Rabu, 25 April 2018

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 1)

DABIQ 8 - ARTIKEL

ALIANSI AL-QA'IDAH DI SYAM (BAGIAN 1)

Syaikh Abu Hamzah rahimahullah menyebutkan di dalam nasihatnya kepada kelompok-kelompok nasionalis di Iraq, beliau mengatakan: “Kepada mereka yang berperang demi membebaskan Negara dan di bawah panji nasionalis dan fanatisme golongan, aku katakan, bukankah telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang laki-laki, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, laki-laki ini berkata; “Wahai Rasulullah, apa itu perang di jalan Allah? Sesungguhnya ada seorang lelaki dari kita yang berperang karena marah, atau berperang karena hamiyah (fanatisme)”, Rasulullah kemudian mengangkat kepalanya dan bersabda; “Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimat Allah yang tertinggi maka dia di jalan Allah Azza wa Jalla”. An-Nawawi, Ibnu Hajar dan yang lainnya berkata; Hamiyah adalah berperang karena kebanggaan, rasa cemburu, atau ingin membela suku, sedangkan menurut Al-Hafizh di dalam Al-Fath; “Bisa jadi menafsirkan perang karena hamiyah adalah perang untuk menolak mudharat dan perang karena marah adalah perang untuk mencari keuntungan”. Maka apakah perang kalian, wahai manusia, pergi kepada apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bahkan itu semua menjadi tujuan kalian, karena seharusnya di dalam syariat Allah adalah apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh di dalam Al-Fath: “Tidaklah disebut fi sabilillah kecuali jika sebab berperangnya adalah berusaha meninggikan kalimat Allah semata”. Maka membebaskan negeri dan tujuan lainnya bisa masuk ke dalamnya namun bukan menjadi tujuan utama, dan kalian telah mengetahui keburukan hal ini di dalam perang, karena sebagian besar para pemimpin Arab hari ini telah datang setelah usai peperangan untuk mengangkat bendera nasionalisme, dan tidakkah kalian lihat hasil itu semua hanyalah kerugian di dunia dan akhirat." (Makalah Kedua)

Amirul Mukminin Abu Umar Al-Baghdadi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ide nasionalisme dan kesukuan merupakan hal yang berlawanan dengan dien dalam berbagai ushulnya; Pertama: Sesungguhnya perbedaan antara manusia ditentukan dengan taqwanya bukan dengan darahnya. Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa" (Al-Hujurat: 13). Kedua: Bertentangan dengan aqidah al-Wala' wa al-Bara' –yang ini termasuk dari pokok paling agung di dalam dien– sehingga orang Arab Iraq beragama Nashrani adalah seorang saudara dan berhak mendapat seluruh haknya, sedangkan orang India dan Turki Muslim maka tidak ada hak baginya, dan syari'at mereka ini mengharuskan mendahulukan Uqbah bin Abi Mu'adz dan Abu Jahal daripada Bilal yang orang Habasyah dan Salman yang orang Persia. Ketiga: Bertentangan dengan ikatan persatuan antara kaum mukminin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiayallahu anhu). Juga di dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Permisalan orang-orang yang beriman di dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan mereka ibarat satu tubuh, apabila ada salah satu yang merasakan sakit, maka yang lain akan ikut merasakannya dengan susah tidur dan demam” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Nu'man bin Basyir radhiyallahu anhu). Keempat: Ini dibangun di atas pijakan seruan kepada jahiliah dan 'ashabiyah, Allah berfirman "Ketika orang-orang kafir menanamkan di dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah" (Al-Fath: 26). Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada 'ashabiyah” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jubair bin Muth'im)." (Adzillatan 'Alal Mu'minin A'izzatan 'Alal Kafirin)

Berkata juga Amirul mukminin Abu Umar Al-Baghdadi rahimahullah; “Namun sayang, beberapa anak burung sekularisme menyebarkan kebohongan penjajahan, merumuskan dasar untuk itu, berargumen mendukung hal itu, dan mengangkat panji buta dengan nama nasionalisme dan patriotisme, padahal itu adalah hal yang sama dengan apa yang ada di dalam ajaran Majusi, sehingga mereka menjadikan kekayaan negeri Iraq, khususnya air dan minyaknya hanya untuk orang yang memiliki kewarganegaraan Iraq, lalu apakah seandainya dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke negeri kita, karena beliau sesungguhnya beliau telah hijrah ke negeri yang bukan negerinya, dan tinggal di negeri yang bukan negerinya, maka apakah halal baginya dan juga bagi para sahabatnya kekakayaan itu semua sesuai dengan doktrin orang-orang ini? Tidak, dan tidak ada jalan bagi Rasulullah dan muhajirin untuk mendapatkan kepemimpinan dan kekuasaan, dan harus mendapatkan apa yang mereka butuhkan dengan susah payah dan kasar. Bagaimana tidak, mereka inilah yang mengatakan bahwa Iraq adalah untuk orang-orang Iraq dan kekayaannya adalah milik mereka. Ya, bagi setiap warga Iraq, tidak peduli walau dia adalah penyembah setan Yazidi, Shabi'ah atau Mandian, semua mereka memiliki kesamaan hak, baik dia muslim sunni, atau seorang rafidhi majusi, dan tidak penting apakah orang Iraq ini menyembah Rabb kita yang mulia atau setan yang hina, maka haknya tetap terjaga! Wahai muwahhidin, sesungguhnya aqidah kita adalah seorang muslim adalah saudara kita walau dia orang Asia Filipina, dan penyembah setan adalah musuh kita walau dia adalah orang Iraq seutuhnya!" (Fa Amma Zubadu fa Yadzhabu Jufa)

Pada tanggal 25 Desember 2014, telah dibentuk Jabhah Syamiyah di Aleppo, termasuk di dalamnya adalah Jabhah 'Islamiyah', Jaisy 'al-Mujahidin', Harakah 'Nuruddin Zanki', Katibah 'Fastaqim Kama Umirta', Jabhah Ashalah wa Tanmiyah, dan yang terakhir adalah Harakah Hazm, dan mayoritas kelompok ini adalah anggota wadah nasionalis Dewan Komando Revolusi Suriah (Majlis Qiyadah Ats-Tsaurah As-Suriya).

Grup-grup ini juga mendapat sokongan dana “tanpa syarat” dari rezim Negara-negara teluk dan juga CIA, SNC (Syrian National Coalition), Jaisy Al-Hurr (FSA), Supreme Military Council juga mendapatkan bantuan walau mereka tidak bergabung kepada arah mana pun dari ini semua. Pada bulan Februari 2015, jabhah baru ini bersepakat dengan kelompok Kurdi; Partai Demokrasi Otonomi Kurdi (PKK) Unit Pelindung Rakyat (YPG) sayap militer Partai Persatuan Demokrasi (YPD) untuk menegakkan syari'at di 'Afrin! Bagaimana caranya kaum Nasionalis 'Islamis' berencana menegakkan syariat bersama kaum Marxis dan Demokratis sekuleris? Satu pertanyaan untuk mereka adalah; Apakah pesawatpesawat Salibis yang membantu partai PKK di Ain Al -Islam juga akan membantu penegakkan “syariat”...

Skenario yang dijalankan oleh para Nasionalis 'Islamis' bersama para nasionalis sekuler untuk membentuk pemerintahan nasionalis yang mencakup undang-undangnya islam dan demokrasi, adalah skenario yang sama yang telah selesai diuji coba di Mesir, Tunisia dan Libya. Dan orang-orang salib tahu bahwa pada akhirnya di sana ada perbedaan antara dua kue ini, dan tinggal duduk sambil menunggu kelompok mana yang lebih menguntungkan kepentingan mereka untuk segera mereka bantu. Dan dua kelompok ini pun saling berlomba untuk bersaing dalam memperlihatkan kemurtadan sebanyak-banyaknya hingga menang dalam mencari keridhaan Barat dan sekutu mereka—para thaghut Arab.

Akan tetapi permainan ini sangat jelas terlihat bagi mereka yang memiliki iman dan memahami waqi', tetapi hal ini tidak demikian bagi para pengklaim jihad di Syam (Jabhah Jaulani). Orang-orang yang menyimpang ini justru memerangi Daulah Islamiyah berdampingan bersama para kelompok Shahawat yang kelak akan membangun Jabhah Syamiyah sembari mengatakan bahwa mereka adalah battalion mujahid yang ikhlas, hanya saja “keikhlasan” yang dikatakan oleh Jabhah Jaulani ketika menggambarkan kelompok ini semakin tampak jelas hakikatnya hari demi hari.

Dan berikut adalah transkip ceramah yang disampaikan oleh ketua Departemen Politik dan Informasi Jabhah Syamiyah (Zakaria Malahifji) di dalam muktamar yang diselenggarakan oleh “Pasukan Revolusioner Aleppo” yang diadakan di Turki pada 1 Maret 2015 :

“Dalam rangka menjawab tuntutan revolusi, dan memenuhi permintaan masyarakat revolusioner di Aleppo, terutama dalam masalah persatuan dan organisasi demi menghadapi agresi tiran, dan atas nama Jabhah Syamiyah, dengan ini saya ingin membacakan kepada hadirin sekalian beberapa dasar keputusan berikut ini :

Pertama: Jabhah Syamiyah adalah bagian dari Dewan Tinggi Revolusi yang wajib untuk mempersatukan kekuatannya demi meraih kemenangan, karena persatuan adalah satu-satunya jalan untuk meraih kemenangan dan perpecahan hanyalah menyenangkan rezim yang jahat.

Kedua: Jabhah Syamiyah adalah faksi yang merepresentasikan Suriah dan warganya, dan menganggap bahwa Suriah untuk warga Suriah, dan prioritas kami adalah membebaskan Suriah dari Iran dan melengserkan rezim yang jahat untuk mengakhiri kezhaliman dan membangun bangsa yang merdeka.

Ketiga: Kami menganggap bahwa identitas kewarganegaraan Suriah adalah untuk setiap warga Suriah, baik itu Arab, Kurdi, Turkman, Asyirian, Druz, sebagaimana kami juga mengakui agama-agama lain.

Keempat: Suriah sebagaimana yang ada sekarang dengan garis batas internasional yang telah diakui, adalah sebuah Negara untuk seluruh warga Suriah, dan Jabhah Syamiyah menolak pembentukan Suriah menurut salah satu faksi, atau agenda politik atau kelompok tertentu.

Kelima: Seluruh dunia mengetahu, bahwa rezim Suriah dahulu dan hingga sekarang menjadi sponsor utama terorisme di wilayah ini, dia telah melatih kelompok-kelompok teror dan menggunakan mereka untuk membunuh dan melakukan teror di Negara-negara tetangga dan sekarang dia menggunakannya untuk membunuh revolusi warga Suriah.

Keenam: Hal yang sangat jelas, bahwa revolusi Suriah menghadapi persekongkolan yang terdiri dari berbagai rezim jahat dan teror di wilayah ini, yang dipimpin oleh Iran yang menjajah negeri Suriah, pada saat yang sama, masyarakat internasional dan seluruh lembaga meninggalkan tanggung jawab mereka secara moral dan hukum untuk menghentikan pembantaian atas warga Suriah yang telah berlangsung selama empat tahun, dan tidak melindungi keselamatan warga yang keluar dalam demonstrasi besar-besaran pada tahun pertama revolusi.

Ketujuh: Jabhah Syamiyah mengucapkan terimakasih kepada semua mitra dan sahabat rakyat Suriah, terutama kepada Turki, Saudi, Qatar, dan Negara-negara lain, dan mengajak mereka untuk bersama mengambil sikap tegas terhadap penjajahan Iran, kelompok-kelompok Iran dan kejahatan rezim.

Kedelapan: Jabhah Syamiyah percaya bahwa proposal Demistora bukan merupakan solusi politik bagi Suriah sekarang, tidak juga sebagai dokumen tertulis, yang justru mengusulkan gencatan senjata di Aleppo untuk menyelamatkan rezim dari kekalahan terus menerus, dan memberikan kesempatan untuk memusnahkan Douma, Daraa, dan semua daerah Suriah lainnya. Demistora ingin melompati Konferensi Genewa I dan II, di mana di dalamnya para revolusionis sepakat untuk mengganti rezim yang jahat dengan Suriah yang merdeka dan mandiri. Wahai saudara sekalian, ini menekankan bagi kita pentingnya mengeluarkan kesepakatan bersatu terhadap proposal Demistora dan lainnya, dan jangan sampai kita terpecah belah dalam membuat kesepakatan melawan proposal itu, demi tanggung jawab kita terhadap darah para syuhada dan masyarakat besar revolusi.

Kesembilan: Jabhah Syamiyah mengajak kepada usaha yang lebih keras lagi untuk menghentikan solusi senjata dalam memutuskan perselisihan antara para revolusionis perselisihan terakhir adalah apa yang terjadi di Aleppo. Dan kami mengajak kepada peradilan yang independen yang bisa menempatkan semuanya pada tempat yang benar, dan menghindari pertumpahan darah yang itu hanya menguntungkan pihak rezim jahat.

