RUMIYAH 1 - ARTIKEL
IKON ATAU BERHALA?
Karakter terpenting masyarakat jahiliyah di setiap masa adalah tiap kabilah atau sekelompok orang mempunyai sebuah berhala khusus yang berbeda dari kabilah atau kelompok lain. Berhala itu dipuja, dibela, dan dibangga-banggakannya dihadapan berhala kelompok lain. Sampai pada kondisi bahwa syarat untuk bergabung dengan kelompok tersebut adalah memuja dan mengagungkan berhala kelompok itu. Sehingga terjadilah hubungan simbiosis mutualisme antara berhala dengan pemujanya. Jika yang memujanya itu sekelompok besar manusia, maka mereka yang melayani dan membangun keterikatan dengan berhala ini akan mendapatkan kekuatan dan kekuasaan yang besar. Atau sekelompok pelayan ini mempunyai kekuatan yang dengannya mereka memaksa kelompok lain untuk memuja dan mengagungkan berhalanya. Yang terakhir inilah yang banyak terjadi. Pada kenyataannya, di balik pemujaan berhala-berhala ini ada tujuan politis, yaitu jika mereka tunduk pada berhala ini, itu berarti mereka tunduk pada sekelompok orang ini yang mengklaim memiliki keterikatan dengannya, memahami perintahnya, dan memahami isyarat-isyarat yang disampaikan lewat penyihirnya. Oleh karena itu, jika ada sebuah bangsa yang kehilangan kekuasaannya maka lenyap pulalah berhalanya dan patung-patungnya hancur. Setelahnya, orang-orang jahiliyah menyembah berhala baru milik bangsa yang menang.
Mungkin kisah Abrahah al-Habasyi adalah contoh terbaik. Ia membangun gereja megah di Yaman untuk menarik orangorang Arab mengagungkannya yang lalu menundukkan mereka dalam genggaman kekuasaannya. Ketika dilihatnya mereka malah melecehkannya lantaran keterikatan mereka dengan Ka’bah dan patungpatung yang di sekelilingnya, maka segera sebuah pasukan besar digerakkannya untuk menghancurkan berhala yang telah menyainginya itu.
Allah Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan al-haqq untuk mencegah manusia menyembah seluruh berhala-berhala itu dan menyeru mereka menyembah Allah saja tidak menyekutukan-Nya. Seruannya untuk membuang kesyirikan itu mencakup seluruh bentuk kesyirikan, baik penyembahan kepada Nabi, malaikat, hamba yang shalih, rezim tiran, dukun pendusta, undang-undang positif, kuburan yang diagungkan, pohon atau batu yang dimintai berkah, setan yang ditakuti, maupun sesembahan-sesembahan lain.
Sebagaimana sunnatullah yang berlaku pada bangsa-bangsa terdahulu, jika telah berlalu masa yang lama dari masa-masa wahyu maka pelan-pelan tauhid akan terkikis dan manusia akan kembali musyrik, mengangkat thaghut, menyembahnya, dan bahkan menyeru manusia lain untuk ikut menyembahnya.
Bentuk kesyirikan orang-orang musyrik yang paling nampak yaitu menuhankan orang-orang shaleh dan ahli zuhud. Mulanya mereka membuat patung orang-orang saleh itu dengan harapan bisa mengingatkan manusia akan kezuhudan mereka dalam beribadah kepada Allah sehingga siapapun yang melihatnya akan teguh pada jalan yang dilaluinya. Namun, patung itu lama kemudian berubah menjadi berhala yang disembah selain Allah, dimintai syafaat, dihadiahi sembelihan, dan lain sebagainya. Mereka menyangka sedang bertaqorrub kepada Allah melalui hal itu. Mereka menolak jika perbuatan itu disebut kemusyrikan, seperti kata mereka: (Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya). (QS az-Zumar: 3), dan kata mereka: (Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah). (QS Yunus: 18). Mereka membela habis-habisan sesembahannya ini dan membantah siapapun yang melarangnya, seperti kata mereka: (Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekalikali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr). (QS Nuh: 23).
Para pewaris mereka yang lebih parah kekafirannya menjadikan ketaatan kepada nenek moyangnya sebagai agama yang menghalangi mereka mentaati Allah. Allah berfirman tentang mereka:(Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul“. Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya). (QS al-Maidah: 104). Yang kemudian klaim mereka itu dibantah Allah dengan firman-Nya: (Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?) (QS al-Maidah: 104). Ibnul ‘Arabi berkata mengenai tafsir ayat ini: “Kata mereka, Kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya, maka kami contoh perbuatan mereka itu dan kami kerjakan apa yang kami lihat mereka mengerjakannya. Padahal tidak jelas bagi mereka apakah perbuatan bapakbapak mereka itu berdasarkan petunjuk. Mereka mengira bapak-bapak mereka itu bebas dari kesalahan, lupa bahwa bisa jadi bapak-bapak mereka itu bathil.” (Ahkamul Qur’an)
Sedang kita saat ini mendapati bahwa banyak dari elemen tanzhim, faksi, dan partai yang mengklaim hendak menegakkan agama Allah dan menerapkan syariat, ternyata bertingkah sama dengan orang-orang musyrik dahulu. Mereka puja orang-orang shalih lantaran keluasan ilmunya, kebagusan jihadnya, kesabarannya menghadapi ujian dari thaghut, atau kefasihan bicaranya dan bagusnya tulisannya, atau bahkan karena keterkenalannya diantara manusia, mereka memujanya melebihi kadar seharusnya. Mereka angkat tinggi-tinggi gambarnya. Mereka menjulukinya dengan julukan mentereng. Mereka jadikan kata-kata dan putusannya melebihi firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekalipun mereka mengklaim katakatanya itu berdasar firman Allah dan sabda Rasul-Nya.
Bahkan, mereka jadikan kata-kata, perbuatan, dan putusannya itu sebagai manhaj. Lalu manhaj ini ditulis dan diajarkan kepada generasi selanjutnya laksana satu-satunya jalan yang lurus untuk mendapatkan kerelaan Rabb semesta alam. Kita dengar orang-orang itu kemudian dinamakan sebagai ikon untuk harakah ini dan itu. Kita lihat jika para ikon itu dikritik maka kritikan tersebut ditepis habis-habisan melebihi bantahan atas orang yang mencaci Dinullah. Sampai-sampai para ikon itu, baik yang hidup maupun yang sudah mati, laksana Kitabullah dan Sunnah bagi orang-orang sesat itu. Siapapun yang merendahkan kedudukan mereka atau membantah katakata mereka, laksana orang yang hendak melepas buhul islam.
Kita lihat lagi, ternyata tiap kelompok mempunyai satu ikon atau sejumlah ikon sendiri, sebagaimana tiap kabilah jahiliyah mempunyai satu berhala atau sejumlah berhala sendiri. Tiap kelompok berusaha semaksimal mungkin memujamuja ikonnya di mata manusia. Ia melihat bahwa semakin bertambah pujaannya atas si ikon maka semakin banyak pengikut kelompoknya. Oleh karena itu, mereka bersemangat menambah-nambahi julukan dan sifat bagi ikon-ikon itu, dan menjadikan perbuatan si ikon sebagai dalil tiap keputusan yang hendak diambil. Cukuplah bagi mereka jika syaikh atau ketua mereka mengakui atau memerintahkannya sehingga hal itu menjadi boleh atau wajib. Tanpa mempedulikan dalil-dalil syari.
Bahkan sampai pada kondisi mereka saling memperebutkan ikon itu. Semuanya mengklaim dialah pewaris sah manhajnya, yang dipercaya memegang pesannya dan pelindung partai, organisasi, atau faksinya dari penyelewangan terhadap manhaj si ikon itu. Sebuah fenomena Neo “Babiyah”, persis seperti idelogi Rafidhah dan Batiniyah yang menguduskan sebagian ulamanya dengan klaim bahwa dialah pintu gerbang imam-imam ahlul bait yang diklaim kembali hidup setelah kematiannya dan berhubungan dengan manusia melalui perantara pintu-pintu gerbang itu.
Keterikatan dan ketergantungan suatu partai, organisasi, atau faksi dengan ikonikon mereka, adalah karakteristik orangorang sesat. Seorang muslim mengetahui bahwa al-Qur’an dan Sunnah adalah pondasi kukuh tempat dibangunnya kebenaran klaimnya. Orang-orang sesat itu jika mereka kesulitan mendapatkan dalil syar’i atas klaimnya maka mereka memanfaatkan dalil bid’ah untuk mendukung kebenaran manhajnya. Inilah yang dilakukan kelompok-kelompok sesat hari ini dengan menggunakan ikon-ikonnya yang terkenal sebagai dalil keabsahan manhajnya. Padahal jika kita teliti hakikat ikon-ikon itu ternyata mereka adalah ahli bidah sesat, bahkan ada yang melakukan kemurtadan yang terang.
Atau mereka berdalil atas kebenaran manhajnya dengan besarnya pengorbanan para pendahulunya yang dipenjara atau terbunuh, dan banyaknya pengikutnya serta pemikirannya yang tersebar luas. Semua ini tidak ada benarnya sama sekali. Seorang muslim akan mengukur si ikon itu dengan timbangan Dien, bukan sebaliknya menakar Dinnya dengan timbangan si ikon. Ia mengetahui kedudukan si ikon sesuai dengan ittiba’nya terhadap kebenaran. Bukan malah mencari kebenaran melalui kata-kata dan perbuatan si ikon. Ia akan berusaha menjadi hamba Allah ‘azza wa jalla bukan hamba partai dan organisasi beserta ikon-ikonnya, dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan mengikuti manhaj suatu faksi atau harakah.
Hari ini, sekian banyak ikon sudah tersebar, lebih banyak daripada berhala-berhala kaum musyrikin jahiliyah. Setiap orang menyeru kepada ikonnya sebagaimana orang-orang jahiliyah menyeru manusia untuk menyembah berhalanya. Jika setiap partai dan organisasi menjadi ikon, para petingginya juga menjadi ikon, buku-buku dan manhajnya juga menjadi ikon, maka yang mana yang harus diikuti seorang muslim? Semuanya akan menjawab, apa yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Maka, kita ikuti al Qur’an dan Sunnah, dan tinggalkan semua ikon itu.
IKON ATAU BERHALA?
Karakter terpenting masyarakat jahiliyah di setiap masa adalah tiap kabilah atau sekelompok orang mempunyai sebuah berhala khusus yang berbeda dari kabilah atau kelompok lain. Berhala itu dipuja, dibela, dan dibangga-banggakannya dihadapan berhala kelompok lain. Sampai pada kondisi bahwa syarat untuk bergabung dengan kelompok tersebut adalah memuja dan mengagungkan berhala kelompok itu. Sehingga terjadilah hubungan simbiosis mutualisme antara berhala dengan pemujanya. Jika yang memujanya itu sekelompok besar manusia, maka mereka yang melayani dan membangun keterikatan dengan berhala ini akan mendapatkan kekuatan dan kekuasaan yang besar. Atau sekelompok pelayan ini mempunyai kekuatan yang dengannya mereka memaksa kelompok lain untuk memuja dan mengagungkan berhalanya. Yang terakhir inilah yang banyak terjadi. Pada kenyataannya, di balik pemujaan berhala-berhala ini ada tujuan politis, yaitu jika mereka tunduk pada berhala ini, itu berarti mereka tunduk pada sekelompok orang ini yang mengklaim memiliki keterikatan dengannya, memahami perintahnya, dan memahami isyarat-isyarat yang disampaikan lewat penyihirnya. Oleh karena itu, jika ada sebuah bangsa yang kehilangan kekuasaannya maka lenyap pulalah berhalanya dan patung-patungnya hancur. Setelahnya, orang-orang jahiliyah menyembah berhala baru milik bangsa yang menang.
Mungkin kisah Abrahah al-Habasyi adalah contoh terbaik. Ia membangun gereja megah di Yaman untuk menarik orangorang Arab mengagungkannya yang lalu menundukkan mereka dalam genggaman kekuasaannya. Ketika dilihatnya mereka malah melecehkannya lantaran keterikatan mereka dengan Ka’bah dan patungpatung yang di sekelilingnya, maka segera sebuah pasukan besar digerakkannya untuk menghancurkan berhala yang telah menyainginya itu.
