DABIQ 14 - ARTIKEL
INILAH PARA KSATRIA PENCARI SYAHID DI BELGIA
Ibrahim al-Bakrawi (Abu Sulaiman al-Baljiki)
Istisyhadiy di Bandara Brussel
Abu Sulaiman dikenal karena keberanian dan kemurahan hati-nya sebelum dan bahkan terlebih lagi setelah ia dibimbing oleh Allah. Ketika ia dipenjara, ia mengikuti berita tentang kekejaman terhadap kaum Muslim di Syam. Hingga ia tersentuh dan memutuskan untuk mengubah hidupnya, yaitu hidup demi agamanya.
Setelah ia dibebaskan dari penjara, ia langsung bergabung dengan saudaranya; Khalid, Serangan terhadap Paris itu terjadi dan dimulai adalah karena Allah, kemudian karena Ibrahim dan saudaranya dengan membeli senjata, mencari rumah aman dan membuat perencanaan.
Khalid al-Bakrawi (Abu Walid al-Baljiki)
Istisyhadiy di Stasiun Kereta Bawah Tanah
Seorang pria dengan karakter yang kuat dan memiliki kepemimpinan alami, Khalid diberi petunjuk saat di penjara setelah ia mendapatkan mimpi yang mengubah gambarannya akan kehidupan. Ia melihat bahwa ia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi orang-orang kafir, ia berkata ketika menceritakan mimpinya, "Itu adalah mimpi setelah mendengar ayat terakhir dari surat al-Fath yang dibacakan dengan suara keras, saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas kuda dalam medan pertempuran dari jarak jauh. Mimpi yang menghanyutkan saya kedalam medan perang. Saya melihat diri saya sebagai pemanah yang menembakkan panah kepada musuh. Saya memanah, lalu berlindung, kemudian memanah lagi. "Dia meriwayatkan rincian lain dari mimpinya dan berkata," Saya kemudian terbangun dan kembali berada dalam sel penjara.
"Setelah meninggalkan penjara, ia dengan penuh keyaqinan dan keteguhan mulai berda'wah kepada tetangganya dan menyeru para pemuda untuk berhijrah ke Syam. Dia juga menulis beberapa artikel tentang Perang Salib pada masanya yang dikobarkan oleh Barat terhadap kaum muslimin.
Semua persiapan untuk operasi penyerbuan di Paris dan Brussel dimulai oleh dia bersama kakaknya; Ibrahim. Kedua bersaudara ini mengumpulkan senjata dan bahan peledak. Setelah operasi yang diberkahi di Paris, ia melihat mimpi lainnya, mimpi yang memotivasi dirinya untuk melaksanakan operasi istisyhad. Dia berkata, "Mimpi kedua terjadi tiga bulan yang lalu. Dan hal ini berlangsung dari subuh sampai zhuhur. Aku bangkit menuju ke tempat yang tinggi, hingga seakan-akan aku berada di ruang angkasa dan dikelilingi oleh bintang-bintang; tapi langit saat itu berwarna seperti biru waktu malam. "Dia kemudian mendengar sebuah suara dalam mimpi-nya yang mengatakan kepadanya bahwa ia diciptakan hanya untuk menyembah Allah saja dan memerintahkannya untuk memperjuangkan tujuan-Nya dan membuat kalimat-Nya menjadi yang tertinggi. Kemudian dia terbangun.
Abu Walid kemudian meriwayatkan mimpinya yang ketiga: "Saya juga memiliki mimpi yang juga berlangsung dari waktu subuh sampai Dhuhur, tetapi berakhir di malam hari. Aku melihat diriku berada dalam perahu bersama dengan Abu Sulaiman dan saudara lainnya. Setiap dari kami memiliki tentara Turki sebagai sandera. Aku punya pistol sedang Abu Sulaiman memiliki sabuk. Aku mengatakan kepadanya untuk memberikan sabuknya padaku, karena aku akan merasa lebih baik setelah memakainya. Jadi dia memberikan sabuknya padaku dan aku memberinya pistol. Aku kemudian bergerak maju bersama sandera Turki demi mendekati tentara turki lainnya, dua di antaranya di depan kami. Aku meledakkan ikat pinggangku dan membunuh tentara turki. Kepalaku kemudian terhuyung ke tanah. Salah seorang ikhwan yang juga bekerja dalam operasi dan juga Syaikh al-'Adnaniy mengambil kepalaku dan berkata, 'Periksa dan lihatlah apakah ia tersenyum atau tidak. "Aku lalu melihat jiwaku dan jiwa tiga tentara. Tiba-tiba semua jiwa para tentara terbakar dan lenyap, kemudian tiba-tiba bendera Islam -dalam mimpi terwakili oleh bendera Daulah Islam- keluar dari bumi dan bersinar terang. Jiwaku kemudian menjadi penuh dengan cahaya." Dia lalu mendengar suara dalam mimpinya yang mengatakan kepadanya bahwa ia telah mencapai pembebasan. Abu Walid melanjutkan, "Aku lalu bersujud dengan cepat dan berulang kali ber-takbir. Saya kemudian terbangun dan menemukan jantungku berdetak dengan cepat, dan aku-pun mengambil napas dengan cepat".
Najm al-'Asyrawi (Abu Idris al-Baljiki)
Istisyhadiy di Bandara Brussel
Dia adalah seorang yang unik, memiliki sikap yang sangat baik, selalu melayani saudara-saudaranya dan sangat cerdas. Hijrah-nya dimulai pada "2013", ketika ia mendengar jeritan Muslim di Syam. Dia bergabung dengan Majlis Syura al-Mujahidin yang dipimpin oleh Abul Atsir al-'Absi rahimahullah, dan ketika pengkhianat al-Jaulani mengkhianati Daulah Islam, ia bersama dengan sisa dari kelompoknya adalah salah satu diantara yang pertama-tama membaiat Amirul Mu’minin Abu Bakr al-Baghdadiy.
Dia berpartisipasi dalam beberapa pertempuran melawan rezim Nushairiy sebelum murtaddin FSA memulai serangan terhadap mujahidin. Ini membuktikan dirinya berdiri teguh selama masa Shahawat di Syam, ia memerangi mereka sampai datang perintah untuk menarik mundur ke ar-Raqqah. Dia terus berpartisipasi dalam penggerebekan sampai ia mendapatkan luka tembak di kakinya dalam sebuah penggrebekan terhadap Jabhah Jaulani di al-Khair.
Setelah masa penyembuhan selama beberapa bulan, ia mulai berlatih dalam rangka mewujudkan mimpinya untuk kembali ke Eropa dan membalaskan dendam kaum muslimin di ‘Iroq dan Syam atas pemboman konstan oleh pesawat tempur tentara salib. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia melakukan perjalanan yang panjang ke Perancis untuk melaksanakan operasi nya. Dialah Abu Idris yang telah mempersiapkan bom untuk dua penyerbuan; di Paris dan Brussel.
Muhammad Bilqo’id (Abu 'Abdil Aziz al-Jazairi)
Melindungi Mujahidin dalam sebuah penggrebekan Polisi
Sebelum kembali ke Prancis, Abu 'Abdil 'Aziz berpartisipasi dalam beberapa penyerangan terhadap rezim Nushairi. Dan pertempuran yang paling menonjol adalah pertempuran di Pangkalan Udara Kuwayris dan Divisi ke-17. Selama kampanye, ia mengalami cedera pada kakinya saat berperang dengan shahawat di Damaskus. Dia juga mengambil bagian dalam penaklukan ar-Ramadi, di mana sebuah peluru menghantam kepalanya.
Dia adalah seorang yang penuh dengan kebijaksanaan serta komandan dari sebuah kelompok pasukan inghimasy. Disukai oleh semua saudara dan ia terkenal karena puasanya, ia shalat dan membaca al-Qur’an sepanjang malam. Ketika ia mendengar bahwa Abu Idris ingin kembali ke Eropa untuk menjalankan operasi istisyhadiy, ia langsung memutuskan untuk menemaninya dan membantunya dalam misi tersebut.
Ketika di Belgia dan selama tahap akhir dalam persiapan serangan di Brussel, polisi kafir menyerbu apartemennya. Meskipun ia memiliki kemampuan untuk melarikan diri bersama dengan timnya, ia memutuskan untuk membuat ini sebagai pemberhentian terakhir baginya demi memastikan saudara-saudaranya dapat keluar dengan aman. Dia baku tembak dengan pasukan Belgia dan Perancis selama beberapa jam, melukai sejumlah dari mereka, sebagaimana saudara-saudaranya dapat menyelamatkan diri ke dalam hutan.
