayang, kemudian ia memutuskan maju ke arahku, melompat ke pangkuanku dan mulai mendengkur.

Hal ini membimbingku untuk merenung lebih dalam dari semua yang telah kualami. Ia adalah makhluk dengan jiwa, yang mampu mengamati makhluk lainnya dengan jiwa, kemudian menentukan apakah makhluk lainnya itu akan menyambut atau tidak, hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil risiko dengan mendekat ke pangkuan makhluk lain demi kenyamanan dan kehangatan. Betapa hebatnya Dia yang menciptakan kedua makhluk ini dan memfasilitasi keduanya dengan sebuah sarana komunikasi yang tidak dapat diukur oleh salah satu dari mereka!

Itu adalah momen tafakur yang tiada duanya, sebuah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah giliran jagaku selesai, aku bergegas berbicara tentang hal ini dengan Murobit lainnya, Abul Mutsanna as-Sumaliy[2] (Taqabbalahumullah). Setelah Selama beberapa bulan kami bersama, kami berdua pernah berada di barisan Daulah Islam, lalu beroperasi ke Syam dengan nama "Jabhah an-Nushrah." Aku mengatakan kepadanya tentang pengalaman dengan seekor kucing, dia lalu tersenyum dan memahami tanda-tanda Allah dalam ciptaan-Nya. Percakapan tersebut mendorong kami untuk lebih memperhatikan tanda-tanda Allah lainnya, bahkan meruncing pada asumsi baik kami akan kebangkitan khalifah dengan berlanjutnya jihad di Syam, in syaa-a Allah. Abul Mutsanna kemudian melanjutkan giliran ribat nya, mengamati kucing yang sama dan melihat keluar bila akan setiap adanya potensi tentara Nushairiy.

Sekarang aku tidak ingat jika sesudah itu atau beberapa saat sebelumnya, ketika aku duduk di pangkalan kami didekat Aleppo dan menulis daftar tanda-tanda yang berbeda dalam ciptaan Allah untuk direnungkan saat ribath. Aku kemudian bertanya kepada Abul Mutsanna, apakah ia ingin tahu daftar yang telah kubuat. Dia sangat gembira… Lalu aku membacakan kepadanya berbagai hal yang telah kutulis dan ia akan mengomentari terkait bagaimana hal itu pasti adalah tanda-tanda dari Allah yang memanifestasikan kebijaksanaan-Nya, pengetahuan, kebesaran, kekuasaan, dan rahmat-Nya, serta dukungan konstannya bagi Islam dan kaum Muslimin. Itu adalah percakapan yang menyegarkan iman, sesuatu yang sangat sulit ditemui di Barat, sebagaimana Muslim akan menemukan dirinya menjadi orang asing di antara kawanan yang telah kebarat-baratan oleh lingkungan Murtadd.

Di sini, aku akan menyebutkan secara singkat beberapa tanda-tanda yang telah kami bahas. Tapi sebelum melakukannya, izinkan aku menyajikan contoh bagi atheis dan agnostik di Barat yang mungkin akan membaca tulisan ini, orang-orang kafir aneh yang angkuh dengan menolak Allah dan menolak kesaksian fitrah mereka sendiri yang telah Allah tanamkan kedalam diri mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian menghidupkannya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ar-Rum: 27-28).

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan pada kita apa itu "contoh kesombongan". Ketika kaum pagan meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan orang mati, Ia menjelaskan kepada mereka bahwa bila tidak ada kesulitan dalam menciptakan kehidupan, maka dari itu tidaklah lebih sulit untuk menciptakan mereka yang pada awalnya berada dalam kondisi ketiadaan. Contoh yang ingin aku ambil untuk orang-orang kafir penyangkal adalah sebagai berikut:

Bayangkanlah diri Anda –wahai orang kafir- duduk dibelakang superkomputer canggih yang dirancang untuk mengelola produksi bom hidrogen seukuran koper. Bahan baku dibawa ke jalur produksi dan dirakit oleh android rumit dengan mode yang tepat. Saat Anda sedang bermain video game di superkomputer, seseorang mengirim pesan yang mengatakan bahwa komputer Anda -baik hardware maupun softwarenya- serta pabrik, lini produksinya, androidnya, bahan baku, video game, pesan, pemilik, dan bahkan Anda sendiri adalah sesuatu yang terpisah dan ada karena kekacauan, peristiwa kacau ini menghasilkan ter-klik-nya mouse anda didalam susunan perintah yang cermat dari pabrik! Fitrah tidak akan menerima argumen seperti itu, namun ateis mengklaimnya!

Bagaimanapun, diantara apa yang aku bahas dengan Abul Mutsanna adalah daya tarik fisik dan kerinduan emosional yang Allah tempatkan di hati lelaki terhadap wanita dan dan dihati wanita terhadap lelaki. Ini tidaklah seperti rasa lapar, kehidupan individu manusia tidaklah tergantung pada kerinduan ini. Akan tetapi ia akan terus-menerus merindukan separuh jiwanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan akung. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21).

Kecenderungan ini mendorong setiap individu untuk mencari pasangan, dan berlanjut dari generasi ke generasi manusia. Kecenderungan antara pasangan adalah sesuatu yang penuh hikmah, tapi orang kafir arogan menganggap fenomena ini sebagai akibat dari kekacauan.

Kecenderungan antar pasangan bergantung pada banyak faktor termasuk indera, dan yang paling penting adalah penglihatan, penciuman, sentuhan, pendengaran, dan hati. Masing-masing indra tersebut adalah tanda didalam dan diluar dirinya sendiri. mata misalnya, adalah organ kompleks yang blok terkecilnya adalah partikel sub-atom yang membentuk berbagai sel dan jaringan organ. Setiap sel bertugas sesuai perannya dalam sistem optik. Cahaya dapat dirasakan oleh mata dan rinciannya diteruskan ke otak melalui saluran yang canggih untuk membawa informasi visual. Dengan demikian, pasangan dapat melihat satu sama lain, dan ini mengarah pada pembentukan perasaan didalam hati. Namun orang kafir mengklaim bahwa mata dan emosi itu lahir dari hasil dari kekacauan!

Hati adalah tanda lainnya dan sangat terkait dengan lidah. Tidak seperti makhluk hidup lainnya, manusia adalah makhluq yang paling fasih dalam menyampaikan isi hatinya. Dia bahkan mampu menyampaikan sebaliknya, baik itu menipu atau berkhianat, seperti karakter munafik. kemampuan manusia untuk berbicara begitu besar, ia mampu menulis puisi dan prosa, fiksi dan non-fiksi, menghabiskan berjam-jam hanya untuk hal ini, merangkai kalimat dari hatinya dengan makna yang luas dan emosional.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-'Alaq: 3-5). Bahkan berbagai bahasa manusia adalah tanda. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Ar-Rum: 22).

Dengan demikian, keragaman yang ditemukan dalam bahasa manusia -dari bahasa “Klik” Afrika sampai bahasa Semit di Timur Tengah- adalah tanda besar untuk direnungkan. Seorang anak bisa belajar bahasa Arob dimana ia tumbuh dan berbicara pada sebagian besar masa mudanya, kemudian mempelajari bahasa lain -Ibrani, Persia, Inggris, dll- untuk memata-matai komunikasi musuh atau untuk menghentikan operasi musuh. Dia mungkin menulis prosa dengan fasih dalam bahasa baru sebagaiman yang ia lakukan dalam bahasa “ibu” untuk menyeru orang-orang Yahudi, Kristen, dan orang kafir lainnya agar memeluk Islam. Dia bahkan bisa merekayasa bahasanya sendiri untuk meng-enkripsi komunikasi bolak-balik antara dirinya dan pimpinan operasi luar negri Daulah Islam sebelum mengeksekusi serangan terhadap target yang telah disurvei. Keterampilan bawaan ini tidak akan ditemukan pada makhluk lain selain manusia. Betapa hebat ciptaan-Nya!

Seorang suami dan istrinya dapat memiliki anak, inilah hasil dari kecenderungan komposit diantara keduanya, sebuah misteri yang ditanamkan ke dalamnya oleh Pencipta mereka. Anak lahir dengan sejumlah tanda-tanda dalam dirinya, namun hanya sedikit di antara manusia mau yang merenungkannya. Salah satu tanda itu adalah belas kasih yang ditempatkan di hati orang tua terhadap makhluk ini yang bersikeras mendorong dan mencegah mereka dari tidur malam demi malam. Ukurannya yang kecil, kondisi rapuhnya yang nampak melalui penglihatan dan pendengaran mereka adalah salah satu dari banyak alasan di balik belas kasih ini. Tapi mengapa anak manusia tidak dilahirkan dalam bentuk dewasa dengan ukuran mini - dengan berat lahir 3 kilogram tapi dengan kumis, jenggot, dan tanda wajah dari orang dewasa?

