RUMIYAH 11 - KISAH SYUHADA
DIANTARA ORANG-ORANG BERIMAN ADA KSATRIA:
ABU MUJAHID AL-FARANSI
Di pinggiran kehidupan jahiliyah Eropa yang menyembunyikan realita buruknya, di balik topeng berkilau propaganda dan kedustaan tentang kebahagiaan, keamanan, dan prinsip egaliter di antara manusia, serta slogan-slogan palsu lainnya, muncullah mimpi besar kehidupan-kehidupan jahiliyah yang tumbuh besar oleh kehidupan jahiliyah Eropa tak ubahnya susu basi yang meracuni putra-putranya. Kehidupan yang mendidik mereka untuk menjadi teladan pendistorsi dari peradaban Eropa yang atheis lagi musyrik.
Tetapi, siapa yang Allah kehendaki beri petunjuk, niscaya tidak akan ada penduduk bumi yang mampu menghalanginya. Maka, Allah mengeluarkan dari tengah-tengah masyarakat yang tercemar dengan syirik, perbuatan keji, dan perilaku merusak di muka bumi; suatu kaum yang Allah memberi petunjuk kepada mereka ke jalan lurus dan menjadikan mereka sebagai para wali yang shalih dan para hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya. Di antara mereka ada yang ditutup umurnya dengan kebaikan agung, yaitu mati syahid di jalan Allah ta'ala, sehingga pada Hari Kiamat dia datang tanpa dosa yang mesti diadili, juga tanpa siksaan yang perlu ditakuti.
Di pinggiran kota Perancis yang fakir, di mana komunitas-komunitas orang asing berdesakan di negara tersebut, mereka berjejalan di distrik-distrik yang dipenuhi orang-orang Arab dan Afrika. Orang-orang dari penduduk negara yang suatu hari pernah dijajah oleh Perancis. Kebanyakan mereka berasosiasi kepada Islam, atau paling tidak ketika mereka membuka mata di dunia, mereka mendapati diri mereka memiliki nama-nama yang mirip dengan nama-nama kaum muslimin. Dengan dua kondisi ini, cukup menjadi alasan bagi para penduduk asli beragama Kristen dan Yahudi untuk membenci mereka dan berupaya untuk mengisolasi mereka di pinggiran kota, menghindari interaksi dengan mereka atau mempekerjakan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan penting. Mereka lebih memilih membiarkan mereka terlantar dalam kondisi kritis ini, agar bisa dijadikan pembantu murahan guna mengemban tugas-tugas yang mereka hindari, sebagai upahnya mereka diizinkan untuk tetap tinggal, dengan gaji minim yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Mayoritas penghuni pemukiman menerima kondisi ini. Para thaghut negara dan warga asli merancang untuk menempatkan mereka di sana, tetapi yang lain memberontak dan berupaya meraih kehidupan yang lebih layak setara dengan orang yang telah mengucilkan mereka, sehingga membuat para penghina terperangah. Lalu mereka tidak mendapatkan cara lain untuk mencapai tujuan ini selain dengan uang yang merupakan faktor terpenting dalam mengukur nilai manusia dalam masyarakat materialis ini. Akhirnya mencari uang dengan cara apapun menjadi tujuan, sebagai upaya untuk mendapatkan kebutuhan yang hilang, dan hasrat untuk melampiaskan syahwat yang tidak pernah habis.
Demi meraih tujuan ini dalam waktu sesingkat mungkin, banyak di antara mereka yang tersesat lagi terhina mengejar dunia dan mencari jalan pintas, rata-rata dengan cara merampok dan perdagangan narkoba. Sehingga mereka terjebak dalam ketergantungan, dan menjerumuskan diri dalam kebinasaan demi mengejar harta yang sedikit maupun banyak, terlibat perang antar mafia, marabahaya yang selalu mengintai di setiap aksi perampokan, atau transaksi gelap yang rata-rata berujung pada jeruji penjara, dan menjerumuskan mereka ke jurang berbahaya yang tak berujung.
Maka, Siapa yang Dikehendaki Mendapat Petunjuk oleh Allah Niscaya Dadanya akan Dilapangkan untuk Menerima Islam
Mukrim Abruki, seorang pemuda asal Tunisia yang menghabiskan masa kecil dan remajanya dalam kehidupan yang gersang ini. Cita-citanya hanyalah dunia seperti kebanyakan orang, dan lalai terhadap akhirat. Dia belum pernah belajar bagaimana beramal untuk akhirat. Laki-laki anggota gangster sadis ini mencari banyak uang melalui aksi merampok harta orang-orang musyrik. Hingga dia bisa membeli mobil mewah, dan bergaul dengan para konglomerat dan selebritis kota Paris di berbagai klub dan pesta mereka. Itulah impian mayoritas manusia di dunia yang terjangkiti wabah ini.
Dia disegani dan terkenal di kalangan rekan-rekannya sebagai pemberani dan agresif. Tidak pernah takut berduel, tidak lari saat adu jotos, terutama dalam rangkaian konfrontasi tiada henti antar gangster di bawah naungan kehidupan jahiliyah kawasan pinggiran Perancis. Dia sama sekali tidak pernah merasa kikuk berhadapan dengan kepolisian Perancis, tiap kali terlibat baku tembak dengan mereka, dan selalu sukses meloloskan diri ketika melakukan aksi perampokan, pencurian atau transaksi narkoba.
Meskipun tenggelam dalam kemaksiatan dan dosa, dia berjiwa mulia dan berakhlak baik. Tidak pernah absen membantu teman, membela tetangga, dan rela mengorbankan berapapun harta jumlahnya guna memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan atau ‘menahan tangan’ kerabat dekatnya.
Dia dianugerahi nalar manajemen yang sistematis. Tidaklah dia melangkah melainkan dia telah susun faktor-faktor pendukungnya, dia pelajari akibat maupun kesudahannya. Kelebihan ini dia manfaatkan dalam setiap aksinya secara cermat. Tidaklah dia merampok sebuah rumah melainkan dia telah memantaunya secara seksama. Ketika menyerang, dia telah memperhitungkan kemungkinan terburuknya sekali pun dan dia telah mengantisipasi agar bisa selamat dari pembunuhan dan penangkapan.
Semua karakter ini menjadi bekal yang cukup baginya untuk menjadi kepala gangster yang berbahaya, atau bandar besar narkoba. Tapi, Allah mentakdirkan untuk menyiapkannya jalan lain yang bertolak belakang dengan kehidupannya itu.
Kebiasaan mayoritas pemuda yang mengaku muslim di Barat, yang hanya mengingat ibadah ketika Ramadhan, Mukrim masuk ke salah satu masjid untuk beritikaf dan berupaya menghapus dosa. Allah menakdirkannya bertemu seorang dai yang secara diam-diam mengajari beberapa ikhwan tentang islam.
Dai tersebut bukanlah ulama durjana yang loyal kepada orang-orang Kristen, juga bukan tokoh terkenal yang ceramahnya dihadiri banyak orang. Dia hanyalah seorang pemuda sederhana yang mojok di salah satu pojok masjid bersama murid-muridnya. Mereka menghindari perhatian publik, merendahkan suara, dan berbicara tentang sesuatu yang belum pernah didengarnya dari lidah para juru dakwah yang biasa muncul di media.
Pemuda itu berbicara kepada rekan-rekan semajelisnya tentang hakikat Islam dan kekafiran, perbedaan di antara keduanya, kewajiban loyal kepada umat Islam dan berlepas diri dari orang-orang kafir terutama orang-orang musyrik yang hidup di tengah-tengah mereka. Dia berbicara tentang tauhid; urgensi dan keutamaannya, tentang syirik; bahaya dan akibatnya, serta menjelaskan kepada mereka sesuatu yang tersembunyi atau disembunyikan para ulama durjana dan juru dakwah penebar fitnah yang gemar mendistorsi agama demi menyenangkan orang-orang musyrik dan menarik simpati banyak pengikut dan murid.
Di dalam ceramah yang diperkuat dalil dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, Mukrim menemukan penjelasan yang benar tentang hakikat relasi antara kaum muslimin dan musyrikin, dan penjelasan tentang hakikat tauhid yang mana ibadah kepada Allah tidak akan sah kecuali dengannya. Maka dia pun berguru kepadanya selama itikafnya di masjid. Dan dia bertaubat kepada Allah atas segala dosanya dan memutuskan untuk memulai hidupnya yang baru, sebagai muslim sejati.
Hubungannya dengan ikhwah ini terus berlanjut hingga masa-masa setelahnya. Dia memperkenalkan jati dirinya, bercerita tentang kisah dan perjalanan hidupnya di masa lalu, seraya menawarkan diri untuk membantu dalam rangka melayani agama yang dia masuki kembali, setelah selama bertahun-tahun dia berpaling darinya dan melalaikan berbagai perintah dan larangannya.
Derap di Atas Jalan Jihad
Hal yang tidak diketahui Mukrim tentang pemuda ini adalah bahwa dia menjalin koneksi dengan perkumpulan para pemuda Perancis pendukung para mujahidin, yang tengah berusaha untuk berhijrah ke medan jihad dan mengumpulkan dana untuk membantu para mujahidin.
Salah satu kelompok ini telah mencium target empuk, yaitu seorang bandar besar narkoba yang menyimpan uang banyak di rumahnya, mereka menaksirnya mencapai 200 ribu Euro. Mereka mengintainya selama beberapa hari, mengikuti setiap pergerakan dan memantau rumahnya. Mereka menyiapkan rencana untuk menyerbu rumahnya dan merampas semua harta yang dimilikinya dengan todongan senjata.
Mayoritas mereka berpengalaman di bidang ini karena sebelumnya mereka biasa merampok dan bergerilya. Tetapi, kali ini mereka beraksi dalam rangka ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sama sekali tidak ada niat untuk bermaksiat maupun berbuat kerusakan. Tujuan mereka kali ini adalah mengumpulkan uang yang cukup untuk membiayai hijrah beberapa ikhwah ke salah satu medan jihad, dan sisanya dikirim untuk membantu para mujahidin.
Mereka kekurangan sosok pemuda yang amanah, berani, dan agresif yang bertugas mengakomodir tempat aksi, baik ketika sukses maupun gagal. Sahabat mereka yaitu si dai menunjuk Mukrim, bercerita tentang sifatnya yang mulia, tentang sejarah dan pengalamannya di bidang ini. Maka diaturlah pertemuan dengannya.
Setelah berkenalan dan saling percaya, mereka menyampaikan tujuan dan rencana mereka. Mukrim berpikir sebentar. Seperti biasa, ketika ada teman yang meminta bantuan, siapapun orangnya, dia niscaya bersedia menyanggupi apapun yang mereka minta dan mengamini apapun yang mereka butuhkan; baik mobil, senjata, maupun yang lainnya.
Pada hari yang telah ditentukan untuk beraksi, kelompok ini bertolak menuju rumah yang ditarget. Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya terpaksa harus menggagalkan misi dan menjauh dari tempat tersebut, khawatir tercium pihak kepolisian. Hari itu orang yang ditarget ternyata tidak pulang ke rumah. Para pemuda itu bertekad untuk kembali mengulang aksi, setelah lama berselang akhirnya aksi dibatalkan.
Meski demikian, hubungan kelompok ini dengan Mukrim semakin kokoh, seorang pemuda yang telah bertaubat kepada Allah, dia hendak memulai hidupnya kembali sebagai hamba Allah azza wa jalla, bersemangat mempelajari agama, dipenuhi rasa loyalitas kepada kaum muslimin karena cinta kepada mereka, rasa membutuhkan, dan keinginan untuk memberikan bantuan apapun bagi yang memerlukan di antara mereka. Apalagi dia memiliki banyak harta yang cita-citanya untuk diinfaqkan dalam ketaatan kepada Allah ta'ala dan mengeluarkannya di jalan Allah, serta bersemangat menyadarkan para pelaku maksiat dari kemaksiatan mereka, dan menyadarkan orang-orang murtad dari kemurtadan mereka, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat hidayah dan jalan yang lurus kepadanya.
Ada dua alternatif bagi kelompok ini, yaitu berangkat ke medan-medan jihad, berperang hingga terbunuh di sana atau melakukan aksi di dalam Perancis melawan orang-orang Kristen. Tetapi banyak rintangan yang menghalangi mereka berjihad di jalan Allah. Akhirnya mereka memilih untuk sibuk berdakwah dalam rentang waktu, hingga Allah memberi petunjuk jalan keluar bagi mereka.
Garasi Mobil... Proyek Pertama Pasca Mendapat Hidayah
Mukrim yang mengambil nama kunyah (panggilan) Abu Mujahid memutuskan untuk membuka satu proyek ekonomi, memenuhi kebutuhan hidup, menjamin pekerjaan para ikhwan, dan supaya mereka tidak perlu bekerja kepada orang-orang kafir, sekaligus sebagai pintu masuk untuk mereka berdakwah kepada Allah ta'ala.
Dia memutuskan membuat bengkel perbaikan mobil, menjual suku cadang guna mengembangkan harta, dan mengajak para ikhwan untuk bekerja di sana, meskipun mereka tidak berpengalaman di bidang ini. Abu Mujahid mengajari mereka dasar-dasar kerja administrasi yang ditekuni berdasarkan fitrah dan pengalaman, masing-masing dijadikan sebagai kepala staf di garasi, membawahi beberapa mekanik yang ahli dalam perbengkelan. Banyak orang yang tertarik dengan pelayanan di garasi tersebut, karena mereka melihat para pekerjanya bersikap jujur dan amanah dalam bekerja.
Dalam rentang waktu tersebut, Abu Mujahid memanfaatkan pekerjaannya dalam rangka bekerja untuk agama Allah sekemampuannya. Meskipun dia terbilang baru masuk Islam, dan sedikit ilmu, tetapi dia tidak melewatkan kesempatan untuk berdakwah kepada Allah, baik kepada pelanggan maupun rekannya.
Dia memfokuskan pada pemuda yang masih belia, karena mayoritas mereka melihatnya sebagai teladan, berangkat dari ketenaran dia ketika menjadi penjahat. Dia menasehati mereka agar menjauhi jalan ini (maksiat), memperingatkan mereka agar tidak terjebak dalam masalah narkoba, menakut-nakuti mereka akan Allah dan mengajak mereka untuk komitmen terhadap Islam, serta menempuh jalan yang lurus.
Dia juga menjadi tempat rujukan bagi setiap muslim yang memiliki keperluan, atau meminta nasehat terkait pekerjaan. Dia berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan mereka, memudahkan urusan, bahkan rela menggelontorkan dana untuk mereka sebagai modal usaha untuk mencari rejeki.
Lebih dari itu semua, Abu Mujahid tidak pelit dengan uang, berapapun jumlahnya, jika diminta dalam rangka dakwah atau membantu mereka yang ingin berhijrah fi sabilillah. Dan di saat yang sama dia juga siap membantu aksi jihad apapun di dalam Perancis, terutama ketika Jihad di wilayah Syam meletus, dia bersama para ikhwan lain memotivasi untuk berhijrah dan berjihad, membantu setiap orang yang ingin berangkat dan berdoa kepada Allah agar memudahkan jalan mereka serta menyingkirkan setiap hal yang melemahkan mereka untuk bergabung dengan para mujahidin.
Meniti Langkah Utsman radhiyallahu 'anhu
Allah menetapkan kemenangan dan tamkin untuk Daulah Islam, lalu mereka menegakkan agama dan memperbarui khilafah. Amirul Mukminin berpidato di hadapan manusia untuk memotivasi kaum muslimin berhijrah dan berjihad, dan memberi kabar gembira bahwa mereka telah memiliki negara tempat berlindung dan mempunyai seorang Imam (khalifah) yang di belakangnya mereka berperang.
Pidato ini terasa cukup singkat dalam hidup Abu Mujahid dan saudara-saudaranya. Mereka tidak mampu bersabar untuk tetap hidup di negara kafir. Mereka yakin bahwa Allah telah menganugerahkan Daulah Islam kepada para hamba-Nya, di sana syariat-Nya ditegakkan dan hukum-Nya ditinggikan. Jadilah obsesi utama kelompok ini ingin berhijrah dari Perancis secara sembunyi-sembunyi agar tidak terdeteksi oleh pihak intelijen yang selalu memantau mereka. Sebagian mereka terpaksa dilarang untuk pergi ke luar negeri, demikian juga tahridh (motivasi) secara masif terhadap para pemuda untuk berhijrah, karena khawatir setelah mereka sampai di bumi Daulah Islam jalan terputus sehingga komunikasi menjadi sulit.
Para ikhwan mulai berkemas untuk berhijrah dan menyiapkan keluarga mereka untuk berangkat. Mereka mulai berkeliling mendatangi para pemuda yang dikenal dan dipercaya dan memotivasinya untuk berangkat. Abu Mujahid menemui para ikhwah dan mengingatkan mereka tentang keutamaan hijrah, kenikmatan hidup dibawah naungan syariat dan mendidik anak-anak mereka di Negara Islam. Jika beliau menemukan suatu udzur dari urusan duniawi yang menghalangi, segera beliau menawarkan untuk menyingkirkan penghalang ini dengan cara apapun. Siapa yang dicekal, akan segera dibelikan paspor palsu berapapun harganya. Siapa yang tidak memiliki biaya, dia janjikan untuk menanggung semua biaya perjalanan, berapapun jumlah keluarganya. Bahkan jika perlu dibelikannya mobil agar memudahkan perjalanan. Jika ada yang masih punya tanggungan hutang, niscaya akan dia lunasi berapapun besarnya. Ini diluar kebutuhan lain yang dia belikan baik itu pakaian, akomodasi perjalanan dan hijrah. Di samping itu semua, beliau juga menanggung biaya besar untuk membeli perangkat dan peralatan elektronik serta komputer yang diminta oleh sebagian ikhwan demi digunakan berkhidmat untuk agama Allah, begitu mereka sampai di bumi Daulah islam.