INILAH PARA KSATRIA PENCARI SYAHID DI BELGIA
Ibrahim al-Bakrawi (Abu Sulaiman al-Baljiki)
Istisyhadiy di Bandara Brussel
Abu Sulaiman dikenal karena keberanian dan kemurahan hati-nya sebelum dan bahkan terlebih lagi setelah ia dibimbing oleh Allah. Ketika ia dipenjara, ia mengikuti berita tentang kekejaman terhadap kaum Muslim di Syam. Hingga ia tersentuh dan memutuskan untuk mengubah hidupnya, yaitu hidup demi agamanya.
Setelah ia dibebaskan dari penjara, ia langsung bergabung dengan saudaranya; Khalid, Serangan terhadap Paris itu terjadi dan dimulai adalah karena Allah, kemudian karena Ibrahim dan saudaranya dengan membeli senjata, mencari rumah aman dan membuat perencanaan.
Khalid al-Bakrawi (Abu Walid al-Baljiki)
Istisyhadiy di Stasiun Kereta Bawah Tanah
Seorang pria dengan karakter yang kuat dan memiliki kepemimpinan alami, Khalid diberi petunjuk saat di penjara setelah ia mendapatkan mimpi yang mengubah gambarannya akan kehidupan. Ia melihat bahwa ia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi orang-orang kafir, ia berkata ketika menceritakan mimpinya, "Itu adalah mimpi setelah mendengar ayat terakhir dari surat al-Fath yang dibacakan dengan suara keras, saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas kuda dalam medan pertempuran dari jarak jauh. Mimpi yang menghanyutkan saya kedalam medan perang. Saya melihat diri saya sebagai pemanah yang menembakkan panah kepada musuh. Saya memanah, lalu berlindung, kemudian memanah lagi. "Dia meriwayatkan rincian lain dari mimpinya dan berkata," Saya kemudian terbangun dan kembali berada dalam sel penjara.
"Setelah meninggalkan penjara, ia dengan penuh keyaqinan dan keteguhan mulai berda'wah kepada tetangganya dan menyeru para pemuda untuk berhijrah ke Syam. Dia juga menulis beberapa artikel tentang Perang Salib pada masanya yang dikobarkan oleh Barat terhadap kaum muslimin.
Semua persiapan untuk operasi penyerbuan di Paris dan Brussel dimulai oleh dia bersama kakaknya; Ibrahim. Kedua bersaudara ini mengumpulkan senjata dan bahan peledak. Setelah operasi yang diberkahi di Paris, ia melihat mimpi lainnya, mimpi yang memotivasi dirinya untuk melaksanakan operasi istisyhad. Dia berkata, "Mimpi kedua terjadi tiga bulan yang lalu. Dan hal ini berlangsung dari subuh sampai zhuhur. Aku bangkit menuju ke tempat yang tinggi, hingga seakan-akan aku berada di ruang angkasa dan dikelilingi oleh bintang-bintang; tapi langit saat itu berwarna seperti biru waktu malam. "Dia kemudian mendengar sebuah suara dalam mimpi-nya yang mengatakan kepadanya bahwa ia diciptakan hanya untuk menyembah Allah saja dan memerintahkannya untuk memperjuangkan tujuan-Nya dan membuat kalimat-Nya menjadi yang tertinggi. Kemudian dia terbangun.
Abu Walid kemudian meriwayatkan mimpinya yang ketiga: "Saya juga memiliki mimpi yang juga berlangsung dari waktu subuh sampai Dhuhur, tetapi berakhir di malam hari. Aku melihat diriku berada dalam perahu bersama dengan Abu Sulaiman dan saudara lainnya. Setiap dari kami memiliki tentara Turki sebagai sandera. Aku punya pistol sedang Abu Sulaiman memiliki sabuk. Aku mengatakan kepadanya untuk memberikan sabuknya padaku, karena aku akan merasa lebih baik setelah memakainya. Jadi dia memberikan sabuknya padaku dan aku memberinya pistol. Aku kemudian bergerak maju bersama sandera Turki demi mendekati tentara turki lainnya, dua di antaranya di depan kami. Aku meledakkan ikat pinggangku dan membunuh tentara turki. Kepalaku kemudian terhuyung ke tanah. Salah seorang ikhwan yang juga bekerja dalam operasi dan juga Syaikh al-'Adnaniy mengambil kepalaku dan berkata, 'Periksa dan lihatlah apakah ia tersenyum atau tidak. "Aku lalu melihat jiwaku dan jiwa tiga tentara. Tiba-tiba semua jiwa para tentara terbakar dan lenyap, kemudian tiba-tiba bendera Islam -dalam mimpi terwakili oleh bendera Daulah Islam- keluar dari bumi dan bersinar terang. Jiwaku kemudian menjadi penuh dengan cahaya." Dia lalu mendengar suara dalam mimpinya yang mengatakan kepadanya bahwa ia telah mencapai pembebasan. Abu Walid melanjutkan, "Aku lalu bersujud dengan cepat dan berulang kali ber-takbir. Saya kemudian terbangun dan menemukan jantungku berdetak dengan cepat, dan aku-pun mengambil napas dengan cepat".
Najm al-'Asyrawi (Abu Idris al-Baljiki)
Istisyhadiy di Bandara Brussel
Dia adalah seorang yang unik, memiliki sikap yang sangat baik, selalu melayani saudara-saudaranya dan sangat cerdas. Hijrah-nya dimulai pada "2013", ketika ia mendengar jeritan Muslim di Syam. Dia bergabung dengan Majlis Syura al-Mujahidin yang dipimpin oleh Abul Atsir al-'Absi rahimahullah, dan ketika pengkhianat al-Jaulani mengkhianati Daulah Islam, ia bersama dengan sisa dari kelompoknya adalah salah satu diantara yang pertama-tama membaiat Amirul Mu’minin Abu Bakr al-Baghdadiy.
Dia berpartisipasi dalam beberapa pertempuran melawan rezim Nushairiy sebelum murtaddin FSA memulai serangan terhadap mujahidin. Ini membuktikan dirinya berdiri teguh selama masa Shahawat di Syam, ia memerangi mereka sampai datang perintah untuk menarik mundur ke ar-Raqqah. Dia terus berpartisipasi dalam penggerebekan sampai ia mendapatkan luka tembak di kakinya dalam sebuah penggrebekan terhadap Jabhah Jaulani di al-Khair.
Setelah masa penyembuhan selama beberapa bulan, ia mulai berlatih dalam rangka mewujudkan mimpinya untuk kembali ke Eropa dan membalaskan dendam kaum muslimin di ‘Iroq dan Syam atas pemboman konstan oleh pesawat tempur tentara salib. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia melakukan perjalanan yang panjang ke Perancis untuk melaksanakan operasi nya. Dialah Abu Idris yang telah mempersiapkan bom untuk dua penyerbuan; di Paris dan Brussel.
Muhammad Bilqo’id (Abu 'Abdil Aziz al-Jazairi)
Melindungi Mujahidin dalam sebuah penggrebekan Polisi
Sebelum kembali ke Prancis, Abu 'Abdil 'Aziz berpartisipasi dalam beberapa penyerangan terhadap rezim Nushairi. Dan pertempuran yang paling menonjol adalah pertempuran di Pangkalan Udara Kuwayris dan Divisi ke-17. Selama kampanye, ia mengalami cedera pada kakinya saat berperang dengan shahawat di Damaskus. Dia juga mengambil bagian dalam penaklukan ar-Ramadi, di mana sebuah peluru menghantam kepalanya.
Dia adalah seorang yang penuh dengan kebijaksanaan serta komandan dari sebuah kelompok pasukan inghimasy. Disukai oleh semua saudara dan ia terkenal karena puasanya, ia shalat dan membaca al-Qur’an sepanjang malam. Ketika ia mendengar bahwa Abu Idris ingin kembali ke Eropa untuk menjalankan operasi istisyhadiy, ia langsung memutuskan untuk menemaninya dan membantunya dalam misi tersebut.
Ketika di Belgia dan selama tahap akhir dalam persiapan serangan di Brussel, polisi kafir menyerbu apartemennya. Meskipun ia memiliki kemampuan untuk melarikan diri bersama dengan timnya, ia memutuskan untuk membuat ini sebagai pemberhentian terakhir baginya demi memastikan saudara-saudaranya dapat keluar dengan aman. Dia baku tembak dengan pasukan Belgia dan Perancis selama beberapa jam, melukai sejumlah dari mereka, sebagaimana saudara-saudaranya dapat menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar