Rabu, 25 April 2018

MAKA KELAK KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN KEPADA KALIAN

RUMIYAH 4 - STATEMEN

MAKA KELAK KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN KEPADA KALIAN
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH : SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami, serta kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa yang Dia beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka tiada yang dapat memberi petunjuk baginya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam tasliman katsiron ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Allah ta'ala berfirman, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 14-16)

Kepada para Mujahidin fii Sabilillah di setiap tempat.
Wahai Junud Khilafah yang sabar dan penggenggam bara api.
Wahai para pelindung Dien dan kehormatan!
Wahai para pengorban jiwa dengan murah di jalan Allah!
Wahai kalian yang menghadang agresi Salibis paling sengit di sepanjang sejarah, dengan dada-dada kalian.
Dan kalian yang menjaga benih-benih Islam dengan darah kalian.
Wahai kalian yang menggetarkan umat-umat kafir dan tentara-tentara murtad dengan keberanian dan ketabahan hati kalian.

Kalian buat bingung seluruh alam ini dengan ketabahan dan kesabaran kalian. Aku wasiatkan pada kalian apa-apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu. Beliau bersabda padanya:

“Jika seandainya seluruh makhluk itu ingin memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang belum Allah tentukan atasmu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikannya kepadamu, dan jika mereka ingin menimpakan madharat kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah tentukan menimpamu, maka sungguh mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan ketahuilah bahwa didalam kesabaran yang kalian benci itu sesungguhnya terdapat kebaikan yang banyak, dan sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama dengan kesusahan, dan bahwasannya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (HR. Ahmad)

Umar radhiyallahu anhu pernah berkata kepada para pembesar Bani Abbas, “Dengan apa kalian memerangi musuh kalian?” Mereka menjawab, “Dengan kesabaran. Tidaklah kami menghadapi suatu kaumpun kecuali kami akan bersabar menghadapi mereka seperti mereka bersabar ketika menghadapi kami.”

Sebagian salaf berkata, “Kita semua membenci kematian dan pedihnya luka, akan tetapi kita akan lebih unggul jika bersabar.”

Maka bersabarlah kalian wahai saudara-saudaraku dalam Jihad! Teguhkanlah diri kalian dan berbahagialah! Karena demi Allah, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang menang. Ujian yang kalian lalui ini tidak lain hanyalah sebuah episode dari episode demi episode ujian lainnya, yang dengannya Allah merahmati hamba-hamba-Nya, untuk memisahkan yang buruk dari yang baik. Kemudian Dia akan mempersiapkan kalian untuk mengemban amanah yang lebih berat, dan tanggung jawab yang lebih besar.

Tiada lain yang terkandung dalam ujian ini tidak melainkan anugrah, ia tidaklah lebih sulit daripada masa kesulitan yang telah berlalu. Sebelumnya telah lewat berbagai macam cobaan yang seandainya di timpakan kepada gunung yang kokoh itu niscaya ia akan bergoncang dengan keras, namun kalian senantiasa bersabar atasnya dan kalian tetap teguh di dalamnya. Bahkan, kalian keluar dari rentetan ujian itu dengan keteguhan yang lebih kuat dan kian kokoh.

Wahai bala tentara Mujahidin di Irak dan Syam!
Wahai orang-orang yang terasing lantaran keislamannya.

Kubu kebathilan telah tertipu oleh dunia yang fana, dibohongi hasrat, menumbuhkan kepercayaan diri yang berlebih. Setanpun meniupkan kesombongan ke dalam hidungnya, membangkitkannya, berlagak kuat, lalu menyerbu Darul Islam dan bumi Khilafah dengan serangan yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah manusia yang lalu.

Inilah Salibis Amerika dan Eropa, si Atheis Rusia, Majusi Iran, bersama si Sekuler Turki, Atheis kurdi, Nushairiyah pun halnya para Shahawat serta milisi-milisinya, para Thawaghit Arab dan bala tentaranya, mereka semua berkumpul dalam satu parit, berbekal peralatan tempur mereka yang modern, dan dibantu oleh kedustaan media yang menjijikkan.

Motto mereka satu, “Menghabisi Islam dan umatnya.”
Slogan mereka satu, “Siapakah yang lebih kuat dari kami!”

Maka mereka datangi kalian dengan kemarahan dan senjata mereka, serta mereka jadikan hewan-hewan ternak tunggangan mereka, orang-orang murtad dari bangsa kalian sendiri sebagai tumbal di permulaan perang. Mereka menggiringnya ke arah kalian, hingga mereka sampai di halaman rumah kalian. Pintalah bantuan untuk memerangi mereka dengan kesabaran dan ketabahan, dengan kekuatan dan keteguhan.

Sungguh Rafidhah telah datang dengan pasukan berkuda dan pasukan daratnya di bumi Tal Afar, terbujuk rayu oleh dendam, dan tergiur oleh kekayaan Darul Islam untuk dirampasnya, dan menyiksa Ahlus Sunnah yang ada di dalamnya. Maka janganlah kalian membiarkan musuh-musuh Allah mengambil kembali nafasnya atau menancapkan kembali tameng-tamengnya. Lancarkanlah aksi demi aksi serangan penyergapan, berperanglah tanpa henti pun rasa ampun pada musuh, karena sesungguhnya kalian sedang memerangi kaum yang tidak memiliki akal maupun petunjuk, tidak memiliki agama dan tidak akan tertolong di dunia.

Mereka digiring oleh Salibis untuk menggantikannya sebagai pasukan di medan peperangan dan pertempuran. Demi mewujudkan tujuan dan cita-cita mereka untuk memecah-belah wilayah kaum muslimin, menundukkannya dan penduduknya di bawah hukum Rafidhah Majusi, demi Allah hal itu tidak akan terwujud!

Maka tatkala kedua pasukan telah bertemu di medan perang, penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka! Hancurkanlah peralatan-peralatan tempur mereka! Serbulah mereka! Kejutkanlah mereka dengan serangan di benteng-benteng mereka! Agar mereka merasakan sebagian dari kebengisan kalian, dan kalian tidak akan berhenti hingga Allah memberikan kekuasaan pada kalian untuk mengalahkan mereka.

Dan janganlah kalian membisikkan keinginan untuk lari dari pertempuran ke dalam jiwa kalian! Demi Allah jika kalian lari, kalian tidaklah lari kecuali meninggalkan kehormatan yang tiada lagi pelindungnya, kalian tidaklah lari kecuali dari agama yang mengadu kepada Allah bahwa kaum ini telah menyia-nyiakannya, pun halnya para Anshar yang mereka telantarkan. Ingatlah selalu, firman Allah ta'ala,

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta‘atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfal: 45-46)

Dan firmanNya, “Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’ Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 146-148)

Demi Allah, kita melihat Allah memperdaya para Salibis, murtadin, dan Atheis untuk melenyapkan mereka. Dengan izin Allah, ini adalah agresi terakhir mereka! Dan sebentar lagi kita akan memerangi mereka di negeri tempat tinggal mereka, inilah keyakinan kami kepada Dzat yang Maha Esa, dan prasangka baik kita kepada Dzat yang Esa lagi tempat bergantung.

Wahai ummat Islam dan para singanya di Raqqah, wahai para pemberani dan para kesatria, pemilik kemuliaan, harga diri, dan kehormatan.

Bukanlah para wanita (PKK) fajir lagi kafir telah merampas bumi kaum Muslimin, setelah mereka tak sanggup menghasilkan para lelaki yang menggantikan urusan mereka. Dan orang-orang kafir dari segala sekte dan penyembah berhala berdatangan pada mereka, demi menolong kebathilannya, memerangi Islam dan pemeluknya. Katakan padaku, demi Rabb kalian, bagaimana jadinya jika kalian tidak menangkal serangan pasukan Atheis dari kalangan milisi Kurdi, dan mereka menang atas kalian, (semoga Allah tidak mewujudkan apa yang mereka inginkan). Peperangan yang demi Allah, digelorakan oleh para wanita kotor (wanita-wanita PKK), atheis nan kafir, hina, bodoh, lagi celaka terhadap agama kalian ini hendak menghapuskan syariatnya, menghinakan masjid-masjid kalian, dan merendahkan kaum kalian, menodai saudari-saudari dan istri-istri kalian. Jika hal ini terjadi, maka tiada lagi kebaikan dan artinya untuk hidup. Ketahuilah bahwa sesungguhnya sekarang adalah masa untuk membuktikan kejujuran dan penunaian janji.

Wahai kaum Muslimin sekaligus Mujahidin!

Tiga hal yang terhimpun pada diri kalian yang sangat di impikan oleh seorang muslim, yakni wilayah yang diatur oleh Syariat Allah, menghadapi serangan musuh dimana tidak ada yang lebih wajib setelah iman selain melawannya, dan mati syahid yang telah lama didam-idamkan oleh orang-orang yang jujur.

Hatiku berada di atas keyakinan dan jiwaku merdeka,
Ia tampik kehinaan dan pedangku yang tajam
Lantas ada apakah gerangan seorang lelaki takut berpisah dengan jiwanya?
Bukankah akhir dari kehidupan sejatinya adalah perpisahan?
Maka angkatlah jiwamu yang masih berada di tempatnya
Jika tiada negeri Syam, ada negeri Irak
Tiada kebaikan dalam hidup yang dikelilingi oleh sifat pengecut
Sebuah kehidupan yang diliputi kehinaan dan nestapa
Mereka mencelaku, lantaran kerendahanku dan kekalahanku
Sedangkan api tidaklah dicela karena ia membakar

Wahai para Ksatria Pemburu Syahadah dan singa-singa jihad di al-Bab dan pinggirannya.

Semoga Allah mencerahkan wajah kalian dan memberkati kalian di atas amal sholeh, karena kalian telah menghinakan pasukan murtad Turki, Shahawat, Kurdi pun halnya sekutu-sekutu Nusairiyah dengan keberanian, keteguhan serta pengorbanan kalian demi membela angama dengan kemuliaan dan ketegaran. Maka bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian, pun tetaplah berjaga-jaga di medan pertempuran dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. Sesungguhnya hari ini, cucu-cucu murtaddin Turki yang membunuhi orang-orang bertauhid tengah meneruskan jejak nenek moyangnya. Mereka telah menyerang Daulah kaum Muslimin dan Jama’ahnya. Karenanya, balaskanlah demi agama dan tauhid kalian.

Sesungguhnya kalian tidaklah memerangi kaum yang kuat. Sejatinya mereka adalah kaum pengecut yang berlindung di balik tembok. Maka bersikap jujurlah dalam melawan mereka. Tekanlah mereka, bunuhlah mereka dimanapun kalian jumpai. Dan incarlah mereka dengan setiap cara di setiap penjuru bumi, di bawah kolong langit.

Sesungguhnya, Ikhwanul Murtaddin Turki dan pemerintahannya mengemis-ngemis di pintu-pintu Salibis Eropa, mengira bahwa mereka dalam keadaan aman. Karenanya, duhai kaum Muslimin di setiap tempat yang cemburu akan agamanya, wahai para Muwahhidin yang jujur, wahai Ahli al-Wala’ wal Bara’! Sungguh si Turki terlaknat ini telah menghimpun orang-orang hina dari kalangan manusia, yaitu Shahawat di Syam, untuk memerangi agama Allah dan memadamkan cahaya-Nya. Tanpa henti mereka bombardir dan hancurkan rumah-rumah di atas kepala penghuninya, melumuri tangannya dengan darah kaum Muslimin, menghinakan agama dan kehormatan mereka.

Karenanya, kami serukan pada setiap muwahhid yang jujur untuk berangkat berperang menyerbu setiap sendi pemerintahan Turki yang Sekuler lagi murtad di setiap tempat, baik badan keamanan, militer, ekonomi, maupun medianya, bahkan setiap kantor kedutaan dan konsulatnya di seluruh negara dunia.

Kemudian, ketahuilah wahai para Mujahidin Muwahhidin, sesungguhnya termasuk yang paling besar kejahatannya dan paling besar kekufuran maupun dosanya diantara mereka adalah anjing-anjing mereka yang menggonggong dari kalangan ulama penyeru kesesatan, kekufuran dan para masyaikh yang rendah lagi lemah, yang loyal kepada kelompok musyrik ini dan pemerintahannya yang murtad, dengan segala bentuk loyalitas dan pertolongan, melalui majelis-majelis ulama, fatwa dan acara-acara media mereka, bahkan di akun-akun pribadi, serta forum-forum dialog mereka. Nama-nama, rumah-rumah, dan program-program tayangan mereka sudah banyak dikenal.

Ya, mereka yang mendoakan keberkahan pada penguasa tiran yang kafir, dan turut berbahagia atas kepresidenannya meskipun telah terbukti kesesatannya. Mereka yang dari seluruh penjuru dunia mendatanginya, dan mengucapkan selamat atas kemurtadan yang ia lakukan secara terang-terangan, dan kekafiran yang nyata. Mereka jadikan negaranya sebagai tempat beraktivitas serta bersenang-senang, dan tempat bernaung bagi kehinaan dan kebodohan mereka. Mereka hapus syiar-syiar hidayah dengan tangan-tangan mereka, dan memusnahkan kemuliaan yang tersisa dengan persaudaran mereka bersama kuffar. Sungguh, betapa buruk tangan-tangan dan kelompok Ikhwanul Murtaddin ini.