Kesimpulannya, semua ikhwan yang berada di sekitar beliau merasakan benar bahwa hasrat laki-laki ini tiada lain hanyalah membelanjakan hartanya di jalan Allah, hingga mereka menyerupakannya dengan perbuatan Utsman radhiyallahu 'anhu yang mendanai semua pasukan dengan harta pribadinya, demi mencari ridha Allah Rabb semesta alam.
Hijrah di Jalan Allah
Para keluarga bersiap untuk berhijrah di jalan Allah, dan bersafar ke Darul Islam. Para lelaki paling banyak dicurigai. Maka hendaknya bagi para muhajirin agar menyusun strategi perjalanan dengan baik agar kaum musyrikin tidak menyadarinya, karena mereka akan menghalanginya dari jalan Allah dan berusaha menghalangi agar tidak sampai ke Daulah Islam.
Maka ikhwah terus melanjutkan pekerjaannya sampai tiba hari H. Para keluarga telah bersiap untuk berangkat segera setelah kepulangan para laki-laki dari pekerjaan mereka. Mobil yang mengangkut mereka berangkat dan satu mobi lagi mengangkut keluarga lainnya berjalan di jalur berbeda, dan melewati banyak negara, sampai akhirnya sampai ke Yunani, untuk menyebarang perbatasan antara Eropa dan Turki, dan dari sanalah jalan masuk menuju bumi Syam.
Seperti biasanya Abu Mujahid telah mempersiapkan semua bekal untuk perjalanan, dan menyiapkan semua faktor keberhasilan, meski itu sangat membebani. Dia mengarang cerita meyakinkan agar tidak menarik perhatian para pemantau. Dan dia menyiapkan strategi yang matang dari awal keberangkatan dari Perancis sampai dia masuk ke Darul Islam. Tak terkecuali sebuah hal terpenting dalam perjalanan ini, yaitu komunikasi dengan ikhwah di Daulah Islam agar membantunya melewati halangan yang berbahaya di jalan. Dia bertawakal kepada Allah yang akan memberinya petunjuk, menolongnya untuk segera berhubungan dengan mereka tatkala tiba di Turki. Dia bersegera meneruskan perjalanan lantaran takut jalan terputus.
Rancangan yang disusun Abu Mujahid selaku amir adalah memisahkan para keluarga dari para ikhwah yang sudak dikenal dan mengirmnya ke keluarga ikhwah yang tidak terkenal guna menyeberang perbatasan, Di dalam mini bus yang dibeli oleh Abu Mujahid untuk tujuan ini, Dia juga membeli mobil untuk dirinya sendiri dan para ikhwah yang telah diketahui badan intelijen. Dia berpenampilan seperti seseorang yang hendak pergi ke Turki untuk melakukan bisnis di sana, Dia menyiapakan baju yang pas dan identitas untuk meyakinkan penyamarannya, ditambah lagi paspor palsu untuk menyeberang perbatasan.
Rombongan ini pun berhasil menyeberang ke Italia, negara-negara Balkan, dan sampai ke Yunani di mana fase ini paling berbahaya, dan ketika mereka sampai pos terakhir sebelum perbatasan, Abu Mujahid memberhentikan para keluarga dan para ikhwah di salah satu tempat istirahat. Dia berencana menyeberang duluan khawatir marabahaya, maka biar dia yang menanggung dan yang lain selamat dari tertangkap.
Ketika penanggung jawab perbatasan Yunani memeriksa passport dan mencocokannya dengan foto yang ada pada mereka, Salah satu dari mereka kembali dan memberi tahunya agar kembali ke asal mula datang. Abu Mujahid dan orang-orang bersamanya pun mengetahui bahwa pemerintahan Perancis telah mengumumkan nama-nama mereka di setiap perbatasan Eropa, sepuluh hari sebelum keberangkatan mereka.
Apakah dia akan jatuh ke tangan mereka, apakah setelah tekad yang kuat selama ini untuk hijrah mereka akan kembali, dan apakah semua yang rencana dan usaha hilang dihempas angin begitu saja?
Takdir Allah Yang Menang
Dunia seolah berputar di kepala mereka, tatkala mereka mengetahui tentang nota pencekalan yang dikeluarkan pemerintah Perancis, dan mereka berpikir untuk keluar dari Yunani sebelum Perancis menangkap mereka dan memulangkan mereka dalam keadaan diborgol dengan besi.
Abu Mujahid mencoba menemani para keluarga untuk menyebrang, maka atas karunia Allah dia berhasil, karena dia atau salah satu dari keluarga bukan termasuk orang yang terdaftar tidak boleh menyebrang maka ia pun menyeberang ke Turki setelah Abu Mujahid memberikan kepada mereka bekal banyak, dengan harapan mereka bisa menunggunya jika tidak maka mereka menyeberang semua tanpanya dan orang-orang yang bersamanya.
Ini merupakan kegundahan pertama bagi Abu Mujahid, dia memikul amanah berupa rombongan besar kaum muslimin. Yaitu mengantarkan para keluarga ke negeri Daulah Islam. Setelah dia berhasil menenangkan mereka, maka tersisa pilihan baginya dan orang-orang yang bersamanya, entah dia mengatur strategi dengan memilih jalan lainnya untuk menyusul mereka, atau mereka kembali ke Perancis untuk memulai operasi mereka di negeri Salibis yang memerangi Daulah Islam dan menghalangi mereka dari berhijrah.
Takdir Allah tersembunyi di hadapan para muhajirin, yang menjadi harapan baru untuk selamat. Setelah mereka berputus asa dari rencana mereka. Dan bertawakal kepada Allah dengan jujur, berlepas diri dari kekuatan dan daya mereka, dalam perjalanannya dia bertemu dengan seorang ikhwah Perancis lainnya, dia mengenali mereka, namun mereka mengelaknya. Dia mengikuti mereka kendati mereka menghindar darinya, karena dikhawatirkan dia berada di bawah pengawasan, atau barangkali menarik perhatian dengan jenggotnya yang panjang dan penampilan Islamisnya dikenali oleh siapapun.
Dia seorang muhajir ke Daulah Islam sama seperti mereka, tidak diberikan kesempatan untuk melakukan proses keamanan yang memberatkan. Dia menemani mereka di bagian akhir perjalanan, maka dia terpaksa meninggalkan mereka, setelah dia mengirim istri beserta keluarganya, semuanya berharap Allah menjaganya dari polisi Yunani dan memudahkan jalan mereka untuk menyeberang.
Termasuk karunia Allah kepada sekelompok kecil ini adalah tatkala Allah memudahkan dia berhubungan dengan salah satu koordinator hijrah di Daulah Islam, Abu Mujahid berkomunikasi dengannya sebelum meninggalkan Perancis. Dia menelponnya dan menjelaskan keadaannya, dia meminta bantuan agar mengeluarkan mereka dari Yunani sesegera mungkin khawatir para Salibis menemukan mereka dan menangkapnya, maka ikhwah bagian koordinasi menjanjikan kepada mereka kebaikan, maka mereka tinggal selama beberapa hari menunggu jawaban.
Selang beberapa hari saja mereka bisa menyeberang perbatasan Turki, meninggalkan mobil-mobil mewah mereka di Yunani dan semua barang-barang mereka, dan lebih mementingkan selamat dari penangkapan. Maka mereka pun sampai ke Istanbul, ia bertemu ikhwah lainnya beserta keluarganya, maka tiba fase rencana berikutnya untuk menyeberang perbatasan sekali lagi ke Daulah Islam. Maka Abu Mujahid memutuskan untuk mengirim ikhwah semuanya menyeberang perbatasan. Ia tidak ikut menyeberang karena ada salah satu ikhwah yang masih terhambat di Yunani, ia bersikukuh untuk tidak masuk Darul Islam tanpanya, dia telah bertekad dalam hatinya untuk menjadi orang terakhir dari rombongannya yang masuk ke Darul Islam, dia tidak akan mewujudkan impian masuk ke dalamnya sampai dia tenang melihat semua rombongannya dari kalangan muhajirin sampai semuanya, yang mana mereka adalah amanah di pundaknya sejak mereka setuju berhijrah dengannya.
Personil rombongan dan keluarga mereka pada akhirnya masuk ke Darul Islam. Betapa senangnya mereka tatkala saudara-saudara mereka dari junud Daulah Islam menyambutnya di dekat perbatasan, Mereka segera menghbungi amir mereka, yaitu Abu Mujahid, dan memberinya kabar gembira tentang sampainya mereka dan bertemunya mereka dengan ikhwah. Ia pun tidak bisa menahan tangisnya ia pun meminta titip salamnya kepada para Junud Daulah, dan meminta kepada mereka doa untuknya dan untuk ikhwah yang tertinggal di Yunani agar jalannya dimudahkan untuk menyusul mereka.
Ketika permasalahan ikhwah di Yunani semakin menumpuk, dan usahanya dalam menyeberang perbatasan selalu gagal, dia meminta kepada Abu Mujahid agar berhenti menunggunya, dan agar bersegera melanjutkan perjalanannya. Maka Abu Mujahid menyetujuinya karena desakannya, setelah dia mengirimnya uang dengan jumlah yang besar untuk keberlangsungan perjalanannya dan keluarganya selama perjalanan.