Kesepuluh: Kami berterima kasih kepada saudara-saudara yang hadir di dalam konferensi ini, dan kami berterima kasih juga kepada saudara-saudara di Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan Pemerintah Interim Suriah, dan kami meminta kepada mereka untuk terus menerus memberikan dukungan secara konstan dan terorganisir terhadap kaum revolusioner di Aleppo, dan bekerja terus menerus dengan sekutu dan sahabat warga Suriah dengan tidak memutus atau mengurangi bantuan ini, dengan demikian mesin kriminal ini bisa terus kita hadapi. Kita juga menegaskan kembali kepada seluruh warga kami untuk tetap memberikan dukungan dengan karunia dari Allah, hingga meraih Syahadah atau kemenangan.

Terakhir, kami sangat senang dengan pertemuan ini, yang kami harap kita bisa menjadi front yang bersatu untuk revolusi di seluruh kota Aleppo dan selainnya, dan seluruh tanah Suriah, karena di sana ada kenyataan yang sangat jelas ketika kita bersatu maka akan tumbanglah rezim ini. Dan terakhir, kami berterima kasih kepada kalian semua.”

Inilah kalimat terakhirnya yang menyimpang, dan beginilah menurut sekutu tanzhim Al-Qaeda di Suriah, yang tidak membedakan antara Muslim dan Kristen (Assyrian/Syriac), Nushairi, Rafidhi, Durz, dan Isma'ili, Suriah adalah Negara untuk semua! Menurut sekutu tanzhim Al-Qaeda di Suriah, Koalisi Nasional Suriah (SNC), Pemerintah Interim Suriah, pemerintah Turki, keluarga Saud dan Qatar semua adalah saudara muslim [1]! Menurut sekutu tanzhim Al-Qaeda di Suriah, dalam pandangan mereka bersatu demi nasionalisme dan patriotisme bangsa lebih penting dari pada perpecahan lantaran tauhid dan kebenaran! Dan mereka membuat pernyataan yang menyimpang ini sambil berdiri di bawah bendera jahiliyah nasionalis, bendera dua orang Salib, Sykes dan Picot!

Pertanyaan bagi setiap para pengikut pengklaim jihad: Mengapa para komandan Jabhah Jaulani melakukan kerja sama dengan faksi ini demi melawan Daulah Islamiyah? Apa hukum orang-orang yang masuk ke dalam ruang-ruang operasi dan kerjasama bersama dengan para faksi menyimpang ini untuk melawan Daulah Islamiyah? Apa hukum mereka yang telah bekerja sama dengan kelompongkelompok buruk ini untuk melawan Daulah Islamiyah? Mengapa kelompok ini dengan lantang membuat pernyataan publik dengan membawa slogan nasionalisme jahiliah –sejumlah pernyataannya sebenarnya juga mengandung kekufuran– dan Jabhah Jaulani terus menerus mengabaikan kesalahan ini dan tidak mencela mereka secara publik (terkadang bahkan membela mereka!), dan justru memfokuskan kampanye media mereka untuk melawan Daulah Islamiyah! Apakah kesalahan Nasionalisme sesat ini tidak sebanding dengan 'kesalahan' Daulah Islamiyah!

Terakhir, apa perbedaan haqiqi antara Harakah Hazm dan Jabhah Tsuwar Suria (Mantan sekutu Jabhah Jaulani yang dulu) dan antara Jaisy 'al Mujahidin', 'Zanki', 'Fastaqim Kama Umirtu' dan Jabhah Ashalah wa Tanmiah, dan berbagai faksi dari front-front 'Islami'? Apakah perbedaannya hanya pada panjangnya sentimeter jenggot, dan perbedaan tipis antara Mursi dan SIsi, yang kedua-duanya mengatur dengan undang-undang thaghut dan memimpin kampanye melawan mujahidin di Sinai?

Jabhah Jaulani akan mendapati akibat dari pengkhianatannya terhadap para muhajirin dan anshar Daulah Islamiyah, ini akan berakhir pada pengkhianatan Shahawat terhadap Jabhah Jaulani, dan sedikit demi sedikit hal ini telah terlihat…

Catatan kaki :

[1] Gerakan Shahawat Murtad ini telah membunuh ahlul Islam (Muhajirin dan Anshar Daulah Islamiyah yang mereka sebut sebagai' Khawarij') dan membiarkan Ahlul Awtsan (Penyembah berhala, orang-orang murtad SNC dan pemerintah interim Suriah yang mereka sebut 'Saudara').

BERJIHAD UNTUK MENEGAKKAN TAUHID, BUKAN NASIONALISME

DABIQ 8 - PENDAHULUAN


BERJIHAD UNTUK MENEGAKKAN TAUHID, BUKAN NASIONALISME

Allah ta’ala berfirman : "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah wali-wali syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (An-Nisa': 76)

Allah ta’ala juga berfirman, "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (Al-Mujadilah: 22)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa terbunuh di bawah bendera 'ashabiyah, menyeru kepada 'ashabiyah atau membela 'ashabiyah (fanatisme kelompok, suku), maka matinya adalah kematian jahiliyah.” (Hadits riwayat Muslim dari Jundub Ibn 'Abdillah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya segala perkara jahiliyah telah terkubur di bawah kakiku.” (Hadits riwayat Muslim dari Jabir Ibn 'Abdillah)

Syaikh Abu Mushab az-Zarqawi rahimahullah berkata, “Kami tidak berjihad untuk segenggam tanah atau batas khayalan yang dibuat oleh Sykes dan Picot. Begitu juga kami tidak berjihad agar thaghut Barat menggantikan posisi thaghut Arab. Sebaliknya jihad kami lebih mulia dan lebih tinggi. Kami berjihad sehingga kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan agar agama menjadi milik Allah seluruhnya. "Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan (sampai) agama, seluruhnya, untuk Allah" (Al-Anfal: 39). Setiap orang yang menentang tujuan ini atau menghalang-halangi tujuan ini adalah musuh bagi kami dan menjadi sasaran bagi pedang-pedang kami, siapapun namanya dan keturunannya. Kami memiliki agama yang diturunkan oleh Allah sebagai timbangan dan pemutus perkara. Pernyataannya tegas dan keputusannya bukan senda gurau. Inilah persaudaraan antara kami dan manusia, karena timbangan kami – dengan karunia Allah- adalah timbangan ilahi, hukum kami adalah Al Qur'an dan keputusan kami berada di atas sunnah Nabi. Muslim Amerika adalah saudara yang kami cintai. Dan orang kafir Arab adalah musuh yang kami benci walaupun kami dan dia berasal dari Rahim yang sama.” (Al-Mauqif asy-Syar'i min Hukumat Karazay al-'Iraq)

Khalifah hafizhahullah berkata, “Wahai kaum muslimin di setiap tempat, berbahagialah dan bercita-citalah yang baik, serta angkatlah kepala kalian tinggi-tinggi, karena pada hari ini kalian -dengan karunia Allah- telah memiliki Negara dan Khilafah yang akan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan kalian, serta mengembalikan hak-hak kalian dan keberkuasaan kalian, Daulah yang mempersaudarakan di dalamnya antara orang 'ajam dengan orang Arab, antara orang kulit putih dengan orang kulit hitam, antara orang timur dengan barat, kekhalifahan yang menyatukan orang Kaukasus, India, Cina, Syam, Iraq, Yaman, Mesir, Maroko, Amerika, Prancis, Jerman, dan Australia. Allah telah menyatukan di antara hati mereka sehingga dengan karunia Allah mereka menjadi bersaudara yang saling mencintai karenaNya lagi berdiri bersama di satu parit, saling membela, saling melindungi, saling menebus, darah mereka telah menyatu di bawah satu panji, satu tujuan, satu kubu, seraya menikmati lagi bersenangsenang dengan nikmat ini; nikmat ukhuwwah imaniyah yang seandainya rasa nikmatnya dirasakan oleh para raja, tentulah mereka pasti meninggalkan kekuasaan mereka dan memerangi mujahidin untuk merebutnya, maka segala puji dan syukur hanya milik Allah. Maka marilah kalian semua menuju Daulah kalian wahai kaum muslimin, ya Daulah kalian. Ayo marilah, Suriah itu bukan untuk orang-orang Suriah dan Iraq itu bukan untuk orang-orang Iraq. "Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah. Diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al A'raf: 128). Daulah ini adalah Daulah kaum muslimin, dan bumi ini adalah bumi kaum muslimin, seluruh kaum muslimin.” (Pesan Kepada Mujahidin Dan Umat Islam Di Bulan Ramadhan)

Nasionalisme, patriotisme, kesukuan, dan revolusionisme tidak pernah menjadi penggerak di hati muwahhid mujahid. Baginya kehilangan lidahnya lebih dia cintai daripada dengan rela meneriakkan slogan nasionalisme jahiliyah. Bahkan sebaliknya, bendera-bendera nasionalisme berada di bawah kakinya, karena bendera-bendera tersebut bertentangan dengan tauhid dan syari'at serta menampakkan ideologi kekufuran dan kesyirikan yang dibawa ke dunia kaum Muslim oleh dua orang salibis: Sykes dan Picot.

Di antara amalan terbesar yang dilakukan seorang muwahhid adalah penentangan terhadap nasionalisme. Sebaliknya, keislamannya tidaklah benar hingga dia mengingkari nasionalisme, karena nasionalisme menyatakan manusia itu setara tidak peduli apa agamanya, ia tidak membedakan antara mereka dengan seharusnya, ia membatasi agama dengan batas nasionalis, dan melarangnya untuk meluas lebih dari itu. Karena alasan-alasan tersebut, nasionalisme dibuat oleh Barat, karena dengannya, mereka mengangkat saudara-saudara kafir dzimmi mereka, menumbuhkan kemurtadan di negeri-negeri kaum Muslimin, memecah belah dan menaklukkan kaum Muslimin, dan mempertahankan negeri-negeri salibis dari jihad offensif.

Thaghut Fir'aun memerintah rakyatnya melalui faksionalisme (perpecahan), pendahulu dari nasionalisme.

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al-Qashash: 4)

Dan kaum Muslimin telah diwajibkan untuk memerangi siapa saja yang menghalang-halangi agama ini menjadi unggul dari semua agama-agama lainnya, bukan untuk menghentikan penyebarannya setelah mencapai batas Negara.

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (At-Taubah: 33)

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan" (Al-Anfal: 39)

Dan orang-orang kafir tidak pernah setara dengan kaum Muslimin walaupun keduanya berasal dari negeri yang sama.

"Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (Al-Qalam: 35-36)

"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" (Shad: 28)

Oleh karena itu, tauhid yang murni dan nasionalisme tidak mungkin ada bersamaan. Akhirnya, nasionalisme harus diingkari sehingga kemenangan didapatkan oleh Islam dan Ummat.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur: 55)

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang telah mendorong mujahidin Nigeria untuk memberi bai'at kepada Daulah Islam dan menyatakan perang terhadap tentara murtad Nigeria yang berperang untuk thaghut Nigeria. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong dua tentara Khilafah dari Tunisia untuk membunuh Salibis dengan visa ke Tunisia yang dikeluarkan oleh thaghut Tunisia.

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong lima tentara Khilafah dari Yaman untuk menyerang Rafidhah Yaman di Sana'a dan Sa'dah. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong tentara-tentara Daulah Islam dari Iraq, Syam, dan muhajirin untuk memerangi Shahawat Iraq dan Shahawat Suriah, setelah Shahawat-Shahawat itu meninggalkan Islam dan kaum Muslimin.

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong orang-orang Libya dan tentara-tentara muhajirin Daulah Islam untuk memerangi thawaghit Libya yang baru terbentuk: Dewan Perwakilan Rakyat dan Kongres Umum Nasional. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Daulah Islam untuk melebar dari Iraq ke Syam dan setelah itu ke negeri-negeri lain: Afrika Barat, Aljazair, Libya, Khurasan, Sinai, Yaman, dan Semenanjung Arab. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Khilafah untuk terus meluas hingga menaklukkan Konstantinopel dan Roma dari salibis dan sekutu-sekutu mereka dengan izin Allah…

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Abu Ramadhan al-Muhajir (Omar Abdel Hamid el-Hussein –semoga Allah menerimanya) –meskipun dia lahir dan besar di Denmark– untuk menyerang orang-orang Yahudi Denmark dan penghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dari Denmark sehingga dia mendapat kesyahidan di Denmark setelah menyatakan bai'at kepada Khilafah dari Denmark. Abu Ramadhan tidak membiarkan batas-batas negara dan udara menghentikannya. Ia tidak membiarkan “kewarganegaraan” yang dia ingkari untuk menghalang-halanginya dari mematuhi Rabb-nya, membela kehormatan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan membalas dendam untuk saudara-saudaranya di Khilafah.

Sebaliknya, darah dan jiwanya tidak berarti baginya untuk dikorbankan bagi agamanya dan badannya yang terus berekspansi. Dia mengumpulkan persenjataan yang dia bisa, menyelidiki target, bertawakal kepada Rabbnya, dan melaksanakan serangan yang berani dan tanpa mementingkan diri sendiri, meneror orang-orang Kristen, Yahudi, dan atheis di Denmark – bangsa kafir yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebuah anggota dari koalisi Salibis melawan Daulah Islam. Darah najis orang-orang Denmark telah ia tumpahkan dengan tangannya yang diberkahi, yang dengannya dia menjamin untuk dirinya sendiri sebuah tempat di Surga, insya' Allah. Dan dengan darah suci dan keringat tanpa kenal lelah dari orang-orang sepertinya, sejarah tertulis dan tersimpan. Dan sekarang, bukankah sudah waktunya para salibis, atheis, dan orang-orang murtad untuk menyadari bahwa Daulah Islam dan pesannya kepada dunia adalah sesuatu yang harus diperhitungkan?

Khalifah hafizhahullah berkata, “Ingatlah, hendaknya dunia mengetahui: Sesungguhnya kami hari ini berada di zaman yang baru, ingatlah hendaknya orang yang lalai dia tersadar, ingatlah hendaknya orang yang tertidur dia bangun, ingatlah hendaknya orang yang terperangah lagi tersentak dia memahami; bahwa sesungguhnya kaum muslimin pada hari ini memiliki otoritas kebijakan yang tinggi lagi menggema dan memiliki pijakan-pijakan yang kokoh. Otoritas kebijakan yang memperdengarkan kepada dunia dan memahamkan kepadanya makna irhab (teror), kaki-kaki yang menginjak hina berhala nasionalisme, dan menghancurkan patung demokrasi serta membongkar kepalsuannya.” (Pesan Kepada Mujahidin Dan Umat Islam Di Bulan Ramadhan)

Semoga Allah menerima Abu Ramadhan, mengumpulkannya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga dan menjadikannya teladan untuk diikuti ummat di mana pun…

PABRIK KEMARAHAN

DABIQ 7 - SPESIAL

PABRIK KEMARAHAN
Oleh: John Cantlie

Adalah taktik kejam pemerintah Barat yang menimbulkan tumbuhnya kemarahan yang akan meruntuhkan negara-negara Barat menjadi abu…

Hal menarik yang aku baca di The Independent pada 19 Januari adalah bahwa hampir setengah penduduk Prancis menentang penerbitan kartun yang menyerang Nabi Muhammad dan bahwa mereka meyakini harus adalah pembatasan lebih terhadap kebebasan berbicara.

Dalam sebuah polling, “42 persen responden menyatakan penentangan terhadap gambar kartun Nabi Muhammad,” kata Zachary Davies Boren dalam artikelnya. Hal ini tidak lama setelah Charlie Hebdo, yang biasanya terjual sekitar 60.000 per edisi, dicetak sebanyak tujuh juta untuk mengatasi permintaan publik setelah serangan Paris. Dan apa yang mereka taruh di sampulnya? Kartun lain dari Nabi Muhammad! Serentak, ratusan ribu Muslim di seluruh dunia meluapkan amarah di jalan-jalan sebagai bentuk protes. Dan siapa yang tahu berapa banyak lainnya yang akan merencanakan serangan lagi kepada Eropa?

Jadi sepertinya setengah dari Prancis memohon agar akal sehat dan rasa saling menghormati yang menang. Dan setengah lainnya ingin meneruskan ucapan asusila dan perilaku agresif. Ini bukan satu-satunya contoh terbelahnya opini menyusul penyerangan setelah seorang komedian ditahan oleh polisi karena memuji operasi tersebut. Jadi dengan kata lain, tidak apa-apa menyinggung Islam dengan mengolok-olok Nabi Muhammad tetapi membela Islam dengan menyatakan dukungan untuk mujahidin adalah suatu pelanggaran.

Serangan Prancis telah menyoroti tumbuhnya kemarahan Muslim di seluruh dunia kepada Eropa. Hanya tiga pemuda Muslim telah mampu membawa satu negara bertekuk lutut sementara di Timur Tengah bom-bom senilai satu milyar dollar telah dijatuhkan hanya dalam waktu tiga bulan terakhir. Namun setiap orang terkejut dan marah setelah serangan yang relatif kecil di sebuah ibukota yang terjadi sebagai akibat langsung darinya.

Kenapa kita? Kenapa di sini? Apa yang telah kita lakukan sehingga berhak mendapatkannya? Nah, ingatlah puluhan Muslim laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang terbunuh di Syria akibat bom-bom koalisi hanya di bulan Januari.

Politisi-politisi segera mendukung Islam, tentu saja, namun hanya “Islam” tipe mereka. Di Inggris, seseorang yang bernama Eric Pickles menulis sebuah surat terbuka kepada komunitas Muslim Inggris meminta bantuan untuk “mengatasi masalah radikalisasi.”

“Nilai-nilai Inggris adalah nilai-nilai Muslim,” ujarnya, sangat jelas dia tidak memahami sama sekali tentang apa yang dia ucapkan, sebelum dengan cepat menambahkan bahwa “pesan perdamaian dan persatuan” Islam membuat negara menjadi lebh baik dan lebih kuat.

Pemimpin Inggris David Cameron memotong fakta, sebagaimana yang biasa ia lakukan, dengan berkata, “Siapa saja yang, dengan terus terang, membaca surat ini, yang memiliki masalah dengannya, aku pikir dia memang memiliki masalah. Apa yang dia katakan bahwa Muslim Inggris membuat kontribusi besar kepada negara kita, itulah yang terjadi dari segi teror para ekstrimis tidak ada hubungannya dengan agama Islam yang sebenarnya. Ia telah diselewengkan oleh segolongan minoritas yang telah teradikalisasi. Terus terang, semua dari kita memiliki tanggung jawab untuk mencoba dan melawan radikalisasi ini, dan memastikan kita menghentikan pemuda-pemuda ditarik ke dalam sekte yang beracun dan gila mati yang telah diciptakan oleh orang-orang yang sangat minoritas.”

Wow.

Apa yang kita saksikan di sini adalah dua orang, politisi, dengan kekuasaan luar biasa, yang tidak memiliki sedikitpun gagasan mengenai apa yang mereka bicarakan. Mereka jelas-jelas hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam, Syari’ah, jihad, mujahidin, atau mengapa Muslim menjadi semakin marah tentang bagaimana Barat dengan arogan memaksakan prinsip dan keyakinannya di seluruh dunia.

Namun, sebagai politisi dan pemimpin, mereka memiliki podium untuk menyebarkan opini mereka dan mempengaruhi jutaan lainnya. Sampah yang sama juga kita dengar dari Obama, Hollande, Netanyahu, dan lainnya dan sekali lagi, cacian lama “Islamic State tidak Islami”. Betapa hebat Islam, kami sangat menyukai Muslim, tetapi hanya “Muslim” yang sesuai dengan definisi kami bagaimana seharusnya seorang “Muslim”, yang hampir sesuai dengan definisi pekerja demokrasi. Dan siapa saja yang tidak sesuai dengan definisi “Muslim” yang baru ini akan dianiaya.

Inilah, teman-temanku, Pabrik Kemarahan.

Pemerintah sedang menumbuhkan semakin banyak kemarahan setiap harinya dengan pandangan mereka yang semakin keras yang sama sekali tidak berhasil di dunia nyata. Mereka tidak mau berubah atau beradaptasi. Dihadapkan dengan situasi yang kompleks dan semakin berkembang yang butuh ditangani dengan cerdas atau berbeda, pemerintah Barat hanya mengulang untuk membentuk, dan menggunakan taktik polisi yang kejam atau mendukung intervensi militer ke luar negeri sedangkan respon seperti itulah yang selama beberapa dekade ini membuat situasi semakin memburuk.

Respon mereka seringkali merupakan reaksi yang keras bukannya malah berpikiran ke depan. Menyusul serangan, pemerintah Prancis merespon dengan membanjiri jalan-jalan dengan bala tentara dan tank, sebuah langkah sia-sia yang hanya akan meningkatkan tingkat kepanikan dalam masyarakatnya. Menyusul penangkapan seorang pilot Yordania oleh Daulah Islam, koalisi merespon dengan melancarkan serangan udara intensif dalam satu malam kepada kota ar-Raqqah di Suriah yang hanya akan mendorong mujahidin untuk menembak jatuh lebih banyak pesawat dan mengeksekusi lebih banyak pilot.

Hampir sama dengan politisi yang gagal melihat ledakan pertumbuhan Daulah Islam tahun lalu, mereka juga gagal mengantisipasi gelombang serangan di tanah air mereka dan sama sekali tidak mampu mengatasi situasi tersebut. Kuda telah melesat sejak dulu sedangkan pemerintah baru menutup pintu kandangnya sekarang, hal ini tidak mengherankan karena sejak awal campur tangan mereka-lah yang telah menciptakan cocktail[1] berbahaya ini.

Dan mereka tidak akan pernah mengakuinya.

Pemerintah akan dengan senang hati berbicara dengan organisasi teroris yang dekat dengan tanah air mereka jika cocok dengan mereka. Inggris bernegosiasi dengan separatis IRA dan Spanyol bernegosiasi dengan separatis ETA Basque. Tetapi saat diajak berbicara dengan kelompok Islam, kekerasan dan agresi adalah satu-satunya jawaban, dan mujahidin selalu menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar dari kelompok lokal manapun. Jadi betapa sangat jauh lebih berbahaya Khilafah Islam yang didirikan oleh pejuang-pejuang pantang menyerah itu!

Dengan mengambil jalan kekerasan, pemerintah telah menempatkan diri mereka di jalan kematian. Setiap bom yang dijatuhkan di Suriah dan Iraq menjadi alat rekrutmen untuk Daulah Islam. Ini adalah tindakan yang tidak bijaksana ketika jutaan Muslim hidup di negara-negara yang sama yang mungkin saja tidak berlambat-lambat dalam menjawab seruan jihad, dan tindakan ini tak dapat disangkal telah membawa kepada situasi yang sekarang meledak di hadapan mereka baik di rumah maupun luar negeri.

Penolakan mutlak pemerintah untuk melihat gambaran yang lebih besar dan untuk mengambil setiap tindakan perbaikan telah secara gamblang terlihat olehku di dunia kecilku.

Aku telah diperbolehkan untuk mengakses sejumlah laporan berita dan kabar Twitter berkaitan dengan situasiku, dan satu-satunya yang kuperhatikan adalah bahwa yang telah dilakukan pemerintah Inggris dalam kasusku hanyalah berkomentar tak berguna terhadap rilisan video-videoku.

“Kami memperhatikan rilisan video lain dan sedang mempelajari isinya,” kata seorang juru bicara Kantor Luar Negeri. Luar biasa. Kerja yang bagus. Keluarga dan teman-teman telah melakukan jauh lebih banyak untuk orang Inggris lainnya dan diriku yang ditahan di sini. Aku bahkan mengetahui sebuah kampanye online yang diluncurkan oleh sebagian teman-teman lamaku untuk mencoba menyampaikan kisahku di hadapan pemerintah. Terima kasih teman, aku berharap hal tersebut memiliki sedikit efek tapi sungguh, meminta tolong pada pemerintah ketika merekalah yang membuat aturan sejak awal terbukti tidak membuahkan hasil.

Karena dalam kasusku, pemerintah Inggris sangat senang untuk menonton seorang lelaki 81 tahun dari atas ranjang rumah sakit membuat sebuah film meminta pembebasanku, lalu meninggal karena tidak ingin melihat putra terkecilnya dieksekusi. Ia adalah ayahku. Mereka baik-baik saja dengan seorang ibu tiga anak membuat video meminta secara personal kepada Daulah Islam untuk “memulai kembali hubungan langsung” tanpa mereka ikut campur. Ia adalah saudara perempuanku. Dan mereka baik-baik saja dengan seorang wanita yang melakukan banyak wawancara dengan media mencoba menggalang perhatian terhadap situasi sedangkan mereka tidak berbuat sesuatupun. Ia adalah tunanganku, yang kuharapkan namun telah lama melupakanku dan berpaling.

Untuk mereka aku juga mengucapkan terima kasih, terima kasih banyak untuk usaha tanpa kenal lelah kalian. Tetapi biarlah ini terjadi. Biarlah seperti ini dan lanjutkan hidupmu, kalian semua. Apa yang dapat tersisa dari sebuah keluarga, terpukul dan lelah secara emosional setelah dua tahun pencarian, sesuai dugaan mereka harus melakukan sendiri sedangkan pemerintah, penuh dengan pejabat-pejabat cerdas, pemikir, dan lelaki berjas, duduk diam dan tidak melakukan apapun?

Dengan melakukan hal itu Cameron dan teman-temannya telah menarikku ke dalam Pabrik Kemarahan atas penderitaan yang harus ditahan oleh keluargaku atas ulah mereka. Ayahku sedikit membaik tetapi dia tidak seburuk itu ketika aku melihatnya terakhir, dan aku menganggap kurangnya dukungan politik kepada keluargaku, dan oleh karena itu pemerintah, ikut bertanggung jawab atas kematian ayahku.

Oh ya, jangan menyalah artikan ini seperti ucapan “malangnya aku.” Aku benci mengomentari diriku sendiri dan hanya menggunakan diri sendiri sebagai contoh.

Jika kau tidak sesuai masuk ke slot rapi yang dibuatkan pemerintah untukmu, maka kau telah jatuh ke jaring masyarakat biasa dan akan mendapati namamu dalam sebuah daftar atau dengan tenang diabaikan jika situasi menuntutnya. Dan ini tidak hanya politisi. Media juga sayangnya bisa sangat acuh tak acuh dalam pendekatannya. Ini masuk akal jika kau ingat bahwa mayoritas media cetak sekarang juga sayap kanan (di Inggris, the Telegraph, Times, Daily Mail, Sunday Times, dan The Sun semuanya berperang untuk Konservatif) dan sehingga semuanya disuapi dari sistem yang sama. Sangat sedikit laporan yang melihat ke gambaran yang lebih besar atau mengajukan pertanyaan seperti, “Haruskah pemerintah membantu lebih banyak?” Atau, “Dapatkah kita mencegahnya terjadi lagi?” Atau bahkan, “Apa yang bisa dilakukan untuk membantu keluarga-keluarga dalam situasi seperti ini?”

Akhir-akhir ini, dan tetap dengan situasiku sebagai contoh, mereka hanya melaporkan bahwa aku telah membuat video lain dan tampaknya hanya melakukan usaha kecil untuk menelusuri lebih dalam.

“John Cantlie, 43, memainkan peran sebagai wartawan TV di sebuah video jalan-jalan di Mosul yang tampaknya menjadi usaha bagi militan untuk menunjukkan bahwa kehidupan ‘berjalan seperti biasa’ di kota yang dikuasai ISIS di Iraq utara,” lapor Mashable pada 3 Januari.

“Bermaksud untuk menunjukkan bahwa kehidupan berjalan normal di kota Mosul yang dikontrol Jihadi, video ini diproduksi dengan gaya kisah perjalanan televisi mirip dengan yang digunakan dalam program acara liburan,” lapor The Telegraph pada 3 Januari.

“Mr Cantlie berkata bahwa dia telah menerima ‘sejak lama’ bahwa nasibnya ‘sangat mungkin’ sama dengan tawanan-tawanan lainnya,” kata the Express pada 4 Januari.

Dalam banyak laporan ada sedikit komentar atau analisis, hanya “Cantlie membuat film lain dan berbicara mengenai ini dan itu.” Luar biasa, media berpikir situasiku layak untuk dikomentari jika itu membuat orang-orang berpikir melebihi yang tampak tetapi yang pasti poin dari jurnalisme –dan ada beberapa jurnalis yang sangat bagus di luar sana– adalah selalu untuk menembus sedikit lebih dalam dari apa yang nampak di permukaan. Ancaman kematianku selalu disebut-sebut dalam artikel berita dan aku telah membaca hal yang sama berulang kali hingga aku curiga media tidak sabar menunggu eksekusiku. Aku yakin ini akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka ketika kepalaku dipotong.

Salah satu situs internet, Newsday 24/7, begitu ingin aku mati, mereka menerbitkan sebuah cerita tentangnya dalam bahasa Inggris yang buruk pada 13 Desember. “Sumber dari dalam Islamic State mengatakan kepada Newsday 24/7 bahwa jurnalis Inggris, John Cantlie telah dieksekusi oleh kelompok tersebut,” kata mereka tanpa, dengan jelas, melakukan verifikasi terhadap pernyataan yang sangat serius tersebut. Luar biasa. Aku menyarankan keluargaku untuk mencari hacker untuk menutup website tersebut karena penderitaan mereka diakibatkan laporan seperti itu.

Publik tampaknya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas dan mencoba melihat gambaran yang lebih besar. Perubahan wajah media dalam 10 tahun terakhir berarti publik tidak harus bergantung kepada media yang sama yang telah membuat mereka lelah selama bertahun-tahun, dan membuat media mereka sendiri, yang seringkali lebih cepat, selalu lebih menarik, dan terkadang lebih dapat diandalkan. Setiap hari masyarakat semakin terbuka terhadap dunia yang berkembang dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya dan kurang terpengaruh oleh campur tangan pemerintah dalam apa yang mereka baca. Dalam banyak cara, media sosial telah menjadi alat yang lebih hebat daripada media “nyata”, asalkan Anda tidak terhipnotis oleh tren menipu bahwa media sosial terkadang salah dalam menyampaikan.

Akhir-akhir ini, publiklah yang menjadi pengumpul berita dan para jurnalis membaca apa yang mereka katakan. “Apakah ISIS bermain game kucing dan tikus dengan #JohnCantlie?” tanya seorang tweeter para 3 Januari. “Bermain dan mengejek tawanan hingga mereka membunuhnya? Aku harap tidak namun khawatir iya.”

“Akun twitter ISIS tidak bisa mendapatkan cukup #JohnCantlie,” ucap tweeter lain. “Lupa bahwa dia adalah tawanan dengan pemotong leher tergantung di atas kepalanya.” Dan komentar favoritku, juga di tweet tanggal 3 Januari, “Menggelikan bagaimana seorang tahanan Islamic State terlihat lebih gembira dan lebih bebas daripada sebagian besar dari kita yang hidup di Barat!”

Menarik, hal-hal yang merangsang pikiran, masyarakat mengajukan pertanyaan sulit dan menyuarakan gagasan yang tidak dapat ditemui di media mainstream. Kebenaran dari masalah tersebut, bagi siapapun yang tertarik, adalah bahwa aku menentukan sendiri sebagian besar dari situasiku. Pada bulan September lalu aku berkata bahwa aku akan berbicara melawan pemerintah kita yang pendusta selama mujahidin mengizinkanku untuk hidup, dan sekarang di bulan Februari tetap itulah yang terjadi.

Jika mujahidin memintaku membuat video atau menulis artikel yang dengan cara tertentu ditujukan kepada sistem politik yang sama sekali tidak memperhatikan rakyatnya, walaupun tanpa henti mengatakan sebaliknya, maka aku akan menerima tawaran tersebut. Aku telah melihat puluhan video Cameron mengatakan betapa dia menghargai hidup masyarakat Inggis, namun perbuatan terkadang lebih terdengar daripada perkataan dan hal tersebut bukan yang kusaksikan terkait keluarga rakyat Inggris yang ditahan di Suriah.

Ini hal yang aneh, untuk mengungkapkan kemarahanmu yang sebenarnya kepada pemerintahmu. Bagiku ini sebuah sensasi baru, politik tidak pernah menyentuhku sebelumnya karena aku hidup bahagia di bawah radar. Aku tidak pernah ikut pemilu karena kau menyadari bahwa semua politisi, secara alami, adalah pembohong yang selalu mengatakan apa saja yang perlu dikatakan untuk meraih kekuasaan dan kemudian melakukan persis sama dengan pemimpin sebelumnya kecuali menggunakan warna dasi berbeda.

Sekarang, setelah merasakan secara langsung politisi yang dingin dan bagaimana kejamnya mereka setelah terpilih, aku menyadari betapa aku telah benar sejak awal. (2)

Walaupun menjadi tahanan, aku diperlakukan dengan hormat dan ramah, yang tidak pernah aku lihat dari pemerintahku sendiri, bisakah aku dengan rela hati kembali dan hidup di negara yang tidak mengakui warga Inggris lainnya, semua keluarganya, dan diriku sembari terus menghina?

Aku pikir tidak.

Catatan kaki :

[1] Campuran berbagai macam hal, seringkali tak terduga, berbahaya atau mengejutkan, pent.

(2) Catatan Editor: Keburukan terbesar dalam pemilu dalam sistem demokrasi bukan karena janji-janji palsu dari politisi bermuka dua, melainkan karena hal tersebut mengharuskan melekatkan hak dan sifat Allah –termasuk hak membuat hukum– kepada manusia. Oleh karenanya, ini adalah bentuk syirik akbar. “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (Asy-Syuuraa’: 21).

WAWANCARA BERSAMA ABU UMAR AL-BALJIKI

DABIQ 7 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA ABU UMAR AL-BALJIKI

Dabiq belum lama ini mendapat kesempatan untuk mewawancarai Abu ‘Umar al-Baljiki (Abdelhamid Abaaoud) – seorang mujahid yang dikejar-kejar oleh agen intelijen Barat karena jihadnya di Belgia. Setelah kedatangannya di Syam, kami mengucapkan salam kepadanya dan menyampaikan kepadanya pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

DĀBIQ: Mengapa engkau pergi ke Belgia?

ABŪ ‘UMAR: Alhamdulillah, Allah memilihku, Abu ZubaIr al-Baljiki (Khalid) dan Abu Khalid al-Baljiki (Sufyan) untuk pergi ke Eropa untuk menteror salibis yang memerangi kaum Muslimin. Seperti yang kalian ketahui, Belgia adalah salah satu anggota koalisi salibis yang menyerang kaum Muslimin di Iraq dan Syam.

DĀBIQ: Apakah ada ikhwan lain bersama kalian?

ABŪ ‘UMAR: Tidak, kami hanya bertiga. Nama kami ada di semua berita sekarang.

DĀBIQ: Apa ada kesulitan yang kalian hadapi untuk pergi ke Belgia?

ABŪ ‘UMAR: Kami menemui sejumlah ujian selama perjalanan. Kami menghabiskan berbulan-bulan untuk menemukan jalan ke Eropa, dan dengan kekuatan dari Allah, kami akhirnya berhasil sampai ke Belgia. Kemudian kami bisa mendapatkan senjata dan menyiapkan rumah perlindungan sementara kami merencanakan untuk melakukan operasi terhadap salibis. Semua ini dimudahkan kepada kami oleh Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya.

DĀBIQ: Bagaimana media kafir mendapatkan foto kalian sebagai pasukan dalam jihad?

ABŪ ‘UMAR: Seorang ikhwan mengambil rekaman video beberapa di antara kami sebelum suatu pertempuran, tetapi kameranya hilang kemudian dijual oleh seorang murtad ke jurnalis Barat. Aku segera melihat gambarku di semua media, tetapi alhamdulillah, orang-orang kafir dibutakan oleh Allah. Aku bahkan sempat dihentikan oleh seorang petugas untuk memeriksaku dan membandingkanku dengan gambar tersebut, namun dia membiarkanku pergi, seakan-akan dia tidak melihat kemiripan! Ini tidak lain adalah karunia dari Allah.

DĀBIQ: Apa yang terjadi pada hari pertempuran dengan otoritas Belgia?

ABŪ ‘UMAR: Abu Zubayr dan Abu Khalid rahimahumullah bersama-sama di rumah perlindungan dan siap dengan senjata dan peledak mereka. Orang-orang kafir menyerbu lokasi tersebut dengan lebih dari 150 pasukan dari pasukan unit khusus Prancis dan Belgia. Setelah baku tembak yang berlangsung 10 menit, kedua saudara kita dikaruniai kesyahidan, suatu yang telah mereka inginkan sejak lama. Aku memohon kepada Allah untuk menerima keduanya.

DĀBIQ: Jika engkau tidak bersama mereka saat penyerbuan berlangsung, mengapa engkau bisa menjadi tersangka?

ABŪ ‘UMAR: Intelijen tahu tentangku sebelumnya karena aku pernah ditahan oleh mereka. Setelah serangan di rumah perlindungan, mereka menemukan bahwa aku pernah bersama-sama kedua ikhwan tersebut dan bahwa kami pernah merencanakan operasi bersama-sama. Maka mereka mengumpulkan agen intelijen dari seluruh dunia –dari Eropa dan Amerika– untuk menangkapku. Mereka menahan Muslim di Yunani, Spanyol, Prancis, dan Belgia untuk menangkapku. Subhanallah, semua yang ditahan tersebut tiada seorang pun yang berhubungan dengan rencana kami! Semoga Allah membebaskan semua Muslim dari penjara salibis itu.

DĀBIQ: Ceritakan tentang perjalananmu ke Syam.

ABŪ ‘UMAR: Alhamdulillah, Allah membutakan mata mereka dan aku berhasil keluar dan datang ke Syam walaupun sedang diburu oleh agen intelijen yang sangat banyak. Semua ini membuktikan bahwa seorang Muslim tidak boleh takut pada gambaran intelijen salibis yang dilebih-lebihkan. Namaku dan fotoku ada di semua berita tetapi aku bisa tinggal di negeri mereka, merencanakan operasi terhadap mereka, dan keluar dengan selamat jika dibutuhkan. Aku memohon kepada Allah untuk menerima amal baik syuhada’ yang meneror salibis Amerika, Prancis, Kanada, Australia, Jerman, dan Belgia.

DĀBIQ: Setelah mewancarai Abu ‘Umar, kami menghadirkan wasiat akhir dari Abu Khalid dan Abu ZubaIr rahimahumullah…

WASIAT:

Dengan menyebut Nama Allah; semoga shalawat dan salam atas Rasulullah. Amma ba’du…

Wahai kaum Muslimin, wahai kalian yang mengaku sebagai umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidakkah kalian melihat agama-agama kekafiran berkumpul menghadapi kaum Muslimin sebagaimana binatang buas berkumpul untuk menyantap buruannya?

Tidakkah kalian melihat Al Qur’an diinjak-injak, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihina, dan ibu kita, ‘Aisyah, dilecehkan?

Anak-anak kita telah dikoyak dengan pengeboman di mana-mana. Kesucian saudarisaudari kita telah dilanggar. Tanah-tanah dan harta kita telah dicuri. Tapi tetap saja kalian tidak melakukan apa pun!

Bagaimana kalian hidup bersama penjahat-penjahat itu, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, sementara mereka memerangi Islam dan kaum Muslimin?

Allah berfirman, “(YAITU) ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL ORANG-ORANG KAFIR MENJADI TEMAN-TEMAN PENOLONG DENGAN MENINGGALKAN ORANG-ORANG MUKMIN. APAKAH MEREKA MENCARI KEKUATAN DI SISI ORANG KAFIR ITU? MAKA SESUNGGUHNYA SEMUA KEKUATAN KEPUNYAAN ALLAH.” (AN-NISĀ’: 139).

Ketahuilah bahwa orang-orang kafir tidak akan ridha kepada kalian.

Allah berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).

Dia juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 149).

Keluarlah untuk berjihad dan membela Islam di manapun kalian berada.

Allah berfirman, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.“ (An-Nisaa’: 75).

Di mana rasa cemburu kalian terhadap agama kalian? Kalian akan diadili oleh Allah atas diamnya kalian.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38).

Berhati-hatilah dari mereka yang diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ulama’, imam, dan da’i jahat yang menyesatkan Ummah dan menukar kebenaran dengan kesesatan. Mereka merusak Islam untuk menidurkan kaum Muslimin. Mereka hanya melayani pemerintah-pemerintah murtad, budak-budak Yahudi dan Nashrani.

Akhirnya, ingatlah akan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ma’idah: 54).

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

DABIQ 7 - SPESIAL

TELADAN BAIK DARI ABU BASHIR AL-IFRIQI

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan untuk zaman kesengsaraan kita seorang laki-laki dengan rasa cemburu (ghirah) untuk agama Allah. Mereka meninggalkan dunia untuk akhirat dengan keyakinan akan ganjaran yang telah Allah siapkan bagi mereka yang membunuh musuh-musuh-Nya. Suatu keharusan bagi seseorang yang menapaki jalan Islam kemudian jihad untuk mengetahui bahwa jalan ini sangat panjang dan bahwa dia membutuhkan perbekalan untuk meneguhkannya dan memupuk keyakinannya terhadap jalan yang akan berujung di Surga, insyaa’Allah. Perbekalan ini adalah dengan istiqomah dalam beribadah kepada Allah, membaca kitab-Nya, shalat sunnah, sedekah, dzikrullah, dan mencari ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah. Sifat-sifat tersebut ada pada shabahat dari Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang salah seorang Salaf, al-Auza’i –yang wafat saat ribath di dekat Beirut di tahun 150 H– katakan, “Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas lima perkara: berpegang kepada Jama’ah, mengikuti Sunnah, mendatangi masjid, membaca Al Qur’an, dan berjihad fi sabilillah” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah).

Dan sifat-sifat tersebut juga ada pada saudara kita Abu Bashir (Amedy Coulibaly – rahimahullah), seorang ikhwan yang dekat dengannya yang belum lama ini berhijrah ke Syam menceritakan kepada kita sebagaimana berikut ini…

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKARNYA

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104).

Di rumahnya, di antara keluarganya, dengan sesama Muslim, di jalanan, jika dia melihat sebuah kemungkaran, dia tidak akan membiarkannya, sebaliknya –dengan bijaksana dan kerendahan hati– dia akan memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah keburukan.

DAKWAHNYA

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”.“ (Fussilat: 33).

Dia mengajak banyak orang kepada Allah, terutama saat dia di penjara. Dia bertemu seseorang di penjara yang aslinya Muslim tetapi membenci agama dan segala sesuatu tentangnya, sampai-sampai orang ini melarang istrinya untuk berhijab dan melarang saudaranya pulang dari belajar bahasa Arab. Di penjara, lelaki ini bertemu Abu Bashir dan bersamanya selama 2-3 bulan. Setelah itu, dia melaksanakan semua shalat pada waktunya, qiyamul lail (tahajud) setiap malam, dan membaca Al Qur’an setiap hari. Dia memerintahkan istrinya berhijab dan menjual rumah yang telah dibelinya dengan pinjaman yang sangat tinggi sehingga terhindar dari yang haram. Kisah ini adalah salah satu dari lusinan kisah-kisah sesungguhnya. Mereka yang pernah bertemu Abu Bashir akan menangis atas kesyahidannya. Dia juga mengajak orang yang dia percaya untuk melaksanakan perintah Allah untuk berbai’at kepada Amirul-Mu’minin Abu Bakar al-Baghdadi.

DZIKIRNYA

Yahya ‘alaihis salam berkata, “Dan aku memerintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah Allah karena permisalan orang yang berzikir seperti orang yang dikejar oleh musuh dengan cepat hingga ketika ia mendatangi sebuah benteng yang kokoh ia berlindung di dalamnya dari kejaran musuh. Demikian pula seorang hamba, ia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan berzikir kepada Allah.” (Shahih: riwayat at-Tirmidzi dan lainnya).

Dia tidak meninggalkan dzikir pagi dan petang, baik di dalam mobil, di rumah, atau di manapun. Dia banyak membaca Al Qur’an. Dzikir terbaik adalah membaca firman-Nya subhanah –ayat-ayat yang Dia wahyukan kepada Nabi-Nya shallalllahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits, “Engkau tidak kembali kepada Allah dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang Dia tinggalkan (untuk kalian).” (Shahih: diriwayatkan al-Hakim).

MENGIKUTI DALIL

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al-A’raaf: 3).

Ikhwan kita ini tidak akan menerima masalah apa pun tanpa dalil. Dia akan berjuang untuk memeriksa setiap masalah tidak peduli siapa yang mengatakannya. Jika dalil sampai kepadanya, dia akan segera tunduk kepada aturan Allah sesuai dengan ayat, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nuur: 51).

Betapa banyak mereka yang taqlid buta kepada ulama’ jahat, imam sesat, dan da’I (penyeru) kepada pintu-pintu neraka! Mereka mendahulukan pendapat “ulama” tersebut atas perkataan Allah dan perkataan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kebenaran telah jelas berkaitan dengan tauhid, dan wala’ wal bara’ – millah Ibrahim ‘alaihis salam. Kebenaran juga jelas berkaitan dengan hijrah dari Darul Kufri ke Darul Islam. Kebenaran juga jelas mengenai bai’at kepada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dan jihad melawan Yahudi, Nashrani, Rafidhah, dan pengusung demokrasi. Tidak ada yang mendahulukan perkataan seorang ulama atas perintah dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam selain mereka yang dijelaskan dalam firman Allah, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahibrahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (At-Taubah: 31).

KEHAUSAN MENUNTUT ILMU

Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, Dia akan memberikan pemahaman dalam urusan agamanya.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Dia selalu menanyakan banyak persoalan berkaitan hukum-hukum fiqh dan meneliti permasalahan tersebut sendiri. Allah memberinya pemahaman yang dengannya dia mampu membandingkan beberapa permasalahan dan menyimpulkan hokum-hukum berbeda yang disebabkan suatu aturan. Abu Bashir sangat pandai dalam perkara ini.

PUASANYA

Dia berpuasa Senin dan Kamis sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan diangkat kepada Allah pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku diangkat sedangkan aku sedang berpuasa.” (Diriwayatkan at-Tirmidzi).

SHALAT MALAMNYA

Dia shalat qiyamul lail (tahajud) sesuai firman Allah, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.” (As-Sajdah: 16).

SIKAP KERASNYA KEPADA ORANG KAFIR DAN KELEMBUTANNYA KEPADA ORANG BERIMAN

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29).

Setiap orang yang mengenalnya mencintainya karena sifatnya yang baik dan kelembutannya kepada orang-orang yang beriman. Jika dia merasa telah berbuat salah kepada seseorang, dia akan meminta maaf. Dia akan mengorbankan haknya jika dia memiliki keragu-raguan kecil berkaitan dengan harta seorang Muslim. Tidak ada yang meragukan keberaniannya. Dia adalah singa; perbuatannya memberi kesaksian atasnya. Dia menunjukkan kekuatannya kepada orang-orang kafir.

KEMURAHAN HATINYA

“BERANGKATLAH KAMU BAIK DALAM KEADAAN MERASA RINGAN MAUPUN BERAT, DAN BERJIHADLAH KAMU DENGAN HARTA DAN DIRIMU DI JALAN ALLAH. YANG DEMIKIAN ITU ADALAH LEBIH BAIK BAGIMU, JIKA KAMU MENGETAHUI.” (AT-TAUBAH: 41) .

Dia banyak bersedekah kepada orang-orang miskin, akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara), dan mujahidin. Sebagai contohnya ketika dia melihat kondisi finansial yang sulit dari dua mujahid Cherif dan Said Kouachi, dia memberinya beberapa ribu euro sehingga mereka dapat membeli apa yang mereka perlukan untuk operasi, setelah bersama-sama mengkoordinasi waktu untuk operasi berbeda mereka. Dia banyak memberikan perhatian untuk menolong akhwat (istri-istri mujahidin yang dipenjara). Dia tidak bisa melihat masjid-masjid tertutup sedangkan akhwat tersebut tidak memiliki rumah. Dia akan menawarkan uang dan rumahnya sebagai solusi.

RASA CEMBURUNYA KEPADA AGAMA

Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, aku akan menebasnya dengan pedangku.” Hal ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berkata, “Apakah kalian heran dengan rasa cemburu Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Abu Bashir menjadi sangat sedih setiap kali dia melihat agama Islam atau kaum Muslim dilanggar. Dia ingin untuk merubah keburukan tersebut. Semoga Allah menerimanya di antara para syuhada’ dan memberikan rahmat atasnya.

KEPUNAHAN ZONA ABU-ABU

DABIQ 7 – FEATURE

KEPUNAHAN ZONA ABU-ABU

ZONA ABU-ABU HAMPIR PUNAH

Zona abu-abu sangat terancam punah, bahkan berada di ambang kepunahan. Kelangkaannya dimulai ketika operasi 11 September yang diberkahi, karena operasi tersebut mewujudkan dua kubu untuk dipilih manusia, satu kubu adalah Islam – tanpa ada tubuh Khilafah pada saat itu – dan satu kubu kekafiran – koalisi salibis. Atau ketika Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah berkata, “Dunia sekarang terbagi menjadi dua kubu. Bush telah berkata benar ketika dia berkata, ‘Antara kalian bersama kami atau kalian bersama teroris.’ Artinya, antara kalian bersama salibis atau kalian bersama Islam” (Wawancara – 4 Sya’ban 1422 H).(1)

Operasi tersebut dengan cepat menunjukkan gerakan “Islami” berbeda-beda yang menyimpang, “ulama” istana, dan “du’at” sesat, belum lagi thawaghit (2) murtad, ketika mereka semua bergegas melayani pasukan salibis yang dipimpin oleh Bush dalam peperangan melawan Islam. Dan kemudian, zona abu-abu mulai melayu...

Namun semangat berapi-api dari ummat Muslim yang terpecah mulai mendingin karena kejadian samar-samar yang dikenal sebagai “Musim Semi Arab” dan juga ketiadaan badan yang mewakili Islam (Khilafah). Kaum Muslimin melihat bahwa gerakan-gerakan, ulama, du’at, sekte-sekte yang disebutkan sebelumnya, dan bahkan thawaghit (3) murtad ikut berperan dalam “mendukung” penyebab tertekannya kaum Muslimin di Syam. Maka kebingungan menyebar, dan layunya zona abu-abu melambat atau hampir berhenti. Sekali lagi, seruan sesat ke pintu-pintu Jahannam –agama thawaghit– dijawab oleh banyak orang-orang bodoh.

Kemudian datanglah pengumuman ekspansi Daulah Islam ke Syam yang diikuti pengumuman Khilafah setelahnya… membawa zona abu-abu ke ambang kepunahan permanen… dengan menghidupkan kembali tubuh besar umat Islam dan karena itu tidak ada kaum Muslimin yang memiliki alasan untuk berdiri sendiri dari Khilafah yang menaungi mereka dan melaksakan jihad untuk kepentingan mereka melawan kekufuran. Sekarang, sikap “netral” atau “independen” akan membawa malapetaka baginya 4 , karena ia termasuk dosa besar, yang akan menyebabkan dia untuk melakukan dosa yang lebih besar hingga dia bisa jadi melakukan kekufuran demi kepentingan dosanya, sebagaimana dikatakan para ulama, “Balasan suatu dosa adalah dosa yang lain,” dan “Dosa adalah gerbang kekufuran” (Al-Jawab al-Kafi – Ibnul-Qayim).

Kehancuran zona abu-abu sebanding dengan pembagian yang diakibatkan risalah Islam ketika ia pertama kali disampaikan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana para malaikat berkata ketika mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan beliau sedang tertidur, “Muhammad adalah pececah belah” dan dalam riwayat lain “Muhammad memecah belah di antara manusia” (Shahih al-Bukhari).

Karena alasan ini, orang-orang musyrik memperingatkan orang-orang Arab tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengatakan, “Kalian telah datang ke negeri kami. Permasalah lelaki ini di antara kami sudah sedemikian besar. Dia telah memecah belah kesatuan kami dan mencerai-beraikan kekuatan kami. Perkataannya seperti tukang sihir. Dia memisahkan seseorang dari bapaknya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya. Kami khawatirkan atas kamu dan orang-orangmu apa yang telah dia bawa kepada kami. Oleh karena itu jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan satu berkata dari kata pun darinya" (Ibnu Hisyam). Mereka juga berkata, “Dia memecah belah antara seseorang dengan agamanya… seseorang dengan kabilahnya” (Ibnu Hisyam). dan “Dia memutuskan hubungan di antara kami” (Ibnu Hisyam).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dengan al-Furqan (Al-Qur’an, pembeda antara kebenaran dan kesesatan) yang dengannya beliau membagi manusia menjadi dua golongan – Muslim versus musyrikin – yang kemudian akan berperang satu sama lain pada hari al-Furqan (Perang Badr), di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih musuh-musuh beliau dengan pedang beliau. Dan ketika sebuah zona abu-abu terbentuk dan sebuah “masjid” didirikan untuknya, Allah ta’ala menurunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam al-Fadihah (Yang Menyingkap, Surat at-Taubah) yang dengannya mereka yang abu-abu tersingkap sekaligus “masjid” mereka berbahaya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi untuk menghancurkan “masjid” sekaligus untuk menghindarkan umat dari gerakan abu-abu yang berbahaya, sebab zona abu-abu adalah tempat persembunyian orang-orang munafik, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya” (An-Nisaa’: 142-143).

Dan pedang juga diturunkan untuk digunakan kepada orang-orang munafik abu-abu jika mereka terang-terangan menampakkan kemunafikannya. “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya” (At-Taubah: 73).

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah” (Al-Ahzab: 60-62).

Oleh karenanya, orang-orang munafik mengubur kepala mereka di pasir, khawatir akan tersingkap… Mereka tetap demikian hingga perang riddah, ketika sebagian besar orang-orang Arab murtad dari Islam. Kemudian orang-orang munafik muncul dan segera bergabung dengan kubu kesesatan, sehingga pedang kepada orang-orang munafik –Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu– mengambil pendiriannya yang terkenal dan memaksa mereka untuk kembali kepada Islam dengan pedangnya. Sekali lagi, orang-orang munafik menyembunyikan diri mereka hingga fitnah menghantam umat, termasuk kematian alFaruq ‘Umar, Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum… fitnah yang melahirkan sekte-sekte dan kelompok-kelompok sesat, yang kemudian menyediakan topeng bagi orang-orang munafik yang susah-payah mencari zona abu-abu lain untuk beroperasi. Dan kemudian, orang-orang munafik mulai berani berbicara terbuka, sebagaimana Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya, orang-orang munafik hari ini lebih buruk daripada yang ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; mereka dulu menyembunyikan kemunafikan mereka, sedangkan hari ini, mereka terang-terangan menyatakannya” (Al-Bukhari).

Dan sebagaimana risalah Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi jahiliyah dahulu menjadi dua kubu, Daulah Islam –dengan ekspansinya ke Syam– membagi faksi-faksi berbeda di Syam termasuk mereka yang memiliki tujuan-tujuan jahiliyah dan ‘ummi (buta) (6). Mantan Menteri Perang Daulah Islam Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah ditanya, “Sebagian orang menuduhmu menjadi penyebab misi Shahawat, bagaimana untuk mengoreksi klaim ini?”

Beliau menjawab: “Kami sebelumnya telah menegaskan bahwa penyebab sesungguhnya dari misi Shahawat adalah Daulah Islam. Inilah yang mulai tampak pada saat itu, karena setelah pengumuman Daulah, misi Islami berbenturan dengan misi nasionalosme yang diadopsi oleh hampir semua corak warna di Iraq, dan inilah yang telah dinyatakan secara terbuka lagi terang-terangan oleh semua Jabhah Ad-Dhirar (Front Perusak). Tidak aneh jika semua dewan-dewan berbeda tersebut dibentuk setelah pengumuman Daulah Islam karena mereka sebenarnya dibentuk hanya untuk melancarkan peperangan terhadapnya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.” “Sesungguhnya, dendam dan kedengkian para pembawa bendera Alu Salul (Sururiyah) terbakar setelah kehilangan potongan kue mereka, setelah harapan mereka akan hukum nasionalisme dihancurkan, dan setelah mereka menyadari kami akan menumpahkan darah kami dan mengoyak jasad-jasad kami dengan murah sehingga tidak mengizinkan buah dari jihad untuk terbuang sia-sia dan sehingga Iraq tidak akan diatur lagi kecuali dengan Syari’at ar-Rahman. Dan karena realitas dari musuh-musuh mereka (faksi-faksi Sururi) adalah kebohongan terutama setelah orang-orang jujur di barisan mereka bergabung dengan kami, satu-satunya pilihan mereka adalah untuk berdiri bersama penjajah melawan Daulah Islam karena misi nasionalisme –yang mereka berdebat, mengumpulkan bantuan, dan bersatu untuknya– adalah misi yang sama dengan penjajah. Satu-satunya jalan adalah dengan menjadi agen mereka, dan inilah yang telah mereka tawarkan sebelumnya tanpa imbalan apaapa dari penjajah kecuali beberapa dirham dan rasa aman, yang mulai dicabut oleh penjajah dan sekutu-sekutu mereka” (Wawancara Perdana).

Faksi-faksi berbeda di Syam –sebagaimana yang terjadi di Iraq– mulai berpisah menjadi dua kubu: Daulah Islam versus Shahawat yang didukung oleh pasukan salibis, rezim murtad, dan gerakan-gerakan menyimpang… dan mereka yang mencoba mempertahankan zona abu-abu untuk kepentingan kelompok yang berbeda-beda mendapati zona abu-abu memudar dengan cepat di hadapan mereka, ketika prajurit-prajurit mereka yang jujur meninggalkan mereka dan bergabung dengan Daulah Islam sementara prajurit-prajurit mereka yang berpenyakit hatinya berbondong-bondong bergabung dengan faksi-faksi Shahawat. Pembagian ini cepat tersebar ke negeri-negeri berbeda, ketika mujahidin mujahidin yang jujur melihat para pemimpinnya dahulu khawatir kehilangan kekuasan dan pengaruhnya bersegera menghidupkan kembali zona abu-abu dengan sia-sia, walaupun hal tersebut mengharuskannya mendukung keinginan orang-orang sekuler, nasionalis, dan kelompokkelompok sesat untuk memerangi Daulah Islam untuk kepentingan salibis dan rezim murtad Arab. Zona abu-abu –bagi para pemimpin tersebut– adalah tempat untuk meneruskan keberadaan mereka sebagai kelompok independen sehingga mempertahankan kekuasaan mereka sendiri. Penegakan Khilafah akhirnya mendorong mujahidin yang jujur untuk meninggalkan para pemimpin mereka dahulu, yang terlalu sibuk mengubur diri mereka hidup-hidup dalam tumpukan sampah sejarah.

Kebangkitan Khilafah memberi setiap individu Muslim entitas yang konkrit dan jelas untuk memuaskan keinginan alami mereka untuk bergabung dengan sesuatu yang lebih besar. Kepuasan akan keinginan ini menghidupkan kembali semangat terpendam di dalam hati-hati kaum Muslimin dan ketika entitas yang memanyungi mereka diancam oleh salibis, serangan-serangan segera dilancarkan oleh kaum Muslimin yang bersemangat di negara-negara kafir dengan cara yang unik berbeda dari semua serangan sebelumnya. Bertahun-tahun, organisasi-organisasi jihad yang berbeda telah menyeru pelaksanaan serangan individu terhadap tanah air salibis, namun seruan mereka hanya mendapat respon sedikit.

Setelah kebangkitan Khilafah, banyak serangan dilancarkan dalam selang waktu hanya beberapa bulan. Ini adalah sesuatu yang harus dipikirkan mendalam oleh para salibis… Eropa telah dipukul dengan serangan yang membunuh lebih banyak orang kafir daripada yang terbunuh di serangan Paris belum lama ini. Operasi Madrid tahun 2004 dan operasi London tahun 2005 secara bersama-sama membunuh lebih dari 200 salibis dan melukai lebih dari 2000 lainnya. Eropa juga menyaksikan sebuah serangan terhadap “kebebasan berbicara” ketika seorang mujahid membunuh Theo Van Gogh karena menghina Allah ta’ala, ayat-ayat-Nya, agamaNya, dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu mengapa reaksi dari serangan-serangan belum lama ini jauh lebih besar daripada serangan-serangan sebelumnya?

Ini adalah atmosfer internasional dari teror yang dihasilkan dengan keberadaan Khilafah Islam… Ini adalah kalimat yang hidup yang terkandung dalam seruan Khilafah. Ketika juru bicara Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani asy-Syami hafizhahullah memberi seruan kepada setiap Muslim di mana pun, memerintahkan mereka untuk melaksanakan serangan terhadap salibis di manapun mereka ditemui, seruan ini dijawab dengan segera, dengan operasi individu yang berbeda dilakukan dalam beberapa jam…

Dan di antara mereka yang menjawab seruan belum lama ini adalah seorang mujahid berani Abu Basir al-Ifriqi (Amedy Coulibaly rahimahullah). Adalah pidato "Sesungguhnya Rabbmu Benar-Benar Mengintai" yang paling memotivasinya. Dia telah berbai'at kepada Khilafah sebelumnya –segera setelah pengumumannya– dan duduk menunggu perintah dari pemimpin-pemimpinnya, sementara tidak pernah berpergian ke Iraq maupun Syam. Yang menginspirasi jiwanya adalah entitas Islam yang hidup dan bernafas, yang mana dia telah berjanji setia kepadanya. Dia bertemu dengan Muslim dan mujahidin di Prancis, mengajak mereka untuk berbai’at dan membela Khilafah, serta membantah keragu-raguan terhadapnya. Dia menyediakan untuk lainnya –termasuk dua mujahid bersaudara, Cherif dan Said Kouachi rahimahumullah– dengan uang dan senjata sehingga mampu memenuhi panggilan jihad di bawah bendera Khilafah.

Dan kemudian, telah tiba saat untuk kejadian lain –diperbesar dengan keberadaan Khilafah pada fase global– untuk membagi dunia lebih jauh dan menghancurkan zona abu-abu di mana pun.

KEWAJIBAN MEMBUNUH PARA PENGHINA RASUL

Salah satu masalah pertama yang disangkal oleh orang-orang munafik yang meninggalkan zona abu-abu dan melarikan diri ke kubu kemurtadan dan kekafiran setelah operasi di Paris adalah kewajiban yang sangat jelas untuk membunuh mereka yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara Salaf bahwa jika seorang kafir dzimmi menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, perjanjiannya menjadi batal dan dia harus dibunuh. Maka betapa jauh lebih jelas kewajiban untuk membunuh kafir yang tidak terikat perjanjian yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dari darul harby!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dalil-dalil akan batalnya perjanjian dengan dzimmi jika dia menghina Allah, kitab-Nya, agama-Nya, Rasul-Nya, dan kewajiban untuk membunuhnya dan membunuh kaum Muslimin yang melakukan hal yang sama adalah: Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ para Shahabat dan Tabi’in, dan qiyas” (Ash-Sharim al-Maslul).

Di antara dalil akan hukum ini adalah firman Allah ta’ala, “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti” (At-Taubah: 12).

Banyak sekali hadits juga menjadi dalil atas hukum ini, termasuk kisah thaghut Yahudi Ka’ab ibn al-Ashraf. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang bersedia membunuh Ka’ab ibn Ashraf karena dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya?” Muhammad ibn Maslamah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bersedia membunuhnya, wahai Rasulullah. Apakah engkau ingin aku membunuhnya?" Beliau menjawab, "Ya" (Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengutus Abdullah bin ‘Atik radhiyallahu ‘anhu dengan sekelompok Anshar untuk membunuh seorang Yahudi bernama Abu Rafi karena dia telah menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu ‘Atik berhasil melaksanakan tugas tersebut (Al-Bukhari).

Selama penaklukan Makkah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keamanan bagi siapa pun yang memasuki Masjidil Haram (Hasan: Abu Dawud), tetapi beliau memerintahkan untuk membunuh Ibnu Khatal walaupun dia didapati bergelantungan di tirai Ka’bah (Al-Bukhari dan Muslim), karena caciannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (Ibnu Hisyam).

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang wanita Yahudi mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan merendahkan beliau. Maka seorang laki-laki mencekik lehernya hingga mati. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghukumi darahnya (wanita Yahudi) telah ditumbahkan dengan sah (Shahih: Abu Dawud).

Ibnu ‘Abbas juga meriwayatkan bahwa seorang lelaki buta yang memiliki budak perempuan yang darinya dia memiliki dua anak. Dia sering mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak mau menghentikannya walau dia sudah melarangnya, maka lelaki itu membunuhnya dengan pedang kecil yang ia letakkan di perut budak wanita tadi lalu menindihnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghukumi darahnya telah ditumpahkan dengan sah (Shahih: Abu Dawud).

Dalil-dalil permasalahan ini sangat banyak dan jelas, akan tetapi sebagian orang-orang murtad, yang meninggalkan zona abu-abu, mengklaim bahwa operasi di Paris bertentangan dengan ajaran Islam! Mereka kemudian mengumpulkan massa massa untuk berunjuk rasa di bawah spanduk bertuliskan “Je Suis Charlie (Aku adalah Charlie),” menggiring mereka menuju pintu-pintu Jahannam yang dipersiapkan untuk orang-orang murtad…

DI MANAKAH PENERUS ASH-SHIDDIQ UNTUK MENGHADAPI KEMURTADAN INI?

Allah ta’ala berfirman : Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (QS. An-Nisaa: 140)

Syaikh Sulaiman Alu Asy-Syaikh rahimahullah berkata, “Makna ayat tersebut jelas. Maknanya bahwa jika seseorang mendengar ayat-ayat Allah ditolak dan dihina dan duduk-duduk dengan orang-orang kafir yang menghina tanpa paksaan, tanpa melarang mereka, dan tanpa bangkit dan beranjak sampai mereka beralih ke pembicaraan lain, maka dia kafir seperti mereka walaupun dia tidak berbuat yang sama dengan mereka, karena tetap duduknya dia bersama mereka berarti menyetujui kekafiran mereka. Dan persetujuan terhadap kekafiran adalah kekafiran” (Ad-Durar as-Saniyah).

Jika saja duduk diam bersama orang-orang kafir dalam perkumpulan kekafiran adalah kekafiran, betapa jauh lebih kafir mereka yang berunjuk rasa di pihak surat kabar yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau mengangkat spanduk dan slogan bertuliskan “Je Suis Charlie” bersama mereka? Tiada keraguan bahwa perbuatan tersebut adalah kemurtadan, bahwa mereka yang terang-terangan mengajak kepadanya dengan nama Islam dan ilmu adalah du’at (penyeru) kepada kemurtadan, dan ada pahala besar yang menanti Muslim di hari akhir jika dia membunuh imam-imam kemurtadan tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): 'Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu mereka adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka” (Muhammad: 25-28).

Ayat ini menjelaskan kondisi seseorang yang berkata bahwa dia tidak akan menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi dia hanya mengikuti unjuk rasa yang dilakukan oleh salibis untuk menentang mujahidin, untuk “solidaritas” dengan para penghina. Dia menaati orang-orang kafir “dalam sebagian masalah” - sebagian yang tetap berupa kekafiran - sehingga dia murtad.

Dan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah dilarang untuk shalat di “masjid” yang dibangun oleh orang-orang munafik abu-abu dan telah menghancurkannya karena secara sembunyi-sembunyi didirikan untuk kekafiran dan fitnah, betapa jauh lebih wajib meninggalkan “masjid” yang secara terang-terangan meninggikan slogan "Je Suis Charlie" di dinding-dindingnya dan "imam-imam"-nya membela konsep sesat “kebebasan berbicara” untuk membela surat kabar setan?!

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang- orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan asul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: ami tidak menghendaki selain kebaikan. Dan Allah menjadi pendusta itu menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selamalamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang alim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 108-110).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pedang terhadap orang-orang musyrik, dan shahabat terbesar beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, adalah pedang terhadap orang-orang murtad. Di manakah pedang ini sekarang untuk menebas leher-leher para imam kemurtadan tersebut sekaligus untuk mencegah mereka dari kekafiran dan kezindiqan. Jika salah seorang dari mereka dibunuh, hal ini akan mencegah sebagian dari mereka dan sebagian dari pengikut mereka dari meneruskan iring-iringan ke nereka. Tidak adakah seorang Muslim, yang dicintai Allah dan mencintai Allah, yang siap berjihad dan menumpahkan darah penyeru-penyeru kesesatan tersebut?

Sekali lagi, pengumuman Khilafah mengawali kejadian-kejadian di Eropa yang semakin menghancurkan zona abu-abu, karena banyak Muslim hidup di Eropa dan Amerika membenarkan tinggalnya mereka di antara orang-orang kafir dengan kenyataan bahwa negeri-negeri kaum Muslimin berada di bawah pemerintahan thawaghit murtad. Sekarang, dengan keberadaan Daulah Islam, kesempatan untuk berhijrah dari darul kufri ke darul Islam dan berjihad melawan salibis, Nushairiyah, Rafidhah, dan rezim murtad dan tentara-tentaranya, terbuka lebar bagi setiap Muslim sekaligus kesempatan untuk hidup di bawah naungan Syari’at semata.

Keberadaan Khilafah juga memperbesar pengaruh politik, sosial, ekonomi, dan emosional dari setiap operasi yang dilancarkan mujahidin terhadap salibis yang marah. Peningkatan pengaruh ini memaksa salibis secara aktif menghancurkan zona abu-abu, zona yang mana banyak orang-orang munafik dan pembuat bid’ah sesat yang hidup di Barat untuk bersembunyi.

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).

Kaum Muslimin di Barat segera mendapati mereka berada di antara dua pilihan, antara mereka murtad dan mengadopsi agama kafir yang dipropagandakan oleh Bush, Obama, Blair, Cameron, Sarkozy, dan Hollande atas nama Islam sehingga dapat hidup di antara orang-orang kafir tanpa kesulitan, atau mereka berhijrah ke Daulah Islam sehingga terlepas dari penganiayaan pemerintah dan rakyat salibis.

HIZBIYIN DAN ZONA ABU-ABU

Zona abu-abu adalah tempat yang disukai oleh orang-orang munafik yang sifat-sifat dan maksud tersembunyi mereka telah disingkap oleh Allah ta’ala di kitab-Nya dan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Sunnahnya. Ayat-ayat tersebut diturunkan sehingga kaum Muslimin dapat berhati-hati terhadap orang-orang munafik dan bertindak jika dibutuhkan dengan menghunuskan pedang kepada orang-orang munafik, jika mereka terang-terangan menampakkan kemunafikan mereka. Sayangnya, mereka yang telah membentuk kelompok dengan tujuan sah untuk berjihad fie sabilillah segera mendapati diri mereka di dalam dilema setelah Muslimin Khilafah ditegakkan. Dunia sekarang semakin terbagi antara Khilafah di satu sisi dan salibis dengan agen-agen murtad mereka di sisi lain. Jika kelompok-kelompok jihad itu mengakui badan besar yang mewakili Islam ini –Khilafah– maka mereka akan membatalkan keabsahan kelompok mereka sendiri, sehingga akan kehilangan kekuasaan dan pengaruh pribadi, termasuk kemampuan untuk mempropagandakan bid’ah, dalam kasus pemimpin-pemimpin tersebut dibutakan oleh irja’. Mereka juga menyadari bahwa banyak kelompok dan individu dari umat yang terpecah ini terpengaruh oleh pemimpin-pemimpin zona abu-abu –“ulama” istana, “du’at” menyimpang, dan pemimpin sekte-sekte (9) dan gerakan-gerakan menyimpang– semuanya mengaku berjuang untuk Islam. Kelompok jihadi mendapati diri mereka dalam dilema lain. Jika mereka membatalkan keabsahan zona abu-abu, mereka juga akan membatalkan keilmuan dari “ulama-ulama” terebut yang mewakili “ummat”! Dan mereka tidak memiliki keberanian untuk melakukannya dan tidak bisa menghilangkan kekhawatiran mereka akan kehilangan kekuasaan, maka mereka menolak konsep zona abu-abu dan berupaya untuk membuktikan kejujuran dari orang-orang munafik… sebuah misi yang ditakdirkan untuk gagal dan dilakukan hanya untuk kepentingan kelompok.

Pengikut buta mereka –pengklaim jihad di Syam– mencoba hal yang sama sebelum konspirasi Shahawat dengan menghidupkan kembali keyakinan-keyakinan berbeda dari Murji’ah – terutama sekte Karramiyah, yang meniadakan kemunafikan. Ulama Salaf, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Perbedaan antara kita dan Murji’ah adalah tiga perkara. Kita berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, sedangkan mereka mengatakan ia adalah perkataan tanpa perbuatan. Kita berkata bahwa iman bisa meningkat dan menurun, sedangkan mereka berkata ia tidak meningkat maupun menurun. Kita berkata bahwa kemurtadan itu ada, sedangkan mereka berkata tidak ada kemurtadan" (Sifat an- Nifaq – al-Firyabi).

Walaupun pengklaim jihad mengetahui adanya kemurtadan, secara hipotesis, mereka tidak mematuhi praktek dari hukum-hukum syar’i terhadap orang-orang murtad… Sebaliknya, mereka bersikeras bahwa mereka harus diperlakukan sama persis dengan orang-orang beriman yang tidak menampakkan sifat-sifat kemunafikan. Dan ketika orang-orang munafik tenggelam dalam persangkaan yang paling gelap, para pengklaim jihad bersikeras dalam menguntungkan mereka dengan syubhat-syubhat. Dan ketika kegelapan kekafiran ditampakkan secara terang-terangan dalam perkataan dan perbuatan orang-orang munafik, pengklaim jihad mencari-cari alasan untuk membenarkan perkataan orang-orang munafik, hanya untuk mempertahankan zona abu-abu yang melayu, sehingga membenarkan keberadaan mereka sebagai sebuah entitas yang independen dari Daulah Islam.

Di antara sifat-sifat kemunafikan paling penting yang diabaikan oleh para pengklaim jihad adalah bahwa orang-orang munafik (1) bergegas kepada orang-orang kafir untuk mendapat kekuasaan sementara, (2) khawatir akan malapetaka, (3) berjanji untuk menaati orang-orang kafir “di sebagian perkara,” (4) dan berbicara dengan nada bermuka dua. “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (An-Nisaa': 138-139)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (Al-Ma’idah: 51-52). (10)

“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Muhammad: 30).

Sifat lainnya adalah menganggap aspirasi dari Muhajirin dan Anshar adalah khayalan yang disebabkan agama mereka. “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Anfal: 49).

Syaikhul Islam ibn Taimiyah rahimahullah berkata, “Terkadang orang-orang munafik berkata kepada orang-orang beriman, ‘Apa yang menimpa kami adalah akibat kesialan yang kalian bawa, karena kalian mengajak manusia kepada agama ini, memerangi mereka karenanya, dan memusuhi mereka.’ Ini adalah perkataan orang-orang munafik kepada orang-orang beriman dari kalangan Shahabat. Terkadang mereka berkata, ‘Kalian menyuruh kami untuk tetap tinggal di garis depan ini sampai sekarang, dan seandainya kami pergi sebelumnya, kami tidak akan tertimpa malapetaka ini.’ Terkadang mereka berkata, ‘Kalian –meskipun jumlah kalian kecil dan kelemahan kalian– ingin menghancurkan musuh? Kalian telah tertipu oleh agama kalian.’ … Dan terkadang mereka berkata, ‘Kalian adalah orang-orang gila dan bodoh! Kalian ingin menghancurkan diri kalian sendiri dan orang-orang bersama kalian!’ Dan terkadang mereka berkata perkataan lain yang sangat berbahaya.” (Majmu’ al-Fatawa).

KEPUNAHAN ZONA ABU-ABU

Bukankah ini semua menggambarkan kondisi banyak faksi sebelum dilancarkan konspirasi Shahawat? Mereka bergegas kepada orang-orang kafir untuk mendapat kekuasaan, sedangkan mereka takut akan malapetaka, berjanji untuk mentaati mereka “dalam sebagian masalah,” berbicara dengan suara yang menandakan kemunafikan (perkataan samar-samar yang dapat ditafsirkan untuk menguntungkan orang-orang kafir sementara juga mungkin menyiratkan makna kekufuran), dan menganggap mujahidin di Syam tertipu dalam menyuarakan Millah Ibrahim ‘alaihis salam? Terkadang pemimpin-pemimpin munafik dari faksi-faksi tersebut akan membuat pernyataan menipu yang sulit dipahami dengan nada sekulerisme, demokrasi, dan nasionalisme, dan kemudian sekutu-sekutu “jihadi” mereka akan secara sukarela menafsirkan ulang pernyataan tersebut sedemikian rupa sehingga lebih sesuai dengan klaim Islam para munafikin. Sekutu-sekutu “jihadi” mereka kemudian akan menggunakan penafsiran ulang tersebut untuk meredakan ghirah para prajurit-prajurit mereka yang jujur sehingga bisa mempertahankan zona abu-abu di mana mereka bisa terus ada sebagai kelompok independen yang bekerja dengan damai bersamasama faksi-faksi munafik. Dan ketika aksi Shahawat akhirnya melakukan konspirasi kepada muhajirin dan anshar, para pengklaim jihad – yang mengetahui seluruh konspirasi sebelumnya – bersikeras bahwa para munafikin tidak terangterangan menjadi murtad dengan menolong Dewan Nasional Syria (SNC) murtad dan thaghut Alu Salul melawan mujahidin! Terlepas dari fakta bahwa para pengklaim jihad tersebut mengetahui hubungan yang sangat rumit namun “hush-hush” antara faksi Shahawat dan Alu Salul dan SNC. Dan bukannya membantu mujahidin Daulah Islam, mereka malah membantu faksi-faksi murtad (11)!

Mereka lupa ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan kewajiban seorang Muslim terhadap orang-orang munafik, tidak pernah memikirkan kewajiban mujahidin terhadap orang-orang murtad…

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik tidak boleh dijadikan sekutu maupun teman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya memudharatanmu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati” (Ali ‘Imran: 118-119).

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik harus dijauhi, tidak didengarkan perkataannya, dan dihina dengan keras, “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (An-Nisaa’: 63).

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik tidak boleh dibela dengan perkataan, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan” (An-Nisaa’: 105-108).

Mereka lupa bahwa orang-orang munafik tidak boleh dihormati maupun dijadikan pemimpin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Janganlah kalian mengatakan sayid (tuan) kepada orang munafik, karena apabila dia menjadi sayid, maka kalian akan membuat murka Rabb kalian Tabaraka wa Ta'ala" (Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa'i).

Semua perintah tersebut –termasuk perintah memerangi orang munafik jika mereka terang-terangan menampakkan kemunafikannya (12)– mengandung intruksi praktis untuk dijalankan kaum mukminin. Jika kemunafikan adalah konsep teoritis yang tidak memiliki konsekuensi di dunia, perintah-perintah tersebut akan tak bermakna. Adalah pemahaman tentang iman, berdasarkan keyakinan Ahlus-Sunnah, yang membimbing mujahidin dalam perang mereka melawan faksi-faksi munafik yang berubah menjadi faksi-faksi murtad. Ketiadaan keyakinan ini di antara pemimpin-pemimpin dari para pengklaim jihad yang telah membawa mereka untuk mendukung faksi-faksi tersebut melawan mujahidin dan bersikeras bahwa faksi-faksi tersebut bukan munafikin, bukan pula murtaddin (13)!

Dan bukannya menyadari bahaya besar dari munafikin, “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiaptiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (Al-Munafiqun: 4), mereka malah berteman dengan para munafikin dan mendengarkan mereka, “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik” (At-Taubah: 67).

Mereka memperlakukan munafikin sebagaimana mukminin, “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shaad: 28). “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Al-Qalam: 35-36). “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Al-Jatsiyah: 21).

Karena itu, kemunafikan bagi mereka adalah sebuah kondisi teoritis tanpa konsukuensi praktis. Dan jika orang-orang munafik bergabung dengan kubu kekafiran (parit faksi-faksi sekuleris dan demokratis), irja’ ekstrim mencegah para pengklaim jihad dari menghukumi murtad terhadap para munafikin tersebut. Murji’ah ekstrim sebaliknya malah membesar-besarkan udzur kebodohan mencakup hal paling mendasar dari agama, ajaran agama yang setiap Muslim harus tahu, dan bahkan kenyataan tak terbantahkan berkaitan dengan waqi’ yang mendasari berbagai hukum syar’i.

Inilah pengalaman yang dihadapi para pengklaim jihad Syam yang mana kelompok-kelompok jihad di seluruh dunia harus berkaca kepadanya sebelum bersikeras pada sebuah posisi “netral” atau “independen” yaitu tidak bersama Khilafah maupun bersama salibis dan murtaddin tetapi di “zona abuabu” yang sedang melayu antara keduanya, sebelum mereka mendapati bahwa diri mereka tanpa disadari menuju kubu kesesatan.

DUA KUBU DENGAN TIADA YANG KETIGA

Ketika dunia berjalan menuju al-Malhamah al-Kubra, pilihan untuk berdiri di tepian hanya sebagai pengamat mulai menghilang. Sebagaimana mereka yang berpenyakit hatinya dengan kemunfikan dan bid’ah digiring menuju kubu kekafiran, mereka yang memiliki sebiji sawi kejujuran dan Sunnah digiring menuju kubu keimanan.

Muslim di negara-negara salibis akan mendapati diri mereka didorong untuk meninggalkan rumah-rumah mereka menuju kehidupan di naungan Khilafah, sebab salibis meningkatkan penganiayaan terhadap Muslim yang hidup di Barat sehingga terhadap mampu memaksa mereka masuk ke kelompok murtad yang ditolerir atas nama “Islam” sebelum memaksa mereka ke dalam Kristen dan demokrasi secara terang-terangan.

Muslim di negeri yang diperintah oleh thawaghit murtad akan mendapati diri mereka didorong ke wilayah Daulah Islam, karena para thaghut meningkatkan penahanan mereka terhadap setiap Muslim yang mereka curigai memiliki sebiji sawi rasa cemburu terhadap agamanya, atau membawa mereka kepada kemurtadan dengan bekerja sebagai agen, tentara, dan boneka yang melayani bendera thaghut.

Mujahidin di bumi jihad akan mendapati diri mereka didorong untuk bergabung dengan barisan Khilafah, atau dipaksa melancarkan perang terhadapnya di sisi mereka yang ingin berkerja sama dengan munafiqin dan murtaddin melawan Khilafah. Jika mereka tidak melaksanakan perintah tersebut, mereka akan disebut khawarij oleh para pemimpin mereka dan menghadapi pedang dari mahkamah “independen” yang disusupi sekte Sufi, Ikhwan, dan Salul.

Pada akhirnya, zona abu-abu akan menjadi punah dan tidak ada tempat untuk seruan-seruan dan gerakan-gerakan abu-abu. Hanya akan ada kubu iman versus kubu kekufuran.

Kemudian, ketika Isa ‘alaihis salam turun, mematahkan salib, menghapus jizyah, tidak akan ada lagi tempat untuk kubu kekufuran tersisa di Bumi, bahkan tidak pula dzimmi terhina yang hidup di antara kaum Muslim di kubu kebenaran… Setelah itu, Dabbah(14) akan muncul dan memberi tanda pada orang-orang munafik yang tersisa sebagai individual tersembunyi di kubu kebenaran, sehingga mengakhiri kemunafikan pada tingkat individu setelah Malahim telah mengakhiri kemunafikan pada tingkat seruan dan gerakan…

Catatan kaki :

(1) Ini aneh bagaimana ‘Azzam al-Amriki di sebagian suratnya yang mengkritik penghalalan Daulah Islam untuk menarget Katolik yang memusuhi di Iraq pada tahun 2010. Dia mengecam bahwa operasi terhadap Katolik adalah berdasarkan pada pembagian dunia oleh Bush, padahal ini sama persis bagaimana Syaikh Usamah rahimahullah melihat dunia!

(2) Thawaghit selalu menampakkan kemurtadan di kubu kekafiran, tetapi karena dukungan yang mereka peroleh dari “ulama” istana dan gerakangerakan menyimpang (Sufi, Sururiy, Ikhwan, dll.), banyak orang bodoh tidak mengerti kemurtadan yang jelas dari pemerintah tersebut. Karena kebingunan ini, thawaghit hanya terlihat “abu-abu” dalam pandangan orang bodoh. Hanya dalam maksud ini kejadian 11 September menggiring thawaghit keluar dari zona abu-abu.

(3) Lihat footnote sebelumnya

(4) Catatan: Setelah 11 September, dua kubu yang berseberangan membagi ummat versus salibis. Sekarang – menurut salibis sendiri – dua kubu ini adalah Daulah Islam versus salibis. Karenanya, zona abu-abu memiliki maksud berbeda pada dua waktu tersebut. Dahulu, zona ini terdiri dari orang-orang munafik, ahli bid’ah sesat, dan orang-orang yang meninggalkan jihad. Setelah Khiladah dan perang salib yang mengikutinya, zona abu-abu juga mencakup kelompok-kelompok Islami “independen” dan “netral” yang menolak untuk bergabung dengan Khilafah, karena kelompok-kelompok tersebut mengaku independen dari kedua kubu yang berseberangan.

(5) Apa yang dimaksud para ulama adalah bahwa dosa-dosa – termasuk bid’ah – akan menyebabkan seseorang untuk melakukan dosa selanjutnya. Setiap kali dia melakukan sebuah dosa, Allah akan menghukumnya dengan dosa yang lebih besar. Pada akhirnya, Allah bisa menghukum dia dengan kekafiran, seperti kasus seseorang yang mengetahui bahwa penerapan Syari’ah akan mencegahnya dari memperturutkan kecanduannya kepada dosa dan oleh sebab itu ia bergabung dengan barisan orang-orang yang memeranginya, sehingga dia bisa mempertahankan kondisi sosial dan politik yang sesuai untuk dosa-dosanya. Atau kasus orang-orang yang sangat terikat kepada bid’ah dan hizbiyah sehingga dia merasa dia harus memerangi Khilafah dan oleh sebab itu dia berkerja sama dengan murtaddin untuk melawannya.

(6) Tujuan jahili dan ‘ummi tidak mesti kekafiran, karena keduanya mencakup berperang karena kesukuan, uang, hizbiyah, bid’ah, dll. Sedangkan untuk demokrasi dan sekulerime, maka tujuan-tujuan tersebut adalah jahili sekaligus kekafiran.

(9) Ulama Salaf, Al-Fudhail ibn ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Jika aku melihat seseorang dari pengikut Sunnah, maka seakan-akan aku melihat seseorang dari para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; dan jika aku melihat seorang ahli bid’ah, seakan-akan aku melihat seseorang dari munafiqin” (Syarh as-Sunnah – al-Barbahari). Orang-orang munafik dan zindiq (bid’ah ekstrim) juga terkenal menyamar sebagai mubtadi’ah (ahli bid’ah) dan menyembunyikan propaganda mereka dengan itu.

(10) Lihat juga ayat 25-31 dari Sūrat Muhammad.

(11) Faksi-faksi munafik yang murtad adalah mereka yang berpindah dari zona abu-abu ke kubu kekafiran dengan menolong orang-orang murtad yang terang-terangan –faksi sekuleris dan demokratis– melawan mujahidin. Mereka mengikuti pengkhiatan ini dengan membuat pernyataan politik kekafiran oleh diri mereka sendiri. Sedangkan murtaddin yang terang-terangan yang menyeru kepada demokrasi (faksi sekuleris dan demokratis), maka mereka tidak pernah berada di zona abu-abu dari awal kecuali dalam pandangan Murji’ah yang paling ekstrim; namun faksi-faksi demokratis tersebut semakin tersingkap oleh perang salib yang mereka dukung dengan segera. Saat itu, para pengklaim jihad mendapati diri mereka berada di dilema yang lain, yaitu “zona abu-abu” yang telah lama mereka pertahankan sedang meninggalkan mereka dan sekarang melancarkan perang terhadap mereka. Sehingga, para pengklaim jihad terpaksa membuat pernyataan “takfiri” kepada sekutu-sekutu terdekat mereka – faksi-faksi Shahawat yang lain! Mengapa mereka tidak bercermin pada mubahalah yang telah menghancurkan mereka? Lihat halaman 20-30 di Dabiq edisi #2 untuk membaca lebih lanjut.

Lebih lanjut, sebagian dari para pengklaim jihad mendapati bahwa tidak mungkin menganggap setiap orang yang berperang dan mengaku seorang mujahid sebagai seorang munafiq. Mereka lupa bahwa orang-orang munafik mau berperang namun menghindari peperangan yang membutuhkan perjalanan yang sulit dan tidak memiliki prospek rampasan perang. “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka” (At-Taubah: 42). Mereka bisa jadi pergi untuk berperang, sebagaimana pemimpin orang-orang munafik berkata dalam salah satu ekspedisi, “Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” (Al-Munafiqun: 8). Mereka bahkan bisa jadi terbunuh dalam peperangan sebagaimana digambarkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang mati (dalam peperangan) ada tiga jenis: (1) Seorang mukmin yang berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan hartanya hingga dia bertemu musuh dan berperang sampai dia terbunuh. Dia adalah syahid yang dipuji di kemah Allah di bawah Arsy-Nya. Tiada kelebihan para nabi atas mereka kecuali derajat kenabian. (2) Seorang mukmin yang melakukan dosa dan berjihad dengan jiwa dan hartanya, dijalan Allah, saat bertemu musuh ia memerangi mereka hingga terbunuh, maka dosa-dosanya dihapus sebab pedang adalah penghapus dosa. Kemudian ia dipersilahkan masuk surga dari pintu yang ia kehendaki. Sesungguhnya surga itu memiliki delapan pintu dan neraka mempunyai tujuh pintu sebagiannya (pintu surga) lebih baik dari sebagai lainnya. (3) Seorang munafik yang berjihad dengan jiwa dan hartanya, ketika bertemu dengan musuh ia berperang di jalan Allah hingga terbunuh. Orang ini di neraka sebab pedang tidak dapat menghapus kemunafikan” (Hasan: Diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan lainnya). Perbedaan antara peperangan oleh orang-orang beriman dan oleh orang-orang munafik adalah bahwa orang-orang munafik berperang hanya untuk popularitas, harta rampasan perang,

(12) Lihat ayat 73 dari Sūrat at-Taubah, ayat 9 dari Sūrat at-Tahrīm, dan ayat 60-62 dari Sūrat al-Ahzāb.

(13) Lihat footnote #11.

(14) Lihat riwayat-riwayat shahih dan dha’if berbeda yang menggambarkan tentang Dabbah di tafsir Ibnu Katsir Surat an-Naml, ayat 82. Wallahu a’lam.