Rabu, 25 April 2018

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 4)

RUMIYAH 10 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 4) RAFIDHAH, REVISI DEMI REVISI AJARAN SESATNYA

RAFIDHAH ITSNA ASYARIYAH: DARI IMAM FIKTIF SAMPAI WALA KEPADA THAGHUT

Pada seri sebelumnya telah kita bicarakan sekilas mengenai perkembangan agama Rafidhah berdasarkan doktrin imamah ilahiyah bathilnya dan cabang-cabangnya berupa doktrin wasiyat, nash, taqiyah, al-bada, al-ghaibah (tak hadir), ar-raj’ah (reinkarnasi/ hidup kembali) dan berbagai ilusi serta bid’ah mukaffirah lainnya.

Pada tulisan ini kita akan berusaha –dengan izin Allah– untuk menjelaskan bagaimana akhirnya Rafidhah terpaksa berinovasi dengan doktrin imamah ilahiyah yang mereka tancapkan sebagai prasyarat tegaknya Daulah Islamiyah. Revisi demi revisi terpaksa ditambahkan sampai akhirnya terbentuk teologi wilayatul faqih yang membongkar sama sekali teologi pertama mereka. Pada teologi inilah negara syirik Iran pada hari ini didirikan dan berusaha menyebarkannya ke seluruh negeri-negeri kaum muslimin.

Berlawanan dengan klaim Rafidhah bahwa agama mereka adalah wahyu dari langit yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan terus berlanjut bersambung sampai kepada mereka melalui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhadan anak cucunya hingga dituliskan dalam kitab-kitab dan tersebar di antara manusia, mayoritas peneliti menegaskan bahwa agama ini sejatinya hasil tulisan ulama-ulama Rafidhah setelah meninggalnya anak cucu Ali, yang mereka klaim sebagai para imam maksum, agar agama yang telah tercabik-cabik dan hancur lebur bangunannya ini tetap eksis. Khususnya setelah menghilangnya imam ke dua belas, yang mereka ciptakan sendiri itu. Masa-masa setelahnya mereka sebut sebagai masa al-ghaibah (tak hadir).

Bagi Rafidhah, syarat mutlak imamah adalah maksum dan ada teks ilahiyah mengenai pengangkatannya. Oleh karena itu, semua khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai dari Abu Bakar ash-shiddiq adalah tidak sah. Menentang, memberontak, dan bahkan mengkafirkan para khalifah Rasul adalah sah. Lebih jauh lagi, mereka memaksa kaum muslimin umumnya untuk masuk dalam agama Rafidhah dan membai’at imam mereka sebagai syarat mutlak agar sah “label” islamnya.

Inovasi terpenting mereka adalah persoalan imamah. Mereka jadikan imamah sebagai prinsip mendasar agama. Barangsiapa yang tidak mengenal dan membai’at imam masanya maka ia tidak beriman. Sehingga mereka sendiripun saling berselisih mengenai apakah sebagian sahabat-sahabat imam-imam mereka yang mati pada masa-masa penentuan imam yang sah itu dianggap beriman?

Pengikut agama mereka lalu lebih ditekan lagi. Semua hal yang berhubungan dengan jabatan imamah, seperti peradilan, pelaksanaan hudud, hisbah, jihad, shalat jum’at, dan lainnya, harus berdasarkan teks ilahi. Tidak absah jika dilakukan oleh selain imam atau orang yang ditunjuk oleh imam. Mereka juga mengharamkan pengikutnya untuk saling berhakim kepada para “imam lalim”, berperang di belakangnya, melaksanakan shalat jum’at bersamanya, atau menunaikan zakat padanya.

Bahkan syari’at Din juga tak lepas dari tangan-tangan kotor mereka. Mereka larang pengikutnya mengambil langsung dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Syari’at-syari’at Din harus diambil melalui jalur imam-imam mereka saja. Mereka mengklaim bahwa kata-kata imam mereka adalah al-Qur’an an-nathiq (al-Qur’an yang hidup) berlawanan dengan yang mereka sebut sebagai al-Qur’an ash-shamit (al-Qur’an yang diam) yang berada di dada-dada dan mushaf-mushaf kaum muslimin.

Mereka juga mengingkari bahwa tasyri’ (penyusunan hukum. Penj.) telah berhenti semenjak meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengklaim bahwa beliau memberi tahu ahli baitnya banyak hukum yang semasa hidupnya belum perlu dikeluarkan. Mereka juga mengklaim bahwa semua kata-kata dan tindakan para imam bersumber dari ilmu nubuwwah yang diwarisinya. Bahkan lebih jauh lagi, mereka mengklaim para imam itu mendapat wahyu dari Allah ta’ala. Sehingga kata-kata para imam itu tak lebih dari wahyu belaka. Mereka menggolongkannya sebagai sunnah dalam bab Ushul Fiqh. Walhasil, mereka melarang ijtihad dalam agama. Siapapun yang berani berfatwa selain para imam dianggapnya sebagai thaghut yang mencanangkan syari’at dan berhakim dengan selain yang diturunkan Allah.

Mereka tidak hanya membatasi tafsir Kitabullah dan Sunnah dengan pendapat-pendapat, klaimnya, para imam, dan menakwilkan nash-nash dua wahyu dengan takwil-takwil “miring”, bahkan lidah-lidah pendosa mereka juga mendustakan dan mengubah-ubah nashnash tersebut. Tidak ada sunnah yang shahih kecuali jika sesuai dengan madzhab mereka, berdasarkan ucapan atas nama Ja’far ash-Shadiq, “Apa yang menyelisihi orang-orang umumnya itulah yang benar.” Orang-orang umum-nya itu maksudnya ahlus sunnah wal jamaah. Mereka juga, bahkan, mendustakan keabsahan al-Qur’an al-Karim. Mereka mengklaim para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengubah-ubah ayat-ayatnya, menghapus nash jelas mengenai imamah Ali radhiyallahu ‘anha dan membuang laknat-laknat atas Abu Bakar, Umar, dan Bani Umayah. Yang penting semua hal yang tidak sesuai dengan madzhab bathil dan millah kafir mereka. Mereka juga mengklaim para imam memiliki mushaf selain dari mushaf yang dimiliki oleh orang-orang. Walhasil, mereka memonopoli dua wahyu setelah sebelumnya mereka juga memonopoli takwilnya dan keterangan hukum-hukumnya.

Tak cukup mereka membatasi agama manusia pada para imam, dunia mereka juga diikat. Syirik ibadah disebarkan di kalangan pengikutnya. Mereka menyeru pengikutnya untuk meminta tolong pada para imam dan juru dakwahnya, mendekatkan diri dengan sembelihan dan nadzar, dan mencari berkah dengan kuburannya serta semua bekas-bekasnya. Agar dengan itu lancar rezekinya, disembuhkan dari sakit, dan diberi keturunan, demikian klaimnya. Semua itu dalam lingkup kampanye total untuk menggiring dan mengikat manusia masuk dalam madzhabnya.

Apa yang telah kita sebutkan mengenai bagaimana mereka membangun seluruh sendi-sendi agamanya itu di atas prinsip imamah itu sudah cukup. Contoh-contoh yang ada tak perlu ditambahkan lagi untuk memperjelas maksud. Meskipun agama mitos inovatif mereka itu penuh dengan kisah-kisah mencengangkan seperti ini.

Dari Imamah Ilahiyah Ke Perwakilan Imam

Rafidhah tak pernah malu untuk terus merevisi teologi imamah mereka berkali-kali selama lebih kurang dua abad. Namun peristiwa paling membingungkan adalah ketika Imam Kesebelas mereka Hasan al-Askari bin Ali al-Hadi mati pada pertengahan abad ketiga hijriyah tanpa meninggalkan keturunan. Demi menyelamatkan teologi mereka itu, diciptakanlah kisah lahirnya anak Hasan al-Askari dari seorang budak Romawi. Mereka mengklaim ibunya menyembunyikannya untuk melindunginya dari penguasa sampai ia dewasa. Kemudian kisah itu direvisi bahwa musuh-musuhnya berhasil menemukannya ketika ia masih kecil, maka ia terpaksa bersembunyi di sebuah gudang bawah tanah di kota Samarra, Iraq.

Ketika ia tak muncul-muncul juga, dan pengikutnya terus menanyakan dan menuntut untuk melihatnya agar bisa mengambil agama darinya, para dajjal pendusta itu mengklaim bahwa sang imam tak terlihat dalam pandangan mata manusia biasa. Hanya wakilnya yang bisa mengetahuinya, yaitu Utsman bin Sa’id al-Umari. Si dajjal ini memperlihatkan sebuah surat yang diklaimnya tulisan tangan “al-Mahdi” mengenai pengangkatan dirinya sebagai wakilnya untuk menjawab pertanyaan manusia, menyampaikan ilmu sang imam, dan menerima harta seperlima (khumus). Yang terakhir ini paling penting, sebagaimana akan kita lihat nanti.

Bersamaan dengan munculnya wakil-wakil dari Imam Keduabelas mereka Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-Askari, bagi Rafidhah masa dua belas imam telah selesai dan dimulailah masa ghaibah. Tahapan ini dinamakan al-ghaibah as-shughra (masa tak hadir pertama). Ditandai dengan munculnya wakil-wakil sang imam, yang sekaligus menggantikannya, sehingga teologi bathil dan prinsip rusak thaghut Rafidhah terus eksis. Tahapan al-ghaibah as-shughra ini berlangsung selama lebih kurang 70 tahun. Ada empat wakil imam yang silih berganti. Yang paling penting setelah al-Umari adalah putranya, Muhammad (kita perhatikan bahwa jabatan wakil imam ini juga diwariskan layaknya jabatan imamah), yang menjabat selama 40 tahun. Lalu digantikan oleh Hasan an-Nubikhti. Kemudian Ali al-Masiri. Dengan matinya yang terakhir ini, pada tahun 329 H, berakhir jugalah masa ini. Khususnya, ketika ia mati, mereka merasa bahwa kisah al-ghaibah as-shughra dan imam yang berada di tempat tersembunyi itu tidak akan dipercaya lagi oleh seorangpun setelah habisnya umur rata-rata manusia.

Dengan ini dimulailah masa al-ghaibah al-kubra (masa tak hadir tak tentu). Mereka melarang seorangpun pengikutnya bertanya-tanya mengenai persoalan ini, atau dimanakah sang imam dan kapan munculnya. Masa ini dimulai sejak waktu tersebut sampai masa kita ini. Sehingga selama lebih kurang 1000 tahun, Rafidhah hidup tanpa ada seorangpun imam yang muncul. Mulailah para pendeta Rafidhah memalsukan hadits atas nama para imam. Bermacam-macam usaha mereka demi mencari jalan keluar dari labirin al-ghaibah ini. Tak diragukan lagi bahwa teologi wilayatul faqih di Iran saat ini adalah inovasi yang paling cemerlang. Oleh karena itu, kita dapati mereka pada masa ini banyak membicarakan mengenai masa muncul kembali, yakni munculnya al-Mahdi yang ditunggu-tunggu. Yaitu untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang adil, membalas dendam pada musuh-musuh ahlul bait (maksudnya ahlus sunnah wal jamaah), dan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya penuh dengan kekafiran dan kelaliman, demikianlah klaimnya.

Seribu Tahun Kebingungan

Thaghut-thaghut Rafidhah itu terperangkap sendiri dalam jebakan imamah ilahiyah yang mereka pasang untuk kaum muslimin. Simpul dan rantai yang mereka gunakan untuk mengikat manusia ternyata mulai menjerat tangan dan leher mereka sendiri. Mereka sendiri yang membatasi bahwa imam-lah yang berhak membuat syari’at, berijtihad, menetapkan hukum, menegakkan hudud, berperang, mengambil harta seperlima, dan mengumpulkan zakat. Mereka melarang siapapun melaksanakan hal-hal tersebut sedikitpun. Namun ternyata mereka sendiri pun terhalangi dari hal-hal tersebut. Akibat dari tak hadirnya sang imam, dan mustahil mengangkat imam lagi setelahnya, karena mereka telah menutup sendiri rangkaian dua belas imam itu.

Mengklaim diri sebagai wakil sang imam juga amat sulit. Akan ada banyak orang yang menginginkan dan berusaha mengklaim posisi tersebut karena kebebasan dan harta yang bakal didapatkan. Faktanya, selama masa empat wakil itu, yang diterima oleh seluruh kalangan Rafidhah, lebih dari 30 orang telah mengaku sebagai wakil sang imam agar bisa mengumpulkan harta seperlima (khumus) dan zakat atas nama sang imam. Maka dari itu, harus ada inovasi baru untuk terus mempertahankan agama Rafidhah, dan mengembangkan teologi imamah ilahiyah.

