Selasa, 24 April 2018

DARI HIJRAH MENUJU KHILAFAH

DABIQ 1 - FEATURE

DARI HIJRAH MENUJU KHILAFAH

Tujuan pembentukan Khilafah selalu menjadi tujuan yang memenuhi hati para mujahidin sejak kebangkitan jihad abad ini. Ia selalu menjadi harapan para mujahidin yang pasti akan diraih, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berjanji kepada mereka akan hal itu.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Akan ada Masa Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, hingga Dia akan menghapusnya ketika Dia berkehendak. Setelah itu akan ada Masa Kekhilafahan di Atas Manhaj Kenabian yang akan berlangsung selama yang Allah kehendaki, lalu Allah akan menghapusnya jika Dia berkehendak. Setelah itu akan datang Masa Raja-raja yang Menggigit selama masa yang Allah kehendaki, lalu Allah akan menghapusnya jika Dia berkehendak. Lalu muncullah Masa Raja-raja yang Memaksa (Tiran) yang akan berlangsung selama yang Allah kehendaki, lalu Allah menghapusnya jika Dia berkehendak. Kemudian akan muncul Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah (Kekhilafahan di Atas Manhaj Kenabian)" setelah itu beliau diam.” (HR. Ahmad).

Juga diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, "Akan ada masa Kenabian dan rahmat, kemudian Khilafah dan rahmat, kemudian kerajaan yang menggigit, kemudian kerajaan tirani, kemudian thawaghit." (As-Sunan Waridatu fil Fitan, Abu 'Amr ad-Dani).

Namun, pertanyaan yang menyibukkan para mujahidin adalah bagaimana cara mereka untuk meraih tujuan ini?

Selama jihad di Afghanistan melawan komunis, banyak para muhajirin yang menemukan diri mereka berperang persis seperti perang mereka di Syam saat ini. Berbagai pihak dengan latar belakang berbeda bersatu memerangi “musuh bersama”, tanpa menghiraukan semua hal yang bisa membedakan mereka satu sama lain, bahkan semua hal yang bisa menghambat pembentukan Khilafah. Faktor terbesar yang menghambat (penegakkan Khilafah) adalah sikap nasionalisme yang mencemari banyak kelompok dan pihak di Afghanistan, di samping perubahan serius yang menghancurkan keyakinan dan kesehatan pada tubuh jama'ah Muslim yang diperlukan untuk menghidupkan kembali Khilafah.

Allah Azza wa Jalla selalu memberkahi jihad, dan banyak dari pemimpin dan pasukan (dari jihad Afghan, pent) yang kelak akan menjadi jembatan di mana jihad akan berjalan di atasnya menuju Kekhilafahan yang dinanti-nanti. Salah satu jembatan yang penting ini adalah sang Mujaddid (pembaharu) Abu Mush'ab Az-Zarqawi rahimahullah.

Belajar dari berbagai pelajaran yang diperoleh dari Afghanistan dan di tempat lain, ia tahu bahwa Khilafah tidak dapat dibentuk kecuali melalui jama'ah yang dikumpulkan oleh al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, yang bersih dari sikap ekstrem Murji'ah dan Khawarij. Tujuan terpenting jama'ah ini adalah untuk menghidupkan kembali tauhid terutama dalam masalah yang banyak diabaikan dan ditinggalkan oleh gerakan-gerakan “islam”, yaitu masalah yang berhubungan dengan al-wala’ wal bara’, hukum, dan tasyri ' (legislasi).

Jama'ah akan menggunakan kewajiban jihad sebagai alat fundamental untuk perubahan dan melaksanakan perintah Allah: “Dan perangilah mereka hingga tidak ada fitnah dan (hingga) agama itu hanya untuk Allah.” (Al-Anfal: 39).

Jihad ini akan dibangun di atas hijrah, bai'at, as-sam'u (mendengarkan), ath-tha’ah (ketaatan), dan i'dad (pelatihan), yang mengarah kepada ribath dan qital (pertempuran), kemudian Khilafah atau kesyahidan.

Hijrah telah menjadi pilar tak terpisahkan dari jihad, khususnya dalam era kekosongan Darul Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Hijrah tidak akan berhenti selama masih ada jihad." (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda, "Hijrah tidak akan berhenti selama orang-orang kafir masih berperang." (HR. An-Nasa'i).

Karena hampir tidak ada tempat berlindung yang aman di bumi yang tersisa untuk para mujahidin, maka lahan ideal untuk hijrah adalah tempat di mana mereka bisa beroperasi tanpa ancaman dari negara polisi yang kuat. Dalam kasus Abu Mush’ab, ia memilih Afghanistan dan kemudian Kurdistan sebagai dasar untuk membentuk Jama’ah Tauhid wal Jihad.

Alhamdulillah, sekarang ada banyak tempat dengan kondisi yang mendukung jihad, seperti Yaman, Mali, Somalia, Semenanjung Sinai, Waziristan, Libya, Chechnya, dan Nigeria, serta beberapa bagian dari Tunisia, Aljazair, Indonesia, dan Filipina. Syaikh Abu Mush'ab rahimahullah menerapkan strategi dan taktik jitu untuk mencapai tujuan Khilafah tanpa keraguan.

Ringkasnya, ia berusaha untuk membuat sebanyak mungkin kekacauan dengan cara yang diijinkan oleh Syariah, menggunakan serangan yang sering disebut “Operasi Nikayah" yang tujuan utamanya menyebabkan kematian musuh, cedera, dan kerusakan. Dengan kekacauan, ia bermaksud untuk mencegah rezim thaghut untuk mengembalikan stabilitas seperti semula, stabilitas yang memungkinkan mereka untuk mencapai status quo mirip dengan yang terjadi di negeri-negeri muslim yang dikuasai selama puluhan tahun oleh para thaghut. Seperti status quo –yang terdiri dari badan intelijen dan keamanan yang kuat– yang memungkinkan para thaghut untuk menghancurkan setiap gerakan Islam yang mencoba, walau hanya sedikit, untuk mengangkat kepala dan membisikkan keyakinannya.

Untuk menghasilkan kekacauan maksimal, Syaikh Abu Mush’ab menggunakan senjata paling efektif yang ada di gudang para mujahidin: bom mobil, IED, dan bom istisyhad. Dia akan memerintahkan untuk melaksanakan operasi nikayah puluhan kali dalam puluhan lokasi setiap hari, menargetkan dan membunuh terkadang hingga ratusan orang murtad dari pasukan polisi dan orang Rafidhah.

Selain itu, ia mencoba untuk memaksa setiap kelompok murtad yang ada di Iraq untuk keluar, perang terbuka dengan Ahlussunnah. Jadi dia targetkan pasukan murtad Iraq (tentara, polisi, dan intelijen), orang-orang Rafidhah (di pasar Syiah, kuil, dan pasukan milisi), dan orang-orang Kurdi sekuler (pengikut Barzani dan Talabani).

Dalam pidatonya yang berjudul "Hadza Bayanu lin-Nasi wa li Yundharu Bih" (Ini adalah Deklarasi untuk Manusia dan Agar Mereka Mendapat Peringatan dengannya), bahkan ia mengancam perang pada setiap suku Sunni, partai, atau anggota yang mendukung pasukan salib. Juga ketika beberapa kelompok yang disebut "Islamis" rela masuk ke dalam proses politik demokrasi –mereka mengabaikan syirik besar di dalamnya–, maka ia secara resmi menyatakan perang atas mereka dalam pidatonya yang berjudul "Wa li Tastabina Sabilul-Mujrimin" (Dan Supaya Jelas Jalan Orang-orang Pendosa).

Jadi, dengan menggunakan metode yang bisa menyebabkan kekacauan maksimal ini, yang menargetkan orang-orang murtad dari semua latar belakang yang berbeda, mujahidin mampu menjaga Iraq dalam kondisi tidak stabil dan perang terus menerus, mereka tidak pernah membiarkan semua kelompok murtad untuk menikmati rasa aman walau sekejap. Mereka setiap hari melaksanakan operasi terhadap pasukan salib di Iraq yang tujuan utamanya adalah untuk mendirikan sebuah rezim boneka murtad yang setia kepada mereka.

Jelas, operasi para mujahidin tidak pernah menargetkan tempat umum Sunni dan tempat pertemuan mereka –jauh berbeda dengan klaim dari tentara salib dan media murtad. Kejahatan yang dilakukan oleh para milisi Rafidhah yang membalas dendam terhadap Ahlus Sunnah, dan oleh tentara bayaran pasukan Salib yang mencoba menodai citra para mujahidin sebenarnya.

Syaikh Abu Mush’ab telah merencanakan untuk melakukan serangan selanjutnya yang lebih kompleks dengan skala yang lebih besar, yang terkadang disebut sebagai “Operasi Tamkin”, yang bertujuan membuka jalan untuk menguasai sebuah wilayah. Semua ini menyebabkan runtuhnya secara bertahap otoritas tentara salib di daerah yang dikenal sebagai "Segitiga Sunni".

Dengan cepat Keruntuhan ini diikuti oleh mujahidin untuk segera memasuki kekosongan yang ditinggalkan, mengumumkan dan menetapkan Daulah Islam Iraq di bawah kepemimpinan Amirul Mu'minin Abu Umar al-Husaini al-Baghdadi rahimahullah –sebuah kejadian monumental dalam sejarah umat. Ini adalah negara pertama di “era modern" yang diatur secara eksklusif oleh para mujahidin di jantung dunia Islam, hanya selemparan batu dari Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis.

Singkatnya, fase ini terdiri dari hijrah ke negeri dengan otoritas pusat yang lemah untuk digunakan sebagai basis di mana jama'ah dapat dibentuk, merekrut anggota, dan melatih mereka. (Jika lahan tersebut tidak ada atau hijrah tidak mungkin, lahan ini dapat dibentuk melalui kampanye panjang serangan nikayah yang dilakukan oleh sel-sel mujahid bawah tanah. Serangan ini akan memaksa pasukan murtad sedikit demi sedikit menarik diri dari wilayah pedesaan dan berkumpul kembali di daerah-daerah perkotaan).

Jama'ah kemudian akan mengambil keuntungan dari situasi ini dengan meningkatkan kekacauan ke titik yang mengarah kepada runtuhnya rezim thaghut secara total di seluruh daerah, situasi ini terkadang disebut sebagai "tawahhush" ("kekacauan").

Langkah selanjutnya adalah mengisi kekosongan dengan mengelola urusan negara dan mengembangkannya hingga menjadi Negara seutuhnya, dan selanjutnya melakukan ekspansi ke wilayah yang masih di bawah kendali taghut tersebut. Ini selalu menjadi peta perjalanan mujahidin menuju Khilafah.

Sayangnya, mereka sekarang ditentang oleh pemimpin kelompok jihad terkenal yang sekarang menjadi beku dalam tahap serangan nikayah, hampir-hampir mempertimbangkan pencapaian kekuatan menjadi hal tabu atau merusak. Dan bukannya mempercayakan urusan umat kepada para mujahidin yang shaleh, pemimpin kelompok ini bersikeras agar meninggalkan masalah ini untuk diperebutkan sehingga setiap munafik dapat meregangkan tangannya dan meraih kepemimpinan umat hanya untuk menghancurkannya. Wallahu Musta'an.

Apa yang membuat keadaan menjadi lebih buruk adalah bahwa pemimpin baru kelompok ini mengambil keuntungan dari kesyahidan pemimpin lama, sampai sekarang ditekan untuk mulai menyebarkan sebuah manhaj menyimpang. Salah satunya, mereka yang dianggap thaghut –seperti Mursi dan Haniyeh– pada akhirnya menjadi harapan baru bagi Ummat.

Singkatnya, kelompok ini menyerahkan pilihan kepada popularitas dan rasio daripada menyenangkan Allah dan bertawakkal kepada-Nya saja. Mereka menjadi malu mengakui dasar syariat yang tak terbantahkan, seperti takfir kepada mereka yang jelas-jelas thaghut dan orang-orang murtad. Ketika Daulah Islam Iraq diumumkan –setelah melalui fase perang– hal ini memberikan efek terungkapnya semua pengaku jihad di Iraq, membelah mereka ke dalam dua kubu.

Setiap kelompok dan individu yang memiliki iman dan ikhlas segera berbai’at (berjanji setia) kepada Amir Daulah Islam, karena mereka tidak pernah mengambil langkah ke arah jihad kecuali membentuk Daulah Islam sebagai tujuan utama mereka. Mereka yang menolak negara yang baru lahir ini terjadi karena dua alasan:
1. Manhaj yang menyimpang, dan
2. Ambisi buruk untuk meraih ketenaran, kekayaan, dan kekuasaan.

Akibatnya, deklarasi ini menyebabkan beberapa penyimpangan yang tersembunyi muncul ke permukaan. Keburukan yang disembunyikan agar tidak terlihat akhirnya terkuak juga. Beberapa dari mereka membawa keburukan yang ada di dalam hati mereka dengan dengan dengan cepat mengizinkan rasa bangga dan iri menguasai mereka, mendorong mereka untuk masuk ke dalam aliansi, baik yang tersembunyi atau terbuka, bersama tentara salib, rezim murtad baru, dan thaghut Negara tetangga, menghadapi Negara Islam yang baru lahir, sehingga membentuk gerakan "Shahwah" ("Kebangkitan", Shahawat), sebuah istilah yang diciptakan oleh pion Amerika untuk mempercantik kemurtaddan dan pengkhianatan mereka.

Shahwah menerima keuangan, politik, dan "syaikh" pendukung dari Alu Su'ud, Ikhwan, dan bahkan Amerika. Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menguji mujahidin sebagaimana dahulu Dia telah menguji hamba-Nya di Makkah (sebelum Hijrah), Uhud (ketika pasukan pemanah tidak taat dan meninggalkan pos mereka), Hunain (ketika orang-orang yang baru masuk Islam kagum dengan mereka jumlah mereka), dan Jazirah Arab (selama perang terhadap kaum murtad).

Ini adalah cobaan yang diberikan Allah ‘Azza wa Jalla supaya Dia melihat para mujahidin yang sabar dan mengusir orang-orang yang berhati lemah dari barisan mereka, dan dengan demikian memperkuat Daulah Islam yang baru lahir untuk mempersiapkan tanggung jawab yang lebih besar. Sebagaimana Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Satu kekuasaan tidak akan bersatu kecuali setelah berhasil mengatasi kesusahan."

Selama periode ini, Daulah Islam sebagian besar terpaksa untuk mundur ke daerah-daerah gurun al-Anbar, di mana tentaranya kembali digabungkan, direncanakan, dan dilatih. Dari padang gurun, mereka terus melakukan serangan terhadap tentara salib dan pengkhianat murtad, serangan ini terkoordinasi dengan operasi yang dilaksanakan oleh unit bawah tanah di daerah perkotaan.

Dan ketika Amirul Mu'minin Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah memperoleh syahadah bersama Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah, Daulah Islam tidak goyah, bahkan kepemimpinan (qiyadah) secara bulat membai’at Amirul Mu'minin Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah, terus berjalan menuju sebuah kekhilafahan yang menyatukan umat.

Kemudian peristiwa Syam mulai terjadi dan Daulah Islam segera melibatkan diri, menjawab tangisan kaum muslimin yang lemah dan tertindas dengan mengirimkan misi dari Iraq untuk mengaktifkan unitnya di Syam dan kemudian membuat pengumuman ekspansi resmi. Sekali lagi, rasa bangga, iri hati, nasionalisme (ashabiyah), dan perubahan (manhaj) menyebabkan peristiwa serupa dengan Iraq. Neo Shahawat dibentuk dengan sumber keuangan, politik, dan "syaikh" dukungan yang sama persis (seperti di Iraq). Mereka mengulangi kesalahan para pendahulu mereka di Iraq dan memutuskan untuk masuk ke dalam perang terhadap Daulah Islam, tapi di sini Allah ‘Azza wa Jalla memberkahi para mujahidin dengan cara yang unik di tanah Syam, sehingga pengkhianatan Shahwah cepat tersingkap dan dihancurkan.

Kemudian, berkat rahmat Allah, mujahidin mendapatkan kontrol atas wilayah yang lebih besar daripada banyak negara yang mengklaim "legalitas" hari ini, lahan yang dulunya dalam sejarah di bawah kendali Dinasti Umayah dari Syam dan Dinasti Abbasiyah dari Iraq. Setelah itu, harapan akan Khilafah menjadi kenyataan tak terbantahkan, yang tidak memberi ruang bagi siapa pun, dengan alasan apapun untuk melawan kewenangan imam kecuali akan ditangani oleh hukum yang ditentukan Allah.

Kemenangan di Nainawa, al-Anbar, Shalahuddin, al-Khair, al-Barakah, dan tempat lain, semua membantu deklarasi yang dibuat oleh Daulah Islam pada awal Ramadhan 1435H, di mana Khilafah secara resmi diumumkan.

Kondisi baru ini membuka jalan untuk menyatukan secara utuh semua masyarakat Muslim dan Negara-negara dibawah otoritas tunggal Khalifah. Hal ini juga menekankan perlunya untuk mematuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perintahnya, "Barangsiapa datang kepada kalian saat kalian bersatu di belakang satu orang, dan bermaksud untuk memisahkan persaudaraan atau mengganggu persatuan kalian, maka bunuhlah dia". (Shahih Muslim).

Kewajiban itu sekarang lebih jelas daripada sebelumnya, bagi semua umat Islam untuk meningkatkan suara dan janji setia mereka kepada Imamul Muslimin dan Amirul Mu'minin –Khalifah– Abu Bakar al-Husaini al-Baghdadi (semoga Allah meninggikan pasukannya dan mempermalukan musuh-musuhnya).

Semoga Allah melindungi Daulah Khilafah ini dan terus membimbingnya sampai pasukannya melawan tentara salib yang akan berkumpul di dekat Dabiq.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 1

DABIQ 1 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Douglas A. Ollivant, mantan Direktur AS Dewan Keamanan Nasional untuk Iraq, dan Brian Fishman mantan Direktur Riset untuk Combating Terrorism Center di West Point –dua tentara salib Amerika– menulis sebuah artikel berjudul "Realitas Negara Islam di Iraq dan Suriah" beberapa saat sebelum pembebasan kota Mosul oleh Daulah Islam juga beberapa kota penting lainnya di Iraq. Berikut adalah kutipan dari artikelnya:

“Dari ujian berat perang sipil di Suriah dan ketidakpuasan warga Sunni di Iraq, sesuatu yang baru telah muncul. Negara Islam di Iraq dan Suriah (ISIS) tidak lagi menjadi negara hanya dalam nama saja. Ini ada secara fisik, sangat legal, dan menjadi kenyataan di lapangan. Diakui oleh masyarakat dunia, ISIS telah membentuk negara de facto di perbatasan Suriah dan Iraq. Memanjang secara langsung dari al-Raqqah di Suriah hingga Fallujah di Iraq (dengan banyak daerah lain yang tidak berdekatan di bawah kontrol mereka baik di Suriah atau di Iraq), mantan afiliasi Al-Qaeda ini memegang wilayah, memberikan pelayanan terbatas, menyebarkan keadilan (didefinisikan secara longgar), sebagian besar diyakini pasti memiliki pasukan, dan memiliki bendera sendiri.”

“ISIS telah menciptakan tentara multi-etnis: kebanyakan pasukan asing, untuk mengamankan wilayah mereka.”

“Akhirnya, realitas baru ini menghadirkan tantangan yang naik ke atas melebihi masalah kontra-terorisme belaka. ISIS tidak lagi ada dalam sel-sel kecil yang dapat dinetralkan oleh rudal atau kelompok kecil pasukan komando. Sekarang telah nyata, jika baru lahir dan belum ketahui, ‘negara aktor’ ini lebih mirip Taliban pada akhir 1990-an dalam organisasi dan kekuatan daripada Al-Qaeda.”

“Kelompok ini dulu tidak memiliki tempat yang aman dalam negara. Tapi mereka kini adalah negara itu sendiri, yang secara de facto menjadi tempat aman.”

KONSEP IMAMAH (KEPEMIMPINAN) BERASAL DARI MILLAH IBRAHIM

DABIQ 1 - ARTIKEL

KONSEP IMAMAH (KEPEMIMPINAN) BERASAL DARI MILLAH IBRAHIM

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Amma ba’du.

Abdullah bin 'Amr radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya iman itu akan usang di dalam hati kalian sebagaimana pakaian kalian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui iman kalian." (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dia mengatakan bahwa sanad haditsnya hasan).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (An-Nahl : 92)

Dalam menjelaskan ayat ini, para ulama tafsir menyatakan, "Ini adalah tentang seorang wanita bodoh di Makkah. Setiap kali dia memintal beberapa benang dan membuatnya kuat, dia akan melepaskannya lagi."

Sesungguhnya Millah Ibrahim ‘alaihis salam telah benar-benar kembali muncul dalam jiwa para pemuda muslim muwahhid, mereka meyakininya, mencintainya, menyatakannya secara terang-terangan, dan menjalankan sesuai syarat-syaratnya. Para pemuda muwahhid ini tidak lain hanya mengikuti orang-orang yang telah mendahului mereka dalam iman, dari kalangan para ulama yang ilmu dan praktik agamanya dapat dipercaya.

Dengan demikian, para ulama ini membimbing mereka dengan dalil syar'i, kepada hakekat millah yang agung ini, dan menulis sejumlah karya yang mencantumkan namanya, berusaha keras menjelaskan kewajiban untuk mengikutinya dan menyeru orang lain kepadanya. Hingga hal ini mencapai titik di mana gema millah yang agung ini bergaung di antara pemuda muwahhidin di hampir setiap sudut dunia, termasuk Negara-negara Eropa.

Banyak pemuda ini mulai mengajak orang lain untuknya, dan menjadikan hal ini motto mereka, berbicara tentang hal itu dan menjelaskan maknanya dalam masjid-masjid, Islamic center, dan tempat- tempat umum. Beberapa bahkan mengungkapkan cinta mereka terhadap millah ini dengan menyanyikan nasyid-nasyid Islam dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa Eropa lainnya.

Rahasia di balik semua ini –dan Allah yang lebih tahu– adalah bahwa millah ini mampu memuaskan rasa haus dalam jiwa para pemuda ini dan mengembalikan kepercayaan dalam agama dan keyakinan mereka, terutama berkenaan dengan masalah berlepas diri dari orang-orang kafir dan musyrik (baraa’).

Hal ini berbeda dengan mereka yang begitu lama memilih membungkuk dan bersujud patuh terhadap kaum musyirikin, dan kini mereka mulai mencegah orang-orang yang secara terbuka memperlihatkan agama mereka (izharuddien) di tengah-tengah masyarakat yang berseberangan dengan mereka, dengan dalih bahwa ini adalah demi perdamaian global yang diserukan PBB dan oleh wahyu agama –beginilah mereka berdusta.

Kemudian setelah itu, sejak waktu yang lama, millah ini telah menderita di dalam jiwa-jiwa para pendukungnya, oleh hal yang sama yang menimpa iman dalam hati manusia, dan mulai menjadi compang-camping dan usang sebagaimana pakaian menjadi compang-camping dan usang. Hal ini bahkan sampai terjadi pada individu-individu yang telah menenun “benang” ini, memperkuatnya, menulis tentangnya, dan menyatakan hal ini dengan terang-terangan, kini berusaha untuk membatalkannya (mengurainya) dengan tangan mereka sendiri seperti wanita Makkah yang bodoh itu.

Jadi menjadi tugas kita untuk menghidupkan kembali karakteristik millah ini yang mulai membusuk dalam jiwa manusia, dan mencoba untuk menyadarkan orang-orang yang berusaha mengurai kembali pintalan mereka yang telah mereka tenun dengan kuat. Semua ini, dengan harapan semoga Allah akan menerima taubat mereka dan semoga mereka kembali lagi kepada petunjuk yang dahulu mereka di atasnya, mendukung kebenaran dan mengikuti millah ini.

CONTOH DALIL YANG MENUNJUKKAN KATA IMAMAH BERMAKNA IMAMAH POLITIK

Abdullah bin Umar radiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipimpinnya, imam adalah seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggung-jawaban atas rakyatnya”. (HR Al-Bukhari)

Dalam bagian dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:, "Berpegang teguhlah pada jama'ah kaum muslimin dan imam mereka." Aku berkata, "Dan jika mereka tidak memiliki jama'ah atau imam?" Beliau bersabda, "Jauhilah olehmu semua kelompok itu, walaupun dengan menggigit akar pohon dan kematian datang menjemputmu dan engkau dalam kondisi seperti itu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Qays ibnu Hazim meriwayatkan, bahwa Abu Bakar radhiyallahu anhu menemui seorang wanita dari suku Ahmas bernama Zainab dan melihat bahwa dia tidak berbicara kepada siapa pun. Beliau bertanya, "Mengapa dia tidak mau berbicara?" Mereka berkata, "Dia bersumpah untuk melaksanakan haji tanpa berbicara dengan siapa pun."

Beliau berkata kepadanya, "Berbicaralah, sebab hal ini tidak diperbolehkan. Ini termasuk perbuatan jahiliyah." Wanita itupun mulai berbicara, dan bertanya kepadanya: "Siapakah engkau?" Dijawab, "Seorang laki-laki dari muhajirin." Dia bertanya, "Muhajirin yang mana?" Beliau menjawab, "Quraisy". Dia bertanya, "Quraisy cabang yang mana Anda berasal?" Beliau pun menjawab, "Kau terlalu banyak bertanya. Aku adalah Abu Bakar."

Dia bertanya "Berapa lama kita akan tetap dalam kondisi baik ini, yang telah Allah anugerahkan, setelah kita sebelumnya berada di masa jahiliyah?” Abu Bakar menjawab," Kau akan tetap seperti ini selama imam-imam kalian memperlakukan kalian dengan adil." Wanita itu bertanya, "Dan apa maksud imam-imam itu?" Beliau menjawab, "Bukankah orang-orangmu memiliki pemimpin dan pembesar yang perintahnya mereka taati?" Wanita itu berkata, "Ya". Abu Bakar berkata, "Mereka itulah imam-imam mereka." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Di antara bukti yang digunakan untuk menyatakan bahwa imamah yang dimaksud dalam ayat di atas (al-Baqarah: 124) adalah imamah dalam politik, yaitu bahwa para ulama tafsir menggunakan ayat ini sebagai dasar ketika menjelaskan sifat terpenting dari sifat-sifat al-imamah al-kubra (kepemimpinan terbesar, yaitu Khilafah Islam). Sifat itu adalah al-‘adalah (keadilan).

Ketika Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kedudukan mulia ini, yakni berupa imamah, beliau mengerti keagungan dalam nikmat ini, sehingga ia segera meminta untuknya juga untuk keturunannya: (Dia (Ibrahim) memohon, 'Dan juga (pemimpin) dari keturunanku?’)

Hanya saja Allah memberitahukan syarat utama yang harus dipenuhi oleh siapa pun yang menginginkan posisi ini setelah dia: ((Allah) berfirman, 'Perjanjian-Ku tidak termasuk orang-orang yang zhalim.')

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Sejumlah ulama menggunakan ayat ini sebagai bukti bahwa imam haruslah seorang yang adil, berperilaku yang baik dan bijak, serta memiliki kekuatan untuk menjalankan perannya. Dan imam yang seperti inilah yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umat Islam untuk tidak memberontak terhadapnya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Adapun pendosa, tidak adil, dan bermoral tiran, maka individu seperti ini tidak memenuhi syarat untuk posisi ini, menurut kesimpulan dari pernyataan Allah, (Perjanjian-Ku tidak termasuk orang-orang yang zhalim).

Atas alasan inilah Ibnu Az-Zubair dan Al-Husain bin Ali memberontak. Demikian juga, orang terbaik dari rakyat Iraq dan ulama mereka memberontak melawan Al-Hajjaj, dan orang-orang Madinah mengusir suku Bani Umayah dari Madinah dan kemudian memberontak melawan mereka (Penguasa Umayah), sehingga (terjadi pembantaian) Al-Harrah yang dilakukan oleh Muslim bin ‘Uqbah atas mereka." (Ahkamul Qur'an, 2: 108)

Maka kami mengambil dalil dari qaul (perkataan) ini, atas kebenaran pendapat yang kami pilih bahwa lafazh imamah mencakup dua makna, yaitu imamah dalam agama dan politik, dan keduanya memiliki syarat yang sama.

Catatan: Al-Qurthubi kemudian melanjutkan dengan mengatakan, "Mayoritas ulama mengmbil pendapat bahwa bersabar terhadap penguasa yang menindas lebih baik daripada memberontak melawannya, karena memberontak akan merubah rasa aman menjadi rasa takut, menyebabkan pertumpahan darah, melepaskan tangan-tangan bodoh (untuk merugikan/berbuat kerusakan), memungkinkan terjadinya serangan yang akan dilakukan terhadap Muslim, dan menyebarnya korupsi di muka bumi. Pendapat pertama (membolehkan pemberontakan) adalah pemikiran dari kelompok Mu'tazilah dan pendapat kaum Khawarij, jadi berhati-hatilah." (Selesai kutipan)

Pemberontakan melawan penguasa Muslim yang zhalim juga berlawanan dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat jelas. Oleh karena itu, banyak ayat menunjukkan larangan awal memilih seorang Pemimpin Muslim yang zhalim, tetapi tidak mengizinkan pemberontakan terhadap dirinya setelah dia mencapai kekuasaan.

KONSEP IMAMAH BERASAL DARI MILLAH IBRAHIM

Di antara simbol dari millah yang agung ini, yang telah mulai memudar dari dalam jiwa-jiwa kebanyakan orang dan dipandang tidak lebih dari sekedar khayalan, adalah gagasan bahwa Umat Muslim (secara kenegaraan) harus berusaha untuk bersatu di belakang satu imam (pemimpin), berjuang di bawah panji- panjinya dan mendukungnya untuk menjaga tanah agama ini dan menerapkan syariat Allah Rabb semesta alam.

Hal ini, pada kenyataannya, merupakan hasil dari sekulerisme yang telah meresapi pikiran manusia di zaman kita, memisahkan antara agama dan negara, antara syariat dan pemerintah, dan memperlakukan Al-Qur’an tidak lebih dari sekedar buku nyanyian dan bacaan daripada buku pemerintahan, undang- undang, dan penegakan hukum. Lingkungan seperti ini memiliki efek bagi para da’i, di mana mereka mulai terus-menerus meyakinkan orang-orang tidak adanya keinginan dari para da’i yang tulus akan kekuasan dan legalitas.

Dan seolah salah satu dari mereka telah rela bagi diri mereka, perlakuan menjadi da’i yang terkurung dalam penjara thaghut, selama salah satu dari mereka mengkafirkan thaghut dan mengkafirkan mereka yang berperang di jalannya. Dia lebih memilih peran ini daripada hidup bebas di bawah naungan seorang imam Muslim, menyeru orang lain kepadanya, dan membantu untuk memperkuat posisinya.

Du'at ini tidak bisa memahami gagasan bahwa Islam bisa memiliki negara dan seorang imam, mereka juga tidak bisa mulai memahami apa harga yang harus kita bayar untuk mencapai hal ini. Seolah-olah mereka tidak pernah belajar sejarah Islam dan belajar bahwa usaha ini akan membutuhkan kita dalam hal darah. Seolah mereka tidak menyadari bahwa yang telah mencurahkan darahnya demi alasan ini adalah sebuah kaum yang bersaksi akan Laa Ilaha Illallah.

Akan tetapi, mereka tidak lain adalah bughot (pemberontak) yang halal untuk diperangi, lantaran mereka menolak untuk memberikan bai’at ke imam ini atau itu. Bahkan seandainya imam itu –setelah dia ditunjuk– membiarkan mereka di atas pemberontakan dan pemisahan mereka, maka imam itu telah berdosa dan tidak dianggap berbuat baik kepada rakyatnya kaum muslimin.

Allah Ta’ala telah mengaruniakan kepada kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihis salam imamah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin (imam) bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.” (al-Baqarah: 124).

Allah menjadikan balasan atas sikap Ibrahim yang telah menyempurnakan kalimat-Nya yang diujikan kepadanya, Dia mengaruniakan kepadanya kedudukan imamah, memuliakannya. Dan imamah ini, yang tersebut dalam ayat di atas, tidaklah bermaksud hanya imamah dalam agama saja. Sebagaimana nanti akan dijelaskan oleh banyak ahli tafsir.

Namun imamah di sini juga mencakup imamah dalam politik, yang kebanyakan ahli agama menjauhinya, membencinya karena akan membuat hati terpaut atasnya, dan juga membenci jalan untuk meraihnya. Orang-orang hari ini tidak memahami, bahwa imamah yang hakiki di dalam agama, tidak akan diraih kecuali jika para pengemban kebanaran itu berhasil meraih imamah di dalam politik secara total, atas Negara dan warga.

Adapun jika ada seorang individu dari umat ini berusaha untuk menikmati sedikit kebebasan dalam dakwah dan khotbah di bawah pemerintahan thaghut, atau mencari perlindungan dari mereka untuk tujuan menyampaikan dakwahnya, maka dia hanya melompat keluar dari penggorengan menuju ke dalam api. Juga seperti orang yang haus dan melihat fatamorgana yang dia kira air, namun ketika dia akan mengambilnya dengan tangan, dia tidak mendapati apa-apa.

Adapun yang mendorong kita untuk berpendapat bahwa lafazh imamah yang dikaruniakan kepada Nabi Ibrahim dalam ayat di atas adalah mencakup dua makna, karena tidak diragukan bahwa istilah bahasa dan syariat telah mencakup makna keduanya. Dan mengambil banyak makna dalam satu kata selama tidak terdapat kontradiksi di dalamnya merupakan madzhab paling selamat dalam hal seperti ini, tidak diragukan lagi.

PERINTAH ALLAH KEPADA IBRAHIM

Ayat yang mulia di atas (Al-Baqarah : 124, pent), telah menjelaskan tentang bentuk ‘penyempunaan kalimat’ yang merupakan sebab langsung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam meraih posisi imamah, sehingga sangatlah baik jika kalimat yang sama ini, menjadi sebab bagi keturunannya untuk meraih posisi mulia ini.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah Ta’ala ((Dengan kalimat-kalimat)) maknanya adalah dengan syariat-syariat, perintah-perintah dan larangan-larangan, maka kata ‘kalimat’ jika digunakan terkadang maknanya adalah takdir, seperti firman Allah kepada Maryam alaihassalam, ((dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya: dan dia termasuk orang-orang yang taat)) (At-Tahrim: 12). Dan terkadang juga bermakna syariat, seperti firman Allah Ta’ala: ((Dan telah sempurna kalimat-kalimat Rabbmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-Nya)) (Al-An’am : 115) yakni syari’at-Nya, baik itu berupa kabar yang benar, atau tuntutan keadilan jika dia berupa perintah atau larangan. Dan termasuk dalam hal ini adalah ayat mulia ini ((Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna)) maksudnya mengerjakannya. Allah berfirman ((Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia)) yakni sebagai balasan atas apa yang telah beliau lakukan. Sebagaimana beliau telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sehingga Allah menjadikan beliau sebagai teladan dan imam yang diteladani dan diikuti jejak langkahnya.” (At-Tafsir 1 : 405).

Dan di antara tafsiran kata ‘kalimat’ apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhu: “Kalimat yang dengannya Allah menguji Ibrahim lalu beliau menyempurnakannya adalah berpisah dengan kaumnya –di jalan Allah– ketika dia diperintah untuk meninggalkan mereka, dan perdebatannya dengan Namrudz –karena Allah– lantaran sikapnya kepadanya yang melawannya yang dia membantahnya, kemudian kesabarannya ketika beliau dilemparkan ke dalam api –karena Allah– atas kemarahan mereka, dan hijrahnya dari negeri-nya setelah itu –karena Allah– ketika beliau diperintahkan untuk keluar meninggalkan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 1)

DAULAH ISLAMIYAH, IMAMAH SESUNGGUHNYA

Dari pembahasan sebelumnya, kita ketahui bahwa Daulah Islamiyah di Iraq dan Syam merupakan yang paling layak –dengan pertolongan Allah– untuk mendapatkan kedudukan imamah secara penuh di tempat mereka berada. Yang demikian karena Daulah telah melaksanakan perintah Allah –semampu yang dia lakukan– dengan sebaik-baiknya. Mereka menjalankan agama di tempat mereka berkuasa dan terus berusaha sekuat mungkin.

Itu semua setelah Allah mengaruniakan kepada pemimpinnya dengan jihad dan hijrah di jalan-Nya, di samping atas kemulian nasabnya yang menonjol dan ketajaman akal, serta kedudukan yang tinggi dalam ilmu dan agama. Maka tidak ada seorang pun, siapa pun dia, yang berhak untuk merobohkan bangunan ini, yang telah bertahun-tahun dibangun dan ditinggikan oleh orang-orang jujur dari umat ini.

Dan janganlah bermimpi seorang pun, walau dia memiliki keutamaan dan jasa, untuk menjinakkan seorang tentara yang ikhlas dari tentara-tentara Daulah Islamiyah, untuk mundur dari misinya demi beralih ke misi lainnya yang penuh syubhat atau yang lainnya. Bahkan amirul mukminin sendiri tidak berhak hari ini, untuk memerintahkan pembubaran Daulah Islamiyah dan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya, (namun yang bisa dilakukan olehnya –menurut salah satu pendapat ulama– ia boleh mengundurkan dirinya sendiri, sehingga ketika itu Ahlul Halli wal Aqdi di Daulah Islamiyah akan menunjuk imam yang baru, dan Daulah Islamiyah tetap eksis).

Allah telah berfirman setelah mengaruniakan kepada Ibrahim ‘alaihis salam dengan imamah: “Dan barangsiapa yang membenci Millah Ibrahim, dia hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang shaleh.” (Al-Baqarah: 130).

Maka kita ketahui dari bentuk ayat di atas bahwa Imamah merupakan bagian dari Millah Ibrahim, dan orang yang membencinya berarti telah membenci bagian dari millah agung ini. Dan millah adalah jalan yang mesti diikuti secara mutlak, jalan yang telah dipilih oleh Allah bagi Ibrahim dan keturunannya dan orang-orang yang setelahnya. Dia adalah jalan imamah dengan dua jenisnya (yakni imamah agama dan politik) bagi siapa yang mampu ke arah sana.

Maka bagi siapa saja dari kalangan ulama yang menyeru atau menulis tentang wajibnya mengikuti Millah Ibrahim, hendaknya tidak membenci imamah pada Daulah Islam hari ini, dan tidak berusaha menghancurkannya atau merusaknya. Dan hendaknya mereka memahami bahwa Daulah Islam hari ini –dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadanya, berupa penaklukan, tamkin dan menegakkan dien– terhitung sebagai imamah yang sebenarnya di Iraq dan Syam, dan orang yang keluar darinya dianggap bughat (pemberontak) yang boleh diperangi setelah ditegakkan hujjah atasnya.

Dan dia akan tetap bersikap seperti ini dengan izin Allah, walau harus menghadapi berbagai ujian yang berat dalam menjalaninya, hingga memecah satu sama lain.

Dari Abdurrahman bin Abdu Rabbul Ka’bah berkata: “Aku memasuki Masjidil Haram, dan ternyata Abdullah bin Amr bin Ash sedang duduk di bawah naungan Ka’bah dan orang-orang berkumpul di sekitarnya, lalu aku mendatangi mereka dan duduk di sisinya, lalu dia berkata: ‘Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu kami singgah di suatu tempat. Lalu di antara kami ada yang memperbaiki tenda, ada yang berlatih memanah dan ada yang mengurus binatang tunggangan, lalu penyeru Rasulullah mengumandangkan seruan untuk shalat berjamaah, kami pun segera berkumpul kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu berliau bersabda:

‘Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku kecuali dia benar-benar telah menunjukkan kepada kaumnya atas kebaikan yang dia ketahui, dan memperingatkan mereka dari keburukan yang dia ketahui. Sedangkan umat kalian ini dijadikan keselamatannya pada pendahulunya, sedangkan orang-orang sesudahnya akan ditimpa bala’ (ujian) dan perkara yang tidak mereka sukai, maka muncullah fitnah sehingga mereka menghina satu sama lain, lalu muncullah fitnah (ujian) sehingga seorang mukmin akan mengatakan ini adalah kebinasaanku, kemudian fitnah itu tersingkap, lalu datanglah fitnah lainnya dan seorang mukmin mengatakan inilah inilah (yang akan membinasakanku).

Maka siapa yang suka untuk dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka hendaknya dia didatangi kematian dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya dia mendatangi orang-orang yang suka untuk didatangi olehnya, dan siapa yang membai’at seorang imam dan dia memberikan sepenuh tangannya dan sepenuh hatinya maka hendaknya dia menaatinya sesuai kemampuannya. Jika datang seseorang yang ingin mencabutnya maka tebaslah leher orang lain tersebut.” (HR. Muslim)

Dan dahulu hadits ini terdengar sangat keras di kalangan salaf, terutama yang berkaitan dengan masalah imamah, dan tentang penjelasan hukum atas siapa yang keluar dari imam-imam kaum muslimin. Perawi hadits mengatakan: “Lalu aku mendekatinya dan berkata, Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah engkau mendengar ini dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Lalu beliau menunjuk dua telinganya dan dadanya sambil berkata: “Aku mendengarnya dengan kedua telingaku dan aku menyimpannya di dalam hatiku”.

Aku berkata: “Ini anak pamanmu, padahal Allah berfirman ((Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara bathil, kecuali karena perdagangan yang kalian lakukan dengan dasar keridhoan. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian)). Dia berkata: ‘Lalu dia diam sejenak, kemudian berkata: ‘Taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah, dan jangan kalian taati dia dalam maksiat kepada Allah’.” (HR. Muslim).

Maka sesungguhnya kami akan selalu menaati imam selama dia memerintahkan kami dalam ketaatan Ar-Rahman, dan jika dia memerintahkan kami dalam kemaksiatan maka kami tidak akan mentaatinya. Sungguh akan kami penggal leher orang yang berusaha mencabutnya dari imamah, siapa pun dia. Dan sungguh kami akan bersabar atas setiap fitnah dalam hal ini semua, karena pertolongan Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Memberi. Maka biarkanlah kami menyukai urusan kami, karena kami akan selalu setia atas bai’at kami, tanpa tawar menawar.

Ya Allah curahkanlah shalawat atas Nabi Muhammad yang memberi kabar gembira dan peringatan, juga atas keluarga dan sahabatnya semua.

PERTEMUAN SUKU-SUKU DI ALEPPO

DABIQ 1 - LAPORAN

PERTEMUAN SUKU-SUKU DI ALEPPO

Daulah Islam memiliki sejarah panjang dalam membangun hubungan dengan suku-suku di wilayahnya dalam upaya memperkuat barisan kaum muslimin, menyatukan mereka di bawah satu imam, dan bekerja sama menuju pembentukan Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwah. Hal ini diwujudkan dengan menghadirkan forum antar suku, mengatasi kekhawatiran para pemimpin suku, dan menerima bai’at mereka. Ini merupakan pertemuan rutin dan berjalan dengan sukses.

Bulan lalu, atas undangan dari kepala bagian Hubungan Masyarakat Wilayah Halab (Aleppo), kepala Urusan Suku Wilayah Halab menghadiri pertemuan dengan perwakilan dari suku-suku berikut:

- Tetua dan pembesar suku-suku Albu Khamis
- Tetua dan pembesar suku-suku Banu Sa’id
- Tetua dan pembesar suku-suku Al-A’un
- Tetua dan pembesar suku-suku di wilayah Al Khafsah dan sekitarnya, yang terpenting dari mereka adalah suku-suku Al-Ghanim

Kepala Urusan Suku memulai pertemuan dengan kata-kata sambutan, penghormatan dan terima kasih atas undangan. Dia kemudian berbicara tentang fakta bahwa misi Daulah Islam bukanlah misi lokal maupun regional, melainkan global. Selain itu, ia mengajak mereka untuk menerapkan hukum syari'ah, menjalankan agama, dan menegakkan amar makruf nahi munkar.

Dia juga berbicara tentang kemenangan di Irak baru-baru ini, termasuk pembebasan Wilayah Nainawa, serta pembebasan tawanan Ahlus Sunnah, pembebasan bandara Mosul dan pangkalan militer Maliki, penghancuran perbatasan Sykes-Picot yang dengan demikian membuka jalan antara Iraq dan Syam, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, ia menyatakan: "Kami mengumumkan kemenangan-kemenangan baru, pembangunan masa depan dari Daulah Islam dan perluasan wilayahnya."

Kepala Urusan Suku juga menekankan bahwa majelis ini bertujuan untuk membentuk pertemuan dengan suku-suku, membantu dan berkomunikasi dengan mereka, bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan bekerja sama dengan mereka dalam kebaikan dan kebenaran.

Sebagai timbal baliknya, Daulah Islam (semoga Allah memenangkannya) meminta dari para tetua, suku-suku Arab, dan secara khusus suku Bani Sa'id, kerjasama mereka, dukungan, kesetiaan, saran, dan doa. Juga meminta mereka membantu Daulah Islam dengan harta mereka, anak-anak mereka, laki-laki mereka, senjata mereka, kekuatan mereka dan pendapat mereka, dan mendorong anak-anak mereka dan saudara-saudara mereka untuk bergabung ke dalam tubuh militer Daulah Islam.

Demikian juga, ia menanggapi beberapa isu yang beredar tentang Daulah Islam, seperti penarikan diri dan mundur dari daerah yang mereka kontrol, meninggalkan mereka dan menyerahkan mereka ke tangan rezim, tentang ekstrimisme, takfir, kekerasan dan pengusiran.

Selain itu, tercatat manfaat dan layanan yang akan diberikan oleh Daulah Islam, di antaranya:
-Mengembalikan hak dan properti kepada pemiliknya yang sah
- Mengalokasikan jutaan dollar untuk pelayanan kepentingan kaum muslimin
- Keamanan dan stabilitas dinikmati oleh daerah yang berada di bawah otoritas Daulah Islam
- Memastikan ketersediaan produk makanan dan komoditas di pasar, terutama roti
- Mengurangi tingkat kejahatan
- Mengembangkan hubungan antara Daulah Islam dan warganya

Selama pertemuan, ada sejumlah hal yang diminta dari pejabat suku, yang paling penting di antaranya adalah sebagai berikut:

- Mengumpulkan zakat dan menyalurkannya ke kantor zakat di seluruh wilayah ini
- Menyiapkan daftar dengan nama-nama anak yatim, janda dan yang membutuhkan sehingga zakat dan shadaqah dapat didistribusikan kepada mereka
- Mendorong pemuda untuk bergabung ke barisan Daulah Islam
- Menyerahkan senjata apapun yang diperoleh dari rezim atau FSA
- Mendesak para pasukan yang melawan Daulah Islam untuk bertobat sebelum mereka ditangkap

Pada akhir pertemuan itu, beberapa para tetua suku dan pembesar yang hadir mengumumkan bai'at mereka kepada Daulah Islam.

Belum lama ini, perwakilan dari Daulah Islam juga menghadiri pertemuan lain seperti pertemuan para pemimpin suku di Wilayah Halab, memenuhi undangan kehormatan dari tetua dan pembesar dari suku Bu Batush. Pertemuan berlangsung di Tal Fiddah di daerah Maskanah, ada sejumlah amir Daulah Islam, komandan, dan prajurit yang hadir. Pertemuan itu ditutup dengan para tetua, pembesar, dan banyak anggota suku ini memberikan bai'at untuk Daulah Islam dan berjanji untuk membela dan mendukungnya.

DEKLARASI TEGAKNYA KHILAFAH

DABIQ 1 - BREAKING NEWS

DEKLARASI TEGAKNYA KHILAFAH

Pada hari pertama di bulan Ramadhan 1435H, kebangkitan Khilafah diumumkan oleh juru bicara Daulah Islam, Syaikh Abu Muhammad al- 'Adnani asy-Syami hafizhahullah. Kabar baik ini diikuti oleh pidato resmi pertama Amirul Mu'minin Abu Bakar al-Husaini al-Qurasyi al-Baghdadi –semoga Allah menolongnya–.

Pengumuman ini membuat jalan-jalan di Daulah Islam dipenuhi orang-orang yang menyambut dengan suka cita. Semoga Allah terus mengisi hati Umat Islam dengan berita kemenangan, sehingga membimbing mereka menuju ketaatan kepada Rasulullah Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam menuju Jannah. Berikut adalah beberapa kutipan yang paling penting dari dua pidato beliau:

BERITA GEMBIRA BAGI UMAT MUSLIM

Amirul Mu'minin berkata: "Wahai kaum muslimin di mana pun kalian berada, kabar gembira dan harapan baik bagi kalian. Angkatlah kepala kalian tinggi-tinggi, sejak hari ini –karena karunia Allah– kalian memiliki Daulah dan Khilafah, yang akan mengembalikan martabat kalian, kekuatan, hak, dan kepemimpinan.

Ini adalah saat di mana orang Arab dan non-Arab, orang kulit putih dan kulit hitam, orang timur dan orang Barat semua adalah saudara. Ini adalah Khilafah yang menyatukan Kaukasus, India, Cina, Syam, Iraq, Yaman, Mesir, Maghribi (Afrika Utara), Amerika, Prancis, Jerman, dan Australia. Allah membawa hati mereka semua, lalu mereka menjadi saudara dengan kasih dan karunia-Nya, mencintai satu sama lain karena Allah, berdiri bersama dalam satu parit, untuk membela dan menjaga satu sama lain, dan saling mengorbankan diri mereka sendiri satu sama lain.

Darah mereka bercampur dan menjadi satu, di bawah satu panji dan satu tujuan, dalam satu wadah, menikmati berkah ini, berkah persaudaraan iman. Jika para raja itu untuk mencicipi berkah ini, pasti mereka rela meninggalkan kerajaan mereka dan berjuang untuk hal ini. Maka segala puji dan syukur hanyalah milik Allah."

ERA BARU TELAH TIBA : KEHORMATAN DAN KEKUATAN MILIK KAUM MUSLIMIN

Amirul Mu'minin berkata: "Segera, dengan izin Allah, akan datang suatu hari ketika umat Islam akan berjalan di mana-mana sebagai seorang tuan, memiliki kehormatan, diakui, dengan kepala terangkat tinggi dan martabatnya disegani. Siapapun yang berani menyinggung perasaannya akan dihukum, dan setiap tangan yang berani menyentuhnya untuk menyakitinya akan dipotong.

Maka biarkan dunia tahu bahwa saat ini kita hidup di era baru. Siapa pun yang lalai sekarang harus waspada. Siapa pun sedang tertidur sekarang harus bangun. Siapa pun yang kaget dan panik harus segera sadar. Kaum Muslimin saat ini memiliki suara lantang, pernyataan yang bergemuruh, dan kaki yang kuat.

Kalimat lantang yang akan membuat dunia mendengar dan memahami makna terorisme, dan kaki yang kuat yang akan menginjak-injak berhala nasionalisme, menghancurkan patung demokrasi, dan menyingkap keburukan padanya."

Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani mengatakan: "Waktunya telah tiba bagi mereka, generasi yang tenggelam dalam lautan aib, yang dirawat dengan air susu penghinaan, dan diperintah oleh orang- orang hina, setelah mereka tidur panjang dalam gelapnya kelalaian, kini sudah saatnya bagi mereka untuk bangkit.

Waktunya telah tiba untuk ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dari tidurnya, menghapus kotoran dari pakaian, dan menyingkirkan debu penghinaan dan aib. Karena era meratap dan mengerang telah pergi, dan fajar kehormatan telah muncul kembali. Matahari jihad telah meninggi. Kabar gembira telah bersinar. Terjalin rapi di atas cakrawala. Tanda-tanda kemenangan telah muncul. "

DUNIA TELAH DIBAGI KE DALAM DUA KUBU

Amirul Mu'minin berkata: "Wahai umat Islam, bahkan dunia saat ini telah dibagi menjadi dua kubu dan dua parit, tanpa ada kubu ketiga: 1. Kubu Islam dan Iman, dan 2. Kubu Kufur (Kekafiran) dan Kemunafikan. Kamp kaum muslimin dan mujahidin di mana-mana, dan (sisanya) kamp orang Yahudi, pasukan salib dan sekutu mereka, dan yang bergabung bersama mereka dari bangsa-bangsa dan agama kufur lainnya. Semua (kamp kafir) dipimpin oleh Amerika dan Rusia, dan dimobilisasi oleh orang-orang Yahudi."

SERUAN HIJRAH

Amirul Mu'minin berkata: "Oleh karena itu, bersegeralah wahai kaum muslimin ke Daulahmu. Ya, ini adalah Daulahmu. Bersegeralah, karena Suriah tidak untuk orang Suriah, dan Iraq bukan untuk orang Iraq. Bumi adalah milik Allah.

(Sesungguhnya bumi ini milik Allah: diwariskan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertaqwa) (Al-A'raf: 128).

Daulah ini adalah negara bagi seluruh umat Islam, tanah bagi umat Islam, semua umat Islam. Wahai Kaum Muslimin di mana pun kalian berada, siapa pun yang mampu melakukan hijrah ke Daulah Islam, maka biarkan dia melakukannya, karena hijrah ke tanah Islam adalah wajib."

SERUAN KEPADA SELURUH MUSLIM : DOKTER, INSINYUR, ULAMA DAN PARA AHLI

Amirul Mu'minin berkata: "Kami membuat seruan khusus kepada para ulama, fuqaha' dan para da’i, terutama hakim (qadhi), serta orang-orang dengan basic militer, keahlian administrasi dan layanan, dokter dan insinyur dari semua spesialisasi dan bidang berbeda.

Kami menyeru mereka dan mengingatkan mereka untuk takut kepada Allah, mengingatkan bahwa hijrah mereka adalah fardhu 'ain, sehingga mereka dapat menjawab rintihan kaum muslimin yang memilukan, yang membutuhkan mereka. orang-orang mengabaikan agama mereka dan mereka haus kepada orang-orang yang dapat mengajar mereka dan membantu mereka memahaminya.

Maka bertaqwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah."

HINGGA MEMBAKAR PASUKAN SALIB DI DABIQ

MAJALAH DABIQ EDISI 1 - PENDAHULUAN

HINGGA MEMBAKAR PASUKAN SALIB DI DABIQ

Segala puji bagi Allah: shalawat dan salam semoga Allah selalu tercurahkan pada Rasul-Nya.

Setelah meninjau beberapa komentar yang diterima pada penerbitan pertama tentang Berita dan Laporan Daulah Islam dan laporan (Islamic State News and Report), Al-Hayat Media Center memutuskan untuk melanjutkan upaya ini –insya Allah– hingga menjadi sebuah majalah berkala yang fokus pada tema tauhid, manhaj, hijrah, jihad, dan jama'ah. Juga akan berisi laporan foto, laporan kejadian, dan artikel informatif tentang hal yang berkaitan dengan Daulah Islam. Semoga Allah memberkati upaya ini dan membuatnya menjadi mercusuar bagi generasi yang akan datang.

Nama majalah ini diambil dari sebuah nama daerah di sebelah utara Halab (Aleppo) di Syam. Tempat ini disebutkan dalam sebuah hadits yang menjelaskan tentang salah satu kejadian dalam Al-Malahim (yang dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Armageddon), salah satu pertempuran terbesar antara pasukan Muslim dan pasukan Salib akan terjadi di sini, di dekat Dabiq.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersada: "Hari kiamat tidak akan terjadi hingga bangsa Romawi turun di suatu tempat bernama al-A'maq atau Dabiq (dua tempat yang berdekatan di sebelah utara Halab/Aleppo). Sehingga ada sekelompok pasukan dari Madinah keluar menghadapi mereka. Mereka adalah manusia terbaik di bumi ketika itu.

Ketika mereka berbaris berhadapan, pasukan Romawi berkata, 'Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami’. Kaum Muslimin menjawab, 'Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan saudara-saudara kami diperangi!’. Maka terjadilah peperangan di antara mereka. Kemudian sepertiga dari mereka akan lari: Allah tidak akan pernah mengampuni mereka, sepertiga lagi akan terbunuh: mereka menjadi syuhada terbaik di sisi Allah, dan sepertiga lainnya akan mengalahkan mereka: mereka tidak akan pernah terkena fitnah selamanya.

Kemudian mereka akan menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan perang (ghanimah), setelah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon-pohon zaitun, Setan berteriak, ‘Al -Masih (Dajjal) telah mendatangi keluarga kalian (yang tertinggal.) ', mereka pun segera pergi berhamburan (ke arah keluarga mereka yang ditinggal), tetapi seruan setan adalah dusta.

Ketika mereka tiba di Syam, dia pun muncul. Kemudian ketika mereka sedang mempersiapkan barisan untuk berperang tiba-tiba datanglah waktu shalat. Lalu turunlah Isa bin Maryam Alahissalam dan memimpin mereka shalat. Ketika musuh Allah (Dajjal) melihatnya, ia akan mencair seperti garam meleleh di dalam air. Jika saja dia membiarkannya, ia akan meleleh terus sampai mati, tapi dia membunuhnya dengan tangannya sendiri, dan kemudian menunjukkan pada mereka darahnya pada ujung tombaknya". (Shahih Muslim).

Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi –semoga Allah merahmatinya– telah memperkIraqan ekspansi jihad yang diberkahi ini dari Iraq ke Syam dan menghubungkannya dengan hadits ini, beliau mengatakan, "Percikannya telah menyala di sini, di Iraq, dan panasnya akan terus membara –dengan izin Allah– hingga membakar tentara salib di Dabiq ". (Ayna Ahlul Muru'at).

Menurut hadits ini, daerah ini akan memainkan peran historis dalam pertempuran menjelang Penaklukan Konstantinopel, yang dilanjutkan Penaklukan Roma. Saat ini, Dabiq berada di bawah kendali pasukan dukungan salib, Shahawat, dekat dengan arena perang antara mereka dan Khilafah. Semoga Allah membersihkan Dabiq dari pengkhianatan Shahawat dan meninggikan bendera Khilafah atas tanah tersebut. Aamiin.

Selasa, 17 April 2018

Seri tauhid - Inti Dakwah para Nabi dan Rosul

Inti Dakwah para Nabi dan Rosul

✍abu saif ibrohim Azzam muttaqin

📌 Ketahuilah bahwa semua Nabi dan Rosul sejak yang pertama Allah utus hingga kepada Nabi kita Muhammad sholallahu 'alayhi wa salam membawa seruan yang sama, yakni :
 أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الْطَّـغُوتَ
 {beribadahlah kamu kepada Allah dan jauhilah thogut}.

Allah Ta’ala berfirman:

📖 وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian” (QS. Al-Anbiya: 25).

Allah Ta’ala juga berfirman:

📖 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’” (QS. An-Nahl: 36).

Dan inilah yang didakwahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam:

📖 لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain-Nya“. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)” (QS. Al A’raf: 59).

Perhatikan apa yang didakwahkan Nabi Hud ‘alaihissalam:

📖 وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”” (QS. Al A’raf: 65).

Inilah yang didakwahkan Nabi Shalih ‘alahissalam:

📖 وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ ...

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain-Nya..." (QS. Al A’raf: 73)

inilah yang didakwahkan Nabi Syu’aib ‘alahissalam:

📖 وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ. ....

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan (yang haq) bagimu selain-Nya..." (Al A'raf:127)

Juga Nabi Ibrahim ‘alahissalam:

📖 وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah semata dan bertakwalah kepadaNya’.” (QS.Al-Ankabut : 16).

 Nabi Isa ‘alaihissalam:

📖 مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ...

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu..." (Al Maidah:117)

Dan hingga Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman:

📖 قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah semata dengan memurnikan semua ibadahnya hanya kepadaNya” (QS. Az-Zumar : 11).


📌 Jadi Tauhid merupakan misi dari Allah yang dengannya para Nabi dan Rosul di utus.

Wallahu'alam

--------------------
Barokallahu fiekum ❤️