Rabu, 25 April 2018

AL-QA'IDAH AZH-ZHAWAHIRI, AL-HARARI DAN AN-NAZHARI, SERTA HIKMAH YAMAN YANG HILANG

DABIQ 6 - ARTIKEL

AL-QA'IDAH AZH-ZHAWAHIRI, AL-HARARI DAN AN-NAZHARI, SERTA HIKMAH YAMAN YANG HILANG
Oleh : Syaikh Abu Maisarah Asy-Syami

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan kesudahan yang baik hanya bagi orang yang bertakwa, dan tidak ada permusuhan kecuali atas orang-orang yang zhalim. Dan shalawat serta salam atas penutup para Nabi dan Rasul; Muhammad, juga atas keluarga dan para shahabatnya seluruhnya. Amma ba'du.

Telah bersabda orang yang jujur lagi dipercaya (Rasul shallallahu alaihi wa sallam): "Telah datang para penduduk Yaman, mereka memiliki hati yang paling lembut, iman adalah Yaman, Fiqh adalah Yaman, dan Hikmah adalah Yaman." (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: "Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam "Iman adalah Yaman, fiqh adalah Yaman dan Hikmah adalah Yaman". Beliau bersabda memuji penduduk Yaman dan keutamaan mereka, bersaksi bagi mereka dengan fiqh dan iman, dan menisbatkan kepada mereka karena mereka telah mencapai batas tertinggi dalam fiqih, iman dan hikmah. Dan kita tidak mengetahui sekumpulan ulama manapun dari kalangan kaum muslimin yang paling sedikit bicaranya dari penduduk Yaman, yang paling sedikit perdebatannya dari mereka, baik salaf maupun khalaf, beliau menunjukkan bahwa ilmu dan fiqh yang terpuji menurut timbangan syari’at adalah ilmu tentang Allah yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya, menghormati dan mengagungkan-Nya, dan keduanya ini dibarengi dengan ilmu yang juga dibutuhkan tentang perintah-perintah dan larangan-Nya, sebagaimana dahulu ulama-ulama penduduk Yaman, seperti Abu Musa Al-Asy'ari, Abu Muslim al-Khaulani, Uwais Al-Qarni dan selain mereka, tanpa menambah ilmu yang lebih dari itu, seperti tentang mengkomentari orang satu sama lain, atau banyak mencari aib manusia dan kesalahan mereka, (…) begitu juga banyak mencari ilmu-ilmu tambahan yang tidak bermanfaat dalam agama dan hanya menyibukkan dari Allah, membuat hati keras untuk mengingat-Nya, yang hanya mendorong pemiliknya untuk suka dengan jabatan dan popularitas di mata manusia, dan ini semua tidaklah terpuji, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat (diriwayatkan oleh Muslim dari Zaid), dan didalam hadits darinya, bahwasanya beliau bersabda: "Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kalian kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat". (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Jabir). Dan di dalam hadits lain, beliau bersabda: "Sesungguhnya di dalam sebagian ilmu ada kebodohan". (diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Buraidah). Dan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka panjang berbicara dan banyak berkata-kata, tapi beliau suka mempersingkat kata, dan dalam hal ini banyak sekali hadits yang menyebutkannya, yang cukup banyak untuk disebutkan". (Majmu' Rasa'il Ibnu Rajab)

Dan beliau rahimahullah juga berkata : "Ibnu Mas'ud juga berkata: ‘Sesungguhnya kalian sekarang hidup di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit khathibnya, dan kelak akan datang suatu zaman sesudah kalian yang sedikit ulamanya dan banyak khathibnya'. Maka siapa yang banyak ilmunya dan sedikit ucapannya maka dia terpuji dan siapa yang berlawanan dengan itu maka dia tercela, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersaksi untuk Ahli Yaman dengan iman dan fiqih, dan orang Yaman adalah manusia yang paling sedikit bicaranya dan luas ilmunya, karena ilmu mereka adalah ilmu yang bermanfaat yang ada di dalam hati mereka, sehingga mereka membahasakannya lewat lisan mereka dengan sekedarnya sesuai yang dibutuhkan, dan inilah yang disebut dengan fiqh dan ilmu yang bermanfaat". (Fadhlu 'Ilmi as-Salaf)

Setelah membaca "Fadhlu 'Ilmi as-Salaf 'Ala 'Ilmi al-Khalaf" karya al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah masih menggantung di benakku bertahun-tahun akan tulisannya "penduduk Yaman adalah manusia paling sedikit bicaranya", hingga kemudian aku menyaksikan di alam nyata dan dengan mata kepalaku sendiri saat bai'at terang-terangan dari mujahidin Jazirah Arab, Yaman, Sinai, Aljazair dan Libia dideklarasikan, dan yang paling pendek ucapan dari lima tempat ini adalah mujahidin Yaman, dan di dalamnya terdapat hikmah, fiqh dan iman, mereka membahasakan tentang keyakinan mereka dengan singkat dan ringkas. Aku berharap semoga Allah meneguhkan mereka di atas sumpah mereka hingga bertemu Allah dan Dia ridha terhadap mereka.

Berkata para Mujahidin Yaman: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira kepada kami akan kekhilafahan di atas minhaj nubuwwah, dan sungguh –demi Allah– kami telah menyaksikannya, sebuah khilafah di atas minhaj nubuwwah, dan di saat kami mendengar para terompet Yahudi dan Nasrani, yakni mereka para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, maka kami menjawab perintah Rasulullah untuk melazimi Jama'ah kaum Muslimin dan imam mereka, dan dari Hudzaifah "Radhiyallahu anhu" berkata: "Manusia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir dia akan mengenaiku…" dan di dalam hadits itu disebutkan: "…Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?". Beliau menjawab: "Ya, yaitu para da'i yang menyeru kepada pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhi seruannya maka mereka akan mencampakkannya ke dalamnya". Aku berkata: "Wahai Rasulullah, beritahu kami sifat-sifat mereka". Rasulullah menjawab: "Mereka berasal dari kulit yang sama dengan kita, dan berbicara dengan lisan kita". Aku bertanya: "Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa itu?". Rasulullah bersabda: "Engkau melazimi jama'ah kaum muslimin dan imam mereka". (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim)

Maka mereka mengetahui penyakitnya –berkelompok dan perpecahan– dan mengetahui obatnya – yakni persatuan dan jama'ah, mereka juga memahami (fiqh) bahwa persatuan yang dimaksud adalah dengan melazimi jama'ah kaum muslimin (khilafah) dan imam mereka (khalifah), bukan berkumpul dengan membentuk kelompok dan partai, mereka berucap dengan hikmah kenabian dan mengatakan sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami taat), tanpa sedikitpun ragu, bimbang dan merasa sombong.

Sedangkan yang lain mengatakan: "kami mendengar dan kami mengingkari dan masuklah ke dalam hati mereka semangat hizbiah dengan kesombongan mereka, lalu membuat-buat perkataan sebagaimana Bani Israel ketika diperintah untuk menyembelih seekor sapi, lalu mereka berkilah atas perintah dan larangan, sehingga mereka membuat hizbiyah "golongan" adalah tali Allah yang kita diperintah untuk berpegang teguh padanya, dan menjadikan khilafah adalah perpecahan yang kita telah dilarang darinya!

Dan beginilah penolakan Harits An-Nazhari terhadap tentara Daulah Islamiyah di Yaman dan terhadap imam kaum muslimin Khalifah Ibrahim (semoga Allah menjaganya, membimbing pandangannya, menepatkan tembakannya, dan mematahkan dengannya kekuatan orang-orang murtad, kaum salib, ahli bid'ah dan para bughat), An-Nazhari telah mengikuti Al-Jaulani dengan pujiannya yang penuh makar, Al-Harari dengan fitnah dan celaannya (yakni sebelum keduanya menampakkan sikap iri, dengki, permusuhan dan kebencian atas kami), Abu Abdullah Asy-Syami dengan banyak bicaranya, panjang perkataannya dan pembagian-pembagiannya, berfilosofi dan dengki, dan Azh-Zhawahiri dengan kontradiksinya... [1]

An-Nazhari tidak seperti tentara Yaman, bahkan dia sangat panjang dalam penjelasannya yang kosong, dan membawakan perkataan Khalifah dengan kemungkinan sangat buruk, bagian perkataan Amirul Mu’minin tentang masalah peleburan kelompok-kelompok dan situasi Yaman saat ini yang tidak lebih satu menit, ditanggapi oleh An-Nazhari dengan perkataan yang panjangnya setengah jam, mengikuti langkah Abu Abdullah Asy-Syami yang mengambil kitab Al-Kaba'ir dan menjadikan bab-babnya sebagai judul atas penjelasannya dalam menolong shahawat melawan Daulah Islam, seperti ini: Pertama, kedua, ketiga… kedelapan belas… pertama, kedua, ketiga… pertama, kedua, ketiga… dst.

Dan yang menyedihkan bahwa sebagian kata-katanya meneteskan darah, menandakan keburukan, dan mengandung kejahatan, seperti pada perkataannya: "Dan kami akan menuntut dari mereka tanggung jawab atas apa yang telah terjadi, berupa ta'ashub terhadap pendapat dan berlapang-lapang dalam ijtihad dari menumpahkan darah yang haram dengan hujjah perluasan dan melebarkan kekuasaan Daulah, dan kami tekankan bahwa tidak akan memulai permusuhan atau peperangan terhadap seorang muslim, dan kami tidak akan merampas kehormatan mereka dan harta mereka".

Aku katakan: "Seolah dia berkata; Daulah telah merampas kehormatan kaum muslimin". Sungguh kami heran terhadap sebagian orang yang lalai yang mengatakannya "Syaikh yang terhormat semoga dijaga Allah" dan lain-lain, dan lupa bahwa Al-Jaulani telah memulai perkataannya pertama kali pasca deklarasi Daulah Islam di Iraq dan Syam dengan pujiannya yang licik terhadap hak Amirul Mu’minin, tentaranya dan Daulahnya, bukan dengan kedengkian yang nyata ini, dan di antara yang dikatakan Al-Jaulani: "Allah telah memuliakanku dengan mengenal Syaikh Al-Baghdadi, seorang syaikh yang mulia yang telah memenuhi hak penduduk Syam, dan membayar hutang berkali-kali lipat".

Maka apabila pada permulaan An-Nazhari dengan kalimat-kalimat yang meneteskan darah, maka janganlah sekali-kali orang mengira bahwa akhir dari Nazhari akan menjadi lebih baik dari akhir Jaulani, kecuali jika Allah merahmati, kita memohon kepada Allah agar memberinya petunjuk, juga atas para sahabatnya, untuk berpegang teguh kepada imam.

Maka jatuhlah An-Nazhari ke dalam kontradiksi yang mengherankan. Di mana dia tetap pada afiliasinya kepada Amirnya; Azh-Zhawahiri yang tidak mengkafirkan orang-orang rafidhah pada asalnya, dan apabila Azh-Zhawahiri berfikir akan mengkafirkan mereka maka dia tidak akan mengkafirkan mereka kecuali dengan satu sebab: mereka menolong Amerika dalam memusuhi kaum Muslimin.

Azh-Zhawahiri berkata: "Sikapku terhadap orang Syiah awam seperti sikap para ulama Ahlus Sunnah [2], yakni bahwa mereka diudzur karena sebab kebodohan mereka. Adapun siapa yang ikut serta dari mereka, kepada pemimpin-pemimpin mereka dalam kerja sama bersama pasukan salib dan memusuhi kaum muslimin, maka hukum mereka ketika itu seperti hukum terhadap kelompok-kelompok yang melarang syari’at Islam [3]. Adapun golongan awam mereka, yang tidak ikut serta dalam permusuhan atas kaum muslimin, dan tidak berperang di bawah panji pasukan salib internasional, maka yang seperti ini, jalan kami kepada mereka adalah dengan dakwah dan menyingkap kebenaran, menjelaskan betapa jahatnya keburukan yang dilakukan oleh para pemimpin mereka kepada Islam dan kaum Muslimin". (al-Liqa al-Maftuh al-Halaqah al-Ula).

Azh-Zhawahiri juga tidak mengkafirkan sebagian Anshar thaghut, kecuali para petugas yang ikut menyiksa kaum muslimin di sebagian departemen keamanan Negara, di mana dia berkata: "Para petugas keamanan pemerintah bagian yang memerangai aktifitas agama, yang memeriksa masalah keislaman dan menyiksa kaum muslimin, aku berpendapat mereka adalah kafir secara ta'yin, mereka ini lebih banyak mengenal pergerakan islam lebih dari anggota-anggota lainnya. Dan diperbolehkan membunuh petugas keamanan Negara dan seluruh anggota kepolisian baik yang engkau kafirkan secara ta'yin atau engkau kafirkan secara umum, apabila hal itu termasuk dalam operasi perang yang dengan mengincar mereka sebagai sarana membentuk kerusakan dan ada maslahat jihad, ini karena para kelompok murtad yang menghalangi akan diperangi sebagai satu kesatuan. Dan dibolehkan untuk membunuh siapa yang lari dari mereka dan menghabisi siapa yang terluka dari mereka. Dan ini adalah pembunuhan terhadap seseorang yang tidak diketahui keadaannya secara inidividu, dan karena mencari kejelasan dari keadaan satu orang ini adalah hal yang maqdur ‘alaihi "mungkin dilakukan" sedangkan atas keseluruhan mereka tidak mungkin dilakukan, dan tidaklah kewajiban jihad defensif yang fardhu ‘ain akan dibatalkan lantaran mencari kejelasan keadaan mereka". (al-Liqa al-Maftuh al-Halaqah al-Ula)

Dan dia berkata: "Takfir terhadap tentara dan institusi keamanan memiliki rincian, dan pandanganku adalah; bahwa aparat penyidik di dinas keamanan Negara bagian kontra-aktifis agama dan yang semisalnya, yang menyidik kaum muslimin dan menyiksa mereka, adalah kafir secara ta'yin. Dan yang menjadi perbedaan pendapat adalah dalam masalah yang sangat sedikit, terbatas pada masalah pribadi seperti nikah dan warisan. Adapun dari sisi aplikasi, maka tidak ada perbedaan antara dua pendapat ini dalam hukum memeranginya, perbedaan dalam masalah ini terdapat kelapangan". (al-Liqa al-Maftuh al-Halaqah al-Ula)

Menyembah kubah-kubah dan menolong undang- undang –menurut Azh-Zhawahiri– tidak akan mengkafirkan seseorang, adapun menyiksa kaum muslimin dan memusuhi mereka, menolong tentara salib atau bergabung dengan "dinas kontra-aktifitas agama" adalah hal lain…

Maka bagaimana An-Nazhari mengkafirkan rafidhah dan tentaranya tanpa rincian Azh-Zhawahiri?[4] Apakah dia akan mendurhakai amirnya yang telah 'membelanya' karena menganggap tidak ada penyimpangannya![5] Maka bagaimana dia menyeru untuk memerangi Hautsi yang berarti menyelisihi arahan dari Azh-Zhawahiri yang telah memerintahkan untuk tetap beriltizam dengannya dan yang dengannya membuat kejahatan Hautsi menjadi gawat dan menjadi thaghut baru di Yaman.

Hakikat sebenarnya bahwa strategi yang diikuti dalam "Taujihaat 'Aammah lil 'Amal al-Jihadi" (karya Azh-Zhawahiri) dibangun di atas pembedaan antara dua jenis kelompok dan individunya walau beliau mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam perlakuan menurut dua pendapat ini, maka apabila seseorang memperkirakan adanya 'muslim' pada suatu kelompok, maka akan meluas bagi mereka lingkaran udzur karena mencakupnya kebodohan dalam pokok agama, sehingga ini akan memaksa, cepat atau lambat, untuk "berhati-hati" dan "khawatir", sehingga dia tidak akan menargetkan orang-orang murtad karena takut akan membunuh "orang yang mereka anggap muslim". Ini sangat jelas dalam sebagian statemen dan kalimatnya, seperti perkataannya: "Dan apabila ada suatu kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam dan dalam posisi yang sulit dan ikut berperang bersama musuh kafir, maka dia dilawan dengan sebisa mungkin meminimalisir permusuhannya, demi menutup pintu fitnah antara kaum muslimin, atau menimpakan bahaya terhadap siapa yang tidak ikut serta bersama musuh". (Taujihaat 'Aammah lil 'Amal al-Jihadi)

Dan aqidah ini –yang pada awalnya tidak melihat adanya perbedaan antara takfir dalam lingkup kelompok dan takfir secara ta'yin– akan terlihat pengaruhnya secara praktik dalam siasat perang, tidak seperti yang disangka sebagian orang yang menggampangkan bahwa siasat tanzhim murni hanya strategi militer saja, namun hakikatnya sesungguhnya mereka khawatir untuk membunuh siapa yang dikhawatirkan bahwa dia muslim: tentara thaghut atau rafidhah majusi!

Dan telah memberitahuku seorang yang tsiqah di Yaman, bahwa An-Nazhari pernah berdebat tentang orang-orang Houtsi dan dia tidak memastikan takfir mereka, karena mereka adalah "zaidiyah", kemudian setelah banyaknya penolakan, dia mulai mengatakan bahwa mereka adalah "thaifah mumtani'ah, kelompok membangkang" tanpa mengkafirkannya, kemudian mengkafirkannya –tapi tidak secara ta'yin– karena perlawanan mereka bukan karena syirik akbar atau karena mereka mengkafirkan para shahabat "karena ada kemungkinan kebodohan pada individu mereka!", dan ini adalah pendapat kebanyakan "pemimpin syar'i senior" tanzhim di Yaman, karena itulah kebanyakan mereka menghindari untuk menjadikan target orang -orang Houtsi kecuali setelah kejahatan mereka semakin gawat akhir-akhir ini, mereka menguasai negeri dan menumpahkan darah orang-orang. Para tentara Ali Abdullah Shalih dan Abdu Rabbuh, menurut mereka, adalah di antara orang yang perlu ditakwil atau terpaksa atau murtad, dan tidak memerangi mereka dengan sebab mereka menolong thaghut yang berhukum dengan hukum buatan manusia, namun karena mereka membantu Salibis memerangi kaum muslimin saja, mereka menganggap bahwa syubhat pada sebab kedua lebih lemah, dan ini sama dengan manhaj Azh-Zhawahiri: menyiksa kaum muslimin dan menolong pasukan salib adalah kekufuran dan tidak diudzur, "dan di dalam taujihatnya; diudzur jika kelompok ini menisbatkan diri kepada Islam", adapun penyembah orang mati dan menolong thaghut adalah kekufuran dan kebodohan maka diudzur. Dan sebab penyimpangan ini adalah tidak terlarangnya bagi mereka untuk bekerja sama dengan kelompok "shahawat" (seperti partai Ishlah dan Hajuriyah) dalam melawan Houtsi… di jalan Allah! Mereka mengira… dan melebarnya kerjasama ini yang menyebabkan Jabhah Jaulani akhir-akhir ini seperti ini keadaannya, di mana mereka mengembangkan kerjasama menjadi ketundukan dan mengasihi, berdamai hingga membantu Shahawat Salul "Jabhah Islamiyah" dan SNC [6] melawan Daulah Islam…

Dan di antara yang sampai kepadaku juga dari orang yang tsiqah di Yaman, bahwa "Anshar Syari'ah" di propinsi Al-Jauf berperang bersama dengan tentara murtad (tentara Arab Spring, tentara Abdu Rabbuh) dan Ikhwanul Muflisin melawan Houtsi, bahkan mobilisasi pasukan di garis pertempuran menggunakan kendaraan tentara Murtad dan kendaraan lapis baja mereka, bahkan perbekalan mereka, amunisi dan makanan berasal dari markas-markas tentara murtad… Wallahul Musta'an… (Dan sampai juga kabar kepadaku dari ikhwan yang tsiqah bahwa komando tanzhim di Yaman menyesal atas periode tamkin yang mereka atur di dalamnya di wilayah-wilayah yang telah mereka kuasai di Abyan dan sekitarnya sebelum satu tahun, bahkan sebagian mereka mengatakan: "Seandainya kita lebih memperbanyak harta dan usaha untuk mengatur wilayah ini dalam perekrutan dan membeli senjata, tentu akan lebih baik bagi kita", mereka jatuh ke dalam kebimbangan antara jihad defensif dan tamkin parsial yang telah Allah anugerahkan kepada mujahidin untuk menegakkan syari’atnya).

Kembali kepada An-Nazhari yang telah dibutakan oleh kedengkiannya, sehingga tidak dapat memahami maksud ucapan Amirul Mu’minin hafizhahullah : "Sesungguhnya kaum rafidhah adalah umat yang terkalahkan, seandainya mereka mendapati dari kalangan muwahhidin orang yang melawan mereka, tentu kejahatan mereka tidak akan semakin buruk".

Maka aku katakan, dengan memohon pertolongan Allah, maksudnya adalah, seandainya mereka, yakni orang-orang Rafidhah, mendapati dari kalangan muwahhidin orang yang memerangi mereka, tidak berpegang kepada siasat Taujihat Ammah lil 'Amal al-Jihadi tentu kejahatan mereka tidak akan semakin buruk, dan beliau tidak menafikan adanya pertempuran dalam bentuk "Zhawahiri" yang memperlakukan Houtsi bahwa mereka adalah kelompok muslim, mereka diperangi dengan seminimal mungkin sekedar untuk menolak permusuhan mereka, yakni: sekedar melawan, tanpa sikap keras dan kasar di dalamnya, tidak dikejar siapa yang lari dari mereka, tidak dihabisi yang terluka dari mereka, dan tidak dieksekusi orang yang tertawan dari mereka, dan tanpa menyerang kelompok mereka dengan skala yang besar, Wallahul Musta'an…

Dan di saat An-Nazhari keluar dari pendapat ini dan memberikan takfir atas Houtsi, pendorong utamanya adalah siasat politik, dia terpaksa untuk menyelisihi amirnya; Azh-Zhawahiri dengan takfir itu, karena dia tahu bahwa tentaranya tidak akan mengikutinya jika dia terus menerus memegang pandangan bathil yang menyebabkan memburuknya kejahatan rafidhah dan menyebarnya sekulerisme…

Dan apabila datang seseorang yang mengkritisi dengan membawa perkataan-perkataan lama milik sebagian komandan mereka atau kalimat sebagian syuhada mereka yang mulia, atau mengingatkan operasi terdahulu melawan orang-orang murtad yang dijalankan sama dengan cara Daulah Islam, yang kemudian diberhentikan secara tiba-tiba sehingga orang-orang murtad berhasil menguasai pemerintahan di Yaman. (Dan juga telah sampai kabar kepadaku dari ikhwan yang tsiqah di Yaman bahwa sebagian operasi yang berani ini merupakan ijtihad pribadi tanpa keridhaan qiyadah, dan orang yang memerintahkannya mendapat hukuman ta'zir, tapi tanzhim dengan terpaksa harus mengklaim bertanggung jawab), maka aku akan katakan: "Setelah dimulainya Arab Spring dan sebagian pemimpin Al-Qa’idah yang mulia syahid, keluarlah arahan dan siasat yang tidak bijak dari Azh-Zhawahiri, (Adam Ghodahn) Al-Amriki, Al-Basya dan Hussam Abdurra'uf (penulis buku "Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa'adtu Alal Kursi, Andai Aku di Posisi Mursi dan Aku Duduk di Atas Kursi Presiden") di Khurasan, An-Nazhari dan yang semisalnya di Yaman memperlihatkan apa yang selama ini mereka sembunyikan di dalam hati mereka dari hawa nafsu selama bertahun-tahun, maka terjadilah kecocokan, dan dijalankanlah taujihat Azh-Zhawahiri dengan sepenuhnya, hingga menjadikan Yaman di bawah kaki Rafidhah dan thaghut baru. Wallahul Musta'an…

Dan perlu diketahui, keluarnya pernyataan "Al-Munasharah, Pertolongan" dari Al-Qa’idah Yaman untuk Daulah Islamiyah, tidak lain karena disebabkan banyaknya penolakan dari para tentara dan amir (tidak termasuk jajaran level tertinggi) atas 'kenetralan' Al-Qa’idah Yaman dan "Zhawahiriyah", dan ketika dibentuk wilayah dengan koordinasi dari Daulah –dan itu sebelum deklarasi resmi tentang wilayah baru dan diketahui tanzhim di Yaman di mana telah dikabarkan tentang proyek ekspansi– para ahlul manhaj bersegera memberikan bai'at kepada Daulah, lalu sebagian orang yang mudzabdzab (yang bimbang) ingin melepaskan bai'at dari Daulah karena tujuan tertentu dalam diri mereka, tapi dengan syarat tanzhim Yaman mau membebaskan Daulah dari tuduhan ghuluw dan menolongnya dalam berperang melawan pasukan salib dan menetapkan kesyar'iannya hingga tidak terjadi ketidak-enakan di hadapan pengikut mereka, maka komando tanhzim di Yaman pun menulis pernyataan Al-Munashir yang terakhir (sebelum statemen An-Nazhari), padahal pernyataan sebelumnya pura-pura tidak tahu akan adanya Daulah Islamiyah di tengah-tengah kancah besar perang di Iraq dan Syam, dan pada sebagiannya mengkritik juru bicara resminya; Syaikh Al-Adnani dengan hinaan dan celaan secara tidak langsung setelah dia menjelaskan penyimpangan manhaj Azh-Zhawahiri, dan pada sebagiannya memberikan tarahhum (ucapan rahimahullah) atas orang murtad dari Shahawat Salul (para komandan Ahrar Syam), lalu mengapa Tanzhim tidak memberikan tarahhum atas Abu Abdurrahman Al-Bilawi, Abu Bakar Al-Iraqi dan Abu Usamah Al-Maghribi rahimahumullah?

Dan terakhir, semoga Allah tidak memberkahi bai'at Al-Qa’idah kepada Mulla Umar, maka apakah Mulla Umar yang telah mendoakan Hamad dan Tamim Al Thani (Raja Qatar, pent), dan "menasehati" para pemerintah muslim (para Thaghut) dengan lisannya dan lisan imarahnya… Apakah dia membolehkan operasi di luar batas negara Afghanistan modern melawan "para pemimpin muslim", "Negara tetangga" atau "Negara-negara sewilayah" atau "Negara-negara dunia"? Atau apakah dia justru mengingkari proyek apapun untuk melakukan operasi di luar Afghanistan demi menenangkan "masyarakat Internasional"? Lalu bagaimana imarahnya mengajak kepada hubungan bilateral dilandasi rasa saling menghormati dan bertetangga yang baik dengan India, kemudian datanglah Azh-Zhawahiri dan mengumumkan cabang Tanzhim Al-Qa’idah di India? Dan imarah Afghannya mengajak untuk berhubungan yang baik dengan Iran Rafidhah, dan An-Nazhari menyeru untuk memerangi Rafidhah? Apakah pengakuan bai'at kepadanya berasal dari hikmah Yaman atau karena semangat hizbiyah Jahiliyah? Maka tinggalkanlah dia, karena busuk baunya…

Jika tidak –maka demi Allah– mereka akan menjadi seperti segolongan manusia dari Bani Israil, sungguh telah datang kepada mereka khilafah di atas manhaj kenabian dan bersamanya orang-orang yang terpisah dari kabilah mereka –orang-orang yang berhijrah ke tempat hijrahnya Ibrahim–, malaikat telah membentangkan sayapnya kepada mereka dan daulah mereka… Namun mereka menolaknya… dan berjalan menuju lembaran sampah sejarah… kecuali jika Allah menghendaki…

Hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan, hanya kepada-Nya bertawakal, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya, dan Dia cukup bagi kami dan sebaik-baik penolong...

Catatan kaki :

[1] Azh-Zhawahiri telah menyeru untuk berbai'at kepada Daulah Islam ketika didirikan di Iraq, tapi kini dia termasuk yang paling keras penolakannya terhadap Daulah Islamiyah.

[2] Posisi yang dia klaim tidak tepat jika disandarkan kepada Ahlus-Sunnah. Pertama; karena jumhur ulama Ahlus-Sunnah telah memberikan takfir terhadap Syiah Rafidhah secara ta'yin. Syaikh Abu Mush'ab Az-Zarqawi rahimahullah berkata: "Pernyataan kaum salaf yang menjelaskan akan kafirnya Rafidhah sangat banyak. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Khallal dari Abu Bakar Al-Marrudhi, dia berkata, dia bertanya kepada Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal) tentang hukum orang yang mencela Abu Bakr, Umar dan ‘Aisyah. Beliau menjawab; "Menurutku dia tidak lagi di atas Islam" (…) imam Ahmad ibnu Yunus, yang dipuji oleh Imam Ahmad bin Hanbal, ketika beliau berkata kepada seseorang; "Pergilah kepada Ahmad ibnu Yunus, karena dia seorang Syaikhul Islam". Beliau berkata: "Jika ada seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang rafidhi menyembelih seekor kambing, aku akan memakan kambing sembelihan Yahudi dan tidak akan memakan daging sembelihan Rafidhi, karena seorang rafidhi itu murtad dari Islam". (Hal Ataka Haditsur Rafidhah). Dalam pesan yang berbeda, Syaikh Az-Zarqawi juga mengutip pendapat Imam Malik, Asy-Syafi'i, Al-Bukhari, Al-Firyabi, Al-Lalika'I, Ibnu Hazm, As-Sam'ani dan lain sebagainya dari kalangan salaf, khalaf dan ulama kontemporer untuk mendukung sikapnya terhadap Rafidhah.

Kedua; kebodohan bukanlah udzur yang diterima. Imam Muhammad ibnu Abdul Wahhab rahimahullah berkata; "Apa yang engkau sebutkan (…) tentang keraguanmu akan kondisi para thaghut ini dan pengikutnya, dan apakah hujjah telah ditegakkan atas mereka atau tidak, maka ini sangat aneh! Bagaimana engkau masih bisa ragu padahal aku telah menjelaskannya berkali-kali? Bagi seseorang yang hujjah belum ditegakkan karena dia baru masuk Islam, atau yang dibesarkan di tempat yang jauh dan terpencil, atau karena masalahnya masih samar (…) maka vonis kafir tidak bisa dijatuhkan kepada orang seperti ini hingga dia diberi tahu akan masalah ini. Sedangkan dalam masalah pokok agama, dimana Allah telah menjelaskan dan menerangkannya di dalam kitab-Nya, maka hujjah Allah adalah al-Qur'an, maka atas siapapun ketika Al-Qur'an telah sampai padanya, maka hujjah telah sampai padanya. (Ar-Rasa'il Asy-Syakhshiyah). Beribadah kepada Allah saja merupakan masalah pokok agama (ushulud dien) yang telah Allah jelaskan di dalam Al-Qur'an, bukan suatu yang samar sehingga seorang muslim tidak mungkin bodoh akannya. Maka ketika orang Rafidhah menyembah kuburan, mendustakan Al-Qur'an, melaknat istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam maka bagaimana bisa seseorang menganggap mereka adalah "muslim awam"?

[3] Catatan: Sebagian 'Jihadis' senior tidak menghukumi murtad para kelompok yang menentang ushul syari'at "al-hakimiyah" apalagi tentang kelompok yang menentang sebagian dari hukum syari’at! Di antara mereka adalah para pemimpin Jama'ah Islamiyah di Mesir, yang disifati oleh Azh-Zhawahiri, setelah mereka masuk ke dalam praktek demokrasi, dengan sebutan "Para saudara yang mulia… saudara semanhaj, seaqidah dan seujian…" dan yang tampak dari perkataan Azh-Zhawahiri di atas bahwa dia mengkafirkan kelompok penentang pokok syari’at tidak secara ta'yin, sedangkan pandangannya pada kelompok penentang atas sebagian dari hukum syari'at, maka intisari yang disimpulkan dari berbagai pandangannya dalam takfir; bahwa dia tidak mengkafirkannya… adapun madzhab salaf sudah jelas dan gamblang, sesungguhnya para shahabat telah sepakat (ijma') atas kekafiran orang-orang yang menolak membayar zakat –dan zakat adalah sebagian dari syari'at– dan para Shahabat memerangi mereka karena kemurtadan mereka… Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Dan para shahabat tidak mengatakan; "Apakah kalian mengakui kewajibannya atau karena membangkang?" ini tidak dilakukan oleh para Khulafa'ur Rasyidin dan para Shahabat, bahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu; "Demi Allah, seandainya mereka menolak untuk memberikan kepadaku seutas tali atau seekor anak kambing yang dahulu biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentu aku akan memerangi mereka lantaran penolakan mereka!". Maka dia menjadikan hal yang membolehkan mereka diperangi adalah penolakan, bukan pengingkaran kewajiban, karena telah diriwayatkan bahwa sebagian kelompok dari mereka mengakui akan wajibnya namun mereka menolak karena bakhil, dan meski demikian, maka kisah para khalifah terhadap mereka ini satu, yakni membunuh mereka yang berperang, menyandera keluarga mereka, menjadikan ghanimah harta mereka, dan bersaksi bahwa orang yang terbunuh dari mereka adalah di neraka, dan mereka menamai orang-orang ini dengan orang yang murtad." (Ad-Durar As-Saniyah 9/418)

[4] Azh-Zhawahiri membedakan antara kelompok dan individu dalam penamaan kufur dan sebagian hukum-hukumnya, pembedaan ini menyelisihi ijma' salaf dalam hak kelompok -kelompok yang bersatu di atas kekafiran, seperti penolong kubah-kubah dan undang-undang. Syaikh Abu Jandal al-Azdi (semoga Allah membebaskannya) mengatakan; "Para Shahabat sepakat atas kafirnya setiap pengikut dan penolong Musailamah al-Kadzdzab dan Thulaihah Al-Asadi, begitu juga mereka telah sepakat atas kafirnya orang yang enggan membayar zakat dan memperlakukan mereka dengan satu perlakuan, yakni menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, memperbudak wanita-wanita mereka, dan bersaksi bahwa yang terbunuh dari mereka adalah di neraka, dan ini adalah takfir dari mereka secara ta'yin". (Al-Ayat wal Ahadits al-Ghazirah 'Ala Kufri Quwwati Dar'i Al-Jazirah)

Maka setiap individu dari kelompok ini, "Kita hukumi mereka bahwasanya mereka kafir secara ta'yin, dan kita memberlakukan atas mereka segala hukum kufur, seperti wajibnya bara' dari mereka, haramnya memulai mengucapkan salam kepada mereka, haramnya seorang muslimah menikah dengannya, tidak menshalati jenazahnya, dan larangan menguburkannya di pekuburan kaum muslimin, dan halal darahnya baik di medan perang atau selainnya." (Dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz Ath-Thuaili'i fakkallahu asrah), perbedaan sikap antara pandangan Azh-Zhawahiri dan Daulah tampak jelas dalam sikap keras dan kasar yang disertakan dalam siasat perang dan wasilahnya.

Adapun jika kemurtadan terjadi pada kepala suatu kelompok islam, yang kelompok ini berkumpul di atas suatu amal syar'i, seperti jihad di jalan Allah misalnya, maka membedakannya terkadang memiliki sisi kebenaran pada permulaannya, hingga ditegakkan hujjah atas para anggota kelompok itu "yang bodoh tidak tahu keadaan komandannya setelah diganti", namun mereka tetap diperangi secara umum karena keengganannya hingga tidak terjadi fitnah dan dien itu hanya untuk Allah.

[5] Azh-Zhawihiri tidak menjatuhkan takfir atas orang-orang ‘Islamis' yang masuk parlemen dan orang-orang Rafidhah Majusi.

[6] "Jaisyul Mujahidin", "Jabhah Tsuwar Suriya", "Liwa Tsuwar Ar-Raqqah", Dewan militer FSA (yang kemudian membentuk Misymisy misalnya…) semuanya didukung dan berhubungan dengan murtadin Syrian National Council (SNC). Lihat sebagai contoh, halaman 25 majalah Dabiq edisi 2 tentang hubungan "Jaisyul Mujahidin" dan menteri pertahanan SNC.

[7] Imarah mengatakan: "Imarah Islam Afghanistan menyerukan kepada pemimpin-pemimpin kaum muslimin di Negara-negara ini untuk bergabung di dalam koalisi Islami untuk membela Masjid Al-Aqsha sebagai ganti dari membela kepentingan AS, dan memikul beban tanggung jawab Islami dan moral dalam rangka melawan kejahatan Yahudi atas kiblat pertama umat Islam. Para pemimpin Negara-negara Islam hendaknya meninggalkan perselisihan antar sesama, dan mengambil tanggung jawab untuk membela Masjid Al-Aqsha." (Bayan Imarah Afghanistan al-Islamiyah Haula I'tida' al-Ihtilal Ash-Shuhyuni 'Ala al-Masjidi Al-Aqsha)

Dan berkata Mulla Umar: kami juga sangat berterimakasih secara khusus kepada yang mulia Emir Negara Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad bin Khalifa Al Thani, yang telah mencurahkan usahanya yang penuh ikhlas, dan berperan sebagai mediasi yang sukses, dalam rangka pembebasan para komandan dan menjamu mereka, aku mengharap kepada Allah untuk menggantikan baginya yang lebih baik di dunia dan pahala yang besar di akhirat. Sebagaimana aku kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa semoga membebaskan semua tahanan kami, para penduduk yang dizhalimi seperti para komandan itu, yang dipenjara dalam rangka memerdekakan negeri, dan berkhidmat untuk dien.

Imarah juga mengatakan: "Dan sangat penting kami sebutkan, kami menghaturkan rasa terimakasih dan penghormatan kepada Negara- Saudara Qatar, dan kepada yang mulia emirnya yang agung, Syaikh Hamad bin Khalifah Alu Thani –hafizhahullah– yang telah setuju atas pembukaan kantor politik bagi imarah Islam di negerinya, dan banyak memberikan kemudahan yang berkenaan dengan itu". (Statemen seputar dibukanya Biro Politik Emirat Afghanistan di negara Qatar)

[8] Mulla Umar melarang niat apa pun untuk beroperasi atau ekspansi keluar batas Negara Afghanistan modern yang digariskan oleh kaum Salibis, dan klaim bahwa cabang-cabang Al-Qa’idah telah berbai’at atasnya adalah kebatilan paling bathil.

Dan di antara yang dikatakan oleh Mulla Umar adalah: "Imarah Islam Afghanistan sangat senang untuk membangun hubungan baik bersama dunia internasional, terutama dengan dunia Islam dan Negara-negara tetangga dalam suasana saling menghormati, saling memberi manfaat dalam naungan pengajaran Islam dan kemaslahatan negeri, dan tidak akan mencoba ikut campur terhadap masalah Negara lain, sebagaimana tidak mengizinkan siapapun untuk ikut campur di dalamnya. Dan imarah Islam akan menjamin ketenangan internasional bahwa dia tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mengguankan wilayahnya untuk melawan Negara lain, dan mengumumkan kepada semua bahwa dia menghormati semua undang-undang dan perjanjian internasional dalam timbangan ajaran agama Islam dan kemaslahatan Negara. Kami mengucapkan selamat kepada pemerintahan-pemerintahan pasca revolusi, dan juga kepada bangsa Arab dengan kehidupan dan suasana yang baru, kami berdoa dengan kemajuan di masa depan yang gemilang dan terjaganya ajaran Islam dalam kehidupannya". (Statemen Bertepatan dengan Hari Raya Idul Fithri 1433 H)

Imarah juga mengatakan: "Sesungguhnya Imarah Islamiyah benar-benar ingin bekerjasama secara bilateral dan saling menghormati sesama dengan dunia internasional dan Negara-negara sekawasan, dan Imarah tidak akan membuat bahaya kepada siapapun sebelumnya, dan tidak akan membuat bahaya kepada siapapun sekarang dan di masa depan, sebagaimana tidak akan mengizinkan bagi siapapun untuk menggunakan kawasan Afghanistan untuk melawan siapapun". (Teks Deklarasi Imarah Afghanistan pada Muktamar pembahasan yang diadakan di Perancis)

[9] Telah berkata Juru bicara resmi Imarah: "Akhir-akhir ini muncul dari Negara-negara sekitar –India, China, Rusia– kekhawatiran jika pasukan Amerika ditarik dari Afghanistan dan meninggalkan kawasan maka Negara-negara ini akan mengalami ketidak-stabilan, Negara-negara kawasan ini akan mendapatkan berbagai ancaman dari Afghanistan. Kami anggap kecemasan ini adalah efek negatif dari berbagai pemberitaan media informasi yang dikendalikan intelijen barat. Kami berharap dari Negara-negara kawasan agar kebenaran tersingkap dengan sendirinya dan jelaslah hakikat kebenaran dan kenyataan secara gamblang. Imarah Islam dengan sifatnya yang jelas akan memegang tanggungjawab untuk memberikan ketenangan bagi semua, bahwa dia tidak akan terjadi bahaya dari Afghanistan ke Negara mana pun dari Negara-negara di wilayah atau Negara tetangga, kami mencari keamanan untuk Negara kami dan juga untuk Negara-negara di wilayah". (Dikutip dari juru bicara Imarah Islam seputar kekhawatiran sebagian Negara di wilayah itu)

[10] Imarah berkata: Dan berangkat dari masalah ini, di bawah timbangan politik luar negeri yang logis dan seimbang, Imarah Islam ingin mengadakan hubungan diplomatik yang dibangun di atas pondasi saling menghormati, persamaan, tidak ikut campur urusan dalam negeri Negara sekawasan dan dunia internasional lainnya, dan berusaha memperluas batas hubungan politiknya, dan meluas hingga ke Negara-negara lainnya, dan sesungguhnya hubungan kami dengan Negara Islam Iran merupakan rangkaian dari ini semua. Iran meminta dan mengundang, dan berangkatlah pimpinan biro politik Imarah Islam bersama utusan yang menemaninya, dan pembicaraan positif pun berlangsung dengan para pemimpin Iran, semua ini membuktikan dengan jelas akan politik luar negeri Imarah Islam yang sensible, damai, independen, dan seimbang, dan juga utusan ini beruasaha untuk memperbaiki hubungan bilateral, dan mendiskusikan tentang masalah imigran Afghan dan problematikanya, dan semua ini menegaskan akan tujuan utama dan terpenting dari diadakannya hubungan dengan dunia interna- sional adalah demi memenuhi kebutuhan masyarakat Afghan dan tujuannya, merealisasikan kemashlahatan utama Negara, tidak yang lain. Sesungguhnya Iran adalah Negara Islam, dan dia memiliki perbatasan langsung dengan Afghanistan, dan di sana ada dua juta lebih imigran Afghan, dan dia negeri yang kaya akan minyak, dan menikmati perekonomian yang baik, memiliki wilayah dataran dan pantai, sehingga dia adalah Negara penting baik di tingkat wilayah maupun internasional, inilah beberapa sisi yang mendekatkan dua Negara ini, bahkan memaksa keduanya untuk memiliki hubungan baik dalam bingkai kemashlahatan bangsa dan baiknya bertetangga, dan supaya terbentuk hubungan politik, sosial dan ekonomi". (Politik Luar negeri Imarah Islam untuk Mewujudkan kemaslahatan tertinggi rakyat)

Imarah mengatakan: "Kantor Berita Iran, Faris mengabarkan sebuah berita yang mengungkap perjalanan utusan Imarah Islam ke Republik Islam Iran, dan sesungguhnya Imarah Islam membenarkan hal itu dan menekankannya. Dan sebelum ini, delegasi yang dipimpin oleh ketua biro politik Imarah Islam melakukan perjalanan selama tiga hari ke ibu kota Iran, Teheran, dan kunjungan ini ditutup dengan diskusi tentang hubungan bilateral antara kedua belah pihak, dan delegasi ini kembali setelah mendiskusikan topik-topik tersebut (…) kunjungan ini terjadi karena undangan resmi dari pihak pemerintah Iran, dan dalam kunjungan ini delegasi Imarah Islam menyampaikan suara rakyat dan mujahidin serta tuntutan mereka ke telingan utusan berbagai Negara, dan memberitahu mereka tentang keadaan terkini yang terjadi, juga sekaligus melakukan pembicaraan positif bersama pemimpin senior Republik Islam Iran dalam berbagai topic beragam. (…) dan kami harus mengatakan bahwa Imarah Islam senantiasa berusaha untuk menjaga hubungan dengan Negara-negara kawasan dan internasional, dalam bingkai saling menghormati, dan tidak terputus usaha dalam masalah ini". (Catatan Qari Muhammad Yusuf Ahmadi seputar delegasi Imarah ke Republik Iran)

Dan Mulla Umar berkata: "Wajib bagi setiap kaum muslimin untuk menutup semua rencana jahat musuh yang licik, dan tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk menyalakan api perpecahan antara kaum muslimin. Bagian terbesar dari strategi Amerika adalah menciptakan perpecahan dengan membuat label Syiah dan Sunni di Iraq, dan di Afghanistan dengan nama Pusthun, Tajik, Hazara, Uzbek, sehingga meminimalisir kekuatan perlawanan rakyat dan perlawanan senjata kepadanya. (…) dan inilah yang aku harapkan dari ikhwah Iraq supaya meninggalkan perselisihan dengan nama syiah-ahlussunnah, dan berdiri bersama melawan musuh penjajah, karena kemenangan mustahil diraih dengan perpecahan". (Risalah kepada Rakyat Mujahidin Afghan dan Iraq)

CATATAN: Telah menceritakan kepadaku beberapa Muhajirin Khurasan yang sudah cukup lama bahwa di sana ada beberapa komandan senior di Afghanistan dan Waziristan yang meragukan masih hidupnya Mulla Umar dan lebih meyakini bahwa dia telah meninggal atau ditawan, di mana tidak satu pun dari mereka yang melihatnya sejak permulaan perang salib modern atas Afghnaistan, dan dinukil dari anak Mulla Umar bahwa dia tidak pernah melihat ayahnya sejak 12 tahun, dan bisa jadi bahwa kata-kata yang mengandung penyimpangan sangat jelas ini berasal dari orang lain, walaupun orang yang mengamati akan melihat dalam perkataan yang dinisbatkan kepadanya akhir-akhir ini ada kesamaan dengan perkataannya terdahulu, akan tetapi tidak pada tingkat seperti yang kita lihat sekarang, wallahul Musta'an.

NASEHAT KEPADA TENTARA DAULAH ISLAMIYAH

DABIQ 6 - ARTIKEL

NASEHAT KEPADA TENTARA DAULAH ISLAMIYAH
Oleh : Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir rahimahullah (Menteri Perang Daulah Islamiyah)

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya dan kepada orang-orang yang mengikutinya. Amma Ba’du:

Wahai Akhi Mujahid, ini adalah beberapa nasehat, yang telah saya kumpulkan bagimu dari mulut-mulut para tokoh dan kandungan berbagai kitab. Dan saya sama sekali tidak mengklaim (sebagai) ahli hikmah. Saya memohon kepada Allah agar menjadikannya manfaat bagi diri saya dan diri kalian, dan Allah-lah di balik tujuan ini.

(1) Ikhlas karena Allah dalam ucapan dan amalan, karena sesungguhnya Allah tidak menerima dari amalan kecuali apa yang tulus lagi benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Amalan itu hanyalah berdasarkan niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang itu hanyalah apa yang dia niatkan), dan bersabda: (Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidak satu lukapun yang terluka di jalan Allah melainkan ia itu datang di hari kiamat seperti keadaannya saat ia terluka; warnanya warna darah dan baunya bau kasturi).

Dan dalam hal itu terdapat keberuntungan di dunia dan di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Allah telah menjamin bagi orang yang berjihad di jalan-Nya seraya tidak mengeluarkan dia kecuali jihad di jalan-Nya dan membenarkan kalimat-kalimat-Nya untuk memasukannya ke dalam surga atau memulangkannya ke tempat tinggalnya yang dia keluar darinya bersama apa yang dia dapatkan berupa pahala atau ghanimah)

Dan niatkan dengan jihad kalian itu agar kalimat Allah-lah yang tertinggi: karena diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang pria yang berperang karena sebagai keberanian, dan berperang karena fanatisme, dan berperang karena riya, mana di antara itu yang di jalan Allah? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Barangsiapa berperang supaya kalimat Allah-lah yang tertinggi, maka dia itu di jalan Allah).

(2) Bertanyalah kepada ahlul ilmi tentang hukum permasalahan yang muncul di hadapan kalian di dalam faridlatul jihad fi sabilillah, karena ijma sudah terjalin bahwa ilmu harus ada sebelum beramal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Mencari ilmu itu adalah fardlu atas setiap muslim). Maka jangan kamu membunuh dan jangan kamu mengghanimah kecuali kamu mengetahui kenapa kamu melakukan? Dan batasan minimalnya adalah kamu diberi fatwa oleh orang yang kamu percayai dalam hal ilmunya dan diennya.

(3) Jangan sekali-kali pilih kasih di dalam membela Allah kepada karib kerabat atau orang-orang yang disayangi. Dan sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa hal itu sangat dirasakan berat oleh jiwa, namun ingatlah firman Allah ta’ala: (Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman-teman setia sehingga kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka itu telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepada kalian) (Al-Mumtahanah: 1), karena sesungguhnya hak Allah itu adalah lebih wajib dan membela dienullah adalah lebih harus.