Akhirnya Tiba di Darul Islam
Abu Mujahid Al-Faransi akhirnya sampai ke Darul Islam, dia mendapati saudara-saudaranya dari Junud Daulah Islamiyyah telah menunggunya di perbatasan, dengan baju andalan mereka, dan topeng hitam, dan penampilan yang selama ini dia lihat di video-video, maka ia memeluk mereka, memeluk dengan rasa sayang, perlakuan baiknya terhadap saudara-sadaranya telah mendahuluinya ke negri Islam, yang menceritakan kisah hijrah mereka, dan menceritakan amirnya yang mencurahkan semua yang dimiliki demi kesuksesan hijrah mereka ke Darul Islam, dan menceritakan tentang kepribadiannya, dan menasehati mereka akan memanfaatkannya dalam operasi jihad apapun melawan Perancis.
Demikianlah, kini Abu Mujahid menjadi salah satu tentara Khilafah. Dia menyelesaikan daurah syar’i dan militernya. Dia pun bekerja di salah satu Departemen Daulah Islam, menasehati saudara-saudaranya di berbagai bidang, memberikan manfaat kepada mereka berdasarkan pengalamannya dalam manajemen, pengaturan proyek, membantu para ikhwah yang bertanggung jawab dalam operasi-operasi di luar. Dia menawarkan semua yang dimilikinya baik tenaga, harta, dan informasi untuk semua aktivitas jihad yang menargetkan para Salibis di Perancis.
Jiwanya sangat merindukan berperang di jalan Allah. Dia merupakan sebaik-baik tentara di seluruh katibah di Wilayah al-Khair. Dia sering berpartisipasi dalam berbagai pertempuran Jaisy Khilafah (Pasukan Khilafah) melawan tentara Nushairiyah. Kemudian dia pindah ke Wilayah Damaskus, dan menghabiskan hari-harinya dengan ribath di padang pasir Syam. Wajahnya dilahap panasnya padang pasir dan debunya, dan cuaca dingin menusuk tulangnya. Dia selalu ikut serta dalam peperangan, menyerbu bersama para pahlawan.
Abu Mujahid adalah sosok yang dermawan di Perancis. Dia semakin bertambah dermawan saat berada di Darul Islam, tidak meninggalkan kesempatan untuk menolong saudara-saudaranya kecuali dia pasti memanfaatkannya, mengorbankan apa yang paling dia sanggupi, serta fokus membantu para janda syuhada dan anak-anak yatim mereka dan menolong mereka dengan harta dan jiwanya.
Abu Mujahid adalah seorang juru dakwah sederhana, kata-katanya yang mudah mampu menarik simpati para remaja pinggiran-pinggiran Paris. Dia meneruskan hidupnya seperti biasanya, memanfaatkan kondisi apapun untuk bersama mujahidin atau kaum muslimin awam guna menyeru kepada hal-hal ma'ruf, melarang mereka dari kemungkaran, dan menyeru mereka untuk mengikuti As-Sunnah. Dia tidak bosan berdiri di hadapan pedagang di depan kedainya selama berjam-jam mengajaknya kepada Allah dan menyemangatinya untuk berjihad di jalan-Nya. Sampai-sampai teman-temannya akan mengeluh karena dia memperlambat mereka di perjalanan atau mereka harus bersegera apabila mereka ada dalam perjalanan, dia tak segan-segan menegur mereka. Dan mengingatkan bahwa dia sebelumnya juga melalaikan agama seperti orang-orang itu, maka Allah karuniakan sosok yang mengingatkannya kepada Allah, dan menyeru kepada-Nya, maka hal yang wajib baginya adalah bersyukur dengan mendakwahi manusia dan berusaha memberi petunjuk mereka.
Setelah Harta… Dia Mengorbankan Nyawanya di Jalan Allah
Saat Junud Daulah Islam melancarkan serangan untuk membebaskan pengepungan Ghauthah di Damaskus, yang menargetkan bandara as-Sin dan Dhumair, serta kota Dhumair, dan daerah pembangkit listrik dan daerah-daerah lainnya, yang berhenti karena adanya kesepakatan antara Shahawat murtad di Qalamun Timur dan pasukan Nushairiyah yang menyebabkan hambatan penyerangan, dan mereka menargetkan jalur logistik mujahidin di daerah itu. Abu Mujahid bersama rekan-rekannya menyerang daerah pembangkit listrik di tenggara Damaskus, dan saat baku tembak, tank pasukan Nushairiyah menarget lokasi mereka, dan dia pun terluka parah di bagian kepala dan tangannya, sampai hilang kesadaran. Tatkala sadar, dia telah kehilangan tangan kanannya yang hancur akibat roket yang meledak di hadapannya, sehingga dia dipindahkan ke front belakang untuk pengobatan. Allah menyelamatkannya dari terbunuh dalam kejadian ini.
Kehilangan tangannya tidak membuatnya berhenti dari jihad di jalan Allah, dan tidak menghalanginya untuk berkorban demi menggapai ridha-Nya. Bahkan dia menjalani masa penyembuhan dengan menanti kembali ke medan pertempuran, dan meminta maaf kepada teman-temannya karena tidak bisa menjalankan pekerjaan administrasi yang sesuai dengan kondisi kesehatan terbarunya. Dia bersikukuh untuk berangkat ke medan perang sekali lagi, segera setelah keadaannya membaik. Dia mengganti senapan serbu Rusianya dengan senapan buatan Amerika yang agak ringan, dan ukuranya kecil, agar dia bisa berperang dengannya dengan menggunakan satu tangan.
Telah sampai kabar kepadanya bahwa saudara-saudaranya telah mempersiapkan kekuatan untuk menyerang sejumlah lokasi Shahawat di Qalamun Timur. Dia bersegera mempersiapkan kekuatan untuk berperang, pergi bergabung dengan batalionnya, tanpa memberi tahu siapapun karena khawatir para ikhwah menahannya dan menggagalkannya untuk peperangan, dengan alasan kesehatannya yang kurang bagus atau dia dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu.
Junud Khilafah membantai murtaddin, dan menguasai sejumlah lokasi mereka di Gunung Petra dan maju ke arah benteng mereka di jantung Qalamun Timur. Ketika Abu Mujahid menyambangi mereka di garis depan pertempuran, tidak mau tinggal di front belakang mujahidin, saat itu dia ditemani ikhwah muhajir lainnya yaitu Abu Ihsan dari selatan Perancis. Dia berkenalan dengannya di medan pertempuran, dan jiwanya pun saling klop sebagaimana pembawaan keduanya pun serupa. Siapa yang mengenali Abu Ihsan, maka dia akan menyebutkan sifat-sifat yang sama dengan Abu Mujahid, mulai dari keberanian, wibawa, semangat membantu kaum muslimin, mencurahkan seluruh yang dimiliki untuk menolong agama, dan berusaha untuk mendapatkan ridha Rabb Semesta Alam.
Dan sebagaimana kebiasaannya dalam bersiap-siap dan berhati-hati, Abu Mujahid tidak mau menempuh jalan yang ditempuh mujahidin lainnya, karena khawatir diketahui oleh musuh, lalu ditembaki senjata berat dan sniper (penembak jitu), dia lebih memilih jalan lainnya yang lebih sulit, tapi dia tidak terlihat oleh mata murtaddin. Dia pun sampai ke garis front terdepan, di mana kelompok mujahidin menargetkan murtaddin dengan senapan mesin berat diletakkan di atas mobil mereka yang terletak di atas bukit, Abu Mujahid pun bersembunyi di belakangnya bersama temannya yaitu Abu Ihsan saat sampai di lokasi.
Murtaddin berusaha menargetkan mobil mujahidin yang menembaki mereka dengan roket ATGM, mereka menembakkan ke arahnya, namun mereka salah sasaran dan roket jatuh di belakang bukit yang mana mobil ikhwah berada di atasnya.
Roket pun jatuh di tengah kaki Abu Mujahid dan Abu Ihsan, lalu meledak, dan serpihannya mencabik-cabik jasad keduanya, sehingga keduanya pun gugur –semoga Allah menerima keduanya.
Kabar ini pun sampai kepada keluarga Abu Mujahid dan saudara-saudaranya, maka mereka kabarkan ini ke saudara-saudaranya di Perancis, mereka memohon kesyahidannya kepada Allah, baik melalui jalan ini atau yang lainnya. Badan intelijen Perancis pun mengetahui kabar tersebut, maka seluruh media Perancis mengabarkan bahwa Abu Mujahid terbunuh akibat serangan pesawat Perancis, saat dia menyiapkan serangan baru melawan Salibis di Perancis.
Abu Muhammad pun terbunuh –semoga Allah menerimanya— kami menilai dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan. Dia jujur dengan apa yang dia janjikan kepada Allah; berjihad dengan harta dan nyawanya di jalan Allah, kami menilai dia melakukan perdagangan yang untung dengan Allah, kita memohon kepada Allah supaya dia termasuk yang beruntung di dalamnya.
Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff: 10-13)
DIANTARA ORANG-ORANG BERIMAN ADA KSATRIA:
ABU MUJAHID AL-FARANSI
Di pinggiran kehidupan jahiliyah Eropa yang menyembunyikan realita buruknya, di balik topeng berkilau propaganda dan kedustaan tentang kebahagiaan, keamanan, dan prinsip egaliter di antara manusia, serta slogan-slogan palsu lainnya, muncullah mimpi besar kehidupan-kehidupan jahiliyah yang tumbuh besar oleh kehidupan jahiliyah Eropa tak ubahnya susu basi yang meracuni putra-putranya. Kehidupan yang mendidik mereka untuk menjadi teladan pendistorsi dari peradaban Eropa yang atheis lagi musyrik.
Tetapi, siapa yang Allah kehendaki beri petunjuk, niscaya tidak akan ada penduduk bumi yang mampu menghalanginya. Maka, Allah mengeluarkan dari tengah-tengah masyarakat yang tercemar dengan syirik, perbuatan keji, dan perilaku merusak di muka bumi; suatu kaum yang Allah memberi petunjuk kepada mereka ke jalan lurus dan menjadikan mereka sebagai para wali yang shalih dan para hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya. Di antara mereka ada yang ditutup umurnya dengan kebaikan agung, yaitu mati syahid di jalan Allah ta'ala, sehingga pada Hari Kiamat dia datang tanpa dosa yang mesti diadili, juga tanpa siksaan yang perlu ditakuti.
Di pinggiran kota Perancis yang fakir, di mana komunitas-komunitas orang asing berdesakan di negara tersebut, mereka berjejalan di distrik-distrik yang dipenuhi orang-orang Arab dan Afrika. Orang-orang dari penduduk negara yang suatu hari pernah dijajah oleh Perancis. Kebanyakan mereka berasosiasi kepada Islam, atau paling tidak ketika mereka membuka mata di dunia, mereka mendapati diri mereka memiliki nama-nama yang mirip dengan nama-nama kaum muslimin. Dengan dua kondisi ini, cukup menjadi alasan bagi para penduduk asli beragama Kristen dan Yahudi untuk membenci mereka dan berupaya untuk mengisolasi mereka di pinggiran kota, menghindari interaksi dengan mereka atau mempekerjakan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan penting. Mereka lebih memilih membiarkan mereka terlantar dalam kondisi kritis ini, agar bisa dijadikan pembantu murahan guna mengemban tugas-tugas yang mereka hindari, sebagai upahnya mereka diizinkan untuk tetap tinggal, dengan gaji minim yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Mayoritas penghuni pemukiman menerima kondisi ini. Para thaghut negara dan warga asli merancang untuk menempatkan mereka di sana, tetapi yang lain memberontak dan berupaya meraih kehidupan yang lebih layak setara dengan orang yang telah mengucilkan mereka, sehingga membuat para penghina terperangah. Lalu mereka tidak mendapatkan cara lain untuk mencapai tujuan ini selain dengan uang yang merupakan faktor terpenting dalam mengukur nilai manusia dalam masyarakat materialis ini. Akhirnya mencari uang dengan cara apapun menjadi tujuan, sebagai upaya untuk mendapatkan kebutuhan yang hilang, dan hasrat untuk melampiaskan syahwat yang tidak pernah habis.
Demi meraih tujuan ini dalam waktu sesingkat mungkin, banyak di antara mereka yang tersesat lagi terhina mengejar dunia dan mencari jalan pintas, rata-rata dengan cara merampok dan perdagangan narkoba. Sehingga mereka terjebak dalam ketergantungan, dan menjerumuskan diri dalam kebinasaan demi mengejar harta yang sedikit maupun banyak, terlibat perang antar mafia, marabahaya yang selalu mengintai di setiap aksi perampokan, atau transaksi gelap yang rata-rata berujung pada jeruji penjara, dan menjerumuskan mereka ke jurang berbahaya yang tak berujung.
Maka, Siapa yang Dikehendaki Mendapat Petunjuk oleh Allah Niscaya Dadanya akan Dilapangkan untuk Menerima Islam
Mukrim Abruki, seorang pemuda asal Tunisia yang menghabiskan masa kecil dan remajanya dalam kehidupan yang gersang ini. Cita-citanya hanyalah dunia seperti kebanyakan orang, dan lalai terhadap akhirat. Dia belum pernah belajar bagaimana beramal untuk akhirat. Laki-laki anggota gangster sadis ini mencari banyak uang melalui aksi merampok harta orang-orang musyrik. Hingga dia bisa membeli mobil mewah, dan bergaul dengan para konglomerat dan selebritis kota Paris di berbagai klub dan pesta mereka. Itulah impian mayoritas manusia di dunia yang terjangkiti wabah ini.
Dia disegani dan terkenal di kalangan rekan-rekannya sebagai pemberani dan agresif. Tidak pernah takut berduel, tidak lari saat adu jotos, terutama dalam rangkaian konfrontasi tiada henti antar gangster di bawah naungan kehidupan jahiliyah kawasan pinggiran Perancis. Dia sama sekali tidak pernah merasa kikuk berhadapan dengan kepolisian Perancis, tiap kali terlibat baku tembak dengan mereka, dan selalu sukses meloloskan diri ketika melakukan aksi perampokan, pencurian atau transaksi narkoba.
Meskipun tenggelam dalam kemaksiatan dan dosa, dia berjiwa mulia dan berakhlak baik. Tidak pernah absen membantu teman, membela tetangga, dan rela mengorbankan berapapun harta jumlahnya guna memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan atau ‘menahan tangan’ kerabat dekatnya.
Dia dianugerahi nalar manajemen yang sistematis. Tidaklah dia melangkah melainkan dia telah susun faktor-faktor pendukungnya, dia pelajari akibat maupun kesudahannya. Kelebihan ini dia manfaatkan dalam setiap aksinya secara cermat. Tidaklah dia merampok sebuah rumah melainkan dia telah memantaunya secara seksama. Ketika menyerang, dia telah memperhitungkan kemungkinan terburuknya sekali pun dan dia telah mengantisipasi agar bisa selamat dari pembunuhan dan penangkapan.
Semua karakter ini menjadi bekal yang cukup baginya untuk menjadi kepala gangster yang berbahaya, atau bandar besar narkoba. Tapi, Allah mentakdirkan untuk menyiapkannya jalan lain yang bertolak belakang dengan kehidupannya itu.
Kebiasaan mayoritas pemuda yang mengaku muslim di Barat, yang hanya mengingat ibadah ketika Ramadhan, Mukrim masuk ke salah satu masjid untuk beritikaf dan berupaya menghapus dosa. Allah menakdirkannya bertemu seorang dai yang secara diam-diam mengajari beberapa ikhwan tentang islam.
Dai tersebut bukanlah ulama durjana yang loyal kepada orang-orang Kristen, juga bukan tokoh terkenal yang ceramahnya dihadiri banyak orang. Dia hanyalah seorang pemuda sederhana yang mojok di salah satu pojok masjid bersama murid-muridnya. Mereka menghindari perhatian publik, merendahkan suara, dan berbicara tentang sesuatu yang belum pernah didengarnya dari lidah para juru dakwah yang biasa muncul di media.
Pemuda itu berbicara kepada rekan-rekan semajelisnya tentang hakikat Islam dan kekafiran, perbedaan di antara keduanya, kewajiban loyal kepada umat Islam dan berlepas diri dari orang-orang kafir terutama orang-orang musyrik yang hidup di tengah-tengah mereka. Dia berbicara tentang tauhid; urgensi dan keutamaannya, tentang syirik; bahaya dan akibatnya, serta menjelaskan kepada mereka sesuatu yang tersembunyi atau disembunyikan para ulama durjana dan juru dakwah penebar fitnah yang gemar mendistorsi agama demi menyenangkan orang-orang musyrik dan menarik simpati banyak pengikut dan murid.
Di dalam ceramah yang diperkuat dalil dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, Mukrim menemukan penjelasan yang benar tentang hakikat relasi antara kaum muslimin dan musyrikin, dan penjelasan tentang hakikat tauhid yang mana ibadah kepada Allah tidak akan sah kecuali dengannya. Maka dia pun berguru kepadanya selama itikafnya di masjid. Dan dia bertaubat kepada Allah atas segala dosanya dan memutuskan untuk memulai hidupnya yang baru, sebagai muslim sejati.
Hubungannya dengan ikhwah ini terus berlanjut hingga masa-masa setelahnya. Dia memperkenalkan jati dirinya, bercerita tentang kisah dan perjalanan hidupnya di masa lalu, seraya menawarkan diri untuk membantu dalam rangka melayani agama yang dia masuki kembali, setelah selama bertahun-tahun dia berpaling darinya dan melalaikan berbagai perintah dan larangannya.
Derap di Atas Jalan Jihad
Hal yang tidak diketahui Mukrim tentang pemuda ini adalah bahwa dia menjalin koneksi dengan perkumpulan para pemuda Perancis pendukung para mujahidin, yang tengah berusaha untuk berhijrah ke medan jihad dan mengumpulkan dana untuk membantu para mujahidin.
Salah satu kelompok ini telah mencium target empuk, yaitu seorang bandar besar narkoba yang menyimpan uang banyak di rumahnya, mereka menaksirnya mencapai 200 ribu Euro. Mereka mengintainya selama beberapa hari, mengikuti setiap pergerakan dan memantau rumahnya. Mereka menyiapkan rencana untuk menyerbu rumahnya dan merampas semua harta yang dimilikinya dengan todongan senjata.
Mayoritas mereka berpengalaman di bidang ini karena sebelumnya mereka biasa merampok dan bergerilya. Tetapi, kali ini mereka beraksi dalam rangka ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sama sekali tidak ada niat untuk bermaksiat maupun berbuat kerusakan. Tujuan mereka kali ini adalah mengumpulkan uang yang cukup untuk membiayai hijrah beberapa ikhwah ke salah satu medan jihad, dan sisanya dikirim untuk membantu para mujahidin.
Mereka kekurangan sosok pemuda yang amanah, berani, dan agresif yang bertugas mengakomodir tempat aksi, baik ketika sukses maupun gagal. Sahabat mereka yaitu si dai menunjuk Mukrim, bercerita tentang sifatnya yang mulia, tentang sejarah dan pengalamannya di bidang ini. Maka diaturlah pertemuan dengannya.
Setelah berkenalan dan saling percaya, mereka menyampaikan tujuan dan rencana mereka. Mukrim berpikir sebentar. Seperti biasa, ketika ada teman yang meminta bantuan, siapapun orangnya, dia niscaya bersedia menyanggupi apapun yang mereka minta dan mengamini apapun yang mereka butuhkan; baik mobil, senjata, maupun yang lainnya.
Pada hari yang telah ditentukan untuk beraksi, kelompok ini bertolak menuju rumah yang ditarget. Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya terpaksa harus menggagalkan misi dan menjauh dari tempat tersebut, khawatir tercium pihak kepolisian. Hari itu orang yang ditarget ternyata tidak pulang ke rumah. Para pemuda itu bertekad untuk kembali mengulang aksi, setelah lama berselang akhirnya aksi dibatalkan.
Meski demikian, hubungan kelompok ini dengan Mukrim semakin kokoh, seorang pemuda yang telah bertaubat kepada Allah, dia hendak memulai hidupnya kembali sebagai hamba Allah azza wa jalla, bersemangat mempelajari agama, dipenuhi rasa loyalitas kepada kaum muslimin karena cinta kepada mereka, rasa membutuhkan, dan keinginan untuk memberikan bantuan apapun bagi yang memerlukan di antara mereka. Apalagi dia memiliki banyak harta yang cita-citanya untuk diinfaqkan dalam ketaatan kepada Allah ta'ala dan mengeluarkannya di jalan Allah, serta bersemangat menyadarkan para pelaku maksiat dari kemaksiatan mereka, dan menyadarkan orang-orang murtad dari kemurtadan mereka, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat hidayah dan jalan yang lurus kepadanya.
Ada dua alternatif bagi kelompok ini, yaitu berangkat ke medan-medan jihad, berperang hingga terbunuh di sana atau melakukan aksi di dalam Perancis melawan orang-orang Kristen. Tetapi banyak rintangan yang menghalangi mereka berjihad di jalan Allah. Akhirnya mereka memilih untuk sibuk berdakwah dalam rentang waktu, hingga Allah memberi petunjuk jalan keluar bagi mereka.
Garasi Mobil... Proyek Pertama Pasca Mendapat Hidayah
Mukrim yang mengambil nama kunyah (panggilan) Abu Mujahid memutuskan untuk membuka satu proyek ekonomi, memenuhi kebutuhan hidup, menjamin pekerjaan para ikhwan, dan supaya mereka tidak perlu bekerja kepada orang-orang kafir, sekaligus sebagai pintu masuk untuk mereka berdakwah kepada Allah ta'ala.
Dia memutuskan membuat bengkel perbaikan mobil, menjual suku cadang guna mengembangkan harta, dan mengajak para ikhwan untuk bekerja di sana, meskipun mereka tidak berpengalaman di bidang ini. Abu Mujahid mengajari mereka dasar-dasar kerja administrasi yang ditekuni berdasarkan fitrah dan pengalaman, masing-masing dijadikan sebagai kepala staf di garasi, membawahi beberapa mekanik yang ahli dalam perbengkelan. Banyak orang yang tertarik dengan pelayanan di garasi tersebut, karena mereka melihat para pekerjanya bersikap jujur dan amanah dalam bekerja.
Dalam rentang waktu tersebut, Abu Mujahid memanfaatkan pekerjaannya dalam rangka bekerja untuk agama Allah sekemampuannya. Meskipun dia terbilang baru masuk Islam, dan sedikit ilmu, tetapi dia tidak melewatkan kesempatan untuk berdakwah kepada Allah, baik kepada pelanggan maupun rekannya.
Dia memfokuskan pada pemuda yang masih belia, karena mayoritas mereka melihatnya sebagai teladan, berangkat dari ketenaran dia ketika menjadi penjahat. Dia menasehati mereka agar menjauhi jalan ini (maksiat), memperingatkan mereka agar tidak terjebak dalam masalah narkoba, menakut-nakuti mereka akan Allah dan mengajak mereka untuk komitmen terhadap Islam, serta menempuh jalan yang lurus.
Dia juga menjadi tempat rujukan bagi setiap muslim yang memiliki keperluan, atau meminta nasehat terkait pekerjaan. Dia berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan mereka, memudahkan urusan, bahkan rela menggelontorkan dana untuk mereka sebagai modal usaha untuk mencari rejeki.
Lebih dari itu semua, Abu Mujahid tidak pelit dengan uang, berapapun jumlahnya, jika diminta dalam rangka dakwah atau membantu mereka yang ingin berhijrah fi sabilillah. Dan di saat yang sama dia juga siap membantu aksi jihad apapun di dalam Perancis, terutama ketika Jihad di wilayah Syam meletus, dia bersama para ikhwan lain memotivasi untuk berhijrah dan berjihad, membantu setiap orang yang ingin berangkat dan berdoa kepada Allah agar memudahkan jalan mereka serta menyingkirkan setiap hal yang melemahkan mereka untuk bergabung dengan para mujahidin.
Meniti Langkah Utsman radhiyallahu 'anhu
Allah menetapkan kemenangan dan tamkin untuk Daulah Islam, lalu mereka menegakkan agama dan memperbarui khilafah. Amirul Mukminin berpidato di hadapan manusia untuk memotivasi kaum muslimin berhijrah dan berjihad, dan memberi kabar gembira bahwa mereka telah memiliki negara tempat berlindung dan mempunyai seorang Imam (khalifah) yang di belakangnya mereka berperang.
Pidato ini terasa cukup singkat dalam hidup Abu Mujahid dan saudara-saudaranya. Mereka tidak mampu bersabar untuk tetap hidup di negara kafir. Mereka yakin bahwa Allah telah menganugerahkan Daulah Islam kepada para hamba-Nya, di sana syariat-Nya ditegakkan dan hukum-Nya ditinggikan. Jadilah obsesi utama kelompok ini ingin berhijrah dari Perancis secara sembunyi-sembunyi agar tidak terdeteksi oleh pihak intelijen yang selalu memantau mereka. Sebagian mereka terpaksa dilarang untuk pergi ke luar negeri, demikian juga tahridh (motivasi) secara masif terhadap para pemuda untuk berhijrah, karena khawatir setelah mereka sampai di bumi Daulah Islam jalan terputus sehingga komunikasi menjadi sulit.
Para ikhwan mulai berkemas untuk berhijrah dan menyiapkan keluarga mereka untuk berangkat. Mereka mulai berkeliling mendatangi para pemuda yang dikenal dan dipercaya dan memotivasinya untuk berangkat. Abu Mujahid menemui para ikhwah dan mengingatkan mereka tentang keutamaan hijrah, kenikmatan hidup dibawah naungan syariat dan mendidik anak-anak mereka di Negara Islam. Jika beliau menemukan suatu udzur dari urusan duniawi yang menghalangi, segera beliau menawarkan untuk menyingkirkan penghalang ini dengan cara apapun. Siapa yang dicekal, akan segera dibelikan paspor palsu berapapun harganya. Siapa yang tidak memiliki biaya, dia janjikan untuk menanggung semua biaya perjalanan, berapapun jumlah keluarganya. Bahkan jika perlu dibelikannya mobil agar memudahkan perjalanan. Jika ada yang masih punya tanggungan hutang, niscaya akan dia lunasi berapapun besarnya. Ini diluar kebutuhan lain yang dia belikan baik itu pakaian, akomodasi perjalanan dan hijrah. Di samping itu semua, beliau juga menanggung biaya besar untuk membeli perangkat dan peralatan elektronik serta komputer yang diminta oleh sebagian ikhwan demi digunakan berkhidmat untuk agama Allah, begitu mereka sampai di bumi Daulah islam.
Kesimpulannya, semua ikhwan yang berada di sekitar beliau merasakan benar bahwa hasrat laki-laki ini tiada lain hanyalah membelanjakan hartanya di jalan Allah, hingga mereka menyerupakannya dengan perbuatan Utsman radhiyallahu 'anhu yang mendanai semua pasukan dengan harta pribadinya, demi mencari ridha Allah Rabb semesta alam.
Hijrah di Jalan Allah
Para keluarga bersiap untuk berhijrah di jalan Allah, dan bersafar ke Darul Islam. Para lelaki paling banyak dicurigai. Maka hendaknya bagi para muhajirin agar menyusun strategi perjalanan dengan baik agar kaum musyrikin tidak menyadarinya, karena mereka akan menghalanginya dari jalan Allah dan berusaha menghalangi agar tidak sampai ke Daulah Islam.
Maka ikhwah terus melanjutkan pekerjaannya sampai tiba hari H. Para keluarga telah bersiap untuk berangkat segera setelah kepulangan para laki-laki dari pekerjaan mereka. Mobil yang mengangkut mereka berangkat dan satu mobi lagi mengangkut keluarga lainnya berjalan di jalur berbeda, dan melewati banyak negara, sampai akhirnya sampai ke Yunani, untuk menyebarang perbatasan antara Eropa dan Turki, dan dari sanalah jalan masuk menuju bumi Syam.
Seperti biasanya Abu Mujahid telah mempersiapkan semua bekal untuk perjalanan, dan menyiapkan semua faktor keberhasilan, meski itu sangat membebani. Dia mengarang cerita meyakinkan agar tidak menarik perhatian para pemantau. Dan dia menyiapkan strategi yang matang dari awal keberangkatan dari Perancis sampai dia masuk ke Darul Islam. Tak terkecuali sebuah hal terpenting dalam perjalanan ini, yaitu komunikasi dengan ikhwah di Daulah Islam agar membantunya melewati halangan yang berbahaya di jalan. Dia bertawakal kepada Allah yang akan memberinya petunjuk, menolongnya untuk segera berhubungan dengan mereka tatkala tiba di Turki. Dia bersegera meneruskan perjalanan lantaran takut jalan terputus.
Rancangan yang disusun Abu Mujahid selaku amir adalah memisahkan para keluarga dari para ikhwah yang sudak dikenal dan mengirmnya ke keluarga ikhwah yang tidak terkenal guna menyeberang perbatasan, Di dalam mini bus yang dibeli oleh Abu Mujahid untuk tujuan ini, Dia juga membeli mobil untuk dirinya sendiri dan para ikhwah yang telah diketahui badan intelijen. Dia berpenampilan seperti seseorang yang hendak pergi ke Turki untuk melakukan bisnis di sana, Dia menyiapakan baju yang pas dan identitas untuk meyakinkan penyamarannya, ditambah lagi paspor palsu untuk menyeberang perbatasan.
Rombongan ini pun berhasil menyeberang ke Italia, negara-negara Balkan, dan sampai ke Yunani di mana fase ini paling berbahaya, dan ketika mereka sampai pos terakhir sebelum perbatasan, Abu Mujahid memberhentikan para keluarga dan para ikhwah di salah satu tempat istirahat. Dia berencana menyeberang duluan khawatir marabahaya, maka biar dia yang menanggung dan yang lain selamat dari tertangkap.
Ketika penanggung jawab perbatasan Yunani memeriksa passport dan mencocokannya dengan foto yang ada pada mereka, Salah satu dari mereka kembali dan memberi tahunya agar kembali ke asal mula datang. Abu Mujahid dan orang-orang bersamanya pun mengetahui bahwa pemerintahan Perancis telah mengumumkan nama-nama mereka di setiap perbatasan Eropa, sepuluh hari sebelum keberangkatan mereka.
Apakah dia akan jatuh ke tangan mereka, apakah setelah tekad yang kuat selama ini untuk hijrah mereka akan kembali, dan apakah semua yang rencana dan usaha hilang dihempas angin begitu saja?
Takdir Allah Yang Menang
Dunia seolah berputar di kepala mereka, tatkala mereka mengetahui tentang nota pencekalan yang dikeluarkan pemerintah Perancis, dan mereka berpikir untuk keluar dari Yunani sebelum Perancis menangkap mereka dan memulangkan mereka dalam keadaan diborgol dengan besi.
Abu Mujahid mencoba menemani para keluarga untuk menyebrang, maka atas karunia Allah dia berhasil, karena dia atau salah satu dari keluarga bukan termasuk orang yang terdaftar tidak boleh menyebrang maka ia pun menyeberang ke Turki setelah Abu Mujahid memberikan kepada mereka bekal banyak, dengan harapan mereka bisa menunggunya jika tidak maka mereka menyeberang semua tanpanya dan orang-orang yang bersamanya.
Ini merupakan kegundahan pertama bagi Abu Mujahid, dia memikul amanah berupa rombongan besar kaum muslimin. Yaitu mengantarkan para keluarga ke negeri Daulah Islam. Setelah dia berhasil menenangkan mereka, maka tersisa pilihan baginya dan orang-orang yang bersamanya, entah dia mengatur strategi dengan memilih jalan lainnya untuk menyusul mereka, atau mereka kembali ke Perancis untuk memulai operasi mereka di negeri Salibis yang memerangi Daulah Islam dan menghalangi mereka dari berhijrah.
Takdir Allah tersembunyi di hadapan para muhajirin, yang menjadi harapan baru untuk selamat. Setelah mereka berputus asa dari rencana mereka. Dan bertawakal kepada Allah dengan jujur, berlepas diri dari kekuatan dan daya mereka, dalam perjalanannya dia bertemu dengan seorang ikhwah Perancis lainnya, dia mengenali mereka, namun mereka mengelaknya. Dia mengikuti mereka kendati mereka menghindar darinya, karena dikhawatirkan dia berada di bawah pengawasan, atau barangkali menarik perhatian dengan jenggotnya yang panjang dan penampilan Islamisnya dikenali oleh siapapun.
Dia seorang muhajir ke Daulah Islam sama seperti mereka, tidak diberikan kesempatan untuk melakukan proses keamanan yang memberatkan. Dia menemani mereka di bagian akhir perjalanan, maka dia terpaksa meninggalkan mereka, setelah dia mengirim istri beserta keluarganya, semuanya berharap Allah menjaganya dari polisi Yunani dan memudahkan jalan mereka untuk menyeberang.
Termasuk karunia Allah kepada sekelompok kecil ini adalah tatkala Allah memudahkan dia berhubungan dengan salah satu koordinator hijrah di Daulah Islam, Abu Mujahid berkomunikasi dengannya sebelum meninggalkan Perancis. Dia menelponnya dan menjelaskan keadaannya, dia meminta bantuan agar mengeluarkan mereka dari Yunani sesegera mungkin khawatir para Salibis menemukan mereka dan menangkapnya, maka ikhwah bagian koordinasi menjanjikan kepada mereka kebaikan, maka mereka tinggal selama beberapa hari menunggu jawaban.
Selang beberapa hari saja mereka bisa menyeberang perbatasan Turki, meninggalkan mobil-mobil mewah mereka di Yunani dan semua barang-barang mereka, dan lebih mementingkan selamat dari penangkapan. Maka mereka pun sampai ke Istanbul, ia bertemu ikhwah lainnya beserta keluarganya, maka tiba fase rencana berikutnya untuk menyeberang perbatasan sekali lagi ke Daulah Islam. Maka Abu Mujahid memutuskan untuk mengirim ikhwah semuanya menyeberang perbatasan. Ia tidak ikut menyeberang karena ada salah satu ikhwah yang masih terhambat di Yunani, ia bersikukuh untuk tidak masuk Darul Islam tanpanya, dia telah bertekad dalam hatinya untuk menjadi orang terakhir dari rombongannya yang masuk ke Darul Islam, dia tidak akan mewujudkan impian masuk ke dalamnya sampai dia tenang melihat semua rombongannya dari kalangan muhajirin sampai semuanya, yang mana mereka adalah amanah di pundaknya sejak mereka setuju berhijrah dengannya.
Personil rombongan dan keluarga mereka pada akhirnya masuk ke Darul Islam. Betapa senangnya mereka tatkala saudara-saudara mereka dari junud Daulah Islam menyambutnya di dekat perbatasan, Mereka segera menghbungi amir mereka, yaitu Abu Mujahid, dan memberinya kabar gembira tentang sampainya mereka dan bertemunya mereka dengan ikhwah. Ia pun tidak bisa menahan tangisnya ia pun meminta titip salamnya kepada para Junud Daulah, dan meminta kepada mereka doa untuknya dan untuk ikhwah yang tertinggal di Yunani agar jalannya dimudahkan untuk menyusul mereka.
Ketika permasalahan ikhwah di Yunani semakin menumpuk, dan usahanya dalam menyeberang perbatasan selalu gagal, dia meminta kepada Abu Mujahid agar berhenti menunggunya, dan agar bersegera melanjutkan perjalanannya. Maka Abu Mujahid menyetujuinya karena desakannya, setelah dia mengirimnya uang dengan jumlah yang besar untuk keberlangsungan perjalanannya dan keluarganya selama perjalanan.
Akhirnya Tiba di Darul Islam
Abu Mujahid Al-Faransi akhirnya sampai ke Darul Islam, dia mendapati saudara-saudaranya dari Junud Daulah Islamiyyah telah menunggunya di perbatasan, dengan baju andalan mereka, dan topeng hitam, dan penampilan yang selama ini dia lihat di video-video, maka ia memeluk mereka, memeluk dengan rasa sayang, perlakuan baiknya terhadap saudara-sadaranya telah mendahuluinya ke negri Islam, yang menceritakan kisah hijrah mereka, dan menceritakan amirnya yang mencurahkan semua yang dimiliki demi kesuksesan hijrah mereka ke Darul Islam, dan menceritakan tentang kepribadiannya, dan menasehati mereka akan memanfaatkannya dalam operasi jihad apapun melawan Perancis.
Demikianlah, kini Abu Mujahid menjadi salah satu tentara Khilafah. Dia menyelesaikan daurah syar’i dan militernya. Dia pun bekerja di salah satu Departemen Daulah Islam, menasehati saudara-saudaranya di berbagai bidang, memberikan manfaat kepada mereka berdasarkan pengalamannya dalam manajemen, pengaturan proyek, membantu para ikhwah yang bertanggung jawab dalam operasi-operasi di luar. Dia menawarkan semua yang dimilikinya baik tenaga, harta, dan informasi untuk semua aktivitas jihad yang menargetkan para Salibis di Perancis.
Jiwanya sangat merindukan berperang di jalan Allah. Dia merupakan sebaik-baik tentara di seluruh katibah di Wilayah al-Khair. Dia sering berpartisipasi dalam berbagai pertempuran Jaisy Khilafah (Pasukan Khilafah) melawan tentara Nushairiyah. Kemudian dia pindah ke Wilayah Damaskus, dan menghabiskan hari-harinya dengan ribath di padang pasir Syam. Wajahnya dilahap panasnya padang pasir dan debunya, dan cuaca dingin menusuk tulangnya. Dia selalu ikut serta dalam peperangan, menyerbu bersama para pahlawan.
Abu Mujahid adalah sosok yang dermawan di Perancis. Dia semakin bertambah dermawan saat berada di Darul Islam, tidak meninggalkan kesempatan untuk menolong saudara-saudaranya kecuali dia pasti memanfaatkannya, mengorbankan apa yang paling dia sanggupi, serta fokus membantu para janda syuhada dan anak-anak yatim mereka dan menolong mereka dengan harta dan jiwanya.
Abu Mujahid adalah seorang juru dakwah sederhana, kata-katanya yang mudah mampu menarik simpati para remaja pinggiran-pinggiran Paris. Dia meneruskan hidupnya seperti biasanya, memanfaatkan kondisi apapun untuk bersama mujahidin atau kaum muslimin awam guna menyeru kepada hal-hal ma'ruf, melarang mereka dari kemungkaran, dan menyeru mereka untuk mengikuti As-Sunnah. Dia tidak bosan berdiri di hadapan pedagang di depan kedainya selama berjam-jam mengajaknya kepada Allah dan menyemangatinya untuk berjihad di jalan-Nya. Sampai-sampai teman-temannya akan mengeluh karena dia memperlambat mereka di perjalanan atau mereka harus bersegera apabila mereka ada dalam perjalanan, dia tak segan-segan menegur mereka. Dan mengingatkan bahwa dia sebelumnya juga melalaikan agama seperti orang-orang itu, maka Allah karuniakan sosok yang mengingatkannya kepada Allah, dan menyeru kepada-Nya, maka hal yang wajib baginya adalah bersyukur dengan mendakwahi manusia dan berusaha memberi petunjuk mereka.
Setelah Harta… Dia Mengorbankan Nyawanya di Jalan Allah
Saat Junud Daulah Islam melancarkan serangan untuk membebaskan pengepungan Ghauthah di Damaskus, yang menargetkan bandara as-Sin dan Dhumair, serta kota Dhumair, dan daerah pembangkit listrik dan daerah-daerah lainnya, yang berhenti karena adanya kesepakatan antara Shahawat murtad di Qalamun Timur dan pasukan Nushairiyah yang menyebabkan hambatan penyerangan, dan mereka menargetkan jalur logistik mujahidin di daerah itu. Abu Mujahid bersama rekan-rekannya menyerang daerah pembangkit listrik di tenggara Damaskus, dan saat baku tembak, tank pasukan Nushairiyah menarget lokasi mereka, dan dia pun terluka parah di bagian kepala dan tangannya, sampai hilang kesadaran. Tatkala sadar, dia telah kehilangan tangan kanannya yang hancur akibat roket yang meledak di hadapannya, sehingga dia dipindahkan ke front belakang untuk pengobatan. Allah menyelamatkannya dari terbunuh dalam kejadian ini.
Kehilangan tangannya tidak membuatnya berhenti dari jihad di jalan Allah, dan tidak menghalanginya untuk berkorban demi menggapai ridha-Nya. Bahkan dia menjalani masa penyembuhan dengan menanti kembali ke medan pertempuran, dan meminta maaf kepada teman-temannya karena tidak bisa menjalankan pekerjaan administrasi yang sesuai dengan kondisi kesehatan terbarunya. Dia bersikukuh untuk berangkat ke medan perang sekali lagi, segera setelah keadaannya membaik. Dia mengganti senapan serbu Rusianya dengan senapan buatan Amerika yang agak ringan, dan ukuranya kecil, agar dia bisa berperang dengannya dengan menggunakan satu tangan.
Telah sampai kabar kepadanya bahwa saudara-saudaranya telah mempersiapkan kekuatan untuk menyerang sejumlah lokasi Shahawat di Qalamun Timur. Dia bersegera mempersiapkan kekuatan untuk berperang, pergi bergabung dengan batalionnya, tanpa memberi tahu siapapun karena khawatir para ikhwah menahannya dan menggagalkannya untuk peperangan, dengan alasan kesehatannya yang kurang bagus atau dia dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu.
Junud Khilafah membantai murtaddin, dan menguasai sejumlah lokasi mereka di Gunung Petra dan maju ke arah benteng mereka di jantung Qalamun Timur. Ketika Abu Mujahid menyambangi mereka di garis depan pertempuran, tidak mau tinggal di front belakang mujahidin, saat itu dia ditemani ikhwah muhajir lainnya yaitu Abu Ihsan dari selatan Perancis. Dia berkenalan dengannya di medan pertempuran, dan jiwanya pun saling klop sebagaimana pembawaan keduanya pun serupa. Siapa yang mengenali Abu Ihsan, maka dia akan menyebutkan sifat-sifat yang sama dengan Abu Mujahid, mulai dari keberanian, wibawa, semangat membantu kaum muslimin, mencurahkan seluruh yang dimiliki untuk menolong agama, dan berusaha untuk mendapatkan ridha Rabb Semesta Alam.
Dan sebagaimana kebiasaannya dalam bersiap-siap dan berhati-hati, Abu Mujahid tidak mau menempuh jalan yang ditempuh mujahidin lainnya, karena khawatir diketahui oleh musuh, lalu ditembaki senjata berat dan sniper (penembak jitu), dia lebih memilih jalan lainnya yang lebih sulit, tapi dia tidak terlihat oleh mata murtaddin. Dia pun sampai ke garis front terdepan, di mana kelompok mujahidin menargetkan murtaddin dengan senapan mesin berat diletakkan di atas mobil mereka yang terletak di atas bukit, Abu Mujahid pun bersembunyi di belakangnya bersama temannya yaitu Abu Ihsan saat sampai di lokasi.
Murtaddin berusaha menargetkan mobil mujahidin yang menembaki mereka dengan roket ATGM, mereka menembakkan ke arahnya, namun mereka salah sasaran dan roket jatuh di belakang bukit yang mana mobil ikhwah berada di atasnya.
Roket pun jatuh di tengah kaki Abu Mujahid dan Abu Ihsan, lalu meledak, dan serpihannya mencabik-cabik jasad keduanya, sehingga keduanya pun gugur –semoga Allah menerima keduanya.
Kabar ini pun sampai kepada keluarga Abu Mujahid dan saudara-saudaranya, maka mereka kabarkan ini ke saudara-saudaranya di Perancis, mereka memohon kesyahidannya kepada Allah, baik melalui jalan ini atau yang lainnya. Badan intelijen Perancis pun mengetahui kabar tersebut, maka seluruh media Perancis mengabarkan bahwa Abu Mujahid terbunuh akibat serangan pesawat Perancis, saat dia menyiapkan serangan baru melawan Salibis di Perancis.
Abu Muhammad pun terbunuh –semoga Allah menerimanya— kami menilai dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan. Dia jujur dengan apa yang dia janjikan kepada Allah; berjihad dengan harta dan nyawanya di jalan Allah, kami menilai dia melakukan perdagangan yang untung dengan Allah, kita memohon kepada Allah supaya dia termasuk yang beruntung di dalamnya.
Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff: 10-13)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar