Jumat, 27 April 2018

UDH-HIYYAH (BERKURBAN)

UDH-HIYYAH (BERKURBAN)

Udh-hiyyah adalah istilah untuk hewan ternak yang disembelih pada waktu ‘Idul Adha sebagai ‘ibadah dan qurbah (pendekatan diri) pada Alloh ta’ala.

Alloh ta’ala berfirman: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Alloh terhadap binatang ternak yang telah Alloh rizqikan kepada mereka, maka Tuhan-mu ialah Tuhan Yang Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Alloh).” (al-Hajj: 34)

Legitimasi Udh-hiyyah

Tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin bahwa Udh-hiyyah adalah bagian dari syari’ah diin ini. Legemitasi Udh-hiyyah ada dalam al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’, namun mereka berselisih mengenai hukumnya. Di antara mereka ada yang berkata “wajib bagi yang mampu.” Di antara mereka ada yang berkata mustahab (sunnah), namun sangat dianjurkan dari Nabi ‘alayhis sholatu wassalam (sunnah mu’akkad).

Waktu Udh-hiyyah

Udh-hiyyah tidak dibolehkan sebelum sholat ‘Id. Yang paling utama adalah segera setelah dilaksanakannya sholat ‘id, sesuai dengan sabda Nabi ‘alayhis sholatu wassalam: “Siapa yang menyembelih sebelum sholat (‘id) maka untuk dirinya sendiri. Sedangkan siapa yang menyembelih setelah sholat (‘id) telah sempurna qurbannya dan sesuai dengan sunnah muslimin.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhori)

Sabda beliau, “untuk dirinya sendiri” maksudnya adalah seperti sembelihan-sembelihan lainnya dan bukan termasuk Udh-hiyyah.

Hewan yang disembelih untuk Udh-hiyyah

Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Rosul shollallohu ‘alayhi wasallam menyembelih udh-hiyyah dengan dua ekor domba jantan berwarna putih-hitam.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim)

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata, “Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam menyembelih Udh-hiyyah satu sapi untuk istri-istrinya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim)

Dari Jabir bin ‘Abdulloh rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Kami menyembelih bersama Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam pada tahun Hudaibiyah, yaitu untuk unta untuk (patungan) tujuh orang. Sedangkan sapi untuk (patungan) tujuh orang.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
   
Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Hewan udh-hiyyah yang disepakati ummat Islam adalah delapan yang berpasangan (jantan & betina) : Dho’n (domba), Ma’iz (kambing), Ibil (Unta) dan Baqor (sapi).” [at-Tamhid]

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Ada empat yang tidak dibolehkan (dalam Udh-hiyyah); buta sebelah yang jelas butanya, yang sakit jelas sakitnya, yang pincang jelas pincangnya dan yang kurus tidak bersumsum.” (Diriwayatkan oleh Empat Penulis Kitab Sunan)

Penyertaan dalam Udh-hiyyah

Dari Abu Ayyub al-Anshori rodhiyallohu ‘anhu berkata, “seseorang menyembelih udh-hiyyah seekor domba / kambing untuk dirinya dan keluarganya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, beliau berkata, Hadits Hasan Shohih).

Dari Jabir bin ‘Abdulloh rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Kami menyembelih bersama Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam pada tahun Hudaibiyah, yaitu unta untuk (patungan) tujuh orang. Sedangkan sapi untuk (patungan) tujuh orang.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Apa yang Dilakukan terhadap Udh-hiyyah

Alloh ta’ala berfirman: “Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang miskin dan fakir.” (al-Hajj : 28)

Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Makanlah, dan berilah makan (faqir-miskin) dan simpanlah” (Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim)

Dari ‘Ali rodhiyallohu ‘anhu, Bahwasanya Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam memerintahkan dia untuk mengurusi unta beliau. Beliau memerintah untuk membagi semua daging, kulit dan jilal unta untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak memberikan (upah) penjagalannya sedikitpun. (Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim)

Adab-adab dalam Udh-hiyyah

Dari Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: "Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih Udh-hiyyah maka hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu dia berkata: ”Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam menyembelih Udh-hiyyah dua ekor domba jantan berwarna putih-hitam dan saya melihat Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam meletakkan kakinya di atas samping leher keduanya lalu membaca basmalah dan takbir, lalu menyembelih keduanya dengan tangan beliau.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim)

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhu dia mengatakan: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih (udh-hiyyah) di mushola (lapangan tempat sholat).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhori)

Hal itu dikarenakan mereka menunaikan sholat ‘Ied di mushola (lapangan tempat sholat), bukan di Masjid.

Infografik An-Naba’ Edisi 46

PENYAKIT HATI

PENYAKIT HATI

Allah azza wa jalla berfirman : “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” [asy-Syu’aro’: 88-89]

Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara syubhat, maka dia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa jatuh ke dalam perkara-perkara syubhat, maka dia telah jatuh dalam perkara haram. Ibarat penggembala yang menggembala di sekitar tanah terlarang. Dengan cepat dia akan menggembala di dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki tanah terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya tanah terlarang Alloh adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim]

Di Antara Sebab-sebab Penyakit Hati

- Bergaul dengan orang-orang yang lalai
- Dosa-dosa kholwat
- Melepaskan pandangan kepada perkara-perkara yang haram
- Menyibukkan diri dengan dunia
- Lalai dari mengingat Alloh

Beberapa Jenis Penyakit Hati

Nifaq
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Empat perkara, barang siapa keempatnya ada padanya maka dia adalah munafiq murni, dan barang siapa padanya terdapat satu sifat darinya maka padanya terdapat satu sifat dari nifaq, sampai dia meninggalkannya: jika dipercaya berkhianat, jika berbicara berdusta, jika membuat perjanjian mengkhianati, dan jika bertengkar/ bermusuhan menyimpang dari kebenaran.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Mengikuti hawa nafsu
Alloh ta’ala berfirman: “Wahai Dawud! Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau kholifah di bumi. Maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, disebabkan mereka melupakan hari  perhitungan.” [Shod: 26]

Sombong
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberat atom dari kesombongan.” Seorang laki-laki berkata: “Sesungguhnya laki-laki menyukai pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu indah, mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah mengingkari kebenaran dan menghina orang lain.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Hasad
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Janganlah saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya di atas tiga malam.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Riya’
Dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku beri tahu tentang sesuatu yang paling menakutkan terhadap kalian bagiku daripada al-Masih ad-Dajjal.” Abu Sa’id berkata: Kami berkata:  “Ya.” Beliau pun bersabda: “Syirik tersembunyi. Yaitu orang berdiri mengerjakan sholat, lalu dia memperbagus sholatnya karena melihat orang lain memerhatikannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah]

Buruk sangka
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah pembicaraan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari aib (orang lain), janganlah memata-matai (orang lain), janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi, janganlah saling mendengki, dan jadilah hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Obat Penyakit Hati

- Bermuhasabah diri
- Taubat dan istighfar
- Berdoa
- Memperbanyak ketaatan-ketaatan yang tersembunyi
- Mengingat Alloh dan membaca Al-Qur’an
- Menundukkan pandangan
- Mengingat akhirat
- Ikhlas dalam beramal

Infografik An-Naba

BID'AH MAULID

BID'AH MAULID

Alloh ta’ala berfirman: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Alu ‘Imron: 31]

Menjadikan hari maulid (kelahiran Nabi) sebagai hari raya adalah sebagian dari pensyariatan perkara-perkara baru (bid’ah).

Alloh ta’ala berfirman: “Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (sesembahan-sesembahan) yang mensyariatkan bagi mereka apa yang tidak diizinkan oleh Alloh?” [asy-Syuro: 21]

Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “Hari-hari raya adalah satu syariat di antara syariat-syariat. Maka wajib di dalamnya ittiba’ (mengikuti as-Sunnah), bukan ibtida’ (membuat bid’ah).” [Iqtidho’ ash-Shiroth al-mustaqim]

Ghuluw (sikap melampaui batas) terhadap para nabi adalah sebagian dari tradisi orang-orang kafir Ahlul Kitab.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nashroni memuji Ibnu Maryam secara berlebihan.” [Muttafaq ‘alaih]

Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam memiliki khutbah-khutbah, perjanjian-perjanjian, dan peristiwa-peristiwa pada berbagai hari, seperti hari Badr, Hunain, Khondaq, Fathu Makkah, waktu hijrahnya beliau, masuknya beliau ke Madinah, serta berbagai khutbah beliau lainnya yang di dalamnya beliau menjelaskan pondasi-pondasi agama, kemudian beliau tidak mewajibkan agar hari-hari semacam itu dijadikan sebagai hari-hari raya. Tetapi yang melakukan hal seperti ini adalah orang-orang Nashroni yang menjadikan semacam hari-hari (yang di dalamnya terjadi) peristiwa-peristiwa (yang dialami oleh) Isa ‘alaihis salam sebagai hari-hari raya; atau orang-orang Yahudi.” [Iqtidho’ ash-Shiroth al-mustaqim]