Mereka dekati kuffar dan menyambutnya, lantas menjelek-jelekkan dan menyesatkan Dien yang agung ini. Akibatnya, tersebarlah kesesatan dan bid’ah, serta hawa nafsu disembah, itulah seburuk-buruk sesembahan. Orang yang terpuji hampir tiada bedanya dengan yang tercela, begitu juga sebaliknya. Dan iniah musibah pun malapetaka yang besar. Mereka adalah para pendakwah dan imam yang menyeru manusia kepada kesengsaraan. Mereka lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah, sangat tamak dengan ketenaran, 'doyan' akan pujian dan jabatan, terkena fitnah kecintaan akan kehidupan dunia yang fana dan merasa takut bila kehilangan akannya. Mereka pun melampaui batas dalam berbuat kerusakan dan kesia-siaan. Mereka pendam kebenaran dan sebarkan keburukan. Masih ada banyak lagi dari mereka, namun kami tak akan menyebutkannya lebih jauh karena saking banyaknya keburukan mereka. Semoga Allah memburukkan jiwa-jiawa yang cacat ini, jenggot sewaan dan lidah yang dipenuhi kalimat kepalsuan.

Tatkala pelaut telah pergi dan kapal tunggangannya dihempas angin, katak-katak pun mengambil alihnya

Tiadakah orang yang menahan mereka, memotong hidung-hidung, pun bahkan menghentikan mereka?

Orang-orang yang lebih buruk darinya adalah Bal’am bin Baurah, dan seburuk-buruk orang Musailamah adalah ar-Rijal bin Unfuwah. Diantara para ulama jahat pada hari ini adalah mereka yang paling buruk terhadap Islam dan ummatnya, lebih buruk dari apa-apa yang kalian sangka lebih buruk sebelumnya.

Demi Allah, telah tiba waktunya untuk membelah tengkorak mereka, mencekik jiwa-jiwa mereka, dan memotong lidah-lidah mereka!

Iyadh al-Yahsibi menyebutkan dalam kitabnya “Tartib al-Madarik dan Taqrib al-Masalik” bahwa sang Alim Abu Bakar Ismail bin Ishaq bin Udzrah rahimahullah ditanya tentang para khatib Bani Ubaid, al-Fatimiyin palsu. Dikatakan padanya, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlus Sunnah.” Maka ia berkata, “Bukankah mereka berkata, ‘Ya Allah curahkanlah keselamatan pada hamba-Mu, al-Hakim dan wariskanlah bumi ini kepadanya?’ “ Mereka menjawab, “Ya”. Ia berkata, “Apakah menurutmu jika ada seorang khatib berkhutbah ia memuji Allah dan Rasul-Nya, ia puji dengan pujian yang baik, kemudian dia berkata, ‘Abu Jahal berada di Surga’, dia menjadi kafir?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sungguh al-Hakim lebih kafir dari pada Abu Jahal.” Ad-Dawudi ditanya terkait permasalahan ini, maka ia berkata, “Khatib mereka yang berkhutbah dan mendoakan mereka para hari Jum’at adalah kafir harus dibunuh, tidak perlu dimintai taubat, dan istrinya haram untuk digauli, dan tidak mewarisi ataupun mendapatkan warisan, hartanya adalah harta Fai untuk kaum muslimin.” Sampai disini perkataannya.

Wahai bala tentara tauhid yang pencemburu akan Dienullah dimana saja mereka berada, dedikasikanlah diri kalian untuk membunuhi mereka yang menyakiti Allah dari kalangan ulama sesat dan para penyeru fitnah di setiap tempat. Jika salah satu dari kalian melihat mereka, jangan biarkan mereka lepas, hendaknya ia membunuh dan menyerangnya meski ia berada di dalam rumah, di tengah-tengah keluarganya. Maka mulailah menyerang mereka yang menampakkan permusuhan dan menyeru manusia untuk memerangi mujahidin, atau menuduh mereka sebagai kaum atheis atau menelantarkan agama. Hidupkan kembali sunnah pembunuhan Jahm, Ja’d, al-Hallaj dan Ma’bad dengan aksi pembunuhanmu terjadap para ulama sesat ini, yang sungguh, demi Allah apabila setan mendirikan negara, mereka akan mencarikan tentara yang terlatih dan pendukung setia padanya.

Abul Hasan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Akan datang suatu masa yang mana Islam hanya sekedar namanya, dan al-Qur’an hanya sekedar tulisan saja, tatkala itu masjid-masjid ramai namun hakekatnya ia telah rusak dan kosong dari petunjuk. Ulama mereka adalah makhluk terburuk di bawah kolong langit, dari dari merekalah fitnah keluar dan kepadanyalah fitnah itu kembali.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di Syu’ab al-Iman)

Benar, fitnah ini telah dimulai dari mulut-mulut dan mimbar mereka, setelah mereka mengharamkan jihad dan menganggap para pelakunya sebagai kriminil. Mereka mulai menyeru manusia untuk masuk ke dalam kebathilan dan kekafiran dengan cara berperang di bawah panji-panji Thawaghit, demi menggembirakan para penguasanya dan menyelamatkan tahta pun jabatan mereka. Orang yang merugi adalah yang rugi dunianya dengan mengikuti bahwa nafsu dan dunia mereka, siapa yang tidak menyibukkannya dengan kebenaran maka ia akan disibukan syaitan dengan kebathilan. Barang siapa yang tidak berperang di jalan Allah pada hari ini, maka pada suatu hari ia akan dibawa oleh setan untuk berperang di jalannya.

Kepada kaum muslimin umumnya, dan Ahlus Sunnah di Irak dan Syam khususnya.

Keburukan negara Majusi, Iran telah melampaui batas. Keburukannya tersebar luas di berbagai penjuru bumi, membahayakan manusia. Mereka bantai Ahlus Sunnah di Irak dan Syam menggunakan kaki-kaki tangannya, milisi, pakar ahlis dan penasehat militernya, hingga Ahlus Sunnah terbelenggu antara berada di dalam penjara atau menjadi pengikutnya yang tunduk patuh.Tiada yang menghalangi kejahatan mereka terhadap kaum muslimin setelah Allah kecuali Daulah Islamiyah. Ya, kebenaran itu amat terang, dan kebathilan itu gelap. Bagaimana mungkin kaum yang menyimpang ini mampu menandingi Junud Khilafah? Bagaimana bisa dua orang saling berselisih pendapat terkait siapakah yang membela agama, kemuliaan dan negeri mereka? Siapakah yang menjadikan Iran dan para pengikutnya merasakan balasan paling menyakitkan?

Semoga Allah menghinakan jenggot para ulama Su, betapa besar kejahatan dan kerusakan mereka. Siapakah yang menghunuskan pedang kebenaran di hadapan negara majusi Iran dan membuat mereka merasakan kehancuran dari Baghdad, sampai Bairut, Halab, Damaskus, Khurasan dan Shan’a? Siapakah ia wahai para penyeru keburukan dan kehancuran? Siapa?! Dan inilah Iran pada hari ini menjajah negeri Ahlus Sunnah dari timur hingga barat, utara hingga selatan, mengobarlan perang terhadap hamba-hamba Allah dari kalangan muwahhidin dan mujahidin, dengan bantuan dan sokongan Salibis, pun pemerintahan khianat lagi murtad. Mereka perlihatkan kecintaannya pada mereka dan berharap hidup nyaman dengan mereka, semoga Allah, dengan kekuatan dan kuasa-Nya menyegerakan kehancuran akan tahta kekuasaan dan kerajaan mereka di tangan Mujahidin.

Bukankah telah tiba waktunya bagi kalian wahai Ahlus Sunnah untuk meninggalkan kesembronoan kalian, asyik dengan para wanita, dan mitos-mitos legendaris. Mengapa kalian nampak arrogan dan berbangga diri? Apakah kalian telah menghalau agresi musuh kejam yang menyerbu negeri dan mencapai jarak satu lemparan batu dengan Mekkah dan Madinah? Atukah kalian mengira penguasa-penguasa kalian bisa melindungi dan mempertahankan kalian? Demi Allah, tidak! Sesungguhnya ini adalah prasangka yang tidak benar. Dan kalian akan mengingat apa yang aku katakan pada kalian. Sungguh musuh -semoga Allah membinasakan mereka - telah mendobrak negeri kalian, terobsesi untuk menghapus Dien kalian dan menghalalkan kehormatan kalian. Dan inilah jalan lurus yang terlihat sangat jelas, maka bersabarlah. Islam telah memanggil, maka tolonglah ia. Kehormatan berteriak merintih, maka selamatkanlah ia, dan saudara-saudara kalian dari para mujahidin meminta kalian untuk berangkat berjihad, maka jangan telantarkan mereka.

Sungguh Darul Islam ini adalah negeri kalian, dan syariat Allah adalah amanah di pundak kalian. Dan yang bertugas membela keduanya bukanlah hanya mujahidin, maka tiada udzur bagi kalian di hadapan Allah pun halnya di hadapan kaum muslimin, apabila cucu-cucu kera dan babi, dan para penyembah pohon, batu, serta manusia berhasil menguasai Darul Islam ini. Maka bersegeralah untuk bergabung dalam kafilah jihad, dan tolonglah mujahidin di jalan Allah semampu kalian, baik dengan jiwa, harta motivasi dan do‘a.

Kepada Junud Khilafah dan para Ansharnya di seluruh penjuru dunia.

Kepada para singa yang memperkeruh kehidupan murtaddin dan menghilangkan kenikmatan hidup mereka, dan menyungkurkan hidung agen-agen Intelijennya ke dalam tanah, pun merubah rasa aman mereka hanyalah sebatas mimpi.

Ketahuilah -semoga Allah menolong kalian- bahwa operasi-operasi kalian yang berbarokah akan membalikkan keadaan, dan memalingkan moncong-moncong artileri orang-orang kafir yang akan menembaki kaum muslimin. Maka seranglah mereka di rumah-rumah, pasar-pasar dan jalan-jalan serta festival-festival perayaan mereka dari arah yang tidak mereka sangka. Bakarlah bumi di atas telapak kaki mereka, dan cerai beraikan barisan mereka supaya mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, dan lipat gandakan usahakan kalian serta operasi kalian semoga Allah memberkahi kalian.

Dan tidak lupa pada kesempatan ini, aku puji para Kesatria di bidang dakwah, medis, media dan Junud Islam lainnya.

Dan aku ucapkan selamat atas kesungguhan mereka, amal ribath mereka di berbagai ranah, peperangan mereka di bidang-bidangnya tidak kalah penting dengan peperangan di medan tempur.

Ya Allah, segala puji bagimu sampai Engkau ridha, dan segala puji bagimu jika kami ridha, dan segala puji bagimu setelah Engkau ridha.

Ya Allah, hancurkanlah orang-orang kafir penjahat, yang mengahalang-halangi manusia dari jalan-Mu dan memerangi wali-wali-Mu dan mendustakan utusanmu serta menginginkan kerusakan di muka bumi.

Ya Allah, tolonglah Dien-Mu dan tinggikan kalimat-Mu, tinggikan panji-Mu.

Wahai sesembahan yang Haq, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu. Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam.

HIJRAH TIDAK AKAN TERPUTUS SELAMA ORANG KAFIR MASIH DIPERANGI

RUMIYAH 4 - PENGANTAR

HIJRAH TIDAK AKAN TERPUTUS SELAMA ORANG KAFIR MASIH DIPERANGI

Dari Abi Hind al-Bajali, berkata, “Suatu ketika kami bersama Muawiyah sedangkan ia telah berbaring di ranjangnya memejamkan mata. Kita berdiskusi tentang hijrah. Salah satu dari kita berkata hijrah telah terputus. Yang lain berkata hijrah belum terputus. Muawiyah pun terbangun dan berkata, ‘Apa yang kalian perbincangkan? Kami pun memberitahunya. Ia terkenal sedikit meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam maka ia berkata, ‘Kami pernah membicarakan hijrah ini dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, ‘Hijrah tidak terputus sampai terputusnya taubat, dan taubat tidaklah terputus sampai matahari terbit dari barat’.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan ad-Darimi)

Ya, hijrah tidak terputus selama musuh kafir maupun murtad masih diperangi. Baik peperangan itu terjadi di Irak, Syam, maupun selain keduanya. Sekelompok umat ini akan senantiasa berperang di jalan Allah sampai turunnya al-Masih Isa alaihis salam yang dia akan menjadi imam pada pertempuran terakhir sebelum tibanya hari kiamat, sebagaimana yang dikabarkan oleh sosok yang jujur dan dipercaya shallallahu alaihi wasallam.

Meskipun para penyembah Salib dan juga para murtaddin berusaha memutus jalan hijrah, jalan akan senantiasa terbuka bagi orang-orang yang bertawakal. Moto para muhajirin yang pergi menuju front Islam adalah, “Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar.” (QS. al-Qashas: 22). “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. as-Shaffat: 99). “Sesungguhnya aku berhijrah menuju Rabbku, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ankabut: 26). “Aku bersegera kepada-Mu wahai Rabbku, supaya Engkau ridha (kepadaku).” (QS. Thaha: 84). Teladan mereka dalam hijrah adalah para rasul ulul azmi alaihimussalam yang mendapatkan siksaan karena beriman kepada Allah, namun tidak menganggap siksaan manusia itu sebagai azab Allah.

