Rabu, 25 April 2018

PEMBEBASAN KAMP YARMUK, DAMASKUS

DABIQ 9 - LAPORAN

PEMBEBASAN KAMP YARMUK, DAMASKUS

Wilayah yang dikenal sebagai Kamp Yarmuk awal didirikan pada tahun 1957 sebagai sebuah kamp pengungsi bagi orang-orang Palestina yang lari dari agresi Yahudi terkutuk. Walau dulunya merupakan sebuah kamp pengungsi, tetapi kemudian berubah menjadi distrik padat yang lebih tampak seperti umumnya kota-kota di Suriah daripada sebuah kamp pengungsi. Rezim Nushairiyah akhirnya memasukkannya ke dalam kota-kota yang berbatasan dengan kota Damaskus.

Bulan lalu Tentara Khilafah bergerak memasuki kawasan Yarmuk dari wilayah Al-Hajar Al-Aswad yang berada di bawah kontrol Daulah Islam selama beberapa bulan. Mereka memerangi milisi Hamas lokal, Aknaf Baitul Maqdis, dan mengambil alih distrik tersebut. Kemudian muncul laporan –termasuk deklarasi faksi-faksi lokal yang ada di daerah tersebut– bahwa para pejuang Aknaf telah bergabung dengan Rezim Nushairiyah untuk memerangi Daulah Islam dan mengambil alih kembali Yarmuk.

Sifat pengkhianatan dari faksi Shahawat tersebut terlihat bahkan sebelum Daulah Islam mulai bergerak ke arah kawasan Yarmuk. Sesaat sebelum Daulah Islam memasuki kawasan tersebut, Aknaf menyimpulkan sebuah kesepakatan dengan Thaghut Bashar yang terlihat mereka memberikan penguasaan Yarmuk kepada Rezim Nushairiyah. Sungguh, pengkhianatan kontrak ini hanyalah contoh lain dari rentetan persetujuan yang dibuat antara Nushairiyah dan berbagai faksi Shahawat di kawasan tersebut. Dan ini merupakan faktor utama yang mendorong Daulah Islam memasuki Yarmuk ketika itu.

Tentu saja, pengkhianatan semacam itu yang datang dari faksi Hamas tidak mengejutkan, sebuah kesatuan Ikhwani yang mulai mencoba untuk "menormalisasi" hubungannya dengan Rezim Nushairiyah kurang dari dua bulan yang lalu. Juga tidak mengherankan ketika Pemimpin Hamas Isma’il Haniyah, sebagai respon atas masuknya Khilafah ke Yarmuk dan mengusir milisinya, menyeru para thaghut Arab dan bahkan Majusi Iran untuk mengadakan intervensi. Ikhwan, dalam berbagai bentuknya, mau menjual rakyatnya demi keuntungan duniawi dan menamai transaksi itu dengan "maslahat".

Persiapan Perang Yarmuk dimulai dalam beberapa bulan dengan berkumpulnya agen intelijen Daulah Islam, kemudian mereka berhasil menyusup sampai dengan pemimpin tingkat tinggi Shahawat dan mendapatkan informasi sensitif. Pihak intelijen mengungkapkan bahwa Aknaf tengah menyusun rencana untuk memberikan kawasan kepada Rezim Nushairiyah dengan dalih "kepentingan nasional".

Daulah Islam merespon hasil intelijen ini dengan membuat suatu rencana untuk melawan pergerakan Aknaf, dan dengan karunia Allah, mujahidin berhasil menggagalkan perjanjian tersebut. Perang untuk merebut Yarmuk dimulai ketika Daulah Islam menyerang dari berbagai arah dan mengambil alih sejumlah areal. Ketika pertempuran berlanjut, sel-sel Daulah Islam di Yarmuk dan kawasan sekitarnya terus menjalankan peran kunci, termasuk berbagai unit sel Daulah Islam di kawasan Tadamun, utara kota Yalda, berhasil memblokir sejumlah suplai dan bala bantuan yang datang dari wilayah timur laut Yarmuk.

Tentara Khilafah terus bergerak maju melawan Shahawat di Yarmuk dan berhasil mengusir mereka ke pinggiran kawasan tersebut. Pada titik ini, banyak pejuang mereka yang menyerahkan diri dengan sukarela dan sebagian lainnya terbunuh. Beberapa lagi membuat kontak dengan Rezim Nushairiyah dan faksi-faksi pro-Rezim Palestina di daerah tersebut yang kemudian mulai menyuplai mereka dengan senjata, amunisi, dan makanan. Kerjasama tahap baru dengan Nushairiyah ini cukup untuk memperlihatkan tingkat pengkhianatan Aknaf kepada penduduk Yarmuk.

Setelah mujahidin membebaskan Yarmuk, media tiba-tiba bergerak dan menyebarkan kebohongan terhadap Daulah Islam serta berteriak-teriak atas penyebab kejatuhan Yarmuk, sesuatu hal yang sebagian besar dari mereka tidak peduli sepanjang tahun-tahun atas pengepungan dan kelaparan yang diderita penduduk di kawasan tersebut.

Adapun bagi Rezim Nushairiyah, dengan cepat mereka mencari basis dukungan dengan para thaghut sekuler di kawasan Tepi Barat –yaitu PLO. Tidak lama setelah Daulah Islam mengambil alih Yarmuk, Rezim Nushairiyah mencapai kesepakatan dengan wakil PLO untuk Damaskus yang akan melihat faksi-faksi Palestina bertempur bersama Nushairiyah melawan Daulah Islam. Maka thaghut Hamas meminta tolong kepada Iran untuk ikut campur, sementara thaghut PLO setuju agar milisi mereka bertugas sebagai Shahawat Nushairiyah, persis seperti yang sering dikatakan, "’Isy Rajaban, tara ‘ajaban" (Jika kamu hidup pada bulan Rajab, maka kamu akan melihat hal-hal aneh).

Pembebasan Yarmuk terjadi dilatarbelakangi oleh sejumlah kemajuan Daulah Islam di bagian lain Wilayah Damaskus. Tentara Khilafah merebut Gunung ‘Adah di timur laut, menyapu bersih sejumlah benteng Shahawat di Pegunungan Qalamun dalam suatu serangan dinamai "La Tubqi Wa La Tadzar" (Tidak Menyisakan dan Tidak Membiarkan). Selama berlangsungnya penyerangan, mujahidin Daulah Islam berhasil membunuh komandan Jabhah Jaulani untuk wilayah timur Qalamun, serta komandan Jaisyul “Islam” untuk kawasan tersebut.

Kemenangan-kemenangan atas kamp Shahawat ini bertepatan dengan serangan berani terhadap sejumlah titik militer di daerah pedesaan Suwaida’, selatan kota Damaskus yang meliputi garis pertama pertahanan militer Nushairiyah yang termasuk ke dalam pangkalan udara Khalkhalah. Pertempuran yang panjang pun terjadi di mana mujahidin Khilafah meninggalkan militer Nushairiyah yang menjilati lukanya dengan kematian lebih dari 70 orang tentaranya. Hanya dua minggu kemudian, mujahidin terus menaburkan garam di atas luka Khalkhalah dengan menembak jatuh sebuah pesawat tempur Nushairiyah di sekitar pangkalan udara tersebut.

Dalam keadaan seperti inilah Yarmuk dibebaskan, ketika Tentara Khilafah tiba-tiba telah berada hanya beberapa kilometer jauhnya dari Istana Kepresidenan Thaghut Bashar. Perkembangan baru ini berarti bahwa faksi-faksi Shahawat di kawasan selatan Suriah melihat kota simbolik Damaskus terlepas dari tangan mereka. Mereka ingin mengklaim kemenangan bagi diri mereka sendiri dengan mengusir militer Nushairiyah keluar dari Damaskus, sehingga fikiran bahwa kota tersebut kemungkinan besar akan dibebaskan oleh Tentara Khilafah ibarat belati yang menusuk leher mereka.

Tidak lama kemudian para pemimpin Jaisyul “Islam" dan "Ahrar Asy-Syam", dua faksi utama Shahawat di medan pertarungan Syam, buru-buru terbang ke Pangkalan Militer Shahawat #1 –Turki– dan mengadakan pertemuan dengan beberapa sekutu mereka yang murtad –Turki, Qatar, dan Alu Salul– dalam upaya untuk mengeluarkan persetujuan yang bisa mengamankan kepentingan regional mereka.

Pada saat faksi-faksi Shahawat terus melaksanakan perintah rezim-rezim boneka tersebut dan pasukan Nushairiyah terus mengadakan serangkaian pemboman di Yarmuk dalam upaya yang sia-sia untuk menghentikan gerak laju Daulah Islam, Tentara Khilafah akan terus bergerak maju ke arah Damaskus, dan setelah itu, ke arah Al-Aqsha dengan izin Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Benteng pertahanan kaum Muslimin pada Hari Al-Malhamah berada di Al-Ghuthah, dekat kota bernama Damaskus, salah satu kota terbaik di Syam." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Ad-Darda’)

BERGERAK MAJU KE TIMUR DAN BARAT, DI IRAQ DAN SURIAH

DABIQ 9 - LAPORAN

BERGERAK MAJU KE TIMUR DAN BARAT, DI IRAQ DAN SURIAH

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan." (Al-Anfaal : 36)

Meskipun telah membentuk koalisi dengan puluhan negara, bersekutu dengan musuh lama di daerah tersebut –Iran– di mana milisinya menyebut mereka sebagai "Setan Besar", telah melakukan pemboman tiada henti di Irak dan Syam, merekrut berbagai milisi Shahawat dan faksi Marxis Kurdi, dan menghabiskan milyaran dolar untuk melancarkan perang media, Tentara Salib hanya bisa menyaksikan dengan pasrah ketika Daulah Islam terus maju di Iraq dan Syam, memperluas wilayahnya, baik di timur maupun barat.

Di timur, kota Ar-Ramadi –ibukota Al-Anbar– berhasil dibebaskan oleh Tentara Khilafah yang secara penuh kembali membuat tentara Shafawi mundur secara memalukan seperti di Mosul. Penduduk kota menyaksikan dan bahkan merekam lewat video, yaitu ketika konvoi Shafawi bergerak melewati mereka, lari dari mujahidin yang bergerak maju.

Hal ini terjadi setelah mujahidin Khilafah mengadakan serangan dahsyat bernama "Ghazwah Abu Muhannad As-Suwaidawi" selama direbutnya sejumlah areal dan fasilitas kunci di dalam kota dan sekitarnya, termasuk gedung "Dewan Provinsi Al-Anbar", gedung administrasi kepolisian Al-Anbar, pusat komando operasi Al-Anbar, area stadion, pangkalan Brigade ke-8, dan gedung pemerintah "kontraterorisme", di mana mereka membebaskan kaum Muslimin yang dipenjara bawah tanah milik Shafawiyin.

Kemenangan ini benar-benar didapatkan dengan perjuangan keras, namun mujahidin tidak berlama-lama merayakannya. Mereka lebih memilih untuk mengejar tentara Shafawi dan sekutu-sekutu mereka Shahawat, melanjutkan pergerakan mereka ke daerah-daerah terdekat dan bersiap-siap menghadapi pertempuran besar berikutnya.

Pembebasan Ar-Ramadi terjadi bersama dengan sebuah kemajuan besar Tentara Khilafah di sebelah barat. Mereka memperbaharui serangan ofensifnya di Wilayah Homsh. Mereka berhasil membebaskan kota As-Sukhnah dan perusahaan gas Najib Company yang letaknya tidak jauh dari sana. Selain itu juga, mereka menguasai sebagian besar kota Tadmur (Palmyra).

Kemudian mereka merebut pos perbatasan yang terletak di lapangan gas Al-Hail di jalan antara As-Sukhnah dan Tadmur. Hal ini terjadi setelah berhasil mengambil alih sebagian besar lapangan gas itu sendiri dan mengepung militer Nushairiyah di dalam perusahaan gas. Hanya beberapa hari kemudian, mujahidin menguasai perusahaan gas Arak setelah menewaskan setidaknya 170 tentara Nushairiyah dalam peperangan yang berlangsung selama empat hari. Kesuksesan ini disempurnakan dengan kemenangan besar lainnya kemarin setelah mujahidin akhirnya merebut total kota Tadmur.

Kemajuan yang dibuat oleh Daulah Islam di Al-Anbar dan Homsh, berkat karunia Allah, memperlihatkan keteguhan mujahidin terhadap serangan udara koalisi salib dan tekad mereka untuk menghukum musuh-musuh Allah di mana saja mereka menemukannya, tidak peduli banyaknya rintangan yang harus dilalui untuk meraihnya –dan ini tanpa perlu menyatakan sebuah "badai keputusan". Tentara Salib sangat meremehkan keteguhan dan kekuatan mujahidin namun makar mereka –dengan izin Allah– akan segera hancur.

Segala puji hanya milik Allah di mana semua limpahan kenikmatan dari-Nya didapatkan.

LAYANAN KESEHATAN DI DAULAH KHILAFAH

DABIQ 9 - LAPORAN

LAYANAN KESEHATAN DI DAULAH KHILAFAH

Infrastruktur Kesehatan yang Ada Sekarang

Daulah Islam memberikan pelayanan kesehatan yang luas kepada kaum Muslimin dengan menjalankan sejumlah fasilitas medis, di antaranya rumah sakit dan klinik di semua kota besar yang menawarkan berbagai macam pelayanan kesehatan, dari jenis operasi yang sulit hingga pelayanan sederhana seperti hijamah (bekam).

Infrastruktur ini dibantu oleh jaringan luas farmasi yang dijalankan oleh ahli-ahli farmasi yang berkualitas dan dikelola di bawah pengawasan dan kontrol Dewan Kesehatan. Seperti halnya di rumah sakit dan klinik dengan staf medis yang berkualitas dan terlatih secara profesional, begitu pula bagian farmasi yang hanya dijalankan oleh ahli-ahli farmasi yang berkualitas dan bersertifikat.

Persiapan Masa Depan

Dalam rangka untuk memastikan tersedianya pasokan tenaga medis yang berkualitas di masa depan, serta untuk memperluas dan meningkatkan pelayanan medis yang ada sekarang, baik dari pandangan profesional maupun Islam, Daulah Islam baru-baru ini membuka Fakultas Kesehatan di Ar-Raqqah dan Fakultas Ilmu Kesehatan di Mosul.

(gambar)
Data Statistik Gabungan Untuk Satu Bulan Di Rumah Sakit Al-Faruq Dan Aisyah (Wilayah Halab)

Untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan itu, sebuah kurikulum baru dengan rentang 3 tahun/6 semester dikembangkan oleh para pakar medis senior. Kurikulum ini terdiri dari studi teoritis intensif pada tahun pertama serta pengenalan bertahap ke arah praktek di bawah bimbingan pada tahun kedua dan ketiga. Kurikulum baru yang berorientasi praktis ini sangat kontras dengan kurikulum-kurikulum terdahulu yang di dalamnya disisipi ilmu palsu yang disponsori oleh thaghut seperti "budaya" (yaitu nasionalisme sekuler) atau mata pelajaran tak bermanfaat yang tidak relevan dengan pekerjaan seorang dokter sehari-hari. Kurikulum baru ini mencakup spesialisasi seperti operasi umum, patah tulang dan operasi ortopedi, operasi trauma, ginekologi dan obstretik, kardiologi, pediatrik dan perawatan darurat, optalmologi, operasi uriner, operasi syaraf, operasi torasik, dan operasi vaskuler.

Staf pengajar terdiri dari para penyandang gelar khusus. Gerbang ini terbuka untuk mahasiswa pria dan wanita, dengan gedung belajar khusus, rumah sakit, dan tenaga pengajar wanita bagi para mahasiswi. Untuk mendukung siswa dalam pendidikan mereka, Daulah Islam tidak membebankan bayaran apa pun dan memberikan segala apa yang dibutuhkan bagi para mahasiswa, baik itu makanan, pakaian, tempat tinggal, transportasi, dan buku-buku. Sebagai dorongan, mahasiswa yang berprestasi tinggi diberi penghargaan.

Seruan Untuk Beraksi

Seorang pekerja medis senior di Dewan Kesehatan di Ar-Raqqah menjelaskan kepada Dabiq bahwa Fakultas Kesehatan menarik lebih dari 300 pendaftar, di antaranya 100 orang diterima, separuhnya adalah muhajirin. Dia juga menjelaskan bahwa badan kemahasiswaan sangat termotifasi dan memperoleh hasil menggembirakan dalam bulan-bulan pertama, namun para staf menginginkan dukungan dari para pengajar tambahan, lebih diutamakan muhajirin yang memiliki pengalaman di bidang kesehatan. Dia juga mengindikasikan bahwa laboratorium praktek akan segera dibuka bagi mahasiswa.

Hal ini seharusnya disambut sebagai panggilan untuk bangkit bagi banyak mahasiswa Muslim di negeri-negeri kufur yang menyatakan bahwa mereka belajar untuk "kepentingan dan dukungan bagi umat Islam", namun kemudian tetap berada di negeri-negeri tersebut. Mereka mengejar kesenangan duniawi daripada melakukan hijrah ke Daulah Islam –dan hal ini terlepas dari hijrah sebagai suatu kewajiban syari’at yang tidak diragukan lagi, selain faktanya bahwa hijrah itu relatif mudah, baik dulu maupun sekarang. Daulah Islam menawarkan segala yang anda butuhkan untuk hidup dan bekerja di sini. Lalu, apa yang Anda tunggu?

BENDERA-BENDERA JAHILIYAH

DABIQ 9 – SEJARAH

DARI LEMBARAN SEJARAH :
BENDERA-BENDERA JAHILIYAH

Pada saat sejumlah faksi militer di negeri yang disebut dengan "Arab Spring (Revolusi Arab)" mengibarkan bendera-bendera yang berasal dari jahiliyah, dan disebabkan beberapa pengklaim jihad mengizinkan dan membenarkan mereka untuk mengibarkannya di daerah-daerah yang dianggap telah mereka kuasai, bahkan mendukung para pembawa bendera-bendera ini di antara tentara Shahawat murtad [1] melawan Daulah Islam, maka penting untuk memberikan penjelasan kepada umat Islam mengenai sejarah di balik bendera-bendera ini.

Asal historis dari bendera "Arab Spring" tersebut –bahkan kebanyakan bendera tersebut dibawa oleh berbagai rezim Arab murtad– bermula dari sebuah bendera yang dirancang oleh Tentara Salib Inggris Mark Sykes. Ya, Mark Sykes, si pencetus Perjanjian Sykes-Picot yang telah memecah belah negeri-negeri Muslim ke dalam negaranegara nasionalis, orang yang sama yang mempromosikan Deklarasi Balfour yang terkenal, yang menjadi latar belakang berdirinya negara Yahudi.

Warna hitam dipilih untuk merepresentasikan Daulah ‘Abbasiyah, putih mewakili Daulah ‘Umayah, hijau mewakili Daulah ‘Ubaidiyah (Fathimiyah), dan merah merepresentasikan mendiang "Syarif" [2], pemimpin Hijaz. Dalam simbolisasi ini, dia mencampurkan antara kekhalifahan Islam, Isma’iliyah murtad, dan agen-agen murtad. Dia harus memberikan kepada pengikut Arabnya sesuatu yang bersifat simbolik, historis, materiil, dan ciri khas Arab agar mereka mau mendukungnya. Bendera jahiliyah ini menjadi bendera bagi apa yang disebut "Arab Revolt" yang telah dirancangnya. Bendera tersebut awalnya dibuat di Mesir oleh Militer Inggris untuk dikibarkan oleh sekutu-sekutu mereka.

Sekutu-sekutu Sykes yang berasal dari kaum nasionalis Arab memanfaatkan baris-baris syair yang ditulis oleh Shafiyuddin Al-Hilli –wafat tahun 750 H– untuk mengabsahkan simbol-simbol jahiliyah ini. Al-Hilli mengatakan, "Amal-amal kami putih, perang-perang kami hitam, tanah-tanah kami hijau, dan pedang-pedang kami merah. Tidak diragukan lagi, baris syairnya ini ditulis ratusan tahun sebelum "Revolusi Arab".

Sykes, beserta rekan-rekan dan pemimpinpemimpinnya, memikirkan sebuah rencana untuk membagi-bagi lebih lanjut negeri-negeri Muslim yang telah hancur ke dalam negara-negara nasionalis. Negeri-negeri Muslim telah dicemari oleh berbagai kubah-kubah pagan (untuk penyembah kuburan) dan dikotori oleh hukum-hukum buatan manusia oleh para penguasa ‘Utsmaniyah, terutama dalam dua abad terakhir sebelum akhirnya kekuasaannya runtuh. Kondisi yang lemah ditambah dengan politik turkifikasi –yang dipromosikan oleh nasionalisme Turki dan mengurangi penggunaan Bahasa Arab– membantu Sykes dan sekutu-sekutunya dalam mempromosikan "Revolusi Arab".

Orang-orang Inggris mulai bernegosiasi dengan Al-Husain ibnu ‘Ali [3] ("Syarif" Hijaz – wafat 1350 H/1931 M) untuk memberontak dan mendeklarasikan sebuah negara Arab nasionalis yang merdeka. Al-Husain ibnu ‘Ali memberontak melawan mantan tuannya Turki ‘Utsmani dan mendeklarasikan dirinya sendiri, atas izin Inggris, "Sultan untuk Negeri-negeri Arab" dan "Khalifah" bagi sebuah "khilafah" nasionalis yang didirikan para salibis! Dia tidak mengobarkan jihad di jalan Allah untuk melenyapkan hukum-hukum buatan manusia dan kubah-kubah pagan dari negeri-negeri Muslim dan kemudian mendirikan sebuah kekhilafahan yang syar’i.

Akan tetapi, justru dia berperang semata-mata untuk menyatukan negeri-negeri "Arab" itu sendiri di bawah sebuah "khilafah" nasionalis yang akan berkuasa, namun di bawah perintah tuan-tuan salibis barunya.

Selama berlangsungnya berbagai pertempuran ini, dia dan putera-puteranya memimpin "Revolusi Arab". Pasukan mereka ditemani dan didukung oleh Tentara Salib Inggris, termasuk di antaranya Kolonel Cyril Wilson, Kolonel Pierce C. Joyce, Letnan Kolonel Stewart Francis Newcombe, Herbert Garland, dan Kapten T.E Lawrence (yang kemudian disebut "Lawrence of Arabia"). Tentara Salib Prancis di antaranya adalah Kolonel Edouard Bremond, Kapten Rosario Pisanim, Claude Prost, dan Laurent Depui, dan orang-orang Prancis murtad seperti Kapten Muhammad Ould Ali Raho. Inggris bahkan ikut masuk dengan mengerahkan angkatan laut dan angkatan udaranya agar Al-Husain dan putra-putranya lebih unggul dalam melawan seteru-seterunya. Al-Husain dan putra-putranya secara seksama mematuhi perintah-perintah yang didiktekan oleh Tentara Salib Inggris sebagai jaminan bagi dukungan kepada mereka. Akhirnya Inggris mengangkat mereka menjadi raja atas Suriah, Yordania, Iraq, dan Hijaz. Thaghut Yordania yang sekarang merupakan keturunan dari keluarga yang sama ini.

Keluarga Al-Husain dengan cepat kehilangan Suriah yang direbut oleh Prancis (salah satu mantan sekutu mereka), Iraq direbut oleh nasionalis Arab lainnya yang lebih "ideologis", dan Hijaz oleh murtaddin yang disokong Inggris, ‘Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud dan putra-putranya. Inggris menyadari bahwa ‘Abdul ‘Aziz dan putra-putranya tidak dapat dan tidak akan pernah menyeru untuk memperluas kerajaan mereka di luar wilayah yang telah ditentukan oleh Tentara Salib di bawah klaim sebuah "khilafah", berbeda dengan Al-Husain dan putra-putranya – dikarenakan silsilah Quraisy mereka – yang senang dengan gagasan sebuah "khilafah", walau itu sebenarnya hanyalah sebuah negara nasionalis yang didirikan oleh pasukan salibis. Dengan demikian, Inggris sendiri mengkhianati "khilafah" nasionalis yang sebelumnya pernah mereka dukung.

Berbagai rezim boneka murtad yang didirikan oleh Tentara Salib setelah masa kolonial ini memiliki versi modifikasi dari bendera pertama yang dirancang Mark Sykes, terkadang menggunakan tiga dari empat warna asal. Bendera "Arab Revolt" adalah induk dari bendera-bendera yang sekarang ini mewakili berbagai negara nasionalis Arab, di antaranya Aljazair, Mesir, Iraq, Yordania, Kuwait, Libya, Sudan, Suriah (baik milik rezim dan revolusi), Uni Emirat Arab, Yaman, dan Palestina, berbagai gerakan nasionalis Arab di wilayah Somalia, Maroko, Mali, dan Iran, sebagaimana juga Partai Ba’ats yang murtad dan "tentara" murtad Naqsyabandi mereka.

Bendera-bendera jahiliyah ini intinya merepresentasikan salibis, agen-agen murtad mereka, nasionalisme Arab, dan thaghut-thaghut boneka yang setia kepada kaum salib.

Sejarah singkat ini seharusnya menghasilkan sejumlah pelajaran :

1) Orang-orang salib tidak memiliki masalah untuk menyanjung sekutu-sekutu mereka dengan menyebarkan simbol "Islam" atau memperbolehkan sekutu-sekutu mereka untuk melakukannya, asalkan telah dicemari dengan sejumlah paham nasionalisme.

2) Orang-orang salib mengandalkan strategi "memecah-belah dan menaklukkan". Mereka menghancurkan negeri-negeri Muslim melalui nasionalisme, keberpihakan, dan bentuk-bentuk jahiliyah lainnya. Mereka bahkan mungkin saja mendukung apa yang dianggap sebagai kelompok "yang lebih Islami" melawan kelompok-kelompok yang lebih sekuler, jika mereka merasa yang terakhir tidak mampu memelihara kepentingan mereka di kawasan tersebut, sebagaimana mereka mendukung "Salafi" palsu ‘Abdul ‘Aziz melawan sufi Al-Husain. Dan hal inilah sepertinya yang terjadi di Syam. Pada saat Free Syrian Army (FSA) gagal mengamankankan berbagai kepentingan Barat sedangkan Jabhah "Islamiyah" berhasil melakukannya, maka Jabhah "Islamiyah" sepertinya akan lebih mendapat dukungan dari para Tentara Salib melalui mediator mereka di negara-negara Teluk dan Turki.

3) Bagi Tentara Salib tidak ada masalah untuk mendu- kung kelompok-kelompok yang dipimpin oleh agenagen mereka yang berjenggot dalam mendirikan kesatuan politik "Islami" yang semu, bahkan mendukungnya dengan pasukan tentara, angkatan laut, dan angkatan udara salibis, jika hal tersebut membantu kepentingan mereka yang lebih besar. Mereka akan mengandalkan proksi-proksi ini untuk menggantikan peperangan yang mereka lakukan, sehingga mengirit nyawa tentara mereka sendiri. Bagi mereka, hal ini adalah "satu dari dua kejahatan yang paling ringan".

4) Tentara Salib mencoba untuk menarik sekutu-sekutu mereka ke sebuah lereng yang licin berupa berbagai konsesi hingga sekutu-sekutu mereka tidak lagi mempunyai prinsip yang dapat dipegang dan dihargai. Agama mereka tidak lebih menjadi kepentingan pribadi dan kepentingan faksi memungkinkan mereka untuk meninggalkan hukum-hukum syari’at apa pun yang mereka kehendaki. Inilah mengapa meminta bantuan kepada orang kafir untuk melawan musuh kafir lainnya sangat berbahaya, karena syarat-syarat mereka pada awalnya tampak "polos" tapi kemudian berubah menjadi kekafiran yang nyata. Dan masalah ini jauh lebih serius ketika sebuah faksi "Islam" meminta bantuan orang-orang kafir untuk melawan muhajirin dan anshar Daulah Islam!

5) Tentara Salib pada akhirnya akan meninggalkan atau mengkhianati sekutu-sekutu murtad mereka untuk mendatangi agen-agen mereka lainnya yang lebih tenggelam dalam kemurtadan. Mereka akan memprioritaskan musuh-musuh mereka. Terkadang mereka mendukung orang-orang murtad berjenggot yang berasal dari kelompok "yang lebih Islami" atau faksi-faksi yang kelak akan mereka tusuk dari Tentara Jabhah Jaulani merayakan kemenangan bersama di Idlib dengan sekutu nasionalis mereka. Bendera jahiliah diakui oleh mereka sekarang belakang, atau membolehkan agen-agen dan sekutusekutu mereka yang lebih loyal untuk melakukan hal tersebut.

6) Tentara Salibis bisa saja menggunakan orang-orang yang memiliki simbol dan "sejarah" untuk meraih kepentingan mereka. Karenanya tidak perlu seseorang kaget dengan adanya seseorang yang memiliki sejarah dalam "dakwah" dan "jihad" duduk-duduk di atas kursi orang-orang murtad di Turki.

7) Hubungan antara Inggris, Al-Husain, dan ‘Abdul ‘Aziz tidak pernah menjadi sesuatu yang rahasia. Sebagaimana halnya hubungan antara Jabhah "Islam", Qatar, Turki, dan Alu Salul yang juga bukan rahasia, karena pertemuan-pertemuan mereka telah diketahui oleh publik. Adapun detail rencana masa lalu dan masa sekarang, maka kaum murtad tersebut telah disembunyikan dari kawanan domba-domba mereka.

Setelah membaca sejarah singkat ini, setiap Muslim seharusnya menolak kelompok mana pun yang mengibarkan panji-panji jahiliyah ini dan kelompok mana pun yang bekerjasama dengan orang-orang yang mengibarkannya dalam melawan Daulah Islam. Pengkhianatan semakin tajam di saat Shahawat mencari perlindungan dari angkatan udara Qatar dan Alu Salul yang menyerang Daulah Islam. Semoga Allah menghidupkan kembali mereka di barisan bapak-bapak mereka –Al-Husain ibnu ‘Ali [4] dan ‘Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud– pada Hari Pembalasan.

Catatan kaki :

[1] Lihat halaman 7-11 edisi 8 tentang para sekutu nasionalis Al-Qa’idah baru di Suriah dan lihat berbagai bentuk bendera mereka.

[2] Secara bahasa berarti ‘Mulia’. Para pemimpin Hijaz (Makkah, Madinah dan daerah sekitarnya) sejak 597H/1200M hingga 1344H / 1925M berasal dari keturunan Qatadah ibn Idris Al-Hasani (W. 618H) dan diberi gelar ‘Syarif’ karena silsilah Hasani mereka. Karena generasi selanjutnya murtad melalui syirik dan wala’ kepada orang-orang murtad dan salibis maka mereka tidak layak mendapat gelar terpuji ini.

[3] Karena namanya sama, maka ini perlu diperhatikan bahwa setiap kali nama Husain ibn Ali digunakan disini maksudnya adalah seorang agen salibis dan bukan anak dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

[4] Lihat footnote no. 3 halaman 21.

TEORI KONSPIRASI, SYIRIK

DABIQ 9 – ARTIKEL

TEORI KONSPIRASI, SYIRIK

"Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu." (An-Nahl: 40)

"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu." (Al-Baqarah: 117)

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar), ketika Dia berkata, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana, Mahateliti." (Al-An’am: 73)

"Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu." (Yasin: 82)

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata." (Al-An’am: 59)

"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya." (Al-A’raf: 188)

"Katakanlah (Muhammad), "Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah." (An-Naml: 65)

"Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah, baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas." (Saba': 3)

"Ataukah di sisi mereka mempunyai (pengetahuan) tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Tetapi orang-orang yang kafir itu, justru merekalah yang terkena tipu daya." (Ath-Thur: 41-42)

"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku."" (Al-An’am: 50)

"Katakanlah (Muhammad), "Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Rabb ku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan manusia itu memang sangat kikir." (Al-Isra': 100)

"Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu ataukah mereka yang berkuasa?" (Ath-Thur: 37)

Kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan mutlak, adalah sifat khusus milik Allah ta’ala. Ini selalu menjadi iman umat Islam sejak nenek moyang manusia –Adam ‘alaihis salam– menapakkan kaki pertama kali di muka bumi dan akan terus senantiasa seperti itu hingga mukmin yang terakhir meninggal sesaat sebelum hari kiamat. Hanya Allah ta’ala yang tahu rincian terkecil dari semuanya, mengendalikan semua peristiwa, dan menguasai gerak setiap partikel atom.

Bahkan orang-orang kafir zaman jahiliyah di Semenanjung Arab dahulu tidak ragu bahwa hanya Allah Yang Memiliki kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan mutlak, tetapi mereka melakukan syirik dalam banyak hal termasuk menghubungkan sebagian hal-hal ghaib kepada peramal, mempersembahkan tanaman dan ternak untuk berhala, dan menganggap bahwa berhala mereka memiliki pengaruh terhadap doa-doa Serangan penuh berkah terhadap menara kembar di New York yang mereka panjatkan.

Adapun meyakini bahwa berhala-berhala ini, para peramal dan raja-raja memiliki kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan mutlak atau semi-mutlak, maka ini terlalu berlebihan bahkan fitrah rusak jahiliyin pun tidak mentolerirnya.

Sayangnya, sikap syirik ini (baik kecil atau besar) memasuki hati dan pikiran banyak orang yang dianggap pemimpin "Islam", ulama, dan da’i –dalam meniru kaum nasionalis Arab sebelum mereka– di mana mereka mulai menggambarkan musuh-musuh Islam dengan sifat-sifat yang mendekati sifat rububiyah (Allah).

Bagi mereka, orang-orang kafir memiliki pengetahuan, kepemilikan dan kekuasaan yang semi-mutlak untuk membuat rencana dan menjalankannya sesuai dengan keinginan mereka. Hampir seolah-olah mereka memiliki kemampuan untuk mewujudkan sesuatu cukup dengan kata "kun" (jadilah)! Keburukan mereka ini menjadi sangat jelas dalam isu-isu yang berkaitan dengan jihad.

Jika seseorang ingin melakukan jihad, para pemimpin ini akan memperingatkan bahwa jihad yang sekarang adalah konspirasi untuk membunuh para pemuda Muslim yang tulus, sehingga meninggalkan negeri-negeri Muslim dan merbiarkannya jatuh ke tangan orang-orang sekuler. Jika seseorang ingin bergabung dengan jama'ah jihad, mereka akan memperingatkan bahwa itu adalah buatan kuffar demi membantu dalam mencapai kepentingan orang kafir. Jika operasi jihad –seperti peristiwa 11 September– dilakukan terhadap orang-orang kafir, mereka akan mengklaim bahwa operasi ini adalah konspirasi oleh kuffar untuk membenarkan agresi mereka terhadap kaum Muslimin.

Jika seorang pemimpin mujahid mati syahid, mereka akan mengatakan bahwa orang-orang kafir yang menggunakan dia sekarang perlu untuk menyingkirkannya karena khawatir dia memutuskan untuk keluar dan mengekspos "konspirasi" yang dulu dia menjadi bagian darinya. Jika para mujahidin membebaskan wilayah yang diduduki oleh orang-orang kafir, mereka akan mengatakan bahwa orang-orang kafir sengaja membiarkan mereka untuk melakukannya karena kepentingan kafir mengharuskan perang berkepanjangan. Jika para mujahidin mengumumkan sebuah negara Islam, mereka akan mengatakan bahwa orang-orang kafir memfasilitasi seperti itu supaya menjadi pembenaran agar mereka bisa terus menerus ikut campur tangan terhadap urusan kaum Muslimin.

Dan, menurut teori ini, hampir semua peristiwa di dunia ini entah bagaimana pasti terkait kembali kepada kaum kuffar, badan intelijen, penelitian, teknologi, dan konspirator mereka! Teori konspirasi telah sedemikian menjadi alasan untuk meninggalkan jihad, untuk kagum berlebihan kepada orang-orang kafir, untuk meninggalkan kewajiban bai'at, dan untuk mengejar dunia, semua dalam nama politik "kesadaran".

Salah satu aspek terburuk dari teori ini adalah bahwa mereka tidak membutuhkan adanya bukti, hanya sekedar "deduksi" bodoh. Dan lebih buruk lagi, banyak dari mereka yang mengklaim konspirasi ini sendiri terlibat dalam konspirasi kafir yang nyata! Anda melihat Sahwah Iraq berjuang bersama Tentara Iraq –yang didukung secara terbuka oleh Iran– sementara mereka mengklaim bahwa Mujahidin adalah agen Iran!

Anda lihat faksi Shahawat secara terbuka menyerahkan wilayah kepada rezim Nushairi, sementara mereka mengklaim bahwa mujahidin bekerja sama dengan rezim Nushairi! Anda melihat faksi Shahawat yang lain secara terbuka dan umum bertemu dengan Qatar, Turki, Alu Salul, dan Amerika, dan mendiskusikan rencana mereka untuk bekerjasama melawan Daulah Islam, sementara mereka mengklaim bahwa Muhajirin dan Ansar adalah sekutu dan agen negara asing! Anda melihat Koalisi Nasional Suriah (SNC) mempertimbangkan untuk melakukan pertemuan di Jenewa dengan rezim Nushairi, sementara mengklaim bahwa Daulah Islam berjuang untuk melayani kepentingan rezim!

Tidak ada bukti yang diperlukan untuk menyimpulkan sebuah konspirasi, hanya keinginan dan kebodohan.

Adapun ketika kerjasama dengan pihak kafir untuk melawan umat Islam terlihat jelas bagi publik, tiba-tiba itu menjadi "maslahah" ("kebaikan" yang lebih besar). Bekerja sama dengan Amerika untuk melawan Daulah Islam adalah "maslahat", dan bukan konspirasi kufur dan pengkhianatan! Bekerja sama dengan faksi-faksi yang didukung oleh para thaghut dan Tentara Salib untuk melawan Daulah Islam adalah "maslahat", dan bukan penyimpangan atau kemurtadan! Bergerak di bawah perlindungan Tentara Salib dan pesawat orang-orang murtad untuk melawan Daulah Islam adalah "maslahat", bukan gerbang menuju lapisan terdalam api neraka! Menggunakan kata-kata "hukum perdata," "negara sipil," dan "Penentuan nasib sendiri" adalah "maslahat" dan bukan mengakui tuntutan Tentara Salib dan para pendukung murtad!

Kepercayaan ekstrim terhadap teori konspirasi bervariasi antara syirik ringan dan syirik besar tergantung pada derajat kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan yang dikaitkan oleh orang yang mempercayainya kepada orang-orang kafir.

Jika seseorang menafsirkan kembali sejarah kaum Muslimin sesuai dengan teori konspirasi orang-orang ini, dia akan keluar dengan membawa kesesatan terpendam. Seseorang hanya perlu bertanya kepada teoritis ini, apakah kaum Muslimin dahulu mampu membangun negara dan memperluasnya hanya dengan persetujuan dari kerajaan Romawi dan Persia? Apakah kaum Muslimin sebagai agen dari Roma atau Persia selama perang mereka terhadap dua kerajaan musuh itu? Adakah Persia berpura-pura dalam perang mereka melawan Romawi sementara secara diam-diam menjadi sekutu mereka? Apakah umat Islam berpura-pura dalam pertempuran mereka melawan salah satu dari dua kerajaan lawan? Apakah para nabi palsu dan pemimpin yang menolak membayar zakat diam-diam adalah non-Arab yang termasuk ras asing? Jawaban atas semua pertanyaan ini tentu saja tidak. Apakah dunia berubah sedemikian besar bagi konspirasi-konspirasi besar ini untuk mengembangkan dan menundukkan dunia? Jawabannya adalah tidak.

"Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (Faathir : 43)

Terhadap para pakar teori konspirasi ini seseorang perlu menanyakan, bagaimana ayat-ayat berikut dipahami menurut teori konspirasi ini?

"Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecahbelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti." (Al-Hasyr : 14). Ayat ini menjelaskan bahwa kaum kafir bisa saja terlihat bersatu sedangkan hati mereka sebenarnya penuh dengan permusuhan dan kebencian satu sama lain. Dan kebencian ini terkadang terwujud dalam perbuatan mereka. Bagaimana mungkin konspirasi besar ini dilakukan jika para anggotanya berpecah-belah?

"Dan orang-orang Yahudi berkata, "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata, "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan", padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui (yaitu musyrikin), mengatakan seperti ucapan mereka…" (Al-Baqarah : 113). Ayat ini menjelaskan bahwa permusuhan dan kebencian di antara para pengikut agama yang berbeda tersebut terlihat dari ucapan mereka.

"Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab, "Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu". Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." (Al-Hasyr : 11-12). Ayat ini menjelaskan bahwa kemunafikan para sekutu kaum kafir terlalu sulit untuk dipercaya akan melaksanakan perintah kaum kafir tersebut. Jadi bagaimana mungkin konspirasi besar mereka akan tetap utuh selama berpuluh-puluh tahun dan berabad-abad?

"Dan di antara orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai Hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan." (Al-Maa'idah : 14). Ayat ini menjelaskan kebencian kuat para pengikut berbagai kelompok Nasrani di antara satu dengan yang lainnya.

"Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka (Yahudi). Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya." (Al-Maa-idah : 64). Ayat ini menjelaskan besarnya kebencian pengikut dari berbagai kelompok Yahudi satu dengan yang lainnya.

"Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al- Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka." (Ali ‘Imran : 19). "Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah-belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka." (Asy-Syuura : 14). Kedua ayat ini menjelaskan perpecahahan dan perselisihan Yahudi dan Nasrani serta permusuhan yang ada di antara kedua agama itu beserta sekte-sektenya.

"(Ingatlah), ketika Allah berfirman, "Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat…"" (Ali ‘Imran : 55). Ibnu Zaid rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, "Tidak ada suatu negeri di mana orang Nasrani mendiaminya, baik di timur maupun di barat, kecuali dia ada di atas Yahudi. Orang-orang Yahudi dihinakan di semua negeri." (Tafsir ath-Thabari)

Dan hal ini terlepas dari kekafiran orang-orang Nasrani. Akan tetapi, karena kaum kafir Nasrani tidak melaknat Nabi ‘Isa ‘alaihis salam ataupun menuduh ibunya yang suci berdosa, maka hal tersebut menjadikan mereka menghinakan orang-orang Yahudi yang melaknat ‘Isa dan memfitnah Maryam.

"Mereka (orang-orang Yahudi) diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan." (Ali ‘Imran : 112). Al-Hasan rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, "Umat ini mendahului orang-orang Yahudi sementara orang-orang Majusi mengambil jizyah dari orangorang Yahudi." (Tafsir ath-Thabari)

Ayat ini menjelaskan bahwa Yahudi terkutuk selalu dalam kehinaan dan ketundukan. Negara Yahudi sendiri didirikan bagi orang-orang Yahudi semata-mata oleh Tentara Salib Inggris. Dan melalui hubungan YahudiSalibis dan kemunduran diri Arab murtad sehingga orang-orang Yahudi mendapat penguasaan atas para thaghut Arab.

Oleh sebab itu, setelah membahas ini, hal-hal berikut harus dipahami ketika mengamati sejarah dan peristiwa yang sedang berlangsung.

1) Ilmu, kekuatan, dan kepemilikan orang-orang kafir adalah lemah dan terbatas. Mereka tidak melihat semuanya, mendengar semuanya, mengetahui semuanya, menguasai semuanya, dan memiliki semuanya, sebagaimana beberapa orang mencoba menggambarkan keadaan mereka seperti itu. Barangsiapa yang meyakininya, maka ia telah terjatuh ke dalam syirik.

2) Satu-satunya konspirasi lama yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ialah Iblis terkutuk. Allah ta’ala berfirman mengenai tipu dayanya, "Sesungguhnya tipu daya Syaitan itu lemah" (An-Nisaa’ : 76). Jadi, berdasarkan ayat ini, tipu daya sekutu-sekutu Syaitan bahkan lebih lemah. Justru mereka menjadi objek tipu daya Allah.

3) Orang-orang kafir berpecah-belah, diliputi permusuhan dan kebencian satu sama lain, melakukan kekerasan di antara sesamanya, menghinakan dan merendahkan sesamanya, namun mereka bersatu melawan kaum Muslim, musuh bersama mereka. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai sekutu. Sebahagian mereka menjadi sekutu bagi sebahagian yang lain" (Al-Maa-idah : 51). "Adapun orangorang yang kafir, sebagian mereka menjadi wali (sekutu, pelindung) bagi sebagian yang lain" (Al-Anfaal : 73). Akan tetapi, persatuan kaum kafir lemah dan dangkal. Mereka kerap berpecah setelah bersatu dan mengkhianati satu sama lain.

4) Orang-orang kafir tidak diragukan lagi memang melakukan konspirasi, namun berbagai konspirasi ini lemah disebabkan hubungan yang lemah di antara sesama mereka, ketidakpercayaan dan kepengecutan sekutu dan agen mereka yang munafik, ketakutan mereka terhadap kaum Muslimin lebih daripada ketakutan mereka terhadap Allah, serta ketakutan mereka akan mati dan kecintaan mereka akan dunia.

5) Konspirasi mereka yang sebenarnya selalu berdasarkan bukti dan tidak didasarkan pada deduksi yang tidak ada dukungannya –"sebagai terkaan terhadap barang yang gaib" (Al-Kahfi : 22). "Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikut persangkaan sedang sesungguhnya persangkaa itu tiada berfaidah sedikit pun terhadap kebenaran" (An-Najm : 28).

Musuh bersama dan kepentingan bersama tidak mengharuskan bahwa mujahidin adalah agen salah satu dari dua kubu kafir (terutama ketika mujahidin memerangi kedua kubu tersebut dan diperangi oleh keduanya). Mujahidin yang berperang melawan Rusia bukanlah agen Tentara Salib Amerika, sebagaimana halnya kaum Muslimin berperang melawan Kekaisaran Persia tidak berarti bahwa kaum Muslimin adalah agen Romawi!

Begitu juga ketika seseorang bercermin kepada sejarah modern, berbagai macam orang murtad yang mengobarkan perang nasionalisme selalu mempunyai hubungan terbuka dengan sekutu-sekutu kafir mereka. Konspirasi yang nyata bukanlah rahasia yang disembunyikan dari manusia. Secara terbuka Shahawat Iraq bertemu Bush, Rezim Iraq, dan para pemimpin Rafidhah. Faksi-faksi Shahawat "Islami" Iraq secara terbuka akan berperang bersama suku-suku Shahawat melawan Daulah Islam dan akan memiliki perwakilan politik umum di bawah naungan para thaghut regional. Shahawat Suriah secara terbuka bertemu di Qatar, Turki, dan Arab "Saudi". Orang-orang Amerika secara terbuka membahas dukungannya atas Shahawat Suriah dan dukungan diberikan kepada faksi-faksi "Islam"-nya oleh sekutu-sekutu Amerika –Qatar, Turki, dan Alu-Salul. Dahulu para agen "Revolusi Arab" secara terbuka bertemu di Eropa, Mesir, Jazirah Arab, Syam, dan Iraq dengan para pejabat salib Inggris.

6) Konspirasi-konspirasi besar mengandung begitu banyak faktor yang hanya mampu dikuasai oleh Allah ta’ala. Sebagai contoh, teori konspirasi besar 11 September yang diklaim dijalankan oleh Amerika sendiri. Maka berapa banyakkah anggota pemerintahan Tentara Salib yang harus selalu diawasi untuk mencegah agar berita mengenai operasi tersebut tersebar sebelum pelaksanaannya? Berapa banyak mulut yang terlibat harus ditutup di seluruh dunia agar konspirasi semacam ini tetap tidak terekspos setelah kejadian? Berapa banyak hal-hal lain yang harus dijamin untuk memelihara konspirasi mereka? Pandangan berlebihan semacam ini terhadap peristiwa tersebut hanya datang dari harga sebuah tauhid. Apakah Amerika mampu mengontrol begitu banyak faktor? Serangan tersebut terjadi atas Amerika itu sendiri, dan berdasarkan para pakar teori konspirasi, ia dilaksanakan oleh orang-orang Amerika! Berapa banyak pejabat Amerika merasa diri mereka telah melakukan "pengkhianatan" dengan mengetahui "konspirasi" dan tetap tutup mulut? Realita hanya ada pada satu hal yang jelas –kebenaran sebenarnya– dan itu adalah para mujahidin di bawah kepemimpinan Syaikh Usamah rahimahullah yang melaksanakan serangan yang penuh berkah dan berakibat pada terhinanya Amerika dalam suatu bentuk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

7) Tujuan dari teori konspirasi ialah membesar-besarkan kekuatan orang-orang kafir sehingga kaum Hasil serangan penuh berkah pada menara kembar Muslimin terlemahkan oleh analisis atas peristiwa yang sedang berlangsung dan akhirnya, ketakutan mereka kepada orang-orang kafir lebih besar daripada ketakutan mereka kepada Allah ta’ala. Ini adalah sebuah metode yang akan merusak ketawakkalan seorang Muslim kepada Rabbnya. Setiap saat, kita akan mendapati dia diliputi oleh ayat-ayat berikut: "Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah" (An-Nisaa’ : 138-139).

Berdasarkan keterangan ini, seseorang seharusnya menyadari perbedaan antara berbagai macam kelompok musuh kafir yang membentuk aliansi yang nyata –seperti koalisi Salib-Shafawi-Nushairiyah– untuk mengobarkan perang melawan Daulah Islam sehingga kepentingan berama kafir ini bisa mereka raih, dan antara keyakinan bahwa orang-orang Nasrani, Rafidhah, Yahudi, dan murtad, semuanya merupakan anggota terselubung yang berasal dari kelompok rahasia yang sama, kelompok politik bawah tanah, atau teori konspirasi raksasa yang kesemuanya memuji satu sama lain dan menyembunyikan permusuhan. Semoga Allah mengungkapkan konspirasi nyata orang-orang kafir dan melenyapkan teori konspirasi syirik dari hati kita.

KEUTAMAAN RIBATH DI JALAN ALLAH

DABIQ 9 - ARTIKEL

KEUTAMAAN RIBATH DI JALAN ALLAH

Perintah Allah untuk Melaksanakan ribath

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (ribath di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung". ( Ali Imran : 200)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, "(Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu) dalam beribadah kepada Allah, (dan kuatkanlah kesabaranmu) terhadap musuh-musuh Allah, (dan tetaplah bersiap-siaga) di jalan Allah". (Tafsir Ibnu Al-Mundzir)

Abu Ubaidah bin al-Jarrah menulis surat kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma mengadukan tentang pertempuran melawan Romawi dan kekhawatiran terhadap mereka, maka Umar menjawab surat itu dengan menulis, "Amma ba’du, sesungguhnya tidak ada kesulitan yang menimpa seorang hamba, kecuali Allah akan memberikan kemudahan baginya setelah itu, dan tidaklah satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan [1], dan Allah juga telah berfirman di dalam kitabNya; 'Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (ribath di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung'." (Al-Muwaththa' Imam Malik)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan; "Dia memerintahkan mereka agar bersabar di atas dien mereka, dan tidak meninggalkannya dan tidak meninggalkannya karena kesulitan, kemewahan, kenikmatan, atau musibah. Dia memerintahkan mereka untuk menguatkan kesabaran terhadap orang-orang kafir dan untuk melakukan ribath terhadap musyrikin." (Tafsir ath-Thabari)

Zaid bin Aslam rahimahullah berkata; "Bersabarlah kalian di atas jihad, kuatkanlah kesabaran kalian terhadap para musuh kalian, dan lakukanlah ribath terhadap para musuh kalian." (Tafsir Ath-Thabari)

Qatadah rahimahullah berkata; "Maknanya adalah, bersabarlah engkau di dalam ketaatan kepada Allah, kuatkanlah kesabaranmu terhadap orang-orang yang sesat, dan lakukanlah ribath di jalan Allah 'dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung'." (Tafsir Ath-Thabari)

Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi rahimahullah berkata; "(dan lakukanlah ribath) terhadap musuhKu dan musuh kalian hingga mereka meninggalkan agama mereka dan masuk ke dalam agama kalian." (Tafsir Ath-Thabari)

Ayat di atas merupakan perintah untuk melaksanakan sebuah perintah yang dikenal dengan ribath, yaitu berjaga-jaga di garis perbatasan, ini merupakan penafsiran Umar dan Ibnu Abbas dari kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum dan Hasan Al-Bashri, Qatadah, Zaid bin Aslam dan Muhammad bin Ka’ab dari kalangan tabi’in rahimahumullah.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Maukah kalian aku tunjukkan sebuah amalan yang dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menaikkan derajat kalian? Menyempurnakan wudhu di saata-saat yang tidak disukai (seperti air yang dingin atau ketika luka ringan), memperbanyak langkah menuju masjid (untuk shalat), dan menunggu shalat setelah shalat, dan itulah ribath."

Hadits ini mirip dengan hadits yang menjelaskan bahwa jihad adaah mencurahkan kemampuan diri dalam ketaatan kepada Allah, hijrah adalah meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah, dan Islam adalah berkata yang baik dan memberi makan orang-orang miskin [2]. Ini bukan berarti pembatasan makna ribath dengan menunggu shalat, tidak juga dengan makna seperti yang ditafsirkan oleh para ulama seperti di atas.

Karena itulah, Ath-Thabary rahimahullah mengatakan, setelah mengutip Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di dalam Tafsirnya; "Firman-Nya (dan lakukanlah ribath) artinya lakukanlah ribath di jalan Allah terhadap musuhmu dan musuh-musuh agamamu dari kalangan ahlu-syirki. Menurutku, makna ribath secara bahasa berasal dari kata irtibath (mengikat) kuda dalam persiapan menghadapi musuh sebagaimana musuh mengikat kuda-kuda untuk menghadapi mereka. Kata ribath ini kemudian digunakan untuk menyebut setiap orang yang berada di garis perbatasan (tsughur) melindungi orang-orang yang ada di belakang mereka –yang berada di tempat antara dirinya dan diri mereka– dari para musuh yang menginginkan keburukan atas mereka, dan musuh memiliki kuda-kuda yang telah terikat, atau mereka berdiri di atas kaki-kaki mereka jika mereka tidak memiliki binatang tunggangan. Kita mengatakan bahwa makna (dan lakukanlah ribath) adalah lakukanlah ribath terhadap musuhmu dan musuh-musuh agamamu, karena makna ini adalah makna yang telah difahami dari kata ribath, dan sebuah kata semestinya digunakan dengan makna yang sudah diketahui secara umum sebagaimana digunakan oleh orang-orang, bukan dengan makna yang samar, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan bahwa kata tersebut ditujukan kepada makna lain, baik itu ayat dari Al-Qur’an, hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau ijma’ dari para ulama tafsir".

Ibnu Qutaibah rahimahullah juga berkata; "(dan lakukanlah ribath) di jalan Allah. Makna asalnya secara bahasa adalah murabathah (ribath) adalah mengikat; di mana orang tersebut mengikat kudanya, dan kemudian salah seorang dari mereka mengikat kuda mereka di garis depan perbatasan (tsughur). Setiap mereka menyiapkan kuda untuk rekannya. Sehingga keberadaan mereka di garis perbatasan disebut ribath". (Gharibul Qur'an)

Banyak orang juga tidak membedakan antara ribath (mempertahankan garis perbatasan) dan hirasah (tugas jaga). Seseorang mungkin disebut murabith (orang yang ribath) walau dia tidak hirasah, seperti seorang murabit yang berada di perbatasan yang tidur, makan, berlatih, berbincang, membaca atau shalat, baik sebelum atau sesudah gilirannya hirasah. Dia mungkin juga menjadi seorang murabith walau di sana dia memasak dan bersih-bersih untuk para murabith lainnya, sambil tetap menunggu dan siaga untuk mempertahankan perbatasan jika ada orang-orang kafir menyerang, bahkan walau dia belum pernah mendapat giliran hirasah, karena pelayanannya dibutuhkan oleh orang lain selama di ribath, seperti yang diperintahkan oleh amirnya. Dia seorang Murabith bahkan jika gilirannya untuk hirasah tidak kunjung datang, tidak juga datang untuk waktu yang sangat lama, atau tidak pernah datang sama sekali, selama dia tulus berkomitmen untuk melakukan hal itu jika gilirannya memang datang. Dia adalah seorang Murabithun (bentuk jamak dari murabith) bahkan jika pos perbatasan yang dia jaga dalam keadaan tenang, meskipun balasan untuk menjaga pos yang berbahaya adalah lebih besar. Dan hirasah adalah tingkatan mulia dari Jihad yang diberikan kepadanya oleh Allah ta’ala selama dia melakukan ribath dan itu menjadi wajib atasnya jika amirnya memerintahkan hal itu padanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Dua mata tidak akan pernah disentuh oleh api Neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga karena berjaga di jalan Allah." (Hasan: diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas)

Alangkah mulia balasan sebuah mata yang terjaga karena menjaga kaum muslimin!

Kemuliaan Satu Hari Di Dalam Ribath

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Satu hari ribath di jalan Allah adalah lebih baik dari pada dunia dan seisinya, tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga lebih baik dari dunia dan seisinya". (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Ribath sehari semalam lebih baik daripada puasa dan shalat malam sebulan penuh, jika dia meninggal maka amalannya senantiasa mengalir sebagaimana yg pernah dia amalkan, mengalir pula rizkinya & terbebas dari fitnah (kubur)." (Diriwayatkan oleh Muslim dari Salman)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Satu hari ribath di jalan Allah adalah lebih baik dari seribu hari dihabiskan untuk selain itu." (Hadits Hasan; diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa'i dari Utsman bin Affan)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata; "Satu hari ribath di jalan Allah lebih aku cintai dari pada shalat malam pada malam Lailatul Qadar di salah satu dari dua masjid; Masjid al-Haram dan Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam." (Sunan Sa’id bin Manshur)

Hal yang bisa membantu kita memahami mengapa pahala ribath sangat besar adalah apabila kita merenungkan bahwa orang yang beribadah kepada Allah –termasuk para ulama– tidak akan mampu melakukan amal ibadah mereka jika tidak karena para murabithin yang menjaga pos perbatasan. Jika para murabithin meninggalkan posisi mereka, meninggalkan mereka tanpa perlindungan, semua kota Muslim, kota, dan desa-desa akan berada di bawah ancaman untuk diserang dan digeledah orang-orang kafir.

Dengan demikian, para ulama mengatakan bahwa Murabitun mendapatkan pahala dari semua Muslim yang ada di belakangnya yang beribadah kepada Allah, karena dengan ribathnya itu memungkinkan mereka untuk fokus dalam ibadah mereka kepada Allah, sebagaimana seorang Muslim yang peduli kepada keluarga Mujahid selama ketidakhadirannya, dia akan mendapat pahala jihad seorang Mujahid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Dan barangsiapa yang mengurus keluarga orang yang berperang di jalan Allah dengan baik maka sungguh ia telah ikut berperang." (HR al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Zaid Khalid)

Kaum Salaf Dan Empat Puluh Hari ribath

Salah seorang Anshar datang kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Umar bertanya kepadanya; "Dari mana saja engkau?" dia menjawab; "Dari melakukan ribath", Umar bertanya lagi; "Berapa hari engkau melakukan ribath?" dia menjawab; "Tiga puluh hari". Umar berkata kepadanya; "Kenapa engkau tidak melengkapinya dengan melakukannya selama empat puluh hari?". (Mushannaf Abdur Razzaq)

Anak Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum melakukan ribath selama 30 hari, lalu dia pulang, maka Ibnu Umar berkata kepadanya; "Aku tekankan engkau sebaiknya kembali dan melakukan ribath sepuluh malam lagi hingga genap menjadi empat puluh hari." (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata; "ribath yang sempurna adalah selama empat puluh hari." (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)

Berdasarkan atsar ini dan lainnya, ketika Imam Ahmad rahimahullah ditanya; "Berapa lamakah waktu terbaik untuk ribath?" Dia menjawab; "Empat puluh hari". Ishaq bin Rahawaih berkata; "Ini sebagaimana yang dia katakan". (Masa'il al-Imam Ahmad wa Ishaq ibnu Rahawaih)

Atsar-atsar ini menunjukkan bahwa ketika seseorang hendak melakukan ribath, maka yang terbaik baginya (dan bukan hal yang wajib) untuk melakukannya setidaknya empat puluh hari atau lebih, sebelum dia kembali ke tempatnya untuk beristirahat. Ini adalah ribath menurut manhaj kaum salaf.

Kemuliaan Meninggal Di Saat ribath

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Semua orang yang meninggal maka amalnya akan terhenti di saat dia meninggal, kecuali murabith, amalnya akan terus berkembang hingga hari kiamat, dan dia aman dari fitnah kubur". (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Fadalah bin Ubaid)

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Muslim dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu di atas telah menyebutkan; "Jika dia (murabith) meninggal maka amalannya senantiasa mengalir sebagaimana yg pernah dia amalkan, mengalir pula rizkinya & terbebas dari fitnah (kubur)".

Kematian ini adalah kematian yang paling mulia dan pahala ini telah dijamin bagi seorang Murabitun yang meninggal di saat ribath, bahkan jika kematiannya adalah karena penyakit, usia, atau kecelakaan. Berapa banyak lagi kemuliaan apabila kematiannya adalah kesyahidan yang disebabkan oleh serangan udara dari Tentara Salib dan sekutu murtad mereka?

Pahala seseorang yang tetap mengalir walau orang tersebut telah meninggal, telah disebutkan di dalam hadits yang lain.

"Apabila bani Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal; Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoakannya". (Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah)

Pahala dari sedekahnya, ilmu, dan anaknya senantiasa mengalir selama sedekah itu masih ada, ilmu itu masih bermanfaat dan anak itu masih berdoa untuk orang tuanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini secara langsung dan dalam hadits lainnya secara tersirat, sedangkan pahala orang yang gugur ketika ribath, dia akan terus berkembang dengan sendirinya tanpa ada hubungan dengan kondisi lain, dan ini hanya bagi murabith! Pahala ini tidak disebutkan bagi orang yang mati syahid dalam pertempuran, tetapi bagi seorang murabith yang sedang menjalankan tugas ribathnya yang mungkin saja meninggal karena faktor usia atau ketika sedang tidur untuk istirahat! Maka alangkah muliah kematian ini?! Dan berapa banyak dorongan bagi seseorang untuk senantiasa berdoa agar mendapkan kematian paling mulia –syahadah– di saat sedang ribath!

Ribath Dan Jihad Terbaik

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Permulaan urusan ini adalah kenabian dan rahmat, kemudian datang kekhalifahan dan rahmat, kamudian akan datang kerajaan dan rahmat, kemudian akan datang imarah dan rahmat, lalu setelah itu akan saling menggigit satu sama lain terhadap dunia sebagaimana keledai yang menggigit. Maka lakukanlah jihad, dan sesungguhya sebaik-baik jihad kalian adalah ribath, dan sebaik-sebaik ribath kalian adalah di ‘Asqalan". (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan sanad hasan). ‘Asqalan adalah nama kota di Palestina.

Hadits yang serupa juga diriwayatkan dengan sedikit perbedaan dalam redaksi kalimatnya (dengan penambahan dan pengurangan), baik itu sabda dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ataukah dari perkataan beberapa shahabat radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim). Wallahu a’lam.

Dalam riwayat lain juga ditunjukkan bahwa ribath menjadi jihad yang terbaik setelah masa-masa penguasa muslim yang penyayang dari kalangan para khalifah, yaitu pada masa raja-raja muslim tiran, masa mereka adalah sebelum masa para pemerintah thaghut murtad ini, yang mana era ini akan berakhir dengan bangkitnya era khilafah, wallahu a’lam.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Dalam pandanganku, tidak ada yang menyamai pahala jihad dan ribath. ribath mempertahankan kaum muslimin dan keluarga mereka. Ini menguatkan orang-orang yang ada di pos perbatasan dan orang-orang yang di medan pertempuran. Karena itu, ribath adalah akar dan cabang dari jihad. Jihad lebih baik dari ribath karena kesulitan dan kelalahannya… ribath yang terbaik adalah yang paling sengit." (Al-Mughni)

Dengan demikian, jika tidak ada kebutuhan untuk menambah jumlah murabithin (yang hanya dapat ditentukan oleh Imam), seseorang sebaiknya tidak lebih memilih pertempuran dari pada ribath karena ketidaksabaran atau asumsi pribadi, dan seseorang melakukan ribath pada umumnya dan kembali untuk itu setelah bertempur, sehingga berperang dalam medan pertempuran adalah lebih baik karena mengandung bahaya dan kesulitan. Jika tidak, seseorang harus tahu bahwa berjuang dalam pertempuran untuk menghindari ribath adalah tidak tepat bagi seorang Mujahid sejati untuk sekedar dipertimbangkan. Hal ini dapat mencapai tingkat dosa besar jika dia diperlukan untuk ribath tapi dia enggan atau tidak mematuhi perintah pemimpin. Semakin banyak pikiran seperti ini maka akan semakin berbahaya ketika semua pos perbatasan merupakan prioritas para Tentara Salib dan murtad dalam usaha mereka merebut tanah Khilafah?

Petunjuk dan Rahmat Allah atas Para Murabithun

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata; "Jika engkau melihat orang-orang berselisih, maka berpeganglah kepada para mujahidin dan orang-orang yang berada di garis perbatasan (ahlu tsughur) karena Allah berfirman; "Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh Kami pasti akan memberi mereka petunjuk kepada jalan Kami" (al-Ankabut: 69)." (Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir Al- Qurthubi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayim (rahimahumullah) juga menyandarkan perkataan ini kepada Al-Auza’i, Ibnul Mubarak, Imam Ahmad dan lainnya (rahimahumullah). (Majmu’ al-Fatawa; Madarijus Salikin)

Setelah mengutip perkataan Ibnul Mubarak dan Imam Ahmad ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Secara umum, tinggal di perbatasan, melakukan ribath, dan membiasakan diri dengan ribath adalah sesuatu yang berat. Pos perbatasan (tsughur) dihuni oleh Muslim terbaik dalam ilmu dan amal. Itu adalah tanah terbaik untuk membangun ritual Islam, realitas Iman, dan amar ma’ruf nahyi munkar. Setiap orang yang ingin mendedikasikan dirinya untuk beribadah kepada Allah, mengabdikan dirinya kepada-Nya, dan mencapai zuhud, ibadah, dan kesadaran terbaik, maka para ulama akan mengarahkannya ke pos perbatasan." (Jami'ul Masa'il)

Al-Mundziri rahimahullah memberikan judul di dalam kitabnya "At-Targhib wa At-Tarhib" dengan "At-Targhib (dorongan) Bagi Orang Yang Berperang Dan Murabith Untuk Memperbanyak Amal Shalih Seperti Shalat, Puasa, Dzikir Dan Lain Sebagainya", dia kemudian membawakan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; "Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun". Dia kemudian juga membawakan hadits-hadits lain yang menjelaskan bahwa amal shalih yang dilakukan di saat jihad akan dilipat gandakan pahalanya. Dia kemudian berkata; "Dan yang jelas, seorang murabith juga fi sabilillah, sehingga pahala amal shalih yang dikerjakannya juga dilipat gandakan sebagaimana amal shalih seorang mujahid dilipatgandakan".

Kesempatan untuk beramal shalih bagi murabith juga lebih banyak dibanding seorang yang sedang berperang, dia mungkin bisa shalat, puasa, membaca, mengajar, dan lain sebagainya dengan mudah, sedangkan orang yang sedang berperang tersibukkan oleh ganasnya peperangan, bahkan dalam beberapa keadaan hal ini bisa menggugurkan kewajiban berpuasa dan membolehkan mereka untuk menunda pelaksanaan shalat wajib.

Pada ayat yang disebutkan di atas (Al-Ankabut: 69) menunjukkan bahwa seseorang yang mencari ilmu ketika sedang ribath maka dia akan diberkahi dengan petunjuk Allah terhadap si hamba. Seorang murabith dapat menghafal al-Qur’an dan mempelajari tafsirnya, menghafal hadits dan mempelajari maknanya. Dia juga dapat mempelajari tauhid, iman, adab, zuhud, fiqh, sirah dan lain sebagainya…

Dan ketika dia berdoa kepada Allah agar dia diberi kemampuan untuk mempraktekkan apa yang telah dia pelajari, maka dia akan dapati bahwa do’anya dikabulkan dan petunjuk yang dia inginkan diberikan. Ribathnya –insya Allah– akan menjaga ilmunya bersemayam di dalam hati dan pengaruhnya akan dirasakan di lisan dan anggota badan. Begitu juga hadits-hadits lain yang bahwa ribathnya juga akan memperbanyak keberkahan pada amal ibadah lainnya yang dia kerjakan di saat berada di pos perbatasan (tsughur).

Ribath Dan Jalan Menuju kesyahidan

Sejak kebangkitan jihad lebih dari tiga puluh tahun lalu, pemimpin Mujahid telah menyatakan bahwa jihad itu –pada tingkatan pribadi– terdiri dari langkah panjang menuju Syahadah (kesyahidan). Hal pertama yang dilakukan adalah melakukan Hijrah ke tanah jihad (sekarang, Darul-Islam), kemudian memberikan bai’at, berjanji setia yang mengharuskan ketaatan (sam'u wa tha'ah) kepada Amir (sekarang, Khalifah) dan berkomitmen terhadap Jama'ah (sekarang, Khilafah), kemudian berlatih (i'dad) untuk tujuan jihad, lalu bersabar menghabiskan bulan-bulan ribath, menjalani tugas jaga (hirasah) yang tak terhitung jumlah jamnya, kemudian berperang (qital) di medan pertempuran dan membunuh (qatl) siapa saja yang dapat dia bunuh dari kalangan musuh kafir, dan akhirnya mencapai Syahadah.

Jalur ini didasarkan pada teks-teks dari Qur'an dan Sunnah [3] yang menghubungkan amal ini satu sama lain, dari pengalaman yang diperoleh dengan menghidupkan jihad dari hari ke hari, dan memperhatikan para Syuhada dan kafilah mereka. Tentu saja, selalu ada pengecualian, seperti seorang Muhajir yang mencapai syahadah selama di kamp pelatihan atau Murabitun yang meraihnya pada hari pertama ribath. Tapi ini adalah peta jalan setiap Mujahid yang harus difahami demi untuk memaksimalkan buah dari jihad itu. Jika tidak, bagaimana kita bisa mengharapkan seseorang untuk bersabar di medan perang yang menakutkan sementara dia tidak mampu bertahan menghadapi kesulitan ribath?

Catatan kaki :

[1] Beliau merujuk pada ayat 5-6 surat Al-Insyirah.

[2] Lihat rubrik Hikmah pada edisi ini.

(3) Lihat sebagai contoh pada Dabiq edisi 1 halaman 30-31 dan Dabiq edisi 2 halaman 18-19.

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 2)

DABIQ 9 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA’IDAH DI SYAM (BAGIAN 2)

Lebih dari sebulan yang lalu, sejumlah koalisi Shahawat baru terbentuk, baik yang bersekutu dengan Jabhah Jaulani atau masuk ke dalam Jabhah Jaulani itu sendiri. Salah satu koalisi lama yang beraliansi dengan Jabhah Jaulani melawan Daulah Islam ialah Jabhah Syamiyah beserta seluruh faksi nasionalisnya [1].

Belum lama ini, satu koalisi lagi terbentuk di Idlib dan dinamai "Jaisyul Fath". Anggota faksinya terdiri dari Jabhah Jaulani dan Failaq Asy-Syam. Di bawah ini, anda akan membaca deklarasi resmi Failaq Asy-Syam, salah satu sekutu utama Jabhah Jaulani melawan Daulah Islam. Setelah membaca deklarasi tersebut, seharusnya sudah tidak lagi menjadi rahasia bahwa faksi ini dan yang semacamnya bekerja untuk melaksanakan agenda para thaghut di kawasan tersebut.

Kemurtadan Failaq Asy-Syam dinyatakan di dalam deklarasi sesatnya berikut ini:

Pernyataan Penting dari Failaq Asy-Syam

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam; serta shalawat dan salam tercurah kepada Rasul-Nya yang mulia.

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hajj : 40)

Berangkat dari rasa tulus yang dalam dan hubungan persaudaraan antara rakyat Suriah dan revolusi serta antara Kerajaan Arab Saudi –baik pemerintah maupun rakyatnya– dan sebagai tanggapan atas apa yang dikehendaki oleh tuntutan bangsa Arab dan Islam kepada kita untuk berdiri bersama Kerajaan Arab Saudi, yang tidak pernah terlambat mendukung urusan bangsa Arab dan umat Islam bahkan satu hari, dan sebagai tanggapan atas apa yang harus dilakukan dalam fase kritis ini agar kepentingan umat Islam tercapai melawan misi sektarian pemecah-belah yang dilakukan oleh pemerintah Iran dan bahayanya bagi umat Islam seluruhnya…

Maka kami yang berada di dalam Failaq Asy-Syam, mengumumkan dukungan total dan sokongan tetap kami serta berdiri bersama Kerajaan Arab Saudi dengan ketetapan hati dan kekuatan di bawah kepemimpinan Pelayan Al-Haramain Asy-Syarifain, Raja Salman ibnu ‘Abdil ‘Aziz Alu Sa’ud, untuk mengusir kekuatan angkuh, jahat, dan rusak yang dengan cepat menyerang tanah yang diberkahi Yaman dan melanggar tanah suci Haramain demi kepentingan asing, kedengkian, pemecah belah oleh rencana Shafawi. Kami menyatakan bahwa misi sektarian ini bertujuan untuk memecah-belah umat Islam, melemahkan kekuatannya, merampas kekayaannya, dan menduduki tempat-tempat suci kaum Muslim di Makkah Al-Mukarramah dan Al-Madinah Al-Munawwarah. Ini adalah hal yang tidak akan kita biarkan untuk terjadi, bagaimanapun keadaannya.

Karena itulah, kami telah mempersiapkan dua ribu prajurit dari pahlawan Failaq Asy-Syam berada di bawah komando Pelayan Al-Haramain Asy-Syarifain, Raja Salman ibnu ‘Abdil ‘Aziz Alu Sa’ud, sehingga mereka membela negeri Haramain yang mulia dan mengalahkan musuh-musuh umat Islam di antara pengikut dan angkatan bersenjata Iran di negeri saudara-saudara kita Yaman. Kami melakukan ini untuk menolong kebenaran dan atas dasar loyalitas kepada orang yang berdiri dan mendukung perjuangan rakyat Suriah. Kami sesungguhnya berdiri dalam rangka membela tempat-tempat suci umat Islam melalui kontribusi sederhana kami, yaitu berupa dua ribu pejuang dari anak-anak terbaik Syam.

Kami mengajak negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk bersegera menghadapi makar Shafawi ini dan berjuang untuk menghentikan semua orang yang membiarkankan mereka melanggar kesucian kita dan tempat-tempat suci kita. Sesungguhnya sikap kurang ajar Iran dan para pengikutnya tidak akan bisa dicegah kecuali dengan tekad [2], dan itu tidak akan bisa dihentikan kecuali dengan bahasa tekad. Dan inilah apa yang sedang kita lakukan saat ini yaitu dengan kekuatan dan tekad, kita memohon kepada Allah ta’ala pertolongan dan keteguhan."

"Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang." (Ash-Shaaffaat : 171-173)

Dan akhir seruan kami ialah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Failaq Asy-Syam
25 Rajab 1436 / 14 Mei 2015

Selesai pernyataan mereka yang sesat.

Penting untuk dicatat bahwa ketika murtaddin (para thaghut dan Rafidhah) berperang satu sama lain, tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk mendukung salah satu kelompok murtad melawan kelompok murtad lainnya dengan berperang di bawah kepemimpinan salah satu kelompok atau berperang dalam rangka membela mereka.

Allah Ta’ala berfirman, "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut. Maka perangilah wali-wali Syaitan itu." (An-Nisaa’ : 76)

Sehingga tidak boleh bagi seorang Muslim berperang melawan Alu Salul di bawah kepemimpinan Rafidhah Houtsi ataupun berperang melawan Rafidhah Houtsi di bawah kepemimpinan Alu-Salul. Jika dia berperang di bawah kepemimpinan thaghut dalam rangka membela rezim kufur, maka dia telah keluar dari islam. Karena itu seorang Muslim harus mengetahui kewajibannya ketika dia melihat orang-orang murtad berperang satu sama lain, ketika itu dia harus menyatakan bara'ah (berlepas diri) dari kedua kelompok murtad itu dan –jika mampu– berjihad melawan keduanya di jalan Allah.

Adapun penyebab di balik keluarnya deklarasi sesat ini, tidak lain sikap ketergantungan faksi ini terhadap bantuan thaghut. Pada awalnya thawaghit menjebak mereka dengan bantuan yang dikira "tulus" dan "tanpa syarat" sebelum mereka menuruni konsesi curam dan licin yang berakhir dengan kemurtadan yang nyata.

Maka dengan demikian, akankah para pengklaim jihad dari Jabhah Jaulani mengobarkan "jihad" melawan sekutu-sekutu mereka, yaitu budak-budak Alu Salul yang tidak tahu malu? Atau apakah ada alasan tanpa batas yang telah disiapkan bagi setiap pernyataan kemurtadan nyata yang mereka buat? Secara terbuka, saat ini Alu-Salul menduduki sejumlah tempat di Idlib, Halab, dan Syam –secara keseluruhan– melalui "legiun" ini, Zahran ‘Allusy, dan ikhwan mereka dari Jabhah "Islamiyah". Lebih parah lagi, faksi-faksi "Jaisyul Fath" disebut sebagai "Ahlus Sunnah" dan "mujahidin yang ikhlas" oleh Al-Jaulani dalam pidatonya akhir-akhir ini!

Semoga Allah membongkar kemunafikan dan kemurtadan sekutu-sekutu "Al-Qa’idah" di Syam.[3]

Catatan kaki :

[1] Untuk pembahasan lebih lengkap tentang aliansi ini baca "Aliansi Al-Qaidah di Syam (Bagian 1)" pada Dabiq edisi 8

[2] Catatan editor: ini dan seterusnya penggunaan kata ini merujuk pada istilah "Badai Keteguhan" yang diumumkan oleh Alu Salul

[3] Sikap hizbiyah dan Irja' ini yang memungkinkan "al-Qa'idah" Suriah untuk mendukung faksi murtad ini memerangi Muhajirin dan Anshar. Lihat "Hizbiyin dan Zona Abu-Abu" pada Dabiq edisi 7 halaman 62-66 dan "Irja' Dari Pengklaim Jihad" pada Dabiq edisi 8 halaman 52-56 untuk membaca tentang penyimpangan pengklaim jihad ini dan bagaimana hal itu membawa mereka pada jalan gelap ini.