Mendekatkan diri kepada Alloh dengan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia adalah sebagian dari bid’ah yang diharamkan dan tercela.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diciptakan (dalam agama). Setiap perkara baru yang diciptakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesasatan, dan setiap kesesatan (pelakunya) di dalam neraka.” [Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan redaksi ini]

‘Abdulloh bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohimahulloh berkata: “Di antara bid’ah adalah: berkumpul pada waktu yang dikhususkan bagi orang-orang yang membaca siroh al-maulid asy-syarif, dengan keyakinan bahwa itu adalah ibadah yang dikhususkan dan dituntut; bukan (untuk mempelajari) ilmu siroh, sebab hal itu tidak dimaksudkan.” [ad-Duror as-Saniyyah]

Wajib hukumnya mengingkari orang yang mengadakan bid’ah maulid atau ikut serta di dalamnya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak bisa, maka dengan lisannya. Jika tidak bisa, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-selemah iman.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Ibnu al-Qoyyim rohimahulloh berkata: “Setiap bid’ah yang menyesatkan dalam agama dasarnya adalah mengatakan sesuatu atas nama Alloh tanpa ilmu. Karena itu, salaf dan para imam sangat mengingkarinya. Mereka meneriakkan para pelakunya dari segenap penjuru bumi dan memberikan peringatan akan fitnah mereka dengan sekeras-sekeras peringatan. Dan mereka berusaha keras dalam hal itu melampaui usaha keras mereka dalam mengingkari perbuatan-perbuatan keji, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan. Sebab, madhorot dan kerusakan (yang ditimbulkan oleh) bid’ah terhadap agama serta pertentangan-pertentangannya dengan agama adalah lebih besar.” [Madarij as-Salikin]

Infografik An-Naba’

TOKOH ATAU BERHALA?!

TOKOH ATAU BERHALA?!

Fitnah sosok tokoh yang menyebabkan manusia tergantung dan membebek tokoh-tokoh tersebut sekalipun telah jelas sesat, tidak hanya menerpa orang itu aja. Orang-orang yang terfitnah itu juga berusaha menjadikan sahabat atau orang-orang dekat si tokoh menggantikan tokoh tersebut. Jika si tokoh tersebut meninggal segeralah mereka mengangkat dan mengagungkan salah satu keluarga atau orang-orang dekatnya untuk menggantikan si tokoh itu. Yang dipilih atau dipaksa diangkat mayoritasnya adalah orang-orang yang berada di lingkaran si tokoh, atau bisa jadi orang jauh akan tetapi mereka berhasil mencari-cari hubungannya dengan si tokoh dan mengotentikkannya agar menjadi legitmasi bagi tokoh baru itu. Sehingga manhaj ketokohan yang lama terus berlangsung.

Cukup mudah sebenarnya, dengan izin Allah, memahami fenomena pengagungan keluarga dan orang-orang dekat si tokoh ini. Orang-orang yang membangun manhaj mereka berdasar atas tokoh dan tokoh akan merasa sesak jika si tokoh tidak ada karena meninggal atau sebab lain. Maka pilihannya adalah mereka mengklaim sebagaimana klaim Rafidhah jika si tokoh itu masih hidup dan terus bermajelis dengan mereka secara rahasia untuk membetulkan kesalahan-kesalahan yang terjadi, atau mereka mengangkat salah satu keluarga atau sahabatnya sebagai tokoh selanjutnya. Kemudian mereka menjadikannya menara seruan agar manusia melandaskan Diennya diatasnya, setelah mereka buktikan bahwa si tokoh baru ini memang telah mewarisi ilmu dan sifat tokoh lama, sehingga dialah yang paling mampu menjaga manhajnya dan membimbing pengikutnya.

Oleh karena itu, engkau dapati mereka tak kenal lelah untuk terus menampakkan tokoh barunya, terus berduel dengan bersenjatakan kuatnya hubungan tokoh barunya dengan tokoh lamanya. Entah dia itu “sahabat si tokoh”, atau “penjaga si tokoh”, “supir si tokoh”, “anak si tokoh”, atau bahkan pernah muncul bersama si tokoh pada suatu waktu. Semuanya itu –menurut Dien mereka– mengharuskan umat islam untuk mentaati dan mengikut mereka, sebagaimana menurut mereka umat islam harus mentaati dan mengikuti si tokoh yang lama itu.

Bahkan bisa jadi kerabat atau sahabat si tokoh itu lebih berbahaya fitnahnya atas manusia. Hal itu lantaran banyak dari orang yang dijadikan sebagai tokoh itu tidak rela dirinya dijadikan tokoh, hanya karena mereka melakukan aksi yang berbuah pujian dan pengagungan manusia kepadanya sedangkan mereka sendiri tidak peduli. Adapun si tokoh baru ini, mereka ingin dan menuntut keterkenalan, sekalipun mereka tidak punya kelayakan selain hubungan dengan tokoh lama itu. Maka akhirnya engkau dapati mereka bertindak sesuka hatinya, bersandarkan hubungannya itu. Parahnya, sekalipun betapa sesat dan menyesatkannya tokoh baru ini, orang-orang yang terfitnah terus membelanya dan mengingatkan manusia akan hubungannya dengan tokoh lama mereka. Mereka menganggap kritikan atas si sesat ini sebagai kritikan atas si tokoh lama, bagai suatu dosa besar yang tidak termaafkan.

Oleh karena itu, kita akan mendapati si tokoh baru itu selalu berusaha menjaga kedudukan pendahulunya baik di dalam maupun di luar jama’ah. Karena ia mendapatkan kedudukan tokohnya itu lantaran hubungannya dengan tokoh lama. Jika tokoh lama itu kehilangan kedudukannya maka ia juga akan banyak kehilangan tokohnya itu lantaran hubungan langsungya. Bahkan hubungannya itu bisa menjadi malapetaka jika si tokoh lama jatuh martabatnya ketika pengikutnya menemukan suatu aib dalam biografinya yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Pada kondisi ini, pembelaan si tokoh baru atas tokoh lama itu hanyalah bentuk dari membela dirinya sendiri.

Bahaya lain yang ditimbulkan orang-orang itu atas suatu jama’ah atau tanzhim adalah bahwa mereka dalam banyak kesempatan ternyata menduduki hirarki kepemimpinan tertinggi tanpa mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang sesuai dengan kedudukannya. Maka yang timbul hanyalah kerusakan. Sebagaimana juga bahwa kedudukan mereka itu akan menimbulkan kecemburuan internal jika ternyata ada yang lebih mumpuni, yang pasti akan mengakibatkan perpecahan dan kehancuran.

Di sisi lain, kerabat dan orang-orang dekat si tokoh akan lebih terancam kedudukannya mengalami pergeseran dari pusat komando jama’ah. Karena orang-orang yang tidak puas dengan kepemimpinan baru itu akan berkumpul di sekeliling mereka menuntut berbagai macam hal untuk menutup celah bagi para pembelot sekalipun sekedar imajinasi, memanfaatkan ketokohan mereka untuk mengungguli anggota dan petinggi lainnya melalui tuduhan telah melenceng dari garis perjuangan otentik.

Mereka memanfaatkan tokoh-tokoh baru itu sebagai bukti tuduhan yang mereka tudingkan itu, dengan anggapan bahwa tokoh-tokoh baru itu adalah pewaris manhaj tokoh lama dan pembela mazhabnya dari para perusak. Mereka juga lebih terancam mendapatkan penentangan dan pembangkangan jika dimakzulkan (dilengserkan) dari kedudukannya maupun disingkap sebagian ketidak mampuannya, karena terkadang mereka merasa kebal dari hukuman dan merasa yakin ada pihak yang ikut marah jika mereka marah. Inilah yang jelas kita dapati di partai-partai politik maupun organisasi-organisasi, baik sekuler maupun islamis. Bahkan kita dapati secara nyata pada tarekat-tarekat sufi dan firqah-firqah sesat menyesatkan lainnya.

Fakta ini mendorong thaghut, petinggi kelompok, dan pemimpin partai serta organisasi berusaha semaksimal mungkin mendapatkan persetujuan kerabat-kerabat si tokoh. Maka mereka selalu berusaha mendekati anak-anak dan cucu-cucunya, untuk mendapatkan legitimasi di mata para pengikutnya.

Contoh yang paling jelas adalah rezim Alu Su’ud. Sekalipun mereka adalah thaghut murtad yang telah membuang jauh-jauh Dien dan melenceng dari jalan nenek moyangnya yang muwahid, namun mereka masih terus berusaha mendekati sebagian cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang dikenal dengan marga Alu Syaikh. Mereka tarik sebagian cucu Syaikh menjadi murtad dengan mengangkatnya menjadi menteri dan mufti untuk menipu orang-orang bodoh. Sehingga dengan adanya mereka itu, para ulama suu akan menjadikannya bukti bahwa rezim Alu Su’ud masih menapaki manhaj tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebagaimana pendahulu mereka Imam Muhammad bin Su’ud. Selama Alu Syaikh masih berada di barisan Alu Su’ud maka –dalam pandangan orang-orang bodoh itu– itu bukti bahwa mereka masih mengikuti manhaj Syaikh dan jejak para pendahulu Alu Su’ud.

Sekalipun sebagian cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab jelas-jelas telah jatuh murtad –seperti mufti Alu Su’ud sekarang yaitu Abdul Aziz Alu Syaikh, Menteri Wakaf Shalih Alu Syaikh dan masyayikh resmi serta tidak resmi lainnya– lantaran berwali kepada thaghut yang berhukum kepada selain syariat Allah, membantu salibis dan murtadin memerangi para muwahid dengan dukungan doa dan perkataan mereka, sekalipun demikian, kebanyak orang tidak menerima jika mereka dikritik, karena baginya mereka adalah pewaris ilmu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pelindung mazhabnya.

Simbiosis mutualisme antara thaghut Alu Su’ud dan murtadin Alu Syaikh bisa dipastikan segera berakhir ditengah percepatan proyek westernisasi dan sekularisasi Jazirah Arab. Tidak aneh jika hubungan ini nantinya berakhir dengan kampanye distorsi yang dilancarkan media Alu Su’ud atas Alu Syaikh berupa tuduhan-tuduhan keji, menganggap mereka kelompok kekanak-kanakan yang mendapatkan keuntungan dari kedekatannya kepada rezim sekalipun tidak memberi keuntungan kepada negara. Hal itu dilakukan untuk mematahkan ketokohan mereka yang telah dimanfaatkan Alu Su’ud selama ini, sebagai langkah pertama untuk melemahkan lalu menyingkirkan mereka dari panggung, mencegah mereka berubah menjadi pusat tujuan orang-orang yang ingin memanfaatkan ketokohan mereka dalam rangka menyaingi Alu Su’ud.

Demikian juga si thaghut nasionalis yang telah mati itu yaitu Akhtar Manshur yang segera meminta bai’at dari keluarga amirnya yang dulu yaitu Mullah Umar, namun ternyata ia baru mendapatkannya berbulan-bulan berikutnya setelah melalui negosiasi alot yang berbuntut diserahkannya beberapa jabatan penting di gerakan nasionalis Taliban kepada anggota keluarga Mullah Umar. Sehingga jadilah bai’at ini sebagai legitimasi thaghut Akhtar Manshur yang tanpanya ia tidak akan bisa mendapatkan dukungan dalam gerakan ini.

Gerakan yang amat terwarnai dengan adat-adat kabilah dan pemikiran sufi Deoband berupa pewarisan kepemimpinan syaikh kabilah atau tarekat kepada putra tertuanya. Jika Akhtar Manshur diberi umur panjang mungkin kita akan menemukannya berusaha menyingkirkan keluarga Mullah Umar dari panggung pergolakan setelah merebut kembali beberapa jabatan yang terpaksa diserahkannya setelah berhasil mengokohkan kedudukannya dan menyingkirkan titik-titk yang mengancam kewibawaannya dalam gerakan nasionalis Taliban, setelah ia terbukti mengangkangi kepemimpinan Taliban selama beberapa tahun dengan cara menyembunyikan kabar kematian Mullah Umar.

Sesungguhnya para ahli tauhid yang murni dan pengikut manhaj nabawi yang lurus selamanya tidak akan mendasarkan ideologi mereka atas tokoh-tokoh tertentu seberapapun berjasa dan terpujinya ia. Mereka mendasarkannya atas pondasi yang kokoh dari Kitabullah dan Sunnah. Oleh karena itu, mereka tidak pernah merasa harus selalu menguatkan jama’ah dengan tokoh, dan terus menciptakan sosok tokoh demi tokoh di setiap generasi untuk menjaga keutuhan jama’ah, tidak seperti yang dilakukan partai-partai dan organisasi-organisasi yang sesat dan menyimpang. Sehingga kita dapati para kerabat dan sahabat petingginya mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari anggotanya sesuai dengan komitmen mereka kepada manhaj yang lurus, sesuai dengan kadar kebaikan dan amal shaleh yang mereka lakukan, bukan berdasarkan kekerabatan, persahabatan, maupun hubungan khusus.

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang terang telah menunjukkan kepada mukmin bahwa hubungan kekerabatan dengan orang shaleh itu tidak bermanfaat sama sekali. Siapapun yang menapaki jalan keshalehan pendahulunya maka ia termasuk dari mereka, dan siapapun yang menyimpang dan tersesat maka Allah akan menjauhkannya dan nasabnya sama sekali tidak bisa mendekatkannya, sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS ath-Thuur: 21)

Dan firman-Nya, “Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata (QS as-Shaffat: 113)

Serta firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji- Ku (ini) tidak mengenai orang yang zhalim” (QS Al-Baqarah: 124)

Dan juga firman-Nya, “Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan” (QS Huud: 45-46)

Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Wahai ibu Zubair bin Awwam bibi Rasulullah, wahai Fatimah binti Muhammad, belilah jiwa kalian sendiri karena aku tidak mampu memberikan perlindungan sedikitpun dari Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan sabda beliau: “Barangsiapa yang dilambatkan oleh amalnya maka nasabnya sama sekali tidak bisa mendorongnya” (HR Muslim)

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

An-Naba Edisi 44

SYAIKH ABU ALI AL-ANBARI, SEORANG ALIM, DAI, ABID DAN MUJAHID

SYAIKH ABU ALI AL-ANBARI, SEORANG ALIM, DAI, ABID DAN MUJAHID

Allah memberi karunia kepada Irak sebelum invasi Amerika dengan sekumpulan muwahhid yang memikul harapan dakwah tauhid dan memerangi kesyiri¬kan serta kebid’ahan sekalipun di bawah tirani Partai Ba’ats sekuler yang selalu memerangi Islam dan kaum mus¬limin. Ketika salibis menjejakkan kakinya di bumi Irak, merekalah tembok kokoh yang menggagalkan derap salibis. Mereka berhasil menggagalkan strategi salibis dan mengusirnya dengan kehinaan. Mereka tegakkan Daulah Islam di bumi Rafidain. Mereka ter¬us teguh dalam jihadnya. Sebagian dari mereka telah menemui Rabbnya dan sebagian lain Allah beri kes¬empatan untuk menikmati hidup ketika seluruh Dien itu milik Allah, dalam naungan Daulah Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah keturunan Quraisy yang mengarahkan manusia dengan manhaj kenabi¬an.

Diantara para juru dakwah itu yang menapaki man¬haj para Nabi dalam mempe¬lajari dan mengajarkan tauhid, menjihadi musuh-musuh Allah dengan pedang dan hujjah, ber¬sabar atas ujian yang menimpa mereka di jalan ini, sampai mer¬eka terbunuh syahid di jalan Al¬lah; adalah Syaikh Mujahid Abu Ali Al Anbari taqobbalahullah, demikian kami menilai dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Ketika thaghut Ba’ats Saddam Husein yang binasa itu bersama partai murtadnya menguasai Irak layaknya Fir’aun yang kejam, yang tidak saja mengganti hukum Allah dengan undang-undang buatan, namun juga berusaha merubah aqidah kaum muslimin dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dan membuka pin¬tu selebar-lebarnya kepada orang-orang sufi musyrik dan Rafidhah untuk menyebarkan agama rusak mereka, serta menyebarkan seku¬lerisme dan berbagai isme lain, di saat manusia dikangkangi oleh tha¬ghut kejam ini; di salah satu mas¬jid kota Tal ‘Afar yang terletak di barat kota Mosul, Syaikh Abdu¬rrahman Al Qoduli (yaitu nama aslinya) berdiri menyeru manusia kepada tauhid.

Tiap hari Jum’at, orang banyak selalu berkumpul di masjidnya sampai memenuhi jalan-jalan di sekitarnya. Dan ia¬pun tidak terlepas dari kekejaman thaghut dan agen intelijenn¬ya.

Namun ancaman-ancaman Ba’atis tidak dipedulikannya. Sekalipun ia adalah satu-satunya tulang punggung keluarga be¬sarnya, hal itu tidak mencegahn¬ya terus menggelorakan jihad. Di antara tiang-tiang masjidnya, ia terus menyeru kepada Allah, mengkafirkan Partai Ba’ats dan anggotanya, serta memprovoka¬si teman-temannya untuk juga mengkafirkan dan memerangi mereka.

Orang-orang Ba’ats murtad tidak mampu bersabar lebih lama lagi terhadapnya. Segera saja mereka mencekalnya dari berkhutbah, bahkan adzanpun mereka mela¬rangnya. Mereka terus mem¬persempit ruang geraknya sampai tidak pernah berlalu satu bulan kecuali ia dipanggil oleh intelijen thaghut.

Pada saat itu, rezim Ba’ats Irak se¬makin melemah setelah rangkaian perang gagal yang mereka terjuni. Para muwahhid sedang menung¬gu-nunggu kehancurannya. Mer¬eka sudah mengira jika di saat yang sama salibis Amerika akan datang menginvasi Irak dengan alasan menjatuhkan pemerintah¬an thaghut. Namun mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membentuk gerakan yang kuat yang mampu melengserkan tha¬ghut pada saatnya.

Maka solusin¬ya adalah setiap elemen di setiap daerah berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling mengenal dan mempela¬jari Dien pada tempat yang jauh dari pantauan orang-orang Ba’ats. Terbentuklah beberapa kelompok yang tidak saling terikat di Bagh¬dad dan daerah sekitarnya, di Anbar dan pedesaannya, di Diya¬la, Karkuk, Mosul, dan Tal ‘Afar yang mana Syaikh Abu ‘Ala (yai¬tu kunyah aslinya) adalah pemi¬mpinnya dan sumber fatwa serta keputusannya.

Aktifitas Syaikh Abu ‘Ala tidak terbatas di kota Tal ‘Afar, kota tempat tinggalnya dan tempat mengajarnya pada salah satu ma’had syari’i di sana. Aktifitasn¬ya meliputi banyak tempat lain di Irak, khususnya Baghdad sebagai tempatnya mengajar pada salah satu universitasnya, yang mana di situ terjalin hubungannya dengan jama’ah salafiyah Syaikh Fayiz taqobbalahullah, dengan para muwahhid kota Mosul yang ketika itu berada di utara Irak, dan dengan para mujahid Kurd¬istan yaitu Jama’ah Anshar al Is¬lam yang mengatur satu-satunya medan jihad di daerah tersebut yang menjadi tujuan jihad ban¬yak pemuda Irak dan negeri-neg¬eri lain.

Dakwah Syaikh Abu ‘Ala dan kawan-kawannya di Tal ‘Afar membuahkan hasil baik. Banyak dari elemen-elemen Rafidhah penduduk kota Tal ‘Afar bertau¬bat di hadapannya. Penduduknya juga banyak yang telah mengkaf¬irkan aqidah Ba’ats, dan berlepas diri dari bekerja di dinas keten¬taraan dan perangkat keamanan thaghut Saddam.

Diantara mereka ada yang Allah tetap teguhkan pada aqidahnya dan menjadi se¬baik-baik mujahidin sampai Allah wafatkan mereka sebagai syuhada di jalan-Nya, demikianlah kami menilai dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Disamping kegiatan dakwah, Syaikh tidak melalaikan jihad fie sabilillah. Maka beliau beker¬ja sama dengan mujahidin di gunung-gunung Kurdistan. Ia juga bekerja sama dengan mu¬wahidin Tal ‘Afar yang diper¬cayanya membentuk jama’ah ji¬had untuk melaksanakan operasi militer melawan pemerintahan thaghut Saddam Husein dan par¬tai jahiliyahnya, serta tentara dan pendukung murtadnya. Pelatihan jama’ah jihad tersebut dikoman¬doi oleh Syaikh Abu Al Mu’taz Al Qurasyi taqobbalahullah yang sebelumnya merupakan perwira Ba’ats yang telah bertaubat dan mengkufuri serta berlepas diri dari loyalitas kepada thaghut dan tentara murtadnya. Namun Allah mentakdirkan aktifitas jama’ah ji¬had ini menghadapi musuh yang lebih besar, yaitu tentara salibis pimpinan Amerika yang mengin¬vasi Irak.

Invasi salibis atas Irak mengaki¬batkan banyak hal. Hancurnya pemerintahan Ba’ats dan ten¬tara serta seluruh perangkat kea¬manannya, kekacauan melanda seluruh negeri, senjata tersebar di tangan penduduk, hantaman kuat atas Jama’ah Anshar Al Islam dengan banyaknya anggotanya yang terbunuh oleh rudal-rudal penjelajah Amerika, masukn¬ya sejumlah besar muhajirin ke bumi Irak memanfaatkan keka¬cauan tersebut yang diantaranya adalah Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi taqobbalahullah, de-mikian juga Ikhwanul Murtaddin di Irak memanfaatkan kekacauan tersebut untuk menampakkan aqidah syirik dan manhaj kufur mereka dengan masuk ke dalam barisan salibis dan Rafidhah.

Tidak beberapa lama setelah Baghdad jatuh ke tangan salibis, di seluruh penjuru Irak telah ter¬bentuk sejumlah besar faksi-faksi perlawanan dengan aliran dan tujuan yang bermacam-macam. Diantara jama’ah-jama’ah terse¬but terbentuklah Jama’ah Tauhid wal Jihad yang beranggotakan sejumlah muhajirin dan anshor di bawah pimpinan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi, dan Ja¬ma’ah Ansharus Sunnah yang ter¬bentuk dari sisa-sisa Anshar Al Islam setelah mereka mundur ke kota-kota Irak ditambah dengan sekelompok muwahid yang terse¬bar di berbagai penjuru Irak, yang petingginya melindungi petinggi Anshar Al Islam setelah mereka kehilangan kontrol atas gunung-gunung Kurdistan.

Majmu’ah salafi Tal ‘Afar adalah diantara kelompok-kelompok yang ber¬gabung dalam Ansharus Sunnah, segera setelah mereka memulai aktifitas militernya dengan nama Batalyon Muhammad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Tidak berselang lama sampai Syaikh Abu Iman (yaitu kunyah Syaikh Al Anbari yang dipilihnya sendiri setelah invasi Amerika) diangkat menjadi penanggung jawab syar’i tentara Ansharus Sunnah.

Allah menakdirkan kedua syaikh, yaitu Syaikh Abu Mush’ab dan Syaikh Abu Iman bertemu. Per¬temuan itu membuahkan ke¬cintaan di antara mereka ber¬dua, dan masing-masing pihak senang mengetahui kebersihan aqidah dan manhajnya. Ketika itu opini umum mujahidin An¬sharus Sunnah adalah berusaha menyatukan kalimat dan bersatu di bawah kepemimpinan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi dan Tanzhim Al Qaeda.

Maka mere¬ka menekan petinggi jama’ah un¬tuk mewujudkan hal itu. Syaikh Abu Iman sendiri berusaha sung¬guh-sungguh mengadakan per¬temuan langsung petinggi kedua jama’ah. Pertemuan antara Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi dengan amir Ansharus Sunnah Abu Abdil¬lah Asy Syafi’i berhasil diadakan, namun Syaikh Abu Abdillah me¬nolak bergabung dengan alasan hendak bermusyawarah terlebih dahulu dengan prajuritnya, seka¬lipun sebenarnya ia mengetahui bahwa prajuritnyalah yang men¬dorong Ansharus Sunnah berbaiat kepada Tanzhim Al Qaeda.

Ke¬tika itu Syaikh Abu Iman segera mengumumkan bai’atnya kepada Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqa¬wi dan bergabung dalam barisan Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain bersama dengan mayor¬itas mujahidin Ansharus Sunnah. Bai’at ini merupakan bai’at terbe¬sar dalam sejarah jihad Irak, yang ketika itu terkenal dengan baiat “Al Fatihin”. Syaikh Abu Mush’ab lalu memilih Syaikh Abu Iman sebagai wakilnya dalam struktur Tanzhim. Namun tidak beberapa lama salibis berhasil menangkap¬nya dan menjebloskannya dalam penjara Abu Ghuraib. Teta¬pi selang beberapa bulan beliau kembali bebas setelah mata salibis dibutakan oleh Allah sehingga ti¬dak mengetahui identitasnya dan perannya dalam medan pertem¬puran yang sedang memanas.

Ketika itu media salibis sedang melancarkan kampanye me¬dia sengit untuk merusak nama baik mujahidin Irak, khusus¬nya Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi taqobbalahullah dan teman-temannya. Kampanye ini diikuti oleh petinggi-petinggi fak¬si-faksi sesat itu dan juga petinggi partai Ikhwanul Murtaddin yaitu Al Hizbu Al Islami, khususnya setelah nama Syaikh Az Zarqa¬wi berdengung memenuhi langit Irak, dan mujahidin Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain men¬jadi batu sandungan kokoh setiap proyek khianat orang-orang sesat yang terang-terangan murtad itu.

Namun yang membuat Syaikh Az Zarqawi bersedih adalah kri¬tikan-kritikan yang bersumber dari Tanzhim Al Qaeda di Khu¬rasan. Tidak diragukan lagi jika mereka malah percaya dengan isu yang disebarkan oleh media salibis. Namun dengan tersing¬kapnya topeng penyimpangan mayoritas faksi-faksi perlawa¬nan, mereka tidak punya pilihan kecuali mengkritik buruknya hubungan Syaikh Az Zarqawi dan kawan-kawannya dengan petinggi Ansharus Sunnah, dan ketika itu petinggi Ansharus Sun¬nah terus berhubungan dengan Athiyatullah Al Libi melalui jal¬ur Iran.

Menghadapi prasangka buruk dan kritikan demi kritikan Tanzhim Al Qaeda Khurasan, pilihan terbaik yang ada adalah mengutus utusan khusus kepada mereka untuk menjelaskan haki¬kat permasalahan yang terjadi dan tuduhan-tuduhan petinggi Ansharus Sunnah atas mujahidin. Dan siapa yang lebih baik dar¬ipada Syaikh Abu Iman untuk melaksanakan tugas ini. Beliau dahulu adalah penanggung jawab syar’i Ansharus Sunnah yang pasti lebih tahu dengan kondisi mereka dan mengerti hal-hal yang mere-ka sembunyikan. Maka Syaikh menyambut dengan senang hati permintaan amirnya.

Beliau lalu pergi ke Khurasan, menerangkan hakikat permasalahan yang ter¬jadi, lalu kembali ke Irak untuk memberitahukan kisah perjala¬nannya dan hasil yang dicapain¬ya.

Tentara salibis Amerika semakin merajalela di Irak. Proyek orang-orang sesat juga mulai menceng-keram bumi Irak. Semuanya be¬rusaha mencuri buah jihad Irak melalui permainan setan-setan Sururi dan intelijen pemerintah¬an Arab murtad terkhusus nega¬ra-negara Teluk. Maka Syaikh Az Zarqawi dengan kawan-kawann¬ya segera bergerak mengembang¬kan proyeknya dengan menyatu¬kan faksi-faksi terbaik dari sisi aqidah dan manhajnya termasuk Tanzhim Al Qaedah fi Bilad Ar Rafidain dalam payung Majelis Syuro Mujahidin Irak. Mereka sepakat bahwa kepemimpinan majelis digilir di antara faksi-fak¬si yang menjadi anggota majelis. Dan dipilihlah Syaikh Abu Iman sebagai amir pertama Majelis Syuro Mujahidin. Beliau sendi¬ri yang menyampaikan statemen pertama majelis dengan nama samaran Abdullah bin Rasyid Al Baghdadi, yang kemudian menja¬di terkenal dikalangan media.

Pada bulan Rabi’ul Awwal 1437 H, Allah mentakdirkan Syaikh Abu Iman harus pergi dari utara Irak untuk bertemu dengan dua penanggung jawab tanzhim yang lalu mereka bersama-sama pergi untuk bertemu dengan Syaikh Az Zarqawi di daerah selatan Baghdad. Ketika mereka sedang menginap di suatu rumah dalam perjalanan ke Baghdad, mereka dikejutkan dengan penerjunan pasukan Amerika pada rumah yang mereka tempati. Ketika itu mereka terpaksa tidak membawa senjata karena harus melewati jal¬ur yang banyak terdapat cekpoin. Dengan takdir Allah, salibis ber¬hasil menangkap mereka setelah baku tembak dengan majmu’ah istisyhadi yang tinggal di dekat rumah tersebut. Sehingga ters-ingkaplah tempat peristirahatan yang ditempati Syaikh Abu Iman dan kawan-kawannya. Peristi¬wa itu adalah pukulan terberat yang menghantam Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain.

Di penjara, Allah kembali mem¬butakan penglihatan interogator akan hakikat mayoritas peran dua mas’ul tanzhim yang men¬jadi tawanannya. Ketika salibis mendapati betapa para ikhwah bersungguh-sungguh berusa¬ha menjauhkan Syaikh Abu Iman (ketika itu salibis Amerika menyebutnya Haji Iman) dari se¬gala tuduhan dan membebaskan¬nya dengan segala cara sekalipun para ikhwah harus menanggung tuduhan itu, mereka semakin curiga dengan beliau. Kecurigaan itu semakin bertambah melihat betapa tenang dan bermartabatn¬ya Syaikh. Mereka meningkatkan usaha penyelidikan untuk meny¬ingkap indentitasnya karena mer¬eka yakin beliau adalah orang penting dalam tanzhim.

Namun Allah menggagalkan usaha mer¬eka, paling jauh mereka hanya mendapati bahwa beliau adalah anggota tanzhim, dan mereka menyangkanya amir Tal ‘Afar lan¬taran Syaikh beraktifitas di kotan¬ya hampir terang-terangan karena beliau adalah orang yang dikenal di daerahnya. Sehingga mendekamlah beliau di pen¬jara selama be¬berapa tahun.

Masa-masa penahanann¬ya dihabiskan dengan ber¬pindah-pin¬dah dari satu blok ke blok lain dan dari satu penjara Amerika ke penjara-pen¬jara lain di penjuru Irak. Tidak lama berdiam di salah satu blok sampai segera dipindahkan ke blok lain, tidak lama berdiam di satu penjara sampai segera dipin¬dahkan ke penjara lain yang jauh. Karena mereka mengetahui pen¬garuhnya atas para tahanan.

Di setiap tempat yang dimasukinya, para tahanan segera berkumpul di sekelilingnya. Hampir-hampir salibis membunuhnya di pen¬jara ketika salah satu murtadin terbunuh namun tidak diketa¬hui pelaku dan provokatornya. Namun Allah menyelamatkan¬nya dari makar mereka dengan keutamaan-Nya. Mereka terus berusaha meletihkannya dengan terus memindah-mindahkannya di berbagai penjara. Sedang mereka tidak tahu usaha itu justru amat membantunya. Tiap kali pindah ke tempat yang baru, kesempatan untuk berdakwah dan mengajar kembali terbuka di ha¬dapannya. Mayoritas dakwahnya berfokus pada pengajaran tauhid kepada Allah dalam hukum-Nya dan yang membatalkannya be¬rupa syirik ketaatan, istana dan undang-undang.

Tidaklah beliau bertempat di suatu tempat kecua¬li menyeru penghuninya dengan seruan Yusuf ‘Alaihis salam: “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang ber¬macam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perka¬sa”.

Maka para ikhwah pun ber¬kumpul di sekelilingnya mena¬dah ilmu yang mengalir darinya, dan jadilah beliau amir serta sum¬ber keputusan dalam seluruh perkara mer¬eka. Pada saat itu banyak dari Junud Daulah yang belajar lewat tangan din¬ginnya, dian¬taranya adalah dua orang wali yang Allah ja¬dikan keduan¬ya adzab atas Rafidhah di Baghdad, yai¬tu Manafi Ar Rawi dan Hudzaifah Al Bathawi taqobbalahumallah.

Pada masa penahanannya terjadi peristiwa-peristiwa penting da¬lam sejarah jihad Irak. Yaitu ke-pindahan Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi taqobbalahullah ke Diyala untuk menyiapkan deklarasi Daulah Islam Irak. Na¬mun beliau terbunuh di tangan salibis sebelum mendeklarasikan¬nya sendiri. Tongkat kepemimpinan kemudian diterima oleh Syaikh Abu Hamzah Al Muhajir taqobbalahullah yang kemu¬dian mengumumkan pembuba¬ran Tanzhim Al Qaeda fi Bilad Ar Rafidain dan berbai’at kepada Syaikh Abu Umar Al Baghdadi taqobbalahullah, amir pertama Daulah Islam Irak. Juga peristiwa murtad massal faksi-faksi perla¬wanan yang berpartisipasi dalam proyek shahawat Amerika.

Bumi menjadi sempit bagi muwahi¬din. Mujahidin banyak yang ter¬bunuh, sampai Syaikh Abu Umar Al Baghdadi dan Abu Hamzah Al Muhajir taqobbalahumallah pun terbunuh. Kemudian bende¬ra diambil oleh Syaikh Abu Bakar Al Baghdadi hafizhahullah dan dimulailah tahapan baru dalam sejarah Daulah Islam Irak.

Syaikh Abu Ali Al Anbari be¬bas dari penjara pada permulaan tahapan penting ini yang ditan¬dai dengan masuknya mujahi¬din Daulah Islam Irak ke Syam setelah gelombang demonstrasi yang melanda banyak dari neg¬eri-negeri kaum muslimin (rev¬olusi Arab spring). Daulah Islam Irak berekspansi ke Syam, berubah menjadi Daulah Islam Irak dan Syam. Beliau rahimahul¬lah berpartisipasi dalam banyak peristiwa penting sampai kema¬tiannya, setelah matanya dise¬jukkan dengan tegakknya Dien dan kembalinya Khilafah. Dan ini yang akan kita bicarakan pada biografi indah beliau berikutnya taqobbalahullah.

An-Naba Edisi 41

SYAIKH UMAR ASY-SYISYANI, PAHLAWAN KAUKASUS DAN KSATRIA KHILAFAH

SYAIKH UMAR ASY-SYISYANI, PAHLAWAN KAUKASUS DAN KSATRIA KHILAFAH

Ujian dalam bentuk kebaikan adalah fitnah yang tidak bisa dilewati oleh seorangpun kecuali mereka yang Allah selamatkan lantaran keikhlasan dan keinginan akan akhirat saja. Banyak yang mampu untuk tetap teguh menghadapi gelombang demi gelombang ujian buruk berupa penjara, siksaan dan keterusiran, namun ia terjatuh tatkala semua ujian itu telah selesai dan Allah letakkan ujian baru dengan dibukanya pintu dunia serta keindahannya. Ia mengira kemuliaan dan kenikmatan yang didapatkannya itu adalah balasan atas kesabarannya dalam menghadapi ujian, terlupa akan adanya sisi lain dari ujian dimana sebagian orang bisa bersabar menghadapinya, namun sebagiannya malah kufur.

Kisah paling menarik tentang keteguhan dalam menghadapi gelombang ujian, namun ia tetap bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya dengan semakin giatnya ia beramal pun beribadah; adalah kisah Syaikh Umar Asy Syisyani taqabbalahullah, demikianlah kami menilai beliau dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Seorang pemuda yang sedang berada di masa "mekar-mekarnya" berhijrah ke Syam, memenuhi jeritan pertolongan kaum muslimin di sana, berharap semoga dengan hijrahnya ia digolongkan dalam kaum yang di sabdakan oleh Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Berpeganglah kamu dengan Syam, karena ia adalah sebaik-baik tempat di bumi-Nya, dimana hamba-hamba-Nya yang terpilih menuju".

Ia menetap di Halab, sebagai pejuang salah satu faksi yang mengklaim menapaki manhaj Tauhid. Ia beramal di dalamnya selama beberapa lama, sampai kemudian bergabung bersama beberapa muhajirin Kaukasus, yang sebelumnya dipimpin oleh Abu Muhammad al Abbasi taqabbalahullah (Majelis Syura Mujahidin), namun beliau mengizinkan mereka keluar dari katibahnya. Dengan demikian, beberapa belas muhajir ini berkumpul, lalu di kemudian hari membentuk Katibah al Muhajirin. Syaikh Umar menjabat sebagai komandan militernya, lalu diangkat menjadi komandan umum.

Tak memakan waktu lama, sampai Syaikh Umar dan katibahnya itu bergerak bebas di berbagai medan tempur di utara Syam. Setiap pertempuran yang diterjuninya semakin mempertegas reputasinya sebagai faksi perlawanan dengan administrasi kepemimpinan yang baik dan pejuang yang cerdas, di saat tatkala mayoritas faksi lainnya kurang berpengalaman dan tak teratur di medan tempur.

Dengan semakin terkenalnya Katibah al Muhajirin dan semakin banyaknya mujahidin yang bergabung, nama Umar Asy Syisyani kian bersinar. Khususnya setelah Allah memberikan kemenangan dalam beberapa operasi, yang paling terkenal adalah operasi militer gabungan Katibah al Muhajirin menggempur Batalyon kuat rezim di Syaikh Sulaiman, bersama Kataib Al Battar, Majelis Syura Mujahidin dan Junud Daulah Islamiyah yang saat itu bernama Jabhah Nushrah.

Katibah al Muhajirin juga ikut berpartisipasi dalam mayoritas operasi militer di pinggiran Aleppo, seperti pertempuran Tha'anah, Khan Tuman, Brigade 80, Batalyon Handarat, Al Jandul, dan Penjara Pusat Aleppo, pun berbagai pertempuran lain. Dengan setiap kemenangan yang diraih, Katibah Al Muhajirin semakin bertambah besar dan semakin baik suplai persenjataannya. Jadilah Umar Asy Syisyani sebagai komandan salah satu faksi terbesar di Syam, dimana faksi-faksi lain berlomba-lomba untuk menjalin persekutuan dengannya dan berharap bisa berperang di sampingnya.

Namun Umar taqabbalahullah siap untuk menanggalkan semua itu dan menjadi prajurit bagi siapapun yang aqidah dan manhajnya terpercaya. Ketika itu, dalam pandangannya tidak ada yang lebih baik dari Jabhah Nushrah. Ia tak tahu bahwa Jabhah Nusrah hanyalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah, lantaran para petinggi Jabhah Nushrah selalu menyembunyikan hal itu dengan maksud tertentu yang kemudian Allah beberkan.

Ketika Abu Atsir al Halabi taqabbalahullahmengajukan tawaran penggabungan Majelis Syura Mujahidin dengan Katibah al Muhajirin, Umar malah menyodorkan tawaran lain, yakni bergabungnya kedua faksi itu dengan Jabhah Nushrah guna menyatukan kalimat dan memperkuat barisan mujahidin. Namun Abu Atsir menolak tawaran tersebut karena mengetahui penyelewengan manhaj petinggi Jabhah Nushrah saat itu dan buruknya akhlaq mereka, yang ia ketahui setelah membersamai mereka, khususnya di penjara Sednaya yang terkenal itu.

Peristiwa pertama yang memperlihatkan padanya perihal hakikat para pengkhianat itu ketika ia ikut serta bersama mereka dalam pertempuran Syaikh Sulaiman dan Batalyon Tha'anah. Ketika itu mujahidin berhasil mendapatkan ghanimah yang banyak. Mereka berprasangka baik terhadap Jabhah Nushrah sehingga menyerahkan ghanimah tersebut untuk dibagikan dengan adil. Namun ternyata mereka dikejutkan dengan pengkhianatan Jabhah Nushrah. Bagian mujahidin dimakan secara bathil oleh mereka. Jumlah ghanimah persenjataan dipermainkan. Sampai bagian kecil yang mereka akui sebagai bagian faksi-faksi yang ikut serta dalam pertempuran itu tidak diserahkan selama berbulan-bulan. Bahkan kemudian mereka manfaatkan bagian dari ghanimah itu untuk memaksa faksi-faksi tersebut berbai'at kepada mereka. Ketika mereka melemah, mereka gunakan harta ghanimah itu untuk mengiming-imingi faksi-faksi tersebut agar tidak berbai’at kepada Amirul Mukminin setelah Daulah Islamiyah mengumumkan secara resmi ekspansinya ke bumi Syam.

Sekalipun demikian, si pengkhianat Jaulani tetap mengajukan tawaran bai'at kepada Umar dan katibahnya, dengan memanfaatkan Haji Salam dan Abu Usamah al Maghribi taqabbalahumullah untuk mewujudkan hal itu lantaran kecintaan Umar kepada keduanya. Maka Umar berkumpul dengan majelis syuranya dan bersepakat bahwa bai’atnya kepada Jaulani (yang ketika itu mulai mengambil bai'at untuk dirinya sendiri) hanya terbatas pada bai'at qital. Mereka ingin mempelajari Jabhah Nushrah dari dekat terlebih dahulu melalui operasi bersama.

Terjadilah pertemuan yang mana Allah menakdirkan tersingkapnya sifat busuk lain Jaulani di samping sifat khianatnya dalam permasalahan ghanimah tersebut. Ia mengikuti pertemuan tersebut dengan pongah, berbicara dengan sombong dan congkak, dan menolak syarat apapun untuk berbai'at padahal ia sendiri yang menawarkan bai'at tersebut. Allah masih melindungi mereka dari konspirasi si busuk itu lantaran mereka melihat dengan mata kepala sendiri kebusukan tabiatnya.

Penyelewengan Jaulani dan gengnya terdengar sampai telinga Amirul Mukminin hafizhahullah yang akhirnya terpaksa pergi menuju Syam untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan para perusak itu. Dengan demikian, terbukalah kesempatan bagi Umar Asy Syisyani dan teman-temannya untuk bertemu langsung dengan beliau, dimana pertemuan itu akhirnya melahirkan bai'atnya kepada Amirul Mukminin setelah menyaksikan langsung sifat-sifat kepribadian beliau yang menyejukkan matanya. Peristiwa itu terjadi setelah pengumuman resmi ekspansi Daulah Islamiyah ke Syam. Syaikh Abu Bakar al Baghdadi menerima persyaratan Katibah al Muhajirin agar ia memberikan bantuan kepada mujahidin Kaukasus.

Beliau kala itu berkata, "Tidak ada kebaikan dalam diri kita, jika kita tidak menolong saudara-saudara kita (maksudnya mujahidin Kaukasus)”. Maka dengan demikian, Umar asy Syisyani telah menjadi salah satu prajurit Daulah Islamiyah. Di sinilah beliau rahimahullah memasuki babak ujian baru.

Keengganannya berdiri sendiri dengan katibahnya yang kuat itu dan malah menjadi prajurit biasa yang harus mendengar dan taat kepada pemimpinnya, bukanlah perkara yang mudah. Di antara barisan Katibah al Muhajirin muncul pihak yang ingin memisahkan diri demi menjaga reputasi Katibah dan apa yang telah mereka peroleh, yang lenyap seketika akibat berbai'atnya mereka kepada Daulah Islamiyah karena mereka semua menjadi prajurit biasa. Di sini, respon Umar amat jelas. Ia tetap teguh pada bai'atnya dan menolak membatalkan janji setianya, serta menyerahkan semua yang dimilikinya berupa persenjataan dan prajurit pada kepemimpinan Daulah Islamiyah. Demikianlah para penyeru fitnah itu tidak mendapat dukungan.

Umar meninggalkan untuk mereka nama Katibah al Muhajirin, yang ternyata sama sekali tidak berguna bagi mereka lantaran satu demi satu orang-orang mulai meninggalkan mereka. Bahkan mereka malah menghadapi kerendahan dan kehinaan. Sebaliknya, Allah mengangkat orang yang bertawadhu' karena- Nya, sedangkan mereka tidak disebut lagi. Alhamdulillah.

Sisi lain dari ujian tersebut terwujud ketika para pendonor yang disetir oleh para syaikh Sururi dan Ikhwani serta diberi tumpangan oleh intelijen thaghut mengiming-imingi gelontoran dana. Diantara mereka ada dua orang busuk itu, yaitu Hajjaj al Ajmi dan Abdullah al Muhaisini. Segera paska kabar bai'at Umar asy Syisyani kepada Amirul Mukminin tersebar, kedua orang itu langsung berusaha memikatnya dengan gelontoran dana, sampai mereka menawarkan gaji bulanan ratusan ribu Dollar dengan imbalan membatalkan bai'atnya. Namun ia tolak mentah-mentah Dollar murahan mereka, agar semakin menegaskan bahwa bai'atnya adalah atas dasar ingin bersatu dalam bingkai jama'ah dan menghendaki ridha Allah, bukan lantaran bantuan atau gaji.

Ketika seluruh sarana tekanan yang mereka miliki baik berupa provokasi ataupun iming-iming harta gagal, maka mereka beralih kepada cara lain, yaitu dengan mencemarkan nama baiknya. Mereka sebarkan berbagai isu lewat teman-teman setan manusia mereka yang mengangkat diri mereka sebagai penasihat jihad di Chechnya. Diantara isu itu adalah beliau seorang Salibis antek Intelijen Rusia, berdasarkan latar belakang bahwa beliau lahir di Georgia dari seorang bapak beragama Kristen, sekalipun hal ini tidak bisa dijadikan alasan karena jika demikian semua muslim yang lahir dari orang tua kafir adalah nista. Di saat yang sama mereka menyembunyikan fakta bahwa beliau sebenarnya berkebangsaan Chechnya dan bapaknya masuk Kristen ketika beliau masih kecil.

Mereka juga memusatkan fitnahannya pada saat ketika beliau masih menjadi tentara Georgia, menyembunyikan fakta bahwa beliau telah berlepas diri dari hal itu dan bahwasanya dinas ketentaraannya hanyalah sebentar, yang ternyata berakhir dengan penahanan atas dirinya, kemudian menghadapi siksaan sampai salah satu paru-parunya rusak.

Mereka juga menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang munashir mujahidin Kaukasus, yang masih terus melanjutkan hubungannya dengan mereka, dan salah satu syarat yang ditolak oleh Jaulani adalah permintaannya pada Jabhah Nushrah guna memberikan bantuan kepada mujahidin Kaukasus, serta fakta bahwa beliau terus menyurati para pemimpin mujahidin Kaukasus untuk mengumumkan bai'atnya kepada Amirul Mukminin.

Sebagaimana Umar asy Syisyani tidak mempedulikan popularitas nama Katibahnya dan mengorbankannya demi menyatukan jama'ah kaum muslimin, ia juga tidak mempedulikan popularitas namanya sekalipun para pendengki menistakan harga dirinya. Merekalah yang sebelumnya memuji dan menyanjungnya setinggi langit, menyematkan padanya julukan yang mentereng. Namun semua itu malah semakin menambah kecintaannya kepada Daulah Islamiyah. Ia menyeru faksi-faksi perlawanan untuk bergabung kepadanya.

Bai'atnya dan bai'at Abu Atsir taqabbalahumallah telah memprovokasi mujahidin Katibah al Battar untuk berbaiat, yang kemudian disusul Abu Muhannad Hassan Abboud dan mujahidin Liwaa' Dawud serta mujahidin katibah lainnya.

Sebagaimana Allah telah memberikan kemenangan kepadanya dalam pertempuran bersama Katibah al Muhajirin, Allah memberikan kemenangan yang lebih besar setelah berbai'at kepada Daulah Islamiyah. Diantara kemenangan itu adalah pembebasan Bandara Minnigh di utara Halab bersama dengan Abu Usamah al Maghribi taqabbalahullah, pertempuran gudang senjata al Hamra di pinggiran timur Hamah bersama 'Abid al Libi taqabbalahullah yang dalam pertempuran ini Allah memberikan ghanimah yang banyak kepada pasukan Daulah Islamiyah. Setelah itu dimulailah persiapan operasi penaklukan besar-besaran di Syam.

Setelah analisa, pengintaian panjang dan perbandingan antara kota al Barakah dan al Khair, di pilihlah kota al Khair sebagai target penaklukkan. Dan Syaikh Umar dipilih sebagai komandan umum operasi ini. Namun pada saat yang sama, Shahawat Syam sedang merencanakan makar pengkhianatan atas Daulah Islamiyah, memanfaatkan kondisi lengah konsentrasi prajuritnya dalam mempersiapkan operasi besar-besaran ini. Ditambah lagi dengan front pertempuran yang memanjang di Halab, Idlib dan daerah pesisir Syam, sehingga Junud Daulah Islamiyah yang tersisa di barak hanyalah sedikit.

Shahawat bergerak keluar dan mengumumkan pengkhianatannya. Jalanan diputus. Mujahidin Daulah Islamiyah yang bertugs ribath di pos-pos checkpoint ditangkapi. Banyak dari mereka yang berada di pinggiran Halab terkepung. Sehingga terpaksalah operasi besar al Khair dihentikan karena pentingnya untuk segera bergerak menyelamatkan ikhwah yang terkepung. Syaikh Umar lalu memobilisasi pasukan dan menarik mundur mereka dari wilayah al Khair melalui wilayah Raqqah, yang ketika itu faksi-faksi shahawat semisal Jabhah Jaulani dan Ahrar Syam mengaku tidak terkait dengan aksi pengkhianatan teman-teman mereka di Halab, Idlib dan Sahiil. Syaikh Umar mempercayai mereka mereka.

Ia lantas kosongkan Raqqah dari mujahidin untuk memusatkan kekuatan mereka mematahkan pengepungan ikhwah di kota-kota wilayah Halab. Segera setelah konvoi para ikhwah yang dipimpin Syaikh Umar keluar dari Raqqah, para murtaddin shahawat langsung berkhianat dan menyerang ikhwah yang tersisa di kota Raqqah. Namun Allah menghinakan murtaddin dan menggagalkan serangan mereka sampai mereka lari kabur dari Raqqah menuju wilayah al Khair.

Di tengah jalan, Syaikh Umar dan mujahidin yang bersamanya kembali menghadapi pengkhianatan Ahrar Syam di dekat kota Maslamah. Orang-orang murtad itu memintanya mengadakan kesepakatan, setelah sebelumnya mereka menghadang konvoi tersebut dan menyergapnya namun meraih kegagalan; si busuk yang binasa Abu Khalid as Suri mendatanginya untuk mengadakan kesepakatan merubah rute konvoi, karena mereka takut mujahidin memaksa untuk menerobos dengan kekuatan dan merebut Bandara al Jarrah yang ketika itu dikuasai murtaddin. Maka Syaikh Umar berhasil mencapai pinggiran timur Halab dan mematahkan pengepungan atas ikhwah di kota Manbij, al Baab dan Jarabulus, membantu ikhwah yang terkepung di Huraytan untuk mematahkan pengepungan, lalu terus bergerak menuju A'zaz dan akhirnya sampai di daerah kekuasaan Daulah Islamiyah di Halab, Raqqah dan al Barakah.