Bahkan seorang Muhajir mengerti bahwa jalannya dipenuhi dengan onak dan duri serta berbagai ujian yang mendekatkan seorang hamba kepada penciptanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi, “Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepadaku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Meski jalan ini menuntut cucuran keringat dan darah untuk melewatinya, seorang muhajir akan tetap bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan (Surga) dan tambahan (melihat wajah Allah). Ia akan memerangi musuh terbesarnya (Setan) di jalannya menuju negeri yang ia bisa hidup sebagai seorang muwahhid mujahid yang mulia lagi perkasa di dalamnya. Jika ia meninggal ataupun terbunuh tempat kembalinya adalah di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setan menghadang manusia di setiap jalan kebaikan. Ia menghadang manusia di jalan Islam. Katanya, “Apakah kamu hendak masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapakmu dan agama moyangmu? Ia tidak menuruti setan dan masuk Islam. Maka setan menghadangnya di jalan hijrah, katanya, “Kamu hendak hijrah, meninggalkan tanah air dan langit yang menanungimu? Ia tidak menuruti setan dan berhijrah. Maka setan menghadangnya di jalan jihad, katanya, “Kamu hendak berjihad sehingga terbunuh dan istrimu diambil orang lain serta hartamu dibagi-bagi? Ia tidak menuruti setan dan tetap berjihad. Siapa saja melakukan hal itu kemudian dia mati, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke Surga. Jika terbunuh, maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika tenggelam maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Jika terlempar dan diinjak tunggangannya (saat hijrah atau jihad) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga.”(HR Ahmad dan an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Sibrah bin Abi Fakihah).

Hasil pasti hijrah adalah ampunan dan surga, jika seorang muhajir mengikhlaskan niatnya hanya untuk Allah dan teguh di jalannya. Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa: 100).

Bahkan dalam hijrah terdapat barokah yang besar. Andai seorang muwahhid mengetahuinya, niscaya ia akan menjual seluruh kenikmatan dunia yang dimilikinya untuk membeli dirinya sendiri demi meraih ridha Allah.

Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu anhu berkata, “Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Ulurkan tangan kananmu aku ingin berbai’at kepadamu.’ Maka beliau pun mengulurkan tangannya, namun aku menggenggamkan tanganku. Nabi bersabda, ‘Mengapa wahai Amr? ‘Aku ingin meminta satu syarat,’ jawabku. ‘Apa syaratnya? Sabdanya lagi. Aku menjawab, ‘Aku ingin agar diampuni dosa-dosaku.’ Jawabnya, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa (masuk) Islam itu menghapuskan dosa yang sebelumnya? Bahwa hijrah juga menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya? Demikian juga haji menghapuskan (dosa-dosa) sebelumnya?.” (HR Muslim).

Dari Thufail bin Amru ad-Dausi radhiyallahu anhu bahwa ia pernah berhijrah ke Madinah bersama seseorang dari kaumnya. Temannya itu tidak suka tinggal di Madinah. Ia jatuh sakit dan tidak sabar. Dia mengambil pisaunya lalu memotong urat nadi tangannya dan membiarkannya mengucurkan darah sampai mati. Maka Thufail bin Amru melihatnya dalam mimpi dengan penampilan yang sangat bersih sembari menyembunyikan tangannya. Thufail bertanya, ‘Rabbmu berbuat apa kepadamu? Dia menjawab, ‘Dia mengampuniku lantaran hijrahku menuju Nabi-Nya?. Thufail bertanya lagi, “Ada apa gerangan kamu menutup tanganmu? Dia menjawab, ‘Dikatakan kepadaku: Kami tidak akan memperbaiki apa yang kamu rusak.’ Thufail menceritakan hal itu kepada Rasulullah? maka beliau bersabda, ‘Ya Allah, adapun tangannya ampunilah’.”

Ya, Sang Maha Pelindung azza wa jalla telah mengampuni seseorang yang membunuh dirinya lantaran hijrah yang ia ikhlaskan hanya untuk Allah.

Wahai kalian yang dihalangi untuk berhijrah ke Irak ataupun ke Syam oleh konspirasi thaghut, sungguh pintu-pintu hijrah masih senantiasa terbuka sampai hari kiamat. Barang siapa tidak sanggup untuk berhijrah ke Irak dan Syam, hendaknya ia berhijrah ke Libya, Khurasan, Sinai, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah Khilafah selainnya, yang bala tentaranya berada di belahan bumi timur dan barat.

DAN HENDAKLAH KALIAN BERDIAM DIRI DI RUMAH KALIAN

RUMIYAH 3 - MUSLIMAH

DAN HENDAKLAH KALIAN BERDIAM DIRI DI RUMAH KALIAN

Para wanita di rumah Nabi, mereka adalah istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam di dunia dan di akhirat, dan Ibunda Kaum Beriman adalah para wanita paling bertaqwa, paling bersih, paling suci, juga paling terjaga. Allah azza wa jalla berkata kepada mereka dari atas langit yang tujuh. Maka turunlah segenap perintah dan etika Rabbani yang jelas lagi tegas, tidak memerlukan penafsiran dan penakwilan bagi orang yang dibuka bashirah-nya (wawasan) oleh Allah azza wa jalla.

Di antara sejumlah perintah dan etika itu adalah perintah yang datang dalam bentuk kata perintah, yaitu: “Dan hendaklah kalian tetap berdiam diri di rumah kalian.” (al-Ahzab:33) yang bermakna ‘berdiam’, ‘menetap’, dan ‘tinggal di dalam rumah’.

Apabila yang memberi perintah adalah Allah azza wa jalla, maka para lelaki dan wanita beriman tidak ada pilihan lain selain mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat.” Jika demikian, mengapa kebanyakan wanita hari ini tidak berdiam di rumah mereka sebagaimana yang telah diperintahkan kepada para wanita-wanita terbaik? Mengapa mereka sering keluar rumah tanpa ada suatu keperluan ataupun hal darurat?

Hal itu tidak lain lantaran lemahnya keyakinan dan komitmen keberagamaan dalam melaksanakan perintah-perintah tersebut, dan konsistensi terhadapnya ketika berhadapan dengan kesenangan untuk keluar menuju gemerlapnya dunia yang begitu indah dalam pandangan mereka.

Terkadang ada laki-laki atau wanita yang mengatakan bahwa perintah untuk berdiam diri di rumah itu hanya dikhususkan untuk istri-istri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam saja, di dalamnya tidak mencakup untuk wanita selain istri-istri Nabi. Namun Imam al-Qurthubi memberikan jawaban untuk mereka di dalam tafsirnya tentang firman Allah azza wa jalla: “Hendaklah kalian berdiam diri di rumah kalian,” dengan menjelaskan, “Makna ayat ini adalah perintah untuk tetap tinggal di rumah, meskipun perintah ini ditujukan kepada para istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, namun mencakup wanita-wanita lain juga berdasarkan maknanya (pengertiannya). Demikianlah, jika tidak ada dalil yang turun dikhususkan untuk seluruh wanita, bagaimana bisa, sedangkan syariat ini dipenuhi perintah agar wanita berdiam diri di rumah mereka, serta menghindari untuk keluar rumah kecuali ada hal darurat.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini merupakan adab yang Allah perintahkan bagi istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam berikut wanita muslimah lain.”

Bahkan jika ini adalah perintah Allah azza wa jalla untuk istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam yang merupakan para wanita terbaik, hati mereka paling terjaga, serta paling menjaga diri dari larangan-larangan Allah azza wa jalla, maka bagaimana halnya dengan wanita lain selain mereka?

Sesungguhnya kita tidak ingin mengharamkan apa yang Allah azza wa jalla perbolehkan –kita berlindung kepada Allah dari itu— dan Allah Maha Lembut serta Maha Pengasih kepada para hamba-Nya. Allah azza wa jalla tidak mengharamkan wanita keluar dari rumahnya secara mutlak, hanya saja Allah menetapkan bahwa prinsip dasar untuk wanita adalah berdiam di rumahnya. Adapun keluarnya dari rumah maka dibolehkan sekadar keperluannya saja, dan kadar keperluannya ini hanya dapat diukur oleh wanita itu sendiri setelah keputusan dari suaminya, ayahnya atau walinya. Dan Allah azza wa jalla pun “Yang paling mengetahui siapa yang paling bertaqwa.”

Pun demikian, as-Sunnah dipenuhi dengan hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya wanita keluar rumah, seperti keluar rumah untuk meminta fatwa, keluar menuju peperangan untuk memberi minum dan mengobati yang terluka, pun keluar untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya. Adapun jika keluar rumah ini menjadi adat dan kebiasaan, maka ini melanggar syariat dan menyimpang dari prinsip dasarnya yaitu tetap berdiam diri di rumah.

Wahai saudari muslimah, hendaknya engkau merenungkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Abu Dawud dan yang lainnya, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid, akan tetapi sebenarnya rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” Masjid adalah rumah Allah dan tempat yang paling Allah sukai. Dan shalat merupakan tiang agama. Kendati demikian, pembuat syariat (baca: Allah) tidak mewajibkan wanita untuk shalat berjamaah di masjid, yang merupakan kewajiban bagi para laki-laki. Allah azza wa jalla menetapkan bahwa shalatnya wanita di rumahnya saja – bahkan di kamarnya— adalah lebih baik baginya daripada dia ikut shalat berjamaah di masjid. Hal itu tiada lain agar semakin menjaga wanita dan menutupinya dari pandangan (para lelaki) dengan semaksimal mungkin. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wanita adalah aurat. Jika dia keluar, maka setan akan memperindahnya (di mata laki-laki), sebaliknya dia akan lebih dekat pada Rabbnya tatakala ia berada didalam rumahnya ).” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Jangan sampai wanita muslimah yang telah berhijab syar’i mengira bahwa jilbabnya itu menghindarkannya dari hal yang disebut di dalam hadits tadi, dan berpikiran bahwa wanita hanya yang tidak berhijab dan bertabarruj saja yang merupakan aurat, bahkan dia tetaplah aurat kapan saja dia keluar rumah, meskipun tidak terlihat apapun darinya. Semoga Allah merahmati seorang tabi’in mulia bernama Sufyan ats-Tsauri rahimahullah yang mengatakan, “Tidak ada yang lebih baik bagi seorang wanita melainkan di rumahnya saja, meskipun dia seorang wanita renta!” (AthThahawi: Mukhtashar Ikhtilaf al-’Ulama).

Hanya dengan keluarnya seorang wanita dari rumahnya, maka itu merupakan fitnah bagi dirinya atau bagi para lelaki yang memandangnya, terlebih lagi jika wanita itu berbicara dengan para lelaki. Oleh sebab itu, Allah azza wa jalla mengatakan kepada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Maka Janganlah kamu tunduk dalam berbicara,” (al-Ahzab: 32). Yang dimaksud dengan ‘tunduk dalam berbicara’ adalah berbicara mendayu-dayu dan melembutkan suara, karena dampaknya adalah: “Sehingga berkeinginanlah orang yang berpenyakit hatinya,” (al-Ahzab: 32). Maka berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat mulia radhiyallahu anhum yang merupakan sebaik-baik zaman secara mutlak. Lalu bagaimana dengan orang-orang di zaman kita saat ini? Zaman yang penuh fitnah dan hal-hal merusak.

Dari Yahya bin Sa’id, dari ‘Amrah, dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata, “Jika saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengetahui apa yang telah terjadi dengan para wanita sekarang ini, niscaya beliau akan melarang mereka sebagaimana dilarangnya para wanita Bani Israil untuk keluar.” Yahya berkata, “ Aku bertanya kepada ‘Amrah, “Apakah mereka dilarang?” ‘Amrah menjawab, “Ya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Subhanallah! Sampai seperti itu jangkauan Aisyah radhiyallahu anha sang wanita yang luas ilmunya lagi seorang ahli hadits, melihat persoalanpersoalan baru dan hal-hal yang melampaui batas yang dilakukan sebagian wanita pada masanya. Maka bagaimana halnya apabila sang wanita jujur (Aisyah, Penj.) itu menyaksikan zaman kita saat ini, bahkan apa yang terjadi jika Nabi shallallahu alaihi wasallam menyaksikan apa yang dilakukan para wanita hari ini, kecuali yang Allah azza wa jalla jaga?!

Maka sudah sepatutnya bagi para pembela berbagai syubhat (penyimpangan feminisme) dan propaganda menempatkan (baca: memerhatikan) hadits dari Ummul Mukminin tadi di depan mata mereka, di saat mereka berfatwa terkait sebagian hukum tentang wanita, sehingga wanita keluar rumah tanpa aturan, meskipun wanita itu keluar berkali-kali dalam sehari, bahkan meski dia seorang wanita tengah ber-’iddah ditinggal wafat suaminya, maka (menurut mereka) tidak ada keburukan jika dia keluar rumah tanpa ada keperluan atau kemaslahatan atau pun hal darurat. Wallahul-Musta’an.