(4) Demi Allah, sesungguhnya saya benar-benar mencintaimu dan mencintai apa yang menyelamatkanmu, maka dengarlah nasehat saya di dalam masalah yang penting yaitu masalah “Takfir”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Barangsiapa berkata prihal orang mu’min suatu yang tidak ada padanya, maka Allah menempatkan dia di dalam radghatul khabal sampai dia keluar dari apa yang dikatakannya); maka ketahuilah wahai saudaraku sesungguhnya sebutan dan hukum kafir adalah hak milik Allah ta’ala yang tidak boleh disematkan kecuali terhadap orang yang memang berhak secara syar’iy, dan bahwa takfier itu memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang, sehingga kita tidak mengkafirkan kecuali setelah keterpenuhan syarat-syarat dan tidak adanya penghalang-penghalang. Dan bisa saja muncul dari seseorang ucapan atau amalan kekafiran namun ia tidak kafir karena adanya salah satu penghalang takfier, sedangkan orang yang terbukti keislamannya dengan yaqin maka ia tidak keluar darinya kecuali dengan yaqin pula, maka jauhilah sikap prasangka, dan hendaklah kamu di atas kejelasan bukti di dalam apa yang diperselisihkan oleh ahlul ilmi al-‘amilun.

(5) Menunaikan perjanjian dan jaminan keamanan yang kedua-duanya shahih (benar) secara syar’iy, dan waspadalah selalu terhadap muslihat syaitan. Allah ta’ala berfirman: (maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri) (Al-Fath: 10), dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Kaum muslimin itu setara darah-darah mereka itu, orang yang paling rendah di antara mereka mengupayakan jaminan mereka, orang yang paling jauh memberikan jaminan atas nama mereka, dan mereka itu satu tangan atas selain mereka, orang yang kuat mengembalikan kepada yang lemah di antara mereka, dan mutasarri mereka mengembalikan kepada yang qa’id dari mereka)

Dan ketahuilah bahwa kami tidak membolehkan bagi seseorang tentara pun melakukan jalinan perjanjian atau memberikan jaminan keamanan, dan bahwa hal itu diserahkan kepada amirul mu’minin atau orang yang mewakilinya, karena pandangannya -biasanya- adalah lebih menyeluruh dan lebih mampu untuk mengetahui mashlahat-mashlahat Daulah.

(6) Bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan harus waspada dari keburukan maksiat dan dari kejahatan jiwamu dan syaithan. Di mana Al-Faruq Umar ibnu Khaththab berpesan kepada Sa’ad ibnu Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma: (…maka sesungguhnya aku memerintahkanmu dan bala tentara yang bersamamu agar bertaqwa kepada Allah, dan aku memerintahkanmu dan orang-orang yang bersamamu agar kewaspadaan kalian terhadap maksiat lebih tinggi dari kewaspadaan kalian dari musuh kalian; karena sesungguhnya dosa pasukan itu lebih dikhawatirkan terhadap mereka dari musuh mereka. Dan mintalah kepada Allah pertolongan terhadap jiwa kalian sebagaimana kalian memohon kepada-Nya kemenangan terhadap musuh kalian)

(7) Jagalah shalat… jagalah shalat wahai tentara-tentara Allah, karena ia itu menguatkan hati, menggiatkan anggota badan dan melarang dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan ia itu tempat untuk munajat kepada Ar-Rabb dan untuk memohon kemenangan. Dan kondisi seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah saat ia sujud. Shalat adalah tiang agama dan syiar kaum muslimin, maka jangan kamu akhirkan kecuali karena udzur, Allah mengetahui kejujuran dan sebaliknya.

(8) Hindarilah sikap bangga diri dan cinta sanjungan; terutama setelah kemenangan terhadap musuh; karena sesungguhnya hal itu termasuk peluang syaitan yang paling kuat untuk melenyapkan hasil jihad kalian dan panjangnya ribath kalian di dunia dan akhirat.
(9) Dua hal yang akibatnya adalah kehinaan dan kerugian:

– Aniaya (Zhalim). Allah ta’ala berfirman: (Wahai manusia! Sesungguhnya kezhalimanmu bahayanya hanya akan menimpa dirimu sendiri) (Yunus: 23) maka tidak ada kemenangan beserta aniaya/zhalim.

– Rencana jahat. Allah ta’ala berfirman: (Rencana jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri) (Fathir: 43) maka tidak ada keberuntungan bersama penipu.

(10) Hancurkan nafsumu saat muncul syahwat (keinginan); di mana tidak setiap yang diinginkan syahwat itu dicari (karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan) (Yusuf: 53). Dan hendaklah banyak melakukan shaum tentu kamu dikaruniakan ‘afaf (Penjagaan kehormatan). Dan secara umum: Kendalikanlah hawa nafsumu, dan tahanlah dirimu dari apa yang tidak halal bagimu, karena penahanan diri adalah sikap adil terhadapnya dalam apa yang dia sukai atau dia benci.

(11) Jujurlah kepada Allah dalam amanah tugas yang diembankan kepadamu, dan jangan mempersulit dirimu dalam apa yang bukan tugasmu, karena Allah tidak akan meminta pertanggungjawabanmu tentangnya, akan tetapi berupayalah untuk selalu jujur dalam urusanmu seluruhnya; karena sesungguhnya jujur itu menyelamatkan sedangkan dusta itu menjerumuskan, dan (Cukuplah sebagai dosa bagi seseorang (bila) dia menyampaikan segala apa yang dia dengar).

(12) Hendaklah kamu menyetujui ikhwanmu dalam segala hal yang mendekatkan dirimu kepada Allah dan menjauhkan dirimu dari maksiat-Nya. Perbanyaklah senyuman di hadapan mereka, dan dengarkan orang yang lebih tua darimu, dan bila kamu melihat mereka bekerja, maka bekerjalah bersama mereka; karena sikap dudukmu memanaskan dada mereka, dan bila saudaramu merasa keberatan maka ringankanlah dirimu, dan ketahuilah bahwa bukan termasuk sikap adil terlalu cepat mengkritik.

(13) Jangan mencari-cari aib orang lain, apalagi amirmu dan ikhwanmu maka tutupilah aib mereka sebisa mungkin, tentu Allah menutup aibmu, dan jangan berupaya membuka apa yang tidak kamu ketahui tentangnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Hindarilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian mencari-cari aib, janganlah kalian memata-matai, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah kalian saling membenci, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara)

Ada atsar dari Malik rahimahullah, ucapannya (Saya mendapatkan di Madinah orang-orang yang tidak memiliki aib, kemudian mereka mencari-cari aib manusia maka manusia pun menyebutkan aib-aib mereka. Dan saya mendapatkan di sana orang-orang yang memiliki aib yang diam dari aib manusia, maka manusia pun diam dari aib mereka)

(14) Ketahuilah wahai Jundullah (tentara-tentara Allah) sesungguhnya kami dan kalian merasa mendapatkan kehormatan dengan mendirikan dan melindungi Daulah Islam di negeri dua aliran sungai, akan tetapi ketahuilah bahwa ia bukanlah Daulah “Harun Ar-Rasyid” sehingga kita mengkhitabi awan di langit sebagaimana ia lakukan dahulu, namun ia hanyalah Daulah Mustadh’afin (Negara orang-orang yang tertindas); kita khawatir dan takut kepda musuh, sebagaimana para sahabat dahulu di Daulah Islam pertama di Madinah tidak meninggalkan senjata karena takut, dan pernah seorang Yahudi mengendap-endap sampai ia mengelilingi benteng yang di dalamnya ada para wanita dan anak-anak, tidak mendapatkan yang membunuhnya kecuali seorang wanita. Oleh sebab itu lemah lembutlah kepada manusia dan buatlah mereka merasakan manisnya islam dan kejayaannya, dan jangan sampai kalian membuat mereka merasakan ketakutan dari Islam dan hukum-hukumnya. Dan bila di sana ada hal yang pahit atas keluarga kita maka lakukanlah baginya hal yang manis dan indah berupa ucapan dan perbuatan yang membuat manusia mau menerima yang pahitnya. Dan secara umum: Buatlah manusia mencintai diennya, hukum-hukumnya dan Daulah Islam; karena sebaik-baiknya hamba-hamba Allah adalah orang-orang yang membuat hamba-hamba Allah dicintai Allah dan membuat Allah dicintai hamba-hamba-Nya, dan mereka berjalan di muka bumi sebagai orang-orang yang tulus.

(15) Ash-Shahib ibnu ‘Abbad berkata: (Menjaga wibawa pemimpin itu adalah kewajiban yang sangat ditekankan dan keharusan atas orang yang mendengar sedang ia menyaksikan). Maka biasakanlah dirimu untuk menghormati Amirul Mu’minin; di mana (sesungguhnya termasuk memuliakan Allah adalah menghormati orang muslim yang sudah tua… dan menghormati pemimpin yang adil), dan mentaatinya di dalam selain maksiat adalah wajib, baik dia itu adil maupun durjana, jangan sekali-kali kalian menghujatnya tanpa hak, karena bisa jadi itu adalah dosa besar yang membinasakan seseorang. Dan di antara wasiat Aktsam ibnu Shaifiy: (Janganlah kalian terlalu sering menyelisihi para pemimpin kalian… karena sesungguhnya tidak ada jamaah bagi orang yang diselisihi).

(16) Serahkanlah (urusan) kepada amirmu, dan ikutilah pendapatnya dan pengaturannya, supaya persatuan tidak berselisih dan barisan tidak cerai berai, selagi urusan itu adalah pendapat atau masalah ijtihadiyah atau memiliki sisi kebenaran dari syari’at dan bukan maksiat murni. Dan selagi kamu mencari pahala, maka sesungguhnya pahala itu pada as-sam’u wath tha’ah selagi tidak menyelisihi syari’at.

Jangan kamu menyembunyikan dari amirmu suatu urusan yang kamu memandang ada mashlahat syar’iyah pada penuturannya seperti kerusakan terhadap kesatuan, maka sesungguhnya pemberitahuannya itu adalah tergolong ketulusan dan kebalikannya adalah tergolong penipuan, dan ini sama sekali bukan termasuk ghibah yang diharamkan dan bukan termasuk namimah yang tercela dengan syarat apa yang dia sampaikan itu telah terbukti di sisimu secara yaqin atau dugaan kuat. An-Nawawi berkata: (Bila kebutuhan menuntut itu, maka tidak dilarang darinya; dan itu seperti bila…. Maka ia kabarkan kepada imam atau orang yang berwenang “bahwa seseorang melakukan begini, dan melakukan suatu yang menimbulkan kerusakan,” dan wajib atas pihak yang berwenang untuk membongkar hal itu dan melenyapkannya; semua ini dan yang serupa bukanlah hal haram, dan bisa jadi sebagiannya wajib, dan sebagiannya mustahabb sesuai kondisi)

Jangan sekali-kali kamu menjadi pengkhianat atau orang kepercayaan para pengkhianat; sungguh ada pribahasa: “Cukup bagi seseorang sebagai pengkhianatan bila dia menjadi orang kepercayaan bagi para pengkhianat.” Allah ta’ala berfirman: (Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka. Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu) (An-Nisa: 83).

Sabarlah terhadap amirmu walaupun dia itu aniaya, karena sesungguhnya ini tergolong kewajiban agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Barangsiapa melihat dari amirnya sesuatu yang dibencinya, maka hendaklah dia bersabar terhadapnya).
Dan ini adalah yang disampaikan Abdullah ibnu Umar kepada Abdullah ibnu Muthi’ ibnul Aswad tatkala orang-orang mencopot ketaatan kepada amir mereka waktu itu “Yazid” walaupun memang keberadaan kezhaliman pada dirinya, di mana diriwayatkan dalam shahih Muslim: …. Datang Abdullah ibnu Umar kepada Abdullah ibnu Muthi’ saat terjadi tragedi Al-Harrah zaman Yazid ibnu Mu’awiyah, maka ia berkata: “Letakkan bantal bagi Abu Abdirrahman! Maka ia berkata: Sesungguhnya aku tidak datang kepadamu untuk duduk, aku datang kepadamu untuk menyampaikan kepadamu suatu hadits yang telah aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakannya: (Barangsiapa mencopot tangan dari ketaatan, maka dia berjumpa dengan Allah di hari kiamat sedangkan dia tidak memiliki hujjah, dan barangsiapa mati sedangkan pada lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah).

Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: (Dan saya meyakini jihad itu berlangsung bersama setiap imam, yang baik maupun yang fajir… dan saya meyakini kewajiban as-sam’u wath tha’ah kepada para pemimpin kaum muslimin, yang baiknya dan yang fajirnya selagi mereka tidak memerintahkannya kepada ma’shiyatullah).

(18) Di mana saja kalian berada di bumi jihad, maka lakukanlah penjagaan di malam hari, dan saya tidak menghalalkan bagi tiga orang yang tidur sedangkan mereka tidak memiliki amir dan tidak ada penjaga atas mereka. Dan di antara wasiat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kepada salah seorang komandannya: (Lakukanlah penjagaan dari serangan malam, karena pada orang-orang arab itu ada serangan dadakan), dan jangan kamu menyibukan diri dengan sesuatu (yang melalaikan) dari giliranmu dalam penjagaan; di mana kamu ini di atas penjagaan tsaghr (celah datangnya musuh), maka takutlah kepada Allah dan takutlah kepada Allah dalam menjaga ikhwanmu.

(19) Lakukanlah i’dad wahai saudaraku muslim, karena Allah ta’ala berfirman: (Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa yang kalian sanggupi berupa kekuatan dan kuda-kuda yang ditambatkan). (Al-Anfal: 60). Dan di antara i’dad adalah latihan-latihan olah raga yang menguatkan badan, dan gerakan-gerakan peperangan. Karena ada ungkapan: Segala sesuatu yang kamu cari saat ia dibutuhkan, maka telah terlambat waktunya, maka persiapkanlah untuk hari esok sebelum kamu masuk hari esok.

(20) Lakukanlah ribath; yaitu ikatlah dirimu untuk jihad fi sabilillah; untuk menjaga tsughur, memperbanyak jumlah barisan dan menggetarkan musuh, walaupun kamu lama menjalaninya. Bila kamu berada di tempat yang kamu takutkan musuh dan musuh takut kepadamu, maka itulah ribath. Allah ta’ala berfirman: (Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah, tabahlah dan ribathlah serta bertaqwalah kepada Allah, semoga kalian beruntung) (Ali-Imran: 200) Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Ribath satu hari di jalan Allah adalah lebih baik dari dunia dan seisinya).

(21) Saudaraku janganlah kamu berangan-angan berjumpa musuh –bila angan-angan mu itu karena bangga diri, atau keangkuhan atau kebersandaran kepada diri atau hal serupa itu-; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Jangan kalian berangan-angan berjumpa musuh, dan mintalah ‘afiyah kepada Allah, kemudian bila kalian berjumpa dengan mereka, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga itu di bawah bayangan pedang), dan hendaklah kamu berdoa di saat dua pasukan bertemu; karena ia itu diijabah. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berdoa pada perang Ahzab: (Ya Allah Yang menurunkan Al-Kitab, dan Yang menggerakan awan, serta Yang Mengalahkan Pasukan Ahzab, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami atas mereka), dan di antara doanya: (Ya Allah, Engkau adalah Pengokoh hamba dan Penolong hamba, dengan Engkau hamba bergerak, dengan Engkau hamba menyerang, dan dengan Engkau hamba berperang)

(22) Beranikanlah hati kalian, karena ia itu termasuk sebab kemenangan dan keunggulan, dan ketahuilah bahwa hal yang paling bagus sebagai pelatihan bagi tentara Allah adalah keterbiasaan dan keseringan terjun dalam perang, dan perbanyaklah menyebutkan kedengkian terhadap musuh, karena ia menggerakkan untuk maju menyerang, maka selalu diingat bahwa musuh telah menodai kehormatan ibu-ibu kalian, dan saudari-saudari kalian, dan menghalangi kalian dari Jum’at dan Jama’ah, serta memutus kalian dari pertanian dan perdagangan. Dan secara umum: Musuh tidak meninggalkan bagi kalian sedikitpun dari urusan dien dan dunia.

(23) Bila kalian berjalan menuju musuh, maka hendaklah kalian memakai para penunjuk jalan bila kalian tidak bisa mempelajari bumi kalian dan bumi musuh. Dan bawalah bekal yang cukup “Senjata, makanan dan obat-obatan” dan jangan kamu tinggalkan apa yang membantumu atas jihadmu, maka bergeraklah dengan senjatamu, jarum suntikmu, benang jahitanmu (untuk luka) dan lenteramu, dan bawalah dari obat-obatan apa yang bisa mengobati orang yang terluka dan meminimalkan rasa sakit, dan kenakanlah pakaian yang cukup ringan.

(24) (Lakukanlah amal shalih sebelum berperang, karena kalian ini hanyalah memerangi manusia dengan amalan kalian), sedangkan sebaik-baiknya amalan adalah kesatuan barisan dan keutuhan kalimat. Allah ta’ala berfirman: (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh) (Ash-Shaff: 4), jauhilah perselisihan niat, karena barisan bila menyatu namun berbeda-beda niatnya, maka ia itu jalan yang menghantarkan kepada perselisihan hubungan, dan ketahuilah bahwa orang itu (menjadi kokoh) dengan ikhwannya, dan ada dalam ungkapan: “Orang yang hina adalah yang singgah sendirian.”

(25) Janganlah kalian ciut oleh musuh. Allah ta’ala berfirman: (Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertaqwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kalian memasukinya niscaya kalian akan menang. Dan bertawakallah kalian hanya kepada Allah, jika kalian orang-orang yang beriman) (Al-Maidah: 23). Dan ketahuilah bahwa kemenangan dan tamkin itu hanya di Tangan Allah: (Jika Allah menolong kalian, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kalian, tetapi jika Allah membiarkan kalian (tidak memberikan pertolongan), maka siapa yang dapat menolong kalian setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mu’min bertawakkal) (Ali Imran: 160). Ath-Thabariy berkata dalam tafsirnya: ((maka tidak ada yang dapat mengalahkan kalian) dari manusia, Berkata: maka tidak akan mengalahkan kalian seorang pun bersama pertolongan-Nya kepada kalian, walaupun semua ciptaan-Nya di seluruh belahan bumi bersekongkol terhadap kalian, maka jangan kalian takut terhadap musuh kalian karena sedikitnya jumlah kalian dan banyaknya jumlah mereka, selagi kalian di atas perintah-Nya dan kalian istiqamah di atas ketaatan-Nya dan ketaatan Rasul-Nya; karena sesungguhnya keunggulan adalah bagi kalian dan kemenangan atas mereka), maka meminta diturunkan kemenanganlah dari Allah dengan doa kalian, dan memintalah pertolongan-Nya, karena ibadah doa itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam kemenangan dan perbaikan niat. Allah ta’ala berfirman: (Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kalian ingat). (An-Naml: 62)

(26) Kerahkan segenap kemampuan dalam memerangi musuh yang menyerang, jauhi sifat malas dan lemah, karena keduanya adalah dua penyakit berbahaya yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung darinya, maka berlindunglah kalian dari keduanya. Dan ketahuilah bahwa pahala -dalam seperti ibadah kita ini- adalah sesuai kadar kesulitan. Allah ta’ala berfirman: (dan tidak (pula) melintasi suatu lembah, kecuali akan dituliskan bagi mereka (sebagai amal kebajikan), untuk diberi balasan oleh Allah (dengan) yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan) (At-Taubah: 121) Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Berambisilah terhadap apa yang manfaat bagimu, dan memintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah)

(27) (Wahai Ahlul Islam! Sesungguhnya kesabaran adalah kejayaan, dan sesungguhnya kegagalan adalah kelemahan, dan sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran), dan sesungguhnya sifat pengecut itu adalah kebinasaan dan ambisi itu keterhalangan. Dan orang yang terbunuh di peperangan dalam kondisi melarikan diri itu adalah lebih banyak sekali daripada orang yang terbunuh dalam keadaan maju. Dan dahulu hal yang wajib di awal islam adalah seorang muslim tidak boleh lari dari sepuluh orang musuh, dan alangkah butuhnya kepada hal itu hari ini. Allah ta’ala berfirman: (Dan barangsiapa mundur pada hari itu, kecuali berbelot untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sungguh orang itu kembali dengan mambawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka Jahanam, dan seburuk-buruknya tempat kembali). (Al-Anfal: 16) Maka tabahlah bersama amirmu dan teguhkan dia dalam peperangan dan di saat pertempuran dua pasukan; di mana sikap tabah itu termasuk konsekuensi kemenangan, dan akhir-akhir akibat kesabaran itu adalah terpuji, serta akibat akhir kesabaran itu adalah kemenangan, sedangkan tujuan-tujuan itu tidak bisa dicapai dengan angan-angan.

(28) Dianjurkan takbir saat menyaksikan musuh, berdasarkan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat melihat (penduduk) Khaibar keluar membawa cangkul-cangkul mereka: (Allah Akbar -tiga kali- hancurlah Khaibar; sesungguhnya kami bila turun di halaman suatu kaum, maka sangat buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan itu). An-Nawawi berkata: (Di dalamnya terdapat anjuran takbir saat berjumpa (musuh)), dan takbir itu masuk dalam keumuman dzikrullah yang dianjurkan saat berjumpa dengan musuh.

Akan tetapi dari Abu Musa Al-Asy’ariy bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenci pengencangan suara saat berperang. Dan dari Qais ibnu Ubad berkata: Adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membenci suara saat berperang, dan berkata Utbah ibnu Rabi’ah kepada teman-temannya pada perang Badar saat melihat barisan Rasulullah: (Apa tidak kalian lihat mereka… menggerak-gerakkan lidah mereka seperti ular), dan tatkala Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengar para pengikutnya di perang Jamal bertakbir, maka ia berkata: (Jangan kalian memperbanyak teriakan, karena sesungguhnya terlalu banyak takbir pada saat bertempur itu termasuk kegagalan), jadi dzikir secara sirr adalah yang dianjurkan saat perang berkecamuk, kecuali saat awal serbuan dan serangan.

(29) Jangan sekali-kali kamu ghulul (mencuri) sesuatu dari ghanimah, Allah ta’ala berfirman: (Barangsiapa melakukan ghulul, maka pada hari kiamat dia akan datang dengan apa yang dia ghulul) (Ali Imran: 161), dan diriwayatkan dari ibnu ‘Abbas: (Tidaklah nampak ghulul pada suatu kaum pun melainkan pasti ditancapkan rasa takut di hati mereka).

(30) Wasiat dari Allah, yang mana di dalamnya Dia mengumpulkan etika perang bagi kita, Dia berfirman: (Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak agar kalian beruntung. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang, dan bersabarlah. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar) (Al-Anfal: 45-46)

Dan wasiat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: (Berperanglah di jalan Allah, perangilah orang yang kafir kepada Allah, jangan kalian ghulul, jangan berkhianat, dan jangan melakukan mutslah (mutilasi)…)

(31) Perbanyaklah doa, perbanyaklah doa bagi amirul mu’minin terus bagi saudara kalian yang miskin ini. Barangsiapa sayang terhadap saudaranya dan diennya maka hendaklah ia tidak menghalanginya dari doa di waktu sahur, pada sujud, saat adzan dan yang paling penting dari semuanya saat kecamuk dua pasukan. Al-Fudhail ibnu Iyadh berkata: (Andai saya memiliki doa mustajab niscaya saya tidak menjadikannya kecuali pada imam (pemimpin); karena bila ia baik maka negeri menjadi subur dan masyarakat menjadi aman) maka ibnul Mubarak mencium kepalanya dan berkata: (Tidak cakap akan hal ini selain engkau)

Sesungguhnya saya berdoa, maka aminilah:

Ya Allah, karuniakanlah kepada saya keikhlasan dalam ucapan dan amalan, ya Allah, teguhkanlah saya di atas Al-haq dan luruskanlah pendapat saya, Ya Allah, lembutkanlah hati saya kepada orang-orang yang taat kepada-Mu dengan menyelarasi Al-haq, dan karuniakanlah kepada saya sikap kasar dan keras terhadap musuh-musuh-Mu.

Ya Allah, sesungguhnya saya ini lemah saat beramal dengan ketaatan kepada-Mu, maka karuniakanlah kepada saya semangat di dalamnya dan kekuatan terhadapnya, dan jangan Engkau jadikan saya termasuk orang-orang yang lalai.

Ya Allah, jadikanlah saya ini agung di sisi-Mu dan hina pada diri saya dan dicintai lagi disegani di sisi ikhwan saya.

Ya Allah, lindungilah saya dari ketertawanan dan karuniakan kepada saya kesyahidan di jalan-Mu, dan jangan Engkau ambil saya di atas kelalaian, dan berilah saya husnul khatimah di dalam urusan seluruhnya wahai Muqallibal Qulub.

Saudara Kalian
Abu Hamzah Al-Muhajir
1 Ramadhan 1428 H

DARI JAHILIYAH MENJADI KSATRIA KHILAFAH

DABIQ 6 - PENDAHULUAN



DARI JAHILIYAH MENJADI KSATRIA KHILAFAH

"Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan tidak mau menawarkan perdamaian kepadamu, serta tidak menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui, dan merekalah orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk memerangi, menawan dan membunuh) mereka." (An-Nisa: 91)

Bulan ini, sebuah serangan dilakukan di Sydney oleh Man Haron Monis, seorang Muslim yang memutuskan untuk bergabung dengan mujahidin Daulah Islam dalam perang mereka melawan koalisi tentara salib. Dia tidak melakukannya dengan melakukan perjalanan ke tanah Khilafah dan berjuang bersama dengan saudara-saudaranya (di Iraq atau Syam), melainkan dengan bertindak sendirian dan menyerang orang-orang kafir, di mana hal itu akan sangat menyakiti mereka – karena terjadi di negeri mereka sendiri dan di jalan-jalan yang sangat mereka duga bisa berjalan di sana dengan aman. Tidak butuh banyak; dia berhasil meraih pistol dan menyerbu sebuah kafe lalu menjadikan orang-orang yang di dalamnya sebagai sandera. Dan karena tindakannya ini, ia menimbulkan kepanikan massa, membawa teror ke seluruh negara, dan memicu evakuasi sejumlah warga dari pusat bisnis Sydney. Berkah-berkah dalam usahanya sangat jelas sejak awal.

Kemudian, situasi dikembangkan dan identitasnya terungkap, kami melihat respon yang bisa diprediksi dari media internasional. Mereka langsung mulai mencari sesuatu yang negatif yang bisa mereka gunakan untuk melawannya, dan kemudian mulai melaporkan berbagai tuduhan yang dibuat terhadapnya dalam upaya untuk mencoreng karakter dan, yang terpenting, tujuan mulia bahwa ia berjuang untuk Allah Ta’ala.

"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya bagi Allah semata." (Al-Anfal: 39)

Faktanya adalah, bagaimanapun, bahwa setiap tuduhan yang dialamatkan terhadap seseorang tentang masa lalunya, maka tidak berlaku selama dia mengharapkan rahmat Allah dan bersungguh-sungguh dalam bertaubat dari segala kesesatan-kesesatan masa lalunya. Ini sebagaimana orang yang baru masuk Islam dan dia memiliki sejarah masa lalu berupa kesyirikan dan maksiat, benar-benar terhapus (seluruh kesalahannya) – seperti yang terjadi dengan banyak shahabat. Maka berapa banyak orang yang seperti ini, yang kemudian setelah bertaubat dia lalu berperang dan terbunuh di jalan Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengetahui pun menyatakan bahwa orang tersebut akan diampuni saat tetes darahnya yang pertama.

Mengutuk seseorang berdasarkan masa lalu mereka telah menjadi tradisi para thaghut, seperti yang dilakukan oleh Fir'aun.

"Dia (Fir‘aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang telah engkau lakukan dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.” Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya, dan ketika itu aku termasuk orang yang khilaf." (Asy-Syu'ara: 18-20)

Manusia baru Haron Monis adalah seorang mujahid di jalan Allah. Ia menyatakan dirinya berada pada tauhid yang murni dan dari Ahlus-Sunnah, mengumumkan bai’at kepada Khalifah Ibrahim al-Qurasyi, dan kemudian bergerak maju untuk meneror kuffar dan membawa kemenangan bagi agama Allah. Kesyahidannya –insya Allah– adalah wasiat ketulusannya.

Setelah kebuntuan yang panjang, saudara Man Haron Monis akhirnya terbunuh. Serangan beraninya berakhir dengan dua sandera kafir tewas, dan empat lainnya luka-luka, termasuk seorang polisi. Dengan demikian, ia menambahkan namanya ke daftar kaum muslimin yang menjawab seruan Khilafah untuk menyerang orang-orang yang berperang melawan Daulah Islam di manapun mereka berada, seperti yang disampaikan oleh Juru Bicaranya, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani.

"Jika Anda dapat membunuh kafir Amerika atau Eropa –terutama si dengki yang najis Perancis– atau Australia, atau Kanada, atau kafir lainnya dari orang-orang kafir harbi, termasuk warga negara yang menandatangani Koalisi permusuhan terhadap Daulah Islam, maka bertawakallah kepada Allah, dan bunuhlah dengan cara atau alat apa pun yang memungkinkan. Jangan meminta saran siapa pun dan jangan meminta fatwa siapa pun." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)

Akan ada orang lain yang mengikuti contoh yang ditetapkan oleh Man Haron Monis dan Numan Haider di Australia, Martin Couture Rouleau dan Michael Zehaf Bibeau di Kanada, Zale Thompson di Amerika, dan Bertrand Nzohabonayo di Perancis, dan tidak ada yang bisa dilakukan Barat kecuali cemas menunggu giliran pembantaian berikutnya dan kemudian mengeluarkan lelah yang sama, pernyataan klise mengecam kejadian itu. Kaum Muslimin akan terus menentang mesin perang orang-orang kafir, mengepung tentara salib di jalan-jalan mereka sendiri dan membawa perang kembali ke tanah mereka sendiri.

"Di masa lalu, aku telah mengangkat bendera selain bendera Islam. Aku memohon ampunan dari Allah dan bertobat kepada-Nya. Aku bersumpah demi Allah Yang Maha Kuasa bahwa aku tidak akan mengangkat bendera selain bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Aku dulu Rafidhi, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku Muslim, alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan memberikan bai’at kepada Imam di zaman kita. Mereka yang memberikan bai’at kepada khalifah kaum muslimin dalam kenyataannya memberikan bai’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Tangan Allah di atas tangan mereka.”
Man Haron Monis rahimahullah

Selasa, 24 April 2018

ANDAI AKU PRESIDEN AMERIKA SEKARANG...

DABIQ 5 - SPESIAL

ANDAI AKU PRESIDEN AS SEKARANG...
Oleh : John Cantlie

"...Andai aku presiden AS hari ini, aku mungkin akan mematikan ponselku, mengunci pintu kantor oval, dan pergi bermain golf sebagai gantinya. Perang terhadap Daulah Islam tidak akan aku rencanakan sama sekali."

Jika ada yang bersinar, misalnya emas 24 karat, tentu tidak jadi alasan bagus untuk mengingkari janjimu sendiri dan menyatakan perang lain di Timur Tengah, hingga kita menyaksikan hal itu sekarang. $ 424.000.000 dolar adalah harga dari serangan udara atas Iraq dan Suriah yang telah dilakukan yang hasilnya tidak lebih dari ekspansi yang semakin meluas dan menguatnya Daulah Islam di kedua negara, sedangkan bendera hitam tauhid sekarang berkibar di ufuk dari Libya, Yaman, Sinai, dan di tempat lainnya, sebuah pertumbuhan yang sangat cepat Daulah Islam di luar negeri. Ini benar-benar hal terakhir yang Tim Obama dan sekutunya telah diperingatkan, setelah menabuh genderang perang koalisinya dan berangkat ke medan perang untuk membuat negara mereka menjadi lebih aman, atau, binasa ketika mereka berada di kesombongan mereka sendiri dan ketidakmampuan untuk mempelajari pelajaran masa lalu, bahkan itu yang diharapkan.

Banyak ketakutan para pemimpin politik Barat, Daulah Islam kini benar-benar bergerak dengan momentum besar. Sebagai kelompok yang menikmati kesuksesan, ia menarik lebih banyak lagi ke barisannya, sehingga menyebabkan ekspansi dan berkembang biak lebih banyak hingga mencapai semacam kritis massa, titik di mana ia menjadi menyempurkan diri, mandiri.

Dan untuk saat ini, pembicaraan tentang Daulah Islam tidak hanya tentang ekspansinya ke negara-negara Arab di Timur Tengah, namun jangkauannya hingga ke tanah air dan ruang keluarga dari orang-orang biasa yang hidup ribuan mil jauhnya di kota-kota di barat dan pinggiran kota. Daulah Islam kini telah menjadi pemain global. Demikianlah Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani menyeru umat Islam untuk bertindak di mana pun mereka berada, untuk bangkit dan melawan musuh-musuh Daulah Islam, yang seruan ini membawa reaksi hampir instan dari seluruh dunia.

"Jangan biarkan pertempuran ini berlalu begitu saja di mana pun kalian bisa", perintah Syaikh.

"Kalian harus menyerang tentara, pendukungnya, dan pasukan thaghut tersebut. Menyerang polisi mereka, aparat keamanan, dan anggota intelijen. Jika Anda dapat membunuh kafir Amerika atau Eropa -terutama si dengki dan kotor Perancis- atau Australia, atau Kanada, atau setiap kafir lainnya dari orang-orang kafir yang melancarkan perang melawan Daulah Islam, maka bertawakkallah kepada Allah, lalu bunuhlah dengan cara apapun yang bisa dilakukan."

Dan tidak lama, hanya beberapa hari kemudian, kekacauan meletus di seluruh dunia.

Di Australia, Numan Haider menikam dua polisi antiteror. Di Kanada, seorang tentara ditembak dan dibunuh di depan Monumen Perang di Ottawa oleh Michael Zehaf Bibeau (32 tahun) pada tanggal 22 Oktober, yang kemudian masuk ke gedung parlemen Kanada mencari target lain sebelum dirinya ditembak dan dibunuh oleh polisi. Pada minggu yang sama dua tentara ditabrak lari di Quebec oleh Martin Couture Rouleau dan di New York, Zale Thompson menyerang empat polisi di Queens dengan kapak, saat serangan biadab nya tertangkap kamera CCTV dan tersebar ke semua rumah-rumah penduduk di seluruh Amerika.

Semua serangan ini adalah efek langsung dari seruan Syaikh untuk beraksi, mereka telah meneliti apa saja yang mudah terbakar dan mematikan yang mendesis tepat di bawah permukaan setiap negara barat, menunggu meledak ke dalam tindakan kekerasan setiap saat pada kondisi yang tepat. Tiba-tiba para mujahidin Daulah Islam itu tidak seberapa esoteris dengan konsep pertempuran di negara yang tidak dikenal atau tidak dipedulikan, kini mereka berada di ambang pintu jutaan orang yang tinggal di beberapa kota terbesar, kota-kota modern di dunia barat. Serangan ini sebagai dakwaan memberatkan atas kebijakan lanjutan Amerika karena ikut campur negara lain. Semuanya, Amerika Serikat dan sekutu yang telah berjuang dalam "perang melawan teror" dulu mengatakan, "jika kita tidak melawan mereka di sana kita harus melawan mereka di sini". Masuk akal, hanya dalam satu minggu terbukti telah benar-benar gagal.

"Terlatih dan diasah dalam pertempuran, pejuang ini bisa mencoba untuk kembali ke negara asal mereka dan melakukan serangan mematikan", Obama memperingatkan kepada bangsanya pada pidato tanggal 10 September. Tapi apa yang tidak ia perkIraqan adalah ternyata warganya sendiri mengambil senjata dan menyerang polisinya tanpa pelatihan atau pengalaman tempur apapun.

Bagian media dengan cepat akan menyebut para penyerang tunggal ini sebagai "penyendiri yang terganggu jiwanya," seseorang yang hanya mencari alasan untuk melakukan kekerasan kriminal di kampung halaman mereka.

Tapi kenyataan yang terjadi sebenarnya jauh lebih dalam daripada ini.

Ini adalah salah satu hal yang bagi seorang individu akan berpikir ulang bagaimana menyerang atau membunuh pria lain. Hal ini terjadi setiap hari dan pikiran tersebut tidak sedikit atau bahkan mengkhawatirkan. Tapi untuk benar-benar melangkahkan kaki dan melakukannya atas perintah orang yang mereka tidak pernah bertemu, tidak pernah melihat, berjuang di negara beberapa ribu mil jauhnya yang bahkan tidak berbicara bahasa mereka, menunjukkan kekuatan yang tak terbantahkan akan kekuatan jihad. Terlepas dari status sosial mereka, terlepas dari siapa orang-orang ini yang telah melakukan tindakan ini atau berapa lama mereka telah menjadi Muslim, hal ini menunjukkan besarnya kekuatan ayunan jihad atas mereka yang memilih untuk mulai menapakinya.

Arti penting dari serangan ini dan lainnya adalah besar, dan tidak bisa dianggap remeh. Hanya dengan menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk bangkit mengangkat senjata, Syaikh telah melancarkan serangan di Kanada, Amerika, dan Australia (tiga negara ini disebutkan dalam pidatonya) dengan tidak lebih daripada kata-kata dan keyakinan bersama dalam ibadah jihad.

Seorang jenderal pada tentara konvensional tidak mungkin berharap untuk memiliki kekuatan atas laki-laki yang belum pernah bertemu di sisi lain dari dunia, memerintahkan mereka untuk menyerang dan mungkin saja dapat terbunuh, bahkan jika ia menawarkan uang kepada mereka! Petugas NYPD di New York beruntung mereka diserang dengan kapak dan tidak dengan pistol, jika tidak hasilnya bisa saja lebih serius.

Dan jumlah Muslim yang mengangkat senjata atas nama jihad di bawah panji-panji Daulah Islam semakin bertambah, dan mereka tumbuh dengan cepat. Menurut media Barat, Daulah Islam sekarang memiliki lebih dari 35.000 pejuang. Cengkeramannya kini telah menyebar di seluruh Afrika Utara ke Libya dan Aljazair, di Yaman dan hingga Jazirah Arab, di mana kaum Syiah dan rezim sekarang sedang diserang oleh mujahidin yang setia kepada Daulah Islam.

Jika jumlahnya hanya terbatas seperti itu, mengapa Jordan gemetar di sepatunya dan mengapa Turki menggigil setelah mendengar nama Daulah Islam? Dan jika jumlah tersebut sangat tidak signifikan, mengapa sekarang terjadi serangan di daratan benua Amerika Utara oleh pejuang Jihad yang tidak pernah meninggalkan negara asal mereka, bahkan tidak berbicara bahasa Arab?

Aku sudah mengutip terlalu sering di masa lalu tapi aku berharap dia akan memaafkan aku jika aku meraih kotak Michael Scheuer untuk mengutip sekali lagi. Dalam teks yang diterbitkan pada tanggal 2 September ia berkomentar,

"Kita terlalu jauh melewati dalam menghadapi teroris. Sebaliknya, kita berada di tengah-tengah pertempuran pemberontakan internasional, dan kita berada di jalan menuju perang dunia di mana Amerika Serikat harus berjuang di rumah dan di luar negeri jika status quo kebijakan luar negeri ini tetap dipertahankan."

Boom! Dan terjadilah, seperti yang diprediksi Michael. Didorong oleh intervensi Amerika yang terus-menerus, lingkup pengaruh Daulah Islam telah meluas hingga pada tingkat mereka sekarang dapat memberi perintah penyerangan di tanah AS oleh orang asing melalui kata saja. Sebuah pemberontakan internasional. Ini adalah skenario mimpi buruk bagi pemerintah, satu triliun telah mereka habiskan untuk mencoba menghindarinya, tetapi ironisnya, ini dipicu oleh campur tangan mereka terus menerus dalam urusan dunia Muslim.

Dari pengalamanku sendiri di sini, pemerintah kita terlalu menyendiri, sombong, dan konvensional dalam cara mereka berpikir untuk mendapat ide bagaimana cara menghadapi suatu ancaman global. Mereka hanya terus melakukan apa yang mereka sudah lakukan selama dua dekade terakhir, padahal secara bertahap telah membuat situasi lebih buruk dan semakin buruk.

Intervensi di Iraq hari ini, sedikit berbeda dengan yang sebelumnya kecuali dalam hal kedok, dan beberapa point di masa depan, perwakilan pasukan darat bukan orang-orang Amerika, karena bagi orang-orang di Amerika Serikat, mereka tidak peduli berapa banyak sekutu mereka mati. Dan hingga mereka bisa bertindak bersama-sama, Peshmerga akan menanggung beban sekarat dan mereka hanya memasok dari udara dan beberapa Pasukan Khusus membantu di darat.

Pemerintah seperti robot yang terjebak pada lingkaran, terus melakukan urutan yang salah meskipun instruksi diulang oleh tuannya secara terbalik. Master kepada robot: "Kau harus menemukan cara yang berbeda untuk mengatasi bahaya, mujahidin terlihat di sebelah barat." Robot; "Tidak bisa ... menghitung ..." Master; "Aksi militer tidak berhasil, bagaimana dengan negosiasi?" Robot; "Harus ... mematuhi ... pemrograman ..." Master; "Semua yang kau lakukan sejak 9/11 hanya membuat keadaan kita lebih bahaya, tidak lebih". Robot; "Zzzzz ... sintaks ... error ..."

Tentu saja, Robo-Obama tidak mendengarkan suara / alasan, dan dengan demikian ia memprogram dirinya sendiri dengan data lama yang sama-sama rusak, sehingga membuat kesalahan yang sama berulang-ulang. James Comey pada bulan September menggambarkan mujahidin Daulah Islam sebagai "biadab" (contoh klasik dari kesombongan dan cara berpikir konvensionalis yang tidak akan menghasilkan kemajuan apa-apa), sementara Nick Paton-Walsh menggambarkan di CNN tentang taktik Daulah Islam sebagai "canggih dan menakutkan," yang merupakan komentar yang jauh lebih berpendidikan dan mendekati kebenaran, tetapi Nick hanyalah seorang wartawan, sementara James Comey adalah direktur FBI.

Jika aku presiden AS saat ini –dan kalau boleh kukatakan, aku sangat senang ternyata aku bukan–, aku akan terkejut pada kekacauan yang bertiup di wajahku. Menghirup dalam perang yang aku klaim sudah berakhir, membuat sekutu dengan tiran paling keji di Timur Tengah, membuat negaraku dan kepresidenan ke kancah konflik sementara wargaku sendiri bangkit melawanku dalam menanggapi seruan Daulah Islam, sudah setengah jalan yang secara ajaib satu miliar dolar telah dihabiskan dan musuh tampaknya justru melompat dari kuat menjadi lebih kuat. Dan bukan hanya itu, mereka benar-benar memperluas pengaruh dan wilayah mereka ke negara-negara lain yang sudah kubangun basis militer dan berkomitmen untuk memberi miliaran dolar demi menghentikan mereka melakukan hal itu.

Dalam menghadapi seperti kecelakaan kereta api, aku harus mengatakan bahwa 18 lubang di sekitar Martha’s Vineyard adalah alternatif yang jauh lebih masuk akal. Dan begitu jelasnya peristiwa sekarang ini, mungkin lebih konstruktif juga.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 5

DABIQ 5 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

RAND Corporation –sebuah lembaga think-tank yang dibentuk untuk menyediakan penelitian dan analisa ke Pasukan Salib AS– mereka menerbitkan dua wawancara dengan "pakar" RAND untuk membahas strategi dan serangan udara AS terhadap Daulah Islam. Keputusasaan dan kebingungan dalam nada ucapan mereka sangat mudah terlihat di dalam penyimpangan berlapis-lapis yang semua hanya menunjukkan kesia-siaan akan kampanye dan koalisi untuk menghancurkan Daulah Islam.

Para ‘ahli’ dari tentara salib, yaitu:
1. Andrew Liepman, Senior Analis politik dan mantan wakil direktur utama Antiterorisme Nasional Pusat;
2. Linda Robinson, analis politik senior dan penulis;
3. Ben Connable, Senior Analis dan pensiunan Marinir Petugas Corps Intelijen; dan
4. Angel Rabasa, Senior Ilmuwan politik,

Mereka mengatakan:

Liepman: Membongkar dan merendahkan mereka bisa dicapai. Tapi menghancurkan ISIS, bahkan dalam waktu beberapa tahun, sangatlah tidak mungkin. Jika kita berhasil membongkar ISIS, kita tetap akan meinggalkan kawasan yang benar-benar bermasalah.

Robinson: Pendekatan kontraterorisme dengan cara bermitra semacam ini, yang telah dibicarakan oleh presiden, benar-benar membutuhkan cara untuk menyempurnakan bagaimana Amerika berhubungan dengan mitranya. Dalam kasus ini, setiap kubu saling bermasalah. Pasukan keamanan Iraq telah hancur dalam beberapa bulan terakhir. Milisi Syiah bermasalah. Kaum Sunni berpotensi berbalik melawan ISIS, tetapi mereka sangat waspada terhadap pemerintahan baru ini. Peshmerga, milisi Kurdi, juga yang paling bermasalah. Akhirnya, oposisi Suriah sangat lemah.

Connable: Saya tidak yakin ada yang memiliki pemahaman yang jelas tentang siapa yang ada di Suriah. Identitas dan loyalitas bergeser. Aku tidak berpikir itu akan melumpuhkan strategi, tetapi itu adalah rintangan serius. Tidak adanya kondisi keadaan terakhir yang bisa dibayangkan dengan jelas adalah penting. Apa yang kita inginkan dari kelompok yang akan kita dukung setelah ISIS dikalahkan? Sekarang kita akan mendukung FSA, sedangkan mereka telah menderita kekalahan di medan perang. Politik mereka tidak terorganisir. Saya tidak yakin apa yang akan mereka lakukan dengan negara Suriah jika mereka mampu mengambil kendali.

Liepman: Kita perlu mengingatkan diri kita sendiri tentang kata-kata Presiden, sebagaimana yang dilakukan para komandan militer, bahwa ini adalah fase baru pertempuran melawan musuh yang ulet dan mengagumkan, ini akan memakan waktu. Kita perlu berhati-hati bagaimana kita mendefinisikan kemenangan. Kita tidak akan mengalahkan musuh ini. Kita butuh keberuntungan untuk menghancurkan ISIS. Kita perlu kesabaran.

Rabasa: Aku takut kita mungkin telah jatuh ke dalam perangkap ISIS. Kita mungkin tidak punya pilihan selain untuk memperluas serangan udara ke Syria, karena itu adalah basis operasi ISIS. Tapi dengan melakukan itu berarti kita telah meningkatkan kampanye melawan ISIS tanpa mengerahkan kekuatan yang cukup untuk benar-benar melemahkan atau menghancurkan mereka.

Rabasa: Serangan udara akan memiliki hasil yang kembali bagaimana ISIS menyesuaikan. Lalu berdiri melawan Amerika Serikat seakan ingin meningkatkan citra di antara kedua konstituen jihad dan non-jihad. Seperti semua kekuatan yang tidak teratur menghadapi musuh yang lebih kuat, mereka telah menang jika mereka tidak hilang.

BAQIYAH WA TATAMADDAD (TETAP EKSIS DAN TERUS MELUAS)

DABIQ 5 - FEATURE

BAQIYAH WA TATAMADDAD (TETAP EKSIS DAN TERUS MELUAS)

Pada tanggal 17 Muharram 1436, dunia mendengar pengumuman para mujahidin dari Semenanjung Arab, Yaman, Sinai, Libya, dan Aljazair, mereka mengucapkan bai'at mereka kepada khalifah kaum muslimin, Abu Bakr al-Husaini al-Baghdadi hafizhahullah.

Mereka semua mendeklarasikan hal yang sama:

"Allah Ta'ala berfirman; "Dan berpegang teguhlah pada tali (agama) Allah secara bersama-sama dan janganlah kamu berpecah-belah." (Ali Imran: 103). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa meninggal tanpa memiliki ikatan bai’at dilehernya, maka dia meninggal dalam kematian jahiliyah." (Shahih Muslim dari riwayat Imran). Oleh karena itu, dalam ketaatan kepada perintah Allah ‘azza wa jalla dan dalam ketaatan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam yang berpesan untuk tidak berpecah-belah dan untuk berpegang teguh dengan jama'ah mereka, kami mendeklarasikan bai'at kepada khalifah Ibrahim Ibnu 'Awwad bin Ibrahim al-Qurasyi al-Husaini, berjanji untuk selalu mendengar dan taat, baik pada saat sulit dan mudah, dan pada saat gembira dan tidak suka. Kami berjanji untuk tidak membantah terhadap setiap perintah, kecuali jika kita melihat ada kekufuran yang jelas yang kita memiliki bukti dari Allah. Kami menyeru umat Islam di mana pun berada untuk memberikan bai'at kepada Khalifah dan mendukungnya, dalam rangka ketaatan kepada Allah dan menjalankan kewajiban yang banyak diabaikan pada zaman ini."

Mereka kemudian menyampaikan pesan masing-masing dan nasihat mengenai kewajiban untuk bersatu di bawah bendera Khilafah.

Para mujahidin dari Aljazair memberikan nasihat kepada para mujahidin di mana pun mereka berada:

"Kami secara khusus mengingatkan para mujahidin yang telah mengorbankan semua yang mereka sayangi dan berharga, menjual jiwa mereka tanpa ragu-ragu, dan menyerukan ‘misi dan tujuan kami adalah menegakkan syari'at Allah di muka bumi dan Khilafah di atas manhaj kenabian’. Lalu mengapa kalian menunda ini sekarang? Kami bertanya kepada kalian dengan nama Allah, apakah penundaan ini membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman dan kemarahan bagi orang-orang kafir? Atau sebaliknya?"

Para mujahidin dari Semenanjung Arab memberikan informasi bagi para muwahhidin yang ada di negeri mereka bahwa mereka tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh untuk melakukan jihad di bawah bendera Khilafah:

"Oleh karena itu, hai orang-orang ahlut-tauhid di Semenanjung Arab, kebenaran telah muncul dan menang. Jadi datanglah ke Daulahmu dan bersegeralah ke sekitar Khalifahmu. Wahai muwahhidin di tanah al-Haramain, kabar gembira, karena jihad yang telah kalian siapkan pelana untuknya kini telah tiba ke depan pintu rumah-rumah kalian, dan tidak ada batas yang akan menghambat kalian mencapainya, dan tidak akan ada paspor atau visa yang mencegah kalian mencapainya."

Para mujahidin dari Libya mengingatkan kaum Muslimin akan kewajiban persatuan dan membantah keraguan terhadap kewajiban ini:

"Kami berjanji setia karena tidak ada obat untuk khilaf (berbeda) selain Khilafah. Demikian juga, kami mengajak setiap Muslim kepada kebaikan ini, karena sungguh, hal ini sangatlah membuat rasa sakit bagi musuh-musuh Allah. Demi Allah, berkumpulnya kita di bawah satu pemimpin lebih menyulitkan musuh-musuh Allah daripada ribuan kemenangan di medan perang. Dan jangan tertipu oleh orang yang desersi dari desertir. Ibnu Hazm rahimahullah berkata, "Adapun orang yang mengatakan bahwa Imamah tidak berlaku kecuali dengan persetujuan pembesar umat di seluruh negeri, maka ini adalah palsu, karena berarti meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa diraih, ini tidak akan mampu dilakukan siapa pun, dan beban yang sangat berat, sedangkan Allah tidak membebani siapapun dengan apa yang di luar kemampuan mereka. Allah berfirman, "Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama." (Al-Hajj: 78)"

Para mujahidin dari Sinai mengingatkan para mujahidin akan kewajiban bersatu di bawah Khilafah:

"Adapun pesan kami kepada saudara-saudara kami para mujahid di semua front, apa yang kalian inginkan? Apa yang kalian cita-citakan? Setelah Daulah didirikan untuk Islam dan kaum muslimin, Khalifah dan Amir untuk kaum mukminin diangkat, tiba-tiba kalian mundur dengan tidak mendukungnya dan kalian meninggalkannya dengan tidak berdiri di bawah panji-panjinya, pada saat yang sama dunia bersatu untuk melawannya. Apa yang salah dengan kalian? Apa alasan kalian, wahai mujahidin? Persatuan kalian adalah kekuatan dan perpecahan kalian adalah kelemahan. Karena kekuatan itu adalah kekuatan kalian, andai saja kalian mengerti. Tidak ada kebaikan pada diri kalian jika para musuh berhasil menghancurkannya, sedangkan kalian masih memiliki satu napas yang tersisa. Dan tidak pernah terbayang padaku hal seperti ini terjadi pada kalian. Karena itu, selesaikanlah masalah kalian, satukan barisan kalian dan dukunglah Daulah kalian, dan mari kita saling menguatkan. Demi Allah, ini adalah kebenaran yang nyata dan didukung oleh Allah, yang Maha Perkasa lagi Maha Kuat. Takutlah kepada Allah Rabbmu. Jangan biarkan Setan menipu kalian dengan propaganda dan fitnahnya. Sungguh, ia adalah musuh yang nyata bagi kalian."

Para mujahidin dari Yaman menasihati kaum muslimin dengan nasihat kenabian di saat masa perpecahan:

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi kita kabar gembira akan Khilafah ‘Ala Manhajin Nubuwwah (Khilafah Di Atas Manhaj Kenabian). Dan sungguh, demi Allah, kita telah melihat hal itu sebagai khilafah di atas manhaj kenabian. Dan ketika kita mendengar terompet orang Yahudi dan Kristen –penyeru kepada gerbang neraka– kita harus memenuhi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni wajib berpegang teguh kepada jama'ah kaum muslimin dan Imam mereka, karena Hudzaifah radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal-hal baik, dan aku bertanya kepadanya tentang keburukan, karena khawatir hal itu akan menimpaku ..." dalam hadits itu, salah satunya dia bertanya, "Apakah ada keburukan setelah kebaikan ini?" Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Ya, para penyeru kepada gerbang neraka. Siapapun memenuhi seruan mereka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka." Dia berkata, "Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku ciri-ciri mereka." Nabi bersabda, "Kulit mereka sama dengan kulit kita dan lisan mereka sama dengan lisan kita." Dia berkata, "Lalu apa yang engkau nasihatkan jika aku mendapati keadaan seperti itu?" Beliau bersabda, "Lazimilah jama'ah kaum muslimin dan imam mereka". (Al-Bukhari dan Muslim)"

Kemudian pada tanggal 20 Muharram 1436 H, Khalifah Ibrahim hafizhahullah secara resmi mengumumkan penerimaan bai'at mereka, pembentukan Wilayah, dan menghapus semua partai dan kelompok di atasnya. Dalam salah satu pidato yang sangat tegas yang beliau sampaikan sejak berdirinya Daulah Islam, ia berkata, "Kabar gembira, wahai umat Islam, karena kita memberikan kabar baik dengan mengumumkan perluasan Daulah Islam ke wilayah baru, dari tanah al-Haramain dan Yaman ... ke Mesir, Libya, dan Aljazair. Kami mengumumkan penerimaan bai'at dari orang-orang yang memberi bai’at kepada kami di wilayah tersebut, menghapus kelompok-kelompok di dalamnya, mengumumkan wilayah baru Daulah Islam, dan menunjuk wali untuk mereka."

Sebelum pengumuman Wilayah baru, sejumlah kelompok di Khurasan, Kaukasus, Indonesia, Nigeria, Filipina, dan di tempat lain telah berjanji setia kepada khalifah, dan terus bertambah orang yang melakukannya setiap hari. Daulah Islam mengumumkan penerimaan bai'at dari semua kelompok dan individu –semoga Allah menerima sumpah mulia mereka dan menjaga amal mereka setelah perjanjian mereka, dan bersih dari kegoyahan– tapi pengumuman Wilayah masing-masing tertunda, walau diakui bahwa beberapa kelompok di wilayah tersebut lebih besar dan lebih kuat dari kelompok-kelompok yang baru saja diumumkan Wilayahnya. Penundaan ini harus diakhiri dengan baik, dengan penunjukan atau pengakuan kepemimpinan oleh Khalifah atas wilayah di mana beberapa kelompok telah memberikan bai'at dan bergabung, atau pembentukan jalur komunikasi langsung antara Khilafah dan pemimpin Mujahid daerah yang belum terhubung dengan Daulah Islam sehingga dengan demikian mereka dapat menerima informasi dan arahan dari Khalifah.

Semoga Allah membawa kabar gembira dari daerah lainnya secepat mungkin dan mengisi hati orang yang beriman dengan kegembiraan selanjutnya.

Khalifah Ibrahim mengatakan: "Kami juga mengumumkan penerimaan bai'at yang diberikan oleh kelompok dan individu di setiap daerah yang kami sebutkan di atas dan lainnya. Kami juga meminta kepada setiap individu di antara mereka untuk bergabung dengan Wilayah terdekat dia, dan untuk mendengar dan mematuhi wali yang ditunjuk oleh kami di sana."

Dengan demikian, setelah melewati delapan tahun sejak pendirian Daulah Islam di bulan Ramadhan 1427, para mujahidin yang tak tergoyahkan membawa kegembiraan dengan hati dan jiwa kepada setiap muwahhid di permukaan bumi melalui persatuan dan ekspansi mereka. Pencapaian ini hanya masalah kesabaran, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Ketahuilah bahwasanya ada banyak kebaikan dalam bersabar menghadapi apa yang tidak kalian sukai, sesungguhnya bersama kesabaran ada kemenangan, bersama penderitaan ada pertolongan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu 'Abbas)

Namun, kebanyakan orang menginginkannya secara tergesa-gesa, dengan hasil materi yang datang secara spontan. Mereka adalah orang-orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan dalam sabdanya, "Tapi kalian adalah orang yang terburu-buru." (Shahih Bukhari dari Khabbab radhiyallahu anhu), dan karena mereka tidak melihat ekspansi hari ini setelah deklarasi Daulah Islam delapan tahun yang lalu, andai mereka melihat konspirasi Shahawat dan penarikan Daulah Islam dari banyak wilayah ke gurun Anbar, niscaya mereka kehilangan harapan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah kepada para mujahidin muwahhid.

Dan cukup bagi kita adalah Allah, dan Dia adalah Pemelihara terbaik segala urusan. Sekarang mereka yang telah menjalankan ini semua dengan kesabaran –meskipun apa yang mereka hadapi dari penjara, diburu oleh intelijen dan lembaga keamanan kafir, jauh dari teman dan keluarga, kemiskinan, kematian sahabat, dan luka– telah menuai buah dari upaya mereka demi kepentingan masa depan generasi Muslim di seluruh dunia.

Semoga Allah melestarikan para pemimpin dan tentaranya dengan kesabaran, dan membalas mereka dengan kebaikan yang besar atas nama Islam dan kaum muslimin. Masing-masing wilayah baru ini memiliki nilai penting untuk masa depan perluasan Daulah Islam dan menyediakan pengalaman yang lebih besar dan sumber daya lebih banyak.

JAZIRAH ARAB

Tanah wahyu ... tanah Nabi dan Rasul terakhir... tanah al-Haramain ... tanah tauhid ... tanah yang dijaga oleh darah murni sahabat ...

"Sesungguhnya Setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang yang shalat di Jazirah Arab, akan tetapi ia menghasut mereka untuk berpecah belah satu sama lain."* (Shahih Muslim dari riwayat Jabir radhiyallahu anhu)

*Beberapa orang yang menyimpang mencoba mengutip hadis ini sebagai dalil (pembenaran) untuk penyimpangan mereka, mengklaim bahwa hanya karena mereka berasal dari Semenanjung Arab atau karena perbuatan mereka setara dengan yang dilakukan oleh orang-orang seperti mereka di Semenanjung Arab, maka mereka itu tidak dapat dianggap murtad. Jika logika sesat mereka itu benar, tentu ini akan digunakan sebagai dalil yang sama oleh orang-orang murtad dari Bani Hanifah di Jazirah Arab, Musailamah al-Kadzdzab dan para pengikutnya! Sebaliknya, para ulama telah menjelaskan hadits ini untuk menunjukkan ketidakmungkinan orang-orang dari Semenanjung Arab meninggalkan Islam secara menyeluruh atau untuk menunjukkan kondisi putus asa dalam hati Setan itu, dan belum berarti menunjukkan kepastian anggapan itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Aku akan mengusir orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Semenanjung Arab dan tidak menyisakan kecuali Muslim." (Shahih Muslim dari riwayat 'Umar radhiyallahu anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidak akan berkumpul dua agama di Semenanjung Arab." (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu anha). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda di saat sebelum meninggal, "Usirlah orang-orang musyrik dari Semenanjung Arab." (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari riwayat Ibnu 'Abbas)

Semua ini ditambah dengan berkah dan kebajikan al-Haramain yang terletak di wilayah yang diberkati "al-Hijaz" di tengah Semenanjung Arab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Islam bermula dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana dia bermula, dan dia akan kembali melingkar (berpusat) di antara dua masjid (al-Haramain) seperti ular yang melingkar di dalam lubangnya." (Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah)

Dari tanah yang diberkati ini, cahaya Islam menyebar ke seluruh sudut bumi dengan kitab (al-Qur'an) sebagai penunjuk dan pedang sebagai pembela. Dan dari Semenanjung Arab, Imam Muhammad Ibnu 'Abdil Wahhab rahimahullah menghidupkan kembali dakwah tauhid dan al-wala' wal bara', mengajak untuk teguh di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa kompromi.

Pelaku Istisyhadiyin 11 September, para tahanan di balik jeruji dan kawat di al-Hayir (penjara di Semenanjung Arab) dan Teluk Guantanamo, operasi terhadap Murtaddin dan tentara salib di Semenanjung Arab, dan darah suci yang tertumpah di atas tanah yang diberkati ini, semua adalah buah dan berkah dari cahaya yang bersinar dari Semenanjung Arab.

Semenanjung Arab adalah benteng bagi ilmu agama pendukung jihad, sebagaimana dicatat dengan keringat dan darah ulama mujahid dan muridnya dalam majalah yang tak terlupakan "Shautul Jihad", sebuah majalah yang menyeru kepada Tauhid yang murni, bebas dari paham Irja', sehingga menyebut Alu Salul (Saudi), tentara, pejabat mereka, agen mereka, dan Rafidhah, sebagai orang kafir, tanpa kompromi, tidak terselubung dalam selimut politik "kebenaran" yang dihasilkan dari "kebijaksanaan" dari pengaku jihad modern. Majalah ini dan buku-buku yang diterbitkan menjadi landasan syar'i untuk mujahidin di banyak negeri. Publikasinya yang disanjung tinggi oleh Syaikh Abu Mush'ab Az-Zarqawi dan teman-temannya.

Semenanjung Arab telah melahirkan orang-orang seperti Syaikh Usamah bin Ladin, Abu 'Abdirrahman al-Atsari (Sulthan al-'Utaybi), 'Abdullah Ar-Rusyud,' Isa Al 'Ushin, dan lain-lain –semoga Allah mengampuni kesalahan mereka semua, dan mereka akan terus menerangi jalan untuk generasi yang akan datang.

Sayangnya, setelah kesyahidan dan penangkapan para mujahidin pada beberapa tahun yang lalu, manhaj rusak yang disebarkan oleh pengaku jihad menyerukan penghentian semua operasi di wilayah Semenanjung Arab, bahkan setelah kemampuan untuk meluncurkan mereka telah kembali, sehingga menyebabkan jihad terhenti, hingga hati kembali bangkit untuk menyerang Rafidhah dan Alu Salul.

Khalifah hafizhahullah mengatakan dalam pidatonya: "...karena itu hai putra-putra al-Haramain ... Wahai manusia ahlut tauhid ... Wahai orang-orang wala dan bara' ... kepala ular dan sumber penyakit ini di samping kalian. Maka hunuslah pedang dan pecahkan sarungnya. Ceraikanlah dunia, karena tidak akan ada keamanan atau istirahat untuk Alu Salul dan tentara mereka setelah hari ini. Tidak ada tempat untuk kaum musyrikin di semenanjung Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hunus pedang kalian. Uruslah orang-orang Rafidhah terlebih dahulu di mana pun kalian menemukan mereka, kemudian Alu Salul dan tentara mereka sebelum tentara salib dan basis mereka. Seranglah Rafidhah, Alu Salul, dan tentara mereka. Potong lah anggota tubuh mereka. Sergap mereka secara kelompok dan individu. Buatlah takut hidup mereka dan jadikanlah mereka sibuk dengan diri mereka sendiri sebagai ganti diri kita. Bersabarlah dan jangan tergesa-gesa. Sebentar lagi –Insya Allah– pasukan garis depan Daulah Islam akan sampai di sana."

Perluasan Daulah Islam ke Semenanjung Arab telah menyebabkan tahta Alu Salul dan para thaghut teluk lainnya gemetar tak henti-hentinya, sehingga mereka memerintahkan ulama istana dan saluran media mereka untuk meningkatkan kampanye melawan Daulah Islam, tetapi tidak ada gunanya, karena Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.

YAMAN

Tanah kebijaksanaan, iman, dan pemahaman ...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Telah datang orang-orang Yaman, mereka memiliki hati paling lembut. Iman adalah Yaman, pemahaman adalah Yaman, dan kebijaksanaan adalah Yaman." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Mereka tidak mempersulit pengetahuan mereka dengan memfilsafatkan agama mereka dan sehingga bisa absen dari kewajiban melalui analisa kompleks. Sebaliknya pengetahuan mereka mengalir begitu saja dari hati mereka, dan ini terlihat dalam pidato resmi mereka yang singkat, seperti dikutip sebelumnya.

"Allah telah menghimpun untukmu –wahai Khalifah kaum muslimin– di bawah perintahmu pasukan Syam, Iraq, dan Yaman. Dalam riwayat 'Abdullah Ibnu Hawalah, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang: satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq." (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud)"

Sayangnya, pemikiran yang tersebar di Yaman, khususnya setelah apa yang disebut "Arab Spring", adalah larangan menjadikan Rafidhi Houtsi sebagai target sasaran, karena mereka dianggap "Muslim" dan di udzur karena kebodohan (udzul jahl)! Ini adalah Manhaj yang juga melarang untuk menjadikan pemerintah murtad, militer, polisi, dan kekuatan intelijen sebagai target serangan, kecuali jika orang atau bangunan tertentu yang secara terbuka dan terlibat langsung dalam serangan drone perang salib, seolah-olah kemurtadan dan kejahatan para thaghut dan kekuatan mereka tidak cukup untuk menjadi sebab melawan mereka, dalam sebuah wilayah dengan kondisi yang sangat ideal untuk mengobarkan jihad skala besar! Sebuah Manhaj yang malu untuk mencapai tamkin, karena itu tidak diperbolehkan kecuali setelah mendapat persetujuan dari media penyihir, ulama istana, kelompok menyimpang dan ternak mereka, yang ini semua mereka sebut dengan istilah "Umat"!

Untuk alasan ini dan bebarapa lainnya, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah mengatakan, "Adapun Yaman, alangkah malang untuk apa yang telah terjadi atas Yaman. Duhai! Alangkah malang untuk Shana’a.. Rafidhi Hutsi telah memasukinya, namun bom mobil tidak juga memanggang kulit mereka, begitu juga sabuk peledak dan IED tidak juga memutus sendi mereka. Apakah tidak ada orang di Yaman yang akan membalas dendam bagi kita terhadap Hutsi? "Dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikanmu dengan orang-orang selainmu, kemudian mereka tidak akan menjadi orang sepertimu." (Muhammad: 38)" (Inna Rabbaka labil Mirshad)

Khalifah Ibrahim hafizhahullah mengatakan dalam pidatonya: "Dan kalian wahai tentara Yaman ... Wahai orang-orang yang mendukung dan membantu ... Wahai manusia kebijaksanaan dan iman ... jadilah kalian berlaku keras terhadap Houtsi Rafidhah, karena mereka adalah orang-orang murtad lagi kafir. Lawanlah mereka dan atasi mereka. Yakinlah bahwa giliran mereka telah datang dan akan menjadi kebanggaan kalian, jadikan Rafidhah sebagai kaum yang ditinggalkan. Jika mereka telah menemukan muwahhidin yang melawan mereka, kejahatan mereka tidak akan membusuk. Karena itu mintalah pertolongan kepada Allah, agar kalian dapat melawan mereka, insya Allah. Seranglah syirik dengan tauhid, maka Allah akan menghancurkan kekuatan mereka. Allah akan mengirimkan kekayaan dan senjata mereka kepada kalian. Kalian akan merebut itu semua dari tangan mereka sebagai rampasan perang, di mana kalian akan mendukung agama Allah dan terus menjadi kaum yang penguat."

Dengan ekspansi ke Yaman, Daulah Islam dapat mengakhiri kesalahan aqidah dan manhaj yang disebarkan oleh orang-orang yang kini tiba-tiba menyadari bahwa Rafidhah adalah musuh Islam, setelah bertahun-tahun mengkritik Syaikh Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah dan para sahabatnya karena melakukan takfir terhadap Rafidhah dan membantai mereka dengan bom truk, bom bus, dan bom mobil.

Para mujahidin wilayah Semenanjung Arab dan Yaman sekarang saling bersatu, sehingga dengan demikian dapat saling mendukung dalam perang melawan orang-orang murtad tersebut.

SINAI

Yaqut al-Hamawi mengatakan dalam Mu'jam al-Buldan : "Ini (Sinai) adalah nama dari sebuah wilayah di Syam."

Al-Qurthubi mengatakan dal am tafsir tentang ayat berikut, "Dan (Kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan." (Al-Mukminun: 20), beliau mengatakan, "Thur Sinai adalah dari tanah Syam. Ini adalah gunung di mana Allah berbicara dengan Musa ‘alaihis salam. Inilah pendapat yang Ibnu Abbas dan lainnya katakan. Hal ini telah disebutkan sebelumnya dalam tafsir surat al-Baqarah dan al-A'raf. Dan 'thur' berarti gunung dalam bahasa Arab."

Oleh karena itu, semua kebajikan dan berkah yang diriwayatkan tentang Syam berlaku juga untuk Sinai, dan ini sangat banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Aku lihat seakan pilar Kitab diambil dari bawah bantalku, sehingga aku melihat sinar cahaya memancar menuju Syam. Sesungguhnya iman, di saat zaman fitnah, ada di Syam." (Shahih, diriwayatkan oleh al-Hakim dari 'Abdullah Ibnu 'Amr)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Kabar gembira untuk Syam, kabar gembira untuk Syam, kabar gembira untuk Syam." Para sahabat bertanya,"Mengapa begitu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Karena para malaikat Allah telah melebarkan sayapnya di atas negeri Syam." (Shahih, diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dari Zaid bin Tsabit al-Anshari)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Jika orang-orang Syam telah menjadi buruk, maka tidak ada lagi kebaikan pada kalian." (Shahih, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Mu'awiyah Ibnu Qurrah)

Di Sinai juga terdapat bukit Thur, di mana Allah berbicara kepada Musa ‘alaihis salam, dan di mana Allah bersumpah di dalam Qur'an pada Surat ath-Thur dan Surat at-Tin, yang ini menunjukkan kebesaran dan kemuliaannya.

Sinai juga front terdepan terhadap kaum Yahudi, langkah penting menuju pembebasan Baitul Maqdis. Ekspansi ini akan mengarah pada pertempuran akhir zaman di mana orang-orang Yahudi bersembunyi di balik pohon Gharqad. Dengan cara membersihkan jalan dari rintangan yang diciptakan oleh rezim murtad dan para tentara Fir'aun. Dan lagi, para mujahidin Sinai harus menghadapi oposisi orang-orang yang dulu mengaku pemikul jihad, yang kini menyerukan untuk melanjutkan opsi damai walau harus menghentikan jihad dan runtuhnya tauhid. Mereka mengabaikan bisikan kemuliaan dan berjuang melawan Thaghut sambil bertawakkal pada Allah hingga mereka diberkahi oleh Rabb mereka dengan kemenangan dan tamkin.

Khalifah hafizhahullah mengatakan: "Dan wahai putra-putra aqidah di Sinai tercinta, selamat dan kabar gembira. Selamat untukmu, wahai sekalian manusia. Selamat kepada kalian yang telah melakukan kewajiban jihad melawan thaghut Mesir. Selamat untuk kalian yang telah mendukung Baitul Maqdis. Selamat kepada kalian yang telah membuat gentar orang-orang Yahudi. Apa yang bisa kami katakan kepada kalian, karena kalian telah pecahkan sarung pedang kalian, membakar kapal kalian, dan bergerak maju, merintis jalan kalian dengan bebatuan, dengan wajah penuh kesabaran dan kepedihan dalam memegang bara. Sabarlah, karena kalian memiliki kabar gembira, karena Allah akan menolong kalian."

Setelah pengumuman bai'at, wilayah baru ini kemudian merilis media yang sangat kuat berjudul "Shawlat al-Anshar," memperlihatkan contoh kecil dari operasi militer yang beragam yang dilakukan di Sinai terhadap orang-orang murtad. Sinai juga membarengi dua daerah lain, di mana ekspansi Daulah Islam terjadi di sana: Aljazair dan Libya.

LIBYA

Libya dan Aljazair memiliki sejarah yang sama, berasal dari Afrika Utara, umat Muslim menaklukkan Spanyol dan masuk ke Eropa Barat, dan bertahan selama berabad-abad. Dua tokoh paling penting dalam sejarah Penaklukan Afrika Utara dan setelah itu al-Andalus (Spanyol) adalah 'Uqbah bin Nafi' (pemimpin pasukan yang menaklukkan Afrika Utara pada masa Khalifah Mu'awiyah dan putranya Yazid) dan Thariq bin Ziyad (pemimpin pasukan Islam Afrika Utara yang menaklukkan al-Andalus (Spanyol) pada masa Daulah Umawiyah). 
Libya, salah satu daerah yang disebutkan dalam ekspansi resmi, adalah salah satu yang terkuat statusnya di Daulah Islam, dengan kota-kota besar yang sudah dikelola sendiri oleh para pemimpinnya dan tentaranya. Telah menerima Muhajirin dari banyak negara, sejumlah dari mereka melakukan operasi syahid terhadap orang-orang murtad dan selanjutnya melakukan konsolidasi dengan Daulah Islam. Selain itu, banyak dari Muhajirin di Syam berasal dari Libya dan mereka menumpahkan darah mulia mereka untuk menghidupkan kembali Khilafah di sana.

Sekali lagi, seperti di negeri-negeri lain, Daulah Islam menumbangkan manhaj di Libya yang membolehkan untuk bekerjasama dengan orang-orang Murtad –sekutu salib– dengan memerintahkan secara langsung untuk menargetkan mereka, meskipun apa yang mungkin dikatakan oleh orang-orang berhati lemah dan sakit hati, mereka yang menyatakan bahwa Libya seharusnya hanya menjadi lahan untuk "dakwah" segera setelah pembunuhan Qaddafi, meskipun kelimpahan senjata dan kondisi tawakhush (kekacauan) di sana sangat ideal untuk jihad.

ALJAZAIR

Aljazair adalah negeri tempat dilancarkannya jihad oleh para Mujahidin terhadap Rezim Thaghut, dan merupakan yang paling lama dan terpanjang sejak penarikan tentara salib Eropa dari tanah kaum Muslimin, dan membentuk perwakilan mereka, berupa pemerintahan murtad untuk memerintah daerah yang telah mereka tinggalkan. Jihad mereka menghadapi banyak kesengsaraan dan penyimpangan, yang terakhir adalah penyimpangan jihad melawan rezim murtad, dengan memenuhi panggilan untuk hidup berdampingan secara damai bersama rezim yang mereka sebut "Arab Spring" dan untuk persatuan jahiliyah dengan kaum sekuler, gerakan nasionalis untuk melawan "musuh bersama". Mentalitas ini menyebabkan kebekuan operasi terhadap rezim Aljazair, semua ini hanya demi revolusi yang tidak jelas dan merugikan tauhid dan jihad.

Tapi, alhamdulillah, Daulah Islam dengan cepat menemukan para mujahidin yang haus untuk kembali melancarkan jihad mereka melawan rezim murtad, bahkan walaupun para pengaku jihad membenci hal tersebut.

Khalifah hafizhahullah mengatakan: "Wahai singa-singa tauhid di Libya, Aljazair, Tunisia, dan Maroko ... wahai para pahlawan jihad ... wahai keturunan 'Uqbah, Thariq, dan Ibnu Tashifin ... sungguh tidak ada kebaikan pada diri kalian jika kalian menyerahkan negeri kalian kepada anak-anak sekularisme sedangkan kalian masih memiliki mata yang berkedip. Tidak ada kebaikan pada diri kalian jika kalian membiarkan mereka merasa aman sedang kalian masih memiliki nadi yang berdenyut. Tidak ada kebaikan pada diri kalian jika kalian cenderung kepada dunia atau gurun atau kembali berbalik. Tidak, karena kalian diciptakan untuk kebaikan dan kebaikan diciptakan untuk kalian. Kalian adalah bahan bakar dan pendukung di setiap medan pertempuran jihad, dan kalian di antara para pemimpinnya. Kami memohon kepada Allah untuk memuliakan kalian, memberkahi kalian, dan memberikan kemenangan pada kalian."

Dan karena komitmen mereka terhadap ‘al-wala wal bara', ketika Syaikh Abu Muhammad al-Adnani membuat seruan untuk menargetkan tentara salib di setiap tempat, para mujahidin Aljazair adalah yang tercepat untuk menjawab seruannya, mereka segera memperlihatkan seorang tahanan warga Perancis untuk eksekusi jika Perancis tidak menarik diri dari Koalisi Amerika menyerang Daulah Islam, dan kemudian dia benar-benar di eksekusi ketika Perancis arogan dan bersikeras melanjutkan kejahatan mereka.

Sekali lagi, Aljazair, Libya, dan Sinai adalah daerah strategis yang dekat satu sama lain, sehingga memungkinkan untuk melanjutkan ekspansi meskipun para thaghut membencinya, dan untuk mendukung mujahidin yang telah berjanji setia kepada Khilafah di negeri-negeri lain.

DAULAH ISLAM ADA DISINI DAN TETAP EKSIS

Banyak yang bertanya apa sejarah kata "baqiyah" (tetap eksis / bertahan), mereka tidak mengetahui orang yang pertama mengatakan ini dan menulisnya ke dalam lembaran sejarah dengan darahnya. Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah mengatakan dalam pidatonya yang paling terkenal "Hashad as-sinin bi Dawlatil Muwahhidin" (Panen Tahunan di Daulah Muwahhidin) pada bulan Rabi'ul Awwal 1428 (April 2007):

"Dan sungguh Daulah Islam "Baqiyah" (akan tetap eksis). Ia "Baqiyah" karena dibangun di atas mayat para syuhada dan disirami dengan darah mereka, dan dengan demikian transaksi dengan surga telah lunas. Ia "Baqiyah" karena kemenangan yang diberikan oleh Allah dalam jihad ini lebih jelas daripada matahari di siang bolong. Ia "Baqiyah" karena tidak terkontaminasi oleh pemasukan yang haram atau manhaj yang menyimpang. Ia akan "Baqiyah" dengan kejujuran pemimpin yang mengorbankan darah mereka dan kejujuran tentara yang dengan lengan mereka daulah ini dibangun. Kami menganggap mereka seperti itu dan Allah adalah sebaik-sebaik penilai. Ia "Baqiyah" karena dia adalah gabungan dari para mujahidin dan harapan orang-orang yang tertindas. Ia "Baqiyah" karena Islam sudah mulai naik dan meninggi, kabut sudah mulai menyebar, dan kekufuran sudah mulai tersingkap dan terbuka. Ia "Baqiyah" karena permohonan kaum tertindas, air mata orang yang berduka, jeritan para tahanan, dan harapan anak-anak yatim. Ia "Baqiyah" karena kekufuran dalam semua agama dan sekte berkumpul melawan kami, dan setiap pengkhianat dan tersesat mulai memfitnah dan menjelek-jelekkan kami, sehingga kami menjadi yakin kepada tujuan dan jalan kebenaran. Ia "Baqiyah" karena kita yakin pada ketetapan Allah yang tidak akan mematahkan hati para muwahhidin yang tertindas, dan bahwa Dia tidak akan membiarkan orang-orang yang zhalim menertawakan kita. Ia "Baqiyah" karena Allah ta'ala telah menjanjikan dalam wahyu-Nya yang pasti tepat, Dia berfirman, "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa." (An-Nur: 55). "...Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti." (Yusuf: 21)."

Daulah Islam di sini untuk eksis (Baqiyah), meskipun semua Kristen, Yahudi, musyrikin, dan murtad membenci. Dan ia akan terus menyebar (tatamaddad) ke seluruh penjuru bumi ...

Tsauban meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Sungguh Allah telah menghimpun untukku bumi, sehingga aku melihat sisi timur dan baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah Allah lipatkan untukku dari bumi". (Shahih Muslim)

Khalifah berkata, "Dan motto yang diberkahi ini tidak akan berhenti sampai kita menancapkan paku terakhir di peti mati dari konspirasi Sykes Picot". (Baqiyah fil ‘Iraq wa Syam). "Dan barisan para mujahidin akan berlanjut sampai mereka mencapai Roma, dengan Izin Allah". (Walaw Karihal Kafirun)*

*Lihat halaman 4 edisi ke 4 majalah Dabiq untuk melihat ucapan syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir dan syaikh Abu Umar al-Baghdadi rahimahumullah tentang semangat mereka untuk memperluas Daulah ini hingga Indonesia, China, Spanyol dan Roma.

Semoga Allah melindungi Daulah Islam dan menolongnya hingga tentaranya melawan tentara salib di dekat Dabiq.