Demikianlah aqidah Rafidhah terus mengalami kegoncangan pada masa ini. Mayoritas pengikutnya keluar dari agama bathil ini karena banyak terdapat kontradiksi. Seluruh sendi agama dan dunianya terbatasi pada seorang imam, padahal sang imam itu takwujud kecuali dalam cerita-cerita mitos dan legenda. Salah satu thaghut pendusta mereka, yang disebut as-Shadhuq (yang teramat jujur), menggambarkan kondisi Rafidhah pada awal mula masa al-ghaibah al-kubra, yang mereka sebut sebagai masa kebingungan, dengan ucapannya, “Mayoritas orang-orang Syiah yang menentangku itu kebingungan dengan al-ghaibah ini. Bagi mereka, perkara al-Qaim (maksudnya Muhammad al-Mahdi) itu sudah tidak jelas.”

Thaghut lainnya berujar, yaitu an-Nu’mani, “Kebingungan apa lagi yang lebih besar daripada kebingungan ini yang menggelisahkan sejumlah besar orang-orang ini, sehingga tidak ada yang bertahan kecuali sedikit, lantaran keraguan yang menghinggapi?”

Tauqifi dan Haraki

Perkembangan terpenting dalam teologi imamah ilahiyah selama masa ini adalah sebuah inovasi teologis baru yang disebut al-intizhar (menunggu, yakni menunggu sang imam muncul kembali. Penj.). Ternyata kemudian mereka juga saling berdebat bagaimana takwilnya. Akhirnya bercabang menjadi dua gerakan utama. Tauqifi, yang berarti diam bersembunyi di balik topeng taqiyah sampai kembalinya sang imam yang tak hadir, dan haraki, yang berarti harus tetap bergerak mempersiapkan kondisi demi kembalinya sang imam. Kekuatan dan kekuasaan harus diraih, musuh-musuh yang membuat sang imam takut harus dienyahkan, sehingga memungkinkan bagi sang imam untuk muncul ke khalayak sebagai penguasa dan menegakkan agama.

Gerakan pertama, tauqifi, amat keras mengharamkan gerakan apapun atau mengikuti siapapun yang keluar pada masa al-ghaibah atas nama menegakkan Daulah Islamiyah dan mengembalikan kekuasaan ahlul bait. Mereka beralasan dengan ucapan Muhammad al-Baqir, “Semua panji yang diangkat sebelum munculnya panji al-Mahdi, maka pendukungnya adalah thaghut yang diibadahi selain Allah, dan semua bai’at yang dilaksanakan sebelum munculnya al-Qaim (al-Mahdi) maka merupakan bai’at tipuan, kufur, dan nifak.”

Metode Ikhbari menjadi tren di kalangan pengikut gerakan ini. Metode ini mereka serupakan dengan metode ahli hadits. Para ulama metode ini dilarang berijtihad, orang-orang bodoh-nya dilarang bertaklid, semuanya diperintahkan untuk berpegang dengan atsar-atsar para imam saja. Dalam rangka hal itu, mereka berani berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahli baitnya, bahkan atas nama al-Mahdi mereka yang tak hadir itu. Bisa dikatakan bahwa mayoritas “kreatifitas” dalam agama Rafidhah berupa kisah-kisah dusta, bid’ah, takhayul, celaan atas Islam dan kaum muslimin, serta atas al-Qur’an dan penghafalnya adalah hasil tangan-tangan busuk ikhbari ini. Bahkan mereka menulis ulang sejarah masa-masa lampau agar sesuai dengan hawa nafsu dan keyakinannya. Rafidhah, khususnya orang-orang ikhbari ini, tidak cukup hanya dengan membangun agamanya di atas prinsip rusak imamah ilahiyah, mereka juga menulis ulang sejarah manusia, dan bahkan masa depan, agar sesuai dengan teologi bathil mereka.

Berdasarkan hal itu, pendukung gerakan tauqifi ini selalu bersikap negatif terhadap semua negara yang didirikan oleh Rafidhah sepanjang sejarahnya. Mereka menolak keabsahannya berdasarkan teologi wasiat, nash, kemaksuman, intizhar (menunggu), dan lainnya. Bagi mereka, penguasa negara-negara itu tidak memenuhi syarat-syarat doktrin-doktrin itu sekalipun beriman dengan agama Rafidhah, dan meyakini harus menunggu al-Mahdi. Sekalipun seluruh faktor penghalang yang menjadi justifikasi tak hadir-nya sang imam itu berhasil dihilangkan, dan ketika raja-raja negara-negara itu menghadap kepada thaghut-thaghut Rafidhah menuntut munculnya al-Mahdi untuk menerima tongkat kekuasaan, mereka tetap menolaknya, beralasan bahwa ada tanda-tanda kemunculannya yang belum lagi tampak.

Adapun pendukung gerakan kedua, mereka tidak menerima kejumudan intizhar. Sekalipun mereka beriman bahwa tidak ada imam kecuali dengan kemunculan al-Mahdi, sebagai konsekuensi teologi imamah ilahiyah dan syarat-syarat bathilnya, lemahnya doktrin-doktrin bid’ah dan kisah-kisah khayalan itu membuat mereka jengah. Maka mereka terpaksa bergerak, di bawah tekanan pengikutnya, untuk membebaskan diri dari jerat kejumudan intizhar. Dengan mengeksploitasi rasionalitas sesat, prinsip-prinsip talaqqi, ijtihad, dan perdebatan ala Mu’tazilah, sedikit demi sedikit para thaghut Rafidhah itu mampu membuka jalan. Mereka disebut sebagai ushuli. Pintu ijtihad akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Mereka mulai mendapatkan pengikut. Mereka berusaha melaksanakan kembali ibadah-ibadah, yang dipandang batal oleh pengikut tauqifi selama masa al-ghaibah, seperti shalat jum’at, hisbah, perang, penegakkan hudud, dan bahkan imamah itu sendiri. Tentu saja semuanya berdasarkan agama Rafidhah, bukan berdasarkan Dinul Islam.

Doktrin Niyabatul Faqih

Akhirnya thaghut-thaghut ushuli berhasil membuka lebar-lebar pintu ijtihad. Gembok imamah ilahiyah yang mengunci pintu itu berhasil dibongkarnya. Jerat yang dipasang oleh thaghut-thaghut ikhbari berhasil diuraikannya. Jerat yang berhubungan dengan doktrin bahwa semua ilmu selain ilmu para nabi dan para imam adalah ilmu zhanni dan tidak boleh diamalkan. Mereka menciptakan doktrin baru, yaitu perwakilan umum fuqaha atas al-Mahdi. Doktrin ini didasarkan atas takwil kata-kata salah satu imam yang membolehkan menaati siapapun yang mengerti pendapat-pendapat para imam. Maka sejatinya, pada sisi ini, para fuqaha itu adalah tak lebih dari wakil al-Mahdi. Ia, al-Mahdi, adalah mentor spiritual yang membimbing dan mencegah mereka dari kesalahan, berdasarkan atas doktrin al-luthfu ala Mu’tazilah. Bahkan ia, al-Mahdi, muncul ketika kondisi mendesaknya, untuk mencegah mereka bersepakat atas suatu kesalahan, dalam bentuk kata-kata yang dilontarkan lewat salah satu mulut para fuqaha itu.

Namun sejatinya doktrin niyabatul faqih ini dibentuk untuk memecahkan peliknya persoalan penerimaan harta seperlima yang harus ditunaikan kepada para imam. Harta seperlima ini tak pernah ditunaikan lagi sejak menghilangnya sang imam. Maka untuk mengalirkan kembali sumber pendapatan itu para thaghut Rafidhah menjustifikasi diri mereka sendiri untuk menerima harta tersebut. Dengan alasan bahwa harta itu akan disimpan dan diberikan kepada al-Mahdi ketika ia keluar, atau mewakilinya dalam memanfaatkan harta itu untuk kepentingan ahlul bait, menyebarkan agama, atau menguatkan pengikut, demikian klaimnya. Ketika akhirnya mereka bisa mewakili sang imam yang ghaib dalam persoalan seperlima ini, maka sedikit demi sedikit para thaghut Rafidhah itu menjustifikasi diri mereka untuk mewakili sang imam dalam semua hal. Sampai salah seorang pendukung gagasan ini, yaitu al- Karki, berujar, “Sesungguhnya faqih yang terpecaya, yang memiliki seluruh syarat mufti, sesungguhnya ia diangkat oleh Imam Mahdi.”

Demikianlah para thaghut Rafidhah mulai mengambil alih posisi para imam. Sedikit demi sedikit mereka semakin serupa dengan para imam. Mereka memonopoli seluruh hak imam seperti tasyri’ (perundang-undangan), ijtihad, peradilan, dan kepemimpinan. Mereka mulai mengeksploitasi doktrin niyabatul faqih untuk menekan penguasa agar mendapatkan restu mereka jika ingin kekuasaannya sah, jika tidak maka label thaghut musyrik akan ditempelkan. Persis seperti tingkah para paus Kristen yang pada masa lemahnya mensyaratkan pada raja-raja Eropa untuk mendapatkan restu mereka agar kekuasaannya sah, beralasan bahwa mereka-lah wakil Isa ‘alahis salam.

Dari Niyabatul Faqih ke Wilayatul Faqih

Mungkin Daulah Shafawiyah adalah negara Rafidhah pertama medan uji coba para thaghut Rafidhah mempraktekkan kekuasaan mereka sebagai para wakil al-Mahdi. Ketika itu Thahmasib bin Isma’il ash-Shafawi meminta restu kepada al-Karki, sebagai wakil al-Mahdi, agar mensahkan kekuasaannya atas negeri Persia. Sehingga ia mendapat legitimasi di mata orang-orang Rafidhah, yang ketika itu ia berusaha mendapatkan dukungan mereka atas orang-orang Utsmani. Demikian juga kedudukannya menjadi kuat di mata sekutu dan prajuritnya kalangan Qozlabasyiyah Bathiniyah.

Namun syarat restu dari para wakil al-Mahdi ini tidak dianggap sebagai undang-undang tetap. Pertama karena para raja tidak menyukainya, dan kedua karena doktrin ini mendapat penentangan keras dari orang-orang ikhbari. Mereka tidak menyerah kepada para ushuli, dan tidak menerima doktrin pengangkatan oleh al-Mahdi. Meskipun demikian, kekuasaan thaghut-thaghut Rafidhah itu semakin meningkat di antara pengikutnya. Sehingga mereka memiliki kekuatan yang bisa digunakan untuk menekan penguasa, sebagaimana terjadi atas penguasa-penguasa Qojari hingga akhir masa kekuasaannya. Lantaran hubungan tak manis antara thaghut-thaghut Rafidhah dengan penguasa, muncullah pandangan kuat bahwa kekuasaan harus berada di tangan mereka langsung, kemudian setelah itu mereka bisa menyerahkan sebagiannya pada siapapun yang dikehendaki. Karena jika mereka saling berbagi kuasa dengan para penguasa, yang mereka dapatkan hanyalah kekuasaan pada persoalan keagamaan saja.

Demikianlah, setelah Rafidhah merasa disempitkan dengan doktrin imamah ilahiyah, al-ghaibah, dan intizhar, mereka mulai berseru malu-malu bahwa doktrin-doktrin ini harus ditinjau ulang, atau paling tidak harus ada celah yang memperbolehkan mereka mendirikan negara dan pemerintahan, peradilan, menjaga perbatasan, menegakkan hudud, dan mengumpulkan khumus (seperlima) serta zakat. Semua itu tidak lepas dari kehidupan kemasyarakatan mereka. Maka berkembanglah pemikiran untuk menciptakan doktrin baru, yang negara terakhir mereka ini –dengan izin Allah– di bangun di atasnya. Yaitu negara syirik Iran yang diperangi oleh Daulah Islamiyah saat ini, dan doktrin baru itu adalah wilayatul faqih.

Pada bagian berikutnya kita akan berusaha –dengan izin Allah– untuk membicarakan mengenai doktrin baru ini dan fakta penerapannya oleh thaghut Iran. Kita memohon kepada Allah agar berkenan mengajari kita semua hal yang bermanfaat, dan kita mendapat manfaat dari apa yang diajarkan-Nya, serta menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

JADILAH PENGUAT, BUKAN PENGGEMBOS

RUMIYAH 10 - MUSLIMAH

JADILAH PENGUAT, BUKAN PENGGEMBOS

Dalam kondisi perang, fitnah dan kesusahan, kegelisahan bertambah, dan hati menyesak hingga kerongkongan, di antara manusia ada orang yang Allah teguhkan sebab keimanan dan persangkaan baik mereka kepada Allah. Dan di antara mereka ada pula yang binasa dan berbalik ke belakang, berpaling dari agamanya, mundur, dan mengkhianati saudaranya. Bahkan engkau mendapati sesungguhnya kebanyakan dari mereka tidak sekadar cukup dengan kekalahannya, bahkan berusaha mentransfer kekalahan tersebut kepada orang lainnya, dan menyebarluaskannya di tengah-tengah kaum muslimin seluruhnya. Dia menakut-nakuti kaum muslimin akan musuh-musuh mereka, berusaha meneror muslimin, serta menghalangi mereka dari memerangi musuh.

Perbuatan demikian merupakan salah satu tindakan yang biasa dikakukan kaum munafikin, yang menyeruak di antara orang-orang lemah iman dan berkeyakinan rusak, baik dari kalangan laki-laki maupun wanita. Dari kalangan laki-laki, hal ini adalah perkara yang sudah menjadi rahasia umum. Dari pembicaraan yang telah berlalu, peran mereka telah terkenal dan meluas. Adapun di kalangan wanita, sejatinya musibah mereka tersembunyi dalam tindakan menyebarluaskan gosip dari rumah dan mulut kaum munafikin, sehingga masuk ke rumahnya serta diketahui suami Dan anak-anaknya. Dengan demikian, dia terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan kaum munafikin, baik disadari ataupun tidak.

Menyiarkan Kabar Bohong (al-Irjaf) adalah Perbuatan Munafikin

AI-Irjaf adalah kabar dusta pengobar fitnah dan kegaduhan. Imam al-Qurthubi mengatakan di dalam tafsirnya, “al-Irjaf adalah mengorek-ngorek fitnah (kekacauan, menyebarkan kedustaan dan kebathilan untuk menimbulkan keresahan.”

Sungguh Allah ta’ala telah mencela perbuatan menyiarkan kabar bohong dan pelakunya dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an al-Karim. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudarasaudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (Al-Ahzab: 18)

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terla’nat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebathebatnya.” (Al-Ahzab: 60-61)

Al-Jashash berkata di dalam Ahkam al-Qur’an, “Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwasannya melakukan alirjaf di kalangan mukminin, menyebarluaskan berita yang meresahkan dan mengganggu mereka, maka berhak di-ta’zir (hukuman) dan diasingkan, jika di bersikukuh dan tidak berhenti melakukannya. Kaum munafikin dan orang-orang dari kalangan yang tidak memiliki basirah agama, mereka adalah orang-orang yang hatinya berpenyakit, yaitu lemah keyakinan. Mereka menyebarkan berita terkait mobilisasi orang-orang kafir dan musyrikin, koalisi mereka, dan rencana mereka menyerang kaum mukminin. Sehingga mereka membesar-besarkan perihal orang-orang kafir dan menakut-nakuti kaum mukminin. Maka Allah ta’ala menurunkan ayat itu berkenaan dengan mereka, dan Allah ta’ala mengabarkan bahwa mereka layak diusir dan dibunuh jika tidak menghentikan perbuatan tersebut. Allah Ta’ala memberitahu bahwa hal itu adalah sunatullah dan jalan yang diperintahkan untuk diamalkan dan diikuti.”

Di antara bahaya al-irjaf, Allah mewanti-wanti mujahidin agar tidak berbaur dengan para pelakunya. Pasalnya, ucapan mereka dapat melemahkan barisan, dan penggembosan mereka memperlemah kaum muslimin. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman, Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celahcelah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim.” (At-Taubah: 47)

Ibnu Ishaq berkata, “Dulu ada sekelompok munafikin, mereka meminta nasehat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu sedang menuju Tabuk. Maka sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Apakah kalian mengira bahwa serangan Bani Ashfar (Rum) itu seperti peperangan sebagian bangsa Arab terhadap sebagian lainnya! Demi Allah seakan-akan aku melihat kalian besok terikat dengan tali belenggu. Ucapan demikian sebagai bentuk al-irjaf dan menakut-nakuti kaum mukminin.”

Mengimani Qadar dan Meyakini Janji Allah adalah Tameng Wanita Beriman

Hukum bagi wanita dalam hal ini sama dengan hukum bagi laki-laki. Barangsiapa muslimah yang terjatuh dalam perbuatan itu, menakut-nakuti keluarganya atau orang lainnya dari kalangan muslimin, serta menyebarkan berita-berita yang dapat melemahkan hati di antara mereka, maka wajib baginya beristighfar (memohon ampun kepada Allah) dari dosa ini, serta memperbaiki keimanannya terhadap qadha dan qadar Allah, serta memahami dengan baik firman Allah ta’ala: “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’” (At-Taubah: 51)

Juga memahami sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Abbas saat dia dibonceng di belakang beliau: “Wahai ghulam (anak kecil), sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu, jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka memintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah seandainya umat ini bersatu untuk memberimu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikanmu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakan dirimu, pastilah mereka tidak akan mampu mencelakakan dirimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Jika mendengar desas-desus dari para penyebar kabar bohong, baik tentang kekuatan musuh-musuh kita, persiapan mereka untuk memerangi kita, dan mobilisasi mereka menyerang kita, maka wanita muslimah harus senantiasa merenungkan firman Allah ta’ala, kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat beliau, tatkala kaum musyrikin yang saat itu memiliki pasukan terkuat di dunia ketika itu berhimpun untuk menyerang mereka. Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apaapa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawankawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 173-175)

Begitulah semestinya jawaban yang dilontarkan muslimat kepada para penggembos dan munafikin, seraya merespons mereka dengan ucapan: hasbunallah wa ni’mal wakil (cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Atas keyakinannya bahwa bantuan Allah niscaya sudah mencukupi para hamba-Nya, betapapun kuatnnya musuh mereka. Pun karena keimanannya bahwa tidak akan menimpa diri dan keluarganya, serta seluruh manusia, kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Juga karena pengetahuannya bahwa teror setan hanya mampu memperdaya para pembelanya, bukan kepada kaum mukiminin.

Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid Meneguhkan Rasulullah

Kewajiban ini mesti ditingkatkan para istri, ibunda, dan saudari mujahidin. Mereka harus ambil peran di rumah mereka, melindunginya dari desas-desus para pelaku allirjaf dan obrolan kaum munafikin. Mereka tidak boleh melontarkan pembicaraan tentang mujahidin kecuali apa yang dapat meneguhkan kaki dan menguatkan hati mereka. Di antara kisah terelok para mukminat dalam hal ini adalah kisah Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anhadalam meneguhkan suaminya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau mendekatinya karena ketakutan, di hari ketika pertama kali Malaikat Jibril mendatangi beliau tengah beribadah di Gua Hira.

“’Selimutilah aku, selimuti aku.’ Maka beliau pun menyelimuti Rasulullah sampai rasa takut itu pergi darinya, maka beliau bersabda kepada Khadijah dan mengabarkan sebuah kabar: ‘Sungguh aku takut terhadap diriku.’ Maka Khadijah menjawab, ‘Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahim, menanggung nafkah orang yang membutuhkan, mencarikan kerjaan, menghormati tamu, dan membantu para pengemban kebenaran...” (Muttafaq Alaihi)

Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepada dakwah beliau, dan selalu menolong beliau, dan menguatkan tekad beliau hingga Allah mewafatkannya. Kecintaan Rasulullah kepadanya berkekalan di hati beliau, menjadi saksi atas apa yang telah dia korbankan. Sampai-sampai Rasulullah bersabda tentangnya, “Dia telah beriman kepadaku di saat manusia menentangku, dan membenarkanku di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan hartanya ketika manusia memboikotku.” (HR. Imam Ahmad)

Asmaa` binti Abu Bakar Mendorong Sang Putra Menuju Maut dengan Sabar

Dan di antara teladan lainnya adalah Asmaa` binti Abu Bakar –semoga Allah meridhai dirinya dan ayahnya. Tatkala sang putra yaitu Khalifah kaum muslimin Abdullah bin az-Zubair dikepung di Makkah oleh tentara pemberontak pimpinan al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Dia mendatangi sang ibunda untuk berkonsultasi dalam rangka memerangi al-Hajaj, setelah intimidasi terhadapnya semakin meningkat. Abdullah bin az-Zubair berkata, “Manusia telah menelantarkan aku, termasuk anak dan keluargaku. Tidak tersisa bersamaku kecuali segelintir orang-orang yang tidak memiliki kekuatan lebih daripada kesabaran sesaat saja, sedangkan kaum mereka memberiku apa yang aku inginkan dari dunia ini, maka bagaimana pendapatmu?” Sang ibu menjawab, “Demi Allah wahai anakku, engkau lebih mengetahui dirimu sendiri. Jika engkau menyadari bahwa engkau berada di atas kebenaran dan menyeru kepada kebenaran, maka berjalanlah untuknya. Sungguh para sahabatmu telah terbunuh di atasnya, dan jangan biarkan seorang pun anak dari Bani Ummayah mempermainkan nyawamu. Jika engkau hanya menginginkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau akan membinasakan dirimu, dan engkau membinasakan orang-orang yang terbunuh bersamamu. Namun jika engkau mengatakan, ‘Aku berada di atas kebenaran, namun tatkala teman-temanku melemah, maka lemah pula aku, maka ini bukanlah tindakan orang-orang merdeka, bukan juga pengusung agama. Berapa lama engkau akan tinggal di dunia, maka terbunuh adalah lebih baik.”

Sang Amirul Mukminin mendekati ibundanya, lalu mencium kepalanya, dan berkata, “Demi Allah ini adalah pendapatku. Namun aku senang mengetahui pendapatmu, basirahmu menambah basirahku, maka lihatlah wahai ibunda, sungguh aku akan terbunuh di hari ini, maka janganlah engkau bersedih, dan serahkan urusan kepada Allah.” Kemudian Ibnu Zubair meninggalkannya sembari berkata, “Sesungguhnya bila aku mengetahui hariku, maka aku bersabar. Dan dia mengetahui harinya akan berkobar.” Sang ibunda radhiyallahu ‘anhamendengar perkatannya dan berkata, “Bersabarlah, insya Allah, karena ayahmu adalah Abu Bakar dan az-Zubair, dan ibumu adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib.”

Demikianlah seharusnya keadaan istri beriman terhadap suaminya. Begitulah semestinya keadaan ibu yang beriman terhadap putranya. Sehingga sang putra menapaki jalan jihad melawan musuh-musuh Allah, dan menjalankan hal yang diperintahkan Rabb-Nya, sehingga sang ibu mendapatkan bagian dari amalnya dengan izin Allah.

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 3, SELESAI)

RUMIYAH 10 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 3, SELESAI)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI

Setelah memahami semua hakikat ini, kita dapat mengetahui makna yang dikehendaki di balik pengokohan, keteguhan, dan dikobarkannya Perang Fallujah dengan segenap kekuatan yang dikerahkan. Karena pada hari ini*, Perang Fallujah satu-satunya perang di front Islam terdepan. Keteguhan di dalam nya dan ribath di tapal batasnya berarti berjaga-jaga di perbatasan terdepan di mana dari situlah kita akan menikam kekafiran dan agresi.

*Saat itu, Perang Fallujah sedang berkobar (Edt.)

Jika kita melihat musuh melakukan penetrasi dan berkeliling di dalam kota dan berkonsentrasi di pinggiran kota, maka bukan berarti musuh telah meraih kemenangan. Karena peperangan kita melawan musuh adalah perang jalanan dan perang kota. Taktik dan metode dalam bertahan dan menyerang cukup bervariasi. Pertempuran sengit ini tidak dapat diprediksi hasilnya dalam hitungan hari atau minggu, tetapi memakan waktu sampai tiba waktu ketika salah satu pihak mendeklarasikan kemenangan.

Sebelum diputuskan hasilnya, cukuplah kita bergembira melihat putra-putra Islam teguh bak gunung kokoh di lini pertahanan Kota Fallujah penuh berkah. Mereka memberi pelajaran baru kepada umat dalam kekuatan, kesabaran, dan keyakinan. Kami mencoba menuangkan sebuah analisa seputar beberapa pelajaran dan hasil fantastis yang dipetik dari pertempuran dahsyat tersebut. Jadi, saya katakan :

Pertama: Pertempuran ini menghidupkan kembali segenap makna kemuliaan, kehormatan, dan sifat kesatria. Umat meyakini bahwa di sana terdapat sekelompok putranya yang mampu menghadapi segala bahaya genting dengan penuh keberanian, keteguhan, dan determinasi. Kelompok ini berlaku jujur terhadap umatnya dalam hal langkah dan berbagai program yang telah direncakan demi menghidupkan kembali umat. Oleh karena itu, kelompok ini telah mengorbankan banyak darah para putra dan komandannya.

Kedua: Umat telah belajar -saat dalam kehinaan dan frustrasi- bahwa ia mampu melawan, bersabar, dan memerangi para pemimpin dan thaghut di dunia, hanya dengan sekelompok kecil putranya, dan dengan berbekal persenjataan sedikit. Kendati demikian, kelompok kecil itu mampu mendera musuh dengan kerugian parah lagi menyakitkan, dan memaksanya menenggak pahitnya gelas kekalahan.

Ketiga: Fallujah telah membuka pintunya menjadi medan perang. Dan berkobarlah semangat para putra umat baik yang di dalam maupun di luar Iraq. Darah suci putra-putra Islam telah banyak tertumpah di negerinya. Mereka bangkit melalui beban jihad dan berangkat dalam rangka melawan serangan Salibis internasional. Pertempuran dan peperangan dahsyat pun membara di berbagai sudut bumi Iraq. Lalu dibentuklah berbagai katibah (batalion) dan perhimpunan, kemudian para mujahidin bangkit menyerang konvoi musuh, menarget patroli mereka, dan menyergap pospos militer mereka. Dengan karunia Allah, kami menyaksikan besarnya kerugian yang diderita mereka di bumi Iraq seluruhnya. Yang membanggakan dari kemenangan ini adalah menjulangnya spirit para putra Jihad, sehingga di hadapan spirit tersebut, tumbanglah berbagai mitos peralatan perang canggih mereka. Tekad mereka sekarang ini telah terbebaskan dari ilusi kelemahan dan ketakutan, bergerak menuju medan-medan kegigihan dan amal.

Keempat: Perang Fallujah menorehkan kemenangan strategi militer yang krusial. Semua orang mengetahui keunggulan peralatan militer Amerika Serikat (AS), kecanggihan pasukan dan sistem perangnya yang menggunakan sistem menyerang target dari jarak jauh tanpa harus baku tembak, sehingga meniscayakan terjaminnya keselamatan jiwa tentara AS, agar tidak tewas dalam pertempuran berbahaya yang mengancam nyawanya. Akan tetapi, Perang Fallujah berhasil memperdaya peralatan canggih ini –melalui rencana yang telah disusun— menyeretnya ke perang jalanan yang bengis lagi tak terkendali, sehingga mengikis kekuatan, energi, dan artilerinya. Membuat tentara AS terpaksa menyongsong kematian dan kebinasaan dari arah yang tidak dia perkIraqan. Pasukan AS terpaksa turun langsung ke gang-gang dan jalanan, serta masuk ke rumahrumah dan bangunan-bangunan. Sehingga musuh pun terbuka dan diberondong tembakan dan sergapan mujahidin. Musuh dikejutkan kemampuan mujahidin dalam menyergap, dan melakukan hit and run. Musuh terpaksa terlibat dalam close quarter battle (perang jarak dekat) yang tidak diprediksi. Sehingga mereka menderita kerugian besar baik korban nyawa maupun peralatan militer yang jumlahnya lebih dari puluhan dan bahkan ratusan.

Kelima: Administrasi militer AS menelan kekalahan terburuk. Nampak jelas bagi para pengamat perang dan para perencananya, bahwa para mujahidin tidak akan bisa dihentikan oleh serangan model apapun, meskipun dengan menjalani perang habis-habisan secara menyeluruh untuk membasmi mereka semua. Penalaran jihad menjadi sandungan terbesar bagi rancangan-rancangan perang AS dan internasional. Apa yang terjadi di Fallujah, berupa kebanggaan dan keteguhan (mujahidin) menciutkan nyali para komandan musuh, mendatangkan depresi, kelelahan psikis, dan gangguan mental. Dan ke depannya, akan lebih dahsyat dan pahit, berkat pertolongan Allah ta’ala.

Keenam: Dengan keteguhan dan kesabarannya, Fallujah telah menyingkap kedok dari wajah kemurtadan, kemunafikan, dan pengkhianatan. Fallujah juga mencabut pakaian kedustaan yang dikenakan oleh pemerintah murtad Alawi, serta membongkar kepalsuan yang sebelumnya didengungkan bahwa pemerintah menginginkan kemaslahatan penduduk Iraq, berusaha melindungi darah mereka, menjauhkan mereka dari perang dan penderitaan, dan rela menderita demi kebahagiaan rakyat. Tetapi kemudian, justru semua orang melihat pemerintah Iraq bersegera memutuskan penyerangan ke Fallujah dan melumuri kedua tangannya dengan darah suci para putra kota Fallujah, membantai ribuan penduduk, mengusir puluhan ribu lainnya, serta merestui aksi-aksi penghancuran, perobohan, penodaan kehormatan, dan perampokan harta di bawah payung perang melawan teroris dan kepentingan nasional.

Ketujuh: Perang ini menjatuhkan topeng palsu yang menutupi wajah buruk orang-orang Rafidhah celaka. Dengan penuh kebencian, mereka menceburkan diri ke dalam perang ini. Dengan kehinaan nampak jelas, mereka berpartisipasi dalam kampanye militer terhadap Fallujah dengan restu dari imam kekafiran lagi zindik As-Sistani. Mereka berperan besar dalam aksi-aksi pembunuhan, perampasan, perusakan, serta pembunuhan nyawa tidak berdosa dari kalangan anak-anak, wanita, dan orang-orang tua renta. Bahkan nafsu busuk mereka mendorong mereka melakukan kejahatan luar biasa. Mereka menyerang rumah-rumah Allah yang damai dan mengotorinya. Mereka sengaja memajang gambar-gambar setan mereka, yaitu As-Sistani, di tembok-tembok, dan dengan penuh kedengkian membuat tulisan: Hari ini tanah kalian, dan esok giliran kehormatan kalian. Perlu diketahui, bahwa 90% pasukan Garda Nasional (baca: Garda Berhala) adalah orang-orang Rafidhah pendengki, sedangkan yang 10 persen adalah pasukan Kurdi Peshmerga. Alangkah benar seorang ulama yang berkata tentang Rafidhah, “Mereka adalah benih Nashrani, ditanam oleh kaum Yahudi, di tanah kaum Majusi.”

Kedelapan: Dalam perang ini, tersingkaplah program-program rahasia para musuh jihad. Di dalamnya bermunculan berbagai partisipasi militer sejumlah satuan militer yang mempunyai latar belakang berlawanan. Telah jelas ada partisipasi 800 tentara Israel di pertempuran. Mereka ditemani 18 rabi (pendeta Yahudi). Sebagian besar mereka tewas seperti yang diberitakan oleh koran dan media massa mereka. Begitu juga, terlihat jelas intervensi militer Yordania melalui para perwira militer Yordania yang berpartisipasi dalam perancangan dan penyerbuan militer ke kota Fallujah. Hal itu menunjukkan keyakinan semua pihak bahwa kota Fallujah adalah basis jihadis yang mengganggu tidur malam para musuh agama, dari kalangan orang-orang kafir dan murtad.

Kesembilan: Di antara hasil gemilang pertempuran adalah kembali mengalirnya darah dalam urat nadi para putra jihad, tingginya semangat mereka untuk meninggikan amal jihad menuju segenap sasaran yang diharapkan dan rencana-rencana yang telah dicanangkan. Pertempuran ini telah melahirkan generasi yang terdiri dari para komandan, kecakapan, serta pengalaman yang mendapat pelajaran dari banyak peristiwa, dan jeli menelisik eksperimen, latihan, dan pencapaian. Juga cermat penuh tekad menapaki jalan yang telah dirancang, hasil asahan kerasnya pertempuran, sehingga melahirkan cetakan yang solid lagi kuat.

Penulis kitab Fi Zhilal Al-Qur`an (Sayid Quthb) berkata: “Dalam penderitaan jihad fi sabilillah dan menyongsong kematian di setiap perjalanan, akan menempa jiwa untuk memandang remeh bahaya menakutkan ini yang seringkali membebani manusia dari jiwa, moral, dan barometer mereka, sehingga mereka pun menjauhinya. Namun ia adalah remeh bagi seseorang yang biasa menghadapinya, baik dia selamat darinya (kematian) atau benarbenar menjumpainya, sehingga dia pergi menghadap Allah dengannya. Setiap kali berefek di dalam jiwa dalam keadaan-keadaan genting, ada sesuatu yang dekat dengan deskripsi kerja arus listrik menyengat tubuh. Ia tak ubahnya format baru bagi hati dan jiwa agar senantiasa bersih, suci, dan baik. Kemudian ia merupakan faktor-faktor nyata untuk memperbaiki komunitas manusia seluruhnya. Melalui kepemimpinan di tangan mujahidin yang membersihkan jiwa mereka dari setiap tujuan dan perhiasan dunia. Sehingga kehidupan dipandang mereka mudah, dan mereka menceburkan diri ke dalam lautan kematian di jalan Allah, dan tidak ada lagi di dalam hati mereka segala sesuatu yang dapat memalingkan mereka dari Allah, dan berharap penuh keridhaan-Nya. Ketika kepemimpinan dipegang oleh orang-orang seperti ini, niscaya bumi menjadi baik semuanya, para hamba pun menjadi baik. Melalui tangan-tangan ini mustahil panji kepemimpinan diserahkan kepada kekafiran, kesesatan dan kerusakan, sedangkan mereka telah membayarnya dengan tetesan darah dan nyawa. Semua akan menjadi mulia dan berharga, jika panji ini diserahkan kepada Allah, dan bukan kepada dirinya. Kemudian setelah ini semua, adalah memudahkan sarana bagi yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, agar mereka memperoleh keridhaan dan ganjaran-Nya tanpa batas, dan juga memudahkan sarana bagi yang dikehendaki keburukan oleh Allah, agar mereka melakukan hal-hal yang mengundang kemurkaan Nya, sesuai dengan rahasia dan dalaman yang diketahui-Nya.” Selesai perkataannya rahimahullah.

Kesepuluh: Kesyahidan orang-orang pilihan. Kelompok orang-orang beriman ini terpilih menempuh jalan yang diukir dengan darah para putranya yang menjadi syuhada. Para komandan senior dan kadernya senantiasa berada di garis terdepan. Jika hal itu menunjukkan sesuatu, maka ia menunjukkan ketulusan para putra jihad serta obyektifitas tekad dan semangat mereka dalam merealisasikan tuntutantuntutan tauhid dengan tulus dan ikhlas. Kabar gembira lainnya untuk mereka adalah Allah telah memilih orang-orang terbaik dan para tokoh utama mereka untuk bertemu dengan- Nya dan memenuhi janji-Nya. Allah menetapkan kesyahidan untuk mereka, dan kesuksesan meraih keridhaan-Nya sesuai harapan dan permohonan mereka. Allah memenuhi janji- Nya kepada mereka dan mengabulkan permohonannya.

Demikianlah keadaan para pendahulu mereka yang shalih, mereka berambisi untuk mati sebagaimana ambisi generasi suksesor mereka untuk hidup. Kesyahidan adalah cita-cita mereka yang paling berharga. Mereka bergegas menuju medan perang karena ingin terbunuh di jalan Allah. Jumlah syuhada dari para sahabat mencapai 80% dari sejumlah peperangan.

Para syuhada dari golongan Muhajirin dan Anshar lebih banyak dibanding separuh syuhada Perang Yamamah [...] Cukup kita sebutkan bahwa jumlah syuhada dari kalangan al-quraa` (para penghapal Al-Qur’an dan ulama umat Islam ketika itu) berjumlah 300 syuhada –dalam Perang Yamamah— dalam riwayat lain berjumlah 500 syuhada, artinya para penghafal Al-Qur’an saja yang syahid dalam satu pertempuran mencapai 25 persen menurut satu riwayat, sedangkan menurut riwayat yang lain mencapai 45 persen. Dan jumlah ini cukup fantastis.

Orang-orang yang menelisik tentang referensi para sahabat, akan mendapatkan satu dari lima orang meninggal dunia di atas pembaringan, sedangkan empat orang lainnya mati syahid di medan jihad. Maka tak perlu heran dengan cepatnya penaklukan-penaklukan gemilang, keteguhan, dan kontinuitas yang terjadi pada abad ke-1 Hijriyah.

Dalam kesempatan ini, baik kiranya kami ketengahkan perihal keteguhan para pahlawan jihad kita, juga kami ceritakan secara ringkas beberapa nikmat Allah ta’alakepada mereka, berupa karamah dan kasih sayang Allah yang dihadiahkan kepada mereka dalam perang mereka melawan tentara AS beserta kroni-kroninya di kota Fallujah, sebagai peneguhan bagi mereka dan pendongkrak kondisi mereka.

Di antaranya: Pada hari ketiga pertempuran, setelah bombardir dahsyat dan keji ke distrik-distrik kota Fallujah, mujahidin terbangun dari tidur malam mereka, dan melihat kendaraan-kendaraan perang dan tank-tank AS berada di jalanan dan gang-gang. Maka, tampillah para pemimpin umat Islam dalam kancah perlawanan, dibawah komando al-akh Abu Azzam, Umar Hadid, Abu Nashir Al-Libi, dan Abu Harits (Muhammad Jasim Al-Aisawy) serta para kesatria lainnya. Mereka mengusir para penjajah sampai ke pinggiran Fallujah. Padahal senjata mereka dalam pertempuran itu hanya PK dan Kalashnikov. Pasukan AS mengalami korban tewas yang sangat banyak, hingga banyak dari mereka melarikan diri dari pertempuran dan bersembunyi di sejumlah rumah kaum muslimin. Awalnya para mujahidin ragu untuk menyerang rumahrumah tersebut karena khawatir membahayakan kaum muslimin. Ketika mereka sudah yakin dengan keberadaan para tentara AS, mereka merangsek masuk dan mendapati para tentara itu bersembunyi ketakutan. Mujahidin kemudian membunuh mereka seperti membunuh serangga dan lalat. Keutamaan dan karunia hanya milik Allah semata. Beberapa hari setelah pertempuran, salah seorang komandan menyarankan al-akh Umar Hadid dan al-akh Abu Harits Jasim Al-’Aisawy agar mencukur jenggot mereka, lalu keluar dari Fallujah, setelah Allah memudahkan bagi mereka jalur yang aman untuk menyelamatkan diri sehingga bisa mulai beraksi dari luar. Kedua kesatria itu menolak seraya berkata, “Demi Allah, kami tidak akan keluar dari kota, selama masih ada seorang Muhajir yang tetap di dalam.” Lalu keduanya bertempur hingga mati syahid. Semoga Allah merahmati dan menerima keduanya dalam barisan para hamba syuhada-Nya.

Contoh lainnya: Beberapa ikhwah menderita kelaparan selama berhari-hari. Setelah berharap dan berbaik sangka kepada Allah , mereka mendapatkan sebuah semangka yang besar. Setelah mereka belah, ternyata warnanya sangat merah dan menarik. Mereka pun memakannya selama beberapa hari hingga kenyang. Mereka memuji Allah dan merasa heran hingga merasa yakin bahwa mereka belum pernah mencicipi makanan selezat itu di dunia ini sebelumnya. Padahal diketahui bahwa saat itu bukanlah musim buah semangka, dan disitu bukanlah tempatnya berbuah.

Contoh lainnya: Para ikhwah sangat kekurangan makanan dan minuman, hingga stok air minum habis dan hanya tersisa sedikit. Menjelang waktu sarapan pagi, mulut dan bibir mereka terasa kering. Ketika mereka ingin mencari beberapa tetes air guna membasahi kerongkongan mereka yang kehausan, mereka memasuki sebuah rumah dan mendapati botol air dengan corak yang aneh di sisi-sisinya. Mereka merasa heran begitu melihatnya, karena di Fallujah ataupun di Iraq belum pernah ada air disimpan dalam botolbotol indah lagi asing seperti itu. Begitu mereka mencicipi airnya, mereka sadar bahwa air tersebut bukanlah air dunia. Mereka pun minum hingga puas. Setelah itu, mereka bersumpah bahwa mereka belum pernah minum air yang seperti itu sebelumnya dalam kehidupan dunia ini.

Contoh lainnya: Salah seorang ikhwah Jazrawi** terkena tembakan peluru sniper di bagian otaknya. Peluru tersebut menerobos jidat dan keluar melalui tengkuk. Serpihan otak berserakan di bahu kanannya. Para ikhwan pun bergegas menghampiri, lalu mengumpulkan serpihan-serpihan otak, dan mengembalikan ke tempat lukanya, kemudian membalutnya dan meninggalkannya. Beberapa hari kemudian dia pun sembuh, dan sekarang dia masih hidup tanpa ada masalah, hanya saja bicaranya menjadi agak gagap. Kita memohon kepada Allah agar menerima dirinya dan para ikhwah lainnya.

**Jazrawi bermakna Jazirah Arabia. Sebutan untuk para ikhwah dari negara-negara Arab Teluk (Edt.)

Kemudian terkait aroma kasturi. Tahukah kalian, apa wangi kasturi itu?! Sungguh, fenomena ini dilansir secara mutawatir (valid) di kalangan mayoritas mujahidin. Banyak ikhwah bercerita tentang fenomena aroma mewangi yang menyeruak dari jasad syuhada dan ikhwah yang terluka. Semoga Allah menerima mereka semua.

Contoh lainnya adalah apa yang dialami Sang Pahlawan al-akh Abu Thalhah Al-Baihani. Beliau  terluka cukup parah, tetapi aroma semerbak menyebar ke setiap tempat hingga menyebar ke jalanan, dan banyak ikhwah mencium aroma tersebut. Kemudian dia menemui kesyahidannya. Demikianlah kami menilainya, dan Allah-lah yang menilainya, serta kami tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.

Dan di antara hal yang mengilhami keteguhan dan kedamaian (tuma`ninah) adalah cerita mayoritas ikhwah yang ikut serta dalam peperangan dahsyat tersebut, bahwa mereka mendengar suara ringkikan kuda dan dentingan pedang yang saling beradu ketika perang berkecamuk dan semakin sengit. Para ikhwah berulang kali terperangah dari hal itu, dan bertanya kepada para ikhwah Anshar; apakah ada sekumpulan kuda dekat kota Fallujah. Para ikhwah Anshar menegaskan bahwa hal itu tidak ada, dan memastikan bahwa di daerah tersebut tidak ada kuda-kuda seperti ini. Segala puji bagi Allah, baik yang pertama maupun yang terakhir.

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Al-Musnad, dan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, dari Abu Burdah bin Qais, saudara Abu Musa, menyatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah jadikanlah kematian umatku adalah terbunuh di jalan-Mu, baik akibat tikaman atau karena penyakit tha’un.”

Allah ta’ala berfirman, “Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Ali ‘Imran: 169-170)

Hiduplah bak Raja atau matilah secara mulia jika engkau mati
Pedangmu sedang terhunus, dengan pedangmu engkau membenarkan

Inilah sekilas analisa terkait buah manis serta hasil keteguhan dan ketabahan di bumi Fallujah penuh berkah, juga beberapa pencapaian bermanfaat dan hasil luhur yang bisa diketahui dan dipahami oleh orang bijak yang menelaah berbagai peristiwa dan realitas.

Wahai Umat Islam,

Tubuhmu berkali-kali penuh luka dan tikaman. Luka dan penyakit yang membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapan engkau hendak memutuskan dengan putusan benar untuk berangkat berjihad dan melepaskan diri dari para algojo penyiksa? Pertempuran hari ini tidak pernah padam dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam sangat ingin untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaan beliau adalah tiada henti berperang dan berjihad.

Aku ingatkan kalian dengan hadits Malaikat Jibril bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasca Perang Ahzab, diriwayatkan Imam Al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para Muhajirin dan Anshar.”

Wahai kaum muslimin,

Bagaimana bisa kalian enteng saja melihat saudara-saudara kalian dari putra-putra agama kalian didera berbagai macam siksaan, pembunuhan, dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 21)

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

ALLAH DATANGKAN SIKSAAN KEPADA MEREKA DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA

RUMIYAH 10 - PENGANTAR

ALLAH DATANGKAN SIKSAAN KEPADA MEREKA DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA

Allah ta’ala berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka.” (QS. Al Hasyr:2)

Hanya sepekan sebelum tibanya bulan Ramadhan yang berbarokah, seluruh dunia terfokus pada kota Manchester di Inggris. Salah satu prajurit Khilafah melancarkan serangan terror, menargetkan Manchester Arena di Inggris pada saat diselenggarakanya pesta musik. Ledakannya mengguncang seluruh kota dan menimpakan ketakutan yang dahsyat ke dalam hati penduduknya. Mereka pun terperanjak hingga spontant menghubungi saudara-saudara mereka untuk meminta jaminan keamanan. Kemudian jumlah korban mulai terlihat. Lebih dari 20 yang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Jumlah korban terus meningkat hingga mencapai 100 korban tewas dan luka-luka.

Setelah ledakan, para teman-teman korban dan kerabat orang-orang yang ketakutan itu bersegera menuju media sosial guna meminta bantuan untuk mencari orang-orang Besayangannya. Bar-bar mulai menyugukan minuman kerasnya kepada para petugas darurat untuk menenangkan dirinya dari trauma setelah mereka melihat pemandangan mengerikan. Dan sebagaimana biasanya orang-orang yang menamai dirinya sebagi “muslim” British keluar mengutuk serangan ini lantaran takut kepada kuffar dan kwahatir mereka akan membalas dan menyakitinya. Sejumlah besar polisi dan tentara dikerahkan di jalanan. Tingkat ancaman di Inggris dinaikkan menjadi “Kritis”. Para politikus menghentikan kampanye pemilu umum yang akan datang, si Ariana Grande mengurungkan rencana jalan-jalanya keliling Eropa dan kembali ke negaranya dalam keadaan ketakutan, dan Team Chelsea membatalkan pawai kemenangannya di London. Para musuh-musuh Islam itu berusaha menampakkan keberanian, namun usaha mereka itu gagal, justru kepedihan mereka sangatlah nampak.

‘Survei’ membuktikan, Operasi di Manchaster ini menguatkan apa yang selama ini diprediksi oleh para pengamat sejak dulu : Bahwa untuk menggantikan kerugianya di Iraq dan Syam, Daulah Islamiyah memefokuskan operasinya di negri-negri salibis. Namun yang belum diakui oleh para pengamat itu adalah bahwa kerugian daerah bukanlah hal baru bagi Daulah Islamiyah. Daulah Islamiyah mulai kehilangan banyak daerahnya pada saat munculnya agresi Shahawat di Iraq yang menyebabkan kekalahannya. Tetapi, pada akhirnya itulah yang menyebabkan Daulah Islamiyah kembali, melipat gandakan usahanya, dan menyalakan api peperangannya sekali lagi. Dengan itu Daulah bisa merebut kembali setiap jengkal yang hilang darinya. Ia berhasil meluas ke Syam, Sinai, Khurasan, dan daerah-daerah lainnya di dunia, bahkan sampai ke beberapa daerah yang tidak disangka mujahidin bahwa mereka bisa menguasainya dan menegakkan hukum Allah di dalamnya.

Kejutan terjadi, -ribuan mil jaraknya dari Manchester- tatkala para prajurit khilafah di Timur Asia, tepatnya di kota Marawi yang terletak di kepulauan Mindanao Filipina Selatan membantai para polisi lokal dan para tentara, dan mengibarkan bendera Daulah Islamiyah. Hal ini mengingatkan kita peristiwa pembebasan kota Mosul dari para Syi’ah Rafidhah murtad dan para sekutu salib mereka. Kemenangan ini terjadi hanya selang beberapa minggu setelah pengakuan Rodrigo Duterte si thaghut salibis Filipina bahwa kondisi di wilayah Selatan Filipina membuatnya pusing dan gelisah di malam hari.

Si thaghut ini mengambil kendali pemerintahan dengan asumsi mampu mengendalikan “para militan islam bersenjata” di wilayah Selatan Filipina, terutama yang tinggal di pulau Mindanao, mengakhiri jihad mereka dan selanjutnya mengusir kekuatan Amerika yang ada di Filipina. Tetapi tatkala para prajurit Khilafah terus memperlihatkan sikap bahwa mereka tidak bernegoisasi kecuali dengan peluru dan bom, diapun mulai mengemis kepada para pemimpin “islam” lokal di wilayah Selatan agar membantunya dalam menghadapi para mujahidin. Di samping itu, dia juga mengancam akan memberlakukan darurat militer di wilayah-wilayah mereka jika masalah ini tidak selesai. Selanjutnya, ketika para prajurit khilafah menyerang kota Marawi, sesuai janjinya... diapun memberlakukan status darurat militer dan mengirim para tentara nya untuk kembali merebut kota. Tetapi justru para mujahidin berhasil membunuh puluhan para tentara salibnya dan membuka front baru dalam memerangi orang-orang kafir.

Realitas yang dihadapi oleh salibis hari ini, meskipun mereka beranggapan bahwa Daulah Islamiyah melemah, tetapi para mujahidin masih mampu untuk mengusir para salibis dan antek-antek mereka, serta dengan cepat mampu mewujudkan tamkin dari arah yang tidak diperkIraqan oleh musuh di belahan bumi manapun. Sebagaimana yang terjadi di Mosul sebelumnya, serangan-serangan mereka di tengah Negeri-negeri salibis di Barat terus menjadi surprise dan kejutan, seperti yang terjadi di Manchester. Sebagaimana terusirnya para salibis kafir pada pengiriman dan operasi mereka yang pertama di Iraq, maka demikian pula mereka akan kembali harus hengkang dari negerinegeri islam di Filipina, dan mereka akan terteror di tengah Negara mereka sendiri.

“Dan Allah maha kuasa atas urusan Nya, meskipun banyak manusia yang tidak tahu”. (QS. Yusuf : 21)

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI MESIR

RUMIYAH 9 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI MESIR

Tanya: Bisa anda jelaskan bagaimana keadaan junud Khilafah di Mesir dan bagaimana operasi mereka?

Jawab: Segala puji bagi Rabb semesta alam, shalawat serta salam terlimpahkan kepada yang diutus dengan pedang sebagai rahmat seluruh alam amma Ba’ad: Junud Khilafah di Mesir atas karunia Allah ta'ala, kekuatan mereka terus bertambah, meski semua agresi yang tertuju pada mereka namun operasi demi operasi mereka membuahkan hasil yang memuaskan dan mewujudkan target-target yang telah direncanakan, segala puji bagi Allah semata.

Tanya: Problem apa yang dihadapai mujahidin di Mesir?

Jawab: Problem terbesar yang dihadapi mujahidin di Mesir adalah hilangnya tauhid dari banyak jiwa manusia, khususnya dalam masalah legitimasi syariat, berhakim kepada selain syariat Allah, loyal kepada pelaku kesyirikan, memusuhi ahlul iman yang berperang agar hukum sematamata milik Allah Raja alam semesta, Allah ta’ala berfirman, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al-A’raf: 54)

Sehingga keadaan para manusia itu sebagaimana keadaan kaum Fir’aun dimana Allah berfirman tentangnya, “Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.”(QS. az-Zukhruf: 54) .

Thawaghit membutakan mereka dari dien yang benar, di satu saat menggunakan para Syaikh sesat dan menggunakan media rusak mereka di saat yang lain. Menjadikan manusia loyal kepada mereka dan memusuhi mujahidin dengan dalih Anti Terorisme. Ini adalah kemurtaddan dari dien Islam yang nyata, Maka wajib bagi mereka untuk segera bertaubat, setelah itu jangan sampai mereka mencari-cari celah mujahidin. Sebaliknya, mereka justru harus menutupinya, bahkan menolong mereka, dan keluar bersama mereka memerangi para thaghut itu, ini adalah jihad wajib atas mereka.

Tanya: Apa hubungan kalian dengan wilayah Sinai?

Jawab: Yang mengikat kami dengan junud Khilafah di wilayah Sinai adalah tali persaudaraan, tali kecintaan dan loyalitas, semoga Allah memberkati mereka. Kami semua junud Daulah Islamiyah di negri Sinai dan Mesir berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, dari Mesir kita akan menaklukan Baitul Maqdis melalui Sinai, sebentar lagi dengan izin Allah, meskipun orang-orang kafir membencinya.

Tanya: Apa tujuan yang ingin kalian capai dengan menargtekan gereja-gereja?

Jawab: Penargetan gereja-gereja ini termasuk bentuk peperangan kami atas kekafiran dan para pelakunya. Itu semua demi memenuhi perintah Allah ta'ala, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al- Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. at-Taubah: 29)

Jika para nasrani muharibin itu mengira bahwa benteng mereka akan menghalangi mereka dari serangan junud Daulah Islam, maka hendaknya mereka mengetahui bahwa mujahidin memiliki pedang yang telah terhunus –dengan izin Allah- di atas leher mereka yang tidak akan meleset atau terhalangi oleh sesuatu pun dengan izin Allah, tiada daya dan kekuatan bagi kami kecuali dengan Allah.

Tanya: Apa respon terkait sejumlah operasi yang kalian lancarkan baik dari kalangan awam, Thawaghit, pasukan kemanan maupun ulama durjana?

Jawab: Kebanyakan respon dari mayoritas adalah mengingkari dan berlepas diri dari operasi-operasi ini secara khusus dan mengingkari peperangan kami atas Nasrani dan Thawagit pada umumnya. Mereka justru berbela sungkawa atas apa yang menimpa musyrikin, di bawah slogan hubungan saudara sebangsa dan selainnya. Padahal hal tersebut adalah bentuk loyalitas kepada kuffar dan musyrkin yang bisa mengeluarkan seseorang dari Millah. Barang siapa yang melakukan hal tersebut maka dia murtad dari Dien Islam, semua amalannya terhapus, jika mereka tidak segera bertaubat dan menyesal, sebelum datang suatu hari dari Allah yang tidak akan bisa ditolak kedatangannya. Adapun respon dari murtaddin baik dari tentara maupun polisi, seperti biasanya setiap kali selesai operasi yang dilancarkan mujahidin berhasil mereka membunuh, menangkap dan menyiksa demi meraih kerelaan komandan mereka di pemerintahan, dan tuan-tuan salibis mereka. Operasi ini menjadikan sebagian manusia mencemooh mereka, Nasrani dan murtaddin semakin membenci mereka, walhamdulillah. Meskipun kesewenang-wenangan ini memiliki efek positik bagi mujahidin dan efek negatif bagi mereka namun mereka tetap tidak bisa menghindarinya. Atas karunia Allah ta'ala setelah operasi demi operasi ini, Allah menyelamatkan mujahidin dari kebengisan dan penekanan murtaddin. Mereka tidak terkena gangguan sedikitpun walhamdulillah.

Firman-Nya, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun”. (QS. al Ahzab: 25).

Adapun para Masyayikh dan ulama thagwahit pun para penyeru kepada pintu neraka dengan berbagai perbedaaan madzahab, partai dan organisasinya, keadaan mereka sebagaimana firman Allah ta'ala, “maka perumpamaan mereka seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 176).

Dan kami katakan kepada mereka apa yang dikatakan Allah ta'ala kepada umaat yang lebih dahulu menempuh jalan mereka: “Sesungguhnya orangorang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”. (QS. al Baqarah: 174)

Tanya: Apa nasehat anda bagi muslimin di Mesir yang belum bisa bergabung ke barisan mujahidin?

Jawab: Aku katakan kepada kaum muslimin di Mesir para ahlu tauhid dan jihad yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya, hidupkanlah dakwah tauhid dan jihad di jalan Allah, dan bergabunglah dengan saudara-saudara kalian di Daulah Islamiyah, dan bergabunglah dengan al-Jamaah (Khilafah). Namun jika kalian tidak mampu akan hal itu, maka mintalah tolong kepada Allah, ambilah persenjataan kalian, siapkan kekuatan semampu kalian, dan rencanakan operasi kalian dalam melawan Nasrani dan murtaddin. Guna menimpakan kerugian besar dan efek jera bagi mereka. Bersemangatlah untuk meraih kesyahidan di jalan Allah. Dan Ketahuilah bahwa tidak ada hasil dalam peperangan kita kecuali kemenangan, terbunuh dan syahid, Jangan sampai kalian rela menjadi tawanan bala tentara thawaghit itu. Bersabar dan yakinlah, sungguh Allah akan menaklukan negri ini dan memberikan kita tamkin di dalamnya, sebentar lagi dengan izin Allah.

Allah ta'ala berfirman, “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. al Anbya: 105)

Jangan sampai kalian terpengaruh dengan orang-orang yang meninggalkan dan menelantarkan kalian. Kalian adalah Thaifah Manshurah, yang menang atas musuhnya, walhamdulillah. Maka bersabarlah atas keterasingan kalian.

Allah ta'ala berfirman, “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)”. (QS. an-Nisa: 84).

Tanya: Apa pesan yang ingin anda sampaikan untuk Nasrani di Mesir?

Jawab: Kami katakan kepada mereka, “Sungguh ketetapan Allah berlaku atas kalian, hukum Allah dan Rasul-Nya akan diterapkan pada kalian, sungguh kalian diberi tiga pilhan: Islam, Jizyah, dan perang. Senjata-senjata dan loyalitas kalian terhadap Thawaghit murtaddin pun bala tentaranya tidak akan bermanfaat bagi kalian. Mereka sendiri saja tidak bisa menjaga dirinya dari serangan junud Khilafah atas karunia Allah, lalu bagaimana bisa mereka menjaga kalian? Sungguh kekafiran dan kecongkakan kalian akan menyebabkan kebinasaan kalian dengan adzab Allah atau melalui tangan kami.

Tanya: Apa pesan anda untuk kaum muslimin di Mesir?

Jawab: Aku katakan kepada mereka, “berpegang teguhlah dengan kitab Allah dan sunnah RasulNya, gigitlah keduanya dengan kuat. Terapkan keduanya dalam kehidupan kalian, dan jangan takut kepada musuh. Yakinlah akan janji Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, “Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan” (QS. Ali Imran: 111)

Kami peringtakan dan mewanti-wanti kalian, jangan sekali-kali mendekati tempat-tempat kaum Nasrani, juga perkumpulan tentara dan polisi, pun tempat-tempat pemerintahan dan tempet perekonomian mereka. Jauhi tempat-tempat keberadaan rakyat negara-negara barat salibis, tempat menyebarnya mereka dan selainnya. Karena semua tempat ini merupakan target bagi kami, dan kami bisa menghantamnya kapan saja dengan izin Allah. Kami tidak rela salah satu dari kalian terkena imbas dari operasi kami atas orang-orang kafir dan musyrikin, maka jauhilah mereka. Beritahukan kepada mereka yang belum mengetahuinya, kita memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian.

Tanya: Apa pesan yang anda sampaikan untuk Thawaghit Mesir?

Jawab: Aku katakan kepada musuh-musuh Allah, “Wahai kalian para thaghut pengecut. Kalian bertambah kafir dan sewena-wena, kalian berbuat kerusakan di bumi, kalian timpakan kepada umat Islam yang lemah siksaan yang pedih. Kalian ingin menutupi kekalahan dan kelemahan kalian dalam peperangan melawan junud Daulah Islamiyah, namun kalian tidak mungkin bisa. Kedok kalian telah terbongkar. Kami kan selalu mengintai kalian. Kemenangan adalah milik kami sebentar lagi dengan izin Allah. Maka nantilah sungguh kami bersama kalian juga menanti. Permintaan bantuan kalian kepada Yahudi tidak akan berguna dalam peperangan ini, mereka lebih buta dan lebih bodoh dari kalian. Mereka senantiasa kalah disetiap negri dimana mereka memerangi kami. Pertolongan tidak datang kecuali dari sisi Allah”.

Aku katakan kepada bala tentara Thaghut murtaddin, Bertaubatlah dari kemurtadan kalian dan berlepas dirilah dari pemerintahan ini, dan musuhilah mereka sebelum kalian tertangkap. Jika kami berhasil menangkap kalian, maka tidak ada balasan kecuali pembunuhan. Sungguh kami sangat mengetahui penyiksaan dan penekanan kalian atas muwahidin di penjara-penjara. Kalian telah terang-terangan menampakkan permusuhan dan peperangan kalian atas Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kami peringati kalian, jangan sekali-kali mengganggu sedikitpun keluarga mujahidin dan istri-istri mereka, mereka tidak sama seperti selainnya. Namun jika mata kalian buta, dan pendengaran kalian tuli dari peringatan ini, dan kalian malah sombong dan tidak berhenti dari perbuatan pengecut kalian ini. Maka kami bersumpah Demi Allah yang maha perkasa dan kuat, kalian tidak akan merasa aman meski sejenak dengan izin Allah yang maha Agung, kalian tidak akan beruntung sampai kapanpun. Allah maha Menang atas segala urusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

ABU JIHAD AL-KUBAYIR, HAFAL KITABULLAH DAN MENGAMALKAN ISINYA

RUMIYAH 9 - SYUHADA

ABU JIHAD AL-KUBAYIR
HAFAL KITABULLAH DAN MENGAMALKAN ISINYA, KAMA NAHSHIBUHU WALLAHU HASHIBUHU

Allah ta'ala akan menunjukkan pada hambaNya jalan keselamatan jika ia bersungguh-sungguh mencarinya meskipun sedikitnya orang-orang yang mengadakan perbaikan dan sebaliknya banyaknya para penyeru kesesatan di sekelilingnya.

Zaid bin Amru radhiyallahu anhu mengetahui kebenaran dan beriman kepada Allah di tengah lingkungan jahiliyah. Amru bin ‘Abasah as-Sulami radhiyallahu anhu menyeberangi gurun pergi ke Makkah demi mencari kebenaran dan menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu membenarkan dan mengimaninya.

Begitulah orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin mengikuti millah bapak kita Ibrahim alaihis salam yang berkata, “Sesungguhnya aku pergi menghadap Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. ash-Shaffat: 99).

Abu Jihad Abdurrahman al-Kubayir taqabbalahullah, berasal dari kota Buraidah, Jazirah Arab. Ayahnya wafat ketika masih kecil, sehingga ia hidup sebagai yatim di bawah asuhan ibundanya. Dalam hatinya tumbuh kecintaan kepada masjid dan perhatiannya tercurahkan kepada kitab Allah ta'ala. Ia telah menghafal al-Qur’an pada usianya yang masih belia. Pikirannya selalu sibuk tentang bagaimana menolong Diennya.

Karena dua sebab inilah dedengkot Sururiyah menemukan barang berharganya. Mereka menariknya dan mengangkat kedudukannya diantara kawan-kawannya. Mereka memberinya tanggung jawab untuk membimbing salah satu halaqah tahfizh yang mereka kelola agar merasa dirinya mempunyai kedudukan dan menjadi buah bibir mereka dan waliyul amri murtadnya. Jabatan apapun diberikan begitu saja oleh Thaghut kepada kelompok ini agar para pemuda terbius sehingga akan dengan mudahnya menjadi hamba Thaghut dan tuan salibisnya. Manhaj mereka adalah berdamai dengan thaghut dan sebaliknya memerangi mujahidin. Thaghut Alu Salul memberikan wewenang penuh kepada kelompok ini untuk membentuk, melarang, dan membubarkan halaqah-halaqah tahfizh di masjid-masjid, serta membatasinya pada masjid tertentu saja, sehingga elemen-elemen kelompok sesat ini bisa mengaturnya dengan leluasa. Mereka memilih penuntut ilmu yang tampak menonjol untuk diserahi sebuah halaqah tersendiri sehingga mereka bisa mengontrolnya dan mempersiapkannya memikul tanggung jawab penting dalam proyek keji mereka.

Ikhwah kita ini telah mencurahkan seluruh usahanya bersama mereka. Ia selalu menghadiri majelis-majelis dan pertemuan mereka, serta membela figur-figur dan masyayikhnya. Hingga akhirnya Allah memberinya hidayah dan menyelamatkannya ketika menemukan -qadarullah- situs internet yang fokus terhadap kabar mujahidin. Ia terkaget-kaget, dan terus menelusurinya. Mulailah ia menelaah manhaj Ahli Tauhid. dan sadar dengan sikap rezim Saudi yang sejatinya memerangi agama Allah. Dia mulai berdialog dengan kawan-kawannya mengenai beberapa persoalan. Karena cintanya kepada kebenaran, dia tidak berdiam diri setelah mengetahuinya. Dia mulai berdialog dengan para “masyayikh” dan pengajarnya di halaqah tahfizh. Ia berupaya menjelaskan kebenaran kepada mereka. Ia berbaik sangka kepada mereka, tidak mengetahui seberapa besar kesesatan dan kebusukan mereka. Begitulah berjalan sampai beberapa waktu. Ia senantiasa berusaha menunjukkan kebenaran kepada mereka dan mereka berusaha mengembalikannya kepada jalan kesesatan.

Makar yang gagal

Belum genap tahun pertama universitasnya, intel Alu Salul menciduknya dan menjebloskannya ke dalam penjara karena beberapa surat yang ditulisnya untuk menasehati ulama-ulama busuk itu jatuh ke tangan intelejen. Mereka menginterogasinya berkenaan surat-suratnya itu selama beberapa waktu. Ketika mereka tidak menemukan kecuali usahanya menyangkal tuduhan yang dilemparkan pada mujahidin, dan belum terlalu jauh menyelami jalan jihad, akhirnya mereka hanya menjatuhkan hukuman beberapa tahun penjara atasnya. Mereka bermaksud menakut-nakutinya dan para pemuda di sekitarnya yang berpikir untuk keluar dari jalan “masyaikh” resmi dan para “syaikh” yang telah tunduk pada thaghut. Dengan itu secara tidak langsung mereka –semoga Allah membinasakan mereka– telah membantunya dengan sebaik-baiknya.

Didalam penjara ia bertemu dengan beberapa ikhwan Muwahhid yang kufur kepada thaghut Alu Salul, kepada agama dan ulama mereka. Ia belajar dari mereka hal-hal yang sulit ia dapatkan di luar penjara. Hingga ia memahami kafirnya thaghut dan tentaranya, serta sadar akan hakikat keledai ilmu, yang sejatinya mereka itu lebih kafir dan lebih pantas dibunuh daripada tentara thaghut dan intelijennya.

Dia telah berbuat baik padaku ketika membebaskanku

Dia mendekam di penjara selama tiga tahun sampai Allah membebaskannya bersamaan dengan awal fase jihad di Syam. Setelah mengecap kebebasan dia mulai mencari cara menuju medan Jihad dan mengatasi larangan perjalanan atasnya. Selama beberapa bulan ia dalam kondisi seperti itu sampai Allah memudahkan jalan menuju Syam. Di sela-sela menunggu waktunya ia menyiapkan beberapa materi media dan mengumpulkan untaian kalimat mujahidin dan ulamanya untuk di bagikan kepada pemuda. Selain itu dia juga ikut meramaikan jejaring sosial bersama para anshar jihad. Ketika Allah bukakan jalan untuknya dia tidak menunggu ataupun ragu sedikitpun. Dia segera berangkat dengan meminta pertolongan kepada Allah sehingga sampai –berkat anugrah Allah- di Syam dengan mudah.

Setelah selesai menjalani mu’askar ia segera mulai menyelesaikan proyek-proyek dakwah dan medianya. Ia bagi-bagikan materi yang telah dikumpulkannya kepada para ikhwah agar mereka dapat mengambil manfaat di waktu luangnya. Dia selalu merasa rugi jika ada waktu yang tersia-siakan tanpa memberi manfaat untuk Islam dan kaum muslimin.

Dari pengalamannya bersama para keledai Ilmu dan penyeru kesesatan itu dia mengetahui betapa mereka berdampak negatif kepada kaum muslimin. Sehingga ia selalu memperingatkan orang-orang dari mereka pada tiap kesempatan. Ia selalu menyeru untuk menjauhi figur-figur yang dijadikan thaghut oleh manusia itu, yang tetap diikuti sekalipun sesat. Terlebih kebusukan mereka itu sampai merambah medan jihad. Mereka ikut campur dalam setiap perkara demi melaksanakan instruksi tuan mereka untuk merusak jihad dan memprovokasi mujahidin.

Sehingga tidak lama berselang muncullah gerakan shahawat yang mengkhianati mujahidin melalui fatwa-fatwa dan wasiat-wasiat mereka. Allah meneguhkannya dalam menghadapi hal itu. Ia mendengar ada sekelompok pemuda yang ragu-ragu untuk memerangi shahawat, maka diapun segera menemui mereka, lalu mengumpulkan dan menyampaikan khutbah yang melapangkan dada para pemuda ini untuk terus memerangi orang-orang murtad itu dengan penuh keteguhan dan keyakinan.

Ya Rabbku bantulah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu

Setelah shahawat berhasil ditumpas di beberapa daerah dan para Mujahidin berkumpul di Aleppo Utara, Abu Jihad pindah ke kota Manbij dan beraktivitas di Markas Hisbah menegakkan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran.

Kemungkaran sekecil apapun yang ditemukannya pasti diingkarinya. Jika tidak maka ia akan menyuruh kepada kebaikan. Tidak ada seorang awam atau ikhwah mujahidpun kecuali pasti diserunya kepada kebenaran sesuai dengan kondisinya, hingga hal itu menjadi ciri khasnya. Tidaklah anda mendapatinya di suatu tempat kecuali sedang berbicara dengan si ini dan menasehati si itu. Siang malam ia bersungguhsungguh mencari pahala di ranah ini. Ia dan kawan-kawannya di Manbij berperan penting dalam mengadakan daurah-daurah syar’i untuk para pelaku maksiat dan kemungkaran.

Demikianlah aktivitasnya dalam waktu yang cukup lama, tidak putus asa maupun bosan. Tekadnya adalah menjunjung tinggi Laa ilaaha Illallah. Ia laksana pelita yang tak pernah padam saat berada di tengah-tengah Sururiyah, dan di medan jihad ia laksana gunung yang terus bergolak. Mujahidin terkagum-kagum dengan kesabaran, keteguhan, dan kesungguhannya dalam setiap bidang, khususnya yang tidak terkait dengan administrasi. Pekerjaan pokoknya tidaklah mampu dipikul kecuali oleh seseorang yang kuat dan sangat sabar. Puluhan bahkan ratusan orang dan permasalahan menemuninya di Markas Hisbah. Meskipun begitu senyum tidak pernah terpisah dari wajahnya, sehingga seluruh kaum Muslimin mencintainya. Hal itu menjadi sebab – setelah taufiq Allah – banyaknya orang yang mendapat hidayah untuk bergabung dengan mujahidin.

Orang-orang yang jujur dengan janji mereka

Meski dengan segala kesungguhannya ini, meski bahwa dialah yang pertama kali menyambut seruan tempur, ia selalu menuduh dirinya sendiri bersifat munafik lantaran selama ini jauh dari garis pertempuran. Betapa sering dia mendesak amirnya agar memindahkannya ke batalyon tempur agar selalu berada dalam ribath, akan tetapi amirnya selalu mengingatkannya bahwa tanggung jawabnya itu amat penting dan sedikit yang mampu memikulnya. Sampai tibalah saat pertempuran Manbij. Ucapannya itu dibuktikan dengan aksinya. Titik-titik ribath di Manbij tak pernah ditinggalkannya.

Pada hari ke tiga belas Ramadhan, sekelompok prajurit murtad PKK berhasil menyusup ke titik ribathnya. Mengetahui hal itu tidak membuatnya mundur. Senjatanya segera diraihnya untuk menyerbu mereka. Para ikhwah mendengarnya melalui walkie-talkie berkata aku telah membunuh satu murtad! Kemudian kedua kalinya, lalu ketiga kali, hingga dia berhasil membunuh lima orang murtad. Kemudian kakinya tertembak, namun dia tetap bertahan, sampai Allah menganugerahkan mati syahid lewat ledakan RPG. Itulah akhir hayat yang dicita-citakannya. Dia pernah berdoa agar tidak terbunuh kecuali telah membunuh dan mencederai orang kafir.

Dia telah gugur –semoga Allah merahmatinya- namun amalnya tetap abadi menjadi saksinya nanti di hari kiamat. Proyek-proyek hisbah, dakwah, taklim, media dan proyek-proyek lainnya terus berjalan dan menjadi shadaqah jariyah untuknya dengan izin Allah.

BAYAN KANTOR PUSAT UNTUK PEMANTAUAN DEWAN SYAR'I

RUMIYAH 9 - TA'MIM

BAYAN KANTOR PUSAT UNTUK PEMANTAUAN DEWAN SYAR'I

Kantor Pusat Untuk Pemantauan Dewan Syar'i telah merilis statemen penjelasan sebagai berikut :

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam untuk Pemimpin Mujahidin, Nabi Muhammad, juga seluruh saudara dan sahabatnya. Selanjutnya,

Allah ta'ala berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (al-Israa`: 53)

Belakangan ini, telah menyebar suatu persoalan pemicu terjadinya perselisihan terkait sejumlah permasalahan yang menjadikan hati dan mulut saling bersengketa, serta merusak tali persahabatan di antara mereka. Permasalahan ini merupakan salah satu dari sekian permasalahan yang tidak pernah kami anggap remeh. Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperingatkan kita tentang hal itu, dan menyebutnya sebagai sesuatu yang dapat memangkas agama. Beliau bersabda, “Karena sesungguhnya rusaknya hubungan dapat memangkas (agama).”

Kami telah menelaah pokok permasalahan yang diperselisihkan, terkait dengan hukum orang yang abstain (tawaqquf ) dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berafiliasi kepada Islam, dan segenap pendapat di dalamnya. Kami menyimpulkan, ada dua pendapat yang bertentangan antara ifrath (melampaui batas, ekstrem) dan tafrith (meremehkan, longgar). Dengan izin Allah, nanti akan disebutkan rincian dua pendapat tersebut, dan pendapat yang kami yakini benar di dalam masalah ini.

Pendapat Pertama:
Barangsiapa abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik (menyembah selain Allah) yang berintisab (berafiliasi) kepada Islam, maka dia musyrik seperti mereka. Pasalnya, mengkafirkan mereka merupakan pokok ajaran agama (ashlu din). Orang yang abstain dalam menghukumi mereka tak ubahnya orang yang menyembah selain Allah. Secara mutlak, nama dan hukum untuk dia disamakan seperti mereka.

Pendapat Kedua:
Sesungguhnya (takfir) pengkafiran bukan termasuk pokok ajaran agama, melainkan hanyalah salah satu dari sekian lawazim-nya (rekuisisi, hal-hal yang diperlukan). Orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berasosiasi dengan Islam, dia tidaklah kafir sampai hujjah ditegakkan kepadanya, dilenyapkan syubhatnya (kesamaran), dan tak tersisa lagi ruang penakwilan.

- Maksud dari ungkapan “pokok ajaran agama (ashlu din)” dalam dua pendapat tadi adalah sesuatu yang mengokohkan (afirmasi) tauhid sebelum hujjah kerasulan.

Setelah meninjau ulang permasalahan ini, dengan memohon pertolongan Allah, kami berpendapat:

1. Pendapat pertama mengandung pemahaman yang rusak. Karena sesungguhnya syirik akbar memiliki esensi (hakikat) dan karakter (sifat) yang apabila terealisasikan, maka disematkanlah nama “musyrik” bagi orang yang menyandang esensi dan karakternya. Jadi, seandainya kita menyamakan orang yang abstain dalam mengkafirkan orang musyrik seperti orang yang menyembah selain Allah secara mutlak, maka konsekuensinya adalah keharusan mengkafirkan orang yang abstain dalam mengkafirkan orang musyrik secara pasti, karena tidak ada udzur jahl (dalih kebodohan) di dalam syirik akbar. Maka orang yang abstain (menurut pendapat pertama) adalah orang musyrik, dan orang yang abstain (dalam mengkafirkan orang yang abstain dalam mengkafirkan orang musyrik) juga sama musyriknya. Dan seterusnya. Hal demikian merupakan lazim haqiqi dan tidak bisa diumpamakan dengan menggunakan pijakan ketetapan (at-ta`shil) seperti ini. Dan juga dapat mengakibatkan pengkafiran dengan metode sekuens (rangkaian tak berujung) yang bid’ah lagi bathil. Hal ini menjadi bukti bahwa pendapat ini adalah mengada-ada dan timbul dari pemahaman keliru terhadap teks-teks, tidak bisa dibatasi, dan tertolak disebabkan ketidakabsahan konsekuensinya.

2. Pendapat kedua pun mengandung pemahaman yang rusak. Karena menjadikan persoalan mengkafirkan orang-orang musyrik tak ubahnya persoalan-persoalan al-khafiyah (samar) yang di dalamnya tidak memungkinkan untuk penegakan hujjah dan pengkafiran orang yang abstain selama dia memiliki syubhat (kerancuan, penyimpangan) atau interpretasi (takwil). Sejatinya, ini adalah penegasian rusak terhadap satu pembatal dari sekian pembatal keislaman yang disepakati. Sesungguhnya, munculnya syubhat adalah perkara genting lagi mesti dilenyapkan di Daulah Islamiyah yang berhukum dengan syariat. Sedangkan menjadikan perkara genting sebagai pondasi bangunan hukum, maka ini adalah penegasian terhadap hukum itu sendiri dan bertentangan dengan segenap pemahaman tentang izharud-din (penegakan agama). Tentunya hal demikian menyelisihi sesuatu yang telah dilansir para ulama agama, khususnya para ulama Dakwah Najdiyah rahimahumullah.

3. Dilarang menggunakan dua istilah al-ashlu (pijakan ketetapan hukum) dan al-lazim (konsekuensi) dalam memahami “La Ilaha Illallah” dan “kafir kepada thaghut” dengan memakai metode kontroversial (diperdebatkan) yang notabene adalah pendapat mengada-ada juga tidak bermanfaat serta tidak diperintahkan Allah. Dan mengharuskan darinya lawazim (konsekuensi) yang cacat, contohnya: membuang sesuatu dari pokok ajaran agama kaum muslimin, padahal telah ditetapkan melalui hujjah kerasulan, berdasarkan definisi ini (misalnya iman terhadap kenabian Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana ia juga mengakibatkan perselisihan di kalangan mujahidin seputar apa yang termasuk dalam makna alashlu dan apa yang bukan termasuk ke dalamnya. Ini hal yang kami wanti-wanti dan kami larang, karena perselisihan dalam permasalahan berbahaya ini memicu terjadinya tabdi’ (vonis bid’ah) dan pengkafiran pihak yang bertentangan secara zhalim dan keji (keberadaan persoalan yang diperselisihkan adalah kalimat tauhid itu sendiri). Dan hal ini tidak mungkin ditolerir di Daulah Islamiyah.

4. Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab –semoga Allah menerimanya di barisan syuhada– ditanya dengan permasalahan serupa:

Masalah Keenam: Tentang al-muwalat (pembelaan) dan al-mu’adat (permusuhan). Apakah ia termasuk ke dalam makna La Ilaha Illallah, ataukah termasuk ke dalam konsekuensinya (lawazim)?

Jawaban: Sebaiknya dikatakanlah “Allahu a’lam” (Allah lebih tahu). Namun seyogyanya seorang muslim mengetahui bahwa Allah mewajibkannya untuk memusuhi orang-orang musyrik dan tidak membela mereka. Juga wajib atasnya mencintai dan membela orang-orang beriman. Dia mengabarkan bahwa hal itu termasuk syarat-syarat keimanan dan Dia menafikan keimanan orang yang berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, saudari-saudari, atau kerabat-kerabat mereka. Adapun apakah ia termasuk ke dalam pengertian La Ilaha Illallah ataukah lawazim-nya, maka kita tidak dibebani Allah untuk membahasnya. Allah hanyalah membebani kita untuk mengetahui bahwa Allah telah mengharuskan dan mewajibkan hal itu, serta mewajibkan kita untuk mengamalkannya. Dan ini adalah kewajiban dan keniscayaan yang tidak diragukan lagi. Barangsiapa yang mengetahui bahwa hal itu termasuk ke dalam maknanya, atau termasuk salah satu lawazim-nya, maka dia bagus dan menjadi tambahan kebaikan. Dan siapa yang tidak mengetahuinya, maka dia tidak dibebani untuk mengetahuinya. Terlebih lagi apabila perdebatan dan pertikaian di dalamnya memicu timbulnya keburukan dan perselisihan, serta menyulut perpecahan di antara orang-orang beriman yang menegakkan kewajiban-kewajiban iman. Berjihadlah di jalan Allah, musuhi orangorang musyrik, belalah kaum muslimin, berdiam diri dalam persoalan itu adalah keharusan. Demikianlah pandangan saya; bahwa perbedaan lebih dekat dari sisi makna. Wallahu a’lam.

5. Dilarang menggunakan ungkapan “takfir al-’adzir” (mengkafirkan orang yang menolerir orang musyrik) untuk menghukumi orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berasosiasi dengan Islam, karena ia merupakan ungkapan tidak tepat. Meski kami berpendapat tidak adanya dalih kebodohan (‘udzr jahl) dalam persoalan syirik akbar, namun dari ungkapan baru ini (‘udzr jahl) tidak mesti menunjukkan bahwa orang yang menolerir adalah abstain dalam mengkafirkan. Karena ada dari mereka yang menolerir dengan dalih kebodohan namun juga mengkafirkan orang-orang musyrik, karena hujjah yang dimilikinya telah ditegakkan kepada mereka, sehingga dia bukanlah seorang yang abstain. Sebagaimana sejatinya abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik tidak hanya terbatas pada persoalan ‘udzr jahl (dalih kebodohan) semata, karena boleh jadi seseorang abstain dalam mengkafirkan mereka karena sombong, menolak, mengikuti hawa nafsu, atau mengutip teks-teks ringkas yang menunjukkan keutamaan-keutamaan “La Ilaha Illalllah”. Oleh karenanya, ungkapan “takfir al-’adzir (mengkafirkan orang yang menolerir orang musyrik)” bukan ungkapan tepat untuk menghukumi seseorang yang abstain mengkafirkan orang-orang musyrik yang dimaksudkan para ulama dalam satu pembatal keislaman ini.

6. Orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik (yang berasosiasi dengan Islam) sesungguhnya telah melakukan satu pembatal keislaman yang telah disepakati. Kekafirannya dilandaskan atas tegaknya hujjah dalam permasalahan ini, berbeda dengan orang yang beribadah kepada selain Allah.

Pengkafiran orang-orang musyrik adalah persoalan yang dikuatkan dengan nash-nash shorih (jelas) lagi mutawatir (valid) yang mana manusia bersepaham di dalamnya. Tegaknya hujjah dalam masalah ini adalah turunnya al-Qur’an, baik hakikat maupun hukumnya. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah.’ Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).” (al-An’am: 19)

Asy-Syaikh al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ketahuilah sesungguhnya dalil-dalil atas pengkafiran seorang muslim yang shalih jika dia menyekutukan Allah, atau bergabung dengan orang-orang musyrik melawan orangorang bertauhid meskipun dia tidak berbuat syirik, sangatlah banyak; dari kalam Allah, kalam Rasulullah, dan kalam para ulama seluruhnya.”

Syaikh Abdullathif bin Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Dikatakan: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan perkataan para ulama, sangat jelas dan gamblang dalam mengkafirkan orang yang berdoa kepada selain Allah dan memohon sesuatu yang tak dapat menguasakannya selain Allah… ayat-ayat al-Qur’an seluruhnya menunjukkan pengertian ini, menetapkannya, kendati berbedabeda cara dan bentuk dalam menerangkan dan memperingatkannya.”

Sebagian ulama Dakwah Najdiyah berkata, “Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik adalah orang yang tidak membenarkan al-Qur’an. Karena sejatinya al-Qur’an mengkafirkan orang-orang musyrik, memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi mereka, dan memerangi mereka.”

- Hanya saja dalam permasalahan ini terkadang berkembang kesamaran terkait sebagian orangorang musyrik yang berafiliasi dengan Islam. Hal itu disebabkan merebaknya kebodohan, lemahnya dakwah, dan tersebarnya syubhat. Di sini tegaklah hujjah dengan penjelasan teks-teks jelas yang menunjukkan kafirnya orang-orang musyrik itu. Apabila dia abstain setelah adanya penjelasan, maka dia kafir.

Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah berkata, “Apabila dia ragu perihal kekafiran mereka atau bodoh akan kafirnya mereka, maka dijelaskanlah kepadanya dalil-dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya g tentang kekafiran mereka. Apabila dia masih ragu setelah itu, maka dia kafir berdasarkan kesepakatan ulama: Bahwasanya barangsiapa yang ragu perihal kekafiran orang kafir, maka dia kafir.”

- Apabila masalah ini telah jelas dengan jelasnya kemunculan agama, menggema suaranya, dan telah sampai dakwahnya (sebagaimana yang terjadi di Daulah Islamiyah –semoga Allah memuliakannya), maka tidak ada pertimbangan terhadap syubhat dalam penegasian hukum syar’i. Demikianlah yang diketahui dari para ulama penyampai hidayah dalam Dakwah Najdiyah, para ulama yang menyuarakan permasalahan ini dan wafat di atas kebaikan.

Sebagian ulama Dakwah rahimahumullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik di Daulah Turki, para penyembah kuburan seperti penduduk Makkah dan selain mereka, orang-orang yang menyembah orangorang shalih, dan melenceng dari mentauhidkan Allah menuju kesyirikan, dan mengganti Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dengan hal-hal bid’ah, maka dia kafir seperti mereka. Meskipun dia membenci agama mereka, membenci mereka, mencintai Islam dan kaum muslimin. Karena sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik adalah orang yang tidak membenarkan al-Qur’an, karena al-Qur’an telah mengkafirkan orang-orang musyrik, memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi dan memerangi mereka.”

Dan wajib bagi para juru dakwah dan para pencari ilmu di Daulah Islamiyah untuk mewanti-wanti manusia dari kesyirikan, agar tidak terjerumus ke dalamnya, atau abstain dalam mengkafirkan orangorang muysrik. Mereka juga hendaknya menguak syubhat-syubhat orang-orang yang membela mereka, dalam rangka menegakkan kewajiban memberi peringatan dan menyampaikan dakwah. Inilah agama para nabi n dan dengan hal tersebut agama menjadi tegak.

Syaikh Abdullathif Alu asy-Syaikh rahimahullah berkata, “Pengusung ilmu (ahlul ilmi) memberikan pemahaman kepada orang-orang bodoh tentang bangunan Islam, pokok-pokok keimanan, teks- teks qath’i (pasti), dan masalah-masalah ijma’ (konsensus) adalah hujjah bagi ahlul ilmi. Tegaklah hujjah dengannya dan hukum-hukum dibangun di atasnya; hukum-hukum tentang kemurtadan dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diperintahkan untuk menyampaikannya. Allah ta'ala berfirman tentang menyampaikan hujjah dan peringatan di dalam al-Qur’an: “Supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).” (al-An’am: 19), sampai beliau rahimahullah berkata, “Secara umum, hujjah di setiap zaman sesungguhnya tegak melalui ulama yang merupakan pewaris para nabi.”

Maka kejelasan masalah pengkafiran orang-orang musyrik adalah al-ashlu (pijakan ketetapan), dan kami berada di Negara yang berhukum dengan syariat Allah, maka kewajiban pasti bagi para juru dakwah di dalamnya untuk memberi peringatan, menyampaikan dakwah, dan melaksanakan hukumhukum syar’i, serta melenyapkan segala syubhat darinya, di antaranya adalah pengkafiran orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berafiliasi dengan Islam. Jangan sampai ikut berpijak di atas syubhat-syubhat orang-orang bathil dan menjadikannya sebagai pokok yang menganulir hukum syar’i yang telah disepakai. Wal’iyadzu billah.

Kami juga mengingatkan putra-putra kami; para tentara Daulah Islamiyah dengan perintah Allah dan Rasul-Nya g perihal wajibnya mendengar dan patuh kepada orang yang Allah amanahkan kepemimpinan (waliyul-amr), wajibnya bersatu, menghilangkan perpecahan, sikap saling benci, dan bersengketa.

Allah berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfal: 46)

Allah berfirman juga, “Sesungguhnya orang-orang yang memecahbelah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Maukah aku beritahukan kalian tentang sesuatu yang lebih utama dari derajat shaum, shalat, dan sedekah? Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi, “Baiknya hubungan sesama, karena rusaknya hubungan sesama adalah pemangkas.” Dalam riwayat lainnya: “Aku tidak mengatakan memangkas rambut, akan tetapi memangkas agama.”

Shalawat serta salam tercurahkan bagi Nabi Muhammad, para kerabat, dan sahabat beliau seluruhnya.