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya mengenai keluarnya wanita pada dua hari raya, maka beliau menjawab, “Aku tidak menganggap hal itu bagus.” Dan Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Aku memakruhkan hari keluarnya wanita pada dua hari raya.” (Sunan at-Tirmizhi), dan Abu Hanifah berkata: “Dahulu wanita diberikah Rukhsah/ keringanan untuk keluar dalam hari id, adapun hari in aku memakruhkannya.” (Ibnu Abdul Bar: at-Tamhid)

Jika para fuqaha (ulama fiqih) saja tidak menyukai para wanita keluar untuk menunaikan salah satu ritual agung dari syariat Islam, demi menghindari keburukan-keburukan yang mereka perkirakan saat itu, maka bagaimana jika wanita pada zaman kita ini terus-menerus keluar, sampai-sampai dia disebut wanita yang gemar keluar dan bepergian?

Dan di antara kesantunan berbahasa di dalam al-Qur’an, dalam firman Allah yang berbunyi, “Bidadari-bidadari yang jelita, putih, bersih dipingit dalam rumah,” (ar-Rahman: 72). Sesungguhnya Allah azza wa jalla mensifati bahwa bidadari di surga itu dipingit, al-Qurthubi menjelaskan, “Dipingit yaitu dijaga dan tertutup, “di dalam rumah” artinya adalah di dalam kamar, para bidadari itu bukanlah yang sering berada di jalanan. Ibnu Abbas menjelaskan demikian.

Demikianlah, surga adalah tempat segala kesempurnaan, tidak ada fitnah, tidak ada penyimpangan, tidak pula kesesatan. Meski demikian, para bidadari itu dipingit untuk suami mereka, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka selain suami mereka.

Kemudian mesti dicamkan bagi para lelaki, bahwa istri mereka adalah asuhan mereka yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya, maka seorang suami tidak boleh semaunya memberikan izin keluar rumah kepada istrinya. Dia mesti melarang istrinya jika sering keluar rumah. Allah telah meridhai Umar yang hampir saja melarang istrinya keluar menuju masjid dikarenakan kecemburuannya, jika bukan karena adanya hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak boleh melarang mereka (mendatangi masjid).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, dia berkata, “Istri Umar ikut menghadiri shalat Subuh dan Isya berjamaah di masjid.”Lalu dikatakan kepadanya, “Kenapa engkau pergi ke masjid, padahal engkau mengetahui bahwa Umar tidak menyukai hal itu, dan cemburu?”Wanita itu berkata, “Lalu apa yang menghalangi dia untuk melarangku?” Penanya itu berkata, “Yang mencegahnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Janganlah kalian melarang para wanita mendatangi masjid-masjid Allah.” (HR. al-Bukhari).

Namun tidaklah mengapa bagi sesama muslimah untuk saling kunjung mengunjungi guna silaturahim, pun halnya pergi ke pasar, namun tidak boleh berlebihan. Akan tetapi, hukum asal bagi seorang wanita pada prinsip dasarnya adalah berdiam diri di rumah. Dan bagi wanita beriman, berdiam di rumahnya adalah lebih dekat kepada Rabbnya.

Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

SULTAN MAHMUD AL-GHAZNAWI, PENGHANCUR BERHALA DAN PENOLONG SUNNAH

RUMIYAH 3 - SEJARAH

SULTAN MAHMUD AL-GHAZNAWI
PENGHANCUR BERHALA DAN PENOLONG SUNNAH

Menghancurkan dan membakar patung-patung berhala adalah salah satu bentuk kufur kepada thaghut. Para nabi amat memperhatikan hal itu, dari sejak sang kekasih ar-Rahman Ibrahim alaihis salam, diikuti oleh Kalimullah Musa alaihis salam ketika membakar patung anak sapi Bani Israil, dan ditutup oleh penutup para nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang menghancurkan dan membakar Lata, Uzza, Manat, dan patung-patung berhala orang Arab ketika Fathu (penaklukan) Makkah. Kemudian hal itu dilanjutkan oleh para sahabat, tabiin dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga saat ini.

Kita mendapati dari kisah orang-orang terdahulu pengikut para nabi bahwa mereka menjadikan penghancuran berhala orang-orang musyrik adalah tujuan terbesar hidup. Dalam usaha mewujudkannya mereka rela berperang, menghadapi situasi berbahaya dan menembus marabahaya. Diantaranya adalah al-Ghazi Mahmud bin Sabaktakin rahimahullah yang dijuluki sebagai Penghancur Berhala lantaran jumlah dan kualitas berhala yang dihancurkannya, sekalipun hal itu hanya salah satu dari sekian banyak prestasinya diantaranya menghidupkan sunnah dan menekan bid’ah serta usahanya untuk menyatukan barisan kaum muslimin dengan berbaiat kepada khalifah Abbasi dan menaatinya.

Sultan Mahmud bin Sabaktakin lahir pada bulan Muharram 360 H di kota Ghazah, Khurasan. Ia didaulat sebagai sultan setelah bapaknya wafat pada tahun 387 H. Kemudian ia memusatkan usahanya untuk berjihad melawan orang-orang musyrik di India, menghancurkan berhala mereka, dan menyebarkan Islam.

Pada tahun 396 H Sultan Mahmud al-Ghaznawi bergerak menuju Kastil Kawaker yang di dalamnya terdapat 600 patung sesembahan orang-orang musyrik. Ia berhasil menaklukannya dan membakar semua patung itu. (Ibnul Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh).

Pada tahun 398 H Sultan Mahmud al-Ghaznawi kembali bergerak untuk menaklukan tanah India. Ibnul Atsir berkata, “Beliau bergerak sampai mencapai tepi sungai Hindmand (sekarang Helmand, sebuah provinsi di Afghanistan, Edt.). Pergerakannya dihadang oleh pasukan Hindu yang dipimpin oleh Brahmanpal putra Anandpal. Pertempuran berlangsung sepanjang siang. Hampir-hampir pasukan Hindu mengalahkan kaum muslimin. Namun kemudian Allah berkehendak menolong hamba-hamba-Nya. Kaum muslimin berhasil mengalahkan mereka. Mereka kabur kocar-kacir di bawah sabetan pedang kaum muslimin. Yamin ad-Daulah (gelar Sultan Mahmud al-Ghaznawi –pent) mengejar Brahmanpal sampai di Benteng Bhimnagar yang terletak di sebuah gunung tinggi sebagai tempat penyimpanan harta sesaji berhala agung mereka. Ketika orangorang Hindu melihat banyaknya jumlah pasukan kaum muslimin, semangat tempur mereka, dan serbuan yang terus menerus, mereka ketakutan. Mereka akhirnya meminta perjanjian damai dan membuka gerbang benteng sehingga benteng berhasil dikuasai kaum muslimin. Yamin ad-Daulah kemudian memasuki benteng bersama berapa penasihat terpercayanya, lalu mengambil sejumlah besar permata dan 9 juta dirham perak murni.” Allah menghinakan orang-orang musyrik dan thaghut-thaghut mereka, patung berhala mereka dihancurkan, dan kaum muslimin mendapatkan ghanimah sejumlah besar barang-barang berharga sesaji berhala.

Pada tahun 400 H Sultan Mahmud al-Ghaznawi kembali bergerak untuk menaklukan tanah India dan menghancurkan patung-patungnya. Pada tahun 405 H ia kembali bergerak untuk menaklukkan Tanishr sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Atsir atau Thanesar seperti namanya saat ini. Ibnul Atsir berkata, “Ketika mendekati daerah tujuan, sungai yang mengalir deras dan sulit diseberangi terbentang menghalangi mereka. Di seberangnya penguasa negeri (Thanesar –pent) telah menunggu dengan balatentaranya bersama dengan gajah-gajahnya untuk mencegah pasukan muslim menyeberang. Maka Yamin ad-Daulah memerintahkan pasukannya yang paling pemberani untuk menyeberang terlebih dahulu dan menyerbu orang-orang kafir untuk menyibukkan mereka sehingga sisa pasukan bisa menyeberang dengan selamat. Mereka melakukan hal itu, menyerbu pasukan Hindu dan menyibukkan mereka sampai seluruh pasukan berhasil menyeberang dengan selamat. Pasukan muslim menyerbu dari segala penjuru dan mereka bertempur sengit sampai berakhirnya siang. Pasukan Hindu terkalahkan dan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan. Mereka memperoleh harta rampasan dan gajah yang amat banyak”.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa salah satu raja Hindu meminta sang Sultan untuk menghentikan penghancuran berhala dan kuil-kuil mereka, katanya, “Saya tahu bahwa hal itu kalian anggap sebagai ibadah kepada Tuhan kalian, namun tidak cukupkah kalian menghancurkan berhala dan kuil-kuil, apalagi yang berada di Benteng Nagarkot?.” Ia juga berjanji akan memberikan harta yang banyak. Namun sang Sultan menolaknya mentah-mentah dan menerangkan bahwa tujuannya memerangi mereka adalah untuk meninggikan kalimat Allah dan mendapatkan ridha-Nya bukan karena menginginkan dunia yang fana. Kemudian sang Sultan segera bergerak menuju kuil itu dan menghancurkan berhala-berhalanya, kecuali satu berhala yang dibawa untuk diinjak-injak di negerinya.

Pada tahun 407 H pergerakan Sultan Mahmud mencapai sebuah kuil pemujaan yang terkuat pertahanannya*. Ibnul Atsir berkata, “Di dalamnya terdapat banyak patung pemujaan. Ada lima patung yang terbuat dari emas merah yang bertatahkan batu-batu permata. Jika ditimbang berat emasnya mencapai 690.300 mitsqal. Ada sejumlah 200 patung yang disepuh emas. Semuanya diambil oleh Yamin ad-Daulah, sedangkan sisanya dibakar. Kemudian ia bergerak ke Kannauj dan menaklukan benteng serta area-area di sekitarnya yang berjumlah tujuh buah, terletak di sekitar sungai Gangga. Terdapat rumah-rumah berhala yang berjumlah mencapai 10.000 buah yang menurut legenda mereka dibangun selama 200.000 sampai 300.000 tahun. Ketika ditaklukkan, pasukannya merampas rumah-rumah berhala itu.”

*Terletak di sebuah kota yang sekarang bernama Meerut, negara bagian Uttar Pradesh, India.

Adapun penaklukkan terbesar sang Sultan adalah menghancurkan patung sesembahan terbesar para paganis itu, yaitu patung Somnath pada tahun 416 H. Diceritakan oleh Ibnul Atsir, “Berhala ini adalah berhala Hindu yang paling agung. Di kuil itu mereka melakukan ritual pada setiap malam gerhana yang dihadiri lebih dari 100.000 orang. Mereka membawa barang-barang berharga sebagai persembahan dan memberikan banyak harta kepada pelayannya. Tanah yang diwakafkan untuknya mencapai lebih dari 10.000 desa.”

Faktor yang mendorong sang Sultan rela menempuh kesulitan demi menyerang dan menghancurkan patung ini bukanlah lantaran harta yang melimpah namun ia ingin menghentikal total praktek penyembahan berhala dengan menghancurkan berhala yang paling agung bagi orang-orang India. Ibnul Atsir berkata, “Tiap kali Yamin ad-Daulah berhasil menaklukkan tanah India dan menghancurkan patungnya, orang-orang India berkata bahwa Somnath murka pada patung-patung (yang dihancurkan) itu, jika tidak tentu ia akan membinasakan orang yang hendak menghancurkannya. Ketika Yamin ad-Daulah mengetahui hal itu ia bertekad bulat untuk menyerbu patung Somnath dan menghancurkannya. Ia mengira jika orang-orang India kehilangan Somnath dan menyadari klaim dusta mereka niscaya mereka akan masuk Islam. Maka ia beristikharah kepada Allah azza wa jalla, lalu bergerak dari Ghaznah pada tanggal 10 Sya’ban tahun ini (416 H) membawa pasukan berkekuatan 30.000 penunggang kuda ditambah para sukarelawan.”

Untuk mencapai patung ini harus menempuh perjalanan yang sulit karena harus menyeberangi gurun. Namun kesulitan itu tidak mengendorkan tekad sang Sultan muwahhid untuk menghancurkan berhala ini. Ibnul Atsir berkata, “Ketika Sultan berhasil menyeberangi gurun, ia melihat ada sebuah benteng yang penuh dengan prajurit. Di sekelilingnya ada beberapa sumur yang telah ditimbun agar tidak mudah dikepung (karena jika sumber air tidak ada maka pengepung tiada akan bertahan). Allah memudahkannya untuk menaklukkannya melalui rasa takut yang timbul di hati mereka. Ia menguasai benteng itu, membunuhi prajuritnya dan menghancurkan patung-patungnya. Disini pasukan muslim mengumpulkan kembali perbekalan mereka.” Sang Sultan berhasil mencapai patung Somnath setelah menempuh perjalanan panjang dan menaklukkan beberapa benteng. Ibnul Atsir berkata, “Sultan sampai di patung Somnath pada hari Kamis pertengahan Dzulqo’dah. Ia mendapati sebuah benteng kokoh yang dibangun di tepi pantai dan deburan ombak menyentuhnya. Para penjaganya telah bersiap di dinding-dinding benteng mengawasi kaum muslimin. Mereka yakin sesembahannya akan menghabisi dan mengancurkan kaum muslimin.” Seperti inilah mentalitas penyembah berhala. Tidak mungkin mereka mampu bertahan melawan tentara tauhid yang berjihad di jalan Allah untuk membersihkan bumi dari kotoran najis syirik dan pelakunya.

Ibnul Atsir menceritakan kepada kita pertempuran yang terjadi secara rinci. Para penyembah berhala itu terkaget-kaget mendapati ternyata sesembahannya itu tetap diam seribu bahasa ditengah-tengah orang-orang yang hendak menghancurkannya. Padahal mereka telah menaruh beribu harapan padanya. Mereka sebelumnya mengklaim bahwa patung-patung mereka dihancurkan lantaran murka sesembahan mereka ini, karena mereka meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu saling bermusuhan. Ibnul Atsir berkata, “Orang-orang India melihat motivasi tempur kaum muslimin yang tidak pernah mereka dapati sebelumnya. Merekapun meninggalkan dinding benteng. Pasukan muslim memasang tangga dan menaiki benteng. Mereka meneriakkan kalimat tauhid dan mengangkat panji-panji Islam. Pertempuran berlangsung sengit dan kondisi semakin genting. Sekelompok prajurit Hindu berlari menuju Somnath, mengotori pipi mereka dengan tanah dan memohon pertolongan. Malampun tiba dan pertempuran berhenti sementara. Esok harinya pagi-pagi buta pasukan muslim tiba-tiba menyerbu mereka. Korban tentara Hindu berjatuhan satu demi satu. Mereka terdesak dan terpojok di dekat rumah berhala mereka Somnath. Mereka bertahan di pintu rumah dan bertempur membabi buta. Kelompok demi kelompok prajurit Hindu memasuki rumah, memeluk Somnath dan menangis meminta pertolongan. Lalu mereka keluar dan bertempur sampai titik darah penghabisan. Sampai hampir tidak ada prajurit yang tersisa. Tinggal sedikit dari mereka yang berhasil menyelamatkan diri menaiki dua buah kapal. Namun pasukan muslim berhasil menghadang mereka sehingga sebagiannya terbunuh dan sebagiannya tenggelam.” Adapun nasib berhala mereka Somnath, “Yamin ad-Daulah mengambilnya dan menghancurkannya. Sisa-sisanya dibakar. Sebagian pecahannya diambil dan dibawa ke Ghaznah agar menjadi pelajaran bagi orang-orang.” Maka patung itu betul-betul dihinakan setelah dihancurkan.

Harta rampasan yang diperoleh pasukan muslim pada pertempuran ini sampai bisa mengganti seluruh biaya jihad mereka, sebagai rizki dari Allah azza wa jalla. Ibnul Atsir berkata, “Ghanimah yang didapat melebihi 20 juta dinar. Semuanya diambil. Prajurit yang terbunuh mencapai lebih dari 50.000 orang.”

Sultan Mahmud al-Ghaznawi terus melanjutkan jihadnya sampai Allah azza wa jalla mewafatkannya pada tahun 421 H. Penaklukkan dan jihadnya di India meninggalkan pengaruh besar Islam di India selama beberapa puluh tahun berikutnya. Tindakannya menghancurkan berhala Somnath juga meninggalkan pengaruh penting atas para penyembah berhala. Usaha Sultan Mahmud al-Ghaznawi tidak terbatas pada memerangi orang-orang musyrik, beliau juga laksana pedang terhunus atas leher para ahli bid’ah, orang-orang zindik, dan pengikut Bathiniyah. Beliau telah menekan bid’ah dan menghidupkan sunnah. Pada masanya kedudukan hadits menjadi tinggi.

Sultan Mahmud al-Ghaznawi rahimahullah telah terbiasa menghancurkan patung-patung berhala. Telah kita jelaskan aksi-aksi beliau, terutama penghancuran berhala terbesar orang-orang Hindu yaitu patung Somnath. Demikian juga semangat beliau dalam beriltizam kepada Jama’atul Muslimin dan memerangi kelompok-kelompok sesat seperti semangat beliau dalam menghempaskan kesyirikan dan para pelakunya. Dalam hal itu beliau memiliki sikap yang terabadikan dalam sejarah.

Pada tahun 404 H sepulang dari salah satu ekspedisinya, ia menyurati Khalifah Abbasiyah al-Qodir Billah rahimahullah memintanya mengangkat dirinya untuk mengepalai wilayah kekuasaannya.

Ibnul Atsir berkata, “Setelah selesai dari ekspedisinya, ia kembali ke Ghaznah dan mengirim surat kepada al-Qodir Billah memintanya membuat pernyataan pengangkatannya sebagai penguasa Khurasan dan daerah sekitarnya, al-Qodir Billah pun melakukannya.” Sebenarnya Sultan al-Ghaznawi tidak butuh restu tersebut untuk mengukuhkan kekuasaannya, tetapi karena semangatnya untuk bersatu di bawah naungan seorang Imam Quraisy yang disepakati oleh kaum muslimin.

Sebagai penghormatan, Khalifah lantas menganugerahkan beberapa gelar kepada beliau.

Ibnul Jauzi berkata, “Khalifah mengirim jubah kebesaran padanya dan memberinya gelar Yamin ad-Daulah (tangan kanan daulah) dan Amin al-Millah (pengemban agama), lalu ditambah lagi gelar Nizhamuddin dan Nashirul Haq (penolong kebenaran).” (al-Muntadzim)

Yamin ad-Daulah tidak pernah berpikir keluar dari menaati seorang khalifah Quraisy dan ganti menaati khalifah palsu yang mengklaim dirinya keturunan Fatimah. Ibnu Katsir berkata, “Beliau selalu mendoakan Khalifah al-Qadir Billah dalam khutbahnya di seluruh kerajaannya, sedangkan para utusan Daulah Fatimiyah dari Mesir terus mengirim surat dan hadiah agar berpihak kepada mereka, beliaupun marah dan membakar surat-surat serta hadiah-hadiah mereka.”

Yamin ad-Daulah juga pernah mengirimkan salah satu utusan Daulah Fatimiyah berikut hadiah yang mereka bawa kepada Khalifah Abbasi untuk diadili. Ibnu Jauzi berkata, “Abul Abbas menyerahkan semua yang dibawa oleh utusan Mesir dan membacakan surat Yamin ad-Daulah yang mengabarkan bahwa beliau adalah pelayan yang tulus, yang memahami bahwa ketaatan adalah wajib dan berlepas diri dari segala upaya yang menyelisihi Daulah Abbasiyah. Esoknya, semua pakaian (hadiah) dikeluarkan menuju pintu Nubiyu (nama pintu istana), lalu dibuatkan sebuah lubang dan diisi dengan kayu bakar, pakaian itu diletakkan diatasnya dan disulut dengan api.”

Abul Abbas bin Taimiyah berkata, “Penguasa Ubaidi Mesir pernah mengirim surat kepada Sultan al-Ghaznawi meminta dukungannya, namun dibakarnya surat itu di hadapan utusannya, dan ia terkenal dengan pertolongannya terhadap Ahlu Sunnah.” (Minhaju Sunnah).

Pada tahun 396 H Yamin ad-Daulah bergerak menuju Multan (terletak di negara Pakistan) untuk melengserkan penguasanya yang seorang pengikut Qaramithah atheis. Ibnul Atsir berkata, “Penyebabnya adalah tersiar kabar bahwa penguasanya yaitu Abul Futuh memiliki akidah yang rusak dan tertuduh atheis. Disamping itu dia juga mengajak rakyatnya untuk mengikuti akidahnya itu dan mereka menyambutnya. Yamin ad-Daulah pun berpandangan untuk memerangi dan melengserkannya dari kekuasaannya. Beliau lalu bergerak membawa pasukannya. Ternyata ia harus menyeberangi sungai-sungai yang lebar dan deras airnya. Utamanya sungai Jihun yang menjadi penghalang terbesarnya. Ia lalu mengirim utusan kepada Anandpal (raja India) untuk meminta ijin melewati negerinya menuju Multan. Namun ia tidak diijinkan. Maka terpaksalah diserangnya negeri Anandpal itu terlebih dahulu, katanya, “Kita akan melakukan dua pertempuran sekaligus.”

Dengan karunia Allah Sultan al-Ghaznawi berhasil mengalahkan Anandpal dan sampai ke Multan. Ibnu Atsir berkata, “Ketika Abul Futuh mengetahui berita kedatangan Ghaznawi, dia segera menyadari ketidakmampuannya melawan maka harta bendanya segera dipindahkannya ke Serendip (sekarang bernama Srilanka, Edt.) dan meninggalkan Multan. Yamin ad-Daulah tiba di Multan dan menyerangnya. Ternyata penduduknya tetap bersikeras dalam kesesatan mereka. Beliau mengepung mereka, menekan, dan terus menyerang hingga berhasil menaklukkannya dengan paksa dan mewajibkan penduduknya membayar denda sebanyak 20.000 dirham sebagai hukuman atas pembangkangan mereka.” Maksudnya disertai taubat mereka.

Sultan Mahmud al-Ghaznawi selalu berusaha semaksimal mungkin menaati seorang khalifah Quraisy dan memberantas bid’ah serta zindik. Pada tahun 408 H, “Yamin ad-Daulah dan Amin al-Millah Abu Qasim Mahmud bin Sabaktakin melaksanakan kebijakan dan amanat Amirul Mukminin yang diembannya sebagai pemimpin Khurasan dan sekitarnya dalam memerangi kelompok Mu’tazilah, Rafidhah, Ismailiyah, Qaramithah, Jahmiyah dan Musyabbihah. Ia menyalib, memenjarakan, mengasingkan, dan memerintahkan untuk melaknat mereka di mimbar-mimbar masjid kaum muslimin. Ia juga mengisolasi masing-masing kelompok bid’ah dan mengusir mereka dari negerinya. Kebijakannya itu kemudian menjadi sunnah dalam Islam.” (al-Bidayah wa an-Nihayah)

Pada tahun 420 H Yamin ad-Daulah bergerak menuju Kota Rey (sebuah kota di Teheran, Iran, Edt. ) yang dikuasai oleh Majdu ad-Daulah al-Buwaihi ar-Rafidhi untuk melengserkannya dan menghabisinya bersama bala tentaranya. Tindakannya ini dikabarkannya kepada al-Qodir Billah. Isi suratnya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi, “Allah telah melenyapkan tangan-tangan zhalim dan membersihkan tempat ini dari seruan Bathiniyah kafir dan ahli bid’ah fajir. Yang Mulia telah mengetahui realitas kondisi ketidakoptimalan Hamba memerangi orang kafir dan sesat serta memberantas bibit-bibit Bathiniyah fajir di Khurasan. Kota Rey dikenal sebagai tempat suaka dan pusat kegiatan mereka menyeru kepada kekafiran. Di sana mereka berbaur dengan kelompok Mu’tazilah bid’ah dan ekstremis Rafidhah yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah, terang-terangan mencela para sahabat dan menampakkan aqidah kafir serta paham permisivisme.”

Sang Sultan juga mempunyai kisah tersendiri berhadapan dengan Asya’irah (sekte Asy’ariyah) sesat. Adz-Dzahabi menyebutkan beberapa diantaranya di dalam Siyaru A’lam an-Nubala, berkata, “Ibnu Furak pernah menemui Sultan Mahmud lalu berkata, ‘Allah tidak boleh disifati dengan fauqiyah (berada diatas), karena berarti Dia juga harus disifati dengan tahtiyah (berada di bawah), karena siapa yang bisa berada di atas pasti juga bisa berada di bawah.’ Sultan menjawab, ‘Aku bukan yang menyifati-Nya hingga mengharuskanku, tetapi Dia sendiri yang menyifati diri-Nya.’ Ibnu Furak langsung terdiam seribu bahasa.”

Adz-Dzahabi kembali menceritakan, “Abul Walid Sulaiman al-Baji berkata, ‘Ketika Ibnu Furak mendebat al-Karramiyah habis-habisan mereka kewalahan dan meminta dukungan Mahmud bin Sabaktakin penguasa Khurasan dengan berkata, ‘Orang yang mendebat kami ini lebih besar kebid’ahan dan kekufurannya dihadapan anda dari pada kami. Tanyakan padanya tentang Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib apakah hari ini masih menjadi utusan Allah atau tidak? Hal itu menjadi perkara besar baginya, katanya, ‘Jika ini benar, pasti aku akan membunuhnya! Ia lalu memanggil Ibnu Furak dan bertanya padanya. Jawabannya, ‘Dulu dia utusan Allah, tetapi sekarang tidak.’ Sultanpun memerintahkan untuk membunuhnya, tetapi dia meminta ampun. Ada yang bilang, bahwa dia sudah tua. Lalu Sultan memerintahkan untuk meracuniya, lantas dia pun diracuni.”

Ibnu Hazm berkata, “Aku diberitahu bahwa ada sekelompok ahli bid’ah yang beranggapan bahwa Muhammad bin Abdillah bin Abdul Mutthalib sekarang bukan lagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ini yang jadi anggapan Asy’ariyah. Sulaiman bin Khalaf al-Baji – sekarang salah satu tokoh mereka – memberitahuku bahwa Muhammad bin Hasan bin Furak al-Ashbahani diracun oleh Mahmud bin Sabaktakin penguasa Khurasan karena hal itu. Kita berlindung kepada Allah dari ucapan ini karena tidak diragukan lagi adalah kekafiran yang nyata. Mereka telah mendustakan al-Qur’an terkait firman Allah azza wa jalla, “Muhammad adalah utusan Allah.” Mereka juga mendustakan adzan dan iqamat yang telah diwajibkan oleh Allah sebanyak lima kali sehari semalam atas setiap komunitas Muslim. Mereka juga mendustakan dakwah umat Islam yang sepakat untuk menyeru orang-orang kafir kepadanya dan bahwa tidak akan ada yang selamat dari neraka kecuali dengannya. Mereka juga mendustakan semua generasi umat Islam sejak para sahabat dan generasi setelah mereka, – baik itu yang shalih maupun fajir – yang telah mendeklarasikan bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Konsekuensi dari perkataan si laknat ini berarti dia telah mendustakan semua muazin, pengumandang iqamat dan para da’i islam yang mengatakan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Berdasarkan pendapat itu seharusnya mereka mengatakan ‘Muhammad adalah mantan utusan Allah’. Karena hal inilah Amir Mahmud bun Sabaktakin wakil Amirul Mukminin dan penguasa Khurasan membunuh Ibnu Furak sang guru besar Asy’ariyah. Semoga Allah membalas kebaikan Mahmud atas perbuatannya itu dan melaknat Ibnu Furak, kelompok dan para pengikutnya”. (al-Fashl). Jadi Sultan al-Ghaznawi tidak pernah berdiam diri dari para da’i sesat dan ahli kalam.

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah memuji-muji Sultan al-Ghaznawi, katanya, “Masa kekuasaan Mahmud bin Sabaktakin adalah masa terbaik dalam Dinastinya. Islam dan Sunnah pada masa kekuasaannya terangkat mulia. Beliau memerangi orang-orang musyrik India dan menebarkan keadilan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sunnah pada masa kekuasaannya nampak mencolok sedangkan bid’ah diberantas.” (al-Fatawa).

Beliau rahimahullah juga berkata, “Beliau termasuk raja terbaik dan paling adil, juga paling keras sikapnya terhadap ahlu bid’ah.” (Minhajus Sunnah).

Demikianlah berkah berbaiat kepada Imam dan memerangi ahlu bid’ah dan zindik, yaitu berupa tamkin dan kemenangan atas musuh. Ibnu Katsir menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 421 H, “Pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ini, meninggallah raja yang adil, agung, penjaga perbatasan, mujahid yang ditolong, Yamin ad-Daulah Abu Qasim Mahmud bin Sabaktakin, sang penguasa negeri Ghaznah dan wilayah yang luas. Penakluk paksa sebagian besar tanah India, penghancur berhalanya, pemberantas Hindu dan penakluk kerajaan agung mereka.”

Inilah sekelumit kisah perjalanan hidup seorang Sultan yang adil, penolong tauhid dan sunah, pemberantas syirik dan bid’ah, serta berusaha semaksimal mungkin mengukuhkan Jamaah Muslimin disaat banyak kelompok-kelompok bid’ah dan sesat berupaya memerangi khilafah dan melemahkannya. Loyalitas Sultan Mahmud kepada Amirul Mukminin al-Qodir berperan besar dalam memberantas kelompok-kelompok tersebut dan mengembalikan wibawa Khilafah Quraisyiyah.

Pada hari ini di Khurasan juga terdapat generasi Muwahhid yang dengan mereka Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin. Mereka memerangi syirik, memberantas bid’ah dan berpegang teguh dengan al-jamaah. Kita memohon kepada Allah agar melalui tangan-tangan mereka Sind dan India bisa ditaklukkan kembali. Sesungguhnya Dia Mahamampu untuk itu. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

JIHAD DENGAN DOA

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

JIHAD DENGAN DOA

Doa adalah senjata yang amat tajam, kuat, lagi ampuh. Berbagai musibah dapat tersingkap dengan doa, pun kehancuran dapat dicegah. Seorang mukmin dapat mencegah malapetaka dan menghadapi makar musuh-musuhnya dengan doa. Berbagai nikmat dapat diperoleh dengan doa. Permusuhan dapat dicegah juga dengan doa. Doa adalah ciri ibadah yang paling jelas. Bahkan doa itu adalah ibadah itu sendiri. Dalam doa ada kesempurnaan cinta dan kehinaan diri kepada Allah Yang Maha Esa, Mahabijaksana, dan Mahaadil. Dalam doanya seorang hamba berkonsultasi kepada Rabbnya. Ia mengakui kelemahan dan ketidakberdayaannya. Doa itu laksana penghibur hati, salep luka, dan melapangkan dada. Doa mempermudah segala urusan. Doa adalah penjaga yang kuat dan benteng yang kokoh. Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah selain doa. Manusia yang paling lemah adalah yang terhalangi dari doa. Doa adalah ibadah yang mudah, sangat mudah dilakukan pada setiap saat, dapat dilaksanakan di darat maupun di laut, dan disyariatkan dalam keadaan menetap maupun safar. Berdoa berarti menyerahkan diri pada Dzat Yang Maha Penyayang, Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui. Para pendoa adalah orang-orang yang bergantung kepada Rabb Yang Maha Penguasa, Mahakudus lagi Maha Pemberi Keselamatan. Engkau lihat mereka dalam doanya menyandarkan diri pada Dzat yang paling mulia. Mereka memutuskan hubungan dengan alam dan menghadap kepada Rabb semesta alam. Mereka berlepas diri dari meminta-minta manusia dan mengharap pemberian mereka. Sebaliknya, mereka menyerahkan diri sepenuhnya kepada Rabbnya lagi amat mengharap karunia-Nya.

Inilah doa itu, betapa seorang muslim sangat membutuhkannya pada hari-hari ini saat seluruh kaum kafir dengan segala macam sekte dan agamanya mengeroyok jamaah muslimin. Sudah seharusnya seorang mujahid fi sabillah mengetahui urgensi senjata ini dan wajib baginya menekuninya serta meninggalkan ketergantungan selain kepada Yang Maha Mendengar lagi Mengabulkan. Demikian juga hendaknya setiap muslim dan muslimah ikut serta dalam memerangi musuh Allah menggunakan senjata Rabbani yang efektif ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Perangilah orang orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai).

Jihad dengan lisan itu tidak terbatas pada provokasi untuk berjihad, memuji mujahidin, mencela orang-orang yang duduk-duduk dari jihad, dan menghina orang-orang kafir, tetapi bagian terpenting jihad dengan lisan adalah doa, yaitu seorang muslim berdoa untuk kekalahan orang-orang musyrik dan kemenangan orang-orang mukmin.

Jenis jihad ini (jihad dengan doa) semakin dipertegas pada orang-orang yang belum dimudahkan Allah untuk berjihad di jalan-Nya lantaran udzur syar’i seperti wanita, orang sakit, orang tua dan yang terhalangi. Mereka wajib mendoakan orang-orang yang bertempur di jalan Allah. Ketika Allah mengudzur mereka untuk tidak berperang, Dia mensyaratkan pada mereka untuk berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya agar udzur mereka diterima, yaitu diantaranya dengan mendoakan wali-wali Allah dan pengikut Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Allah ta'ala berfirman, “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. at-Taubah: 91).

Bahkan doa orang-orang lemah itu adalah sebab terbesar kemenangan kaum muslimin dan kekalahan orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh ketika mengira dirinya lebih utama daripada kaum muslimin yang lemah, “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rizki kecuali lantaran orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat an-Nasai, “Hanyasanya Allah menolong umat ini lantaran orang-orang lemahnya, lantaran doa, shalat dan keikhlasan mereka.”

Ibnu Hajar al-‘Asqolani berkata, “as-Suhaili berkata, ‘Jihad terkadang menggunakan senjata dan terkadang lewat doa.’” (Fathul Bari). Hal ini sebenarnya sudah tetap dan jelas, namun pada hari ini orang-orang yang terguncang lagi terpukul, yaitu orang-orang yang menyerah pada berhala teknologi militer dan menganggap kemenangan koalisi salibis atas Daulah Islamiyah adalah hal yang pasti terjadi, mereka telah meninggalkan doa, seakan-akan mereka tidak mendapatkan manfaat dari doa tersebut, wal’iyadzu billah! Pandangan keliru yang menghinggapi sebagian orang ini adalah dikarenakan ketidaktahuannya dengan senjata jenis ini. Jika mereka mengetahui urgensi doa, kehebatan efeknya, tata cara dan adab-adabnya, serta mendengar kisah-kisah bagaimana Allah azza wa jalla mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya, niscaya mereka tidak akan meninggalkannya dan tidak akan bergantung kepada selainnya.

Seorang muslim wajib mengetahui bahwa doa mempunyai banyak keutamaan yang tiada berbatas, diantaranya; berdoa berarti melaksanakan perintah Allah azza wa jalla yang berfirman, “Serulah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan pada-Nya.” (QS. al-A’raf: 29). “Berdoalah pada-Nya dengan penuh rasa takut dan harap.” (QS. al-A’raf: 56). “Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. al-A’raf: 55).

Berdoa adalah tanda kesempurnaan tawakkal, ketundukan, dan ketawadhu’an kepada Allah azza wa jalla yang berfirman, “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

Doa adalah sebab tertolaknya malapetaka sebelum terjadi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim). Doa jugalah yang dapat mengangkat malapetaka setelah terjadinya, sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Kehati-hatian tidaklah dapat menghindarkan takdir, dan doa dapat mencegah musibah yang telah terjadi pun yang belum terjadi. Sungguh suatu malapetaka itu turun dan kemudian bertemu dengan doa, lalu keduanya saling bergulat hingga hari kiamat.” (Hadits hasan riwayat Hakim).

Doa juga merupakan sebab tercapainya hal yang diinginkan dalam doa itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang ia tidak terdapat dosa atau memutus kekerabatan, kecuali Allah akan memberikan padanya salah satu dari tiga hal; doanya segera dikabulkan, atau Allah akan menyimpannya (sebagai kebaikan) untuknya di akhirat, atau Dia akan menjauhkannya dari hal buruk yang semisalnya.) (HR. Ahmad dan al-Hakim). demikianlah, sungguh doa mempunyai kedudukan yang agung.

Bisa jadi buah terpenting dari doa adalah sebagai sebab keteguhan yang berakhir pada kemenangan atas musuh. Hal ini sudah termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah mutawatir dalam sejarah Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabatnya radhiyallahu anhum dan para salafus shalih rahimahumullah. Dalam kisah pertempuran Thalut dan tentaranya yang mukmin dengan Jalut dan tentaranya yang kafir, apa yang dilakukan orang-orang mukmin pada saat itu dan apa pula akibatnya? Allah berfirman, “Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (QS al-Baqarah: 250). Doa yang dilantunkan para Muwahhid sebelum dan ketika terjadi bentrokan dengan orang-orang musyrik. Maka Allah pun seketika mengabulkan doa mereka, kalam-Nya, “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah.” (QS. al-Baqarah: 251).

Dalam Perang Badar al-Kubra, pada malam harinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri mengerjakan shalat dan memperbanyak doa dalam sujudnya (al-Bidayah wa an-Nihayah). Ketika pagi harinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperhatikan para sahabatnya yang berjumlah tiga ratus prajurit lebih sedikit, sedangkan orang-orang musyrik berjumlah lebih dari seribu prajurit, maka beliau menghadap kiblat dan berkata, “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, Ya Allah datangkanlah apa yang engkau janjikan kepadaku, Ya Allah seandainya engkau hancurkan kelompok kecil dari Ahlul Islam ini, Engkau tidak akan diibadahi lagi di bumi ini.” Beliau terus bermunajat pada Rabbnya sampai selendangnya terjatuh dari pundaknya. (HR. Muslim).

Adapun para sahabat dalam perang badar, maka Allah menyifati mereka sebagai orang-orang yang selalu memanjatkan doa dan meminta pertolongan pada-Nya. Kalam-Nya, “Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. al-Anfal: 9). Setelah untaian doa Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum, maka bagaimanakah hasilnya? Allah mengirimkan bantuan balatentara seribu malaikat, Dia menurunkan ketenangan atas mereka, meneguhkan kaki mereka, meliputi mereka dengan ketenteraman berupa rasa kantuk, Dia turunkan air dari langit yang dengannya Dia mensucikan mereka, menjauhkan gangguan syaithan dari mereka, Dia teguhkan hati mereka dan Dia selipkan rasa takut ke dalam hati orang-orang musyrik, maka mereka pun mengalahkan orang-orang musyrik itu dengan izin Allah.

Dalam Perang Ahzab ketika orang-orang musyrik mengepung Madinah dengan amat ketat, kaum muslimin teramat sangat kelaparan, haus dan takut, sementara mereka didatangi oleh musuh mereka dari atas dan bawah mereka, membuat hati menyesak naik hingga kerongkongan, Nabi shallallahu alaihi wasallam pun memohon kepada Rabbnya dan merintih dalam doanya. Salah satu doa yang beliau shallallahu alaihi wasallam lantunkan ketika menggali parit adalah, “Ya Allah, seandainya bukan karena Engkau, tentulah kami tidak mendapat hidayah, tidak bersedakah dan tidak shalat, maka turunkanlah ketenangan pada kami, dan teguhkanlah kaki kami ketika kami bertemu musuh, sesungguhnya para musuh telah melampaui batas, jika mereka menginginkan fitnah maka akan kami abaikan*.” (HR. Bukhari). Sedangkan doa beliau ketika terkepung, “Ya Allah Yang telah menurunkan kitab, Yang menjalankan awan dan Yang menghancurkan golongan kafir, hancurkalah mereka dan tolonglah kami atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

*Maksudnya, sekalipun tiba-tiba ada teriakan perang maka kami tetap teguh dan tak akan lari.

Adapun para sahabat, mereka bertanya pada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dengan apa mereka memohon kepada Rabb mereka? Dari Abi Sa’id al-Khudhri radhiyallahu anhu berkata, “Ketika perang Khandaq kami bertanya pada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan (doakan)? Hati telah menyesak sampai ke tenggorokan.’ Beliau bersabda, ‘Ya, (katakanlah) Ya Allah tutuplah aurat kami, dan gantilah rasa takut kami dengan rasa aman.” (HR. Ahmad).

Apa yang terjadi setelah doa-doa yang penuh berkah ini dipanjatkan? Angin topan bertiup kencang pada malam yang gelap, yang membalikkan periuk-periuk orang-orang musyrik, memporak-porandakan kemah mereka, memadamkan api unggun mereka dan mengubur tunggangan mereka, maka tidak ada jalan bagi mereka kecuali harus mundur. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang kamu tidak dapat melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Ahzab: 9).

Kepada kaum muslimin yang tertindas di seluruh dunia, berdoalah, berdoalah, dan berdoalah. Serulah Allah sedangkan kalian yakin akan dikabulkan, Allah pasti akan memenuhi janji-Nya. Dia sendirilah yang akan menghancurkan koalisi ini, dengan segala daya dan kekuatan-Nya, yang pasti akan terjadi.

Doa adalah senjata seorang mukmin. Doa juga salah satu sisi dari jihad fi sabilillah dengan lisan. Jenis jihad ini semakin dipertegas pada kalangan lemah dari kaum muslimin dan orang-orang yang belum dimudahkan oleh Allah untuk berjihad dengan jiwa dan hartanya. Doa juga merupakan faktor kemenangan Thalut dan tentaranya para muwahhid atas Jalut dan tentaranya sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Baqarah. Doa jugalah yang pertama kali dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam baik ketika kaum muslimin menyerbu musuh secara mendadak, mengepung, maupun berjibaku dengan orang-orang musyrik.

Demikian juga para sahabat dan tabiin. Mereka hanya meminta tolong kepada Rabbnya dalam pertempuran-pertempuran mereka, bertawakkal kepada-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, memohon dengan memelas kepada-Nya, dan berlepas diri dari segala daya upaya kecuali kepada-Nya azza wa jalla. Maka dengan segera Dia azza wa jalla meneguhkan mereka, menurunkan ketenangan kepada mereka, menghinakan dan menyelipkan rasa takut dalam dada musuh mereka, dan akhirnya mengalahkan mereka.

Inilah sahabat mulia an-Nu’man bin Muqorrin yang diutus Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu mengomandoi pasukan penakluk Persia. Pada tahun 21 H pasukan Persia berkekuatan 150.000 prajurit keluar untuk menginvasi negeri-negeri kaum muslimin. Kedua pasukan bertemu di Nahawand, suatu tempat di negeri Persia. an-Nu’man menunggu sampai datangnya waktu yang paling disukai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menyerbu musuh, yaitu setelah tergelincirnya matahari. Ketika menjelang waktunya, an-Nu’man menaiki kudanya untuk menginspeksi barisan. Ia berhenti di setiap pembawa bendera, mengingatkan mereka, menyemangati, dan menjanjikan kemenangan. Kemudian ia berkata, “Aku akan bertakbir tiga kali, setelahnya aku akan menyerbu musuh, maka bergeraklah kalian.” Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, muliakanlah Din-Mu dan tolonglah hamba-hamba-Mu. Jadikan an-Nu’man yang syahid pertama kali pada hari ini. Ya Allah, aku memohon kepadamu untuk menyejukkan mataku dengan kemenangan yang memuliakan Islam, dan ambillah aku sebagai syahid.” Mendengarnya, seluruh pasukan menangis dan mengaminkan doanya.

Lalu bagaimana akhirnya? Setelah terjadi pertempuran yang sangat sengit, pasukan Persia terkalahkan. Darah mereka yang terbunuh dari sejak tergelincirnya matahari sampai tenggelamnya membanjiri medan pertempuran sampai menggelincirkan kaki-kaki. Ketika Allah telah menyejukkan mata an-Nu’man dengan kemenangan dan ia telah melihat kekalahan orang-orang musyrik maka Dia memilihnya sebagai syahid di akhir pertempuran sebagai jawaban atas doanya. (al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibnul Atsir).

Jika kita sebutkan satu per satu atsar para salaf tentang bagaimana mereka menggunakan senjata doa dalam setiap pertempuran mereka dan bagaimana doa amat berpengaruh dalam kemenangan mereka, tentulah amat banyak. Diantaranya adalah sang penakluk agung Jenderal Qutaibah bin Muslim al-Bahili rahimahullah. Beliau selalu menyertakan para ahli ibadah, ulama dan fuqoha dalam setiap penaklukkannya, mengharapkan kemenangan lewat doa mereka. Pada akhir abad pertama hijriyah dalam salah satu penaklukkannya, pasukan Qutaibah berbaris menghadapi Turk. Jumlah dan perlengkapan mereka menggentarkannya. Maka segera dicarinya seorang imam tabiin yaitu Muhammad bin Wasi’ rahimahullah. Dikatakan padanya bahwa beliau berada di sayap kanan pasukan sedang bertelekan pada busurnya sembari mengangkat telunjuknya memohon pertolongan Rabbnya atas musuhnya. Qutaibah pun mengatakan kalimatnya yang masyhur itu, “Telunjuk itu lebih aku sukai daripada seribu pemuda yang kuat beserta pedang yang terhunus.” (Siyar A’lam an-Nubala).

Tidaklah ia mengatakan hal itu kecuali lantaran mengetahui urgensi dan keutamaan senjata doa. Demikianlah, ketika pasukannya menyerbu pasukan musyrik Turk, Allah memberikan kemenangan padanya. Ia berhasil mematahkan kekuatan mereka, menaklukkan negeri-negeri mereka, membunuh dan menawan banyak dari mereka, dan merampas harta yang banyak. (al-Bidayah wa an-Nihayah)

Marilah kita perhatikan lagi sang penakluk berikutnya, yaitu sang jenderal wali Khurasan Asad bin Abdullah al-Qosri rahimahullah. Pada salah satu pertempuran strategisnya melawan orang-orang Turk pada tahun 119 H, beliau mengimami pasukan muslim melaksanakan shalat subuh, kemudian berkhutbah, “Sesungguhnya musuh Allah al-Harits bin Suraij – yaitu orang yang memberontak atas Bani Umayah pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik – telah meminta bantuan thaghutnya – yaitu Khagan Turk – untuk memadamkan cahaya Allah, namun Allah akan menghinakannya insya Allah. Sesungguhnya musuh kalian si anjing ini telah membunuh banyak saudara kalian. Namun jika Allah menghendaki kemenangan kalian, banyak atau sedikitnya jumlah tidak akan berpengaruh, maka minta tolonglah kepada Allah.” Kemudian katanya, “Saya diberitahu bahwa saat yang seorang hamba paling dekat kepada Allah adalah ketika ia meletakkan dahinya ke tanah. Aku akan turun dan meletakkan dahiku ke tanah, maka berdoalah pada Allah, bersujudlah dan ikhlaskan doa pada-Nya.”

Seluruh pasukan melaksanakan perintahnya itu. Ketika mereka mengangkat kepala, tidak sedikitpun ragu akan kemenangan mereka. Mereka segera bergerak untuk menggempur Turk. Ketika sampai di Balkh – salah satu kota di Khurasan – sang jenderal memimpin pasukan melaksanakan shalat dua rekaat yang dipanjangkannya. Kemudian ia menyeru seluruh pasukan untuk berdoa. Doa yang panjang dipanjatkannya, memohon kemenangan, dan seluruh pasukan mengaminkannya. “Demi Rabb Ka’bah, kalian telah menang insya Allah” katanya tiga kali.

Ketika mereka bertemu orang-orang musyrik dan murtad itu, berkecamuklah pertempuran sengit. Al-Harits terpukul mundur, sang Khagan kabur dari pertempuran dan pasukan Turk tercerai berai. Kaum muslimin mengejar dan membunuhi mereka yang tertangkap dan berhasil memperoleh ghanimah yang amat banyak. Lebih dari 155.000 kambing ditangkap dan digiring. (Tarikh ath-Thabari).

Ini hanya sedikit dari kisah pendahulu kita. Bisa kita ambil pelajaran bahwa doa adalah faktor kemenangan terpenting, jika seluruh syarat dikabulkannya terpenuhi dan tidak ada hal-hal yang menghalanginya.

Syarat terpenting dikabulkannya doa adalah mengikhlaskan hanya karena Allah Yang Maha Esa. Juga meneladani cara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa dan menghindari bid’ah dalam doa. Doa juga harus dipanjatkan dengan tekad bulat, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian berdoa maka bulatkanlah tekad kalian, jangan malah berkata, ‘Ya Allah jika Engkau berkehendak maka karuniailah aku’.” (Muttafaq ‘alaih).

Engkau juga harus yakin bahwa doamu akan dikabulkan oleh Allah, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian meminta pada Allah maka mintalah sedangkan kalian yakin akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan doa hamba yang dipanjatkan dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad).

Demikian juga dalam berdoa hendaknya amat berharap pahala disisi Allah dan amat takut akan siksa-Nya, serta disertai hati yang khusyuk, Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS al-Anbiya: 90)

Demikian juga ada adab-adab dan sunnah-sunnah berdoa yang bisa mengangkat doa itu. Hendaknya si pendoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat, dan mengangkat kedua tangannya. Ia memulai doanya dengan memuji Allah azza wa jalla dengan sepantasnya dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan tidak lupa menyebutkan amal shalihnya. Dalam doanya ia sebaiknya memohon dengan memelas kepada Allah, mengulang-ulang permohonannya sembari menangis. Doa dilantunkannya dengan suara yang lirih jika sendirian, adapun imam harus meninggikan suaranya agar makmum mengaminkannya. Hendaknya memilih waktu-waktu yang mustajab, seperti sepertiga malam terakhir, setelah menunaikan shalat wajib, diantara adzan dan iqomat, ketika turun hujan, ketika bergerak dalam sebuah pasukan dan ketika bertemu musuh, waktu terakhir pada hari Jumat, ketika mendengar kokok ayam, ketika berbuka puasa dan ketika bepergian.

Hendaknya si pendoa juga menghindari hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa seperti berdoa kepada selain Allah, meminta bantuan orang mati dan jin, dan hal itu adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam. Diantaranya juga berdoa kepada Allah dengan tawasul bid’ah seperti bertawasul dengan martabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan berkata, “Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan martabat Nabi-Mu”. Juga dilarang berdoa dengan membatasi rahmat Allah seperti katanya, “Ya Allah, rahmatilah fulan, ampunilah fulan, dan jangan Engkau ampuni serta rahmati si fulan.” Dilarang berdoa untuk suatu dosa dan memutus silaturahmi.

Hal lain yang menghalangi doa yaitu melakukan maksiat khususnya memakan barang haram seperti mencuri, riba, minum khamr atau merokok. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyebutkan hal itu dalam sabdanya, “Seorang lelaki yang sedang bepergian, rambutnya kusut masai, badannya penuh debu, lalu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berseru wahai Rabb, wahai Rabb, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan barang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan? (HR Muslim).

Hal lain yang menghalangi doa adalah meninggalkan amar makruf nahi munkar. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, laksanakan amar makruf nahi munkar atau jika tidak, maka dikhawatirkan Allah akan mengirim bencana, kemudian kalian berdoa pada-Nya namun tidak dikabulkan-Nya.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya).

Seorang pendoa juga hendaknya menghindari hal-hal makruh dalam berdoa, seperti berteriak-teriak ketika berdoa. Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Ayat ini (Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu) turun berkenaan dengan doa.”

Diantaranya juga adalah berdoa dengan lafazh yang dibuat-buat berirama, atau yang tidak dipahami orang-orang. Sekalipun kefasihan dalam berdoa itu terpuji agar tidak mempengaruhi makna namun keluar dari yang sudah maklum dalam berdoa adalah hal yang tercela karena menghilangkan khusyuk dan menyibukkan hati. Hendaknya si pendoa juga tidak meminta suatu masalah yang tidak layak diminta seperti meminta kepada Allah untuk memberinya hidup selamanya di dunia, atau meminta agar kedudukannya seperti kedudukan para nabi.

Wahai Junud Daulah Islamiyah, wahai para amirnya, wahai rakyatnya, dan para munashirnya, berdoalah kepada Allah agar menolong khilafah kalian ini, berdoalah pada-Nya agar mengalahkan Jalut modern Amerika dan pasukannya. Sesungguhnya Allah pasti akan mengabulkan doa kalian sekalipun setelah berlalu beberapa waktu.

WAJIBNYA MENYINGKAP KEDOK ULAMA SUU

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

WAJIBNYA MENYINGKAP KEDOK ULAMA SUU

Syariat Islam telah diturunkan untuk menjaga lima perkara pokok yang merupakan pondasi terpenting kehidupan manusia dalam Din dan dunia mereka, yaitu menjaga Din (Agama), jiwa, akal, kehormatan, dan harta mereka, tidak diragukan lagi bahwa terjaganya agama adalah kemaslahatan dan tujuan tertinggi. Oleh karena itu, Allah mengharamkan syirik dan semua penyebabnya. Allah juga mengharamkan berbicara atas nama-Nya tanpa ilmu, mengharamkan bid’ah, dan semua hal yang diada-adakan (dalam agama). Karenanya, mengingatkan umat dari kesyirikan dan bid’ah, menerangkan keadaan para pelaku dua hal tersebut, menyingkap kepalsuan dan kebathilan mereka, merupakan salah satu kewajiban. Ini termasuk nasehat wajib, demi menjaga agama kaum muslimin, sebagaimana diriwayatkan dari Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Agama adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin, dan kaum muslimin umumnya.” (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, membantah ahli bid’ah dan mengingatkan umat terhadap perkara mereka, termasuk dari amar makruf nahi munkar. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104).

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seperti para gembong bid’ah dari kalangan para pelontar pendapat yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah maupun para pelaku ibadah-ibadah yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah. Sejatinya, menyingkap kedok mereka dan memperingatkan umat dari mereka adalah wajib menurut kesepakatan kaum muslimin. Pasalnya, memurnikan jalan Allah, agama-Nya, manhaj-Nya, dan syariat-Nya, serta menghindari kezhaliman dan permusuhan mereka itu adalah perbuatan wajib kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Jika saja Allah tidak menggerakkan orangorang yang menghadang bahaya mereka, niscaya agama ini akan rusak. Sesungguhnya kerusakan agama lebih berbahaya daripada kerusakan penjajahan musuh dari golongan ahli harbi (kafir yang wajib diperangi, Edt.), karena apabila mereka merampas suatu negeri, tetaplah tidak bisa merusak hati dan agama penduduknya kecuali setelah berlalu beberapa waktu. Sedangkan para gembong bid’ah itu sasaran utama mereka adalah merusak hati.” (Majmu’ al-Fatawa).

Ditetapkan dalam as-Sunnah tentang bolehnya membicarakan aib seorang laki-laki berperangai buruk, dengan menyebut namanya langsung bukan secara umum saja. Dan dianalogikan darinya untuk ahli bid’ah, maka diperbolehkan untuk menggunjingnya (ghibah) untuk memperingatkan manusia darinya. Dari Aisyah radhiyallahu anhda berkata, “Seorang lelaki meminta izin menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau bersabda, “Izinkan dia, sungguh dia seburuk-buruk saudara kabilah”, atau, “anak kabilah.” Ketika dia masuk, ternyata Rasulullah berkata lembut kepadanya. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau mengatakan apa yang engkau katakan itu, lalu engkau berkata lembut padanya?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sejelek-jelek manusia adalah orang yang ditinggalkan orang-orang karena takut akan kekejiannya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Para salaf selalu memperingatkan agar tidak menuntut ilmu kepada pelaku bid’ah. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Imam Ibnu Sirin yang berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah (bagian dari) agama, maka perhatikanlah darimana kalian mengambil agama kalian.” Dia juga berkata, “Dulu para salaf tidak menanyakan tentang sanad. Namun ketika terjadi berbagai fitnah mereka berkata, ‘Sebutkan siapa saja perawimu! Jika ahlu sunnah, maka haditsnya diambil, namun jika ahlu bid’ah maka haditsnya ditolak.”

Inilah Syababah bin Sawar al-Fazari yang wafat pada 206 H, ketika dia terkena paham Murjiah, maka Imam Ahmad pun meninggalkannya dan berkata, “Aku tidak akan menulis hadits-haditsnya lantaran dia terkena paham Murjiah.” (Tahdzib al-Kamal).

Berarti ada dari ahlu bid’ah yang berilmu, menguasai keilmuan, dan piawai dalam berbagai disiplin ilmu. Namun hal itu tidak menyilaukan mata para imam ahlu sunnah yang justru menjauhi mereka. Alih-alih menjadi legitimasi, ilmu para ahli bid’ah justru menjadi hujjah yang membantah mereka. Ilmu adalah rasa takut kepada Allah, dan ilmu adalah amal, sebagaimana Ibrahim an-Nakha’i mengatakan, “Jika kami hendak berguru kepada seorang syaikh, maka kami tanyakan kepadanya tentang makanannya, minumannya, tempat apa yang ia singgahi dan kemana dia berpergian. Jika perilakunya lurus maka kami akan berguru kepadanya, namun jika tidak, maka kami tidak akan mendatanginya.” (al-Kamil fi Dhu’afaa' ar-Rijal).

Para salaf bahkan tidak segan-segan menyebutkan nama perawi yang salah dalam periwayatan –lantaran buruknya hafalan maupun kecermatannya— secara tegas, sekalipun dia orang baik dan istiqamah.

Demikianlah agar manusia mewaspadai kesalahannya. Ini bukanlah ghibah yang diharamkan, melainkan nasehat wajib sehingga kesalahan pada syariat tidak melekat di pikiran manusia yang akan mengiranya bagian dari agama, lalu mereka mengikutinya.

Oleh karena itu, dalam sejarah Islam muncul satu ilmu mulia lagi agung bernama ilmu “Al-Jarh wa at-Ta’dil” (kaidah-kaidah kritik dan penetapan kejujuran perawi hadits, Penj). Ilmu ini adalah salah satu kebanggaan umat, menjaga as-Sunnah dan membedakan yang shahih dan yang dha’if.

Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil adalah salah satu disiplin ilmu hadits. Topik pembahasannya adalah mengenai kondisi para perawi hadits –para periwayat ilmu— terkait sifat adil mereka, kecermatan, kebenaran, dan kejujuran mereka. Kondisi para perawi itu disebutkan secara rinci, termasuk jika mereka punya semisal lemah hafalannya, tadlis (menyembunyikan perawi yang cacat dari silsilah sanad, Penj.), wahm (hafalannya tercampur baur, Penj.), atau karena dusta.

Para ulama telah menulis kitab-kitab khusus menyangkut para perrawi yang cacat itu. Imam al-Bukhari menulis kitab adh-Dhu’afaa', Abu Ja’far al-‘Uqaili (wafat 322 H) juga menulis kitab dengan judul sama, an-Nasaa'i (wafat 303 H) penulis kitab Sunan menulis kitab berjudul adh-Dhu’afaa' wa al-Matrukun (Para Perawi Lemah dan Matruk), ad-Daraquthni (wafat 385 H) dan Ibnul Jauzi (wafat 598 H) menulis kitab berjudul sama, Ibnu ‘Addi al-Jurjani (wafat 365 H) menulis kitab berjudul al-Kamil fi Dhu’afaa'ar-Rijal (Ensiklopedi Para Perawi Lemah), dan masih banyak ulama lain yang menulis kitab-kitab masyhur lagi penting dalam disiplin ilmu ini.

Abdullah bin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menceritakan, “Suatu ketika Abu Turab an-Nakhsyabi mendatangi ayahku (untuk menuntut ilmu). Ayahku ketika itu berkata, ‘Si Fulan lemah, si Fulan terpercaya.’ Mendengar hal itu Abu Turab berkata, ‘Wahai syaikh, janganlah engkau meng-ghibah ulama. Maka ayahku menengok kepadanya dan berkata, ‘Celaka engkau, ini nasehat, bukan ghibah.’ (Tarikh Baghdad).

Ibnul Jauzi menyebutkan dari Muhammad bin Bandar al-Jurjani, dia berkata, “Aku mengungkapkan kepada Ahmad bin Hanbal bahwa aku merasa keberatan untuk mengatakan Fulan ini lemah, Fulan itu pendusta, maka dia menanggapi, ‘Jika engkau diam dan aku diam, maka kapan orang bodoh akan mengerti mana (hadits) yang benar dan yang cacat?’” (adh-Dhu’afaa' wa al-Matrukun).

Jika ternyata demikian manhaj para imam berkenaan dengan perawi yang salah dalam meriwayatkan sekalipun mereka itu orang shalih dan istiqamah, namun kesalahannya tetap disebutkan agar manusia bisa mewaspa- dainya, maka petunjuk mereka berkenaan dengan ahli bid’ah dan hawa nafsu lebih keras dan tegas lagi, yaitu men-tahdzir (peringatan) dan meng-hajr (boikot) sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Adapun terhadap para pelaku bid’ah mukaffirah (bid’ah pemicu vonis kekafiran, Edt.), para imam berlepas diri dari mereka dengan membuat banyak bantahan, celaan, peringatan, cercaan, dan bahkan pengkafiran. Perhatikanlah Bisyr al-Murisi yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, mengingkari nama-nama Allah dan prinsip-prinsip yang qath’i (konstan, baku). Para imam Ahlussunnah telah mencelanya dan memperingatkan manusia darinya. Mereka menulis bantahan terhadapnya dengan menyebut namanya secara jelas, seperti yang dilakukan Imam Abu Sa’id ad-Darimi dalam kitabnya Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘Ala Bisyr al-Murisi al-Jahmi al-‘Anid fi Ma Iftara ‘Alallah fi at-Tauhid (Kritikan Utsman bin Sa’id Atas Bisyr al-Murisi Si Jahmi Keras Kepala Karena Kedustaannya Kepada Allah Dalam Tauhid). Bahkan para imam Ahlussunnah mengkafirkannya dan menggolongkannya kepada pendahulunya, yaitu Jahm bin Shafwan. Ketika ditanya tentang Bisyr al-Murisi, Hammad bin Zaid berkata, “Dia itu kafir.” (ad-Darimi: an-Naqdhu ‘Ala al-Murisi). Syaikh Abdul Lathif Alu Syaikh rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat mengkafirkannya.” (Majmu’ah ar-Rasail).

Padahal al-Murisi ini salah seorang yang berguru kepada para ulama dan fuqaha di zamannya, mendengarkan riwayat mereka, dan berdiskusi dengan mereka. Bahkan adz-Dzahabi berkata ketika menyebutkan biografinya, “Ahli kalam, ahli debat, dan seorang pakar. Bisyr adalah seorang ahli fikih ternama, berguru kepada al-Qadhi Abu Yusuf, meriwayatkan dari Hammad bin Salamah dan Sufyan bin Uyainah. Dia mempelajari ilmu kalam dan menguasainya, sehingga hilanglah ketaqwaan dan wara’-nya. Dengan beraninya dia berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, dan menyeru kepada pemahamannya itu sampai menjadi gembong dan ulama Jahmiyah pada masanya.” (Siyaru ‘Alam an-Nubala).

Bahkan kita mendapati di antara imam Ahlussunnah yang bukan hanya mengkafirkan Jahmiyah dan pemimpinnya, si al-Murisi, namun juga memprovokasi untuk membunuh para pembesarnya. Imam Yazid bin Harun rahimahullah berkata, “Jahmiyah itu kafir, sudah lebih dari sekali aku memprovokasi penduduk Baghdad untuk membunuh al-Murisi.” (ad-Darimi, ar-Raddu ‘Ala al-Jahmiyah).

Tidak ketinggalan, Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid berkata, “Aku mendengar Bisyr al-Murisi mengklaim bahwa al-Qur’an adalah makhluk, jika aku berhasil menangkapnya maka aku berjanji kepada Allah untuk membunuhnya dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. (Abdullah bin Ahmad, as-Sunnah).

Sepanjang sejarah telah terjadi berbagai peristiwa pengkafiran, pembunuhan, dan penyaliban terhadap orang- orang zindiq (atheis) dan gembong-gembong ahli bid’ah ekstrem, seperti pembunuhan terhadap al-Ja’d bin Dirham, Jahm bin Shafwan, dan Husain bin Manshur al-Hallaj.

Demikianlah metode para imam terkemuka dalam menghadapi gembong-gembong kesesatan dan zindiq. Kita dapati Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah mengkritik si zindiq Ibnul ‘Arabi yang berkeyakinan hulul (pemahaman bahwa Allah menitis kepada makhluk-Nya, Penj.) secara khusus. Dia juga menulis kitab berjudul Minhaj as-Sunnah khusus untuk membantah si Rafidhah Abu Manshur al-Hulli, dan juga menulis beberapa risalah yang membantah si penyembah kubur al-Bakri al-Mishri serta para juru dakwah sesat lain.

Metode ini juga kita dapati jelas pada diri Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan para muridnya. Mereka tidak membiarkan satu kesempatan pun kecuali membongkar kedok orang-orang zindiq penyeru kesyirikan, yang membela-bela orang-orang musyrik lagi berdusta atas ahli tauhid seperti Ibnu ‘Afaliq, Ibnu Fairuz, anak-anak Muwais, Ibnu Jirjis, dan orang-orang seperti mereka. Bahkan sebagian muridnya menulis ensiklopedia bantahan lengkap di samping juga risalah-risalah khusus dan banyak fatwa.

Mengkritik dan menyingkap kedok ahli bid’ah dan orang-orang zindiq serta menghukumi mereka dengan hukum yang layak adalah manhaj otentik dari Ahlussunnah wal Jamaah. Terlebih lagi terhadap ulama thaghut dan Jahmiyah kontemporer yang menggiring manusia kepada kekafiran dan kesyirikan, berujung pada neraka Jahannam. Mereka telah menyembunyikan kebenaran, memoles kesesatan, dan menipu manusia. Kita memohon pertolongan Allah dalam membongkar kedok mereka dan menyajikan wajah yang sesungguhnya kepada manusia.