Tentu polos sorot matanya tidak akan terlihat dengan jelas oleh orang tuanya. Kelucuan di senyum dan tawanya yang memicu banyak sensasi kebahagiaan di hati kedua orang tuanya tidak akan benar-benar tergambar disana dengan tidak adanya pipi tembem dan badan gemuk. Dan lagi, dia lahir hampir buta, tetapi saat ia tumbuh matanya berkembang dan memungkinkan dia untuk melihat wajah orang tuanya dan memahaminya ketika mereka bermain dengannya dan tahu bahwa mereka mencintainya. pendengarannya memungkinkan dia untuk tumbuh dan berbicara seperti yang orang tuanya lakukan, dan setelah itu ia mungkin akan bersaing dengan penyair yang telah mendahuluinya di sepanjang sejarah.

Ketika manusia lapar, ia pergi ke pasar untuk membeli daging, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, semua ada untuknya di sebuah planet yang lingkungan hidup, makanan dan keberadaannya cocok untuknya. Tidak ada yang permanen baik itu malam, atau siang, atau hujan, atau panas.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (Al-Qashash: 71- 73).

Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Al-An'am: 99).

Jadi, manusia hidup di bumi dengan segala apa yang ia butuhkan itu berada dalam genggamannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, " Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi" (Al-Baqarah: 29).

Dia tidak akan meninggalkan manusia mencari makanan hingga kelaparan. Sebaliknya, Allah memfasilitasi manusia itu sendiri hingga mampu bercocok tanam dan bertani, bahkan mendistribusikannya serta menjualnya. Dia juga mampu memelihara ternak dan hidup dari daging dan susu. Semua ini adalah hasil dari kecerdasan yang Allah tanamkan pada dirinya.

Di antara makhluq, manusia juga dapat memanfaatkan lebah madu untuk makanan. Koloni lebah -pada dasarnya pabrik madu- terdiri dari pekerja yang bertugas dengan berbagai pekerjaan: pembersih, pengipas, pengumpul, pengangkut air, penjaga, pembangun, pengisi, pembantu, penutup, pengepak, dll, selain itu ada juga ratu dan lebah jantan. koloni tidak akan bertahan atau dapat melanjutkan generasinya kecuali masing-masing peran tersebut diisi oleh sekelompok lebah terpilih. Para anggota yang berbeda dari koloni semua mengetahui tanggung jawab mereka sendiri dan mampu berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa yang tidak dikenal makhluk lainnya. Berbagai lebah bertugas pada pekerjaan yang berbeda, dan ini bukanlah hasil dari kekacauan, begitu juga dengan madu hasil dari lebah yang dikumpulkan oleh manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.“ (An-Nahl: 68-69). Namun arogansi orang kafir tidak membuatnya untuk mengakui tanda-tanda ini!

Selain itu, manusia tidaklah dibiarkan tanpa kekebalan terhadap beragam racun, parasit, virus, dan bakteri di Bumi. Jika dia merasa dirinya sakit, tubuhnya mampu menolak banyak penyakit yang menyerangnya. Sistem imunitasnya memiliki kemampuan untuk memproduksi sel darah putih, antibodi, dan demam untuk mengusir beberapa penyusup. sistem pencernaannya -yang terdiri dari hati, ginjal, kantung empedu, dan organ lain- juga cocok untuk menyingkirkan banyak racun yang mungkin telah terkontaminasi dalam makanan, apalagi peran sistem ini yang bekerja untuk meng-ekstrak nutrisi dari makanan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan memproduksi darah serta sel-sel yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan juga penyembuhan. Dengan demikian, generasi manusia tidak akan mati atau menjadikan bumi kosong dari kehadirannya. Namun orang kafir berpikir bahwa penempatannya di Bumi hanyalah hasil dari kekacauan.

Tidak seperti yang lain, manusia memiliki keinginan jauh lebih besar pada makanan dan pasangan. Dia digerakkan oleh kebahagiaan, kesedihan, cinta dan benci, dan kerinduan untuk sesuatu yang lebih besar. Semua emosi ini juga dipakainya dalam ibadah kepada Tuhannya. Jika ia didera oleh penderitaan, ia kembali kepada Tuhannya dan berdoa meminta-Nya untuk mengangkat penderitaannya. Jika dia merasakan bahagia, ia pun kembali kepada Tuhannya dan bersyukur. Dia mencintai Tuhan-Nya dan mencintai semua yang dicintai oleh Tuhan-Nya. Dia juga menbenci apa yang dibenci Tuhannya demi meraih keridhoannya. Dan ada rasa haus dalam jiwanya untuk sesuatu yang lebih besar daripada semua yang ia lihat dan dengar, yaitu untuk berada di dekat Tuhannya di surga.

Manusia juga memiliki rasa ingin tahu yang mendorongnya untuk membuat sesuatu yang baru, dengan izin Tuhannya. Ia mampu membuat gerobak, mobil, pesawat, superkomputer, dan bom hidrogen. Penemuan ini bukanlah hasil dari seorang pria yang hanya duduk dan menulis di atas sebuah kertas dengan serampangan. Sebaliknya, ia duduk dan merenung dari hari ke hari untuk membuat dasar konstruksi tersebut. Ada fisikawan terkenal, ahli kimia, dan matematika - yang seharusnya "jenius" padahal ia hanya merefleksikan alam semesta, melupakan Penciptanya dan melupakan tugas mereka terhadap-Nya. Dia yang disebut "jenius" ini memiliki pikiran yang mampu meng-observasi, meng-analisa, dan mengambil kesimpulan yang menjadi dasar dari mesin paling kompleks dan ilmu pada eranya, seperti kalkulus integral, fisika nuklir, pemrograman berorientasi object, dan bom termonuklir.

Ilmu dan teknologi maju ini -yang diklaim orang kafir adalah hasil dari kekacauan- merupakan dasar dari pabrik bom hidrogen diatas, tempat dimana ia sedang bermain video game di superkomputernya.

Kecerdasan, memori, dan pengenalan akan diri sendiri telah mendorong beberapa manusia untuk membangun android dengan "kecerdasan" tiruan, pola dasarnya hanyalah satu set algoritma yang diimplementasikan dalam “hardware” dan “sofware” dalam sebuah komputer robotik, tapi satu yang tidak akan ada didalamnya pada realitas komputer cerdas ini adalah ia tidak akan pernah memiliki kecerdasan yang ada pada manusia, seperti emosi yang diakibatkan karena persahabatan dan kebersamaan yang ia nikmati. Namun, kompleksitas konstruksi ini -menurut orang kafir- adalah penemuan makhluk yang keberadaannya merupakan hasil dari kekacauan! Berapa banyak lagi bukti untuk memastikan bahwa androidnya itu hanyalah hasil dari kekacauan!

Makhluk yang dikenal sebagai manusia dan berkeinginan untuk sesuatu yang lebih besar ini membagi penciptaan ke dalam dua kubu, satu kubu yang menggunakan cinta dan benci sebagai dasar ketundukannya kepada Sang Pencipta dan keimanan kepada Rasul-Nya, dan pada kubu lainnya adalah mereka yang memanfaatkan cinta dan benci sebagai dasar ketundukannya pada nafsu, dan tetap setia padanya tanpa keraguan. Kubu ini telah saling mengobarkan perang satu sama lain sejak zaman Nuh ‘Alaihis salam ketika menyeru manusia untuk menyembah Tuhan mereka yang Esa. Konflik ini berlanjut sampai sekte dari sekte arogan -sekte yang tersebar sebelumnya di seluruh bumi- berkumpul di Palestina meskipun pertemuan tersebut yang pada awalnya hampir mustahil. Sementara itu, sekutu mereka berkumpul di Syam sebelah utara meskipun kematian dan kehancuran telah mereka rasakan di Iraq dan Afghanistan.

Pada saat yang sama, kubu kejujuran juga telah berkumpul di Syam dan Iraq dan menyebar ke sudut bumi lainnya, menghidupkan kembali Khilafah yang telah absen selama berabad-abad sejak runtuhnya Daulah Abbasiyah. Pertempuran antara Muslim dan Yahudi, antara Muslim dan Romawi, dan kebangkitan Khilafah, semua itu adalah di antara tanda-tanda yang di nubuahkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melalui wahyu. Namun, orang kafir meragukannya!

Sesungguhnya, Dia adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang menyiapkan Bumi untuk pertempuran paling berdarah sebelum kiamat, untuk melihat hamba-Nya berkeringat dan menumpahkan darah mereka dan juga darah musuh-Nya. Semua faktor telah terpenuhi secara tepat. Salibis dan orang-orang Yahudi di Syam, Rafidhah di Iraq dan Persia, dan Khilafah di tengah-tengahnya. Ini adalah tempat perkemahan dari benturan -"peradaban"– yang akan datang, sebagaimana telah ditemukan tanda-tanda Allah dalam sepanjang sejarah dan peristiwa terkini. Namun orang kafir mengklaim bahwa semua ini adalah hasil dari sekadar kekacauan!

Kesimpulannya, orang kafir harus merenungkan arogansi lemahnya dan membandingkannya dengan banyaknya tanda Penciptaan, termasuk yang ada di dalam dirinya. Dia harus bertobat dari keangkuhannya, mengenali Tuhannya dan tunduk kepada-Nya dengan mengikuti Rasul-Nya yang terakhir, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Adapun untuk Muslim, ia harus terus merenungkan tanda-tanda Allah, karena ini adalah salah satu amalan ibadah terbaik dan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan imannya. Dan ketika merenungkan ayat-ayat Allah, ia juga harus mengakui berkah dan nikmat yang mereka miliki. Kecondongan antara seorang pria dengan istrinya yang saling memenuhi kerinduan akan kebersamaan dan memastikan manusia terus beregenerasi, madu yang dihasilkan oleh lebah dan sifat penyembuhan yang terkandung di dalamnya, silih bergantinya siang dan malam yang memungkinkan manusia untuk istirahat dan bekerja, pencapaian biologis kompleks pada manusia yang meliputi sarana untuk melawan penyakit - semua ini adalah salah satu tanda-tanda yang mengandung keberkahan dari Tuhan sang pencipta. Dengan demikian, seseorang yang gagal untuk merenungkan tanda-tanda Allah juga akan gagal mengenali dan mengakui banyaknya nikmat Tuhannya yang telah diberikan kepadanya.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

Catatan kaki :

[1] Terdapat banyak ayat dalam al-Qur’an dimana Allah Subhanahu wa ta’ala menyeru hamba-Nya untuk merenungkan penciptaan. Lihat, misalnya, ar-Ra'd: 2-4, an-Nahl: 3-18 dan 65-69, ar-Rum: 8 dan 18-27, al-Jatsiyah: 12-13, al-Ghasiyah: 17-20, Fussilat: 53 , Surah Adz-Dzariyat: 20-23.

[2] Abul Mutsanna as-Sumaliy (Ali Dirie) adalah orang dengan karakter dan ibadah yang baik. Setelah dipenjara oleh Tentara Salib selama 7 tahun, ia mampu melarikan diri dari Kanada meskipun adanya larangan perjalanan. Ia berencana, berusaha, dan bertawakkal hanya pada Allah saja hingga ia tiba di Syam. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, ia akan membaca secara rutin mushaf yang sama yang telah menemaninya di sel penjara di Kanada. Setelah ekspansi resmi dari Daulah Islam ke Syam, ia bergegas untuk menghidupkan kembali Jama'ah Kaum Muslimin melalui bai'at-nya. Ia tidak terpengaruh oleh keraguan pengklaim jihad dan tetap teguh pada janjinya. Beberapa minggu kemudian, dia bermimpi di mana Hurr (bidadari surga) memberinya kabar gembira akan kesyahidannya pada tanggal tertentu (salah satu yang aku lupa). Seminggu sebelum kesyahidannya, beberapa teman kami memutuskan untuk pergi berbelanja pakaian militer baru. Dia mengatakan kepada mereka bahwa ia tidak akan pergi dengan mereka, karena ia mengharapkan syahid dengan segera, dan menceritakan mimpinya kepada mereka. Dan ketika hari itu tiba, tiba tiba semua tentara Daulah Islam waspada dan siap siaga karena kemajuan tiba-tiba dari tentara Nushairiy dan sekutu Rafidhiy mereka di garis depan didekat Kafar Hamroh (di utara pedesaan Aleppo). Abul Mutsanna bergegas ke pertempuran dan maju ke arah musuh, berperang sampai ia terluka parah dan perdarahan hebat hingga ia menyerahkan jiwanya kepada Rabbnya. dikarenakan tingginya intensitas tembakan musuh, maka tidak memungkinkan untuk mengevakuasi tubuhnya dari posisi yang telah ia capai. Semoga Allah menerimanya dan menambahkan barakah kekhalifahan yang kita nikmati hari ini dalam lembaran perbuatan baik.