Pertempuran melawan Shahawat belumlah berhenti, namun Allah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya yang bertauhid penaklukkan satu per satu kota Iraq setelah pembebasan Mosul. Ketika Khilafah dideklarasikan, Syaikh Umar tengah sibuk mempersiapkan salah satu operasi terbesar di Syam dengan misi mengeliminasi seluruh posisi rezim yang terletak di dekat daerah kekuasaan Daulah Islamiyah, yang selama bertahun-tahun hanya bisa dikepung oleh faksi-faksi pemberontak Suriah. Operasi militer tersebut menargetkan Markas Militer Divisi 17, Brigade 93, dan Bandara Militer Tabqah di wilayah Raqqah, Resimen 121 di wilayah al Barakah, Bandara Militer Kuwayris di wilayah Halab.

Hasilnya adalah keberhasilan menaklukkan seluruh pangkalan militer tersebut, membunuh dan menawan ribuan tentara Nushairi, serta mendapatkan ghanimah berupa tumpukan senjata dan gudang-gudang persenjataan yang penuh akan peluru. Namun tidak untuk Bandara Militer Kuwayris lantaran pengkhianatan Shahawat di pinggiran utara Halab yang menyebabkan pasukan khusus penyerang terpaksa ditarik mundur guna menghalau serangan mereka.

Setelah kemenangan gemilang ini, menyusul banyaknya penaklukkan di Iraq dan kembalinya Khilafah, dimulailah tahapan baru pertikaian dengan orang-orang musyrik dan antek-antek mereka dari kalangan murtaddin. Ditandai dengan pembentukan Koalisi Salibis pimpinan Amerika, atas bantuan seluruh sekte musyrikin dan murtaddin yang bermacam-macam. Maka datanglah perintah Amirul Mukminin hafizhahullah untuk memindahkan Syaikh Umar asy Syisyani ke wilayah-wilayah di Iraq, yang ketika itu telah kehilangan salah satu pejuangnya yang paling tangguh, Syaikh Abu Abdurrahman al Bilawi taqabbalahullah. Dan beliau adalah sebaik-baik pengganti bagi sebaik-baik pendahulu.

Ia bergerak di seluruh wilayah-wilayah Iraq memerangi murtaddin Rafidhah, Shahawat dan Peshmerga, sebagai amir Departemen Kemiliteran dan komandan umum Junud Khilafah untuk wilayah-wilayah di Iraq. Beliau tetap menjabat dan berjihad sampai maut menjemputnya di medan pertempuran yang dicintai dan dirindukannya, begitulah kami menilai beliau. Semoga Allah menempatkannya di dalam surga-Nya yang kekal.

An-Naba Edisi 39

INILAH YANG TELAH DIJANJIKAN OLEH ALLOH DAN ROSUL-NYA

INILAH YANG TELAH DIJANJIKAN OLEH ALLOH DAN ROSUL-NYA


RENUNGAN MENGENAI PENGEROYOKAN PASUKAN SEKUTU TERHADAP AHLUL HAQ

Sesungguhnya serangan gencar yang kita saksikan saat ini terhadap Daulah Khilafah dan pengeroyokan terhadapnya oleh sekutu dari golongan salibis, atheis, musyrikin, bathiniyah, yahudi, murtad dan munafiq, benar-benar merupakan ujian yang harus dialami oleh jama’ah kaum muslimin. Ujian selalu menyertai iman. Alloh ta’ala berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Alloh benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta.” [al-‘Ankabut: 2-3]

Sebagian ahli tafsir berkata: “Artinya: Manusia tidak akan dibiarkan tanpa fitnah, yaitu ujian dan cobaan, demi perkataan mereka: ‘Kami telah beriman.’ Justru jika mereka berkata: ‘Kami telah beriman,’ maka mereka akan di-fitnah, yakni diuji dan dicoba dengan berbagai ujian, sehingga dengan ujian itu akan dapat dibedakan orang yang tulus dalam perkataannya: ‘Kami telah beriman,’ dari orang yang tidak tulus.

Konsep ini juga dijelaskan oleh apa yang diriwayatkan dalam As-Sunnah dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya, Sa’d bin Abu Waqqosh, dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rosululloh, manusia mana yang paling berat ujiannya?” Beliau bersabda: “Para nabi, kemudian yang paling mulia (di bawahnya) lalu yang paling mulia (di bawahnya). Hamba diuji sesuai dengan agamanya. Jika ada kekuatan dalam agamanya, maka ujiannya berat. Dan jika ada kelemahan dalam agamanya, maka dia diuji sesuai dengan agamanya. Ujian akan terus menyertai hamba sampai ia meninggalkannya berjalan di atas bumi tanpa satu dosa pun ditanggungnya.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Jama’ah yang berada di atas kebenaran pasti akan mendapatkan ujian yang di antara buahnya adalah dua pembersihan. Pertama, perbersihan barisan. Kedua, pembersihan hati.

Dengan ujian yang menimpa ahli kebenaran, barisan-barisan mereka akan menjadi bersih. Orang-orang munafik dan orang-orang yang mengaku-aku akan keluar. Sementara orang-orang yang beriman akan tinggal, dan jama’ah akan menjadi kuat. Alloh ta’ala berfirman: “Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik.” [Alu ‘Imron: 179]

Keberadaan orang-orang yang mengaku-aku dan kotoran akan melemahkan jamaah dan merapuhkannya. Dan dengan keluarnya mereka, jama’ah akan menjadi enerjik, kuat, dan produktif. Tidakkah engkau melihat bahwa dari waktu ke waktu pohon membutuhkan pemangkasan dan pemotongan dahan-dahannya yang telah rusak, agar ia dapat memperoleh kembali vitalitas dan memperbarui buah.

Karena itu, setelah pembersihan datanglah pembinasaan terhadap orang-orang kafir. Alloh ta’ala berfirman: “Dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang kafir.” [Alu ‘Imron: 141]

Di antara buah ujian dan pengeroyokan musuh juga adalah pembersihan kedua, yaitu pembersihan hati orang-orang yang beriman. Dengan ujian itu hati akan kembali dan pulang kepada Robbnya. Hati pun menjadi bersih dari kotoran-kotorannya, seperti riya’, hasad, egoisme, kesombongan, serta ambisi untuk meraih kepemimpinan dan kedudukan. Alloh ta’ala berfirman: “Agar Alloh menguji apa yang ada dalam dada kalian dan membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Dan Alloh Maha Mengetahui isi hati.” [Alu ‘Imron: 154]

Alloh ta’ala juga berfirman: “Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian sampai Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan sampai Kami menyingkap kabar-kabar (keadaan-keadaan) kalian.” [Muhammad: 31]

Pengeroyokan oleh umat-umat kekufuran terhadap Daulah Islamiyah ini adalah ujian yang telah dijanjikan kepada jama’ah kaum muslimin. Alloh ta’ala berfirman: “Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Alloh dan Rosul-Nya kepada kita. Dan benarlah Alloh dan Rosul-Nya.’ Dan itu tidak menambah mereka kecuali keimanan dan penyerahan diri.” [al-Ahzab: 22]

Karena itu, pastilah ada ketakutan yang merasuki hati mujahid dan pastilah ada berbagai bencana. Tetapi tak lama setelahnya akan datang kelegaan dan akan tercipta keamanan. Alloh ta’ala berfirman: “Dan sungguh Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah ketakukan mereka dengan keamanan.” [an-Nur: 55]

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Alloh, sungguh Dia benar-benar akan menyempurnakan perkara ini sampai seorang pengendara berjalan dari Shon’a’ ke Hadhromaut tanpa takut kepada selain Alloh, dan serigala terhadap kambingnya. Akan tetapi kalian terburu-buru.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhori]

Abu ‘Ubaidah bin al-Jarroh pernah menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khoththob, menyebutkan kepadanya perkumpulan-perkumpulan pasukan Romawi dan apa yang ditakutkannya dari mereka. ‘Umar pun menulis balasan kepadanya:  “Amma ba’d. Sesungguhnya seberat apa pun bencana yang menimpa seorang hamba yang beriman, niscaya Alloh akan menjadikan baginya kelapangan setelahnya. Sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Dan sesungguhnya Alloh berfirman di dalam Kitab-Nya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kalahkanlah kesabaran (musuh-musuh Alloh), lakukanlah ribath (menjaga perbatasan), dan bertakwalah kepada Alloh, agar kalian beruntung.’ [Alu ‘Imron: 200]” [al-Muwaththo’]

Sebagaimana Alloh telah menjanjikan kemenangan kepada para wali-Nya, begitu pula Dia telah menjanjikan ujian kepada mereka. Maka bersabarlah dan bersabarlah.

An-Naba’ Edisi 29