Rabu, 25 April 2018

DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB

RUMIYAH 11 - STATEMEN

DAN TATKALA ORANG-ORANG BERIMAN MELIHAT PASUKAN AHZAB
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH, SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia: “Dan tatkala orang-orang beriman itu melihat pasukan Ahzab (golongan-golongan yang bersekutu), mereka berkata, ‘inilah yang Allah janjikan kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al-Ahzab: 22)

Dan aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Allah telah mengutus beliau dengan pedang menjelang akhir zaman, sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya, serta pelita yang menerangi. Melalui beliaulah, Allah menegakkan hujah, menjelaskan jalan yang lurus, membela millah hanifiyah (agama lurus), dan berjihad di jalan Allah sehingga agama pun tegak melalui beliau. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah deras kepada beliau, amma ba’du:

Sesungguhnya, di antara sunnah-sunnah Allah yang takkan berubah dan berganti adalah cobaan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, sebagaimana dikabarkan Allah ‘azza wa jalla melalui firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 2-3)

Dan Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur dijalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amalan mereka.” (Muhammad: 4)

Maka orang beriman sudah semestinya memposisikan dirinya untuk (menghadapi) ujian. Disebutkan di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabbnya subhanahu wa ta’ala:

“Ketahuilah bahwasannya Rabbku memerintahkanku untuk mengajari apa yang kalian tidak ketahui dari apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hariku ini, semua harta yang Aku berikan kepada hambaku adalah halal, dan Aku telah menciptakan hambaku itu dalam keadaan lurus semuanya, namun sesungguhnya setan-setan itu mendatangi mereka, sehingga setan mengalihkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka, (setan) menyuruh mereka untuk menyekutukan Aku yang Aku tidak pernah menurunkan keterangan pun tentangnya. Dan sesungguhnya Allah b melihat penduduk bumi maka Dia sangat membencinya, baik mereka bangsa Arab maupun merka ‘Ajam (non-Arab), kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab, maka Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku hanyalah mengutusmu untuk mengujimu, dan Aku menguji (manusia) denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang air tidak dapat mencucinya, yang engkau baca baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.’ Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar Quraisy, maka aku berkata, ‘Wahai Rabbku jadi mereka akan memecahkan kepalaku dan meninggalkannya seperti roti.’ Dia berfirman, ‘Usirlah mereka seperti mereka telah mengusirmu, perangilah mereka seperti mereka mereka telah memerangimu, berinfaklah maka engkau akan diberi, utuslah satu pasukan maka Aku akan mengutus lima kali lipatnya, berperanglah bersama orang yang taat kepadamu melawan orang yang mendurhakaimu.”

Beragam cobaan yang tengah dilalui Daulah Islam pada hari ini, berupa berhimpunnya berbagai agama kekafiran dan bersekutunya golongan-golongan berkoalisi melawannya, tidak lain adalah bukti akan kebenaran janji itu. Maka kami tidaklah mengatakan kecuali seperti perkataan para pendahulu kami yang shalih dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tatkala mereka melihat golongan-golongan yang bersekutu itu: “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”

Dan Allah telah menurunkan ayat di dalam Surat Al-Baqarah: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungghunya pertolongan Allah itu dekat.” (Al- Baqarah: 214)

Allah jalla fi ‘ula menjelaskan seraya mengingkari orang yang mengira sebaliknya, bahwasannya mereka itu tidak akan masuk surga kecuali setelah mereka diuji seperti umat-umat sebelum mereka, dengan ‘malapetaka’ yaitu (minimnya) kebutuhan dan kemiskinan, dengan ‘kesengsaraan’ yaitu derita dan penyakit, dan dengan ‘keguncangan’ yaitu guncangan musuh.

Maka tatkala datang golongan-golongan yang bersekutu pada Perang Khandaq, kemudian mereka melihatnya, mereka berkata, “Inilah yang Allah janjikan kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan mereka menyadari bahwa Allah telah menguji mereka dengan guncangan, dan telah datang kepada mereka (cobaan) seperti yang (dialami) orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan hal demikian itu tidaklah menambah kepada mereka selain keimanan dan ketundukan terhadap hukum Allah dan perintah-Nya.

Dan inilah kondisi kaum muslimin yang jujur pada hari ini, sebagaimana juga kondisi kaum muslimin yang jujur di setiap masa, dan sesungguhnya fitnah (huru-hara) yang diujikan kepada kaum muslimin di Daulah Khilafah melawan orang-orang kafir perusak yang menyerang syariat Islam ini, sungguh pernah berlaku juga semisalnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengannya Allah menguji Nabi-Nya dan kaum mukmin, dan dalam peristiwa-peristiwa itu Allah ‘azza wa jalla menurunkan sejumlah surat yang gamblang dan ayat-ayat yang terang. Lalu kitab-kitab sunah sangat melimpah dengan pembahasan mengenainya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah yang keduanya merupakan dakwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berlaku bagi segenap makhluk. Dan berbagai janji Allah di dalam kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya akan diberlakukan untuk generasi akhir umat ini, sebagaimana telah berlaku untuk generasi awalnya. Sesungguhnya, Allah mengisahkan kepada kita berbagai kisah kaum dari umat-umat sebelum kita untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kita, sehingga kita bisa menyandingkan keadaan kita dengan keadaan mereka, dan menimbang umatumat generasi belakangan dengan generasi-generasi awalnya. Agar kaum mukmin dari generasi mutakhir memiliki persamaan dengan kaum mukmin terdahulu.” Selesai perkataan beliau rahimahullah.

Di Perang Badar, Allah menceritakan keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia berhadapan dengan musuh-musuh mereka. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan- Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orangorang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Ali Imran: 13)

Allah juga mengisahkan kepada kita terkait pengepungan mereka terhadap Bani Nadhir, Dia berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut kedalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan-tangan orang-orang Mukmin. Maka amblillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari hal ihwal orang yang mendahului kita dari umat ini, dan dari umat-umat sebelumnya. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di lebih dari satu tempat di dalam Kitab-Nya, bahwa ketetapan-Nya terkait suatu umat adalah suatu keniscayaan dan terus berlanjut. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung tidak pula penolong. Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)

Maka setiap mujahid di Daulah Islam seyogyanya mempelajari sunnatullah dan segenap peristiwanya terkait para hamba-Nya, terlebih lagi di saat agresi semakin sengit terhadap Darul Islam dan negeri Khilafah. Kemunafikan mulai menampakkan jati dirinya dan kekafiran telah memperlihatkan taringnya. Orang-orang munafik dan orang-orang berpenyakit hati mengira bahwa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya itu adalah tipu-daya belaka, serta mengira bahwa golongan Allah dan Rasul-Nya tidak akan kembali bertemu keluarganya selamalamanya. Dan hal itu dipandang baik di dalam hati mereka, dan mereka berprasangka yang buruk, sedangkan mereka adalah kaum yang binasa.

Sejatinya sudut pandang dari berbagai peristiwa agung ini adalah sebagaimana kaum mukmin diuji bersama Rasulullah pada Perang Ahzab, dan Allah menurunkan satu surat yang mengandung hikayat peperangan ini yang mana Allah menolong golongan tepercaya-Nya, menolong bala tentara-Nya, dan menghancurkan sendiri semua musuh-Nya tanpa melalui peperangan, bahkan hanya dengan keteguhan kaum mukmin dalam menghadapi musuh mereka. Pun demikian keadaan hari ini di Raqqah, Mosul, dan Tal Afar, sangat persis menyerupai kondisi masa-masa itu.

Pada hari ini, manusia telah terbagi sebagaimana terbaginya mereka pada masa Perang Khandaq. Pada perang Ahzab, kaum muslimin dikeroyok oleh seluruh kaum musyrik yang mengepung. Dengan pasukan besar, mereka mendatangi Madinah untuk membasmi kaum muslimin. Bangsa Quraisy dan para sekutu mereka berhimpun, mulai dari kabilah Bani Asad, Asyja’, Fazarah, dan kabilah-kabilah Nejed lainnya. Dan berhimpun pula kaum Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Sebelumnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengusir Bani Nadhir, sebagaimana dikisahkan Allah dalam Surat Al-Hasyr.

Dalam Perang Ahzab, mereka bergabung dengan Bani Quraizhah, padahal mereka telah menekan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hidup berdampingan dengan beliau dekat Madinah. Mereka tetap dalam kondisi demikian, sampai akhirnya Bani Quraizhah melanggar perjanjian dan bergabung ke dalam golongan-golongan bersekutu.

Pasukan Ahzab yang besar ini berhimpun, jumlah dan persenjataan mereka mengungguli kaum muslimin berlipat-lipat ganda. Rasulullah pun mengungsikan para wanita dan anak-anak kecil ke perbukitan Madinah. Kemudian memposisikan mereka membelakangi Gunung Sila’ dan membuat parit antara beliau dan musuh. Sedangkan musuh yang mengepung mereka dari atas dan bawah adalah musuh dengan permusuhan yang sangat keras. Seandainya mereka berhasil mengalahkan kaum mukmin, niscaya akan menyiksa dengan siksaan yang luar biasa.

Pada peristiwa-peristiwa hari ini, seluruh musuh dari kalangan Salibis, Atheis, Syiah Rafidhah, dan kelompok-kelompok murtadin lainnya, mereka datang disertai pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal perang mereka, serta seluruh kekuatan yang mereka miliki, untuk menyerang dan menjajah negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mengepung negeri-negeri kaum muslimin dari segala penjuru, sebagaimana Allah Rabb firmankan mengenai Perang Ahzab, “Yaitu ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu menyesak sampai tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan berbagai purbasangka. Di situlah orang-orang mukmin diuji dan diguncang hatinya dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Imam Ibnu Katsir r berkata tentang penafsiran ayat ini, “Allah ‘azza wa jalla berfirman mengkabarkan keadaan tersebut, ketika golongan-golongan yang bersekutu itu tiba di sekitaran Madinah, sedangkan kaum Muslimin terkepung dalam keadaan sangat sulit dan sempit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka; di saat mereka diuji, diberikan cobaan, dan diguncang dengan guncangan sangat hebat, maka saat itulah muncul sifat kemunafikan, lalu orang-orang berpenyakit hati mulai melontarkan isi hati mereka. Adapun orang munafik, kemunafikannya menyeruak. Dan orang yang hatinya menyimpang, maka pendiriannya melemah, dia merasakan kebimbangan di dalam jiwanya; disebabkan kelemahan imannya, dan penderitaan yang menimpanya berupa kesulitan.” Selesai ucapannya rahimahullah.

Hari ini, manusia berhamburan mengikuti keyakinan masing-masing. Orang-orang yang lemah lagi bingung akan berburuk sangka.

Kelompok ini menyangka bahwa tidak ada seorang mujahid pun yang akan mampu menghadapi pasukan koalisi, dan para pemeluk Islam akan binasa. Kelompok ini menyangka bahwa seandainya mereka melawan niscaya musuh-musuh itu akan melumat mereka dengan sekali hentakan, dan akan membelenggu mereka tak ubahnya gelang melilit pergelangan tangan. Kelompok ini juga menyangka bahwa bumi Iraq, Syam, dan negeri-negeri Islam lainnya tidak lagi menjadi tempat berlindung kaum muslimin, dan tak lagi berada di bawah kekuasaan Daulah Islam. Jiwanya membisikinya untuk kabur ke darul kufur. Kelompok ini mengira bahwa apa yang diinformasikan para ulama hadits Nabi Muhammad dan para pakar periwayatan berupa kabar-kabar gembira, tiada lain hanyalah angan-angan dusta dan dongeng yang sia-sia. Kemudian Allah menyebutkan perkataan kalangan munafikin yang berada dalam barisan pasukan kaum muslim di Perang Ahzab, “Dan ingatlah ketika segolongan diantara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’” (Al- Ahzab: 13)

Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangun kamp bersama kaum muslimin di Gunung Sila’, dan membuat parit antara beliau dengan musuh. Segolongan dari mereka lantas berkata, “Tidak ada tempat bagimu di sini, karena begitu banyaknya musuh, maka kembalilah ke Madinah.” Dan dikatakan juga: “Tidak ada tempat bagi kalian di atas agama Muhammad, maka kembalilah kepada agama kesyirikan.” Dan dikatakan pula: “Tidak ada tempat bagi kalian untuk berperang, maka kembalilah meminta jaminan keamanan dan perlindungan kepada mereka.” Kemudian Allah c menyebutkan kondisi kaum munafikin dalam perang itu dan ucapan mereka, di lebih dari satu tempat, terkadang mereka berkata, “Kalianlah yang telah menyuruh kami untuk tinggal di tempat ini dan menetap di tsughur (front) ini sampai sekarang. Jika sekiranya kami pergi sebelum ini, maka musibah ini tidak akan menimpa kami.” Terkadang mereka mengatakan, “Dengan jumlah pasukan yang sedikit dan kelemahan kalian, maka kalian hendak mengalahkan musuh, sungguh kalian telah tertipu oleh agama kalian.” Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman, “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, ‘Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya.’ (Allah berfirman), ‘Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa, Maha bijaksana.’” (Al-Anfal: 49)

Terkadang mereka berkata, “Kalian sudah gila, kalian tidak punya akal. Kalian hendak membinasakan diri kalian dan membinasakan manusia bersama kalian.” Kadang mereka juga mengatakan berbagai macam ucapan yang sangat menyakitkan. Lalu setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang yang teguh dari kalangan kaum mukminin dalam surat Al-Ahzab, Dia memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk meneladani dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di peristiwa-peristiwa seperti ini. Allah berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat danyang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang diuji dengan musuh seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diuji, maka diri beliau menjadi teladan yang baik bagi mereka, yang mana mereka tertimpa seperti apa yang menimpa beliau. Maka hendaklah mereka itu mencontoh beliau dalam hal ketawakalan dan kesabaran, serta janganlah menyangka bahwa hal ini merupakan siksaan bagi dirinya, penistaan untuknya. Karena jika begitu, maka Rasulullah yang notabene makhluk terbaik, tidak akan diuji dengan cobaan. Bahkan dengan cobaan, derajat-derajat tinggi akan diraih, dan dengannya pula Allah menghapus kesalahankesalahan bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.

Imam Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Ayat mulia ini menjadi fondasi sangat agung dalam meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dalam ucapan, perbuatan, dan peristiwaperistiwa yang dialami beliau. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Perang Ahzab dalam hal kesabaran, saling berwasiat dalam kesabaran, keteguhan dalam ribath, kesungguhan dan kesabaran beliau menanti jalan keluar dari Rabb beliau jalla fi ‘ula, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada orang-orang yang gundah, terguncang, dan gelisah akan kondisinya pada Perang Ahzab, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,” yaitu mengapa kalian tidak meneladani beliau dan mencontoh sifat-sifat beliau? Oleh sebab itu, Dia berfirman, “(Yaitu) bagi mereka yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” Selesai perkataannya rahimahullah.

Sungguh Allah menghalau Pasukan Ahzab dengan mengirim angin topan dan mencerai-beraikan hati mereka sehingga meluluh-lantakkan persatuan mereka, dan mereka tidak memperoleh kebaikan sedikit pun, sebagaimana terdapat di dalam firman- Nya: “Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, kerena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apapun. Cukuplah Allah yang menolong dan menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (Al-Ahzab: 25)

Maka kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menghalau Pasukan Koalisi dari Daulah Khilafah sebagaimana Dia telah menghalaunya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau yang mulia –semoga Allah meridhai mereka–.

Duhai Rabb Penjaga Baitullah limpahkan ampunan-Mu dan pertaubatan
Dengan keagunganmu ilhamkan kepada kami kebenaran
Dengan karunia-Mu pakaikanlah kami mahkota kemenangan
Dan kenakan siksa kepada kumpulan kekafiran
Demikianlah sayap setiap orang menunjukkan penghormatan
Dan demi kemuliaan-Mu leher-leher kami patahkan

Wahai tentara Khilafah, telaah dan pelajarilah berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarmu. Renungkan kemudian lihatlah. Demi Allah, semua itu tidak lain hanyalah kematian yang satu dan kebinasaan yang satu. Maka jadilah orang yang mulia dengan agamamu dan berpegang teguhlah dengan keimananmu, mudah-mudahan engkau menghadap Tuhanmu yang meridhaimu, sedang engkau tetap maju dan pantang mundur.

Wahai tentara Khilafah, hindarilah dan jauhilah forum-forum fitnah. Ikutilah wasiat Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku, berarti dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amir, berarti telah menaati ku, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada amir, berarti dia telah bermaksiat kepadaku.”

Dalam kesempatan ini, tak lupa kami mengingatkan para ikhwah mujahidin dan umat Islam secara umum agar memanfaatkan sisa waktu di bulan mulia ini, yang mana Allah berfirman tentangnya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia sekaligus penjelasan dari petunjuk dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)

Sesungguhnya, di antara nikmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba-Nya yang beriman adalah diantarkannya mereka ke musim kebaikan ini, demi menyucikan jiwa mereka dan membersihkan kotoran yang melekat agar kembali jernih dan murni. Sehingga mereka bersegera menjalankan amalan-amalan shalih dan memanfaatkan hari-hari yang tersisa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang Bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintupintu neraka dan para setan dibelenggu.”

Maka selamat bagi yang sukses mendapatkannya, berarti sungguh dia telah menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan dan mengikuti millah (agama) Ibrahim yang hanif (lurus). Selamat bagi yang mengamalkan seluruh syariat islam. Selamat bagi yang tetap teguh di atas kebenaran dan “mengambil” Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Selamat bagi yang menyambut seruan Allah, beriman kepada para rasul-Nya, berjihad melawan para musuh-Nya, dan membenarkan janji-Nya.

Wahai bala tentara Khilafah para penggenggam bara api yang bersabar lagi teguh di atas janji, yang menyadari bahwa dunia ini hanyalah negeri cobaan dan ujian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami benar-benar akan menguji kalian hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian dan orang-orang yang sabar di antara kalian, serta akan Kami uji perihal kalian.” (Muhammad: 31)

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, sejatinya kalian saat ini adalah katibah (batalion) dan para pelopor Islam dalam melawan koalisi-koalisi kekafiran. Dengan keteguhan, determinasi, dan kesabaran kalian, terdapat kemuliaan bagi Islam, kemenangan bagi kaum muslimin dan Daulah mereka, maka tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kalian.

Wahai singa-singa Mosul, Raqqah dan, Tal ‘Afar...
Wahai ikon kemuliaan dan kebanggaan, serta penyulut kemarahan orang-orang kafir.

Semoga Allah memberkahi lengan-lengan kokoh dan wajah-wajah bercahaya. Seranglah orang-orang Rafidhah dan murtadin serta gempurlah mereka dengan kehebatan satu orang laki-laki. Tidak akan terhina orang yang kembali kepada Sang Pencipta dan Sang Tuannya, dan tidak akan mulia orang yang berlindung kepada selain-Nya. Kalian berperang di jalan Allah memerangi orang yang kafir kepada Allah, dan kalian mempertaruhkan nyawa demi mendekatkan diri kepada Allah, demikianlah kami menilai kalian dan Allah-lah penilai kalian. Perbaruilah niatan, perbaikilah amal, dan bersabarlah atas pedihnya luka dan tikaman, bersabarlah dan sulut kemarahan para wali setan. Dan bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah sebaik-baik bekal dalam peperangan dan seutama-utama muslihat, agar kalian beruntung. Sungguh, kemenangan itu adalah kesabaran sesaat, kemudian kemenangan akan berpihak kepada kalian dengan izin Allah.

Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Dijlah, Al-Badiyah, Shalahuddin, Diyala, Karkuk, Utara dan Selatan Baghdad...
Wahai bala tentara Islam di Fallujah, Anbar, dan Al-Furat...

Waspadalah, jangan sampai kalian melewatkan malam-malam bulan yang utama ini, melainkan kalian telah membuat orang-orang Rafidhah dan murtadin mencicipi berbagai macam pembunuhan dan malapetaka. Dan inilah mereka, pada hari ini telah memasuki halaman rumah kalian. Tak ada gunanya hidup jika diinjak-injak oleh anak-cucu kaum Majusi, di tengah negeri-negeri yang telah kalian atur dengan syariat Allah. Maka aturlah perangkap-perangkap, pasanglah ranjau-ranjau, dan pecahkanlah kepala dengan tembakan senapan-senapan sniper (penembak jitu), binasakan perkumpulan mereka dengan berbagai peledak.

Wahai bala tentara Khilafah di wilayah Halab (Aleppo), Al-Khair, Al-Barakah, Hims, Hama, dan Damaskus...
Wahai anak-cucu Khalid dan Abu Ubaidah...
Wahai para pahlawan Islam dan singa-singa pemberani...

Seranglah orang-orang Nushairi, orang-orang Kurdi Atheis, dan para Shahawat murtad di Syam. Terkamlah mereka tak ubahnya singa yang mengamuk. Sergaplah mereka dari setiap pintu, Jangan kalian lewatkan keberuntungan kalian di bulan ini. Temuilah Rabb kalian dalam keadaan tunduk, patuh, dan bertaubat. Kejar dan carilah kesyahidan. “Dan bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali ‘Imran: 133)

Wahai bala tentara Islam di wilayah Sinai, Mesir, Khurasan, Yaman, Afrika Barat, Somalia, Libya, Tunisia, Aljazair, dan di semua tempat....

Lantaskan jihad kalian, bertahanlah di front-front dan pos-pos ribath kalian. Jangan kalian menunda menyerang musuh-musuh Allah meskipun hanya sesaat di siang hari, berupayalah berjihad menegakkan syariat dan hukum Allah di muka bumi. Karena tujuan jihad kita adalah supaya agama ini semuanya menjadi milik Allah, dan semua belahan bumi di atur dengan hukum Allah.

Wahai para putra Khilafah di Asia Timur...

Kami mengucapkan selamat kepada kalian atas takluknya kota Marawi, Ingatlah selalu Allah dalam keteguhan. Syukurilah nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian. Mintalah pertolongan Allah untuk menghadapi musuh kalian, niscaya Dia akan mencukupi kalian, Dialah penolong kalian, Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Kepada para mujahid pemberani yang bertempur melawan musuh...

Wahai bala tentara Khilafah putra-putra Ahlussunnah di bumi Persia...

Semoga Allah memberkahi aksi kalian terhadap musuh-musuh millah dan agama. Kalian melegakan dada dan membuat kaum muslimin bergembira, kalian telah menimpakan orang-orang musyrik dengan sesuatu yang selama ini mereka takutkan. Maka lantaskanlah serangan-serangan kalian. Sungguh, benteng negara Majusi lebih lemah dari pada rumah (sarang) laba-laba.

Kepada saudara-saudara seakidah dan seiman, di Eropa, Amerika, Rusia, Australia, dan yang lainnya...

Saudara-saudara kalian telah menunaikan udzur (mengangkat dosa) di negeri kalian, menerkamlah mengikuti jejak mereka, tirulah aksi mereka, dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah kilatan pedang.

Wahai saudara-saudara kami yang menjadi tawanan di mana saja...

Demi Allah, tidak pernah sehari pun kami melupakan kalian. Kami tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian memiliki hak atas kami. Maka bersabarlah dan teguhlah. Jangan kalian berkata kecuali kebaikan. Karena besarnya pahala seiring dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Dia akan menguji mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan. Perbanyaklah berdoa di bulan penuh berkah ini, agar Dzat Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui memberikan kebebasan dan jalan keluar kepada kalian. Berdoalah agar Allah menganugerahkan kemenangan, keteguhan, dan tamkin kepada para ikhwah mujahidin kalian. Dengan izin Allah, kami tidak pernah menghemat-hemat usaha keras untuk membebaskan kalian.

“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkan kaki kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.”

Dan akhir seruan kami; segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.

PERJALANAN MENUJU ALLAH

RUMIYAH 11 - MUSLIMAH

PERJALANAN MENUJU ALLAH

Telah tiba waktunya untuk membedakan dan memisahkan antara orang yang jujur dan pendusta, antara orang yang shalih dan fasik, antara mukmin dan munafik dan antara orang-orang yang teguh dan orang-orang yang putus asa. Telah tiba waktu untuk memisahkan antara orang-orang yang kecintaannya terhadap Jannah merasuk ke relung hati dan antara orang-orang yang kecintaannya terhadap Jannah hanya sebatas di bibir saja. Aku memohon kepada Allah supaya menjadikan kita termasuk dari mereka yang tetap teguh hingga akhir untuk menyaksikan kemenangan atau Dia menganugerahkan kita mati syahid yang diterima.

Aku mengajak saudari-saudariku di Daulah Islam yang dengan anugerah Allah tetap teguh, bersabar, dan tegar untuk membuka pendengarannya untukku, sesungguhnya aku yakin bahwa sejatinya kita sangat membutuhkan peringatan dan perbaikan. Aku meminta kepada Allah agar menurunkan rahmat-Nya atas kalian semuanya, dan aku berharap agar kalimat ini dapat memberi manfaat dan menjadi titik balik kita menuju sesuatu yang lebih baik.

Wahai saudari-saudariku tercinta yang menemaniku berjalan menuju Allah, biarkan kami menyucikan niat, dan memperbaiki amalan kami seakan-akan engkau menunggu di hadapan kami waktu-waktu penuh ujian dan cobaan berat, pun waktu-waktu yang penuh dengan pertempuran dahsyat antara kubu keimanan dan kekufuran yang insyaa Allah akan datang setelahnya kemudahan seperti yang telah Dia janjikan kepada kita di dalam firman-Nya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Asy-Syarh: 5-6) dan dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (Ash-Shaffat: 173)

Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk hal itu? Apakah jiwa kita siap untuk berkorban di jalan Allah? Dan apakah hati kita telah kosong dari segala sesuatu selain iman? Apakah kita mampu untuk terus berada di jalan ini? Apakah kita mampu untuk tetap tinggal dengan teguh dan kuat serta berkata apa yang telah dikatakan oleh para Sahabat –semoga Allah meridhai mereka- setelah Perang Uhud: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 173)

Mereka berkata demikian karena sesungguhnya mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka memiliki keyakinan dan kepercayaan kepada Allah dan pertolongan-Nya, serta karena mereka sungguh telah menyerahkan perkaranya kepada Allah dan mengikhlaskan untuk Allah dan Rasul-Nya. Maka apakah tersisa satu saja yang belum mereka korbankan demi mencari ridha Allah? Dan di sana tidaklah ada jalan apapun yang penuh dengan duri yang memungkinkan mereka tempuh di jalan Allah kecuali pasti mereka tempuh dengan sukarela.

Dan ketika di sana tidak ada lagi jalan untuk menampakkan loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya yang lebih baik daripada memenggal kepala kerabat-kerabat mereka yang musyrik mereka lakukan itu. Maka sungguh ucapan mereka tentang kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu selain keduanya adalah ucapan yang telah dibuktikan dengan iman dan takwa, pengorbanan dan perhatian mereka, sebagaimana telah tergambar jelas dalam kesedihan-kesedihan mereka. Sungguh kerinduan mereka kepada Allah menjelaskan bahwasannya mereka tidaklah mengharapkan kecuali hanya akhirat saja.

Maka Allah pun ridha kepada mereka semuanya dan semoga Allah menjadikan untuk kita kekuatan, iman dan takwa seperti apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, maka kita dapat merengkuh pahala seperti apa yang telah mereka dapatkan.

Wahai para saudariku tercinta, sesungguhnya peran dan tanggungjawab kita belumlah selesai, bahkan semakin bertambah baik dari segi jumlah maupun urgensi, maka dari itu wajib atas kita untuk memperbaiki diri dan segera sadar dari kelesuan kelalaian menuju realita tujuan kita. Sungguh telah tiba saatnya untuk kita fokus pada kewajiban dan peran kita dan memprioritaskan untuk akhirat bukan untuk dunia.

Maka sesungguhnya wajib atas kita –wanita muslimah- menunaikan kewajiban kita dengan penuh kesadaran dan perhatian, karena sesungguhnya berlambat-lambat dalam hal ini tidak dapat mengantarkan kecuali kepada kebinasaan kita.

Dan sesungguhnya tugas kita itu lebih besar dari apa yang kita bayangkan, maka sungguh Allah telah memuliakan kita ketika memilih kita menjadi istri, saudari, dan ibu para Mujahidin.

Maka apakah pantas bagi kita untuk sibuk dengan kehidupan materi yang hina sebagaimana terjadi pada kebanyakan kita? Waktu untuk mempersiapkan diri kita sangatlah terbatas, maka hendaklah kita buang debu kemalasan dan pecahkan belenggu dunia. Bukankah sejak lama kita telah meninggalkan kebaikan yang diberikan dunia kepada kita? Bukankah kita telah tinggalkan manusia tercinta ketika kita telah mengambil langkah pertama dalam hijrah?

Maka kenapa setelah kita menyucikan hati dari dunia, lalu sebagian dari kita malah terperangkap dalam jaring-jaring setan hingga hati kita menjadi terjangkiti dan bergantung kepada dunia dari awal dengan menjadikan makanan, minuman, menggunjing, omong kosong, dan tujuan materi adalah keinginan terbesar kita? Sering kita dibuat sedih ketika melihat ada akhwat yang memilih berlari mengejar dunia, ketimbang memprioritaskan diri mendukung suaminya yang mujahid dan mendidik anak-anaknya agar mereka dapat mengikuti sosok seperti Khalid bin Al-Walid dan Abdullah bin Az-Zubair.

Allah azza wa jalla berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” (Ali ‘Imran: 110)

Akan tetapi, betapa banyak dari wanita itu kembali ke darul harbi setelah menolak menikah lagi karena Allah, demi kecintaan besar kepada suaminya yang telah syahid –insyaa Allah. Padahal di Hari Kiamat kelak setiap orang akan memanggil “diriku, diriku”, sehingga seorang istri tidak akan menghiraukan suaminya ketika itu, tidak pula suami menghiraukan istrinya.

Kenapa kita membiarkan hawa nafsu menguasai perilaku kita? Tidakkah kita merenungkan sebuah ayat di mana Allah berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (Al-Jatsiyah: 23)

Betapa banyak dari kita yang tidak memiliki mahram, lalu tidak taat kepada orang yang dibebani tanggung jawab mengurusi mereka, padahal Allah telah memerintahkan kita dengan itu, Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisaa`: 59)

Dan betapa banyak di antara kita mencemari hidup suaminya yang ingin menerapkan sunnah poligami yang di dalamnya terdapat banyak manfaat untuk umat dan ingin melakukannya, padalah Allah telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)

Betapa banyak dari kita yang membantu setan dalam merusak pernikahan antara suaminya dengan isterinya yang lain, disebabkan rasa cemburunya yang berlebihan? Apakah kita lupa bahwasanya Allah berfirman, “Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-Nisaa`: 85)

Ada pula dari kita yang semangat satu-satunya hanyalah sering keluar rumah tanpa ada keperluan kecuali hanya mengejar dunia. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk tetap tinggal di rumah kita, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33)

Wahai saudari-saudariku tercinta, sesungguhnya Allah itu Mahakaya, dan sesungguhnya Dia tidaklah membutuhkan kita sebagaimana Dia tidaklah membutuhkan amalan kita, milik-Nyalah pembendaharaan langit dan bumi. Dia berfirman, “Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (Muhammad: 38)

Dan agama Allah senantiasa eksis baik dengan ataupun tanpa kita. Akan tetapi tidakkah kita mau untuk senantiasa mengunduh pahala dan membuahkan untuk ahkirat kita? Tidak layak kita mengira bahwa hijrah kita diterima atau menyangka kita telah memberikan anugerah kepada Allah dengan berkumpul di bawah panji “La Ilaha Illallah”. Karena pada hakikatnya adalah kebalikannya dalam hak setiap individu kita, karena sesunngguhnya Allah-lah yang menganugrahkan kepada kita dengan adanya kita di sini, dan Dialah yang telah melebihkan kita atas mayoritas orang yang meninggalkan kita.

Dan sesungguhnya Allah-lah yang menjadikan kita mampu untuk memberikan apa yang kita miliki demi menolong Daulah Islam. Sesungguhnya ini termasuk nikmat Allah yang telah menunjukkan dan membimbing kita untuk mengikuti langkah ini dengan keutamaan dan rahmat-Nya semata. Sejatinya Allah telah memberikan kepada kita nikmat yang begitu banyak, maka wajib atas kita untuk bersyukur kepada-Nya semampu kita –padahal sebenarnya kita tidak mungkin dapat bersyukur dengan sebenar-benarnya sesuai Hak-Nya— sehingga Dia tidak menggantikan kita dengan orang lain, akan tetapi (agar) Dia meridhai kita dan meneguhkan kita diatas jalan yang lurus.

Apakah kita lupa sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai para wanita, keluarkanlah sedekah, karena aku diperlihatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah dari kalangan kalian.” Mereka bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian banyak mengumpat dan mengingkari suami.”

Wahai saudari-saudariku, ketika saudara-saudara kita para mujahidin mengorbankan dan mempersembahkan jiwa mereka untuk Allah, mengapa kita tidak membasahi lisan kita dengan berzikir kepada Allah? Ketika para mujahidin berhadapan dengan koalisi kuffar, mengapa kita tidak bersujud dengan sujud yang panjang di pertengahan malam? Ketika mereka mempersembahkan segala pengorbanan dan meninggalkan orang-orang tercinta di belakang, mengapa kita tidak mengorbankan hawa nafsu kita lalu berpuasa di siang hari dan mengendalikan syahwat juga lisan kita?

Allah azza wa jalla berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (Al-Hadid: 16)

Telah tiba saatnya kita menyucikan niat kita, memeriksa amalan-amalan kita dan membuang dari hati kita segala sesuatu yang dapat memalingkan perhatian kepada tujuan kita. Kita hendaknya kembali kepada Allah dengan taubat sebenar-benarnya yaitu dengan meninggalkan maksiat, menyesal atas itu, dan berjanji kepada Allah untuk tidak lagi mengulangi. Allah azza wa jalla berfirman, “Katakanlah hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah engaku berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53).

Dan hendaknya kita meminta pertolongan dan hidayah-Nya, hanya Allah-lah satu-satunya yang akan memberikan kita pertolongan. Allah ta'ala berfirman, “Jika Allah menolongmu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu. Jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan), maka siapa gerangan yang dapat menolong kamu selain Allah setelah itu? Karena itu, hendaklah hanya kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal.” (Ali ‘Imran: 160)

Hendaklah kita menjadi wanita yang memahami perannya, lalu menunaikannya. Karena membantu suamimu yang mujahid –wahai saudariku tercinta- adalah salah satu peran pentingmu di bumi jihad. Rasanya tidaklah berlebihan pernyataan ini.

Dan rumahmu hendaknya menjadi tempat istirahatnya, ketika tak ada tempat untuk menumpahkan segala rasa. Dan jadikan pula ia tempat untuk mengisi ulang energi kekuatannya untuk berjihad, bukan sebaliknya engkau menyerap energi yang tersisa darinya.

Buanglah segala kekhawatiranmu jauh-jauh, jadilah engkau orang yang memprioritaskan untuk segala keperluannya, hargailah keberadaannya, bersabarlah dengan ketiadaannya. Sesungguhnya dia tidak sedang mengatur perniagaan dan tidak sibuk dengan tugas sebagaimana di darul kufur. Tetapi dia adalah mujahid fi sabilillah, menolong agama Rabb-mu Yang Maha Tinggi.

Maka cobalah untuk menyembunyikan darinya berbagai kesulitan yang engkau jalani dan juga kelemahanmu, hingga setan tidak menjadikan dari kelemahan itu sebagai fitnah bagi suamimu, sedangkan dia di tengah-tengah medan perang.

Dan bantulah dia semampumu dengan karunia Allah dan karamah-Nya, kelak engkau akan memperoleh balasan setimpal, insyaa Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dari Jabir bin Abdillah, dia menceritakan; ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang perempuan, dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku utusan para muslimah yang datang padamu. Wahai Rasulullah, Rabbnya kaum laki-laki dan perempuan adalah Allah azza wa jalla, Adam adalah ayahnya laki-laki dan perempuan, Hawa adalah ibunya laki-laki dan perempuan, dan Allah azza wa jalla mengutusmu kepada laki-laki dan perempuan. Dan laki-laki, jika mereka keluar di jalan Allah, lalu terbunuh maka mereka dicintai di sisi Rabb mereka dan diberi rezeki. Dan jika keluar, baginya pahala sebagaimana yang telah engkau tahu, dan kami membantu mereka. Apakah kami memperoleh pahala?”

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Sampaikan salam dariku untuk para wanita, dan katakan kepada mereka: sesunguhnya ketaatan kepada suami setimpal dengan seluruh amalan kaum laki-laki, tetapi sedikit dari kalian yang melakukannya.” (An-Nafaqah ‘ala Al-‘Iyal)

Perbaruilah niat kita wahai saudari-saudariku, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung kepada niat, dan sesungguh setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mulai saat ini, marilah kita meneladani Khadijah radhiyallahu 'anha yang dikirimi Allah penghormatan dengan kabar gembira akan sebuah rumah di surga, karena dia telah beriman kepada Allah secara langsung, dan mengikuti hal itu dengan kontribusi yang kokoh untuk sang suami, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Demikian pula, marilah kita meneladani Aisyah radhiyallahu 'anha sang pemilik akal jenius dan ingatan menakjubkan yang menyampaikan kepada kita begitu banyak hadits sampai tingkatan bahwa perpustakaan keislaman kita takkan menjadi seperti sekarang ini tanpa keilmuan yang diriwayatkan Aisyah kepada kita.

Pun demikian, semestinya seluruh ibunda kaum beriman dan para wanita shalihah lain di sekeliling Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadi teladan bagi kita.

Tak hanya itu, wahai saudari-saudariku, kita harus meninggalkan kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar. Dan menjaga diri dari dampak kemaksiatan kita kepada Allah. Janganlah kalian bergantung pada angan-angan dan impian semu, karena tidak ada yang menjamin bahwa amalan-amalan kita akan diterima oleh Allah. Dan kita juga bukan termasuk orang-orang yang diberi kabar gembira jaminan masuk surga. Dan seharusnya kita memaksakan diri kita untuk berbuat kebajikan, melaksanakan apa-apa yang telah Allah wajibkan atas kita. Dan selalu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah.

Dan terakhir, aku kembali mengingatkan kalian akan pentingnya mentalak dunia dan segala keindahannya. Aku menasehati kalian agar mengubah ujian, penderitaan, dan cobaan menjadi manisnya keimanan dengan mengingat bahwa penderitaan yang kita alami ini akan menambah kedekatan kita kepada Allah. Maka betapa indahnya penderitaan ini!

Dan jadilah kalian wanita-wanita yang bersedih atas kepulangan suami-suami kalian dari medan perang tanpa menyandang status syahid.

Bangkitlah dengan semangat yang membara! Dan berdirilah kalian dengan membawa pengorbanan dan persembahan untuk perang ini. Sebagaimana yang telah dilakukan wanita-wanita shalihah pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka melakukan hal itu bukan karena sedikitnya jumlah kaum laki- laki, melainkan karena kecintaan mereka kepada jihad dan keinginan mendalam untuk mempersembahkan dan mengorbankan sesuatu untuk Allah azza wa jalla dan demi menggapai surga.

Dan di antara para wanita shalihah dan diberkahi itu salah satunya adalah Ummu Imarah Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah radhiyallahu 'anha. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah meriwayatkan bahwa Ummu Imarah menyaksikan Perang Uhud, Perang Hudaibiyah, dan Perang Hunain, bahkan tangannya terpotong di medan jihad. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Ummu Imarah: “Sungguh kedudukan Nusaibah binti Ka’ab (Ummu Imarah) pada hari ini lebih baik dari kedudukannya fulan bin fulan.” (Siyar A’laam An-Nubalaa`)

Maka mari kita mengintrospeksi bagaimana kedudukan kita jika kita bandingkan dengan apa yang sudah digapai para sahabat wanita shalihah itu, serta apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam katakan tentang kita?

Sesungguhnya hakikat perlombaan itu ada di detik-detik terakhirnya. Maka lanjutkanlah usaha dan perjuanganmu wahai saudariku yang mulia, meskipun engkau terlambat atau lemah di langkah awalmu, dan mintalah pertolongan Allah dan yakinlah terhadap (ketetapan dan janji-janji) Nya. Dan bersikap sabarlah setiap kali musibah dan cobaan datang menghampirimu. Maka “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Bersemangatlah dalam mengerjakan seluruh kewajiban dengan tujuan mendapatkan keridhaan Rabbmu, dan bersiaplah untuk mengorbankan hal-hal yang paling penting dan paling berharga dalam hidupmu, maka yang demikian itu dapat membersihkan hatimu dari ketergantungan terhadap sesuatu apapun selain Allah.

Dan inilah sebenarnya yang dibebankan kepada kita untuk Allah, agar kita dapat menyempurnakan perjalanan kita kepada- Nya. Bersedialah untuk mengerjakan amal-amal shalih dan jadikanlah harapanmu adalah diterimanya amal-amal itu. Dan bergembiralah akan satu dari dua kebaikan, yaitu pertolongan Allah atau kesyahidan!

Dan aku tutup (permbicaraan ini) dengan firman Allah yang sempurna: “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj: 78)

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 1)

RUMIYAH 11 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS. Ali Imran: 139-140)

Segala puji bagi Allah .... kita memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah niscaya tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haqq untuk disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat dan meninggalkannya di atas cahaya putih, yang waktu malamnya ibarat siang. Tidak ada yang tersesat darinya selain orang yang binasa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa`: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba’du:

Sejarah akan kembali berulang. Sepanjang masa alur peristiwanya tidak berubah. Para pelaku dan pemerannya boleh berganti, sarananya juga boleh berkembang, tetapi skenario peristiwanya tetap dan kisah perseteruannya tetap sama.

Kebenaran akan berseteru dengan kebatilan, Islam akan berperang melawan kekafiran, jahiliyah, dan kemunafikan akan bersembunyi mengintip, sedangkan orang-orang lemah lagi pengecut memegangi tongkat dari tengah sambil mendukung ummatnya, tetapi mereka lebih mengutamakan dunia mereka, menunggu suasana tenang dan perang selesai, lalu beralih kepada pihak yang kuat dan menaiki bahtera si pemenang. Sungguh buruk apa yang mereka lakukan.

Lain halnya dengan para muwahhid robbani, mereka tetap mengibarkan panji di era kekalahan, tetap mengangkat kepala di era kehinaan yang memalukan, semangat mereka tetap menguap melalui emosi dan pergi menuju Dzat yang maha mengetahui lagi maha melihat, meneladani sang pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (Nabi Muhammad), mereka terasing, wajah-wajah mereka diterpa angin kebengisan, kaki-kaki tanpa alas mereka berdarah di sahara yang menyala oleh api permusuhan. Pintu-pintu tertutup untuk mereka. Lantas, merekapun mengetuk pintu langit hingga terbuka. Dari roh surga terdapat sesuatu yang mampu menghidupkan hati. Cahaya iman menyatu dengan mereka, sehingga tidak ada seorangpun diantara mereka yang murtad karena benci agamanya, meskipun dunia memanah mereka dari satu busur.

Umatku...

Timbangan telah cukup penuh dan cairan telah meluber. Orang-orang zhalim telah melampaui batas, para thaghut telah merampas negeri dan para serigala, bahkan para anjing telah menyerang kita.

Manusia mencari solusi di fatamorgana sahara kesesatan, padahal solusi itu ada di hadapan dan di tangan mereka.... Solusi itu adalah jihad fi sabilillah.

Berikut adalah beberapa wasiat para pemimpin jihad yang lebih dahulu meniti jalan yang berbarakah ini, aku mengumpulkannya secara ringkas sebagai tadzkirah (pengingat) untuk diriku dan para ikhwah mujahidin, sebagai motivasi untuk tetap tegar dan ajakan untuk bersabar di atas prinsip.

Wahai para mujahid....

Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh, canggihnya persenjataan, koalisi kekuatan jahat atas kalian dan tidak pula sedikitnya saudara kalian yang muslim di belahan dunia, tetapi aku mengkhawatirkan diri kalian. Aku khawatir kalian tertimpa virus wahn (cinta dunia dan takut mati), kelemahan, kekalahan dan banyak bermaksiat.

Apa yang pernah terjadi dalam Perang Uhud terdapat pelajaran dan peringatan bagi kalian. Allah azza wa jalla berfirman:

“Sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu.” (Ali ‘Imran: 152)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Di awal siang, kemenangan berpihak kepada umat Islam, tetapi ketika para pemanah melakukan maksiat dan sebagian pasukan melemah, maka sesuatu (kemenangan) yang telah dijanjikan yang bersyarat keteguhan dan ketaatan akhirnya tertunda.” Selesai perkataan beliau rahimahullah....

Dalam pertempuran ini, terdapat beberapa sikap yang menakjubkan, di antaranya: Bahwa musuh berjumlah tiga kali lipat jumlah kaum muslimin. Maka, di awal siang Allah memenangkan umat Islam. Tetapi, ketika mereka bermaksiat, Allah menimpakan bencana kepada mereka di akhir siang.

Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, “Pada waktu Perang Uhud, manusia tercerai-berai dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau hanya disertai sebelas orang Anshar beserta Thalhah.”

Di dalam hadits Anas radhiyallahu 'anhu disebutkan: “Sewaktu Perang Uhud, umat Islam tercerai-berai. Anas bin Nadhar berdoa, ‘Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas apa yang telah dilakukan oleh mereka (yaitu para sahabatnya), dan aku berlepas diri kepada mu dari apa juga telah dilakukan oleh mereka –yaitu orang-orang musyrik.’”

Abu Ad-Darda pernah duduk sambil menangis setelah penaklukan Pulau Siprus tatkala melihat tangisan penduduk dan kelompok-kelompok mereka.

Ada yang bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Ad-Darda, di hari Allah memuliakan Islam?”

Dia pun menjawab, “Celaka kalian, betapa hinanya manusia di hadapan Allah jika mereka meninggalkan perintah-Nya. Padahal sebelumnya mereka adalah sebuah ummat yang kuat lagi menang. Mereka meninggalkan perintah Allah, hingga jadilah seperti apa yang kalian lihat.”

Wahai para mujahidin ...

Terkadang kemenangan itu terhambat dan terkadang berbagai kekalahan dan luka mendera barisan kalian. Hal ini tidak aneh, karena itulah sunnatullah (ketentuan Allah) yang telah berlaku pada orang-orang terdahulu dan kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah.

Heraklius pernah bertanya kepada Abu Sufyan, “Saya bertanya kepada Anda, bagaimana perang kalian dengan dia (maksudnya Rasulullah), lantas Anda menjawab bahwa perang yang terjadi adalah silih berganti. Maka demikianlah para Rasul diuji, kemudian mereka mendapatkan kemenangan.”

Sesungguhnya ujian terberat kalian dalam perang adalah dalam hal sabar dan yakin.

Yakin: bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya, memenangkan tentara dan kelompok-Nya meskipun setelah beberapa waktu.

Dan sabar: ketika masa-masa berat, karena kemenangan ada bersama kesabaran, solusi ada bersama kesedihan dan bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan.

Ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Asy-Syafi’i, dia bertanya, “Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih utama bagi seseorang, diberi kekuasaan atau diuji?

Maka, Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Dia tidak akan diberi kekuasaan hingga diuji terlebih dahulu.”

Karena Allah telah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad –shalawat dan salam semoga terlimpah untuk mereka semua, ketika mereka bersabar maka Allah memberi mereka kekuasaan.

Jadi, jangan pernah ada yang beranggapan bisa terlepas dari rasa sakit.

Adalah salah orang yang berprasangka buruk kepada Allah, lalu melihat jumlah dan persenjataan musuh, tetapi lupa dengan janji Allah:

“Allah telah menetapkan bahwa Aku benar-benar menang, dan begitu juga para utusan-Ku (akan menang).” (Al-Mujadalah: 21)

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maa`idah: 56)

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (An-Nur: 55)

Jadi, syarat ini balasannya adalah janji yang disyaratkan, yaitu aman, ikhlas dan amal shalih. Baru kemudian kemenangan, tamkin dan kekuasaan:

“Janji Allah, Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.” (Az-Zumar: 20)

Alangkah indah apa yang dikatakan oleh penulis Tafsir fi Zhilal Al-Qur`an dalam mengomentari Firman Allah azza wa jalla:

“Berapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249)

“Inilah prinsip dalam perasaan orang-orang yang yakin akan berjumpa Allah. Prinsipnya yaitu kelompok beriman ini berjumlah sedikit, karena ia yang akan meniti tangga derita hingga sampai pada kelompok terpilih, tetapi dialah yang menjadi pemenang karena dia terhubung dengan “sumber” yang kuat, dan juga menjadi cerminan kekuatan yang menang, yaitu kekuatan Allah yang Maha Kuasa atas segala urusan-Nya, Allah yang Maha Perkasa di atas para hamba-Nya, Allah yang menghancurkan orang-orang diktator, yang menghinakan orang-orang zhalim dan yang mengalahkan orang-orang sombong.”

Wahai para mujahidin...

Sungguh demi Allah, kalian berada dalam kondisi yang menyenangkan, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh para penggembos yang melihat urusan hanya dengan kacamata materi, lalu tersentak oleh berita-berita Barat dan Arab serta para anteknya berupa kemenangan para partai, dan para mujahidin melarikan diri. Perang itu tidak diukur dengan jumlah personil maupun persenjataan, bukan pula dengan kemenangan maupun kekalahan. Jadi, harus ada ini dan itu, baru setelah itu datang kemenangan dan tamkin (kekuasaan), meskipun setelah beberapa saat.

Syaikhul Islam berkata –ketika itu dia menerangkan berkumpulnya koalisi dari kalangan bangsa Tartar, orang-orang munafik dan yang lain atas umat Islam—: “Fitnah ini memisahkan manusia menjadi 3 kelompok:

1. Thaa`ifah Manshurah: Mereka adalah para mujahid yang memerangi mereka yang melakukan kerusakan.
2. Thaa`ifah Mukhalifah: Adalah pihak musuh dan orang yang beralih kepada mereka dari sampah orang-orang yang mengaku Islam.
3. Thaa`ifah Mukhadzilah: Adalah mereka yang duduk enggan berjihad, meskipun masih berstatus muslim.

Maka, silahkan masing-masing melihat; apakah dia termasuk thaa`ifah manshurah, mukhadzilah, atau mukhalifah? Tidak ada kelompok keempat.

Ketahuilah, bahwa di dalam jihad terdapat kebaikan dunia dan akhirat, dan jika ditinggalkan akan mengalami kerugian dunia dan akhrat. Allah azza wa jalla berfirman, “Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan.” (At-Taubah: 52)

Artinya, kebaikan itu adalah pertolongan dan kemenangan, maupun kesyahidan dan surga.

Siapapun yang tetap hidup di antara para mujahidin, maka dia akan hidup mulia, baginya pahala dunia dan pahala yang baik di akhirat, sedangkan siapa pun yang mati atau terbunuh, maka dia akan dimasukkan ke surga.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mati syahid akan diberi enam keistimewaan, yaitu 1. diampuni dosanya sejak tetesan darahnya yang pertama, 2. diperlihatkan tempat tinggalnya di surga, 3. dikenakan padanya perhiasan iman, 4. dinikahkan dengan 72 bidadari, 5. dilindungi dari fitnah kubur dan 6. aman dari huru-hara terdahsyat (Hari Kiamat).”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat seratus derajat, jarak antara tiap derajat adalah ibarat jarak langit dan bumi. Allah Ta’ala mempersiapkannya untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.”

Ini artinya, ketinggian 50.000 tahun di surga adalah untuk ahli jihad...

Sampai pada perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Demikian juga, para ulama sepakat –sepanjang pengetahuanku— bahwa tidak ada ibadah tathawwu’ yang lebih utama dari jihad, karena jihad lebih utama daripada haji, puasa, dan shalat sunah.

Ibadah ribath (berjaga di perbatasan) lebih utama dari pada ibadah di sekitar Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis. Hingga Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, “Jika aku ribath satu malam di jalan Allah, itu lebih aku sukai dari pada mendapatkan malam Lailatul Qadar di samping Hajar aswad.”

Abu Hurairah lebih memilih menjalani ribath satu malam daripada ibadah di malam terbaik dan di tempat terbaik.”

Syaikhul Islam berkata lagi, “Dan ketahuilah, semoga Allah memperbaiki kalian, bahwa kemenangan adalah bagi orang-orang beriman, surga bagi orang-orang bertakwa dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan yang berbuat baik.”

Para musuh itu akan dikalahkan lagi terdesak. Allah azza wa jalla adalah penolong kita atas mereka, membalaskan dendam kita kepada mereka dan tiada daya dan kekuatan selain dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Maka, bergembiralah dengan pertolongan Allah azza wa jalla dan kesudahan yang baik (surga).

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 139)

Dan ini adalah perkara yang telah kita yakini dan kita realisasikan. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

Kemudian beliau rahimahullah berkata, “Dan ketahuilah –semoga Allah memperbaiki kalian— bahwa di antara nikmat terbesar bagi orang yang dikehendaki baik oleh Allah adalah Dia menghidupkannya hingga saat ini, yaitu ketika Allah memperbarui agama ini, menghidupkan kembali simbol-simbol umat Islam dan kondisi orang-orang beriman dan para mujahidin, hingga kembali mirip dengan as-sabiqun al-awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Maka siapa yang saat ini melakukan hal tersebut (berjihad), maka dia termasuk orang yang mengikuti mereka dengan baik, yaitu orang-orang yang diridhai oleh Allah dan mereka juga ridha kepada-Nya, dan Allah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Maka, seyogyanya orang-orang beriman bersyukur kepada Allah ta'ala atas ujian, yang pada hakikatnya adalah karunia besar lagi mulia dari Allah, dan fitnah ini yang di dalamnya terdapat nikmat yang besar, hingga demi Allah, seandainya para as-sabiqun al-awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan yang lain turut hadir di zaman ini, niscaya amal mereka yang paling utama adalah berjihad melawan mereka, orang-orang yang jahat. Dan tidak ada yang dari absen dari perang ini selain orang yang merugi perniagaannya, membodohi diri sendiri dan terhalang mendapatkan bagian yang besar di dunia dan akhirat, kecuali bagi yang diuzur oleh Allah azza wa jalla, seperti orang yang sakit, fakir, buta dan yang lain.” Selesai perkataan Syaikhul Islam Rahimahullahu.

Syaikhul Islam juga berkata, “Puncak itu semua adalah jihad fi sabilillah, karena jihad adalah hal tertinggi yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Para pencelanya cukup banyak, karena banyak orang beriman yang justru membencinya, baik mereka menjadi penggembos yang gemar melemahkan semangat dan niat, maupun menjadi murjif (penyebar kabar bohong) yang gemar melemahkan kekuatan dan kemampuan. Semua itu adalah termasuk kemunafikan.” Selesai perkataan beliau.

ENTAH MUSYRIKIN YANG BINASA ATAU KAMI YANG BINASA

RUMIYAH 11 - PENGANTAR

ENTAH MUSYRIKIN YANG BINASA ATAU KAMI YANG BINASA

Para Rafidhah telah memerangi Mosul. Mereka pamerkan mobil-mobil tempur mereka, tank-tank baja mereka dalam barisan konvoi yang sangat panjang, hampir-hampir ujungnya tak terlihat. Mereka janjikan para majikan Salibis mereka bahwa mereka akan menuntaskan peperangan hanya dalam beberapa hari. Dan inilah –dengan karunia Allah– peperangan yang dahsyat telah memasuki bulan ke delapan. Konvoi kendaraan Rafidhah hancur lebur di tangan junud Khilafah yang sabar dalam ribath. Divisi dan brigade mereka musnah. Sementara yang lari dari peperangan akan mendapatkan hukuman dari ‘tuan’ mereka (Salibis) berupa bombardir atau dibunuh. Akan tetapi dengan keadaan demikian, kaum musyrikin masih selalu menjanjikan para tuannya dengan kemenangan dalam beberapa hari saja.

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mujahidin Mosul, baik bala tentara maupun komandannya, atas jasanya untuk Islam dan kaum muslimin. Mereka telah menyelami peperangan yang paling dahsyat dan paling besar sepanjang sejarah. Mereka contohkan makna keteguhan kepada seluruh dunia yang sangat jarang terjadi di zaman kita ini. Mereka sama sekali tidak membiarkan agama ini dalam kehinaan, tidak menyerah kepada para musuh, dan tidaklah mereka mundur dari suatu tempat kecuali mereka telah penuhi dengan potongan tubuh dan darah musyrikin hingga mereka tidak senang untuk terus maju dan tidak mudah pula merasa gembira dengan kemenangan yang mudah. Seperti inilah karakter para ahli tauhid di mana saja.

Kisah tentang keteguhan dan kepahlawanan mereka dalam berperang tidaklah asing. Inilah peperangan di Sirte, Fallujah, Al-Bab, dan peperangan mereka yang tercatat oleh sejarah menjadi saksi atas kejujuran perkataan mereka, eloknya perilaku mereka, Sungguh, barangsiapa yang loyal kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, maka ketahuilah bahwa pasukan Allah (Hizbullah), mereka yang akan menang.

Hari ini adalah milik ahli tauhid dan tentara khilafah di Raqqah, supaya mereka menyaingi saudara-saudara mereka dalam mendapatkan ridha Sang Pencipta alam semesta dan mendapatkan kedudukan tinggi di jannah kelak, yaitu dengan menggigit teguh perbatasan dengan gigi geraham, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, serta membenarkan janji Allah yang akan diberikan kepada mereka.

Hendaklah setiap dari mereka berkata; Allah akan melihat apa yang aku lakukan pada hari ini, lalu bertemu musuh pada barisan pertama, sama sekali tidak menoleh ke belakang ketika peperangan berkecamuk sampai menemui Rabb mereka. Maka sungguh Allah azza wa jalla tersenyum atas yang mereka perbuat, dan Dia Ridha kepada mereka.

Para murtadin datang dengan keadaan takut dan grogi, mereka yakin bahwa perang ini tidak seperti perang sebelumnya dalam menghadapi tentara khilafah. Maka dari itu, mereka menyiapkan segalanya untuk menghadapi peperangan ini tidak sebagimana pada perang yang lain. Mereka menyiapkan pasukan melebihi persiapan pasukan pada peperangan yang lain.

Para Salibis memberikan bantuan yang belum pernah ada sebelumnya. Para petinggi militer Salibis selalu mengingatkan kepada sekutunya bahwa perang ini bukan peperangan yang mudah, akan memakan waktu yang tidak sedikit, dan berupaya semaksimal mungkin untuk terus bertempur meski harus mendapatkan kerugian dan memerlukan waktu yang panjang.

Tetapi pada kenyataannya, Salibis dan sekutunya meyakini bahwa tidak ada satu pasukan pun yang bisa bertahan berperang untuk mengganti kerugian yang lebih besar dari kemampuannya. Masanya lebih panjang dari kekuatannya dari segi waktu dan beban.

Jika demikian adanya, tentara Salibis Amerika akan lari meninggalkan perang, hengkang dari Irak dalam keadaan kalah telak setelah mendapatkan perlawanan keras dari mujahidin. Begitu juga, para petinggi mereka mengetahui masalah besar yang akan mereka hadapi, yang setiap saat mengancam negara mereka seperti krisis ekonomi, kewibawaan mereka jatuh, dan strategi yang kacau disebabkan beban yang tinggi.

Dan termasuk faktor terbesar ketakutan para Salibis dan sekutunya yang murtad adalah mereka memahami dengan baik kapasitas kekuatannya, dan mengetahui bahwa pasukan PKK dengan jumlah yang sedikit dengan perlengkapan persenjataan yang memberatkan keuangan Salibis, dan pasukan murtadin yang mereka tangkap di jalan supaya ikut bertempur setelah melakukan pelatihan yang buruk.

Semua itu –dengan izin Allah— membuat mereka tidak akan mampu bertahan dalam perang dahsyat seperti perang di Mosul. Juga, mereka tidak akan mampu menanggung sebagian kecil dari beban sangat besar yang menimpa pasukan Rafidhah dalam perang tersebut. Mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membantu mengganti semua kerugian.

Kita telah melihat apa yang terjadi di perang Manbij, bahwa hampir saja mereka hancur hanya dalam waktu dua bulan saja. Kalaulah bukan karena Allah memutuskan sesuatu yang pasti terjadi.

Sesungguhnya kewajiban bagi setiap mujahid di Raqqah, di manapun ia berada, hendaklah berpikir untuk menjadikan perang ini sebagai medan laga untuk menghancurkan murtadin, sebagai balasan atas kekafiran mereka kepada Allah Yang Maha Besar, permusuhan mereka terhadap agama-Nya, dan penyelesaian terakhir dari peperangan yang panjang.

Maka perang ini tidak akan berhenti kecuali salah satu dari kedua pasukan hancur. Entah kita mengancurkan mereka dengan kekuatan Allah lalu mereka merugi di dunia dan di akhirat atau kita yang akan binasa hingga menemui Allah dalam keadaan teguh dalam agama, dan membantai musuh-musuhnya, lalu kami menang sebagaimana Ashabul Ukhdud mendapatkan kemenangan, beruntung di akhirat, negeri yang kekal.

Tidak ada pilihan ketiga antara kami dan mereka. Sungguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya. Sungguh Allah Maha kuat lagi Maha Mulia.

HARAKAH MURTAD TALIBAN, MENGIKUTI JEJAK SHAHAWAT IRAQ DAN SYAM

RUMIYAH 10 - ARTIKEL

HARAKAH MURTAD TALIBAN, MENGIKUTI JEJAK SHAHAWAT IRAQ DAN SYAM

Gerakan nasionalis Taliban telah berupaya kuat untuk meyakinkan orang-orang musyrik di negaranegara tetangganya. Mereka mengakui keabsahan sistem pemerintahannya. Mereka menginginkan terbangunnya hubungan baik. Namun bukannya mendapat bantuan, justru musuh-musuhnya yang dibantu. Hal itu ketika didapati ternyata ada sebagian syari’at Islam yang diterapkan. Sebagaimana mereka juga melindungi para muhajirin dan mengizinkannya menggunakan wilayah kontrolnya untuk beri’dad dan melindungi muhajirin lain.

Kemudian gerakan ini tertimpa kemunduran besar. Mereka kehilangan kontrol atas wilayahnya hanya selang beberapa hari saja paska invasi salibis. Mereka mengalami kelemahan dalam waktu yang cukup lama. Dalam situasi genting ini, mereka malah mengkhianati dan mengisolasi pemimpinnya sendiri, hingga kematiannya. Walhasil, terbentuklah pusat kekuasaan baru yang memegang otoritas gerakan dengan dukungan dan arahan intelijen Pakistan.

Kelompok murtad ini, yang bertanggung jawab atas tangan-tangan eksternal dalam tubuh Taliban sejak berhasil menguasai Kabul, dan juga yang bertanggung jawab atas semua pernyataan-pernyataan “manis” kepada negara-negara tetangganya, semakin menambah loyalitasnya kepada orang-orang kafir setelah berhasil menguasai penuh otoritas gerakan. Ia mengajukan dirinya sebagai abdi kotor dan anjing penjaga perbatasan mereka dengan terus menerus menegaskan bahwa para mujahidin sudah tidak diperbolehkan menggunakan wilayah kontrolnya untuk mempersiapkan seranganserangan baru. Semua itu demi membangun hubungan baik dan mendapatkan pengakuan serta sedikit bantuan dari orang-orang musyrik.

Daulah Islamiyah dideklarasikan. Hukum-hukum khilafah kembali hidup. Jamaah muslimin kembali dibangun. Upaya-upaya untuk menegakkan kembali syari’at Allah di bumi terus digalakkan. Dakwah tauhid menyebar di berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat mulai memahami wajibnya berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik dan memusuhi serta memerangi mereka sampai Din semuanya milik Allah. Demikian juga akan keharusan loyal kepada orang Islam, berpegang teguh dengan jamaah muslimin, yang berarti perbatasan-perbatasan palsu yang merobek-robek negeri kaum muslimin harus dilenyapkan, dan organisasiorganisasi yang memecah belah kaum muslimin harus dibubarkan. Semua itu membuat gerakan nasionalisme Taliban murtad “berbagi rasa” khawatir dengan Negara-negara salibis dan thaghut-thaghut penguasa negeri kaum muslimin.

Walhasil, pemberantasan Daulah Islamiyah menjadi proyek bersama antara Taliban dengan negara-negara kafir yang ketakutan dengan eksistensi Daulah Islamiyah di perbatasannya, sebagaimana juga AS yang menginvasi Afghanistan. Hingga tak diherankan lagi ketika Taliban mengajukan pemberantasan Daulah Islamiyah itu sebagai barang dagangan berharganya, yang tentu diinginkan oleh negara-negara kafir itu, dan harganya tentu saja membuka hubungan diplomatik dengan petinggipetinggi Taliban, dukungan politik, dan mungkin juga dukungan dana dan persenjataan.

Oleh karena itu, bukan sesuatu yang mengejutkan ketika salibis Rusia menjustifikasi hubungan terbukanya dengan Taliban dengan dalih memberantas Daulah Islamiyah. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya dengan tersebarnya prajurit Daulah Islamiyah di dekat pusat pengaruhnya di Asia Tengah. Di saat yang sama juga mengungkapkan kesiapannya melakukan intervensi militer secara langsung untuk memberantas Daulah Islamiyah di Khurasan.

Tak diragukan lagi, sebenarnya Rusia hendak mengusir Amerika dari daerah pengaruhnya di Asia Tengah. Target itu pula yang hendak dicapai oleh China dan Iran. Namun jangan sampai kekosongan paska penarikan mundur Amerika itu diisi oleh Daulah Islamiyah. Oleh karena itu, Rusia berusaha mengeksploitasi kekosongan paska penarikan mundur Amerika, baik dengan intervensi militer langsung, yang itu cukup sulit dan mahal, atau dengan mengubah Khurasan menjadi daerah penyangga, yang dipantau sekutunya, untuk mencegah kehadiran musuh-musuhnya di daerah strategis ini. Untuk itu, Taliban adalah yang paling cocok dijadikan sekutu, karena ambisinya yang terbatas pada nasionalisme Afghanistan saja, fanatisme kesukuan dan madzhabnya, dan hubungannya yang erat dengan Iran sebagai sekutu Rusia paling dekat pada akhir-akhir ini.

Gerakan murtad ini, dengan mengajukan dirinya sebagai wakil negara-negara salib dan pemerintahan thaghut untuk memberantas Daulah Islamiyah, sejatinya hanya mengulang apa yang telah dilakukan oleh banyak organisasi dan faksi yang mengaku Islam, seperti faksi-faksi Shahwat di Iraq, Syam, dan Libya, yang dijadikan sekutu oleh Tanzhim Al-Qaeda, yang ironisnya, berbai’at kepada Taliban. Gerakan murtad ini, yang telah menipu banyak orang, pada akhirnya nasibnya tak akan lebih baik dari nasib Shahawat Iraq dan Syam dengan izin Allah. Nanti akan terbukti ketidak mampuannya mencegah serangan-serangan prajurit Khilafah, bahkan ketidak mampuannya melindungi dirinya sendiri. Ketika itulah sekutu-sekutunya akan mencari pengganti yang lebih cocok.

Maka dari itu, hendaklah prajurit-prajurit Khilafah di Khurasan terus melanjutkan serangan-serangannya pada salibis dan murtaddin. Mereka harus terus menimpakan kerugian sebesar mungkin kepada seluruh musuh-musuh Allah. Jika mereka terus menolong Allah dengan kata-kata dan aksinya, niscaya persekutuan manusia dan jin tidak akan mengalahkan mereka. Hanyasanya pertolongan itu di tangan Allah Yang Mahamulia lagi Maha Bijaksana.

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI ASIA TIMUR, SYAIKH ABU ABDULLAH AL-MUHAJIR

RUMIYAH 10 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI ASIA TIMUR, SYAIKH ABU ABDULLAH AL-MUHAJIR

Amir junud Khilafah di Asia Timur menampik berbagai klaim palsu pemerintah thaghut Filipina seputar kemampuan militernya untuk memberantas mujahidin. Dia menceritakan berbagai pertempuran yang di jalani junud Daulah Islam melawan pasukan Salibis Filipina. Sejumlah pertempuran yang menjadikan para pengusung tauhid mengungguli orang-orang musyrik, kendati jumlah dan persenjataan mereka lebih banyak.

Dalam wawancaranya bersama majalah Rumiyah, Syaikh Abu Abdullah Al-Muhajir bercerita mulai dari perjalanan jihad di Asia Timur, sampai berbai’atnya para mujahidin kepada Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah, dan bergabung dengan Daulah Islam, serta penaklukan demi penaklukan yang mereka capai selepasnya.

Dia menjelaskan bahwa Front Islamis Pembebasan Moro (MILF), dengan berbagai alirannya, telah terjatuh ke dalam perangkap pemerintahan rezim Salibis Filipina yang tidak memberi mereka apa-apa kecuali janji-janji palsu, yang mana mereka meletakkan senjata mereka dalam rangka meraih itu semua. Dia juga menyingkap banyaknya pejuang yang meninggalkan gerakan tersebut, setelah mereka mengetahui kebobrokan manhaj dan kedustaan para komandannya. Kemudian sebagian besar dari mereka bergabung dengan Daulah Islam.

Melalui Rumiyah, ia menyeru kaum muslimin di seluruh dunia untuk berhijrah ke kawasan-kawasan junud Khilafah di Asia Timur, dalam rangka membela saudara-saudara mereka dan upaya menegakkan Daulah mereka. Sebagaimana dia juga menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan muhajirin dari berbagai daerah, dan bergabungnya mereka ke dalam barisan mujahidin.

Majalah Rumiyah menyajikan untuk Anda wawancara bersama Amir Junud Khilafah Asia Timur, Syaikh Abu Abdullah Al-Muhajir hafizhahullah.

Tanya: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dapatkah Anda menjelaskan kondisi kaum muslimin di Asia Timur?

Jawab: Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam terlimpahkan kepada Rasulullah Sang Terpercaya, juga kepada segenap keluarga dan sahabat beliau seluruhnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai Hari Kiamat, amma ba’du:

Kondisi kaum muslimin di Asia Timur tidak berbeda dengan kondisi saudara-saudara mereka di seluruh penjuru bumi, hidup tanpa jama’ah (Khilafah) yang menyatukan mereka, tidak ada imam yang memimpin, mereka hidup dalam kelompok-kelompok, suku-suku, organisasi-organisasi, kabilah-kabilah, terpecah-belah, dan tercerai-berai. Kaum musyrikin sangat memanfaatkan kondisi ini.

Dengan banyaknya kaum Nasrani yang tersebar luas di daerah ini di bawah pedang imperialisme Salibis, dan sokongan dari mereka, serta terus berlanjut hingga hari ini, maka menghabisi Islam di daerah ini menjadi target terang-terangan terpenting bagi orang-orang musyrik. Mereka berusaha mengintimidasi kaum muslimin dengan berbagai cara untuk memurtadkan mereka, dan memusnahkannya dari muka bumi. Semua itu menimbulkan reaksi yang baik. Orang-orang pun terbangun dari tidur mereka, mendorong mereka menenteng senjata melawan pemerintahan dan pasukan kriminal Salibis.

Dan hal itu pula yang membuat kaum musyrikin tercengang, khususnya di tengah lemahnya kemampuan mereka untuk membuat jera orang-orang yang mengaku Islam, dan menaklukkan mereka lagi. Maka kaum musyrikin terpaksa berhenti menumpahkan darah kaum muslimin, dan menghentikan ekspansi ke daerah-daerah mereka. Kemudian ambisi terbesar mereka adalah menjadikan kaum muslimin enggan berjihad. Namun hal itu tidaklah mungkin, meski berlangsung kejahatan-kejahatan Salibis, kecurangan para penipu, dan pengkhianatan para pengkhianat, orang-orang masih menyimpan senjata, mereka siap untuk memerangi orang-orang Nasrani di setiap waktu.

Di tengah atmosfer perseteruan antara ahli tauhid dan ahli syirik ini, muncullah generasi baru dari kalangan pemuda yang mempelajari tauhid, mengenal al-walaa’ wal-baraa’ , dan bertekad menegakkan hukum Allah di muka bumi, di negeri yang akan menjadi penyumbat tenggorokan orang-orang Nasrani al-muharibin (yang wajib diperangi), kaum paganis Budha, dan golongan-golongan lain dari sekte-sekte syirik seluruhnya. Namun, banyaknya kelompok, berbilangnya panji, serta banyaknya amir (pemimpin) yang menggiring manusia dari kesesatan menuju kesesatan lainnya, justru malah menjauhkan manusia dari tujuan tertinggi mereka, bahkan menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan dan kemurtadan, dengan berjalannya mereka menapaki jalan Ikhwanul Murtadin, masuk ke dalam demokrasi, dan loyal kepada kaum musyrikin.

Meski demikian, tersisa segelintir muwahid yang menjaga agar tidak ada hukum yang tegak di bumi ini kecuali hukum Allah saja. Mereka adalah pelopor pasukan yang berbai’at kepada Amirul Mukminin hafizhahullah, dan bergabung dengan Daulah Islam, semoga Allah memberkahi kita di dalamnya.

Tanya: Bagaimana kondisi mujahidin di Asia Timur sebelum deklarasi Khilafah? Dan buah apa yang kalian peroleh setelah bergabung ke dalam barisan Daulah Islam?

Jawab: Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, meskipun ada dampak baik dalam menenteng senjata melawan para Salibis di wilayah kepulauan Nusantara, tetapi orang-orang di sini belum bisa melepaskan diri dari penyakit akibat faksi-faksi dan kelompok-kelompok, yang mendera setiap medan jihad, terutama sebelum kembalinya Khilafah, dan terbentuknya kembali jama’ah kaum muslimin di bawah satu komando pemimpin muslim (khalifah). Demikianlah, para pengusung kesesatan dengan segera mengeksploitasi berbagai peristiwa dan menyelewengkan manusia sehingga mau berdamai dengan para Salibis, dan bermesraan dengan mereka, demi mendapatkan sejumlah posisi di pemerintahan kafir.

Di sini, para ahli tauhid mengerahkan tenaga mereka untuk mengajarkan agama Islam kepada manusia, dan mengobarkan mereka untuk selalu berjihad sampai agama Allah tegak di bumi ini. Akan tetapi, manusia lebih cenderung kepada dunia, dan rela dengan sedikit kesenangan yang mereka dapatkan dari kaum musyrikin. Dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang sedikit, serta minimnya manusia yang menolong, mulailah keputusasaan menyusup ke hati para pemuda. Dan sangat disayangkan, di antara mereka ada yang tidak mau berjihad, dan malah sibuk mengais rezeki dan mengurus anak-anak. Tapi di antara mereka ada juga yang berhijrah ke medan-medan jihad lain yang punya harapan besar dalam menegakkan agama Allah di muka bumi.

Di antara nikmat Allah kepada kita dan kaum muslimin di seluruh dunia adalah tatkala Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah mendeklarasikan kembali Khilafah. Maka kami pun segera berbai’at kepada Amirul Mukminin, beberapa hari setelah pendeklarasiannya, demi menaati perintah Allah dan menyatukan barisan mujahidin yang tercerai-berai di daerah ini, di bawah panji Daulah Islam. Hanya saja, pengumuman bai’at ini agak terlambat beberapa waktu, sampai Allah memudahkan pengumumannya. Namun dalam proses tersebut mendatangkan banyak kebaikan bagi jihad di seluruh kepulauan Nusantara.

Terlebih lagi, banyak katibah (batalion) dan sariyah (satuan pasukan) yang bersatu di bawah panji Daulah Islam sebenarnya adalah jama’ah-jama’ah yang paling baik manhajnya, paling bersih aqidahnya, dan paling sengit memerangi orang-orang musyrik. Tidak ada bukti paling kuat selain pertempuran-pertempuran besar yang dilakoni junud Daulah Islam melawan pasukan Salibis Filipina dalam rentang dua tahun silam, meliputi di dalamnya upaya dalam menghadang kampanye militer besar, membunuh ratusan tentara Salibis, dan menyerbu banyak kota yang dikontrol para Salibis. Dengan izin Allah, kota Marawi tidak akan menjadi kota terakhir yang dikuasai oleh mujahidin.

Tanya: Bagaimana keadaan medan jihad di daerah kalian, dan mana saja daerah tempat keberadaan kalian di Asia Timur? Lalu pertempuran apa yang paling mengemuka yang dilakoni mujahidin dalam melawan pasukan pemerintahan Salibis pasca deklarasi Khilafah?

Jawab: Secara umum, kondisi mujahidin semakin lama semakin baik. Jumlah pasukan dan persenjataan semakin bertambah. Atas karunia Allah, jumlah mereka sangat besar di Pulau Mindanao, sebelah selatan Filipina, Asia Timur. Banyak muhajir yang mendatangi kami dari berbagai negara di kawasan Asia Timur, bahkan juga dari luar kawasan, segala puji bagi Allah semata.

Sejak deklarasi Khilafah, kami menjalani beberapa pertempuran di berbagai daerah di negeri ini. Di Basilan saja berlangsung lima pertempuran terpenting di antaranya adalah pertempuran yang berlangsung selama 46 hari, di mana di dalamnya disertakan helikopter, pesawat jet, dan senjata artileri yang membombardir muwahidin sepanjang siang-malam. Jumlah musuh yang tewas mencapai sekitar seratus, belum lagi yang luka-luka.

Begitu pula di kawasan strategis Ranau. Di Kota Ranau berlangsung lima pertempuran lainnya, sejak dideklarasikannya Khilafah. Salah satu pertempuran terpenting adalah pertempuran ketiga di Putij, tahun 1437 H. Pertempuran meletus setelah daerah-daerah mujahidin sepanjang siang dan malam dibombardir serangan udara oleh banyak helikopter, pesawat-pesawat jet tempur sepanjang siang, dan bombardir artileri siang-malam selama enam bulan berturut-turut. Musuh memiliki perlengkapan dan persenjataan semisal pesawat tempur, tank-tank, helikopter, dan artileri. Sedangkan mujahidin hanya memiliki semiang (sedikit) persenjataan dan jumlah pasukan, namun banyak bertawakal dan kembali kepada Allah. Meski demikian, Allah menganugerahkan mereka sehingga dapat membunuh ratusan musuh, dan menolong mereka atas musuh-musuhNya.

Sementara di Maguindanao, mujahidin berhasil memberi tekanan kepada para musuh dari kalangan Salibis congkak, atas karunia dan anugerah Allah. Secara umum, atas karunia Allah, para Salibis sungguh telah mencicipi banyak malapetaka dari kami. Kami telah berpengalaman menghadapi mereka, melalui banyak peperangan yang kami jalani melawan mereka. Kami mendapati mereka adalah para pengecut saat berlangsungnya pertempuran, meski jumlah mereka lebih banyak dan persenjataan mereka lebih hebat, tapi Allah memenangkan kami atas mereka dan kami timpakan kepedihan untuk mereka.

Tanya: Bisakah Anda bercerita tentang Front Islamis Pembebasan Moro (MILF), dan bagaimana bisa ia menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintahan Salibis?

Jawab: Pada dasarnya, MILF terdiri dari elemen yang heterogen, tidak memiliki pandangan dan aliran sejenis. Di dalamnya terdapat banyak pribadi yang saling berseberangan, memiliki banyak cita-cita yang bertentangan. Coraknya lebih condong mengikuti Ikhwanul Murtadin. Oleh karenanya, selama empat dekade terakhir, kelompok ini mengalami banyak perpecahan. Demikian pula, kelompok ini juga dihempas perselisihan tajam seputar bagaimana ‘berdialog’ dengan pemerintahan Salibis. Ada kelompok yang sejak lama menolak aksi bersenjata, bersikukuh untuk bernegosiasi dengan pemerintah Salibis, dan rela dengan apa pun yang ditawarkan pemerintah. Sedangkan kelompok lain hanya melihat senjata merupakan satu-satunya sarana untuk mengusir pasukan Salibis Filipina dari wilayah-wilayah kaum muslimin. Para Salibis sukses memanfaatkan perselisihan ini dengan sebaik-baiknya. Kaum Salibis memberikan secuil harapan kepada kelompok yang mau menyerah, kemudian mereka memaksa kelompok yang bersikukuh berperang agar mau menerima secuil harapan tersebut.

Kemudian, mulailah para Salibis melepaskan diri memberi secuil harapan yang mereka janjikan itu. Sehingga para pemimpin MILF di berbagai kelompok menyadari bahwa para Salibis mempermainkan mereka selama bertahun-tahun. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak mengubah keadaan sedikit pun, karena mereka adalah orang-orang yang sudah keenakan duduk, dan rela dengan posisi semu yang mereka raih. Bahkan yang mengherankan lagi adalah mereka ikut masuk ke dalam permainan syirik demokrasi, dan ikut serta di dalamnya.

Persoalan itu, segala puji bagi Allah, membantu dalam membongkar hakikat orang-orang yang sesat lagi menyesatkan tersebut, menjauhkan para pemuda dari mereka, dan banyak di antara mereka mau bergabung kembali ke jama’ah-jama’ah jihad yang tegak di atas tauhid, dan tidak rela menggantungkan senjata selamanya. Tujuan terbuka mereka adalah penegakan hukum Allah di muka bumi. Yang terdepan dari mereka adalah jama’ah-jama’ah, katibah-katibah, dan sariyah-sariyah yang bergabung dengan Daulah Islam.

Sekarang, para komandan MILF dengan berbagai aliran dan panjinya, mereka tak berdaya di hadapan kekuasaan pemerintahan Salibis Filipina. Mereka hanya bisa mengeluhkan mengapa para Salibis melanggar janji mereka? Di saat yang sama, mereka mengklaim masih memiliki ribuan pejuang bersenjata, tetapi tidak mampu memobilisasi mereka untuk melawan para Salibis, karena takut dicap sebagai ‘teroris’.

Tanya: Media Salibis sering berbicara tentang ancaman Thaghut Filipina yang sebentar lagi akan menumpas mujahidin. Bagaimana fakta yang sebenarnya?

Jawab: Thaghut Filipina Rodrigo Duterte telah teperdaya oleh ambisinya. Dia mengira dapat memadamkan cahaya Allah dengan pernyataan-pernyataannya. Mahabenar Allah yang berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan Allah akan tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (At-Taubah: 32)

Semenjak para penduduk negeri ini memeluk Islam, tidak pernah sehari pun orang-orang kafir berhenti merancang peperangan melawan mereka. Betapa tidak, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, dan menang atas orang-orang yang melawan mereka hingga generasi terakhir mereka kelak memerangi Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Lantas, apakah thaghut ini telah berhasil menumpas para mujahidin dan melenyapkan mereka dari peta? Ataukah justru para mujahidin semakin bertambah banyak dan semakin kuat dari waktu ke waktu dengan izin Rabb mereka? Jadi, demi Allah, mereka tidak akan mampu memadamkan cahaya Allah, karena Allah telah berjanji kepada kita bahwa Dia akan menyempurnakan cahaya Nya dan memenangkan agamaNya. Allah berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya atas semua agama, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (At-Taubah: 33)

Tanya: Adakah pihak lain yang ikut terlibat bersama para thaghut memerangi balatentara Khilafah di Asia Timur? Apakah ada para thaghut di kawasan sekitar atau yang lainnya berpartisipasi dalam hal ini?

Jawab : Ya, ada pihak lain yang berpartisipasi dalam hal itu, bahkan mereka senantiasa menunggu dan memantau kabar tentang para mujahidin di sini. Di antara mereka adalah Rusia dan Amerika Serikat (AS), padahal keduanya sedang sibuk dengan penderitaan dan kekalahan mereka di Iraq dan Syam.

Tanya: Apakah sampai saat ini kalian masih menyambut muhajirin? Adakah jalan untuk bergabung dengan kalian?

Jawab: Ya, alhamdulillah. Kami masih menyambut muhajirin dan menerima mereka. Ada beberapa cara dan jalan yang relatif aman untuk berhijrah. Tetapi, setiap orang yang ingin berangkat harus mengupayakan berbagai faktor (sebab) untuk itu, disertai niat ikhlas dan berdoa sungguh-sungguh kepada Allah agar memudahkan hijrahnya, dan mengantarkannya ke sejumlah medan ribath dan perang, demi menggapai Ridha Rabb Yang Mahapengasih.

Tanya: Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para Salibis secara umum, dan mereka yang berada di Asia Timur secara khusus?

Jawab: Pesan saya untuk para Salibis, saya katakan,

Wahai para Salibis, bergembiralah dengan apa yang membuat kalian sengsara, karena sesungguhnya balatentara Daulah Islam di Timur Asia akan terus menapaki jalan mereka, sampai Allah menggoncang singgasana kalian di Washington dan Moskow, dengan kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang mana Allah memuliakan Islam dengannya, dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekafiran, baik kalian suka maupun tidak. Kekuasaan umat kami akan membentang sejauh yang bisa dijangkau oleh waktu siang dan malam, dengan izin Rabb kami yang Mahapengasih. Masuk Islamlah kalian, atau kalian membayar jizyah dengan patuh sedang kalian dalam keadaan tunduk, atau bersiaplah kalian, karena sesungguhnya kami akan memerangi kalian setelah agresi kalian ini, insya Allah, dan kalian akan mendapati kami sebagai orang yang sabar, menang, dan menguasai dengan izin Allah.

Tanya: Apa pesan Anda untuk para muwahid di seluruh dunia secara umum, dan di Asia Timur secara khusus?

Jawab: Wahai para muwahid di seluruh penjuru dunia, negara kalian telah tegak sebagaimana telah disebutkan Nabi kalian, dan negara kalian telah datang sebagaimana yang beliau terangkan kepada kalian. Dan sungguh tanpa ragu, ini adalah Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah (Khilafah Di Atas Manhaj Kenabian).

Waspadalah, jangan sampai khilafah ini diserang karena kelalaian kalian selama mata kalian masih bisa berkedip dan urat nadi kalian masih bisa berdenyut. Juallah ‘barang dagangan’ kalian kepada Allah dengan harga murah, dan niatkan amal kalian dengan ikhlas karena Allah, sehingga membuat malaikat bangga dan membuat geram para setan dari kalangan manusia maupun jin.

Beritahukan kepada para Salibis, bahwa telah dekat waktu kematian mereka dan telah tiba waktu peradilan mereka disebabkan mereka menyekutukan Allah, membantai dan mengusir kaum muslimin yang lemah di seluruh penjuru dunia, serta merampas kehormatan dan harta-benda umat Islam.

Dan kabarkan kepada mereka bahwa tempat ditunaikannya janji kita adalah di Washington dan Moskow. Kabar sebenarnya adalah yang akan mereka lihat, bukan yang akan mereka dengar, dengan izin Allah Ta’ala.

ABU SABAH AL-MUHAJIR

RUMIYAH 10 - SYUHADA

ABU SABAH AL-MUHAJIR

Seorang pemuda dari Malaysia, teguh dan tetap bersabar dalam derap jihad sampai merengkuh anugerah syahadah (kesyahidan) –demikianlah kami menilainya dan Allah-lah sebaik-baik penilai. Di tengah kawan-kawannya, pemuda dengan sikap tawadhu dan tidak cinta dunia ini adalah sosok hamba yang rajin mengerjakan ibadah, shalat tahajud , shaum, membaca al-Qur’an, menghafal, juga mentadaburinya. Demikianlah dia beramal dan seperti itulah karakter dirinya dalam kehidupan sehari-hari di bumi jihad. Dia sangat gemar membantu rekan-rekannya, baik di dapur dan di seluruh tempat. Dia tidak pernah lupa berdzikir kepada Allah di setiap waktu, inilah amalannya sampai kematian syahid menjemputnya. Kebaikan akhlak dan kelembutannya kepada kaum muslmin menjadikannya dicintai oleh teman-temannya. Kebengisan, permusuhan, dan kebenciannya terhadap kuffar membuatnya dicari-cari musuh. Tekad kuatnya menggentarkan barisan para pendosa, yaitu para aparatur pemerintahan thaghut di negaranya.

Tatkala mendengar seruan jihad, ia bersegera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya dan berhijrah ke negeri Filipina pada tahun 2006 dan bergabung dengan barisan mujahidin Harakah Islamiyah “Abu Sayaf” yang kala itu berada di bawah kepemimpinan Syaikh al-Kadafi Janjalani taqabbalahullah, bersama sejumlah ikhwah dari Indonesia dan Malaysia. Setelah berjihad bersama mereka selama beberapa waktu, dia kemudian dia kembali ke negaranya, tepatnya ke tempat kelahirannya di kota Sabah, dengan membawa aqidah jihad dan bertekad untuk membuka front jihad di sana. Akan tetapi Allah berkehendak sesuai yang Dia inginkan, Abu Shabah ditangkap thaghut Malaysia. Sang singa pun mendekam di penjara selama dua tahun dengan tetap teguh dan bersabar, meski tipu daya musuh dan makar mereka, baik dari kalangan ulama durjana yang menyeru kepada pintu Jahannam dan meninggalkan jalan jihad yang bercahaya, pun para penggembos yang dulunya menempuh jalan jihad kemudian mereka membelot dan berbalik ke belakang. Abu Shabah tetap bersabar dan teguh. Makar para musuh dan penyiksaan mereka terhadapnya semakin menambah keimanan dan keyakinan.

Di penjara, dia habiskan waktunya untuk ibadah dan menuntut ilmu dari ikhwah mujahidin yang di penjara bersamanya, dan saling menasehati dengan kesabaran dan keteguhan antar mereka. Dia selalu meminta kepada Allah agar dikembalikan ke barisan mujahidin.

Pada tahun 2008, Abu Shabah bebas dari penjara, namun pemerintahan Malaysia masih terus mengintainya ke mana pun dia berada. Meski demikian, dia tidak pernah melemah dan putus asa untuk bergabung dengan barisan mujahidin. Sampai Allah mengaruniakannya nikmat hijrah untuk kedua kalinya ke negeri Filipina pada tahun 2011.

Sesampainya di negeri jihad di Filipina, pemerintahan Malaysia pun kebakaran jenggot. Mereka langsung bekerja sama dengan pemerintahan Filipina untuk memerangi muhajirin dan mujahidin di sana. Meski tekanan kuffar yang dihadapi mujahidin sangat dahsyat, namun mereka tetap bersabar dan yakin akan janji Allah. Semua itu tidak menambah mereka kecuali rasa cinta kepada mujahidin dan permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir.

Setelah berlalu waktu yang panjang dalam jihad, ujian dan cobaan, kabar gembira datang kepada mereka dengan tegakknya Daulah Islamiyah. Hal tersebut merupakan impian dan harapan yang telah Allah wujudkan untuk kaum muslimin. Khilafah yang sejak beberapa zaman telah hilang, dan dinanti-nanti oleh Abu Shabah dan rekan-rekan mujahidinnya di negeri Filipina, juga negeri-negeri lainnya. Dia pun segera bergabung dengan kafilah penuh berkah. Dia segera berbai’at kepada Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi bersama rekan-rekan mujahidin-Nya dari kalangan Anshar dan Muhajirin pada tahun 2014.

Setelah pemerintahan Salibis mengetahui kelompok kecil tersebut, dan menyadari adanya balatentara Khilafah berada di daerah itu, pemerintahan pun memeranginya dengan tujuan membasminya sampai ke akar-akarnya dan memadamkan cahayanya. Namun, Abu Shabah dan mujahidin tetap teguh dan sabar dalam menjalankan ikrar bai’atnya kepada Khilafah, tidak mundur dan tidak goyah. Dia selalu menasehati saudara-saudaranya untuk tetap sabar dan teguh di atas ujian dan cobaan, agar meninggalkan dunia dan mencintai akhirat. Allah pun menguji mereka dengan ujian yang baik. Sampai sebagain ikhwah terbunuh dan menemui ajalnya, sebagian lainnya masih menanti tanpa mengubah atau mengganti janji, meski dahsyatnya tipu daya musuh dan makar dari kalangan Salibis, kuffar, dan munafikin.

Abu Shabah mengikuti banyak peperangan di Filipina, di antaranya adalah peperangan di pulau Jolo Sulu, peperangan di distrik Maguindanao dan peperangan di pulau Basilan. Dia juga tidak lupa untuk menyeru ikhwah mujahidin agar bersatu di bawah satu panji, yaitu panji Khilafah. Demi hal itu, pada tahun 2016, bersama dengan muhajirin dari Malaysia dan Indonesia, Abu Shabah mendirikan batalion bernama Katibah Muhajirin. Dia berbai’at untuk kedua kalinya kepada Khalifah kaum muslimin, kemudian bergabung dalam barisan mujahidin di bawah satu komando amir yang dipilih oleh Daulah Islamiyah, yaitu Syaikh Abu Abdullah Al-Basilani hafizhahullah.

Pada bulan Syawal 1437 H pertempuran sengit berlangsung antara balatentara Ar-Rahman dan tentara Syaitan di pulau Basilan. Peperangan ini berlangsung selama sebulan penuh dibawah komando Syaikh Abu Abdullah. Pada satu hari, sebagaimana biasanya Abu Shabah bangun dengan cepat. Dia menuju dapur guna menyiapkan makanan untuk ikhwah. Tatkala makanan sudah siap, tiba-tiba dia mendengar suara kapal. Ternyata itu adalah kapal tempur jenis OVI – 10. Kapal tersebut menuju kamp militer mereka, maka dia bersegera mempersiapkan diri, mengambil senjatanya dan berangkat menuju musuhnya bak singa yang akan menerjang buruannya. Kemudian dia bertakbir dan menyerang kapal tersebut. Peperangan berlangsung sengit, namun Allah menunaikan takdir-Nya, kapal menembakkan mortirnya dan meledak di dekat lokasinya. Sang singa pun terjatuh. Tatkala saudara-saudaranya melihat hal itu, mereka bersegera menujunya untuk memberikan pertolongan darurat, namun dia telah berpindah ke tempat tertinggi, menuju tempat keabadian, meninggalkan dunia yang fana ini. Dia gugur syahid sebulan setelah pernikahannya. Allah telah menjadikan kematiannya sebagai api bagi musyrikin dan cahaya bagi mujahidin.