Allah Ta’ala telah mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan al-haqq untuk mencegah manusia menyembah seluruh berhala-berhala itu dan menyeru mereka menyembah Allah saja tidak menyekutukan-Nya. Seruannya untuk membuang kesyirikan itu mencakup seluruh bentuk kesyirikan, baik penyembahan kepada Nabi, malaikat, hamba yang shalih, rezim tiran, dukun pendusta, undang-undang positif, kuburan yang diagungkan, pohon atau batu yang dimintai berkah, setan yang ditakuti, maupun sesembahan-sesembahan lain.
Sebagaimana sunnatullah yang berlaku pada bangsa-bangsa terdahulu, jika telah berlalu masa yang lama dari masa-masa wahyu maka pelan-pelan tauhid akan terkikis dan manusia akan kembali musyrik, mengangkat thaghut, menyembahnya, dan bahkan menyeru manusia lain untuk ikut menyembahnya.
Bentuk kesyirikan orang-orang musyrik yang paling nampak yaitu menuhankan orang-orang shaleh dan ahli zuhud. Mulanya mereka membuat patung orang-orang saleh itu dengan harapan bisa mengingatkan manusia akan kezuhudan mereka dalam beribadah kepada Allah sehingga siapapun yang melihatnya akan teguh pada jalan yang dilaluinya. Namun, patung itu lama kemudian berubah menjadi berhala yang disembah selain Allah, dimintai syafaat, dihadiahi sembelihan, dan lain sebagainya. Mereka menyangka sedang bertaqorrub kepada Allah melalui hal itu. Mereka menolak jika perbuatan itu disebut kemusyrikan, seperti kata mereka: (Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya). (QS az-Zumar: 3), dan kata mereka: (Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah). (QS Yunus: 18). Mereka membela habis-habisan sesembahannya ini dan membantah siapapun yang melarangnya, seperti kata mereka: (Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekalikali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr). (QS Nuh: 23).
Para pewaris mereka yang lebih parah kekafirannya menjadikan ketaatan kepada nenek moyangnya sebagai agama yang menghalangi mereka mentaati Allah. Allah berfirman tentang mereka:(Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul“. Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya). (QS al-Maidah: 104). Yang kemudian klaim mereka itu dibantah Allah dengan firman-Nya: (Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?) (QS al-Maidah: 104). Ibnul ‘Arabi berkata mengenai tafsir ayat ini: “Kata mereka, Kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya, maka kami contoh perbuatan mereka itu dan kami kerjakan apa yang kami lihat mereka mengerjakannya. Padahal tidak jelas bagi mereka apakah perbuatan bapakbapak mereka itu berdasarkan petunjuk. Mereka mengira bapak-bapak mereka itu bebas dari kesalahan, lupa bahwa bisa jadi bapak-bapak mereka itu bathil.” (Ahkamul Qur’an)
Sedang kita saat ini mendapati bahwa banyak dari elemen tanzhim, faksi, dan partai yang mengklaim hendak menegakkan agama Allah dan menerapkan syariat, ternyata bertingkah sama dengan orang-orang musyrik dahulu. Mereka puja orang-orang shalih lantaran keluasan ilmunya, kebagusan jihadnya, kesabarannya menghadapi ujian dari thaghut, atau kefasihan bicaranya dan bagusnya tulisannya, atau bahkan karena keterkenalannya diantara manusia, mereka memujanya melebihi kadar seharusnya. Mereka angkat tinggi-tinggi gambarnya. Mereka menjulukinya dengan julukan mentereng. Mereka jadikan kata-kata dan putusannya melebihi firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekalipun mereka mengklaim katakatanya itu berdasar firman Allah dan sabda Rasul-Nya.
Bahkan, mereka jadikan kata-kata, perbuatan, dan putusannya itu sebagai manhaj. Lalu manhaj ini ditulis dan diajarkan kepada generasi selanjutnya laksana satu-satunya jalan yang lurus untuk mendapatkan kerelaan Rabb semesta alam. Kita dengar orang-orang itu kemudian dinamakan sebagai ikon untuk harakah ini dan itu. Kita lihat jika para ikon itu dikritik maka kritikan tersebut ditepis habis-habisan melebihi bantahan atas orang yang mencaci Dinullah. Sampai-sampai para ikon itu, baik yang hidup maupun yang sudah mati, laksana Kitabullah dan Sunnah bagi orang-orang sesat itu. Siapapun yang merendahkan kedudukan mereka atau membantah katakata mereka, laksana orang yang hendak melepas buhul islam.
Kita lihat lagi, ternyata tiap kelompok mempunyai satu ikon atau sejumlah ikon sendiri, sebagaimana tiap kabilah jahiliyah mempunyai satu berhala atau sejumlah berhala sendiri. Tiap kelompok berusaha semaksimal mungkin memujamuja ikonnya di mata manusia. Ia melihat bahwa semakin bertambah pujaannya atas si ikon maka semakin banyak pengikut kelompoknya. Oleh karena itu, mereka bersemangat menambah-nambahi julukan dan sifat bagi ikon-ikon itu, dan menjadikan perbuatan si ikon sebagai dalil tiap keputusan yang hendak diambil. Cukuplah bagi mereka jika syaikh atau ketua mereka mengakui atau memerintahkannya sehingga hal itu menjadi boleh atau wajib. Tanpa mempedulikan dalil-dalil syari.
Bahkan sampai pada kondisi mereka saling memperebutkan ikon itu. Semuanya mengklaim dialah pewaris sah manhajnya, yang dipercaya memegang pesannya dan pelindung partai, organisasi, atau faksinya dari penyelewangan terhadap manhaj si ikon itu. Sebuah fenomena Neo “Babiyah”, persis seperti idelogi Rafidhah dan Batiniyah yang menguduskan sebagian ulamanya dengan klaim bahwa dialah pintu gerbang imam-imam ahlul bait yang diklaim kembali hidup setelah kematiannya dan berhubungan dengan manusia melalui perantara pintu-pintu gerbang itu.
Keterikatan dan ketergantungan suatu partai, organisasi, atau faksi dengan ikonikon mereka, adalah karakteristik orangorang sesat. Seorang muslim mengetahui bahwa al-Qur’an dan Sunnah adalah pondasi kukuh tempat dibangunnya kebenaran klaimnya. Orang-orang sesat itu jika mereka kesulitan mendapatkan dalil syar’i atas klaimnya maka mereka memanfaatkan dalil bid’ah untuk mendukung kebenaran manhajnya. Inilah yang dilakukan kelompok-kelompok sesat hari ini dengan menggunakan ikon-ikonnya yang terkenal sebagai dalil keabsahan manhajnya. Padahal jika kita teliti hakikat ikon-ikon itu ternyata mereka adalah ahli bidah sesat, bahkan ada yang melakukan kemurtadan yang terang.
Atau mereka berdalil atas kebenaran manhajnya dengan besarnya pengorbanan para pendahulunya yang dipenjara atau terbunuh, dan banyaknya pengikutnya serta pemikirannya yang tersebar luas. Semua ini tidak ada benarnya sama sekali. Seorang muslim akan mengukur si ikon itu dengan timbangan Dien, bukan sebaliknya menakar Dinnya dengan timbangan si ikon. Ia mengetahui kedudukan si ikon sesuai dengan ittiba’nya terhadap kebenaran. Bukan malah mencari kebenaran melalui kata-kata dan perbuatan si ikon. Ia akan berusaha menjadi hamba Allah ‘azza wa jalla bukan hamba partai dan organisasi beserta ikon-ikonnya, dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan mengikuti manhaj suatu faksi atau harakah.
Hari ini, sekian banyak ikon sudah tersebar, lebih banyak daripada berhala-berhala kaum musyrikin jahiliyah. Setiap orang menyeru kepada ikonnya sebagaimana orang-orang jahiliyah menyeru manusia untuk menyembah berhalanya. Jika setiap partai dan organisasi menjadi ikon, para petingginya juga menjadi ikon, buku-buku dan manhajnya juga menjadi ikon, maka yang mana yang harus diikuti seorang muslim? Semuanya akan menjawab, apa yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Maka, kita ikuti al Qur’an dan Sunnah, dan tinggalkan semua ikon itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar