Jumat, 27 April 2018

AKHLAQ YANG BAIK

AKHLAQ YANG BAIK

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Robb kalian dan jannah yang luas buminya seperti langit-langit dan bumi, (jannah itu) sudah disiapkan bagi orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfaq dalam kedaan senang dan susah, serta orang-orang yang menahan marah dan memaafkan manusia. Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Alu ‘Imron; 133-134)

Dari an-Nawwas bin Sam’an Al-Anshori rodhiyallohu ‘anhu berkata: aku pernah bertanya kepada Rosululloh Shollallohu’alaihi wasallam tentang perbuatan baik dan perbuatan dosa, maka beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam besabda: “Kebaikan adalah berakhlaq baik dan dosa adalah apa yang membuat gelisah hatimu, dan engkau benci jika hal tersebut tampak di hadapan manusia.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Abu Huroyroh rodhiyallohu ’anhu berkata, telah bersabda Rosululloh Shollallohu’alaihi wa sallam, “Orang-orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dari ‘abdulloh bin ‘Amr rodhiyallohu’anhu berkata, Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam bersabda dalam suatu majlis, “Maukah aku ceritakan pada kalian tentang yang paling aku cintai dari kalian kepadaku dan yang paling dekat dari kalian kepadaku dalam majlis pada hari kiamat?” (Beliau berkata tentang hal tersebut tiga kali), kami berkata: ‘tentu saja wahai rosululloh!’ Beliau bersabda : “yang paling bagus akhlaqnya di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dari Usamah bin Syarik rodhiyallohu ‘anhu bahwa ada para arab badui bertanya kepada Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam, “apa yang baik dari apa-apa yang telah diberikan dari seorang hamba?” Maka beliau bersabda, “akhlaq yang baik.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhaa dia berkata, aku telah mendengar Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam bersabda: “sesungguhnya seorang mu’min harus dapat diketahui dari kebagusan setiap akhlaqnya, derajat bangun malam dan puasanya pada siang hari.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dari Abu Darda’ rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi shollallohu ’alayhi wasallam bersabda, “tidak ada sesuatupun dalam mizan (timbangan) yang lebih berat dari berakhlaq baik.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Dari Abu Umamah rodhiyallohu’anhu berkata, Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam bersabda, “Aku menjamin dengan rumah yang ada di tepi jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berdebat walaupun dia benar, dan dengan rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan bohong walaupun dia bercanda, dan dengan rumah yang berada di bagian tertinggi dari jannah bagi siapa saja yang berakhlaq baik.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Infografik An-Naba’ Edisi 48

TASYABBUH (MENYERUPAI) ORANG KAFIR

TASYABBUH (MENYERUPAI) ORANG-ORANG KAFIR

Alloh ta’ala berfirman: “Dan barang siapa menentang Rosul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti selain jalan orang-orang mu’min, maka Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” [an-Nisa’: 115]

Pemberitahuan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam Tentang Akan Terjadinya Hal Itu dalam Umatnya

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu ‘anh bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian jengkal demi jengkal dan hasta demi hasta. Bahkan seandainya mereka lubang biawak, niscaya kalian akan memasukinya.” Kami berkata: “Ya Rosululloh, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasroni?” Beliau berkata: “Siapa lagi?” [Muttafaq ‘alaih]

Beberapa Contoh Tasyabbuh

- Menyerupai mereka dalam keyakinan mereka, seperti ghuluw (sikap berlebih-lebihan) terhadap para nabi dan orang-orang sholih.
- Menyerupai mereka dalam ibadah mereka, seperti berta’abbud dengan tidak menikah dan tidak makan daging.
- Menyerupai mereka dalam tradisi mereka, seperti libur kerja pada hari Sabtu dan Ahad.
- Menyerupai mereka dalam penampilan mereka, seperti memotong jenggot dan memelihara kumis.
- Menyerupai mereka dalam pakaian mereka, seperti memakai pakaian para raja, para rabi, dan para rahib mereka.
- Merayakan hari-hari besar mereka dan memberikan ucapan selamat kepada mereka atasnya, seperti hari tahun baru dan hari Natal.

Perintah Untuk Menyelisihi Mereka

Diriwayatkan dari Abu Huroyroh rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Rubahlah (catlah) uban dan jangan menyerupai orang-orang Yahudi.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi]

Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “[Di dalamnya terdapat] dalil bahwa menyerupai mereka bisa terjadi tanpa maksud/niat dari kita dan tanpa perbuatan, melainkan sekedar dengan tidak melakukan perubahan terhadap sesuatu yang diciptakan pada kita. Dan ini lebih dalam daripada kesesuaian (keserupaan) yang berbentuk perbuatan dan persetujuan.” [Iqtidhoo’ ash-shirooth al-Mustaqiim]

Hukum Menyerupai Mereka

Diriwayatkan dari ‘Umar rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia merupakan bagian dari mereka.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “Hadits ini bisa dibawa kepada tasyabbuh secara mutlak, bahwa ia menetapkan kekufuran, dan ini menunjukkan keharaman bagian-bagiannya. Dan bisa juga dipahami bahwa dia merupakan bagian dari mereka dalam perkara yang dia menyerupai mereka di dalamnya. Jika perkara itu adalah suatu kekufuran, atau suatu kemaksiatan, atau suatu syiar baginya, maka hukumnya begitu juga. Apa pun adanya, hadits ini menunjukkan keharaman tasyabbuh dengan ‘illah (alasan) keberadaannya sebagai tasyabbuh.” [Iqtidhoo’ ash-shirooth al-Mustaqiim]

Infografik An-Naba’

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ

RISALAH TENTANG NIFAQ DAN ORANG MUNAFIQ
KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
DIRINGKAS DARI RISALAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sejak Allah azza wa jalla mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam manusia terbagi menjadi tiga;
Pertama. orang-orang mukmin yang beriman kepadanya zhahir dan batinnya,
Kedua. orang-orang kafir yang terang-terangan mengkufurinya, dan
Ketiga. orang-orang munafik yang beriman secara zhahir namun tidak batinnya.
Oleh karena itu, Allah membuka surat al-Baqarah dengan empat ayat seputar sifat mukmin, dua ayat seputar sifat kafir, dan tiga belas ayat seputar sifat munafik.

Semua bagian itu; iman, kufur, dan nifak, masing-masing mempunyai pondasi dan cabang-cabangnya sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, dan sebagaimana ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam hadits yang diriwayatkannya. Maka nifak terbagi menjadi nifak akbar yang mengakibatkan pelakunya dijerumuskan dalam dasar neraka yang terdalam. Yaitu seperti nifaknya Abdullah bin Ubay dan selainnya, atau terang-terangan mendustakan Rasul, menentang atau membenci sebagian risalahnya, meyakini tidak wajib mengikutinya, senang dengan keterpurukan Dien dan sebaliknya sedih dengan kemenangan Dien, dan yang semisalnya yang tidak mungkin muncul kecuali dari musuh Allah dan Rasul-Nya. Yang seperti itu sudah muncul pada zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam dan zaman setelahnya. Padahal pada zamannya faktor pendukung keimanan amat kuat. Jika pada zamannya saja yang faktor pendukung keimanan itu amat kuat sudah muncul nifak apalagi pada zaman setelahnya. Ini adalah contoh nifak akbar, kita berlindung kepada Allah.

Adapun nifak asghar adalah seperti nifak amal dan yang semisalnya. Yaitu seperti berdusta ketika berbicara, menyelisihi janji dan berkhianat jika dipercaya seperti disebutkan dalam hadits masyhur, bersabda shallallahu alaihi wasallam, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, jika dipercaya maka berkhianat, (dia itu munafik) sekalipun shalat, berpuasa dan mengaku muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk nifak asghar juga adalah enggan berjihad. Enggan berjihad adalah salah satu sifat munafik berdasarkan sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum berperang atau meniatkan dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Allah telah menurunkan surat Bara’ah yang juga dinamakan al-Fadhihah lantaran membongkar orang-orang munafik, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Ia (surat at-Taubah) adalah al-Fadhihah (pembongkar), terus menerus turun “Dan diantara mereka” sampai mereka mengira tidak ada seorangpun yang tidak disebutkan.” Dari al-Miqdad bin al-Aswad berkata, “Ia adalah surat al-Bahuts karena menyingkap lubuk hati terdalam orang-orang munafik.” Qotadah berkata, “Ia adalah al-Mutsirah karena mempermalukan orang-orang munafik”.

Surat ini turun ketika ghazwah terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Ghazwah Tabuk. Pada ghazwah ini Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan membongkar kondisi orang-orang munafik. Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dan pengecut. Yang dimaksud pengecut adalah meninggalkan jihad.

Adapun kikir, yaitu enggan berinfak fi sabilillah. Allah berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180), dan berfirman, “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal: 16).

Allah juga menyifati mereka dengan sifat pengecut dan panik, firman-Nya azza wa jalla, “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan”, yaitu seperti benteng atau kastil, “atau gua-gua”, untuk bersembunyi dengan cepat seperti air yang mengalir, “atau lobang-lobang (dalam tanah)”, yaitu tempat-tempat yang susah payah dibangun atau susah dimasuki (seperti bunker – pent), “niscaya mereka pergi kepadanya” dan kabur dari jihad “dengan secepat-cepatnya.” (QS. at-Taubah: 56-57). Yaitu pergi secepat-cepatnya tanpa bisa dicegah lagi seperti kuda liar yang jika dihardik maka tali kekangnya tidak akan bisa mencegahnya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15). Maka Dia membatasi orang-orang beriman pada yang beriman dan berjihad.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. at-Taubah: 4445). Maka ini merupakan kabar dari Allah bahwa seorang mukmin tidak akan meminta ijin untuk meninggalkan jihad, hanyasanya yang meminta ijin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, maka bagaimana halnya dengan yang meninggalkan jihad tanpa ijin?

Firman-Nya tentang sifat kikir mereka, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. at-Taubah: 54). Jika dalam ayat ini Allah azza wa jalla mencela orang-orang yang berinfak dengan rasa enggan, maka bagaimana halnya dengan yang sama sekali tidak mau berinfak?

Telah dikabarkan bahwa ketika orang-orang munafik mendekati Madinah (setelah selesai dari ghazwah –pent), terkadang mereka berkata-kata kepada orang-orang mukmin, “Inilah kesialan yang menimpa kita lantaran kalian, kalianlah yang menyeru manusia kepada Din ini, kalianlah yang memerangi dan menyelisihi mereka.” Terkadang mereka mengecam, “Kalianlah yang memerintahkan kita untuk berdiam di sini, jika kita pergi tentu tidak akan tertimpa yang sepert ini! Terkadang juga mereka menyindir, “Kalian itu sudah sedikit dan lemah namun tetap nekat hendak mengalahkan musuh, sungguh agama kalian telah menipu kalian! Juga kecamannya, “Kalian orang-orang gila, tidak berakal, kalian hendak membinasakan diri kalian dan menyeret manusia dalam kebinasaan!

Mereka juga sering menyemburkan kata-kata yang menyakitkan lainnya. Maka Allah berfirman tentang mereka, “Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 20).

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menyifati mereka dengan tiga sifat;

Pertama: bahwa mereka –lantaran ketakutannya– mengira golongan-golongan sekutu itu tidak akan pergi. Seperti inilah kondisi para pengecut yang hatinya sakit. Ia akan segera memakan mentah-mentah kabar yang menakutkan dan sebaliknya mendustakan kabar baik.

Kedua; jika pasukan sekutu datang mereka berangan-angan bisa kabur jauh ke pedalaman di antara orang-orang badui dan menanyakan kabar kalian, “Bagaimana kabar Madinah? Bagaimana kondisi manusia?

Ketiga; jika pasukan sekutu telah datang sedangkan mereka ada di antara kalian maka mereka tidak akan bertempur kecuali sedikit. Ketiga sifat ini ternyata banyak didapati pada diri banyak manusia.

An-Naba Edisi 50

DIANTARA CIRI DAN TANDA ULAMA SUU

DIANTARA CIRI DAN TANDA ULAMA SUU

Dalam artikel terdahulu yang berjudul “Ulama Sesat Dilaknat dan Dimurkai” kami telah menjelaskan definisi ahli ilmu yang benar. Kami juga telah menjelaskan beberapa karakteristik penting sehingga mereka bisa dianggap sebagai pemuka Dien. Berdasarkan kaca mata Syariat sudah gamblang bahwa para ulama Durjana dan sesat sama sekali tidak termasuk golongan ulama betapapun banyaknya hafalan dan karyanya, dan betapapun populernya mereka. Mereka lebih menyerupai Yahudi yang mengetahui namun menyembunyikannya dan tidak mengamalkan justru menyeru kepada kesesetan. Lantaran banyaknya ulama Durjana dewasa ini yang berusaha menyesatkan hamba-hamba Allah maka sudah seharusnya dijelaskan sifat-sifat mereka sehingga manusia tidak ragu lagi.

Pertama: Menyembunyikan Kebenaran

Diantara maksud ilmu adalah untuk disebarkan dan diajarkan karena hidayah dan maslahat manusia bergantung padanya, sehingga menyembunyikan ilmu merupakan perbuatan yang diharamkan dan dosa besar yang paling berat. Oleh karena itu, Allah mengambil janji setiap orang yang diberi anugerah ilmu agar menjelaskannya dan tidak menyembunyikan apa yang dibutuhkan manusia.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka amat buruklah jual-beli yang mereka lakukan.” (QS. Ali Imran: 187).

Karena itulah ulama Durjana itu seorang pengkhianat Dien Allah. Dia mengkufuri nikmat ilmu, dan menyebabkan kesesataan manusia. Oleh karena itu, Allah melaknatnya dan menimpakan laknat manusia terhadapnya karena telah menipu makhluk dengan menyembunyikan kebenaran.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)

Perkara terbesar yang disembunyikan oleh para ulama Durjana adalah keterangan mengenai kondisi para thaghut dan hukum Allah terhadap mereka. Allah telah memerintahkan kita untuk menjauhi dan mengkufuri thaghut. Dia jadikan hal ini sebagai pokok tauhid dan iman. Namun tatkala manusia melihat ulama terkemukanya menjilat para penguasa thaghut, mendiamkan kesyirikan dan kerusakannya, bahkan membolehkan syirik dengan dalih maslahat, jadilah banyak dari mereka beriman kepada thaghut, bersikap loyal, mengadopsi agamanya, bahkan menjadi bala tentaranya.

Penyebab semua fenomena ini adalah karena para ulama Durjana menyembunyikan kebenaran dan mencampurnya dengan kebathilan. Bagi yang mengamati Jazirah Arab misalnya, akan mendapati bahwa Alu Salul tidaklah berani menampakkan kekufuran dan kerusakanya, sehingga sebagian orang ikut-ikutan murtad, kecuali disebabkan oleh Hai’ah Kibarul Ulama’ (Lembaga Ulama Senior) seperti Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Shalih al-Fauzan, Alu asy-Syaikh (keluarga asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) kontemporer, dan semisal mereka; lantaran mereka menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskan hakikat Alu Salul kepada masyarakat, bahkan menambah rancu dengan menyebut Alu Salul adalah ulil amri dan mengklaim bahwa mereka adalah para pemimpin syar’i! Mereka menyembunyikan hukum mengenai keputusan-keputusan legislatif thaghut, hukum mengenai pendirian pangkalan-pangkalan militer Salibis, dan hukum menghalalkan riba. Sehingga banyak orang tertipu, tersesat, dan bahkan murtad. Mereka akan mendapatkan bagian dari dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dosa itu.

Kondisi yang sama terjadi di Mesir. Masyayikh al-Azhar dan klaimer salafi lah yang menyebabkan manusia tersesat dan mengikuti Husni Mubarak lalu kemudian as-Sisi. Demikian juga yang menyebabkan orang-orang ikut serta dalam syirik parlemen dan pemilu adalah para thaghut Ikhwanul Murtaddin dan Partai azh-Zhalam (Partai an-Nur, edt). Gambaran seperti ini akan kita temukan di negeri-negeri lainnya.

Kedua: Mengganti dan Menyelewengkan Syariat

Ciri ulama Durjana lainnya adalah mengganti dan menyelewengkan syariat – jika mereka tidak bisa menyembunyikannya – melalui takwil-takwil rusak terhadap nash-nash syar’i sehingga mengubah maknanya yang benar, sebagaimana firman Allah azza wa jalla tentang orang-orang Yahudi, “Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. an-Nisa: 46).

Kemudian penyelewengan dan takwil yang bathil itu disandarkan kepada Allah ta'ala. Mereka mengubah makna nash yang sebenarnya dan mengelabuhi manusia bahwa inilah maksud dari Kitab Allah. Dengan begitu mereka menampik makna yang benar dan menetapkan makna yang bathil. Pendahulu mereka dalam hal itu adalah orang-orang Yahudi yang selalu menyandarkan tindakan mempermainkan nash-nash itu kepada Allah azza wa jalla.

Sebagaimana firman Allah ta'ala, “Sesungguhnya di antara mereka benar-benar ada segolongan yang memutar lidah mereka dalam membaca al-Kitab, agar kalian menyangka itu sebagian dari al-Kitab, padahal itu bukan dari al-Kitab. Mereka berkata, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan kedustaan atas nama Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 78).

Nash-nash syar’i yang memerintahkan jihad misalnya. Para ulama Durjana berusaha menyelewengkan maknanya yang berarti perang menjadi makna-makna lain, agar orang-orang tidak memerangi orang-orang kafir dan murtad. Lebih jauh lagi, mereka mengarang makna-makna jihad lain yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya, bahkan makna-makna tersebut bertentangan dengan hakikat jihad. Misalnya klaim mereka bahwa jihad adalah bergabung dengan pasukan thaghut, atau ikut serta dalam proyek demokrasi syirik untuk menyaingi kaum sekuler menandingi Allah menciptakan undang-undang, dan perbuatan murtad lain yang dikait-kaitkan oleh orang-orang terlaknat itu dengan jihad.

Begitu pula nash-nash syar’i yang memerintahkan untuk berterus terang dengan kebenaran. Para ulama Durjana sengaja meniadakan dan tidak mengamalkannya, seraya mengklaim bahwa itu adalah perintah Allah sesuai firman-Nya azza wa jalla, “Dan janganlah kalian melemparkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195).

Padahal, yang dimaksud dengan kebinasaan di sini adalah meninggalkan jihad. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu anhu ketika dia berkata, “Yang dimaksud melemparkan diri kita ke dalam kebinasaan ialah bahwa kita sibuk memperbaiki kondisi perekonomian kita dan meninggalkan jihad.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Maka alangkah buruknya para ulama Durjana dan alangkah buruknya pembodohan yang mereka lakukan!

Ketiga: Menghalangi dari Jalan Allah

Sesungguhnya ulama Durjana, dengan jalan kesesatan dan kerusakan yang ditempuhnya, berhasrat kuat untuk menyeret manusia menempuh jalannya dan menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Sebab dia khawatir tingkah lakunya akan membongkar kedustaannya jika dia memperlihatkan ayat- ayat syariat tanpa menutupi dan mengaburkannya. Dia pun sengaja melakukan perubahan dan memelintir nash-nash agar sesuai dengan kondisi dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, engkau dapati mereka menghalangi para pemuda untuk berjihad disebabkan condong kepada dunia dan terkena fitnah qu’ud (meninggalkan jihad). Dikarenakan takut berterus terang dengan kebenaran jadilah mereka campuradukkan kebenaran dengan kebathilan, menjadikannya sebagai landasan dakwah, dan memperlihatkannya seolah-olah suatu kebijaksanaan dan kecerdasan.

Dia tidak memperlihatkan kebenaran, tidak pula sekedar menyembunyikannya, tapi justru mencampuradukkan, mengaburkan, menyamarkan, dan menutupi cacatnya. Mereka berbicara atas nama Allah tanpa ilmu untuk menghalangi dari jalan Allah, seperti yang dilakukan oleh para rahib dan pendeta dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) itu benar-benar memakan harta manusia dengan bathil dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih.” (Qs. at-Taubah: 34)

Keempat: Sangat Rakus Kepada Dunia

Tidak ada yang mendorong para ulama suu untuk menyembunyikan dan mengaburkan kebenaran selain kecintaan dan kerakusan kepada dunia. Tidak ada seorang pun yang mengharuskan atau memaksa mereka untuk berbuat nifak, berdusta atas nama Allah, dan kufur. Namun keinginan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji dari para thaghut itulah faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan hal tersebut. Motivasi sebagian dari mereka adalah hasrat untuk mendapatkan kedudukan dan kedekatan dengan para penguasa thaghut. Sebagian yang lain tergiur lantaran muncul di layar-layar (televisi) dan mendapatkan banyak pemberian. Maka berat bagi mereka jika harus kehilangan ketenaran dan sorotan kamera karena (mengatakan) kalimat haq. Mereka pun lebih memilih untuk menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah —yang tidak ingin ditampakkan kepada manusia oleh para thaghut— dan menjualnya dengan harga murah.

Allah azza wa jalla telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidaklah memakan dalam perut mereka kecuali api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. al-Baqarah: 174), dan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran: 187)

Ibnul Qayim berkata: “Setiap orang diantara para ahli ilmu yang lebih mengutamakan dunia dan mencintainya, maka pasti dia akan mengatakan selain kebenaran atas nama Allah.” (al-Fawaaid)

Kelima: Terpengaruh dengan gembosan dan ancaman serta melenceng dari kebenaran lantaran hal tersebut

Ini juga merupakan salah satu sifat para ulama Durjana; berpaling dari kebenaran setelah meyakininya, dan menampakkan kebathilan karena tunduk dan patuh kepada hawa nafsu para thaghut, agar dunia mereka selamat. Alangkah besarnya kejahatan ini! Alangkah kejamnya pengkhianatan ini!

Sebagaimana dalam kisah Bal’am bin Ba’uro`. Dia berasal dari kota Jabarin. Seandainya semua ulama suu pada zaman kita berkumpul, niscaya ilmu mereka tidak akan sampai sepersepuluh dari ilmu Bal’am. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Dia mengetahui nama Allah yang paling besar” (Tafsir Ibni Abi Hatim) Ini menunjukkan tingginya kedudukan keilmuannya. Sebagian salaf berkata, “Dia adalah orang yang doanya mustajab, dan selalu yang terdepan dalam menyelesaikan keadaan-keadaan genting, dan dia merupakan Ulama bani Israil.” Meskipun demikian, ketika dia menyimpang dari manhaj dan melenceng dari kebenaran yang terang, dia diserupakan dengan anjing!

Yang demikian itu ketika singgah di kota Jabarin, Bal’am didatangi oleh sepupu-sepupunya dan kaumnya. Mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah orang baru dan dia memiliki tentara yang banyak. Jika dia berhasil mengalahkan kita maka kita akan binasa. Berdoalah kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya dari kita.” Bal’am berkata, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya, maka dunia dan akhiratku akan hilang.” Mereka pun terus merayunya, sampai akhirnya dia mendoakan keburukan atas Musa dan para pengikutnya. Maka Allah melepas apa yang sebelumnya ada padanya. (Diriwayatkan oleh Ibni Abi Hatim dari Ibnu Abbas)

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithon, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang Durjana. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia menempel ke tanah (cenderung kepada dunia) dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 175-176)

Malik bin Dinar berkata, “Musa alaihis salam mengutusnya menemui raja Madyan untuk menyerunya kepada Allah. Namun sang raja terus menerus menggelontorkan pemberian sampai Bal’am mengikuti agamanya dan meninggalkan agama Musa, maka turunlah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim).

Bal’am “Cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya”, condong kepada dunia dan kenikmatan-kenikmatannya, berpaling dari ayat-ayat Allah, sampai dikuasai hawa nafsunya bak anjing yang terus-menerus menjulurkan lidah.

Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, dia berkata, “Ini adalah perumpamaan orang yang membaca al-Kitab dan tidak mengamalkan isinya.” (Tafsir ath-Thabariy). al-Qurthubiy berkata, “Perumpamaan ini, menurut pendapat banyak dari ahli ilmu tafsir, mencakup setiap orang yang diberi ilmu al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya.” (Tafsir al-Qurthubiy). Alangkah banyaknya mereka di zaman kita.

Penutup

Inilah beberapa sifat ulama suu yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla untuk membongkar kedok mereka dan mewanti-wanti hamba-hamba-Nya agar menjauhi, tidak mendengarkan maupun mengambil ilmu dari mereka. Kita menemukan bahwa Allah azza wa jalla menyebutkan sifat mereka namun tidak menyebut mereka ulama. Meskipun mereka mengetahui hukum-hukum Allah, tetapi ketika mereka kehilangan rasa takut kepada Allah dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, ilmu mereka tidak bermanfaat, bahkan menjadi penyebab mereka dilaknat di dunia dan akhirat, disifati dengan sifat-sifat yang paling buruk, dan dijebloskan ke dalam neraka Jahannam.

Bahkan Allah menjadikan sikap menaati dan mengikuti para rabi dan para rahib —mereka adalah salaf (pendahulu) para ulama Durjana yang menyimpang dari agama Allah— dalam kekafiran, sebagai syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31).

Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan kafir dengan alasan taklid kepada ulama thaghut. Wajib bagi setiap orang untuk bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan mengamalkannya. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

An-Naba Edisi 48

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 2)

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 2)

Doa adalah senjata bagi orang beriman dan merupakan salah satu macam dari berbagai macam jihad secara lisan di jalan Alloh, juga menjadi ditekankan bagi orang-orang yang lemah dari kalangan muslimin dan bagi yang belum Alloh mudahkan untuk langsung berperang dengan jiwa dan harta. Sungguh doa itu telah menajdi sebab pertolongan bagi Tholut dan para prajuritnya yang bertauhid, atas Jalut dan tentara kafirnya sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqoroh. Doa bagi Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam juga hal yang paling pertama beliau lakukan ketika musuh mendadak menyerang muslimin, mengepung mereka atau ketika barisan mereka berhadapan dengan musyrikin.

Dan begitu pula yang dilakukan para shohabat rodhiyallohu ’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka, mereka tidak berlindung pada setiap peperangan-peperangan mereka kecuali kepada Robb mereka, bertawakkal kepada-Nya, bersimpuh di antara kedua tangan-Nya, mereka merendahkan diri kepada-Nya, dan mereka berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka kepada daya dan kekuatan-Nya yang Maha Suci. Maka Alloh pun segera meneguhkan mereka, menurunkan ketenangan atas mereka, melemahkan musuh mereka, melemparkan rasa takut ke dalam hati musuh mereka dan membuat musuh mereka berpaling ke belakang dalam keadaan terkalahkan.

Inilah shohabat yang mulia, Nu’man bin Muqrin, yang diutus oleh kholifah ‘Umar bin Khottob rodhiyallahu ’anhuma sebagai pemimpin pasukan untuk memerangi Persia, keluar dengan membawa seratus lima puluh ribu tentara untuk menaklukkan negara kaum muslimin pada tahun 21 H. Maka bertemulah dua kelompok tersebut di daerah Nahawand di negeri Persia, dan Nu’man menunggu untuk memulai peperangan sampai mencapai waktu yang disukai di mana Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam pernah menyerang musuh pada waktu tersebut. Yaitu ketika matahari mulai condong ke barat.

Maka ketika mulai mendekati waktu tersebut, dia mengendarai kudanya dan berjalan di antara manusia dan berhenti pada setiap bendera, mengingatkan mereka, membakar semangat mereka dan menjanjikan kemenangan bagi mereka dan dia berkata kepada mereka, “sesungguhnya aku akan bertakbir tiga kali, maka jika aku telah bertakbir yang ketiga, sungguh aku akan menyerang dan seranglah.”

Kemudian dia berdoa secara keras : “Yaa Alloh, muliakanlah diin-Mu, tolonglah hamba-hamba-Mu, dan jadikanlah Nu’man orang yang syahid pertama kali pada hari ini. Yaa Alloh sesungguhnya aku memohon kepadamu agar menyejukkan mataku dengan kemenangan yang menjadikan islam mulia dan cabutlah (nyawa)ku sebagai orang yang syahid”. Maka semua manusia menangis dan mengaminkan doanya.

Lalu apa yang terjadi?! Maka setelah mereka saling berperang dengan peperangan yang dahsyat, Persia terpukul mundur dan di antara mereka banyak yang terbunuh diantara waktu matahari condong hingga gelap, bumi peperangan dipenuhi dengan darah yang menenggelamkan manusia dan hewan melata. Maka ketika Alloh sudah menyejukkan mata Nu’man dengan penaklukan dan dia melihat kehancuran kaum musyrikin, Alloh memilihnya sebagai syahid pada akhir peperangan sebagai bentuk terkabulnya doa beliau. (al-Kaamil Fit Taarikh li Ibnil Atsiir).

Kalau saja kita menapak-tilasi para generasi as-salafus sholih dalam hal mengutamakan senjata doa pada setiap peperangan mereka, dan bagaimana doa tersebut memberikan dampak yang nyata dalam hal tertolongnya mereka, maka tentu saja kita akan mendapatkan keadaan yang serupa. Maka di antaranya ada seorang pemimpin penakluk besar yaitu Qutaibah bin Muslim al-Bahili rohimahulloh.

Di dalam setiap penaklukannya beliau didampingi oleh para ‘ulama, fuqoha’ dan para ahli ibadah, beliau memohon pertolongan dengan doa mereka. Maka di akhir periode awal hijriyah dan di salah satu peperangannya, Qutaibah berhadapan dengan Turk, hingga urusan mereka, jumlah mereka dan perlengkapan mereka membuat beliau resah. Beliaupun segera mencari dan bertanya tentang seorang
tabi’in al-Imam Muhammad bin Wasi’ rohimahulloh, lalu dikatakan padanya, “beliau berada di sebelah kanan pasukan bersandar pada busur mengangkat jari telunjuknya memohon kepada Robbnya kemenangan menghadapi musuh.” Maka Qutaibah mengucapkan perkataan yang masyhur, “jari telunjuk tersebut lebih aku sukai dari seratus pedang yang terkenal dan para pemuda dewasa.” (Siyar A’lam an-Nubalaa’).

Dia tidak akan mengatakan yang demikian dan merasa gembira dengan kemenangan, melainkan karena ilmunya tentang keutamaan dan pentingnya senjata doa. Ternyata ketika berhadapan dengan tentara Turk yang musyrik dan memerangi mereka, Alloh memberikan penaklukan padanya dan menghancurkan mereka, mengambil alih banyak negeri dari mereka, banyak yang terbunuh dari mereka dan lainnya tertawan, serta mendapatkan harta rampasan yang banyak.” (al-Bidayah wan Nihayah).

Marilah kita merenungi penakluk yang kedua, beliau adalah gubernur Khurosan al-Qoid Asad bin ‘Abdulloh al-Qusari rohimahulloh. Di salah satu pertempuran dahsyat melawan Turk pada tahun 199 H, dia sholat bersama dengan tentara muslimin pada waktu subuh kemudian berkhotbah dengan lantang, ”Sesungguhnya musuh Alloh al-Harits bin Sarij –orang ini adalah yang keluar dari ketaatan pada Bani Umayyah pada zaman Hisyam bin ‘Abdul Malik menggunakan kedurhakaannya –bergabung dengan Khoqon (Raja) Turk- untuk memadamkan cahaya Alloh dan mengganti diin-Nya, namun Alloh menghinakannya insyaa Alloh. Sesungguhnya musuh kalian adalah anjing yang menimpakan kepada sebagian dari saudara kalian dengan apa yang telah mereka timpakan. Jika Alloh menghendaki pertolongan pada kalian maka tidak akan membahayakan kalian sedikitnya jumlah kalian dan banyaknya jumlah mereka. Maka mintalah pertolongan pada Alloh.” Kemudian dia berkata, “sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa seorang hamba menjadi sangat dekat kepada Alloh jika dia meletakkan dahinya untuk Alloh, dan aku akan turun meletakkan dahiku, maka berdoalah kalian kepada Alloh, sujudlah kalian kepada Robb kalian dan jadikanlah doa itu hanya kepada-Nya”.

Maka mereka melakukannya dan mereka mengangkat kepala mereka dan mereka tidak ragu akan mendapatkan penaklukkan, dan mereka telah mulai berjalan untuk memerangi Turk musyrik. Maka ketika sampai bakhl –salah satu kota di Khurosan- dia sholat bersama manusia sebanyak dua rakaat yang dipanjangkan keduanya, kemudian dia memanggil manusia agar mereka berdoa kepada Alloh, dan memanjangkan doanya dan berdoa agar diberikan pertolongan dan diaminkan oleh para manusia atas doanya. Maka dia berkata: “Kalian sudah ditolong Demi Robb Ka’bah insya Alloh” tiga kali.

Maka ketika mereka telah sampai kepada para musyrikin dan orang-orang murtad, al-Harits pun kalah, Khoqon berbalik lari dan seluruh Turk bersembunyi ke dalam bumi tanpa menoleh kepada siapapun lagi. Maka kaum muslimin mengejar mereka, membunuh siapa saja dari mereka yang mampu untuk dibunuh hingga mereka berhenti pada kambing-kambing mereka. Lalu mereka memberi minum lebih dari seratus lima puluh lima ribu anak unta. (Tarikh Ath-Thobari).

Itu adalah cuplikan dari banyak atsar para pendahulu kita yang membawa inspirasi tentang doa sebagai salah satu sebab terpenting datangnya pertolongan dalam menghadapi musuh, ketika terpenuhi syarat-syarat terkabulnya doa dan tiada lagi penghalang-penghalangnya.

Dan salah satu syarat paling penting agar doa diijabahi adalah; (1) memurnikan doa hanya kepada Alloh yang Maha tunggal saja. Di antaranya; (2) mengikuti rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam dalam cara berdoa dan bagaimananya dan menjauhi bid’ah dan hal-hal yang diada-adakan dalam berdoa. Di antaranya; (3) kesungguhan dan tekad, telah bersabda shollallohu’alayhi wasallam, “jika seorang dari kalian berdoa maka dia harus bersungguh-sungguh dalam memohon dan jangan berkata, ‘Yaa Alloh jika Engkau menghendaki maka kabulkanlah’.” (Muttafaq ‘alayhi).

Di antaranya; (4) percaya doanya akan dikabulkan oleh Alloh. Telah bersabda shollallohu ’alayhi wasallam, “maka jika kalian telah meminta pada Alloh maka mintalah kalian pada-Nya dan kalian termasuk orang-orang yang yakin akan dikabulkan, karena sesungguhnya Alloh tidak mengabulkan doa hambaNya yang keluar dari hati yang lalai.” (Riwayat Ahmad)

Di antaranya; (5) menginginkan apa yang ada di sisi Alloh berupa pahala, mencemaskan apa yang ada di sisi-Nya berupa hukuman, dan hadirnya hati juga kekhusyu’an, Alloh berfirman, “sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dalam keadaan harap dan cemas, serta menjadi orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (al-Anbiya : 90).

Doa juga memiliki adab-adab dan hal-hal yang disunnahkan (mustahab), yang membuat doa lebih dekat untuk dikabulkan, di antaranya;
(1) hendaknya orang yang berdoa dalam keadaan suci, menghadap qiblat dan mengangkat tangannya. Di antaranya;
(2) agar orang yang berdoa memuji Alloh ‘azza wa jalla dengan pujian yang layak untuk-Nya, dan bersholawat atas Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam sebelum berdoa. Di antaranya;
(3) hendaknya mendahului doanya dengan amal sholih sebelum berdoa. Di antanya :
(4) merintih pada Alloh dalam meminta, mengulanginya sebanyak tiga kali atau lebih, dan menangis. Di antaranya;
(5) melirihkan suara ketika berdoa jika orang yang berdoa dalam keadaan sendirian, adapun bagi seorang imam maka diharuskan untuk mengeraskan suaranya sehingga manusia mengamini doanya. Di antaranya;
(6) berdoa pada tempat-tempat dikabulkannya doa, seperti pada waktu sepertiga malam, setelah sholat wajib, di antara adzan dan iqomat, ketika turun hujan, ketika barisan mulai bergerak pada waktu jihad di jalan Alloh, ketika kedua pasukan bentrok, pada waktu akhir hari jumat, dalam sujud, dan ketika mendengar kokok ayam jantan, dan ketika berbuka berpuasa, dan ketika melakukan safar.

Dan hal ini, orang yang berdoa harus menghindari penghalang terkabulnya doa, diantaranya;
(1) berdoa kepada selain Alloh, meminta syafa’at kepada orang-orang yang sudah mati dan makhluq ghoib, hal tersebut adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari millah. Di antaranya;
(2) bertawasul kepada Alloh dengan doa-doa yang bid’ah, seperti berdoa kepada Alloh dengan perantara keutamaan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam seperti, “Ya Alloh aku memohon kepadaMu dengan keutamaan Nabi-Mu.” Di antaranya;
(3) menjauhkan rohmah Alloh, seperti, “Ya Alloh rohmatilah fulan, ampunilah fulan, namun jangan Engkau rohmati dan ampuni fulan.” Di antaranya;
(4) berdoa untuk dosa dan memutus hubungan. Di antaranya :
(5) melakukan ma’shiyat dan secara khusus memakan makanan harom, seperti hasil curian, riba, khomr dan rokok. Sungguh telah disebutkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam, “seorang melakukan safar yang panjang sehingga menjadi kusut dan berdebu, dia mengangkat tangannya ke langit, “yaa Robb yaa Robb” dan tempat makannya harom, dan tempat minumnya harom, dan bajunya harom, dan memulai perjalanan dengan hal yang harom, maka bagaimana mungkin dikabulkan karena hal itu?” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Dan juga diantaranya; (6) meninggalkan memerintahkan kepada hal yang ma’ruf (al-amr bil ma’ruf) dan melarang dari hal yang munkar (an-nahi ‘anil munkar), Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Demi jiwaku yang berada ditanganNya, kalian harus benar-benar menyuruh kepada hal yang ma’ruf dan kalian harus benar-benar melarang dari hal yang munkar, atau Alloh akan mengirim kepada kalian hukuman kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun tidak dikabulkan doa kalian.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Hendaknya orang yang berdoa untuk menjauhi hal-hal makruh dalam berdoa, seperti; (1) berdoa dengan suara yang sangat keras, dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, “dan janganlah kamu mengeraskan sholatmu (doamu) dan jangan pula kamu memelankannya) telah diturunkan ayat ini dalam hal doa.” (Muttafaq ‘alayhi).

Di antaranya; (2) memberatkan diri dan membuat-buat kalimat bersajak yang berisi kesombongan atau kalimat yang tidak dipahami secara umum. Meskipun kefasihan dalam doa adalah terpuji agar maknanya tidak rancu, akan tetapi keluar dari kebiasaan dalam hal tersebut adalah perbuatan yang tercela, karena menghilangkan kekhusyu’an dan melalaikan hati.

Di antaranya: (3) orang yang berdoa meminta yang tidak layak dalam permintaanya, seperti meminta pada Alloh untuk mengekalkannya didunia, atau meminta pada Alloh agar menjadikan kedudukannya seperti kedudukan para Nabi.

Maka dari itu, wahai tentara Daulah Islamiyah, wahai para pemimpinnya, wahai para rakyatnya dan wahai para pendukungnya, berdoalah kalian semua kepada Alloh agar Dia menolong Khilafah kalian, dan agar DIa menghancurkan Jalut modern yaitu Amerika, dan bala tentaranya. Karena Alloh akan mengabulkan doa kalian walau di kemudian hari.

An-Naba’ Edisi 47

SIKAP KERAS DAN TEGAS KEPADA ORANG-ORANG KAFIR DALAM SEJARAH NABI DAN KHULAFA'UR RASYIDIN

SIKAP KERAS DAN TEGAS KEPADA ORANG-ORANG KAFIR DALAM SEJARAH NABI DAN KHULAFA'UR RASYIDIN

Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rahmat semesta alam. Dengan berani beliau menyeru mereka ke jalan kebenaran dan petunjuk. Siapa yang menerima, niscaya dia akan memperoleh rahmat ini. Sedangkan siapa yang menolak dan membangkang kepadanya, niscaya akan beliau perangi dan beliau perlakukan dengan keras dan tegas hingga mau tunduk kepada perintah Allah azza wa jalla. Perjalanan hidup beliau adalah saksi dan bukti terbaik akan hal itu.

Sekembalinya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dari Perang Badar, beliau memerintahkan agar tawanan bernama Uqbah bin Abi Mu’aith dieksekusi mati, karena Uqbah adalah orang yang paling keras gangguannya kepada Islam dan kaum muslimin. Berkata adz-Dzahabi dalam as-Sirah: “Uqbah bin Abi Mu’aith dieksekusi mati di ‘Irqu azh-Zhubyah (nama tempat -pent). Ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membunuhnya ia bertanya: “Siapa yang akan mengurus anak-anakku hai Muhammad?" Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyergah: “Neraka” (Sebagian Ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah bagimu neraka dan biarkan Allah yang akan menanggung anak-anakmu). Lalu ia dibunuh oleh ‘Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqla radhiyallahu anhu, ada juga yang mengatakan oleh Ali radhiyallahu anhu radhiyallahu anhu”.

Dalam Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga memerintahkan untuk mengeksekusi mati tawanan bernama Abu ‘Izzah al-Jumahi, yang memiliki beberapa putri. Ibnu Katsir bercerita: “Tidak ada yang ditawan dari kalangan musyrikin selain Abu ‘Izzah al-Jumahi. Sebelumnya dia juga pernah ditawan waktu Perang Badar. Ketika itu dia dibebaskan tanpa tebusan tapi dengan syarat tidak akan memerangi beliau lagi. Maka, ketika kembali ditawan di Perang Uhud, dia berkata, ‘Hai Muhammad, bebaskanlah aku demi putri-putriku, aku berjanji tidak akan memerangimu lagi’. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun menjawab: “Aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkan kedua buah hatimu di Makkah itu dan engkau berkata aku berhasil menipu Muhammad dua kali”. Kemudian Beliau memerintahkan untuk dipenggal lehernya. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ketika itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin tidak akan terperosok ke lubang yang sama sebanyak dua kali”.

Kedua tawanan ini, kondisinya tidak dalam posisi bisa dibebaskan, ditebus, atau dikasihani. Karena jika sampai terjadi, niscaya akan berpengaruh pada wibawa Rasul Rabb semesta alam, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh beliau ketika mengeksekusi Abu ‘Izzah.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah membiarkan orang yang telah mengganggu Islam dan umat Islam dalam kondisi aman, meskipun gangguannya cuma dengan ucapan dan tahridh (provokasi), sebagaimana yang terjadi pada si Yahudi Ka’ab bin alAsyraf.

Ibnu Ishaq berkata: “Ka’ab mulai memprovokasi untuk menyerang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seraya melantunkan syair-syair. Dia menangisi pembesar-pembesar Quraisy yang dilempar jasadnya ke sumur sewaktu Perang Badar. Kemudian Ka’ab bin al-Asyraf pulang ke Madinah. Dia mulai mengganggu Ummu Fadhal binti Harits, kemudian para muslimah yang lain”.

Sehingga keluarlah perintah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk memenggal kepala si thaghut ini, beliau bertanya kepada para sahabat siapa yang mampu melaksanakan operasi ini.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Siapakah yang bisa membungkam Ka’ab bin al-Asyraf? Sungguh, dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya’. Muhammad bin Maslamahpun bangkit seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah anda ingin saya membunuhnya? Beliau menjawab: ‘Ya’, hingga akhir hadits. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah Perang Ahzab, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertolak menuju Bani Quraizhah guna mengepung mereka akibat pelanggaran mereka terhadap isi perjanjian. Hukum Allah atas mereka yaitu semua lelaki mereka dibunuh, sedangkan para wanita dan anakanak mereka ditawan.

Dari Aisyah berkata: “Sa’ad (Sa’ad bin Mu’adz –pent) terluka di tengkuknya sewaktu perang Khandaq akibat terkena panah yang dilepaskan oleh seorang lelaki Quraisy bernama Ibnul ‘Irqoh. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membuatkannya sebuah tenda di masjid agar beliau bisa selalu menjenguknya. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pulang dari Perang Khandaq beliau meletakkan senjata dan bergegas mandi. Jibril alaihissalam pun menemui beliau sambil membersihkan debu dari kepalanya, lalu berkata, ‘Engkau meletakkan senjata? Padahal demi Allah kami belum meletakkannya, keluarlah kepada mereka’. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya, “Kemana? Jibril alaihissalam menunjuk ke arah Bani Quraizhah. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerangi mereka hingga mereka menyerah kepada keputusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tetapi justru beliau menyerahkan keputusannya kepada Saad radhiyallahu anhu. Saad berkata: ‘Saya putuskan bahwa seluruh petempur mereka dibunuh, anak-anak dan wanitanya ditawan, dan harta mereka dibagi-bagi’. Urwah bin Zubair berkata: ‘Lalu aku diberi tahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh, engkau telah memutuskan sesuai dengan keputusan Allah ta'ala tentang mereka’. (HR. Muslim).

Demikianlah, sikap keras dan tegas pada para pengkhianat itu adalah obat mujarab dan pelajaran amat berharga bagi yang lainnya.

Sebelumnyapun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengusir Bani Nadhir dari tempat tinggal mereka dan merampas harta benda mereka setelah upaya mereka untuk membunuh beliau ketika sedang berada di tengah-tengah mereka dibongkar oleh Allah. Tidak lama setelah itu, beliau segera keluar untuk mengepung dan memerangi mereka, lalu Allah menolong beliau untuk mengalahkan mereka. Begitu juga beliau telah memerangi Bani Qoinuqo’ dan mengepung mereka. Demikian pula tindakan atas Yahudi Khaibar, beliau menyerang dan menaklukkan benteng-benteng mereka secara paksa (lihat: Sirah Ibnu Hisyam).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga tidak pernah diam saja sekalipun terhadap satu orang muslim yang dibunuh secara khianat dan zhalim, tidak seperti kelakuan para juru dakwah busuk itu yang menggembosi kaum muslim agar tidak mengambil hak mereka dari orang yang membunuh, menumpahkan darah, dan memperkosa kehormatan mereka.

Ibnu Katsir berkata: “al-Waqidi berkata, ‘Pada bulan Syawwal tahun 6 H, Sariyah Kurz bin Jabir al-Fihri berangkat mengejar orang-orang Urainah yang telah membunuh penggembala unta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan merampas untanya”.

Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa serombongan dari suku Ukal dan Urainah pergi ke Madinah untuk bertemu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan menyatakan keislamannya. Mereka berkata; “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami adalah orang-orang penggembala ternak bukan orang-orang yang bisa bercocok tanam”. Ternyata mereka tidak suka tinggal di Madinah karena suhunya (hingga menyebabkan sakit). Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk memberikan sejumlah unta dengan penggembalanya agar mereka dapat meminum susu dan berobat dengan air seni unta-unta itu. Mereka lalu pergi, dan sesampainya di luar Madinah mereka kembali kafir, membunuh pengembala Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan merampas unta-unta beliau. Ketika peristiwa ini sampai kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau langsung memerintahkan untuk memburu dan menangkap mereka. (Setelah berhasil ditangkap), beliau memerintahkan untuk men-tasmir mata mereka dengan besi panas, (attasmir artinya memanaskan batang besi lalu mendekatkannya ke mata tanpa menyentuhnya, hanya saja panasnya akan melelehkan mata) memotong tangan-tangan mereka, dan membiarkan mereka di bawah sengatan matahari sampai mati dalam kondisi seperti itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah hukuman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, meski beliau melarang untuk mencincang, tetapi hukum qishash telah tetap terkait mereka dan orang-orang semisal mereka. Beliau tidak membiarkan para pembunuh sang penggembala bebas berkeliaran, tetapi beliau segera mengirim sariyah untuk mengejar dan menangkap mereka, lalu menerapkan hukum qishosh kepada mereka.

Pada waktu Fathu Makkah (semoga Allah mengulangnya kembali), Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk membunuh beberapa orang meskipun mereka berlindung di balik tirai Ka’bah. Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa pada waktu penaklukan kota Makkah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memasuki kota Makkah sambil mengenakan penutup kepala diatas kepala beliau, ketika beliau membukannya, seorang laki-laki langsung menemuinya sambil berkata; ‘Wahai Rasulullah, ini Ibnu Khathal sedang bergelayutan di tirai Ka’bah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bunuhlah dia! (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallahu anhu berkata: “Pada waktu penaklukan kota Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjamin keamanan semua orang selain empat lelaki dan dua wanita, beliau bersabda: “Bunuhlah mereka meskipun sedang bergelayutan di tirai Ka’bah”. (HR. an-Nasa’i)

Yang demikian itu adalah karena gangguan mereka kepada Islam dan kaum muslimin. Ternyata tirai Ka’bah yang mulia tidak mampu melindungi mereka dari syariat Rabbul ‘alamin setelah kekafiran berat yang mereka lakukan dengan lisan dan tangan mereka.

Inilah bukti-bukti dari “sirah” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan masih banyak lagi, tanpa menafikan sifat lembut dan kasih sayang beliau, tetapi sebagaimana firman Allah ta'ala: (Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya mereka keras kepada orang-orang kafir dan saling berkasih sayang dengan sesama mereka). (QS. al-Fath: 29).

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pasti akan melaksanakan perintah Allah ta'ala yang telah berfirman kepadanya: (Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang terdekat dari kalian dan hendaklah mereka mendapatkan perlakuan kasar dari kalian dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang-orang yang bertaqwa). (QS. at-Taubah: 123)

Demikian juga, disamping beliau Shallallahu Alaihi Wasallam Nabiyur Rahmah (pembawa kasih sayang), beliau juga Nabiyul Malhamah (pengobar perang).

Adapun sikap melihat sisi terkait kelembutan dan kasih sayang beliau kepada para wali Allah, namun justru menerapkannya kepada musuhmusuh Allah, maka ini adalah manhaj para wali thaghut yang ingin supaya umat Islam mau bermudahanah (toleransi) dengan musuh-musuh mereka. Bahkan mereka ingin supaya umat Islam mentaati mereka jika ada jalan untuk itu. Namun jika seorang muslim bangkit untuk menyerang dan melukai musuh-musuh Allah, dan memperlakukan mereka seperti perlakuan mereka kepada umat Islam berupa pembunuhan dan pengusiran, niscaya para setan itu akan segera mengingkarinya dengan alasan perbuatan itu mencoreng nama baik Islam dan kaum muslimin. Islam apa yang mereka bicarakan dan agama apa yang mereka ikuti??

Sikap Keras Dan Tegas Kepada Orang-orang Kafir dalam Sejarah Khulafaur Rasyidin

Para sahabat radhiyallahu anhum adalah kaum yang paling lembut hatinya, paling ramah sikapnya, paling bagus pergaulan dan akhlaknya, dan paling bersemangat dalam menyebarkan Dien dan mengangkat bendera Islam. Mereka juga orang-orang yang paling bersemangat dalam berpegang teguh pada petunjuk nabawi dan ittiba’ sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam dalam semua perkara. Termasuk persoalan memperlakukan orang kafir dalam peperangan. Mereka adalah orang-orang yang keras terhadap orang kafir dan bersikap kasar terhadap mereka dengan menghunuskan pedang. Sehingga dengan itu mereka bisa meneguhkan pokok-pokok Din, menegakkan pondasi Islam, dan mengangkat bendera tauhid tinggi-tinggi.

Pemuka mereka dalam hal itu adalah ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, yang dengan keteguhannya Allah meneguhkan Islam ketika beliau berazam untuk memerangi seluruh orang-orang murtad yang enggan melaksanakan satu syariat saja dari syariat Islam yang nampak dan mutawatir (disepakati), yaitu kewajiban membayar zakat. Beliau tidak membedakan antara mereka dengan orang yang kembali pada penyembahan berhala maupun yang mengikuti para pendusta. Oleh karena itu, beliau membentuk batalyon-batalyon tempur dan mengutus berbagai detasemen, seperti batalyon yang diserahkannya kepada pedang Allah yang terhunus Khalid bin al-Walid radhiyallahu anhu.

Dalam serbuan pertamanya, Khalid berhasil mematahkan dan memporakporandakan kekuatan pasukan Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi dan sekutu-sekutunya dari kabilah Arab. Kemudian ash-Shiddiq menyuratinya dan menyuruhnya untuk menghabisi dan menuntaskan mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Abu Bakar ash-Shiddiq menyurati Khalid ketika sampai kabar keberhasilannya mematahkan kekuatan Thulaihah dan sekutu-sekutunya; ‘Hendaknya nikmat Allah ini semakin menambah kebaikanmu. Bertaqwalah kepada Allah, karena Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik. Bersungguh-sungguhlah dalam aksimu, tidak perlu berlembutlembut. Jangan biarkan seorang musyrik pun yang berhasil engkau tangkap sedang ia telah membunuh kaum muslimin kecuali engkau habisi, pun juga orang yang menentang Allah atau menganggap baik hal itu yang berhasil engkau tangkap kecuali engkau bunuh’. (al-Bidayah wa an-Nihayah).

Sang Pedang Allah yang terhunus itupun melaksanakan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya. Beliau segera mengejar sisa-sisa pasukan murtaddin yang terkalahkan itu dan mengqishash serta menghabisi mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Selama sebulan beliau terus memburu mereka dan membalaskan darah kaum muslimin yang dibantai ketika mereka murtad. Diantara mereka ada yang dibakar, ada yang dihantam dengan batu, dan ada yang dilempar dari tebing tinggi. Semua itu agar orang-orang murtad yang mendengar kabar mereka bisa mengambil pelajaran”.

Tindakan ini juga sebuah terror bagi sisa-sisa murtaddin yang mengikuti kabar-kabar ini, sehingga sebagian dari mereka segera bertaubat dan taat, sedang yang lainnya tetap ngotot bertempur.

Ketika utusan Bazakhah datang meminta perdamaian kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dan berjanji untuk kembali melaksanakan seluruh syariat Islam, beliau memberi mereka dua opsi yaitu perang yang membinasakan atau perdamaian yang menghinakan. Ibnu Katsir berkata: “Mereka berkata, ‘Wahai khalifah Rasulullah, kita mengerti apa itu perang yang membinasakan, lalu apa maksudnya perdamaian yang menghinakan? Jawabnya, ‘Peralatan tempur kalian diambil, dan kalian akan dibiarkan mengikuti ekor-ekor sapi sampai Allah memperlihatkan pada khalifah Nabinya dan orang-orang mukmin suatu perkara yang membuat kalian bisa dimaafkan. Kalian mengganti semua kerugian kami sedangkan kami tidak mengganti kerugian kalian. Kalian bersaksi bahwa prajurit kami yang terbunuh itu berada di surga sedangkan kalian yang terbunuh berada di neraka”. Diriwayatkan oleh Bukhari secara singkat.

Tindakan ash-Shiddiq radhiyallahu anhu ini merupakan penghinaan kepada orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya agar mereka sadar betapa buruk dan berbahanya aksinya itu. Dengan itu, beliau juga bermaksud mengamankan Daulah Islam dari ancaman mereka dengan melucuti senjata mereka setelah mereka bertaubat. Tindakan ini didasarkan pada kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Sekalipun pertempuran dengan murtaddin belumlah selesai, namun beliau tetap mendesakkan syarat ini untuk menunjukkan kemuliaan negaranya dan kaum muslimin dan menghinakan orang yang memusuhi atau memeranginya.

Beliau juga bertindak sama kerasnya terhadap seorang murtad yang menipu dan memerangi kaum muslimin, yaitu Fuja’ah as-Sulami, dengan membakarnya.

Ibnu Katsir berkata: “Adalah ash-Shiddiq pernah membakar Fuja’ah di Baqi’. Sebabnya adalah, sebelumnya ia mendatangi Abu Bakar dan mengklaim telah beriman, kemudian meminta beliau menyiapkan sebuah pasukan untuk memerangi orang-orang murtad. Setelah pasukan itu disiapkan dan diberangkatkan, ternyata ia malah membunuh dan merampas harta setiap muslim dan murtad yang dilewatinya. Ketika hal itu terdengar oleh ash-Shiddiq, beliau segera mengirim pasukan untuk mengejar dan menawannya. Setelah berhasil ditawan ia diseret ke Baqi’, tangannya lalu diikat ke tengkuknya, dan dibakar dalam keadaan terjepit”.

Adapun di Yamamah, pertempuran tersengit berlangsung melawan orangorang murtad pengikut Musailamah al-Kadzab. Para sahabat radhiyallahu anhum terpaksa bekerja keras sampai berhasil menguasai dan menangkapi mereka, lalu menghabisi mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Jumlah korban musuh yang terbunuh di Kebun Kematian dan pada pertempuran ini mencapai sepuluh ribu, atau dikatakan dua puluh satu ribu prajurit. Sedang kaum muslimin yang terbunuh mencapai tujuh ratus, atau dikatakan lima ratus prajurit”.

Ibnul Atsir berkata dalam al-Kamil: “Ketika itu surat Abu Bakar yang memerintahkan untuk membunuh setiap orang dewasa baru sampai di tangan Khalid sedangkan ia telah membuat perjanjian damai dengan mereka, sehingga ia tetap menepati perjanjiannya itu dan tidak mengkhianati mereka”.

Jikalau bukan lantaran perjanjian damai yang telah disepakati Khalid bin al-Walid dengan perwakilan Bani Hanifah sebelum surat Abu Bakar radhiyallahu anhu sampai di tangannya niscaya ia akan menghabisi mereka.

Sementara itu di Bahrain, setelah al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallahu anhu berhasil mematahkan perlawanan murtaddin dan memporakporandakan mereka, orang-orang murtad itu kabur menyeberangi teluk.

Ibnu Katsir berkata: “Kemudian kaum muslimin memburu jejak orang-orang yang terkalahkan itu dan membunuhi serta membantai mereka, sebagiannya atau mayoritasnya kabur menyeberang ke pulau Darin”.

Kaum muslimin tidak memberi kesempatan pada mereka untuk sekedar menghela nafas. Mereka memutuskan untuk menyeberangi teluk dengan menaiki kapal. Namun ketika hal itu ternyata malah memperlambat mereka, al-‘Ala bin al-Hadhrami radhiyallahu anhu dengan bertawakkal kepada Allah memutuskan untuk menceburkan dirinya dan pasukannya ke teluk tanpa menaiki kapal.

Ibnu Katsir berkata: “Dengan izin Allah mereka berjalan menyeberangi teluk laksana pasir lunak yang mengambang, air hanya menyentuh kaki-kaki unta dan kuda tidak mencapai pelananya. Perjalanan menaiki kapal membutuhkan waktu sehari semalam, namun mereka berhasil mencapai pantai pulau itu, bertempur memporakporandakan musuhnya, lalu mengangkuti ghanimah dan kembali ke tempat semula hanya dalam waktu sehari saja. Tidak ada seorangpun tawanan yang tertinggal. Semua ghanimah diangkut dan hewan ternak digiring menuju Madinah”.

Seperti inilah seluruh operasi penumpasan para murtaddin, memporak-porandakan dan menghabisi mereka sampai mereka kembali kepada perintah Allah atau mati dalam kondisi murtad.

Setelah ash-Shiddiq selesai menumpas orang-orang murtad, barulah beliau memulai penaklukkan Iraq dan Syam. Orang-orang murtad adalah batu sandungan terbesar di jalan jihad fisabilillah dan penyebaran Islam di bumi yang harus dibasmi habis, sampai umat Islam bisa berkesempatan menyeru dan memerangi umat-umat lain berdasarkan perintah Allah.

Dalam salah satu pertempurannya melawan Persia Majusi, Sang Pedang Allah yang terhunus bersumpah untuk mengalirkan sungai dengan darah mereka.

Ibnu Katsir berkata: “Khalid berkata, ‘Ya Allah, aku bersumpah jika Engkau menguasakan mereka pada kami maka aku tidak akan menyisakan seorangpun dari mereka sampai mengalirkan sungai dengan darah mereka’. Kemudian Allah ta'ala menganugerahkan kemenangan kepada kaum muslimin. Penyeru Khalid segera berteriak, ‘Tawanlah, tawanlah, jangan dibunuh kecuali yang menolak ditawan’. Maka kuda-kuda datang bergelombang menyeret para tawanan. Kemudian beberapa prajurit diperintahkan untuk memenggal kepala para tawanan satu demi satu di tepi sungai. Hal itu terjadi selama sehari semalam. Hari berikutnya perburuan tawanan masih berlanjut, demikian juga esoknya. Tiap kali seorang tawanan berhasil ditangkap maka diseret ke tepi sungai dan dipenggal lehernya. Sampai air sungai tidak mengalir lantaran darah yang membeku. Maka sebagian komandan berkata kepada Khalid bahwa sungai tidak akan mengalirkan darah mereka sampai ia mengalirkan air untuk membuang darah yang menggumpal sehingga dengan demikian sumpahnya bisa dipenuhi. Dialirkanlah aliran sungai itu, sehingga air sungai memerah karena darah, karena itulah sungai itu kemudian dinamai sungai darah sampai saat ini. Saat itu korban tentara Persia mencapai 70.000 prajurit.”

Dalam salah satu pertempuran Khalid bin al-Walid melawan Romawi, salah satu komandan pasukan Romawi yaitu Mahan meminta berdialog untuk menegosiasikan kembalinya pasukan Islam ke Madinah, jawaban mengerikan Khalid membuatnya terdiam seribu bahasa.

Ibnu Katsir berkata: "Mahan berkata, ‘Kami mengerti kalian keluar dari negeri kalian itu karena faktor kelaparan dan kemisikinan. Kami akan berikan setiap dari kalian 10 dinar, pakaian, dan makanan dengan syarat kalian kembali ke negeri kalian. Demikian juga tahun depan akan kami kirim yang semisalnya pada kalian’. Maka Khalid berkata, ‘Yang engkau sebutkan itu bukanlah yang menyebabkan kami keluar dari negeri kami, tapi kami kaum peminum darah, dan kami mendapat kabar bahwa tidak ada darah yang lebih nikmat dari darah orang Romawi, itulah yang menyebabkan kami datang. Para pengiring Mahan berkata, ‘Yang demikian ini bukanlah yang diceritakan kepada kami tentang orang Arab’."

Di masa khilafah Ali radhiyallahu anhu muncul orang-orang yang ghuluw terhadapnya menganggapnya Tuhan, maka beliau memerintahkan untuk membakar mereka semua.

Disebutkan dalam Tarikh al-Islam oleh adz-Dzahabi: “Beberapa orang mendatangi Ali dan berkata, ‘Engkaulah Dia! Ali membalas, ‘Apa maksudmu? Siapa aku? Mereka berkata, ‘Engkaulah Dia! Balasnya, ‘Celaka kalian, apa maksud kalian? Mereka menjawab, ‘Engkau adalah Tuhan kami! Ali membalas, ‘Bertobatlah kalian! Namun mereka menolak, maka Ali pun memenggal leher mereka. Kemudian digalilah parit dan bangkai mereka diletakkan di dalamnya, kemudian Ali berkata, ‘Wahai Qunbur, ambilkan seikat kayu bakar’, lalu dibakarnya mereka sembari bersyair, ‘Ketika aku melihat perkara munkar, aku nyalakan api dan kupanggil Qunbur’. Kisah ini diriwayatkan secara ringkas oleh Bukhari dari Abbas, disebutkan juga bahwa Ali membakar orang-orang zindiq dalam keadaan hidup-hidup.

Kisah-kisah yang kita sebutkan disini hanyalah sedikit contoh dari tindakan para sahabat atas orang-orang kafir dan murtad ketika memerangi mereka. Siapa yang bertindak sesuai dengan petunjuk mereka maka sungguh telah selamat dan diberi petunjuk. Namun siapa yang hendak mengikuti selain petunjuk mereka maka Allah akan membiarkannya mengikuti manhaj-manhaj dan millah-millah yang sesat lagi menyesatkan. Lalu jika setelah itu ia mengklaim lebih baik dari mereka maka sungguh telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, sedangkan Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

An-Naba Edisi 46

AKAN SENANTIASA ADA SEKELOMPOK ORANG DIANTARA UMATKU YANG BERPERANG DI JALAN ALLAH

AKAN SENANTIASA ADA SEKELOMPOK ORANG DIANTARA UMATKU YANG BERPERANG DI JALAN ALLAH

Siapa saja yang mengamati media Daulah Islam, dan melihat betapa ia memfokuskan pada opini bahwa agresi salibis yang dihadapi oleh para tentara daulah dengan segenap keberanian dan kepahlawanan sekarang sebagai agresi terakhir, dengan izin Allah, akan segera berkesimpulan bahwa para tentara daulah beranggapan bahwa agresi atas mereka ini adalah puncaknya, dan merupakan fase terakhir dari perjalanan jihad yang panjang.

Siapapun yang mengetahui hakekat Islam akan mengerti bahwa thaifah manshurah tidak akan pernah meletakkan senjata atau berhenti dari memerangi orang-orang musyrik, karena syirik akan terus ada hingga hari kiamat. Tidaklah seorang mukminpun melainkan wajib berjihad dan memerangi mereka hingga mereka tunduk kepada hukum Allah Ta‘ala, sebagaimana orangorang musyrik yang akan terus memerangi umat Islam selagi masih ada diantara mereka yang masih hidup sampai mereka memurtadkan orang-orang mukmin dari Diennya sebisa mungkin.

Ketika Amerika mengomandoi agresi salibis atas umat Islam ini, maka sebentar lagi agresi ini akan berakhir dengan izin Allah, dan dengan sendirinya Amerika akan menarik diri guna mengobati luka-luka yang dideritanya dan mengganti kerugian yang menerpanya, demi mempertahankan modal awal setelah merasa yakin bahwa untuk meraih untung sangat berat dan sulit. Hari ini, kita melihat Amerika mendesak sekutunya untuk ikut menanggung biaya serangan udara dan mensupport pasukan murtad di lapangan sekaligus mendanainya. Dengan mundurnya Amerika dari medan tempur, berakibat negara-negara salib lain akan kesulitan mengatur front-front pertempuran yang cukup luas disertai hilangnya persatuan akibat perpecahan yang melanda negara-negara koalisi.

Tetapi, barang siapa yang melihat lebih seksama niscaya akan mendapati bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang musyrik di luar salibis. Ada Yahudi, atheis tak beragama, orang-orang musyrik Hindu, Budha dan Paganis. Ada juga para thaghut yang menguasai negeri-negeri kaum Muslimin yang terampas. Ada lagi orangorang murtad diantara para pengaku Islam, seperti Rafidhah, para penyembah kubur dan para penganut paham demokrasi. Ada juga orang-orang shahawat murtad yang loyal kepada kelompok musyrik manapun demi tidak ditegakkannya hukum syari’at dan agar agama tidak sepenuhnya milik Allah. Ada juga kelompok lain yang barangkali sekarang tidak kita ketahui, tetapi Allah Maha Tahu kapan mereka akan memunculkan permusuhannya dan memerangi pemeluk tauhid.

Bangsa-bangsa musyrik ini tidak kalah sengit permusuhannya kepada orang-orang beriman daripada Nasrani salibis, bahkan lebih keras, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Kamu benar- benar akan dapati manusia Yang paling keras permusuhannya kepada orangorang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik“ (QS. al-Maidah: 42).

Mayoritas bangsa-bangsa ini ikut campur memerangi islam dan kaum muslimin. Penindasan mereka terhadap kaum muslimin dan permusuhan mereka terhadap syiar-syiar islam tidak pernah lekang dari ingatan kita.

Kita masih ingat sejarah kejahatan kelompokkelompok tersebut kepada umat Islam. Masih terngiang kisah para atheis Mongol yang memerangi umat islam di dalam negeri mereka sendiri, melenyapkan negara dan khilafah, menghancurkan peradaban, menumpahkan darah, dan menimpakan luka yang paling menyakitkan dibanding luka-luka setelahnya.

Begitu juga kisah perseteruan umat islam dengan para thaghut murtad yang mengaku islam, khususnya pada abad yang lalu, deritanya tidak kalah menyakitkan dari kisah perseteruan dengan para salibis yang datang dari seberang lautan (Eropa).

Jika agresi salibis ini gagal, dengan izin Allah, niscaya berbagai bangsa musyrik akan melakukan serangan demi serangan lain setelahnya. Umat Islam harus berjihad melawan, dan bersabar sebagaimana sabarnya mereka menghadapi agresi salibis yang bertubi-tubi, hingga seandainya serangan orang-orang musyrik terhadap negeri Islam itu berhenti, maka umat Islam tetap wajib untuk menyerang kaum musyrikin di negeri mereka, memasuki pintu-pintu mereka, menghancurkan kekuatan mereka, mencampakkan panji-panji mereka dan melanjutkan pengejaran kepada mereka, hingga bumi semuanya diatur dengan agama Allah saja, dan hingga orang-orang musyrik semuanya tunduk kepada hukum Allah azza wa jalla.

Eksisnya umat islam dalam memerangi orang-orang musyrik merupakan sunatullah yang menjadi ciri khas agama yang agung ini dan pemeluknya. Allah Ta‘ala telah mengikat tegaknya agama ini dengan perang tersebut, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Agama ini akan tetap tegak, selama masih ada sekelompok umat islam yg mau berperang di atasnya, hingga hari kiamat terjadi “. (HR. Muslim)

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain :

“Akan sentiasa ada diantara umatku yang berperang di atas perintah Allah, keras terhadap musuh mereka dan tidak terpengaruh oleh orang yang menyelisihi mereka, hingga kiamat datang sedangkan mereka tetap kokoh di atas hal itu“. (HR. Muslim)

Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim berusaha sungguh-sungguh untuk bergabung dengan barisan muwahhid yang tidak akan terputus hingga hari kiamat ini, karena mereka tidak akan terpengaruh oleh orang yang menyelisi maupun penggembos, tetapi mereka akan tetap eksis dalam jihad mereka dengan ketentuan dari Allah yang menggiring mereka. Setiap mujahid juga harus selalu memperbarui niat untuk terus melanjutkan jihadnya memerangi orang-orang musyrik hingga ajal menjemput. Hingga Allah membangkitkannya dalam golongan orangorang yang diberi nikmat diantara para Nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada, Dan alangkah baiknya teman-teman seperti mereka.

An-Naba Edisi 44